Anda di halaman 1dari 35

ASUHAN

KEPERAWATAN
PADA PASIEN
DENGAN KANKER
PARU
Erna Safariyah

PENDAHULUAN
Kanker paru dalam arti luas ialah
- semua penyakit keganasan di paru
- keganasan yang berasal dari paru sendiri
- keganasan dari luar paru(metastase)
Dalam pengertian kanker paru ialah tumor
ganas yang berasal dari epitel bronkus, yakni
karsinoma bronkus (bronchogenic carcinoma).

EPIDEMIOLOGIK

Prevalensi yang terus meningkat baik pada


laki-laki maupun perempuan
Jepang, sebelumnya kanker gastrointestinal
menduduki peringkat pertama, tetapi saat
ini diduduki oleh kanker paru
Indonesia kanker paru menduduki
peringkat ke-3 setelah kanker leher rahim
dan kanker payudara

Termasuk tumor ganas tersering di seluruh dunia

Di Amerika 1/3 kematian akibat kanker

Di Indonesia : urutan ke-3 4 di antara tumor ganas

Pada perempuan frekuensi (kebiasaan merokok),


mulai mengejar kanker payudara

FAKTOR RESIKO
Terpapar zat karsinogenik berulang iritasi/ radang kronis
jaringan

Rokok tembakau : tar


persenyawaan hidrokarbon
aromatik polisiklik
Polusi udara : sulphur, emisi kendaraan bermotor dan polutan
yg berasal dari pabrik
Asap pabrik/ tambang
Debu radioaktif/ ledakan nuklir : asbes, arsen, krom, nikel,
besi dan uranium
Vitamin A : diet rendah vitamin A
Genetika : lesi genetik termasuk aktivasi onkogen dominan
dan resesif

PATOLOGI

> 90% seluruh tumor kanker primer timbul


pada jaringan epitel bronkial berkoloni
bronkogenik karsinoma
Secara histologi diklasifikasikan :
1. Sel kecil atau oat cell
2. Epidermoid atau sel skuamosa
kanker
3. Adenokarsinoma
Paru
4. Sel besar
nonsel
kecil

SEL KECIL (OAT CELL) (20%)

Lokasi tumor sentral, berkembang cepat,


sering maligna
Metastasis limfe dan sirkulasi
Sindrom paraneoplastik
Prognosis jelek 2 tahun dengan
pengobatan

Kemoterapi, radiasi tidak dianjurkan untuk


metastasis, surgical tidak memuaskan

EPIDERMOID (SEL SKUAMOSA) (30%)

Terlokalisasi di tengah atau cabang bronkus segmental


Lokasi perifer cavitas terbentuk di jaringan paruparu
Berhubungan erat dengan rokok
Berkembang lambat, kurang invasiv, metastase
terbatas pada rongga toraks, termasuk nodus limfe
regional, pleura, dinding dada
Gejala obstruksi dan pneumonia nyeri dada, batuk,
dispnea,hemoptisis

Pembedahan u/ Stadium I dan II, Kemoterapi dan radiasi

ADENOKARSINOMA (30-35%)

Letak perifer
Berkembang lambat
Penyebaran hematogen
Frekuensi tinggi metastase ke otak, adrenal,
hati, tulang, ginjal
Sering pada wanita
Fibrotik pada paru2

Pembedahan u/ stadium I&II, Kemoterapi,


radiasi u/ metastasis penyakit

SEL BESAR (11 %)

Perifer, lesi subpleura , nekrotik


Tumor
bermassa
lebih
besar
adenokarsinoma
Berkembang lambat
Prognosis buruk

dari

Pembedahan baik u/ stadium I atau II,


kemoterapi, radiasi

METASTASIS
1.
2.
3.

Invasi langsung parsial atau total pada


bronkus
Invasi
Limfatik

mediastinum,
paratrakheal, hilus sentral nodus limfatikus
Hematogenous ( melalui aliran darah )
sistem vena pulmonari lower thoracic,
upper lumbar vertebrae, tulang panjang,
kelenjar adrenal, CNS, hati

PENDERAJATAN (STAGING)
UICC & AJCC : staging for lung cancer, menurut :
T : tumor : ukuran & perluasan
N : Nodes : metastasis ke kgb regional
(intrapulmoner, hilus,
mediastinum,
ektratoraks)
M : Metastasis : penyebaran jauh (di paru dan
luar paru)
Stage
IA IIB IV
IBIIIA
IIA IIID

