Anda di halaman 1dari 20

Hilang pada pemijaran adalah tes yang digunakan dalam analisis kimia anorganik

khususnya dalam analisis mineral dengan jalan memijarkan suatu contoh pada suhu
tertentu, sehingga zat yang mudah terbang akan terlepas sampai pada kondisi yang
konstan. Pengujian sederhana biasanya dilakukan dengan menempatkan beberapa gram
bahan dalam suatu wadah yang telah diketahui bobotnya kemudian dimasukkan dalam
tungku dengan suhu yang dapat dikontrol dan ditempatkan selama waktu tertentu.
Kemudian setelah itu didinginkan dan kemudian ditimbang kembali, proses pemanasan
dapat diulang untuk memastikan bahwa sudah tidak terjadi perubahan berat. Variasi dari
pengujian ini adalah perubahan berat yang diakibatkan oleh suhu, hal ini disebut
Thermogravimetri.
Hilang Pijar dilaporkan sebagai hilang nya bagian dari suatu material atau oksida dari
suatu mineral. Zat yang mudah terbang pada hilang pijar adalah air terikat dan karbon
dioksida dari karbonat, dan ini dapat digunakan sebagai pengujian kualitas.
DEFENISI SEMEN PORTLAND
Ada beberapa defenisi atau pengertian tentang semen portland antara lain :
1. Bahan yang mempunyai sifat Adhesive dan Cohesive digunakan sebagai
bahan pengikat (Bonding Material) yang dipakai bersama-sama aggregate (kasar
dan halus).
2. Semen adalah hydraulic binder (perekat Hidraulisis) yang berarti bahwa
senyawa-senyawa yang terkandung didalam semen tersebut dapat bereaksi
dengan air dan membentuk zat baru.
3. Semen portland adalah semen hidrolisis yang dihasilkan dengan cara menggiling
terak/klinker yang mengandung senyawa kalsium Silikat yang bersifat hidrolisis
ditambah dengan bahan tambahan gypsum yang berfungsi sebagai pengatur
pengikatan (memperlambat pengikatan).
4. Semen adalah suatu campuran bahan-bahan kimia yang mempunyai sifat
hidrolisis, yang bila dicampur dengan air akan berubah menjadi bahan yang
mempunyai sifat perekat.
Dari beberapa pengertian dan defenisi diatas pada dasarnya mempunyai pengertian
yang sama bahwa :
semen adalah suatu bahan yang bersfat hidolisis (dapat mengeras dalam air)
yang digunakan sebagai bahan perekat/pengikat (Bonding Material)yang
ditambahkan gypsum sebagai material yang berfungsi mengatur waktu pengikatan
semen.
2.1 Semen
Semen berasal dari kata cement dalam bahasa Inggris yang berarti pengikat/perekat.
Perkataan cement itu sendiri diambil dari kata latin, yaitu cementum, yaitu nama yang
diberikan kepada batu kapur yang serbuknya telah dipergunakan sebagai bahan adukan
(mortar) lebih dari 200 tahun yang lalu di Romawi (sekarang Italia).
Dalam perkembangannya, arti perkataan cement mengalami sedikit perubahan,
misalnya pada abad pertengahan diartikan sebagai segala macam bahan
pengikat/perekat (seperti rubber cement termasuk pula ke dalam portland cement).
Semen adalah hydraulic binder (perekat hidrolis) yang berarti bahwa senyawa-senyawa
yang terkandung di dalam semen tersebut dapat bereaksi dengan air membentuk zat
baru yang bersifat perekat terhadap batuan. Oleh karena sifat hidrolis tersebut, maka
semen bersifat :
dapat mengeras bila dicampur dengan air
tidak larut dalam air
plastis sementara bila dicampur dengan air

melepaskan panas bila dicampur dengan air


dapat melekatkan batuan bila dicampur dengan air
Semen bersifat adhesif maupun kohesif yang digunakan sebagai bahan pengikat
(Bonding Material), antara lain sebagai pengikat batu, pasir dan bahan lain menjadi
bahan padat yang dipergunakan untuk pekerjaan konstruksi. Material yang mempunyai
sifat-sifat adhesif dan kohesif disebut binder. Adapun Jenis pengikat ( Bonding Material )
dibagi menjadi dua jenis :
Semen Hidrolis
Merupakan semen yang mengeras dalam air dan dapat menghasilkan padatan yang
stabil dalam air. misalnya : semen portland.
Semen Non Hidrolis
Merupakan semen yang tidak dapat mengeras dalam air atau tidak stabil dalam air,
misalnya kapur.(3)
2.2 Bahan Baku Semen
Semen terdiri dari berbagai senyawa mineral yang mengandung senyawa kalsium
aluminat dan kalsium aluminat ferit yang berarti senyawa semen berasal dari zat oksida
kapur, oksida silika, oksida aluminat dan oksida besi. Oleh sebab itu bahan mentah
semen adalah bahan-bahan yang menghasilkan keempat oksida tersebut dalam jumlah
tertentu dan berasal dari satu atau dua jenis bahan mentah yang lain.
Sumber utama bahan mentah tersebut adalah :
1. Batu Kapur (Lime Stone)
Batu kapur digunakan sebanyak 81% dari total kebutuhan bahan mentah. Batu kapur
merupakan sumber utama oksida yang mempunyai rumus CaCO3
( kalsium karbonat) pada umumnya tercampur MgCO3 dan MgSO4. Batu kapur yang baik
dalam penggunaan pembuatan semen memiliki kadar air 5%.
Reaksi : CaCO3 CaO + CO2
2. Batu Silika (Silika Stone)
Batu silika digunakan sebanyak 9% dari total kebutuhan bahan mentah. Batu silika
memiliki rumus SiO2 (silikon dioksida). Pada umumnya batu silika terdapat bersama
oksida logam lainnya, semakin murni kadar SiO2 semakin putih warna pasir silikanya,
semakin berkurang kadar SiO2 semakin berwarna merah atau coklat, disamping itu
semakin mudah menggumpal karena kadar airnya yang tinggi.
3. Tanah Liat (Clay)
Tanah liat digunakan sebanyak 9% dari total kebutuhan bahan mentah. Tanah liat
merupakan sumber utama dari alumina (Al2O3) dengan komposisi utama Al2O3 minimal
27%. Rumus kimia tanah liat yang digunakan pada produksi semen SiO2 Al2O3.2H2O.
4. Pasir Besi (Iron Sand)
Pasir besi yang digunakan sebanyak 1% dari total kebutuhan bahan semen. Pasir besi
memiliki rumus kimia Fe2O3 (Ferri Oksida) yang pada umumnya selalu tercampur
dengan SiO2 dan TiO2 sebagai impuritiesnya. Fe2O3 berfungsi sebagai penghantar
panas dalam proses pembuatan terak semen. Kadar yang baik dalam pembuatan semen
yaitu 75% 80%.
5. Gypsum
Pada penggilingan akhir digunakan gipsum sebanyak 3-5% total pembuatan semen.
Gypsum memiliki rumus (CaSO4.2H2O). Kadar gypsum dengan murni minimal 95%
merupakan bahan penolong dalam industri semen yang berguna untuk memperlambat
proses pengerasan dari semen.(4)
2.3. Semen Portland Campur (mixed cement)
2.3.1. Definisi Semen Portland Campur
Suatu bahan pengikat hidrolis hasil penggilingan bersama-sama dari terak Semen
Portland dan gypsum dengan satu atau lebih bahan anorganik yang bersifat tidak
bereaksi (inert).(2)
2.3.2. Klasifikasi Semen Portland Campur
a. Semen Portland Pozolan
Merupakan bahan perekat hidrolik yang dibuat dengan cara menggiling secara klinker

