Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejarah pertumbuhan penduduk dunia dan Indonesia nampaknya sukar untuk
diketahui secara tepat kapan munculnya makhluk yang disebut homo sapiens (manusia)
di dunia ini. Para Ahli memperkirakan pada sekitar 35.000 tahun yang lalu. Waktunya
mungkin tidak dipermasalahkan akan tetapi yang jelas angka pertambahan
pendudukanya sangat lambat. Pada tahun 1 sesudah masehi, penduduk dunia
diperkirakan berjumlah 250 juta. Jadi membutuhkan waktu 35.000 tahun untuk mencapai
jumlah penduduk 250 juta orang.
Pada tahun 1650, penduduk dunia diperkirakan berjumlah 500 juta. jadi diperlukan
waktu sekitar 1650 tahun menjadikan penduduk dunia dua kali lipat. Pada tahun 1850
penduduk dunia menjadi 1 milyar (1.000.000.000) jumlahnya. Dan masih diperlukan
waktu sekitar 200 tahun untuk menjadikan penduduk dua kali lipat dari jumlah
sebelumnya. Pada tahun 1930 penduduk dunia diperkirakan mencapai 2 milyar. Dengan
demikian hanya diperlukan waktu kurang dari 100 tahun untuk menjadi penduduk dunia
dua kali lipat sebelumnya. Pada Tahun 1976 penduduk dunia telah mencapai sekitar 4
milyar. Jadi hanya diperlukan sekitar 36 tahun saja untuk melipat gandakan penduduk
dunia dari jumlah sebelumnya Pada tahun 1985 penduduk dunia sudah mencapai 4,845
milyar jiwa. Dalam tempo hanya 9 tahun saja pertambahan penduduknya mencapai 845
juta. Istilah population explotion menggambarkan betapa hebatnya angka pertumbuhan
penduduk dunia dewasa ini sehingga sebuah ledakan bom yang dahsyat.
Teori tentang pertumbuhan penduduk meskipun masalah kependudukan telah lama
diperbincangkan di kalangan masyarakat, namun baru di sekitar abad ke 18 banyak di
antaranya yang mulai menganalisis masalah kependudukan secara sistematis. Meskipun
banyak para ahli yang menulis tentang masalah kependudukan di dunia, akan tetapi di
antara tokoh-tokoh yang dianggap pakar ilmu kependudukan klasik adalah Thomas
Malthus dan Karl Marx.
Populasi tinggi yang tidak dibarengi dengan lahan pangan dan energi yang cukup akan
mengakibatkan ketidakseimbangan antara supply dan demand yang bisa menyebabkan
harga menjadi mahal sehingga seperti yang sedang terjadi sekarang, inflasi semakin
tinggi, harga bahan makanan semakin tinggi sehingga kemiskinan pun semakin banyak.
Semakin menurunnya konsumsi masyarakat akan menyebabkan perusahaan merugi dan
mem-PHK karyawannya sebagai langkah efisiensi, sehingga semakin banyak lagi
kemiskinan.
Jadi, kita mudah saja bilang :
Kapan negara kita bisa swasembada?
Apa bisa kalau masih mau punya banyak anak?

Bagaimana dengan masa depan anak cucu kita kalau lahan sudah tidak tersedia, tanah
rusak akibat bahan kimia, air tanah tercemar dan bahkan habis sehingga tidak bisa
disedot lagi?
Bagaimana kita mau menghemat makanan dan air kalau populasi terus berkembang
secara drastis?
Populasi manusia seperti hal yang besar dan politis yang dibicarakan banyak orang.
Tetapi hal ini juga merupakan hal yang dapat dilakukan oleh setiap orang. Seperti yang
telah kita lakukan dahulu dan berhasil, kita bisa Ikut program Keluarga Berencana (KB)
atau paling tidak memiliki rencana KB sebagai komposisi keluarga yang ideal.
Dibanding disiplin ilmu lainnya Demografi masih terbilang baru, namun kenyataannya
Demografi dapat dijadikan indikator kemajuan pembangunan. Sebagai contoh, tren
penurunan angka kelahiran menunjukkan kemampuan pemerintah dan mitranya dalam
hal program pelaksanaan pengendalian penduduk yang berdampak pada peningkatan
kualitas penduduk untuk jangka panjang, sementara itu tren penurunan angka kematian
bayi yang berujung pada peningkatan usia harapan hidup menunjukkan upaya
peningkatan kualitas kesehatan penduduk. Selain itu, indikator ataupun ukuran yang
dikembangkan dalam ilmu Demografi juga bermanfaat untuk mengestimasi besarnya
jumlah dan komposisi umur penduduk berguna untuk melihat kebutuhan pembangunan di
masa yang akan datang.
B. Deskripsi Singkat
Mata Diklat ini membahas Mata Diklat ini membahas Sejarah dan Pengertian Demografi,
Perbedaan Demografi dan Studi Kependudukan, Komponen-komponen Demografi,
Komposisi Penduduk, serta Kepadatan Penduduk.
C. Manfaat Modul Bagi Peserta
Manfaat modul ini bagi peserta adalah sebagai bahan ajar pengantar Demografi untuk
menambah wawasan dan pemahaman tentang ilmu Demografi. Khususnya sebagai
pegawai BKKBN dapat lebih peka terhadap istilah-istilah dan konsep kependudukan
untuk menjalankan program Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.
D. Tujuan Pembelajaran
1. Kompetensi Dasar
Peserta mampu menguraikan kaidah-kaidah Demografi dengan baik dan benar
2. Indikator Keberhasilan
Peserta dapat:
a. Menyebutkan pengertian Demografi secara tepat
b. Membedakan Demografi dan studi kependudukan dengan benar
c. Menguraikan komponen-komponen Demografi dengan benar
d. Menginterpretasi komposisi penduduk dengan tepat
e. Mendeskripsikan kepadatan penduduk dengan tepat

E. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok


1. Definisi Demografi
a. Sejarah Demografi
b. Pengertian Demografi
2. Perbedaan Demografi dan Studi Kependudukan
a. Perbedaan Demografi dan Studi Kependudukan
b. Tujuan dan Kegunaan Demografi
c. Analisis Demografi
d. Ukuran-ukuran Demografi
3. Komponen-komponen Demografi
a. Fertilitas
b. Mortalitas
c. Migrasi
4. Komposisi penduduk
a. Pengertian Komposisi Penduduk
b. Piramida Penduduk
5. Kepadatan penduduk
a. Pertumbuhan penduduk
b. Persebaran penduduk
F. Petunjuk Belajar
1. Bacalah materi yang diberikan oleh widyaiswara ini dengan seksama, tanyakan
apabila ada istilah-istilah yang kurang dimengerti.
2. Diskusikan dengan teman-temanmu bila ada masalah kependudukan yang sedang
hangat dibicarakan.
3. Kerjakan soal-soal latihan yang diberikan untuk mengukur kemampuan anda.
4. Untuk memperkaya pengetahuan carilah informasi dari sumber-sumber lain yang
relevan.

BAB II
SEJARAH DAN PENGERTIAN DEMOGRAFI

Indikator keberhasilan:
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta dapat

A. Sejarah Demografi
Dalam catatan sejarah, hal-hal yang dilakukan untuk pencatatan statistik kependudukan
sudah dikerjakan sejak berabad-abad yang lalu, meskipun masih dilakukan dalam ruang
lingkup yang kecil dan digunakan secara terbatas. John Graunt (1620-1674), seorang
warga negara Inggris, dikenal sebagai pelopor dalam bidang pencatatan statistik
penduduk. Bukunya yang berjudul Natural and Political Observations Mentioned in a
Following Index and Made Upon the Bills of Mortality (Graunt, 1662 dalam Iskandar,
1994) sebagian besar berisi analisis mortalitas dan selebihnya mengenai fertilitas,
migrasi, perumahan, data keluarga, perbedaan antara kota dan negara, dan jumlah
penduduk laki-laki yang berada pada kelompok umur militer. Data yang digunakan
dalam analisis kematian dan kelahiran tersebut bersumber dari catatan kematian (The
Bills of Mortality) yang diterbitkan secara berkala oleh petugas gereja setiap minggu.
Dari hasil penelitiannya itu, Graunt mencetuskan "hukum-hukum" pertumbuhan
penduduk.
Graunt menyarankan agar penelitian yang menyangkut penduduk lebih menekankan
aspek komposisi penduduk menurut jenis kelamin, negara, umur, agama, dan
sebagainya. Keistimewaan dari pendekatan yang dipergunakan oleh Graunt adalah
kehati-hatiannya dan kekritisannya dalam pengumpulan data. Apabila informasi yang
ada dirasakan terlalu sedikit, maka Graunt mengambil sampel untuk melakukan
estimasi. Ia melakukan penelitian empiris terhadap jumlah dan perkembangan
penduduk London pada masa itu.
Dari usaha Graunt dalam bidang kependudukan yang mencakup topik-topik yang
menarik, dapat dikatakan bahwa ilmu demografi lahir pada zamannya. Oleh karena itu,
Graunt dikenal pula sebagai Bapak Demografi. Dalam studinya, Graunt memperoleh
banyak dorongan dari William Petty, seorang ahli statistik. Karya Petty, Political
Arithmetic (1690), berpengaruh besar terhadap perkembangan demografi. William Petty
(1623-1687) yang hidup sezaman dengan Graunt menganjurkan berdirinya Central
Statistical Office (Biro Pusat Statistik). Selain itu, usaha memanfaatkan data statistik
penduduk dilakukan pula oleh Edmund Halley (1656-1742), seorang astronom, dengan
menyusun tabel kematian (life table) modern yang pertama di kota Breslau pada tahun
1687-1691.
Setelah era Graunt, perhatian publik terhadap masalah kependudukan, baik mengenai
pencatatan statistik maupun pertumbuhannya terus meningkat. Dalam sejarah
4

perkembangan ilmu demografi, timbul masalah mengenai pembagian cabang ilmu ini.
Awalnya, para pengamat berpendapat bahwa demografi lebih terfokus pada
penyusunan statistik penduduk dan analisisnya. Pendapat ini memang dapat dimengerti
karena pelopor-pelopor ilmu demografi, seperti Sussmilch dan Guillard menganggap
demografi sebagai bio-social book-keeping, yang artinya kelahiran sebagai faktor
penambah jumlah penduduk, sedangkan kematian sebagai faktor pengurang jumlah
penduduk. Kemudian, beberapa pengamat membedakan masalah penduduk menjadi
dua, yaitu yang bersifat kuantitatif yang membahas tentang jumlah, persebaran, serta
komposisi penduduk, dan yang bersifat kualitatif yang membahas masalah penduduk
dari segi genetis dan biologis. Gagasan ini kurang mendapat dukungan karena ternyata
keduanya mengandung unsur kualitatif dan kuantitatif.
B. Pengertian Demografi
Demografi berasal dari kata Yunani demos penduduk dan Grafien tulisan atau dapat
diartikan tulisan tentang kependudukan atau Demografi dapat diartikan tulisan atau
karangan mengenai rakyat atau penduduk.
Ilmu yang mempelajari tentang masalah kependudukan adalah Demografi, istilah
Demografi pertama sekali ditemukan oleh Achille Guillard.
John Graunt adalah seorang pedagang di London yang menganalisis data kalahiran
dan kematian, migrasi dan perkawinan yang berkaitan dalam proses pertumbuhan
penduduk. Sehinnga John Graunt dianggap sebagai bapak Demografi.
Beberapa definisi Demografi;
Kajian kependudukan secara statistika dan matematika menyangkut perubahan
penduduk, besar/jumlah, komposisi dan distribusi penduduk melalui 5 komponen
demografi yakni fertillitas, mortalitas, perkawinan, migrasi dan mobilitas sosial (Bogue,
1976).
Barcley (1981) lebih menekankan pada kajian tentang perilaku penduduk secara
keseluruhan bukan pada perorangan dengan fokus kajian pada statistika dan
matematika (Pure Demografi).
Houser and Duncan, lebih menitikberatkan pada dampak yang ditimbulkan oleh
perubahan-perubahan penduduk (akses dari persebaran dan komposisi).
Dari beberapa definisi di atas dapt disimpulkan bahwa Demografi adalah ilmu yang
mempelajari secara statistik tentang kependudukan meliputi; fertillitas, mortalitas,
perkawinan, migrasi, mobilitas sosial dan perubahan dampak lingkungan dan sosial.
C. Teori-teori kependudukan
Teori-teori tentang hubungan antara manusia atau penduduk dengan masalah-masalah
lain telah banyak dibahas oleh beberapa ahli, seperti oleh ahli ekonomi, agama, sosial,
politik, dan pertahanan. Sekitar 500 tahun sebelum Masehi (SM), Konfusius, seorang
filsuf Cina, membahas hubungan antara jumlah penduduk dan tingkat kesejahteraan

