Anda di halaman 1dari 35

PROSEDUR PENGAJUAN ASURANSI KUR PT ASKRINDO

CABANG MAKASSAR
Laporan praktek pemagaman profesi akuntansi
Sebagian persyaratan untuk memenuhi praktek pemagaman
Program profesi akuntansi

Diajukan oleh :
NAMA : SUHARLINA
NIM : 13/358844/EE/06556

PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

ii

iii

KATA PENGANTAR


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, segala Puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena atas
limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan
praktek pemagangan sebagai persyaratan untuk menyelesaikan studi dan
memperoleh gelar Akuntan (Ak) pada fakultas ekonomika dan bisnis Universitas
Gadjah Mada. Penyusunan laporan praktek pemagangan ini membahas tentang
PROSEDUR PENGAJUAN ASURANSI

KUR PT ASKRINDO CABANG

MAKASSAR, dimana karya ini masih merupakan karya sederhana yang masih
jauh dari kata sempurna. Penulis berharap laporan praktek pemagangan ini dapat
memberi tambahan wawasan, sedikit pengetahuan kepada masyarakat tentang
asuransi KUR yang menjadi program unggulan pemerintah saat ini, dan mungkin
dapat digunakan sebagai bahan referensi buat semua kalangan, baik mahasiswa
maupun kalangan umum.
Penulis menyadari bahwa laporan ini dapat terwujud atas bimbingan dan
petunjuk dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih
kepada :
1. Allah SWT yang memberikan petunjuk dan kemudahan dalam
menyelesaikan laporan pemagangan.
2. Ayahanda Sutra dan Ibunda Nurhidayah yang telah memberikan
dukungan dan doa yang tiada hentinya bagi penulis.

iv

3. Dr. Hardo Basuki, M.Soc.,Sc,.CSA.,CA.,Ak selaku Ketua Program


Pendidikan Profesi Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas
Gadjah Mada.
4. Prof. Dr., Indra Bastian, M.B.A., CMA. Selaku pembimbing yang telah
banyak membimbing penulis dalam menyelesaikan laporan pemagangan
5. Staf pegawai PT Asuransi Kredit Indonesia Cabang Makassar yang
banyak membantu penulis selama menjalankan pemagangan
6. Tunggoro Widiandaru, SE., Ak, selaku Pembimbing Institusi
7. Sahabat-sahabat di PPAK UGM
8. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan laporan
ini.

Semoga Allah SWT memberikan balasan kepada semua pihak yang telah
membantu penulis dalam pelaksanaan Praktek Pemagangan Profesi Akuntansi
(P3A) Universitas Gadjah Mada.

Yogyakarta,

Juli 2013

Penulis,

SUHARLINA

DAFTAR ISI
SAMPUL ................................................................................................................ i
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................... ii
LEMBAR PERSETUJUAN................................................................................... iii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv
DAFTAR ISI ......................................................................................................... vi
BAB I
A. Latar belakang ............................................................................................ 1
B. Tujuan penulisan ..........................................................................................3
BAB II
A. Pengertian prosedur......................................................................................4
B. Kredit ...........................................................................................................4
C. Penjaminan kredit ......................................................................................11
D. Asuransi kredit bank ..................................................................................15
BAB III
A. Gambaran umum perusahaan .....................................................................17
B. Kegiatan kerja di tempat magang ...............................................................22
C. Evaluasi tempat magang ............................................................................22

vi

BAB IV
A. Simpulan ...................................................................................................26
B. Saran ..........................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... viii

vii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang

Dalam rangka pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan


Koperasi

(UMKMK),

kemiskinan,

Pemerintah

penciptaan

lapangan

menerbitkan

Paket

kerja,

dan

Kebijakan

penanggulangan
yang

bertujuan

meningkatkan Sektor Riil dan memberdayakan UKMK. Kebijakan tersebut


diwujudkan dengan meluncurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR), dengan fasilitas
penjaminan kredit dari Pemerintah melalui PT Askrindo dan Perum Jamkrindo
pada 5 November 2007. Bank Pelaksana yang menyalurkan KUR ini adalah Bank
BRI, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BTN, Bank Syariah Mandiri, dan Bank
Bukopin

Tujuan utama dari kebijakan pengembangan dan pemberdayaan UMKMK


mencakup peningkatan akses pada sumber pembiayaan, pengembangan
kewirausahan, peningkatan pasar produk UMKMK, dan reformasi regulasi
UMKMK. Keberadaann KUR dinilai sangat bermanfaat bagi masyarakat karena
kredit yangh diperoleh dapat digunakanan sebagai modal kerja dan investasi yang
risiko atas pengembaliannya dijamin oleh penjamin. Kehadiran lembaga penjamin
kredit tersebut kemudian menjadi sangat vital bagi tonggak pembangunan
UMKMK di Indonesia.

Perkembangan lembaga penjamin kredit ini kerap diikuti dengan segudang


permasalahan, khususnya dari sisi masyarakat yang terlibat dalam program ini.

