Anda di halaman 1dari 9

PENENTUAN TINGKAT KEBISINGAN LINGKUNGAN

MENGGUNAKAN ALAT SOUND LEVEL METER DI SEKITAR


GEDUNG GRAHA WIDYA WISUDA
DETERMINATION OF THE LEVEL OF ENVIRONMENTAL
NOISE USING SOUNDLEVEL METER AROUND BUILDING
GRAHA WIDYA WISUDA
Adhitya Wibawa1, Fadhly Zul Akmal1, Gita Anistya Sari1, M Hafiz Adilla1, Ina Rotulhuda2
1) Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor, Jln.
Kamper Kampus IPB, Dramaga, 16680
Email:
adit.ap.bkn@gmail.com1,
akmalfadhly@gmail.com1,
1
1
Anistya72@yahoo.o.id , hafizadillaa@gmail.com
2) Departemen Geofisika dan Meteorologi, Institut Pertanian Bogor, Jln. Meranti
Kampus IPB, Dramaga, 16680
Email: Rotulhuda.ina@gmail.com2
Abstrak :Polusi tidak hanya terjadi pada udara, tanah, maupun air, tetapi juga termasuk polusi suara
yang berupa kebisingan. Kebisingan diartikan sebagai suara yang tidak diinginkan atau suara keras
yang tidak menyenangkan. Kebisingan dapat memberikan dampak berbahaya bagi kesehatan yaitu
dapat menyebabkan tuli, gangguan saraf, gangguan mental, masalah jantung, tekanan darah tinggi,
pusing dan bahkan insomnia. Penelitian terhadap pengukuran tingkat kebisingan dilakukan di sekitar
Gedung Graha Widya Wisuda. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat kebisingan
lingkungan dan membandingkannya dengan baku mutu tingkat kebisingan yang dilakukan di sekitar
Gedung Graha Widya Wisuda (GWW) dengan metode sederhana, yaitu pengukuran tingkat kebisingan
menggunaka alat berupa Sound Level Meter (SLM) yang dilakukan selama 10 menit dan waktu
pembacaan setiap 5 detik. Hasil pengukuran menunjukan bahwa tingkat kebisingan setiap 5 detik
nilainya mengalami fluktuasi dan paling tinggi mencapai 96.7 dB. Sedangkan hasil perhitungan 24
jam, tingkat kebisingan mencapai 90.5 dB. Nilai ini melebihi baku mutu berdasarkan Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 48 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan, dan
menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 718 tahun 1987 tentang kebisingan, lokasi pengukuran ini
seharusnya masuk zona C, antara lain perkantoran, pertokoan, perdagangan, pasar, dengan
kebisingan sekitar 50 60 dB. Sehingga pada kondisi ini diperlukan penanganan yang dapat
menurunkan tingkat kebisingan, salah satunya dengan membuat jalur hijau atau penanaman pohon.
KataKunci: kebisingan,KEP-48/MENLH/11/1996, Permenkes No. 718 tahun 1987 dan Sound Level
Meter
Abstract :Pollution has not only occurred in the air, soil, or water, but also include noise pollution in
the form of noise. The noise can be defined as unwanted sound or loud noises. Noise can give effect
harmful to health that can lead to deafness, nervous disorders, mental disorders, heart problems, high
blood pressure, dizziness and even insomnia. Research on the measurement of the noise level is done
around the building Graha Widya Graduations. The purpose of this research is to determine the noise
level of the environment and compare it with the raw quality of the conducted noise levels around the
building Widya Graha Graduation (GWW) with a simple method, i.e. the noise level measurements use
the tool in the form of a Sound Level Meter (SLM) carried out for 10 minutes and time reading every 5
seconds. The measurement results show that the level of noise every 5 seconds worth experiencing
fluctuations and the highest reached 96.7 dB. While the results of the calculation of the 24 hours, the
noise level reached 90.5 dB. These values exceed the quality standard based on the decision of the
Minister of State for the environment no. 48 in 1996 about the Raw noise levels, and according to the
regulation of the Minister of health no. 718, 1987 about the noise, the location of this measurement is
supposed to enter a zone C, among other offices, shops, businesses, markets, with noise around 50

60 dB. So in this condition required treatment can lower noise levels, one of them by making the green
line or tree planting
Keyword: noise, KEP-48/MENLH/11/1996, Permenkes No. 718, 1987 and Sound Level Meters

