Anda di halaman 1dari 12

FUNGSI DAN PERAN PARTAI POLITIK

ANTHONY
160414011

UNIVERSITAS SURABAYA

BAB I
PENDAHULUAN

I.

Pengertian Partai Politik


Partai politik adalah sarana politik yang menjembatani elit-elit politik dalam
upaya mencapai kekuasaan politik dalam suatu negara yang bercirikan mandiri dalam hal
finansial, memiliki platform atau haluan politik tersendiri, mengusung kepentingankepentingan kelompok dalam urusan politik, dan turut menyumbang political
development sebagai suprastruktur politik.
Dalam rangka memahami partai politik sebagai salah satu komponen infrastruktur
politik dalam negara, berikut beberapa pengertian mengenai partai politik, yakni:
1. Carl J. Friedrich: partai Politik adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara
stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasan pemerintah bagi
pemimpin partainya, dan berdasarkan penguasaan ini memberikan kepada anggota
partainya kemanfaatan yang bersifat ideal maupun materil.
2. R.H. Soltou: partai Politik adalah sekelompok warga negara yang sedikit banyaknya
terorganisir, yang bertindak sebagai satu kesatuan politik, yang dengan memanfaatkan
kekuasan memilih, bertujuan menguasai pemerintah dan melaksanakan kebijakan umum
mereka.
3. Miriam Budiardjo: partai politik adalah suatu kelompok yang terorganisir yang
anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama dengan
tujuan memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik (biasanya), dengan
cara konstitusional guna melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka.

II.

Ideologi Politik

III

Ideologi politik adalah sebuah himpunan ide dan prinsip yang menjelaskan
bagaimana seharusnya masyarakat bekerja, dan menawarkan ringkasan order masyarakat
tertentu. Ideologi politik biasanya mengenai dirinya dengan bagaimana mengatur
kekuasaan dan bagaimana seharusnya dilaksanakan.
Ideologi adalah seperangkat tujuan dan ide-ide yang mengarahkan pada satu
tujuan, harapan, dan tindakan. Jadi, ideologi politik dapat diartikan sebagai seperangkat
tujuan dan ide yang menjelaskan bagaimana suatu rakyat bekerja, dan bagaimana cara
mengatur kekuasaan.
A. Liberialisme
Kebebasan telah muncul sejak adanya manusia di dunia, karena pada
hakikatnya manusia selalu mencari kebebasan bagi dirinya sendiri. Bentuk
kebebasan dalam politik pada zaman dahulu adalah penerapan demokrasi di
Athena dan Roma. Tetapi, kemunculan liberalisme sebagai sebuah paham pada
abad akhir abad 17.
Liberalisme berasal dari kata liberalis yang berarti bebas. Dalam
liberalisme, kebebasan individu, pembatasan kekuasaan raja (pemerintah), dan
persaingan pemilik modal (kapital). Karena itu, liberalisme dan kapitalisme
terkadang dilihat sebagai sebuah ideologi yang sama.
Liberalisme muncul pada abad ke akhir abad 17, berhubungan dengan
runtuhnya feodalisme di Eropa dan dimulainya zaman Renaissance, lalu diikuti
dengan gerakan politik masa Revolusi Prancis. Liberalisme pada zaman ini terkait
dengan Adam Smith, dikenali sebagai liberalisme klasik. Pada masa ini, kerajaan
(pemerintahan) bersifat lepas tangan, sesuai dengan konsep Laissez-Faire. Konsep
ini menekankan bahwa kerajaan harus memberi kebebasan berpikir kepada rakyat,

tidak menghalang pemilikan harta indidvidu atau kumpulan, kuasa kerajaan yang
terbatas dan kebebasan rakyat.
B. Kapitalisme

Kapitalisme (capitalism) berasal dari kata kapital (capital), yang berarti


modal. Modal disini maksudnya adalah alat produksi, seperti tanah dan uang.
Jadi, arti kapitalisme adalah ideologi dimana kekuasaan ada di tangan kapital atau
pemilik modal, sistem ekonomi bebas tanpa batas yang didasarkan pada
keuntungan, di mana masyarakat bersaing dalam batasan-batasan ini.

