Anda di halaman 1dari 8

Keutamaan Pertama :

1. Surat Al Ikhlas Setara dengan Tsulutsul Quran ?


Hal ini berdasarkan hadits :



) (

Dari Abu Said (Al Khudri) bahwa seorang laki-laki mendengar seseorang membaca dengan
berulang-ulang Qul huwallahu ahad. Tatkala pagi hari, orang yang mendengar tadi
mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian tersebut
dengan nada seakan-akan merendahkan surat al Ikhlas. Kemudian Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam bersabda, Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surat ini
sebanding dengan sepertiga Al Quran. (HR. Bukhari no. 6643)
[Ada yang mengatakan bahwa yang mendengar tadi adalah Abu Said Al Khudri, sedangkan
membaca surat tersebut adalah saudaranya Qotadah bin Numan.]
Begitu juga dalam hadits:
. - -
) ( .
Dari Abu Darda dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau shallallahu alaihi wa sallam
bersabda, Apakah seorang di antara kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al
Quran dalam semalam? Mereka mengatakan, Bagaimana kami bisa membaca seperti Al
Quran? Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Qul huwallahu ahad itu
sebanding dengan sepertiga Al Quran.
(HR. Muslim no. 1922)
An Nawawi mengatakan, dalam riwayat yang lainnya dikatakan :
Sesungguhnya Allah membagi Al Quran menjadi tiga bagian. Lalu Allah menjadikan surat
Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash) menjadi satu bagian dari 3 bagian tadi.
Lalu Al Qodhi mengatakan bahwa Al Maziri berkata,
Dikatakan bahwa maknanya adalah Al Quran itu ada tiga bagian yaitu membicarakan (1)
kisah-kisah, (2) hukum, dan (3) sifat-sifat Allah.
Sedangkan surat Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash) ini berisi pembahasan mengenai sifatsifat Allah. Oleh karena itu, surat ini disebut sepertiga Al Quran dari bagian yang ada. (Syarh
Shohih Muslim, 6/94)
Apakah Surat Al Ikhlas bisa menggantikan sepertiga Al Quran?
Maksudnya adalah apakah seseorang apabila membaca Al Ikhlas sebanyak tiga kali sudah
sama dengan membaca satu Al Quran 30 juz?
[Ada sebagian orang yang meyakini hadits di atas seperti ini.]
Jawabannya:
Tidak. Karena ada suatu kaedah: Sesuatu yang bernilai sama, belum tentu bisa
menggantikan.

Itulah surat Al Ikhlas. Surat ini sama dengan sepertiga Al Quran, namun tidak bisa
menggantikan Al Quran. Salah satu buktinya adalah apabila seseorang mengulangi surat ini
sebanyak tiga kali dalam shalat, tidak mungkin bisa menggantikan surat Al Fatihah (karena
membaca surat Al Fatihah adalah rukun shalat, pen). Surat Al Ikhlas tidak mencukupi atau
tidak bisa menggantikan sepertiga Al Quran, namun dia hanya bernilai sama dengan
sepertiganya.
Bukti lainnya adalah seperti hadits :







)
Barangsiapa mengucapkan (
sebanyak sepuluh kali, maka dia seperti memerdekakan emat budak keturunan Ismail. (HR.
Muslim no. 7020)
Pertanyaannya : Apakah jika seseorang memiliki kewajiban kafaroh, dia cukup membaca
dzikir ini?
Jawabannya :
Tidak cukup dia membaca dzikir ini. Karena sesuatu yang bernilai sama belum tentu bisa
menggantikan.
(Diringkas dari Syarh Al Aqidah Al Wasithiyyah 97-98, Tafsir Juz Amma 293)
Keutamaan Kedua :
Membaca Al-Ikhlas 10x menyebabkan Allah membangunkan rumah di surga
Barang siapa membaca surah al Ikhlash hingga selesai 10x, maka Allah membangunkan
baginya sebuah rumah di surga.
[HR. Ahmad]
Keutamaan Ketiga:
Membaca surat Al Ikhlash sebab mendapatkan kecintaan Allah
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb telah menceritakan
kepada kami pamanku yaitu Abdullah bin Wahb, telah menceritakan kepada kami Amru bin
Harits dari Sa'id bin Abu Hilal bahwa Abu Rijal Muhammad bin Abdurrahman, telah
menceritakan kepadanya dari ibunya Amrah binti Abdurrahman, saat itu ia berada di rumah
Aisyah, isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengutus seorang lelaki dalam suatu sariyyah (pasukan khusus yang
ditugaskan untuk operasi tertentu). Laki-laki tersebut ketika menjadi imam shalat bagi para
sahabatnya selalu mengakhiri bacaan suratnya dengan "QUL HUWALLAHU AHAD." Ketika
mereka pulang, disampaikan berita tersebut kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,
maka beliau bersabda:
"Tanyakanlah kepadanya kenapa ia melakukan hal itu?" Lalu mereka pun menanyakan
kepadanya. Ia menjawab,
"Karena didalamnya terdapat sifat Ar Rahman, dan aku senang untuk selalu membacanya."
Mendengar itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Beritahukanlah kepadanya bahwa Allah Ta'ala juga mencintainya."


