Anda di halaman 1dari 17

Bedside teaching

Bedside Teaching
Bedside teaching telah lama dikenal sebagai suatu metode yang paling efektif dalam
melatih keterampilan klinis mahasiswa. Namun sangat disayangkan, penggunaan
metode ini semakin hari semakin menurun sehingga terasa adanya kecenderungan
penurunan ketajaman kemampuan keterampilan klinis mahasiswa. Oleh karena itu,
metode ini mulai kembali dikembangkan dan ditingkatkan frekuensi penggunaannya
dalam proses pembelajaran klinis.
Bedside teaching adalah suatu metode pembelajaran klinis yang melibatkan pasien,
mahasiswa, dan pembimbing klinis yang dilakukan dalam konteks klinis. Metode ini
bertujuan untuk memberikan pengalaman klinis pada konteks nyata (real setting) dan
mahasiswa dapat belajar dari pengalaman tersebut dan dari umpan balik dari
pembimbing klinik dan pasien. Metode ini dirasakan yang paling efektif dibanding
pembelajaran di kelas dalam melatih keterampilan klinis mahasiswa, seperti
berkomunikasi dengan pasien (history taking), melakukan pemeriksaan fisik,
observasi dan menerapkan etika klinis, profesionalisme, dan mengembangkan
kemampuan nalar klinis (clinical reasoning).
Bed side teaching terdiri atas tiga tahap: tahap persiapan, tahap pengalaman (patient
encounter), dan tahap refleksi. Pada tahap persiapan, mahasiswa dan pembimbing
mendiskusikan tujuan belajar yang ingin dicapai. Pada tahap persiapan, pembimbing
memastikan bahwa mahasiswa paham atas apa yang akan dihadapi pada saat interaksi
dengan pasien dan bagaimana mengoptimalkan kesempatan itu untuk mencapai tujuan
belajar.
Pada tahap pengalaman, pasien hadir bersama mahasiswa dan pembimbing. Pasien
mendapat penjelasan tentang aktivitas pembelajaran dan memberikan persetujuan.
Tahap pengalaman dapat berupa demonstrasi atau observasi.
Demonstrasi. Pembimbing klinik mendemonstrasikan suatu interaksi dengan pasien
(anamnesis, pemeriksaan fisik, manajemen pasien, dan aspek komunikasi lainnya).
Mahasiswa belajar dari demonstrasi tersebut, dan dapat dilibatkan dalam diskusi
dengan pasien. Demonstrasi direkomendasikan pada saat mahasiswa mempelajari
ketrampilan baru atau pada fase-fase awal pembelajaran. Pembimbing klniis berperan
sebagai role model (I am doing, you are watching).

Observasi. Mahasiswa mendemonstrasikan suatu interaksi dengan pasien (anamnesis,


pemeriksaan fisik, manajemen pasien, dan aspek komunikasi lainnya). Pembimbing
mengamati kinerja mahasiswa dan memberikan umpan balik. Observasi
direkomendasikan pada saat fase belajar yang lebih lanjut. Pembimbing klniis
berperan sebagai fasilitator (We are doing together atau I am watching, you are
doing).
Diskusi antara pembimbing dan mahasiswa pada tahap pengalaman harus
mempertimbangkan kepentingan dan kenyamanan pasien. Oleh karena itu, umpan
balik diberikan pada saat dibutuhkan, misalnya, pembimbing melakukan koreksi cara
palpasi hepar. Pasien juga dapat diminta untuk memberi umpan balik, misalnya pada
aspek komunikasi.
Pada tahap refleksi, mahasiswa dan pembimbing mendiskusikan pencapaian tujuan
belajar. Mahasiswa mendapatkan umpan balik, mendiskusikan hal-hal yang belum
dipahami, memperkuat pengetahuan klinis danclinical reasoning, serta merumuskan
tujuan belajar untuk bed side teaching atau aktivitas pembelajaran lain selanjutnya.
Untuk menjaga kenyamanan pasien sebaiknya tahap ini dilakukan di tempat lain tanpa
keberadaan pasien.

