Anda di halaman 1dari 21

MODEL SATU SEKTOR NON LINIER KONTINU

Oleh :
KELOMPOK V
UCI HASDIANA RUSDI
NUGRAHAENI SAFITRI
MUHAMMAD SUDIN NUR
RICHARD JOHAN
IRNAWATI
KURNIA RATNA YULIANI

( H111 13 015
( H111 13 019
( H111 13 024
( H111 13 026
( H111 13 305 )
( H111 13 310

)
)
)
)
)

Program Studi S-1 Matematika


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Hasanuddin
2014
BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang


Pada tahun 2012 pencari kerja yang tercatat pada Dinas Tenaga Kerja kota
Makassar sebanyak 7.203 orang yang terdiri dari laki-laki sebanyak 3.200 orang dan
perempuan

4.003

orang.

Sector

industry

memberikan

konstribusi

terhadap

peningkatan kesejahteraan masyarakat termasuk dalam penciptaan lapangan kerja


baru (BPS Makassar 2013).
Dari Tabel (3.1), dapat dilihat bahwa sector perindustrian di Kota Makassar
tahun 2013 mampu

menyerap cukup banyak tenaga kerja. Perusahaan industri

menurut kecamatan di kota Makassar tahun 2013 sebanyak 157 buah dengan
jumlah tenaga kerja sebanyak 1.457 orang (BPS Makassar 2013).
Tenaga kerja merupakan segala kegiatan manusia baik jasmani maupun
rohani yang ditujukan untuk kegiatan produksi. Dalam kegiatan produksi tidak lepas
dari faktor tenaga kerja karena tenaga kerja sangat dominan untuk melancarkan
kegiatan produksi hingga memperoleh hasil produksi dari suatu kegiatan produksi.
Faktor tenaga kerja memegang peranan penting dalam berbagai macam dalam
kegiatana produksi. Dengan adanya tenaga kerja kegiatan produksi akan cepat
terselesaikan dengan baik, artinya faktor tenaga kerja sangat di butuhkan dalam
proses kegiatan produksi. Kegiatan produksi akan berhenti jika tenaga kerja yang
diperlukan mengalami gangguan, sehingga berdampak pada penjualan yang akan
diterima perusahaan atau industri tersebut. Factor lain yang dapat mempengauhi
hasil produksi adalah modal dan teknologi(Griffin, 2006).
Terdapatnya hubungan non linear dalam data ekonomi tidaklah kecil oleh
karena banyaknya hubungan non linear yang diyakini berlaku dalam ilmu ekonomi.
Fungsi biaya total dan fungsi-fungsi biaya yang lain, kurva permintaan, siklus
perdagangan, biaya unit produksi hanyalah beberapa contoh dari hubunganhubungan ekonomi yang sering dianggap sebagai fungsi-fungsi non linear.
Kebanyakan

model

yang

telah

dikembangkan

untuk

menjelaskan

siklus

perdagangan terminologi faktor endogen memberikan suatu peran utama pada


investasi dan suatu model diuraikan dalam modul ini yang menggambarkan
investasi yang non linier (Rangkuti,2009).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sektor industri mempunyai


peran sangat penting dalam penyerapan tenaga kerja sehingga dapat mengurangi
tingkat pengangguran. Sektor industri dapat dibedakan atas industri Besar, Sedang,
Kecil dan Rumahtangga. Data mengenai industri Besar dan Sedang tersedia setiap
tahun yang dikumpulkan dengan cara sensus lengkap. Sedangkan data industri
Kecil dan Rumahtangga tidak tersedia setiap tahun. Pada makalah ini juga
diasumsikan bahwa investasi adalah sebuah fungsi yang menjadi salah satu model
fungsi konsumsi non linier yang berpengaruh terhadap pendapatan kegiatan fungsi
non linier. Hal inilah yang melatarbelakangi penulisan makalah ini.

