Anda di halaman 1dari 9

Nama : Adib El Khilla

NPM

: 143010004432

Kelas : 2C D3 Kebendaharaan Negara

Pajak, Sejarahnya di Dunia dan Indonesia


(resume artikel Pajak dalam Perspektif Sejarah dari Onghokham)

A. Pendahuluan
Pajak merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang penting bagi suatu negara.
Semua negara di dunia memungut pajak dari rakyatnya, yang kemudian digunakan untuk membiayai
pengeluarannya dalam rangka mencapai tujuannya. Kemajuan suatu negara dipengaruhi oleh
pembangunan yang dijalankan oleh negara tersebut, dan suatu pembangunan membutuhkan biaya.
Penerimaan pajak merupakan salah satu sumber dana utama yang dimiliki negara untuk membiayai
pembangunannya. Semakin tinggi pajak yang dikumpulkan, semakin banyak kegiatan pembangunan
yang dapat dijalankan.
Kekuasaan negara sangat berkaitan dengan keuangan negara. Keuangan negara ini sangat
dipengaruhi oleh besarnya pajak yang diperoleh. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh negara
untuk menghimpun pendapatan tersebut adalah melalui pemungutan pajak. Suatu fenomena yang
terus berlanjut dari zaman dahulu hingga saat ini adalah fenomena dimana suatu negara dalam
menghimpun pendapatan yang akan digunakan untuk membiayai pengeluarannya dalam rangka
mencapai tujuannya selalu menghadapi berbagai masalah.. Permasalahan mengenai pemungutan pajak
merupakan suatu persoalan yang dinamis dalam sejarah perkembangan masyarakat di berbagai
negara. Permasalahan ini mengiringi berkembangnya sejarah perpajakan di dunia, termasuk di
Indonesia.

A. 1 Sejarah Perpajakan di Dunia


Sejarah perkembangan pajak di dunia telah mengalami banyak perkembangan. Pajak memang
telah dikenal sejak zaman dahulu kala (walau dengan istilah-istilah lain seperti upeti). Pajak yang
diserahkan tidak hanya berbentuk uang, namun juga dalam bentuk natura. Penerapan pemungutan
pajak pertama kali diterapkan saat pembentukan kekaisaran Cina 3000 tahun yang lalu. Kekuatan
militer yang dimiliki kekaisaran saat itu sangat kuat, sehingga mampu memaksa rakyatnya untuk
membayar pajak. Hal ini menjadi cikal bakal lahirnya birokrasi dalam pemungutan dan
pengadministrasian perpajakan di dunia. Lalu di zaman mesir kuno, pungutan pajak juga telah

