Anda di halaman 1dari 11

INTERNAL AUDIT DAN SUPERVISI

A. PENDAHULUAN
Auditor Internal merupakan salah satu unsur yang diperlukan untuk
mengefektifkan pengendalian internal yang memadai. Fungsi ini merupakan fungsi
staf yang memperoleh pendelegasian dari manajemen untuk mengawasi seluruh
pengendalian yang ada dalam organisasi. Staf Audit Internal tidak hanya
dimaksudkan untuk melakukan penilaian dan audit secara independen melainkan
juga untuk memberikan informasi yang objektif dalam bentuk saran-saran yang
bermanfaat bagi manajemen dalam menunjang risk management, efektivitas
pengendalian, dan proses governence. Agar tugas Auditor Internal dapat berjalan
dengan efektif maka diperlukan penegasan dan kejelasan tentang ruang lingkup
tugasnya . Ruang lingkup tugas Auditor Internal yang jelas akan membantu
manajemen memencapai tujuan organisasi.
Internal audit perlu dilibatkan dalam berbagai kegiatan untuk mencapai
tujuan perusahaan. Internal audit diharapkan dapat berfungsi sebagai rambu-rambu
(roadsiqna) dalam perjalanan organisasi, dan tidak menghendaki sebagai penjerat
"buruan" yang menunggu dengan sabar di tempat tersembunyi sampai suatu saat
seorang atau kelompok membuat kesalahan untuk di audit dan karenanya
menambah catatan tentang hasil temuannya. Tapi diharapkan internal audit
berfungsi sebagai sistem peringatan dini (early warning system) sehingga kekeliruan
dapat cepat dikoreksi jauh sebelumnya dan tidak perlu menjadi temuan audit.
Keberanian yang diperlukan oleh internal audit untuk memberikan koreksi sering
disalah artikan sebagai hambatan bagi auditee dan top management untuk
melaksanakan aktivitas-aktivitas strategis yang diperlukannya demi keberhasilan
bisnis organisasi yang dipimpinnya.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian di atas, maka dirumuskan dalam bentuk pertanyaan
sebagai berikut:
1. Bagaimana pelaksanaan audit internal (pengawasan) yang dilakukan oleh
Inspektorat
2. Bagaimana peran serta Supervisi dalam memotifasi kinerja internal auditor
C. LANDASAN TEORI
1. Pengertian Audit Internal
Pengertian internal auditing atau pemeriksaan intern dapat diuraikan dari
kata pemeriksaan dan kata intern. Menurut Alvin (1988) dalam Chandra (2006)
definisi dari pemeriksaan atau auditing adalah:
Auditing is the process of accumulating and evaluating evidence by a competent
independent person about quantifiable information of specific economic entity for
the purpose of determining and reporting upon the degree of correspondence
between the quantifiable information and established criteria.
Agoes (2004) dalam Bahri (2010) mendefinisikan audit adalah: suatu
pemerikasaan secara kritis dan system matis oleh pihak yang independen
terhadap laporan keuangan yang telah disusun untuk manajemen,beserta

catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya dengan tujuan untuk


dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut.
Sedangkan kata intern menunjukkan bahwa kegiatan pemeriksaan
tersebut dilaksanakan oleh pihak internal dari organisasi itu sendiri. Menurut Arifin
(2005) jenis-jenis pemeriksaan (auditing) dapat dibedakan menurut subyeknya
yaitu pemeriksaan internal dan eksternal.
Menurut Hiro (1997) pengertian internal auditing atau pemeriksaan internal
adalah suatu fungsi penilaian yang independen dalam suatu organisasi untuk
menguji dan mengevaluasi kegiatan organisasi yang dilaksanakan. Tujuan
pemeriksaan internal adalah membantu para anggota organisasi agar dapat
melaksanakan tanggung jawabnya secara efektif. Untuk itu, pemeriksa internal
akan melakukan analisis, penilaian dan mengajukan saran-saran. Tujuan
pemeriksaan mencakup pula pengembangan pengawai yang efektif dengan
biaya yang wajar.
Dari uraiaian tersebut di atas Internal Auditing merupakan: (a) Suatu
kegiatan yang bertujuan untuk mengaudit dan mengevaluasi seluruh aktivitas
organisasi; (b) Suatu fungsi penilaian yang independen, termasuk kegiatan
menemukan fakta dan melakukan penilaian; (c) Suatu fungsi mengukur dan
mengevaluasi keefektifan pengendalian-pengendalian lainnya; (d) Fungsi yang
mendapat pendelegasian dari manajemen; (e) Fungsi staf yang melayani
manajemen dan bertanggungjawab terhadap manajemen.
2. Tugas dan Peran Auditor Internal
Sebagaimana diketahui, bahwa misi internal audit adalah untuk
membantu manajemen dalam melakukan perbaikan dan peningkatan
pengelolaan aktivitas atau program agar mencapai tujuan organisasi . Hal ini
diwujudkan dengan jalan menilai dan memberikan saran-saran kepada
manajemen tentang cara melaksanakan tiap kegiatan yang lebih ekonomis, lebih
efisien, lebih efektif, lebih produktif, dan ketaatan terhadap ketentuan yang
berlaku . Agar dapat memberikan rekomendasi tersebut, internal audit harus
mempelajari menilai tingkat efisiensi, kehematan (ekonomis) ketaatan, efektivitas,
dan produktivitas objek yang diaudit dalam mengelola dan mempertanggung
jawabkan pelaksanaan aktivitasnya.
Dalam menjalankan tugasnya Audit Internal akan melakukan analisis,
penilaian dan mengajukan saran-saran. Tujuan audit mencakup pula
pengembangan pengawasan yang efektif dengan biaya yang wajar. Kemudian
Auditor Internal melakukan antara lain adalah:
- Mereviu keandalan dan integritas informasi keuangan dan operasi serta
bagaimana cara yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur,
mengklasifikasikan, dan melaporkan informasi tersebut.
- Mereviu sistem yang dibuat guna memastikan apakah kebijakan tersebut
sudah sesuai dengan rencana, prosedur, hukum, dan peraturan yang
berdampak secara signifikan terhadap operasi dan laporan serta menentukan
apakah organisasi tersebut sudah mematuhinya.
- Mereviu pengamanan aset apakah kondisinya sesuai keberadaan aset
tersebut.
- Menilai umur ekonomis dan efisiensi yang sumber daya yang digunakan.
- Mereviu program atau operasi untuk memastikan apakah telah sesuai dengan
tujuan dan sasaran yang ditetapkan serta apakah program atau operasi yang
sedang dilaksanakan telah sesuai dengan perencanaan.

(Statement of Responsibilities of Intemal Auditing yang dikutip oleh Ratliff, dkk,


1996: 49-50)
Fungsi internal audit adalah melakukan kegiatan: (a) Menelaah
reliabilitas dan integritas informasi keuangan dan operasi yang digunakan untuk
mengidentifikasikan, mengukur, mengelompokkan dan melaporkan informasi; (b)
Menelaah sistem-sistem yang telah ditetapkan untuk menjamin ketaatan
terhadap kebijakan-kebijakan, rencana-rencana, prosedur-prosedur, hukumhukum dan peraturan-peraturan yang dapat mempengaruhi operasi dan laporan
serta menentukan apakah organisasi mentaatinya; (c) Menelaah cara
mengamankan harta dan kelayakannya, memeriksa kebenarannya; (d) Menilai
keekonomisan dan keefisiensian sumberdaya yang digunakan; (e) Menelaah
operasi atau program untuk memastikan apakah hasilnya konsisten dengan
tujuan dan sasaran yang ditetapkan dan apakah operasi dan program
dilaksanakan sesuai dengan rencana.
Ruang lingkup audit internal adalah mencakup pemeriksaan, evaluasi
terhadap kecukupan dan efektivitas sistem organisasi pengendalian internal dan
kualitas kinerja pelaksanaan tanggung jawab yang ditugaskan
Lingkup penugasan Audit Internal tersebut di atas selanjutnya
berkembang menjadi Kegiatan audit internal adalah mengevaluasi dan
memberikan kontribusi pada perbaikan manajemen risiko, pengendalian, dan
proses tata kelola menggunakan pendekatan sistematis dan kepatuhan.
Lingkup pekerjaan Auditor Internal sekaligus mencerminkan lingkup
tugas auditor. Auditor Internal merupakan orang dalam atau orang luar
perusahaan (organisasi) yang diangkat dan ditugasi menjalankan fungsi atau
kegiatan internal auditing disebut internal auditor. Menurut Brink dalam
Prespective in Auditing (Carmichael, 1988:452) menjelaskan bahwa internal
auditor adalah karyawan perusahaan dengan suatu misi utama melayani
organisasi dalam berbagai cara. Demikian pula Taylor (1991: 5) menyatakan
bahwa auditor adalah orang yang mempunyai pendidikan, pengetahuan dan
keahlian yang cukup untuk melakukan kegiatan auditing. Jadi internal auditor
adalah orang dalam (karyawan) perusahaan yang mempunyai pendidikan,
pengetahuan dan keahlian yang cukup, ditugasi melayani organisasi dengan
menjalankan fungsi internal auditing.
3. Tindakan Supervisi
Comstock (1994) dalam Chandra (2006) mengatakan supervisi merupakan
tindakan mengawasi atau mengarahkan penyelesaian pekerjaan. Seiring dengan
perjalanan waktu, supervisi dikatakan sebagai proses yang dinamis. Pada
awalnya supervisi bersifat kaku atau otoriter. Bilamana seorang tidak bekerja
sebagaimana yang diperintahkan, maka ia akan dihukum. Pada saat ini, supervisi
diwarnai dengan gaya manajemen partisipatif.
Parker et al (1989) mengatakan bahwa kebutuhan yang paling penting bagi
akuntan yang berkaitan dengan kerja adalah evaluasi secara fair (adil) terhadap
dirinya. Kemudian kebutuhan lainnya yang penting adalah supervisi yang
kompeten dan adil. Hasil studi Kozlowski (1989) dalam Budiman (2002)
menunjukkan bahwa supervisor merupakan pihak yang paling dekat dengan
konteks kerja seseorang karena melalui mereka tercermin budaya atau iklim
organisasi. Dengan kata lain, supervisor mempunyai pengaruh langsung
terhadap perilaku bawahannya.

Dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) yang dikutipkan dari


Willingham dan Carmichael (1979), supervisi merupakan hal yang penting.
Supervisi mencakup pengarahan usaha asisten yang terkait dalam pencapaian
tujuan audit dan penentuan apakah tujuan tersebut tercapai. Unsur supervisi
adalah memberikan instruksi kepada asisten, tetap menjaga penyampaian
informasi masalah-masalah penting yang dijumpai dalam bekerja dan mereview
pekerjaan yang dilaksanakan. Luasnya supervise yang memadai bagi suatu
keadaan tergantung atas banyak faktor, termasuk kompleksitas masalah dan
kualifikasi orang yang melaksanakan suatu pekerjaan. Para auditor harus
diberitahu tanggung jawab mereka dan tujuan prosedur yang mereka laksanakan.
Mereka diberitahu hal-hal yang kemungkinan berpengaruh terhadap sifat, luas
dan prosedur yang akan dilaksanakan.
Telaah studi AECC (Accounting Education Change Commission) sebagai
badan yang dibentuk untuk menangani pendidikan akuntansi dalam upaya
mempertahankan profesi akuntan sebagai pilihan karir yang menarik di Amerika
Serikat, menerbitkan Issue Statement No.4. Salah satu isi dari Issue Statement
No. 4 adalah AECC Recommendations Early Work Experience yang mendorong
pemberdayaan akuntan melalui tindakan supervisi yang tepat akan
menumbuhkan instrinsik motivation, yang berisi saran-saran antara lain :
1) Supervisor hendaknya menunjukkan sikap kepemimpinan dan mentoring.
Rincian aktivitas yang disarankan AECC adalah :
a. Supervisor sering memberikan feedback yang jujur, terbuka dan interaktif
kepada akuntan di bawah supervisinya.
b. Supervisor memperhatikan pesan-pesan tak langsung dan jika yang
disampaikan adalah ketidakpuasan, secara langsung supervisor
menanyakan keadaan dan penyebabnya.
c. Supervisor meningkatkan konseling dan mentoring, misalnya dengan
memberikan pujian terhadap kinerja yang baik, memperlakukan sebagai
profesional, membantu untuk mengenali peluang kerja masa datang dan
mendahulukan minat serta rencana akuntan pemula.
d. Supervisor dituntut mampu menjadi panutan sebagai profesional di
bidangnya, mampu menumbuhkan kebanggaan akan profesi dan mampu
menunjukkan kepada klien dan masyarakat akan peran penting profesi
yang digelutinya tersebut.
2) Supervisor hendaknya menciptakan kondisi kerja yang mendorong
tercapainya kesuksesan. Rincian aktivitas yang disarankan AECC adalah :
a. Menumbuhkan sikap mental untuk bekerja dengan benar sejak awal dan
menciptakan kondisi yang memungkinkan hal itu terjadi. Hal tersebut bisa
dilaksanakan dengan menjelaskan suatu penugasan secara gamblang,
mengalokasikan waktu yang cukup dalam penugasan yang rumit sehingga
bisa terselesaikan dengan baik, menampung semua keluhan akan
hambatan yang dihadapi termasuk diantaranya hambatan budgeter, dan
menjelaskan bagaimana suatu bagian penugasan sesuai dengan
penugasan keseluruhan serta senantiasa mengawasi sampai penugasan
selesai.
b. Mendistribusikan tugas dan beban secara adil dan sesuai dengan tingkat
kemampuan.
c. Meminimalkan stress yang berkaitan dengan pekerjaan.
3) Supervisor hendaknya memberikan penugasan yang menantang dan
menstimulir terselesaikannya suatu tugas. Rincian aktivitas yang disarankan
AECC adalah :

