0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
226 tayangan9 halaman

Bedah Mulut

Dokumen tersebut merupakan laporan odontektomi yang meliputi pendahuluan tentang impaksi gigi dan komplikasinya, kasus pasien dengan gigi impaksi kelas II horisontal, penatalaksanaan kasus meliputi persiapan, tata laksana, dan instruksi pasca operasi, serta diskusi mengenai klasifikasi dan metode odontektomi."

Diunggah oleh

MahindraAwwaludin
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
226 tayangan9 halaman

Bedah Mulut

Dokumen tersebut merupakan laporan odontektomi yang meliputi pendahuluan tentang impaksi gigi dan komplikasinya, kasus pasien dengan gigi impaksi kelas II horisontal, penatalaksanaan kasus meliputi persiapan, tata laksana, dan instruksi pasca operasi, serta diskusi mengenai klasifikasi dan metode odontektomi."

Diunggah oleh

MahindraAwwaludin
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

LAPORAN ODONTEKTOMI

Disusun oleh:
MAHINDRA AWWALUDIN ROMDLON
G1G 212 005

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
PROGRAM STUDI PROFESI KEDOKTERAN GIGI
PURWOKERTO
2014

PENDAHULUAN
Ekstraksi gigi impaksi menjadi prosedur yang umum dilakukan pada bidang bedah mulut.
Impaksi dapat terjadi karena tidak adanya tempat untuk erupsi gigi yang berkembang dengan
posisi abnormal. Gigi yang sering impaksi adalah molar ketiga rahang atas dan bawah diikuti
oleh gigi caninus rahang atas dan gigi premolar mandibular. Prevalensi impaksi semakin
meningkat seiring perkembangan manusia modern. Impaksi gigi terjadi karena evolusi yang
bertahap pada maksila maupun mandibula yang disebabkan oleh pola makan manusia modern.
Pola makan manusia modern kurang memerlukan upaya besar untuk pengunyahan sehingga
rahang kehilangan stimulus untuk pertumbuhan. Gigi impaksi ini menyebabkan beberapa
komplikasi yaitu pericoronitis, penyakit periodontal, karies, resorpsi akar dan patologi lainnya.
Komplikasi ini dapat dicegah dengan melakukan odontektomi.
KASUS
Seorang wanita inisal EP umur 22 tahun datang dengan keluhan gigi belakang kanan
bawah sakit dan sering ada makanan yang terselip. Gigi sudah berlubang sejak 1,5 tahun yang
lalu. Pada 27-7-2013 pasien berkunjung ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Universitas
Jenderal Soedirman (RSGMP Unsoed) untuk memeriksakan giginya di Unit Pelayanan Umum.
Pasien didiagnosis pulpitis ireversible pada gigi 48 disertai impaksi. Kemudian dilakukan
devitalisasi dan tumpatan sementara serta diresepkan kalium diklofenak mg 50 tab no. XII. Pada
2-8-2013 pasien kembali dan dievaluasi, kemudian diberikan eugenol dan tumpatan sementara
dan direncanakan untuk dilakukan odontektomi. Pasien disarankan untuk melakukan foto
rontgen panoramik.
Pada 12-6-2014 pasien datang kembali ke RSGMP Unsoed dan masuk di klinik integrasi.
Kemudian dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Pasien dalam kondisi compos mentis,
berat badan 44,5 kg, tinggi badan 151, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 108/menit, pernafasan
18 kali/menit. Pasien masih menggunakan piranti orthodonsi sampai saat ini. Pasien mempunyai
alergi seafood dan obat golongan sulfa serta alergi dingin. Tidak ada kelainan sistemik selain
yang disebutkan diatas. Pemeriksaan ekstra oral wajah, pipi dan bibir simetris. Kelenjar getah
bening tidak teraba. Adanya clicking pada TMJ regio kiri. Pemeriksaan intra oral menunjukkan
oral hygiene dalam keadaan sedang dan ditemukan kalkulus pada regio 3 dan 4. Pemeriksaan

