Anda di halaman 1dari 16

SMF/Lab Ilmu Kesehatan Mata

Tutorial Klinik

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

KONJUNGTIVITIS GONORE NEONATORUM

Disusun Oleh:
Colin Bid
Foresta Dipo Nugraha
Ibnu Ludi Nugroho
Pembimbing:
dr. Nur Khoma F, M.Kes. Sp.M

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik Pada


SMF/Lab Ilmu Kesehatan Mata
Program Studi Pendidikan Dokter
Universitas Mulawarman
2015

Daftar Isi

BAB 1 PENDAHULUAN.......................................................................................3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................4
1.Anatomi Kojungtiva..........................................................................................4
2.Konjungtivitis Gonore.......................................................................................6
BAB 3 KESIMPULAN..........................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................16

BAB I
PENDAHULUAN
Gonore merupakan penyakit yang mempunyai insidens yang tinggi diantara
penyakit menular seksual yang lain1, penyakit ini tersebar di seluruh dunia secara
endemik, termasuk di Indonesia. Di Amerika Serikat dilaporkan setiap tahun terdapat
1 juta penduduk terinfeksi gonore. Pada umumnya diderita oleh laki-laki muda usia
20 sampai 24 tahun dan wanita muda usia 15 sampai 19 tahun. 2
Gonore adalah gonokok yang ditemukan oleh Neisser pada tahun 1879, dan
baru diumumkan tahun 1882, kuman tersebut termasuk dalam group Neisseria.
Gonokok termasuk golongan diplokok berbentuk biji kopi berukuran lebar 0,8U dan
panjang 1,6U, bersifat tahan asam dan Gram negatif, terlihat diluar dan didalam
leukosit, tidak tahan lama di udara bebas, cepat mati dalam keadaan kering, tidak
tahan suhu di atas 39C dan tidak tahan zat desinfektan. Gonokok terdiri dari 4 tipe,
yaitu tipe 1 dan 2 yang mempunyai vili yang bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang
tidak mempunyai vili yang bersifat nonvirulen, vili akan melekat pada mucosa epitel
dan akan menimbulkan reaksi sedang. Gonore tidak hanya mengenai alat-alat genital
tetapi juga ekstra genital. Salah satunya adalah konjungtiva yang akan menyebabkan
konjungtivitis, penyakit ini dapat terjadi pada bayi yang baru lahir dari ibu yang
menderita servisitis gonore atau pada orang dewasa, infeksi terjadi karena penularan
pada konjungtiva melalui tangan dan alat-alat. 1
Tinjauan pustaka ini bertujuan agar dapat mengetahui definisi, etiologi,
klasifikasi, patofisiologi, gambaran klinis, penatalaksanaan, penyulit, pencegahan,
dari konjungtivitis gonore.

BAB II
TINJUAN PUSTAKA
1. ANATOMI KONJUNGTIVA
Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian
belakang. Bermacam-macam obat mata dapat diserap melalui konjungtiva ini.
Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel goblet. Musin
bersifat membasahi bola mata terutama kornea.1 Konjungtiva terdiri atas tiga bagian,
yaitu :
- Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar digerakkan dari
tarsus.
- Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sclera di bawahnya.
- Konjungtiva fornises atau forniks konjungtiva yang merupakan tempat peralihan
konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi.

Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan sangat longgar dengan jaringan


dibawahnya sehingga bola mata mudah bergerak.
Konjungtiva bulbi superior paling sering mengalami infeksi dan menyebar
kebawahnya.2
Histologi :
Lapisan epitel konjungtiva terdiri dari dua hingga lima lapisan sel epitel silinder
bertingkat, superficial dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat limbus, di atas
karunkula, dan di dekat persambungan mukokutan pada tepi kelopak mata terdiri dari
sel-sel epitel skuamosa.
Sel-sel epitel superficial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi
mukus. Mukus mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk dispersi
lapisan air mata secara merata diseluruh prekornea. Sel-sel epitel basal berwarna
lebih pekat daripada sel-sel superficial dan di dekat linbus dapat mengandung
pigmen.
Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superficial) dan satu
lapisan fibrosa (profundus). Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan
dibeberapa tempat dapat mengandung struktur semacam folikel tanpa sentrum
germinativum. Lapisan adenoid tidak berkembang sampai setelah bayi berumur 2
atau 3 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa konjungtivitis inklusi pada neonatus
bersifat papiler bukan folikuler dan mengapa kemudian menjadi folikuler. Lapisan
fibrosa tersusun dari jaringan penyambung yang melekat pada lempeng tarsus. Hal
ini menjelaskan gambaran reaksi papiler pada radang konjungtiva. Lapisan fibrosa
tersusun longgar pada bola mata.1
Kelenjar air mata asesori (kelenjar Krause dan wolfring), yang struktur dan
fungsinya mirip kelenjar lakrimal, terletak di dalam stroma. Sebagian besar kelenjar

