Anda di halaman 1dari 11

Demo Buruh dan Implikasinya terhadap Investasi di Sektor Industri

Makalah Pusat Pengkajian Kebijakan dan Iklim Usaha Industri, BPKIMI, Kementerian Perindustrian RI,
sebagai bahan dalam FGD Demo Buruh dan Implikasinya terhadap Perekonomian Nasional yang
diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informasi
Tanggal, 19 Nopember 2012

I.

Pendahuluan
Latar Belakang
Setelah demonstrasi buruh yang cukup sporadis pada bulan Januari dan Juli 2012, tahun ini
demo buruh besar kembali terjadi pada bulan Oktober. Rabu, tanggal 3 Oktober 2012 aksi massal
demonstrasi buruh berlangsung secara serempak di seluruh Indonesia dengan mengusung 3 isu
penting yakni : Hapuskan Outsourcing, Penolakan Upah Murah serta Jaminan kesehatan dilaksanakan
mulai 2014 untuk buruh.
Demo buruh 3 Oktober 2012 jauh lebih besar bahkan terjadi secara bersamaan pada 20 Propinsi
di Indonesia. Aksi demontrasi yang diperkirakan diikuti 2 juta buruh ini, dilakukan dalam bentuk
mogok kerja atau menghentikan produksi di lokasi perusahaan baik yang terletak di kawasan industri
atau daerah padat industri di luar kawasan. Demonstrasi ini terjadi di 20 provinsi padat aktivitas
industri, antara lain adalah Jakarta; Jawa Barat (Bekasi, Bogor, Depok, Karawang, Purwakarta,
Sukabumi, Cimahi, Bandung); Banten (Tangerang, Cilegon, Serang); Jawa Tengah (Semarang); Jawa
Timur (Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Pasuruan, Gresik); Kepulauan Riau (Batam, Karimun); Sumatra
Utara (Medan, Deli); Sulawesi Selatan (Makassar); dan Sulawesi Utara (Bitung), serta di beberapa
propinsi lain, seperti Aceh, Riau, Bengkulu, Jambi, Lampung, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan,
Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Papua.
Beberapa catatan penting antara lain menyebutkan bahwa pelaku usaha di Kawasan Industri
Cikarang menyatakan bahwa demontrasi tanggal 3 Oktober 2012 telah mengakibatkan seluruh
aktivitas industri di kawasan Cikarang dan sekitarnya lumpuh. Hal serupa juga terjadi di banyak
kawasan industri di Indonesia, seperti di Kawasan Industri Pulogadung (KIP), Jakarta Timur, dimana
sekitar 75.000 buruh melakukan aksi mogok nasional sehingga hampir semua pabrik yang ada di KIP
lumpuh total dan tidak beroperasi. Beberapa sumber menginformasikan bahwa demonstrasi 3
Oktober 2012, paling kurang terjadi di 80 kawasan industri di seluruh Indonesia.
Akibat dari aksi demontrasi ini tentunya kerugian di sektor industri tidak dapat terhindarkan.
Beberapa cuplikan informasi yang mewakili besarnya kerugian pada aktivitas produktif di sektor
industri akibat demontrasi buruh 3 Oktober 2012, antara lain:
1. Industri makanan dan minuman (mamin) mengalami kerugian mencapai 2 trilyun rupiah.
Informasi ini dinyatakan Yusuf Hady selaku Wakil Ketua Umum Bidang Kerjasama dan Program
Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi). Perhitungan kerugian ini
mengasumsikan bahwa rata-rata uang yang masuk sehari ke seluruh perusahaan sektor mamin
adalah mencapai Rp. 2 triliun;
2. Kawasan Industri Pulogadung (KIP) di tiap perusahaannya mengalami kerugian rata-rata Rp. 1
Miliar. Informasi ini dinyatakan oleh Bambang Adam selaku Ketua Hubungan Industrial Dewan
Pengurus Kota Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jakarta Timur.
3. Industri di Batam, Kepulauan Riau, mengalmai kerugian sekitar US $ 40 juta atau setara dengan
Rp. 383 miliar (US $ 1 = Rp. 9.586). Informasi ini dinyatakan oleh Johannes Kennedy Aritonang
selaku Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kepri. Perhitungan kerugian tersebut merupakan

