Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK USIA SEKOLAH

Dosen pengampu: Puji Purwaningsih.,S.Kep.,Ns

Disusun oleh kelompok 4:

1. ANGGI PRASETYA ARNATA

2. DEVI AYU MAHARDIKA

3. FANTI FADLIYAH

4. FISKA YULIANI

5. IDA BAGUS PUTU SUARSAWAN

6. IMAM AGUS FAISAL

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN

STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN

JL. GEDONGSONGO CANDIREJO UNGARAN

TAHUN 2016
1. Definisi

Anak sekolah menurut definisi WHO (World Health Organization) yaitu


golongan anak yang berusia antara 7-15 tahun , sedangkan di Indonesia lazimnya
anak yang berusia 7-12 tahun.

Menurut UU No. 4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak dikutip dari


Suprajitno (2004), anak sekolah adalah anak yang memiliki umur 6 sampai 12 tahun
yang masih duduk di sekolah dasar dari kelas 1 sampai kelas 6 dan perkembangan
sesuai usianya. Anak usia sekolah adalah anak dengan usia 7 sampai 15 tahun
(termasuk anak cacat) yang menjadi sasaran program wajib belajar pendidikan 9
tahun.

Anak sekolah dasar adalah anak yang berusia 6-12 tahun, memiliki fisik lebih
kuat mempunyai sifat individual serta aktif dan tidak bergantung dengan orang tua.
Banyak ahli menganggap masa ini sebagai masa tenang atau masa latent, di mana apa
yang telah terjadi dan dipupuk pada masa-masa sebelumnya akan berlangsung terus
untuk masa-masa selanjutnya (Gunarsa, 2006).

2. Karakteristik

Anak sekolah merupakan golongan yang mempunyai karakteristik mulai


mencoba mengembangkan kemandirian dan menentukan batasan-batasan norma. Di
sinilah variasi individu mulai lebih mudah dikenali seperti pertumbuhan dan
perkembangannya, pola aktivitas, kebutuhan zat gizi, perkembangan kepribadian,
serta asupan makanan (Yatim, 2005).

Ada beberapa karakteristik lain anak usia ini adalah sebagai berikut :

a. Anak banyak menghabiskan waktu di luar rumah

b. Aktivitas fisik anak semakin meningkat

c. Pada usia ini anak akan mencari jati dirinya


Anak akan banyak berada di luar rumah untuk jangka waktu antara 4-5 jam.
Aktivitas fisik anak semakin meningkat seperti pergi dan pulang sekolah, bermain
dengan teman, akan meningkatkan kebutuhan energi. Apabila anak tidak memperoleh
energi sesuai kebutuhannya maka akan terjadi pengambilan cadangan lemak untuk
memenuhi kebutuhan energi, sehingga anak menjadi lebih kurus dari sebelumnya
(Khomsan, 2010).

Pada usia sekolah dasar anak akan mencari jati dirinya dan akan sangat mudah
terpengaruh lingkungan sekitarnya, terutama teman sebaya yang pengaruhnya sangat
kuat seperti anak akan merubah perilaku dan kebiasaan temannya, termasuk
perubahan kebiasaan makan. Peranan orangtua sangat diperlukan pada fase ini.

3. Ciri – ciri Anak Usia Sekolah

Menurut Hurlock (2002), orang tua, pendidik, dan ahli psikologis memberikan
berbagai label kepada periode ini dan label-label itu mencerminkan ciri-ciri penting
dari periode anak usia sekolah, yaitu sebagai berikut:
a. Predikat yang digunakan oleh orang tua
1. Masa yang menyulitkan
Suatu masa dimana anak tidak mau lagi menuruti perintah dan dimana ia lebih
banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebaya daripada oleh orang tua dan anggota
keluarga lainnya.
2. Masa anak tidak rapi
Suatu masa dimana anak cenderung tidak memperdulikan dan ceroboh dalam
penampilan, dan kamarnya sangat berantakan. Sekalipun ada peraturan keluarga
yang ketat mengenai kerapihan dan perawatan barang-barangnya, hanya beberapa
saja yang taat, kecuali kalau orang tua mengharuskan melakukannya dan
mengancam dengan hukuman.
4. Perkembangan perilaku anak usia sekolah