krause berada di forniks atas, dan sedikit ada diforniks bawah. Kelenjar wolfring
terletak ditepi atas tarsus atas.
2. KONJUNGTIVITIS GONORE
Definisi
Konjungtivitis gonore merupakan radang konjungtiva akut dan hebat yang
disertai dengan sekret purulen. Konjungtivitis gonore adalah penyakit menular
seksual yang dapat ditularkan secara langsung dari transmisi genital-mata, kontak
genital-tangan-mata, atau tansmisi ibu-neonatus selama persalinan. 1,2,3

Etiologi
Konjungtivis gonore disebabkan oleh kuman Neisseria gonorrhoeae.
Gonokok merupakan kuman yang sangat pathogen, virulen, dan bersifat invasiv
sehingga reaksi radang terhadap kuman ini snagat berat.1

Morfologi Neisseria Gonorrhoeae


1. Ciri Organisme
Secara umum ciri Neisseriae adalah bakteri gram negatif, diplokokus
non motil, berdiameter mendekati 0,8 m. Masing-masing cocci berbentuk
ginjal. Ketika organisme berpasangan sisi yang cekung akan berdekatan. 4

2. Karakteristik Pertumbuhan
Neisseriae paling baik tumbuh pada kondisi aerob. Mereka
membutuhkan syarat pertumbuhan yang kompleks. Neisseria menghasilkan
oksidase dan memberikan reaksi oksidase positif, tes oksidase merupakan
kunci dalam mengidentifikasi mereka. Ketika bakteri terlihat pada kertas filter
yang telah direndam dengan tetrametil parafenilenediamin hidroklorida
(oksidase), neisseria akan dengan cepat berubah warna menjadi ungu tua.
Gonococci paling baik tumbuh pada media yang mengandung
substansi organik yang kompleks seperti darah yang dipanaskan, hemin,
protein hewan dan dalam ruang udara yang mengandung 5% CO2.
Pertumbuhannya dapat dihambat oleh beberapa bahan beracun dari media
seperti asam lemak dan garam. Organisme dapat dengan cepat mati oleh
pengeringan, penjemuran, pemanasan lembab dan desinfektan. Mereka
menghasilkan enzim autolitik yang dihasilkan dari pembengkakan yang cepat
dan lisis in vitro pada suhu 25 C dan pada pH alkalis.

Organisme ini tidak dapat hidup pada daerah kering dan suhu rendah,
tumbuh optimal pada suhu 35-37oC dan ph 7,2-7,6 untuk pertumbuhan yang
optimal. Gram negative diplokokus biasa terlihat didalam neutrofil.
Gonokokkus terdiri dari 4 morfologi, type 1 dan 2 bersifat patogenik dan type
3 dan 4 tidak bersifat patogenik. Tipe 1 dan 2 memiliki vili yang bersifat
virulen dan terdapat pada permukaannya, sedangkan tipe 3 dan 4 tidak
memiliki vili dan bersifat non-virulen. Vili akan melekat pada mukosa epitel
dan akan menimbulkan reaksi radang.4,5,6
Patofisiologi
Konjungtiva adalah lapisan mukosa yang membentuk lapisan terluar mata.
Iritasi apapun pada mata dapat menyebabkan pembuluh darah dikonjungtiva
berdilatasi. Iritasi yang terjadi ketika mata terinfeksi menyebabkan mata
memproduksi lebih banyak air mata. Sel darah putih dan mukus yang tampak di
konjungtiva ini terlihat sebagai discharge yang tebal kuning kehijauan.
Perjalanan penyakit pada orang dewasa secara umum, terdiri atas 3 stadium:
1. Infiltratif
2. Supuratif atau purulenta
3. Konvalesen (penyembuhan)
1. Stadium Infiltratif.
Berlangsung 34 hari, ditemukan kelopak dan konjungtiva yang kaku
disertai rasa sakit pada perabaan. Kelopak mata membengkak dan kaku
sehingga sukar dibuka. Terdapat pseudomembran pada konjungtiva tarsal
superior sedang konjungtiva bulbi merah, kemotik, dan menebal. Pada orang
dewasa selaput konjungtiva lebih bengkak dan lebih menonjol. Pada orang
dewasa terdapat perasaan sakit pada mata yang dapat disertai dengan tandatanda infeksi umum.
2. Stadium supuratif atau purulenta

