Anda di halaman 1dari 18

Peran Kedokteran Keluarga Dalam Menanggulangi Penyakit Tuberkulosis

Albert Chandra Wijaya


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.6, Kebon Jeruk, Jakarta Barat
Email: volt_voltics@yahoo.com
Pendahuluan
Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah.
Tuberkulosis paru (TBC) adalah penyakit infeksi pada paru yang disebabkan oleh
mycobacterium tuberkulosa. Penularan kuman dipindahkan melalui udara ketika seseorang
sedang batuk, bersin, yang kemudian terjadi droplet. Seseorang penderita TBC akan mengalami
tanda dan gejala seperti kelelahan, lesu, mual, anoreksia, penurunan berat-badan, haid tidak
teratur pada wanita, demam sub febris dari beberapa minggu sampai beberapa bulan, malam
batuk, produksi sputum mukuporolent atau disertai darah, nafas bunyi crakles (gemercik),
Wheezing (mengi), keringat banyak malam hari, dan merasa kedinginan.
Penatalaksanaan TBC dilakukan melalui kegiatan promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif. Penatalasanaan secara promotif yaitu peningkatan kesehatan diberikan pada
individu dan keluarga baik yang kontak dengan penderita TBC maupun tidak, adapun cara-cara
untuk meningkatkan kesehatan terkait dengan TBC meliputi hal-hal : menghindari factor resiko,
mengelola stress, menjaga kebersihan diri (Personal higiene), nutrisi yang seimbang, imunisasi,
pemeriksaan rutin (laboratorium).

Pendekatan Kedokteran Keluarga


Dokter Keluarga adalah tenaga kesehatan tempat kontak pertama pasien (di fasilitas/
sistem pelayanan kesehatan) untuk menyelesaikan semua masalah kesehatan yang dihadapi
tanpa memandang jenis penyakit, organologi, golongan usia, dan jenis kelamin sedini dan
sedapat mungkin, secara paripurna, dengan pendekatan holistik, bersinambung, dan dalam
koordinasi serta kolaborasi dengan profesional kesehatan lainnya, dengan menerapkan prinsip
pelayanan yang efektif dan efisien yang mengutamakan pencegahan serta menjunjung tinggi
tanggungjawab profesional, hukum, etika dan moral. Layanan yang diselenggarakannya
(wewenang) sebatas kompetensi dasar kedokteran yang diperolehnya selama pendidikan
kedokteran dasar ditambah dengan kompetensi dokter layanan primer yang diperoleh melalui
CME/ CPD terstruktur atau program spesialisasi kedokteran keluarga.
Secara lebih sederhana Dokter Keluarga dapat didefinisikan sebagai Dokter Praktik
Umum penyelenggara Pelayanan Primer Paripurna dengan pendekatan Kedokteran Keluarga.
Gelar DK adalah gelar profesi sementara gelar SpFM adalah gelar akademik professional
karena untuk memperolehnya harus melakukan riset dan menyusun tesis selain peningkatan
keterampilan klinis pelayanan primer
Pelayanan dokter keluarga merupakan salah satu upaya penyelenggaraan kesehatan
perorangan di tingkat primer untuk memenuhi ketersediaan, ketercapaian, keterjangkauan,
kesinambungan dan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Diharapkan akan mampu
mengatasi permasalahan kesehatan yang hingga sekarang belum terselesaikan karena belum
jelasnya bentuk sub sistem pelayanan kesehatan dan terkait dengan sub sistem pembiayaan
kesehatan.
Sistem dokter keluarga merupakan antisipasi perkiraan bergesernya status puskesmas
menjadi sarana umum. Tugas puskesmas adalah mengatur sanitasi dan lingkungan atau yang
bersifat Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM), sedangkan dokter keluarga menjadi private good,
dokter akan menjadi bagian dari keluarga. Kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan
yang bermutu dan terjangkau merupakan sesuatu yang esensial, dengan penyelenggaraan

