Anda di halaman 1dari 18

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Buah mangga yang bernama latin Mangifera indica L, sudah
dikenal luas oleh masyarakat Indonesia sejak dahulu. Semua
kalangan dari berbagai lapisan masyarakat negeri ini sangat
familiar dengan buah ini. Aroma harum, daging buah yang tebal
dan rasa manis (tergantung varietas) menjadi daya pikat utama
buah mangga yang seakan sudah menjadi trademark dari buah
tersebut. Buah yang tergolong dalam klasifikasi buah drup ini
sangat mudah kita jumpai di pasar maupun supermarket atau di
gerai-gerai mall di Indonesia. Khasiat yang banyak dan Konsumen
yang setia atau penggemar berat buah ini, membuat tak pernah
habis permintaannya. Bahkan, bila sudah lewat musim buah
mangga, buah tersebut tetap saja laku dipasaran, baik dalam
bentuk buah segar maupun produk olahan.
Indonesia memiliki banyak varietas buah mangga,
diantaranya mangga harum manis, mangga cengkir, mangga
manalagi, mangga gedong(apel), dan masih banyak lagi varietas
lainnya dengan berbagai tingkat harga berbeda tiap varietasnya.
Selain itu, hasil produk olahan juga bermacam-macam diantaranya
puree,
dodol
mangga,
manisan,
dan
lain
sebagainya.
Perkembangan dari system budidaya, industrypengolahan buah
mangga, dan permintaan pasar sangat mendukung perkembangan
bisnis komoditi ini.
Indonesia sudah memiliki beberapa daerah sentra produksi
buah mangga, diantaranya Indramayu, Probolinggo dan Majalengk.
Petani buah mangga di daerah-daerah sentra tersebut telah
bertahun-tahun membudidayakannya dan telah menjadi lapangan
pekerjaan secara turun temurun. Dalam skala besar bisnis ini
mampu memberi lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Iklim dan
lingkungan yang kondusif membuat bisnis tetap berjalan. Selain itu,
dukungan system di luar proses budidaya dan perkembangan agro
industry untuk menambah nilai tambah sangat mendukung
berjalannya produksi yang kebanyakan produsen hanya memiliki
usaha dengan skala kecil, terutama dukungan dalam bentuk modal.
Kesinambungan antara proses di hulu sampai hilir menjadi salah
satu kunci sukses bisnis di daerah sentra tersebut.

Berbagai pemaparan diatas memperlihatkan berbagai


peluang dan keuntungan berbisnis komoditi ini. Ini menunjukan
bisnis buah mangga dapat menjadi prospek masa depan untuk
dikembangkan lebih lanjut. Jaminan akan pasar buah mangga dan
produk turunannya telah menjadi focus utama beberapa
pemerintah daerah sentra produksi agar investasi di perkebunan
buah mangga semakin menarik dan akhirnya mendorong kegiatan
ekonomi di sector lainnya. Melalui jalan tersebut pemerintah
berharap kesejahteraan semua pihak yang berkecimpung di bidang
ini meningkat.
TUJUAN
Makalah ini bertujuan untuk menganalisa agrisbisnis buah
mangga dari berbagai subsistem agribisnis, agar dapat diketahui
keunggulan dan kendala agribisnis buah mangga.

