Anda di halaman 1dari 80

IDENTIFIKASI DAN PEMODELAN KEDEPAN

TEROWONGAN KERETA API SASAKSAAT


DENGAN METODA GROUND PENETRATING RADAR

Diajukan sebagai syarat meraih gelar sarjana strata satu


di Departemen Teknik Geofisika, Institut Teknologi Bandung

oleh :
Nurhadi Bagus J
123 99 007

DEPARTEMEN TEKNIK GEOFISIKA


FAKULTAS ILMU KEBUMIAN DAN TEKNOLOGI MINERAL
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2006

HALAMAN PENGESAHAN

IDENTIFIKASI DAN PEMODELAN KEDEPAN


TEROWONGAN KERETA API SASAKSAAT
DENGAN METODA GROUND PENETRATING RADAR
Disusun oleh :

Nurhadi Bagus J
NIM. 12399007

Menyetujui,

Dosen Pembimbing

Dosen Pembimbing I,

Dosen Pembimbing II,

Dr. Agus Laesanpura


NIP 132 243 858

Dr. Rer. Nat. Wahyudi W. Parnadi, M.S


NIP 131 923 765

ABSTRAK

Penelitian dilakukan di daerah Terowongan Kereta Api Sasaksaat,


Padalarang, Jawa Barat dengan menggunakan metode Ground Penetrating Radar
(GPR). Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat kenampakan bangunan
terowongan dan kondisi geologi sekitarnya dibantu dengan pemodelan kedepan yang
diharapkan menghasilkan interpretasi yang lebih baik.
Pengukuran GPR di lapangan menggunakan peralatan sistem Zond dengan
frekuensi tengah 150 MHz dan 75 MHz. Konfigurasi radar yang digunakan yaitu
konfigurasi radar reflection profiling dengan orientasi antena PR-BD. Lintasan
pengukuran diambil secara tegak lurus terhadap terowongan pada ketinggian 8
meter diatas terowongan dengan jarak lintasan 30 meter.
Pada hasil pengukuran lapangan dan dari hasil pemodelan kedepan, difraksi
hiperbola dari terowongan teridentifikasi pada waktu 40 ns untuk frekuensi 150 MHz
dan pada waktu 45 ns untuk frekuensi 75 MHz, dimana difraksi dari terowongan ini
dapat dimigrasi secara optimum dengan kecepatan 0.3 m/ ns.
Dari interpretasi data lapangan dengan dibantu hasil pemodelan kedepan
dapat diketahui bahwa di sekitar terowongan terdapat struktur sesar.

ABSTRACT

The survey was done at sasaksaat train tunnel, Padalarang, West Java using
Ground Penetrating Radar (GPR) method. The purpose of survey is to recognizing
tunnel building all at once to mapping geological condition surroundings,
futhermore the data compared with result of forward modelling in order to give
better interpretation.
This GPR tool used for the survey is the Zond system. The center frequency
antenna 75 MHz and 150 MHz is used for measured profile. Antenna configuration
is using radar reflection profiling and PR-BD antenna orientation. The survey
profile which have 30 m distance is perpendicular to the tunnel.
The result of the survey and result forward modelling shows hyperbolic
diffraction from the tunnel detected at time 40 ns for antenna 150 MHz and at 45 ns
for antenna 75 MHz, where diffraction from the tunnel can be migrated optimumly
by velocity 0.3 m/ ns.
From field data and compare with model, fault structure is recognizing
surroundings the tunnel.

KATA PENGANTAR

Alhamdulilahirobbilalamin, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah


SWT atas segala nikmat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan laporan tugas akhir yang berjudul Identifikasi dan Pemodelan Kedepan
Terowongan Kereta Api Sasaksaat dengan Metoda Ground Penetrating Radar .
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesarbesarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan tugas akhir
ini, antara lain :
1. Kedua orang tuaku Papah dan Mamah tercinta di Pangalengan yang tak lelahlelah memberikan kasih sayang, doa dan dukungan sampai saat ini, semoga
Papah dan Mamah bangga walaupun saat ini anakmu masih belum bisa
membalas budi. Kakak-kakakku tersayang Teh Evi dan Kang Irvan serta adikku
tercinta Eno yang senantiasa meberikan dukungan. Ponakanku tercinta Fadzla
dan Bimo.
2. Bpk.Dr. Agus Laesanpura, selaku pembimbing I dan Bpk. Dr. Rer. Nat. Wahyudi
W. Parnadi MS, selaku pembimbing II atas segala pengajaran dan kesabarannya
selama bimbingan, terima kasih pak.
3. Bpk. Prof. Djoko Santoso, Bpk. Prof. M.T Zen, Bpk. Prof. M. I. Tachyudin Taib,
Bpk. DR. Alfian Bahar, Bpk. DR. Sigit Sukmono, Bpk. DR. Wawan Gunawan,
Bpk. DR. T.A Sanny, Bpk. DR. Darharta Dahrin serta semua staf pengajar di
lingkungan Depatemen Teknik Geofisika.
4. Ibu Lili, Mbak Lili, Ibu Ning, Ibu Christin, Pak Dedi, Pak Udin, Pak Achmad
dan seluruh staf TU Teknik Geofisika atas kebaikan selama menjalankan kuliah
di jurusan Teknik Geofisika.
5. Acep Chen-chen yang telah memberikan bantuan dan mengajarkan prosesing
GPR serta sebagai teman seperjuangan selama masa kuliah.
6. Rully sebagai teman seperjuangan selama mengerjakan TA, akhirnya kita lulus
wan!!

7. Teman-teman seperjuangan di kampus : Indra, Agan, Muwi, Sofyan, Deni, Jaya,


Asrori, Made, Wahyudin. Teman-teman TERRA 99: Awa, Rini, Ade, Beni,
Bastian, Hesti, Hendro, Rifki, Vickry, Jerry. Teman-teman di Al-Ardhy : Ifa,
Nissa, Egi, Salim, Asep dan teman-teman lainnya yang tidak bisa disebutkan satu
persatu.
8. Teman-teman satu Fakultas: Yedi Geologi, Fahmi Tambang, Ery Tambang,
Cecep GM.
9. Keluarga besar Gumuruh : Ua Bety, Om Harry, Om Budi, Bi Nung, Om Farid, Bi
Nining, Om Ali. Saudara-saudara di Gumuruh: Ferry, Yessi, Fahmi Lanx, Rindo,
Jasmine dan Kiki. Terima Kasih atas kebaikannya selama tinggal di Bandung.
10. Teman-teman di Pangalengan: Acep Karunx, Opik Miok, Indra, Gin-gin,
Waway, Adon, Mulya, Juhara, Abo.
11. For My Best : Zn
12. Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu
dalam penyelesaian tugas akhir ini. THANX 4 ALL!!
Akhir

kata semoga Laporan Tugas Akhir yang sangat sederhana ini

sedikitnya memberikan manfaat bagi mahasiswa Teknik Geofisika , umumnya


bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan. Terima Kasih.

Bandung,

Juni 2006

Penyusun

Nurhadi Bagus J

DAFTAR ISI
Hal
Abstrak

iii

Abstract

iv

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

vii

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR TABEL

xii

DAFTAR LAMPIRAN

xiii

BAB 1

BAB 2

BAB 3

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

1.2. Maksud dan Tujuan

1.3. Batasan Masalah

1.4. Waktu dan Tempat Penelitian

1.5. Metodologi Penelitian

1.6. Sistematika Pembahasan

GEOLOGI

2.1 Fisiografi dan Morfologi

2.2 Stratigrafi dan Struktur Geologi

DASAR TEORI

3.1 Prinsip Dasar Ground Penetrating Radar (GPR)

3.2 Persamaan Maxwell

10

3.3 Persamaan Material

11

3.3.1 Permitivitas Listrik

11

3.3.2 Konduktivitas Listrik

11

3.3.3 Permeabilitas Magnetik

12

3.4 Sifat Dielektrik Material Bumi

12

3.5 Perambatan Gelombang Radar

15

3.6 Kecepatan Gelombang Radar

15

BAB 4

3.7 Koefisien Refleksi dan Transmisi

16

3.8 Skin Depth ()

18

3.9 Pengurangan Energi dan Atenuasi

18

3.10 Resolusi

19

3.11 Noise

20

3.12 Pemodelan Finite Difference Time Domain (FDTD)

21

3.12.1 Teori Dasar FDTD

21

3.12.2 Metoda TM-FDTD 2 Dimensi

25

3.12.3 Pendekatan Numerik

27

3.12.4 Diskritisasi

27

3.12.5 Syarat Batas Serap (Absorbing Boundary Conditions)

28

3.12.6 Stabilitas Numerik

28

PENGOLAHAN DATA

29

4.1 Pengolahan Data Lapangan

30

4.1.1 Input Data

31

4.1.2 Editing

31

4.1.3 Gain

31

4.1.4 Dewow

32

4.1.5 DC-Shift

33

4.1.6 Move Starttime

33

4.1.7 Koreksi Statik

34

4.1.8 Bandpass Butterworth Filter

34

4.1.9 Dekonvolusi

34

4.1.10 Background Removal

35

4.1.11 F-K Filter

35

4.1.12 Migrasi

35

4.1.13 Konversi Kedalaman

36

4.2 Pemodelan Kedepan


4.2.1 Parameter Pemodelan

38
39

BAB 5

BAB 6

ANALISA DAN PEMBAHASAN

42

5.1 Interpretasi Data Lapangan

42

5.2 Hasil Pemodelan Kedepan

49

KESIMPULAN DAN SARAN


6.1. Kesimpulan

60

6.2. Saran

60

DAFTAR PUSTAKA

61

LAMPIRAN

63

DAFTAR GAMBAR
Gambar

Halaman

1.1

Peta Indeks ..

2.1

Geologi Permukaan dan Letak Terowongan.........................

2.2

Geologi Penelitian.

3.1

Vektor gelombang pada batas lapisan...................................................

17

3.2

Resolusi GPR

19

3.3

Wilayah analisa ......................................................................................

22

3.4 Peletakan Medan EM diatas satuan sel...................................................

22

3.5

Wilayah Analisa.....................................................................................

25

3.6

Peletakan Medan EM.............................................................................

25

4.1

Skema Pengukuran Profil..

29

4.2

Konsep gain

32

4.3 Proses Dewow dan DC-shift .

33

4.4 Diagram Alir Pengolahan data .

37

4.5 Diagram Alir Pemodelan GPR ..

38

4.6 Flowchart Pemodelan Metoda FDTD ...

39

4.7 Geometri Pemodelan .

40

5.1 Radargram profil 150 MHz tahap background removal........

44

5.2 Radargram profil 150 MHz yang telah dimigrasi..

45

5.3 Radargram profil 75 MHz tahap background removal..

47

5.4 Radargram profil 75 MHz yang telah dimigrasi

48

5.5 Raw data model sintetik 150 MHz

50

5.6 Model sintetik 150 MHz yang telah dimigrasi...

51

5.7 Perambatan gelombang radar f =150 MHz dari 10 ns s.d 60 ns..

53

5.8 Perambatan gelombang radar f = 150 MHz dari 70 ns s.d 100 ns.

54

5.9 Raw data model sintetik 75 MHz

56

5.10 Model sintetik 75 MHz yang telah dimigrasi.

57

5.11 Perambatan gelombang radar f =75 MHz dari 10 ns s.d 60 ns...

58

5.12 Perambatan gelombang radar f =75 MHz dari 70 ns s.d 100 ns

59

10

DAFTAR TABEL

Tabel
3.1

Halaman
Konstanta dielektrik, konduktivitas listrik, kecepatan,
dan atenuasi dalam berbagai medium untuk frekuensi
Tengah 100 MHz .

13

4.1

Parameter pengambilan data .