pelayanan kesehatan model dokter keluarga diharapkan dokter keluarga sebagai ujung tombak
dalam pelayanan kedokteran tingkat pertama, yang dapat berkolaborasi dengan pelayanan
kedokteran tingkat kedua dan yang bersinergi dengan sistem lain.1
9 Prinsip Pelayanan Dokter Keluarga
1. Komprehensif dan holistik
2. Kontinu
3. Mengutamakan pencegahan
4. Koordinatif dan kolaboratif
5. Personal sebagai bagian integral dari keluarganya
6. Mempertimbangkan keluarga, lingkungan kerja, dan lingkungan
7. Menjunjung tinggi etika, moral dan hukum
8. Sadar biaya dan sadar mutu
9. Dapat diaudit dan dipertangungjawabkan
Tujuan pelayanan dokter keluarga secara umum dapat dibedakan atas dua macam yakni :
1.Tujuan umum
Tujuan umum pelayanan dokter keluarga pada dasarnya adalah sama dengan tujuan
pelayanan kesehatan secara keseluruhan, yakni terwujud-nya keadaan sehat bagi setiap
anggota keluarga.
2. Tujuan khusus
Tujuan khusus pelayanan dokter keluarga erat hubungannya dengan sejarah
perkembangan pelayanan dokter keluarga di satu pihak serta ciri-ciri pelayanan dokter
keluarga dipihak lain.Tujuan khusus yang dimaksud adalah terpenuhinya kebutuhan
keluarga akan pelayanan kedokteran yang lebih efektif dan efisien.

Ciri-Ciri Pelayanan Dokter Keluarga


Menurut Ikatan Dokter Indonesia (1982) Ikatan Dokter Indonesia melalui Muktamar ke
19 yang dilaksanakan di Surakarta pada tahun 1982 telah pula merumuskan ciri-ciri pelayanan
dokter keluarga tersebut. Ciri-ciri yang dimaksud adalah :

Yang melayani penderita tidak hanya sebagai orang-perorang, melainkan sebagai anggota
satu keluarga dan bahkan sebagai anggota masyarakat sekitarnya.

Yang memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan memberikan perhatian


kepada penderita secara lengkap dan sempurna, jauh melebihi jumlah keseluruhan
keluhan yang disampaikan.

Yang

mengutamakan

kesehatan

seoptimal

pelayanan
mungkin,

kesehatan
mencegah

guna

meningkatkan

timbulnya

derajat

penyakit

dan

mengenal serta mengobati penyakit sedini mungkin.

Yang

mengutamakan

pelayanan

kesehatan

sesuai

dengan

kebutuhan

dan berusaha memenuhi kebutuhan tersebut sebaik-baiknya.

Yang menyediakan dirinya sebagai tempat pelayanan kesehatan tingkat pertama dan
bertanggung jawab pada pelayanan kesehatan lanjutan.

Bentuk Prakter Dokter Keluarga


Pada tahap awalnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Debra P. Hymovich bentuk
dan wadah praktek dokter keluarga ditentukan oleh pengalaman masing-masing dokter.
Tergantung dari pengalaman hubungan pasien dokter, bentuk dan wadah yang diselenggarakan
dapat berbeda-beda. Ada yang hanya menekankan pentingnya pelayanan berobat jalan yang
diselenggarakan di tempat praktek saja, ada pula yang juga sekaligus melakukan kunjungan
rumah serta ada yang menggabungkannya dengan pelayanan rawat nginap yang biasanya
dilakukan di rumah sakit.
Pada tahap selanjutnya, berkembangan bentuk dan wadah praktek dokter keluarga mulai
terarah. Disepakati bentuk dan wadah praktek dokter keluarga yang baik, seharusnya

mencakup ketiga macam pelayanan di atas.


Dokter keluarga harus mempunyai tempat praktek yang memenuhi syarat, tempat
dimana

pelayanan

Dokter

keluarga

hubungkan
ikutsertakan

yang
harus

dokter
tenaga

menyeluruh
mempunyai

dengan

pasien,

paramedis,

dan

berkesinambungan

semacam
yang

terutama

sistim

diwujudkan
untuk

diselenggarakan.

komunikasi

yang

meng-

dengan

meng-

kunjungan

rumah

misalnya

pelayanan

yang bersifat tindak lanjut. Dokter keluarga harus mempunyai hubungan yang
baik dengan rumah sakit, tempat dimana dokter keluarga merawat sendiri para
pasiennya.

