Anda di halaman 1dari 9

Konsep Uang dalam Islam

Diposkan oleh dila_Que at 9:42 PM

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Uang adalah instrumen perekonomian yang sangat penting. Hampir semua kegiatan ekonomi
sangat bergantung pada instrumen ini yang antara lain, berfungsi sebagai alat tukar ataupun alat
bayar. Oleh karena itu, kehadiran uang dalam kehidupan sehari-hari sangat vital, terutama untuk
memperoleh barang, jasa, serta kebutuhan hidup lainnya.
Uang adalah inovasi modern yang menggantikan posisi barter, atau tukar menukar satu
barang dengan barang lainnya. Disamping itu terhapusnya sistem pertukaran barter dalam sejarah
ekonomi bangsa tidak terjadi dalam waktu yang sama. Sekalipun pertukaran barter mengalami
penurunan tajam setelah uang mengambil alih fungsi sebagai alat tukar perdagangan
internasional, namun pertukaran barter kini banyak dilihat sebagai alternatif yang bagus dalam
perdagangan antar negara.
Kesalahan besar ekonomi konvensional ialah menjadikan uang sebagai komoditas, sehingga
keberadaan uang saat ini lebih banyak diperdagangkan daripada digunakan sebagai alat tukar
dalam perdagangan. Lembaga perbankan konvensional jugamenjadikan uang sebagai komoditas
dalam proses pemberian kredit. Instrumen yangdigunakan adalah bunga (interest). Uang yang
memakai instrumen bunga telah menjadilahan spekulasi empuk bagi banyak orang di muka bumi
ini. Kesalahan konsepsi ituberakibat fatal terhadap krisis hebat dalam perekonomian sepanjang
sejarah, khususnyasejak awal abad 20 sampai sekarang. Ekonomi berbagai negara di belahan
bumi ini tidak pernah lepas dari terpaan krisis dan ancaman krisis berikutnya pasti akan terjadi
lagi. lalu apakah dalam islam uang tidak boleh di pergunakan?
Bagai manakah islam memendang uang tersebut?. Apakah ada cara pandang yang berbeda
terhadap uang menurut ekonomi konvensional dan ekonomi syariah?. hal tersebut, akan kita
bahas dalam makalah ini.
1.2 Rumusan Masalah
Pada uraian latar belakang di atas dapat dikemukakan beberapa masalah yang menjadi objek
permasalah yang akan di bahas pada makalah ini.
1. Apa pengertian uang ?
2. Bagaimana syarat seseuatu dapat dikatakan sebagai alat tukar?
3. Apa saja fungsi uang?
4. Perbandingan pengertian uang secara syariah dan konvensional?

1.3 Tujuan Masalah


Sesuai rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Agar para pembaca memahami dengan jelas tentang pengertian uang secara syariah dan
konvensional.
2. Agar pembaca mengetahui tentang fungsi uang selain sebagai alat tukar.
3. Agar pembaca mengetahui tentang syarat suatu benda dikatakan uang.
4. Agar para pembaca mengerti tentang berbagai jenis uang dipandang dari berbagai sudut.

