Anda di halaman 1dari 18

KEPRIBADIAN MANUSIA

Pendahuluan
Mengapa dalam menghadapi sesuatu dI kehidupan sehari-hari, ada orang yang
sering tampak sedih dan ada orang yang tampak bergembira, beberapa orang mengalami
kelesuan dan beberapa tampak energik, ada yang impulsif, ada yang berhati-hati,
beberapa tampak bersemangat dan beberapa tampak tenang, atau sebagian mengalami
pesimistik dan sebagian optimistik?
Setiap manusia itu adalah unik dan tidak ada satu pun manusia yang dilahirkan
dengan sifat yang betul-betul sama, bahkan pada kembar identik sekalipun. Kita semua
dilahirkan dengan watak dasar yang menjadi ciri khas kita sendiri. Meskipun pada
beberapa orang mungkin saja memiliki sifat-sifat yang mirip, tetapi tidaklah sepenuhnya
sama. Watak dasar manusia inilah yang disebut dengan kepribadian. Banyak teori yang
mengulas jenis-jenis kepribadian manusia dan dijadikan pegangan dalam memahami
manusia satu sama lain.
Telah berabad-abad manusia mencoba memahami hal-hal apa yang membentuk
kepribadian seseorang. Sejak tahun 1880, Sir Francis Galton mengatakan bahwa
kepribadian seseorang dipengaruhi oleh “nature” atau herediter, yaitu sifat yang
diturunkan dari orang tuanya, serta dipengaruhi pula oleh “nurture” yaitu lingkungan
dimana seseorang itu tumbuh dan berkembang. Namun demikian pada beberapa dekade
terakhir banyak penelitian yang mengungkapkan pemahaman biologis dari kepribadian
seseorang yang berbeda-beda itu.

Teori-Teori tentang Kepribadian


Teori kepribadian menurut Jung
Carl G. Jung merupakan seorang psikiater yang berasal dari Swiss yang amat
terkenal dengan teori-teori kepribadiannya. Menurut Jung, terdapat suatu indikator (yang
disebutnya sebagai indikator tipe Myers Briggs) untuk mengukur kecenderungan
kepribadian seorang individu. Indikator ini mengukur kecenderungan individu atas empat
skala berikut:
1. Apakah orang tersebut lebih terkait dengan dunia eksternal atau internal
(Ekstroversi atau Introversi)
2. Bagaimana kecenderungan orang itu dalam menyerap atau menangkap informasi
(Sensing/mengindera atau Intuition/mengikuti kata hati)
3. Bagaimana kecenderungan orang itu dalam mengevaluasi dan mengambil
keputusan (Thinking/menggunakan pikiran atau Feeling/menggunakan perasaan)
4. Bagaimana orang itu menjalani hidup, apakah terencana dan menutup diri atau
spontan dan terbuka. (Judging/menilai atau Perceiving/mempersepsi)
Setiap orang memiliki satu kecenderungan dari tiap pasangan karakter yang disebutkan di
atas, sehingga terdapat 16 kombinasi atau tipe yang mungkin. Meskipun setiap orang
dapat saja memiliki sifat dari kedelapan kecenderungan tersebut, namun ada satu dari
setiap pasangan tersebut yang lebih berkembang.