SUB SISTEM SARANA PRASARANA


Sarana prasana agribisnis tak terlepas dari suplai input
kegiatan agribisnis. Kemajuan teknologi turut berperan juga dalam
bisnis di subsistem ini, karena aktivitas di subsistem yang lain
menjadi lebih lancar dan mudah. Selain itu, penyerapan tenaga
kerja di subsistem ini tak bisa dibilang sedikit. Sarana prasarana
menjadi salah satu penentu efisiensi input dan output yang berarti
menjadi salah satu focus utama sebuah perusahaan. Akhirnya,
pengadaan barang dan jasa di bidang sarana prasarana menjadi
sumber mata pencaharian yang lumayan menggiurkan.
Berikut adalah beberapa sarana prasarana yang menjadi
bagiann dari agribisnis buah mangga:
1. Sarana dan prasarana produksi
Sarana produksi meliputi pupuk, bibit, pestisida, lahan,
peralatan, mesin pengolah dan tenaga kerja. Sementara untuk
prasarana sendiri ialah lembaga-lembaga atau organisasi yang
menyediakan alat tersebut. Besar kecilnya output tergantung
dari input ini. Penggunaan sarana produksi harus seefisien
mungkin, agar diperoleh keuntungan setinggi-tingginya.
Pupuk, pestisida dan peralatan dapat dengan mudah
didapatkan di toko-toko pertanian yang mendapat pasokan dari
pabrik-pabrik skala besar. Kebutuhan mesin pengolah untuk
kebutuhan industry dapat di pesan di agen penyedianya. Tenaga
kerja juga menjadi aspek penting karena harus ditentukan
HoK(hari orang kerja) atau gaji perhari. Lahan yang cocok untuk
untuk budidaya sendiri terletak pada ketinggian 50-300 mdpl
dengan solum tinggi dan tekstur remah hingga butiran.

2. Sarana prasarana distribusi, informasi dan pemasaran.


Pemasaran erat kaitannya dengan distribusi dan informasi.
Kegiatan distribusi (dapat diartikan sebagai transportasi, baik
darat maupun laut) yang baik akan meningkatan efisiensi
pemasaran. Perkembangan teknologi informasi mempermudah
menaikan penawaran terhadap produk. Jika efisiensi pemasaran
dapat ditingkatkan, maka dapat dipastikan profit yang diterima
juga meningkat.
Selain menambah pemasukan, perkembangan di bidang
transportasi dan informasi juga dapat menekan biaya input.
Berkurangnya input yang diperlukan dan keleluasaan produsen
memilih barang dan jasa dapat menekan biaya kebutuhan input
dan biaya produksi, sehingga modal yang diperlukan menjadi
lebih sedikit. Meskipun dengan adanya perkembangan di dua
bidang tersebut juga membawa dampak burung di pedesaan,
dengan menjadikan masyarakat di desa sangat bergantung
dengan barang-barang kebutuhan kota. Namun perlu diketahui
juga, dengan adanya perkembangan ini kesejahteraan
masyarakat di desa meningkat.
SUBSISTEM BUDIDAYA
1. SEJARAH SINGKAT
Mangga merupakan tanaman buah tahunan berupa pohon yg
berasal dari negara India. Tanaman ini kemudian menyebar ke
wilayah Asia Tenggara termasuk Malaysia & Indonesia.
2. JENIS TANAMAN
Klasifikasi botani tanaman mangga adalah sebagai berikut:
o
Divisi : Spermatophyta
o
Sub divisi : Angiospermae
o
Kelas : Dicotyledonae
o
Keluarga : Anarcadiaceae
o
Genus : Mangifera
o
Spesies : Mangifera spp.
Jenis yg banyak ditanam di Indonesia Mangifera indica L. yaitu
mangga arumanis, golek, gedong, manalagi & cengkir & Mangifera
foetida yaitu kemang & kweni.

3. MANFAAT TANAMAN
Buah mangga yg matang merupakan buah meja yg banyak
digemari. Mangga yg muda dapat diawetkan dengan kadar gula
tinggi menjadi manisan baik dalam bentuk basah atau kering.
4. SENTRA PENANAMAN
Pusat penanaman mangga di Pulau Jawa adalah Probolinggo,
Indramayu, Cirebon. Tahun 1994 jumlah tanaman yg menghasilkan
adalah 8.901.309 tanaman dengan produksi 668.048 ton.
5. SYARAT TUMBUH
5.1. Iklim
Tanaman mangga cocok untuk hidup di daerah dengan musim
kering selama 3 bulan. Masa kering diperlukan sebelum & sewaktu
berbunga. Jika ditanam di daerah basah, tanaman mengalami
banyak serangan hama & penyakit serta gugur bunga/buah jika
bunga muncul pada saat hujan.
5.2. Media Tanam
1.
Tanah yg baik untuk budidaya mangga adalah gembur
mengandung pasir & lempung dalam jumlah yg seimbang.
2.
Derajat keasaman tanah (pH tanah) yg cocok adalah 5.57.5. Jika pH di bawah 5,5 sebaiknya dikapur dengan dolomit.
5.3. Tempat Ketinggian
Mangga yg ditanam didataran rendah & menengah dengan
ketinggian 0-500 m dpl menghasilkan buah yg lebih bermutu &
jumlahnya lebih banyak dari pada di dataran tinggi.
Contoh Buah Mangga

