Anda di halaman 1dari 7

BERAS AROMATIK PANDANPUTRI HASIL REKAYASA GENETIKA MUTASI

RADIASI

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT berkat rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga makalah Beras
Aromatik Pandanputri Hasil Rekayasa Genetika Dengan Teknik Mutasi Radiasi ini dapat
diselesaikan.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak akan berhasil dengan baik tanpa
adanya bimbingan dan sumbangan pemikiran dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis
menyampaikan terima kasih kepada:
1. Dosen mata kuliah Agroklimatologi, yang telah memberi ilmu dan pengarahan dalam
makalah ini.
2. Bapak dan Ibu yang telah memberikan doa sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
3. Sahabat- sahabat yang membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sebagai balasan atas amal baik
dari semua pihak yang telah disebutkan di atas. Penulis mengharap saran dan kritik membangun
guna kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua
pihak yang membacanya.
Garut, 12 November 2012
Penulis
DAFTAR ISI
Hal
KATAPENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1

1.2 Identifikasi Masalah 1


1.3 Maksud Dan Tujuan 1
1.4 Kegunaan penulisan 2
1.5 Kerangka Pemikiran 2
1.6 Sistematika Penulisan

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Induksi Mutasi Fisik dalam Pemuliaan Tanaman

2.2 Radiasi Sinar Gamma 3


2.3 Bahan dan Metode Untuk Radiasi Sinar Gama 4
2.4 Beras Aromatik Pandanputri Hasil Rekayasa Genetika
Dengan Teknik Mutasi Radiasi 4
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan 7
DAFTAR PUSTAKA 8

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Padi merupakan tanaman pangan berupa rumput berumpun. Tanaman ini berasal daru dua benua,
yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Luas pertanaman padi di Indonesia diperkirakan
mencapai 1112 juta ha, yang tersebar di berbagai tipologi lahan seperti sawah (5,10 juta ha),
lahan tadah hujan (2,10 juta ha), ladang (1,20 juta ha), dan lahan pasang surut (Susanto, et al.,
2003). Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan ini
merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia.

Mutasi adalah perubahan materi genetik, yang merupakan sumber pokok dari semua keragaman
genetik dan merupakan bagian dari fenomena alam (Aisyah, 2006). Mutasi dapat terjadi secara
spontan di alam, namun peluang kejadiannya sangat kecil, yaitu sekitar 10-6 (Aisyah, 2009).
Induksi mutasi dapat dilakukan dengan menggunakan mutagen kimia seperti EMS (ethylene
methane sulfonate), NMU (nitrosomethyl urea), NTG (nitrosoguanidine), dan lain-lain) atau
mutagen fisik (seperti sinar gamma, sinar X, sinar neutron dan lain-lain). Akan tetapi mutasi
dengan iradiasi pada bagian vegetatif tanaman memperlihatkan hasil yang lebih baik
dibandingkan perlakuan dengan mutagen kimia (Aisyah, 2009).
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang penelitian tersebut di atas, maka permasalahan pokok yang
dapat dirumuskan dan menjadi kajian dalam penulisan makalah ini adalah: Hal-hal apa saja
yang berhubungan dengan Beras Aromatik Pandanputri Hasil Rekayasa Genetika Dengan Teknik
Mutasi Radiasi.
Permasalahan yang muncul diantaranya yaitu:
1. Bagaimana Beras Aromatik Pandanputri Hasil Rekayasa Genetika Dengan Teknik Mutasi
Radiasi, seta beberapa penjelasannya?
1.3 Maksud dan Tujuan Penulisan
Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Bioteknologi.
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui hal-hal yang dijelaskan dalam Beras Aromatik Pandanputri Hasil Rekayasa
Genetika Dengan Teknik Mutasi Radiasi.
1.4 Kegunaan Penulisan
Dengan penulisan makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi
penulis ataupun pembaca dan menjadi referensi bagi penulis lain.
1.5 Kerangka Pemikiran
Dalam penulisan makalah ini, penulis memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan
yang penulis teliti. Kerangka pemikiran ini dimulai dengan mengedepankan pengertianya.
1.6 Sistematika Penulisan
Agar makalah ini dapat dipahami pembaca, maka penulis membuat sistematika penulisan
makalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN
Pendahuluan berisikan latar belakang, identifikasi masalah, tujuan penulisan, pembatasan
masalah, dan sistematika penulisan.
BAB II PEMBAHASAN
Bersikan pembahasan tentang Beras Aromatik Pandanputri Hasil Rekayasa Genetika Dengan
Teknik Mutasi Radiasi.
BAB IV PENUTUP
Berisikan kesimpulan dari keseluruhan pembahasan serta saran-saran.
BAB II
PEMBAHSAN
2.1 Induksi Mutasi Fisik dalam Pemuliaan Tanaman
Aplikasi induksi mutasi dengan mutagen fisik dapat dilakukan melalui beberapa teknik, yaitu (a)
iradiasi tunggal (acute iradiation), (b) chronic irradiation, (c) iradiasi terbagi (frationated
irradiation), dan (d) iradiasi berulang (Misniar, 2008). Iradiasi tunggal adalah iradiasi yang
dilakukan hanya dengan satu kali penembakan sekaligus. Chronic irradiation adalah iradiasi
dengan penembakan dosis rendah, namun dilakukan secara terus-menerus selama beberapa
bulan. Iradiasi terbagi adalah radiasi dengan penembakan yang seharusnya dilakukan hanya satu
kali, namun dilakukan dua kali penembakan dengan dosis setengahnya sedangkan radiasi
berulang adalah radiasi dengan memberikan penembakan secara berulang dalam jarak dan waktu
yang tidak terlalu lama.
2.2 Radiasi Sinar Gamma
Radiasi Sinar Gamma atau gelombang elektromagnetik (foton) dari suatu sumber energi
(BATAN, 2008). Radiasi energi tinggi adalah bentuk-bentuk energi yang melepaskan tenaga
dalam jumlah yang besar dan kadang-kadang disebut juga radiasi ionisasi (BATAN, 2008) karena
ion-ion dihasilkan dalam bahan yang dapat ditembus oleh energi tersebut (Crowder, 1986).
Radiasi dapat menginduksi terjadinya mutasi karena sel yang teradiasi akan dibebani oleh tenaga
kinetik yang tinggi, sehingga dapat mempengaruhi atau mengubah reaksi kimia sel tanaman
yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya perubahan susunan kromosom tanaman
(Poespodarsono, 1988).
Radiasi memiliki beberapa tipe, yaitu radiasi sinar X, radiasi sinar gamma, dan radiasi sinar ultra
violet (Crowder, 1986). Radiasi sinar gamma dipancarkan dari isotop radio aktif, panjang
gelombangnya lebih pendek dari sinar X, dan daya tembusnya adalah yang paling kuat. Hidayat,
(2004) mengatakan bahwa sinar gamma merupakan bentuk sinar yang paling kuat dari bentuk