Kecenderungan Ekstrovert dan Introvert


Apakah anda lebih terkait dengan dunia eksternal atau internal
Ekstrovert:
• Suka bergaul, aktif, dan cenderung nyaman bersama orang
• Memperoleh semangat dari dunia luar
• Tertarik dengan pengalaman yang luas
• Menemukan apa yang mereka pikirkan dan rasakan dengan berbicara dan
bertindak
• Bertindak dulu, lalu mungkin memikirkannya nanti
Introvert:
• Tidak banyak bicara, suka merenung, dan cenderung berkomunikasi satu lawan
satu
• Mendapat energi dengan menyendiri
• Tertarik pada pengalaman yang mendalam
• Menemukan apa yang mereka pikirkan dan rasakan dengan mengolah informasi
secara internal
• Berpikir dulu, baru mungkin nanti bertindak
Kecenderungan Sensing (penginderaan) dan Intuitive (mengikuti kata hati)
Bagaimana orang menyerap atau menangkap informasi
Sensing (penginderaan):
• Mengandalkan informasi yang ditangkap langsung oleh kelima inderanya
• Praktis dan membumi; hidup pada masa ini
• Tertarik pada apa yang ada sekarang ini, ketimbang kemungkinannya di masa
depan
• Bekerja tahap demi tahap dengan suatu cara yang telah baku, biasanya
memperhatikan hal-hal kecil

Intuitive (mengikuti kata hati):


• Memperoleh informasi melalui firasat, wawasan dan inspirasinya
• Tertarik dengan kemungkinan-kemungkinan; memanfaatkan imajinasi dan visinya
• Senang mengerjakan sesuatu dengan cara yang baru; bekerja dengan energi
berlimpah
• Memfokuskan pada skema besar; cenderung mengabaikan detail

Kecenderungan Thinking dan Feeling


Seteleh orang menerima informasi melalui kecenderungan Sensing dan Intuitivenya,
orang tersebut akan membuat kesimpulan dan mengambil keputusan berdasarkan
kecenderungan Thinking (pikiran) dan Feeling (perasaan) –nya.

Thinkers (pemikir):
• Menggunakan logika dan analisis dalam mengambil keputusan
• Menghargai prinsip, aturan dan prosedur
• Cenderung impersonal, objektif dan kritis

Feelers (perasa):
• Menyaring informasi dengan nilai-nilai pribadinya sendiri
• Menghargai keharmonisan; bersikap suportif dan empatis
• Mengejar pujian; sensitif terhadap kritik
Kecenderungan Judging dan Perceiving
Karakter ini merupakan ukuran atas bagaimana orang mengatur kehidupannya
jika berhubungan dengan dunia luar. Judgers (penilai) relatif cepat memberikan penilaian
dengan menggunakan pikiran atau perasaannya, agar bisa dekat dengan sesuatu.
Sedangkan perceiver (pemersepsi) menjaga jarak saat mengumpulkan informasi melalui
indra (sensing) dan intuisi (intuition)-nya.

Judgers (penilai)
• Relatif rapi dan efisien
• Menjalani hidup dengan perencanaan dan keteraturan; cenderung membuat daftar
dan mengikutinya
• Terdorong untuk mendapat keputusan dengan cepat agar dapat dekat
Kecenderungan memberi penilaian (judging) tidak berarti “menghakimi”.

Perceiving (mempersepsi)
• Relatif bisa beradaptasi, fleksibel dan spontan
• Ingin tetap memiliki pilihan dan menggali kemungkinan-kemungkinan baru
• Menunda kedekatan dengan mencari inforamsi lebih banyak sebelum mengambil
keputusan