6. PEDOMAN BUDIDAYA MANGGA


6.1. Pembibitan
1) Perbanyakan dengan Biji
1.
Biji dipilih dari tanaman yg sehat, kuat & buahnya
berkualitas. Biji dikeringanginkan & kulitnya dibuang.
2.
Siapkan kotak persemaian ukuran 100 x 50 x 20 cm 3
dengan media tanah kebun & pupuk kandang (1:1), biji
ditanam pada jarak 10-20 cm. Dapat pula mangga disemai
dikebun dengan jarak tanam 30 x 40 atau 40 x 40 cm di atas
tanah yg gembur. Persemaian diberi naungan dari
plastik/sisa-sisa tanaman, tetapi jangan sampai udara di
dalam persemaian menjadi terlalu lembab. Biji ditanam
dengan perut ke arah bawah supaya akar tidak bengkok.
Selama penyemaian, bibit tidak boleh kekurangan air. Pada
umur 2 minggu bibit akan berkecambah. Jika dari 1 biji
terdapat lebih dari 1 anakan, sisakan hanya satu yg benarbenar kuat & baik. Bibit di kotak persemaian harus
dipindahtanamkan ke dalam polybag jika tingginya sudah
mencapai 25-30 cm. Seleksi bibit dilakukan pada umur 4
bulan, bibit yg lemah & tumbuh abnormal dibuang.
Pindahtanam ke kebun dilakukan jika bibit telah berumur 6
bulan.
2) Okulasi
Perbanyakan terbaik adalah dengan okulasi (penempelan tunas dari
batang atas yg buahnya berkualitas ke batang bawah yg struktur
akar & tanamannya kuat). Batang bawah untuk okulasi adalam bibit
di persemaian yg sudah berumur 9-12 bulan. Setelah penempelan,
stump (tanaman hasil okulasi) dipindahkan ke kebun pada umur 1,5
tahun. Okulasi dilakukan di musim kemarau agar bagian yg
ditempel tidak busuk.
3) Pencangkokan
Batang yg akan dicangkok memiliki diameter 2,5 cm & berasal dari
tanaman berumur 1 tahun. Panjang sayatan cangkok adalah 5 cm.
Setelah sayatan diberi tanah & pupuk kandang (1:1), lalu dibungkus
dengan plastik atau sabut kelapa.
6.2. Pengolahan Media Tanam

1.

Persiapan : Penetapan areal untuk perkebunan mangga


harus memperhatikan faktor kemudahan transportasi &
sumber air.
2.
Pembukaan Lahan
o
Membongkar tanaman yg tidak diperlukan &
mematikan alang-alang serta menghilangkan rumputrumput liar & perdu dari areal tanam.
o
Membajak
tanah
untuk
menghilangkan
bongkahan tanah yg terlalu besar.
3.
Pengaturan Jarak Tanam : Pada tanah yg kurang subur,
jarak tanam dirapatkan sedangkan pada tanah subur, jarak
tanam lebih renggang. Jarak tanam standar adalah 10 m &
diatur dengan cara:
o
segi tiga sama kaki.
o
diagonal.
o
bujur sangkar (segi empat).
6.3. Teknik Penanaman
1) Pembuatan Lubang Tanam Lubang tanam dibuat dengan
panjang, lebar & kedalaman 100 cm. Pada waktu penggalian, galian
tanah sampai kedalaman 50 cm dipisahkan dengan galian dari
kedalaman 50-100 cm. Tanah galian bagian dalam dicampur
dengan pupuk kandang lalu dikeringanginkan beberapa hari.
Masukkan tanah galian bagian atas, diikuti tanah galian bagian
bawah. Pembuatan lubang tanam dilakukan pada musim kemarau.
2) Cara Penanaman
Lubang tanam yg telah ditimbun digali kembali dengan ukuran
panjang & lebar 60 cm pada kedalaman 30 cm, taburi lubang
dengan furadan 10-25 gram. Polibag bibit digunting sampai ke
bawah, masukkan bibit beserta tanahnya & masukkan kembali
tanah galian sampai membentuk guludan. Tekan tanah di sekitar
batang & pasang kayu penyangga tanaman.
3) Penanaman Pohon Pelindung
Pohon pelindung ditanam untuk menahan hembusan angin yg kuat.
Jenis yg biasa dipakai adalah pohon asam atau trembesi.