STADIUM

Tx M0 : su/ karsinoma occult di mana


sekret bronkopulmoner mengandung sel-sel
ganas, tetapi tdk ada bukti/ data adanya
tumor primer, pembesaran/ metastasis
Stadium I : Tis N0 M0, karsinoma in situ, T1 N0
M0, t1 N1 M0, t2 N0 M0
Stadium II : T1 N1 M0, T2 N1 M0
Stadium IIIa : T3 N0 M0, T3 N1 M0, T1-3 N2 M0
Stadium IIIb : banyak T N3 M0, T3 banyak N
M0, banyak T dan N M1
Stadium IV : Banyak T Banyak N M1

To : Tidak terbukti adanya tumor primer

Tx : Kanker yang tersembunyi terlihat pada sitologi bilasan bronkus tetapi tidak terlihat pada
radiogram atau bronkoskopi

Tis : Karsinoma in situ

T1 : Tumor dengan diameter 3 cm dikelilingi paru paru atau pleura viseralis yang normal.

T2 : Tumor dengan diameter 3 cm atau dalam setiap ukuran dimana sudah menyerang pleura
viseralis atau mengakibatkan atelektasis yang meluas ke hilus; harus berjarak 2 cm distal dari
karina.

T3 : Tumor dalam setiap ukuran dengan perluasan langsung pada dinding dada, diafragma, pleura
mediastinalis, atau pericardium tanpa mengenai jantung, pembuluh darah besar, trakea, esofagus,
atau korpus vertebra; atau dalam jarak 2 cm dari karina tetapi tidak melibat karina.

T4 : Tumor dalam setiap ukuran yang sudah menyerang mediastinum atau mengenai jantung,
pembuluh darah besar, trakea, esofagus, koepua vertebra, atau karina; atau adanya efusi pleura
yang maligna.

No : Tidak dapat terlihat metastasis pada kelenjar limfe regional.

N1 : Metastasis pada peribronkial dan/ atau kelenjar kelenjar hilus ipsilateral.

N2 : Metastasis pada mediastinal ipsi lateral atau kelenjar limfe subkarina.

N3 : Metastasis pada mediastinal atau kelenjar kelenjar limfe hilus kontralateral; kelenjar
kelenjar limfe skalenus atau supraklavikular ipsilateral atau kontralateral.

Mo : Tidak diketahui adanya metastasis jauh

M1 : Metastasis jauh terdapat pada tempat tertentu (seperti otak).

Occult carcinoma : TxNoMo : Sputum mengandung sel sel ganas tetapi tidak dapat dibuktikan
adanya tumor primer atau metastasis.

TANDA BAHAYA KANKER PARU


1.
2.
3.

4.

5.

6.
7.
8.

Hoarsenes (parau)
Perubahan pola nafas
Batuk
persisten
atau
perubahan batuk
Sputum
mengandung
darah
Sputum
berwarna
kemerahan atau purulen
Hemopthisis
Nyeri dada
Nyeri dada, punggung
dan lengan

9.

10.
11.

12.
13.
14.

Pleura
efusi,
pneumonia, bronkhitis
Dispnea
Demam berhubungan
dengan satu atau dua
tanda lain
Wheezing
Penurunan BB
Clubbing finger

PATOFISIOLOGI
Ca Paru

percabangan segmen/sub bronkus

cilia hilang,pengendapan karsinogen

metaplasia,hyperplasia,displasia

Lesi perifer pleura efusi pleura


Lesi sentral obstruksi & ulserasi bronkus

batuk,hemoptisis,dispneu,demam,dingin,wheezing

Faktor Etiologi
Karsinoma
Invasif

Karsinoma
in situ

Displasia

Meta plasia

Tidak ada gejala


Gejala :

Iritasi batuk
Resistensi & retensi lendir infeksi
Obstruksi bronkus sesak
Infiltrasi ke alat2 sekitar :
- v. kava superia SVKS
- pleksus brakial SPB
- esofagus disfagia
- bronkus besar sesak
- n. rekurens disfonia
- saraf sensorik nyeri
Metastasis : kgb >
Metastasis jauh :

- otak hemiplegia

- tulang nyeri
- ginjal, hati
Sindrom paraneoplastik : - kelainan jari
- trombosis vena