odontogram ditemukan pulpitis reversible kedalaman dentin pada gigi 17, 38 dan 47. Pulpitis
reversible kedalaman email pada gigi 35, 45, dan 46. Nekrosis pada gigi 48.
Pasien menyerahkan foto rontgen panoramik yang sudah pernah dilakukan pada 10-122013. Berdasarkan foto tersebut diperoleh gambaran gigi 48 impaksi kelas II horisontal disertai
karies profunda, supernumerari pada regio 45 dan 35, gigi 28 tumbuh tidak sempurna.
Berdasarkan keluhan pasien, kemudian pasien direncanakan untuk dilakukan odontektomi pada
gigi 48.

Gambar 1. Gambar radiografi panoramik

Gambar 2. Gambaran radiografi gigi 48

PENATALAKSANAAN KASUS

1. Mempersiapkan alat, bahan dan ruangan kerja


Sebelum dilakukan odontektomi, semua alat yang akan digunakan disterilkan terlebih
dahulu disterilisator kemudian daerah kerja disterilkan dengan menyemprotkan alkohol.
2. Persiapan pasien
Pasien dicek tanda-tanda vital tekanan darah, nadi dan pernafasan. Pasien dalam
kondisi sehat, tidak sedang haid, istirahat cukup 1 hari sebelum operasi dan sudah makan
sebelum operasi.
3. Tata laksana
Prosedur asepsis dengan povidone iodine kemudian anestesi menggunakan pehacain
(lidocain+epinefrin) untuk N. Alveolalris inferior dan N. lingualis. Dilakukan palpasi
terlebih dahulu pada fossa retromolaris dengan jari telunjuk sehingga kuku jari menempel
pada linea oblikua. Bagian belakang jarum suntik terletak di antara kedua premolar pada sisi
yang berlawanan jarum diarahkan sejajar dengan dataran oklusal gigi-gigi mandibula ke
arah ramus dan jari. Jarum ditusukkan pada apeks trigonum pterygomandibular dan gerakan
jarum di antara ramus dan ligamentum serta otot yang menutupi fasies interna ramus
diteruskan sampai ujungnya kontak dengan dinding posterior sulkus mandibularis. Aspirasi
terlebih dahulu, apabila negatif lalu injeksi 1,5 ml. Rata-rata kedalaman insersi jarum adalah
15 mm untuk anestesi N. Alveolaris inferior. N. Lingualis dapat dianestesi dengan cara
mengeluarkan obat anestesi pada pertengahan perjalanan keluarnya jarum. Kemudian
dilakukan anestesi pada N. Buccalis longus sebanyak 0,5 ml.
Regio-regio yang telah dianestesi kemudian di cek dengan cara menanyakan kepada
pasien apakah sudah terasa tebal di bagian lidah dan bibir sebagian, kemudian dilakukan
pemeriksaan dengan membuka daerah marginal gingiva dengan eskavator atau sonde.
Prosedur selanjutnya dilakukan separasi dengan bur fissure untuk memecah mahkota secara
vertikal dan memecah bifurkasi secara horisontal. Kemudian dilakukan dilatasi pada tulang
alveolar menggunakan elevator sampai gigi goyang. Setelah gigi goyang derajat 2 digunakan
tang untuk mengeluarkan sisa akar tersebut dengan arah gerakan bukolingual.

Gambar 2. Garis menunjukan separasi yang dilakukan pada gigi molar ketiga

Pasca pencabutan dilakukan debridement menggunakan povidone iodine, untuk


mengeluarkan serpihan gigi dan tulang yang berada di dalam soket. Soket pencabutan
diberikan spongostan karena luka cukup dalam dan tidak dilakukan suturing. Pasien
diberikan instruksi pasca ekstraksi.
Medikasi yang diberikan kepada pasien yaitu clindamycin mg 300 tab No. VIII untuk
4 hari, diminum 2x sehari setelah makan dan natrium diclofenak mg 50 tab No. VI untuk 3
hari diminum setelah makan. Pasien dikontrol pada 11-7-2014, masih ada rasa kurang
nyaman saat menggigit makanan, kemudian dilakukan debridment menggunakan povidone
iodine dan saline steril.