I.2 Rumusan masalah


Berdasarkan latar belakang, permasalahan yang dibahas dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimana grafik total produksi dan marginal utility dalam produksi?
2. Apa saja asumsi dari fungsi produksi?
I.3 Tujuan
1. Mencari tahu grafik total produksi dan marginal utility dalam produksi sector
industry menurut kecamatan di Kota Makassar.
2. Mengetahui asumsi-asumsi dari fungsi produksi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


II.1 Fungsi produksi
Kejadian-kejadian

ekonomi

dapat

dinyatakan

dengan

perubahan

nilai

variable. Variable adalah sesuatu yang nilainya beubah-ubah, misalnya produksi,


harga, pendapatan, penjualan, biaya, investasi. Suatu variable biasanya diberi
symbol X, Y, ataupun Z atau huruf lainnya. Fungsi produksi ialah suatu daftar atau
persamaan matematis yang menunjukkan output maximum yang dapat dihasilkan
dengan suatu set input[xi](Rangkuti, 2009).
Fungsi produksi adalah suatu persamaan yang menunjukkan hubungan
ketergantungan antara tingkat input yang digunakan dalam proses produksi dengan
tingkat output yang dihasilkan(Surjanti,2012).
Faktor produksi adalah sumber daya yang digunakan dalam sebuah proses
produksi barang dan jasa. Pada awalnya, faktor produksi dibagi menjadi empat
kelompok, yaitu tenaga kerja, modal, sumber daya alam, dan kewirausahaan.
Namun pada perkembangannya, faktor sumber daya alam diperluas cakupannya
menjadi seluruh benda tangible, baik langsung dari alam maupun tidak, yang
digunakan oleh perusahaan, yang kemudian disebut sebagai faktor fisik (physical
resources). Selain itu, beberapa ahli juga menganggap sumber daya informasi
sebagai sebuah faktor produksi mengingat semakin pentingnya peran informasi di
era globalisasi ini (Griffin R, 2006).
Fungsi produksi menunjukkan sifat perkaitan diantara factor-faktor produksi
dan tingkat produksi yang diciptakan. Factor-faktor produksi dikenal pula dengan
istilah input, dan jumlah produksi selalu juga disebut sebagai output. Fungsi
produksi selalu dinyatakan dalam persamaan matematis, yaitu (Chiang, 2006):
Q = f(K,L)

(1)

Di mana K adalah modal, dan L adalah tenaga kerja, dan Q adalah hasil produksi.

Persamaan (II.1) merupakan gambaran sederhana yang bersifat umum


mengenai perkaitan di antara factor-faktor produksi dan jumlah produksi. Tiap-tiap
factor produksi dapat dipecah-pecah menjadi factor-faktor produksi yang lebih
spesifik. Misalnya untuk menghasilkan barang pertanian diperlukan lahan pertanian,
cangkul, bajak, traktor, bibit tanaman, pupuk, pekerja. Ini semua adalah factorfaktor produksi yang dapat digolongkan kedalam golongan factor produksi yang
utama. Factor-faktor produksi yang terperinci disebut sebagai input, dan produksi
yang dihasilkan sebagai output (Chiang, 2006).
Persamaan tersebut juga merupakan suatu pernyataan matematik yang pada
dasarnya berarti bahwa tingkat produksi sesuatu barang tergantung kepada jumlah
modal dan jumlah tenaga kerja. Jumlah produksi yang berbeda-beda

dengan

sendirinya akan memerlukan berbagai factor produksi yang berbeda-beda juga.


Tetapi disamping itu, untuk satu tingkat produksi tertentu, juga dapat digunakan
gabungan factor produksi yang berbeda. Sebagai contoh, untuk memproduksikan
sejumlah hasil pertanian tertentu perlu digunakan tanah yang lebih luas apabila
bibit unggul dan pupuk tidak digunakan, tetapi luas tanah dapatt dikurangi apabila
pupuk dan bibit unggul dan teknik bercocok tanam modern digunakan. Dengan
membandingkan berbagai gabungan factor-faktor produksi untuk menghasilkan
sejumlah barang tertentu dapatlah ditentukan gabungan factor produksi yang
paling ekonomis untuk memproduksikan sejumlah barang tersebut (Chiang, 2006).
Dalam fungsi produksi terdapat beberapa Asumsi yakni

1. Dalam fungsi produksi,perlu asumsi bahwa tidak ada perbedaan tehnologi


dalam setiap pengamatan, ini artinya kalau fungsi produksi yang dipakai
dalam pengamatan memerlukan lebih dari satu model, maka perbedaan
tersebut terletak pada intersep dan bukan pada kemiringan (slope) model
tersebut.