PENDAHULUAN
Suara adalah bunyi yang dihasilkan dari makhluk hidup, transportasi, aktivitas
manusia dan banyak lagi. Jenis suara dapat menghadirkan ketenangan bagi
pendengarnya. Namun, ada juga yang akan terdengar menjadi suatu kebisingan akibat
intensitas suara yang terlalu tinggi. Polusi tidak hanya terjadi pada udara, tanah,
maupun air, tetapi juga termasuk polusi suara yang berupa kebisingan. Kebisingan
bisa diartikan sebagai suara yang tidak diinginkan atau suara keras yang tidak
menyenangkan. Sumber kebisingan dapat berasal dari kegiatan manusiaseperti
penggunaan alat transportasi, aktivitas lalu lintas kendaraan bermotor, peralatan
listrik, musik keras, peralatan konstruksi, kereta api bahkan peralatan rumah tangga
yang digunakan dan aktivitas industri.
Korban dari polusi suara adalah orang yang tinggal di kota metropolitan atau kotakota besar dan mereka yang bekerja di pabrik. Oleh karena itu, kebisingan memiliki
pengaruh negatif terhadap kesehatan manusia. Kebisingan dapat memberikan dampak
berbahaya yaitu dapat menyebabkan tuli, gangguan saraf, gangguan mental, masalah
jantung, tekanan darah tinggi, pusing dan bahkan insomnia.
Dampak buruk yang dapat ditimbulkan dari kebisingan inilah yang menjadi tujuan
diperlukan adanya pengukuran tingkat kebisingan di tempat-tempat yang diduga
sebagai sumber kebisingan. Penelitian kali ini dilakukan untuk mengetahui tingkat
kebisingan lingkungan dan membandingkannya dengan baku mutu tingkat kebisingan
yang dilakukan di sekitar Gedung Graha Widya Wisuda(GWW). Menurut KEP48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan, terdapat dua metode cara
pengukuran tingkat kebisingan yaitu cara sederhana dan langsung. Pengukuran kali
ini dilakukan dengan menggunakan alat Sound Level Meter (SLM) dengan cara
sederhana. Kemudian, data yang diperoleh dari lapangan diharapkandapat digunakan
untuk mengontroldan melakukan penanganan terhadap kondisi kebisingan yang ada
di daerah tersebut.

METODE PENELITIAN
Penelitian kali ini yaitu penentuan tingkat kebisingan lingkungan yang dilakukan
dengan metode sederhana, yaitu menggunakan alat berupa Sound Level Meter (SLM),
dan stopwatch. Pengambilan sampel dilakukan di sekitar gedung Graha Widya
Wisuda.Sebelum dilakukan pengambilan sampel, langkah pertama yang dilakukan
adalah pembagian tugas dalam kelompok, yaitu pemegang SLM, pemegang
stopwatch, pemberi peringatan dengan cara menepuk bahu pemegang SLM, pencatat
data tingkat kebisingan setiap 5 detik dalam waktu 10 menit, dan pengatur kondisi
lokasi pengujian. Pembagian tugas ini harus dilakukan agar pengambilan sampel
berlangsung secara efektif. Semua orang yang terlibat dalam pengukuran tidak
diperbolehkan mengeluarkan suara agar SLM hanya mengukur tingkat kebisingan di
lokasi pengambilan sampel.

Pengukuran mengacu pada KEPMENLH No.48/MenLH/11/1996, diantaranya


waktu pengukuran adalah 10 menit tiap jam. Pengambilan atau pencatatan data
adalah tiap 5 detik, dan ketinggian mikrofon adalah 1,2 m dari permukaan tanah.
Selama 10 menit, diperoleh data sebanyak 120 data yang selanjutnya dilakukan
perhitungan data untuk mengetahui nilai kebisingan dari hasil pengukuran.
Perhitungan data Leq 1 menit, dihitung dengan menggunakan rumus:
Leq ( 1 menit ) =10 log

1
[ ( 100.1 L +100.1 L ++ 100.1 L ) 5 ] dB ( A ) . . . .(1)
60
1

12

Rumus ini digunakan pada setiap menit hingga diperoleh data Leq 1 menit sampai
10 menit. Setelah masing-masing nilai Leq 1 menit diperoleh, maka dilanjutkan
dengan perhitungan Leq 10 menit dengan rumus:
Leq ( 10 menit ) =10 log