Berlangsung 2-3 minggu. Gejala-gejala tidak begitu hebat lagi. Palpebra


masih bengkak, hiperemis, tetapi tidak begitu tegang. Blefarospasme masih
ada. Sekret campur darah, keluar terus menerus. Pada bayi biasanya mengenai
kedua mata dengan dengan sekret kuning kental, terdapat pseudomembran
yang merupakan kondensi fibrin pada permukaan konjungtiva. Kalau palpebra
dibuka, yang khas adalah sekret akan keluar dengan mendadak. Oleh karena
itu harus hati-hati bila membuka palpebra, jangan sampai sekret mengenai
mata pemeriksa.
3. Stadium Konvalesen (penyembuhan)
Berlangsung 2-3 minggu. Gejala-gejala tidak begitu hebat lagi. Palpebra
sedikit bengkak, konjungtiva palpebra hiperemi, tidak infiltratif. Konjungtiva
bulbi terdapat injeksi konjungtiva masih nyata, tidak kemotik. Sekret jauh
berkurang. Pada neonatus infeksi konjungtiva terjadi pada saat bila penyakit
tidak diobati, biasanya tidak tercapai stadium III, tanpa penyulit, meskipun
ada yang mengatakan bahwa penyakit ini dapat sembuh dengan spontan. 1,,7
Klasifikasi menurut umur 7
1. Kurang dari 3 hari

: Oftalmia gonoroika neonatorum

2. Lebih dari 3 hari

: Oftalmia gonoroika infantum

3. Anak kecil

: Oftalmia gonoroika juvenilis

4. Orang dewasa

: Oftalmia gonoroika adultum

Gambaran Klinis
Pada bayi dan anak ditemukan kelainan bilateral dengan sekret kuning
kental, sekret dapat bersifat serous tetapi kemudian menjadi kuning kental dan
purulen. Kelopak mata membengkak, sukar dibuka dan terdapat pseudomembran
pada konjungtiva tarsal. Konjungtiva bulbi merah, kemotik, dan tebal.

Pada orang dewasa gambaran klinis meskipun mirip dengan oftalmia


neonatorum tetapi mempunyai beberapa perbedaan, yaitu sekret purulen yang tidak
begitu kental. Selaput konjungtiva terkena lebih berat dan menjadi lebih menonjol,
tampak berupa hipertrofi papiler yang besar. Konjungtiva bulbi superior paling sering
mengalami infeksi karena pada konjungtiva bulbi superior tertutup oleh palpebra dan
suhunya sama dengan suhu tubuh yang mengakibatkan bakteri akan lebih mudah
berkembang biak. Pada orang dewasa infeksi ini dapat terjadi berminggu-minggu. 1,7
Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan penunjang dilakukan pemeriksaan sediaan langsung sekret
dengan pewarnaan gram atau Giemsa untuk mengetahui kuman penyebab dan uji
sensitivitas untuk perencanaan pengobatan. Pada pemeriksaan sekret dengan
pewarnaan metilen biru, diambil dari sekret atau kerokan konjungtiva, yang diulaskan
pada gelas objek, dikeringkan dan diwarnai dengan metilen biru 1% selama 1 2
menit. Setelah dibilas dengan air, dikeringkan dan diperiksa di bawah mikroskop.
Pada pemeriksaan dapat dilihat diplokok yang intraseluler sel epitel dan lekosit,
disamping diplokok ekstraseluler yang menandakan bahwa proses sudah berjalan

10

menahun. Bila pada anak didapatkan gonokok (+), maka kedua orang tua harus
diperiksa. Jika pada orang tuanya ditemukan gonokok, maka harus segera diobati. 1,78

Pada pemeriksaan pewarnaan gram pada konjungtivitis gonore akan


ditemukan gonococcus gram negatif 9
Cara pemeriksaan :

Siapkan preparat dari sekret atau kerokan konjungtiva diatas kaca objek
Setelah itu difiksasi di atas api bunsen sebanyak 3 kali. Lalu didinginkan

Tetesi preparat tersebut dengan zat warna Karbol Gentian Violet. Diamkan
selama 30 detik - 1 menit. Bilas dengan air mengalir.

Tambahkan Lugol selama 30 detik - 1 menit. Kemudian cuci dengan air

Bilas preparat dengan alkohol 96% selama 2 detik hingga zat warna larut
kemudian bilas dengan akuades.