Masyarakat dinilai masih belum memiliki pengetahuan, keterampilan, modal


usaha, pemasaran, dan agunan yang memadai, sehingga selama ini dipandang
kurang memenuhi persyaratan teknis perbankan, yang pada akhirnya menjadi
kendala bagi pengembangan UMKM itu sendiri. Untuk mengatasi permasalahan
tersebut, maka dipandang perlu adanya keanekaragaman lembaga keuangan yang
dapat menunjang pengembangan UMKM tersebut. Selama ini lembaga keuangan
yang dikenal hanyalah lembaga konvensional, di antaranya Bank dan pegadaian.
Sebenarnya telah ada lembaga keuangan lain yang dapat digunakan sebagai
pelengkap untuk membantu pengembangan UMKM, yaitu lembaga asuransi atau
penjaminan kredit yang berfungsi untuk menjembatani kesenjangan antara
UMKM dengan lembaga keuangan, baik perbankan maupun lembaga non bank
yang ada saat ini.

Hubungan erat antara lembaga penjamin kredit dengan bank penyalur


kredit juga kerap menimbulkan masalah ketika bank tersebut tidak melaksanakan
prosedur teknis yang telah disepakati sebelumnya. Kesalahpahaman ini
diperburuk dengan minimnya pengetahuan masyarakat terkait prosedur dan
manfaat dari lembaga penjamin kredit ini, sehingga tidak mengherankan jika
kemudian eksekusi dari program pemerintah ini masih kurang maksimal.

Beranjak dari paparan di atas, maka penelitian ini mencoba mengurai


benang kusut yang terjadi antara lembaga penjamin kredit dengan Bank penyalur
kredit terkait KUR yang merupakan salah satu program unggulan pemerintah
dalam pemberdayaan UMKM di Indonesia.

B. Tujuan penulisan
1. Untuk mengetahui bagaimana prosedur penjaminan KUR di PT
askrindo
2. Untuk mengetahui apakah penjaminan KUR sudah sesuai dengan
prosedur atau belum
3. Untuk memberi gambaran kepada masyarakat umum tentang KUR
sebagai program unggulan pemerintah saat ini

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Prosedur
Menurut muhammad ali (2000:325) prosedur adalah tata cara kerja atau
cara menjalankan suatu pekerjaan. Kemudian

Menurut kamaruddin

(1992:836-837) mengatakan bahwa prosedur pada dasarnya adalah suatu


susunan yang teratur dari kegiatan yang berhubungan satu sama lainnya dan
prosedur prosedur yang berkaitan melaksankanan dan memudahkan kegiatan
utama dari suatu organisasi. Sedangkan menurut ismail masya (1994:74)
prosedur adalah sutau rangkaian tugas tugas yang saling terhubung dan
merupakan urutan-urutan menurut waktu dan tata cara tertentu untuk
melaksanakan suatu pekerjaan yang dilaksanakan berulang-ulang.
B. Kredit
1. Pengertian Kredit
Istilah kredit, berasal dari suatu kata dalam bahasa latin yang
berbunyi credere, yang berarti kepercayaan. Atau credo artinya saya
percaya. Kalau sekarang kita mendengar orang menyebut credit, dalam
pengertian seseorang memperoleh kredit. Maka berarti ia telah
memperoleh kepercayaan. Jadi dapatlah diartikan, bahwa suatu
pemberian kredit terjadi, di dalamnya terkandung adanya kepercayaan
orang atau badan yang memberikan pada orang atau badan yang

diberinya, dengan ikatan perjanjian harus memenuhi segala kewajiban


yang diperjanjikan untuk dipenuhi pada waktunya (yang akan datang).
Memberikan

kredit

kepada

seseorang

berarti

memberikan

kepercayaan kepadanya. Dasar dari kepercayaan itu adalah adanya itikad


baik dari kedua belah pihak. Dengan demikian kejujuran harus dianggap
selamanya harus ada pada setiap orang, namun bagi orang yang telah
mendapat kepercayaan tersebut terkadang oleh sesuatu hal atau
timbulnya keadaan-keadaan dikemudian hari diluar kemampuannya yang
dapat menyebabkan ia tidak dapat memenuhi janji tepat pada waktunya.
Sehingga untuk lebih meyakinkan adanya itikad baik itu, kreditur
meminta bendanya yang dapat dipegang oleh kreditur yang menjadi
jaminan, manakala dapat memenuhi akan kewajibannya.
Pengertian kredit menurut Undang-Undang Tentang Perbankan
NO. 7 tahun 1992, didefinisikan sebagai berikut. Kredit adalah
penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,
berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam untuk
melunasi hutang setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga,
imbalan atau pembagian hasil keuntungan. Pengertian kredit menurut
Undang-undang Perbankan nomor 10 tahun 1998 adalah penyediaan
uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan
persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara Bank dengan
pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah
jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