Menurut Soekidjo Notoatmojo (2003), Usia 6-12 tahun anak sudah memiliki
dunia sekolah yang lebih serius walaupun ia tetap seorang anak dengan dunia yang
khas, masa ini ditandai dengan perubahan dalam kemampuan dan perilaku.
Pertumbuhan dan perkembangan anak membuatnya lebih siap untuk belajar
dibanding sebelumnya, anak jiga mengembangkan keinginan untuk melakukan
berbagai hal dengan baik bahkan bila mungkin enggan sempurna. Karakteristik anak
usia sekolah jelas berbeda dengan anak prasekolah sehingga orang tua perlu
melakukan pendekatan yang berbeda disbanding sebelumnya ketika anak masih
duduk di Taman Kanak-Kanak. Karena waktu anak sekarang lebih banyak dilewatkan
diluar rumah sehingga orang tua khwatir anak tercemar pengaruh yang tidak
diinginkan. Perkembangan anak sekolah meliputi perkembangan kognitif dan sosial
emosi.

1. Perkembangan Kognitif
Anak usia 10-12 tahun atau praremaja sudah mulai menggunakan logikanya
Karena mereka sudah mahir berhitung dan kemampuan ini dapat diterapkan dalam
kehidupan setiap hari. Mereka juga mulai bisa diberi pengertian untuk menghemat
dengan memberitahukan secara garis besar pemasukan dan pengeluaran keluarga
setiap bulan anak juga semakin mamapu merencanakan perilaku yang terorganisir,
temasuk menerima rencana atau tujuan beraktivitas dan menghubungkan pengetahuan
serta tindakan dalam rencana tesebut.
Perkembangan kognitif pada akhir usia sekolah adalah pencapaian prestasi dan
sebagian anak juga memiliki motivasi yang amat tinggi untuk mencapai sukses dan
berusaha keras untuk mencapainya.

2. Perkembangan Sosial Emosi


Akhir usia sekolah anak sudah memiliki kemampuan untuk mengontrol
dirinya dalam berempati dan merefleksi dirinya terhadap perilaku dan interaksinya.
Menurut piaget anak usia praremaja mulai belajar melihat dunia luar dari kacamata
mereka sendiri karena masalah yang dihadapi saat anak duduk dikelas 4,5, dan 6
Sekolah Dasar pada umumnya adalah kesulitan berhubungan dengan orang dewasa
selain anggota keluarganya. Persaingan dapat memberi pengaruh positif bagi
perkembangan sosial ekonomi anak karena saat anak duduk dikelas 4-6 SD anak telah
memandang kegagalan atau keberhasilannya dengan penuh percaya diri.
Tugas perkembangan anak usia sekolah adalah industri versus inferioritas.
Selama masa ini anak berjuang untuk mendapatkan kompetensi dan keterampilan
yang penting bagi mereka untuk berfungsi sama seperti dewasa. Anak usia sekolah
yang mendapat keberhasilan positif merasa adnya perasaan berharga. Anak- anak
yang menghadapi kegagalan dapat merasakan mediokritas (biasa saja) atau perasaan
tidak berharga yang dapat mengakibatkan menarik diri dari sekolah dan sebaya
(Potter&Perry, 2005).

Menurut Potter & Perry dalam buku Fundamental Keperawatan:

1. Hubungan dengan orang tua

Anak mempelajari secara bertahap bahwa orang tua kurang sempurna, mereka
dapat dikecewakan oleh orang tuanya dan berharap teman orang tuanya adalah teman
mereka. Kadang mereka percaya bahwa mereka pasti diadopsi. Mereka
mengendalikan orang tuanya untuk memberikan kasih sayang, keamanan, bimbingan
dan asuhan yang mutlak.

2. Hubungan dengan saudara kandung

Usia sekolah tampak saling merasa asing dengan saudaranya di rumah


meskipun mereka adalah pembela saudaranya yang paling baik dirumah. Anak yang
lebih kecil kadang mengidolakan saudara kandung yang lebih besar dan akhirnya
sering terjadi persaingan. Anak yang lebih besar mungkin iri pada perhatian yang
diberikan pada saudara kandungnya yang lebih kecil dan sedikit merayu dan kadang-
kadang kasar.

