Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS PENERAPAN E-BUDGETING PADA PEMERINTAHAN

PROVINSI DKI JAKARTA


Kasus Korupsi dalam instansi pemerintahan baik pusat maupun daerah merupakan salah satu
masalah yang membutuhkan perhatian lebih, sebab praktik tersebut akan menimbulkan kerugian
negara antara lain pembangun negara yang terhambat dan berujung pada kesejahteraan rakyat
berkurang dikarenakan dana yang seharusnya disalurkan, digunakan untuk kepentingan rakyat
dinikmati oleh oknum-oknum yang mengatasnamakan rakyat namun mencari keuntungan
pribadi. Kasus Korupsi yang belakangan ini sering menjadi pemberitaan adalah terutama di
pemerintahan daerah. Tidak terkecuali Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta. Hasil Survey dari
KPK atas Indeks Presepsi Korupsi untuk seluruh Pemkot Jakarta masih <6 yang artinya tindak
korupsi masih tergolong tinggi.
Salah satu media yang biasanya digunakan oleh oknum oknum tidak bertanggung
jawab di pemerintahan daerah adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Salah
satunya adalah praktik yang dikenal dengan Anggaran Siluman. Anggaran Siluman adalah
anggaran yang diajukan oleh satuan kerja daerah namun kegiatan atau programnya fiktif, atau
kegiatan yang sudah ditiadakan/dicoret/tidak disetujui namun tiba-tiba muncul kembali
anggaranya, dapat pula melakukan peningkatan anggaran dengan jumlah yang tidak seharusnya.
Sebagai contoh adalah DKI Jakarta yang akan kita bahas dalam makalah ini. Menurut berita
harian kompas pada tanggal 8 November 2014 Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan
(BPKP) Perwakilan Provinsi DKI Jakarta menemukan banyaknya kegiatan fiktif dengan
Anggaran "siluman" di Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Dinas Kesehatan pada APBD 2014.
Total anggaran siluman yang ditemukan di Dinas PU DKI mencapai Rp 3,518 triliun pada APBD
2014 dengan 252 kegiatan fiktif. Kemudian ada sekitar 34 kegiatan fiktif di Dinas Kesehatan
dengan jumlah anggaran siluman sebesar Rp 33,442 miliar.
Analisis akan transfer daerah (DAK, DAU, DBH, dan Dana Otonomi Khusus
&Penyesuaian) yakni dari pusat ke daerah juga dapat kita lakukan. Bila melihat APBN dari tahun
2006 hingga 2012 presentase transfer daerah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Maka
dapat dikatakan seharusnya pemerintah daerah seharusnya mampu meningkatkan pembangunan
daerah sesuai dengan target atau kebutuhan program. Berikut terlampir data
Namun karena praktik korupsi yang masih menjadi permasalahan, menyebabkan
penggunaan dana-dana tersebut tidak sepenuhanya untuk kepentingan rakyat singkat kata
pelaksanaan pemerintahan pembangunan terganggu. Anggapan bahwa semakin tingginya
anggaran yang diberikan kepada daerah melalui transfer daerah akan menunjukkan bahwa setiap
daerah di Indonesia mengalami growth sebenarnya kurang tepat karena ukuran sebenarnya
apakah tercapai target pembangunan daerah yang diinginkan bukan semata mata hanya karena
peningkatan anggaran yang diberikan. Sebagai akibatnya adalah adanya ketimpangan yang
cukup besar antara pembangunan pusat dan daerah, meski terdapat anggaran yang cukup besar
untuk otonomi daerah dan otonomi khusus.
Page 1 of 7