Pelayanan Dokter Keluarga


Dari kedua pengertian yang seperti ini, jelaslah bahwa pelayanan dokter keluarga
mempunyai beberapa ciri tersendiri. Ciri-ciri yang dimaksud adalah (McWhinney, 1981;
Carmichael, 1973; Hymovick and Barnards, 1973; IDI, 1982);
1. mengikatkan diri pada kebutuhan pasien secara keseluruhan, bukan pada disiplin ilmu
kedokteran, kelompok penyakit atau kiat kedokteran tertentu.
2. mengungkapkan kaitan munculnya suatu penyakit dengan pelbagai faktor yang
mempengaruhinya.
3. berorientasi pada pencegahan penyakit serta pemeliharaan kesehatan.
4. berhubungan dengan pasien sebagai anggota dari unit keluarga, dan memandang
keluarga sebagai dasar dari suatu organisasi sosial dan atau suatu kelompok fungsional
yang saling terkait.
5. memanfaatkan pendekatan menyeluruh dan memperhatikan pasien secara lengkap
dan sempurna, jauh melebihi jumlah keseluruhan keluhan yang disampaikan.
6. mengutamakan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan dan
berusaha memenuhi kebutuhan tersebut sebaik-baiknya.
7. melayani kepentingan pasien di tempat praktek, di rumah dan di rumah sakit.

Apabila pelayanan dokter keluarga yang seperti ini dapat diselenggarakan, memang akan
diperoleh banyak manfaat. Manfaat yang dimaksud antara lain (Cambridge Research Institute,
1976):
1. Akan dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit sebagai manusia seutuhnya,
bukan penanganan keluhan yang disampaikan saja,
2. Akan

dapat

diselenggarakan

pelayanan

pencegahan

penyakit

dari"terjamin

kesinambungan pelayanan yang diselenggarakan.


3. Apabila dibutuhkan pelayanan spesialis, maka pengaturannya akan lebih baik dan terarah.
4. Akan dapat diselenggarakan pelayanan kesehatan yang terpadu sehingga penanganan satu
masalah kesehatan tidak menimbulkan pelbagai masalah lainnya.
5. Jika seluruh anggota keluarga ikut serta dalam pelayanan, maka segala keterangan
tentang keluarga tersebut dapat dimanfaatkan dalam menangani masalah kesehatan yang
sedang dihadapi.
6. Akan dapat diperhitungkan pelbagai faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit,
termasuk faktor sosial dan psikologis.
7. Akan dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit dengan tatacara yang lebih
sederhana dan tidak begitu mahal dan karena itu akan meringankan biaya kesehatan. 2,3

Periode Prepatogenesis4

Faktor Agent (Mycobacterium tuberculosis)


Karakteristik alami dari agen TBC hampir bersifat resisten terhadap disifektan kimia atau
antibiotika dan mampu bertahan hidup pada dahak yang kering untuk jangka waktu yang
lama.
Pada Host,

daya

infeksi

dan

kemampuan

tinggal

sementara Mycobacterium

Tuberculosis sangat tinggi. Patogenesis hampir rendah dan daya virulensinya tergantung dosis
infeksi dan kondisi Host. Sifat resistensinya merupakan problem serius yang sering muncul

setelah penggunaan kemoterapi moderen, sehingga menyebabkan keharusan mengembangkan


obat baru.
Umumnya sumber infeksinya berasal dari manusia dan ternak (susu) yang terinfeksi. Untuk
transmisinya bisa melalui kontak langsung dan tidak langsung, serta transmisi kongenital
yang jarang terjadi.