masyarakat. Menurutnya, jumlah penduduk yang terlampau besar akan menekan


standar hidup masyarakat, terutama kalau jumlah penduduk dikaitkan dengan luas tanah
atau lahan pertanian yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Konfusius
menganggap ada suatu proporsi yang ideal antara luas tanah dan jumlah penduduk.
Sebagai pemecahan masalah kelebihan penduduk, ia menganjurkan agar pemerintah
memindahkan penduduk ke daerah yang masih kekurangan penduduk.
Pemikir lainnya, Plato dan Aristoteles, dua orang pemikir Yunani yang hidup ditahun 300
SM, menganjurkan jumlah penduduk yang tepat dan ideal untuk sebuah kota. Apabila
sebuah kota tidak dapat menampung jumlah penduduk yang ada, maka diperlukan
pembatasan kelahiran. Sebaliknya, jika terjadi kekurangan penduduk, maka diperlukan
insentif (pendorong) untuk menambah kelahiran.
Pada tahun 1762, Sussmilch (dalam Iskandar 1994) telah membicarakan masalah
penduduk berdasarkan "hukum Tuhan." Artinya, kelahiran dan kematian merupakan
kehendak Tuhan. Akan tetapi, pemikiran seperti itu berubah setelah abad ke-18, yang
dikenal di Eropa sebagai zaman penalaran (the age of reasons), yakni zaman di mana
suatu masalah dipertanyakan "mengapa" dan "bagaimana pemecahannya." Pada abad
itu, kemiskinan terjadi di mana-mana, yang mengakibatkan munculnya masalah-masalah
sosial dan ekonomi. Para ahli dan ilmuwan berusaha membuat atau mengembangkan
studi mengenai bagaimana mengatasi masalah kemiskinan yang dialami oleh penduduk.
Banyak orang yang optimis dan percaya bahwa kemampuan atau potensi manusia yang
terus berkembang akan dapat memecahkan segala masalah yang timbul. Akan tetapi,
ada juga kalangan masyarakat yang pesimis.
Golongan terakhir ini dicerminkan oleh pendapat Thomas Malthus, yang hidup antara
tahun 1766 sampai 1834. Salah satu argumentasinya yang paling penting, adalah
bahwa dorongan alamiah manusia untuk berkembang biak selalu dan akan selalu ada,
dan dengan kecepatan yang mengikuti deret ukur sehingga jumlah manusia akan
menjadi dua kali lipat dalam waktu yang cukup pendek (sekitar 25 tahun). Kecepatan
berkembang biak manusia ini jauh lebih cepat dibandingkan kecepatan kenaikan bahan
makanan yang dapat diproduksi dari tanah yang tersedia (yang berkembang mengikuti
deret hitung) dan pada gilirannya akan mengakibatkan kesengsaraan dan kelaparan.
Pertumbuhan penduduk yang cepat dengan sumber-sumber yang terbatas akan
menyebabkan berlakunya hukum hasil yang menurun (the law of diminishing return) di
sektor pertanian dan akhirnya terjadi keadaan stagnan.
Menurut Malthus, ada beberapa hal yang bisa menjadi penghambat laju pertumbuhan
penduduk. Ia membedakan antara kejadian yang berada di luar kekuasaan manusia
(positive checks) dan hal yang bisa diusahakan oleh manusia sendiri (preventive
checks).
1. Positive checks: bencana alam, kelaparan, penyakit menular, perang, dan
pembunuhan.
2. Preventive checks: menunda perkawinan dan selibat permanen.
Malthus tidak menduga bahwa masalah pertumbuhan penduduk dan kesejahteraannya
dapat dipecahkan oleh revolusi industri. Tulisan Malthus yang pertama; (1799)
merupakan contoh suatu pendapat yang bersifat sangat umum tanpa didukung oleh data

statistik, namun pada buku edisi selanjutnya, untuk mendukung argumentasinya ia


melengkapi dengan data statistik.
Dengan munculnya tulisan Malthus, Essay on the Principle of Population pada akhir
abad ke-18, masalah penduduk mempunyai angin baru dalam literatur-literatur ekonomi,
Banyak ahli ekonomi pembangunan mendasari teori-teorinya pada variabel-variabel
penduduk, seperti menyatukan teori-teori ekonomi dengan penentuan pemilihan
besarnya fertilitas. Teori ekonomi fertilitas yang termasuk dalam teori neoklasik berbeda
dengan model Malthus. Teori ini didasari oleh teori baru ekonomi rumah tangga ('
home economics) yang berpendapat bahwa seseorang dalam menentukan fertilitas akan
melalui proses yang sama dengan apabila ia memutuskan suatu pilihan untuk
mendapatkan barang dan jasa bagi keperluan rumah tangganya. Pilihan fertilitas
dibatasi oleh informasi dan sumber-sumber yang ada, namun keputusan mereka dalam
memilih jumlah anak tetap rasional, dalam arti harus dapat memaksimumkan
kesejahteraan mereka.
Teori Karl Marx menentang expansi kaum kapitalis ia berpendapat populasi manusia
tidak menekan makanan, tapi mempengaruhi kesempatan kerja. Kemelaratan bukan
terjadi karena cepatnya pertumbuhan penduduk, tapi karena kaum kapitalis mengambil
sebagian hak para buruh buruh. Semakin tinggi tingkat populasimanusia, semakin tinggi
produktifitasnya jika teknologi tidak menggantikan tenaga manusia. Sehingga manusia
tidak perlu menekan jumlah kelahirannya, ini berarti ia menolak teori Malthus tentang
moral restraint untuk menekanangka kelahiran. Teori ini dibenarkan oleh negaranegara sosialis seperti RRC, Korea Utara dan Vietnam.
Ahli ekonomi lainnya yang mengaitkan masalah penduduk dengan ekonomi adalah
Leibenstein (1954). Di dalam bukunya A Theory of Economic-Demographic
Development', ia mengemukakan konsep the low-level equilibrium trap yang
menjelaskan perubahan demografi di negara-negara sedang berkembang. Suatu
kenaikan sedikit dalam pendapatan akan meningkatkan jumlah penduduk dan
persediaan tenaga kerja, yang pada gilirannya akan menghapuskan pertumbuhan
modal, produktivitas, dan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi lainnya.
Para ahli demografi pada mulanya memproyeksikan bahwa pada abad ke-21, jumlah
penduduk sudah sedemikian besarnya sehingga tidak ada lagi ruang untuk bergerak.
Mereka tidak memperkirakan adanya pembangunan ekonomi modern. Asumsi-asumsi
para penulis yang pesimis tersebut adalah bahwa penduduk tidak bisa memilih secara
rasional tentang fertilitas dan besarnya keluarga. Mereka mengasumsikan penduduk
seperti lalat yang dikembangkan dalam suatu tabung. Lalat akan berkembang terus
sedemikian rupa sehingga pada saat tertentu tabung tidak bisa menampung lagi.
Akhirnya, lalat saling bunuh atau mati dengan sendirinya. Demikian pula yang terjadi
dengan manusia. Apabila dunia tidak dapat menampung lagi jumlah manusia yang terus
berkembang, maka peperangan dapat terjadi serta angka pembunuhan dan malapetakamalapetaka lainnya dapat meningkat sehingga dengan sendirinya akan mengurangi
jumlah penduduk.

Sejarah demografi menunjukkan bahwa manusia telah melakukan pilihan yang rasional
terhadap jumlah dan besarnya keluarga sejalan dengan semakin majunya
pembangunan ekonomi. Sebagai contoh, Indonesia telah dapat mencapai pertumbuhan
penduduknya sebesar 1,34% pada periode 1990-2000. Hal ini menunjukkan adanya
penurunan laju pertumbuhan penduduk dari 2,32% pada periode 1971-1980 menjadi
1,97% pada periode 1980-1990.
D. Rangkuman
Jhon Graunt dijuluki sebagai bapak Demografi karena jasa-jasanya dalam melakukan
penelitian dan pengumpulan data-data kependudukan. Data-data kependudukan dalam
bentuk statistik berupa data fertilitas, perumahan dan migrasi.
Demografi adalah ilmu yang mempelajari secara statistik dan matematik mengenai
fertiltas, mortalitas, migrasi, perkawinan dan mobilitas sosial. Teori yang paling
berpengaruh dalam melandasi ilmu kependudukan adalah teori Robert Malthus yang
menurutnya pertumbuhan manusia mengikuti deret hitung, sedangkan pertumbuhan
bahan pangan menurut deret ukur.
E. Latihan
1.
2.
3.
4.
5.

Jelaskan sejarah timbulnya istilah Demografi?


Siapa tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam perumusan Demografi?
Apa hubungannya teori kependudukan dengan istilah-istilah demografi?
Apa pengaruh teori Robert Malthus terhadap bidang kependudukan?
Apa rumusan teori Robert Malthus yang terkenal?

BAB III
PERBEDAAN DEMOGRAFI DAN STUDI KEPENDUDUKAN
Indikator keberhasilan:
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta dapat membedakan demografi dan studi
kependudukan dengan benar

A. Perbedaan Demografi dan Studi Kependudukan


Demografi yang bersifat kuantitatif (kadang-kadang disebut Formal Demography
Demography Formal) lebih banyak menggunakan hitungan-hitungan statistik dan
matematik. Tetapi Demografi yang bersifat kualitatif lebih banyak menerangkan aspekaspek kependudukan secara deskriptif analitik. Sedangkan studi-studi kependudukan
mempelajari secara sistematis perkembangan, fenomena dan masalah-masalah
penduduk dalam kaitannya dengan situasi sosial di sekitarnya.
Ilmu kependudukan yang perlu mendapat perhatian kita sekarang adalah lebih
menyerupai studi antar disiplin ilmu yang dipadu dengan analisis demografi yang lazim
diberi istilah Demografi Sosial. Disiplin lain banyak berhubungan dengan demografi
antara lain matematika, geografi, sosilogi, ekonomi, kedokteran.
Dalam ilmu kependudukan juga dikenal istilah study kependudukan, yaitu : studi
kependudukan mempelajari secara sistematis perkembangan, fenomena dan masalahmasalah penduduk dalam kaitannya dengan situasi sosial di sekitarnya.
Tabel 1
Analisis Demografi Formal dan Study Kependudukan
Berdasarkan Jenis Variabel Pengaruh dan Variabel Terpengaruh
(Kemmeyer, Kenneth, 1971)
Tipe Studi
Demografi Formal

Indevendent Variabel (IV)


Variabel Demografi
-KomposisiUmur
-TingkatKelahiran

Dependent Variabel (DV)


Variabel Demografi
-TingkatKelahiran
-KomposisiUmur

Studi Kependudukan
(Tipe I)

Variabel non Demografi


-Faktor sosiologis,
mis: kelas ekonomi
-FaktorEkonomi,
mis:kesempatan ekonomi
Variabel Demografi
-TingkatKelahiran
-MigrasiMasuk
-TingkatKematian

Variabel Demografi
-Migrasi keluar

Studi Kependudukan
(Tipe 2)