Indonesia adalah Negara kepulauan dengan jumlah provinsi mencapai 33, 415 kabupaten,
1 kabupaten administrasi, 93 kota, dan 5 kota administrasi di Indonesia, maka praktik otonomi
daerah atau desentralisasi dapat dikatakan tepat. Beberapa alasannya karena setiap daerah
karakteristik penduduknya yang memang berbeda, begitupula dengan kekayaan alam atau
sumber pendapatan yang juga berbeda, kebutuhan mereka sangat beragam, berbeda antara satu
daerah dengan daerah lainnya maka perlu pemerintahan yang terdesentralisasi. Praktik otonomi
daerah di Indonesia saat ini dapat dikatakan menyediakan peluang timbulnya permasalahan
korupsi yang sebelumnya kita bahas. Jika berdasar pada permasalahan di atas terdapat indikasi
lemahnya pengawasan pemerintah akan pengawasan pengganggaran.
Salah satu langkah strategis yang diharapkan dapat mengantisipasi isu isu tersebut di
atas agar tidak terjadi kembali adalah dengan menerapkan e-budgeting. E-Bugeting adalah sistem
penyusunan anggaran secara elektronik, melalui penggunaan e-budgeting dalam sektor
pemerintahan diharapakan mampu memproteksi pelaksanaan penganggaran di Indonesia. Sistem
ini pertama kali diterapkan dan sekaligus menunjukkan kesukesan atas penerapannya oleh
Pemerintah Kota Surabaya yang dipimpin oleh Tri Rismaharini (Risma).

E-Budgeting

Definisi dan Tujuan


E-Budgeting sendiri dapat diartikan sebagai sebuah sistem informasi untuk penyusunan
anggaran dengan menggunakan elektronik. Pada awalnya sistem e-budgeting ini hanya berupa
spreadsheet namun kemudian dikembangkan hingga berbasis internet. Sistem E-Budgeting ini
pertama kali diterapkan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Termasuk dalam sistem E-Budgeting
adalah semua kebutuhan data dan proses yang diperlukan hingga menampilkan laporan
laporan analisa anggaran. Dengan menggunakan E-Budgeting telah membantu Pemerintah Kota
Surabaya dalam membuat RAB tahun 2005 dan tahun 2006.

Tujuan E-Budgeting
E-Budgeting diterapkan untuk mendukung proses penyusunan anggaran. Seperti diketahui
dalam proses pembuatan Rencana Anggaran Belanja Daerah yang dilakukan tiap tahun
mempunyai proses yang cukup lama. Proses proses yang ada antara lain mempersiapkan data
standar harga satuan, pembagian bagian anggaran, merancang usulan-usulan kegiatan beserta
rincian anggarannya oleh masing-masing unit satuan kerja, pembahasan internal maupun dengan
DPRD, setelah melalui satu kali atau lebih revisi terbentuklah suatu rencana anggaran yang bisa
diterima oleh semua pihak dan dapat menunjukkan arah pembangunan
Page 2 of 7

Proses tersebut dapat dikatakan lambat dan berbelit belit, menghabiskan waktu yang tidak
sebentar. Selain itu terdapat isu lainnya selain proses yang cenderung lama, proses penyusunan
anggaran yang sudah berjalan selama ini juga menggunakan kertas yang berlebih dan tidak
efisien. Anggaran untuk penyusunan anggaran pun terbilang tinggi.
Pengawasan yang lemah dalam penyusunan anggaran, proteksi anggaran itu sendiri dan
penggunaan anggaran juga telah menjadi isu utama, seperti adanya Anggaran Siluman,
maupun praktik praktik korupsi lainnya yang dilakukan pemerintah daerah. Tidak adanya
transparansi terhadap masyarakat luas juga menjadi masalah karena pengawasan terbaik
sebenarnya adalah dari rakyat sendiri.
Berdasarkan isu isu tersebut maka menurut analisis penulis tujuan diterapkannya E-Budgeting
dapat dirumuskan, antara lain :
Memberikan proses yang lebih cepat dalam penyusunan anggaran
Menghemat penggunaan kertas sehingga akan mengurangi biaya dalam penyusunan
anggaran
Meningkatkan proteksi anggaran serta pengawasan atas anggaran tersebut baik
penggunaan maupun pada saat penyusunan
Mengatasi tindak korupsi melalui penyelewengan anggaran

