Anda di halaman 1dari 3

Optimalisasi Potensi Panas Bumi Untuk Mencapai Kemandirian Energi

Oleh: Supianudin
Jurusan Teknik Perminyakan, Fakultas Teknik dan Desain
Institut Teknologi dan Sains Bandung (ITSB)
Jl. Ganesha Boulevard, Kota Deltamas, Cikarang Pusat, Bekasi 17653 Indonesia
e-mail: iyansofyan19@gmail.com
Banyak orang beranggapan jika kita mengehemat energi, kita akan menghemat
pengeluaran uang. Memang benar. Akan tetapi kita harus menyadari kalaupun kita
mempunyai banyak uang bukan berarti kita boros dalam menggunakan energi, kita wajib
bijak dan menghemat dalam menggunakan energi tersebut. Hal tersebut terlihat dari kondisi
keenergian saat ini di Indonesia. Asumsi diatas menjadi dasar bahwa Indonesia harus siap
siaga untuk menghadapi krisis energi jika suatu saat akan terjadi.
Indonesia merupakan negara yang dimana diberkahi sumber daya alam yang begitu
melimpahnya. Tak terkecuali sumber daya energi yang begitu banyak pula. Disatu sisi,
bangsa Indonesia sendiri belum mampu mengoptimalkan sumber daya energi yang dimiliki.
Salah satu contoh potensi energi yang belum dioptimalkan pemanfaatanya adalah energi
panas bumi. Kita tahu energi merupakan kebutuhan primer, oleh karena itu potensi energi
panas bumi yang tersimpan didalam perut bumi pertiwi ini harus sesegera dioptimalkan dan
dimanfaatkan demi kesejahteraan rakyat Indonesia. Jika pemerintah mampu mengelola energi
panas bumi ini dengan bijak, potensi yang ada akan mampu mewujudkan Indonesia yang
mandiri dalam memenuhi kebutuhan energi untuk masyarakatnya.
Faktanya potensi energi panas bumi di Indonesia diperkirakan mempunyai
sumberdaya energi panas bumi sekitar 30% sampai dengan 40% dari potensi panas bumi
dunia. Namun sangat disayangkan, pemanfaatan panas bumi di Indonesia hanya mecapai
4,5% sampai 5% yang sudah dimanfaatkan dan dirasakan oleh sebagian masyarakat
Indonesia.
Permasalahan utama dari penggunaan bahan bakar fosil yang menyangkut mengenai
keberlanjutan pasokan energi tersebut di Indonesia. Dengan mengetahui bahwa cadangan
minyak yang terkandung di Indonesia untuk saat ini diperkirakan hanya tersisa 12 tahun lagi.
Ini juga kalau tidak diimbangi dengan eksplorasi di wilayah-wilayah yang berpotensi
mengandung hidrokarbon, hal ini mengakibatkan Indonesia bisa mengalami kekurangan
pasokan bahan bakar energi fosil, dimana bahan bakar fosil tersebut digunakan sebagai energi
utama untuk pembangkit litrik. Bisa dipastikan Indonesia menjadi negara yang tak mandiri
dalam menghadapi krisis energi, karena untuk memenuhi kebutuhan energinya saja masih
membutuhkan energi dari negara lain. Sementara hal ini tidak diimbangi dengan bijak
penggunaan konsumsi energi nasional.
Permasalahan kedua dari pemanfaatan energi fosil ini adalah sangat nyata berdampak
kepada lingkungan secara langsung. Penggunaan bahan bakar fosil (minyak, gas, dan batu
bara) dalam lingkup industri ataupun kehidupan sehari-hari telah menyumbangkan 74% dari
total emisi gas CO2 sebagai gas dari efek rumah kaca. Ini juga menjadi isu lingkungan yang
setiap tahunnya menjadi topik utama dalam penyelamatan bumi ini yang semakin membuat
bumi menjadi dampak nyata atas kerakusan manusia. Yang seharusnya manusia menjaga
lingkungan bumi ini agar tetap bisa bersahabat dengan manusia untuk masa depan yang lebih
baik.