3. Hubungan dengan kawan sebaya

Selama tahap primer (6-7 tahun) anak laki-laki dan perempuan bersama
bersaing, bergantung pada siapa yang bersedia dan tertarik. Sekitar usia 8 tahun
kelompok sosial dengan kawan sebaya berjenis kelamain sama mulai terbentuk
“Geng” ini membuat anak menyatakan kemandirian mereka dari peran orang tua dan
membuat kode atau bahasa rahasia dan perilaku mereka sendiri. Periode seringkali
mengarah pada masyarakat rahasia dimasa kanak-kanak.
4. Konsep diri

Perasaan anak terhadap kemampuan penguasaan tugas merupakan elemen


kunci dalam membentuk harga diri. Anak perlu mendapatkan umpan balik positif dari
guru dan orang tua terhadap usahanya. Sangat penting bagi anak untuk
mengembangkan keterampilan sedikitnya dalam satu area seperti membaca, musik,
atau berenang.

Adapun tugas perkembangan anak usia sekolah:

Tugas–tugas perkembangan anak sekolah dasar menurut Havighurst dalam Hurlock


(2002) adalah sebagai berikut :
1. Mempelajari ketrampilan fisik yang dipelukan untuh permainan-permaianan yang
umum
2. Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai mahluk yang sedang
tumbuh
3. Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya
4. Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepat
5. Mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar untuk membaca, menulis dan
berhitung
6. Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari
7. Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, tata dan tingkatan nilai
8. Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok social dan lembaga-lembaga
9. Mencapai kebebasan pribadi
5. Masalah Anak Usia Sekolah
Menurut Suprajitno (2004) masalah–masalah yang sering terjadi pada anak
usia ini meliputi bahaya fisik dan psikologi antara lain:
1. Bahaya fisik
a. Penyakit
Penyakit infeksi pada usia ini jarang sekali terjadi, penyakit
yang sering ditemui adalah penyakit yang berhubungan dengan
kebersihan diri anak.
b. Kegemukan
Kegemukan terjadi bukan karena adanya perubahan pada
kelenjar tapi akibat banyaknya karbohidrat yang dikonsumsi sehingga
anak kesulitan mengikuti kegiatan bermain, sehingga kehilangan
kesempatan untuk mencapai ketrampilan yang penting untuk
keberhasilan sosial.
c. Kecelakaan
Kecelakaan terjadi akibat keinginan anak untuk bermain yang
menghasilkan ketrampilan tertentu.
d. Kecanggungan
Pada masa ini anak mulai membandingkan kemampuannya dengan
teman sebaya bila muncul perasaan tidak mampu dapat menjadi dasar
untuk rendah diri.
e. Kesederhanaan
Kesederhanaan sering dilakukan oleh anak-anak pada masa
apapun. Orang yang lebih dewasa memandangnya sebagai perilaku
yang kurang menarik, sehingga anak menafsirkan sebagai penolakan
yang dapat mempengaruhi perkembangan konsep diri pada anak.
2. Bahaya Psikologi
a. Bahaya dalam berbicara
Kesalahan dalam berbicara seperti salah ucap dan kesalahan bahasa,
cacat dalam bicara seperti gagap atau pelat, akan membuat anak menjadi sadar
diri sehingga anak hanya berbicara bila perlu saja.
b. Bahaya emosi
Anak masih menunjukkan pola-pola ekspresi emosi yang kurang
menyenangkan seperti marah yang meledak-ledak, cemburu sehingga kurang
disenangi orang lain.
c. Bahaya konsep diri
Anak mempunyai konsep diri yang ideal, biasanya merasa tidak puas
pada diri sendiri dan pada perlakuan orang lain. Anak cenderung
berprasangka dan bersikap diskriminatif dalam memperlakukan orang
lain.
d. Bahaya yang menyangkut minat
Tidak minat pada hal-hal yang dianggap penting oleh teman sebaya
dan mengembangkan.