Teori Eneagram
Eneagram adalah studi tentang sembilan tipe dasar manusia. Eneagram
diperkirakan berasal dari kelompok Sufi di Timur Tengah yang kemudian dikenalkan ke
Eropa pada tahun 1920an dan ke Amerika sekitar tahun 1960an. Eneagram berasal dari
bahasa Yunani, ennea artinya sembilan dan gram artinya sebuah gambar, sehingga
enneagram berarti sebuah gambar bertitik sembilan.
Menurut teori ini terdapat variasi dari tipe kepribadian seseorang yang
dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain kedewasaan, tipe orang
tua, urutan kelahiran, nilai budaya dan karakter bawaan.
Terdapat sembilan tipe kepribadian menurut teori eneagram, yaitu antara lain:
1. Perfeksionis : realistis, penuh pertimbangan, memegang prinsip, berusaha menjalani
hidup dengan standar ideal yang tinggi.
2. Penolong : hangat, peduli, mengasuh, peka terhadap kebutuhan orang lain.
3. Pengejar prestasi: energik, optimis, percaya diri, berorientasi pada tujuan.
4. Romantis: memiliki perasaan yang peka, pribadi yang hangat dan pengertian.
5. Pengamat: memiliki suatu kebutuhan akan pengetahuan dan adalah pribadi yang
introvert, penuh rasa ingin tahu, analitis dan berwawasan.
6. Pencemas: memiliki sifat cemas, defensif, kaku, mudah kesal, namun juga
bertanggung jawab, bisa dipercaya, menjunjung tinggi kesetiaan pada keluarga,
teman, kelompok dan alasan-alasan.
7. Petualang: energik, penuh vitalitas, optimis, ingin memberi sumbangsih pada dunia.
8. Pejuang: terus terang, mengandalkan diri sendiri, percaya diri, protektif.
9. Pendamai: mudah menerima, suka menyenangkan orang lain, mendukung, mencoba
menyatu dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya.
Gambar
Teori Kepribadian menurut Hippocrates
• Kepribadian Sanguinis
Merupakan pribadi yang terbuka, populer, menarik, suka berbicara dan
menghidupkan suasana. Orang-orang sanguin umumnya antusias dan ekspresif,
mereka periang, penuh semangat serta dipenuhi rasa ingin tahu yang besar. Selain itu
mereka juga mempunyai selera humor yang besar dan bukanlah seorang yang
pendendam.
• Kepribadian Koleris
Merupakan pribadi yang bebas dan mandiri, berkemauan kuat, tegas, dinamis, aktif
dan berbakat menjadi pemimpin. Orang-orang koleris sangat memerlukan perubahan,
tidak mudah patah semangat dan bisa menjalankan apa saja. Mereka memiliki
orientasi pada target, memiliki sifat organisasi yang baik, berkembang karena
persaingan. Karena orang koleris memiliki sifat yang mandiri, mereka cenderung
dapat mengerjakan sendiri tanpa perlu bantuan teman, serta mau mengerjakan segala
hal untuk suatu kegiatan.
• Kepribadian Phlegmatis
Merupakan pribadi yang rendah hati, mudah bergaul, santai, cenderung tenang dan
mampu menyeimbangkan emosinya. Selain itu pribadi phlegmatis juga sabar, hidup
konsisten, simpatik, baik hati, cerdas dan serba guna. Mereka cenderung
menyembunyikan emosi dan bahagia menerima kehidupan apa adanya. Pribadi ini
juga menyenangkan, tidak suka menyinggung, tidak mudah marah serta punya
perhatian yang besar.
• Kepribadian Melankolis
Merupakan pribadi yang mendalam dan penuh pemikiran, analitis, serius, tekun,
cenderung jenius, berbakat dan kreatif. Mereka memiliki standar yang tinggi terhadap
segala sesuatu, mereka ingin segalanya dilakukan dengan benar, rapi, sempurna.
Mereka merupakan orang yang gigih, cermat dan teratur. Selain itu juga perasa
terhadap orang lain, perhatian, mudah terharu, hati-hati dalam berteman, senang
bekerja di belakang layar, setia dan berbakti. Mereka mau mendengarkan keluhan-
keluhan dan bisa memecahkan masalah orang lain.