1.4 Sistematika Penulisan


Tinjauan pustaka
Penulis melakukan tinjauan pustaka sebagai sistematika penulisan makalah ini. Berbagai
macam media pustaka kami jadikan sebagai bahan referensi kami. Diantaranya : buku,
majalah, dan internet.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Uang
Uang dalam ilmu ekonomi tradisional didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat
diterima secara umum. Alat tukar itu dapat berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap
orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa. Dalam ilmu ekonomi modern,
uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat
pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta
untuk pembayaran utang.Beberapa ahli juga menyebutkan fungsi uang sebagai alat penunda
pembayaran. Menurut Kasmir uang adalah sesuatu yang dapat diterima secara umum sebagai alat
pembayaran dalam suatu wilayah tertentu untuk melakukan pembelian barang dan jasa . dari
beberapa definisi diatas bisa kita simpulkan bahwa uang adalah sesuatu yang diterima dipercaya
masyarakat sebagai alat pembayaran atau transaksi.
Keberadaan uang menyediakan alternatif transaksi yang lebih mudah, efisien, dan cocok
digunakan dalam sistem ekonomi modern daripada barter.
2.2 Definisi Uang Menurut Konvensional
Ekonomi konvensional mengatakan bahwa uang merupakan asset yang sangat istimewa
dan mempunyai status yang sangat istimewa pula atas asset-asset ekonomi lainnya.
Menurut konsep ekonomi konvensional, konsep uang tidak begitu jelas dalam buku Money,
Interest and Capital karya Colin Rogers, uang diartikan sebagai uang dan capital secara
bergantian. Capital bersifat stock concept dan merupakan private goods.Uang yang mengendap
merupakan milik seseorang dan menjadi milik pribadi (private good).
Dari definisi diatas dapat kita tarik kesimpulan ekonomi konvensional memandang
bahwa uang itu sebagai asset dan capital. Yang artinya jika mereka mempunyai banyak uang
maka mereka akan mendapatkan keuntungan yang banyak juga. Karna Capital sama dengan
profit. Jadi jika mempunyai capital banyak maka mereka akan mendapatkan profit yang bayak
juga.
Oleh karna itu bagi mereka, melakukan praktek riba itu diperbolehkan, atau menimbun
harta itu diperbolehkan. Untuk mereka sah-sah saja. Padahal dibalik semua itu melakukan riba
atau menimbun itu akan mengakibatkan kerusakan dalam sistem ekonomi.
2.3 Definisi Uang Menurut Islam
Ekonomi islam mendefinisikan uang adalah sebagai fasilitator atau mediasi pertukaran
(medium of exchange), bukan komoditas yang dapat dipertukarkan dan disimpan sebagai asset
dan kekayaan individu.
Dalam konsep ekonomi Syariah uang adalah sesuatu yang bersifat flow concept dan
merupakan public goods. Uang yang mengalir adalah public goods. Oleh karna itu dalam Islam
diharamkan melakukan praktek riba dan dilarang untuk melakukan penimbunan.
2.4 Sejarah Uang
Uang yang kita kenal sekarang ini telah mengalami proses perkembangan yang panjang.
Pada mulanya,
masyarakat
berusaha memenuhi kebutuhannnya dengan usaha

sendiri. Manusia berburu jika ia lapar, membuat pakaian sendiri dari bahan-bahan yang
sederhana, mencari buah-buahan untuk konsumsi sendiri. Seiring dengan perkembangan
manusia. Harus menerima bahwa apa yang di produksinya sendiri ternya tidak cukup untuk
menenuhi kebutuhannya. Karna itu untuk memenuhi kebutuhannya , mereka mencari orang yang
mau menukarkan barang yang dimiliki dengan barang lain yang dibutuhkan olehnya. Akibatnya
muncullah system barter yaitu barang satu ditukar dengan barang yang lain.
Dalam pelaksanaan sistem barter, manusia zaman dulu merasakanbanyak kesulitankesulitan dalam menjalankan sistem ini. Di antaranya kesulitan untuk menemukan orang yang
mempunyai barang yang diinginkan dan mau menukarkan barang yang dimilikinya, kemudian
kesulitan untuk memperoleh barang yang dapat dipertukarkan satu sama lainnya dengan nilai
pertukaran yang seimbang atau hampir sama nilainya.
Kemudian mulailah timbul pikiran-pikiran untuk menggunakan benda-benda tertentu
untuk digunakan sebagai alat tukar. Benda-benda yang ditetapkan sebagai alat pertukaran itu
adalah benda-benda yang diterima oleh umum (generally accepted) benda-benda yang dipilih
bernilai tinggi (sukar diperoleh atau memiliki nilai magis dan mistik), atau benda-benda yang
merupakan kebutuhan primer sehari-hari; misalnya gandum.
Meskipun alat tukar sudah ada, kesulitan dalam pertukaran tetap ada. Kesulitankesulitan itu antara lain benda-benda yang dijadikan alat tukar belum mempunyai pecahan
sehingga penentuan nilai uang, penyimpanan (storage), dan pengangkutan (transportation)
menjadi sulit dilakukan serta timbul pula kesulitan akibat kurangnya daya tahan benda-benda
tersebut sehingga mudah hancur atau tidak tahan lama.
Akhirnya muncul gagasan untuk membuat uang logam. Logam dipilih sebagai alat tukar
karena memiliki nilai yang tinggi sehingga digemari umum, tahan lama dan tidak mudah rusak,
mudah dipecah tanpa mengurangi nilai, dan mudah dipindah-pindahkan. Logam yang dijadikan
alat tukar karena memenuhi syarat-syarat tersebut adalah emas dan perak. Uang logam emas dan
perak juga disebut sebagai uang penuh (full bodied money). Artinya, nilai intrinsik (nilai bahan)
uang sama dengan nilai nominalnya (nilai yang tercantum pada mata uang tersebut).
Sejalan dengan perkembangan perekonomian, timbul kesulitan ketika perkembangan
tukar-menukar yang harus dilayani dengan uang logam bertambah sementara jumlah logam
mulia (emas dan perak) sangat terbatas. Penggunaan uang logam juga sulit dilakukan untuk
transaksi dalam jumlah besar sehingga diciptakanlahuang kertas
Pada mulanya uang kertas yang beredar merupakan bukti-bukti pemilikan emas dan
perak sebagai alat/perantara untuk melakukan transaksi. Dengan kata lain, uang kertas yang
beredar pada saat itu merupakan uang yang dijamin 100% dengan emas atau perak yang
disimpan di pandai emas atau perak dan sewaktu-waktu dapat ditukarkan penuh dengan
jaminannya. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat tidak lagi menggunakan emas (secara
langsung) sebagai alat pertukaran. Sebagai gantinya, mereka menjadikan 'kertas-bukti' tersebut
sebagai alat tukar.