Tahir (2006, hal. 138) kredit adalah suatu prestasi yang diserahkan
pada saat sekarang dengan harapan pada masa akan datang akan
menerima kontra prestasi. Sedangkan Simorangkir (2003, hal. 100) kredit
adalah pemberian prestasi (misalnya uang, barang) dengan balas prestasi
(kontra prestasi) akan terjadi pada waktu mendatang.
Mulyono (2005, hal. 10) mendefinisikan kredit yaitu kemampuan
untuk melaksanakan suatu pembelian atau mengadakan suatu pinjaman
dengan suatu janji pembayarannya akan dilakukan, ditangguhkan pada
suatu jangka waktu yang telah disepakati. Kent dalam Suyatno (2003,
hal. 13) mengemukakan bahwa kredit adalah hak untuk menerima
pembayaran atas kewajiban untuk melakukan pembayaran pada waktu
diminta atau pada waktu yang akan datang karena penyerahan barangbarang sekarang.
Dengan demikian untuk suatu persetujuan kredit diterima maka
harus memenuhi kriteria berikut ini :
a. Terdapat dua belah pihak
b. Persetujuan pinjam meminjam antara kreditur dengan debitur
c. Mempunyai jangka waktu tertentu
d. Hak kreditur untuk menuntut dan memperoleh pembayaran
e. Kewajiban debitur untuk membayar prestasi yang diterima.
2. Fungsi Kredit
Hadiwidjaja (2006, hal. 8) bahwa fungsi pokok kredit pada
dasarnya adalah untuk pemenuhan jasa pelayanan terhadap kebutuhan

masyarakat (to serve the socient) dalam rangka mendorong dan


melancarkan perdagangan, produksi dan jasa-jasa yang kesemuanya itu
ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup manusia. Selanjutnya
Hadiwidjaja menambahkan bahwa fungsi kredit dijalankan untuk
berbagai kegunaan, yaitu : 1) Kredit dapat memajukan arus alat tukar
barang dan jasa; 2) Kredit dapat mengaktifkan alat pembayaran; 3) kredit
dapat dijadikan sebagai pengendali harga; 4) kredit dapat menciptakan
alat pembayaran baru; 5) Kredit dapat mengaktifkan dan meningkatkan
faedah-faedah atau kegunaan potensi-potensi ekonomi yang ada.
Berhubungan dengan point 5 tersebut diatas, kaitannya dengan
pengusaha kecil yang merupakan tujuan utama pemberian kredit oleh
lembaga keuangan, sebab dengan bantuan kredit bagi pengusaha kecil
seperti petani, perindustrian dan lain-lain dapat berproduksi atau
menigkatkan produksinya dengan mengaktifkan potensi-potensi yang
dimilikinya.
Dengan Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI) Nomor 16/1/UKK
tanggal 20 Mei 1993 perihal Kredit Usaha Kecil (KUK) disebutkan
bahwa yang dimaksud dengan pengusaha/perusahaan kecil adalah usaha
yang memiliki total assets maksimum Rp. 600 juta tidak termasuk tanah
dan rumah yang ditempati. Selanjutnya lembaga keuangan itu sendiri
yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas
pembayaran dan peredaran uang dan menyalurkan kepada masyarakat.

3. Unsur Kredit
Dalam kata kredit megandung berbagai maksud. Atau dengan kata
lain dalam kata kredit terkandung unsur-unsur yang direkatkan menjadi
satu. Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam pemberian suatu
fasilitas kredit adalah sebagai berikut :
a. Kepercayaan
Kepercayaan merupakan suatu keyakinan bagi si pemberi kredit
bahwa kredit yang diberikan (baik berupa uang, barang atau jasa)
benar-benar diterima kembali di masa yang akan datang sesuai jangka
kredit. Untuk memperoleh keyakinan tersebut, kreditur melaksanakan
penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan
dan prospek usaha pihak debitur. Substansinya bahwa kepercayaan
bank terhadap itikad baik debitur disini yang terpenting adalah agunan
(unsur jaminan).
b. Kesepakatan
Kesepakatan antara si pemberi kredit dengan si penerima kredit
dituangkan dalam suatu perjanjian dimana masing-masing pihak
menandatangani hak dan kewajibannya masing-masing. Kesepakatan
ini kemudian dituangkan dalam akad kredit tanpa surat perjanjian
tertulis. Artinya, setiap pemberian kredit dalam bentuk apapun
senantiasa harus disertai dengan surat perjanjian tertulis yang jelas dan
lengkap.

Setiap kredit yang telah disetujui dan disepakati wajib dituangkan


dalam perjanjian kredit (akad kredit) secara tertulis. Bentuk dan
format perjanjian kredit ditetapkan dalam Pedoman Pelaksanaan
Kredit (PPK) dengan mencakup hal-hal sebagai berikut:
1.) Memenuhi keabsahan dan persyaratan hukum yang dapat
melindungi kepentingan bank.
2.) Memuat

jumlah,

jangka

waktu,

suku

bunga

dan

provisi/commitment fee, tata cara pembayaran kembali kredit,


agunan serta persyaratan-persyaratan kredit lainnya sebagaimana
ditetapkan dalam keputusan persetujuan kredit.
Dengan demikian jelaslah bahwa kebijakan tersebut adalah untuk
mengetahui dengan pasti mengenai kata sepakat yang dilakukan para
pihak yang tertuang dalam perjanjian tersebut.
c. Jangka Waktu
Setiap kredit yang diberikan memiliki jangka waktu tertentu, jagka
waktu ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati.
Jangka merupakan batas waktu pengembalian angsuran kredit yang
sudah disepakati kedua belah pihak.
d. Adanya Hak dan Kewajiban
Dalam perjanjian kredit, kedua belah pihak mempunyai hak dan
kewajiban, yaitu :
1) Pemohon kredit berhak mengajukan permohonan bantuan kredit
dan sekaligus menerima bantuan kredit dari pihak pemberi kredit,