dikenal. Pungutan yang diambil oleh raja-raja Mesir ini cenderung memaksa dan menghalalkan segala
cara. Bahkan penggunaan minyak goreng pun dikenakan pajak pada saat itu, yang dikenal dengan
nama Scribe. Selanjutnya pada masa-masa peperangan antar kerajaan, di Yunani (tepatnya di kerajaan
Athena) telah diterapkan pemungutan pajak yang dikenal dengan nama Eisphora. Eisphora merupakan
iuran yang dipungut untuk membiayai perang, namun ketika perang tersbut selesai, hasil pungutan
yang masih tersisa dikembalikan ke rakyat. Selain Eisphora, kerajaan Athena juga memungut pajak
dari para pendatang setiap bulannya. Di kerajaan Romawi, pada masa kepemimpinan Julius Cesar,
telah menerapkan pajak penjualan sebesar 1%. Pada masa kepemimpinan Augustinus, dilakukan
pemungutan pajak atas warisan untuk membiayai dana pensiun bagi para anggota militernya.
Dimana saja, khususnya dalam kerajaan-kerajaan tradisional, pajak merupakan suatu hal yang
paling sulit untuk dilaksanakan. Banyaknya kendala yang terjadi seperi sulitnya melakukan penilaian
atas kekayaan seseorang, penghasilannya, dan nilai pribadi. Selain itu, biaya yang dikeluarkan untuk
memungut pajak seringkali lebih besar dari hasil pajak yang diperoleh. Walaupun terdapat banyak
kendala, pajak tetap merupakan unsur terpenting dalam kehidupan politik, sehingga negara terus
mengupayakan agar penerimaan pajak dapat dimaksimalkan, meskipun dengan cara kekerasan
sekalipun, sehingga pada saat itu muncul suatu persepsi bahwa tugas negara hanyalah untuk
memungut pajak dari rakyatnya.
Pada saat itu, tidak hanya negara saja yang berhak untuk memungut pajak, dari kaum pemuka
agama pun juga memiliki hak untuk memungut pajak dari warganya, yang dikenal dengan istilah
Tithe. Dasar legal yang dimiliki oleh negara dan pemuka agama tersebut sering memicu ketegangan
dengan para warganya, karena pihak pemungut (negara & pemuka agama) sering menggunakan
paksaan dalam memungut pajak. Selain itu, pajak yang telah dikumpulkan sering disalahgunakan.
Tujuan utama dari pengumpulan pajak pada intinya adalah kesejahteraan rakyat, namun pajak yang
dikumpulkan saat itu digunakan bukan untuk mencapai tujuan utama tersebut. hal ini menimbulkan
sikap anti dari warga sendiri terhadap para pemungut pajak. Sikap anti ini terus berkembang menjadi
bentuk-bentuk perlawanan langsung, mulai dari gerakan-gerakan protes hingga revolusi dan reformasi
agama.
Ketidakadilan pemungutan pajak pada zaman kerajaan tradisional yang berlanjut hingga
periode kolonial, menyebabkan sikap anti rakyat terhadap pemerintah semakin besar. Para petani dan
golongan rakyat bawah dikenai pajak yang tinggi, sedangkan kaum bangsawan dan gereja tidak
dikenai pajak. Alasan tradisional yang mendasari hal tersebut adalah karena para bangsawan dan
gereja pada masa lampau telah membantu negara dalam dinas militer. Bantuan tersebut berupa dana
yang digunakan oleh negara untuk membayai kebutuhan perang. Sedangkan kaum gereja teah
membantu negara dalam bidang rohani dan sosial seperti membiayai sekolah, rumah yatim piatu,
memelihara yang sakit & miskin. Alasan lainnya adalah karena kedua golongan ini memiliki

kedudukan politis yang kuat dan merupakan sekutu raja yang paling utama. Saat ini penerapan
kebijakan tersebut masih dilakukan dengan alasan bahwa dengan ditiadakannya kewajiban membayar
pajak, swasta dapat menggiatkan perekonomian, yang akan berdampak positif bagi penerimaan negara
meupun perekonomian masyarakat. Pembebanan pajak secara tidak adil ini akan menimbulkan
gejolak-gejolak politik. Bila keadaan ini terus berlanjut, akan membawa negara ke arah revolusi
pemerintahan, seperti Revolusi Perancis yang terjadi pada tahun 1789. Sebagai akibat dari desakandesakan yang muncul dari sistem pemungutan pajak yang menimbulkan ketidakadilan tersebut , maka
dilakukanlah reformasi dalam sistem pemungutan pajak. Hal ini mulai berkembang di seluruh dunia.
Sistem perpajakan terus berkembang dari waktu ke waktu. Prinsip pemungutan pajak yang
memiliki sifat memaksa tetap dipertahankan, namun unsur keadilan terus ditingkatkan. Di negara
modern, pajak dapat digunakan sebagai alat pemerataan, dimana berlaku pajak Progresif. Penerapan
pajak progresif ini mulai muncul ketika terjadinya perang dingin. Hal ini merupakan sesuatu yang
baru, karena kedudukan kekuasaan politik dengan kedudukan ekonomis yang sejajar karena
diberlakukannya pajak progresif ini justru dapat membebaskan orang dari pembayaran pajak.
Kebijakan mengenai pajak sebagai alat pemerataan merupakan salah satu senjata blok Barat untuk
menanamkan ideologinya ke negara-negara lain.
Hingga saat ini, sistem pemungutan pajak masih terus dikembangkan demi terciptanya
keadilan dalam pemungutan pajak. Paham demokrasi mulai banyak diterapkan setelah berakhirnya
Perang Dingin. Di negara-negara demokrasi, rakyat ikut serta dalam membuat aturan-aturan dalam
pemungutan pajak. Hal ini penting untuk dilakukan, karena tujuan pemungutan pajak adalah untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat itu sendiri. Saat ini, pajak dianggap sebagai suatu kewajiban
warga terhadap negaranya dan juga kewajiban negara terhadap rakyatnya. Konsep timbal baik ini
menerangkan bahwa pajak yang telah dipungut oleh negara harus digunakan untuk kepentingan rakyat
secara umum, menjamin kemakmuran bersama. Di negara yang menganut prinsip welfare state,
negara berkewajiban untuk melindungi dan menjamin secara layak kehidupan seluruh warga
negaranya, termasuk mereka yang tidak bekerja sekalipun. Di negara-negara ini, golongan-golongan
yang tidak bekerja ini dikhawatirkan akan menimbulkan masalah-masalah yang dapat mengganggu
ketentraman dan kesejahteraan seluruh masyarakat. Oleh karena itu, untuk menghindari dampak
negatif tersebut, warga negara yang bekerja sadar untuk membayar pajak bagi negara, sehingga danadana yang telah dikumpulkan dari pajak tesebut dapat digunakan untuk menghindari dampak negatif
yang timbul dari adanya pengangguran. Kesadaran atas pembayaran pajak kepada negara tersebut
memberikan mereka kesempatan untuk ikut mengawasi dan mengontrol penggunaan dana yang telah
diserahkan kepada negara dalam bentuk pajak tadi. Mereka dapat memprotes bila negara
mempergunakan dana pajak untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang tidak berkaitan dengan
kesejahteraan rakyat. Hal ini merupakan bentuk supremasi rakyat sebagai pemegang kedaulatan
tertinggi di negara demokrasi.