semen Portland dengan bahan yang bersifat pozolan. Pozolan adalah suatu bahan
bangunan yang bersifat reaktif terhadap kapur dan dapat berupa alam atau buatan.
Pozolan alam atau yang lazim disebut tras, adalah hasil lapukan batuan gunung berapi
yang banyak mengandung silika, yang dalam keadaan halus bila dicampur dengan kapur
dan air setelah beberapa waktu akan membentuk masa yang padat, keras dan tidak larut
dalam air.
Sedangkan pozolan buatan adalah suatu bahan yang didapatkan melalui proses
pembuatan seperti semen merah, abu terbang (fly ash) dan sebagainya. Bahan tersebut
antara lain bahan yang mengandung senyawa silika dan alumina, dimana bahan bahanbahan pozolan ini sendiri tidak mempunyai sifat mengikat, akan tetapi dengan
bentuknya yang halus bila bercampur dengan air maka senyawa tersebut akan bereaksi
dengan Ca(OH)2 pada suhu kamar akan membentuk senyawa yang mempunyai sifat
seperti semen. Semen Portland Pozolan terbagi atas empat macam, yaitu :
1. Jenis IP-U : digunakan untuk semua pembuatan adukan beton
2. Jenis IP-K : digunakan untuk semua pembuatan adukan beton dengan tahan sulfat dan
hidrasi sedang
3. Jenis P-U : digunakan untuk semua pembuatan adukan beton dimana tidak diyaratkan
kekuatan awal yang tinggi.
4. Jenis P-K : digunakan untuk semua pembuatan adukan beton dimana tidak disyaratkan
kekuatan awal yang tinggi serta untuk tahan sulfat dan tahan hidrasi rendah.
b. Semen Portland kerak dapur tinggi
Semen yang dibuat dengan cara menggiling klinker dengan kerak dapur tinggi. Semen ini
digunakan untuk gedung-gedung yang menggunakan beton bertulang, bangunan air dan
beton praktekan.
c. Super Masonry Cement (SMC)
Super masonry cement adalah bahan pengikat hidrolis yang dapat dibuat dengan cara
menggiling bersama antara klinker semen portland, gips dengan bantuan kapur atau
bahan silika.
Kegunaan Super Masonry Cement antara lain :
- Sangat cocok untuk pekerjaan pembuatan pondasi konstruksi ringan, karena sifatnya
yang lebih plastis dan tidak cepat kaku pada waktu pengecoran serta memiliki kekuatan
tekan yang relatif sama dengan semen Portland.
- Karena sifatnya yang plastis dan mudah dikerjakan (workable), lebih cocok untuk
pekerjaan pemasangan batu bata, tegel dan bahan-bahan bangunan lainnya.
- Sangat cocok untuk semua pekerjaan plesteran, yaitu sebagai penutup permukaan
dinding baik luar atau dalam bangunan dari pasangan bata merah atau batu cetak, yang
berfungsi sebagai perata permukaan, memperindah dan memperkedap dinding, karena
sifatnya yang lebih plastis dan lebih kedap air.
- Memberikan hasil permukaan plester yang licin dan halus serta tanpa retak-retak,
karena sifatnya pengerutan dan penyusutannya.
- Sangat cocok untuk pekerjaan-pekerjaan pengecoran dan pencetakan karena sifatnya
yang workable, lebih plastis serta panas hidrasinya lebih rendah, sehingga hasilnya akan
lebih baik dan bebas dari keretakan-keretakan.
- Mempunyai pori-pori permukaan yang sangat kecil, sehingga akan menghemat
pemakaian bahan cat.
- Mempunyai pertumbuhan kekuatan tekan yang relatif lambat, sehingga bangunan yang
menggunakan Masonry Cement akan memiliki kekuatan akhir yang lebih besar.(3)
2.3.3 Sifat Fisika Semen Portland Campur
Beberapa sifat semen yang utama adalah :
1. Sifat Hidrasi Semen
Hidrasi semen adalah reaksi yang terjadi antara komponen-komponen atau senyawasenyawa dengan air menghasilkan hidrat. Reaksi hidrasi semen tersebut akan
menghasilkan panas yang akhirnya mempengaruhi kualitas (mutu) beton.
Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi hidrasi semen antara lain ;
a. Jumlah air ang ditambahkan
b. Temperatur
c. Kehalusan semen

d. Bahan aditif
Faktor-faktor tersebut akan mengakibatkan terbentuknya pasta semen dalam jangka
waktu tertentu akan mengalami pengerasan (setting). Proses hidrasi adalah proses
kristalisasi yang dibagi dalam tiga tahap proses, yaitu :
1) Secara kimia, bahan-bahan dalam semen bereaksi dengan air membentuk senyawa
hidrat
2) Secara fisika, senyawa hidrat yang terbentuk akan membentuk kristal karena
larutannya sangat jenuh
3) Secara mekanis, kristal yang terbentuk akan saling mengikat secara kohesi dan adhesi
membentuk struktur yang kokoh
Hidrasi ada temperatur yang tinggi akan menyebabkan kekuatanakhir semen menjadi
rendah dan beton akan menjadi retak. Berdasarkan hal ini, maka bahan yang dipakai
untuk pembuatan beton harus disimpan pada tempat dengan temperatur yang rendah
agar penguapan air tidak terlalu berlebihan.
2. Setting (pengikatan) dan Hardening (pengerasan)
Pada pencampuran adonan semen dengan air akan menimbulkan terjadinya gejala
kekuatan semen yang biasa dinyatakan dengan waktu pengikatan (setting time) yaitu
mulai terjadinya adonan sampai mulai kaku.
Ada dua jenis setting time yaitu :
Initial setting time (waktu pengikatan awal) adalah waktu mulai adonan terjadi
kekakuan tertentu dimana adonan sudah mulai tidak workable.
Final setting (waktu pengikatan akhir)adalah waktu mulai adonan terjadi sampai
kekuatan penuh
Hardening yaitu semen mulai mengeras dan memberikan kekuatan. Jadi setting time dan
hardening merupakan suatu rangkaian proses sejak terjadinya adonan sampai semen
tersebut mengeras dan memberikan kekuatan.
3. Kekuatan tekan
Kekuatan tekan adalah kemampuan material menahan suatu beban. Kekuatan tekan
yang diukur adalah kekuatan tekan terhadap pasta, mortar dan beton. Pasta adalah
campuran antara semen dan air pada perbandingan tertentu. Mortar adalah campuran
antara semen, air dan pasir pada perbandingan tertentu. Beton adalah campuran antara
semen, pasir, air dan agregat atau kerikil pada perbandingan tertentu. Kekuatan tekan
adalah sifat kemampuan menahan atau memikul statu beban tekan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan tekan :
Kualitas semen
Meliputi kehalusan dan komposisi semen. Semakin halus partikel-partikel semen akan
menghasilkan kekuatan tekan yang semakin tinggi
Kualitas selain semen
Meliputi kualitas agregat, kekuatan tekan agregat dan pasta, kekerasan permukaan,
konsentrasi, ukuran agregat, water cement ratio, volume udara, cara pengerjaan seperti
pengadukan, compacting, pengeringan dan umur beton.
4. Penyusutan (Shrinkage)
Merupakan proses penyusutan volume beton karena adanya penguapan air yang ada
dalam adonan semen tersebut. Semen yang baik adalah jika memiliki penyusutan sekecil
mungkin. Proses penyusutan dipengaruhi oleh:
1. Komposisi semen
2. Jumlah pencampuran semen
3. Concrete mix
4. Curing condition (suhu, humdity,aliran air)
Untuk mengatasi penyusutan yang dapat menimbulkan keretakan tersebut maka kadar
gipsum dalam semen dapat dipertinggi.
5. Panas hidrasi
Panas hidrasi merupakan panas yang dihasilkan oleh reaksi hidrasi (reaksi eksoterm) jika
semen dicampur dengan air. Besarnya panas hidrasi dipengaruhi oleh:
a) Tipe semen
b) Komposisi kimia
c) Kehalusan semen
d) Jumlah air yang ditambahkan