sedangkan

kewajibannya

adalah

mengembalikan

semua

hutangnya/kreditnya beserta bunganya serta memberikan jaminan


(agunan) akan pelunasan utangnya itu dikemudian hari.
2) Pemberi kredit berhak menerima kembali pembayaran/pelunasan
piutangnya beserta bunganya serta berhak meminta jaminan
(agunan) atas peluansan piutangnya itu, sedangkan kewajibannya
adalah memberikan kredit berupa uang, barang ataupun jasa
kepada pihak pemohon kredit. Adapun fungsi jaminan kredit
disini adalah untuk dijadikan alat pembayaran apabila si debitur
tidak mengembalikan atau membayar utangnya.
e. Risiko
Akibat adanya tenggang waktu, maka pengembalian kredit akan
memungkinkan suatu risiko tidak tertagih atau macet. Risiko ini
menjadi tanggungan Lembaga Keuangan. Pemberian kredit oleh
lembaga keuangan mengandung risiko kegagalan atau kemacetan
dalam pelunasannya, sehingga dapat berpengaruh terhadap kesehatan
lembaga keuangan. Oleh karena itu untuk memelihara kesehatan
lembaga keuangan, maka dalam perjanjian yang telah dibuat dan
disepakati, kedua belah pihak wajib menaatinya, sehingga apabila
terjadi kredit macet, maka pihak kreditur mengadakan pelelangan
agunan atas jaminan dari pihak debitur, baik sebagian ataupun
keseluruhan dari jaminan atas agunan.

10

f. Balas Jasa
Bagi lembaga keuangan, balas jasa merupakan keuntungan atau
pendapatan atas pemberian suatu kredit. Disamping balas jasa dalam
bentuk bunga, lembaga keuangan juga membebankan kepada nasabah
biaya administrasi kredit yang juga merupakan keuntungan bagi
lembaga keuangan.
C. Penjaminan Kredit
Penjaminan adalah suatu perjanjian dengan pihak ketiga, guna
kepentingan si berpiutang mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan si
berutang manakala orang ini sendiri tidak memenuhinya (Pasal 1820
1850 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tentang Penjaminan Utang).
Brosur Askrindo (2011) penjaminan berasal dari kata Jamin yang
mendapatkan akhiran menjadi jaminan yang dapat berarti garansi atau
penjaminan atas ketidakpastian terhadap resiko yang mungkin timbul di
masa yang akan datang.
Dalam sebuah kegiatan penjaminan kredit, terdapat 3 (tiga) pihak
yang terlibat dan berperan aktif sesuai dengan tanggung jawab dan fungsi
masing-masing. Para pihak tersebut adalah sebagai berikut :
a. Penjamin adalah perorangan atau lembaga yang memberikan jasa
penjaminan bagi kredit atau pembiayaan dan bertanggung jawab untuk
memberikan ganti rugi kepada penerima jaminan akibat kegagalan
Debitur atau Terjamin dalam memenuhi kewajibannya sebagaimana
diperjanjikan dalam perjanjian kredit/pembiayaan.

11

b. Penerima Jaminan adalah Kreditor, baik bank maupun bukan bank


yang memberikan fasilitas kredit atau pembiayaan kepada Debitur
atau Terjamin, baik kredit uang maupun kredit bukan uang atau kredit
barang.
c. Terjamin adalah badan usaha atau perorangan yang menerima kredit
dari penerima jaminan. Dalam dunia perkreditan, Terjamin ini dikenal
dengan Debitur yang umumnya adalah perorangan yang menjalankan
suatu usaha produktif atau pelaku usaha mikro, kecil, menengah
maupun koperasi (UMKM) termasuk juga di dalamnya perorangan
anggota koperasi dan bukan anggota koperasi.
Dengan adanya keterlibatan aktif tiga (3) pihak dalam penjaminan
kredit, maka dalam menjalankan fungsinya penjamin kredit menerima
permintaan penjaminan, baik dari Terjamin yang bersangkutan maupun
dari penerima Jaminan atau pihak yang menyediakan fasilitas kredit.
Penjamin kredit yang umumnya berbentuk sebuah lembaga dalam
menyelenggarakan fungsi tersebut memiliki tujuan antara lain:
a. Meyakinkan pihak Kreditur yaitu Bank atau lembaga lain penyalur
kredit atau pembiayaan dalam memberikan kredit kepada Debitur
yang umumnya adalah perorangan pelaku UMKM yang memiliki
prospek dan usaha yang layak (feasible), tetapi tidak atau belum
memenuhi ketentuan atau persyaratan teknis bagi suatu penyaluran
kredit atau belum bankable.