A. 2 Sejarah Perpajakan di Indonesia


Sejarah perpajakan di Indonesia mengalami banyak sekali perubahan dan perkembangan, yang dapat
dikelompokkan menurut periode tertentu. Periodisasi sejarah perpajakan di indonesia dibagi menjadi
3 periode yaitu :
1. Periode kerajaan tradisional
2. Periode kolonial
3. Periode pasca kemerdekaan
Dalam masing-masing periode, terdapat dinamika sepanjang penerapannya. Pengaruh dari budaya
asli, kedatangan bangsa penjajah, serta masalah-masalah lain mempengaruhi perkembangan sejarah
perpajakan di Indonesia.
A.2.1 Periode kerajaan tradisional
Pada periode ini, terdapat 2 jenis kerajaan yang mendominasi, yaitu kerajaan agrariadan
kerajaan maritim. Dua jenis kerajaan ini menerapkan bentuk perpajakan yang berbeda. Pada kerajaan
agraris, keterikatan pada kekuasaan sangat kuat. Mereka sangat tergantung kepada penguasanya. Hal
ini dikarenakan sumber penghasilan yang dimiliki oleh penduduk di kerajaan agraris hanya bersumber
dari tanah. Tanah merupakan sesuatu yang tidak dapat hilang dan dapat disembunyikan, sehingga
masyarakat tidak dapat menghindar dari pengenaan pajak. Sedangkan di kerajaan maritim, rakyat
tidak dikenakan pajak, baik dalam bentuk uang atau barang, maupun dalam bentuk kerja paksa.
Berbeda dengan kerajaan agraris yang hanya mengandalkan tanah sebagai sumber penghidupannya,
kerajaan maritim mempunyai berbagai sumber penerimaan. Uang, emas, dan barang-barang dagangan
merupakan sumber penghidupan masyarakat kerajaan maritim yang sifatnya dapat disembunyikan,
sehingga mereka dapat menghindar dari kewajiban membayar pajak. Sumber pendanaan negara yang
dapat dioptimalkan adalah penerimaan dari pajak yang dipungut dari transaksi perdagangan atas
kapal-kapal melintasi wilayah kerajaannya, baik itu pajak impor maupun ekspor. Dalam hal ini pajak
yang dipungut dalam kerajaan maritim merupakan pajak tidak langsung. Perbadaan antara jenis pajak
yang dipungut oleh kerajaan agraris dan kerajaan maritim akan berpengaruh pada pemungutan pajak
yang diterapkan pada masa kolonial.
Pajak yang diambil oleh pemerintah pusat tidak sebanding dengan beban pajak yang
ditanggung oleh rakyat. Ini dikarenakan para pejabat pemungut pajak yang merupakan pihak yang
berdiri otonom secara finanasial. Mereka mencari dan sendiri untuk membiayai kehidupannya, karena
mereka tidak digaji oleh pemerintah pusat. Salah satu cara untuk mendapatkan pengahasilan adalah
dengan memungut pajak yang tinggi dari rakyat, kemidian memberikan bagian pemerintah pusat.
Namun dalam penerapannya, pejabat pemungut tetap dibatasi dalam hal nominal pajak yang dipungut.