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual-IV (DSM-IV) Psikiatri


Dalam bidang psikiatri, kepribadian dapat dikelompokkan dalam 3 kelompok
besar yang disebut dengan klaster A, klaster B dan klaster C. Setiap orang memiliki ciri-
ciri tertentu dalam kepribadiannya, namun demikian ada pula orang-orang yang sudah
mengalami gangguan kepribadian. Seseorang mengalami gangguan kepribadian jika
sifat-sifat dalam kepribadiaannya tersebut bersifat menetap, pervasif dan tidak fleksibel.
Selain itu juga kepribadian yang dimilikinya ini menimbulkan masalah dalam
kehidupannya sehari-hari, misalnya dalam berhubungan dengan orang lain, dalam
pekerjaan atau sekolah.
Kepribadian klaster A macamnya antara lain kepribadian skizoid, kepribadian
paranoid dan kepribadian skizotipal. Sementara kepribadian klaster B terdiri dari
kepribadian antisosial, ambang, narsisistik dan histrionik. Kepribadian klaster C terdiri
dari kepribadian cemas menghindar, dependen dan anankastik (obsesif kompulsif).
Dalam uraian di bawah ini akan digambarkan ciri-ciri masing-masing kepribadian
menurut DSM IV.
KEPRIBADIAN PARANOID
1. Curiga, tanpa dasar yang cukup, bahwa orang lain memanfaatkan, membahayakan
atau menipu dirinya.
2. Preokupasi dengan keraguan tanpa alasan tentang loyalitas atau kejujuran teman
atau rekan kerja
3. Enggan untuk menceritakan rahasia pada orang lain karena merasa ketakutan
yang tidak perlu bahwa informasi tersebut akan digunakan secara jahat untuk
melawan dirinya
4. Membaca arti merendahkan atau mengancam yang tersembunyi dari kata-kata
yang ramah atau peristiwa yang biasa
5. Secara menetap menyimpan dendam, yaitu, tidak memaafkan penghinaan,
kerugian, atau sikap yang meremehkan
6. Merasa serangan terhadap karakter atau reputasinya yang tidak nyata bagi orang
lain dan bereaksi cepat dengan kemarahan atau menyerang balik
7. Mempunyai kecurigaan yang berulang, tanpa dasar kebenaran, mengenai
kesetiaan pasangan atau mitra seksual

KEPRIBADIAN SKIZOID
1. Tidak memiliki minat maupun menikmati hubungan dekat, termasuk menjadi
bagian dari keluarga
2. Hampir selalu memilih aktivitas seorang diri
3. Memiliki sedikit, jikapun ada, minat untuk mengalami pengalaman seksual
dengan orang lain
4. Merasakan kesenangan dalam sedikit aktivitas, jikapun ada
5. Tidak memiliki sahabat atau orang yang dapat dipercaya selain sanak saudara
derajat pertama
6. Tampak tidak acuh terhadap pujian atau kritik dari yang lain
7. Menunjukkan emosi yang dingin, pelepasan, atau pendataran afektivitas

KEPRIBADIAN SKIZOTIPAL
1. Memiliki ide-ide bahwa dirinya dibicarakan atau diperhatikan orang lain
2. Keyakinan aneh atau pikiran magis yang mempengaruhi perilaku dan tidak sesuai
dengan norma subkultural (misalnya, tahyul, percaya dapat melihat apa yang akan
terjadi, telepati, atau “indera keenam"; pada anak-anak dan remaja, fantasi atau
preokupasi yang aneh
3. Pengalaman persepsi yang tidak lazim, termasuk ilusi tubuh
4. Pikiran dan bicara yang aneh (misalnya, samar-samar, sirkumstansial, penuh kiasan,
sangat terinci, atau stereotipik)
5. Kecurigaan atau ide paranoid
6. Afek yang tidak sesuai atau terbatas
7. Perilaku atau penampilan yang aneh, eksentrik, atau ganjil
8. Tidak mempunyai sahabat atau orang yang dipercaya selain sanak saudara derajat
pertama
9. Kecemasan sosial yang berlebihan yang tidak berkurang dengan keakraban dan
cenderung dihubungkan dengan ketakutan paranoid dibanding pertimbangan negatif
tentang diri sendiri