Epitel
normal

P
A
T
O
G
E
N
E
S
I
S

GAMBARAN KLINIK

Massa tumor terbatas pertumbuhannya / belum


melibatkan organ-organ lain atau jaringan lain di
sekitarnya tidak akan memberikan keluhan dan
tanda-tanda klinis yang berarti

Massa tumor lebih besar dan melibatkan organlain di sekitarnya akan memberikan keluhankeluhan

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Radiologi
Foto

thorax PA dan lateral serta tomografi dada

bentuk,ukuran,lokasi lesi
Bronkhografi

tumor di percabangan bronkus

Laboratorium
Sitologi

sputum,pleural, nodus limfe


Fungsi paru & GDA kebutuhan ventilasi
Tes kulit,jumlah absolut limfosit imun

Histopatologi
Bronkoskopi

bilasan bronkus
Biopsi trans torakal lesi perifer < 2 cm 90-95%
Torakoskopi pleura
Mediastinosop metastasis kelenjar getah bening
Torakotomi

Pencitraan CT-scan, MRI

PENATALAKSANAAN
TUJUAN : KURATIF, PALIATIF, HOSPICE CARE, SUPORTIF
(Ilmu Penyakit Dalam,2001 & Doengoes, Rencana Asuhan Keperawatan,2000)
Pembedahan

Toraktomi eksplorasi biopsi


Pneumonektomi pengangkatan paru
Lobektomi
Resesi Segmental satu atau lebih segmen paru
Resesi baji pengangkatan permukaan paru2
Dekortikasi pengangkatan bahan2 fibrin dan pleura
visceralis

Radiasi mengurangi efek obstruktif, penekanan


pembuluh darah/bronkus
Kemoterapi mengganggu pola pertumbuhan tumor

TERAPI

Radioterapi
Kemoterapi
Kombinasi (kemoradioterapi)
Neo Ajuvan
Ajuvan terapi
Imunoterapi
Pembedahan

PEMBEDAHAN

Indikasi : ~ stage I & II


~ paliatif : sindrom v. kava
superior dengan
distres respirasi

Merupakan unsur multimodaliti


untuk stage IIIA, didahului kemoterapi
neoadjuvan

PEMBEDAHAN
Prinsip mengangkat tumor secara lengkap
~ Lobektomi / pneumonektomi, termasuk
KGB intrapulmoner
~ Segmentektomi : bila faal paru tidak
memadai
~ KGB mediastinum : diseksi sistematik
~ Batas sayatan harus bebas tumor
(potong beku)
~ KPKSK umumnya sudah dibedah

RADIOTERAPI

Kuratif : untuk favourable group


~ Merupakan bagian kemoterapi neoadjuvan
untuk stage IIIA
~ Faktor penentu : stage, tampilan, faal paru
~ Kadang-kadang menjadi alternatif terhadap
modaliti lain
~ Dosis 5000 - 6000 cGy -- 200 Gx/kali,
5 hari / minggu
~ Hb > 10 g%, trombosit > 100.000 / mm3,
leukosit > 3000 / dl
Paliatif : untuk unfavourable group (tampilan
< 60, penurunan BB 2 bulan terakhir > 5%,
faal paru buruk)

KEMOTERAPI

Dapat diberikan pada semua kasus

Paling sensitif : KPKSK

Memberi kemungkinan reduksi tumor


(% response rate) dan perbaikan
prognosis (1 - 2 years survival rate,
median survival time, median time to
progression)

Modaliti lain untuk pengobatan kanker paru


Imunoterapi

: manfaat belum jelas

Terapi hormon
: belum ada hasil
penelitian di Indonesia
Terapi gen

: masih dalam penelitian

PENCEGAHAN
Pencegahan primer
Pencegahan sekunder
~ Diagnosis dini (early diagnosis) : usia
~ Usia kanker, perokok, gejala respirasi tak sembuh
dengan pengobatan 2 minggu - 1 bulan
~ Penemuan dini (early detection)
Kelompok risiko tinggi
* , 40 th, perokok
* pajanan industri
~ Sitologi sputum tiap 4 bulan atau tiap tahun
~ Foto toraks tiap 6 bulan atau tiap tahun
~ Spiral CT Scan