2. Faktor produksi terbatas ( tenaga kerja yang terbatas )


3. Mobilitas tinggi / sempurna ( berpindah pindah )
4. Produksi jangka pendek, yaitu bila sebagian faktor produksi jumlahnya
tetap dan yang lainnya berubah (misalnya jumlah modal tetap, sedangkan
tenaga kerja berubah).

5. Hanya 2 produk yang diproduksi

6. Faktor produksi yang digunakan fullemployment ( tidak ada faktor


produksi yang menganggur)( Seruni,2012).

II.2 Fungsi Produksi Cobb-Douglas


Hasil karya Cobb dan Douglas dalam pemodelan produksi total P dari system
ekonomi sebagai fungsi banyaknya tenaga kerja L dan penanaman modal K.
Kemudian digunakan turunan parsial untuk memperlihatkan bagaimana bentuk
khusus model Cobb-Douglas yang diperoleh dari anggapan tertentu yang dibuat
tentang ekonomi.
Jika fungsi produksi dinyatakan oleh P = P(L,K), maka turunan parsial

P/ L

adalah laju perubahan produksi terhadap banyaknya tenaga kerja. Para ahli
ekonomi menyebutnya produksi marjinal terhadap tenaga kerja atau produktivitas
marjinal tenaga kerja. Demikian juga, turunan parsial

P/ K

adalah laju

perubahan produksi terhadap modal dan disebut produktivitas marjinal modal.


Dalam istilah ini, anggapan yang dibuat oleh Cobb dan Douglas dapat dinyatakan
sebagai berikut(Surjanti,2012) :
1. Jika salah satu tenaga kerja atau modal , maka demikian juga produksi.
2. Produktivitas marjinal tenaga kerja sebanding terhadap banyaknya produksi
tiap satuan tenaga kerja.
3. Produktivitas marjinal modal sebanding terhadap banyaknya produksi tiap
satuan modal.
Bentuk umumnya juga sama, yakni Y = f (Xi) atau dapat ditulis dalam bentuk
spesifik Y = aXb, dimana Y adalah variabel yang dijelaskan, X adalah variabel yang
menjelaskan, dan a dan b adalah parameter yang diduga. Kelebihan Cobb-Douglas
ini adalah pada pangkat menunjukan pangkat elastisitas produksi. Sedangkan
kelemahannya adalah dalam interpretasi perlu dilinierkan dengan proses logaritma
atau sering disebut dengan double log; log Y = log a + b log X.
Beberapa instrumen yang perlu diperhatikan dalam fungsi produksi Cobb-Douglas :

a) Marginal Produksi Labor (MPLX1), menunjukkan adanya sejumlah peningkatan


dalam faktor X1 yang akan meningkatan output Q.
MPLX1 = Q / LX1

(2)

b) Marginal Produksi Kapital (MPKX2), menunjukan adanya peningkatan dalam


faktor X2 yang akan meningkatkan output Q.
MPKX2 = Q / KX2
c)

(3)

Nilai Marginal Subsitusi antara faktor Labor dan Capital (MRS X1,X2) artinya X2
yang harus dikorbankan untuk meningkatkan satu unit X 1.
(MRSTX1,X2) = MPLX1 / MPKX2