(HR. Bukhari)
Ibnu Daqiq Al Ied menjelaskan perkataan Nabi shallallahu alaihi wa sallam Kabarkan
padanya bahwa Allah mencintainya. Beliau mengatakan, Maksudnya adalah bahwa sebab
kecintaan Allah pada orang tersebut adalah karena kecintaan orang tadi pada surat Al Ikhlash
ini. Boleh jadi dapat kitakan dari perkataan orang tadi, karena dia menyukai sifat Rabbnya,
ini menunjukkan benarnya itiqodnya (keyakinannya terhadap Rabbnya). (Fathul Bari)
Faedah dari hadits di atas:
Ibnu Daqiq Al Ied menjelaskan, Orang tadi biasa membaca surat selain Al Ikhlash lalu
setelah itu dia menutupnya dengan membaca surat Al Ikhlash (maksudnya: setelah baca Al
Fatihah, dia membaca dua surat, surat yang terakhir adalah Al Ikhlash, pen). Inilah yang dia
lakukan di setiap rakaat. Kemungkinan pertama inilah yang nampak (makna zhohir) dari
hadits di atas. Kemungkinan kedua, boleh jadi orang tadi menutup akhir bacaannya dengan
surat Al Ikhlash, maksudnya adalah surat Al Ikhlas khusus dibaca di rakaat terakhir. Kalau
kita melihat dari kemungkinan pertama tadi, ini menunjukkan bolehnya membaca dua surat
(setelah membaca Al Fatihah) dalam satu rakaat. Demikian perkataan Ibnu Daqiq. (Fathul
Bari)
Lantas apakah perbuatan orang tersebut perlu dicontoh?
Jawabannya, para ulama (semacam Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin) memberi
penjelasan bahwa perbuatan semacam ini tidak perlu dicontoh karena beliau hanya
menyetujuinya saja, namun bukan bermaksud orang lain untuk mengikutinya dengan
membaca Al Ikhlas di akhir bacaan.
Inilah di antara fadhilah (keutamaan surat Al Ikhlash). Semoga bermanfaat. Ya Allah,
berikanlah kami ilmu yang bermanfaat. amien...

9 Waktu Dianjurkan Membaca Surat Al-Ikhlas


Semoga kita bisa mendapatkan keberkahan dengan mengamalkannya.
Pertama: waktu pagi dan sore hari.
Pada waktu ini, kita dianjurkan membaca surat Al Ikhlash bersama dengan mawidzatain
(surat Al Falaq dan surat An Naas) masing-masing sebanyak tiga kali. Keutamaan yang
diperoleh adalah: akan dijaga dari segala sesuatu (segala keburukan).
Dari Mu'adz bin Abdullah bin Khubaib dari bapaknya ia berkata,
. - -

)
. . .

(

Pada malam hujan lagi gelap gulita kami keluar mencari Rosululloh shollallohu 'alaihi wa
sallam untuk sholat bersama kami, lalu kami menemukannya. Beliau bersabda, "Apakah
kalian telah shalat?" Namun sedikitpun aku tidak berkata-kata. Beliau bersabda,
"Katakanlah". Namun sedikit pun aku tidak berkata-kata. Beliau bersabda, "Katakanlah".
Namun sedikit pun aku tidak berkata-kata. Kemudian beliau bersabda, "Katakanlah". Hingga
aku berkata, "Wahai Rosululloh, apa yang harus aku katakan? Rosulullaoh shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda, "Katakanlah (bacalah surat) QUL HUWALLAHU AHAD DAN
QUL A'UDZU BIRABBINNAAS DAN QUL A'UDZU BIRABBIL FALAQ ketika sore dan pagi
sebanyak tiga kali, maka dengan ayat-ayat ini akan mencukupkanmu (menjagamu) dari
segala keburukan." (HR. Abu Daud no. 5082 dan An Nasai no. 5428. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Kedua: sebelum tidur.
Pada waktu ini, kita dianjurkan membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq, An Naas dengan terlebih
dahulu mengumpulkan kedua telapak tangan, lalu keduanya ditiup, lalu dibacakanlah tiga
surat ini. Setelah itu, kedua telapak tangan tadi diusapkan pada anggota tubuh yang mampu
dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Cara seperti tadi diulang
sebanyak tiga kali.
Dari Aisyah, beliau rodhiyallohu anha berkata,
) - -
(