a. Supervisor mendelegasikan tanggung jawab sesuai kemampuan dan


kesiapan auditor.
b. Memaksimalkan kesempatan auditor untuk menggunakan kemampuan
verbal, baik lisan maupun tulisan, berfikir kritis dan menggunakan teknik
analitis serta membantu auditor pemula untuk meningkatkan kemampuan
tersebut.
4. Motivasi Kerja
Motivasi kerja adalah sesuatu yang memulai gerakan, sesuatu yang
membuat orang bertindak atau berprilaku dalam cara-cara tertentu. Memotivasi
orang adalah menunjukkan arah tertentu kepada mereka dan mengambil
langkah-langkah yang perlu untuk memastikan bahwa mereka sampai ke suatu
tujuan. Bermotivasi adalah keinginan pergi ke suatu tempat berdasarkan
keinginan sendiri atau terdorong oleh apa saja yang ada agar dapat pergi dengan
sengaja dan untuk mencapai keberhasilan setelah tiba disana (Michael
Armstrong, 1994 dalam Sri, 2001).
Menurut Heidjrachman (2000) dalam Chandra (2006) ada tiga teori
motivasi yang sudah dikenal dikalangan pakar manajemen sumber daya
manusia, yaitu pertama content theory, yang menjelaskan tentang apa dari
motivasi, kedua process theory yang menjelaskan bagaimana dari motivasi dan
yang ketiga adalah reinforcement theory yang menekan arti pentingnya faktorfaktor yang ada di dalam individu yang menyebabkan mereka bertindak.
Content theory, ini mencoba menjawab beberapa pertanyaan seperti
kebutuhan apa yang dicoba dipuaskan oleh seseorang dan apa yang
menyebabkan mereka melakukan sesuatu. Dalam pandangan ini, setiap individu
mempunyai kebutuhan yang ada di dalam (inner needs), yang menyebabkan
mereka didorong, ditekan atau menentukan tindakan yang mereka lakukan, yaitu
para individu akan bertindak untuk memuaskan kebutuhan mereka. Berdasarkan
teori ini yang diperlukan dari manager adalah bagaimana menebak kebutuhan
para karyawan, dengan mengamati perilaku dan kemudian memilih cara apa
yang bisa digunakan supaya mereka mau bertindak sesuai dengan keinginan
manager tersebut (Heidjrachman, 2000 dalam Chandra 2006).
Process theory, bukannya menekankan pada isi kebutuhan dan sifat
dorongan dari kebutuhan tersebut, tetapi pendekatan ini menekankan pada
bagaimana dan dengan tujuan apa setiap individu dimotivasi. Dalam pandangan
ini, kebutuhan suatu elemen dalam suatu proses tentang bagaimana perlu
individu bertingkah laku. Dasar dari proses tentang motivasi ini adalah
expectancy (pengharapan), yaitu apa yang dipercayai oleh para individu akan
mereka peroleh dari tingkah laku mereka (Heidjrachman, 2000 dalam Chandra
2006).
Pada reinforcement theory, menjelaskan bagaimana konsekuensi perilaku
dimasa lalu mempengaruhi tindakan di masa yang akan datang dalam suatu
siklus proses belajar. Dalam pandangan ini individu bertingkah laku tertentu
karena dimasa lalu mereka belajar bahwa perilaku tertentu akan berhubungan
dengan hasil yang menyenangkan dan perilaku tertentu akan menghasilkan
akibat yang tidak menyenangkan, karena umumnya individu lebih suka akibat
yang menyenangkan. Mereka umumnya akan mengulangi perilaku yang akan
mengakibatkan konsekuensi yang menyenangkan (Heidjrachman, 2000 dalam
Chandra 2006).
Motivasi penting karena dengan motivasi diharapkan setiap individu
bekerja keras dan antusias untuk mencapai hasil kerja yang tinggi. Motivasi kerja