(4)

d) Hukum hasil balik yang menurun ( Law of diminishing rate of substitution) atau
MRSTX1,X2 < 0
e) Elastisitas Subsitusi didefenisikan sebagai ukuran peningkatan dari subsitusi
antara X1 dan X2 (Tingkat penggantian antara X1 dan X2) sebagai akibat dari
perubahan harga relatif dari X1 dan X2. akan sama dengan satu (1).
II.3 Teori dasar pendekatan Cobb Douglas
Beberapa fungsi produktivitas dalam suatu perusahaan sangatlah berperan
penting dalam pengembangan produktivitas. Terutama untuk menunjang proses
produksi sehingga dapat memberikan beberapa peluang yang diharapkan. Dalam
dunia ekonomi, pendekatan Cobb-Douglas merupakan bentuk fungsional dari fungsi
produksi secara luas digunakan untuk mewakili hubungan output untuk input. Hal
ini diusulkan oleh Knut Wicksell (1851-1926), dan diuji terhadap bukti statistik
oleh Charles Cobbdan Paul Douglas di 1900-1928.
Untuk produksi, fungsi dapat digunakan rumus :
Y = AL

K,Y=K

AL

(5)

Dimana:

Y = total produksi (nilai moneter semua barang yang diproduksi

dalam setahun)

L = tenaga kerja input

K = modal input

A = produktivitas faktor total

dan adalah elastisitas output dari tenaga kerja dan modal, masing-masing.

Nilai-nilai konstan ditentukan oleh teknologi yang tersedia.


Output elastisitas mengukur respons output oleh perubahan tingkat baik tenaga
kerja atau modal yang digunakan dalam produksi. Sebagai contoh jika = 0,15,
peningkatan 1% tenaga kerja akan mengakibatkan kenaikan sekitar 0,15% pada
output.
Selanjutnya, jika:
+=1

(6)

Fungsi produksi memiliki skala hasil konstan .Artinya, jika L dan K masing-masing
meningkat sebesar 20%, kenaikan Y sebesar 20%.Jika :
+<1

(7)

Kembali ke skala yang menurun, dan jika :


+>1

(8)

kembali ke skala yang meningkat. Dengan asumsi persaingan sempurna dan +


= 1, dan dapat ditunjukkan untuk menjadi tenaga kerja dan modal pasangan
output.
Cobb dan Douglas dipengaruhi oleh bukti statistik yang muncul untuk menunjukkan
bahwa tenaga kerja dan modal saham dari total output yang konstan dari waktu ke
waktu di negara maju, mereka menjelaskan hal ini dengan statistik fitting -kuadrat
regresi fungsi produksi mereka. Saat ini sudah ada keraguan mengenai apakah
keteguhan dari waktu ke waktu ada(Surjanti,2012).

II.4 Fungsi Output untuk Model Non Linier


Produsen memproduksi suatu output yang tunggal,. Dan diasumsikan bahwa
produsen bertindak secara kompetitip dengan produksi yang sama (sejenis).
Diasumsikan lagi bahwa semua kumpulan fungsi produksi untuk satu sektor
mempertimbangkan bahwa kombinasi perilaku produsen pada dasarnya adalah
sama, dengan masing- masing produsen diberikan sejumlah modal tetap, sehingga
jumlah modal dapat bertukar secara kontinu ( Terus menerus) dari waktu ke waktu.
Selanjutnya diasumsikan jumlah modal dan tanaga kerja dihubungkan dengan
output oleh fungsi Gobb Douglas (Rangkuti,2009).

Pengembalian modal (Profit) pada industri adalah perbedaan antara nilai


output dengan angka tenaga kerja, sehingga :
P (Profit) = P Q W L atau = R C
R( Revenieu) = P Q = Harga x Output
C(Cost) = W L = Upah tenaga kerja
Apabila diasumsikan waktu, tiap- tiap produsen memaksimalkan profit yang ada
pada saat tertentu, maka tingkat outputnya menjadi :
P/ Q = P W L/ Q = 0 atau L = A

1/

( - 1) /

1/

(9)

Dan bentuk Fungsi Outputnya adalah :


Q=A

1/ ( 1 - )

K { P/ W} / (1-

(10)

II.5 Fungsi Investasi


Terkadang,

investasi

disebut juga sebagai penanaman

modal.