(
) ( )


Nabi shollallohu alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau
mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan
dibacakan Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash), Qul audzu birobbil falaq (surat Al
Falaq) dan Qul audzu birobbin naas (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan
kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala,
wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali. (HR.
Bukhari no. 5017)
Ketiga: ketika ingin meruqyah ( membaca doa dan wirid untuk penyembuhan ketika
sakit).
Bukhari membawakan bab dalam shohihnya Meniupkan bacaan ketika ruqyah. Lalu
dibawakanlah hadits serupa di atas dan dengan cara seperti dijelaskan dalam point kedua.
- -
- -

.

Dari 'Aisyah rodhiyallohu 'anha, dia berkata, "Apabila Rosululloah shollallohu 'alaihi wa
sallam hendak tidur, beliau akan meniupkan ke telapak tangannya sambil membaca QUL
HUWALLAHU AHAD (surat Al Ikhlas) dan Mu'awidzatain (Surat An Naas dan Al Falaq),
kemudian beliau mengusapkan ke wajahnya dan seluruh tubuhnya. Aisyah berkata, Ketika
beliau sakit, beliau menyuruhku melakukan hal itu (sama seperti ketika beliau hendak tidur,
-pen)." (HR. Bukhari no. 5748)
Jadi tatkala meruqyah, kita dianjurkan membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq, An Naas dengan
cara: Terlebih dahulu mengumpulkan kedua telapak tangan lalu keduanya ditiup lalu
dibacakanlah tiga surat tersebut. Setelah itu, kedua telapak tangan tadi diusapkan pada
anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan.
Cara seperti ini diulang sebanyak tiga kali.
Keempat : wirid seusai shalat ( sesudah salam).
Sesuai shalat dianjurkan membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq dan An Naas masing-masing
sekali. Dari Uqbah bin Amir, ia berkata,



Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam memerintahkan padaku untuk membaca
muawwidzaat di akhir sholat (sesudah salam). (HR. An Nasai no. 1336 dan Abu Daud no.
1523. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Yang dimaksud muawwidzaat
adalah surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar Al
Asqolani. (Fathul Bari, 9/62)
Kelima: dibaca ketika mengerjakan shalat sunnah fajar ( qobliyah shubuh).
Ketika itu, surat Al Ikhlash dibaca bersama surat Al Kafirun. Surat Al Kafirun dibaca pada
rakaat pertama setelah membaca Al Fatihah, sedangkan surat Al Ikhlash dibaca pada rakaat
kedua.
Dari Aisyah rodhiyallohu anha, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda,
} :
{ }

Sebaik-baik surat yang dibaca ketika dua rakaat qobliyah shubuh adalah Qul huwallahu
ahad (surat Al Ikhlash) dan Qul yaa ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun). (HR. Ibnu
Khuzaimah 4/273. Syaikh Al Albani mengatakan dalam Silsilah Ash Shohihah bahwa hadits
ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 646). Hal ini juga dikuatkan dengan hadits
Ibnu Masud yang akan disebutkan pada point berikut.
Keenam: dibaca ketika mengerjakan shalat sunnah badiyah maghrib.

Ketika itu, surat Al Ikhlash dibaca bersama surat Al Kafirun. Surat Al Kafirun dibaca pada
rakaat pertama setelah membaca Al Fatihah, sedangkan surat Al Ikhlash dibaca pada rakaat
kedua.
Abdullah bin Masud rodhiyallohu anhu mengatakan,
- -


) ( )

Aku tidak dapat menghitung karena sangat sering aku mendengar bacaan Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam membaca surat pada shalat dua rakaat badiyah maghrib dan
pada shalat dua rakaat qobliyah shubuh yaitu Qul yaa ayyuhal kafirun (surat Al Kafirun)
dan qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash). (HR. Tirmidzi no. 431. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Ketujuh: dibaca ketika mengerjakan shalat witir tiga rakaat.
Ketika itu, surat Al Alaa dibaca pada rakaat pertama, surat Al Kafirun pada rakaat kedua
dan surat Al Ikhlash pada rakaat ketiga.
Dari Abdul Aziz bin Juraij, beliau berkata, Aku menanyakan pada Aisyah rodhiyallohu
anha, surat apa yang dibaca oleh Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam (setelah membaca
Al Fatihah) ketika shalat witir?
Aisyah menjawab,
) ( ) - -

