Anda di halaman 1dari 13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Dasar Mekanisme Perpindahan Panas


Di dalam industri proses kimia masalah perpindahan energi atau panas

adalah hal yang sangat banyak dilakukan. Sebagaimana diketahui bahwa


perpindahan panas dapat terjadi melalui tiga cara, dimana mekanisme perpindahan
panas itu sendiri berlainan adanya.
Perpindahan panas merupakan ilmu yang mempelajari tentang laju
perpindahan panas diantara material atau benda dikarenakan adanya perbedaan
suhu (panas dan dingin). Dimana panas akan mengalir dari tempat yang
bertenperatur lebih tinggi ke tempat yang bertemperatur lebih rendah. Kegunaan
dari ilmu transfer panas atau perpindahan panas ini antara lain :
1) Untuk merencanakan alat-alat penukaran panas (heat exchanger).
2) Untuk menghitung kebutuhan media pemanas atau pendingin pada suatu
reboiler ataupun kondensor dalam kolom destilasi
3) Untuk menghitung furnace/dapur dengan mengunakan prinsip radiasi
4) Untuk perancangan ketel uap/boiler
5) Untuk perancangan alat-alat penguap (evaporator)
6) Untuk perancangan reaktor kimia
Terdapat tiga macam cara transfer energy: Konduksi (hantaran), konveksi,
dan radiasi (sinaran). Semua proses transfer panas memerlukan satu atau lebih
dari tiga tipe transfer energy tersebut.Adapun perpindahan panas tersebut dapat
dilakukan dengan :
1) Secara molekuler, yang disebut dengan konduksi.
2) Secara aliran yang disebut dengan perpindahan konveksi.
3) Secara gelombang elektromagnetik yang disebut dengan radiasi.
2.2.

Perpindahan Panas Secara Konduksi


Peristiwa konduksi adalah salah satu bentuk peristiwa perpidahan panas

yang terjadi karena adanya interaksi dari molekul-molekul suatu substansi,


dimana terjadi perpindahan panas dalam bentuk cairan, gas, atau padatan tanpa

adanya perpindahan partikel-partikeldalam bahan tersebut melalui medium tetap.


Proses konduksi dapat terjadi pada molekul cairan, padatan dan gas yang
diakibatkan oleh pergerakan molekul-molekul yang berdekatan. Gas dengan suhu
yang tinggi, memiliki energi kinetik yang lebih besar dan memberi energinya ke
molekul terdekat yang berada pada level terendah. Dalam konduksi, energi juga
dapat berpindah karena elektron bebas. Contoh perpindahan panas secara
konduksi yaitu perpindahan panas melalui dinding heat exchanger atau sebuah
refrigerator, perlakuan panas pada steel forgins dan lain-lain.
2.3.

Perpindahan Panas Secara Konveksi


Bila arus atau partikel partikel makroskopik fluida melintas suatu

permukaan tertentu, seperti umpamanya bidang batas atau volume kendali, arus
itu akan ikut membawa serta sejumlah tertentu entalpi. Aliran entalpi ini disebut
aliran konveksi kalor atau singkatnya konveksi. Oleh karena konveksi itu
merupakan suatu fenomena makroskopik, ia hanya berlangsung bila ada gaya
yang bekerja pada partikel atau ada arus fluida yang dapat membuat gerakan
melawan gaya gesekan. Konveksi sangat erat kaitannya dengan mekanika fluida.
Bahkan secara termodinamik, konveksi itu dianggap bukan sebagai aliran kalor,
tetapi sebagai fluks entalpi. Contoh konveksi ialah perpindahan entalpi oleh
pusaranpusaran aliran turbulen dan oleh arus udara panas yang mengalir melintas
dan menjauhi radiator ( pemanas ) biasa.
Ada dua macam konveksi antara lain adalah Konveksi Alamiah dan
Konveksi Paksa. Gayagaya yang menggerakkan arus konveksi di dalam arus
fluida terdiri dari 2 macam. Jika arus itu terjadi sebagai akibat gaya apung yang
disebabkan oleh perbedaan densitas dan perbedaan densitas ini adalah akibat dari
adanya gradien suhu di dalam massa fluida itu, maka peristiwa itu disebut
konveksi alamiah ( natural convection ). Contoh konveksi alamiah ialah aliran
udara melintas radiator panas. Jika arus itu digerakkan oleh suatu peranti mekanik
seperti pompa dan agitator ( pengaduk ), aliran itu tidak bergantung pada gradien
densitas, dan disebut dengan konveksi paksa ( forced convection ).Contoh
konveksi paksa ialah aliran kalor melalui pipa panas. Kedua macam gaya ini