Dampak dari penggunaan energi fosil yang telah dikemukakan, sebaiknya menjadi
alasan utama Indonesia untuk segera merealisasikan wujud kemandirian dari ketergantungan
energi fosil. Menengok mengenai pengembangan energi alternatif kita bisa melihat data
bahwa pada Energy Prima Mix 2010-2030 Indonesia ingin melepas dari ketergantungan
penggunaan energi fosil dengan memanfaatkan potensi energi alternatif yang dimilikinya.
Tapi pada kenyataanya hanya omongan belaka yang ramai diawalnya saja.
Entah kapan energi alternatif atau energi terbarukan akan menggantikan peran energi
fosil? Akan tetapi pemerintah sendiri bertekad lebih serius untuk mengembangkan energi
panas bumi pada tahun ini, tahun 2014. Sebagai negara yang mempunyai cadangan panas
bumi yang cukup mumpuni, saatnya Indonesia mandiri dengan apa yang dimilikinya. Karena
jika potensi yang besar tak dimanfaatkan, tak akan berdampak nyata bagi negara, kalau hanya
disimpan dan tak digunakan untuk kesejahteraan rakyatnya.
Karena jika tidak segera beralih dan memanfaatkan potensi energi panas bumi yang
ada, maka bisa mengakibatkan APBN negara akan jebol karena untuk membiayai subsidi
energi fosil. Inilah yang mengakibatkan rakyat menjadi dampak nyata karena akibat jebolnya
APBN yang dimana hampir 30% nya untuk membiayai impor minyak karena dampak dari
pemakaian energi yang kurang bijak dan kurangnya kesadaraan dari masyarakat sendiri
mengenai pemakaian energi fosil tersebut.
Karena dana yang ada habis untuk subsidi, seharusnya bisa dialokasikan dan
dimanfaatkan untuk keperluan yang lebih berguna, misalnya perbaikan mutu pendidikan
didaerah pelosok negeri ini. Agar berguna bagi rakyat banyak dan dapat meringankan beban
bagi negara untuk dimasa mendatang. Yang ada seharusnya dana subsidi tersebut dapat
dialihkan untuk pengembangan energi baru terbarukan, untuk perbaikan sember daya
manusia, dan penanggulangan kemiskinan yang dimana akan menimbulkan dampak yang
nyata dan permanen dikemudian hari.
Berdasarkan data dari Kapusdatin ESDM pada pertemuan Tahunan Pengelolaan
Energi Nasional (PT-PEN) 2008, pertumbuhan pasokan energi primer adalah 1,5% per tahun,
sementara pertumbuhan konsumsi energi final persektor naik 4% per tahun, dengan
pemakaian terbesar pada sektor transportasi sebesar 42,67%. Karena melihat data tersebut,
pemerintah siaga untuk menetapkan target pendayagunaan EBT 25% pada bauran energi
primer pada tahun 2025.
Walaupun pemanfaatan energi panasbumi belum seoptimal energi konvensional
seperti energi minyak dan gasbumi, akan tetapi energi panas bumi sangat dibutuhkan untuk
memenuhi pasokan kebutuhan listrik masyarakat, yang saat ini bahan bakar fosil masih
mendominasi sebagai pembangkit listrik di Indonesia. Karena dipengaruhi oleh banyaknya
isu mengenai masalah energi minyak dan gas bumi yang semakin lama mengalami decline
atau penurunan laju produksi dan mengalami kenaikan harga minyak, oleh sebab itu solusi
untuk mengurangi ketergantungan pada minyak salah satunya adalah dengan cara
memanfaatkan optimalisai energi panas bumi.
Dengan letak geografis Indonesia yang berada di kawasan ring of fire yang dimana
sepanjang jalur vulkanik mulai dari pulau Sumatra, Jawa, Bali, dan kearah utara Maluku dan
Sulawesi. Dari banyaknya potensi yang tersebar, prospek optimalisai panas bumi tersebut
bisa disimpulkan jika prospek yang berpotensi dikembangkan dan dimanfaatkan untuk
kehidupan masyarakat, pastinya akan membantu Indonesia dalam menanggulangi efek
ketergantungan terhadap energi fosil dan bisa mencapai kemandirian energi yang diharapkan.

Sebaliknya, masyarakat mengatakan bahwa energi panas bumi baik untuk alam
sekitar dan sebagai sumber utama pembangkit listrik demi kemajuan perekembangan energi
terbarukan, dan berharap menjadi motivasi untuk terus mewujudkan mimpi demi
terwujudnya kemadirian energi di tanah bumi pertiwi ini.
Pembahasan masih berlanjut, kesinambungan pemanfaatan energi panas bumi
berpengaruh besar untuk menjadikan Indonesia tumbuh dengan panas bumi demi kehidupan
yang lebih baik dimasa depan. Alam pun yang terjaga kelestariannya dan semua kebutuhan
listrik akan terpenuhi tanpa waspada dengan naik turunya harga minyak dunia. Hal inilah
kunci untuk menjadi negara yang mandiri energi dimana mampu memanfaatkan semua
potensi yang dimilikinya demi kesejahteraan rakyat.
Energi panas bumi pun sudah berperan 10% dari semua total konsumsi dunia.
Indonesia yang memiliki cadangan berpotensi, saatnya membuktikan dengan
mengoptimalkan potensi panas bumi yang ada. Energi yang bersih dan bersahababat ini
saatnya diprioritaskan demi meningkatkan rasio elektrifikasi. Yang pastinya tahun 2014
merupakan tahun kebangkitan panas bumi, saatnya optimalkan semua aspek yang menjadi
kendala dalam mengoptimalkan energi panas bumi, agar terwujudnya kemandirian energi
yang dimana bisa mengurangi impor BBM untuk sektor pembangkit listrik.
Faktanya dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, energi yang ekstra, dan dari segi
finansial yang besar, namun demi energi untuk kehidupan masa depan yang lebih baik, harus
direalisaikan dari saat ini. Lebih baik mencegah daripada mengobati inilah acuan agar
pengoptimalan cadangan panas bumi bisa dimanfaatkan dan dirasakan hasilnya di masa
depan untuk anak cucu kelak.
Saatnya pemerintah, putra-putri bangsa dan dari segala aspek berperan aktif dalam
pengembangan cadangan panas bumi demi mewujudkan Indonesia mandiri energi. Jika
energi fosil konsumsinya yang terus meningkat, sementara produksinya mengalami
penurunan. Jadi panas bumi menjadi pilihan energi alternatif yang mempunyai peluang besar
demi terwujudnya sifat mandiri secara energi yang dimana tidak lagi bergantung dengan
negara lain. Bukti nyata bahwa Indonesia mampu menjadi tuan rumah di negaranya sendiri.