30

4.2

Permitivitas relatif, permeabilitas relatif dan konduktivitas


material dalam pemodelan

11

40

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

12

Halaman

1. Fungsi Sumber Sinyal ..

64

2. Sinyal Ricker 75 MHz .

65

3. Sinyal Ricker 150 MHz

66

4. Data Bor....

67

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah


Ground Penetrating Radar (GPR) merupakan teknik pengukuran yang

menggunakan

gelombang

elektromagnet

yang

bersifat

non-destruktif

dan

mempunyai resolusi yang tinggi dari kontras dielektrik material dan formasi geologi.
Penggunaan GPR antara lain untuk eksplorasi mineral, eksplorasi air tanah,
penyelidikan geologi, geoteknik dan arkeologi. Aplikasi yang lebih khusus lagi yaitu
untuk pemetaan kedalaman batuan dasar, rekahan pada batuan, memetakan fitur
dibawah timbunan seperti pipa dan terowongan, serta untuk pemetaan struktur dan
stratigrafi (Annan dan Davis, 1989).
Pada penelitian ini metode GPR diterapkan untuk melihat kenampakan
bangunan terowongan dengan cara melakukan pemodelan kedepan. Pemodelan
kedepan dapat memberikan suatu respon GPR berdasarkan parameter lapangan dan
objek geologi yang diberikan. Dengan pemodelan kedepan dapat dilakukan suatu
analisa karakteristik respon GPR yang bersusunan antara data real pengukuran
dengan data sintetik model yang diyakini. Hal ini tentunya akan membantu dalam
proses interpretasi lebih lanjut.
1.2

Maksud dan Tujuan


Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan tugas akhir ini adalah

mengaplikasikan Ground Penetrating Radar dalam menyediakan informasi bawah


permukaan untuk melihat kenampakan bangunan terowongan dan kondisi geologi di
sekitar terowongan.
Dalam rangka tujuan umum tersebut terdapat tujuan khusus sebagai berikut :
1. Megidentifikasi fitur terowongan dengan frekuensi tengah 75 MHz dan 150
MHz.
2. Membuat model sintetik meliputi bangunan terowongan dan kondisi geologi
yang diyakini mewakili keadaan sesungguhnya berdasarkan kontrol data yang
ada.

13

1.3

Batasan Masalah
Peneliti hanya membatasi masalah pada profil yang memotong bangunan

terowongan. Data diambil menggunakan frekuensi tengah 75 MHz dan 150 MHz,
dengan panjang lintasan pengukuran sejauh 30 meter. Sedangkan model sintetik
dibuat dengan pendekatan Finite Difference Time Domain (FDTD) 2 Dimensi
melalui modul modeling pada paket perangkat lunak GPRMax-2D.
1.4

Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilakukan di kampus Institut Teknologi Bandung dari bulan

Januari s.d. Juni 2006. Data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data
pengukuran GPR di Terowongan Sasaksaat, Padalarang, Jawa Barat yang diambil
pada bulan Juni - Agustus 2004.
Terowongan Sasaksaat berada pada kilometer ke-142,939 dari arah Kota
Bandung. Secara geografis berada pada koordinat 6o47 LS dan 107o26 BT.

Gambar 1.1 Peta Indeks

14

1.5

Metodologi Penelitian
Metodologi penelitian yang digunakan dalam penyusunan tugas akhir ini

adalah studi literatur, pemrosesan data, pemodelan kedepan dan interpretasi data.
Pemrosesan data dilakukan pada data pengukuran GPR di Terowongan Kereta Api
Sasaksaat, Padalarang, JawaBarat yang diambil pada bulan Juni Agustus 2004.
Pemrosesan data dilakukan dengan menggunakan software ReflexwTM versi 1.0.2
serta untuk pemodelan kedepan menggunakan software GPRMax-2D versi 1.5 dan
Matlab versi 6.5.1 untuk visualisasi.
1.6

Sistematika Pembahasan
Tugas akhir ini terdiri dari Enam bab, yaitu Bab 1 Pendahuluan, Bab 2

Geologi, Bab 3 Teori Dasar , Bab 4 Data dan Pengolahan Data, Bab 5 Hasil dan
Pembahasan, Bab 6 Kesimpulan dan Saran.
Bab 1 berisi latar belakang penelitian, masud dan tujuan penelitian, waktu
dan tempat penelitian, pembatasan masalah, metodologi penelitian dan sistematika
penulisan.
Bab 2

berisi pemaparan keadaan geologi regional daerah Terowongan

Sasaksaat yang meliputi fisiografi dan geomorfologi serta geologi lokal daerah
penelitian.
Bab 3 berisi pemaparan GPR secara teoritis, terutama hal-hal yang menjadi
landasan berfikir, pengolahan data maupun interpretasi data.
Bab 4 berisi pemaparan dari data dan tahapan pengolahan data,
Bab 5 berisi hasil dan pembahasan dari kenampakan karakter refleksi yang
terlihat pada radargram yang telah diproses, pemodelan kedepan, dan perbandingan
forward modeling dengan data lapangan yang telah di proses.
Bab 6 berisi kesimpulan yang diambil dari penulisan tugas akhir ini dan
saran-saran untuk pengembangan lebih lanjut.

15

BAB 2
GEOLOGI

2.1

Fisiografi dan Morfologi


Lokasi Terowongan Sasaksaat terdapat dibagian utara Kota Padalarang, Jawa

Barat, serta terletak diantara Stasiun Maswati dan Stasiun Sasaksaat pada jarak lintas
Jakarta - Cikampek Purwakarta - Bandung. Dari arah Bandung, terowongan ini
terletak pada kilometer ke-142, 939. Secara geografis, terowongan ini terletak pada
6o47 LS dan 107o26 BT.
Konstruksi dinding terowongan ini memiliki panjang 950 meter dan
ketebalan antara 1 sampai 1,5 meter, dimana bahan dinding terowongan terbuat dari
campuran batuan yaitu batuan andesit, batuan lempung, tufa breksi dan tufa dengan
tingkat pelapukan dari sedang sampai tinggi.
Pada bagian dalam terowongan secara kasat mata terlihat banyak terdapat
rembesan air melalui dinding atas terowongan, serta terdapat kristalisasi kalsitkarbonatan, kristal ini berasal dari air yang mengalir melalui batuan yang
mengandung karbonat, dimana air tersebut melarutkan karbonat yang terdapat di
dalam batuan, kristalisasi ini juga terjadi pada bagian bawah ( dasar terowongan).
Lapisan tanah umumnya cukup tebal, karena berhubungan erat dengan sifat
batuan penyusunnya yang mudah mengalami disintegrasi sehingga berubah menjadi
tanah. Vegetasi dibagian utara terdiri dari pohon jati, karet, teh dan perkebunan jati
ini dimiliki oleh Perhutani, perkebunan karet bernama Maswati dan perkebunan teh
Ciledu, dibagian Barat Daya terdapat perkebunan teh Cigandrong.
Terowongan Sasaksaat berada pada ketinggian antara 400-700 m dari muka
laut pada daerah perbukitan dengan posisi terowongan yang menembus hampir
tegaklurus dengan arah memanjangnya bukit (Gambar 2.1). Bukit ini memiliki
punggungan yang memanjang arah Timur Laut - Barat Daya - Tenggara dan
beberapa puncak bukitnya antara lain Pasir Gadung, Pasir Lembang, Pasir Gombong
dan Pasir Kopi.
Erosi yang terjadi di daerah penelitian cukup intensif terutama didaerah yang
vegetasinya sedikit serta pada lereng yang miring karena sudut kemiringan lereng
bervariasi antara 50-200o.

16

Gambar 2.1 Geologi bawah permukaan dan letak terowongan

2.2

Stratigrafi dan Struktur Geologi


Berdasarkan studi literatur litologi daerah penelitian dapat dibagi menjadi

beberapa satuan batuan, yaitu

Satuan Batuan Batupasir Serpih Lempungan


Pada satuan ini tersingkap batu pasir berwarna abu-abu kehitaman, kompak

berukuran butir halus sampai kasar, fragmen pembentuk silika, mineral batuan beku,
pemilahan sedang sampai baik, bentuk butir agak menyudut sampai agak membulat,
semen karbonat, batu pasir yang cukup tebal dengan sisipan tipis dari lempung dan
serpih, porositas kecil sampai sedang, permeabilitas air cukup baik, sehingga
diperkirakan bahwa batu pasir ini merupakan suatu lapisan pembawa air, batupasir
ini cukup resisten terhadap proses disintegrasi, namun jika ada kekar maka proses
disintegrasi dapat berlangsung yang akhirnya dapat membentuk relief yang cukup
tinggi.
Lempung berwarna hijau kehitaman, kompak, karbonatan, mempunyai sifat
mudah hancur, mudah menyerap air tapi sukar meloloskan air, akibatnya satuan ini
bisa menjadi bidang gelincir yang dapat membuat longsoran. Satuan batuan
tersingkap dengan jelas di hulu S. Cipicung bagian utara, S. Cisuma, S. Cimenteng
dan S. Ciburial

17

Serpih berwarna-abu-abu, agak kompak, karbonatan, batuan ini akan mudah


mengalami pelapukan jika tersingkap dan cepat berubah menjadi soil, karakteristik
permeabilitas batuan ini mirip lempung.

Satuan Batu Lempung


Batuan ini terletak diatas satuan batuan serpihan secara selaras. Singkapan

terdapat di Cibangkonol, didekat Cidepong dan Ciasri. Lempung berwarna hitam


kehijuana, kompak, karbonatan. Terdapat sisipan batu pasir berwarna putih, fragmen
kwarsa, menyudut-agak menyudut, keras, karbonatan.

Satuan Batuan Napal


Batuan ini tersingkap baik pada daerah sungai cipaku, berwarna abu-abu,

agak kompak, semen karbonat, batuan ini memliki porositas yang cukup tinggi,
permeabilitas rendah, lapisan ini bersifat dapat mengandung air tetapi lambat sekali
untuk meluluskan air (aquitard).
Pada satuan ini terdapat sisipan batupasir, berwarna putih keabu-abuan,
kompak berukuran butir sedang sampai kasar, fragmen pembentuk silika, mineral
batuan beku, bentuk butir agak menyudut sampai agak membulat, karbonatan
pemilahan sedang, porositas kecil samapai sedang, sisipan batupasir ini memiliki
ketebalan antara 2 - 46 cm. Batupasir ini lebih tahan terhadap pelapukan
dibandingkan dengan napal.

Satuan Endapan Vulkanik


Sebagian besar daerah penelitian ditutupi oleh satuan endapan vulkanik yang

memiliki ketebalan yang bervariasi dari beberapa meter hingga puluhan meter.
Berdasarkan material pembentuknya dapat dibedakan menjadi breksi vulkanik,
endapan lahar, dan tuf litik. Satuan ini besifat non-karbonatan. Endapan lahar
memiliki fragmen andesitan. Tuf litik berfragmen kursa dan pumice dengan ukuran
pasir kasar dan terlihat adanya perlapisan yang menunjukkan bahwa lapisan ini
terbentuk oleh perulangan pengendapan yang terjadi. Endapan lahar dan tuf litik
mempunyai porositas yang cukup tinggi dengan permeabilitas yang cukup tinggi
pula, sehingga satuan ini dapat menjadi media peresapan (infiltrasi) air.
Kontak antara endapan volkanik dengan batuan serpih lempungan merupakan
suatu zona yang lemah. Hal ini disebabkan banyaknya air yang terdapat pada kontak
ini. Air ini berasal dari lapisan pembawa air (akifer) yaitu pada lapisan batupasir dan

18

air peresapan (infiltrasi) dari endapan vulkanik. Banyaknya air yang terdapat
menyebabkan tekanan pori begitu besar sehingga seakan-akan masa dasar dari
batuan yang ada pada zona ini mengembang.