akumulasi kerugian langsung sebesar US $ 10 juta, serta kerugian tidak langsung sekitar US $ 30
juta.
4. Sektor persepatuan mengalami kerugian akibat penurunan kinerja ekspor sepatu. Informasi ini
disampaikan oleh Haryanto selaku Ketua Dewan Pembina Asosiasi Persepatuan Indonesia
(Aprisindo). Dampak dari demontrasi buruh, mengakibatkan target ekspor sepatu dan alas kaki
sebesar US $ 5 miliar terancam tidak tercapai. Adapun, besaran target ekspor yang sama
sebenarnya telah telah berhasil dicapai pada 2011 yang lalu.
Disamping kerugian pada aktivitas produktif di sektor industri, demontrasi buruh secara nasional
seperti yang terjadi pada 3 Oktober 2012, juga telah membawa dampak buruk bagi iklim investasi di
sektor industri. Hal ini misalnya terjadi pada industri alas kaki, berupa penundaan pembangunan 5
hingga 6 pabrik sepatu di daerah Tangerang, dengan perkiraan nilai investasi sebesar 100 juta dolar
AS, dan kemampuan penciptaan lapangan pekerjaan baru terhadap 10 ribu orang. Informasi ini
disampaikan oleh Haryanto selaku Ketua Dewan Pembina Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo),
Minggu 28 Oktober 2012. Disamping itu, juga terdapat kekuatiran adanya pengalihan order sepatu
dari pihak principal ke Negara produsen lain seperti China dan Vietnam.

Rumusan Masalah
Aksi demo besar-besaran yang digelar para buruh di berbagai daerah, Rabu 3 Oktober 2012,
telah menimbulkan kerugian bagi banyak pihak. Selain kerugian finansial yang secara total
diperkirakan mencapai US$ 20 miliar atau sekitar Rp 190 triliun, demontrasi buruh tersebut juga telah
mengancam iklim investasi di tanah air yang mulai kondusif. (Sumber: Situs Investor Daily Indonesia)
Pada prinsipnya demontrasi buruh yang massif dalam skala nasional, membawa 2 dampak buruk
terhadap sektor industri, yaitu:
1. Kerugian pada aktivitas produktif di sektor industri;
2. Kerugian pada iklim investasi di sektor industri.
Kerugian tersebut merupakan masalah nasional yang serius, mengingat sektor industri
khususnya sektor industri non-migas secara rata-rata merupakan sektor yang memberikan kontribusi
terbesar dalam struktur PDB Nasional selama periode 2007 hingga 2011. Disamping itu, terkait dengan
penciptaan iklim investasi yang kondusif, perlu diingat bahwa sektor industri non-migas pada tahun
2011, untuk pertama kalinya sejak tahun 2005, mengalami tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi
dibandingkan tinggkat pertumbuhan ekonomi. Momentum ini perlu dipertahankan mengingat, pada
triwulan I dan II 2012, pertumbuhan industri sedikit di bawah pertumbuhan ekonomi. (Sumber:
Litbang PKIUI, BPKIMI)
Sektor industri merupakan kunci dari pertumbuhan ekonomi nasional yang sehat, maka setiap
faktor penentu pertumbuhan industri perlu dijaga, diantaranya kepastian hukum dalam berusaha,
keamanan atas investasi dan asset produksi, dan juga sistem ketenagakerjaan. Oleh karena itu perlu
diajukan sebuah rumusan permasalahan sebagai berikut:
Apakah bentuk kebijakan strategis pemerintah yang perlu diambil terkait permasalahan
ketenagakerjaan, agar tanpa mengabaikan hak buruh menyampaikan aspirasinya, sektor industri tetap
dapat terus bertumbuh dengan menjamin kepastian berjalannya aktivitas produksi, yang dengan
demikian iklim investasi yang kondusif di sektor industri dapat tetap terjaga.

