Anda di halaman 1dari 32

ANALISIS SAHAM

PT KALBE FARMA Tbk.


A. PROFIL PERUSAHAAN
1. Sejarah Singkat
Sejarah Kalbe Farma diawali dari garasi pendiri Perseroan tahun
1966 sebagai perusahaan produk kesehatan dengan prinsip dasar:
inovasi, merek yang kuat dan manajemen prima. Dengan pedoman
Panca Sradha Kalbe sebagai nilai dasar Perseroan, Kalbe berhasil
meraih pertumbuhan yang solid dan mencatatkan sebagai perusahaan
publik tahun 1991 di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya
(sekarang bergabung menjadi Bursa Efek Indonesia). Melalui proses
pertumbuhan organik dan penggabungan usaha & akuisisi, kegiatan
usaha Kalbe berkembang meliputi 22 anak perusahaan, dalam empat
kelompok divisi usaha: divisi obat resep dengan kontribusi sebesar 24%
terhadap pendapatan total, divisi produk kesehatan dengan kontribusi
16%, divisi nutrisi dengan kontribusi 22%, serta divisi distribusi dan
logistik dengan kontribusi 38%.
Pada tahun 2012, Perseroan melakukan akusisi 100% saham PT
Hale

International,

produsen

minuman

kesehatan,

untuk

terus

memperkuat posisi Kalbe di pasar Indonesia yang terus berkembang.


Dengan dukungan lebih dari 17.000 karyawan, termasuk 6.000 tenaga
penjualan dan pemasaran, kegiatan usaha Perseroan mencakup seluruh
wilayah kepulauan Indonesia dan keberadaan di pasar internasional
yang terus berkembang. Di Indonesia, Kalbe mampu menjangkau 70%
dokter umum, 90% dokter spesialis, 100% rumah sakit, 100% apotek
untuk pasar obat-obat resep serta 80% untuk pasar produk kesehatan
dan nutrisi. Di pasar internasional, Perseroan telah hadir di pasar Asia
Tenggara dan Afrika, serta menjadi perusahaan produk kesehatan
nasional yang dapat bersaing di pasar ekspor.
Semangat inovasi untuk kehidupan yang lebih baik menjadi bagian
tak terpisahkan dari seluruh kegiatan usaha Kalbe. Aktivitas riset dan

pengembangan telah menghasilkan produk-produk inovatif dengan nilai


unggul

untuk

memenuhi

kebutuhan

masyarakat.

Agar

dapat

menjangkau seluruh kepulauan nusantara, Kalbe terus meningkatkan


kapasitas dan kualitas layanan distribusinya. Upaya penyempurnaan
integrasi mata rantai pasokan senantiasa menjadi salah satu prioritas
utama Kalbe guna meningkatkan efisiensi dan tingkat layanan. Kini,
Kalbe merupakan penyedia layanan kesehatan komprehensif yang
terdepan,

produk

obat-obatan,

nutrisi,

makanan

dan

minuman

kesehatan hingga alat-alat kesehatan termasuk pelayanan kesehatan


primer. Kalbe adalah perusahaan produk kesehatan publik yang
terbesar di Asia Tenggara dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp
53,8 triliun dan omset penjualan Rp 13,6 triliun di akhir 2012.

2. Visi dan Misi


Visi : Menjadi perusahaan produk kesehatan Indonesia terbaik yang
didukung oleh inovasi, merek yang kuat dan manajemen yang prima
Misi : Meningkatkan kesehatan untuk kehidupan yang lebih baik

3. Divisi Bisnis
a. Divisi Obat Resep
Divisi Obat Resep Kalbe menawarkan rangkaian obat resep yang
lengkap untuk seluruh segmen ekonomi masyarakat, dari obat
generik tidak bermerek, obat generik bermerek hingga obat paten.
Produk-produk didistribusikan ke rumah sakit, apotek hingga toko
obat di seluruh Indonesia melalui jaringan distribusi yang terintegrasi.
Kalbe juga memiliki tim pemasaran yang solid, yang dikelompokkan
untuk masing-masing segmen dan kelas terapi guna menjamin
kegiatan pemasaran yang terfokus dan efektif. Beberapa produk

unggulan Kalbe antara lain adalah Brainact, Cefspan, Mycoral,


Cernevit, Cravit, Neuralgin, Broadced, Neurotam, Hemapo, dan CPG.
b. Divisi Produk Kesehatan
Divisi Produk Kesehatan Kalbe meliputi kategori produk obat
bebas bersifat kuratif serta produk-produk konsumsi kesehatan yang
memiliki manfaat kesehatan seperti suplemen dan produk bersifat
preventif lainnya, minuman energi serta produk minuman kesehatan.
Portofolio kategori produk obat bebas Kalbe mencakup lebih dari 6
kelas

terapi

obat

bebas

dengan

merek-merek

dominan

yang

menguasai pangsa pasar dalam beberapa dekade terakhir. Beberapa


produk

unggulan

Kalbe

seperti

Promag,

Komix,

Mixagrip

dan

Entrostop telah menerima berbagai penghargaan dari berbagai


institusi. Produk unggulan Kalbe lainnya antara lain adalah Woods,
Fatigon, Procold, Mextril, Extra Joss, Hydro Coco dan Original Love
Juice.
c. Divisi Nutrisi
Divisi Nutrisi Kalbe menawarkan ragam produk-produk nutrisi
yang lengkap untuk setiap tahapan penting dalam kehidupan
konsumen, mulai dari bayi, balita, anak-anak, pra-remaja, dewasa,
ibu hamil dan menyusui, hingga usia senja; serta produk-produk
nutrisi untuk konsumen dengan kebutuhan khusus. Beberapa produk
unggulan Kalbe antara lain adalah Morinaga Chil Kid, Morinaga Chil
School, Morinaga Chil Mil, Morinaga BMT, Prenagen, Milna dan
Diabetasol yang diluncurkan sejak lebih dari 20 tahun yang lalu dan
menguasai pangsa pasar yang dominan di Indonesia dan telah
memperoleh beberapa penghargaan antara lain Readers Choice
Award untuk Prenagen dari majalah Mother & Baby dan Top Brand for
Kids 2012 untuk Milna dari Frontier dan Majalah Marketing. Kalbe
terus