secara umum dapat diidentifikasikan sebagai serangkaian kekuatan penggerak


yang muncul dari dalam dan diluar diri masing-masing individu. Kedua kekuatan
itu menimbulkan minat kerja dan berhubungan dengan tingkah laku dan
menentukan arah, intensitas dan durasi dari tingkah laku atau kebiasaan
individual. Tujuan pemberian motivasi menurut Hasibuan (2001) dalam Chandra
(2006) dikemukakan antara lain :
1) Mendorong gairah dan kerja karyawan.
2) Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan.
3) Mempertahankan loyalitas dan kestabilan karyawan perusahaan.
4) Meningkatkan kedisiplinan dan menurunkan tingkat absensi karyawan.
5) Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik.
6) Meningkatkan kreativitas, partisipasi dan kesejahteraan karyawan.
7) Meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap tugas, meningkatkan
produktivitas kerja dan meningkatkan efisiensi.
D. PEMBAHASAN
1. Pelaksanaan audit internal (pengawasan) yang dilakukan oleh Inspektorat
Peran dan fungsi Inspektorat Provinsi, Kabupaten/Kota secara umum
diatur dalam pasal 4 Peraturan Menteri Dalam Negeri No 64 Tahun 2007. Dalam
pasal tersebut dinyatakan bahwa dalam melaksanakan tugas pengawasan
urusan pemerintahan, Inspektorat Provinsi, Kabupaten/Kota mempunyai fungsi
sebagai berikut: pertama, perencanaan program pengawasan; kedua, perumusan
kebijakan dan fasilitas pengawasan; dan ketiga, pemeriksaan, pengusutan,
pengujian, dan penilaian tugas pengawasan.
Inspektorat mempunyai kewenangan sebagai berikut: pertama,
pelaksanaan pemeriksaan terhadap tugas Pemerintah Daerah yang meliputi
bidang pemerintahan dan pembangunan, ekonomi, keuangan dan aset, serta
bidang khusus; kedua, pengujian dan penilaian atas kebenaran laporan berkala
atau sewaktu-waktu dari setiap unit/satuan kerja; ketiga, pembinaan tenaga
fungsional pengawasan di lingkungan Inspektorat ; dan keempat,
penyelenggaraan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas Inspektorat.
Berdasarkan fungsi dan kewenangan tersebut pelaksanaan pengawasan
yang dilakukan oleh Inspektorat melalui berbagai jenis audit dan non audit, dan
agar pelaksanaan pengawasan efektif harus didukung dengan auditor profesional
yang mematuhi kode etik dan standar audit Pemerintah. Jenis Pengawasan yang
dilakukan oleh Inspektorat.

1) Audit
Pengawasan melalui audit, dilaksanakan secara preventif dan represif.
Secara preventif dimaksudkan untuk menjaga agar tidak terjadi
penyimpangan dalam tahap awal suatu kegiatan. Audit bersifat represif,
meliputi
- Audit Perencanaan,
- Audit Bersifat Pengawalan,
- Kegiatan yang bersifat intelejen,
- Audit dengan tujuan tertentu
- Reviu laporan Keuangan
Sedangkan audit yang bersifat represif (post audit) adalah audit yang
dilakukan ketika periode kegiatan sedang berlangsung atau sudah selesai.
Audit bersifat represif meliputi :

a. Audit kinerja, (operasional) adalah audit yang menilai terhadap operasi


suatu organisasi atau audit atas pengelolaan keuangan Negara dan
pelaksanaan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah atau Satker apakah
dapat berjalan dengan efisien, ekonomis, dan efektif.
b. Audit khusus (tujuan tertentu) adalah audit yang dilakukan atas lingkup
audit yang bersifat khusus. Audit khusus dapat dilaksanakan untuk menilai
kasus tidaklancarnya pelaksanaan pembangunan, atau digunakan untuk
mengungkap kecurangan.
c. Audit barang/jasa, adalah dilaksanakan untuk menertibkan prosedur
pengadaan barang dan jasa, penatausahaan dan pemanfaatannya serta
untuk menertibkan iventaris atau asset milik pemerintah.