Reaksi hidrasi semen adalah sebagai berikut :


2(3CaO.SiO2) + 6H2O 3CaO.2SiO2.3H2O + 3Ca(OH)2
2(2CaO.SiO2) + 4H2O 3CaO.2SiO2.3H2O + Ca(OH)2
2CaO.Al2O3 + 6H2O 3CaO.Al2O3.6H2O
3CaO.Al2O3.6H2O + 3CaSO4.2H2O 3CaO.Al2O3.3CaSO4.9H2O
4CaO.Al2O3.Fe2O3 + 12H2O 3CaO.Al2O3.6H2O+ 3CaO.Fe2O3.6H2O
Jika semen berkekuatan awal tinggi dan memiliki panas hidrasi tinggi digunakan sebagai
embentuk beton, maka beton akan mengalami keretakan. Hal ini disebabkan oleh
sulitnya melepaskan panas hidrasi yang timbul selama proses hidrasi berlansung, yang
pada akhirnya akan terjadi kontraksi. Kontraksi inilah yang menyebabkan beton retak
apabila proses pendinginan beton tersebut dilanjutkan.
6. Ketahanan (Durability)
Yaitu ketahanan beton terhadap pengaruh yang merusak oleh kondisi disekitarnya
sehingga tidak menimbulkan penurunan kekuatan tekan. Umumnya kerusakan pada
beton di daerah-daerah tropis disebabkan oleh pengaruh asam, pengaruh sulfat dan
abrasi.
a. Beton pada pengaruh asam dan sekitarnya
Umumnya serangan oleh asam pada beton adalah dengan merubah konstituenkonstituen semen yang tidak larut dalam air menjadi senyawa-senyawa yang larut dalam
air, sehingga dengan mudah dapat dihilangkan. Misalnya asam klorida (HCl) merubah
Kalsium Silikat Hidrat, Kalsium Aluminat Hidrat, Kalsium Alumina Ferryte Hidrat dan
Ca(OH)2 menjadi CaCl2, AlCl3 dan FeCl3.
b. Beton pada pengaruh sulfat dari sekitarnya
Bermacam-macam senyawa sulfat umumnya dapat menyerang beton dengan hebatnya.
Kecuali Barium Sulfat yang bersifat tidak larut dalam air oleh karena tidak agresif.
c. Beton pada pengaruh abrasi terhadap beton
Pada pemakaian-pemaakaian tertentu, misalnya untuk lantai landasan, jalan dan
sebagainya , beton akan mengalami keausan, oleh karena ketahanan terhadap abrasi
merupakan faktor penting dalam menentukan durabilitinya.(1)
7. Kelenturan
Selama proses hidrasi akan terjadi ekspensi abnormal yang dapet menyebabkan beton
menjadi retak. Ekspensi yang sangat besar terjadi didalam semen apabila kandungan
freelime, MgO, Na2O dan K2O sangat tinggi atau gypsum yang ditambahkan pada
penggilingan akhir terlalu banyak.
8. Kehalusan
Kehalusan semen merupakan salah satu syarat mutu fisika semen karena akan
menentukan luas permukaan partikel-partikel emen pada saat hidrasi. Semekin halus
semen maka kekuatan, panas hidrasi dan kebutuhan air per satuan berat semen akan
semakin tinggi, serta reaksi hidrasi akan semakin cepat. Disamping itu, hal tersebut
dapat menyebabkan semakin singkatnya setting time serta lebih mudah terjadinya
shrinkage sehinggaa menimbulkan keretakan pada konstruksi beton.
Semen yang memiliki kehalusan terlalu tinggi akan mudah menyerap air dan CO2 dari
udara. Jika semen terlalu kasar, maka kekuatan, plastisitas dan kestabilannya akan
berkurang. Oleh karena itu untuk menjaga agar semen dapat dipakai dengan baik,
kehalusannya dijaga. Hal itu tergantung dari jenis semen.
9. Kelembaban
Selama penyimpanan ataau pengangkutan, semen mudah menyerap uap air dan CO2
dari udara sehingga akan menurunkan kualitas semen. Hal ini ditandai dengan ;
1) Bertambahnya Lost On Ignition (LOI)
2) Terbentuknya gumpalan-gumpalan
3) Menurunnya spesifik grafity
4) Menurunnya kekuatan tekan semen
5) Bertambahnya waktu setting dan hardening
10. False set
False set merupakan hasil dari dehidrasi gypsum yang disebabkan karena pemanasan
berlebihan pada semen. Reaksinya adalah:
CaSO4.2H2O CaSO4. H2O
False set merupakan pengerasan yang tidak normal apabila air ditambahkan kedalam
semen beberapa menit kekuatan (rigidity) segera terjadi. Pengerasan ini disebabkan oleh

adanya CaSO4. H2O dalam semen. False set dapat dihindari dengan mengatur
temperature semen saat penggilingan di cement mill agar gypsum tidak berubah
menjadi CaSO4. H2O. Selain itu gypsum yang digunakan harus cukup dan belum
terhidrasi.(3)
2.4 Pengaruh BTL (Bagian Tak Larut), SO3 dan Hilang Pijar pada SMC (Super Masonry
Cement)
BTL (bagian tak larut) merupakan senyawa yang tetap tinggal setelah semen tersebut
direaksikan dengan asam klorida (HCl) dan natrium hidroksida (NaOH). Bagian tak larut
terutama berasal dari clay berupa SiO2 yang tidak terikat dalam pembuatan klinker.
Biasanya senyawa ini hanya terdapat dalam jumlah kecil sehingga tidak mempengaruhi
mutu semen.
Sulfur trioksida (SO3), senyawa ini terutama berasal dari gypsum dan bahan bakar yang
dipakai pada pembentukan klinker. Fungsi utama senyawa ini adalah untuk menghambat
proses hidrasi mineral C3A dan sebagai pengatur setting time semen. Apabila
penambahan gypsum mencapai titik optimalnya, maka senyawa ini dapat membantu
terjadinya hidrasi C3S. Hal ini akan memberikan keuntungan-keuntungan sebagai
berikut:
1) Kekuatan tekan semen bertambah
2) Mengurangi terjadinya drying shrinkage (penyusutan)
3) Meningkatkan kelenturan (soundness) semen
Kadar SO3 dalam klinker yang baik adalah 0,6 % dan jika kadar SO3 dalam klinker tinggi
maka klinker akan sukar digiling. Jika kadar SO3 dalam SMC ini lebih dari 3% maka akan
menyebabkan semen ini mudah retak terutama pada pemakaian plesteran.
Hilang Pijar (Lost On Ignition / LOI) adalah berat yang hilang (dalam %) dari sampel pada
waktu dipijarkan pada suhu dan waktu tertentu. Hilang pijar pada semen terutama
disebabkan oleh terjadinya penguapan air kristal yang berasal dari gypsum serta
penguapan CO2. Pada semen yang baru diproduksi, nilai hilang pijar berkisar antara 0,50,8% sesuai dengan jumlah kristal yang terdapat dalam gypsum.(6)
2.4 Metode Gravimetri
Metode gravimetri adalah suatu metode analisis yang didasarkan pada penimbangan
berat konstan unsur/senyawa yang ditentukan terhadap berat sampel yang dilakukan
dengan beberapa cara seperti pengendapan, penguapan dan elektrolisis dari suatu
sampel secara kimia maupun fisika.(7)
Cara penguapan
Pada cara ini komponen-komponen yang tidak diinginkan, dihilangkan sebagai uap. Uap
ini jika tidak diperlukan dibiarkan hilang begitu saja dalam udara dan zat yang tertinggal
ditentukan beratnya. Jika uap tersebut diperlukan, maka uap tersebut dialirkan ke dalam
zat penyerap yang sebelumnya telah ditentukan beratnya. Dari penambahan berat dapat
ditentukan jumlah uap tersebut. Contoh aplikasi metode ini adalah penentuan kadar air
(air kristal atau air yang ada dalam suatu bahan).
Cara Pengendapan
Pada cara ini komponen-komponen yang diinginkan diubah bentuknya menjadi bentuk
yang sukar larut. Bentuk ini kemudian harus dapat dipisahkan secara sempurna.
Secara umum langkah-langkah analisis gravimetri cara pengendapan adalah sebagai
berikut :
a. Sampel atau cuplikan ditimbang dengan teliti dan dilarutkan dalam pelarut agar terjadi
endapan
b. Ditambahkan pereaksi agar terjadi endapan
c. Memisahkan endapan yang terbentuk
d. Memurnikan atau membersihkan endapan
e. Menimbang endapan sesudah dikeringkan
f. Menghitung hasil analisis
Metode Elektrolisis
Metode elektrolisis dilakukan dengan cara mereduksi ion-ion logam terlarut menjadi
endapan logam. Ion-ion logam berada dalam bentuk kation apabila dialiri dengan arus
listrikn dengan besar tertentu dalam waktu tertentu maka akan terjadi reaksi reduksi