mungkin pula bekerja bersamasama di dalam fluida yang sama, sehingga


konveksi alamiah dan konveksi paksa berlangsung bersamasama.
Gradien temperatur pada proses konveksi paksa ditunjukkan pada Gambar 2.3.1

Gambar 2.3.1. Gradien temperatur pada proses konveksi paksa


(Sumber: McCabe, 1993)

2.4.

Perpindahan Panas Secara Radiasi


Radiasi adalah istilah yang digunakan untuk perpindahan energi melalui

ruang oleh gelombang gelombang elektromagnetik. Jika radiasi berlangsung


melalui ruang kosong, ia tidak ditransformasikan menjadi kalor atau bentuk
bentuk lain energi, dan ia tidak pula akan terbelok dari lintasannya. Tetapi
sebaliknya bila terdapat zat pada lintasannya, radiasi itu akan mengalami transmisi
( diteruskan ) , refleksi ( dipantulkan ) dan absorpsi ( diserap ). Hanya energi yang
diserap itu saja yang muncul sebagai kalor dan transformasi itu bersifat
kuantitatif. Sebagai contoh, kuarsa lebur akan meneruskan hamper semua radiasi
yang menimpanya : permukaan buram, mengkilap atau cermin memantulkan
sebagian besar radiasi yang jatuh padanya sedang, permukaan hitam atau yang
tidak mengkilap akan menyerap kebanyakan radiasi yang diterimanya dan
mengubah energi yang diserapnya itu secara kuantitatif menjadi kalor.
2.5.

Koefisien Perpindahan Panas


Perpindahan panas antara dua fluida yang dipisahkan oleh pelat terjadi

secara konduksi dan konveksi. Jika konduksi dan konveksi secara berurutan, maka
tahanan panas yang terlibat (konduksi dan konveksi) dapat dijumlahkan untuk
memperoleh koefisien perpindahan panas keseluruhan (U). Besaran 1/Uh dan

1/Uc disebut tahanan keseluruhan terhadap perpindahan panas dan merupakan


jumlah seri dari tahanan di fasa fluida panas, pelat, dan fluida dingin.Secara
matematis dapat dirumuskan:
xw
1
Uh

dAw
dAh

1
hh

hc

1
dAc
dAh

(1)

dan
xw
1
Uc

1
hc

dAw
dAc

k
+

hh

1
dAh
dAc

(2)

dimana :

1
Uh
= tahanan panas keseluruhan atas dasar fluida panas

1
Uc
= tahanan panas keseluruhan atas dasar fluida dingin
hh = koefisien perpindahan panas di fluida panas
hc = koefisien perpindahan panas di fluida dingin
xw = tebal pelat
k = konduktivitas pelat

Perpindahan panas menjadi:


dQ
dA

= U ( Th Tc )

(3)

dQ
dA
Th Tw, h
hh =

(4)

dQ
dA
Tw,c Tc
hc =

(5)

Keterangan:
dQ/dA = fluks panas per unit perpindahan panas di mana perbedaan temperatur (Th
-Tc).
U

= koefisien perpindahan panas keseluruhan

Tw = temperatur dinding pelat.

Bilangan Reynolds merupakan bilangan tak berdimensi yang didefinisikan


sebagai perbandingan antara gaya inersia terhadap gaya viscous dalam system
aliran fluida. Secara matematis dapat dirumuskan:

.D.v

NRE =

(6)

dimana
= densitas fluida (kg/m3)
v = laju alir fluida (m/s2)
= viskositas fluida (ms2/kg)
D = diameter (m)

2.6.