2) Non Audit
Pengawasan Inspektorat dapat dilaksanakan melalui Non Audit, meliputi
konsultasi, sosialisasi, dan evaluasi, sebagai berikut :
a. Kegiatan konsultasi dimaksudkan untuk memberikan masukanmasukan
dalam rangka membantu isntansi lingkup Pemda mencari solusi dalam
pelaksanakan tugas kedinasan.
b. Sosialisasi dimaksudkan untuk menyampaikan dan menjelaskan
peraturan-peraturan yang terkait dengan pelaksanaan tugas kedinasan.
c. Monitoring dan Evaluasi dimaksudkan untuk menilai mutu kinerja Satker di
lingkungan pemerintahan.
Tujuan pelaksanaan pengawasan inspektorat adalah sebagai berikut:
1) Memberikan peringatan dini dan meningkatkan efektivitas manajemen risiko
2) Memelihara dan meningkatkan kualitas tata kelola Instansi Pemerintah.
3) Memberikan keyakinan yang memadai atas ketaatan, efisiensi, dan
efektivitas.
Dalam melakukan pengawasan dan pengendalian Inspektorat Kabupaten
mengalami keselitan-kesulitan dan kendala-kendala yang dihadapi yaitu:
1) Sumber daya manusia
Dengan keterbatasan jumlah pegawai terutama pejabat fungsional sehingga
yang melakukan pengawasan dan pengendalian yang dilakukan inspektorat
kabupaten di lakukan oleh seluruh staf. Dalam melakukakan pengawasan dan
pengendalian tidak lagi melihat dari tingkat kompentensi yang dimiliki para
auditor, sehingga pengawasan dan pengendalian yang dilakukan tidak
memperoleh hasil yang optimal.
2) Pengaruh pihak penentu kebijakan
Dalam melakukan pengawasan dan pengendalian yang dilakukan oleh
Inspektorat tidak terlepas dari intervensi dari pihak penentu kebijakan
sehingga pengawsan yang dilakukan tidak akan memperoleh hasil yang
memuaskan, karena para auditor sulit untuk mengungkap secara transparan
terhadap temuan yang diperolehnya. Karena masih ada intervensi dari atasan
atau pihak penetu kebijakan.
3) Politik
Kondisi politik di pada saat ini, baik di infrastruktur maupun suprastruktur
masih belum stabil, kompetisi antar partai politik tidak dilakukan dengan sehat
tetapi dengan menggunakan cara dan strategi yang dapat menimbulkan
konflik baru. Kedewasaan para elite politik yang masih sangat memprihatinkan
dan memberikan contoh yang kurang baik bagi masyarakat menjadi salah

satu hal yang menciptakan kondisi politik seperti itu. Dengan kondisi seperti
itu Politik yang biasanya sebagai pengendali birokrasi tidak bisa menjalankan
perannya secara optimal. Bahkan para elite politik yang berkuasa
menghendaki birokrasi menjadi miliknya yang akan dijadikan alat untuk
melanggengkan kekuasaan.
Intervensi Politik terhadap Birokrasi yang begitu kuat baik dari legislatif
terlebih dari pimpinan eksekutif menimbulkan netralitas birokrasi hanya dalam
tatanan konsep. Bahkan tidak tertutup kemungkinan para elite politik akan
tergiring atau terbawa arus pada pola pikir dan kebiasaan birokrasi.
Kebijakan-kebijakan yang reformis di tingkat elite politik tidak bisa diturunkan
atau dilaksanakan di lapangan karena Birokrasi memiliki kebijaksanaan dan
kepentingan tersendiri. Akhirnya kebijakan-kebijakan tersebut tidak pernah
dapat direalisasikan. Sehingga pengawasan dan pengendalian yang dilakuan
tidak berjalan dengan baik. Karena intervensi politik terhadap kebijakan
birokrasi
4) Anggaran
Anggaran yang dimiliki Inspektorak Kabupaten Kotawaringin Barat yang minim
sekali, sehingga dalam melakukan kegiatan untuk melakukan pengawasan
dan pengendalian mengalami kesulitan karna anggaran untuk itu tidak
tersedia. Padahal kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan pengawsan itu
terlalu banyak, sehingga Inpektorat Kabupaten Kotawaringin Barat sulit untuk
melakukan pengawsan yang optimal.
5) Sarana dan prasarana
Disamping anggaran yang minim, sarana dan prasaran yang tersedia juga
kurang memadai. Padahal wilayah daerah kabupaten Kotawaringin Barat itu
sangat luas dan masih banyak daerah yang jauh dari daerah pusat
kabupaten.
2. Peran serta Supervisi dalam memotifasi kinerja internal auditor
Kepemimpinan merupakan aspek penting dari pekerjaan supervisor. Para
supervisor bertanggung jawab atas kualitas kinerja para karyawan yang
dipimpinnya. Oleh sebab itu, kemampuan untuk memimpin sangat diperlukan
untuk mengemban tanggung jawab tersebut. Kepemimpinan juga dapat
dikatakan sebagai energi yang memotori setiap usaha bersama. Dharma (2002)
dalam Rahma (2003) supervisor yang memimpin secara efektif adalah supervisor
yang memberikan model untuk diteladani, yang memotivasi sehingga
menimbulkan semangat kerja dan yang mempercayai untuk mengendalikan diri
sendiri. Supervisor seperti ini menimbulkan keinginan bawahan untuk bekerja
sama, menggunakan sumber pengaruh yang dimiliki dengan bijaksana, dapat
mengarahkan dan berkomunikasi, dapat mempertahankan disiplin, dan dapat
memotivasi untuk menimbulkan semangat kerja.
Supervisi sebagai elemen yang paling dekat dengan karyawan di
harapkan mampu menciptakan kondisi / lingkungan kerja yang dapat memotivasi
karyawan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kondisi kerja yang
kondusif di lingkungan organisasi mencakup pemahaman yang jelas bagi
karyawan tentang tugas yang diberikan, penugasan yang adil dan minimalkan
stres dalam lingkup pekerjaan.