Faktor Lingkungan
Distribusi geografis TBC mencakup seluruh dunia dengan variasi kejadian yang besar dan
prevalensi menurut tingkat perkembangannya. Penularannya pun berpola sekuler tanpa
dipengaruhi musim dan letak geografis.
Keadaan sosial-ekonomi merupakan hal penting pada kasus TBC. Pembelajaran sosiobiologis
menyebutkan adanya korelasi positif antara TBC dengan kelas sosial yang mencakup
pendapatan, perumahan, pelayanan kesehatan, lapangan pekerjaan dan tekanan ekonomi.
Terdapat pula aspek dinamis berupa kemajuan industrialisasi dan urbanisasi komunitas
perdesaan. Selain itu, gaji rendah, eksploitasi tenaga fisik, penggangguran dan tidak adanya
pengalaman sebelumnya tentang TBC dapat juga menjadi pertimbangan pencetus
peningkatan epidemi penyakit ini.
Pada lingkungan biologis dapat berwujud kontak langsung dan berulang-ulang dengan hewan
ternak yang terinfeksi adalah berbahaya.

Faktor Host
Umur merupakan faktor terpenting dari Host pada TBC. Terdapat 3 puncak kejadian dan
kematian :
1. paling rendah pada awal anak (bayi) dengan orang tua penderita,
2.paling luas pada masa remaja dan dewasa muda sesuai dengan pertumbuhan, perkembangan
fisik-mental dan momen kehamilan pada wanita,

3. puncak sedang pada usia lanjut.

Dalam perkembangannya, infeksi pertama semakin tertunda, walau tetap tidak berlaku
pada golongan dewasa, terutama pria dikarenakan penumpukan grup sampel usia ini atau tidak
terlindung dari resiko infeksi. Pria lebih umum terkena, kecuali pada wanita dewasa muda yang
diakibatkan tekanan psikologis dan kehamilan yang menurunkan resistensi. Penduduk pribumi
memiliki laju lebih tinggi daripada populasi yang mengenal TBC sejak lama, yang disebabkan
rendahnya kondisi sosioekonomi. Aspek keturunan dan distribusi secara familial sulit
terinterprestasikan dalam TBC, tetapi mungkin mengacu pada kondisi keluarga secara umum
dan sugesti tentang pewarisan sifat resesif dalam keluarga. Kebiasaan sosial dan pribadi turut
memainkan peranan dalam infeksi TBC, sejak timbulnya ketidakpedulian dan kelalaian. Status
gizi, kondisi kesehatan secara umum, tekanan fisik-mental dan tingkah laku sebagai mekanisme
pertahanan umum juga berkepentingan besar. Imunitas spesifik dengan pengobatan infeksi
primer memberikan beberapa resistensi, namun sulit untuk dievaluasi. 4

Periode Pathogenesis (Interaksi Host-Agent)4,5


Interaksi terutama terjadi akibat masuknya Agent ke dalam saluran respirasi dan pencernaan Host.
Contohnya Mycobacterium melewati barrier plasenta, kemudian berdormansi sepanjang hidup individu,
sehingga tidak selalu berarti penyakit klinis. Infeksi berikut seluruhnya bergantung pada pengaruh
interaksi dari Agent, Host dan Lingkungan.

Basil TB yang masuk ke dalam paru melalui bronkhus secara langsung dan pada
manusia yang pertama kali kemasukan disebut primary infection. Infeksi pertama
(primer) terjadi ketika seseorang pertama kali kemasukan basil atau kuman TB
umumnya tidak terlihat gejalanya. Dan sebagian besar orang, berhasil menahan serangan
kuman tersebut dengan cara melakukan isolasi dengan cara dimakanmacrophages, dan
dikumpulkan pada kelenjar regional disekitar hilus paru. Infeksi dimulai saat kuman TB
berhasil berkembang biak dengan cara membelah diri di paru yang menyebabkan