Selain dari pajak yang dipungut dari rakyat, raja masih memiliki tanah-tanah atau petani sendiri yang
secara langsung membayar upeti kepdanya, yitu para penggarap tanah kerajaan.
Terdapat beberapa kedudukan pejabat pemungut pajak yang dikenal pada masa itu, antara lain
demang, lungguh, dan bekel. Jabatan-jabatan tersebut dapat dijual, yang kemudian sering disebut
dengan venality of office. Hanya golongan-golongan tertentu saja yang dapat membeli jabatan ini.
Penjualan jabatan dengan harga tinggi membuat pihak yang membeli jabatan akan meningkatkan
beban pajak yang harus ditanggung oleh rakyat untuk mengembalikan modal yang telah mreka
keluarkan. Hal ini akan memicu pemberontakan dari kalangan rakyat terhadap pihak pemungut pajak.
Walaupun dinyatakan bahwa pada kerajaan-kerajaan tradisional peungutan pajak
dilaksanakan dengan giat, namun harus disadari bahwa tidak semua kegiatan dapat memberikan dana
yang besar bagi negara. Hal ini terjadi karena belum sempurnanya sistem pemungutan pajak. Selain
itu biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan dana sering tidak sebanding.
A.2.2 Periode kolonial
Pada masa kolonial, sistem perpajakan menekankan fungsinya pada segi pemasukan

keuangan untuk keperluan penjajahan di negeri Belanda. Karena pajak ditarik dari rakyat
untuk kepentingan pembangunan di Negri Belanda maka sistem pemungutan pajak yang
dianut pada masa itu adalah sistem yang meletakkan dasar kekuatan administrasi perpajakan.
Sistem ini menekankan bahwa jumlah pajak terutang, sepenuhnya ditentukan oleh aparat
pajak. Kelemahan sistem ini adalah wajib pajak tidak diberikan kepercayaan sama sekali
dalam penghitungan utang pajaknya. Aparat perpajakan memiliki wewenang yang sangat
luas, sehingga sangat merugikan wajib pajak.
VOC sebagai pemegang kendali perdagangan di hindia belanda hanya memungut pajak pada
penduduk di daerah-daerah yang dikuasai secara langsung. Para penduduk baik pribumi, cina ,barat,
swasta, dan pedagang dari golongan lain, dikenakan pajak. Selain itu, VOC juga memiliki monopoli
atas penjualan candu, garam, pemetikan sarang burung, yang dimana hak monopoli tersebut dapat
dijual pada pacht-pacht yang biasanya dipegang oleh kapiten cina yang kaya. Venality of office masih
diterapkan pada masa itu.
Kebangkrutan VOC pada tahun 1799 dan adanya pergantian pemegang pemerintahan yang
beralih ke tangan inggris pada tahun 1811 merubah sistem perpajakan di indonesia, terutama di daerah
Jawa. Thomas Stanford Raffles mencanangkan sistem perpajakan bagi jawa, dan juga sekaligus
meletakkan dasar-dasar finansial bagi negara kolonial modern di Jawa. Sistem pajak tersebut dikenal
dengan nama landrent,