Dalam

prakteknya, dalam usaha untuk mencatat nilai penanaman mo-dal yang dilakukan
dalam

suatu

tahun

tertentu,

yang

digolongkan

sebagai

investasi

(atau

pembentukan modal atau penanaman modal) meliputi pengeluaran/ perbelanjaan


berikut ini:
a. Pembelian berbagai jenis barang modal, yaitu mesin-mesin dan peralatan
produksi lainnya untuk mendirikan berbagai jenis industri dan perusahaan.
b. Perbelanjaan untuk membangun rumah tempat tinggal, bangunan kantor,
bangunan pabrik dan bangunan-bangunan lainnya.
c. Pertambahan nilai stok barang-barang yang belum terjual, bahan mentah
dan barang yang masih dalam proses produksi pada akhir tahun penghitungan
pendapatan nasional (Meyka,2013).
Jumlah dari ketiga-tiga jenis komponen investasi tersebut dinamakan
investasi

bruto,

yaitu

ia

meliputi

investasi

untuk

menambah

kemampuan

memproduksi dalam perekonomian dan mengganti barang modal yang sudah


didepresiasikan. Apabila investasi bruto dikurangi oleh nilai apresiasi maka akan
didapat investasi neto.
Kurva investasi adalah hubungan antara tingkat suku bunga dengan
investasi.

Untuk

mempertimbangkan

investasi,

perusahaan

membandingkan

pendapatan tahunan investasi dengan biaya modal tahunan. Selisih antara biaya
modal tahunan dengan pendapatan tahunan disebut laba, bila laba positif investasi
menguntungkan. Sebaliknya bila laba negatif, investasi rugi.
Kurva yang menunjukkan keterkaitan di antara tingkat investasi dan tingkat
pendapatan nasional dinamakan fungsi investasi. Bentuk fungsi investasi dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu (i) ia sejajar dengan sumbu datar, atau (ii) bentuknya
naik ke atas ke sebelah kanan (yang berarti makin tinggi pendapatan nasional,
makin tinggi investasi). Fungsi atau kurva investasi yang sejajar dengan sumbu
datar dinamakan investasi otonomi dan fungsi investasi yang semakin tinggi
apabila pendapatan nasional meningkat dinamakan investasi terpengaruh. Dalam
analisis makro-ekonomi biasanya dimisalkan bahwa investasi perusahaan bersifat
investasi otonomi (Meyka,2013).
Dalam fungsi 11 produsen membutuhkan modal awal, tergantung pada
tingkat keuntungan yang ada. Jika k adalah suatu modal dan P k adalah harga, maka
rasio dari keuntungannya : P / Pk K (Rangkuti,2009)
Apabila tingkat harga melebihi tingkat bunga (r) dengan penambahan premi yang
sesuai, maka ini akan mengalir dalam industri jika :
P / Pk K > (1 + c) r

(11)

Dengan c bilangan positif ( Dianggap sebagai premi tanggugan), bila modal


mengalir dalam industri. Apabila tanda pertidaksamaan berlaku maka ini sama
dengan barang modal yang tidak akan digantikan bila barang tersebut tidak
digunakan. Sehingga persamaan yang mungkin untuk menentukan laju aliran modal
dalam industri adalah (Rangkuti,2009) :

d K / d t = [ P / Pk K - (1 + c) r ]
(12)
dengan r dan Pk variabel exogenous dan adalah konstanta positip. Persamaan ini
bukanlah tunggal untuk mencapai tujuan, sehingga kemungkinan lain adalah
(Rangkuti,2009) :
1 / K (d K / d t) = Log [ P / (1 + c) r Pk K ]

(13)

Dengan adalah konstanta positif dan 1 / K (d K / d t) adalah kenaikkan pada


tingkat proposional dalam jumlah modal industri. Apabila tanda pertidaksamaan
pada (11) dipenuhi, maka besaran dalam persamaan (13) lebih dari satu (>1) dan
modal akan mengalir pada industri tersebut, sebaliknya apabila pertidaksamaan
tetap, maka besarannya dalam persamaan (13) kurang dari satu (<1) , artinya
modal mengalir keluar (Rangkuti,2009).