Referensi
Janicik, R. W., Fletcher, K. E. (2003). Teaching at the bedside: a new model. Medical
teacher, 25(2), 127-130
Kroenke, K., Omori, D. M., Landry, F. J., Lucey, C. R. (1997). Bedside teaching.
Southern medical journal, 90(11), 1069-1074
Ramani, S. (2003). Twelve tips to improve bedside teaching. Medical teacher, 25(2),
112-115.
Williams, K. N., Ramani, S., Fraser, B., Orlander, J. D. (2008). Improving bedside
teaching: findings from a focus group study of learners. Academic medicine, 83(3),
257-264

BED SIDE TEACHING


Pengertian

Bedside teaching merupakan pembelajaran kontekstual dan interaktif yang


mendekatkan pembelajar pada real clinical setting. Beside teaching merupakan metode
pembelajaran di mana pembelajar mengaplikasikan kemampuan kognitif, psikomotor
dan afektif secara terintegrasi. Sementara itu, dosen bertindak sebagai fasilitator dan
mitra pembelajaran yang siap untuk memberikan bimbingan dan umpan balik kepada
pembelajar. Di dalam proses beside teaching diperlikan kearifan fasilitator tentang
kemungkinan timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan sebagai akibat dari interaksi
antara pembelajar dan pasien.

LAPORAN PENDAHULUAN

Kegiatan : Bed Side Teaching pada pasien DM


Tempat : RSU Abdul Moeloek Bandar Lampung
Waktu

: Tanggal 14 januari 2011

A.Latar belakang
50-75% amputasi ekstremitas bawah dilakukan pada pasien-pasien yang
menderita diabetes.Sebanyak 50% dari kasus-kasus amputasi ini diperkirakan dapat
dicegah bila pasien diajarkan tindakan preventif untuk merawat kaki dan
mempraktikkanya setiap hari.

Ada tiga komplikasi diabetes yang turut meningkatkan risiko terjadinya infeksi
kaki.ketiga komplikasi tersebut adalah:

Neuropati:Neuropati sensorik menyebabkan hilangnya perasaan nyeri dan sensibilitas


tekanan,sedangkan neuropati otonom menimbulkan peningkatan

kekeringan dan pembentukan fisura pada kulit (yang terjadi akibat penurunan
perspirasi)
Penyakit vaskuler perifer:Sirkulasi ekstremitas bawah yang buruk turut menyebabkan
lamanya kesembuhan luka dan terjadinya gangren
Penurunan daya Imunitas:Hiperglikemia akan mengganggu kemampuan leukosit khusus
yang berfungsi untuk menghancurkan bakteri.Dengan demikian,pada pasien diabetes
yang tidak terkontrol akan terjadi penurunan resistensi terhadap infeksi tertentu.

1.Karakteristik pasien

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh mahasiswa program study


keperawatan Stikes Mitra Lampung pada bulan November 2010 terhadap pasien di RSU
Abdul Moeloek Bandar Lampung didapatkan data bahwa pasien dengan penyakit DM ini
sering
mengalami
tanda-tanda
seperti
pembentukan
fisura,pengeluaran
nanah,pembengkakan,kemerahan atau gangren.Penyebab dari DM ini adalah Lama
penyakit Diabetes yang melebihi 10 tahun,Usia pasien yang lebih dari 40 tahun,Riwayat
merokok,Riwayat ulkus kaki atau amputasi.

Keluhan yang dirasakan oleh pasien adalah pasien merasa tidak nyaman karena
kakinya timbul luka (infeksi) yang menyebabkan kakinya berbau tidak sedap.Hasil
observasi terlihat bahwa pasien masih mengalami ketidakmampuan melakukan
perawatan mandiri pada kakinya.Faktor ini yang menyebabkan sumber dari timbulnya
luka (infeksi) yang menyebabkan kaki pasien berbau tidak sedap.

Peserta didik melakukan bimbingan klinik ini agar masalah pada pasien DM ini segera
teratasi dan kaki pasien kembali normal seperti biasanya.

2.Data yang dikaji lebih lanjut

Data objektif yaitu mengkaji tekanan darah,denyut nadi,pemantauan kadar glukosa


darah,pemeriksaan urine untuk glukosa.
Data subjektif yaitu mengkaji keluhan-keluhan pada pasien

3.Masalah keperawatan

Potensial ketidakmampuan melakukan perawatan mandiri pada Tuan A diruang Anggrek


RSU Abdul Moeloek Bandar Lampung.

B.PROSES PEMBELAJARAN

1. Diagnosa keperawatan

Potensial

ketidakmampuan

melakukan

perawatan

mandiri

berhubungan

dengan

gangguan fisik atau faktor-faktor sosial.

2.Tujuan Umum

Peserta didik dapat memahami tentang perawatan kuku kaki (memotong kuku) pada
pasien DM.