PENGKAJIAN
Keluhan utama nyeri dada biasanya menetap, sesak nafas
Aktivitas/Istirahat kelemahan,dispneu karena aktivitas
Kardiovaskuler

peningkatan
JVP,
BJ:
gesekan
pericardial,takikardia/disritmia, clubbing finger
Sistem Pernafasan batuk (+), sputum (+), nafas pendek,
dispneu, taktil fremitus, krekels/wheezing pada inspirasi atau
ekspirasi, kadang ditemukan hemoptisis
Sistem Pencernaan BB menurun, nafsu makan berkurang, sulit
menelan
Sistem Muskuloskeletal kaji ROM
Sistem reproduksi ginekomastia
Sistem Neurosensori kaji nyeri , sensasi baal pada ekstremitas
atas
Dll

DIAGNOSIS KEPERAWATAN
(Somantri,2008),(Brunner&Suddarth,2001),
(Gale,2000),(Doengoes,1999)
1. Kerusakan pertukaran gas b/d penurunan
kapasistas paru-paru sekunder terhadap
destruksi jaringan
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d
obstruksi tumor dan peningkatan sekresi
trakheobronkhial
3. Nyeri b/d tekanan tumor pada jaringan
penunjang dan erosi jaringan
4. Dll.

INTERVENSI KEPERAWATAN

Dx.1
Kriteria hasil :
Menunjukkan

perbaikan ventilasi dan oksigenasi adekuat dg


GDA dlm rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan
Berpartisipasi
dlm
program
pengobatan,dlm
kemampuan/situasi
Intervensi :
Observasi status pernafasan dg sering,catat peningkatan
frekuensi
Observasi bunyi adanya tambahan
Observasi adanya sianosis
Observasi GDA
Kolaborasi pemberian oksigen

INTERVENSI KEPERAWATAN

Dx.2
Kriteria hasil :
Menunjukkan hilangnya dispnea
Mempertahankan jalan nafas paten dg bunyi nafas bersih
Mengeluarkan sekret tanpa kesulitan
Intervensi :
Observasi perubahan upaya dan pola bernafas
Observasi penurunan ekspensi dinding
Observasi karakteristik batuk (menetap,efektif,tak efektif), produksi
dan karakteristik sputum
Pertahankan posisi tubuh/kepala tepat dan gunakan alat jalan
nafas sesuai kebutuhan
Kolaborasi pemberian bronkodilator, observasi adanya efek
samping

INTERVENSI KEPERAWATAN

Dx.3
Kriteria hasil :
Laporan verbal, nyeri dada berkurang
Skala nyeri berkurang
Wajah tampak rileks
Klien dapat beristirahat tanpa terganggu rasa nyeri
Intervensi :
Observasi karakteristik,lokasi,intensitas nyeri
Tenangkan klien bahwa anda mengetahui bahwa nyeri yg dirasakan
adalah nyata dan anda akan membantu klien dlm mengurangi nyeri
tsb.
Observasi faktor lain yg menunjang nyeri,keletihan dan marah klien
Manajemen nyeri : backrubs,perubahan posisi, musik lembut
Kolaborasi : pemberian analgesik

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth, (2001), Buku Ajar Keperawatan


Medikal Bedah, Edisi 8, EGC : Jakarta.
Doengoes,Marilynn E, (1999), Rencana Asuhan
Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan pasien, Edisi 3, EGC :
jakarta.
Somantri,Irman, (2008), Asuhan Keperawatan pada
pasien dengan Gangguan sistem Pernafasan,
Salemba Medika : Jakarta.
Suyono,Slamet (2001), Buku Ajar ilmu Penyakit
Dalam, Jilid II, edisi 3, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
Underwood, J.C.E, (1999), Patologi Umum dan
Sistematik, Edisi 2, EGC : Jakarta.

MANAJEMEN KASUS
Tn.A 45 tahun, status menikah dan mempunyai 4
orang anak, saat ini sedang dirawat di R.Teratai
bawah. Saat ini keluhan yg dirasakan adalah sesak
nafas. Mempunyai riwayat merokok 10 tahun yg lalu
dimana frekuensinya 15 batang perhari. Saat ini
dirawat sudah 17 hari, klien merasa tidak berdaya
jika sesak nafasnya bertambah berat. Klien merasa
tidak nyaman dan sesak nafas bila berbaring. Hasil
pemeriksaan laboratorium : Hb 12,6 gr %, Ht 34,7 %,
leukosit 4400/ml,trombosit 191000/ml,kreatinin 2,40
mg/dl. Klien mendapatkan terapi : infuse RL 12
tts/mnt, Aminophilin 3x500 mg dan injeksi
Dexamethasone 3x2 ampul.
Diagnosa medis ; Ca Paru Dextra