Anda di halaman 1dari 8

ParafAsisten

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK


Judul

: ISOLASI TRIMIRISTIN DARI BIJI PALA

TujuanPercobaan

: Mempelajari isolasi trimiristin dari biji pala dengan cara refluks.

Pendahuluan
Tanaman pala atau Myristica fragan houtt termasuk familia Myristicaceae, yang
tumbuh di Indonesia, terutama di Maluku. Pohon pala merupakan tanaman yang tingginya
sekitar 10 meter. Bauahnya yang masak berwarna kuning di bagian tengahnya alur, garis
tengah buah ini sekitar 5 cm. Biji pala mengandung 73 % trimistin yang terbentuk dari
gliserol atau gliserida jenuh yang terdiri atas komponen-komponen asam lemak yaitu, asam
laurat 1,5 %, asam miristat 76,6 %, asam palmitat 10,5 %, asam oleat 10,5 % dan asam
linoleat 1,3 %. Proporsi asam miristat yang begitu besar terikat dalam trigliserida
menunjukan bahwa senyawa trigliserida, dalam hal ini trimiristin terdapat dalam jumlah atau
proporsi yang sama dengan asam mirista (Kusuma, 1997).
Trimiristin merupakan suatu gliserida (ester lemak) yang terbentuk dari gliserol dan
asam miristat yang memiliki ikatan rangkap sehingga strukturnya teratur dan mampat.
Gliserida ini terkandung dalam buah pala (Myrictica fragrans) yang bersifat non polar
dengan kadar yang tinggi tanpa banyak bercampur dengan ester-ester yang lain, sehingga
hasil pemisahan yang murni dapat dicapai dengan cara ekstraksi. Trimiristin yang
dihidrolisis, maka akan membentuk asam miristat dan gliserol. Reaksi hidrolisis dapat
berlangsung dalam suasana asam atau basa, dimana hidrolisis dapat dilakukan dengan
alkohol (Andi, 2008).
Isolasi trimiristin (ester) dan miristat (turunan fenil propanon) yang merupakan dua
produk utama dari buah pala dilakukan dengan ekstraksi kloroform. Senyawa ini dipisahkan
dengan memisahkan residu dan filtratnya. Trimiristin padat dicampur dengan alkali,
menghasilkan asam miristat. Miristat dimurnikan dengan kromatografi kolom dan destilasi
bertingkat. Isolasi trimiristin dari biji buah pala yang paling baik adalah dengan cara ekstraksi
eter dengan alat refluks dan residunya dihabiskan dengan aseton. Selain itu senyawa
trimiristin tidak banyak bercampur dengan ester lain yang sejenis (Wilcox, 1995).
Refluks merupakan teknik laboratorium dengan cara mendidihkan cairan dalam

wadah yang disambungkan dengan kondensor sehingga cairan terus menerus kembali
kedalam wadah. Teknik ini digunakan untuk melaksanakan reaksi dalam waktu lama, semisal
sintesis organik (Freiser, 1957).
Biji Pala telah terbukti berhasil mengobati diare pada manusia maupun pada hewan.
Berdasarkan pembuktikan di labolatorium bahwa biji pala bereaksi dengan prostaglandinprostaglandin, takaran biji pala yang terlampau tinggi akan menimbulkan efek merangsang
(hampir mendekati keracunan), karena biji pala menimbulkan efek membius dan
menimbulkan rangsangan yang kuat pada urat-saraf disusul oleh depresi dan tanda-tanda
keracunan seperti sakit kepala, kejang, halusinasi, pusing kepala, runtuh, dan sebagainya. Biji
pala menyebabkan rasa ngantuk, kulit dan selaput lendir kering, gemetaran, hilang ingatan
dan rasa berat di kepala (Djatmiko, 1986).
Pala dikenal sebagai obat pelepas kelebihan gas di usus dan sebagai obat perut. Kulit
dan daunnya mengandung minyak dengan wangi pala yang menyenangkan, bunga kering
(kembang pala) dipakai pada berbagai campuran jamu, getah segar yang berwarna kehijauhijauan dari buahnya (beserta air) dipakai sebagai obat kumur untuk mengobati sariawan.
Sabun pala beguna untuk mengobati encok (Slamet, 1989).
Prinsip Kerja
Prinsip percobaan ini adalah ekstraksi trimistin dari biji pala untuk memperoleh trimiristin
crude yang selanjutnya dapat dimurnikan melalui rekristalisasi.
Alat
Timbangan, mortar, labu alas bulat 100 mL, kondensor refluks, termometer, corong
penyaring, gelas ukur 10 mL, pipet mohr 10 mL, penangas air, ice-bath, oven, alat penentu
titik leleh.
Bahan
Diklorometana, kertas saring, aseton.
Prosedur Kerja
1. Ditimbang 5 g serbuk buah pala yang telah dihaluskan dalam labu 100 mL (labu 1) dan
ditambahkan 50 mL diklorometana.
2. Dihubungkan labu 1 dengan kondensor pendingin. Dipanaskan campuran dengan refluks
selama 30 menit pada suhu tidak lebih dari 60 C.