melengkapi

portofolio

produknya

dengan

meluncurkan

beberapa produk baru yang menawarkan manfaat kesehatan bagi


konsumen seperti Zee, Fitbar, Entrasol dan Nutrive Benecol.

d. Divisi Distribusi & Logistik

Untuk

menjamin

ketersediaan

produk

di

seluruh

wilayah

Indonesia, Kalbe mempunyai Divisi Distribusi dan Logistik yang


dijalankan oleh anak perusahaannya PT Enseval Putera Megatrading
Tbk. yang bertanggung jawab atas distribusi produk-produk Kalbe
dan produk prinsipal pihak ketiga ke lebih dari 1 juta outlet di
seluruh pelosok Indonesia. Di samping itu, Kalbe juga telah
memperluas portofolio bisnis Divisi tersebut dengan perdagangan
bahan

baku

kimia,

peralatan

kesehatan

serta

layanan

jasa

kesehatan secara ritel. Jaringan distribusi dan logistik Kalbe


merupakan jaringan distribusi yang paling luas di Indonesia untuk
produk farmasi. Dengan dukungan 2 Pusat Distribusi Regional
(Regional Distribution Center atau RDC) di kota Jakarta dan
Surabaya serta 65 cabang yang tersebar di 47 kota, Kalbe mampu
menjangkau lebih dari 1 juta outlet di seluruh Indonesia secara
langsung dan tidak langsung bekerja sama dengan perusahaan
distribusi lokal. Beberapa prinsipal pihak ketiga utama antara lain
adalah PT Abbott Indonesia, PT Mead Johnson Indonesia, PT LOreal
Indonesia, PT Kara Santan Pertama dan PT Beiersdorf Indonesia.

4. Struktur Organisasi

5. Informasi Pemegang Saham


2012
PEMEGANG SAHAM

JUMLAH LEMBAR
SAHAM

PT Gira Sole Prima

4,767,872,885

10,17

PT Santa Seha Sanadi

4,509,646,840

9,62

PT Diptanala Bahana

4,447,970,440

9,49

Lucasta Murni Cemerlang

4,439,895,440

9,47

PT Ladang Ira Panen

4,322,952,940

9,22

PT Bina Arta Charisma

4,060,816,540

8,66

20,325,967,025

40.03

Public
PT Kalbe Farma Tbk
TOTAL

3,904,950,000
50,780,072,110

100

B. Analisis saham PT Kalbe Farma


1. Analisis Fundamental
Analisis fundamental adalah metode analisis yang didasarkan pada
fundamental ekonomi suatu perusahaan yaitu menitikberatkan pada
rasio finansial dan kejadian- kejadian yang secara langsung maupun
tidak langsung mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Analisis
fundamental digunakan untuk membuat keputusan dalam memilih
saham perusahaan mana yang akan dibeli untuk jangka panjang.
Dengan kata lain, untuk investasi jangka panjang. Analisis fundamental
dibagi dalam tiga tahapan analisa yaitu:
a. Analisis ekonomi
Analisis ekonomi digunakan untuk mengetahui keadaan-keadaan
yang

bersifat

makroekonomi

seperti

faktor

tingkat

bunga,

pendapatan nasional suatu negara, kebijakan moneter dan kebijakan


fiskal yang diterapkan oleh suatu negara yang berkemungkinan
dapat mempengaruhi harga saham perusahaan.
b. Analisis industri
Analisis industri biasanya dilakukan setelah melakukan analis
ekonomi. Dalam analisis industri seorang investor mencoba untuk
memperbandingkan kinerja dari berbagai industri, untuk dapat
mengetahui jenis industri yang memberikan prospek paling bagus
dalam masa yang telah ditentukan. Setelah dilakukan analisis industri
akan didapatkan informasi mengenai kelompok industri yang akan
dibentuk dan diyakini akan memberikan peluang yang paling
menjanjikan. PT Kalbe Farma sendiri merupakan sebuah perusahaan
yang bergerak dalam industri kesehatan.
Dibandingkan dengan negara-negara tetangga, pasar industri
kesehatan Indonesia masih relatif kecil. Di antara negara-negara
ASEAN, Indonesia merupakan salah satu negara dengan biaya
kesehatan terkecil, rata-rata hanya sebesar 2,6%-2,7% dari total PDB.
Hal ini sebagian disebabkan oleh masih rendahnya penetrasi asuransi
kesehatan, sehingga biaya kesehatan terutama ditanggung oleh
pengeluaran pribadi (out-of-pocket payments). Namun demikian,

didukung oleh besarnya jumlah penduduk dan makin tumbuhnya


segmen kelas menengah, Indonesia memiliki potensi menjadi pasar
yang menarik bagi industri kesehatan dan farmasi, yang diperkirakan
akan mencapai Rp 312 triliun di tahun Sistem pemerintahan
desentralisasi Indonesia, atau dikenal dengan nama otonomi daerah,
juga