Struktur
Berdasarkan literatur terdapat tiga unsur struktur yang dapat dikenali

dilapangan yaitu: perlapisan, antiklin dan kekar. Struktur perlapisan terdapat pada
semua batuan yang ada pada daerah penelitian, termasuk pada endapan vulkanik
yang menutupi sebagian besar daerah penelitian. Antiklinal dapat dikenali dengan
adanya perlawanan arah kemiringan lapisan pada batuan yang sama, sehingga dapat
direkonstruksikan kedudukan sumbu antiklinalnya.

Gambar 2.2 Peta Geologi daerah Terowongan Sasaksaat. (Peta


Geologi Jawa Barat)

Kekar dapat mudah dikenali pada batuan yang relatif kompak dan keras,
joint dapat kita temukan pada lapisan batupasir, sedangkan pada nafal, serpih
ataupun lempung pada struktur kekar ini memperlihatkan bidang belah yang tidak
beraturan, pembentukan joint ini dapat terjadi pada waktu deformasi berlangsung
pada saat pembentukan antilklin dan dapat juga terjadi sesudah proses deformasi
tersebut berhenti dimana gaya-gaya penyebab deformasi terhenti.

19

Ukuran intensitas kekar termasuk dalam mayor dan minor joint dimana mayor joint
dapat memotong beberapa lapisan dan panjangnya mencapai beberapa meter.
Sedangkan minor joint berukuran lebih kecil dari mayor joint.

20

BAB 3
DASAR TEORI
3.1

Prinsip Dasar Ground Penetrating Radar (GPR)


Sistem Ground Penetrating Radar (GPR) terdiri dari

antena transmiter

sebagai pembangkit sinyal radio, antena receiver sebagai pendeteksi gelombang


radio yang direfleksikan, fasilitas perekam data, dan media tampilan grafik. Mulai
dari masukan pada antena transmisi dan berakhir dengan keluaran dari antena
penerima merupakan suatu sistem linier. Linearitas ini akan menjelaskan beberapa
fenomena dan peristiwa elektromagnetik yang terjadi antara dua antena (misalnya
penjalaran gelombang sepanjang antena pemancar, radiasi, atenuasi, transmisi, dan
refleksi dari suatu target).
Sistem radar ini mengakibatkan antena transmiter menghasilkan gelombang
periodik dari gelombang elektromagnet yang menyebar pada sudut yang sangat lebar.
Pulsa tersebut kemudian akan merambat ke bawah permukaan sebagai muka
gelombang (wave front) dan sebagian akan dipantulkan kembali karena ada
perubahan kontras kerapatan/ rapat massa dan kontras permitivitas listrik di bawah
permukaan tanah. Gelombang elektromagnetik menjalar pada cepat rambat tinggi ( di
udara mencapai 3 x 108 m/s atau 0,3 m/ns).
Trasmiter membangkitkan pulsa gelombang elektromagnet pada frekuensi
tertentu sesuai dengan karakteristik antena (berorde MHz). Antena receiver diset
untuk melakukan scan secara normal 32-315 scan per detik atau bergantung pada
sistem yang digunakan, setiap hasil scan akan ditampilkan pada layar monitor/ grafik
rekaman. Sinyal-sinyal yang diterima receiver selama antena digeserkan diatas tanah
ditampilkan sebagai fungsi two-way traveltime (berorde ns), yaitu waktu yang
dibutuhkan gelombang elektromagnetik menjalar dari transmiter-target-receiver,
kemudian diperkuat, didigitasi dan disimpan dalam suatu perekam digital magnet
untuk siap diolah dan ditampilkan. Tampilan ini disebut sebagi radargram.
Kemampuan penetrasi GPR bergantung pada frekuensi sinyal sumber,
efisiensi radiasi antena dan sifat dielektrik material. Sinyal radar dengan frekuensi
yang tinggi akan menghasilkan resolusi yang tinggi, tetapi kedalaman penetrasinya
lebih terbatas (Annan dan Davis, 1989).

21

3.2

Persamaan Maxwell
Untuk memahami pemanfaatan geombang elektromagnetik dalam apikasinya

terhadap struktur bumi serta menentukan sifat listrik dan magnetik, biasanya diawali
dengan persamaan Maxwel.
Persamaan Maxwell terdiri atas empat persamaan medan, masing masing
dapat dipandang sebagai hubungan antara medan dengan distribusi sumber (muatan
atau arus) yang bersangkutan.
Untuk menyederhanakan masalah, sifat fisik medium diasumsikan tidak
bervariasi terhadap waktu dan posisi (homogen isotropis).

Maka persamaan

Maxwell dapat ditulis sebagai berikut :

Persamaan Maxwell I, persamaan yang menyatakan bahwa medan listrik


dihasilkan dari perubahan medan induksi magnet:

XE =

(2 1)

Persamaan Maxwell II, persamaan yang menyatakan bahwa medan magnet


dihasilkan dari aliran arus:

B
,
t

X H = J +

D
,
t

(2 - 2)

Persamaan Maxwell III, persamaan yang menyatakan berlakunya sifat loop


tertutup perpindahan listrik pada suatu rapat muatan listrik:

D = q,

(2 3)

Persamaan Maxwell IV, persamaan yang menyatakan berlakunya sifat loop


tertutup untuk flux magnet jika tidak terdapat arus magnet bebas:

B = 0.

22

(2 4 )

Dimana:

E = kuat medan listrik (Volt / meter)


B = induksi magnet (Weber / meter 2 )
D = perpindahan listrik (Coulomb / meter 2 )
H = kuat medan magnet (Ampere / meter)
q = rapat muatan listrik (Coulomb / meter 3 )
J = rapat arus ( Ampere / meter 2 ).

3.3

Persamaan Material

3.3.1

Permitivitas Listrik

Permitivitas

listrik

relatif

berkaitan

dengan

kemampuan

untuk

mempolarisasikan dan mengontrol kecepatan gelombang elektromagnetik dalam


medium tersebut.
Persamaan yang menunjukkan hubungan intensitas medan listrik dan
pergeseran adalah :
D = E,

(2 5)

dengan permitivitas listrik.


Permitivitas listrik relatif berkaitan dengan kemampuan dari medium untuk
mempolarisasi medan listrik dan menentukan keceptan gelombang elektromagnetik
yang berjalan pada suatu medium.
Untuk medium yang berbeda, harga permitivitas relatif (r) akan menentukan
harga kecepatan di media.
3.3.2

Konduktivitas Listrik

Persamaan

Maxwell

dapat

menunjukkan

karakteristik

dan

sifat

elektromagnetik, walaupun kenyataannya persamaan tersebut tidak memiliki


hubungan yang jelas antara sifat medan elektromagnetik dengan struktur atau sifat
bawah permukaan bumi.
Hubungan yang penting yang menunjukkan kaitan tersebut adalah hukum
Ohm, yang menghubungkan rapat arus dengan intensitas medan listrik sebagai
berikut :

23

J =E.

(2 6 )

dengan adalah konduktifitas listrik medium.


Konduktifitas suatu mineral tidak harus konstan, bergantung pada waktu,
temperatur, tekanan dan faktor lingkungan.
3.3.3

Permeabilitas Magnetik

Persamaan yang sangat berperan dalam aplikasi persamaan Maxwel terhadap


bumi, yang menghubungkan kuat medan magnetik dan induksi magnetik :

B = H ,

(2 7)

dimana adalah permeabilitas magnetik medium. Berbeda dengan sifat permitivitas


dan konduktifitas listrik, dalam eksplorasi geofisika harga permeabilitas biasanya
tidak bergantung dari kuat medan listrik, tetapi pada medan magnetik.
Dimana:

= 0 x r = permitivitas listrik medium (Farad / meter)

0 = permitivitas listrik dalam ruang vakum = 8.85 x 10 -12 (Farad / meter)


r = permitivitas relatif (konstanta dielektrik relatif) medium

= 0 r = permeabilitas magnetik medium (Henry / meter)


0 = permeabilitas magnet dalam ruang vakum = 4 x 107 (Henry / meter)
r = permebilitas magnet relatif medium

= konduktivitas listrik (Siemens / meter).


3.4

Sifat Dielektrik Material Bumi

Sifat dielektrik bumi dapat dijelaskan dengan permitivitas listrik ( ) dan


konduktifitas listrik () yang saling berhubungan (Reynold, 1997).
Konduktivitas dan permitivitas dielektrik dinyatakan dalam persamaan
kompleks (Fuller dan Ward op. cit. Schn, 1996):

( ) = ' ( ) j " ( )

(2 8 )

( ) = ' ( ) + j " ( )

(2 9 )

Batuan umumnya memiliki konduktivitas seperti halnya polarisasi. Untuk medan


listrik harmonik, konduktivitas efektif * didefinisikan:

24

= *'+ j *" = + j

(2 10)

Sedangkan permitivitas efektif didefinisikan :

= '+ j " = + j /

(2 11)

dari persamaan (2 - 5) dan (2 - 6) didapat:

( ) = ' ( ) +

" ( )
+

' ( )

j
+ " ( )

(2 12)

dengan melihat persamaan (2 - 8) dan (2 - 9) diatas jika frekuensi mendekati nol


maka * = nilai real konduktivitas, sedangkan jika frekuensi mendekati tak hingga
maka * = nilai real permitivitas.
Tabel 3.1 Konstanta dielektrik (K), Konduktifitas Listrik (), Kecepatan (v) dan
atenuasi () dalam berbagai medium untuk frekuensi tengah 100MHz (Annan, 2001).

Material

(mS/m)

(m/ns)

(dB/m)

Udara

0.3

Air distilasi

80

0.01

0.033

2 x 10-3

Air Murni

80

0.5

0.033

0.1

Air laut

80

3 x 103

0.01

103

Pasir Kering

3-5

0.01

0.15

0.01

Pasir Tersaturasi

20-30

0.1-1

0.06

0.03-0.3

Gamping

4-8

0.5-2

0.12

0.4-1

Serpih

5-15

1-100

0.09

1-100

Lanau

5-30

1-100

0.07

1-100

Lempung

5-40

2-1000

0.06

1-300

Granit

4-6

0.01-1

0.13

0.01-1

Garam Kering

5-6

0.01-1

0.13

0.01-1

Es

3-4

0.01

0.16

0.01

3.5

Perambatan Gelombang Radar

Prinsip perambatan geombang radar merupakan prinsip gelombang


elektromagnetik. Persamaan Maxwell merupakan suatu perumusan dasar untuk

25

mengetahui perilaku penjalaran gelombang elektromagnetik di dalam suatu material.


Penjalaran gelombang dapat ditulis dengan persamaan gelombang satu dimensi
seperti berikut:

2 E

2 E
=0
t 2

(2 13 )

solusi persamaan diatas adalah:


E = E0e j (t kr )

(2 - 14)

Dengan k adalah parameter perambatan atau bilangan gelombang. Bagian riil dari k
berkaitan dengan faktor fasa (, rad/m) dan bagian imajiner berkaitan dengan
konstanta atenuasi (, db/m). Bagian riil dan imajiner bilangan gelombang k dapat
dituliskan kembali yang diungkapkan dalam bentuk faktor fasa dan konstanta
atenuasi :
k = + i

(2 15)


= 2 =
2

2
1 + 2 2

1/ 2

1/ 2


+ 1

(2 16)

dan


2
= = 1 + 2 2

2
1

1/ 2

1/ 2

( 2 17)

dimana = 2f , f adalah frekuensi (Hz), adalah permeabilitas magnetik (4x10-7


H/m), konduktifitas bulk pada frekuensi yang diberikan (S/m) dan permitivitas
dielektrik dimana = rx8.85x10-12 F/m dan r merupakan konstanta dielektrik relatif
bulk.
Sedangkan besaran (

) ekivalen terhadap loss factor (P) dimana P =


= tan D

Dari persamaan (2-17) didefinisikan skin depth () =

, saat tan D << 1, yang dapat

dituliskan :

2
=

1/ 2

dan secara numerik:

26

(2 18)

5.31 r

(2 19)

dimana dalam mS/m.


