Anda di halaman 1dari 3

PERTANYAAN DAN JAWABAN KELOMPOK 6

OBAT HIGH ALERT


KELAS A
1. Apakah obat ondansetron dapat dikategorikan sebagai Obat High Alert?
Obat ondansetron tidak dapat dikategorikan sebagai obat high alert untuk saat ini.
Ondansetron tidak termasuk ke dalam golongan NORUM atau LASA, elektrolit kuat,
dan juga sitostatika yang merupakan penggolongan obat high alert oleh MenKes di
Indonesia. Selain itu, obat-obatan yang tergolong obat high alert merupakan kumpulan
beberapa laporan error yang disampaikan kepada ISMP National Medication Errors
Reporting Program yang kemudian ISMP membuat dan mengupdate secara periodik
daftar obat-obat potensial high alert . Jika banyak laporan mengenai obat tersebut, maka
dapat dikategorikan sebagai obat high alert. Ondansetron tidak terdapat dalam kategori
obat high alert menurut ISMP. Begitu pula di Rumah Sakit, masing-masing Rumah Sakit
memiliki daftar obat high alertnya sendiri. Jika telah banyak terjadi kejadian tidak
diinginkan dapat dikategorikan sebagai obat ini.
2. Bagaimana strategi penggunaan Obat High Alert?
a. Penyimpanan dan penggunaan secara umum obat high alert medications.
High alert medications disimpan di pos perawat di dalam troli atau cabinet yang

memiliki kunci.
Semua tempat penyimpanan harus diberikan label yang jelas dan dipisahkan
dengan obat-obatan rutin lainnya. Jika high alert medications harus disimpan di
area perawatan pasien, kuncilah tempat penyimpanan dengan diberikan label

Peringatan: high alert medications pada tutup luar tempat penyimpanan.


Jika menggunakan dispensing cabinet untuk menyimpan high alert medications,
berikanlah pesan pengingat di tutup cabinet agar pengasuh atau perawat pasien
menjadi waspada dan berhati-hati dengan high alert medications. Setiap kotak

atau tempat yang berisi high alert medications harus diberi label.
Infus intravena high alert medications harus diberikan label yang jelas dengan

menggunakan huruf / tulisan yang berbeda dengan sekitarnya.


Buang obat atau cairan segera bila ditemukan tidak berlabel.
Vial/ ampul / wadah obat atau cairan jangan dibuang sampai prosedur atau
tindakan selesai, terutama di kamar operasi atau ruang prosedur

Label pada kontainer harus dibuang pada setiap selesai suatu prosedur/tindakan.

b. Penempatan dan penanganan SALAD/LASA


Penetapan daftar obat SALAD/LASA perlu dilakukan di tiap Rumah Sakit. Semua
obat yang masuk dalam daftar SALAD/LASA seharusnya tidak ditempatkan di area
yang berdekatan. Tempat obat diberi label khusus dengan huruf cetak, warna jelas dan
label cetakan serta diberikan pencahayaan yang terang pada tempat obat. Selain itu,
dapat pula dilakukan double check oleh 2 orang petugas yang berbeda pada setiap
melakukan dispensing obat. Khusus obat injeksi dan narkotik, dilakukan double
check bersama satu orang perawat lainnya yang dimulai sejak menyiapkan obat
sampai pemberian kepada pasien. Dalam peresepan dan penyimpanan, juga dapat
dilakukan metode Tall Man untuk mengurangi dan mencegah terjadinya medication
errors.
c. Penempatan dan penanganan elektrolit konsetrat
Elektrolit konsentrat hanya disimpan di bagian farmasi, tidak ada di ruang-ruang
perawatan kecuali bila ada kebutuhan secara klinik di area-area tertentu dan tindakan
pencegahan harus ditetapkan untuk kemungkinan kesalahan pemberian. Elektrolit
konsentrat tidak distok/ disimpan di ruang-ruang rawat, kecuali untuk kebutuhan
klinik boleh di stok dalam jumlah terbatas di area-area tertentu misalnya kamar
operasi, Dialysis unit, IGD, ICU/ICCU, penyimpanan dan pemberian harus sesuai
dengan persyaratan.
Untuk memenuhi kebutuhan penggunaan elektrolit konsentrat pasien pasien di
ruang-ruang rawat lainnya khususnya potassium chloride, disiapkan langsung oleh
staf bagian Farmasi dalam bentuk sediaan yang sudah di dilusi. Resep elektrolit
konsentrat (contoh: potassium chloride) dikirimkan ke farmasi untuk disiapkan.
Kemudian, petugas farmasi menyiapkan elektrolit konsentrat, dalam hal ini potassium
chloride, yang sudah dilarutkan dalam cairan infus dengan volume sesuai resep dokter
untuk sekali pakai. Saat menyiapkannya harus diterapkan teknik aseptik lalu diberi
label nama obat, jumlah, kekuatan, dan waktu kadaluarsa. Potassium chloride
dikirimkan segera ke ruangan untuk diberikan kepada pasien yang membutuhkan.
Penyimpanan potassium chloride yang sudah dilarutkan tidak direkomendasikan.
d. Penempatan dan penanganan obat sitostatika

Sitostatika tergolong obat yang beresiko tiggi karena mempunyai efek toksik yang
tinggi terhadap sel sehingga dapat menyebabkan karesinigenik, mutagenic, dan
tertogenik. Oleh karena itu penanganan obat sitostatika khusus untuk menjamin
keamanan, keselamatan penderita, perawat, professional kesehatan danorang lain
yang tidak menderita sakit. Penanganan yang harus diperhatikan antara lain teknik
aseptic, pemberian dalam biological safety cabinet, petugas yang bekerja harus
terlindungi, jaminan mutu produk, dilaksanakan oleh petugas yang teratih, dan
adanya protap.
3. Pada infus 100 mL yang termasuk Obat High Alert, jika sudah digunakan apakah
boleh digunakan lagi sisanya?
Boleh jika digunakan pada waktu yang tidak terlalu lama. Jangka waktu yang diizinkan
untuk penggunaan kembali isi infus yang telah digunakan sebelumnya adalah maksimal 7
hari setelah dibuka. Saat penyimpanan setelah digunakan pun, wadah infus yang telah
terbuka harus ditutup rapat dan disimpan dengan baik agar tidak terjadi hal yang tidak
diinginkan.