6.4. Pemeliharaan Tanaman


1) Penyiangan
Penyiangan tidak dapat dilakukan sembarangan, rumput/gulma yg
telah dicabut dapat dibenamkan atau dibuang ke tempat lain agar
tidak tumbuh lagi. Penyiangan juga biasa dilakukan pada waktu
penggemburan & pemupukan.
2) Penggemburan/Pembubunan
Tanah yg padat & tidak ditumbuhi rumput di sekitar pangkal batang
perlu digemburkan, biasanya pada awal musim hujan.
Penggemburan tanah di kebun mangga cangkokan jangan
dilakukan terlalu dalam.
3) Perempelan/Pemangkasan
Pemangkasan bertujuan untuk membentuk kanopi yg baik &
meningkatkan produksi. Ketika tanaman telah mulai bertunas perlu
dilakukan pemangkasan tunas agar dalam satu cabang hanya
terdapat 34 tunas saja. Tunas yg dipilih jangan terletak sama
tinggi & berada pada sisi yg berbeda. Tunas dipelihara selama
kurang lebih 1 tahun saat tunas-tunas baru tumbuh kembali. Pada
saat ini dilakukan pemangkasan kedua dengan meninggalkan 2-3
tunas. Pemangkasan ketiga, 1 tahun kemudian, dilakukan dengan
cara yg sama dengan pemangkasan ke-2.
4) Pemupukan
a) Pupuk organik
1.
Umur tanaman 1-2 tahun: 10 kg pupuk kandang, 5 kg
pupuk kandang.
2.
Umur tanaman 2,58 tahun: 0,5 kg tepung tulang, 2,5 kg
abu.
3.
Umur tanaman 9 tahun: tepung tulang dapat diganti
pupuk kimia SP-36, 50 kg pupuk kandang, 15 kg abu.
4.
Umur tanaman > 10 tahun: 100 kg pupuk kandang, 50 kg
tepung tulang, 15 kg abu.
Pupuk kandang yg dipakai adalah pupuk yg sudah tercampur
dengan tanah. Pemberian pupuk dilakukan di dalam parit keliling
pohon sedalam setengah mata cangkul (5 cm).
b) Pupuk anorganik
1.
Umur tanaman
gram/tanaman.

1-2

bulan

NPK

(10-10-20)

100

2.

Umur tanaman 1,5-2 tahun: NPK (10-10-20) 1.000


kg/tanaman.
3.
Tanaman sebelum berbunga: ZA 1.750 gram/tanaman, KCl
1.080 gram/tanaman.
4.
Tanaman waktu berbunga : ZA 1.380 gram/tanaman, Di
kalsium fosfat 970 gram/tanaman, KCl 970 gram/tanaman.
5.
Tanaman setelah panen: ZA 2700 gram/tanaman, Di
kalsium
fosfat
1.940
gram/tanaman,
KCl
1.940
gram/tanaman.
5) Peningkatan Kuantitas Buah
Dari sejumlah besar bunga yg muncul hanya 0,3% yg dapat
menjadi buah yg dapat dipetik. Untuk meningkatkan persentase ini
dapat disemprotkan polinator maru atau menyemprotkan serbuk
sari diikuti pemberian 300 ppm hormon giberelin. Dengan cara ini,
persentase pembentukan buah yg dapat dipanen dapat
ditingkatkan menjadi 1,3%.
7. HAMA & PENYAKIT
7.1. Hama
1.
o
o
2.
o
o

3.
o
o

Kepik mangga (Cryptorrhynoccus gravis)