radiasi yang diketahui, kekuatannya hampir 1 miliar kali lebih berenergi dibandingkan radiasi
sinar X.
2.3 Bahan dan Metode Untuk Radiasi Sinar Gama
Bahan dan Alat
Bahan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
1. Benih Padi
Alat alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
1. Tray perkecambahan
2. Label
3. Alat tulis
4. Alat ukur
5. Gamma chamber 4000A
Metode Pelaksanaan
1. Masukkan benih padi.
2. Radiasi benih benih tersebut ke dalam gamma chamber 4000A dengan sumber radiasi Co60
3. Kecambahkan benih dalam tray perkecambahan
4. Amati daya tumbuh dan tinggi tanaman
5. Bandingkan antar perlakuan
6. Buat kurva respon LD50
2.4 Beras Aromatik Pandanputri Hasil Rekayasa Genetika Dengan Teknik Mutasi Radiasi
Beras Aromatik Pandanputri ini adalah hasil dari mutasi genetic dengan radiasi sinar gama.
Satu lagi varietas unggul padi hasil karya anak bangsa berhasil dikontribusikan untuk menambah
keragaman varietas unggul padi nasional. Varietas ini termasuk tanaman padi yang cocok untuk
lahan basah, bersifat aromatik (berbau harum) dan mudah beradaptasi di berbagai kondisi lahan.