Penerapan E-Budgeting di DKI Jakarta


Kasus Korupsi akan anggaran juga banyak dialami oleh Pemerintahan Provinsi DKI
Jakarta, antara lain Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono, yang menjadi
tersangka penyalahgunaan anggaran pengadaan transjakarta pada APBD 2013, hingga
penggeledehan Kantor Dinas Pekerjaan Umum DKI terkait kasus dugaan korupsi perbaikan dan
pemeliharaan jaringan atau saringan sampah tahun anggaran 2012 dan 2013. Indeks presepsi
Korupsi yang dikeluarkan oleh KPK di tahun 2010 juga menunjukkan bahwa seluruh
Pemerintahan Kota Jakarta masih mendapat nilai merah yakni dibawah 6, Pemkot Jakbar (5,45),
Pemkot Jaktim (5,44), Pemkot Jakpus (5,44), Pemkot Jakut (5,36) dan Pemkot Jaksel (4,58) yang
artinya tingkat korupsi masih dapat dikatakan cukup tinggi.
Belajar dari kesuksesan Pemerintah Kota Surabaya dalam e-budgeting, Jokowi dan Ahok
selaku Gubernur dan Wakil Gubernur (pada tahun 2013 saat Jokowi masih menjadi Gubernur)
juga tertarik untuk menerapkan e-budgeting di pemerintahan provinsi DKI Jakarta. Hingga saat
Ahok menjabat sebagai Gubernur kebijakan e-budgeting ini tetap terus diusung. Mengingat
masih banyaknya kasus anggaran siluman yang ditemukan terjadi di DKI Jakarta dan tentu saja
meningkatkan transparansi.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini memang serius dalam menerapkan e-budgeting,
terbukti dari yang dikatakan oleh Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) DKI
Jakarta Endang Widjajanti kepada Kompas.com bulan November 2013 bahwa DKI
Page 3 of 7

menggandeng konsultan dari Surabaya atas penerapan e-budgeting di DKI Jakarta, karena
memang dianggap Surabaya telah terlebih dahulu menerapkan kebijakan e-budgeting dan juga
meraih keberhasilan.
Di tahun 2013 DKI Jakarta masih dalam proses persiapan dan mendata kode-kode
kegiatan yang akan dimasukkan. Memang perlu waktu yang tidak sebentar dalam
mengumpulkan kode-kode komponen kegiatan dari tiap-tiap satuan kerja perangkat daerah
(SKPD) sebab masing-masing SKPD memiliki kode yang berbeda. Kode-kode kegiatan tersebut
jumlahnya mencapai puluhan ribu. Terlebih, nantinya setiap kegiatan juga akan dimaskukkan
dalam satu Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA). Persiapan dari peluncuran e-budgeting agar
nantinya dapat digunakan oleh setiap pihak di pemerintahan DKI Jakarta ditargetkan akan
rampung di akhir 2013 sehingga awal 2014 pelaksanaan kegiatan menggunakan e-budgeting
dapat dilakukan. Dengan menggunakan e-budgeting maka hanya pihak yang memiliki otoritas
yakni melalui kepelihan password yang dapat mengubah anggaran, proses evaluasi akan
anggaran pun dapat dilakukan secepatnya.
E-Budgeting mulai diterapkan oleh DKI Jakarta sejak pembahasan Rancangan APBD (RAPBD) 2014 hingga pengesahan APBD 2014. Diharapkan dengan adanya e-budgeting antara
dinas SKPD dapat lebih mudah dalam mendiskuksikan anggaran mereka secara internal selain
itu keterbukaan informasi ditingkatkan, meniadakan tender fiktif dari harga maupun pengadaan
barang.
Salah satu yang menjadi perhatian dari DKI Jakarta atas diberlakukannya e-budgeting ini
adalah sisa lebih penggunaan anggaran (SiLPA) DKI Jakarta yang terbilang cukup tinggi dari
tahun ke tahun. Awal tahun 2014 saja penyerapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
2014 DKI Jakarta hanya 30,7 persen. Sebab, banyak proyek yang sengaja dicoret demi
penyelamatan anggaran. Akibatnya, sisa lebih penggunaan anggaran (silpa) APBD DKI dapat
membengkak pada tahun ini.
Pada dasarnya tingginya SiLpa dapat mengindikasikan dua hal yakni pertama, daerah
tersebut dianggap tidak banyak melakukan kegiatan kegiatan pembangunan daerah sehingga
anggaran banyak yang tidak terserap. Artinya pemenrintahan tidak aktif dalam mensejahterakan
rakyat melalui pembangunan daerahnya. Maka SiLPA yang tinggi terlihat negative jika dalam
sudut pandang ini. Namun, di satu sisi nilai SiLPA yang tinggi juga dapat mengindikasikan
bahwa selama ini dalam anggaran anggaran tersebut terdapat kegiatan-kegiatan fiktif atau
dapat juga jumlah dana yang terlampau besar ditentukan. Maka jika SiLPA yang ada jumlahnya
besar juga dapat berarti efisiensi penggunaan anggaran yang semakin baik tepat sasaran dan
dapat terlihat mana sebenarnya anggaran anggaran siluman tersebut. Maka menurut penulis
SiLPA yang tinggi tidak serta merta mengindikasikan bahwa pembangunan daerah tidak baik dan
penyerapan anggaran yang buruk, karena selama setiap anggaran itu memang dipergunakan
untuk kepentingan rakyat untuk pembangunan secara efektif, efisien yakni tepat sasaran maka
itulah yang terbaik. Peningkatan SiLPA juga dapat disebabkan kenaikan dari pendapatan pajak
Page 4 of 7