merupakan

faktor

penentu

bagi

perkembangan

sektor

kesehatan.
Di berbagai propinsi, para pemimpin lokal yang reformis mulai
meluncurkan skema asuransi kesehatan sebagai bagian dari program
pengembangan ekonomi dan kesejahteraan. Peluncuran Kartu Sehat
Jakarta bagi sebanyak 4,7 juta penduduk berpenghasilan rendah di
ibu kota, adalah salah satu contoh dari makin banyaknya skema
asuransi kesehatan lokal di Indonesia. Lebih dari itu, keputusan
Pemerintah untuk mulai menerapkan kebijakan jaminan kesehatan
nasional di tahun 2014 akan meningkatkan akses masyarakat ke
layanan kesehatan, dan meningkatkan prospek industri kesehatan ke
depan. Sebagai bagian dari industri kesehatan, sektor farmasi
Indonesia telah berhasil meraih tren pertumbuhan positif dalam
sepuluh tahun terakhir, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar
13,6% per tahun. Pada tahun 2012, industri farmasi berhasil meraih
pertumbuhan 15,9% mencapai lebih dari Rp50 triliun di akhir tahun.
Segmen obat resep menyumbang sebesar Rp30,1 triliun dari total
penjualan, sedangkan sisanya sebesar Rp19,9 triliun berasal dari
obat bebas.
Program kesehatan pemerintah adalah salah satu pendorong
tingginya pertumbuhan di segmen obat generik tanpa merek.
Dibandingkan total segmen farmasi nasional, segmen produk obat
generik tanpa merek terus meningkatkan segmen pasarnya, dari
sebesar 5,9% di tahun 2008 menjadi 9,7% dari total segmen farmasi
di akhir 2012. Perkembangan ini diperkirakan akan terus berlanjut
seiring pelaksanaan kebijakan jaminan kesehatan nasional di tahun
2014. Guna mengantisipasi pertumbuhan permintaan, perusahan-

perusahaan farmasi telah melakukan investasi di beberapa tahun


terakhir agar dapat meraih pangsa pasar, terutama di segmen obat
generik.

Meningkatnya

pemintaan

pelayanan

kesehatan

telah

menyebabkan meningkatnya kelangkaan ketersediaan tenaga medis.


Dengan penambahan hanya sebanyak 4.000 tenaga dokter baru
setiap tahunnya, saat ini hanya tersedia 0,4 tenaga dokter untuk
setiap

1.000

penduduk

Indonesia.

Di

sektor

industri

farmasi,

perusahaan farmasi masih sangat tergantung kepada transaksi impor


untuk memenuhi kebutuhan bahan bakunya. Impor bahan baku
mencapai 95% dari total kebutuhan bahan baku industri. Mengingat
masih tingginya ketergantungan pada impor, terjadinya gejolak mata
uang Rupiah telah mempengaruhi industri farmasi. Ke depan,
perusahaan-perusahaan farmasi perlu melaksanakan manajamen
risiko

yang

berhati-hati,

serta

secara

seksama

mengamati

perkembangan gejolak mata uang.


Industri nutrisi juga menampilkan tren yang sama dengan
industri farmasi. Di sektor produk susu, yang merupakan salah satu
bidang usaha Kalbe, konsumsi susu per kapita per tahun masih relatif
lebih rendah dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Namun
demikian,

sektor

ini

memiliki

prospek

positif

seiring

makin

meningkatnya daya beli dan kesadaran masyarakat akan manfaat


kesehatan produk susu, yang membuka kesempatan bagi industri
pengolahan susu di Indonesia. Kalbe Farma bergerak dalam tiga
bisnis, antara lain; farmasi, makanan kesehatan, dan kemasan. Bisnis
inti Kalbe Farma Grup adalah farmasi dengan pangsa pasar 8 persen.
Kalbe merupakan perusahaan farmasi kedua terbesar di Indonesia.
Kalbe Farma memproduksi produk etikal (harus dengan resep dokter),
over-the-counter atau OTC (dapat dibeli bebas, tanpa resep dokter),
dan obat-obatan hewan. Produk OTC dari perusahaan induk lebih
premium, dengan pangsa pasar untuk kelas menengah ke atas. Bisnis
makanan kesehatan sendiri masih outsourcing manufacturing. Untuk
bisnis

makanan

kesehatan,

perusahaan

berkeinginan

untuk

melakukan pembangunan fasilitas produksi susu bubuk dan makanan


kesehatan lainnya.
c. Analisis keuangan

Analisis laporan keuangan dapat dilakukan dengan melakukan


analisa

terhadap

rasio-rasio

keuangan

yang

menggambarkan

hubungan diantara perkiraan-perkiraan laporan keuangan. Analisis


rasio berorientasi dengan masa depan yang berarti bahwa analisis
rasio dapat digunakan sebagai alat untuk meramalkan keadaan
keuangan serta hasil usaha di masa yang akan datang. Oleh karena
itu analisis rasio keuangan dapat membantu para pelaku bisnis, dan
pihak pemakai laporan keuangan lainnya dalam menilai kondisi
keuangan perusahaan yang juga bermanfaat untuk memprediksi
laba/rugi perusahaan di masa yang akan datang.
Bagi para investor, rasio keuangan dapat digunakan untuk
menilai kondisi perusahaan saat ini dan mengetahui prospeknya
dimasa akan datang, serta membuat keputusan apakah akan
membeli kepemilikan dari suatu perusahaan. Analisis rasio keuangan
menggunakan data laporan keuangan yang telah ada sebagai dasar
penilaiannya. Meskipun didasarkan pada data dan kondisi masa lalu,
analisis rasio keuangan dimaksudkan untuk menilai risiko dan peluang pada
masa yang akan datang. Pengukuran dan hubungan satu pos dengan pos
lain dalam laporan keuangan yang tampak dalam rasio-rasio keuangan
dapat memberikan kesimpulan yang berarti dalam penentuan tingkat
kesehatan keuangan suatu perusahaan. Analisis saham PT Kalbe Farma
disini juga tidak lepas dari analisis rasio keuangan berdasarkan data laporan
keuangan tahunan Kalbe dari tahun 2008 sampai tahun 2012, yang secara
garis besar digambarkan dengan grafik berikut:

Total Aset dan Kewajiban


Rp10,000
Rp9,417
Rp8,274
Rp7,032
Rp6,000Rp6,482
Rp8,000

Rp4,000
Rp2,000

Rp2,046
Rp1,758
Rp1,691
Rp1,260
Rp2009 2010 2011 2012
Total Aset

Kewajiban

Total Aset terus meningkat dari tahun ke tahun hingga mencapai Rp


9.417 miliar pada tahun 2012. Sementara Total Kewajiban sempat
mengalami penurunan pada tahun 2010 dan kembali meningkat hingga
Rp 2.046 miliar pada tahun 2012.

Total Ekuitas
Rp8,000
Rp7,000
Rp7,371
Rp6,000
Rp6,515
Rp5,771
Rp5,000
Rp4,000 Rp4,790
Rp3,000
Rp2,000
Rp1,000
Rp2009 2010 2011 2012
Total Ekuitas
Total Ekuitas Kalbe juga terus meningkat dari tahun 2009 hingga
tahun 2012 mencapai Rp 7.371 miliar. Peningkatan tahun 2012 terutama
disumbangkan oleh akumulasi saldo laba yang meningkat sebesar 13,2%

Penjualan Bersih
Rp16,000
Rp14,000
Rp13,636
Rp12,000
Rp10,000
Rp10,911
Rp10,226
Rp8,000 Rp9,087
Rp6,000
Rp4,000
Rp2,000
Rp2009 2010 2011 2012
Penjualan Bersih
Total penjualan bersih terus meningkat khususnya pada tahun 2012,
meningkat sebesar 25% dari tahun sebelumnya yaitu dari Rp 10.911
miliar pada tahun 2011 menjadi Rp 13.636 miliar pada tahun 2012.
Peningkatan yang sangat signifikan ini merupakan keberhasilan strategi
Kalbe dalam meningkatkan efektivitas pemasaran dan penjualan melalui
branding management, program pemasaran dan pemasaran serta
distribusi yang terfokus dan terintegrasi sehingga dapat memperluas
ketersediaan dan visibility produk.

Laba Bersih
Rp2,000
Rp1,772
Rp1,539
Rp1,346

Rp1,500
Rp1,000

Rp1,049

Rp500
Rp-

2009

2010

2011

2012

Laba Bersih
Pertumbuhan biaya yang tidak secepat pertumbuhan penjualan
membuat laba bersih juga terus meningkat dari tahun 2009 hingga tahun
2012.
Secara umum rasio keuangan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1) Rasio Likuiditas.
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
dalam menjamin kewajiban-kewajiban lancarnya. Rasio ini antara
lain Rasio Kas (cash ratio), Rasio Cepat (quick ratio), Rasio Lancar
(current ratio), Waktu penagihan (collection period), serta rasio
jumlah hari untuk menjual persediaan (days to sell inventory).
Dalam kaitannya dengan saham PT Kalbe Farma, rasio yang
digunakan yaitu Rasio lancar dan Rasio Cepat.
Rasio
perusahaan

lancar
untuk

memberi

gambaran

membayar

kembali

tentang

kemampuan

kewajiban

pendeknya. Nilai rasio lancar didapatkan dengan rumus:

jangka

Rasio lancar=

Aset Lancar
Kewajiban Lancar

Jika nilai rasio lancar lebih besar dari satu, itu menunjukkan
perusahaan berada dalam kondisi yang baik. Hal ini karena nilai
rasio lancar yang semakin besar berarti perusahaan lebih mampu
membayar kewajibannya. Sementara untuk Rasio cepat didapatkan
dengan rumus:

Rasio Cepat =

Kas+ Setara kas+ Piutang+ Surat Berharga


Kewajiban Lancar

Untuk Rasio cepat, hanya menggunakan aset yang paling


likuid. Ini menunjukkan pengujian yang lebih ketat terhadap
likuiditas jangka pendek. Jika nilai dari rasio cepat ini tidak lebih
besar dari satu, berarti perusahaan tidak akan mampu membayar
kewajiban mereka saat itu. Berdasarkan data laporan keuangan PT
Kalbe Farma, dilakukan perhitungan rasio lancar dan rasio cepat,
dan diperoleh hasil sebagai berikut:
RASIO
Current Ratio
Acid Test Ratio

2012

2011

2010

2009

3,41

3,68

4,39

2,98

2,01

2,41

2,85

1,83

Rasio Likuiditas
5
4.5
4
3.5
3
2.98
2.5
2
1.83
1.5
1
0.5
0
2009

4.39
3.68
2.85

2010
Current Ratio

2.41

2011
Acid Test Ratio

3.41

2.01

2012

Untuk tahun 2009, rasio lancarnya sebesar 2,9 berarti setiap


Rp 1 kewajiban lancar perusahaan dijamin oleh Rp 2,9 aset
lancarnya. Titik tertinggi rasio lancar Kalbe ada pada tahun 2010
yaitu sebesar 4,3. Dari tahun 2009 ke tahun 2010, rasio lancar
kalbe mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yakni dari 2,9
menjadi 4,3. Hal ini dipicu oleh meningkatnya jumlah kas yang
menyebabkan meningkatnya pula total aset lancar kalbe dari Rp
4.696 miliar pada tahun 2009 menjadi Rp 5.031 miliar pada tahun
2010. Sementara kewajiban lancar yang harus dibayar kalbe justru
menurun dari Rp 1.574 pada tahun 2009 menjadi Rp 1.146 pada
tahun 2010. Untuk tahun 2011 dan 2012, rasio lancar kembali
menurun.