Zaman pajak tanah model Raffles ini akhirnya digantikan dengan tanam paksa Hindia
Belanda pada tahun 1830.sistem tanam paksa ini memiliki 3 unsur yaitu sistem lungguh, pajak tanah,
dan kontrak-kontrak penyerahan hasil bumi antara VOC dan bupati jawa pesisir. Dalam sistem tanam
paksa para petani dibebaskan dari pajak-pajak tanah, namun mereka tidak mendapatkan upah untuk
pekerjaan mereka di perkebunan ataupun untuk penyerahan tanah mereka guna perkebunan, juga tidak
menerima ganti rugi atau uang sewa. Semuanya merupakan penganti pajak tanah . kerja rodi maupun
penyerahan tanah tetap disebut pajak tanah yang tidak dikumpulkan. Penduduk pribumi merupakan
penyumbang terbesar pajak tanah. Sekitar 60% dari total penerimaan pajak berasala dari
pendudukpribumi. Walapun tiap tahunnya menurun, namun presentasenya merupakan penghasilan
terbesar dari keseluruhan penerimaan yang diperoleh Hindia. Pajak tanah merupakan sebagian besar
penghasilan pemerintah kolonial. Namun hal ini menimbulkan banyak sekali implikasi sosial politik
berupa munculnya pemberontakan-pemberontakan oleh para petani.
Ada sisi menarik yang perlu diperhatikan dalam hal pembangkangan dan pemberontakan
pajak pada masa tersebut, yaitu bahwa sering pembangkangan itu tidak hanya dilakukan oleh para
golongan masyarakat bawah (para petani), namun juga dilakukan oleh golongan orang-orang kaya.
Pemberontakan yang dilakukan oleh orang-orang yang tergolong kaya, sebagai pihak yang dapat
membayar pajak lebih banyak dari jumlah yang mereka bayarkan, sering dilakukan dengan cara
meminta pemerintah untuk melakukan reformasi di bidang perpajakan. Orang-orang ini biasanya
sadar bahwa mereka tidak akan menerima bahwa uang pajak yang telah dibayarnya dihamburkan oleh
negara tanpa dia menerima jasa yang setimpal.
A. 2. 3 Periode pasca kemerdekaan
Terdapat berbagai UU yang mengatur mengenai pembayaran pajak yang dibuat pada masa
kolonial Belanda, diantaranya adalah :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)

Ordonansi Rumah Tangga (Stbl 1908 No. 13)


Aturan Bea Materai (Stbl 1921 No. 498)
Ordonansi Bea Balik Nama (Stbl 1924 No. 291)
Ordonansi Pajak Kekayaan (Stbl. 1932 No. 405)
Ordonansi Pajak Kendaraan Bermotor (Stbl 1934 No. 718)
Ordonansi Pajak Upah (Stbl 1934 No. 611)
Ordonansi Pajak Potong (Stbl. 1936 No. 671)
Ordonansi Pajak Pendapatan (Stbl. 1944 no. 17)

UU tersebut masih diterapkan pada awal kemerdekaan. Sejalan dengan perkembangan negara dan
kebutuhan yang semakin mendesak, diundangkan lagi beberapa UU yang berkaitan dengan
Administrasi Perpajakan. Akan tetapi, penerapan pemungutan pajak dengan berdasarkan pada banyak
UU dinilai tidak efektif. Penerimaan pajak tidak optimal, selain itu penerapan pemungutan dinilai
masih belum memenuhi ras keadilan. Oleh karena itu, pemerintah pada tahun 1983 menyederhanakan

peraturan-peraturan mengenai ketentuan Perpajakan dengan membuat 1 paket UU yang sifatnya lebih
mudah dipelajari dan lebih memenuhi unsur keadilan. UU yang dimaksud adalah :
a) UU no. 6 th. 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
b) UU no. 7 th. 1983 tentang Pajak Penghasilan
c) UU no. 8 th. 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai atas Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan
atas Barang Mewah
d) UU no. 12 th. 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan
e) UU no. 13 th. 1985 tentang Bea Materai
Pemberlakuan UU ini juga diiringi dengan penggantian sistem pemungutan pajak di Indonesia, yang
semula menerapkan sistem Official Assessment System, yang berubah menjadi Self Assesment
System. Perubahan sistem ini bertujuan untuk meningkatkan keadilan dalam pemungutan pajak di
Indonesia. Perubahan dalam UU dan sistem perpajakan pada tahun 1983 ini dikenal dengan PSPN
(Pembaruan Sistem Perpajakan Nasional)
Sejak diadakannya PSPN dalam administrasi perpajakan di Indonesia, perkembangan
penerimaan perpajakan di Indonesia cenderung meningkat. Peraturan yang lebih mudah diterapkan
serta keadilan yang semakin diutamakan dalam pemungutan pajak yang membuat masyarakat
Indonesia mulai tergerak untuk membayar pajak. Meskipun pembayaran pajak mengalami
peningkatan semenjak diberlakukannya PSPN, namun pada kenyataannya belum optimal. Masih
banyak potensi-potensi yang dapat dioptimalkan untuk memaksimalkan penerimaan pajak. Kebutuhan
negara yang setiap tahunnya semakin meningkat membuat pemerintah senantiasa mengupayakan
optimalisasi pemungutan pajak. Revisi dan penambahan UU dilaukan demi tercapainya pemungutan
pajak yang optimal. Hingga saat ini, perubahan atas UU dalam PSPN telah beberapa kali diadakan.
UU tentang perpajakan yang saat ini berlaku adalah :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