1.

2.5 Syarat Untuk Menjadikan Benda Sebagai Alat Tukar Atau Uang
benda itu harus diterima secara umum (acceptability). Agar dapat diakui sebagai alat tukar
umum suatu benda harus memiliki nilai tinggi atau setidaknya dijamin keberadaannya
oleh pemerintah yang berkuasa.

2. Bahan yang dijadikan uang juga harus tahan lama (durability),


3. kualitasnya cenderung sama (uniformity),
4. jumlahnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat serta tidak mudah dipalsukan (scarcity).
5. Uang juga harus mudah dibawa, portable, dan mudah dibagi tanpa mengurangi nilai
(divisibility), serta memiliki nilai yang cenderung stabil dari waktu ke waktu (stability of value).
2.6 Fungsi Uang
1.medium of exchange ( alat tukar)
Dalam sistem perekonomian barter, pertukaran terjadi secara langsung antara barang satu
dengan barang lainnya atau komoditas satu dengan komoditas lainnya, dimana seseorang tidak
akan menyerahkan barangnya kepada orang lain sebelum menerima barang orang lain yang
bersedia dipertukarkan.
Ketika uang digunakan sebagai alat tukar, maka yang terjadi adalah membeli barang dengan
uang dan menjual barang dengan uang.
2.store of value (alat penyimpan nilai)
Uang sebagai alat penyimpan nilai/daya beli memang sangat fleksibel untuk dijadikan
penyimpan kekayaan, karena sifatnya yang liquid dan tidak ada biaya penyimpanan terhadapnya.
Karena tidak ada biaya penyimpanan terhadap uang dalam ekonomi konvensional, maka syarat
yang paling utama adalah bahwa uang harus bisa menyimpan daya beli atau nilai yang stabil.
Karna itu mereka membolehkan untuk menyimpan uang dalam jumlah yang benyak bahkan
cenderung berlebihan (menimbun).
Padahal menimbun itu sesuatu yang tidak diperbolehkan. Hal ini Merujuk kepada Al-Quran,
al-Ghazali berpendapat bahwa orang yang menimbun uang adalah seorang penjahat, karena
menimbun uang berarti menarik uang secara sementara dari peredaran. Dalam teori moneter
modern, penimbunan uang berarti memperlambat perputaran uang.
3.unit of account (Sebagai alat satuan hitung)
Uang sebagai alat satuan hitung (unit of account) tentu akan mempemudah proses tukar
menukar dua barang yang secara fisik sangat berbeda, seperti mobil dan gandum, pesawat
terbang dan beras dan lain sebagainya. Dua jenis barang yang berbeda secara fisik tersebut akan
bisa seragam dan lebih mudah dipertukarkan bila nilai masing-masing dinyatakan dalam satuan
mata uang
al-Ghozaly mengatakan, seperti yang dikutip oleh Adiwarman A. Karim,21 bahwa uang
itu seperti cermin, tidak berwarna, tetapi dapat merefleksikan warna. yang maksudnya adalah
uang tidak mempunyai harga, tetapi merefleksikan harga semua barang, atau dalam istilah
ekonomi klasik disebutkan bahwa uang tidak memberikan kegunaan langsung (direct utility
function), yang artinya adalah jika uang digunakan untuk membeli barang, maka barang itu yang
akan memberikan kegunaan.
4.standard of deferred payment (Sebagai ukuran standar pembayaran yang ditangguhkan )
Uang sebagai alat standar pembayaran yang ditangguhkan. Dengan kata lain uang terkait
dengan transaksi pinjam meminjam atau transaksi kredit, yang artinya barang sekarang, dibayar
nanti atau uang sekarang dibayar nanti.
2.6.1 Persamaan Dan Perbedan Fungsi Uang Menurut Syari Dan Konvensional
Persaman fungsi uang syariah dan konvensional adalah uang sebagai alat pertukaran
(medium of exchange) dan satuan nilai (unit of account).perbedaannya ekonomi konvensional