KEPRIBADIAN ANTI SOSIAL


1. Gagal untuk memenuhi norma sosial dengan perilaku yang menghormati hukum
seperti yang ditunjukkan dengan berulang kali melakukan tindakan yang menjadi
alasan penahanan
2. Ketidakjujuran, seperti yang ditunjukkan dengan berulang kali berbohong,
menggunakan nama samaran, atau menipu orang lain untuk mendapatkan
keuntungan atau kesenangan pribadi
3. Impulsivas atau gagal merencanakan masa depan
4. Iritabilitas dan agresivitas, seperti yang ditunjukkan dengan perkelahian fisik atau
penyerangan yang berulang kali
5. Sembrono mengabaikan keselamatan diri sendiri atau orang lain
6. Secara terus menerus tidak bertanggungjawab, seperti yang ditunjukkan dengan
kegagalan yang berulang untuk mempertahankan perilaku kerja atau menghormati
kewajiban finansial
7. Tidak ada penyesalan, seperti yang ditunjukkan oleh sikap acuh tak acuh atau
mencari-cari alasan telah disakiti, dianiaya, atau dicuri oleh orang lain

KEPRIBADIAN AMBANG
1. Pola hubungan interpersonal yang tidak stabil dan kuat yang ditandai oleh
perubahan ekstrim antara idealisasi dan devaluasi
2. Gangguan identitas : citra diri atau perasaan diri yang tidak stabil secara jelas dan
menetap
3. Impulsivitas paling kurang pada dua bidang yang potensial merusak diri sendiri
(misalnya, berbelanja habis-habisan, seks, penyalahgunaan zat, mengemudi secara
sembrono, pesta makan)
4. Perilaku, isyarat, atau ancaman bunuh diri berulang, atau perilaku mutilasi diri
5. Ketidakstabilan afektif yang disebabkan oleh reaktivitas mood yang jelas
(misalnya, disforia hebat yang episodik, iritabilitas, atau kecemasan biasanya
berlangsung beberapa jam dan jarang lebih dari beberapa hari
6. Perasaan kosong yang kronis
7. Kemarahan yang hebat, tidak sesuai, atau kesulitan mengendalikan kemarahan
(misalnya, sering memperlihatkan temper, kemarahan yang terus menerus,
perkelahian fisik berulang)
8. Ide paranoid berhubungan dengan stres, atau gejala disosiatif berat yang bersifat
sementara

KEPRIBADIAN HISTRIONIK
1. Tidak merasa nyaman pada situasi di mana ia bukan pusat perhatian
2. Interaksi dengan orang lain seringkali ditandai dengan godaan seksual atau
perilaku provokatif yang tidak sesuai
3. Menunjukkan pergeseran emosi dengan cepat dan ekspresi emosi yang dangkal
4. Secara menetap menggunakan penampilan fisik untuk menarik perhatian padanya
5. Memiliki gaya berbicara yang sangat impresionistik dan tidak terinci
6. Menunjukkan dramatisasi diri, teatrikal, dan ekspresi emosi yang dibesar-
besarkan
7. Dapat disugesti, yaitu, mudah dipengaruhi oleh orang lain atau situasi
8. Menganggap hubungan lebih intim dibanding dari yang sebenarnya

KEPRIBADIAN NARSISISTIK
1. memiliki suatu rasa kepentingan diri yang besar (misalnya, pencapaian dan bakat
yang dibesar-besarkan, mengharapkan menjadi terkenal sebagai yang unggul tanpa
usana yang sepadan)
2. Preokupasi dengan fantasi akan keberhasilan, kekuatan, kecerdasan, kecantikan, atau
cinta ideal yang tidak terbatas
3. Yakin bahwa ia adalah "spesial" dan unik dan hanya dapat dipahami oleh, atau harus
berhubungan dengan, orang spesial lain atau orang lain (atau institusi) yang berstatus
tinggi
4. Membutuhkan kebanggaan yang berlebihan
5. Memiliki perasaan bernama besar, yaitu, harapan yang tidak beralasan akan perlakuan
spesial khususnya perlakuan yang menyenangkan atau kepatuhan otomatis sesuai
harapannya
6. Eksploitatif secara interpersonal, yaitu, mengambil keuntungan dari orang lain untuk
mencapai tujuannya sendiri
7. Tidak memiliki empati : tidak mau tahu atau mengenal perasaan dan kebutuhan orang
lain
8. Sering iri pada orang lain atau yakin bahwa orang lain iri padanya
9. Menunjukkan perilaku atau sikap angkuh dan tinggi hati