12

b. Memperoleh pendapatan dari fee atau imbal jasa yang diberikan untuk
dikelola dengan menggunakan asas pengelolaan keuangan yang sehat
dan bertanggung jawab.
c. Mengambil alih sementara resiko kegagalan pelunasan pinjaman yang
diterima pihak Terjamin, sehingga kewajiban Terjamin kepada
penerima jaminan dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah
disepakati.
Adapun prosedur penjaminan kredit (askrindo,2011) yaitu :
a. Mengisi blangko permohonan penjaminan kredit yang terdiri dari :
1.) Nama / nama usaha debitur (terjamin).
2.) Alamat debitur.
3.) Nomor ijin usaha.
4.) Sektor usaha.
5.) Jumlah tenaga kerja.
6.) Plafond kredit.
7.) Jangka waktu pelunasan kredit.
8.) Jumlah tunggakan.
b. Dokumen mengenai profil perusahaan calon terjamin (debitur).
c. Copy / tembusan permohonan kredit dari terjamin kepada lembaga
keuangan.
d. Surat keterangan dari lembaga keuangan atas ketidaksanggupan
debitur dalam melunasi piutang.

13

e. Copy neraca keuangan, laba / rugi, dan cash flow untuk dua tahun
terakhir.
Sesuai dengan prinsip-prinsip yang dimiliki, suatu kegiatan
penjaminan kredit membutuhkan landasan hukum atau legalitas untuk
dapat digunakan dan diselenggarakan. Sebagai bukti penjaminan, pihak
Penjamin akan mengeluarkan sebuah komitmen tertulis akan kesediaannya
dalam menjamin suatu kredit dan dituangkan secara formal dalam sebuah
sertifikat yang merupakan bukti persetujuan penjaminan dari perusahaan
atau lembaga yang menyediakan jasa penjaminan. Dalam dokumen
tersebut dengan jelas disebutkan data pihak Terjamin atau Debitur
kredit/pembiayaan dan data pihak Penerima Jaminan atau Kreditur
penyedia perkreditan, termasuk profil kredit yang dijamin.
Sesuai dengan prinsip penjaminan kredit adalah suatu kegiatan
pelengkap (accessoir) bagi suatu perkreditan, maka sebelum memulai
kegiatan penjaminan terlebih dahulu harus terdapat perjanjian kredit antara
Terjamin dan Penerima Jaminan. Meskipun demikian, karena penjaminan
kredit melibatkan tiga (3) pihak dan terutama mengikat keberadaan pihak
Penjamin dan Penerima Jaminan, maka sebelum mengeluarkan komitmen
penjaminan

atau

Sertifikat

Penjaminan,

penjamin

dapat

mengkomunikasikan segala ketentuan penjaminan kepada pihak yang


nantinya akan menerima manfaat penjaminan kredit yaitu Penerima
Jaminan (Kreditur). Komunikasi antara Penjamin dan Penerima Jaminan
tersebut dilakukan secara tertulis dan hal tersebut menjadi landasan

14

kesepakatan kedua pihak atas kepentingan Terjamin (nasabah) untuk


kemudian saling mengikatkan diri dalam sebuah kegiatan penjaminan.
Komunikasi ini pada dasarnya merupakan jawaban atau respon pihak
Penjamin terhadap pengajuan penjaminan kredit dari Penerima Jaminan.
Surat penjamin tersebut merupakan dasar adanya persetujuan secara
prinsip pihak Penjamin untuk memberikan penjaminan. Oleh Penerima
Jaminan, persetujuan prinsip tersebut dapat digunakan sebagai dasar
ditandatanganinya suatu Perjanjian Kredit. Komunikasi antara Penerima
Jaminan dan Penjamin serta persetujuan prinsip penjaminan tersebut
didokumentasikan secara tertulis dan menjadi landasan bagi penjaminan
kredit
D. Asuransi Kredit Bank.

Merupakan produk jasa Askrindo untuk memberikan penjaminan


kepada perbankan maupun non perbankan atas kredit yang diberikan
kepada UMKM. Fungsi Askrindo dalam hal ini adalah memberikan
jaminan/ganti rugi atas kemacetan yang disalurkan perbankan maupun non
perbankan kepada UMKM.

Jenis Asuransi Kredit Bank.

Penjaminan Kredit Menengah

Penjaminan Kredit Kecil

15

Manfaat Asuransi Kredit.

Memperbesar akses UMKM terhadap sumber pembiayaan

Mengurangi risiko yang dihadapi Bank atas pemberian kredit kepada


UMKM

Bank Pemerintah/Swasta Nasional termasuk BPR

Bank Pembangunan Daerah

Bank Syariah

Lembaga Keuangan non Bank (Pegadaian)

Pengguna Jasa Asuransi Kredit.

Bank Pemerintah/Swasta Nasional termasuk BPR

Bank Pembangunan Daerah

Bank Syariah

Lembaga Keuangan non Bank (Pegadaian)