menambah satu fungsi lagi sebagai penyimpan nilai (store of value) yang kemudian berkembang
menjadi motif money demand for speculation yang merubah fungsi uang sebagai salah satu
komoditi perdagangan.
Jauh sebelumnya, Imam al-Ghazali telah memperingatkan bahwa Memperdagangkan
uang ibarat memenjarakan fungsi uang, jika banyak uang yang diperdagangkan, niscaya tinggal
sedikit uang yang dapat berfungsi sebagai uang.
Dengan demikian, dalam konsep Islam, uang tidak termasuk dalam fungsi utilitas karena
manfaat yang kita dapatkan bukan dari uang itu secara langsung, melainkan dari fungsinya
sebagai perantara untuk mengubah suatu barang menjadi barang yang lain. Dampak berubahnya
fungsi uang dari sebagai alat tukar dan satuan nilai mejadi komoditi dapat kita rasakan sekarang,
yang dikenal dengan teori Bubble Gum Economic.
2.6.2 Dampak Uang Apabila Dijadikan Komoditi
Ibnu Tamiyah dalam kitabnya Majmu Fatwa Syaikhul Islam menyampaikan lima butir
peringatan penting mengenai uang sebagai komoditi, yakni :
1. Perdagangan uang akan memicu inflasi
2. Hilangnya kepercayaan orang terhadap stabilitas nilai mata uang akan mengurungkan niat
orang untuk melakukan kontrak jangka panjang, dan menzalimi golongan masyarakat yang
berpenghasilan tetap seperti pegawai/ karyawan;
3. Perdagangan dalam negeri akan menurun karena kekhawatiran stabilitas nilai uang;
4. Perdagangan internasional akan menurun;
5. Logam berharga (emas & perak) yang sebelumnya menjadi nilai intrinsic mata uang akan
mengalir keluar negeri.
Perdagangan uang adalah salah satu bentuk riba yang lebih banyak mudaratnya daripada
manfaatnya. Untuk itu, marilah kita kembali kepada fungsi uang yang sebenarnya yang telah
dijalankan dalam konsep Islam, yakni sebagai alat pertukaran dan satuan nilai, bukan sebagai
salah satu komoditi, dan menyadari bahwa sesungguhnya uang itu hanyalah sebagai perantara
untuk menjadikan suatu barang kepada barang yang lain.
Dengan demikian, maka dalam praktek sebuah Bank Syariah yang benar, Bank bukan
menjual-belikan uang tetapi adalah menjual-belikan barang dan atau berbagi hasil dalam sebuah
kemitraan usaha guna menghindari perubahan fungsi uang dari alat pertukaran dan satuan nilai
menjadi komoditi
2.7 Anjuran Untuk Menggunakan Uang
Terlepas dari fungsi uang dalam pandangan ekonomi konvensional dan ekonomi islam
yang berbeda. Islam menganjurkan untuk tetap menggunakan uang sebagai medium of change
(alat tukar). Sebagai mana hadist yang diriwayatkan diriwayatkan oleh Ata Ibn Yasar, Abu Said
dan Abu Hurairah, dan Abu Said Al Khudri. Dari Abu Said r.a, katanya : Pada suatu ketika,
Bilal datang kepada Rasulullah saw membawa kurma Barni. Lalu Rasulullah SAW bertanya
kepadanya, Kurma dari mana ini ? Jawab Bilal, Kurma kita rendah mutunya. Karena itu
kutukar dua gantang dengan satu gantang kurma ini untuk pangan Nabi SAW. Maka bersabda
Rasulullah SAW, lnilah yang disebut riba. Jangan sekali-kali engkau lakukan lagi. Apabila