3. Dinginkan beberapa menit, kemudian disaring dalam keadaan hangat kedalam erlenmeyer
100 mL. Dibilas padatan pada kertas saring dengan 5 mL diklorometana.
4. Diuapkan pelarut dengan digunakan penangas air, namun jangan sampai kering.
Didinginkan sampai pelarut yang tersisa sedikit.
5. Ditambahkan 10 mL aseton sambil diaduk, lalu didinginkan dalam ice-bath.
6. Disaring endapan dengan kertas saring yang telah ditimbang. Dibilas endapan dengan 10
mL aseton. Dikeringkan diudara atau dengan oven suhu rendah, lalu ditimbang.
7. Dihitung persentase rendemen dan ditentukan titik lelehnya.
Waktu
Waktu
Preparasi sampel
Proses isolasi trimiristin
Pendinginan dan penyaringan
Penambahan diklorometana
Penguapan pelarut
Pendinginan
Penambahan aseton dan pendinginan dalam
ice-bath
Penyaringan

endapan

dan

pembilasan

dengan aseton
Pengeringan dengan oven
Titik leleh
Total waktu

Kegiatan
15 menit
30 menit
10 menit
2 menit
10 menit
5 menit
10 menit
5 menit
15 menit
10 menit
112 menit

Data dan Perhitungan


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Massa serbuk buah pala


Massa kertas saring
Massa kertas saring + residu
Massa residu
Titik leleh trimiristin
Warna kristal

5g
0.51 g
1.15 g
0.64 g
56 C
putih

Perhitungan
Diket : Massa serbuk biji pala

= 5 gram

Massa Kristal + kertas saring = 1,15 gram


Massa Kertas saring

= 0,51 gram

Massa Kristal

= 1,15 0,51 = 0,64 gram

Dit : rendemen % =..?


Jawab :

12,8
Hasil

Rendemen =
0,64
100
5

rendemen nyata
100
rendemen teoritis

Pembahasan Hasil
Percobaan kali ini adalah untuk mempelajari isolasi trimiristin dari biji pala dengan
cara refluks, sehingga dapat menghasilkan trimiristin murni. Prinsip percobaannya adalah
dengan cara ekstraksi pelarut yaitu campuran yang akan terpisah karena tidak saling
melarutkan. Percobaan ini dilakukan dengan metode refluks untuk mempertahankan reaksi
sehingga tidak terdapat senyawa yang hilang dalam proses pemanasan dan pengembunan
uap, karena senyawa yang menguap akan didinginkan dalam kondensor sehingga uap akan

mencair dan kembali pada labu reaksi.