Menyerang buah & masuk ke dalamnya.
Pengendalian:
dengan
semut
merah
yg
menyebabkan kepik tidak bertelur.
Bubuk buah mangga
Menyerang buah sampai tunas muda. Kulit buah
kelihatan normal, bila dibelah terlihat bagian dalamnya
dimakan hama ini.
Pengendalian: memusnahkan buah mangga yg
jatuh akibat hama ini, menggunakan pupuk kandang
halus, mencangkul tanah di sekitar batang pohon &
menyemprotkan insektisida ke tanah yg telah
dicangkul.
Bisul daun(Procontarinia matteiana.)
Gejala: daun menjadi berbisul & daun menjadi
berwarna coklat, hijau & kemerahan.
Pengendalian: penyemprotan buah & daun
dengan Ripcord, Cymbuth atau Phosdrin tiga kali dalam
seminggu,
membakar
daun
yg
terserang,
menggemburkan
tanah
untuk
mengeluarkan
kepompong & memperbaiki aerasi.

4.
o
o
5.
o

o
6.
o

o
7.
o
o

Lalat buah
Gejala: buah busuk, jatuh & menurunkan
produktivitas.
Pengendalian: dengan memusnahkan buah yg
rusak, memberi umpan berupa larutan sabun atau
metil eugenol di dalam wadah & insektisida.
Wereng ( Idiocerus clypealis, I. Niveosparsus, I. Atkinsoni)
Jenis wereng ini berbeda dengan yg menyerang
padi. Wereng ini menyerang daun, rangkaian bunga &
ranting sambil mengeluarkan cairan manis sehingga
mengundang semut api untuk memakan tunas atau
kuncup. Cairan yg membeku menimbulkan jamur kerak
hitam.
Pengendalian dengan insektisida Diazinon &
pengasapan seminggu empat kali.
Tungau (Paratetranychus yothersi, Hemitarsonemus latus)
Tungau pertama menyerang daun mangga yg
masih muda sedangkan yg kedua menyerang
permukaan daun mangga bagian bawah. Keduanya
menyerang rangkaian bunga.
Pengendalian dengan menyemprotkan tepung
belerang, insektisida Diazinon atau Basudin.
Codot
Memakan buah mangga di malam hari.
Pengendalian:
dengan
membiarkan
semut
kerangkeng hidup di sela daun mangga, memasang
kitiran angin berpeluit & melindungi pohon dengan
jaring.

7.2. Penyakit
1.

Penyakit mangga
Penyebab: jamur Gloeosporium mangifera. Jamur
ini menyebabkan bunga menjadi layu, buah busuk,
daun berbintik-bintik hitam & menggulung.
o
Pengendalian: fungisida Bubur Bordeaux.
2.
Penyakit diplodia
o
Penyebab: jamur Diplodia sp. Tumbuh di luka
tanaman muda hasil okulasi.
o
Pengendalian: dengan bubur bordeaux. Luka
diolesi/ditutup parafin-carbolineum.
3.
Cendawan jelaga
o

Penyebab: virus Meliola mangifera atau jamur


Capmodium mangiferum. Daun mangga yg diserang
berwarna hitam seperti beledu. Warna hitam
disebabkan oleh jamur yg hidup di cairan manis.
o
Pengendalian: dengan memberantas serangga yg
menghasilkan cairan manis dengan insektisida atau
tepung belerang.
4.
Bercak karat merah
o
Penyebab: jamur Colletotrichum gloeosporiodes.
Menyerang daun, ranting, bunga & tunas sehingga
terbentuk bercak yg berwarna merah. Penyakit ini
sangat mempengaruhi proses pembuahan.
o
Pengendalian: pemangkasan dahan, cabang,
ranting, menyemprotkan fungisida bubuk bordeaux
atau sulfat tembaga.
5.
Kudis buah
o
Menyerang tangkai bunga, bunga, ranting &
daun.
o
Gejala: adanya bercak kuning yg akan berubah
menjadi abu-abu. Pembuahan tidak terjadi, bunga
berjatuhan.
o
Pengendalian: fungisida Dithane M-45, Manzate
atau Pigone tiga kali seminggu & memangkas tangkai
bunga yg terserang.
6.
Penyakit Blendok
o
Penyebab: jamur Diplodia recifensis yg hidup di
dalam lubang yg dibuat oleh kumbang Xyleborus
affinis). Lubang mengeluarkan getah yg akan berubah
warna menjadi coklat atau hitam.
o
Pengendalian: memotong bagian yg sakit, lubang
ditutupi dengan kapas yg telah dicelupkan ke dalam
insektisida & menyemprot pohon dengan bubur
bordeaux.
7.3. Gulma
Benalu memberikan kerusakan dalam waktu pendek karena
menyebabkan makanan tidak diserap tanaman secara sempurna.
Pengendalian dengan memotong cabang yg terserang, menebang
tanaman yg diserang benalu dengan berat.
o