( )
. (
Nabi shollallohu alaihi wa sallam membaca pada rakaat pertama: Sabbihisma robbikal
ala (surat Al Alaa), pada rakaat kedua: Qul yaa ayyuhal kafiruun (surat Al Kafirun), dan
pada rakaat ketiga: Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash) dan muawwidzatain (surat Al
Falaq dan An Naas). (HR. An Nasai no. 1699, Tirmidzi no. 463, Ahmad 6/227)
Dalam riwayat yang lain disebutkan tanpa surat al muawwidzatain.
) ( ) ( - -

)
(
Dari Ubay bin Kaab, ia berkata, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam biasanya
melaksanakan sholat witir dengan membaca Sabbihisma robbikal ala (surat Al Alaa), Qul
yaa ayyuhal kafiruun (surat Al Kafirun), dan Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash) (HR.
Abu Daud no. 1423 dan An Nasai no. 1730)
Ibnu Qudamah Al Maqdisi rohimahulloh mengatakan,

.
.
Hadits Aisyah tidaklah shahih. Di dalamnya ada seorang perowi bernama Yahya bin
Ayyub, dan ia dhoif. Imam Ahmad dan Yahya bin Main telah mengingkari penambahan
muawwidzatain. (Al Mughni, 1/831)

Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan,


: :

Hadits ini shahih kecuali pada perkataan al muawwidzatain, ini sanadnya dhoif karena
Abdul Aziz bin Juraij tidak diikuti dalam haditsnya. (Tahqiq Musnad Al Imam Ahmad bin
Hambal, 6/227)
Jadi yang tepat dalam masalah ini, bacaan untuk shalat witir adalah rakaat pertama dengan
surat Al Alaa, rakaat kedua dengan surat Al Kafirun dan rakaat ketiga dengan surat Al
Ikhlas (tanpa muawwidzatain).
Namun bacaan ketika witir ini sebaiknya tidak rutin dibaca, sebaiknya diselingi dengan
berganti membaca surat lainnya. Syaikh Abdullah Al Jibrin rohimahulloh mengatakan,

Yang nampak dari hadits yang ada, hendaklah bacaan tersebut seringkali saja dibaca,
namun tidak terus-terusan. Sudah seharusnya seseorang membaca surat yang lain ketika itu
agar orang awam tidak salah paham,ditakutkan mereka malah menganggapnya sebagai
perkara yang wajib. (Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, 24/43)
Kedelapan: dibaca ketika mengerjakan shalat Maghrib ( shalat wajib) pada malam
jumat.
Surat Al Kafirun dibaca pada rakaat pertama setelah membaca Al Fatihah, sedangkan surat
Al Ikhlash dibaca pada rakaat kedua.
Dari Jabir bin Samroh, beliau mengatakan,
) ( ) :


Nabi shollallohu alaihi wa sallam biasa ketika shalat maghrib pada malam Jumat
membaca Qul yaa ayyuhal kafirun dan Qul huwallahu ahad. (Syaikh Al Albani dalam
Takhrij Misykatul Mashobih (812) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Kesembilan: ketika shalat dua rakat di belakang maqom Ibrahim setelah thowaf.
Dalam hadits Jabir bin Abdillah rodhiyallohu anhu yang amat panjang disebutkan,

) ( ) : [ : ]
( ) ( ) : ( )
Lantas Nabi sholallohu alaihi wa sallam menjadikan maqom Ibrahim antara dirinya dan
Kabah, lalu beliau laksanakan shalat dua rakaat. Dalam dua rakaat tersebut, beliau
membaca Qulhuwallahu ahad (surat Al Ikhlas) dan Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surat Al
Kafirun).
Dalam riwayat yang lain dikatakan, beliau membaca Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surat Al
Kafirun) dan Qulhuwallahu ahad (surat Al Ikhlas). (Disebutkan oleh Syaikh Al Albani
dalam Hajjatun Nabi shollallohu alaihi wa sallam, hal. 56)
Semoga sajian ini bermanfaat dan bisa diamalkan. Alhmadulillahilladzi bi nimatihi
tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi wa shohbihi
wa sallam.