Neraca Massa dan Energi pada Sistem Alat Perpindahan Panas


Karakteristik alat perpindahan panas ditentukan oleh beberapa faktor,

antara lain:
1) Jenis fluida yang akan dipertukarkan panasnya
2) 2. Laju alir fluida
3) Tipe aliran yang dipakai (co-current atau counter-current)
4) Letak fluida panas dan dingin, di dalam atau di luar alat penukar panas
tersebut.
Dalam neraca entalpi pendingin dan pemanas didasarkan pada asumsi
bahwa dalam penukar kalor tidak terjadi kerja poros, sedang energi mekanik,
energi potensial, dan nergi kinetik semuanya kecil dibandingkan dengan sukusuku lain dalam persamaan neraca energi. Maka, untuk satu arus dalam penukar
kalor
Q= m ( Hb - Ha )
Dimana,
m = laju aliran massa dalam arus tersebut

(7)

Q
t
q=

= laju perpindahan kalor ke dalam arus

Ha & Hb = entalpi per satuan massa arus pada waktu masuk dan pada waktu keluar.

Penggunaan laju perpindahan kalor dapat lebih disederhanakan dengan


asumsi salah satu dari fluida dapat mengambil kalor dan melepaskan kalor ke
udara sekitar jika fluida itu lebih dingin dari udara. Perpindahan kalor dari atau ke
udara sekitar dibuat sekecil mungkin dengan isolasi yang baik sehingga
kehilangan kalor tersebut diabaikan terhadap perpindahan kalor yang melalui
dinding tabung yang memisahkan udara panas dan udara dingin.
2.7.

Hukum Fourier
Hubungan dasar yang menguasai aliran kalor melalui konduksi ialah

berupa kesebandingan yang ada antara laju aliran kalor melintas permukaan
isotermal dan gradien suhu yang terdapat pada permukaan itu. Hubungan umum
ini, yang berlaku pada setiap lokasi di dalam suatu benda, pada setiap waktu
disebut hukum fourier. Hukum Fourier menyatakan bahwa k tak bergantung pada
gradient suhu tetapi tidak selalu demikian halnya dengan suhu itu sendiri.
Hukum itu dapat dituliskan sebagai :
dq
dA

= -k

T
n

(8)

dimana :
A = luas permukaan isothermal
n = jarak, diukur normal ( tegak lurus ) terhadap permukaan itu
q = laju aliran kalor melintas permukaan pada arah normal terhadapnya
T = suhu
k = konstanta proporsionalitas ( tetapan kesebandingan )

Termal konduktivitas adalah proses untuk memindahkan energi dari bagian


yang panas kebagian yang dingin dari substansi oleh interaksi molekuler. Dalam
fluida, pertukaran energi utamanya dengan tabrakan langsung. Pada solid,
mekanisme utama adalah vibrasi molekuler. Konduktor listrik yang baik juga
merupakan konduktor panas yang baik pula. Konduktivitas termal k ialah suatu

konstanta (tetapan) yang ditentukan dari eksperimen dengan medium itu. Satuan k
adalah Btu/hr.ft.oFatau W/m.K.
Konduktivitas termal zat padat atau biasanya Konduktivitas termal logam
dalam fase padat yang diketahui komposisinya dan hanya tergantung pada suhu
saja. Konduktivitas termal logam dalam jangkauan suhu yang cukup luas biasanya
dinyatakan dengan rumus:
K = Ko (1+ b + C2)

(9)

Dimana
= T T rujukan
Ko = konduktivitas pada suhu rujukan T rujukan

Kisaran suhu ini, pada berbagai penerapan teknik, biasanya cukup kecil
dan biasanya hanya beberapa ratus derajat, sehingga:
K = Ko ( 1 + h )

(10)

Konduktivitas termal bahan homogen biasanya sangat bergantung pada


aparent bulk density, yaitu massa bahan dibagi dengan volume total.
Konduktivitas termal zat cair dalam hal ini k bergantung pada suhu, tetapi
tidak peka terhadap tekanan. Konduktivitas termal kebanyakan zat cair berkurang
bila suhu makin tinggi, kecuali air dimana k bertambah sampai 300 oF dan
berkurang pada suhu yang lebih tinggi. Air mempunyai konduktivitas termal
paling tinggi diantara semua zat cair, kecuali logam cair.
Konduktivitas termal gas bertambah jika suhu makin tinggi tetapi pada
tekanan di sekitar tekanan atmosfir. Hampi tidak tergantung pada besarnya
tekanan. Dua gas yang sangat penting ialah udara dan uap air.
Konduksi Steady State pada one dimensional. Kondisi steady state adalah
suatu keadaan dimana variabel-variabel yang ada pada suatu sistem tidak berubah.
Pada tekanan steady state kita mengabaikan tambahan kerja dan sistem tidak dapat
berubah. Dengan kata lain, Penambahan panas pada sistem harus seimbang
dengan panas yang hilang. Istilah one dimensional berarti bahwa sistem variabel
seperti t, hanya berbeda pada satu dimensi atau spasi koordinat, dinotasikan
dengan x.