KEPRIBADIAN MENGHINDAR
1. Menghindari aktivitas pekerjaan yang melibatkan kontak interpersonal yang
bermakna, karena takut terhadap kritik, celaan, atau penolakan
2. Enggan terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin akan disukai
3. Menunjukkan keterbatasan dalam hubungan intim karena takut dipermalukan atau
diejek
4. Preokupasi dengan sedang dikritik atau ditolak dalam situasi sosial
5. Segan dalam situasi interpersonal yang baru karena perasaan tidak adekuat
6. Memandang diri sendiri sebagai tidak layak secara sosial, pribadi yang tidak menarik,
atau lebih rendah dari orang lain
7. Tidak lazim enggan untuk mengambil risiko pribadi atau melakukan aktivitas baru
karena dapat membuktikan hal yang memalukan

KEPRIBADIAN DEPENDEN
1. Mempunyai kesulitan membuat keputusan setiap hari tanpa mendapat nasihat yang
berlebihan dan diyakinkan oleh orang lain
2. Membutuhkan orang lain untuk mengambil tanggung jawab sebagian besar bagian
penting kehidupannya
3. Mengalami kesulitan mengekspresikan ketidaksetujuan pada orang lain karena takut
kehilangan dukungan
4. Mengalami kesulitan dalam memulai proyek atau melakukan sesuatu terhadap dirinya
sendiri (karena tidak memiliki kepercayaan diri dalam pertimbangan atau kemampuan
dibanding tidak memiliki motivasi atau energi)
5. Usaha berlebihan untuk memperoleh pengasuhan dan dukungan dari orang lain,
sampai pada titik dimana secara sukarela melakukan hal yang tidak menyenangkan
6. Merasakan tidak nyaman atau tidak berdaya bila seorang diri karena ketakutan yang
berlebihan akan ketidakmampuan untuk mengurus dirinya sendiri
7. Dengan segera mencari hubungan dengan orang lain sebagai sumber pengasuhan dan
dukungan bilamana hubungan dekatnya berakhir
8. Preokupasi yang tidak realistik dengan ketakutan akan ditinggalkan agar mengurus
dirinya sendiri

KEPRIBADIAN OBSESIF-KOMPULSIF
1. Terpreokupasi dengan perincian, aturan, daftar, urutan, susunan, atau jadwal, hingga
tingkat dimana aktivitas utama hilang
2. Mempelihatkan perfeksionisme yang mengganggu penyelesaian tugas (misalnya,
tidak mampu menyelesaikan suatu proyek karena terlalu kaku memenuhi standarnya
sendiri yang tidak pantas
3. Secara berlebihan tekun kepada pekerjaan dan produktivitas hingga mengabaikan
aktivitas waktu luang dan persahabatan (tidak disebabkan oleh kebutuhan ekonomi
yang nyata).
4. Terlalu berhati-hati, teliti, tidak fleksibel tentang masalah moralitas, etika, atau nilai-
nilai (tidak disebabkan oleh identifikasi kultural atau agama)
5. Tidak mampu membuang barang-barang usang atau tidak berharga meskipun tidak
mepunyai nilai sentimentil
6. Enggan untuk mendelegasikan tugas atau untuk bekerja dengan orang lain kecuali
mereka menerima mengerjakan sesuatu dengan cara yang persis sama seperti caranya
7. Memiliki gaya berbelanja yang pelit baik untuk dirinya maupun orang lain; uang
dipandang sebagai sesuatu yang harus ditimbun untuk bencana dimasa depan.
8. Menunjukkan kekakuan dan sikap keras kepala.