IV

Menurut cara pandang kapitalisme, setiap individu bukanlah bagian dari


masyarakat, tetapi merupakan suatu pihak yang harus berjuang untuk kepentingan
sendiri. Dalam perjuangan ini, faktor penentunya adalah produksi. Produsen
unggul akan tetap bertahan, dan produsen lemah akan tersingkir.
Kapitalisme berawal pada zaman feodal di Mesir, Babilonia, dan
Kekaisaran Roma. Ahli ilmu sosial menyebut kapitalisme pada zaman ini sebagai
commercial

capitalism

(kapitalisme

komersial).

Kapitalisme

komersial

berkembang ketika pada zaman itu perdagangan lintas suku dan kekaisaran sudah
berkembang dan membutuhkan sistem hukum ekonomi untuk menjamin keadilan
perdagangan ekonomi yang dilakukan oleh para pedagang, tuan tanah, kaum
rohaniwan.
Kapitalisme berlanjut menjadi sebuah hukum dan kode etik bagi kaum
pedagang. Karena terjadi perkembangan kompetisi dalam sistem pasar, keuangan,
dan lain-lain, maka diperlukan hukum dan etika yang relatif mapan. Para
pedagang membuka wacana baru tentang pasar. Setiap membicarakan pasar,
mereka membicarakan tentang komoditas, dan nilai lebih yang akan menjadi
keuntungan bagi pedagang.

C. Sosialisme

Sosialisme adalah paham yang bertujuan mengubah bentuk masyarakat


dengan menjadikan perangkat produksi menjadi milik bersama, dan pembagian
hasil secara merata disamping pembagian lahan kerja dan bahan konsumsi secara
menyeluruh. Dalam sosialisme setiap individu harus berusaha untuk mendapatkan
layanan yang layak untuk kebahagiaan bersama, karena pada hakikatnya, manusia
hidup bukan hanya untuk bebas, tapi juga saling menolong. Sosialisme yang kita
kenal saat ini Sosialisme sebenarnya telah lahir sebelum dicetuskan oleh Karl
Marx. Orang yang pertama kali menyuarakan ide sosialisme adalah Francois Noel
Babeuf, pada abad 18. Kemudian muncul tokoh lain seperti Robert Owen di
Inggris, Saint Simon dan Fourier di Perancis. Mereka mencoba memperbaiki
keadaan masyarakat karena terdorong oleh rasa perikemanusiaan tetapi tidak
dilandasi dengan konsep yang jelas dan dianggap hanya angan-angan belaka,
karena itu mereka disebut kaum sosialis utopis.
III.

Sistem Klasifikasi Partai Politik


A. Sistem Partai Tunggal / Sistem Satu Partai
Dalam system ini terdapat dua variasi : pertama, di Negara tersebut hanya
terdapat satu partai yang boleh hidup dan berkembang. Kedua , partai tunggal
mendominasi kehidupan kepartaian, tidak ada suasana bersaing karena partai lainnya
harus menerima kepemimpinan dari partai tersebut.
Giovanni Sartori, seorang pakar studi partai politik menegaskan bahwa
tipe partai tunggal tidak bias di masukkan dalam kategori system kepartaian, karena
suatu system pada dasarnya membutuhkan lebih dari satu unit untuk dapat bekerja
sebagai system.

B. Sistem Dua Partai

VI

Memang hanya dua partai besar yang mendominasi sementara partaipartai lain terlalu kecil untuk memiliki signifikansi politik. Adanya dua partai dimana
salah satu berperan sebagai partai berkuasa sedangkan yang lain menjadi oposisi
secara bergantian. Adanya satu partai dominant yang biasanya memerintah sendiri
dengan sebuah partai lain yang selalu menjadi kekuatan oposan.
C. Sistem Multi Partai
Sistem banyak partai ini sering ditemukan dalam Negara-negara yang
memakai system pemilihan berdasarkan perwakilan berimbang (proportional
representation). Sistem ini memberi kesempatan kepada partai kecil untuk
memenangakan beberapa kursi. Partai kecil dapat menarik keuntungan jika dapat
membentuk pemerintahan koalisi. Secara proporsional mereka dapat ikut menentukan
terbentuknya pemerintah yang akan membuat kebijakan umum. Kelemahan system
banyak partai yang paling utama adalah bahwa banyaknya partai yang merupakan
wakil kelompok dan golongan menyulitkan terbentuknya consensus nasional.