BAB III ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN


KECAMATAN

PERUSAHAA
N

TENAG
A KERJA

MARISO
MAMAJANG
TAMALATE

4
8
13

42
31
58

MODAL

290000
948000
207600
0
RAPPOCINI
7
31
129800
0
MAKASSAR
17
94
316500
0
UJUNG
8
39
256450
PANDANG
0
WAJO
9
26
974000
BONTOALA
3
13
565000
TALLO
5
24
576000
PANAKKUKANG
19
76
318300
0
MANGGALA
12
79
134600
0
BIRINGKANAYA
30
786
270750
00
TAMALANREA
22
158
509700
0
TOTAL
157
1457
491575
00
Sumber : Data BPS Makassar Dalam Angka 2013

PRODU
K
TOTAL
2383
5496
17519

PRODUK
MARGINAL
L
584
3311
6008

PRODUK
MARGINAL
K
0.20
0.25
0.39

5285

3610

0.20

36454

7527

0.52

8700

5659

0.20

5512
960
2473
35170

4294
1588
1747
9801

0.27
0.09
0.17
0.55

17629

3298

0.45

541611

13497

0.91

78285

9454

0.68

522153
6

69616

4.81

TABEL: 3.1 JUMLAH PERUSAHAAN INDUSTRI BESAR DAN SEDANG, TENAGA


KERJA,MODAL,PRODUK TOTAL,PRODUK MARGINAL L, PRODUK MARGINAL K
MENURUT KECAMATAN DI KOTA MAKASSAR
Sektor industri dapat dibedakan atas industri Besar, Sedang, Kecil dan
Rumahtangga. Data mengenai industri Besar dan Sedang tersedia setiap tahun
yang dikumpulkan dengan cara sensus lengkap. Sedangkan data industri Kecil dan
Rumahtangga tidak tersedia setiap tahun. Perusahaan industri di kota Makassar
tahun 2012 sebanyak 157 buah dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 1.457 orang
(BPS Makassar,2013).

Tabel 3.1 menunjukkan bahwa faktor produksi tenaga kerja akan meningkatkan
produk lebih banyak dari pada faktor produksi kapital.
Fungsi produksi Cobb-Douglas
Q = f(K,L) = AKL1-

(14)

Akan digunakan fungsi produksi Cobb-Douglas untuk menghitung jumlah


produk yang dihasilkan oleh setiap perusahaan menurut kecamatan di Kota
Makassar.
Dimana A adalah bilangan positif > 1(unit perusahaan), K adalah Kapital(Modal), L
adalah Labor(Tenaga Kerja), = 0.7 dan 1- = 0.3.

1. Kecamatan Mariso
Q = 4*(290000)0.7*(42)0.3 = 2383 produk.
2. Kecamatan Mamajang
Q = 8*(948000)0.7*(31)0.3 = 5496 produk.
3. Kecamatan Tamalate
Q = 13*(2076000)0.7*(58)0.3 = 17519 produk.
4. Kecamatan Rappocini
Q = 7*(1298000)0.7*(31)0.3 = 5285 produk.
5. Kecamatan Makassar
Q = 17*(3165000)0.7*(94)0.3 = 36454 produk.
6. Kecamatan Ujung Pandang
Q = 8*(2564500)0.7*(39)0.3 = 8700 produk.
7. Kecamatan Wajo
Q = 9*(974000)0.7*(26)0.3 = 5512 produk.
8. Kecamatan Bontoala
Q = 3*(565000)0.7*(13)0.3 = 960 produk.
9. Kecamatan Tallo
Q = 5*(576000)0.7*(24)0.3 = 2473produk.
10.Kecamatan Panakukang
Q = 19*(3183000)0.7*(76)0.3 = 35170 produk.
11.Kecamatan Manggala
Q = 12*(1346000)0.7*(79)0.3 = 17629 produk.
12.Kecamatan Biringkanaya
Q = 30*(27075000)0.7*(786)0.3 = 541611 produk.
13.Kecamatan Tamalanrea
Q = 22*(5097000)0.7*(158)0.3 = 78285 produk.