1
[ ( 10 0.1 L +10 0.1 L ++ 100.1 L ) 1 ] dB(A) .......(2)
10
I

II

Setelah nilai Leq 10 menit diperoleh, kemudian dimasukkan pada tabel. Data
dimasukkan pada kolom jam pengukuran antara jam 11.00 sampai 17.00, yaitu tepat
pada pukul 13.50. Jika data tabel tersebut telah lengkap sesuai dengan Keputusan
Menteri Lingkungan Hidup No. 48/MenLH/11/1996 tentang Baku Tingkat
Kebisingan, maka akan diperoleh nilai rata-rata dari hasil pengukuran Leq selama 24
jam. Untuk Leq siang hari (Ls) pengukuran dilakukan dari jam 06.00-22.00,
sedangkan pengukuran Leq malam hari (Lm) dilakukan dari jam 22.00-06.00. Hasil
dari pengukuran tersebut ditambah dengan faktor pembobotan, yaitu 5 dB(A). Untuk
Leq siangdan malam hari dapat dihitung dengan rumus :
LS =10 log

1
T a 100.1 L ++ T d 10 0.1 L ) dB(A) .............................(3)
(
16

LM = 10 log

1
( T 10 0.1 L + T f 100.1 L + Tg 100.1 L ) dB(A) .....................(4)
8 e
e

Hasil pengukuran pada siang dan malam hari kemudian digabungkan untuk
mendapatkan tingkat kebisingan dalam satu hari dengan satuan desibel. Berikut
adalah rumus yang digunakan:
LSM =10 log

1
( 16100.1 L + 8100.1 (L
24
S

Keterangan:
Leq
= Kebisingan ekivalen [dB(A)]

+5)

) dB(A) ........................(5)

L1, , L12
LI, , LX
La, , Ld
LS
Ta, , Td
LM
Te, , Tg
Le, , Lg
LSM

= Kebisingan setiap 5 detik selama 60 detik [dB(A)]


= Kebisingan setiap 1 menit selama 10 menit [dB(A)]
= Leq (10 menit) setiap selang waktu di pagi hari [dB(A)]
= Leq di siang hari [dB(A)]
= Rentang waktu pengukuran di siang hari (jam)
= Leq di malam hari [dB(A)]
= Rentang waktu pengukuran di malam hari (jam)
= Leq (10 menit) setiap selang waktu di malam hari [dB(A)]
= Leq pada pengukuran 24 jam [dB(A)]

HASIL DAN PEMBAHASAN


Kebisingan adalah terjadinya bunyi yang tidak dikehendaki sehingga mengganggu
atau membahayakan kesehatan. Bising adalah suara/bunyi yang tidak dikehendaki
bagi manusia Sedangkan bunyi didengar sebagai rangsangan-rangsangan pada telinga
oleh getaran-getaran melalui media elastis. Terdapat dua hal yang yang menentukan
kualitas suatu bunyi, yaitu frekuensi dan intensitasnya. Biasanya suatu kebisingan
terdiri dari campuran sejumlah gelombang-gelombang sederhana dari beraneka
frekuensi. Telinga manusia mampu mendengar frekuensi antara 16 20.000 Hz.
Badan kesehatan dunia (WHO) melaporkan, tahun 1988 terdapat 8 12%
penduduk dunia menderita dampak kebisingan dalam berbagai bentuk.Angka itu
diperkirakan akan terus meningkat. Tidak diragukan lagi, kebisingan dapat
mempengaruhi kesehatan terutama kesehatan pendengaran, baik yang sifatnya
sementara ataupun permanen. Hal ini sangat dipengaruhi oleh intensitas dan lamanya
pendengaran. Menurut batasannya, kebisingan adalah suara-suara yang tidak
dikehendaki. Oleh karenanya, kebisingan sering kali mengganggu aktivitas, apalagi
jika kebisingan itu bernada tinggi. Pengaruh kebisingan terputus-putus atau datang
secara tiba-tiba dan tak terduga, sangat terasa. Lebih-lebih bila sumber kebisingan itu
tidak diketahui.
Menurut Mansyur (2003) dalam Ikron, dkk (2007), pengaruh buruk kebisingan
didefinisikan sebagai suatu perubahan morfologi dan fisiologi suatu organisme yang
mengakibatkan penurunan kapasitas fungsional untuk mengatasi adanya stres
tambahan atau peningkatan kerentanan suatu organisme terhadap pengaruh efek
faktor lingkungan yang merugikan, termasuk pengaruh yang bersifat sementara
maupun gangguan jangka panjang terhadap suatu organ atau seseorang secara fisik,
psikologis atau sosial.
Pengaruh kebisingan terhadap manusia secara fisik tidak saja mengganggu organ
pendengaran, tetapi juga dapat menimbulkan gangguan pada organ-organ tubuh yang
lain, seperti penyempitan pembuluh darah dan sistem jantung (Sasongko et al., 2000).
Pengaruh bising secara psikologi, yaitu berupa penurunan efektivitas kerja dan
kinerja seseorang (Asmaningprojo, 1995). Salah satu penelitian yang dilakukan oleh
Bhinnety et al., (1994), menyatakan bahwa intensitas bising (bunyi) mempunyai
pengaruh yang nyata terhadap memori jangka pendek; semakin tinggi intensitas
kebisingan maka akan semakin menurun memori jangka pendek seseorang, variasi
intensitasnya antara 30 dB sampai dengan 95 dB.