BAB II

VII
PEMBAHASAN
Setiap organisasi yang dibentuk oleh manusia tentunya memiliki tujuan-tujuan tertentu.
Demikian pula organisasi yang disebut Partai Politik (Parpol). Tujuan pembentukan suatu parpol,
disamping yang utama adalah merebut, mempertahankan ataupun menguasai kekuasaan dalam
pemerintahan suatu mempertahankan ataupun menguasai kekuasaan dalam pemerintahan suatu
Negara-juga dapat diperlihatkan dari aktivitas yang dilakukannya. Rusadi Kantaprawira
mengemukakan, aktivitas yang dilakukan parpol pada umumnya mengandung tujuan:
1. Berpartisipasi dalam sektor pemerintahan, dalam arti mendudukkan orang-orangnya
menjadi pejabat pemerintah sehingga dapat turut serta mengambil atau menentukan
keputusan politik atau output pada umumnya.
2. Berusaha melakukan pengawasan, bahkan oposisi bila perlu tehradap kelakuan, tidakan,
kebijksanaan para pemegang otoritas ( terutama dalam keaaan mayoritas pemerintahan
tidak berada dalam tangan parpol yang bersangkutan).
3. Berperan untuk dapat memadu (streamlining) tuntutuan-tuntutan yang masih mentah (raw
opinion), sehingga parpol bertindak sebagai penafsir kepentingan dengan merancangkan
isu-isu politik (political issue) yang dapat dicerna dan diterima masyarakat secara luas.
4. Dengan melihat aktivitas dari parpol tersebut di atas, maka rakyat sebagai subyek dalam
system ketatanegaraan dapat melakukan pilihan-pilihan alternative, yakni parpol mana
yang akan diikuti atau menjadi saluran politik mereka.
Sedangkan dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik pada pasal
10 ayat 1 dan 2 diatur akan tujuan umum dan tujuan khusus partai politik sebagai berikut:
Mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Menjaga dan memelihara
keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia; Mengembangkan kehidupan demokrasi
berdasarkan pancasila dengan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia; danMewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Fungsi partai politik pada sisi yang lain, sebagai berikut.

VIII

Pertama, partai sebagai sarana komunikasi politik. Salah satu tugas dari partai politik
adalah menyalurkan aneka ragam pendapat dan aspirasi masyarakat dan mengaturnya
sedemikian rupa sehingga kesimpangsiuran pendapat dalam masyarakat berkurang.
Kedua, partai sebagai sarana sosialisasi politik. Di dalam ilmu politik, sosialisasi politik
diartikan sebagai proses melalui mana seseorang memperoleh sikap dan orientasi terhadap
fenomena politik. Biasanya proses sosialisasi berjalan secara berangsur-angsur dari masa kanakkanak sampai dewasa. Selain itu sosialisasi politik juga mencakup proses melalui mana
masyarakat menyampaikan norma-norma dan nilai-nilai dari satu generasi ke generasi
berikutnya.
Ketiga, partai politik sebagai sarana rekrutmen. Partai politik melakukan seleksi dan
pemilihan serta pengangkatan seseorang atau sekelompok orang untuk melaksanakan sejumlah
peranan dalam sistem politik pada umumnya dan pemerintahan pada khususnya.
Keempat, partisipasi politik. Partai politik sebagai wadah bagi warga negara dalam
mempengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan umum dan dalam ikut menentukan
pemimpin pemerintahan.
Kelima, partai politik sebagai pemandu kepentingan. Partai politik melakukan kegiatan
menampung, menganalisis dan memadukan berbagai kepentingan yang berbeda bahkan
bertentangan menjadi beberapa alternatif kebijakan umum, kemudian diperjuangkan dalam
proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik
Keenam, komunikasi politik, yaitu proses penyampaiaan informasi mengenai politik dari
pemerintah kepada rakyat atau sebaliknya.