8. PANEN
8.1. Ciri & Umur Panen

Mangga cangkokan mulai berbuah pada umur 4 tahun, mangga


okulasi pada umur 5-6 tahun. Banyaknya buah panen pertama
hanya 10-15 buah, pada tahun ke 10 jumlah buah dapat mencapai
300-500 buah/pohon. Panen besar biasanya jatuh di bulan
September-Oktober. Tanda buah sudah dapat dipanen adalah
adanya buah yg jatuh karena matang sedikitnya 1 buah/pohon,
warna buah arumanis/manalagi berubah menjadi hijau tua
kebiruan, warna buah mangga golek/gedok berubah menjadi
kuning/merah Buah yg dipetik harus masih keras.
8.2. Cara Panen
Pada saat pemetikan, buah jangan sampai terpotong, tercongkel
atau jatuh sampai memar. Buah dipetik di sore hari dengan
menggunakan pisau tajam atau dengan galah yg diujungnya
terdapat pisau & keranjang penampung buah.
8.3. Periode Panen
Di Indonesia pohon mangga berbunga satu tahun sekali sehingga
panen dilakukan satu periode dalam satu tahun. Dari satu pohon,
buah tidak akan masak bersamaan sehingga dilakukan beberapa
kali panen.
8.4. Perkiraan Produksi
Pohon muda okulasi menghasilkan 50-100 buah/tahun, meningkat
sampai 300-500 buah pada umur 10 tahun, 1.000 buah pada umur
15 tahun & 2.000 buah pada waktu produksi maksimum di umur 20
tahun.

SUBSISTEM PEMASARAN
Pemasaran memiliki arti penting dalam kegiatan agribisnis.
Pemasaran menjadi salah satu aspek penting dalam pertimbangan
kegiatan agribisnis. Kemampuan membaca peluang pasar
digunakan untuk menentukan strategi bisnis yang akan
dilaksanakan. Oleh karena itu, subsistem pemasaran merupakan
salah satu bagian penting penting kegiatan agribisnis.

Kegiatan pemasaran dimulai dari distribusi sarana input


pertanian hingga produk pertanian tersebut sampai ke tangan
konsumen. Sarana input telah disediakan melalui agen-agen
pertanian. Sementara pemasaran hasil output dimulai dari petani
hingga sampai ke tangan konsumen baik secara langsung maupun
tidak langsung ataupun mungkin malah memasuki ranah ekspor.
Kemudian tingkat harga di masing-masing tahap pemasaran bisa
berbeda-beda. Setiap melalui suatu proses, suatu produk akan
mengalami nilai tambah. Namun, dalam pemasaran hal tersebut
belum tentu terjadi karena pemasaran sangat bergantung dengan
permintaan konsumen.
Produk buah mangga baik dalam bentuk buah segar
maupun olahan memiliki segmen pasar tersendiri. Produk buah
segar mampu menjangkau pasar paling bawah hingga kalangan
atas tergantung dari kualitas dan varietas produk yang dihasilkan.
Produk olahan buah mangga juga bermacam-macam intensitas
harganya. Biasanya hasil produk oleh perusahaan besar akan
menjual dengan harga yang lebih murah karena kapasitas produksi
yang besar pula. Sementara perusahaan industri olahan dengan
skala kecil akan menjual dengan harga yang lebih tinggi karena
biaya produksi yang lebih mahal pula.
Industri olahan buah mangga telah memasuki skala
komersial. Sudah dapat dilihat dari iklan yang tayang di televisi
ataupun media lainnya. Merk- merk terkenal seperti ABC, Buavita,
Sirup Marjan,dan lain sebagainya, telah berani memproduksi olahan
jus mangg dan sirup buah mangga. Promosi menjadi bukti
kesuksesan pemasaran industri olahan buah mangga.
Secara perhitungan ekonomi bisnis buah mangga
menguntungkan. Namun ditingkat petani, keuntungan yang
dirasakan sangat sedikit. Hal ini diakibatkan kurang kompetitifnya
harga di tingkat petani dan pengumpul buah mangga. Selain itu
biaya pemanenan dan pemeliharaan sangat tinggi sehingga
keuntungan yang dirasakan petani menjadi minim. Harga pasar
yang tak pasti juga menambah derita petani. Akhirnya lahirlah
sistem ijon, menjual buah mangga diusia muda.
NO