3.Tujuan Khusus

Setelah bimbingan klinik dilakukan diharapkan peserta didik dapat:

Menyebutkan tujuan dari perawatan kuku kaki (memotong kuku) kepada pasien dan
keluarganya,pembimbing dan peserta didik lainnya.
Peserta didik dapat menyebutkan prosedur kerja yang dilakukan
Peserta didik dapat menyebutkan hasil pengkajian keperawatan atau Bed Side Teaching
4.Implementasi Tindakan Keperawatan

Metode: Pembelajaran klinik(Bed Side Teaching)


Alat

: Seperangkat alat perawatan kuku

Waktu : Selasa 12 januari 2011


Tempat: Kamar rawat pasien
Sasaran: Peserta didik,pasien serta keluarga pasien

5.Pengorganisasian

Penanggung Jawab/ Supervisi

: Rudi Anto

Pembimbing

: Riski Pebrianti

Peserta didik

: Andi Septian
Titin Sutini
Fajar Basuki
Rita Permatasari
Ni Wayan Swastika R

Pasien

: M. Nidal

Perawatan Kuku Kaki

1.Memelihara dan memotong kuku

Pengertian: Menolong merawat dan memotong kuku pasien karena tidak dapat melakukan sendiri.

Tujuan

Menjaga kebersihan kuku kaki

Mencegah timbulnya luka (infeksi)


Mencegah kaki berbau tidak sedap
Mengkaji/memonitor masalah-masalah pada kuku kaki

Dilakukan : Pada pasien yang tidak dapat melakukan sendiri

Persiapan Alat-Alat:

Baki berisi:

Pengalas (perlak kecil dan alasnya)


Gunting kuku
Handuk
Bengkok
Waskom berisi air hangat
Sabun
Sikat kuku
Sarung tangan bersih
Lotion

Prosedur:
Memotong kuku pada jari kaki:

Membawa alat kedekat pasien


Memberitahu pasien mengenai tujuan dan prosedur yang akan dilakukan
Mencuci Tangan
Memakai sarung tangan
Memasang pengalas dibawah kaki
Kaki direndam air hangat dalam waskom selama 2-3 menit untuk melunakkan kuku
Bila kuku kotor,disikat dengan sikat kuku dan sabun lalu dibilas dengan air
hangat,dikeringkan dengan handuk
Memotong kuku pada jari kaki dengan cara kuku dipotong lurus

Gunting kuku dimasukkan dalam bengkok demikian juga dengan sarung tangannya
Mengoleskan lotion pada seluruh kaki kecuali celah diantara jari-jari kaki
Bereskan alat-alat dan kembalikan ketempat semula
Cuci tangan
Mendokumentasikan perasat

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 Vol.2.
Jakarta:EGC
Tim penyusun.2007.Panduan Praktikum
Lampung:STIKES Mitra Lampung

Kebutuhan

Dasar

Manusia

1.Bandar

PEDOMAN BEDSIDE TEACHING


PRAKTEK KLINIK KEPERAWATAN

A. Pengertian
Bed side teaching merupakan metode bimbingan kepada peserta didik yang dilakukan disamping tempat
tidur klien meliputi kegiatan mempelajari kondisi klien dan asuhan keperawatan yang dibutuhkan klien.

B. Tujuan
1.
2.
3.
4.

Peserta didik mampu menguasai ketrampilan prosedural


Menumbuhkan sikap professional
Mempelajari perkembangan biologis/fisik
Melakukan komunikasi dengan pengamatan langsung

C. Prinsip pelaksanaan
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Adanya kesiapan fisik maupun psikologis dari pembimbing klinik peserta didik dan klien
Jumlah peserta didik dibatasi idealnya 5-6 orang
Diskusi di awal dan akhir demonstrasi didepan klien dilakukan seminimal mungkin
Lanjutkan dengan redemonstrasi
Kaji permasaahan peserta didik sesegera mungkin terhadap apa yang dilakukan
Kegiatan yang didemonstrasikan adalah sesuatu yang belum pernah diperoleh peserta didik
sebelumnya,atau apabila peserta didik menghadapi kesulitan penerapannya.