6. Kebutuhan Anak Usia Dasar


1. Menurut Soetjiningsih (1998), anak tidak bisa memperjuangkan nasibnya sendiri,
mereka sangat lemah, mereka menderita akibat distribusi sumber daya yang tidak
merata sehingga mereka sangat tergantung bagaimana kita memberikan perhatian
khusus terhadap kebutuhan mereka, salah satu kebutuhan dasar anak antara lain
pendidikan dasar, meliputi meningkatkan kesempatan belajar untuk anak,
pendidikan dimulai sejak dini dilanjutkan dengan pendidikan dasar untuk
meningkatkan kecerdasan bangsa.
2. Menurut Nelson (1999), kebutuhan anak antara lain:
Keberhasilan atau hygiene dan sanitasi lingkungan. Hygiene merupakan
kebutuhan anak karena bila kebersihan anak kurang, maka akan mempengaruhi
tumbuh kembangnya dan rentan terhadap penyakit.

ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

1. Pengkajian yang berhubungan dengan keluarga (sesuai dengan materi askep


keluarga).
2. Pengkajian yang berhubungan dengan anak usia sekolah

a. Identitas anak

b. Riwayat kehamilan dan persalinan

c. Riwayat kesehatan bayi sampai saat ini

d. Kebiasaan saat ini (pola perilaku dan kegiatan sehari-hari)

e. Pertumbuhan dan prekembangannya saat ini (termasuk kemampuan yang telah


dicapai).

f. Pemeriksaan fisik dilengkapi dengan pengkajian fokus.

3. Hal-hal yang perlu dikaji dalam keluarga adalah:

1. Data umum, meliputi:

a. Nama kepala keluarga (KK)

b. Alamta dan nomor telepon

c. Pekerjaan KK

d. Pendidikan KK

e. Komposisi keluarga dan genogram (nama anggota keluarga, sex,


hubungan dengan KK, usia, pendidikan, status imunisasi,:BCG, polio 1-
4,DPT 1-3, Hepatitis 1-3 dan campak).

f. Tipe keluarga menjelaskan mengenai jenis tipe keluarga beserta kendala


atau masalah-masalah yang terjadi dengan jenis tipe keluarga tersebut.

g. Suku bangsa mengkaji asal suku bangsa keluarga tersebut serta


mengidentifikasi budaya suku bangsa tersebut terkait dengan kesehatan.

h. Mengkaji agama yang dianut

i. Status sosial ekonomi keluarga ditentukan oleh pendapatan baik dari KK


atau anggota keluarga lainnya.

j. Aktivitas rekreasi keluarga


2. Mengkaji riwayat dan tahap perkembangan keluarga

a. Tahap perkembangan keluarga saat ini ditentukan oleh anak tertua dari
keluarga inti.

b. Tahap perkembangan keliarga yang belum terpenuhi menjelaskan


mengenai tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh keluarga serta
kendalanya.

c. Harapan keljuarga perlu dikaji , bagimana harapan keluarga terhadap


perawat (petugas kesehatan) untuk membantu menyelesaikan masalah
kesehatan yang terjadi.

3. Mengkaji keluarga anak dengan sekolah

a. Bagaimana karakteristik teman bermain

b. Bagaimana lingkungan bermain

c. Berapa lam anak menghabiskan waktunya disekolah

d. Bagaimana stimulasi terhadap tumbang anak dan adakah sarana yang


dimilikinya

e. Bagaimana temperamen anak saat ini

f. Bagaimana pola anak jika menginginkan sesuatu barang

g. Bagaimana pola oarang tua menghadapi permintaan anak

h. Bagaimana prestasi yang dicapai anak saat ini

i. Kegiatan apa yang diikuti anak selain disekolah

j. Sudahkah memperoleh imunisasi ulangan selama di sekolah

k. Pernakah mendapat kecelakaan selama disekolah atau dirumah saat


bermain

l. Adakah penyakit yang muncul dialami anak selama masa ini

m. Adakah sumber bacaan lain selain buku sekolah dan apa jenisnya
n. Bagaimana pola anak memanfaatkan waktu luangnya