Tetesi preparat dengan karbol fuhsin/safranin. Diamkan selama 30 detik. Bilas


dengan akuades.
11

Keringkan preparat dan diatasnya diberi satu tetes minyak imersi. Amati di
bawah mikroskop.

Hasil :

Bakteri gram positif berwarna ungu


Bakteri gram negatif berwarna merah

Kultur
Lempeng agar modifikasi Thayer-Martin yang telah diinokulasi harus
diinkubasi pada suhu 35o C dalam udara lembab yang diperkaya dengan karbon
dioksida (stoples lilin), dan harus diobservasi tiap hari selama2 hari. Laboratorium
yang mengerjakan sejumlah besar spesimen untuk N. gonorrhoeae sering kali lebih
suka menggunakan agar coklat non-selektif yang diperkaya dengan Iso vitalex, atau
suplemen yang setara, selain media MTM yang selektif, karena sebanyak 3-10%
galur gonokokus di daerah tertentu mungkin peka terhadap konsentrasi vancomycin
yang digunakan dalam media selektif. Koloni gonokokus mungkin masih belum
tampak setelah 24 jam. Koloni tersebut timbul setelah 48 jam sebagai koloni kelabu
sampai putih, opak, menonjol, dan berkilau, dengan ukuran dan morfologi yang
berbeda. 10
Uji Resistensi
Isolat N. gonorrhoeae harus diskrining secara rutin untuk melihat produksi Rlaktamase dengan salah satu dari uji-uji yang disarankan, seperti uji nitrocefin. Untuk
uji nitrocefin, dibuat suspensi pekat dari beberapa koloni dalam tabung kecil berisi
0,2 ml larutan saline, kemudian 0,025 ml nitrocefin ditambahkan ke dalam suspensi
dan dicampur selama satu menit. Perubahan wama yang cepat dari kuning menjadi
merah muda atau merah, menunjukkan bahwa jalur tersebut menghasilkan Rlaktamase. 10

12

Pengobatan
- Pengobatan dimulai bila terlihat pada pewarnaan Gram positif diplokok batang
intraseluler dan sangat dicurigai konjungtivitis gonore.
- Pasien dirawat dan diberi pengobatan dengan penicillin, salep dan suntikan,
pada bayi diberikan 50.000 U/kgBB selama 7 hari.
- Sekret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air bersih (direbus) atau
dengan garam fisiologik setiap jam, kemudian diberi salep penisillin
setiap jam. Penisillin tetes mata dapat diberikan dalam bentuk larutan
penisillin (caranya : 10.000 20.000 unit/ml) setiap 1 menit sampai 30
menit. Kemudian salep diberikan setiap 5 menit selama 30 menit., disusul
pemberian salep penisillin setiap 1 jam selama 3 hari.
- Antibiotika sistemik diberikan sesuai dengan pengobatan gonokok.
- Pengobatan diberhentikan bila pada pemeriksan mikroskopik yang dibuat
setiap hari menghasilkan 3 kali berturut-turut negatif.
- Pada pasien yang resisten terhadap penicillin dapat diberikan cefriaksone
(Rocephin) atau Azithromycin (Zithromax) dosis tinggi. 1
Efek samping pengobatan
- Tetes nitrat Argenti yang diberi pada bayi baru lahir untuk mencegah infeksi
gonore akan menyebabkan iritasi ringan, tapi akan sembuh dengan
sendirinya satu sampai dua hari tanpa meninggalkan kerusakan menetap.
- Antibiotika topikal dapat menyebabkan reaksi alergi.
- Antibiotika oral dapat menyebabkan gangguan perut, ruam dan reaksi alergi. 11