D. Pedoman Pelaksanaan
Pedoman pelaksanaan Bed side teaching mempergunakan Satuan Acara Pelajaran (SAP) yang
mengandung unsure-unsur :
1.
Pokok Bahasan
2.
Sub pokok bahasan
3.
Sasaran
4.
Tempat
5.
Waktu
6.
Pembimbing
7.
Tujuan instruksional Umum
8.
Tujuan instruksional khusus
9.
Materi
10. Kegiatan belajar mengajar
11. Metode
12. Media
13. Evaluasi
14. Sumber

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan metode pembelajaran di bidang kesehatan atau kedokteran dapat dikatakan


berjalan sangat lambat. Hingga tahun 1950-an, metode yang ada belum banyak beranjak dari
metode yang ada sejak zaman Hipocrates yaitu pembelajaran didaktik l dan dijalankan atas arahan
para pendidik yang menjadi narasumber utama. Metode ini disebut sebagai metode tradisional.
Hingga sekarang sebagian besar tenaga pendidik di bidang kesehatan atau kedokteran hanya
mengandalkan metode pembelajaran tradisional dan enggan untuk mengalihkan metode itu menjadi
metode alternatif yang lebih menantang dan berhasil guna. Hanya sebagian kecil tenaga pendidik
atau sekolah kedokteran baru yang banyak menggunakan metodealternatif yang terbukti efektif,
salah satunyabedside teaching.
Metode pembelajaran yang tepat efektif dan efisien sangat dibutuhkan bagi pendidikan di
bidang kedokteran atau kesehatan. Pada dasarnya luaran suatu sistem pendidikan, bukanlah
semata-mata tergantung dari metodenya, tetapi lebih kepada bagaimana suatu metode diterapkan
secara benar dan dilaksanakan oleh orang yang sangat kompeten atau profesional dalam metode
tersebut.
Bagaimanapun hebatnya metode pembelajaran bila para pengguna atau pelaksana metode
pembelajaran tidak memahami secara benar tentang konsep dan cara penggunaanya, maka
hasilnya juga tidak akan lebih efektif dari berbagai metode sebelumnya. Tiga puluh (30) tahun yang
lalu pelaksanaan bedside teachingmencapai 75 % dari waktu pembelajaran.Sedangkan pada tahun
1978 menurun hingga 16 % dan pada tahun 2007 tidak diketahui bagaimana pelaksanaannya.
Pembelajaran merupakan salah satu metode mendidik peserta didik di klinik yang memungkinkan
pendidik memilih dan menerapkan cara mendidik yang sesuai dengan objektif (tujuan), dan
karakteristik individual peserta didik berdasarkan kerangka konsep pembelajaran (Nursalam, 2002).
Maka pemilihan dan penerapan metode bimbingan klinik dalam kondisi tertentu dengan Metode
Bedside Teaching sangat dimungkinkan.
Untuk membantu meningkatkan kemampuan/perilaku profesional tersebut pada mahasiswa,
mempersiapkan/meminimalisir hal-hal yang menjadi pengaruh dalam pembelajaran klinik dan
memilih atau menerapkan metode pembelajaran klinik dengan Bedside Teaching penting untuk
dilakukan dengan harapan peserta didik dapat menguasai keterampilan secara prosedural, tumbuh
sikap profesional melalui pengamatan langsung.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian bedside teaching.
2. Untuk mengetahui tujuan bedside teaching.
3. Untuk mengetahui prinsip dasar bedside teaching.
4. Untuk mengetahui keuntungan bedside teaching.
5. Untuk mengetahui kerugian bedside teaching.
6. Untuk mengetahui pelaksanaan bedside teaching.
7. Untuk mengetahui hambatan bedside teaching.

C. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian bedside teaching?
2. Apa tujuan bedside teaching?
3. Apa prinsip dasar bedside teaching?
4. Apa keuntungan bedside teaching?
5. Apa kerugian bedside teaching?
6. Bagaimana pelaksanaan bedside teaching?
7. Apa hambatan bedside teaching?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Bedside Teaching


Bedside

teaching adalah

pembelajaran

yang

dilakukan

langsung

di depan

pasien.