Penurunan

itu

dipicu

oleh

bertambahnya

jumlah

kewajiban lancar yang harus dibayar kalbe pada kedua tahun


tersebut. Meski rasio lancar kalbe menurun, namun nilainya masih
lebih besar dari satu, yang berarti masih menunjukkan kondisi
yang baik untuk Kalbe karena dinilai masih mampu dalam
membayar kewajibannya. Hal serupa juga ditunjukkan oleh rasio
cepat kalbe, pencapaian tertinggi ada pada tahun 2010, dan
kemudian menurun pada tahun 2011 dan 2012. Nilai rasio cepat
yang masih lebih besar dari satu juga menunjukkan kondisi yang
masih tergolong baik bagi kalbe.

2) Rasio Solvabilitas
Rasio

solvabilitas

digunakan

untuk

mengukur

tingkat

pengelolaan sumber dana perusahaan, menunjukkan kemampuan


perusahaan untuk membayar utang jangka panjangnya. Beberapa
rasio ini antara lain Rasio Total Hutang terhadap Ekuitas, Total
Hutang Jangka Panjang terhadap Ekuitas, Total Hutang terhadap
Total Asset, serta TIE (Time Interest Earned). Dalam kaitannya
dengan analisis saham PT Kalbe Farma, digunakan rasio Total

Utang terhadap Ekuitas dan Total Hutang Jangka Panjang terhadap


Ekuitas, dengan rumus masing-masing sebagai berikut :
Total Utang terhadap Ekuitas=

Total Kewajiban
Ekuitas Pemegang Saham

Rasio ini merupakan perbandingan antara ekuitas dengan


utang. Nilai dari rasio ini menunjukkan besarnya utang jika
dibandingkan dengan ekuitas. Karena itu, nilai rasio yang semakin
kecil menunjukkan kondisi yang semakin baik karena dapat
diartikan nilai utangnya juga semakin kecil. Saham perusahaan
dikategorikan bagus jika nilai rasio total utang terhadap ekuitas
lebih kecil dari satu.
Utang Jangka Panjang terhadap Ekuitas=

Kewajiban Jangka Panjang


Ekuitas Pemegang Saham

Sama dengan Rasio total Hutang Terhadap Ekuitas, nilai yang


semakin kecil dari rasio ini juga menunjukkan kondisi yang semakin
baik bagi perusahaan, karena jumlah kewajiban jangka panjang
yang

berarti

semakin

kecil.

Untuk

PT

Kalbe

Farma,

Solvabilitas yang diperoleh ditunjukkan sebagai berikut:


RASIO

2012

2011

2010

2009

Debt to Equity

0,28

0,27

0,22

0,35

Long Term Debt to


Equity

0,021

0,020

0,020

0,025

Rasio

Rasio Solvabilitas
0.4
0.35
0.35
0.3
0.25
0.2

0.27

0.28

0.02
2011

0.02

0.22

0.15
0.1
0.05
0.03
0
2009

0.02
2010
Total Debt to Equity

2012

Long Term Debt to Equity

Dari data di atas, nilai rasio yang paling tinggi ditunjukkan


pada tahun 2009 yaitu senilai 0,35. Hal ini berarti total utang Kalbe
pada tahun tersebut adalah sebesar 0,35 kali lebih besar dari
ekuitasnya atau dengan kata lain untuk tiap Rp 1 pendanaan
ekuitas Kalbe, terdapat Rp 0,35 pendanaan dari kreditor. Rasio ini
menunjukkan nilai yang terbilang rendah, terlebih pada tahun 2010
nilainya menurun lagi menjadi 0,22 disebabkan jumlah total
kewajiban yang menurun dari Rp 1.691 miliar pada tahun 2009
menjadi Rp 1.260 miliar pada tahun 2010, menunjukkan Kalbe
dalam kondisi yang baik. Meski kemudian nilai ini meningkat pada
tahun 2011 dan 2012, namun dari keempat tahun di atas tidak ada
nilai rasio yang melebihi satu, berarti selama periode tersebut
saham Kalbe masih dapat dikategorikan bagus. Untuk rasio utang
jangka panjang terhadap ekuitas, nilai yang ditunjukkan Kalbe
cukup stabil dari tahun 2009 sampai 2012, karena jumlah
kewajiban

jangka

panjang

yang

memang

tidak

mengalami

perubahan yang begitu signifikan.


3) Rasio Efisiensi Penggunaan Aset
Rasio

Efisiensi

digunakan

untuk

mengukur

kemampuan

perusahaan dalam mengelola asset-asetnya sehingga memberikan


aliran kas masuk bagi perusahaan. Rasio ini antara lain Rasio
Perputaran Persediaan, Perputaran Aktiva Tetap, Perputaran Total
Aset, Perputaran Kas, serta Perputaran Piutang Usaha. Untuk
analisis saham PT Kalbe Farma digunakan Rasio Perputaran Total
Aset dan perputaran persediaan, yang dapat diperoleh dengan
rumus :
Rasio PerputaranTotal Aset=

Penjualan
Ratarata Total Aset

Rasio ini menunjukkan jumlah penjualan yang diperoleh dari


tiap rupiah aktiva atau aset.