Kebisingan berasal dari sumber suara, baik dari mesin pabrik, suara kendaraan
bermotor, suara dari mesin pesawat terbang, dll (Pratomo, 2010). Pengukuran tingkat
kebisingan ini memanfaatkan jalan raya sebagai sumbernya. Berikut ini hasil
pengukuran yang dilakukan selama 10 menit:
Tabel 1. Hasil pengukuran dan perhitungan kebisingan di pintu depan Gedung Graha Widya Wisuda
dengan rentang 1 menit dan 10 menit
Menit
ke-

10

15

20

25

30

35

40

45

50

55

60

Leq 1
menit

1
87.4 88.3
88
89
89.6 88.9 89.4 89.1 90.1
90
89.6 90.6
90.5
2
88.9
89
89
89
88.9 88.9
89
89
88.9
89
89
89.6
89
3
89.3 88.9
89
96.7 91.4 91.5 91.5 91.8 91.5 91.4 92.1 91.6
91.9
4
91.6 91.7 91.7 91.4 91.5 91.4 91.6 91.4 91.5 91.4 90.5 91.5
91.4
5
91.5 91.4 91.4 91.5 91.6 91.5 91.5 91.7 91.4 91.4 91.5 91.4
91.5
6
91.3 91.7 91.7 91.5 91.6 91.6 91.6 91.4 91.4 91.4 91.4 91.3
91.5
7
91.4 91.5 91.6 91.4 91.5 91.4 91.4 91.6 91.5 90.8 91.4 91.4
91.4
8
91.3 91.3 91.5 91.6 91.3 91.7 91.6 90.2 90.7 91.2 91.7 91.3
91.3
Tabel 1. Hasil pengukuran dan perhitungan kebisingan di pintu depan Gedung Graha Widya Wisuda
dengan rentang 1 menit dan 10 menit
Menit
ke-

91.
2
91.
10
3
Leq 10 menit
9

10

15

20

25

30

35

40

45

50

55

60

Leq 1
menit

91.6

91.3

91.6

91.3

91.3

91.2

91.2

91.3

91.4

91.5

90.6

91.3

91.3

91.2

91.1

91.1

91.2

91.4

91.3

91.4

91.4

91.3

91.2

91.3
91.3

Berdasarkan tabel 1, diperoleh hasil pengukuran kebisingan dengan nilai yang


berfluktuasi setiap 5 detiknya. Namun selisih nilai yang diperoleh tidak jauh berbeda.
Nilai Leq 1 menit yang diperoleh dari perhitungan menunjukan bahwa setiap menit
tingkat kebisingannya hampir stabil, dan untuk Leq 10 menit dengan perhitungan
diperoleh tingkat kebisingan mencapai 91.3 dB. Hal ini dapat terjadi karena pengaruh
lokasi penelitian yang berada di daerahramai dengan banyaknya orang melewati
daerah tersebut akan menimbulkan suara lain. Selain itu, banyaknya kendaraan umum
yang membunyikan klakson juga sangat mempengaruhi pengukuran, sehingga
diperoleh tingkat kebisingan yang lebih besar, seperti pada menit ke 3 dengan waktu
pengukuran 20 detik yang diperoleh nilai lebih tinggi dibandingkan yang lainnya
yaitu mencapai 96.7 dB.
Perhitungan pada Leq 1 menit dan Leq 10 menit dapat dilakukan seperti berikut
dengan contoh perhitungan pada nomor 1:
Leq ( 1 menit ) =10 log