Dengan metode bedside teachingmahasiswa dapat menerapkan ilmu pengetahuan, melaksanakan


kemampuan komunikasi, keterampilan klinik dan profesionalisme, menemukan seni pengobatan,
mempelajari bagaimana tingkah laku dan pendekatan dokter kepada pasien.
Bedside teaching merupakan pembelajaran kontekstual dan interaktif yang mendekatkan
pembelajaran pada real clinical setting. Bedside teachingmerupakan metode pembelajaran yang
peserta

didiknya mengaplikasikan

kemampuan

kognitif,

psikomotor

dan

afektif

secara

terintegrasi. Sementara itu, dosen bertindak sebagai fasilitator dan mitra pembelajaran yang siap
untuk memberikan bimbingan dan umpan balik kepada peserta didik. Di dalam proses bedside
teachingdiperlukan kearifan fasilitator tentang kemungkinan timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan
sebagai akibat dari interaksi antara peserta didik (mahasiswa kesehatan)dan pasien.
B. Tujuan Bedside Teaching
1. Peserta didik mampu menguasai keterampilan prosedural.
2. Menumbuhkan sikap profesional.
3. Mempelajari perkembangan biologis/fisik.
4. Melakukan komunikasi dengan pengamatan langsung.
C. Prinsip Dasar Bedside Teaching

1. Adanya kesiapan fisik maupun psikologis dari pembimbing klinik peserta didik dan klien.
2. Jumlah peserta didik dibatasi idealnya5-6 orang.
3. Diskusi di awal dan akhir demonstrasi didepan klien dilakukan seminimalmungkin.
4. Lanjutkan dengan redemonstrasi.
5. Kaji permasalahan peserta didik sesegera mungkin terhadap apa yang dilakukan.
6. Kegiatan yang didemonstrasikan adalahsesuatu yang belum pernah diperolehpeserta didik
sebelumnya,atau apabilapeserta didik menghadapi kesulitanpenerapannya.
D. Keuntungan Bedside Teaching
Dalam penelitian Williams K (Tufts Univ,Maret 2008) dihasilkan kesimpulan bahwabedside
teaching sangat baik digunakan untuk mempelajari keterampilan klinik.
Beberapa keuntungan bedside teaching antara lain :
1. Observasi langsung.
2. Menggunakan seluruh pikiran.
3. Klarifikasi dari anamnesa dan pemeriksaan fisik.
4. Kesempatan untuk membentuk keterampilan klinik mahasiswa.
5. Memperagakan fungsi :
a. Perawatan
b. Keterampilan interaktif
Bedside

teaching tidak

hanya dapatditerapkan

di

rumah

sakit,

keterampilanbedside

teaching juga dapat diterapkan dibeberapa situasi di mana ada pasien.


E. Kerugian Bedside Teaching
1. Gangguan (misalnya ada panggilan telepon/HP berdering).
2. Waktu rawat inap yang singkat.
3. Ruangan yang kecil sehingga padat dan sesak.
4. Tidak ada papan tulis.
5. Tidak dapat mengacu pada buku.
6. Pelajar lelah.
F. Pelaksanaan Bedside Teaching
Keterampilan bedside teaching dapat kita laksanakan namun sulit mencapai kesempurnaan.
Oleh karena itu perlu perencanaan yang matang agar berhasil dan efektif.
Persiapan sebelum pelaksanaanbedside teaching :
1. Persiapan
a. Tentukan tujuan dari setiap sesi pembelajaran.
b. Baca teori sebelum pelaksanaan.
2. Ingatkan mahasiswa akan tujuan pembelajaran :

a. Mendemonstrasikan pemeriksaan klinik.


b. Komunikasi dengan pasien.
c. Tingkah laku yang profesional.
3. Persiapan Pasien
a. Keadaan umum pasien baik.
b. Jelaskan pada pasien apa yang akan dilakukan.
4. Lingkungan/Keadaan
Pastikan keadaan ruangan nyaman untuk belajar :
a. Tarik gorden.
b. Tutup pintu.
c. Mintalah pasien untuk mematikan televisinya.
Pelaksanaan bedside teaching antara lain:
1. Membuat peraturan dasar
a. Pastikan setiap orang tahu apa yang diharapkan dari mereka.
b. Mencakup etika.
c. Batasi interupsi jika mungkin.
d. Batasi penggunaan istilah kedokteran saat di depan pasien.
2. Perkenalan
a. Perkenalkan seluruh anggota tim.
b. Jelaskan maksud kunjungan.
c. Biarkan pasien menolak dengan sopan.
d. Anggota keluarga diperkenankanboleh berada dalam ruangan jika pasien mengizinkan.
e. Jelaskan pada pasien atau keluarga bahwa banyak yang akan didiskusikan, mungkin tidak
diterapkan langsung pada pasien.
f.

Undang partisipasi pasien dan keluarga.

g. Posisikan pasien sewajarnya posisi tim di sekitar tempat tidur.