menjadi logam dengan bilangan oksidasi = 0


Endapan yang terbentuk selanjutnya dapat ditentukan berdasarkan beratnya, misalnya
mengendapkan tembaga terlarut dalam suatu sampel cair dengan cara mereduksi. Cara
elektrolisis ini dapat diberlakukan pada sampel yang diduga mengandung kadar logam
terlarut cukup besar seperti air limbah.
Suatu analisis gravimetri dilakukan apabila kadar analit yang terdapat dalam sampel
relatif besar sehingga dapat diendapkan dan ditimbang. Apabila kadar analit dalam
sampel hanya berupa unsure pelarut, maka metode gravimetri tidak mendapat hasil
yang teliti. Sampel yang dapat dianalisis dengan metode gravimetri dapat berupa
sampel padat maupun sampel cair.(7,8)
KLINKER SEMEN PORTLAND
Dalam pembuatan semen Portland, clinker merupakanutama yang merupakan bahan
padat yang dihasilkan dari proses pembakaran dalam Kiln membentuk butiran-butiran
atau nodul, biasanya diameter 3-25 mm.
Klinker merupakan bahan utama dalam pembuatan semen yang dengan penambahan
kalsium sulfat sedikit akan menjadi semen.
Dalam peroses penggilingan menjadi semen memungkinkan ditambahkan bahan aktif
lainnya untuk menghasilkan:
1.Blastfurnace terak semen
2.Pozzolanat semen
3.Semen silica fume
Klinker, jika disimpan dalam kondisi kering, dapat disimpan untuk
beberapa bulan yang cukup tanpa kehilangan kualitas. Karena itu dapat dengan mudah
ditangani dengan menggunakan peralatan yang biasa, klinker yang diperdagangkan
secara internasional dalam jumlah besar. Biaya pengiriman jauh lebih rendah apabila
dibandingkan dengan biaya pengiriman semen dalam jumlah yang sama . Produsen
semen membeli klinker untuk digiling sendiri menjadi semen atau sebagai penambah
klinker mereka sendiri di pabrik semen mereka.
Gypsum ditambahkan ke klinker terutama sebagai pengatur waktu pengikatan semen,
selain itu juga sangat efektif untuk media penggilingan klinker dengan mencegah
aglomerasi dan pelapisan pada permukaan bola dan dinding mill.
Dalam proses penggilingan klinker menjadi semen senyawa organik juga sering
ditambahkan sebagai mendia untuk menghindari aglomerasi. Trietanolamina (TEA) yang
umum digunakan di 0,1 wt. % Dan terbukti sangat efektif. aditif lainnya adalah kadangkadang digunakan, seperti etilen glikol, asam oleat, asam sulfonat Dodecylbenzene.
Sumber http://encyclopedia.thefreedictionary.com/Clinker+cement
BAHAN BANGUNAN
Definisi Semen
Semen merupakan salah satu bahan perekat yang jika dicampur dengan air
mampu mengikat bahan-bahan padat seperti pasir dan batu menjadi suatu kesatuan
kompak. Sifat pengikatan semen ditentukan oleh susunan kimia yang dikandungnya.
Adapun bahan utama yang dikandung semen adalah kapur (CaO), silikat (SiO2),
alumunia (Al2O3), ferro oksida (Fe2O3), magnesit (MgO), serta oksida lain dalam jumlah
kecil (Lea and Desch, 1940).
Massa jenis semen yang diisyaratkan oleh ASTM adalah 3,15 gr/cm3, pada
kenyataannya massa jenis semen yang diproduksi berkisar antara 3,03 gr/cm3 sampai

3,25 gr/cm3. Variasi ini akan berpengaruh proporsi campuran semen dalam campuran.
Pengujian massa jenis ini dapat dilakukan menggunakan Le Chatelier Flask (ASTM C 34897).
Fungsi semen adalah mengikat butir-butir agregat hingga membentuk suatu
massa padat dan mengisi rongga-rongga udara di antara butir-butir agregat. Walaupun
komposisi semen dalam beton hanya sekitar 10%, namun karena fungsinya sebagai
bahan pengikat maka peranan semen menjadi penting. Semen yang digunakan untuk
pekerjaan beton harus disesuaikan dengan rencana kekuatan dan spesifikasi teknik yang
diberikan.
Bahan baku pembuatan semen adalah batu kapur, pasir silika, tanah liat dan pasir
besi. Total kebutuhan bahan mentah yang digunakan untuk memproduksi semen yaitu:
1. Batu kapur
Batu kapur merupakan sumber utama oksida yang mempumyai rumus CaCO3
(Calcium Carbonat), pada umumnya tercampur MgCO3 dan MgSO4. Batu kapur yang
baik dalam penggunaan pembuatan semen memiliki kadar air 5%, dan
penggunaan batu kapur dalam pembuatan semen itu sendiri sebanyak 81 %.
2. Pasir silika
Pasir silika memiliki rumus SiO2 (silikon dioksida). Pada umumnya pasir silika
terdapat bersama oksida logam lainnya, semakin murni kadar SiO2 semakin putih
warna pasir silikanya, semakin berkurang kadar SiO2 semakin berwarna merah atau
coklat, disamping itu semakin mudah menggumpal karena kadar airnya yang tinggi.
Pasir silika yang baik untuk pembuatan semen adalah dengan kadar SiO2 90%,
dan penggunaan pasir silika dalam pembuatan semen itu sendiri sebesar 9%.
3. Tanah liat
Rumus kimia tanah liat yang digunakan pada produksi semen
SiO2Al2O3.2H2O. Tanah liat yang baik untuk digunakan memiliki kadar air 20 %,
kadar SiO2 tidak terlalu tinggi 46 %, dan penggunaan tanah liat dalam pembuatan
semen itu sendiri sebesar 9%.
4. Pasir besi
Pasir besi memiliki rumus kimia Fe2O3 (Ferri Oksida) yang pada umumnya
selalu tercampur dengan SiO2 dan TiO2 sebagai impuritiesnya. Fe2O3 berfungsi
sebagai penghantar panas dalam proses pembuatan terak semen. Kadar yang baik
dalam pembuatan semen yaitu Fe3O2 75%-80%. Pada penggilingan akhir
digunakan gipsum sebanyak 3-5% total pembuatan semen. penggunaan pasir besi
dalam pembuatan semen itu sendiri sebesar 1%.
1. Syarat-syarat dan karakteristik Semen Portland
Proses pembuatan semen portland dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Proses basah
Pada proses basah, sebelum dibakar bahan dicampur dengan air (slurry)
dan digiling hingga berupa bubur halus. Proses basah umumnya dilakukan jika
yang diolah merupakan bahan-bahan lunak seperti kapur dan lempung. Bubur
halus yang dihasilkan selanjutnya dimasukkan dalam oven berbentuk silinder
yang dipasang miring (ciln). Suhu ciln ini sedikit demi sedikit dinaikkan dan
diputar dengan kecepatan tertentu. Bahan akan mengalai perubahan sedikit demi