Kerugian bahkan juga diderita para buruh. Dengan melakukan mogok kerja, mereka kehilangan
pendapatan dan insentif. Padahal, sejumlah tuntutan para buruh sudah didialogkan dan sedang
ditindaklanjuti Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans).
Tujuan dan manfaat
Sekurang-kurangnya, makalah singkat ini berupaya menunjukkan secara lebih detail
argumentasi yang memperkuat fakta bahwa aksi demontrasi massif, yang diikuti mogok kerja dan
penghentian aktivitas produksi, merupakan ancaman yang serius bagi kegiatan produktif negara pada
sektor industri. Dan demikian, merupakan upaya untuk mengajak semua pihak pengambil keputusan
untuk segera merumuskan solusi atas kebijakan strategis yang perlu diambil pemerintah untuk
mengamankan pertumbuhan sektor industri yang merupakan pendukung utama dari pertumbuhan
ekonomi negara.
II. Pembahasan Masalah
Secara umum apabila memakai skema perhitungan pertumbuhan ekonomi, yaitu:
Pertumbuhan Ekonomi = Konsumsi + Investasi + Pengeluaran Pemerintah + (Ekspor-Impor)
Maka dapat diuraikan perkembangan terakhir terkait investasi, terutama di sektor industri nonmigas, serta neraca perdagangan industri yang menggambarkan kinerja ekspor impor di sektor
industri. Khusus terkait hubungan antara tingkat konsumsi dan impor, dapat dijelaskan bahwa hingga
semester pertama tahun 2012, impor barang konsumsi terus mengalami penurunan dibanding impor
terhadap barang modal dan bahan penolong. Hal ini menunjukkan iklim usaha industri yang terus
berkembang kearah positif.
Namun demikian angka impor industri memang sedikit lebih tinggi dibanding angka ekspornya.
Kondisi ini akan lebih dijelaskan melalui grafik selanjutnya, yang akan menunjukkan bahwa jenis impor
industri adalah impor barang untuk diolah kembali. Artinya, semester pertama tahun 2012 bisa jadi
merupakan masa transisi dimana sektor industri justru masih terus On Going Process dalam mencapai
target nilai tambah yang tinggi. Dalam struktur pembahasan inilah, akan dipertegas kembali bahwa
sektor industri terus membutuhkan dukungan, terutama terkait faktor-faktor eksternal termasuk
diantaranya adalah bidang ketenagakerjaan, dimana faktor tersebut sangat mempengaruhi iklim
usaha produktif dan iklim investasi di sektor industri.
A. Pertumbuhan Sektor Industri dan Iklim Investasi
Pertumbuhan PDB & Industri Tanpa Migas
Pada tahun 2011, untuk pertama kalinya sejak tahun 2005, pertumbuhan industri tanpa
migas lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi.

Momentum ini perlu dipertahankan mengingat, pada triwulan I dan II 2012, pertumbuhan industri
sedikit di bawah pertumbuhan ekonomi.

Struktur PDB Nasional


Industri Tanpa Migas memberi kontribusi terbesar dalam struktur PDB nasional selama
periode 2007-2011 (rata-tata)
Pertumbuhan industri non migas relatif masih rendah dibanding sektor non tradeable.
Pemerintah perlu menempuh strategi menggunakan industri dalam negeri dalam pembangunan
sektor tradeable, sehingga akan meningkatkan laju pertumbuhan industri yang selanjutnya akan
memacu pertumbuhan ekoomi ke arah yang lebih tinggi.

Struktur PDB Sektor Industri

Sektor industri makanan, minuman dan tembakau penyumbang terbesar bagi PDB
dibandingkan sektor industri lainnya secara rata-rata selama periode 2007-2011 dan mempuntai
laju pertumbuhan yang relatif tinggi (tertinggi kedua setelah Alat Angk., Mesin & Peralatannya
pada semester I 2012 ).

B. Perkembangan Ekspor Impor di Sektor Industri


Perkembangan Ekspor Impor (2007-Juli 2012 dalam USD Juta)
Dapat diketahui bahwa dari kurun waktu 2007 hingga 2012, total pertumbuhan perdagangan
industri jauh lebih tinggi (7,20) dari pada total perdagangan sektor perdagangan umum (4,66).

Meskipun angka ekspor industri masih dibawah impor industri, namun dari grafik selanjutnya
dapat diketahui bahwa impor industri didominasi oleh impor barang modal dan bahan penolong.
Sedangkan impor barang konsumsi makin mengecil di tahun 2012. Dimana impor barang konsumsi
di semester pertama tahun 2011 sebesar 8%, dan di semester pertama tahun 2012 turun menjadi
7,06%. Beberapa informasi ini menunjukkan bahwa hingga semester pertama tahun 2012 terus
terjadi peningkatan nilai tambah melalui sektor industri.
Total Keseluruhan
Ekspor Impor

Total Ekspor Impor


di Sektor Industri

Impor Menurut Kategori Ekonomi

C. Perkembangan Investasi di Indonesia


Pada Periode 2007-2011 rata-rata investasi PMA terbesar ada pada komoditi Industri Kimia
dan Farmasi. Terkait dengan kerugian akibat demonstrasi buruh 3 Oktober 2012, industri makanan
minuman yang mengalami kerugian sebesar 2 triliun rupiah, merupakan industri dengan jumlah
proyek investasi terbanyak (:228 proyek) dengan nilai investasi terbesar ketiga setelah industri
farmasi, kimia dan elektronik.