Bilangan gelombang k merupakan fungsi dari sifat fisis bumi dan tergantung pada
frekuensi, sedangkan panjang gelombang bergantung pada konstanta listrik, yaitu:

(2 20)

( )1 / 2

medan elektromagnetik yang merambat tersebut dapat digunakan untuk mengukur


jarak dari antena transmisi ke suatu massa batuan (reflektor) dan ke antena penerima
atau kedalaman dan besar frekuensi yang digunakan akan sangat mempengaruhi
kedalaman penetrasi dan resolusi radargram. Kedalaman dapat dinyatakan sebagai
resolusi optimal yang telah dirumuskan secara empiris yaitu :

75

d = =
4 f r

(2 21)

dengan f = frekuensi maksimum (Hz). Untuk kondisi ideal resolusi sama dengan ,
tetapi pada kenyataannya adalah sekitar sepertiga sampai setengah panjang
gelombang.
3.6

Kecepatan Gelombang Radar

Kecepatan gelombang elektromagnet pada medium tergantung pada


frekuensi, konduktivitas listrik, konstanta dielektrik dan permeabilitas magnet, yang
secara matematis diturunkan sebagai berikut:
Vm =

r r
2

(meter/ nanosekon)

(2 22 )

1 + tan 2 D + 1

dimana c adalah kecepatan cahaya di udara, r adalah konstanta dielektrik relatif dan
r adalah permeabilitas magnetik relatif. Tan2 D merupakan loss factor dengan Tan2
D=

Sebagian besar medium bawah permukaan kurang bersifat magnet (r=1) dan
merupakan material dengan kondukivitas yang kecil ( 0), maka kecepatan
gelombang dapat dituliskan seperti dibawah ini (Reynolds, 1997):

27

Vm =

0.3

(meter/ nanosekon)

(2 23 )

dimana r adalah konstanta dielektrik relatif.


3.7

Koefisien Refleksi dan Transmisi

Koefisien refleksi adalah perbandingan energi yang direfleksikan dengan


energi datang. Sedangkan koefisien transmisi adalah perbandingan energi yang
ditransmisikan dengan energi datang.
Radiasi elektromagnetik yang direfleksikan oleh suatu perlapisan tergantung
pada kontras konstanta dielektrik relatif perlapisan-perlapisan yang berdekatan. Jika
kontras tersebut lebih besar maka jumlah energi gelombang radar yang direfleksikan
juga akan lebih besar. Dalam semua kasus magnitudo R berada pada rentang 1.
Bagian energi yang ditransmisikan sama dengan 1-R, sedangkan daya koefisien
refleksi sama dengan R2.
Untuk gelombang dengan polarisasi Transverse Electric (TE), vektor
vektor medan listrik Er , Ei dan Et tegak lurus pada bidang datar sedangkan vektor
vektor medan magnet magnet Hi , Hr dan Ht terletak pada bidang tersebut, Maka
koefisien refleksi dan transmisi diberikan oleh persamaan :

n cos i 1 n22 n12 sin 2 i


E
R = r = 2 1
2
2
2
Ei 2 n1 cos i + 1 n2 n1 sin i

(2 24)

dan
E
2 2 n1 cos i
.
T = t =
2
2
2
Ei 2 n1 cos i + 1 n2 n1 sin i

28

(2 25)

Ei
Hi

Hr

(keluar )
ki

kr
Er
(masuk )

1 , 1 , 1
2 , 2 , 2

i r
t
Et(keluar )
Ht

kt

Gambar 3.1 Vektor gelombang datang ki, refleksi kr dan transmisi kt


pada vektor bidang S. Sudut datang, refleksi dan transmisi berurut
i, r t dan n merupakan unit normal terhadap permukaan S yang
memisahkan medan 1, 1, 1 dan 2, 2 , 2 (Nabighian, 1987)

Apabila gelombang mengalami polarisasi Transverse Magnetic (TM), vektor


vektor medan magnet Hi , Hr dan Ht , tegak lurus pada bidang datar sedangkan vektor
vektor Ei , Er dan Et terletak pada bidang tersebut. Maka koefisien refleksi dan
transmisi diberikan oleh persamaan :

n n 2 n12 sin 2 i 1n22 cos i


E
RII = r = 2 1 2
2
2
2
2
Ei II 1n2 cos i + 2 n1 n2 n1 sin i

(2 26)

dan
E
2 2 n1n2 cos i
TII = t =
.
2
2
2
2
Ei II 1n2 cos i + 2 n1 n2 n1 sin i

29

(2 27)

Skin Depth ()

3.8

Skin depth adalah kedalaman dimana sinyal yang telah berkurang menjadi 1/e

(37%) dari nilai awal dan berbanding terbalik dengan faktor atenuasi (=1/).
Definisi matematik dari faktor atenuasi dan skin depth diperlihatkan pada
persamaan-persamaan berikut:

r r
2

(meter)

(2 28)

1 + tan D 1
2

Untuk material non magnet berlaku (r = 1) dan jika tan D = / <<1 atau untuk
konduktivitas sangat kecil ( 0) sedangkan frekuensi yang digunakan sangat besar
( ~), maka persamaan (2 28) dapat dituliskan seperti pada persamaan dibawah
ini:
2
= r

2
,

= 5,31 r / ,

3.9

(2 29)
(meter).

(2 30)

Pengurangan Energi dan Atenuasi

Pengurangan energi (damping) dan atenuasi energi muncul sebagai


konsekuensi dari reflection/ transmission losses sekitar batas lapisan dan disipasi di
lapisan itu sendiri, muncul sewaktu gelombang elektromagnet melalui sebuah batas,
akibatnya jika ada objek yang memiliki dimensi sama dengan panjang gelombang
dari sinyal gelombang elektromagnet, maka objek ini akan mengakibatkan
penyebaran energi secara acak.
Energi yang hilang juga disebabkan oleh absorpsi (konversi energi
elektromagnet menjadi energi panas), kehilangan energi lainnya disebabkan oleh
geometri penyebaran energi, pada saat sinyal gelombang elektromagnet menjalar dari
transmiter, mereka menyebar secara divergen mengakibatkan berkurangnya energi
perunit area yang besanya 1/r2, dimana r adalah jarak yang telah dilalui. Pengurangan

30

energi tersebut terjadi secara eksponensial. Secara matematis faktor damping dapat
ditulis seperti berikut :

1
d (w ) = e ( w ) r
r

(2 31)

dengan = konstanta atenuasi dan r = jarak rambatan (lintasan gelombang).


Penyebab yang mendasar hilangnya energi adalah atenuasi yang merupakan
fungsi kompleks dari sifat listrik dan dielektrik media yang telah dilalui oleh sinyal
radar. Faktor atenuasi ( ) bergantung dari konduktivitas, permeabilitas magnet serta
permitivitas magnet dari media yang dilalui oleh sinyal, juga frekuensi dari sinyal itu
sendiri (2f), sifat bulk dari material ditentukan oleh sifat fisik dari unsur pokok
yang ada dan komposisinya. Persamaan matematis faktor atenuasi dituliskan pada
persamaan 2 - 17.
3.10

Resolusi

Resolusi menunjukan suatu kemampuan untuk memisahkan dua objek yang


berbeda pada jarak yang berdekatan. Hal ini berhubungan erat dengan target atribut
geometri termasuk bentuk, ukuran ketebalan dan lain-lain.
Ada dua komponen resolusi yang bekerja pada GPR, yaitu resolusi vertikal
dan resolusi lateral (Gambar 3.2). Resolusi vertikal adalah suatu kemampuan untuk
membedakan dua objek pada waktu yang berdekatan. Sedangkan resolusi lateral
adalah suatu kemampuan untuk membedakan dua objek yang berdekatan secara
lateral.

Gambar 3.2 Resolusi GPR dibagi menjadi 2 bagian:


Resolusi Vertikal (r) dan Resolusi Lateral (l) (Annan,
2001).

31

r =

Resolusi vertikal (range resolution) dirumuskan sebagai (Annan, 2001):

(2 32)

dimana:
r = resolusi vertikal (meter)
c = panjang gelombang dari frekuensi tengah antena (meter).

L =

Resolusi lateral (Lateral Resolution) dirumuskan sebagai (Annan, 2001):

c d
2

(2 33)

dimana:
L = resolusi lateral (meter)
d = kedalaman (meter).
3.11

Noise
Noise pada sistem GPR lebih sering disebabkan oleh faktor kelistrikan seperti

kehadiran pembangkit listrik, pemancar FM dan komponen elektronika lainnya


disekitar area sistem dimana dapat memberikan interferensi sinyal.
Dalam prakteknya yang sering muncul adalah fenomena frekuensi rendah
(komponen DC) yang berinterferensi secara periodik, hal ini diakibatkan oleh
saturasi antara komponen instrumen penerima (receiver) dengan amplitudo tinggi
gelombang udara dan gelombang langsung sebagai konsekuensi interaksi antara
antena dengan tanah. Kondisi yang bersifat basah menyebabkan hal ini terjadi,
dimana sinyal tidak merambat melainkan terdifusi kedalam tanah.
Selain itu noise yang cukup kuat dan mengganggu adalah surface scattering
(Sun dan Young, 1995). Noise ini dapat berupa refleksi maupun difraksi yang cukup
kuat yang diakibatkan oleh scatering oleh objek permukaan diatas tanah atau lintasan
survey. Kondisi permukaan tanah tertentu yang mengatenuasi lebih banyak sinyal
mengakibatkan sinyal banyak merambat dipermukaan dan fenomena ini terjadi.
Noise yang juga cukup mengganggu adalah ring-down, dimana noise ini
diakibatkan oleh ketidakcocokan impedansi antara antena (transmiter dan receiver)

32

dengan ground (Radzevicius, dkk, 2000). Noise ini biasanya berupa garis lurus, dan
kadang bisa salah diinterpretasikan sebagai reflektor lapisan atau multipel.
3.12

Pemodelan Finite Difference Time Domain (FDTD)

Metoda pemodelan Finite Difference Time Domain (FDTD) adalah salah


satu teknik analisa medan elektromagnetik yang diperkenalkan oleh Yee (1966).
Metoda FDTD menggunakan aproksimasi persamaan Maxwell yang menghasilkan
suatu pemodelan dengan tingkat akurasi yang tinggi yang dapat menjelaskan
fenomena hamburan gelombang elektromagnetik. Sejak tahun 1980, seiring dengan
kemajuan teknologi komputer, metoda FDTD telah

menjadi pelopor dalam

komputasi hamburan gelombang elektromagnetik. Metode Finite difference mampu


menampilkan semua fenomena gelombang (refleksi, refraksi, difraksi) baik dalam
dua maupun tiga dimensi tetapi memakan waktu yang lama.
Salah satu alasan pemilihan metoda ini adalah mudah dalam menganalisa
permasalahan yang didasarkan pada persamaan integral yang sangat sulit dilakukan
bila dipecahkan dengan metoda lainnya.
3.12.1 Teori Dasar Finite Difference Time Domain (FDTD)

Dasar dari penurunana rumus ini adalah algoritma Yee. Metoda FDTD seperti
ditunjukkan pada gambar 3.3, pertama-tama ditentukan wilayah analisa yang
membungkus sumber gelombang, benda hambur. Lalu wilayah analisa ini dicacah
menjadi banyak sel (cell) kecil. Setelah itu ditentukan persamaan turunan Maxwell :
(2 34)
(2 35)

33

Gambar 3.3 Wilayah Analisa (J.Tetuko, 1998)

Penurunan rumus metoda FDTD menurut algoritma Yee :


1. Penurunan seluruh unsur medan elektromagnet menurut waktu dan ruang.
(2 36)
(2 37)
2. Menurut waktunya, medan listrik dan medan magnet diletakkan bergantian seperti
ditunjukkan gambar 3.4.