sedikit akibat naiknya suhu dan akibatnya terjadi sliding di dalam ciln. Pada suhu
100C air mulai menguap, pada suhu 850C karbondioksida dilepaskan. Pada suhu
sekitar 1400C, berlangsung permulaan perpaduan di daerah pembakaran, di
mana akan terbentuk klinker yang terdiri dari senyawa kalsium silikat dan kalsium
aluminat. Klinker tersebut selanjutnya didinginkan, kemudian dihaluskan menjadi
butir halus dan ditambah dengan bahan gipsum
Proses kering
Proses kering biasanya digunakan untuk jenis batuan yang lebih keras
misalnya untuk batu kapur jenis shale. Pada proses ini bahan dicampur dan
digiling dalam keadaan kering menjadi bubuk kasar. Selanjutnya, bahan tersebut
dimasukkan ke dalam ciln dan proses selanjutnya sama dengan proses basah.
Dalam pabrikasi akhir, semen portland digiling dalam kilang hingga halus
dan ditambah beberapa bahan tambahan. Bagai alir proses pabrikasi semen
portland dapat dilihat pada Gambar 1.4.

Gambar 1. Bagan alir proses pabrikasi semen


Secara garis besar proses pembuatan semen portland adalah sebagai
berikut:
1. Pencampuran mineral-mineral utama seperti CaO, SiO2 dan Al2O3, dicampur
bersama bahan tambahan lain dalam bentuk kering atau basah. Bentuk basah
dikenal slurry.
2. Campuran ini dimasukkan ke dalam rotary kiln, dibakar pada suhu 1400C
membentuk butiran-butiran bulat berdiameter antara 1,5 mm sampai 50 mm
yang dikenal sebagai clinker.
3. Clinker yang telah dingin dihaluskan sehingga mencapai kehalusan (specific
surface) 3150 cm2/gr, sambil ditambahkan gypsum untuk mengontrol waktu ikat
(setting time).

Berkaitan dengan masalah keawetan (durability) beton, maka dibedakan


atas lima tipe semen, yaitu:
Tipe I

Semen biasa (normal) digunakan untuk beton yang tidak


dipengaruhi oleh lingkungan, seperti sulfat, perbedaan
suhu yang ekstrim.

Tipe II

Digunakan untuk pencegahan terhadap serangan sulfat


dari lingkungan, seperti untuk struktur bawah tanah.

Tipe
III

Beton yang dihasilkan mempunyai waktu perkerasan


yang cepat (high early strength).

Tipe
IV

Beton yang dibuat akan memberikan panas hidrasi


rendah, cocok untuk pekerjaan beton massa.

Tipe
V

Semen ini cocok untuk beton yang menahan serangan


sulfat dengan kadar tinggi.

1. Sifat Kimia Semen Portland


1. Lime saturated Factor (LSF)
Batasan agar semen yang dihasilkan tidak tercampur dengan bahan-bahan alami
lainnya.
2. Magnesium oksida (MgO)
Pada umumnya semua standard semen membatasi kandungan MgO dalam semen
Portland, karena MgO akan menimbulkan magnesia expansion pada semen setelah
jangka waktu lebih daripada setahun, berdasarkan persamaan reaksi sbb :
Mg O + H2O Mg (OH) 2
Reaksi tersebut diakibatkan karena MgO bereaksi dengan H2O Menjadi magnesium
hidroksida yang mempunyai volume yang lebih besar.
3. SO3
Kandungan SO3 dalam semen adalah untuk mengatur/memperbaiki sifat setting time
(pengikatan) dari mortar (sebagai retarder) dan juga untuk kuat tekan. Karena kalau
pemberian retarder terlalu banyak akan menimbulkan kerugian pada sifat expansive dan
dapat menurunkan kekuatan tekan. Sebagai sumber utama SO3 yang sering banyak
digunakan adalah gypsum.
4. Hilang Pijar (Loss On Ignition)
Persyaratan hilang pijar dicantumkan dalam standard adalah untuk mencegah adanya
mineral-mineral yang dapat diurai dalam pemijaran. Kristal mineral-mineral tersebut
pada umumnya dapat mengalami metamorfosa dalam waktu beberapa tahun, dimana
metamorfosa tersebut dapat menimbulkan kerusakan.
5. Residu tak larut

Bagian tak larut dibatasi dalam standard semen. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah
dicampurnya semen dengan bahan-bahan alami lain yang tidak dapat dibatasi dari
persyaratan fisika mortar
6. Alkali (Na2O dan K2O)
Akali pada semen akan menimbulkan keretakan pada beton maupun pada mortar,
apabila dipakai agregat yang mengandung silkat reaktif terhadap alkali. Apabila
agregatnya tidak mengandung silikat yang reaktif terhadap alkali, maka kandungan alkali
dalam semen tidak menimbulkan kerugian apapun. Oleh karena itu tidak semua standard
mensyaratkannya
7. Mineral compound (C3S, C2S, C3A , C4AF)
Pada umumnya standard yang ada tidak membatasi besarnya mineral compound
tersebut, karena pengukurannya membutuhkan peralatan mikroskopik yang mahal.
Mineral compound tersebut dapat di estimasi melalui perhitungan dengan rumus,
meskipun perhitungan tidak teliti. Tetapi ada standard yang mensyaratkan mineral
compound ini untuk jenisjenis semen tertentu. misalnya ASTM untuk standard semen
type IV dan type V. Salah satu mineral yang penting yaitu C3A, adanya kandungan C3A
dalam semen pada dasarnya adalah untuk mengontrol sifat plastisitas adonan semen
dan beton. Tetapi karena C3A bereaksi terhadap sulfat, maka untuk pemakaian di daerah
yang mengandung sulfat dibatasi. Karena reaksi antara C3A dengan sulfat dapat
menimbulkan korosi pada beton.

Senyawa kimia semen portland

Pada Tabel 1.1 s/d 1.4 diperlihatkan komposisi kimia tipikal semen portland biasa dan
komposisi oksida semen portland secara umum.
Tabel 1.1. Komposisi kimia tipikal semen portland biasa
Berat

Nama Kimia

Rumus Kimia

Notasi

Tricalcium silicate

3CaO.SiO2

C 3S

50

Dicalcium silicate

2CaO.SiO2

C 2S

25

Tricalcium aluminate

3CaO.Al2O3

C 3A

12

Tetracalcium aluminoferrite

4CaO.Al2O3.Fe2O3

C4AF

Calcium sulfate dihydrate

CaSO4.2H2O

CSH2

3,5

Tabel 1.3 Karakteristik senyawa kimia utama semen

(%)

C3S

C2S

C3A

C4AF

3CaOSiO2

2CaOSiO2

3CaOAl2O3

4CaOAl2O3Fe2O3

Kecepatan reaksi
dengan air

sedang

lambat

cepat

Sedang

Sumbangan
terhadap
kekuatan awal

baik

jelek

baik

Baik

Sumbangan
terhadap
kekuatan akhir

baik

sangat
baik

sedang

Sedang

Panas hidrasi

sedang

rendah

tinggi

Sedang

Senyawa

Tabel 1.4 Persentase komposisi semen portland


Komposisi dalam persen (%)