Ketujuh, pengendalian konflik. Partai politik berfungsi mengendalikan konflik melalui


dialog dengan pihak-pihak yang berkonflik, menampung dan memadukan berbagai aspirassi
(cita-cita) dan kepentingan dan membawa permasalahan ke dalam musyawarah dalam badan
perwakilan rakyat (DPR) untuk mendapat penyelesaian berupa kepuitusan politik.

BAB III

IX

KESIMPULAN
Kesimpulan dari pembahasan fungsi parpol menurut saya sendiri berdasarkan artikel di
atas, terbagai menjadi dua belas pembahasan yakni : (1) Komunikasi politik. (2) Perwakilan. (3)
Konvensi, artikulasi kepentingan, dan agregasi. (4) Pendidikan politik. (5) Integrasi (partisipasi
politik, sosialisasi politik, dan mobilisasi politik). (6) Persuasi dan represi. (7) Kaderisasi. (8)
Rekrutmen politik. (9) Membuat pertimbangan, perumusan, kebijakan dan control terhadap
pemerintah. (10) Mengkoordinasi lembaga-lembaga pemerintah. (11) Alat pengontrol
kepentingan pribadi politisi yang duduk sebagai wakil rakyat maupun pejabat public. (12) Fungsi
dukungan (Supportive function). Dalam konstitusi NRI telah diatur lima fungsi partai politik
memberikan pendidikan politik bagi anggota dan masyarakat luas agar menjadi warga negara
Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara; b. penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia
untuk kesejahteraan masyarakat; c. penyerap, penghimpun, dan penyalur aspirasi politik
masyarakat dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan negara; d. partisipasi politik warga
negara Indonesia; dan e. rekrutmen politik dalam proses pengisian jabatan politik melalui
mekanisme demokrasi dengan memperhatikan kesetaraan dan keadilan gender.Suatu
perkembangan dan kemajuan untuk konstitusi Negara Republik Indonesia karena telah diatur
dalam konstitusi akan fungsi partai politik yang mempertimbangkan kesetaraan, keadilan dan
peran serta perempuan dalam keterwakilan politik. Intinya parpol dibentuk untuk menciptakan
kerukunan rakyat bukan membuat rakyat menjadi gelisah atau was was an karena tingkah laku
mereka dalam persaingan memperebutkan sesuatu yang ada di parlemen. Tujuan utama parpol
harusnya dapat mensejaterakan rakyat dan membuat NRI menjadi maju.

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

Eman Hermawan, Politik Membela Yang Benar; teori, kritik, dan nalar, Klik R,
Jogjakarta, 2002). Soelistyati Ismail Gani, Pengantar Ilmu Politik, Ghalia Indonesia,

Jakarta, 1984).
http://www.negarahukum.com/hukum/fungsi-partai-politik.html
http://www.sumbarprov.go.id/read/99/12/14/59/290-teras-sumbar/artikel/1481-

peranan-partai-politik-dalam-penyelenggaraan-pemerintahan.html
Budiyanto, Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMA kelas XII, Erlangga, Jakarta,

2007
http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_politik#Ideologi_politik

DAFTAR ISI

XI

HALAMAN

HALAMAN JUDUL

DAFTAR ISI

ii

BAB I

PENDAHULUAN

iii

Pengertian Partai Politik


Ideologi Politik
Liberialisme
Kapitalisme
Sosialisme
Sistem Klasifikasi Partai Politik
Sistem Partai Tunggal / Sistem Satu Partai
Sistem Dua Partai
Sistem Multi Partai
BAB II

PEMBAHASAN

viii

BAB III

KESIMPULAN

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

xi

II