(n-1)

(n-1/2)

(n)

(n+1)

(n+1/2)

Gambar 3.4 Peletakan Waktu Medan Elektromagnet (J.Tetuko, 1998)

34

Dengan mengubah rumus (2 - 34 ) dan (2 - 35) menggunakan medan listrik


dan medan magnet, maka akan diperoleh persamaan :
(2 38)
(2 39)
dmana :
(2 40)
(2 41)
lalu mensubtitusikan persamaan (2 - 40), (2 - 41) ke persamaan (2 - 38), (2 - 39)
maka akan diperoleh :
(2 42)
(2 43)
Tetapi untuk mengubah medan listrik bagian kanan persamaan (2 - 42) menjadi nilai
pada t = (n-1/2)t, dengan cara yang sama tidak dapat dilakukan penurunan rumus
menggunakan FDTD. Metoda untuk menghindari permasalahan ini perlu dilakukan
pengubahan nilai E(n-1/2) dengan cara seperti dibawah ini :

(2 44a)
(2 44b)
(2 44c)
persamaan (2 44a) adalah cara penggantian pada grid interval waktu setengah step
di depan, kelemahannya berupa konvergensi yang lambat dan sering divergen,

35

sehingga jarang dipakai. Persamaan (2 44b) merupakan penggantian menggunakan


nilai rata-rata, hasilnya yang paling bagus, sama akurasinya dengan pesamaan (2
44c).
Pada saat menggunakan persamaan (2 44b), persamaan (2 - 42) akan menjadi :
(2 45)
oleh karena itu En menjadi :
(2 46)
pada saat menggunakan persamaan (2 44c), dengan menggunakan :
(2 47)
maka akan diperoleh :
(2 48)
koefisien sebelah kanan persamaan (2 - 46) dan (2 - 48) adalah berlainan.
Dalam medium yang berkonduktifitas sangat tinggi, medan elektromagnet akan
meluruh secara eksponensial sesuai dengan bertambahnya waktu, lalu pada dinding
sempurna (perfectly medium) yang mempunyai nilai limit tersebut harus bernilai 0.
tetapi pada (2 - 52), t/ >> 1 oleh karena itu akan diperoleh:

selain E0=0, hanya bergetar saja seiring dengan pertambahan waktu dan tidak
konvergen ke 0. terhadap hal ini persamaan (2 - 48) menjadi :

36

dimana berkonvergen terhadap waktu menuju nilai nol. Inilah alasan menggunakan
persamaan (2 - 48). Ditambah lagi, pada saat tidak ada peluruhan kedua persamaan
tersebut mempunyai nilai hasil hitungan yang sama.
Disamping itu, medan magnet akan menjadi :
(2 49)
3.12.2 Metoda TM-FDTD 2 Dimensi

Medan listrik mempunyai unsur hanya pada sumbu z, sedangkan medan


magnet mempunyai unsur di sumbu x dan y, ini disebut mode TM. Pertama-tama
dilakukan pencacahan wilayah analisa menjadi beberapa sel kecil berjumlah (NX-1)
X (NY-1), seperti ditunjukkan pada gambar 3.5. Lalu seperti pada gambar 3.6
diletakkan medan listrik dan magnet ke masing-masing sel tersebut. Pada titik (i, j)
diletakkan medan listrik.
Karena medan listrik hanya mempunyai unsur sumbu z saja, maka persamaan
(2 - 48) menjadi :
(2 50)

Ez (i, j+1)

Ez (i+1, j+1)

Hx (i,j+1/2)

Hy (i-1/2,j)
Ez (i,j)

Ez (i+1,j)

Hx (i,j-1/2)

x
Gambar 3.5 Wilayah Analisa (J.Tetuko, 1998)

Gambar 3.6 Peletakan Medan EM


diatas satuan sel (J.Tetuko, 1998)

37

Seperti ditunjukkan pada gambar 3.6, Ez diletakkan pada (i, j), oleh karena
itu penurunan bagian kanan persamaan (2 - 50) perlu dilakukan pula pada titik (i, j).
Brdasarkan gambar 3.6 maka akan diperoleh persamaan-persamaan berikut :
(2 51)

subtitusi persamaan (2-51) ke persamaan (2-50) akan menjadi :


(2 52)

Selanjutnya unsur sumbu x dan y dari medan magnet adalah Hx dan Hy, berdasarkan
persamaan (2 - 49) maka akan diperoleh persamaan:
(2 53a)

(2 53b)

Letak Hx dan Hy adalah titik yang paling dekat dengan (i, j) dalam sel, oleh karena
itu masing-masing medan magnet adalah Hx(i, j+) dan Hy(i+, j), lalu penurunan
medan listrik di bagian kanan persamaan (2 - 53a, b) adalah :
(2 54a)

(2 54b)

38

Dengan mensubstitusikan persamaan (2 - 54a, b) ke (2 - 53 a, b) maka medan magnet


akan menjadi persamaan seperti di bawah ini:
(2 55)

(2 56)

3.12.3 Pendekatan Numerik

Model FDTD direkonstruksi dengan cara mendiskritisasikan masalah


kedalam grid-grid sel yang berbentuk kubus-kubus kecil untuk model 3-D dan
berbentuk kotak-kotak kecil untuk model 2-D. Vektor medan listrik dan vektor
medan magnet ditempatkan di setiap sel grid sebagaimana diilustrasikan oleh gambar
3.9. Dimensi dari grid sel umumnya dipilih lebih kecil daripada 1/10 panjang
gelombang elektromagnet di dalam grid Grid-grid sel yang semakin kecil akan
mengurangi dispersi numerik, akan tetapi akan meningkatkan dalam komputasi/
penghitungan, sehingga komputasi akan semakin lama.
3.12.4 Diskritisasi

Secara umum pemilihan diskritisasi tergantung kepada akurasi yang akan


dicapai, frekuensi dari sumber pulsa serta ukuran dari target. Pada saat diskritisasi
dilakukan besarnya step diskritisasi harus memenuhi kaidah rule of thumb untuk
meminimalisasi error akibat dispersi numerik, dimana step diskritisasi setidaknya
harus

satu

sepersepuluh

dari

panjang

gelombang

terkecil

gelombang

elektromagnetik. Kaidah rule of thumb tersebut didefinisikan :


(2 57)
(2 58)
(2 59)

39

dimana :
fm= frekuensi tertinggi (Hz)
f = frekuensi tengah (Hz)
l =x=y = step diskritisasi
= panjang gelombang (m)

r= permitivitas dielekrik relatif


c= kecepatan cahaya (2.9979245 x 108 m/s)
3.12.5 Syarat Batas Serap (Absorbing Bondary Conditions)

Saat kita mengaplikasikan metoda FDTD untuk memecahkan persoalan


wilayah terbuka, wilayah analisa ini perlu dibatasi dengan menggunakan wilayah
batas khayal. Apabila wilayah batas khayal (syarat batas serap) ini tidak sempurna
maka hal tersebut akan menyebabkan pantulan gelombang ke wilayah analisa yang
dapat mempengaruhi nilai analisa di dalamnya. Hal ini disebabkan oleh batas sel
kehilangan komponen medan dari sel tetangganya dan membuatnya tidak bisa untuk
menghitung dengan benar komponen medannya sendiri. Untuk menghindari refleksi,
syarat batas serap ditetapkan untuk menyerap medan terhambur saat medan tersebut
sampai pada batas dari FDTD kita.
3.12.6 Stabilitas Numerik

FDTD merupakan proses numerik dengan kondisi stabil. Nilai-nilai


diskritisasi x, y dan t harus bergantung satu sama lainnya supaya mencapai
kestabilan dalam numerik. Kondisi kestabilan ini dinamakan kondisi CFL, yamg
diambil dari inisial Courant, Freidrichs dan Lews, didefinisikan :
(2 60)
dimana c adalah kecepatan cahaya, t dibatasi oleh nilai x dan y.

40

BAB 4
PENGOLAHAN DATA

Data yang diolah adalah data lapangan yang diambil pada bulan Juli
Agustus 2004

yang diambil secara melintang tegak lurus di atas Terowongan

Sasaksaat dengan jarak pengukuran 30 meter.


Pengukuran GPR untuk penelitian ini menggunakan konfigurasi radar
reflection profiling dimana antara transmiter dan receiver bergerak bersama dalam
satu arah sepanjang permukaan dimana hasil tampilan pada radargram merupakan
kumpulan tiap titik pengamatan. Frekuensi tengah antena GPR yang digunakan yaitu
75 MHz dan 150 MHz. Sedangkan arah antena menggunakan orientasi PR-BD
(Perpendicular Broadside).

Orientasi antena

Arah Pengukuran GPR


30 m

8m

6m

Gambar 4.1 Skema pengukuran profil

41

Parameter pengambilan data GPR untuk kedua antena tersebut, disajikan pada tabel
dibawah ini:
Tabel 4.1 Parameter pengambilan data

Parameter lapangan

Frekuensi 75 MHz

Frekuensi 150 MHz

Time windows (ns)

500

200

Station spacing (m)

0.1

0.04

Antena separation (m)

Sampling interval (ns)

0.390

0.976

Sampling number

512

512

Antena orientation

PR-BD

PR-BD

Parameter tersebut kita perhitungkan sebelum dilakukan pengukuran, hal ini


bertujuan untuk menghasilkan radargram yang baik, sehingga pada saat pengolahan
data tidak terlalu rumit dan siap diinterpretasi..
4.1

Pengolahan Data Lapangan

Pengolahandata GPR dilakukan dengan perangkat lunak ReflexwTM versi


1.02. Pengolahan data GPR mirip dengan pengolahan pada data sesimik hanya
beberapa parameter yang membedakannya.
Tujuan dari pengolahan data GPR adalah untuk menghasilkan peta-peta
penampang GPR dengan perbandingan signal to noise ratio yang tinggi, sehingga
berdasarkan penampang GPR tersebut dapat ditafsirkan keadaan dan bentuk dari
lapisan-lapisan (reflector) batuan sesuai dengan target yang diinginkan.
Tahap pengolahan data GPR yang telah dilakukan terdiri dari Input data,
Editing, Gain, Dewow, DC-Shift, Move Starttime, Static Correction, Bandpass
Butterworth Filter, Deconvolution, Background Removal, f-k Filter, Migration dan
Depth Conversion.
Pada setiap tahapan proses pengolahan data terdapat pemilihan metoda dan
parameter-parameter pengolahan data tertentu. Masing-masing proses tersebut akan
dijelaskan di bawah ini.

42

4.1.1

Input Data

Input data merupakan proses pemasukan data dari raw data hasil perekaman
(recording). Program Reflexw dapat menerima input file dalam format : pulse
EKKO (.dt1 file), RAMAC (.rd3 file), GSSI (.dzt file), SEG-Y, SEG2, RADAN,
EMR ataupum userdefined format. Instrumen yang digunakan dalam perekaman
data di dalam penelitian ini adalah GPR sistem Zond sehingga file inputnya dalam
format segy. Input data dilakukan dengan cara mengimport file segy dengan input
format SEGY dan output format 16-bit integer. Setelah itu secara otomatis raw data
dikonversi ke dalam Reflexw mengahasilkan penampang GPR.
4.1.2

Editing

Setelah dilakukan input data, kemudian data tersebut ditampilkan (viewing)


dalam bentuk tampilan penampang GPR. Dalam proses viewing tersebut
dimungkinkan untuk dilakukan proses editing.
Proses editing bertujuan untuk merubah atau memperbaiki trace atau record
dari hal-hal yang tidak diinginkan. Proses data editing antara lain reorganisasi data,
pengumpulan data file, data header, repositioning dan penambahan informasi elevasi
data.
Proses editing yang dilakukan pada penelitian ini antara lain mengatur trace
header, pengaturan skala dan jarak pengukuran, menormalisasi amplitude dari trace
sehingga tampilan penampang terlihat lebih baik.
4.1.3

Gain

Akibat adanya pelemahan energi sinyal pada batuan atau lapisan tanah,
dimana frekuensi tinggi diserap lebih cepat dibandingkan dengan frekuensi rendah.
Pada saat yang sama terjadi peyebaran bola (spherical divergence), yaitu energi
gelombang yang menjalar meluruh berbanding terbalik dengan kuadrat dari sumber.
Dari dua faktor di atas energi/ amplitudo gelombang yang terefleksikan akan
meluruh terhadap jarak dan waktu. Untuk menghilangkan pengaruh ini maka
dilakukan suatu penguatan kembali amplitudo yang hilang sedemikian rupa sehingga
seolah-olah pada setiap titik mempunyai energi yang sama. Penguatan (gain)
dilakukan sesuai dengan fungsi persamaan peluruhan energi.