1
60

[(

)]

100.1 L + 100.1 L + 100.1 L +10 0.1 L +10 0.1 L + 100.1 L


5 dB(A)
+ 100.1 L + 100.1 L +10 0.1 L +100.1 L + 100.1 L + 100.1 L
1

10

11

12

[(

0.1 (87.4)

0.1 ( 88.3 )

0.1 (88)

0.1 (89)

10
+ 10
+10
+10
+ 10
1
0.1 (88.4)
0.1 (89.6)
0.1 (89.1)
0.1 (90.1)
=10 log
+
10
+
10
+10
+10
60
0.1 (90)
0.1 (89.6)
0.1 (89.6)
+ 10
+ 10
+ 10

0.1 (89.6)

)]

5 dB(A)

= 90.5 dB(A)

Leq ( 10 menit ) =10 log

[(

1
( 10 0.1 L +10 0.1 L ++100.1 L ) 1 ] dB(A) .
[
10
I

0.1 ( 90.5)

II

0.1 ( 89 )

0.1 (91.9)

0.1 (91.4)

10
+ 10
+10
+10
+10
1
0.1 (91.5)
0.1 (91.4)
0.1 (91.3)
0.1 (91.3)
=10 log
+10
+10
60 + 100.1 (91.3) + 10
+ 10

0.1 (91.5)

)]

5 dB(A)

= 91.3 dB(A) .
Setelah perhitungan diatas maka dapat diperoleh hasil pengukuran tingkat kebisingan
siang hari dan malam hari dengan perhitungan sebagai berikut:
Perhitungan untuk siang hari dengan rentang waktu pukul 06.00-22.00.
1
LS =10 log ( T a 100.1 L ++ T d 10 0.1 L ) dB(A)
16
a

=10 log

1
( 3 100.1 (90.1) +2 10 0.1 (89) +6 100.1 (91.3) + 5100.1 (89.8) ) dB(A)
16

=90.0 dB(A)

Perhitungan untuk malam hari dengan rentang waktu pukul 22.00-06.00.


1
LM = 10 log ( T e 10 0.1 L + T f 100.1 L + Tg 100.1 L ) dB(A)
8
e

1
= 10 log ( 2 100.1 (75.1) + 3 10 0.1 (70.3) +3 100.1 (71.9) ) dB(A)
8
= 72.5

dB(A)

Perhitungan yang terakhir yaitu menentukan keisingan lingkungan secara total (24
jam).

LSM =10 log


=10 log

1
( 16100.1 L + 8100.1 (L
24
S

+5)

) dB(A)

1
( 16100.1 (90.0) + 8100.1 (72.5+5) ) dB(A)
24

= 90.5 dB(A)

Berdasarkan perhitungan diatas, diperoleh hasilnya yang disajikan pada tabel


dibawah berikut ini:
Tabel 2. Hasil perhitungan tingkat kebisingan lingkungan di pintu depan Gedung Graha Widya Wisuda
(24 jam)
Leq
Waktu
Mewakili
dB(A)
Keterangan
La
Pukul 07.00
Pukul 06.00 - 09.00
90.1
Ta = 3 jam
Lb
Pukul 10.00
Pukul 09.00 - 11.00
76.9
Tb = 2 jam
Lc
Pukul 14.00
Pukul 11.00 - 17.00
91.3
Tc = 6 jam
Ld
Pukul 20.00
Pukul 17.00 - 22.00
89.8
Td = 5 jam
LS
16 Jam
Siang Hari
90.0
Le
Pukul 23.00
Pukul 22.00 - 24.00
75.1
Te = 2 jam
Lf
Pukul 01.00
Pukul 24.00 - 03.00
70.3
Tf = 3 jam
Lg
Pukul 04.00
Pukul 03.00 - 06.00
71.9
Tg = 3 jam
LM
8 Jam
Malam Hari
72.5
LS
M
24 Jam
90.5