Variabel Non Demografi


-KebutuhanPangan
-Kemiskinan
-Pertumbuhan
Ekonomi

B. Tujuan dan Kegunaan Ilmu Demografi


Dalam mempelajari Demografi tiga komponen terpenting yang perlu selalu kita
perhatikan, cacah kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas) dan migrasi. Sedangkan
dua faktor penunjang lainnya yang penting ialah mobilitas sosial dan tingkat
perkawinan. Ketiga komponen pokok dan dua faktor penunjang kemudian digunakan
sebagai variabel (perubah) yang dapat menerangkan hal ihwal tentang jumlah dan
distribusi penduduk pada tempat tertentu, tentang pertumbuhan masa lampau dan
persebarannya. Tentang hubungan antara perkembangan penduduk dengan berbagai
variabel (perubah) sosial, dan tentang prediksi pertumbuhan penduduk di masa
mendatang dan berbagai kemungkinan akibat-akibatnya. Berbagai macam informasi
tentang kependudukan sangat berguna bagi berbagai pihak di dalam masyarakat. Bagi
pemerintah informasi tentang kependudukan sangat membantu di dalam menyusun
perencanaan baik untuk pendidikan, perpajakan, kesejahteraan, pertanian, pembuatan
jalan-jalan atau bidang-bidang lainnya. Bagi sektor swasta informasi tentang
kependudukan juga tidak kalah pentingnya. Para pengusaha industri dapat
menggunakan informasi tentang kependudukan untuk perencanaan produksi dan
pemasaran.
C. Analisis Demografi
Analisis penduduk dari rahim ke liang kubur (from the womb to the tomb) karena
meliputi analisis penduduk pada seluruh siklus kehidupan manusia sejak dari
kandungan sampai meninggal.
Manfaat analisis demografi
1. Mempelajari kuantitas dan distribusi penduduk dalam suatu daerah tertentu
2. Menjelaskan pertumbuhan penduduk pada masa lampau, kecenderungannya, dan
persebarannya dengan sebaik-baiknya dan dengan data yang tersedia.
3. Mengembangkan hubungan sebab akibat antara perkembangan penduduk dengan
bermacam-macam aspek organisasi sosial, ekonomi, budaya, lingkungan dan lainlain.
4. Memperkirakan pertumbuhan penduduk (proyeksi penduduk) pada masa yang akan
datang dan kemungkinan-kemungkinan konsekuensinya.
D. Ukuran-ukuran Demografi
1. Bilangan absolut
Jumlah mutlak penduduk/kejadian lain
Contoh: jumlah penduduk: 250 juta
2. Prevalensi
Jumlah kejadian pada sekelompok penduduk pada waktu tertentu terhadap jumlah
penduduk yang berisiko terhadap kejadian tersebut.
Contoh: PA/PUS

10

3. Proporsi
Persentase perbandingan antara suatu kelompok penduduk tertentu dengan
jumlah keseluruhan
Angka yang menunjukkan hubungan sub populasi dengan keseluruhan populasi
yang sama
Contoh: Jumlah penduduk miskin dibanding total penduduk
4. Rate/Angka
Ukuran yang menunjukkan terjadinya suatu kejadian demografis (kelahiran,
kematian, migrasi) selama periode tertentu.
merupakan hasil pembagian antara jumlah kejadian yang terjadi selama periode
tertentu dengan jumlah penduduk yang mempunyai risiko mengalami kejadian
tersebut pada periode yang sama.
Pembilang merupakan bagian dari penyebut
Penyebut disebut juga sebagai person-years lived exposed to risk. Jumlah
orang yang mempunyai risiko mengalami suatu kejadian demografi (kematian,
melahirkan, dan migrasi). Karena sulit untuk mendapat data yang akurat, tahun
orang hidup diperkirakan dengan menggunakan asumsi bahwa jumlah kelahiran/
kematian/pindah adalah sama sebelum dan sesudah pertengahan dari suatu
periode, atau sama dengan jumlah penduduk tengah periode, yaitu rata-rata dari
penduduk awal tahun dan akhir tahun disebut juga mid-year population
5. Ratio/Rasio
Ukuran yang merupakan hasil perbandingan antara dua angka yang berbeda
Pembilang bukan bagian dari penyebut (tidak ada kaitan)
Contoh:
Rasio jenis kelamin = jumlah penduduk laki-laki
jumlah penduduk perempuan
E. Rangkuman
Perbedaan Demografi dan studi kependudukan terletak pada aspek yang dikaji. Kalau
Demografi menekankan pada aspek matematis dan statistik mengenai kependudukan
sedangkan studi kependudukan lebih kepada dampak-dampak yang terjadi akibat
komponen-komponen Demografi. Studi kependudukan mempelajari secara sistematis
perkembangan, fenomena dan masalah-masalah penduduk dalam kaitannya dengan
situasi sosial di sekitarnya.
Tujuan dan kegunaan ilmu demografi sangat berguna dalam bidang perencanaan
pembangunan.
Analisis Demografi adalah data penduduk dari sejak dilahirkan sampai meninggal dunia.
Ukuran-ukuran Demografi mencakup bilangan absolut, prevalensi, proporsi, rate/angka
dan ratio/rasio.
F. Latihan
Diskusikan dengan teman-teman anda bagaimana perbedaan demografi dan studi
kependudukan!

11

BAB IV
KOMPONEN-KOMPONEN DEMOGRAFI
Indikator keberhasilan:
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta dapat menguraikan komponen-komponen
Demografi dengan benar

A. Fertilitas (Kelahiran)
Fertilitas dalam pengertian Demografi adalah kemampuan seorang wanita secara riil
untuk melahirkan yang diwujudkan dalam jumlah bayi yang senyatanya dilahirkan. Tinggi
rendahnya kelahiran erat hubungannya dan tergantung pada struktur umur, banyaknya
kelahiran, banyaknya perkawinan, penggunaan alat kontrasepsi, aborsi, tingkat
pendidikan, status pekerjaan, serta pembangunan.
Beberapa fertilitas yang sering digunakan adalah :
1. Age Specific Fertility Rate (ASFR)
a. Definisi
Angka Kelahiran Menurut Umur (Age Specific Fertility Rate/ASFR) adalah angka
yang menunjukkan banyaknya kelahiran per 1000 perempuan pada kelompok
umur tertentu antara 15-49 tahun.
b. Kegunaan
ASFR merupakan indikator kelahiran yang memperhitungkan perbedaan fertilitas
dari perempuan yang terpapar untuk melahirkan yaitu perempuan usia subur
dengan memperhatikan karakteristik kelompok umurnya. Secara alamiah potensi
(fekunditas) perempuan untuk melahirkan berbeda menurut umur, dan menjadi
steril setelah menopause atau usia 49 tahun. Secara sosial ada kecenderungan
bahwa saat ini perempuan ingin membatasi jumlah anak setelah umur 35 tahun.
Pengetahuan mengenai ASFR akan berguna untuk pelaksanaan program KB
dan peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Indikator ASFR merupakan data dasar untuk mengembangkan proyeksi
penduduk, untuk mengetahui jumlah penduduk menurut umur dan jenis kelamin
dimasa yang akan datang. Hasil proyeksi penduduk merupakan basis data untuk
perencanaan pembangunan manusia di tahun-tahun mendatang.
c. Cara Menghitung
Membagi jumlah kelahiran yang terjadi pada perempuan pada kelompok umur
tertentu (i), dengan jumlah perempuan kelompok umur tersebut kemudian
dikalikan dengan konstanta k (1000).
12

Rumus:

dimana
ASFRi = Age Specific Fertility Rate untuk perempuan pada kelompok umur i,
i = 1 untuk umur 15-19 tahun, yakni:
i = 2 untuk umur 20-24 tahun,
i = 3 untuk umur 25-29 tahun,
i = 4 untuk umur 30-34 tahun,
i = 5 untuk umur 35-9 tahun,
i = 6 untuk umur 40-44 tahun,
i = 7 untuk umur 45-49 tahun.
Bi = Jumlah kelahiran dari perempuan pada kelompok umur i.
Pif = Jumlah penduduk perempuan pada kelompok umur i.
d. Data yang Diperlukan
Untuk dapat melakukan perhitungan ASFR, data yang diperlukan adalah data
tentang banyaknya bayi yang lahir dari ibu menurut umur tertentu misalnya Ibu
usia 20-24 tahun pada suatu daerah dan suatu tahun tertentu dan banyaknya Ibu
pada umur tersebut (20-24 tahun) pada daerah dan tahun yang sama.
1) Sumber Data
a) Perhitungan Secara Langsung (direct method)
Selama ini perhitungan secara langsung untuk ASFR dilakukan dengan
menggunakan data riwayat kelahiran yang dikumpulkan dari Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI). SDKI yang terakhir
dilaksanakan tahun 2002/3. Sayangnya, jumlah sampel SDKI tidak
memungkinkan kita menghitung ASFR untuk tingkat kabupaten dan kota.
Sehingga ASFR di tingkat kabupaten atau kota dihitung secara tidak
langsung dari Susenas yang dilaksanakan tiap-tiap tahun.
b) Perhitungan tidak langsung (indirect method)
Selama ini hasil perhitungan ASFR dan TFR yang dipublikasikan secara
luas oleh BPS adalah hasil perhitungan secara tidak langsung yang
dilakukan dari data Sensus Penduduk dengan menggunakan program
EastWestPop berdasarkan metode anak kandung atau anak-anak yang
tercatat dari daftar anggota rumah tangga.
Selain itu, ASFR juga dapat diperkirakan dari data Susenas pada
pertanyaan 3 dalam kuesioner pokok pada Seksi II Keterangan Rumah
tangga. Jumlah kelahiran hidup dan ASFR dapat diestimasi
menggunakan piranti lunak mortpack-lite. Untuk memperoleh data ASFR
dan jumlah kelahiran yang akurat, diperlukan penggabungan informasi
dari beberapa Susenas yang digabung dan hasilnya dirata-ratakan.

13

Contoh
Pada Tabel 2 disajikan contoh perhitungan Angka Kelahiran Menurut
Umur (ASFR) untuk Indonesia berdasarkan data Susenas 1999 dan
2004.
Tabel 2. Jumlah Perempuan, Jumlah Kelahiran, dan Angka Kelahiran
Menurut Kelompok Umur (ASFR), Indonesia, Susenas 1999 dan 2004.
Angka Kelahiran
Jumlah
Jumlah
Menurut Umur
Kelompok
perempuan*
kelahiran*
(ASFR)
Umur
(2)
(3)
(4) = [(3) : (2)] x 1000
(1)

15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49

9.794.093

381.970

39

10.110.367

1.364.900

135

9.601.442

1.324.999

138

9.132.513

913.251

100

8.587.142

352.073

41

7.459.538

89.514

12

5.870.372

29.352

* ) Angka ini merupakan angka rata-rata untuk tahun 1999 dan 2004.

Intepretasi
Dari Tabel 1 terlihat bahwa pola ASFR mengikuti huruf U terbalik, rendah
pada kelompok umur 15-19 tahun dan umur 40-49 tahun, dan tinggi pada
perempuan kelompok umur 20-34 tahun, dengan puncaknya pada
perempuan kelompok umur 25-29 tahun, yaitu sebesar 138. Hal ini berarti
dari 1000 perempuan yang berusia antara 25-29 tahun terdapat 138
kelahiran hidup pada tahun 1999 dan 2004.
Puncak ASFR yang terletak pada kelompok umur 25-29 tahun dapat
mengindikasikan bahwa kelahiran pada tahun 1999 dan 2004 paling
banyak dikontribusi oleh perempuan pada kelompok umur 25-29 tahun.
Hal ini juga dapat berarti bahwa anjuran pemerintah untuk "tidak
melahirkan pada usia yang terlalu muda" sudah mencapai sasaran secara
nasional. Fenomena ini bisa juga dikaitkan lebih jauh dengan suksesnya
program wajib belajar sembilan tahun yang menyebabkan semakin
banyaknya perempuan muda yang bersekolah lebih tinggi, dan semakin
terbukanya kesempatan bagi perempuan di pasar kerja. Pada akhirnya,
hal ini akan membuat banyak perempuan menunda untuk menikah dan
melahirkan karena pada umumnya mereka yang menikah dan melahirkan
pada usia muda secara fisik dan emosional sebetulnya belum matang
2) Keterbatasan
Sering terjadi kesalahan pelaporan umur Ibu, maupun jumlah anak lahir
hidup. Umumnya terjadi kekurangan pelaporan pada bayi-bayi yang lahir
hidup kemudian meninggal pada waktu masih bayi. Ini umumnya terjadi di
kalangan perempuan yang berpendidikan rendah dan tinggal di wilayah
perdesaan. Hal ini dapat mengurangi tingkat akurasi estimasi ASFR.
14