43

Persamaan fungsi gain atau g(t) adalah sebagai berikut:


Gain ( dB ) = A . t + B 20 Log ( f ) + C

Dimana:
t = waktu
A = faktor atenuasi
B = faktor spherical divergence
C = faktor konstanta gain

Data asli

Gain vs waktu
Data setelah gain

Gambar 4.2 Gambaran konsep dari Gain (Annan, 2001)

Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoda Automatic Gain
Control (AGC). AGC bertujuan untuk penyamaan amplitudo karena efek pelemahan
amplitudo yang disebabkan penyebaran bola dan gesekan antar partikel.
Fungsi gain AGC dihitung dengan menggunakan metode RMS (Root Mean
Square). Amplitudo dari masing masing sampel dikuadratkan, kemudian dihitung
nilai RMS-nya pada suatu jendela waktu tertentu.
Pada penelitian ini nilai AGC yang dimasukan untuk ferkuensi tengah 75
MHz dan 150 MHz yaitu dengan operator window 25 ns karena menghasilkan
display yang terbaik.

4.1.4

Dewow

Wow adalah salah satu noise frekuensi rendah yang dapat terekam oleh
sistem radar. Terjadi akibat instrumen elektronik tersaturasi oleh nilai amplitudo
besar dari gelombang langsung dan gelombang udara. Wow merupakan fenomena

44

induksi atau akibat keterbatasan dari kisaran dinamis instrumen, adanya input energi
yang besar dari gelombang udara dan gelombang permukaan menyebabkan sinyal
yang tertangkap pada receiver mengalami saturasi dan receiver tidak mampu
mengatur perubahan yang besar pada saat stacking. Hal inilah yang menimbulkan
induksi frekuensi rendah yang kemudian mengalami peluruhan pada frekuensi tinggi
dari trace sinyal yang datang.
Filter dewow merupakan filter yang digunakan untuk memulihkan kembali
sinyal yang tersaturasi atau mengembalikan fenomena wow.
Operator window yang dimasukkan dalam proses dewow yaitu input time
window 200 ns untuk frekuensi tengah 150 MHz, dan input time window 450 ns
untuk frekuensi tengah 75 MHz, hasil ini didapatkan dari trial and error.
4.1.5

DC-Sihft

DC- Shift bertujuan untuk mengembalikan posisi trace yang mengalami


pergeseran ke posisi normal. Nilai yang dimasukan dalam proses DC-Shift sama
dengan pada proses dewow yaitu dengan input time window 200 ns untuk frekuensi
tengah 150 MHz, input time window 450 ns untuk frekuensi tengah 75 MHz.

Gambar 4.3 Gambaran proses dewow dan dc-shift pada suatu trace
(Fisher . et al., 1994)

4.1.6

Move Starttime

Move start time dipakai untuk mengetahui titik awal dari sinyal pertama yang
masuk. Proses ini berkaitan dengan konversi kedalaman (depth conversion) yang
selanjutnya akan menentukan posisi atau kedalaman dari target/ objek. Input yang
dimasukan yaitu move time = -1 ns.

45

4.1.7

Koreksi Statik

Koreksi statik dilakukan dengan tujuan agar radargram yang kita lihat sesuai
dengan topografi daerah survey, sehingga radargram yang kita lihat mendekati
keadaan sebenarnya.
4.1.8

Bandpass Butterworth Filter

Filtering adalah proses memisahkan/ menghilangkan frekuensi-frekuensi


yang tidak diinginkan (noise) dengan tujuan utuk melindungi sinyal primer. Dalam
pengolahan data GPR ada beberapa jenis filter yang biasa digunakan, yaitu :
Meanfilter, Medianfilter, Bandpassfrequency, Bandpass butterworth, dan Notchfilter.
Bandpass butterworth filter merupakan filter 1-D yang dikenal juga sebagai
flat filter yang secara maksimal dikarakterisasikan oleh flat bandpass, jenis filter ini
sering digunakan sebagai anti alias filter.
Pada penelitian ini dipilih jenis Bandpass butterworth filter untuk
menghilangkan noise frekuensi rendah dan noise frekuensi tinggi dengan
menggunakan Low Cutoff 100 MHz dan High Cutoff 200 MHz untuk frekuensi
tengah 150 Hz, Low Cutoff 50 Hz dan High Cutoff 100 MHz untuk frekuensi tengah
75 Hz.
4.1.9

Dekonvolusi

Dekonvolusi merupakan proses invers filter kuadrat terkecil (least-square


inverse filter) yang diaplikasikan kepada data untuk menghasilkan sumber wavelet
terkompresi (compressed source wavelet).
Berdasarkan teorinya, pulsa radar yang ditransmisikan kebawah permukaan,
mengalami perubahan bentuk pada sebagian gelombang elektromagnet. Tujuan filter
ini adalah mengembalikan bentuk output ideal sehingga menyerupai deret
koefisien refleksi. Salah satu metode yang digunakan adalah spike dekonvolusi,
dimana proses ini mengasumsikan bahwa wavelet yang digunakan berupa spike,
sehingga output yang diharapkan adalah suatu trace yang mendekati deret koefisien
refleksi.
Pada penelitian ini, proses dekonvolusi menggunakan operator window 20
serta prewhitening 1% yang didapatkan dari hasil trial and error.

46

4.1.10 Background Removal

Konsep dari filter ini merupakan 2 D filter yang berkerja dalam domain
jarak dan waktu. Background removal sangat berguna dalam menghilangkan
ringing dari antena, efektif untuk memunculkan sinyal yang lemah serta
meningkatkan energi koheren secara horizontal sehingga memperbesar energi sinyal
secara lateral. Input yang dimasukkan yaitu: start time = 0 , end time =500, start
distance =0 dan end distance = 723 untuk frekuensi tengah 75 Hz. Start time=0 end
time=200, strat distance=0 dan end distance=723 untuk frekuensi tengah 150 Hz.
4.1.11 F-K Filter

Proses pemisahan sinyal refleksi dari noise sangat sulit, sehingga diperlukan
suatu proses untuk mempermudah, dimana data yang kita olah tidak pada domain
jarak-waktu, tapi kita transformasikan pada domain yang lain.
F-K filter adalah filter dua dimensi yang akan memfilter frekuensi temporal
dan spasial. Filter ini didesain dalam fungsi bilangan gelombang. F-K filter
umumnya digunakan untuk menghilangkan noise koheren, yaitu noise yang terjadi
secara teratur dari trace ke trace sepanjang profil. Filter ini efektif untuk
menghilangkan noise koherent seperti ringing, multipel, gelombang udara, dan tanah
langsung (Young dan Sun, 1994 ).
Pada penelitian ini parameter yang dimasukan adalah input kecepatan 0.3
m/ns dan 0.3 m/ns.
4.1.12 Migrasi

Migrasi bertujuan untuk mengoreksi letak titik refleksi pada posisi


sebenarnya. Proses migrasi mengembalikan bentuk-bentuk difraksi hiperbola,
reflektor-reflektor miring kepada posisi sebenarnya. Dalam program Reflexw proses
migrasi menggunakan metoda Migrasi Diffraction Stack. Migrasi Diffraction Stack
merupakan algoritma migrasi yang cepat dan efektif dalam perhitungan serta
memberikan hasil yang baik untuk data. Selain itu migrasi ini juga cukup baik dalam
menghilangkan difraksi. Kecepatan migrasi yang dipilih adalah sebesar 0.1, 0.15,
0.2, 0.25 dan 0.3 m/ns, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui pada kecepatan
berapa migrasi yang paling optimum.

47

4.1.13 Konversi Kedalaman

Konversi kedalaman berfungsi untuk mengkonversikan dari satuan waktu


(ns) kedalam satuan kedalaman (m). Ada dua sumber kecepatan yang dapat
digunakan untuk konversi waktu ke kedalaman, yaitu profil kecepatan spesifik dan
kecepatan konstan skalar. Dalam proses konversi kedalaman ini digunakan kecepatan
rata-rata material geologi daerah penelitian sebesar 0.15 m/ns dengan tujuan untuk
mendapatkan nilai perkiraan kedalaman semu.

48

Raw data

Editing
Gain

Dewow
DC-Shift

Move Starttime

Koreksi Statik

Bandpass Butterworth

Dekonvolusi

Background Removal

F-k Filter

Migrasi

Gambar 4.4 Diagram alir pengolahan data

49

4.2 Pemodelan Kedepan

Pemodelan dilakukan dengan menggunakan software GPRMax 2D Versi


1.5.1 dan Matlab 6.5.1 untuk visualisasi. Tujuan dari pemodelan kedepan adalah
untuk melihat perilaku gelombang elektromagnetik pada struktur tertentu dan sebagai
pembanding dari data lapangan.
Asumsi yang digunakan adalah dalam pemodelan ini adaalah :
1. Semua medium dianggap linier dan isotropik.
2. Antena transmiter GPR diasumsikan sebagai sumber bidang (line sorce).
3. Parameter-parameter penyusun (constitutive parameters) diasumsikan tidak
berbeda jauh dari frekuensi. Asumsi ini mempermudah dalam menentukan
domain waktu dari model.

Model GPR
Sebagai
Pembanding
Data lapangan

Data litologi
Lapangan

Asumsi
Permitivitas
Batuan

Tidak

Pemodelan
Litologi dengan
Menggunakan
asumsi
Permitivitas relatif

Prosesing
Data

Gambar 4.5 Diagram alir pemodelan ke depan GPR

50

Membandingkan
Profil GPR
pemodelan
Dengan
profil GPR

Ya

Gambar 4.6 Flowchart Penghitungan Metoda FDTD


(J. Tetuko, 1998).

4.2.1 Parameter pemodelan

Parameter-parameter dalam pemodelan ini adalah:

Panjang lintasan dan kedalaman model

Ukuran model dibuat dengan ukuran 30 x 55 m (panjang lintasan 30 m dan


kedalaman 55 m). Panjang lintasan model diambil dari pendekatan jarak pengukuran
lapangan yang memiliki jarak 30 m sedangkan kedalaman model sebesar 55 m
didapat dari hasil trial and error yang menghasilkan model terbaik.

Diskritisasi model

Grid yang dipakai dalam pemodelan menggunakan interval grid 0.0125 m.


Pemilihan diskritisasi ini berdasarkan kaidah rule of thumb, dimana besarnya grid
setidaknya 1/10 dari panjang gelombang dengan tujuan untuk meminimalisasi error
akibat dispersi numerik .

51

Jenis medium dan sifat fisik medium

Dalam pemodelan ini digunakan 4 jenis medium yaitu: udara, beton, batupasir dan
batupasir tersaturasi air, harga sifat fisik keempat medium tersebut disajikan pada
tabel 4.2. Harga r, r dan kelima medium tersebut diambil dari hasil trial and error
yang menghasilkan model terbaik yang
Tabel 4.2 Harga Permitivitas relatif, permeabilitas relatif dan konduktivitas material
yang digunakan dalam pemodelan.
r

(S/m)

Udara

1.0

1.0

Beton

1.0

0.01

Batupasir

1.0

0.01

Batupasir tersaturasi air

30

1.0

1.0

Material

30 m

10 m

8m
Beton tebal 1 m
20 m

6m

Batupasir

55 m
Batupasir tersaturasi air tebal 3 m

= 520

Gambar 4.7. Geometri Pemodelan

52

Pemodelan struktur

Pada pemodelan ini geometri terowongan diasumsikan berbentuk menyerupai


setengah lingkaran dengan diameter 6 m , bagian bawah datar, tebal dinding 1
meter dengan material beton. Kedalaman terowongan dari permukaan

8 m.