Hasil perhitungan tingkat kebisingan 24 jam yang diperoleh adalah 90.5 dB. Nilai
ini melebihi baku mutu untuk kebisingan berdasarkan Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup No. 48 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan untuk
wilayah pemerintah dan fasilitas umum yang sebesar 60 dB.Data yang diperoleh
tersebut memang didukung oleh fakta yang ditemukan di lapangan, seperti yang telah
dijelaskan bahwa lokasi merupakan daerah padat lalu lintas, terkadang mobil
mendadak membunyikan klakson secara sembarangan. Selain itu, lokas itu
merupakan salah satu terminal bayangan bagi angkot, sehingga menjadi ramai dengan
penumpang yang naik-turun angkot. Oleh Karen itu daerah tersebut sangat perlu
untuk diperhatikan untuk mengurangi tingkat kebisingan yang terjadi. Sedangkan
jikan dibandingkan dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 718 tahun 1987 tentang
kebisingan, lokasi pengukuran ini seharusnya masuk zona C, antara lain perkantoran,
pertokoan, perdagangan, pasar, dengan kebisingan sekitar 50 60 dB.
Pengurangan intensitas kebisingan pada sumbernya dapat dilakukan dengan
memodifikasi mesin atau menempatkan peredam pada sumber getaran. Tetapi
alternatif ini memerlukan penelitian intensif dan umumnya juga biaya sangat tinggi.
Sebaliknya pengurangan kebisingan pada media transmisi menghabiskan biaya lebih
murah dengan teknologi lebih sederhana asalkan perencanaannya matang. Bahan

yang dapat menyerap suara, semisal busa atau ijuk, dapat ditaruh di antara mesin dan
manusia.
Apabila sumber kebisingannya lalu lintas, penanggulangannya bisa dengan
membuat jalur hijau dan penanaman pohon. Tanaman diyakini dapat mengurangi
suara bising, walau sejauh ini belum ada penelitian berapa besar tepatnya penurunan
kebisingan oleh sebuah pohon. Pengendalian kebisingan bisa juga dilakukan dengan
memproteksi telinga. Ada tutup telinga, ada juga sumbat telinga. Yang pertama
biasanya lebih efektif daripada yang kedua. Kalau tutup telinga bisa menurunkan
kebisingan antara 25 40 dB, kemampuan sumbat telinga lebih kecil, tergantung
bahannya. Sumbat karet dapat menurunkan kebisingan 18 25 dB. Apalagi bahan
cotton wool yang hanya menurunkan 8 dB. Maka pekerja call centre sebenarnya
memerlukan alat pelindung khusus yang disebut micropgones. Akan tetapi alat ini
harganya masih cukup tinggi.

KESIMPULAN
Hasil pengukuran tingkat kebisingan di sekitar pintu depan Gedung Graha Widya
Wisuda paling tinggi terjadi pada detik ke 20 dengan menit ke 3 yaitu sebesar 96.7
dB. Sedangkan hasil perhitungan untuk tingkat kebisingan 24 jam yaitu sebesar 90.5.
Nilai ini dapat disimpulkan sudah melebihi baku mutu untuk kebisingan berdasarkan
KEPMENLH No. 48 Tahun 1996 untuk wilayah pemerintah dan fasilitas umum yang
sebesar 60 dB.Seharusnya lokasi tersebut termasuk C berdasarkan PERMENKES No.
718 Tahun 1987, dengan tingkat kebisingan 50-60 dB, sehingga diperlukan antisipasi
untuk menurunkan tingkat kebisingan di daerah tersebut. Salah satu kegiatan dari
antisipasi ini dapat dilakukan dengan membuat jalur hijau atau penanaman pohon.

DAFTAR PUSTAKA
Asmaningprojo A, 1995. Peranan Akustik dalam Peningkatan Kualitas Lingkunga
Hidup dan Produktivitas Kerja, Proceeding Experimental and Theoritical
mechanics. Bandung : ITB.
Bhinnety E., M. Sugiyanto, dan Pudjono M. 1994. Pengaruh Intensitas Kebisingan
terhadap Memori Jangka Pendek. Jurnal Psikologi, XXI, 1, Juni h. 28-38.
Ikron, Djaja, I. M., Wulandari, R. A. 2007.Pengaruh Kebisingan Lalu Lintas Jalan
Terhadap Gangguan Kesehatan Psikologis Anak SDN Cipinang Muara
Kecamatan Jatinegara, Kota Jakarta Timur, Propinsi DKI Jakarta.Makara
Kesehatan:Vol. 11 (1), 32-37.
Pratomo, Suko.2010. Sumber Daya Alam dan Pencemaran/Polusi.
Sasongko, D.P., Hadiyarto A. 2000. Kebisingan Lingkungan. Univ. Diponegoro :
Semarang.

Lampiran 1. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN


HIDUP NO.48 TAHUN 1996 TANGGAL 25 NOPEMBER 1996