2. Total Fertility Rate (TFR)


a. Definisi
Angka Fertilitas Total (Total Fertility Rate/TFR) adalah rata-rata anak yang
dilahirkan seorang wanita selama masa usia suburnya.
b. Kegunaan
TFR merupakan gambaran mengenai rata-rata jumlah anak yang dilahirkan
seorang perempuan dari usia 15 sampai 49 tahun. Perbandingan angka TFR
antar negara atau antar daerah dapat menunjukkan keberhasilan daerah dalam
melaksanakan pembangunan sosial ekonominya. Angka TFR yang tinggi dapat
merupakan cerminan rata-rata usia kawin yang rendah, tingkat pendidikan yang
rendah terutama perempuannya, tingkat sosial ekonomi rendah atau tingkat
kemiskinan yang tinggi. Selain itu tentu saja menunjukkan tingkat keberhasilan
program KB yang dilaksanakan selama tiga dekade ini.
Diketahunya TFR untuk suatu daerah akan membantu para perencana program
pembangunan untuk meningkatkan rata-rata usia kawin, meningkatkan program
pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan pelayanan Ibu hamil dan perawatan
anak, serta untuk mengembangkan program penurunan tingkat kematian ibu dan
anak.
c. Cara Menghitung
Menjumlahkan ASFR seluruh kelompok umur pada tahun tertentu dan wilayah
tertentu, kemudian dikalikan dengan lima. Pengalian dengan bilangan lima
dilakukan karena pengelompokan umur lima tahunan, dan diasumsikan bahwa
setiap 1000 orang perempuan pada kelompok umur yang sama secara rata-rata
akan mempunyai jumlah anak yang sama.
Rumus

dimana:
TFR = Total Fertility Rate
ASFRi = ASFR kelompok umur i.
i
= Kelompok umur, yaitu 15-19, 20-24,...,45-49.
Contoh :
Perhitungan TFR berdasarkan data pada Tabel 2 tentang ASFR menghasilkan
TFR 2,35, dari perhitungan sbb:
TFR = 5 x (39 + 135 + 138 + 100 + 41 + 12 + 5) = 2,35.
Intepretasi
TFR sebesar 2,35 berarti bahwa secara rata-rata wanita Indonesia mempunyai 2
atau 3 anak selama masa usia suburnya (usia 15-49 tahun).

15

3. Net Reproduction Rate (NRR)


NRR merupakan salah satu hasil (output) proyeksi penduduk yang sering
diinterpretasikan sebagai banyaknya anak perempuan yang dilahirkan oleh setiap
perempuan dalam masa reproduksinya. Sering ditanyakan, kapankah Indonesia
akan mencapai NRR = 1, tingkat replacement level, yaitu saat di mana satu ibu
diganti secara tepat oleh satu bayi perempuan. Dengan asumsi penurunan fertilitas
dan mortalitas serta perolehan susunan umur seperti telah diuraikan di atas,
Indonesia akan mencapai NRR = 1 pada sekitar tahun 2015. Pada saat itu
bukannya berarti laju pertumbuhan penduduk sama dengan nol, atau penduduk
tanpa pertumbuhan, tetapi penduduk akan tetap bertambah dengan laju
pertumbuhan yang relatif stabil. Beberapa provinsi sudah mencapai tingkat itu jauh
sebelum tahun 2015, misalnya DKI Jakarta, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali dan
Sulawesi Utara, yaitu pada periode 1996-1999. Pada akhir periode proyeksi hampir
semua provinsi telah mencapai replacement level. Pada Tabel 3 disajikan NRR
Indonesia dan juga NRR setiap provinsi.
Tabel 3 Estimasi Net Reproduction (NRR) menurut Provinsi, 2000-2025

Propinsi

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.

(1)
NANGGROE ACEH DARUSSALAM
SUMATERA UTARA
SUMATERA BARAT
RIAU
JAMBI
SUMATERA SELATAN
BENGKULU
LAMPUNG
KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
DKI JAKARTA
JAWA BARAT
JAWA TENGAH
D I YOGYAKARTA
JAWA TIMUR
BANTEN
BALI
NUSA TENGGARA BARAT
NUSA TENGGARA TIMUR
KALIMANTAN BARAT
KALIMANTAN TENGAH
KALIMANTAN SELATAN
KALIMANTAN TIMUR
SULAWESI UTARA
SULAWESI TENGAH
SULAWESI SELATAN
SULAWESI TENGGARA
GORONTALO
MALUKU
MALUKU UTARA
PAPUA

2000-2005
(2002)
(2)
1.19
1.28
1.22
1.19
1.16
1.15
1.11
1.18
108.00
0.74
1.06
1.06
0.68
0.78
1.15
0.89
1.18
1.38
1.24
1.12
1.01
1.10
0.94
1.10
1.08
1.33
1.08
1.34
1.31
1.31

16

2005-2010
(2007)
(3)
1.10
1.18
1.14
1.11
1.09
1.06
1.03
1.09
102.00
0.73
1.02
1.02
0.66
0.77
1.09
0.89
1.10
1.25
1.14
1.05
0.99
1.05
0.91
1.05
1.04
1.21
1.04
1.25
1.23
1.20

Periode
2010-2015
(2012)
(4)
1.05
1.10
1.08
1.06
1.04
1.00
0.99
1.03
99.00
0.72
1.00
1.00
0.66
0.77
1.04
0.90
1.05
1.15
1.07
1.01
0.98
1.02
0.89
1.02
1.02
1.12
1.02
1.19
1.17
1.11

2015-2020
(2017)
(5)
1.03
1.05
1.03
1.02
1.01
0.99
0.96
1.00
97.00
0.72
0.99
0.98
0.66
0.77
1.01
0.90
1.01
1.06
1.02
0.99
0.97
1.00
0.89
1.00
1.00
1.06
1.00
1.14
1.13
1.05

2020-2025
(2022)
(6)
1.02
1.01
1.00
0.99
0.98
1.00
0.95
0.97
96.00
0.72
0.99
0.97
0.66
0.77
0.99
0.90
0.99
1.00
0.98
0.98
0.96
0.98
0.88
0.99
0.99
1.01
1.00
1.15
1.10
1.00

Berikut ini faktor pendorong dan faktor penghambat kelahiran :


a. Faktor pendorong kelahiran (pronatalitas)
Anggapan bahwa banyak anak banyak rezeki.
1) sifat alami manusia yang ingin melanjutkan keturunan.
2) pernikahan usia dini (usia muda).
3) adanya anggapan bahwa anak laki-laki lebih tinggi nilainya, jika dibandingkan
dengan anak perempuan, sehingga bagi keluarga yang belum memiliki anak
laki-laki akan berusaha untuk mempunyai anak laki-laki.
4) adanya penilaian yang tinggi terhadap anak, sehingga bagi keluarga yang
belum memiliki anak akan berupaya bagaimana supaya memiliki anak.
b. Faktor penghambat kelahiran (antinatalitas)
1) adanya program Keluarga Berencana (KB).
2) kemajuan di bidang iptek dan obat-obatan.
3) adanya peraturan pemerintah tentang pembatasan tunjungan anak bagi pns.
4) adanya uu perkawinan yang membatasi dan mengatur usia pernikahan.
5) penundaan usia pernikahan karena alasan ekonomi, pendidikan dan karir.
6) adanya perasaan malu bila memiliki banyak anak
4. Replacement Level (Tingkat Penggantian Manusia)
Jika dibandingkan dengan tahun 1967-1970 dimana TFR Indonesia adalah sebesar
5,6 maka tampak bahwa rata-rata jumlah anak yang dipunyai oleh ibu-ibu di
Indonesia sudah menurun drastis. Tetapi jumlah ini masih terlalu tinggi untuk dapat
mencapai penduduk tumbuh seimbang. Penduduk Indonesia akan mencapai tingkat
penggantian manusia (replacement level) apabila TFR turun mencapai 2,1 pada
tahun 2015. Pada saat 'tingkat penggantian manusia ini seorang Ibu akan digantikan
oleh seorang anak perempuan untuk meneruskan keturunan tetapi tidak
menghasilkan pertambahan penduduk yang tinggi yang tidak terkendali.
Untuk pencapai tingkat penggantian manusia tersebut nampaknya program KB atau
pemakaian kontrasepsi masih harus terus digalakkan. Pelaksanaan program KB
tersebut harus disertai peningkatan kualitas pelayanan dan berorientasi kepada
pelayanan kebutuhan dan keluhan klien dan tidak hanya mengejar target semata.
B. Mortalitas (Kematian)
Mati adalah keadaan menghilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen
yang dapat terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup.
Ada beberapa ukuran kematian yaitu;
1. Angka Kematian Bayi (AKB)
a. Konsep dasar
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir
sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan
17

dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi
ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.
Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal;
adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan
umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang
diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan.
Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah kematian bayi yang
terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang
disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.
Angka Kematian Bayi menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat
dimana angka kematian itu dihitung. Kegunaan Angka Kematian Bayi untuk
pengembangan perencanaan berbeda antara kematian neo-natal dan kematian
bayi yang lain. Karena kematian neo-natal disebabkan oleh faktor endogen yang
berhubungan dengan kehamilan maka program-program untuk mengurangi
angka kematian neo-natal adalah yang bersangkutan dengan program pelayanan
kesehatan Ibu hamil, misalnya program pemberian pil besi dan suntikan anti
tetanus.
Sedangkan Angka Kematian Post-NeoNatal dan Angka Kematian Anak serta
Kematian Balita dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi, serta
program-program pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak,
program penerangan tentang gisi dan pemberian makanan sehat untuk anak
dibawah usia 5 tahun. Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya kematian
bayi berusia dibawah satu tahun, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun
tertentu.
b. Cara Menghitung

Di mana:
AKB
D 0-<1th
lahir hidup

= Angka Kematian Bayi / Infant Mortality Rate (IMR)


= Jumlah Kematian Bayi (berumur kurang 1 tahun) pada satu
tahun tertentu di daerah tertentu.
= Jumlah Kelahiran Hidup pada satu tahun tertentu di daerah
tertentu (lihat modul fertilitas untuk definisi kelahiran hidup).

K = 1000
c. Sumber Data
Data mengenai jumlah anak yang lahir jarang tersedia dari pencatatan
registrasi kependudukan, sehingga sering dibuat perhitungan/estimasi
langsung dengan program "Mortpak 4". Program ini menghitung
berdasarkan data mengenai jumlah Anak yang Lahirkan Hidup (ALH)
18

atau
tidak
AKB
atau

Children Ever Born (CEB) dan Jumlah Anak Yang Masih Hidup (AMH) atau
Children Still Living (CSL) (catatan: lihat definisi di modul fertilitas).
d. Contoh
Dari Susenas 2004 hasil perhitungan AKB dengan Mortpak 4 adalah adalah 52
per 1000 kelahiran dengan referensi waktu Mei tahun 2002. Artinya di Indonesia
pada tahun 2002, diantara 1000 kelahiran hidup ada 52 bayi yang meninggal
sebelum usia tepat 1 tahun.
Tabel 4. AKB menurut Provinsi dan Kabupaten, tahun 2002, Sumber:
Susenas 2003 dan 2004 (BPS dan UNFPA, 2005)
Provinsi/Kabupaten
AKB Laki-laki
AKB perempuan
Sumatera Selatan
44,59
33,45
Kabupaten OKI
49,48
37,12
Kota Palembang
26,68
20,02
Jawa Barat
52,00
39,01
Kuningan
53,71
40,29
Kota Bandung
26,28
19,72
NTT
56,00
42,01
Flores Timur
53,14
39,86

2. Angka kematian Ibu


a. Konsep dasar
Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam
kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya
kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena
kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain
seperti kecelakaan, terjatuh dll (Budi, Utomo. 1985).
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya kematian perempuan pada saat
hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama
dan tempat persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau
pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain, per 100.000 kelahiran
hidup.
Informasi mengenai tingginya MMR akan bermanfaat untuk pengembangan
program peningkatan kesehatan reproduksi, terutama pelayanan kehamilan dan
membuat kehamilan yang aman bebas risiko tinggi (making pregnancy safer),
program peningkatan jumlah kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan,
penyiapan sistim rujukan dalam penanganan komplikasi kehamilan, penyiapan
keluarga dan suami siaga dalam menyongsong kelahiran, yang semuanya
bertujuan untuk mengurangi Angka Kematian Ibu dan meningkatkan derajat
kesehatan reproduksi.