peradangan di dalam paru. Oleh sebab itu, kemudian disebut sebagai kompleks primer.
Pada saat terjadi infeksi, kuman masuk hingga pembentukan kompleks primer sekitar 46 minggu. Adanya infeksi dapat diketahui dengan reaksi positif pada tes tuberkulin.5
Biasanya hal tersebut terjadi pada masa kanak-kanak dibawah umur 1 tahun.
Apabila gagal melakukan containment kuman, maka kuman TB masuk melalui aliran
darah dan berkembang, maka timbulah peristiwa klinik yang disebut TB milier. Bahkan
kuman bisa dibawa aliran darah ke selaput otak yang disebut meningitis radang selaput
otak yang sering menimbulkan sequele gejala sisa yang permanen.5
Secara umum tubuh memiliki kemampuan perlawanan, kecuali pada penderita
AIDS/HIV. Di Amerika 95% anak-anak tubuhnya mampu melawan kuman TB. Di
negara-negara yang mempunyai status gizi buruk, angka tersebut jauh lebih besar. Ada
ukuran Annual Risk of Tubercolosis Infection (ARTI). Indonesia tercatat memiliki ARTI
sebesar 1-2%, sedangkan Eropa memiliki ARTI 0,1-0,3%. Pada ARTI sebesar 1% berarti
setiap tahun diantara 1000 orang penduduk akan ada 10 orang yang tertular. Sebagian
besar yang tertular belum tentu berkembang menjadi TB klinis, hanya sekitar 10%
menjadi TB klinis. Dengan ARTI sebesar 1% maka diantara 100.000 penduduk, rata-rata
1000 orang penderita TB baru setiap tahunnya, dimana 100 orang diantaranya adalah
BTA positif.5
Sebagian besar dari kuman TB yang beredar dan masuk ke dalam paru orangorang yang tertular mengalami fase atau menjadi dormant dan muncul bila kondisi tubuh
mengalami penurunan kekebalan, gizi buruk, atau menderita HIV/AIDS (Achmadi,
2005). TB secara teoritis menyerang berbagai organ, namun terutama menyerang organ
paru. Sedangkan pada paru-paru tempat yang paling disukai atau tempat yang sering
terkena

adalah apical

pasterior.

Hal

ini

disebabkan

karenaMycrobacterium

tubercolocis bersifat aerobik, sedangkan pada daerah tersebut adalah bagian paru-paru
yang banyak memiliki oksigen.5

Manifestasi Klinis6
Gejala Sistemik Tuberkulosis
Secara sistemik pada umumnya penderita akan mengalami demam. Demam berlangsung
pada sore dan malam hari, disertai keringat dingin meskipun tanpa aktifitas, kemudian kadang
hilang. Gejala ini akan timbul lagi beberapa bulan kemudian seperti demam, influenza biasa, dan
kemudian seolah-olah sembuh tidak ada demam.
Gejala lain adalah malaise (perasaan lesu) bersifat berkepanjangan kronis, disertai rasa
tidak fit, tidak enak badan, lemah, lesu, pegal-pegal, nafsu makan berkurang, badan semakin
kurus, pusing, serta mudah lelah. Gejala sistemik ini terdapat baik pada TB Paru maupun TB
yang menyerang organ lain.6
Gejala Respiratorik Tuberkulosis
Adapun gejala repiratorik atau gejala saluran pernafasan adalah batuk. Batuk bisa
berlangsung secara terus-menerus selama 3 mingggu atau lebih. Hal ini terjadi apabila sudah
melibatkan brochus. Gejala respiratorik lainnya adalah batuk produktif sebagai upaya untuk
membuang ekskresi peradangan berupa dahak atau sputum. Dahak ini kadang bersifat purulent.
Kadang gejala respiratorik ini ditandai dengan batuk berdarah. Hal ini disebabkan karena
pembuluh darah pecah, akibat luka dalam alveoli yang sudah lanjut. Batuk darah inilah yang
sering membawa penderita berobat ke dokter. Apabila kerusakan sudah meluas, timbul sesak
nafas dan apabila pleura sudah terkena, maka disertai pula dengan rasa nyeri pada dada.6
Epidemiologi
Dalam hal mempertimbangkan kepekaan seseorang terhadap tuberkulosis, ada dua faktor
yang harus dipikirkan.
Pertama, adalah resiko mendapatkan infeksi dan yang lain adalah resiko timbulnya
penyakit klinik sesudah infeksi terjadi. Resiko mendapatkan infeksi dan timbulnya penyakit
klinik tergantung dari adanya infeksi di dalam masyarakat, kepadatan penduduk, keadaan sosial
dari populasi tersebut dari tidak tepatnya perawatan medis. Sumber penularan adalah penderita
tuberkulosis BTA positif yang dapat menularkan kepada orang yang berada di sekelilingnya,
terutama kontak erat. Resiko penularan setiap tahun (annual risk of tuberculosis infection: ARTI)