engkau ingin membeli kurma (yang bagus), jual lebih dahulu kurmamu (yang kurang bagus)
itu, kemudian dengan uang penjualan itu beli kurma yang lebih bagus. (H.R Bukhari Muslim).
Dari hadits di atas dapat dipahami bahwa Nabi Saw memerintahkan agar menjuall kurma
(yang kurang bagus) terlebih dahulu, kemudian uang penjualan itu digunakan untuk membeli
kurma yang berkualitas bagus tadi. Jadi Nabi saw melarang menukar secara langsung 2 sha
kurma kurang bagus dengan 1 sha kurma yang berkualitas bagus.
2.8 Dinar Dan Dirham Sebagai Mata Uang
Sering kita mendengar bahwa dinar dan dirham itu adalah mata uanga yang paling aman
digunakan. Mata unang yang stabil. Dan banyak lagi kelebihan-kelebihannya saat dinar dan
dirham itu digunakan sebagai mata uang. Dalam makalah ini insya Allah kita akan membahas
sedikit tentang dinar dan dirham.
Dinar dan dirham termasuk Uang logam, uang yang di buat dari logam mulia
yaituemas dan perak karena kedua logam itu memiliki nilai yang cenderung tinggi dan stabil,
bentuknya mudah dikenali, sifatnya yang tidak mudah hancur, tahan lama, dan dapat dibagi
menjadi satuan yang lebih kecil tanpa mengurangi nilai.
2.8.1 Sejarah Dinar Dan Dirham
Emas, dalam sejarah perkembangan sistem ekonomi dunia, sudah dikenal sejak 40 ribu
tahun sebelum Masehi. Hal itu ditandai penemuan emas dalam bentuk kepingan di Spanyol, yang
saat itu digunakan oleh Paleiothic Man. Dalam sejarah lain disebutkan bahwa emas ditemukan
oleh masyarakat Mesir kuno (Circa) 3000 tahun sebelum masehi. Sedangkan sebagai mata uang,
emas mulai digunakan pada zaman Raja Lydia (Turki) sejak 700 tahun sebelum Masehi. Sejarah
penemuan emas sebagai alat transaksi dan perhiasan tersebut kemudian dikenal sebagai
Barbarous Relic (JM Keynes).
Lahirnya Islam sebagai sebuah peradaban dunia yang dibawa dan disebarkan oleh Nabi
Muhammad SAW telah memberikan perubahan yang cukup signifikan terhadap penggunaan
emas sebagai mata uang (dinar) yang digunakan dalam aktivitas ekonomi dan perdagangan. Pada
masa Rasulullah, ditetapkan berat standar dinar diukur dengan 22 karat emas, atau setara dengan
4,25 gram (diameter 23 milimeter). Sementara Khalifah Umar bin Khattab menentukan standar
koin dengan berat 10 Dirham setara dengan 7 Dinar (1 mitsqal).
Pada tahun 75 Hijriah (695 Masehi) Khalifah Abdulmalik memerintahkan Al-Hajjaj
untuk mencetak Dirham untuk pertama kalinya, dan secara resmi beliau menggunakan standar
yang ditentukan oleh Khalifah Umar bin Khattab.
2.8.2 Dinar-Dirham Dalam Alquran Dan Hadits
Dalam Alquran dan Hadits, emas dan perak telah disebutkan baik dalam fungsinya sebagai
mata uang atau sebagai harta dan lambang kekayaan yang disimpan. Ini dapat kita lihat dalam
QS. at-Taubah: 34 yang menjelaskan orang-orang yang menimbun emas dan perak, baik dalam
bentuk mata uang maupun dalam bentuk kekayaan biasa dan mereka tidak mau mengeluarkan
zakatnya akan diancam dengan azab yang pedih. Ayat ini juga menegaskan tentang kewajiban