19

b. Cara menghitung
Kemudian kematian ibu dapat diubah menjadi rasio kematian ibu dan dinyatakan
per 100.000 kelahiran hidup, dengan membagi angka kematian dengan angka
fertilitas umum. Dengan cara ini diperoleh rasio kematian ibu kematian maternal
per 100.000 kelahiran
Rumus

Di mana:
Jumlah Kematian Ibu yang dimaksud adalah banyaknya kematian ibu yang
disebabkan karena kehamilan, persalinan sampai 42 hari setelah melahirkan,
pada tahun tertentu, di daerah tertentu.
Jumlah kelahiran hidup adalah banyaknya bayi yang lahir hidup pada tahun
tertentu, di daerah tertentu.
Konstanta =100.000 bayi lahir hidup.
c. Contoh
Berdasarkan data SDKI 2002 - 2003, Angka Kematian Ibu atau Maternal
Mortality Ratio(MMR) di Indonesia untuk periode tahun1998-2002, adalah
sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup.
d. Keterbatasan
AKI sulit dihitung, karena untuk menghitung AKI dibutuhkan sampel yang besar,
mengingat kejadian kematian ibu adalah kasus yang jarang. Oleh karena itu kita
umumnya digunakan AKI yang telah tersedia untuk keperluan pengembangan
perencanaan program.
3. Angka Harapan Hidup
a. Konsep Dasar
Keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan sosial ekonomi
pada umumnya dapat dilihat dari peningkatan usia harapan hidup penduduk dari
suatu negara. Meningkatnya perawatan kesehatan melalui Puskesmas,
meningkatnya daya beli masyarakat akan meningkatkan akses terhadap
pelayanan kesehatan, mampu memenuhi kebutuhan gizi dan kalori, mampu
mempunyai pendidikan yang lebih baik sehingga memperoleh pekerjaan dengan
penghasilan yang memadai, yang pada gilirannya akan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat dan memperpanjang usia harapan hidupnya
Angka Harapan Hidup pada suatu umur x adalah rata-rata tahun hidup yang
masih akan dijalani oleh seseorang yang telah berhasil mencapai umur x, pada
suatu tahun tertentu, dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkungan
masyarakatnya.
20

Angka Harapan Hidup Saat Lahir adalah rata-rata tahun hidup yang akan dijalani
oleh bayi yang baru lahir pada suatu tahun tertentu.
Angka Harapan Hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah
dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan
meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. Angka Harapan Hidup yang
rendah di suatu daerah harus diikuti dengan program pembangunan kesehatan,
dan program sosial lainnya termasuk kesehatan lingkungan, kecukupan gisi dan
kalori termasuk program pemberantasan kemiskinan.
b. Cara Menghitung
Idealnya Angka Harapan Hidup dihitung berdasarkan Angka Kematian Menurut
Umur (Age Specific Death Rate/ASDR) yang datanya diperoleh dari catatan
registrasi kematian secara bertahun-tahun sehingga dimungkinkan dibuat Tabel
Kematian. Tetapi karena sistem registrasi penduduk di Indonesia belum berjalan
dengan baik maka untuk menghitung Angka Harapan Hidup digunakan cara tidak
langsung dengan program Mortpak Lite (software komputer).
c. Contoh
Angka Harapan Hidup yang terhitung untuk Indonesia dari Sensus Penduduk
Tahun 1971 adalah 47,7 tahun. Artinya bayi-bayi yang dilahirkan menjelang
tahun 1971 (periode 1967-1969) akan dapat hidup sampai 47 atau 48 tahun.
Tetapi bayi-bayi yang dilahirkan menjelang tahun 1980 mempunyai usia harapan
hidup lebih panjang yakni 52,2 tahun, meningkat lagi menjadi 59,8 tahun untuk
bayi yang dilahirkan menjelang tahun 1990, dan bagi bayi yang dilahirkan tahun
2000 usia harapan hidupnya mencapai 65,5 tahun. Peningkatan Angka Harapan
Hidup ini menunjukkan adanya peningkatan kehidupan dan kesejahteraan
bangsa Indonesia selama tiga puluh tahun terkahir dari tahun 1970-an sampai
tahun 2000.
Tabel 4. Angka Harapan Hidup Saat Lahir Menurut Beberapa Provinsi dan
Kabupaten/Kota, yang dihitung dari data Susenas 2004 memakai
program Mortpak 4
Propinsi/Kabupaten
Angka Harapan
Angka Harapan
Hidup Laki-laki
Hidup Perempuan
Sumatera Selatan
65,5
69,5
Kab. OKI
64,4
68,5
Kota Palembang
69,9
73,5
Jawa Barat
63,8
68,0
Kab. Kuningan
63,4
67,7
Kota Bandung
70,0
73,6
NTT
62,9
67,2
Kab. Flores Timur
63,5
67,8

21

d. Faktor pendorong dan faktor penghambat kematian


1) Faktor pendorong kematian (promortalitas)
2) Adanya wabah penyakit seperti demam berdarah, flu burung dan sebagainya.
3) adanya bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, banjir dan sebagainya.
a) Kesehatan serta pemenuhan gizi penduduk yang rendah.
b) Adanya peperangan, kecelakaan, dan sebagainya.
c) Tingkat pencemaran yang tinggi sehingga lingkungan tidak sehat.
4) Faktor penghambat kematian (antimortalitas)
a) tingkat kesehatan dan pemenuhan gizi masyarakat yang sudah baik.
b) negara dalam keadaan aman dan tidak terjadi peperangan.
c) adanya kemajuan iptek di bidang kedokteran sehingga berbagai macam
penyakit dapat diobati.
d) adanya pemahaman agama yang kuat oleh masyarakat sehingga tidak
melakukan tindakan bunuh diri atau membunuh orang lain, karena ajaran
agama melarang hal tersebut.
C. Migrasi (Perpindahan)
1. Konsep dasar
Analisis dan perkiraan besaran dan arus migrasi merupakan hal yang penting bagi
terlaksananya pembangunan manusia seutuhnya, terutama di era otonomi daerah
ini. Apalagi jika analisis mobilitas tersebut dilakukan pada suatu wilayah administrasi
yang lebih rendah daripada tingkat propinsi. Karena justru tingkat mobilitas
penduduk baik permanen maupun nonpermanen akan tampak lebih nyata terlihat
pada satuan unit administrasi yang lebih kecil seperti kabupaten, kecamatan dan
desa atau kelurahan.
Pada hakekatnya migrasi penduduk merupakan refleksi perbedaan pertumbuhan
ekonomi dan ketidakmerataan fasilitas pembangunan antara satu daerah dengan
daerah lain. Penduduk dari daerah yang tingkat pertumbuhannya kurang akan
bergerak menuju ke daerah yang mempunyai tingkat pertumbuhan yang lebih
tinggi.
Migrasi dipengaruhi oleh daya dorong (push factor) suatu wilayah dan daya tarik
(pull factor) wilayah lainnya. Daya dorong wilayah menyebabkan orang pergi ke
tempat lain, misalnya karena di daerah itu tidak tersedia sumberdaya yang memadai
untuk memberikan jaminan kehidupan bagi penduduknya. Pada umumnya, hal ini
tidak lepas dari persoalan kemiskinan dan pengangguran yang terjadi di wilayah
tersebut. Sedangkan daya tarik wilayah adalah jika suatu wilayah mampu atau
dianggap mampu menyediakan fasilitas dan sumber-sumber penghidupan bagi
penduduk, baik penduduk di wilayah itu sendiri maupun penduduk di sekitarnya dan
daerah-daerah lain. Penduduk wilayah sekitarnya dan daerah-daerah lain yang
merasa tertarik dengan daerah tersebut kemudian bermigrasi dalam rangka
meningkatkan taraf hidup.

22

Migrasi adalah perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu
tempat ke tempat lain melewati batas administratif (migrasi internal) atau batas
politik/negara (migrasi internasional). Dengan kata lain, migrasi diartikan sebagai
perpindahan yang relatif permanen dari suatu daerah (negara) ke daerah (negara)
lain.
2. Jenis-jenis Migrasi
Jenis migrasi adalah pengelompokan migrasi berdasarkan dua dimensi penting
dalam analisis migrasi, yaitu dimensi ruang/daerah (spasial) dan dimensi waktu.
Adapun Jenis-jenis Migrasi sebagai berikut :
a. Dimensi Ruang
1) Migrasi internasional adalah perpindahan penduduk dari suatu negara ke
negara lain. Migrasi internasional merupakan jenis migrasi yang memuat
dimensi ruang.
2) Migrasi internal adalah perpindahan penduduk yang terjadi dalam satu
negara, misalnya antarpropinsi, antarkota/kabupaten, migrasi dari wilayah
perdesaan ke wilayah perkotaan atau satuan administratif lainnya yang lebih
rendah daripada tingkat kabupaten/kota, seperti kecamatan dan kelurahan/
desa. Migrasi internal merupakan jenis migrasi yang memuat dimensi ruang.
b. Migran menurut dimensi waktu adalah orang yang berpindah ke tempat lain
dengan tujuan untuk menetap dalam waktu enam bulan atau lebih.
1) Migran sirkuler (migrasi musiman) adalah orang yang berpindah tempat tetapi
tidak bermaksud menetap di tempat tujuan. Migran sikuler biasanya adalah
orang yang masih mempunyai keluarga atau ikatan dengan tempat asalnya
seperti tukang becak, kuli bangunan, dan pengusaha warung tegal, yang
sehari-harinya mencari nafkah di kota dan pulang ke kampungnya setiap
bulan atau beberapa bulan sekali.
2) Migran ulang-alik (commuter) adalah orang yang pergi meninggalkan tempat
tinggalnya secara teratur, (misal setiap hari atau setiap minggu), pergi ke
tempat lain untuk bekerja, berdagang, sekolah, atau untuk kegiatan-kegiatan
lainnya, dan pulang ke tempat asalnya secara teratur pula (misal pada sore
atau malam hari atau pada akhir minggu). Migran ulang-alik biasanya
menyebabkan jumlah penduduk di tempat tujuan lebih banyak pada waktu
tertentu, misalnya pada siang hari.
3. Kriteria Migran
Ada tiga kriteria migran: seumur hidup, risen, dan total.
a. Migran seumur hidup (life time migrant) adalah orang yang tempat tinggalnya
pada saat pengumpulan data berbeda dengan tempa tinggalnya pada waktu
lahir.

23

b. Migran risen (recent migrant) adalah orang tempat tinggalnya pada saat
pengumpulan data berbeda dengan tempat tinggalnya pada waktu lima tahun
sebelumnya.
c. Migran total (total migrant) adalah orang yang pernah bertempat tinggal di tempat
yang berbeda dengan tempat tinggal pada waktu pengumpulan data.
Kriteria migrasi yang digunakan dalam modul ini adalah migrasi risen (recent
migration), karena lebih mencerminkan dinamika spasial penduduk antardaerah
daripada migrasi seumur hidup (life time migration) yang relatif statis. Sedangkan
migrasi total tidak dibahas karena definisinya tidak memasukkan batasan waktu
antara tempat tinggal sekarang (waktu pencacahan) dan tempat tinggal terakhir
sebelum tempat tinggal sekarang. Akan tetapi migrasi total biasa dipakai untuk
menghitung migrasi kembali (return migration).
Untuk perhitungan angka migrasi, penduduk terpapar yang dihitung adalah
penduduk usia lima tahun atau lebih. Dalam perhitungan angka migrasi menurut
kelompok umur, penduduk usia 0-4 tahun datanya tidak tersedia karena kelompok
penduduk ini merupakan kelompok penduduk yang lahir pada periode antar dua
survei/sensus. Untuk mengatasi hal ini, khusus untuk penduduk kelompok umur 0-4
tahun, digunakan data migrasi seumur hidup untuk penduduk berusia 0-4 tahun.
4. Faktor Pendorong dan Penarik Migrasi
Pada dasarnya ada dua pengelompokan faktor-faktor yang menyebabkan seseorang
melakukan migrasi, yaitu faktor pendorong (push factor) dan faktor penarik (pull
factor).
a. Faktor-faktor pendorong (push factor) antara lain adalah:
1) Makin berkurangnya sumber-sumber kehidupan seperti menurunnya daya
dukung lingkungan, menurunnya permintaan atas barang-barang tertentu
yang bahan bakunya makin susah diperoleh seperti hasil tambang, kayu,
atau bahan dari pertanian.
2) Menyempitnya lapangan pekerjaan di tempat asal (misalnya tanah untuk
pertanian di wilayah perdesaan yang makin menyempit).
3) Adanya tekanan-tekanan seperti politik, agama, dan suku, sehingga
mengganggu hak asasi penduduk di daerah asal.
4) Alasan pendidikan, pekerjaan atau perkawinan.
5) Bencana alam seperti banjir, kebakaran, gempa bumi, tsunami, musim
kemarau panjang atau adanya wabah penyakit.
b. Faktor-faktor penarik (pull factor) antara lain adalah:
1) Adanya harapan akan memperoleh kesempatan untuk memperbaikan taraf
hidup.
2) Adanya kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.
3) Keadaan lingkungan dan keadaan hidup yang menyenangkan, misalnya
iklim, perumahan, sekolah dan fasilitas-fasilitas publik lainnya.