Rasio Perputaran Persediaan=

Harga Pokok Penjualan


Persediaan

Rasio ini merupakan ukuran seberapa sering persediaan


terjual dalam waktu satu periode. Semakin tinggi nilai rasio ini
akan semakin baik bagi perusahaan. Untuk PT Kalbe Farma, data
kedua rasio di atas adalah sebagai berikut:
RASIO
Total Assets
Turnover
Inventory
Turnover

2012

2011

2010

2009

1,45

1,32

1,45

1,40

3,36

3,14

3,26

2,93

Efisiensi Penggunaan Aset


4
3.5
3
2.93
2.5

3.36

3.26

3.14

1.45

1.32

1.45

2010

2011

2012

2
1.5
1.4
1
0.5
0
2009

Total Assets Turnover

Inventory Turnover

Data di atas menunjukkan Rasio Perputaran Total Aset Kalbe


mengalami peningkatan dari tahun 2009 ke tahun 2010, meski
tidak begitu besar yaitu dari 1,4 menjadi 1,45, yang berarti bahwa
perputaran total aset pada tahun 2010 adalah sebanyak 1,45 kali
dan setiap Rp 1 aset menghasilkan Rp 1,45 penjualan. Namun
tahun selanjutnya, setiap Rp 1 aset Kalbe hanya menghasilkan Rp
1,32 penjualan, yang berarti mengalami penurunan. Hal ini
disebabkan peningkatan penjualan kalbe yang tidak sebanding
dengan peningkatan total aset dari tahun 2010 ke tahun 2011.
Tercatat total aset tahun 2010 sebesar Rp 7.032 miliar dan pada
tahun 2011 sebesar Rp 8.274 miliar, yang berarti mengalami
peningkatan sebesar 17,6 %. Sementara untuk penjualan tahun
2010 tercatat Rp 10.226 miliar dan tahun 2011 yaitu Rp 10.911,
berarti hanya mengalami peningkatan sebesar 7,4%. Namun tahun
2012, rasio perputaran total aset kalbe kembali meningkat menjadi
1,45. Penjualan Kalbe memang mengalami peningkatan yang
cukup signifikan pada tahun 2012, yaitu dari Rp 10.911 miliar
menjadi Rp 13.636 miliar. Dibandingkan dengan peningkatan total
aset dari Rp 8.274 miliar menjadi Rp 9.417 miliar, wajar jika rasio
perputaran total aset mengalami peningkatan. Ini berarti bahwa
Kalbe

bisa

mempertahankan

memanfaatkan

aset

yang

kinerja
ada

manajemennya

seefisien

mungkin

dalam
untuk

menghasilkan penjualan yang cukup baik.


Sementara untuk perputaran persediaan Kalbe, mengalami
perubahan yang sama dengan perputaran total aset. Pencapaian
tertinggi untuk rasio ini yaitu pada tahun 2012 senilai 3,36
menunjukkan bahwa dalam setahun, Kalbe melakukan 3,36 kali
pengisian persediaan, berarti persediaan Kalbe pada tahun 2012
dapat bertahan selama 108 hari.

4) Rasio Profitabilitas

Rasio Profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan


perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.
Rasio ini antara lain GPM (Gross Profit Margin), OPM(Operating
Profit Margin), NPM (Net Profit Margin). Terkait analisis saham PT
Kalbe Farma, berikut perhitungan rasio-rasio tersebut:
Gross Profit Margin=

Rasio

ini

Penjualan BersihHPP
Penjualan Bersih

menggambarkan

kemampuan

perusahaan

mendapatkan laba kotor untuk setiap rupiah penjualan.


Operating Profit Margin=

LabaOperasi
Penjualan Bersih

Rasio ini menunjukkan persentase dari profit yang diperoleh


perusahaan dari tiap penjualan sebelum dikurangi dengan biaya
bunga dan pajak, menggambarkan kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba operasi sebelum bunga dan pajak. Pada
umumnya semakin besar nilai dari rasio ini, maka semakin baik
kondisi perusahaan.
Net Profit Margin=

Laba Bersih
Penjualan Bersih

Rasio ini digunakan untuk mengukur keuntungan atau laba bersih


yang diperoleh perusahaan untuk setiap rupiah penjualan. Semakin besar
nilai

RASIO

2012

2011

2010

2009

Gross Profit Margin

0,48

0,51

0,51

0,50

Operating Profit
Margin

0,16

0,18

0,18

0,17

Net Profit Margin

0,13

0,14

0,13

0,12

yang

dihasilkan , menunjukkan kinerja yang semakin baik. Dari data laporan


keuangan Kalbe, diperoleh hasil sebagai berikut:

Rasio Profitabilitas
0.6
0.51

0.51

0.2
0.17
0.12
0.1

0.18
0.13

0.18
0.14

0.16
0.13

0
2009

2010

2011

2012

0.5
0.5

0.48

0.4
0.3

GPM

OPM

NPM

Berdasarkan data di atas, ketiga rasio menunjukkan nilai yang


cenderung stabil dari tahun 2009 sampai tahun 2012. Peningkatan
dan

penurunan

yang

terjadi

setiap

tahunnya

tidak

begitu

signifikan. Namun ketiga rasio mengalami penurunan pada tahun


2012. Untuk GPM atau margin laba kotor, terjadi penurunan dari
51% pada tahun 2011 menjadi 48% pada tahun 2012. Hal ini
karena meskipun terjadi peningkatan penjualan dari Rp 10.911
miliar pada tahun 2011 menjadi Rp 13.636 miliar pada tahun 2012,
namun harga pokok penjualan juga meningkat signifikan yaitu dari
Rp 5.360 miliar pada tahun 2011 menjadi Rp 7.102 miliar pada
tahun 2012. Penjualan meningkat sebesar 24% sementara harga
pokok penjualan meningkat sebesar 32%. Peningkatan harga pokok
penjualan yang lebih besar ini menyebabkan margin laba kotor
atau GPM mengalami penurunan.
Peningkatan laba operasi dan laba bersih yang tidak lebih
besar dari peningkatan penjualan dari tahun 2011 ke tahun 2012,
menyebabkan margin laba operasi atau OPM serta margin laba
bersih atau NPM mengalami penurunan. OPM Kalbe tahun 2012
senilai 16%, menurun 2% yaitu dari 18% pada tahun 2011.
Sementara NPM Kalbe untuk tahun 2012 senilai 13%, menurun 1%
yaitu dari 14% pada tahun 2011. Namun secara keseluruhan, nilai
yang relatif stabil menunjukkan kinerja yang baik oleh Kalbe. Nilai
NPM 13% menunjukkan bahwa Kalbe mampu menghasilkan laba
bersih sebesar 13% dari total penjualan yang dilakukan.
5) Rasio Tingkat Pengembalian Investasi
Rasio ini masih mengukur kemampuan perusahaan dalam
menciptakan profit. Terdiri dari Return on Assets (ROA) dan Return
on common Equity (ROE), yang didapatkan dengan rumus berikut:
ROA=

Laba bersih sebelum pajak


Total Aset

Rasio ini menunjukkan tingkat efisiensi perusahaan dalam


memanfaatkan aset dalam kegiatan operasionalnya.
ROE=

Laba bersih
Total Ekuitas
Sementara

rasio

ini

menunjukkan

rata-rata

perhitungan

pengembalian atas investasi pemegang saham yang diukur dengan


membandingkan laba bersih terhadap ekuitas saham biasa.
Berikut kedua rasio Kalbe berdasarkan data laporan keuangan
tahun 2009 sampai tahun 2012:
RASIO

2012

2011

2010

2009

Return on Assets

0,25

0,24

0,25

0,23

Return on Common
Equity

0,24

0,24

0,23

0,22

Tingkat Pengembalian Investasi


0.26
0.25
0.25
0.24
0.24
0.23
0.23
0.23
0.22
0.22
0.22
0.21
0.21
2009

0.25

0.25
0.24

0.24

2011

2012

0.23

2010
ROA

ROE

Berdasarkan data di atas, ROA kalbe tampak mengalami


fluktuasi meski tidak begitu signifikan. Penurunan terjadi pada
tahun 2011, yaitu menurun 1% dari 25% pada tahun 2010 menjadi
24% pada tahun 2011. Ini karena peningkatan laba sebelum pajak
yang tidak sebanding dengan peningkatan total aset Kalbe. Dari
tahun 2010 ke tahun 2011, total aset Kalbe meningkat dari Rp
7.032 miliar menjadi Rp 8.274 miliar, berarti meningkat sebesar
17%. Sedangkan laba sebelum pajak hanya meningkat sebasar
12%, yaitu dari Rp 1.770 miliar menjadi Rp 1.987 miliar. Meski
demikian, Kalbe kembali memperbaiki kinerjanya dan mampu
meningkat kembali ROA pada tahun 2012 senilai 25%. Nilai ini
menunjukkan bahwa pada tahun 2012, tiap Rp 1 investasi aset
menghasilkan Rp 25 laba tsebelum pajak.
Berbeda dengan nilai ROA, nilai ROE kalbe terus meningkat
dari tahun 2009 hingga tahun 2011. Pada tahun 2009, ROE kalbe
tercatat sebesar 22%, kemudian meningkat pada tahun 2013
menjadi 23%, dan tahun 2011 meningkat lagi menjadi 24%. Nilai
ini berarti bahwa setiap Rp 1 saham biasa mampu menghasilkan
laba bersih sebesar Rp 24 yang tersedia bagi pemegang saham.
Nilai ini stabil hingga tahun berikutnya, karena pertumbuhan laba
bersih yang sejalan dengan pertumbuhan ekuitas. Keduanya
mengalami pertumbuhan sebesar kurang lebih 13%. Secara garis
besar, ROE Kalbe dari tahun 2009 hingga tahun 2012 cukup baik.
Meskipun
tahunnya,

tidak

terjadi

namun

nilai

peningkatan
terjaga

yang

pada

signifikan

posisi

positif

setiap
yang

menunjukkan bahwa perusahaan dapat menghasilkan keuntungan

dengan kemampuan modal sendiri yang dapat menguntungkan


para pemegang saham.
6) Rasio Nilai Pasar
Rasio ini mengukur harga pasar relatif terhadap Nilai Buku
perusahaan. Rasio ini antara lain: Devidend Yield, Deviden Payout
Ratio, PER (Price Earning Ratio), PBV (Price to Book Value), yang
diperoleh dengan rumus berikut:
Devidend Payout Rate=