o. Bagaimana pelaksanaan tugas dan fungsi keluarga

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul terdapat dua sifat, yaitu :
1. Berhubungan dengan anak, dengan tujuan agar anak dapat tumbuh dan
berkembang secara optimal sesuai usia anak.
2. Berhubungan dengan keluarga, dengan etiologi berpedoman pada lima tugas
keluarga yang bertujuan agar keluarga memahami dan memfasilitasi
perkembangan anak.
Masalah yang dapat digunakan untuk perumusan diagnosa keperawatan yaitu:
1. Masalah aktual/risiko
a. Gangguan pemenuhan nutrisi: lebih atau kurang dari kebutuhan tubuh
b. Menarik diri dari lingkungan sosial
c. Ketidakberdayaan mengerjakan tugas sekolah
d. Mudah dan Sering marah
e. Menurunnya atau berkurangnya minat terhadap tugas sekolah yang
dibebankan
f. Berontak/menentang terhadap peraturan keluarga
g. Keengganan melakukan kewajiban agama
h. Ketidakmampuan berkomunikasi secara verbal
i. Gangguan komunikasi verbal
j. Gangguan pemenuhan kebersihan diri (akibat banyak waktu yang digunakan
untuk bermain)
k. Nyeri (akut/kronis)
l. Trauma atau cedera pada sistem integumen dan gerak

2. Potensial atau sejahtera


a. Meningkatnya kemandirian anak
b. Peningkatan daya tahan tubuh
c. Hubungan dalam keluarga yang harmonis
d. Terpenuhinya kebutuhan anak sesuai tugas perkembangannya
e. Pemeliharaan kesehatan yang optimal
3. Intervensi
1. Aktual
Perubahan hubungan keluarga yang berhubungan dengan ketidakmampuan
keluarga merawat anak yang sakit
Tujuan : Hubungan keluarga meningkat menjadi harmonis dengan dukungan
yang adekuat
Intervensi :
a. Diskusikan tentang tugas keluarga
b. Diskusikan bahaya jika hubungan keluarga tidak harmonis saat anggota
keluarga sakit
c. Kaji sumber dukungan keluarga yang ada disekitar keluarga
d. Ajarkan anggota keluarga memberikan dukungan terhadap upaya
pertolongan yang telah dilakukan
e. Ajarkan cara merawat anak dirumah
f. Rujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai kemampuan keluarga
2. Risiko/risiko tinggi
Risiko tinggi hubungan keluarga tidak harmonis berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga mengenal masalah yang terjadi pada anaknya
Tujuan : ketidakharmonisan keluarga menurun
Intervensi :
a. Diskusikan faktor penyebab ketidak harmonisan keluarga
b. Diskusikan tentang tugas perkembangan keluarga
c. Diskusikan tentang tugas perkembangan anak yang harus dijalani
d. Diskusikan cara mengatasi masalah yang terjadi pada anak
e. Diskusikan tentang alternatif mengurangi atau menyelesaikan masalah
f. Ajarkan cara mengurangi atau menyelesaikan masalah
g. Beri pujian bila keluarga dapat mengenali penyebab atau mampu
membaut alternatif
3. Potensial atau sejahtera
Meningkatnya hubungan yang harmonis antar anggota keluarga
Tujuan : dipertahankanya hubungan yang harmonis
Intervensi :
a. Anjurkan untuk mempertahankan pola komunikasi terbuka pada keluarga
b. Diskusikan cara-cara penyelesaian masalah dan beri pujian atas
kemampuannya
c. Bantu keluarga mengenali kebutuhan anggota keluarga (anak usia sekolah)
d. Diskusikan cara memenuhi kebutuhan anggota keluarga tanpa
menimbulkan masalah.
DAFTAR PUSTAKA
Soetjiningsih (1995). Tumbuh Kembang Anak. Jakarta:EGC
Friedman, marilyn M.1998.Keperawatan Keluarga : Teori dan Praktik.Jakarta:EGC
Suprajitno. (2004). Asuhan Keperawatan Keluarga: Aplikasi dalam Pratik. EGC.
Jakarta.

Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: konsep, proses & praktik
(edisi:4). Jakarta. EGC