24

4) Adanya aktivitas-aktivitas di kota besar, tempat-tempat hiburan, pusat


kebudayaan sebagai daya tarik bagi orang-orang daerah lain untuk
bermukim di kota besar.
Untuk memudahkan studi dan analisis tentang migrasi maka digunakan beberapa
pengertian tentang ukuran-ukuran yang digunakan dalam perhitungan migrasi antar
kabupaten dan kota. Ukuran-ukuran tersebut adalah:
Angka migrasi masuk (mi), yang menunjukkan banyaknya migran yang masuk per
1000 penduduk di suatu kabupaten dan kota tujuan dalam satu tahun.
Angka migrasi keluar (mo), yang menunjukkan banyaknya migran yang keluar dari
suatu kabupaten dan kota per 1000 penduduk di kabupaten dan kota asal dalam
satu tahun.
Angka migrasi neto (mn), yaitu selisih banyaknya migran masuk dan migrant keluar
ke dan dari suatu kabupaten dan kota per 1000 penduduk dalam satu tahun.
Ukuran-ukuran migrasi ini bermanfaat untuk mengetahui apakah suatu kabupaten
dan kota merupakan daerah yang memiliki daya tarik bagi penduduk wilayah
sekitarnya atau wilayah lainnya. Dapat juga ditentukan apakah suatu kabupaten dan
kota merupakan wilayah yang tidak disenangi untuk dijadikan tempat tinggal. Dengan
kata lain kabupaten dan kota ini memiliki daya dorong bagi penduduknya untuk pergi
meninggalkan daerah tersebut.
Kabupaten dan kota yang memiliki daya tarik bagi penduduk wilayah sekitarnya
biasanya memiliki angka migrasi neto yang positif. Artinya, jumlah penduduk yang
masuk lebih banyak daripada jumlah penduduk yang keluar. Sedangkan kabupaten
dan kota yang kurang disenangi oleh penduduknya akibat kelangkaan sumberdaya
misalnya, biasanya memiliki angka migrasi neto yang negatif, yang berarti jumlah
penduduk yang keluar lebih banyak daripada jumlah migran yang masuk.
5. Migrasi antar Kabupaten/kota (Urbanisasi)
a. Definisi
Migrasi desa-kota adalah gejala berpindahnya penduduk yang berasal dari suatu
daerah yang bersifat perdesaan menuju daerah lain yang bersifat perkotaan.
Perhitungan angka migrasi perdesaan ke perkotaan jarang dilakukan, meski
gejala ini banyak dijumpai di banyak negara berkembang. Namun demikian tidak
berarti bahwa perhitugnan migrasi dari perdesaan ke perkotaan tidak bisa
dilakukan. Sebenarnya migrasi ini sama saja dengan migrasi antarkabupaten
yang terdiri atas beberapa kriteria (migrasi seumur hidup, migrasi risen 5 tahun
dan migrasi total).
Untuk melihat besaran migrasi yang berlangsung dalam jangka pendek (lima
tahun terakhir), maka digunakan migrasi risen lima tahun. Kita dapat melihat jika
ada perbedaan karakteristik tempat tinggal lima tahun yang lalu dan karakteristik
tempat tinggal sekarang (pada saat pencacahan). Jika lima tahun yang lalu
seseorang tinggal di darah yang dikategorikan sebagai perdesaan, dan pada

25

waktu pencacahan tinggal di daerah yang dikategorikan sebagai perkotaan,


maka ia termasuk migran dari perdesaan ke perkotaan.
b. Indikator
Angka migrasi dari perdesaan ke perkotaan dihitung dengan melihat persentase
migran yang masuk ke suatu wilayah perkotaan yang berasal dari daerah
perdesaan di wilayah lain.
c. Kegunaan
Indikator ini bermanfaat untuk melihat besaran migrasi dari perdesaan ke
perkotaan. Sejauh ini tidak ada data publikasi yang memperlihatkan jumlah
migrasi dari perdesaan ke perkotaan, mengingat tidak ada informasi yang
memperlihatkan karakteristik tempat tinggal lima tahun yang lalu, apakah bersifat
perdesaan atau perkotaan. Sumber informasi yang menyediakan hal ini
hanyalah data SUPAS 1995.
Dengan diketahuinya jumlah migran dari perdesaan ke perkotaan, maka dapat
dianalisis faktor-faktor yang menyebabkan perpindahan tersebut. Demikian juga
perlu diketahui konsekuensi ditinggalkannya daerah-daerah perdesaan oleh
para migran terutama yang berusia produktif.
Indikator ini juga bermanfaat untuk bahan masukan dalam perencanaan wilayah
terutama berkaitan dengan kesenjangan perdesaan-perkotaan, utamanya pada
aspek ketenagakerjaan, penciptaan lapangan kerja, distribusi pendapatan,
pendidikan, dan keamanan.
d. Cara Menghitung
Indikator migran desa/kota ini ditunjukkan oleh persentase migran yang berasal
dari perdesaan menuju suatu perkotaan terhadap jumlah migran di perkotaan
tersebut.

Di mana:
%Migru
= Persentase migrasi dari perdesaan ke perkotaan
Migru
= Jumlah migran dari perdesaan ke perkotaan
Miguu
= Jumlah migran dari perkotaan ke perkotaan
e. Contoh
Menurut data SUPAS 1995, migran masuk ke DKI Jakarta yang berasal dari
perdesaan adalah 236.608 orang. Jumlah migran yang berasal dari daerah
perkotaan sebesar 357.934 orang. Maka persentase migran masuk ke DKI
Jakarta yang berasal dari perdesaan adalah: 66 persen. Migran dari perdesaan
ke perkotaan sering membawa masalah, terutama permasalahan tempat tinggal,
26

munculnya permukiman liar, pencurian listrik, perilaku perdesaan yang dibawa ke


perkotaan seperti membuang sampah sembarang dan lain-lain.
f.

Interpretasi
Perhitungan di atas memperlihatkan bahwa sebagian besar migran yang masuk
ke DKI Jakarta selama kurun waktu 1990-1995 kebanyakan berasal dari
perdesaan, yaitu 236.608 orang dari semua migran yang datang ke
Jakarta atau 66 persen dari semua migran yang ada di DKI Jakarta selama
kurun waktu tersebut.

6. Migrasi Internasional
a. Definisi
Migrasi internasional adalah migrasi yang melewati batas politik antar negara.
Batas politik ini sangat dinamis tergantung kepada konstelasi politik global yang
ada.
Contoh : Orang yang pergi ke Timor Leste pada saat ini dikatakan sebagai
migran internasional. Padahal ketika Timor Leste masih menjadi bagian dari
Indonesia, pelaku mobilitas tersebut tidak dikatakan sebagai migrant
internasional, melainkan migran internal. Seperti juga pada definisi migran
internal, seseorang dikatakan migran internasional jika ia tinggal di negara tujuan
selama 6 bulan atau lebih atau berniat tinggal 6 bulan atau lebih.
b. Sumber Data
Secara umum data mengenai migrasi internasional tidak selalu tersedia.
Biasanya yang tersedia adalah data pengiriman tenaga kerja Indonesia ke luar
negeri dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans). Data
ini pun belum mencerminkan jumlah pelaku migrasi internasional yang
sesungguhnya mengingat tidak semua pelaku migrasi internasional bertujuan
untuk bekerja atau melaporkan diri. Banyak di antara mereka yang sekolah, ikut
keluarga, bahkan yang bekerja menjadi tenaga ahli pun tidak selalu terdapat
data yang jelas.
c. Contoh
Data penempatan tenaga kerja Indonesia dari Depnakertrans memperlihatkan
bahwa jumlah pekerja migran Indonesia yang bekerja di luar negeri cenderung
berfluktuasi sejak tahun 2001 hingga tahun 2004. Sebagian besar dari mereka
umumnya pergi menuju Saudi Arabia dan Malaysia. Yang lainnya pergi ke
Kuwait, Singapura, Korea, Taiwan, Hongkong, dan Yordan. Data juga
memperlihatkan mereka yang pergi ke luar negeri ini lebih besar sebagai pekerja
migran
informal
(tidak
terdokumentasikan)
daripada
yang
formal
(terdokumentasikan).

27

Kondisi semacam ini seharusnya menjadi perhatian bagi pemerintah daerah,


terutama pemerintah kabupaten dan kota untuk meningkatkan kinerja dinas
ketenagakerjaannya atau dinas lain yang terkait dengan masalah ini mulai dari
pendataan, pembinaan, pemberangkatan, dan kepulangan para migran tenaga kerja.
Data tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia menunjukkan jumlah migran
yang masuk ke Indonesia dari berbagai negara. Sejak tahun 2001 hingga 2004,
umumnya berjumlah 20 ribu hingga 25 ribu orang. Kebanyakan dari mereka
berasal dari Jepang, Amerika, dan Australia.
Tabel 5
Migrasi Seumur Hidup menurut Provinsi
Life Time Migration by Province
Sumber Source : Sensus Penduduk 1971, 1980, 1990, dan 2000
Provinsi
Province
1971
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.