Marginal Produksi Labor (MPL), menunjukkan adanya sejumlah peningkatan dalam


faktor L(Tenaga Kerja) yang akan meningkatkan output Q. (Rangkuti, 2009).

MPL=

Q
=( 1 ) A K L
L

(15)

Persamaan 15 merupakan permasaan matematis yang disebut sebagai Marginal


Produksi Labor. Turunan parsial pertama yang dinyatakan sebagai laju perubahan
produksi terhadap banyaknya tenaga kerja. (Surjanti,2012).
Dalam makalah ini, kita menghitung MPL untuk mengetahui pengaruh faktor
produksi tenaga kerja terhadap hasil produksi (Q) dalam sektor industry menurut
kecamatan di Kota Makassar.

1. Kecamatan Mariso

MPL=

Q
=( 0.3 )4( 290000 )0.7 ( 42 )0.7 =584
L

2. Kecamatan Mamajang

MPL=

Q
=( 0.3 )8( 948000 )0.7 ( 31 )0.7 =3311
L

3. Kecamatan Tamalate

MPL=

Q
0.7
0.7
=( 0.3 )13( 2076000 ) ( 58 ) =6008
L

4. Kecamatan Rappocini

MPL=

Q
=( 0.3 )7( 1298000 )0.7 ( 31 )0.7=3610
L

5. Kecamatan Makassar

MPL=

Q
=( 0.3 )17( 3165000 )0.7 ( 42 )0.7 =7527
L

6. Kecamatan Ujung Pandang

MPL=

Q
0.7
0.7
=( 0.3 )8( 2564500 ) ( 39 ) =5659
L

7. Kecamatan Wajo

MPL=

Q
=( 0.3 )4( 974000 )0.7 ( 26 )0.7 =584
L

8. Kecamatan Bontoala

MPL=

Q
=( 0.3 )4( 565000 )0.7 ( 13 )0.7=584
L

9. Kecamatan Tallo

MPL=

Q
=( 0.3 )4( 576000 )0.7 ( 24 )0.7 =584
L

10.Kecamatan Panakukang

MPL=

Q
=( 0.3 )4( 3183000 )0.7 ( 76 )0.7=584
L

11.Kecamatan Manggala

MPL=

Q
=( 0.3 )4( 1346000 )0.7 ( 79 )0.7=584
L

12.Kecamatan Biringkanaya

MPL=

Q
=( 0.3 )4( 27075000 )0.7 ( 786 )0.7=584
L

13.Kecamatan Tamalanrea

MPL=

Q
0.7
0.7
=( 0.3 )4( 5097000 ) ( 158 ) =584
L

Marginal Produksi Kapital (MPK), menunjukkan adanya sejumlah peningkatan dalam


faktor K(Modal) yang akan meningkatkan output Q. (Rangkuti, 2009).

MPK=

Q
= A K 1 L1
K

(16)

Persamaan diatas merupakan permasaan matematis yang disebut sebagai Marginal


Produksi Kapital. Turunan parsial pertama yang dinyatakan sebagai laju perubahan
produksi terhadap modal. (Surjanti,2012).
Dalam makalah ini, kita menghitung MPK untuk mengetahui pengaruh faktor
produksi modal terhadap hasil produksi (Q) dalam sektor industry
kecamatan di Kota Makassar.