D. Regulasi Ketenagakerjaan yang menjadi Fokus Permasalahan


Permasalahan ketenagakerjaan yang disambut aksi demonstrasi besar, pada intinya
menyangkut 3 hal utama, yaitu terkait (1) sistem alih daya (outsourching), (2) upah buruh, dan (3)
jaminan sosial.
Mengenai outsourching, berdasarkan UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,
outsourching dibatasi hanya pada pekerjaan tambahan yang dapat dialihdayakan. Dengan
demikian, UU tersebut secara prinsip tidak membenarkan adanya alih daya pada pekerjaan yang
bersifat pokok atau inti. Melalui koordinasi rapat Tripartit Nasional, dimana PKIUI juga merupakan
anggota LKS (Lembaga Kerjasama) TRIPNAS, telah kembali dipastikan dan disepakati dalam forum
TRIPNAS bahwa mengenai pekerjaan tambahan yang dapat dialihdayakan meliputi lima bidang,
yakni (1) cleaning service, (2) security, transportasi, catering, dan pekerjaan penunjang
pertambangan.
Terkait upah, mekanisme penetapan upah untuk tahun selanjutnya sesuai ketentuan
diwajibkan mengacu pada hasil survei harga pasar yang dilakukan oleh tiap Dewan Pengupahan
Daerah, dengan melibatkan perwakilan pengusaha dan buruh.
Sedangkan terkait jaminan sosial, melalui rapat dan koordinasi pada Sidang TRIPNAS
diketahui perkembangan terakhir bahwa masih terdapat satu pokok bahasan yang masih belum
mendapatkan kesepakatan forum TRIPNAS. Hal tersebut terkait mekanisme pemungutan dan
besaran iuran jaminan kesehatan.

III. Kesimpulan dan Saran


A. Terkait Outsourching,
Mengingat peraturan perundang-undangan yang berlaku di bidang ketenagakerjaan, maka yang
harus dilakukan bukan menghapus sistem kerja alih daya, melainkan mencegah pelanggaran pada
pelaksanaan alih daya. Dengan keluarnya, putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait alih daya,
yaitu Putusan MK No 27/PUU/K/2011 yang menetapkan bahwa pekerjaan yang memiliki objek
tetap tak bisa lagi dikerjakan melalui mekanisme kontrak atau alih daya, maka perlu dilakukan
harmonisasi atas peraturan ketenagakerjaan terkait ketentuan alih daya.
Putusan MK ini harus ditindaklanjuti dengan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan
yang secara lebih tegas mengatur pihak-pihak yang wajib bertanggung jawab terhadap
pemenuhan hak-hak buruh dalam skema outsourching.
Ditingkat pelaksanaan, Kemenakertrans diharapkan dapat segera melakukan registrasi ulang
terhadap perusahaan alih daya dan segera mencabut izin usaha perusahaan alih daya yang dinilai
melanggar ketentuan berlaku. Disamping itu, gubernur dan walikota/bupati di tiap daerah harus
memiliki upaya yang lebih keras guna menertibkan pelaksanaan sistem alih daya pada pekerjaan
inti.
B. Terkait Penetapan Upah Minimum,
Ketegasan pemerintah terkait penetapan upah minimum tidak dapat diperdebatkan berada di
tangan gubernur dan, atau, bupati/walikota. Hal ini karena Gubernur, bupati/walikota merupakan
pejabat pemerintah yang bertugas menetapkan tingkat upah minimum di daerahnya untuk tahun
selanjutnya. Untuk itu, diharapkan gubernur, bupati, dan walikota secara lebih proaktif ikut dalam
mengikuti dinamika kegiatan survei harga pasat di daerah guna menentukan kebutuhan hidup
layak (KHL).
Dan tidak kalah penting, gubernur, bupati, dan walikota diharapkan secara tegas dan konsisten
untuk selalu menggunakan hasil survei lapangan sebagai penentu besaran KHL, yang nantinya
akan sangat berpengaruh bagi penetapan upah minimum propinsi atau kabupaten/kota.
C. Terkait mekanisme dan besaran Iuran Jamkes,
Kementerian Tenga Kerja dan Transmigrasi dan Kementerian Kesehatan diharapkan mengambil
langkah percepatan untuk menyelesaikan draft regulasi terkait mekanisme dan besaran iuran
jaminan kesehatan. Esensi draft dimaksud, tentunya diharapkan terus mengikuti perkembangan
pembahasan di forum TRIPNAS terkait Jamkes. Diharapkan ketentuan terkait Jaminan Kesehatan
yang merupakan aturan pelaksana dari Undang-undang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)
segera dapat terimplementasi dengan adil.