Nanggroe Aceh Darussalam


Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
Kep. Bangka Belitung
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Banten
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Gorontalo
Maluku
Maluku Utara
Papua

60,982
530,012
87,901
20,606
155,924
327,312
36,038
1,001,103
na
1,791,635
371,448
253,477
99,782
273,228
na
22,010
33,575
10,218
20,805
50,078
66,119
39,548
48,668
50,937
66,984
25,906
na
42,228
na
33,513

Migrasi Masuk
In Migration
1980
1990
143,365
547,715
131,438
343,024
293,245
608,497
121,274
1,782,703
na
2,565,158
963,870
336,611
175,789
433,451
na
63,365
51,493
38,735
104,856
140,042
142,619
292,028
88,266
184,526
108,038
104,793
na
124,894
na
93,030

193,285
452,918
216,014
681,627
470,848
932,032
251,232
1,726,969
na
3,141,214
2,391,890
509,401
264,842
564,401
na
122,899
67,023
46,310
196,876
240,374
272,797
600,201
87,715
286,142
219,666
236,848
na
184,892
na
261,308

2000
100,166
447,897
245,000
1,534,849
566,153
987,157
355,048
1,485,218
94,334
3,541,972
3,271,882
708,308
385,117
781,590
1,758,408
221,722
107,605
106,053
269,722
423,014
360,324
856,251
147,091
369,634
273,875
366,817
26,888
75,540
60,834
332,015

d. Permasalahan yang timbul


Pertumbuhan penduduk perkotaan selalu menunjukan peningkatan yang terus
menerus, hal ini disebabkan pesatnya perkembangan ekonomi dengan
perkembangan industri, pertumbuhan sarana dan prasarana jalan perkotaan.
28

Upaya Pencegahan:
Pertumbuhan penduduk di perkotaan periode 1971-1980 jauh lebih pesat
dibandingkan dengan periode 1980-1990, hal ini disebabkan periode 1971-1980
pertumbuhan ekonomi masih terpusat didaerah perkotaan, sehingga penduduk
banyak pindah ke perkotaan untuk memperoleh penghidupan yang lebih layak.
Pada periode 1980-1990 pemeratan pembangunan mulai terasa sampai ke
daerah pedesaan. Keadaan ini memungkinkan penduduk tidak lagi membangun
daerah perkotaan, akan tetapi cendrung menciptakan lapangan pekerjaan sendiri
di pedesaan. (BPS 1994: 18).
Sejalan dengan arah pembangunan yang diharapkan persentase penduduk
perkotaan cendrung meningkat. Proyeksi yang diharapkan ada peningkatan dari
31,10 persen tahun 1990 menjadi 41,46 % pada tahun 2000. Menurut Prigno
Tjiptoheriyanto upaya mempercepat proses pengembangan suatu daerah
pedesaan menjadi daerah perkotaan yang disesuaikan dengan harapan dan
kemampuan masyarakat setempat. Untuk itu diperlukan upaya peningkatan
jumlah penduduk yang berminat tetap tinggal di desa. Yang perlu diusahakan
perubahan status desa itu sendiri, dari desa "desa rural" menjadi "desa urban".
Dengan demikian otomatis penduduk yang tinggal didaerahnya menjadi "orang
kota" dalam arti statistik (Surabaya Post, 23 September 19996). Guna menekan
derasnya arus penduduk dari desa ke kota, maka pola pembangunan yang
beroreantasi pedesaan perlu digalakan dengan memasukan fasilitas perkotaan
kepedesaan, sehingga merangsang kegiatan ekonomi pedesaan.
( 2003 Digited by USU Digital Library 6)
D. Rangkuman
Fertilitas adalah bayi yang senyatanya dilahirkan hidup. Ukuran yang dilakukan dalam
mengatahui fertilitas adalah Age Specific Fertility Rate, Total Fertility Rate, Net
Reproduction Rate dan Replacement Level.
Mortalitas adalah menghilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen yg
dapat terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup. Ada 3 indikator yang diukur dalam
mortalitas yaitu angka kematian bayi, angka kematian ibu dan angka harapan hidup.
Migrasi adalah perpindahan penduduk yang secara relatif permanen dari satu dareah ke
daerah lain. Faktor utama terjadinya migrasi karena ketidakmerataan ekonomi dan
pembangunan antar satu daerah dan daerah lain.
E. Latihan
1.
2.
3.
4.
5.

Jelaskan pengertian fertilitas, mortalitas dan migrasi!


Apa yang dimaksud ASFR, TFR, NRR dan Replacement Level?
Apa kegunaan ASFR?
Apa kegunaan TFR?
Apa yang dimaksud TFR = 2,1 dan NRR = 1?

29

BAB V
KOMPOSISI PENDUDUK

Indikator keberhasilan:
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta dapat menginterpretasi komposisi

penduduk dengan tepat

A. Konsep dasar
Komposisi penduduk merupakan sebuah mata statistik dari statistik kependudukan yang
membagi dan membahas masalah kependudukan dari segi umur dan jenis kelamin.
Komposisi menurut umur dan jenis kelamin ini sangat penting bagi pemerintah sebuah
negara untuk menentukan kebijakan kependudukan mereka untuk beberapa tahun ke
depan. Komposisi menurut umur biasanya dijabarkan dalam kelompok-kelompok umur 5
tahun, sedangkan menurut jenis kelamin adalah laki-laki dan perempuan.
B. Piramida Penduduk
1. Pengertian
Struktur umur penduduk menurut jenis kelamin secara grafik dapat digambarkan
dalam bentuk piramida penduduk. Piramida penduduk adalah cara penyajian lain
dari struktur umur penduduk. Dasar piramida penduduk menunjukkan jumlah
penduduk, dan badan piramida penduduk bagian kiri dan kanan menunjukkan
banyaknya penduduk laki-laki dan penduduk perempuan menurut umur.
2. Kegunaan
Dengan melihat proporsi penduduk laki-laki dan perempuan dalam tiap kelompok
umur pada piramida tersebut, dapat diperoleh gambaran mengenai sejarah
perkembangan penduduk masa lalu dan mengenai perkembangan penduduk masa
yang akan datang. Struktur umur penduduk saat ini merupakan hasil kelahiran,
kematian dan migrasi masa lalu. Sebaliknya, struktur umur penduduk saat ini akan
menentukan perkembangan penduduk di masa yang akan datang.
Indonesia telah mengalami perubahan bentuk piramida yang disebabkan oleh
penurunan kelahiran dan penurunan kematian bayi beberapa dekade yang lalu.
Dalam hal ini dapat diidentifikasi 3 macam bentuk piramida penduduk secara umum,
yaitu:
a. Piramida penduduk yang mempunyai dasar lebar menunjukkan terjadinya
kelahiran yang tinggi diwaktu-waktu yang lalu.

30

b. Piramida penduduk yang berbentuk kerucut menunjukkan kelahiran besar di


waktu yang lalu tetapi kematian bayi yang tinggi menyebabkan proporsi
penduduk yang dapat hidup terus keusia dewasa dan menjadi tua lebih sedikit.
c. Piramida penduduk dengan badan gemuk dan dasar yang sama atau lebih kecil
dan dengan ujung atas yang membesar menunjukkan bahwa beberapa waktu
yang lalu telah terjadi jumlah kelahiran yang cukup besar, tetapi tingkat kematian
bayi menurun sehingga jumlah bayi yang lahir dan tetap hidup mencapai usia
dewasa lebih banyak dari jumlah sebelumnya.
Dengan melihat gambar piramida penduduk, secara sekilas kita mengetahui struktur
umur penduduk dan implikasinya terhadap tuntutan pelayanan kebutuhan dasar
penduduk (baik balita, remaja, dewasa, laki-laki dan perempuan, dan lansia)
sekaligus melihat potensi tenaga kerja serta membayangkan kebutuhan akan
tambahan kesempatan kerja yang harus diciptakan.
3. Sumber Data
Sumber data yang digunakan adalah hasil Sensus Penduduk (SP). Untuk membuat
piramida penduduk berdasarkan data SP, data yang dibutuhkan adalah jumlah
penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur 5 tahunan : 0-4; 5-9; 10-14;
15-19; 20-24; 25-29; 30-34; 35-39; 40-44; 45-49; 50-54; 55-59; 60-64; 65-69; 70-74;
75 tahun ke atas.
4. Contoh
Gambar Piramida Penduduk Indonesia, SP 2000 (data dirapikan)

5. Interpretasi
Gambar piramida penduduk Indonesia tahun 2000 sebagaimana tertera di atas
menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang berada pada kelompok umur di bawah 9
tahun sudah mulai berkurang karena penurunan jumlah kelahiran selama 10 tahun
yang lalu. Kecuali usia 10-14 tahun, jumlah penduduk diatas 9 tahun menunjukkan
31

jumlah yang membengkak pada badan priamida penduduk. Ini menunjukkan


besarnya penduduk yang mencapai usia kerja.
Tabel 6. Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur, Jenis Kelamin, Provinsi,
dan Kabupaten/Kota, 2005
Number of Population by Sex and Age Group

Sumber Source : SPAN (Sensus penduduk Aceh dan Nias), SUPAS (Survai Penduduk Antar Sensus) 2005

Dari data statistik diperoleh bahwa usia 5-9 tahun menempati jumlah terbanyak
sebesar 22,109,704 jiwa, dan selanjutnyya usia 10-14 sebesar 21,852,247 jiwa.
Pada usia tersebut belum produktif masih tergantung pada orang-orang lain terutama
keluarga.
Masalah-masalah yang dapat timbul akibat keadaan demikian adalah:
a. Aspek ekonomi dan pemenuhan kebutuhan hidup keluarga
Banyaknya beban tanggungan yang harus dipenuhi biaya hidupnya oleh
sejumlah manusia produktif yang lebih sedikit akan mengurangi pemenuhan
kebutuhan ekonomi dan hayat hidup.
b. Aspek pemenuhan gizi
Kemampuan ekonomi yang kurang dapat pula berakibat pada pemenuhan
makanan yang dibutuhkan baik jumlah makanan (kuantitatif) sehingga dampak
lebih lanjut adalah adanya rawan atau kurang gizi (malnutrition). Pada gilirannya
nanti bila kekurangan gizi terutama pada usia muda (0-5 tahun). Akan
mengganggu perkembangan otak bahkan dapat terbelakang mental (retardation).
Ini berarti mengurangi mutu SDM masa yang akan datang.

32

c. Aspek Pendidikan
Pendidikan memerlukan biaya yang tidak sedikit, sehingga diperlukan dukungan
kemampuan ekonomi semua termasuk orang tua. Apabila kemampuan ekonomi
kurang mendukung maka fasilitas pendidikan juga sukar untuk dipenuhi yang
mengakibatkan pada kualitas pendidikan tersebut kurang.
d. Lapangan Kerja
Penumpukan jumlah penduduk usia muda atau produktif memerlukan persiapan
lapangan kerja masa mendatang yang lebih luas. Hal ini merupakan bom waktu
pencari kerja atau penyedia kerja. Apabila tidak dipersiapkan SDMnya dan
lapangan kerja akan berdampak lebih buruk pada semua aspek kehidupan.
Alternatif Pemecahan yang diperlukan :
1) Pengendalian angka kelahiran melalui KB
2) Peningkatan masa pendidikan.
3) Penundaaan usia perkawinan
C. Rangkuman
Komposisi penduduk adalah keadaan penduduk berdasarkan kelompok umur dan jenis
kelamin.
Komposisi penduduk penting untuk diketahui sebagai landasan dalam penyediaan
kebutuhan dasar penduduk, seperti pendidikan dan lapangan pekerjaan.
D. Latihan

800000.0

600000.0

400000.0

200000.0

.0

.0

200000.0

400000.0

600000.0

800000.0

95+
90-94
85-89
80-84
75-79
70-74
65-69
60-64
55-59
50-54
45-49
40-44
35-39
30-34
25-29
20-24
15-19
10-14
5-9
0-4

Survei Penduduk 2010 (SP 2010)


Coba diskusikan dengan teman-teman anda bagaimana interpretasi Piramida penduduk
di atas?

33

BAB VI
KEPADATAN PENDUDUK
Indikator keberhasilan:
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta dapat menginterpretasi komposisi
penduduk dengan tepat

A. Pertumbuhan Penduduk
1. Definisi
Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk di suatu wilayah
tertentu pada waktu tertentu dibandingkan waktu sebelumnya. Misalnya
pertumbuhan penduduk Indonesia dari tahun 1995 ke tahun 2000 adalah perubahan
jumlah penduduk Indonesia dari tahun 1995 sampai 2000.
2. Kegunaan
Indikator tingkat pertumbuhan penduduk sangat berguna untuk memprediksi jumlah
penduduk di suatu wilayah atau negara dimasa yang akan datang. Dengan
diketahuinya jumlah penduduk yang akan datang, diketahui pula kebutuhan dasar
penduduk ini, tidak hanya di bidang sosial dan ekonomi tetapi juga di bidang politik
misalnya mengenai jumlah pemilih untuk pemilu yang akan datang. Tetapi prediksi
jumlah penduduk dengan cara seperti ini belum dapat menunjukkan karakteristik
penduduk di masa yang akan datang. Untuk itu diperlukan proyeksi penduduk
menurut umur dan jenis kelamin yang membutuhkan data yang lebih rinci yakni
mengenai tren fertilitas, mortalitas dan migrasi.
3. Perhitungan
Kelahiran dan perpindahan penduduk di suatu wilayah menyebabkan bertambahnya
jumlah penduduk di wilayah yang bersangkutan. Sedangkan kematian
menyebabkan berkurangnya jumlah penduduk di wilayah tersebut. Pertumbuhan
penduduk suatu wilayah atau negara dihitung dengan membandingkan jumlah
penduduk awal (misal P0) dengan jumlah penduduk dikemudian hari (misal Pt).
Tingkat pertumbuhan penduduk dapat dihitung dengan menggunakan rumus secara
geometrik yaitu dengan menggunakan dasar bunga-berbunga (bunga majemuk).
Dengan rumus pertumbuhan geometrik, angka pertumbuhan penduduk (rate of
growth atau r ) sama untuk setiap tahun, rumusnya:
Pt = P0 (1+r)t
Dimana
P0 adalah jumlah penduduk awal
Pt adalah jumlah penduduk t tahun kemudian
r adalah tingkat pertumbuhan penduduk
t adalah jumlah tahun dari 0 ke t.
34