yang justru menunjukkan kinerja Dinas Pelayanan Pajak (DPP) DKI Jakarta sangat baik,
sehingga bisa mengumpulkan pajak melebihi dari yang telah ditargetkan. Dibandingkan nilai
SiLPA yang rendah namun akibat dari adanya korupsi akan APBD tersebut.
Melalui e-budgeting ini diharapkan dapat meminimalisir praktik Anggaran Siluman
pada APBD DKI Jakarta dan meningkatkan efisiensi dan efektifitas dari anggaran, agar benar
benar tepat sasaran. Bahwa setiap anggaran yang dikeluarkan pemerintah DKI Jakarta adalah
benar benar untuk kepentingan pembangunan daerah DKI Jakarta dalam rangka
mensejahterakan masyarakat DKI Jakarta. Sehingga pada akhirnya praktik praktik korupsi
terhadap APBD dapat cepat dideteksi dan tentu saja ditiadakan.

Hambatan dalam Penerapan E-Budgeting di DKI Jakarta


Meski telah diterapkan di DKI Jakarta dari awal 2014 hingga saat ini, namun e-budgeting
belum menunjukkan keberhasilan yang signifikan. Terbukti bahwa masih banyaknya ditemukan
Anggaran Siluman di tahun 2014, dan kasus korupsi di beberapa dinas antara lain yakni Dinas
Pekerjaan Umum, Dinas Kebersihan, dan sebagainya.
E-budgeting memang memiliki kelebihan proses yang cepat, transparansi dan efisiensi
namun dalam penerapannya terdapat beberapa hambatan. Berdasarkan isu isu dan
pemeberitaan yang beredar dapat dianalisis bahwa beberapa hambatan yang dihadapi oleh
Pemprov DKI Jakarta dalam penerapan e-budgeting, antara lain :
Sumber daya manusia yang tidak memiliki keahlian memadai dalam mengoperasikan ebudgeting.
Pada dasarnya pemerintah telah melakukan pelatihan penggunaan e-budgeting tersebut,
namun memang dari SDM yang ada di pemerintahan beberapa ada yang memang sudah
lama berkerja dan sudah terbiasa dengan sistem penganggaran yang lama, dan memang
sudah berusia sehingga cenderung tidak adaptif terhadap teknologi.
Masih terdapat beberapa dinas SKPD yang menolak untuk menggunakan e-budgeting
Satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di DKI Jakarta yang kurang dapat
mengalokasikan anggaran untuk pengadaan barang secara satuan karena terbiasa dengan
cara penganggaran terdahulu yakni sistem borongan atau glondongan
Teknologi e-budgeting DKI Jakarta sendiri yang masih sering mengalami crash dan
tingkat kematangan website yang belum memadai. Penulis sendiri saat mencoba
mengakses e-budgeting Pemprov DKI Jakarta sempat tidak dapat mengakses dikarenakan
adanya crash dari website tersebut, fitur yang ditampilkan pun tidak selengkap
Pemerintah Kota Surabaya.