3. Anamnesa
a. Hindari pertanyaan tentang jenis kelamin atau ras.
b. Hindari duduk di atas tempat tidur pasien.
c. Izinkan interupsi oleh pasien dan pelajar untuk menyoroti hal penting atau untuk memperjelas.
d. Jangan mempermalukan dokter yang merawat pasien.
4. Pemeriksaan fisik
a. Minta pelajar untuk memeriksa pasien.
b. Izinkan pasien untuk berpartisipasi(mendengarkan bising, meraba hepar, dll).
c. Minta tim untuk mendemonstrasikan teknik yang tepat.
d. Berikan beberapa waktu agar pelajar dapat menilai hasil pemeriksaan yang baru pertama kali
ditemukan.
5. Pemeriksaan Penunjang

a. Jika mungkin tetap berada disamping tempat tidur.


b. Rongent, ECG bila mungkin.
c. Izinkan pasien untuk meninjau ulang dan berpartisipasi.
6. Diskusi
a. Ingatkan pasien bahwa tidak semua yang didiskusikan akan dilaksanakan, biarkan pasien tahu
kapan itu biasa dilaksanakan.
b. Hati-hati memberikan pertanyaan yang tidak dapat dijawab kepada mahasiswa yang merawat
pasien.
c. Berikan pertanyaan pertama kali pada tim yang paling junior.
d. Saya tidak tahu adalah jawaban yang tepat, setelah itu gunakan kesempatan untuk mencari
jawaban.
e. Hindari bicara yang tidak perlu.
f.

Izinkan pasien untuk bertanya sebelum meninggalkan tempat tidur.

g. Minta pasien untuk menanggapibedside teaching yang telah dilakukan.


h. Ucapkan terima kasih pada pasien.
G. Hambatan Bedside Teaching
Dalam pelaksanaan bedside teaching, ada beberapa hambatan yang mungkin timbul dalam
pelaksanaan bedside teaching:
1. Gangguan (misalnya panggilan telepon).
2. Waktu rawat inap yang singkat.
3. Ruangan yang kecil sehingga padat dan sesak.
4. Tidak ada papan tulis.
5. Tidak dapat mengacu pada buku.
6. Pelajar lelah.
Adapun beberapa hambatan dari pasien :
1. Pasien merasa tidak nyaman.
2. Menyakiti pasien, terutama pada pasien yang kondisi fisiknya tidak stabil.
3. Pasien tidak ada di tempat.
4. Pasien salah pengertian dalam diskusi.
5. Pasien tidak terbuka.
6. Pasien tidak kooperatif atau marah.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bedside

teaching adalah

pembelajaran

yang

dilakukan

langsung

di depan

pasien.

Dengan metode bedside teachingmahasiswa dapat menerapkan ilmu pengetahuan, melaksanakan


kemampuan komunikasi, keterampilan klinik dan profesionalisme, menemukan seni pengobatan,
mempelajari bagaimana tingkah laku dan pendekatan dokter kepada pasien.
Metode bedside teaching merupakan salah satu metode pembelajaran klinik yang efektif,
namun

hingga

saat

ini

publikasibedside

teaching tidak

terlalu

gencar,

sehingga

masih

banyak pusat pendidikan kesehatan yang belum menerapkannya.


B. Saran
Penulis mengharapkan agar mahasiswa dapat mengetahui dan memanfaatkan makalah ini
untuk

menambah

wawasan

tentang metode bedside

teaching sehingga

mahasiswa

dapat menerapkan ilmu pengetahuan, melaksanakan kemampuan komunikasi, keterampilan klinik


dan profesionalisme, menemukan seni pengobatan, mempelajari bagaimana tingkah laku dan
pendekatan tenaga medis (dokter, bidan, perawat, dll) kepada pasien,sehingga masyarakat dapat
menghargai profesi tenaga medis dan mereka dapat lebih mencintai profesinya dengan melihat
peran dan tanggung jawab tenaga medis sebagai tenaga pendidik nantinya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Metode Bedside Teaching.http://academiclifeinem.blogspot.com (Diakses


tanggal 01 Juli 2014).
Anonim. 2012. Bedside Teaching dalam Keperawatan. http://ksuheime.blogspot.com
(Diakses tanggal 01 Juli 2014)
Eksap, hendrik. 2011. Bedside Teaching.http://www.hendrikeksap.blogspot.com (Diakses
tanggal 01 Juli 2014).