Tipe
I

C3
S

C2
S

49

25

C 3A

C 4A
F

CaSO

12

Karakteristik
umum

Ca
O

MgO

2,9

0,8

2,4

Semen untuk
semua tujuan

Tipe
II

46

29

12

2,8

0,6

Relatif sedikit
pelepasan
panas,
digunakan untuk
struktur besar

Tipe
III

56

15

12

3,9

1,4

2,6

Mencapai kekuatan
awal yang tinggi
pada umur 3 hari

Tipe
IV

30

46

13

2,9

0,3

2,7

Dipakai pada
bendunganbet
on

Tipe
V

43

36

12

2,7

0,4

1,6

Dipakai pada
saluran dan
struktur

2. Sifat fisika semen portland:


Menurut Harian (2007), sifat fisik semen portland terdiri dari:

1. Kehalusan butiran
Kehalusan butiran semen mempengaruhi proses hidrasi. Waktu
pengikatan (setting time) menjadi semakin lama jika butir semen lebih kasar.
Jika permukaan penampang semen lebih besar, semen akan memperbesar
bidang kontak dengan air. Semakin halus butiran semen, proses hidrasinya
semakin cepat, sehingga kekuatan awal tinggi dan kekuatan akhir akan
berkurang.
Kehalusan butir semen yang tinggi dapat mengurangi terjadinya
bleeding atau naiknya air ke permukaan, tetapi menambah kecenderungan
beton untuk menyusut lebih banyak dan mempermudah terjadinya retak
susut. Untuk mengukur kehalusan butir semen digunakan turbidimeter dari
Wagner atau air permeability dari Blaine.
2. Kepadatan atau berat jenis (density)
Berat jenis semen yang disyaratkan oleh ASTM adalah 3,15 Mg/m3.
kepadatan akan berpengaruh pada proporsi semen dalam campuran. Menurut
ASTM C-188, untuk pengujian berat jenis dapat dilakukan menggunakan Le
Chatelier Flask.
3. Konsistensi
Konsistensi semen portland berpengaruh pada saat pencampuran awal,
yaitu pada saat terjadi pengikatan sampai pada saat beton mengeras.
Konsistensi yang terjadi tergantung pada rasio antara semen dan air serta
kehalusan dan kecepatan hidrasi.
4. Waktu pengikatan (setting time)
Waktu ikat adalah waktu yang diperlukan semen untuk mengeras,
terhitung mulai bereaksi dengan air dan menjadi pasta semen hingga pasta
semen cukup kaku untuk menahan tekanan. Pengujian waktu ikat bertujuan
untuk menentukan jumlah air yang dibutuhkan untuk menghasilkan pasta
dengan konsistensi normal. Waktu ikat semen dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Waktu ikat awal (initial setting time) yaitu waktu dari pencampuran semen
dengan air menjadi pasta semen hingga hilangnya sifat plastis. Waktu ikat
awal sangat penting untuk kontrol pekerjaan beton.
2. Waktu ikat akhir (final setting time) yaitu waktu antara terbentuknya pasta
semen hingga beton mengeras.
5. Panas hidrasi
Panas hidrasi adalah panas yang terjadi pada saat semen bereaksi dengan air, yang
dipengaruhi oleh jenis semen yang dipakai dan kehalusan butir semen. Hasil reaksi
hidrasi, tobermorite gel merupakan jumlah yang terbesar, sekitar 50% Dari jumlah
senyawa yang dihasilkan. Reaksi tersebut dapat dikemukakan secara sederhana, sebagai
berikut :
2(CaO.SiO2) + 4H2O 3CaO.2SiO2.3H2O + Ca(OH)2
2(3CaO.SiO2) + 6H2O 3CaO.2SiO2.3H2O + 3Ca(OH)2 (Tobermorite)
3CaO.Al2 O3 + 6H2O 3CaO.Al2 O3 .6H2O (Kalsium aluminat hidrat)

3CaO.Al2 O3 + 6H2O + 3CaSO4.2H2O 3CaO.Al2 O3.3CaSO4 32H2O


( Trikalsium sulfoaluminat).
4CaO.Al2 O3 .Fe2 O3 + XH2O 3CaO.Al2 O3 6H2O + 3CaO. Fe2 O3 6H2O
(Kalsium Aluminoferrite hidrat).
Untuk semen yang lebih banyak mengandung C3S dan C3 A akan bersifat mempunyai
panas hidrasi yang lebih tinggi.
6. Keutuhan atau kekalan
Kekalan pada pasta semen yang telah mengeras merupakan suatu ukuran yang
menyatakan kemampuan pengembangan bahan-bahan campurannya dan kemampuan
untuk mempertahankan volume setelah pengikatan terjadi. Ketidakkekalan semen
disebabkan oleh terlalu banyaknya jumlah kapur bebas yang pembakarannya tidak
sempurna. Kapur bebas tersebut mengikat air kemudian menimbulkan gaya-gaya
ekspansi. Menurut ASTM C-151, alat uji untuk menentukan nilai kekalan semen portland
adalah autoclave expansion of portland sement.
7. Kekuatan
Pengujian kekuatan semen dilakukan dengan cara membuat mortar semen pasir.
Pengujian kekuatan dapat berupa uji tekan, tarik dan lentur. ASTM C 109-80
mensyaratkan pengujian kuat tekan pada campuran semen-pasir dengan proporsi 1 :
2,75 dan rasio air-semen 0,485. Contoh semen yang akan diuji dicampur dengan pasir
silika dengan perbandingan tertentu, kemudian dibentuk menjadi kubus-kubus berukuran
5 cm x 5 cm x 5 cm. Setelah berumur 3, 7, 14, 21 dan 28 hari dan mengalami perawatan
dengan perendaman, benda uji tersebut diuji kekuatannya.
Selain itu dikenal pula beberapa semen khusus, seperti:
1. Semen putih
2. Semen pozolan
3. Semen untuk sumur minyak (oil weel cement)
4. Semen plastik (plastic cement)
5. Semen ekspansif
6. Regulated set cement.
2. Jenis-jenis Semen
1. Semen non hidrolik
Semen non hidrolik tidak dapat mengikat dan mengeras di dalam air, tetapi
dapat mengeras di udara. Contoh: kapur.
2. Semen hidrolik
Semen hidrolik mempunyai kemampuan untuk mengikat dan mengeras di
dalam air. Contoh:
1. Semen pozzolan

Semen portland pozzolan adalah suatu semen hidrolis yang terdiri dari
campuran yang homogen antara semen portland dengan pozolan halus, yang di
produksi dengan menggiling klinker semen portland dan pozolan bersamasama, atau mencampur secara merata bubuk semen portland dengan bubuk
pozolan, atau gabungan antara menggiling dan mencampur, dimana kadar
pozolan 6 % sampai dengan 40 % massa semen portland pozolan. (SNI-150302-2004).
Menurut SNI 15-0302-1989, .Bahan yang mempunyai sifat pozolan adalah
bahan yang mengandung sifat silica aluminium dimana bentuknya halus dengan
adanya air, maka senyawa-senyawa ini akan bereaksi secara kimia dengan
kalsium hidroksida pada suhu kamar membentuk senyawa yang mempunyai
sifat seperti semen. Semen Portland pozolan dapat digolongkan menjadi 2 (dua)
jenis yaitu sebagai berikut:
1. Semen portland pozolan jenis SPP A yaitu semen Portland pozolan yang dapat
dipergunakan untuk semua tujuan pembuatan adukan beton serta tahan sulfat
sedang dan panas hidrasinya sedang.
2. Semen portland pozolan jenis SSP B yaitu semen Portland pozolan yang dapat
dipergunakan untuk semua adukan beton tersebut tahan sulfat sedang dan panas
hidrasi rendah.
4. Semen portland
Semen portland adalah bahan konstruksi yang paling banyak digunakan
dalam pekerjaan beton. Semen portland didefinisikan sebagai semen hidrolik
yang dihasilkan dengan menggiling klinker yang terdiri dari kalsium silikat
hidrolik, yang umumnya mengandung satu atau lebih.
Bentuk kalsium sulfat sebagai bahan tambahan yang digiling bersamasama dengan bahan utamanya. Pembuatan semen portland dilaksanakan
melalui beberapa tahapan, yaitu:
1. Penambangan di quarry
2. Pemecahan di crushing plant
3. Penggilingan (blending)
4. Pencampuran bahan-bahan
5. Pembakaran (ciln)
6. Penggilingan kembali hasil pembakaran
7. Penambahan bahan tambah (gipsum)
8. Pengikatan (packing plant)
Fungsi dari semen portland adalah untuk merekatkan butir-butir agregat
agar terjadi suatu massa yang kompak dan padat, selain juga untuk mengisi
rongga- rongga di antara butiran agregat (Tjokrodimuljo dan Kardiyono, 1988).
Semen portland ini merupakan semen hidrolis yang dihasilkan dengan jalan
menghaluskan terak yang mengandung senyawa-senyawa kalsium silikat dan biasanya
juga mengandung satu atau lebih senyawa-senyawa calsium sulphat yang ditambahkan
pada penggilingan akhir.Semen portland adalah semen yang diperoleh dengan
menghaluskan terak yang terutama terdiri dari silikat-silikat, calsium yang bersifat
hidrolis bersama bahan tambahan biasanya gypsum.