DISKUSI

Odontektomi merupakan tindakan bedah yang perlu direncanakan. Sebelum melakukan


odontektomi perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.

Dilakukan pemeriksaan foto rontgen berupa foto periapikal dan foto panoramik. Jenis foto
yang diperlukan disesuaikan dengan kebutuhan pada tindakan odontektomi. Berdasarkan foto

rontgen maka akan didapatkan informasi tentang:


Bentuk gigi, jumlah dan ukuran
Posisi akar atau mahkota dengan gigi sebelahnya atau struktur lainnya.
Klasifikasi impaksi.
Posisi bukal atau lingual gigi impaksi.
e. Hubungan akar gigi impaksi dengan struktur anatomis penting didekatnya.
2. Mengetahui klasifikasi gigi impaksi. Hal ini penting karena dengan mengetahui klasifikasi
a.
b.
c.
d.

maka operator dapat memperkirakan tingkat kesulitan yang akan dihadapi dalam tindakan
odontektomi sehingga operator dapat mempersiapkan prosedur operasi dengan lebih baik.
3. Menentukan arah jalan keluar/pengambilan dengan trauma minimal
4. Menentukan metode odontektomi yang dipilih dengan memperhatikan faktor intrinsik (gigi)
dan faktor extrinsik ( jaringan sekitar gigi). Ada 3 metode yaitu:
a. Pengambilan tulang sekitar gigi yang cukup banyak.
b. Gigi impaksi dipotong-potong
c. Kombinasi cara keduanya.
5. Menentukan apakah memungkinkan pembedahan dilakukan dengan anestesi lokal atau
membutuhkan anestesi umum.

Kalsifikasi Gigi Impaksi


1. Menurut Archer berdasarkan angulasi: mesioangular, horizontal, vertical atau
distoangular, buccoversion, linguaversion.

Gambar 3.

Klasifikasi

impaksi

menurut Archer

2. Menurut Pell and

Gregory

berdasarkan

hubungan

dengan tepi
a. Kelas 1 yaitu

anterior ramus
mesiodistal gigi

impaksi terletak seluruhnya di anterior dari tepi anterior ramus mandibula.


b. Kelas 2 yaitu gigi impaksi lebih ke posterior sehingga kira-kira separuh gigi terbenam
dalam ramus.
c. Kelas 3 yaitu gigi impaksi terletak seluruhnya di dalam ramus.
3. Berdasarkan hubunganya dengan bidang oklusal
a. Kelas A yaitu permukaan oklusal M3 sejajar dengan permukaan oklusal M2.
b. Kelas B yaitu permukaan oklusal terletak diantara oklusal plane dan servikal line M2.
c. Kelas C yaitu permukaan oklusal M3 dibawah cervical line M2.