di Indonesia dianggap cukup tinggi dan bervariasi antara 1-2%. Pada daerah dengan ARTI
sebesar 1% berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk, 10 orang akan terinfeksi. Sebagian
besar dari orang yang terinfeksi tidak akan menjadi penderita tuberculosis hanya 10% yang akan
terinfeksi. Hal ini dipengaruhi daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya karena gizi buruk atau
HIV/AIDS.7
WHO memperkirakan bahwa sepertiga populasi dunia, kurang lebih sejumlah 2 bilyun
orang terinfeksi dengan Mycobacterium tuberculosis. Angka infeksi tertinggi di Asia Tenggara,
Cina, India dan Amerika Latin. Data yang dilaporkan WHO Indonesia menempati urutan nomor
tiga setelah india dan cina yaitu dengan angka 1,7 juta orang Indonesia, menurut teori apabila
tidak diobati, tiap satu orang penderita tuberkulosis akan menularkan pada sekitar 10 sampai 15
orang dan cara penularannya dipengaruhi berbagai factor.15
Tuberkulosis terutama menonjol di populasi yang mengalami stress nutrisi jelek, penuh
sesak, perawatan kesehatan yang tidak memadai, dan perpindahan tempat. 8
Pada orang dewasa dua pertiga kasus terjadi pada laki-laki, tetapi ada sedikit dominasi
tuberculosis pada wanita di masa anak-anak. Pada anak, kebanyakan terinfeksi dengan
Mycobacterium tuberculosis di rumahnya dari seseorang yang dekat padanya. Orang dewasa
yang terinfeksi virus HIV dengan tuberculosis dapat menularkan Mycobacterium tuberculosis ke
anak, beberapa darinya berkembang penyakit tuberculosis, dan anak dengan infeksi HIV
bertambah resiko berkembang tuberculosis sesudah infeksi. 8,9

Upaya Preventive
Banyak cara yang dapat dilakukan guna mencegah dan menghindari TBC dari anak-anak
salah satunya yaitu dengan cara sebagai berikut:
Vaksinasi BCG
Pemberian BCG meninggikan daya tahan tubuh terhadap infeksi oleh basil tuberkulosis
yang virulen. Imunitas timbul 6-8 minggu setelah pemberian BCG. Pemberian BCG juga dapat
mengurangi morbiditas sampai 74%. BCG biasanya diberikan pada anak dengan uji tuberkulin
negatif dan biasanya uji tuberkulin diulangi 6 minggu setelah BCG dan kalau masih negatif
dianjurkan untuk mengulangi BCG. Tetapi sekarang dianjurkan pemberian pemberian BCG
secara langsung karena dapat menghemat ongkos dan mencangkup lebih banyak anak.10

Jika setelah di vaksin BCG hasil tes tuberkulin positif menandakan bahwa adanya kuman
TBC yang resisten. Kerugian BCG adalah bahwa vaksin ini dapat menimbulkan hipersensitivitas
terhadap tuberkulin yang dapat mengganggu nilai tes tuberkulin yang dilakukan untuk
mendiagnosis tuberkulosis.11
Kemoprofilaksis
Sebagai kemoprofilaksis biasanya dipakai INH dengan dosis 5-10mg/kgbb/hari selama 23 bulan.4 Kemoprofilaksis primer diberikan untuk mencegah terjadinya infeksi pada anak
dengan kontak tuberkulosis dan uji tuberkulin masih negatif yang berarti masih belum terkena
infeksi atau masih dalam inkubasi. Kemoprofilaksis sekunder diberikan untuk mencegah
berkembangnya infeksi menjadi penyakit.10
Diberikan pada anak dengan tes tuberkulin positif, tanpa gejala klinis, dan foto paru
normal, tetapi memiliki faktor risiko menjadi TB aktif. Golongan ini adalah balita, anak yang
mendapat pengobatan kortikosteroid atau imunosupresan lain, penderita penyakit keganasan,
infeksi virus (HIV dan morbili), gizi buruk, masa akil balik, atau infeksi baru Tb, konversi uji
tuberkulin kurang dari 12 bulan. Obat yang digunakan adalah INH 5-10 mg/kgbb/hari.12
Penemuan Anak Yang Terinfeksi
Prioritas tinggi setiap program pengendalian tuberkulosis harus berupa penemuan kasus
dan pengobatan, yang mengganggu penyebaran infeksi kontak dekat. Anak dan orang dewasa
yang berkontak dekat dengan orang dewasa yang dicurigai menderita tuberkulosis paru infeksius
harus diuji kulit tuberkulin dan diperiksa sesegera mungkin. Anak terutama muda harus
mendapatkan prioritas tinggi selama pengamat-kontak karena resiko infeksinya tinggi dan pada
mereka lebih mungkin berkembang bentuk tuberkulosis yang berat.13