Percobaan isolasi trimiristin menggunakan buah pala untuk mendapatkan trimiristin.
Menurut Wilcox (1995), kadar trimiristin yang terkandung pada biji buah pala cukup tinggi
yaitu antara 20-25% dari berat kering biji pala.
Perlakuan pertama yaitu menghaluskan biji pala yang bertujuan agar serbuk dari biji
pala dapat dengan mudah dilarutkan dalam pelarut karena semakin kecil permukaan suatu
sampel maka akan semakin cepat larut dan bereaksi dengan pelarutnya. Disamping itu juga
untuk mempermudah terbentuknya kristal. Perlakuan selanjutya melarutkan serbuk pala
sebanyak 5 gram dalam diklorometana 50 mL dan dipanaskan dengan refluks selama 30
menit. Pereflukan bertujuan agar serbuk pala dan diklorometana tercampur sempurna, dalam
pereflukan terjadi pertahanan reaksi dalam jangka waktu lama yaitu dengan memanaskan dan
mengembunkan uap dan uap tersebut akan kembali ke labu reaksi. Digunakan pelarut
diklorometana karena diklorometana bersifat non polar sehingga dapat melarutkan trimiristin
pada buah pala yang juga bersifat non polar, disamping itu pula karena titik didih
diklorometana rendah yaitu 40 C, karena jika titik didih pelarutnya tinggi hal tersebut berarti
dimungkinkan mendekati titik didih trimiristin yang dapat menyebabkan trimiristin menguap
sehingga kristal yang didapat akan sedikit.
Perlakuan selanjutnya yaitu mendinginkan campuran yang telah dipanaskan
kemudian disaring. Penyaringan dilakukan untuk memisahkan residu dengan filtrat yang
berwarna kuning, yang merupakan campuran diklorometana dan trimiristin. Residu kemudian
dibilas dengan 5 mL diklorometana agar sisa trimiristin pada residu dapat turun dalam filtrat.
Perlakuan berikutnya adalah filtrat yang masih merupakan campuran dari pelarut
diklorometana dan trimiristin kemudian dipanaskan sehingga dapat menghilangkan pelarut
agar tidak terdapat diklorometana dalam filtrat tersebut. Langkah selanjutnya yaitu
menambahkan 10 mL aseton sambil diaduk, hal ini berfungsi untuk menghilangkan zat
pengotor selain trimiristin pada biji pala sehingga kristal yang dihasilkan merupakan kristal
trimiristin murni.
Prosedur selanjutnya adalah pendinginan campuran trimiristin dan aseton.
Pendinginan dalam ice bath yang bertujuan untuk mengendapkan kristal sehingga
memudahkan pemisahan kristal dari larutan. Selain itu dengan adanya pendinginan maka
dapat mempercepat laju pertumbuhan kristal sehingga pertumbuhan kristal lebih besar dari
pembentukan inti, sehingga kristal tersebut akan berukuran besar. Langkah selanjutnya

setelah pendinginan, dilakukan penyaringan dengan corong penyaring yang telah diletakkan
kertas saring diatasnya dan didapat residu berwarna kuning pucat. Residu tersebut merupakan
trimiristin sedangkan filtratnya merupakan campuran aseton dan pengotor. Residu yang
merupakan trimiristin dikeringkan dalam oven, fungsinya untuk menghilangkan sisa pelarut,
sehingga didapatkan residu yang benar-benar kering.
Trimiristin yang telah kering kemudian ditimbang dan menghasilkan massa sebesar
0.64 gram dan diperoleh rendemen sebesar 12,8 %. Trimiristin yang dihasilkan bewarna
putih, hal ini sesuai dengan yang dinyatakan Winarno (1991), bahwa salah satu sifat dari
trimiristin adalah memiliki kristal yang berwarna putih. Berikut merupakan struktur dari
trimiristin adalah:
CH3

O
O

O
O

CH3

O
CH3

Perlakuan terakhir yaitu menentukan titik leleh residu yang telah dihasilkan yaitu 56
C, kemudian dibandingkan dengan literatur untuk mengetahui bahwa kristal yang dihasilkan
benar-benar merupakan trimiristin. Bila titik lelehnya sama antara literatur dengan percobaan,
maka dapat dinyatakan bahwa kristal tersebut adalah trimiristin. Berdasarkan percobaan
diperoleh bahwa titik leleh kristal adalah 56 C, dan dari literatur titik leleh antara 50 C 57
C. Titik leleh dari hasil percobaan telah sesuai dengan literatur, maka dapat disimpulkan
bahwa kristal yang diperoleh adalah murni.
Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka dapat di simpulkan :
1. Pada ekstraksi biji pala 5 gram menghasilkan trimiristin sebanyak 0,64 gram.
2. Rendemen trimiristin yang diperoleh adalah sebanyak 12,8 % dan titik leleh 56 C.
3. Penambahan aseton bertujuan untuk memisahkan zat pengotor dari zat murni biji buah
pala.

Referensi
Andi. 2008. Jurnal Isolasi Trimiristin Biji Pala. UGM.
Djatmiko, B. 1986. Teknologi Lemak dan Minyak. Jakarta: Balai Pustaka.
Kusuma, Hembing Wijaya. 1997. Hidup Sehat Cara Hembing Buku 2. Jakarta: Elek Media
Komputindo.
Fieser, Louis. F. 1957. Experiment in Organic Chemistry, 3nd edition. Boston: Revised,
D. C. Heath and Company.
Slamet, S. 1989. Analisis Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta: Liberty.
Wilcox, C.F. 1995. Experimental Organic Chemistry, 2nd edition. New Jersey: Prentice Hall.
Saran
Sebaiknya praktikan harus lebih teliti dalam melakukan uji titik leleh.
Nama Praktikan
Ria Sherly Farida