LEMBAGA PEMASARAN
1 PETANI

HARGA JUAL /KG


Rp2.623

MARJIN
PEMASARAN
-

PEDAGANG
2 PENGUMPUL
3 PEDAGANG PENGEPUL
PEDAGANG PASAR
4 INDUK
5 SUPLIER
6 PASAR TRADISIONAL
7 KIOS BUAH
PASAR
MODERN/SUPERMARKE
8 T

Rp
2.873
Rp
4.200
Rp
4.904
Rp
6.142
Rp
6.500
Rp
9.500

Rp
185
Rp
1.177
Rp
662
Rp
1.445
Rp
860
Rp
1.400

Rp
10.000

Rp
1.100

Tabel hasil penelitian distribusi harga mangga di kabupaten


Majalengka tahun 2005.

SUBSISTEM AGROINDUSTRI
Proses pengolahan dari bahan mentah atau buah segar
menjadi produk olahan akan memberi added value. Proses
pengolahan akan menghasilkan beragam produk yang lebih
beragam. Seperti diketahui konsumen memiliki selera yang
beragam sehingga aneka hasil olahan mampu meningkatkan
permintaan akan buah mangga.
Kemajuan teknologi pengolahan bahan makanan telah
mendorong peningkatan produksi produk olahan. Agroindustri buah
mangga beragam ukuran usahanya. Mulai dari UMKM hingga
perusahaan yang telah memiliki brand ternama seperti ABC.
Tenaga kerja tanpa ijazah yang biasa dipekerjakan di usaha mikro
sampai tenaga kerja terdidik dan terlatih yang bekerja di
perusahaan industry terserap dengan baik. Kemajuan agroindustry
pengolahan buah mangga mampu meningkatkan kesejahteraan
masyarakat dan mengurangi angka pengangguran.
Beberapa produk olahan buah mangga dapat kita temui di
beberapa sentra produksi buah mangga sebagai makanan khas
daerah. Beberapa juga terjual di toko-toko atau bahkan
supermarket. Proses pengolahan dan sasaran produksi sangat

bergantung dari sasaran konsumen yang dituju. Setiap segmen


pasar akan memiliki permintaannya masing-masing. Sebagai
contoh, jika sasarannya adalah menghasilkan produk yang mampu
diterima dipasar tradisional dan pasar modern, maka akan dibuat
produk yang kira-kira sesuai dengan permintaan dipasar tersebut
dari segi harga, kemasan, higienitas, kualitas rasa, dan volume
produknya.
Beberapa contoh hasil olahan buah mangga yang diproduksi
perusahaan skala besar dan menengah ialah minuman kemasan,
sirup, puree, selai dan sari buah. Produk-produk olahan mangga
tersebut menuntut adanya produksi yang berstandar tinggi dari
segi higienitas. Kemudian produk-produk olahan lainnya yaitu
manisan, dodol, asinan dan masih banyak lagi. Proses produksi
olahan buah mangga seperti diatas sangar tergantung oleh sasaran
konsumen yang dituju, maka dari itu proses produksi sangat
berkaitan erat dengan pemasaran.
SUBSISTEM PENUNJANG