Lain-lain
1. Menutup mulut pada waktu batuk dan bersin
2. Meludah hendaknya pada tempat tertentu yang sudah diberi desinfektan (air sabun)

3.

Imunisasi BCG diberikan pada bayi berumur 3-14 bulan

4. Menghindari udara dingin


5. Mengusahakan sinar matahari dan udara segar masuk secukupnya ke dalam tempat tidur
6. Menjemur kasur, bantal,dan tempat tidur terutama pagi hari
7. Semua barang yang digunakan penderita harus terpisah begitu juga mencucinya dan tidak
boleh digunakan oleh orang lain
8. Makanan harus tinggi karbohidrat dan tinggi protein.
9. menciptakan lingkungan rumah yang sehat, menyediakan tempat pembuangan ludah bagi
penderita dan menghindari perilaku merokok.

Program Pengendalian TBC Puskesmas


Pedoman Nasional Pemberantasan TB
Dalam perkembangannya dalam upaya ekspansi penanggulangan TB, kemitraan global
dalam penanggulangan TB mengembangkan strategi sebagai berikut:
1. Mencapai, mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS
2. Merespon masalah TB-HIV, MDR-TB dan tantangan lainnya
3. Berkontribusi dalam penguatan system kesehatan
4. Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintahmaupun swasta
5. Memberdayakan pasien dan masyarakat
6. Melaksanakan dan mengembangkan riset
Adapun kegiatan P2TB dilaksanakan dengan cara penemuan dan pengobatan pasien,
perencanaan, pemantauan dan evaluasi, peningkatan SDM (pelatihan, supervisi),
penelitian, promosi kesehatan, dan kemitraan dengan lintas sector.

Tujuan Dan Target


Tujuan P2TB adalah menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB, memutuskan
rantai penularan, serta mencegah terjadinya multidrug resistance (MDR),sehingga TB

tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat.

Kebijakan
a. Penanggulangan TB di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan azas desentralisasi
dengan Kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program yang meliputi:
perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi sertamenjamin ketersediaan
sumber daya (dana, tenaga, sarana dan prasarana)
b. Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS
c. Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program
penanggulangan TB
d. Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan mutu
pelayanan, kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu
memutuskan rantai penularan dan mencegahterjadinya MDR-TB
e. Penemuan dan pengobatan dalam rangka penanggulangan TBdilaksanakan oleh
seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK), meliputiPuskesmas, Rumah Sakit
Pemerintah dan swasta, Rumah Sakit Paru(RSP), Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru
(BP4), Klinik Pengobatanlain serta Dokter Praktek Swasta (DPS)
f. Penanggulangan TB dilaksanakan melalui promosi, penggalangan kerjasama dan
kemitraan dengan program terkait, sektor pemerintah, non pemerintah dan swasta
dalam wujud Gerakan Terpadu NasionalPenanggulangan TB (Gerdunas TB)
g. Peningkatan kemampuan laboratorium diberbagai tingkat pelayananditujukan untuk
peningkatan mutu pelayanan dan jejaring
h. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penanggulangan TB diberikankepada pasien
secara cuma-cuma dan dijamin ketersediaannya
i. Ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dalam jumlah yangmemadai untuk
meningkatkan dan mempertahankan kinerja program
j. Penanggulangan TB lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin dankelompok
rentan terhadap TB
k. Pasien TB tidak dijauhkan dari keluarga, masyarakat dan pekerjaannya
l. Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam Millennium Development
Goals (MDGs)
Strategi