16

BAB III
PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Perusahaan
Sesuai Peraturan Pemerintah No. 1 tanggal 11 Januari 1971, Pemerintah
Republik Indonesia melalui Departemen Keuangan dan Bank Indonesia
mendirikan lembaga khusus guna mendorong kelancaran pemberian kredit
Perbankan yaitu PT. Asuransi Kredit Indonesia atau lebih dikenal dengan
sebutan ASKRINDO beserta kantor cabang yang menyebar diberbagai
daerah di Indonesia. Lembaga ini diberi tugas menyediakan jaminan
institusional (institusional collateral) untuk mendampingi (supplementation)
perbankan di Indonesia dalam penyaluran kredit kepada UMKM (Usaha
Mikro Kecil Menengah) khususnya untuk memenuhi persyaratan UndangUndang Perkreditan pada waktu itu (UU Pokok Perbankan No. 14 Tahun
1967, yaitu Bank Umum tidak memberikan kredit tanpa jaminan) .
Pendirian tersebut didukung dengan adanya Akta Notaris Prabowo Achmad
Kadijono, S.H., No. 2 tanggal 6 April 1971. Dan telah diumumkan dalam
Berita Negara Republik Indonesia No. 99 Tambahan No. 555 tanggal 10
Desember 1971.
Maksud dan tujuan didirikan Askrindo antara lain untuk menjembatani
kesenjangan antara usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang layak
(feasible), tetapi tidak memiliki agunan cukup untuk mendapatkan kredit dari
perbankan. Fungsi Askrindo adalah sebagai penanggung risiko kredit apabila
UMKM tersebut tidak mampu mengembalikan kredit tersebut (macet).

17

Dengan demikian, fungsi Askrindo adalah sebagai Collateral Substitution


Institution.
Askrindo didirikan sebagai lembaga asuransi karena sesuai kebutuhan
Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) pada saat itu, dimana istilah
asuransi merupakan satu-satunya sarana yang disediakan untuk memberikan
jaminan agar bank mau memberikan kredit kepada Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah. Untuk dapat mengakomodir kebijakan tersebut diatas, Pemerintah
menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 1 Tahun 1971 Tentang
Penyertaan Modal Negara RI Untuk Pendirian Perusahaan Dalam Bidang
Perasuransian Kredit. Pada tahun 1998 Perusahaan melakukan perubahan
Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga, yang semula adalah membantu
kelancaran pengarahan dan pengamanan perkreditan bank-bank, terutama di
bidang Usaha Menengah dan Kecil, dilakukan perubahan menjadi
melaksanakan penutupan pertanggungan atas risiko tidak diterimanya
pelunasan kredit dari Debitur terhadap kredit yang diberikan dari bank atau
lembaga pembiayaan lainnya.
Pada awalnya modal dasar perusahaan sebesar 5 miliar Rupiah yang
seluruhnya berasal dari Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini
Departemen Keuangan dan Bank Indonesia. Walaupun perusahaan ini
merupakan perusahaan asuransi namun pada hakekatnya Askrindo telah
menjalankan

fungsi sebagai

Lembaga

Penjamin (Credit

Guarantee

Institution). Peranan yang strategis sebagai salah satu institusi yang


membantu pengembangan UMKM, Pemerintah melakukan penambahan

18

struktur modal Askrindo sehingga mencapai 500 Miliar Rupiah pada 31


Desember 1988 dan telah disetor sebesar 320 Miliar Rupiah, dengan
komposisi saham 55% dimiliki Bank Indonesia dan 45% dimiliki oleh
Departemen Keuangan. Anggaran Dasar dan Anggaran rumah Tangga PT
Askrindo telah beberapa kali mengalami perubahan dan terakhir melalui Akta
Perubahan No. 18 tanggal 26 Mei 1998 oleh Notaris Imas Ftaimah S.H., dan
telah

mendapatkan

pengesahan

Menteri

Kehakiman

No.

C2

&.504.HT.01.04.TH.98 tanggal 25 Juni 2003.


1. Melaksanakan dan menunjang kebijaksanaan dan Program Pemerintah
dibidang Ekonomi dan Pembangunan Nasional pada umumnya khususnya
pengembangan sektor Riil dalam hal pemberdayaan Sektor UMKM serta
pembangunan dibidang Asuransi Kredit dan Penjaminan Kredit dengan
jalan : a) Melaksanakan penutupan pertanggungan (asuransi) dan atau
Penjaminan Kredit atas resiko tidak diterimanya pelunasan kredit dari
Debitur/Terjamin terhadap Kredit/Pembiayaan yang diberikan oleh bankbank/Penerima Jaminan atau lembaga pembiayaan lainnya dalam arti kata
yang

seluas-luasnya.

b)

Melakukan

usaha

dibidang

Asuransi

Kerugian/Asuransi Kredit Perdagangan lainnya baik secara langsung


maupun tidak langsung, baik di dalam negeri maupun luar negeri. c) Dapat
membuat dan menutup Perjanjian Pertanggungan Ulang (Reasuransi) serta
melakukan usaha-usaha yang langsung maupun tidak langsung yang erat
hubungannya dengan ketentuan yang dimaksud dalam butir a dan b di atas.