UU nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan


UU nomor 42 tahun 2009 tentang PPN dan PPnBM
UU nomor 28 tahun 2007 tentang KUP
UU nomor 12 tahun 1985 tentang PBB
UU nomor 13 tahun 1985 tentang Bea Materai
UU nomor 39 tahun 2007 tentang Cukai
UU nomor 17 tahun 2006 tentang kepabeanan

Penerimaan perpajakan terus diupayakan untuk memenuhi pembayaran pengeluaran negara. Saat ini,
penerimaan perpajakan digunakan untuk membiayai lebih dari 60% pengeluaran negara. Penerimaan
pajak yang meningkat akan memberikan ruang fiskal begi negara untuk melakukan pengeluaran yang
sesuai dengan tujuan pembangunan nasional, demi terciptanya tujuan negara Indonesia

1. 3 Simpulan
Sejarah perpajakan di dunia, termasuk di Indonesia telah mengalami berbagai perubahan.
Perkembangan sistem yang berubah disebabkan karena tuntutan penerimaan negara yang harus

dicapai, mengingat penerimaan pajak merupakan sumber penerimaan utama bagi negara untuk
membiayai pengeluaran negara dalam membangun negara tersebut. Semakin tinggi pajak yang
diperoleh, pembangunan negara akan semakin optimal
Dari zaman kerajaan tradisional hingga negara modern, pemungutan pajak telah dilakukan.
Berbagai masalah muncul dalam penerapannya, dan atas dasar itulah sistem pemungutan pajak
mengalami berbagai perubahan. Banyaknya kritik atas ketidakadilan pemungutan pajak pada zaman
kerajaan tradisional dan kolonialisme mulai dihilangkan pada zaman modern saat ini. Terutama di
negara demokrasi. Keikutsertaan rakyat dalam membahas dan menentukan UU yang diterapkan dalam
sistem pemungutan pajak di negara tersebut menunjukkan bahwa unsur keadilan saat ini dalam
pemungutan pajak semakin tinggi.
Perkembangan perpajakan di dunia juga mempengaruhi sistem perpajakan di Indonesia.
Bangsa Indonesia yang dijajah oleh beberapa negara pernah mengalami berbagai perubahan dalam
sistem perpajakan, dan yang paling berpengaruh adalah sistem yang diterapkan oleh bangsa Belanda.
Hingga tahun 1983, UU yang mengatur tentang perpajakan masih dominan buatan pemerintahan
kolonial belanda. Karena tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman, reformasi dalam
pemungutan pajak dilakukan pada tahun 1983, dengan ddiundangkannya 1 paket perundang-undangan
yang mengatur tentang perpajakan. Pemberlakuan ini juga merubah sistem pemungutan pajak yang
semula menganut Official Assesment System, kemudian berubah menjadi Self Assesment System.
Sistem pemungutan pajak terus berkembang, disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Tuntutan akan pengeluaran negara yang semakin meningkat serta tuntuan akan keadilan dalam
pemungutan pajak menjadi alasan bagi pemerintah untuk melakukan beberapa langkah penyesuaian
dalam pemungutan pajak. Diharapkan dengan penyesuaian-penyesuaian yang dilakuakanoleh
pemerintah ini akan lebih meningkatkan penerimaan pajak bagi Indonesia, sehingga pembangunan
Negara dapat dioptimalkan. Pembanguna yang optimal akan memudahkan negara dalam mencapai
tujuannya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Artikel Pajak dalam Perspektif Negara dari Onghokham


2. B. Ilyas, Wirawan dan Richard Burton, Hukum Pajak, Edisi 3, Salemba Empat, Jakarta, 2007\
3. Buku Dasar-dasar Praktek Penyusunan APBN di Indonesia, diterbitkan oleh Direktorat
Penyusunan APBN, Direktorat Jenderal Anggaran, Kementerian Keuangan, Tahun 2014

4. http://ariyanti-ariyanti.blogspot.com/2010/12/reformasi-sistem-perpajakan.html, diakses pada


hari Senin, 4 Mei 2015 pukul 17.00
5.