a. Peningkatan komitmen politis yang berkesinambungan untuk menjamin ketersediaan


sumberdaya dan menjadikan penanggulangan TB suatu prioritas
b. Pelaksanaan dan pengembangan strategi DOTS yang bermutu dilaksanakan secara
bertahap dan sistematis
c. Peningkatan kerjasama dan kemitraan dengan pihak terkait melaluikegiatan advokasi,
komunikasi dan mobilisasi social
d. Kerjasama dengan mitra internasional untuk mendapatkan komitmen dan bantuan sumber
daya.
e. Peningkatan kinerja program melalui kegiatan pelatihan dan supervisi, pemantauan
dan evaluasi yang berkesinambungan14

Daftar Pustaka
1. Moeloek, A.F (2005) IDI usulkan pembentukan dokter keluarga. Tempo Interaktif
{internet}: http://www.JPKM.com ( 26 Juni 2007).
2. Azwar Azrul. Praktek dokter keluarga. In: Menuju pelayanan kesehatan yang lebih
bermutu. Jakarta: Yayasan Penerbitan Ikatan Dokter Indonesia; 1996. hal: 115-49
3. Azwar Azrul. Pengantar administrasi kesehatan. Edisi ke-3. Jakarta: Binarupa Aksara;
2006. hal:104-19
4. Universitas Indonesia (FKUI). 2004. Kuliah Tuberculosis. Diunduh dari http://ui.org/
fk/kuliah/respirasi/tuberculosis.htm. 5 juli 2015.
5. Chin J (Ed), Kandun IN (Editor Penterjemah). Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Jakarta:
Infomedika. 2006.
6. Achmadi, Umar Fahmi. Manajemen penyakit berbasis wilayah. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
2005.

7. Santoso, M. Masalah Pengelolaan TBC Paru di Indonesia. Departemen Penyakit Dalam


FK UKRIDA. RSUD Koja Jakarta. 2006.
8. Amin Z, Bahar A. Tuberkulosis paru. Edisi IV. Pusat Penerbitan IPD FKUI. 2006.
9. Anonim. Tuberculosa Pada Anak. Maret 2006. Diunduh dari http://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=epidemiologi+tbc+pada+anak&source=web&cd=3&ved=0CFMQFjAC&
url=http%3A%2F%2Flast3arthtree.files.wordpress.com%2F2009%2F02%2Ftb-padaanak.pdf&ei=cVvcT_G7BYqIrAfk4Im9DQ&usg=AFQjCNEbuKhFp2Jr4hgvdBYTYC7P
5lmMOg&cad=rja. 5 juli 2015.
10. Hasan R, Alatas H. Buku kuliah 2 ilmu kesehatan anak. Cetakan 9. Jakarta: Bagian Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007
11. Rudolph A. M. Buku ajar pediatri rudolph. Jilid 2. Edisi 20. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2006.
12. Mansjoer A. Kapita selekta kedokteran. Jilid 1. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Media
Aesculapius; 2000

13. Henry F, Gomez, Cleary TG . Nelson ilmu kesehatan anak. Edisi 15. Volume 2. Jakarta:
EGC; 2000
14. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI. 2002
15. Dphill C D. global epidemiology of tuberculosis journal. 18 maret 2006. Diunduh dari :
http://www.sciencedirect.com/science?_ob=PdfExcerptURL&_imagekey=1-s2.0S0140673606683840main.pdf&_piikey=S0140673606683840&_cdi=271074&_orig=article&_zone=centerpa
ne&_fmt=abst&_eid=1-s2.0S0140673606683840&_user=12975512&md5=167de48174876ca24c0733e1b1b259eb&i
e=/excerpt.pdf. 5 juli 2015