19

2. Dapat menjalankan usaha lainnya baik secara sendiri-sendiri maupun


bersama-sama sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.
Secara historis, kegiatan usaha (penjaminan/asuransi kredit) yang
dijalankan perusahaan selama ini dapat dikategorikan usaha penjaminan,
namun mengingat pada saat ini belum ada regulasi dan/atau ketentuan
(landasan hukum) yang secara khusus mengatur kegiatan usaha penjaminan,
sehingga regulator menggolongkan Askrindo kedalam perusahaan asuransi
kerugian. Periode selanjutnya, dengan semakin berkembangnya dunia
perasuransian, maka banyak pula bermunculan produk-produk asuransi
kerugian yang dalam aplikasinya ternyata merupakan produk dengan skim
penjaminan atau kombinasi antara keduanya.
Pada tahun 1996, PT Askrindo mulai menjalankan usaha untuk produkproduk diversifikasi yaitu Surety Bond, Customs Bond, dan Asuransi Kredit
Perdagangan (Askredag). Produk-produk diversifikasi ini seluruhnya
merupakan produk dengan bentuk penjaminan. Pada tahun 2007, perusahaan
kembali mendapat tugas untuk menjamin kredit program pemerintah dalam
bentuk penjaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui Inpres no.6 tahun
2007. Penugasan ini merupakan pengakuan pemerintah atas eksistensi
perusahaan dalam bidang penjaminan. PT Askrindo sampai dengan saat ini
masih berstatus sebagai perusahaan asuransi, namun apabila dilihat dari
produk-produk yang dipasarkan, maka produk tersebut termasuk usaha di
bidang penjaminan. Untuk tetap mempertahankan eksistensi dan sustainbilitas

20

perusahaan, maka PT Askrindo harus menentukan pilihan status bidang


usahanya. Adapun penjabaran mengenai perusahaan ini adalah sebagai
berikut :
1.

Visi
Menjadi perusahaan yang sehat, handal dan terpercaya yang berorientasi
pada pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

2. Misi
Mendukung pelaksanaan dan kebijakan serta program pemerintah di
bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya, terutama
dalam menciptakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang
tangguh.
3. Motto perusahaan
PRIMA, merupakan motto yang melandasi tekad dan semangat kerja
bagi segenap direksi dan karyawan PT Askrindo yang wajib dilaksanakan
dalam setiap perilaku kerja. Adapun PRIMA yang dimaksud yaitu :
Professional. Memiliki kecakapan, kemampuan, dan menguasai
bidang pekerjaan.
Responsible. Menjunjung tinggi tanggung jawab, kejujuran dan
kepercayaan dalam melaksanakan tugas.
Innovative. Memilki daya piker dan kreasi dalam mengembangkan
produk dan pelayanan.
Motivated. Memilki kemauan untuk meningkatkan kinerja, kerja
sama dan produktifitas.

21

Assertive. Memilki sikap tegas, saling meghargai, memegang teguh


norma-norma dan peraturan yang berlaku.
Dalam upaya mendukung program pemerintah sebagaimana ditetapkan
Inpres Nomor 6 tahun 2007, PT Askrindo telah memperoleh penambahan
modal negara sebesar Rp850 milyar, guna memperkuat kapasitas penjaminan
Kredit Usaha Rakyat.
B. Kegiatan kerja di tempat magang
Kegiatan di tempat magang :
1. Mengimput deklarasi yang di ajukan oleh bank di bantu oleh
pegawai askrindo
2. Melakukan koreksi data yang ada di deklarasi tersebut di bantu
oleh pegawai askrindo
C. Evaluasi tempat magang
Adapun prosedur penjaminan kredit (askrindo,2011) yaitu :
a. Mengisi blangko permohonan penjaminan kredit yang terdiri dari :
1.) Nama / nama usaha debitur (terjamin).
2.) Alamat debitur.
3.) Nomor ijin usaha.
4.) Sektor usaha.
5.) Jumlah tenaga kerja.
6.) Plafond kredit.
7.) Jangka waktu pelunasan kredit.
8.) Jumlah tunggakan.

22

b. Dokumen mengenai profil perusahaan calon terjamin (debitur).


c. Copy / tembusan permohonan kredit dari terjamin kepada lembaga
keuangan.
d. Surat keterangan dari lembaga keuangan atas ketidaksanggupan
debitur dalam melunasi piutang.
e. Copy neraca keuangan, laba / rugi, dan cash flow untuk dua tahun
terakhir.
Sesuai dengan prinsip-prinsip yang dimiliki, suatu kegiatan
penjaminan kredit membutuhkan landasan hukum atau legalitas untuk
dapat digunakan dan diselenggarakan. Sebagai bukti penjaminan, pihak
Penjamin akan mengeluarkan sebuah komitmen tertulis akan kesediaannya
dalam menjamin suatu kredit dan dituangkan secara formal dalam sebuah
sertifikat yang merupakan bukti persetujuan penjaminan dari perusahaan
atau lembaga yang menyediakan jasa penjaminan. Dalam dokumen
tersebut dengan jelas disebutkan data pihak Terjamin atau Debitur
kredit/pembiayaan dan data pihak Penerima Jaminan atau Kreditur
penyedia perkreditan, termasuk profil kredit yang dijamin.
Sesuai dengan prinsip penjaminan kredit adalah suatu kegiatan
pelengkap (accessoir) bagi suatu perkreditan, maka sebelum memulai
kegiatan penjaminan terlebih dahulu harus terdapat perjanjian kredit antara
Terjamin dan Penerima Jaminan. Meskipun demikian, karena penjaminan
kredit melibatkan tiga (3) pihak dan terutama mengikat keberadaan pihak
Penjamin dan Penerima Jaminan, maka sebelum mengeluarkan komitmen