Page 5 of 7

Kesimpulan dan Saran Atas Penerapan E-Budgeting di DKI Jakarta


Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa penerapan e-budgeting di DKI
Jakarta adalah keputusan yang patut didukung di Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta. Sebab
dengan sistem ini diharapkan pengawasan dan proteksi akan anggaran dapat ditingkatakan
sehingga kasus tindak korupsi semakin cepat dapat dideteksi sehingga dapat diberantas dengan
cepat pula. Selain itu melalui e-budgeting anggaran daerah akan lebih transparansi terhadap
masyarakatnya. Tidak saja dalam hal tindak korupsi, melalui e-budgeting pemerintah daerah
dapat melakukan penghematan biaya penyusunan anggaran yakni biaya kertas, dan sebagainya.
Meski pembuatan teknologi sistem e-budgeting juga mengeluarkan dana yang tidak sedikit
namun hal tersebut tidak setiap tahun dikeluarkan dan tidak sebesar dana yang harus dikeluarkan
setiap tahunnya jika diakumulasikan ketika tidak menggunakan e-budgeting. Waktu yang
dibutuhkan pun mejadi lebih cepat, mulai dari penyusunan hingga evaluasi karena data yang
terintegrasi dan tersedia dengan baik.
Namun, selayaknya sistem yang diterapkan pasti masih membutuhkan adaptasi bagi
usernya dalam hal ini dinas SKPD, tentu masih ditemukan hambatan hambatan dalam
prosesnya. Dapat dianilisis bahwa penerapan e-budgeting di DKI Jakarta masih belom optimal,
dibutuhkan perbaikan dalam 3 hal utama berikut :
Technology To Support E-Budgeting
Skill To Use E-Budgeting
Willingness To Use E-Budgeting
Pertama : Keahlian/skill yang tidak memadai dari dinas SKPD adalah salah satu
hambatan yang ada, oleh karena itu untuk mengatasinya Pemprov DKI Jakarta meningkatkan
kembali pelatihan kepada setiap unit satuan kerja atas pengoperasian dari e-budgeting tersebut.
Mungkin memang telah dilakukan sebelumnya, tapi ternyata masih terdapat kebingungan dan
ketidakmampuan, maka sebaiknya Pemprov DKI Jakarta mengintensifkan pelatihannya lagi dan
tentu saja mengevaluasi apakah SKPD tersebut telah mampu menggunakan e-budgeting dengan
baik.
Kedua : Masih kurang matangnya teknologi e-budgeting ketika diluncurkan juga menjadi
hambatan. Hal ini menyebabkan penggunaannya tidak dapat berjalan dengan baik. Terjadinya
crash dan masalah masalah lain dalam sistem akan menghambat pengerjaan anggaran itu
sendiri. Website yang cenderung masih kurang lengkap jika dibandingkan dengan Pemkot
Surabaya juga menjadi hal yang perlu menjadi perhatian. Website yang user friendly dan
memenuhi kebutuhan masyarakat akan tentunya menambah dukungan masyarakat akan
penerapan e-budgeting tersebut. Website yang cepat dan dapat diakses setiap saat tanpa perlu
terjadi error dan sebagainya tentu akan semakin mendukung kinerja pemerintah daerah.
Ketiga : Masalah SKPD yang tidak mau menggunakan e-budgeting maka diperlukan
pendekatan lebih dari pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk mensosialisasikan pentingnya
Page 6 of 7

penerapan e-budgeting ke tingkat tingkat SKPD dengan lebih intensif, Diperlukan sedikit
kesan memaksa bahwa setiap SKPD harus seluruhnya menggunakan e-budgeting. Selain itu
mungkin dapat dipertimbangkan untuk memberikan reward atau insentif bagi SKPD yang dapat
berhasil menggunakan e-budgeting dengan baik sehingga berujung kepada perbaikan kinerja,
pelayanan publik dan bebas dari praktik korupsi.
Melalui perbaikan dalam hal tersebut diharapkan e-budgeting dapat diterapkan secara
optimal sehingga manfaat yang diberikan yakni tujuan tujuan yang diharapkan melalui ebudgeting dapat tercapai. Selain itu menurut penulis dengan adanya e-budgeting diharapkan
dapat meminimalisir SiLPA, karena melalui penyusunan anggaran yang efektif & efisien maka
APBD yang ada juga akan sesuai dengan kebutuhan daerah tersebut. Penyusunan anggaran
menjadi efisien dan efektif dan terbebas dari praktik korupsi.

Page 7 of 7