Sedangkan struktur sesar dengan tebal 3 m dan kemiringan sebesar 52o . (Gambar
4.7)

Jendela Waktu

Jendela waktu yang digunakan yaitu sebesar 200 nS.

Kondisi Batas Serap

Kondisi batas serap digunakan agar tidak terjadi fenomena difraksi pada batas
dinding khayal. Pada pemodelan ini digunakan kondisi batas serap tipe Higdon orde3 karena jenis batas serap ini paling sering digunakan, memiliki tingkat akurasi yang
baik serta relatif lebih stabil

Parameter pengukuran

Pengukuran dalam model sama seperti pengukuran dilapangan yaitu menggunakan


konfigurasi radar reflection profiling dimana antara transmiter dan receiver bergerak
bersama dalam satu arah sepanjang permukaan, jarak antar antena sebesar 0.5 m,
jarak perpindahan 0.66 m, jenis sumber sinyal yang digunakan yaitu sinyal ricker dan
jumlah trace yang ingin dihasilkan sebanyak 50 trace.

53

BAB 5
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1

Interpretasi Data Lapangan

Profil georadar 150 MHz


Pada profil 150 MHz yang telah diproses sampai tahap background removal
(gambar 5.1) terlihat adanya dua anomali yang sangat kontras yaitu berupa pola
difraksi dan pola refeksi miring. Pola difraksi terlihat pada waktu 20 ns dan 40 ns,
dimana jika kedua pola difraksi tersebut dicocokan pada kurva kecepatan didapatkan
harga kecepatan dari kedua difraksi tersebut adalah 0.3 m/ ns. Bila dibandingkan
antara difraksi pada waktu 20 ns dengan difraksi pada waktu 40 ns, terlihat ekor
difraksi pada waktu 40 ns cenderung lebih lebar daripada difraksi pada waktu 20 ns.
Pola difraksi pada waktu 40 ns ini merupakan difraksi dari bangunan terowongan
sedangkan pola difraksi 20 ns diduga berasal dari efek lokal yang berupa efek
difraksi yang berasal dari adanya pipa atau kabel yang melintang diatas terowongan,
dan dugaan lainnya difraksi pada waktu 20 ns ini berasal dari bongkahan batuan
vulkanik karena daerah sasaksaat didominasi oleh batuan ini.
Sedangkan

pola

refleksi

miring

yang

terlihat

pada

radargram

diinterpretasikan sebagai zona lemah dari sesar, hal ini didasarkan pada karakter
refleksi yang kuat dan terlihat memiliki kontinuitas yang tinggi dimana secara fisis
refleksi yang kuat ini dihasilkan oleh adanya kontras permitivitas yang tinggi antara
dua medium. Zona lemah dari sesar ini diduga merupakan lapisan batupasir yang
telah tersaturasi air, dimana lapisan batupasir yang tersaturasi air ini memiliki
permitivitas reatif yang tinggi menurut literatur harga permitivitas relatifnya berkisar
antara 20-30. Sedangkan harga permitivitas relatif untuk batupasir berkisar antara 35, dimana lapisan batupasir ini merupakan struktur perlapisan di daerah penelitian.
Kontras permitivitas antara batupasir dengan batupasir tersaturasi air ini sangat besar
sehingga menghasilkan amplitudo negatif yang tercerminkan sebagai refleksi miring
yang terlihat pada radargram dimana kemiringan dari sesar ini sekitar 52o

54

Gambar 5.2 merupakan profil 150 MHz yang telah dimigrasi dengan metoda
migrasi diffraction stack. Proses migrasi ini menggunakan kecepatan yang bervariasi
yaitu dengan kecepatan 0.1 m/ ns, 0.15 m/ ns, 0.2 m/ ns, 0.25 m/ ns dan 0.3 m/ ns.
Tujuan dari migrasi dengan kecepatan yang bervariasi ini untuk mengetahui migrasi
dengan kecepatan berapa yang paling optimum untuk mengembalikan even difraksi
terowongan pada posisi sebenarnya.
Gambar 5.2 (a) merupakan hasil migrasi dengan kecepatan 0.1 m/ ns dimana
dengan kecepatan ini ekor diraksi terowongan masih sangat lebar dan kecepatan
difraksinya masih 0.3 m/ ns. Gambar 5.2 (b) merupakan migrasi dengan kecepatan
0.15 m/ ns dimana dengan kecepatan ini kecepatan dari difraksi lebih rendah menjadi
0.29 m/ ns. Ekor dari difraksinya sendiri masih lebar dan masih memiliki sudutyang
lebar pula. Gambar 5.2 (c) migrasi dengan kecepatan 0.2 m/ ns, kecepatan dari
difraksinya masih sama yaitu sebsesar 0.29 m/ ns akan tetapi ekor difraksinya
berubah lebih pendek daripada sebelumnya. Gambar 5.2 (d) merupakan migrasi
dengan kecepatan 0.25 m/ ns, terlihat sudut difraksi terowongan lebih rendah
daripada sebelumnya dan kecepatan difraksinya sebesar 0. 27 m/ ns. Gambar 5.2 (d)
adalah hasil migrasi dengan kecepatan 0.3 m/ ns, terlihat ekor difraksi dari
terowongan lebih pendek dibandingkan dengan gambar 5.2(d) dan harga kecepatan
difraksinya lebih rendah menjadi 0.19 m/ ns.
Dari tes kecepatan pada proses migrasi diffraction stack terlihat bahwa
semakin tinggi kecepatan migrasi maka semakin rendah kecepatan difraksinya dan
semakin pendek juga ekor difraksi hiperbolanya. Dapat disimpulkan bahwa migrasi
yang paling optimum untuk mengembalikan difraksi dari terowongan yaitu dengan
kecepatan sebesar 0. 3 m/ ns.

55

v=
v=

m/ ns
m/ ns

Terowongan
Sesa

LapisanPasir

Sesar

Gambar 5.1 Radargram profil 150 MHz yang telah diproses sampai tahap background removal. Difraksi terowongan teridentifikasi
pada twt 40 ns dengan kecepatan 0.3 m/ ns sedangkan, pola refleksi miring diinterpretasikan sebagai sesar.

56

(a)

(d)

(b)

(c)

(e)

Gambar 5.2 Radargram profil 150 MHz yang telah dimigrasi (a) v = 0.1 m/ns (b) v = 0.15 m/ns (c) v =0.2 m/ns (d) v = 0.25 m/ns (e) v = 0.3
m/ns. Terlihat proses migrasi yang paling optimum utuk mengembalikan difraksi pada posisi sebenarnya yaitu dengan kecepatan 0.3 m/ns.

57

Profil georadar 75 MHz


Pada profl georadar 75 MHz yang telah diproses sampai tahap background
removal (gambar 5.3) terlihat adanya pola difraksi dan pola refleksi miring. Pada profil
75 MHz ini terlihat hanya ada satu pola difraksi yang berasal dari terowongan saja yang
teramati pada waktu 45 ns dan dari pencocokan terhadap kurva kecepatan didapatkan
kecepatan difraksinya sebesar 0.25 m/ ns. Sedangkan pola refleksi miring yang terlihat
diduga merupakan refleksi dari bidang sesar dimana sesar ini memiliki kemiringan
sebesar 52o .
Gambar 5.4 (a) merupakan profil 75 MHz yang telah dimigrasi dengan kecepatan
0.1 m/ ns, terlihat seteah proses migrasi ekor difraksi dari terowongan memendek akan
tetapi kecepatan dari difraksinya masih sebesar 0.25 m/ns
Gambar 5.4 (b) merupakan hasil migrasi diffraction stack dengan kecepatan 0.15
m/ ns,

terlihat

kecepatan difraksinya lebih rendah menjadi 0. 20 m/ns dan ekor

difraksinya lebih pendek dibandingkan migrasi 0.1 m/ns.


Gambar 5.4 (c) merupakan hasil migrasi dengan kecepatan 0.2 m/ns, terlihat
kecepatan difraksinya lebih rendah lagi menjadi 0.19 m/ ns dan ekor dari difraksinya
lebih pendek dibandingkan migrasi 0.15 m/ns.
Gambar 5.4 (d) merupakan hasil migrasi dengan kecepatan 0.25 m/ns, terlihat
kecepatan difraksinya menjadi 0.15 m/ns dan ekor difraksinya lebih pendek
dibandingkan dengan migrasi 0.2 m/ns.
Gambar 5.4 (e) merupakan migrasi dengan kecepatan 0.3 m/ns, terlihat kecepatan
difraksinya adalah 0.15 m/ns dan difraksi dari terowongan telah terlokalisir pada posisi
sebenarnya.
Dari tes kecepatan migrasi dapat disimpulkan bahwa kecepatan antara 0.25 0.3 m/ ns
meghasilkan migrasi yang optimum untuk mengembalikan difraksi terowongan kepada
posisi asalnya.

58

v=

m/ ns

Terowongan

LapisanPasir

Sesar

Sesar

Gambar 5.3 Radargram profil 75 MHz yang telah diproses sampai tahap background removal. Difraksi terowongan teridentifikasi pada
twt 45 ns dengan kecepatan 0.25 m/ ns, pola refleksi miring diinterpretasikan sebagai sesar.

59

(a)

(d)

(b)

(c)

(e)

Gambar 5.4 Radargram profil 75 MHz yang telah dimigrasi (a) v = 0.1 m/ns (b) v = 0.15 m/ns (c) v =0.2 m/ns (d) v = 0.25 m/ns (e) v = 0.3
m/ns. Terlihat proses migrasi yang paling optimum utuk mengembalikan difraksi pada posisi sebenarnya yaitu dengan kecepatan 0.3

60

5.2

Hasil Pemodelan Kedepan

Model Sintetik 150 MHz


Pada model sintetik 150 MHz( gambar 5.5 (a)) yang belum diproses, terlihat sinyal
dari difraksi terlihat lemah dan refleksi dari sesar tidak terlihat. Hal ini disebabkan
oleh pemodelan yang mengasumsikan gelombang radar merambat dalam medium
meluruh bersamaan waktu, artinya kondisi yang berlaku pada pemodelan adalah
kondisi yang berlaku di lapangan/ tidak ideal dimana gelombang radar mengalami
atenuasi dan energinya meluruh seiring dengan bertambahnya waktu.
Gambar 5.5 (b) adalah model sintetik yang telah diproses sampai tahap background
removal. Energi dari difraksi dapat diperkuat pada tahap ini, begitu pula dengan
refleksi dari sesar terlihat sangat kuat dan memiliki kontinuitas yang tinggi. Difraksi
dari terowongan teramati pada waktu 40 ns sedangkan difraksi-difraksi sebelum dan
sesudah 40 ns merupakan multipel.
Gambar 5.6 adalah profil-profil model sintetik 150 MHz yang dimigrasi dengan
kecepatan yang berbeda-beda. Gambar 5.6 (a) model sintetik 150 MHz yamg
dimigrasi dengan kecepatan 0.1 m/ ns, hasil migrasi dengan kecepatan ini seperti
terihat pada gambar pola difraksinya menjadi kabur dan energi dari sinyalnya
seolah-olah tertarik keatas, hal ini terjadi karena kecepatan migrasinya terlalu
rendah sehingga undermigrated.
Gambar 5.6 (b), (c), (d) dan (e) berturut-turut merupkakan model sintetik 150 MHz
yang dimigrasi dengan kecepatan 0.15, 0.2, 0.25 dan 0.3 m/ ns. Dari hasil tes
kecepatan tersebut yang menghasilkan migrasi optimum yaitu migrasi dengan
kecepatan 0.3 m/ ns.