1. Kecamatan Mariso

MPK=

Q
=( 0.7 )4( 290000 )0.3 ( 42 )0.3 =0.20
L

2. Kecamatan Mamajang

menurut

MPK=

Q
=( 0.7 )8( 948000 )0.3 ( 31 )0.3=0.25
L

3. Kecamatan Tamalate

MPK=

Q
=( 0.7 )13(2076000 )0.3 ( 58 )0.3 =0.39
L

4. Kecamatan Rappocini

MPK=

Q
0.3
0.3
=( 0.7 )7( 1298000 ) ( 31 ) =0.20
L

5. Kecamatan Makassar

MPK=

Q
=( 0.7 )17( 3165000 )0.3 ( 42 )0.3=0.52
L

6. Kecamatan Ujung Pandang

MPK=

Q
=( 0.7 )8( 2564500 )0.3 ( 39 )0.3=0.20
L

7. Kecamatan Wajo

MPK=

Q
=( 0.7 )9( 974000 )0.3 ( 26 )0.3=0.27
L

8. Kecamatan Bontoala

MPK=

Q
0.3
0.3
=( 0.7 )3(565000 ) ( 13 ) =0.09
L

9. Kecamatan Tallo

MPK=

Q
=( 0.7 )5(576000 )0.3 ( 24 )0.3=0.17
L

10.Kecamatan Panakukang

MPK=

Q
=( 0.7 )19( 3183000 )0.3 ( 76 )0.3 =0.55
L

11.Kecamatan Manggala

MPK=

Q
0.3
0.3
=( 0.7 )12( 1346000 ) ( 79 ) =0.45
L

12.Kecamatan Biringkanaya

MPK=

Q
=( 0.7 )30(27075000 )0.3 ( 786 )0.3 =0.91
L

13.Kecamatan Tamalanrea

MPK=

Q
=( 0.7 )22( 5097000 )0.3 ( 158 )0.3=0.68
L

Berdasarkan dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa hasil produksi sangat
dipengarahui oleh faktor-faktor produksinya terutama faktor produksi tenaga kerja.
Tabel(3.1) menunjukkan bahwa faktor produksi tenaga kerja merupakan faktor
produksi yang sangat penting, karena memberikan pengaruh besar terhadap
output. Adapun Grafik Peningkatan dan Menurunya Total produksi,Modal,Tenaga
Kerja dan Teknologi yaitu :
900
800
700
600
500
400
Tenaga Kerja

300
Tenaga Kerja

200
100
0

Kecamatan di Kota Makassar

Gambar 1. Grafik Tenaga Kerja Kec. Di Kota Makassar

35
30
25
20
15
10

Unit Perusahaan

Jumlah Perusahaan

5
0

Kecamatan di Kota Makassar

Gambar 2. Grafik Jumlah Perusahaan Kec. Di Kota Makassar

600000
500000
400000
300000
Q = f(K,L)

200000

Fungsi Produksi

100000
0

Kecamatan di Kota Makassar

Gambar 3. Grafik Modal Kec. Di Kota Makassar


30000000
25000000
20000000
15000000
Modal

10000000
Modal
5000000
0

Kecamatan di Kota Makassar

Gambar 4. Grafik Fungsi Produksi Kec. Di Kota Makassar

BAB IV KESIMPULAN

Total Produksi di pengaruhi oleh adanaya Teknologi/Unit usaha, Kapital


(Modal),dan

Labour (Tenaga Kerja ). Ketika unit usaha, modal dan tenaga kerja

meningkat maka total produksi pun meningkat begitupun sebaliknya, jika unit
usaha, modal dan tenaga kerja Menurun maka total produksi pun Menurun. Seperti
terlihat pada Grafik 4 total produksi di Kota Makassar yang menggambarkan
Meningkatnya dan Menurunya Total Produksi.

DAFTAR PUSTAKA

Chiang,Alpa C. & Kevin Wainwright.2006.Fundamental Methods of Mathematical


Economics. : New York : The Mac Graw-Hill Companies
Griffin R. 2006. Business. New Jersey: Pearson Education.
Makassarkota.go.id/download/MDA_2013.pdf
Meyka.2012. diakses dari http://meyka.blogdetik.com/2013/06/02/investasi-dalamkonteks-ekonomi-makro/
Rangkuti,Aidawayanti. 2009. Draft Lacture notes on Topic Special of Economics
Applied.
Seruni, Reyni. 2012. Diakses dari http://3yoo.wordpress.com/2012/07/22/asumsikurva-kemungkinan-produksi
Surjanti. 2012. Diakses dari http://journal.uny.ac.id/index.php/jk/article/download/