2.8.

Indirect Contact
Pengertian dari Indirect Contact adalah panas pada dinding menuju fluida,

selain itu juga didalam peristiwa iru timbul pula Energi Difisasi yaitu energi yang
ditambahkan terhadap fluida yang perpindahan panasnya mengalir tergantung
pada median pipanya. Didalam ilmu teknik kimia, median pemanas tersebut
terdiri dari tiga bagian yaitu :
1) Panas Laten (Constan Wall Temperatur), merupakan panas yang ada di pipa
sama secara keseluruhan (konstan dimana-mana), temperatur konstan, tetapi
terjadi perubahan fase.
2) Panas Sensible (Linier Wall Temperatur), dimana yang terjadi adalah
temperatur didalam pipa berbeda/berubah dan tidak terjadi perubahan fase.
3) Energi Listrik (Constan Wall Heat Flux), panas yang ditimbulkan oleh listrik
pada dindingnya (pipa) menimbulkan pipa menjadi panas yang sama
2.9.

Heat Exchanger
Heat exchanger adalah peralatan yang didesain untuk transfer panas yang

efisien dari suatu fluida ke fluida lain dan umum digunakan dalam proses kimia.
Beberapa contoh penggunaan di pabrik antara lain :
1)

Intercoolers

2)

Preheaters

3)

Boilers

4)

Condensers
Dengan mengaplikasikan hukum Termodinamika I pada heat exchanger

dalam kondisi steady state, maka kita dapatkan :


mi . hi = 0

(11)

Keterangan:
mi = aliran massa fluida ke-i
hi

= perubahan specific enthalpy fluida ke-i

Ada tiga tipe penukar panas yang sering digunakan, yakni plate and
frame/ gaskette plate (umumnya disebut plate exchanger), spiral plate, dan
lamella. Kesamaan dari ketiga konfigurasi ini adalah permukaan pemindahan
panas sama-sama terdiri dari paralel lempeng logam yang dipisahkan permukaan

kontak dan panas yang diterima mengubah aliran fluida pada saluran tipis.
Penukar panas jenis plate adalah penukar panas yang dapat memindahkan panas
lebih baik dari 2 konfigurasi lainnya. Kelebihan lain penukar panas jenis plate ini
adalah:
1) fleksibel dalam penyusunan arah alir fluida
2) memiliki laju perpindahan panas yang tinggi
3) mudah dalam pengecekan/ inspeksi dan perawatan.
Proses pertukaran panas di industri digunakan untuk pemenuhan
kebutuhan unit proses dan untuk konservasi energi. Penukar panas yang baik
adalah

yang

memiliki

laju

perpindahan

panas

seoptimal

mungkin.

Ketidakoptimalan laju perpindahan panas ditentukan nilai koefisien perpindahan


panas keseluruhan (U). Hasil-hasil penelitian yang telah dipublikasikan
menunjukkan bahwa perubahan fluks massa udara dapat meningkatkan nilai U
untuk setiap laju alir massa flue gas konstan pada alat penukar panas jenis plat.
Marriot (1971) membatasi rentang bilangan Reynolds yang efektif untuk fluida
operasi gas-gas adalah 10-400. Pada bilangan Reynolds yang terlalu tinggi, laju
alir fluida juga akan tinggi, yang akan menyebabkan perpindahan panas tidak
efektif.
2.10.

Plate Heat Exchanger


Penukar panas ( Heat Exchanger ) adalah alat yang digunakan untuk

mempertukarkan panas secara kontinue dari suatu medium ke medium lainnya


dengan membawa energi panas. Secara umum ada 2 tipe penukar panas, yaitu:
1) Direct heat exchanger, dimana kedua medium penukar panas saling kontak
satu sama lain. Yang tergolong Direct heat exchanger adalah cooling tower dimana
operasi perpindahan panasnya terjadi akibat adanaya pengontakan langsung antara air
dan udara.