4. Contoh dan Sumber Data


Untuk mengaplikasikan rumus petumbuhan penduduk secara geometric (Geometric
Rate of Growth) diberikan contoh perhitungan dengan menggunakan data jumlah
penduduk Indonesia 1995 dari hasil Survai Penduduk Antar Sensus (Supas) 1995
yakni 194,7 juta dan data jumlah penduduk 2000 dari hasil Sensus Penduduk (SP)
2000 yakni 205,8 juta. Dengan mengaplikasikan rumus di atas maka tingkat
pertumbuhan penduduk Indonesia tahun 1995-2000 adalah:
Pt = P2000 = 205,8 juta ;
P0 = P1995 = 194,7 juta ;
t = 2000 - 1995 = 5 tahun.
Bila data diatas kedalam rumus pertumbuhan geometrik, maka:
205.800.000
log(205.800.000/194.700.000)
--------------------------------------5
0,0048
10 0,048
1,0111
r

= 194.700.000 * ( 1+ r) 5

= log(1+r)
=
=
=
=

log (1 + r)
1+r
1 + r
0,0111

5. Interpretasi
Angka pertumbuhan penduduk Indonesia antara tahun 1995-2000 adalah 1,11% per
tahun. Artinya setiap tahun antara 1995 dengan tahun 2000 jumlah penduduk
Indonesia bertambah sebesar 1,11 persen nya. Dengan angka pertumbuhan ini
dapat dihitung perkiraan jumlah penduduk pada tahun yang akan datang.
B. Persebaran Penduduk
1. Konsep
Persebaran penduduk atau disebut juga distribusi penduduk menurut tempat tinggal
dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu persebaran penduduk secara geografis dan
persebaran penduduk secara administratif, disamping itu ada persebaran penduduk
menurut klasifikasi tempat tinggal yakni desa dan kota. Secara geografis, penduduk
Indonesia tersebar di beberapa pulau besar dan pulau-pulau atau kepulauan. Secara
administratif (dan politis), penduduk Indonesia tersebar di 33 propinsi, yang
mempunyai lebih dari 440 kabupaten dan kota.
2. Kegunaan
Permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan persebaran penduduk secara
geografis sejak dahulu hingga sekarang adalah persebaran atau distribusi penduduk

35

yang tidak merata antara Jawa dan luar Jawa. Penyebab utamanya adalah keadaan
tanah dan lingkungan yang kurang mendukung bagi kehidupan penduduk secara
layak. Ditambah lagi, dengan kebijakan pembangunan di era orde baru yang
terkonsentrasi di pulau Jawa, yang menyebabkan banyak penduduk yang tinggal di
luar pulau Jawa bermigrasi dan menetap di pulau Jawa.
Informasi tentang distribusi penduduk secara geografis dan terkonsentrasinya
penduduk di suatu tempat memungkinkan pemerintah mengatasi kepadatan
penduduk, yang umumnya disertai dengan kemiskinan, dengan pembangunan dan
program-program untuk mengurangi beban kepadatan penduduk atau melakukan
realokasi pembangunan di luar Jawa atau realokasi penduduk untuk bermukim di
tempat lain.
3. Indikator Persebaran Penduduk
Kepadatan penduduk berkaitan dengan daya dukung (carrying capacity) suatu
wilayah. Indikator yang umum dipakai adalah Rasio Kepadatan Penduduk (density
ratio) yaitu rasio yang menyatakan perbandingan antara banyaknya penduduk
terhadap luas wilayah atau berapa banyaknya penduduk per kilometer persegi pada
tahun tertentu.
Rumus :

4. Contoh
Indonesia pada tahun 2000 dengan luas wilayah 1.937.179 km2 mempunyai jumlah
penduduk sebanyak 205.843.300 orang. Dengan menggunakan rumus Rasio
Kepadatan Penduduk diperoleh angka pada tahun 2000 sebesar 109. Artinya, tiap
km2 wilayah Indonesia dihuni oleh 109 orang penduduk.
Bila dibandingkan dengan kepadatan penduduk menurut pulau/propinsi, kepadatan
nasional masih lebih rendah dibandingkan pulau Jawa yaitu 951 pada tahun 2000. Di
wilayah DKI terdapat kecamatan atau kelurahan dengan kepadatan penduduk diatas
15.000 orang per kilometer persegi. Wilayah padat ini tentunya memerlukan
perhatian pemerintah sehubungan dengan kelayakan dan martabat hidup
penduduknya.

36

Tabel 7
Kepadatan Penduduk per Km2 menurut Provinsi
Population Density per Km2 by Province
Provinsi
Province
00. Indonesia
1. Nanggroe Aceh Darussalam
2. Sumatera Utara
3. Sumatera Barat
4. Riau
5. Jambi
6. Sumatera Selatan
7. Bengkulu
8. Lampung
9. Kep. Bangka Belitung
10. Kepulauan Riau
11. DKI Jakarta
12. Jawa Barat
13. Jawa Tengah
14. DI Yogyakarta
15. Jawa Timur
16. Banten
17. Bali
18. Nusa Tenggara Barat
19. Nusa Tenggara Timur
20. Kalimantan Barat
21. Kalimantan Tengah
22. Kalimantan Selatan
23. Kalimantan Timur
24. Sulawesi Utara
25. Sulawesi Tengah
26. Sulawesi Selatan
27. Sulawesi Tenggara
28. Gorontalo
29. Sulawesi Barat
30. Maluku
31. Maluku Utara
32. Irian Jaya Barat
33. Papua

Tahun Year
1971
1980
62
78
36
50
93
114
56
79
17
23
22
27
33
50
24
39
83
131
na
na
na
na
7,762
9,794
467
794
640
780
785
863
532
609
na
na
381
438
109
135
48
58
14
17
5
6
45
47
4
5
90
139
13
20
71
97
26
25
na
na
na
na
15
30
na
na
na
na
2
3

1990
95
66
139
93
35
38
68
60
170
na
na
12,439
1,023
876
914
678
na
493
167
69
22
9
60
8
162
27
112
35
na
na
40
na
na
5

2000
108
76
158
99
52
45
67
74
191
56
na
12,592
1,033
959
980
726
936
559
199
83
27
12
69
11
132
35
129
48
68
na
26
25
na
6

2005
116
78
169
106
62
49
73
78
201
65
na
13,344
1,126
982
1,049
757
1,044
601
208
90
28
12
75
12
139
36
136
51
75
na
27
29
na
7

Sumber / Source : Sensus Penduduk (1971, 1980, 1990, 2000) dan Supas 2005

Dari data tersebut diperoleh bahwa penduduk terpadat terdapat di wilayah DKI
Jakarta dengan 13,344/KM2 .
5. Permasalahan yang timbul
Ketidakseimbangan kepadatan penduduk ini mengakibatkan ketidakmerataan
pembangunan baik fisik maupun non fisik yang selanjutnya mengakibatkan keinginan
untuk pindah semakin tinggi. Arus perpindahan penduduk biasanya bergerak dari
37

daerah yang agak terkebelakang pembangunannya ke daerah yang lebih maju,


sehingga daerah yang sudah padat menjadi semakin padat.
Pemecahan Masalah:
Untuk memecahkan masalah ini dilaksanakan program pepindahan penduduk dari
daerah padat ke daerah kekurangan penduduk, yaitu program transmigrasi.
Sasaran utama program transmigrasi semula adalah untuk mengurangi kelebihan
penduduk di Pulau Jawa. Tetapi ternyata jumlah penduduk yang berhasil
ditransmigrasikan keluar Jawa sangat kecil jumlahnya. Pada tahun 1953
direncanakan 100.000 penduduk, tetapi hanya sebanyak 40.000 orang yang berhasil
dipindahkan (BPS 1994:90)
Walaupun demikian, program transmigrasi sudah menunjukan hasilnya di mana
penduduk yang tinggal di Pulau Jawa turun dari 60% pada tahun 1990,
diproyeksikan menjadi 57,7% pada tahun 2000. Sebaliknya diluar Jawa
diproyeksikan akan terjadi kenaikan tahun 1990-2000. Di Pulau Sumatera naik dari
21% pada tahun 1990 menjadi 21,65 % pada tahun 2000 (BPS 1990:6-7).
C. Rangkuman
Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk pada suatu wilayah dari
tahun ke tahun tertentu. Pertumbuhan penduduk mengindikasikan laju pertambahan
penduduk setiap tahunnya. Dengan dikatahuinya pertumbuhan penduduk, maka dapat
diantisipasi pemenuhan kebutuhan dasar penduduk juga dapat memprediksi jumlah
pemilih dalam pemilihan umum.
Persebaran penduduk Indonesia secara administratif ada di 33 provinsi kepadatan
penduduk tidak merata antara pulau Jawa dan luar Jawa, ini di atasi dengan program
transmigrasi. Ratio kepadatan penduduk (density ratio) merupakan perbandingan
banyaknya jumlah penduduk per km2 pada suatu wilayah dan tahun tertentu.
D. Latihan
1. Pertumbuhan penduduk terjadi 1,11% antara tahun1995-2000, apa artinya?
2. Diskusikan dengan teman-temanmu apa akibatnya jika Jakarta kepadatan
penduduknya tidak terkendali?

38

BAB VII
PENUTUP

A. Kesimpulan
Membahas Ilmu Demografi berarti kita membahasa masalah-masalah kependudukan.
Oleh karena itu hal-hal yang terkait dengan kependudukan dapat kita pelajari melalui
Demografi. Berangkat dari para pakar kependudukan lahirlah ilmu Demografi.
Setidaknya ada tiga komponen utama Demografi yaitu: fertilitas, mortalitas dan migrasi.
Komposisi penduduk juga kita pelajari dalam Demografi, ini penting untuk diketahui
sebagai landasan dalam perencanaan pembangunan.
Kepadatan penduduk yang tidak terkendali dapat berdampak pada masalah-masalah
sosial. Oleh karena itu harus dikendalikan dan diatur distribusi penduduknya tidak
terpusat pada satu daerah/pulau Jawa saja.
B. Implikasi
Dengan mempelajari ilmu demografi para pegawai BKKBN khususnya dapat lebih
memahami akan pentingnya unsur-unsur yang terkait dengan kependudukan sehingga
dalam melaksanaan tugasnya dapat memberikan arah dalam pelaksanaan program
kependudukan dan Keluarga Berencana.
C. Tindak Lanjut
1. Setelah mempelajari pengantar demografi anda disarankan untuk mendalami lebih
lanjut penguasaan materi demografi secara lebih spesifik.
2. Mengamati fenomena kependudukan yang terjadi di lingkungan sekitar danm
mengaitkan dengan ilmu demografi.
3. Memberikan masukan dalam pelaksanaan program kependudukan dan Keluarga
Berencana di unit anda bekerja.

39

DAFTAR PUSTAKA

1. R.H. Pardoko, Kebijaksanaan Kependudukan Nasional, BKKBN, Jakarta; 1980.


2. Sri Rahayu Sanusi, SKM, M.Kes, Masalah Kependudukan di Negara Indonesia,
Universitas Sumatera Utara; 2003.
3. Prof. Dr. Haryono Suyono, Makalah dan Paper KB dan Kependudukan, BKKBN,
2001-2002.
4. Tim Penulis Lembaga Demografi Universitas Indonesia, Dasar-dasar Demografi,
Salemba Empat, 2010.
5. www.bkkbn.go.id, tanggal 10 Agustus 2011 pkl 14.00
6. www.datastatistik-indonesia.com , tanggal 23 Agustus 2011, pkl 10.00
7. www. edukasi.net, tanggal 2 Oktober 2011 pkl 20.49
8. www. Ld.feui.org, tanggal 2 Oktober 2011 pkl 21.45

40