Subsistem penunjang biasanya erat kaitannya dengan


system pengadaan jasa bagi agribisnis, seperti seperti lembaga
keuangan, lembaga penelitian dan pengembangan, lembaga
transportasi, lembaga pendidikan, dan lembaga pemerintah.
Subsistem ini berjalan agar subsistem yang lain bekerja lebih
optimal.
a. Penunjang di tingkat Petani
Gapoktan
Biasanya para petani akan membentuk Gapoktan
(Gabungan Kelompok Petani) yang beranggotakan para
petani yang memiliki komoditi tanam yang sama. Dari
gapoktan ini biasanya masyarakat saling bertukar
informasi mulai dari budidaya, pembibitan, pemasaran
dan bahkan ada gapoktan yang mau membeli hasil dari
petani secara langsung. Sehingga kekuatan petani buah
mangga sangat kuat.
Koperasi
Kemudian ada koperasi khusus petani buah mangga, yang
menjadi tempat meminjam modal bagi petani kecil.
Koperasi terkadang juga menyediakan jaminan pasar bagi

para petani dengan system tertentu. Terkadang koperasi


juga bersifat sebagai pedagang pengumpul.
Bank
Beberapa Bank pun mau memberikan injaman mmodal
kepada petani kecil, seperti program simpedes BRI.
b. Penunjang bagi pelaku Industri
Modal
Biasanya industry UMKM maupun yang sudah besar akan
memerlukan biaya yang besar pula untuk berjalan.
Kepercayaan dari pemberi modal seperti Bank sangat
diperlukan oleh para pengusaha.
Lembaga pemerintahan.
Kebijakan pemerintahan sangat berpengaruh terhadap
kelangsungan bisnis ini.seperti kebijakan larangan dan
ketentuan ekspor impor, kenaikan BBM, dan kebijakan
moneter.

PENUTUP

KESIMPULAN
Agribisnis buah mangga dari hulu sampai hilir mampu
memberikan penghidupan masyarakat secara luas. Buah mangga
yang sejak dulu telah di kenal di Indonesia telah menjadi familiar di
masyarakat, namun bisnis ini sangat minim inovasi. Padahal
peluang yang tersedia sangatlah banyak untuk berikut terjun dalam
bisnis ini. Untuk itu bisnis ini sangat menjanjikan bagi pendatang
baru.
SARAN
Perbaikan sarana dan prasarana di tingkat petani dan
pengusaha kecil akan membentuk sisstem agribisnis ini semakin

baik lagi. Adanya jaminan modal dan pasar yang jelas bisa
mendorong perkembangan bisnis ini. Untuk pemerintah diharapkan
bisa memberikan focus pada bisnis ini terutama ditingkat petani.
Kebijakan pro petani mangga dari pemerintah sangat ditunggutunggu, seperti pengembangan dan pemberian bibit unggul,
peminjaman modal dan subisidi dalam bentuk pupuk atau
pengurangan pajak produksi.

DAFTAR PUSTAKA

Hanani, N., R. Dwi Astuti, Syafrial, S. Wijana, M. Dewani dan A. Affandie. 1991.
Studi Pengembangan Agribisnis Mangga di Jawa Timur. Penelitian PHB
I/1 DP4M DEPDIKBUD.
Notodimedjo, S.
1983.
Pengantar Ilmu Hortikultura.
Universitas Brawijaya Malang.

Fakultas Pertanian.

Purnomo, S. 1987. Strategi Pengelolaan Tanaman dan Perbaikan Hasil Mangga.


Badan LITBANG Pertanian, Departemen pertanian, Jakarta.

Soemarno, dkk. 2000/2001. Penelitian Pengembangan Agribisnis Mangga di Sentra


produksi mangga di Jawa Timur bagian barat. Kerjasama antara
BALITBANGDA dengan LPM Unibraw, Malang.
Sunaryono, H. 1981. Pengenalan Jenis Tanaman Buah- Buahan dan Bercocok
Tanam Buah-Buahan Penting di Indonesia. Penerbit Sinar Baru.
Bandung.