Gambar 4. Klasifikasi menurut Pell and Gregory

Kasus impaksi pada pasien tersebut termasuk dalam kelas II horisontal. Odontektomi
yang dilakukan tidak memerlukan prosedur pembukaan flap dan pembuangan tulang, karena
akses dalam mengeluarkan gigi tersebut memadai. Pembukaan flap dan pembuangan tulang
dilakukan apabila gigi baru terjadi erupsi sebagian atau belum erupsi sama sekali.
Pengurangan tulang dilakukan apabila gigi dilakukan separasi menjad beberapa bagian. Gigi
bisa diambil tanpa dilakukan pembelahan gigi, namun harus membuang tulang yang cukup
besar. Pembuangan tulang yang banyak akan mengakibatkan proses penyembuhan yang
lama, akan tetapi pemotongan gigi menjadi banyak bagian akan memperpanjang waktu
operasi. Jadi potong gigi dan buang tulang sesuai dengan kebutuhan untuk menyingkat waktu
pembedahan dan penyembuhan (Miloro, 2004).
Tindakan Pasca Odontektomi
Setelah tindakan odontektomi, pasien jelaskan terlebih dahulu hal-hal yang mungkin akan
dirasakan setelah tindakan.
1. Perdarahan.
Tindakan odontektomi seperti pencabutan biasa, akan terjadi komplikasi yaitu
perdarahan setelah tindakan, sehingga pasien tidak perlu takut apabila selama beberapa jam
pertama masih terasa ada rembesan darah yang keluar. Proses terpenting adalaha menjaga
bekuan darah yang sudah terbentuk tidak rusak lagi sehingga darah keluar lagi. Setiap
gerakan di dalam mulut yang berupa menghisap atau menyedot dapat merusak bekuan darah
sehingga menyebabkan darah yang keluar bertambah banyak. Beberapa hal yang tidak
boleh dilakukan yaitu:
a. Merokok.
b. Terlalu banyak meludah.
c. Minum dengan sedotan.
d. Berkumur terlalu keras.
2. Pasien perlu segera menemui dokter bila perdarahan berat masih keluar lebih dari 24 jam
setelah pencabutan.
3. Pembengkakan pada pipi daerah pencabutan. Pembengkakan pasca operasi gigi molar ini
biasa terjadi. Pembengkakan yang terjadi dapat diminimalisir dengan cara kompres dingin
selama 24 jam pertama. Hari selanjutnya lakukan kompres hangat untuk menstimulasi
peredaran darah dan mempercepat penyembuhan.

4. Rasa sakit berdenyut setelah pengaruh obat bius hilang. Rasa sakit pasti akan terasa,
terutama setelah pengaruh anestesi hilang, sehingga harus meminum obat untuk mengurangi
rasa sakit yang sudah diresepkan. Selain meminum obat penghilang rasa sakit, pasien harus
meminum obat antibiotik yang sudah diresepkan. Antibiotik yang diresepkan harus diminum
secara rutin sampai habis.
5. Makanan terjebak di tempat bekas pencabutan. Odontektomi yang dilakukan selalu
meninggalkan soket/lubang sehingga gingiva harus dijahit. Makanan sering terjebak dan
sulit dibersihkan di daerah tersebut, akan tetapi jangan mencongkel daerah tersebut. Pasien
diinstruksikan untuk tetap menjaga kebersihan rongga mulut.
6. Buka mulut terbatas, dan terasa nyeri bila mulut dibuka lebar. Hal ini disebabkan
pembengkakan yang terjadi di pipi sehingga ada keterbatasan saat membuka mulut. Pasien
disarankan untuk memilih makanan yang lunak dan mudah dikunyah.
7. Rasa kebal atau kaku yang terus berlanjut lebih dari 1 hari setelah pencabutan. Hal ini dapat
terjadi pada posisi gigi yang terbenam dalam tulang cukup dalam atau dekat dengan syaraf
(n.mandibularis). Rasa kebal/kaku yang berlanjut dapat terjadi karena syaraf tersebut
tersenggol atau cedera saat disuntik anestesi. Pasien dianjurkan untuk kembali menemui
dokter gigi yang melakukan operasi agar dapat diresepkan obat yang dapat meredakan
kondisi ini.
DAFTAR PUSTAKA
Firmansyah, D dan Teguh I.S., 2008, Fraktur Patologis Mandibula Akibat Komplikasi
Odontektomi Gigi Molar 3 Bawah, Indonesian Journal Of dentistry; 15(3):192-195.
Fragiskos, D. F. Oral Surgery. Athens, Greece. Springer Science & Bussiness Media. 2007
Miloro, M., 2004, Petersons of oral and maxillofacial surgery. 2nd ed. BC Decker Inc.
Hamilton, London.
Pederson, G.W., 1996, Buku Ajar Praktis Bedah Mulut, EGC, Jakarta

Anda mungkin juga menyukai