13

Pengawasan
Bayi harus diawasi untuk memastikan infeksi tidak kambuh setelah diterapi. Ibu dari
janin dengan konjungtivitis gonore neonatorum harus diuji dan diterapi terhadap
penyakit menular seksual bila diperlukan, gejala-gejala apapun yang baru ditemukan
atau memperburuk keadaan harus dilaporkan kepada dokter. 8
Pencegahan
1. Skrining dan terapi pada perempuan hamil dengan penyakit menular seksual.
2. Secara klasik diberikan obat tetes mata AgNO3 1% Segera sesudah lahir (harus
diperhatikan bahwa konsentrasi AgNO3 tidak melebihi 1%).
3. Cara lain yang lebih aman adalah pembersihan mata dengan solusio borisi
dan pemberian kloramfenikol salep mata.
4. Operasi caesar direkomendasikan bila si ibu mempunyai lesi herpes aktif saat
melahirkan.
5. Antibiotik, diberikan intravena, bisa diberikan pada neonatus yang lahir dari ibu
dengan gonore yang tidak diterapi.2
Penyulit
Penyulit yang terjadi adalah tukak kornea marginal terutama bagian atas, yang
dimulai dengan infiltrat, kemudian menjadi ulkus. Bisa terjadi pada stadium 1 dan 2,
dimana terdapat blefarospasme dengan pembentukan sekret yang banyak. Sehingga
sekret menumpuk dibawah konjungtiva palpebra superior, ditambah lagi kuman
gonokok mempunyai enzim proteolitik yang merusak kornea dan hidupnya
intraseluler, sehingga dapat menimbulkan keratitis tanpa didahului kerusakan epitel
kornea.

14

BAB III
KESIMPULAN
Konjungtivitis Gonore adalah suatu radang konjungtiva akut dan hebat
dengan sekret purulen yang disebabkan oleh Kuman Neisseria Gonorrhaea.
Perjalanan penyakit terdiri atas stadium Infiltratif, supuratif atau purulenta dan
konvalesen (penyembuhan).
Gambaran klinik pada bayi dan anak adalah ditemukan kelainan bilateral
dengan sekret kuning kental. Pada orang dewasa ditemukan gejala subjektif berupa
rasa nyeri pada mata, tanda-tanda infeksi biasanya terdapat pada satu mata dan gejala
objektif yaitu ditemukan sekret purulen yang tidak begitu kental. Pemeriksaan
penunjang yang dilakukan yaitu pemeriksaan sediaan langsung sekret dengan
pewarnaan Gram atau giemsa untuk mengetahui kuman penyebab dan uji sensitivitas
untuk perencanaan pengobatan.
Penatalaksanaan dimulai bila terlihat pada pewarnaan Gram positif diplokok
batang intraseluler dan sangat dicurigai konjungtiva gonore. Pasien dirawat dengan
pengobatan dengan penicillin salep dan suntikan, pada bayi diberikan 50.000
U/KgBB selama 7 hari, sekret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air bersih
(direbus) atau garam fisiologik setiap 4 jam, kemudian beri salep penicillin setiap
jam dan penicillin tetes mata 10.000 20.000 unit/ml setiap 1 menit sampai 30
menit. Kemudian salep diberikan setiap 5 menit, 30 menit, disusul dengan salep
penicillin setiap 1 jam selama 3 hari. Antibiotika sistemik diberikan sesuai dengan
pengobatan gonokok.

15

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas SH, editor. In: Ilmu penyakit mata : mata merah dengan pengihatan
normal. 3rd ed. Jakarta, Balai Penerbit FKUI; 2005. p. 116-45
2. Voughan

DG,

Asbury

T,

Eva

PR.

Oftalmologi

Umum

(General

Ophthalmology). Ed. 14. Widya Medika, Jakarta : 2000. 103-5.


3. Liesegang TJ, Skuta GL, Cantor LB, editors. In : External Disease and
Corneal . Section 8 2007-2008. Infectious Disease of the External Eyes:
Clinical Aspect. American Academy of Ophthalmology. San Francisco. p:13991
4. Jawetz. M & A., Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 20, 281-285 EGC, Jakarta,
1996
5. Liesegang TJ, Skuta GL, Cantor LB, editors. In : External Disease and
Corneal . Section 8 2007-2008. Infectious Disease of the External Eyes :
Basic Concepts.

American Academy of Ophthalmology. San Francisco.

p:113-36
6. Djuanda, Adhi. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Fakultas Kedokteran
Univesritas Indonesia, Jakarta, 2007
7. Wijana,N. Ilmu Penyakit Mata. Abadi Tegal, Jakarta: 1993. 41-59
8. DSC Clinic National Skin Centre, Sexually Transmitted Infection:
Management Guidelines. National Skin Centre, Singapore, 2007
9. Dwidjoseputro. D, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Djambatan, Jakarta, 2005
10. Yerhaegen JV, Engbaek K, Rohner P, Piot P, Heuck GC. Prosedur
Laboratorium Dasar Untuk Bakteriologi Klinis : Penyakit Menular Seksual.
Edisi 2. 2003. p:72-77
11. Kaneshiro,

Neil

K.

Conjunctivitis

(Newborn

Childhood):

http://www/nlm.nih.gos/medlineplus/ency/article/001606.html.

Diakses

tanggal 18 Mei 2015.

16