Tipe-tipe semen portland:


a. Tipe I (Ordinary Portland Cement)
Semen Portland tipe ini digunakan untuk segala macam konstruksi apabila tidak
diperlukan sifat-sifat khusus, misalnya tahan terhadap sulfat, panas hiderasi, dan
sebagainya. Semen ini mengandung 5 % MgO dan 2,5 -3% SO3.
b. Tipe II (Moderate Heat Portland Cement)
Semen ini digunakan untuk bahan konstruksi yang memerlukan sifat khusus tahan
terhadap sulfat dan panas hiderasi yang sedang, biasanya digunakan untuk daerah
pelabuhan dan bangunan sekitar pantai. Semen ini mengandung 20% SiO2, 6 % Al2O3,
6% Fe2O3, 6% MgO, dan 8% C3A.
c. Tipe III (High Early Strength Portland Cement)
Semen ini merupakan semen yang digunakan biasanya dalam keadaan-keadaan darurat
dan musim dingin. Digunakan juga pada pembuatan beton tekan. Semen ini memiliki
kandungan C3S yang lebih tinggi dibandingkan semen portland tipe I dan tipe II sehingga
proses pengerasan terjadi lebih cepat dan cepat mengeluarkan kalor. Semen ini tersusun
dari 3,5-4% Al2O3, 6% Fe2O3, 35% C3S, 6% MgO, 40% C2S dan 15% C3A.
d. Tipe IV (Low Heat Portland Cement)
Semen tipe ini digunakan pada bangunan dengan tingkat panas hiderasi yang rendah
misalnya pada bangunan beton yang besar dan tebal, baik sekali untuk mencegah
keretakan. Low Heat Portland Cement ini memiliki kandungan C3S dan C3A lebih rendah
sehingga kalor yang dilepas lebih rendah. Semen ini tersusun dari 6,5 % MgO, 2,3 %
SO3, dan 7 % C3A.
e. Tipe V (Super Sulphated Cement)
Semen yang sangat tahan terhadap pengaruh sulphat misalnya pada tempat pengeboran
lepas pantai, pelabuhan, dan terowongan. Komposisi komponen utamanya adalah slag
tanur tinggi dengan kandungan aluminanya yang tinggi, 5% terak portland cement , 6 %
MgO, 2,3 % SO3, dan 5 % C3A.
Sumber : http://www.scribd.com/doc/39735030/Semen-Dan-Beton
3. Sebutkan sifat-sifat dan karakteristik Semen Portland!
Jawaban :
Sifat-sifat semen portland dibedakan menjadi dua, yaitu sifat fisika dan sifat kimia.
o

Sifat Fisika Semen Portland

Sifat fisika semen portland meliputi kehalusan butir, waktu pengikatan, kekalan,
kekuatan tekan, pengikatan semu, panas hidrasi, dan hilang pijar.
o

Sifat Kimia Semen Portland

Sifat kimia semen portland meliputi kesegaran semen, sisa yang tak larut, dan yang
paling utama adalah komposisi syarat yang diberikan.

Sumber (Teknologi Beton, Oleh Ir. Tri Mulyono MT.)


3. Sebutkan empat senyawa kimia yang menyusun semen portland!
Jawaban :
o
o

Trikalsium Silikat (3CaO. SiO2) yang disingkat menjadi C3S.


Dikalsium Silikat (2CaO. SiO2) yang disingkat menjadi C2S.

Trikalsium Auminat (3CaO. Al2O3) yang disingkat menjadi C3A.

Tetrakalsium aluminoferrit (4CaO. Al2O3.Fe2O3) yang disingkat menjadi


C4AF.

Sumber (Teknologi Beton, Oleh Ir. Tri Mulyono MT.)

3. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis semen hidrolik dan non hidrolik ?


Jawaban :
- Semen hirolik mempunyai kemampuan untuk mengikat dan mengeras didalam air
contoh semen hidrolik adalah sebagai berikut :
Kapur hidrolik Semen pozollan Semen terak Semen alam Semen Portland Semen
Portland-poxollan Semen poertland terak tanur tinggi Semen alumina Semen
expansif
- Semen non hidrolik tidak dapat mengikat dan mengeras didalam air, akan tetapi dapat
mengeras di udara. Contoh semen non hidrolik adalah kapur
Sumber (Teknologi Beton, Oleh Ir. Tri Mulyono MT.)
HTTP://DC306.4SHARED.COM/DOC/EKG15WOG/PREVIEW.HTML
SEJARAH SINGKAT SEMEN PORTLAND
Dalam perkembangan peradaban manusia khususnya dalam hal bangunan, tentu kerap
mendengar cerita tentang kemampuan nenek moyang merekatkan batu-batu raksasa
hanya dengan mengandalkan zat putih telur, ketan atau lainnya. Alhasil, berdirilah
bangunan fenomenal, seperti Candi Borobudur atau Candi Prambanan di Indonesia
ataupun jembatan di Cina yang menurut legenda menggunakan ketan sebagai perekat.
Ataupun menggunakan aspal alam sebagaimana peradaban di Mahenjo Daro dan
Harappa di India ataupun bangunan kuno yang dijumpai di Pulau Buton. Legenda diatas
menunjukkan dikenalnya fungsi semen sejak zaman dahulu khususnya di Indonesia.
Pada awalnya perekat dan penguat bangunan merupakan hasil percampuran batu kapur
dan abu vulkanis. Pertama kali ditemukan di zaman Kerajaan Romawi, tepatnya di
Pozzuoli, dekat teluk Napoli, Italia. Bubuk itu lantas dinamai pozzuolana. Sedangkan kata
semen sendiri berasal dari caementum (bahasa Latin), yang artinya kira-kira memotong
menjadi bagian-bagian kecil tak beraturan. Meski sempat populer di zamannya, nenek
moyang semen made in Napoli ini tak berumur panjang. Menyusul runtuhnya Kerajaan
Romawi, sekitar abad pertengahan (tahun 1100 1500 M) resep ramuan pozzuolana
sempat menghilang dari peredaran.