61

Gambar 5.7 dan 5.8 merupakan gambar yang memperlihatkan penjalaran gelombang
radar dalam model mulai waktu 10 ns sampai dengan 100 ns. Pada waktu 10 dan 20
ns gelombang radar mulai tertransmisikan kebawah, pada waktu 30 ns sinyal
transmisi tersebut mencapai terowongan dan sebagian energi sinyalnya terefleksikan
keatas, pada waktu 40 ns sinyal refleksi tersebut mencapai receiver sedangkan
sinyal transmisi semakin kebawah pada waktu 50, 60 dan 70 ns, kemudian pada
waktu 80, 90 dan 100 ns sinyal transmisi mencapai sesar dan sebagian sinyalnya
terefleksikan keatas

62

(a)

(b)
Gambar 5.5 (a) Raw data model sintetik 150 MHz, difraksi terowongan lemah dan tidak
terlihat refleksi dari sesar (b) Model sintetik 150 Mhz yang telah diproses sampai tahap
background removal, energi difraksi dari terowongan menguat dan refleksi dari struktur
sesar terlihat jelas.

63

(a)

(d)

(b)

(c)

(e)

Gambar 5.6 Model sintetik 75 MHz yang telah dimigrasi (a) v = 0.1 m/ns (b) v = 0.15 m/ns (c) v =0.2 m/ns (d) v = 0.25 m/ns (e) v = 0.3 m/ns.
Terlihat proses migrasi yang paling optimum yaitu dengan kecepatan 0.3 m/ ns.

64

t= 10 ns

t= 40 ns

t= 20 ns

t= 50 ns

t= 30 ns

t= 60 ns

Gambar 5.7 Perambatan gelombang radar dalam model untuk f = 150 MHzdari waktu 10 ns sampai dengan 60 ns.

65

t= 70 ns

t= 90 ns

t= 80 ns

t= 100 ns

Gambar 5.8 Perambatan gelombang radar dalam model untuk f = 150 MHz dari waktu 70 ns sampai dengan 100 ns.

66

Model Sintetik 75 MHz


Sama halnya dengan model sintetik 150 MHz, pada model sintetik 75 MHz(
gambar 5.9 (a)) yang belum diproses, terlihat sinyal dari difraksi terlihat lemah dan
refleksi dari sesar tidak terlihat. Hal ini disebkan asumsi kondisi yang berlaku pada
pemodelan adalah sama dengan kondisi yang berlaku di lapangan/ tidak ideal dimana
gelombang radar mengalami atenuasi dan energinya meluruh seiring dengan
bertambahnya waktu. Sedangkan gambar 5.9 (b) merupakan model sintetik yang telah
diproses sampai tahap background removal. Energi dari difraksi dapat diperkuat pada
tahap ini, begitu pula dengan refleksi dari sesar terlihat sangat kuat dan memiliki
kontinuitas yang tinggi. Difraksi dari terowongan teramati pada waktu 45 ns sedangkan
difraksi-difraksi sebelum dan sesudah 45 ns merupakan multipel.
Gambar 6.0 adalah profil-profil model sintetik 75 MHz yang dimigrasi dengan
kecepatan yang berbeda-beda. Gambar 5.10 (a) model sintetik 75 MHz yamg dimigrasi
dengan kecepatan 0.1 m/ ns, hasil migrasi dengan kecepatan ini seperti terihat pada
gambar pola difraksinya menjadi kabur dan energi dari sinyalnya seolah-olah tertarik
keatas, hal ini terjadi karena kecepatan migrasinya terlalu rendah sehingga terjadi
undermigrated. Gambar 6.0 (b), (c), (d) dan (e) berturut-turut merupakan model sintetik
75 MHz yang dimigrasi dengan kecepatan 0.15, 0.2, 0.25 dan 0.3 m/ ns. Dari hasil tes
kecepatan tersebut yang menghasilkan migrasi optimum yaitu migrasi dengan kecepatan
0.3 m/ ns.
Gambar 5.11 da 5.12 merupakan gambar yang memperlihatkan penjalaran
gelombang radar dalam model mulai waktu 10 ns sampai dengan 100 ns. Pada waktu 10
ns sinyal dari source belum tertransmisikan, sinyal mulai bertransmisi dalam medium
pada waktu 20 ns, kemudian pada waktu 40 ns sinyal transmisi tersebut mencapai

67

terowongan dan sebagian energi sinyalnya terefleksikan keatas, pada waktu 50 ns sinyal
refleksi tersebut mencapai receiver sedangkan sinyal transmisi semakin kebawah pada
waktu 60 dan 70 ns dan 80, kemudian pada waktu 90 dan 100 ns sinyal transmisi
mencapai sesar dan sebagian sinyalnya terefleksikan kembali keatas.

68

(a)

(b)
Gambar 5.9 (a) Raw data model sintetik 75 MHz, difraksi terowongan lemah dan tidak
terlihat refleksi dari sesar (b) Model sintetik 75 Mhz yang telah diproses sampai tahap
background removal, difraksi dari terowongan menguat dan refleksi dari struktur sesar
terlihat jelas.

69

(a)

(b)

(a)

(c)

(b)

Gambar 5.10 Model sintetik 75 MHz yang telah dimigrasi (a) v = 0.1 m/ns (b) v = 0.15 m/ns (c) v =0.2 m/ns (d) v = 0.25 m/ns (e) v = 0.3
m/ns. Terlihat proses migrasi yang paling optimum yaitu dengan kecepatan 0.25 - 0.3 m/ns.

70

t= 10 ns

t= 40 ns

t= 20 ns

t= 50 ns

t= 30 ns

t= 60 ns

Gambar 5.11 Perambatan gelombang radar dalam model dengan f =75 MHz dari waktu 10 ns sampai dengan 60 ns.

71

t= 70 ns

t= 80 ns

t= 90ns

t= 100ns

Gambar 5.12 Perambatan gelombang radar dalam model dengan f = 75 MHz dari waktu 70 ns sampai dengan 100 ns.

72

BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diperoleh pada penelitian ini adalah:


1. Terowongan teridentifikasi pada twt 40 ns untuk frekuensi tengah 150 MHz
dan pada twt 45 ns untuk frekuensi tengah 75 MHz.
2. Difraksi dari terowongan dapat dimigrasi secara optimum dengan kecepatan
0.3 m/ ns.
3. Dari hasil perbandingan data lapangan dengan pemodelan kedepan dapat
diduga adanya struktur sesar disekitar terowongan

6.2

Saran

Kesuksesan penggambaran profil bawah permukaan sangat dipengaruhi


kesuksesan pada saat pengambilan data, pengolahan data dan data pendukung untuk
interpretasi data.
Saran yang dapat disampaikan penulis untuk memperoleh hasil yang lebih baik
adalah :
1. Pengambilan data dengan lintasan yang lebih jauh sehingga struktur yang
diinterpretasikan sebagai sesar lebih jelas terlihat.
2. Pengambilan data dengan metode geofisika lainnya sebagai data pembanding.
3. Pemodelan FDTD dengan grid yang lebih kecil untuk menghasilkan pemodelan
yang lebih akurat.
4. Pemodelan dengan metoda lainnya sebagai pembanding.

Daftar Pustaka

Annan, A.P.; 2001: Ground - Penetrating Radar Workshop Notes, Sensors &
Software.
; 1999: Practical Processing of Ground - Penetrating Radar Data.
Annan, A.P; Davis, J. L. ; 1989 : Ground - Penetrating Radar for High Resolution
Mapping of Soil and Rock Stratigraphy, Geophysical Prospeting, Vol 37,
Hal 531-551.
Cagnoli, B.; Ulrych, T.; 2003: GPR Studies of Piroclastic Deposits, The Leading
Edge, Vol 20, Hal 242-248.
Erwin, Y.; 2004: Simulasi Perambatan Gelombang Elektromagnetik dengan Metoda
FDTD, Skripsi Departemen Fisika, Institut Teknologi Bandung.
Fagin, W. S.; 1996: Seismic Modelling of Geologic Structures. Society of
Exploration Geophysicists.
Fisher, S.C ; R.R Stewart ; H. M. Jol.; 1994 : Processing Ground - Penetrating
Radar Data, Waterloo, Canada., Hal 661 675.
Giannopoulos, A.; 2003: GPR Max 2D/ 3D Users Manual, University of
Edinburgh.
Indragiri, N.M.; 2004: Identifikasi Retakan di Terowongan Sasaksaat dengan
Metoda Ground Penetrating Radar, Skripsi Departemen Teknik Geofisika,
Intitut Teknologi Bandung.
Jol, M.; Bristow, H.; Charlie, S.; 2003: Stratigraphic Imaging of The Navajo
Sandstone Using Ground Penetrating Radar, The Leading Edge, Vol 22, Hal
882-887.
Marshall, S.V., Skitek, G.G.; 1990: Electromagnetic Concepts and Applications,
Prentice-Hall International, Inc.
Nabighian M.N.; 1996: Electromagnetic Methods in Applied Geophysics, Vol 2,
Society Of Exploration Geophysicist.
Radzevicius, J. S ; Erich D. Guy ; Jeffrey J. Daniels. ; 2000 : Pittfalls in GPR Data
Interpretation, Differentiating Stratigraphy and Buried Objects from Periodic

74

Antenna and Target Effect. Geophysical Research Letters., Vol 27, Hal
3393-3396.
Reynolds, J. M. ; 1997 : An Introduction to Applied and Environmental Geophysics.
John Willey And Sons. Chicester, England., Chapter 12, Hal 682-749.
Roberts, L.R; Daniels, I. J; 1997: Modelling near-field GPR in three dimensions
using the FDTD method, Geophysics, Vol 62, Hal 1114-1126.
Ruchimat, A.; 2004: Studi Struktur Perlapisan Pada Daerah Batas Kontak Formasi
Panosogan Waturanda DenganMenggunakan Metoda GPR, Skripsi
Departemen Teknik Geofisika, Institut Teknologi Bandung.
Sadiva, M.; 1999: Time Domain Electromagnetik, Finite-Difference Time Domain
Method, Academic Press, 151-234.
Sandmeier, K. J. ; 1998 : Reflexwtm 1.4 Reference Manual., www.ka.shuttle
de/software.
Schn, J. H., 1996, Physical properties of rock: Fundamentals and Principles of
Petrophysics: Vol. 18: England, Pergamon.
Sun, J.; R.A. Young. ; 1995 : Recognizing Surface Scattering in Ground-Penetrating
Radar Data. Geophysics, Vol 60, Hal 1378-1385.
Tetuko, J.; 1998: Analisa Hantaran Gelombang Listrik Magnet dengan Menggunakan
Metoda Finite Difference Time Domain (FDTD), Tutorial Unggulan Riset
Terpadu (RUT) IV, BPPT.
Tsili, W.; Alan, C.T; 1996: FDTD simulation of EM wave propagation in 3-D media,
Geophysics, Vol 61, Hal 110-120.

75

LAMPIRAN

76

LAMPIRAN 1
FUNGSI SUMBER SINYAL

Fungsi Gaussian

I = e ( t )

Fungsi Ricker

I = 2 e1 /( 2 ) e ( t ) (t )

dimana fungsi ini merupakan turunan pertama dari fungsi Gaussian.

diamana :

= 2 2 f 2 = amplitudo (m)
=

1
= perioda (s)
f

f = frekuensi (Hz)
t = waktu (s)
I = arus listrik (A)

77

LAMPIRAN 2
SINYAL RICKER 75 MHz

Waktu (ns)
Ricker Waveform 75 MHz

78

LAMPIRAN 3
SINYAL RICKER 150 MHz

Waktu (ns)
Ricker Waveform 150 MHz

79

LAMPIRAN 4
DATA BOR

80