Dividend Yield=

Dividentunai per saham


Laba per saham

Dividentunai per saham


Harga pasar per lembar saham

PER=

Harga pasar per lembar saham


Laba per lembar saham

PBV =

Harga pasar per lembar saham


Nilai buku per lembar saham

Keempat

rasio

diatas

merefleksikan

pandangan

pasar

terhadap perusahaan sebagai pelaku pasar. Untuk PT Kalbe Farma,


berikut data rasio ukuran pasar yang diperoleh:
RASIO

2011

2010

2009

Dividend Payout Rate

60,13%

51,09%

25,77%

Dividen Yield

2,79%

2,15%

1,92%

21,5

23,7

13,4

Price to Earning Ratio

2012

28,6

Price to Book Value

7,31

5,3

6,14

3,06

Rasio Ukuran Pasar


70.00%
60.00%
50.00%
40.00%
30.00%
25.77%
20.00%
10.00%
1.92%
0.00%
2009

51.09%

2.15%
2010
Dividen Payout Rate
Dividen Yield

60.13%

2.79%
2011

Rasio Ukuran Pasar


35
30
25
20
15
13.4
10
5
3.06
0
2009

28.6
23.7

21.5

6.14

5.3

2010

2011

7.31
2012

Price to Earning Ratio


Price to Book Value

Berdasarkan data di atas, pencapaian tertinggi PER dan PBV


Kalbe terjadi pada tahun 2012 yaitu senilai 28,6 dan 7,31. Nilai ini
cukup tinggi dan menunjukkan pandangan pasar yang baik
terhadap Kalbe. Selain itu, tingkat pembayaran dividen Kalbe pada
tahun 2011 mncapai 60,13%, menunjukkan bahwa Kalbe memilih
untuk membayarkan sejumlah besar dari labanya. Dividen ini
dibagikan pada tahun 2012.

2. Analisis teknikal
analisis teknikal adalah merupakan suatu teknik analisis yang
dikenal dalam dunia keuangan yang digunakan untuk memprediksi
trend suatu harga saham dengan cara mempelajari data pasar yang
lampau, terutama pergerakan harga dan volume

[1]

Pada awalnya

analisis teknikal hanya memperhitungkan pergerakan harga pasar atau


instrumen

yang

bersangkutan,

dengan

asumsi

bahwa

harga

mencerminkan seluruh faktor yang relevan sebelum seorang investor


menyadarinya melalui berbagai cara lain. Analisis teknikal dapat
menggunakan berbagai model dan dasar misalnya, untuk pergerakan
harga digunakan metode seperti misalnya Indeks Kekuatan Relatif,
Indeks pergerakan rata-rata, regresi, korelasi antar pasar dan intra
pasar, siklus ataupun dengan cara klasik yaitu menganalisis pola grafik.

Pergerakan saham PT Kalbe Farma ditunjukkan oleh grafik berikut:

Grafik di atas menunjukkan pergerakan harga saham Kalbe yang


sangat berfluktuasi dari tahun 2009 hingga awal 2013. Namun secara

garis besar dapat dilihat harga saham Kalbe mengalami peningkatan


dari tahun ke tahun menunjukkan kinerja manajemen yang baik
sehingga

dapat

menarik

investor

untuk

menanamkan

modalnya

sehingga harga saham terus meningkat.


C. Kesimpulan
Secara keseluruhan, hasil analisis menunjukkan kondisi yang baik
pada PT Kalbe Farma. Terbukti dari rasio-rasio keuangan yang tergolong
baik. Untuk likuiditas perusahaan, meski mengalami penurunan pada dua
tahun terakhir, namun nilai yang cukup tinggi masih menunjukkan
kempampuan perusahaan dalam membayar kewajibannya lancarnya.
Didukung oleh nilai rasio solvabilitas yang tergolong rendah, menunjukkan
kemampuan Kalbe dalam membayar utang jangka panjangnya. Dalam hal
ini, Kalbe memang menggunakan lebih sedikit pendanaan dengan Utang,
sehingga dapat meningkatkan dengan cepat pengembalian kepada
pemilik. Terbukti dengan rasio tingkat pengembalian investasi, khususnya
pengembalian terhadap ekuitas yang menunjukkan nilai yang cukup tinggi
setiap tahunnya.
Pengelolaan persediaan dan penggunaan aset yang baik ditunjukkan
oleh rasio efisiensi penggunaan aset yang cukup tinggi. Kalbe cukup
efisien dalam menggunakan asetnya untuk menghasilkan penjualan,
terbukti dengan total penjualan yang terus meningkat dari tahun ke tahun
khususnya tahun 2012. Kemampuan Kalbe dalam menghasilkan profit
atau laba juga tergolong baik. Rasio-rasio profitabilitas yang cenderung
stabil dari tahun ke tahun, tidak terjadi peningkatan atau penurunan yang
begitu signifikan menunjukkan kinerja perusahaan yang baik.
Dalam industrinya, PT Kalbe Farma bergerak dalam industri yang
memproduksi barang dan jasa yang tetap dibutuhkan masyarakat dalam
kondisi apa pun termasuk saat ekonomi melambat. Terbukti pergerakan
harga saham Kalbe yang terus meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan
analisis

fundamental

dalam

menentukan

nilai

intrinsik

dengan

menggunakan pendekatan nilai buku, diproyeksikan harga pasar saham


PT Kalbe Farma akan terus meningkat hingga tahun 2014, dengan harga
yang lebih tinggi dari nilai buku saham menandakan terjadinya overvalue
sehingga tidak disarankan untuk membeli saham PT Kalbe Farma. Namun

melihat kinerja dan juga prospek ke depan yang baik bagi perusahaan ini,
disarankan investor yang telah memiliki saham Kalbe untuk menahan
sahamnya tersebut.