Dalam memberikan penugasan atau delegasi kepada karyawan,


supervisor perlu mengingat dua hal penting yaitu tanggung jawab dan wewenang.
Dalam hal ini, supervisor mempunyai tanggung jawab atas pekerjaan akhir yang
telah di lakukan oleh bawahannya. Namun supervisor juga memiliki wewenang
dalam menentukan orang yang akan mengerjakan tugas yang akan diberikan.
Delegasi hanya memperoleh hasil yang terbaik, bila supervisor
memberikan tugas yang tepat kepada orang yang tepat pula. Memilih orang yang
tepat berarti memahami lebih banyak mengenai karyawan tersebut. Memahami
mereka bukan hanya sebagai seorang pekerja, namun sebagai seorang pribadi.
Termasuk masalah keluarga dan kehidupan mereka di luar pekerjaan.
Pada internal audit pekerjaan mensupervisi dilakukan oleh Kepala Satuan
Pengawas Intern atau auditor senior yang ditunjuk pada Badan atau Organisasi
seperti yang tercantum dalam Standar professional Internal Audit pada bagian
Kemampuan Profesional ditunjukkan bahwa pemeriksaan internal haruslah
dilaksanakan secara ahli dan dengan ketelitian professional yang seharusnya.
Untuk itu bagian internal audit haruslah memberikan kepastian bahwa
pelaksanaan pemeriksaan internal akan diawasi sebagaimana mestinya .
Kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi kegiatan seseorang
atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu.
Kemampuan untuk memimpin sangat diperlukan oleh seorang supervisor kerena
dia bertanggung jawab atas kualitas kerja karyawannya. Menurt Dharma
(2001:42) dalam Angrina (2005) supervisor yang memimpin secara efektif adalah
supervisor yang memberikan model untuk diteladani, yang memotivasi sehingga
menimbulkan semangat kerja, dan yang mempercayai untuk mengendalikan diri
sendiri.
Supervisor seperti ini menimbulkan keinginan bawahan untuk
bekerjasama, menggunakan sumber pengaruh yang dimiliki dengan bijaksana,
dapat menggunakan dan berkomunikasi, dapat mempertahankan disiplin.
Hubungan antara Supervisi dengan memotifasi kinerja internal auditor
Supervisor sebagai manejer yang paling dekat dengan karyawan
diharapkan mampu menciptakan kondisi atau lingkungan kerja yang dapat
memotivasi karyawan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kondisi kerja
yang kondusif dapat dilaksanakan dengan memberikan pemahaman yang jelas
bagi karyawan tentang tugas yang diberikan, mengalokasian waktu yang cukup
dalam penugasan yang rumit sehingga bisa diselesaikan dengan baik, dan
meminimalkan stres yang berkaitan dengan pekerjaan. Dengan kondisi kerja
yang kodusif dapat menumbuhkan sikap mental dan rasa percaya diri dalam
pelaksanaan tugas.
Pada tindakan supervisi, unsur kepimpinan dengan gaya manajemen yang
partisipatif akan menumbuhkan motivasi kerja khususnya instrisik motivation
sehingga secara tidak langsung memacu prestasi kerja atau kinerja auditor
internal dalam melakukan tugas dan fungsinya sehari-hari. Dengan kata lain
tanpa adanya motivasi kerja dari auditor internal itu sendiri maka semakin banyak
hambatan untuk mencapai kinerja yang diharapkan.
Dengan demikian berarti bahwa tindakan supervisi pimpinan dapat
menumbuhkan motivasi kerja kepada para auditor internal sehingga dapat
menghasilkan prestasi kerja atau kinerja yang diharapkan. Dalam hubungannya
dengan kinerja, para professional umumnya mempunyai tingkat kompetensi yang