zakat atas logam mulia secara khusus. Dalam QS al-Kahf: 19, Allah menceritakan kisah Ashabul
Kahf (penghuni gua) yang menyuruh salah seorang dari teman mereka untuk membelanjakan
uang peraknya (wariq) guna membeli makanan sesudah mereka tertidur selam 309 tahun di gua.
Alquran menggunakan kata wariq yang artinya uang logam dari perak atau dirham.
Di samping itu banyak sekali hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebut dinar-dirham atau
menggunakan kata wariq. Rasulullah SAW bersabda, Dinar dengan dinar, tidak ada kelebihan
antara keduanya (jika dipertukarkan); dan dirham dengan dirham, tidak ada kelebihan di antara
keduanya (jika dipertukarkan ). (H.R. Muslim). Dalam hadis lain, Rasulullah SAW
menggunakan kata wariq seperti dalam hadis berikut ini: Uang logam perak (wariq) yang
jumlahnya di bawah lima auqiyah tidak ada kewajiban zakat atasnya. (H.R. Bukhari dan
Muslim).
2.9 Pro-Kontra Dinar Dan Dirham
Pro kontra mengenai hukum penggunaan mata uang dinar-dirham dalam Islam ramai
dibicarakan sejak abad pertengahan.Perdebatan apakah mata uang adalah masalah syara yang
sudah ditetapkan oleh Allah swt, atau hanya masalah tradisi-terminologis yang penetapannya
diserahkan pada kebiasaan masyarakat (urf)? Apakah hanya emas dan dirham yang memiliki
otoritas sebagai satu-satunya mata uang umat Islam (single money) atau bisa berlaku mata
uang yang lain?
2.9.1 Dinar Dan Dirham Adalah Masalah Syara
Ulama-ulama besar seperti Abu Hanifah, Abu Yusuf, fatwa kalangan Hanafiyah dalam AlFatawa al-Hindiyah berpendapat bahwa uang adalah masalah syara yang telah diatur oleh Allah
swt. Alquran hanya menyebutkan emas, perak, dinar, dan dirham sebagai barang-barang yang
memiliki nilai, dan tidak pernah penyebutkan mata uang lainnya.
Maka menjadi hal yang niscaya bagi umat Islam untuk menggunakan emas dan perak (dinardirham) sebagai satu-satunya medium of exchange. Al-Maqrizy ulama-ekonomi yang sangat
lantang menyuarakan pendapatnya bahwa mata uang yang sah menurut syara hanyalah emas
dan perak. Kasyful Ghummah, Al-Maqrizy menyatakan mata uang yang bisa diterima baik oleh
agama, logika, dan tradisi hanyalah emas dan perak. Yang lain tidak.

2.9.2 Dinar Dan Dirham Adalah Masalah Tradisi


Menurut Al-Baladziri dalam Futuhul Buldan, Umar bin Khattab ra. pernah punya keinginan
untuk menjadikan mata uang dari kulit unta. Umar berkata Aku ingin (suatu saat) menjadikan
kulit unta sebagai alat tukar,. Menurutnya, sebagai alat tukar (medium of exchange) uang tidak
harus terbatas pada dua logam mulia saja. Karena sesungguhnya, apapun, dapat berfungsi
menjadi uang termasuk kulit unta.
Terlepas dari pro-kontra seputar hukum penggunaan dinar-dirham sebagai mata uang dalam
islam,
penetapan
mata
uang
mesti
memperhatikan
faktor stability(kesetabilan
nilai), fairness (keadilan), dan reliability (ketahanan) sebagai acuan. Dengan memperhatikan
faktor-faktor ini maka dinar-dirham diakui banyak kalangan sebagai mata uang yang memenuhi
kualifikasi di atas.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Terlihat jelas bahwa perbedaan cara pandang fungsi uang secara konvensional sangat berbeda
dengan konsep islam. Secara islam tersirat suatu pengakuan bahwa seorang muslim yang
berkesadaran tauhid akan memiliki pandangan dunia( vision de la monde ) yang utuh, kompak
dan integral. Kita yakini bahwa dirham dan dinar merupakan bentuk nikmat dari Allah yang
diberikan kepada manusia dengan maksud dijadikan alat tukar. Maka kedua logam ini haruslah
berputar (sirkulasi) dari satu tangan ke tangan lainnya. Uang adalah ibarat darah dalam tubuh,
semakin beredar dengan lancar tubuh akan semakin sehat dan tidak berpenyakitan.Konvensional
terdapat beberapa bentuk kedzaliman apabila seseorangmenyimpan uang dengan tujuan untuk
menimbun (iktinaz) dengan akibat uang menjadi tidak bisa beredar dalam sirkulasi dan orangorang yang melakukan kegiatan itu telah memanfaatkan uang untuk tujuan-tujuan yang salah.

3.2 Saran
Penyusun makalah ini hanya manusia yang dangkal ilmunya, yang hanya mengandalkan
buku referensi. Maka dari itu penyusun menyarankan agar para pembaca yang ingin mendalami
masalah prinsip uang dalam islam ,agar setelah membaca makalah ini, membaca sumber-sumber
lain yang lebih komplit, tidak hanya sebatas membaca makalah ini saja.

DAFTAR PUSTAKA
Basri, Ikhwan Abidin ,M.A. Menguak Pemikiran Ekonomi Ulam Islam.
2008. Solo: Aqwam Jembatan Ilmu

http://chikalku.blogspot.com/2011/07/konsep-uang-dalam-islam.html