Karena merupakan keturunan dari Varietas Pandan Wangi yang menjadi kebanggaan Kabupaten
Cianjur, varietas baru ini kemudian diberi nama Pandanputri.
Berawal dari kondisi bahwa varietas Pandanwangi yang masih sangat sulit untuk bisa diproduksi
secara massif, maka Prof. Dr. Ismachin pemulia tanaman dari Pusat Aplikasi Teknologi Isotop
dan Radiasi (PATIR) - Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melakukan rekayasa genetika
terhadap Pandanwangi dengan menggunakan teknik radiasi. Seperti diketahui bahwa
Pandanwangi adalah beras kebanggaan masyarakat Cianjur karena memiliki ciri khas tersendiri,
yaitu baunya harum, rasa nasinya sangat pulen dan penampilan nasinya sangat putih. Kombinasi
dari keragaman sifat khas tersebut kemudian membuat Pandanwangi banyak dicari dan harganya
menjadi sangat mahal.
Agak disayangkan selain sifat positif tersebut ternyata Pandanwangi memiliki kekurangan, yaitu
umur panennya masih sangat panjang yaitu sekitar 8 bulan dan tidak mudah beradaptasi dengan
berbagai kondisi lahan. Tidak semua wilayah di Kabupaten Cianjur cocok untuk ditanami
Pandanwangi, hanya di 5 Kecamatan yang bisa menghasilkan, yaitu Kecamatan Warungkondang,
Cibeber, Cilaku, Cugenang dan Cianjur Kota. Itulah yang menyebabkan Pandanwangi menjadi
sulit ditemukan di pasaran.
Dengan melihat kondisi tersebut Prof. Dr. Ismachin kemudian melakukan percobaan rekayasa
genetika dengan teknik penyinaran radiasi gamma (Iradiasi). Sebagaimana karakteristiknya
radiasi gamma bisa menyebabkan perubahan sifat keturunan apabila ditembakkan pada bebijian
tanaman. Interaksi antara sinar gamma dengan kromosom bisa menyebabkan struktur kromosom
rusak, putus atau berpindah pasangan. Perubahan yang terjadi dapat mempengaruhi sifat tanaman
yang diradiasi. Sifat baru yang muncul bisa beragam, bisa lebih bagus atau sebaliknya.
Pengamatan dilakukan terhadap perkembangan tanaman dari sejak proses penyemaian, masa
pertumbuhan hingga waktu panen. Pada saat inilah akan terlihat perubahan yang terjadi pada
tanaman dan hanya terhadap sifat yang baik yang dilakukan pengamatan selanjutnya, hingga
diperoleh sifat tanaman yang diinginkan.
Penyinaran radiasi terhadap Pandanwangi sudah dilakukan pada tahun 2001 dan kemudian
dilakukan pengujian tanaman bekerja sama dengan PT. Sang Hyang Sri di Pusaka Negara,
Kabupaten Subang hingga menghasilkan Galur Mutan Harapan dengan kode PW 67-a-PsJ. Galur
Mutan inilah yang kemudian dilakukan uji multi lokasi di 17 kecamatan di Kabupaten Cianjur
antara tahun 2008 hingga tahun 2009. Untuk mendukung kegiatan uji multi lokasi tersebut antara
BATAN dengan Kabupaten Cianjur telah menandatangani Nota Kesepahaman pada tahun 2007.
Hasil uji multi lokasi menunjukkan bahwa Galur Mutan PW 67-a-PsJ bisa beradaptasi baik di
seluruh wilayah pengujian. Sifat positif yang lain adalah masa panennya sangat pendek hanya
sekitar 4 bulan, aromatik, tekstur dan rasa nasinya tidak berubah dari induknya.
Hasil pengamatan terhadap uji multi lokasi yang dilengkapi dengan uji fisik galur, kandungan
protein dan amilosa serta uji flavor ini kemudian diajukan kepada Tim Penilai dan Pelepasan
Varietas (P2V) Tanaman serta berhasil lolos untuk ditetapkan sebagai varietas unggul. Akhirnya
dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian nomor 2366/Kpts/SR-120/6/2010 Galur Mutan PW
67-a-PsJ ditetapkan sebagai varietas unggul dan diberi nama Pandanputri. Dengan hadirnya
Pandanputri diharapkan beras beraroma wangi dan pulen akan lebih mudah ditemukan di pasaran

dan lebih banyak lagi masyarakat yang bisa mengkonsumsi. Satu lagi kontribusi BATAN untuk
disumbangkan bagi bangsa Varietas unggul Pandanputri untuk melengkapi 15 varietas unggul
hasil litbang BATAN sebelumnya.
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Padi Pandanputri ini sangat baik terbukti dari hasil uji multi lokasi menunjukkan bahwa Galur
Mutan PW 67-a-PsJ bisa beradaptasi baik di seluruh wilayah pengujian. Sifat positif yang lain
adalah masa panennya sangat pendek hanya sekitar 4 bulan, aromatik, tekstur dan rasa nasinya
tidak berubah dari induknya.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.wiraswastamuslim.com/berita-102-islam-dan-wirausaha.html
http://artikel-keislaman.blogspot.com/2010_07_01_archive.html
Buku Keagungan Akhlaq, Ust. Maftuh Ahnan
http://www.batan.go.id/