tinggi terhadap pekerjaan mereka. Adanya tindakan supervisi dan tumbuhnya


motivasi kerja sangat menentukan prestasi kerja (kinerja). Kinerja seringkali
identik dengan kemampuan (ability) seorang auditor bahkan berhubungan
dengan komitmen terhadap profesi (Larkin dan Schweikart, 1992). Sedangkan
professionalisme menjadi elemen motivasi dalam memberikan kontribusi
terhadap kinerja (Kalbers, 1995).
E. KESIMPULAN
Berdasarkan peembahasan tersebut di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Berdasarkan fungsi dan kewenangan yang dimiliki Inspektorat, pelaksanaan audit
internal (pengawasan) yang dilakukan oleh Inspektorat melalui berbagai jenis
audit dan non audit, dan agar pelaksanaan pengawasan efektif harus didukung
dengan auditor profesional yang mematuhi kode etik dan standar audit
Pemerintah guna menjalankan tugas untuk
- Memberikan peringatan dini dan meningkatkan efektivitas manajemen risiko
- Memelihara dan meningkatkan kualitas tata kelola Instansi Pemerintah.
- Memberikan keyakinan yang memadai atas ketaatan, efisiensi, dan
efektivitas.
2. Tindakan supervisi pimpinan dapat menumbuhkan motivasi kerja kepada para
auditor internal sehingga dapat menghasilkan prestasi kerja atau kinerja yang
diharapkan. Dalam hubungannya dengan kinerja, para professional umumnya
mempunyai tingkat kompetensi yang tinggi terhadap pekerjaan mereka. Adanya
tindakan supervisi dan tumbuhnya motivasi kerja sangat menentukan prestasi
kerja (kinerja). Kinerja seringkali identik dengan kemampuan (ability) seorang
auditor bahkan berhubungan dengan komitmen terhadap profesi dan
professionalisme menjadi elemen motivasi dalam memberikan kontribusi
terhadap kinerja
F. DAFTAR PUSTAKA
Bimon dkk (2013) . Analisis Pengaruh Pelaksanaan Supervisi Terhadap Kepuasan
Kerja Auditor Internal Inspektorat Se-Provinsi Riau, Jurnal Ekonomi
Volume 21, Nomor 1 Maret 2013.
Bahri, Syamsul (2010) . Pengaruh Motivasi, Tindakan Supervisi, dan Budaya
Organisasi Terhadap Kinerja Auditor Junior, Skripsi Fakultas Ekonomi
dan Bisnis, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (tidak untuk
dipublikasikan), Jakarta.
Boynton, William A and Kell, Water G. 2002. Modern Auditing. Erlangga, Jakarta.
Chandra, Kris, Ferdinan (2006) . Pengaruh Tindakan Supervisi Terhadap Kinerja
Auditor Internal Dengan Motivasi Kerja Sebagai Variabel Intervening,
Tesis Fakultas Ekonomi dan Bisnis , Universitas Dipenogoro (tidak untuk
dipublikasikan), Semarang.
Robbin, Stephen. 2003. Organizational Behavior. New Jersey: Prentice Hall: 336340.
Sawyer, 2008. Internal Auditing The Practice of Modern Internal Auditing, 4th edition,
Altamonte Springs, California: The Institute of Internal Auditor

INTERNAL AUDIT DAN SUPERVISI

MUSAHADAH
NIM 041514253059

MAGISTER AKUNTANSI KEKHUSUSAN AKUNTANSI PEMERINTAH DAN


AUDIT SEKTOR PUBLIK
STAR BPKP 2015