Baru pada abad ke-18 (ada juga sumber yang menyebut sekitar tahun 1700-an M), John
Smeaton insinyur asal Inggris menemukan kembali ramuan kuno berkhasiat luar biasa
ini. Dia membuat adonan dengan memanfaatkan campuran batu kapur dan tanah liat
saat membangun menara suar Eddystone di lepas pantai Cornwall, Inggris.
Tahun 1797 James Parker, berkebangsaaan Inggris membuat semen hydraulic dengan
cara membakar batu kapur
dan
Tahun 1802 Semen diproduksi diPrancis dari butiran (nodule)
Tahun 1810 Edgar Dobbs, Dari Inggris membuat semen dari batu kapur dan tanah liat
Tahun 1813 Vicat, dari Prancis
Tahun 1822 James frost, dari Inggris mulai membuat semen dari batu kapur dan tanah
liat
Tahun 1850 David O Saylor, dari Pennsylvania batuan semen diproduksi dengan tungku
tegak
Ironisnya, bukan Smeaton yang akhirnya mematenkan proses pembuatan cikal bakal
semen ini. Adalah Joseph Aspdin, juga insinyur berkebangsaan Inggris, pada 1824
mengurus hak paten ramuan yang kemudian dia sebut semen portland. Dinamai begitu
karena warna hasil akhir olahannya mirip tanah liat Pulau Portland, Inggris. Hasil
rekayasa Aspdin inilah yang sekarang banyak dipajang di toko-toko bangunan.
Sebenarnya, Proporsi campuran Aspdin tak beda jauh dengan Smeaton. Dia tetap
mengandalkan dua bahan utama, batu kapur (kaya akan kalsium karbonat) dan tanah
lempung (Tanah Liat) yang banyak mengandung silika (sejenis mineral berbentuk pasir),
aluminium oksida (alumina) serta oksida besi. Bahan-bahan itu kemudian dihaluskan dan
dipanaskan pada suhu tinggi sampai terbentuk campuran baru.
Kira-kira 20 tahun kemudian setelah pembaharuan oleh Joseph Aspidin, barulah mulai
diproduksi semen dengan kualitas yang dapat diandalkan.
Dalam hal penelitian tentang pembuatan semen ini, prestasi dari I.C. Johson yang mulai
meletakkan dasar-dasar proses kimia dan fisika dalam pembuatan semen Portland.
pendirian pabrik semen
Tahun 1825 James Frost Ingrris di Swamcombe,Belgia
Tahun 1855 diJerman
Tahun 1871 David O Saylor , Di USA
Tahun 1875 Di Jepang
Kapasitas produksi pun mengalami kenaikan secara menyolok , pada tahun 1908 mulai
diintroduksi rotary kiln sebagai inovasi dari shaft kiln.
Pada tahun 1906, Corel Christoper lau, seorang ahli teknik pemerintah belanda
menemukan deposit batu kapur dan batu silica yang sangat besar disekitar indarungPadang.
Hal tersebut diatas mengundang minat pihak swasta Belanda untuk mengolahnya,
sehingga pada tanggal 18 maret 1910 mereka mendirikan suatu perusahaan dengan
nama NV. Nederlands Indishe Portland Cement Maatscappij (NV.NIPCM).
Pembungunan pabrik semen di Indonesia
Tahun 1911 Kapasitas Produksi 22.900 ton semen/tahun
Yang mana pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945 pabrik ini dikuasi olh Jepang
dengan manajemen dari Asano Cement
Ketika Proklamasi kerdekaan Indoseia tahun 1945 pabrik ini diambil alih oleh
karyawannya yang kemudaian menyerahkannya pada pemerintah RI
Pada tahun 1947 pabrik ini direbut kembali olh pemerintah Belanda, kemudai namanya
diganti menjadi NV. Padang Portland Cement Maatschhappij (NV.PPCM)
Tanggal 15 Juli 1958 Pabrik ini diambil kembali oleh pemerintah RI

Tahun 1957 PT. Semen Gresik Jawa Timur


Tahun 1968 PT.Semen Tonasa Pangkep-Sulsel
Tahun 1975 PT. Semen Cibinong dan PT.Indocement
Tahun 1999 PT.Semen Bosowa (Maros Sulsel) mulai berproduksi dengan kapasitas
terpasang 1.8 juta
ton clinker ton /tahun
http://rdianto.wordpress.com/2010/01/03/jenis-jenis-semen/
Semen mempunyai arti kata mampu mengikat partikel-partikel menjadi satu (Riyanto,
1991). Istilah semen pertama kali dikemukakan pada zaman Roma yang mendapatkan
bahwa air yang ditambah pada campuran kapur tohor gamping yang sudah dibakar (CO)
dengan abu volkanik dari kata puzzuoli memproduksi serangkaian reaksi yang
menyebabkan gumpalan itu menghablur kembali dan mengeras, oleh bangsa Roma
disebut sebagai pozzoland cement. Kemudian pada tahun 1984 disempurnakan oleh
Yoseph Aspidin menjadi portland cement.
Semen portaland adalah semen yang disusun oleh senyawa-senyawa utama CaO, SiO 2,
Al2O3, dan Fe2O3. semen portland mengandung satu atau lebih senyawa kalsium sulfat.
Senyawa ini terbentuk pada waktu penggilingan karena adanya penambahan bahanbahan mentah. Campuran tersebut membentuk clinker yang kemudian ditambah dengan
gypsum maka akan terbentuk semen portland.
Semen portland tipe I dengan bahan baku sebagai berikut:
1. Batugamping (77%)
Batugamping ini digunakan untuk mendapatkan komposisi CaO.
Batugamping yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat tertentu, antara lain:
o
o

Mempunyai kadar karbonat tinggi (> 48%)


Mempunyai kadar Mg rendah (< 1,8%)

Tidak mengandung Zn dan Pb

Mempunyai kadar air kurang dari 20%

Sedikit mengandung sulfat, sulfit dan alkali

o
2.Batulempung (15%)
Batulempung digunakan untuk mendapatkan komposisi Al2O3 dan SiO2. batulempung
yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
o Mempunyai kadar SiO2 tinggi (> 48%)
o Sedikit mengandung sulfit, sulfat dan alkali
3.pasir kuarsa (6%)
Pasir kuarsa digunakan sebagai bahan pengoreksi komposisi SiO2. pasir
kuarsa sangat
dibutuhkan apabila kandungan kwarsa pada batulempung rendah.
4. pasir besi(2%)
Pasir besi digunakan untuk memudahkan proses pelelehan bahan-bahan mentah pada
saat pengilingan.
5.gypsum
Pada semen portland gypsum ini dipakai untuk memperlambat proses pengerasan
semen. Gypsum ini merupakan material terakhir yang ditambahkan kedalam clinker dan
digiling secara bersama-sama sampai tercapai ukuran butir tertentu.

Disamping bahan-bahan tersebut di atas diperhatikan pula beberapa senyawa


kimia yang apabila jumlahnya berlebihan akan mempengaruhi mutu semen dan proses
pembakaran, sehingga jumlahnya perlu dibatasi. Senyawa-senyawa tersebut antara lain
MgO, K2O, Na2O, SO3, CL, dan foshfor. Dampak yang ditimbulkan oleh senyawa-senyawa
tersebut adalah:
1. MgO yang terlalu tinggi dapat menyebabkan:
o Viskositas tinggi
o

Mudah terjadi keretakan karena adanya pemuaian bentuk

Clinker cenderung menggumpal pada saat pembakaran sehingga


mempengaruhi jalannya operasi.

2. Alkali (K2O dan Na2O), bila terlalu tinggi dapat menyebabkan:


o

Meningkatnya sifat mudah terbakar pada temperatur rendah

Visikositas meningkat

3. Senyawa sulfur (SO2, SO3, SO4), apabila terlalu tinggi dapat mengakibatkan:
o

Menurunkan temperatur terbentuknya fase cair sebesar 100C dan


menurunkan viskositas

4. Khlorida (Cl), bila terlalu tinggi dapat menyebabkan:


o

Terbentuk labih banyak senyawa KCl dan NaCl yang dapat menyebabkan
masalah dalam operasional dimana seluruh senyawa akan menguap pada
tahap pembakaran

Menambah pembentukan fase cair

1. Fosfor, bila terlalu tinggi dapat menyebabkan:


o

Mempercepat reaksi clinkerisasi


HTTP://ANTEK10UMP.BLOGSPOT.COM/2011_04_01_ARCHIVE.HTML