KEPRIBADIAN GANDA (Dissociative Identity Disorder)


Dalam bidang psikiatri dikenal pula jenis gangguan yang disebut dengan
gangguan identitas disosiatif atau gangguan kepribadian Ganda (Dissociative Identity
Disorder). Jenis kepribadian ganda ini adalah suatu gangguan, bukan merupakan ciri
kepribadian yang dapat dimiliki oleh setiap orang, seperti tertulis di atas. Seseorang yang
mengalami gangguan kepribadian ganda ini, bisa mempunyai kepribadian lebih dari satu
yang berbeda satu sama lainnya.
Gambaran klinis yang utama pada pasien ini adalah adanya dua atau lebih
kepribadian yang berbeda yang dapat mengubah kontrol perilaku seseorang. Selain itu
juga terdapat amnesia atau hilangnya memori tentang kejadian tertentu, dan kondisi ini
tidak dapat dijelaskan oleh kelupaan biasa atau adanya gangguan fungsi memori yang
didasari gangguan organik.
Ciri-ciri gangguan ini antara lain :
1. Adanya dua atau lebih identitas atau kepribadian yang berbeda
2. Setidaknya dua dari identitas atau kepribadian tersebut secara berulang
mengendalikan perilaku orang tersebut.
3. Ketidakmampuan untuk mengingat informasi pribadi yang tidak dapat dijelaskan
dengan bentuk kelupaan yang biasa
4. Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung suatu zat psikoaktif atau suatu
kondisi medis umum (misalnya, kejang kompleks parsial pada epilepsi).
Etiologi
Gangguan ini sangat erat dikaitkan dengan adanya riwayat trauma di masa lalu,
seperti riwayat perkosaan, peperangan, bencana alam, ataupun kekerasan pada anak. Pada
beberapa kasus, beratnya gejala terkait pula dengan beratnya trauma (misalnya usia
pertama kali mengalami trauma, jumlah pelaku kekerasan pada anak atau lama dan
intensitas peperangan. Pada seluruh penelitian yang dilakukan di barat maupun non-barat,
gangguan kekribadian ganda ini sangat terakit dengan pengalaman trauma di masa kecil,
yang biasanya merupakan trauma kekerasan. Sekitar 85-97% kasus memiliki riwayat
kekerasan fisik ataupun seksual di masa kecilnya.
Setelah seorang anak mengalami pengalaman traumatik, maka hubungan
kedekatan dengan orang tua atau pengasuh utamanya juga menjadi terganggu dan ini juga
mempengaruhi terbentuknya kepribadian ganda.
Perjalanan gangguan dan prognosis
Pada anak yang mengalami gangguan keribadian ganda, gejala dan perilaku anak
menunjukkan perilaku yang berbeda-beda namun umumnya sifat gangguan masih ringan
dan kepribadian yang berubah-ubah ini masih kurang terkristalisasi sehingga belum
tertanam sebagai kepribadian mereka. Jika didiagnosis segera, prognosisnya amat baik
dan dapat mengalami penyembuhan dengan sempurna ketika dipindahkan dari
lingkungan yang traumatik bagi pasien.
Pada remaja gejala-gejala kepribadian yang berubah tampak lebih jelas berbeda
antara satu kepribadian dengan kepribadian yang lain dan sifatnya lebih tertanam sebagai
kepribadian mereka. Prognosis gangguan ini jika timbul pada remaja lebih buruk
dibanding pada anak atau dewasa. Pada pasien dewasa terdapat variasi dalam gejala dan
prognosisnya. Terdapat kelompok yang responsif terhadap terapi dan yang tidak
responsif terhadap terapi. Prognosis menjadi lebih buruk jika pasien juga memiliki
gangguan kognitif yang menyertai, gangguan psikotik serta gangguan medis yang berat.
Selain itu pengguna narkoba, pasien yang memperlihatkan gejala gangguan makan,
pasien dengan gejala kepribadian antisosial, pasien dengan riwayat trauma yang berulang