2) Indirect heat exchanger, dimana kedua media penukar panas dipisahkan oleh sekat/
dinding dan panas yang berpindah juga melewatinya. Yang tergolong Indirect heat
exchanger adalah penukar panas jenis shell and tube, pelat, dan spiral.

Menurut Bell (1959) ada beberapa tipe aliran fluida dalam pelat heat
exchanger, yaitu:

1) Seri. Pola ini digunakan untuk fluida yang laju alirnya rendah dan beda
temperaturnya tinggi.

2) Paralel. Pola ini digunakan untuk fluida yang laju alirnya lebih besar dan beda
temperaturnya rendah.

3) Seri paralel. Pola ini digunakan untuk fluida yang laju alir dan beda temperaurnya
tidak terlalu tinggi (menengah).

Penukar panas jenis pelat terdiri atas pelat-pelat tegak lurus yang
dipisahkan sekat-sekat berukuran antara 2 sampai 5 mm. Pelat-pelat ini berbentuk
empat persegi panjang dengan tiap sudutnya terdapat lubang. Melalui dua di
antara lubang-lubang ini fluida yang satu dialirkan masuk dan keluar pada satu
sisi, sedangkan fluida yang lain karena adanya sekat mengalir melalui ruang
antara di sebelahnya. Struktur umum penukar panas kenis pelat yang
dipublikasikan Marriot, 1971 dapat dilihat pada gambar 2.10.1 berikut

Gambar 2.10.1. Penukar panas jenis pelat


(Sumber: Marriot, 1971)

Banyak pelat bergelombang, sehingga aliran turbulen sudah tercapai pada


bilangan Reynolds antara 10-400. Pelat yang lebih tipis akan memberikan
perpindahan panas yang lebih efisien, uniform, dan proses kontrol yang lebih
baik. Berdasarkan konstruksinya, penukar panas pelat dapat dibagi menjadi 2
macam, yaitu:
1) Gasketted Plate Heat Exchanger, mudah dimodifikasi karena desainnya fleksibel.
Fungsi utama gasket adalah menjaga tekanan fluida, menjaga laju alir fluida dan
mencegah pencampuran fluida. Selain iu, gasket juga mudah dibuka untuk kontrol
dan pembersihan.

2) Brazed Plate Heat Exchanger adalah pengembangan jenis gasket. Kelebihannya


adalah lebih kompak, dan digunakan untuk tekanan dan temperatur tinggi.

2.11.

Jenis-Jenis Plate Heat Exchanger

Penukar panas jenis pelat didasarkan pada ragam aliran fluida operasi.
Berdasarkan hal ini penukar panas jenis pelat dapat dibedakan menjadi:
1) Penukar panas pelat beraliran jamak (multipass plate heat exchanger)
2) Penukar panas pelat berlawanan arah (countercurrent plate heat exchanger)
3) Penukar panas pelat bersilangan arah (crosscurrent plate heat exchanger)
Alat penukar panas saluran jamak memiliki spesifikasi aliran berupa
saluran jamak laluan (multipass) untuk aliran udara pendingin dan saluran tunggal
untuk aliran flue gas. Penukar panas pelat secara skematik dapat dilihat pada
Gambar 2. Proses pertukaran panas pada penukar panas jenis ini secara sederhana
mirip dengan proses pertukaran panas pada penukar panas pipa ganda (double
pipe heat exchanger). Perbedaannya terletak pada bentuk alur laluan fluida. Pada
pipa ganda alur laluan fluida pendinginnya sejajar dengan alur laluan fluida
panasnya. Baik fluida dingin maupun panas memiliki alur aliran yang lurus
(smooth ). Sedangkan pada penukar panas pelat beraliran jamak alur laluan fluida
dingin membentuk huruf U dan sejajar dengan alur laluan fluida panas.
Pada alat penukar panas berlawanan arah, kedua fluida, flue gas, dan udara
pendingin mengalir masuk ke penukar panas dalam arah yang berlawanan dan
keluar sistem dalam arah yang berlawanan juga. Pada penukar panas pelat
bersilangan arah, udara bergerak menyilang melalui matriks perpindahan panas
yang dilalui oleh flue gas.
2.12.