23

penjaminan

atau

Sertifikat

Penjaminan,

penjamin

dapat

mengkomunikasikan segala ketentuan penjaminan kepada pihak yang


nantinya akan menerima manfaat penjaminan kredit yaitu Penerima
Jaminan (Kreditur). Komunikasi antara Penjamin dan Penerima Jaminan
tersebut dilakukan secara tertulis dan hal tersebut menjadi landasan
kesepakatan kedua pihak atas kepentingan Terjamin (nasabah) untuk
kemudian saling mengikatkan diri dalam sebuah kegiatan penjaminan.
Komunikasi ini pada dasarnya merupakan jawaban atau respon pihak
Penjamin terhadap pengajuan penjaminan kredit dari Penerima Jaminan.
Surat penjamin tersebut merupakan dasar adanya persetujuan secara
prinsip pihak Penjamin untuk memberikan penjaminan. Oleh Penerima
Jaminan, persetujuan prinsip tersebut dapat digunakan sebagai dasar
ditandatanganinya suatu Perjanjian Kredit. Komunikasi antara Penerima
Jaminan dan Penjamin serta persetujuan prinsip penjaminan tersebut
didokumentasikan secara tertulis dan menjadi landasan bagi penjaminan
kredit.
Gambar 5.1 Flow chart penjaminan Kredit Usaha Rakyat

24

Dari pelaksanaan kegiatan magang di PT Askrindo diketahui :


1) Adanya divisi lain yang terkadang memberikan rekomendasi
penanganan penjaminan kredit yang kurang kompeten dalam bidang
tersebut, sedangkan Pelaksanaan penjaminan kredit pada PT Askrindo
cabang Makassar dilakukan untuk memberikan jaminan bagi UMKM
dalam hal Kredit Usaha Rakyat untuk mengatasi timbulnya risiko
piutang tak tertagih. Oleh karena itu pelaksanan penjaminan kredit
yang dilakukan harus sesuai dengan aturan dan prosedur yang telah
ditetapkan agar pelaksanaannya dapat berjalan secara efisien dan
efektif serta dapat dipertanggungjawabkan baik kepada kreditur,
debitur.
2) Terdapat staf yang kurang kompeten dalam memantau dan
menganalisa perkembangan penjaminan kredit.
3) Kurangnya dilakukan training secara kontinyu terhadap staf yang
menangani analisis klaim kredit.
4) Kurangnya pengetahuan dalam melakukan verifikasi atas kebenaran
data terjamin yang diberikan oleh pihak penerima jaminan
5) Beberapa Lembaga keuangan atau perbankan dalam hal memenuhi
data penjaminannya tidak sesuai seperti jangka waktu pinjaman dan
data diri tidak sesuai dengan KTP.

25

BAB IV
Kesimpulan dan Saran
A. Simpulan
Dalam pelaksanaan prosedur pengajuan penjaminan kredit pada PT
Askrindo cabang Makassar, terdapat beberapa kekurangan yang menjadi
kendala dalam proses pelaksanaan penjaminan kredit, yaitu masih
ditemukannya divisi lain yang terkadang memberikan rekomendasi
penanganan penjaminan kredit termasuk klaim kredit, adanya staf yang
kurang kompeten dalam memantau dan menganalisa perkembangan
penjaminan kredit, kurangnya dilakukan training secara kontinyu terhadap
staf yang menangani analisis klaim kredit, serta kurang telitinya pihak
askrindo dalam hal memeriksa data-data calon penjaminannya.
B. Saran
1. Kepala cabang melakukan kontroling dengan melakukan pelatihan rutin
dan menjaga fokus kerja tiap pegawainya serta pemberian insentif
pegawai yang bekerja lebih.
2. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan mengupayakan
pelatihan teknis meliputi aspek pendidikan mengenai perkreditan dan
penjaminan kredit.
3. Konsistensi dalam pelaksanaan tugas dan wewenang serta penganalisaan
dan penyampaian informasi yang tepat dan akurat.
4. Langkah-langkah perbaikan dalam pelaksanaan dipantau oleh auditor
internal harus dilakukan secara berkala dan mengingatkan secara tertulis
26

apabila divisi / bagian penjaminan kredit dalam hal melakukan perbaikan


atas rekomendasi yang diberikan oleh auditor internal.

27

DAFTAR PUSTAKA

Askrindo, 2011, Penjaminan Kredit, Askrindo, Penerbit : Kantor Pusat Askrindo,


Jakarta.
_______, 2010, Laporan tahunan PT Askrindo, Penerbit : Kantor Pusat Askrindo,
Jakarta.

Fauzan , Alwin, 2008, Peranan Audit Manajemen Atas fungsi Pengawasan Kredit
Dalam Menunjang Efisiensi Dan Efektifitas Pada PT PINDAD Bandung.

Hadiwijaja, 2006, Perbankankan, Penerbit: Bening Publishing, Jakarta.

Hery, 2010, Asuransi dan Penjaminan Kredit, Penerbit: Raja Grafindo Persada,
Jakarta.

Tahir, 2006, Kredit Perbankan, Penerbit : Salemba Empat , Jakarta.


Web.http//www.Askrindo.co.id, Oktober 2011, Asuransi dan Penjaminan Kredit.
Web.http://sinarmas.co.id/FAQ/asuransi_kredit.asp
Web.http://www.askrindo.co.id/asuransi-kredit/

viii