atau masih berlangsung juga memiliki prognosis yang lebih buruk.
Teori Biologi yang Melandasi Kepribadian
Faktor Genetik
Dalam suatu penelitian di Amerika Serikat dengan menggunakan 15.000 pasang
anak kembar, diperoleh data bahwa pada kembar monozigot kemungkinan adanya
kesamaan gangguan kepribadian adalah lebih besar dari kembar dizigotik. Kesamaan
tersebut tampak pada beberapa gambaran kepribadian dan temperamen, pekerjaan, minat
dalam melakukan aktivitas di waktu senggang serta perilaku sosial mereka.
Kelompok gangguan kepribadian klaster A, yaitu paranoid, skizoid, skizotipal
memiliki hubungan biologis dengan pasien skizofrenia. Di antara ketiga tipe kepribadian
tersebut. Tipe skizotipal lebih banyak berhubungan dengan gangguan skizofrenia.
Gangguan kepribadian klaster B, yaitu antisosial, ambang, histrionik dan
narsisistik juga memiliki keterkaitan gen dengan beberapa gangguan tertentu. Depresi
lebih banyak muncul pada pasien yang mengalami gangguan kepribadian ambang. Pasien
dengan gangguan somatisasi memiliki hubungan dengan kepribadian histrionik,
sementara gangguan kepribadian antisosial terkait dengan penggunaan alkohol.
Demikian pula halnya dengan ganguan kepribadian tipe C yang terdiri dari
gangguan kepribadian cemas menghindar, dependen, anankastik. Keterkaitan genetik
tampak pada pasien gangguan kepribadian cemas menghindar dengan tingginya tingkat
kecemasan pada mereka. Gangguan kepribadian anankastik(obsesif kompulsif) banyak
muncul bersamaan pada kembar monozigot dan juga banyak terkait dengan depresi.
Faktor Biologis
Hormon
Pasien dengan kecenderungan impulsif menunjukkan adanya level hormon
testosteron, 17-estradiol dan estrone yang tinggi. Pada kelompok primata yang bukan
manusia, androgen tampak meningkatkan agresi dan perilaku seksual, namun demikian
peran testosteron pada perilaku agresi seseorang masih belum jelas.
Neurotransmiter
Neurotransmiter merupakan zat-zat kimia yang ada di otak, yang berperan pada
aktivitas normal otak. Salah satu jenisnya adalah endorphin, mempunyai efek seperti
morfin eksogen yang menghilangkan rasa sakit dan menimbulkan ketenangan. Endorphin
yang tinggi tampak pada pasien dengan watak phlegmatik. Selain itu jenis
neurotransmiter lain seperti serotonin juga berperan pada timbulnya gejala-gejala depresi
dan pasien dengan sifat yang impulsif serta agresif.
Fungsi Otak Lokal
Telah banyak ditemukan bahwa lokasi tertentu di otak mempunyai fungsi yang
spesifik. Misalnya sistem limbik, terutama daerah amygdala mempunyai peran penting
dalam mengatur emosi dan motivasi. Bagian ini penting untuk mengatur stimulus
emosional terutama emosi yang negatif seperti takut atau menghindar.
Seorang dokter asal Jerman bernama Franz Joseph Gall mengemukakan adanya
lokasi tertentu di otak yang bertenggung jawab terhadap aspek emosi tertentu dan fungsi
perilaku.
Upaya-upaya penelitian di bidang biologi untuk mengungkapkan kaitan biologis
dari kepribadian seseorang sampai saat ini masih terus dikembangkan untuk mendapatkan
bukti-bukti yang lebih akurat.

Gambar lokasi di otak:


Daftar Pustaka
1. Diagnostic Criteria from DSM IV-TR. American psychiatry Association. 2000.
2. Sadock BJ, Sadock VA. Comprehensive Textbook of Psychiatry. 8th ed.
Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2005.
3. Baron R, Wagele E. Eneagram. Gramedia
4. Pervin LA, Cervone D, John OP. Personality theory and research. 9th ed. New
Jersey: John Wiley and Sons, Inc. 2005