Alat Penukar Panas Saluran Jamak


Alat penukar panas saluran jamak memiliki spesifikasi aliran berupa

saluran jamak banyak laluan (multipass) untuk aliran udara pendingin dan saluran
tunggal untuk aliran flue gas. Dengan adanya saluran jamak ini, perpindahan
panas berlangsung secara bertahap sehingga laju penurunan temperatur flue gas
lebih teratur. Fluida panas (flue gas) yang digunakan dalam penelitian ini adalah
udara yang berasal dari kerangan (valve) yang dipanaskan oleh alat pemanas udara
(heater) dan udara ambient sebagai fluida dingin.

2.13.

Examining the Heat Exchanger Equation


Perpindahan panas dalam bentuk kalor dapat terjadi diberbagai tipe proses

baik secara kimia maupun fisika. Perpindahan panas sering terjadi dalam berbagai
unit operasi. Perpindahan panas terjadi dikarenakan perbedaan temperatur driving
force dan aliran panas dari daerah temperatur panas ke temperatur yang
rendah.Seperti yang terjadi pada Heat Exchanger. Jika kita melihat lebih dekat
persamaan Heat Exchanger, ada beberapa asumsi yang berasal dari turunannya.
Pertama, overall heat exchanger dan panas jenis (juga disebut kapasitas panas)
dari cairan diasumsikan konstan pada heat exchanger. Jika kita lihat perubahan
heat exchenger dalam air, sebagai contoh, pada temperatur layak, di sini dapat
ditemukan:
1) Panas jenis air pada 100 F dan tekanan udara= 0.9979 Btu / lb F
2) Panas jenis air pada 210 F dan tekanan udara= 1.0066 Btu / lb F
Overall heat exchanger coefficient adalah suatu variabel yang dapat
dihitung berdasarkan pada sifat fisis cairan dalam heat exchanger ( dingin dan
panas) seperti halnya ilmu ukur dan jenis heat exchanger yang digunakan.
Cairan pada heat exchanger dapat berpindah arah kebalikan satu sama
lainnya. Ini dikenal sebagai counter-current arus. Arah arus ini mengakibatkan
lebih tinggi temperatur perbedaan daya penggerak di dalam haet exchanger,
sehingga memperkecil pemindahan kalor area yang diperlukan.
Bentuk wujud arus yang lain, yaitu aliran fluida ke arah yang sama,
disebut co-current arus. Co-Current arus, mempunyai keuntungan dari penurunan
heat exchanger pada dinding temperatur dicairan sisi yang panas.
Plat exchanger terdiri dari plat berkerut dalam suatu bingkai. Pada aliran
fluida panas mengalir di satu arah aliran sedangkan pada aliran fluida dingin tidak.
Secara umum,plate and frame exchangertelah digunakan untuk liquid-liqiud pada
heat transfer. Teknologi plat sudah dibuktikan manfaatnya dari berbagai aplikasi
Plat exchanger yang paling baik adalah suatu mixer statis yang terjadi
untuk memindahkan panas yang baik. Plat exchanger, juga mengurangi
pencemaran lingkungan. Heat exchanger jenis pelat memberikan hasil yang lebih
baik dalam proses pertukaran panas, karena:

1) Menggunakan material tipis untuk permukaan penukar panas sehingga menurunkan


tahanan panas selama konduksi.
2) Memberikan derajat turbulensi yang tinggi yang memberikan nilai konveksi yang
besar sehingga meningkatkan nilai U dan juga menimbulkan self cleaning effect
3) Faktor-faktor fouling kecil karena aliran turbulen yang tinggimenyebabkan padatan
tersuspensi, profil kecepatan pada pelat menjadi seragam, permukaan pelat secara
umum smooth, laju korosi rendah, mempunyai nilai ekonomis dalam instalasi karena
hanya membutuhkan tempat 1/4 sampai 1/10 tempat yang dibutuhkan tube dan
spiral, mudah dalam modifikasi dan pemeliharaan, penukar panas jenis pelat dapat
memindahkan panas secara efisien bahkan pada

beda temperatur sebesar 1 0C

sekalipun, penukar panas jenis pelat juga fleksibel dalam pemeliharaan aliran.