Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN LABORATORIUM UNIT PROSES HEAT CONDUCTION

OLEH KELOMPOK 4 1. Firmansyah Putra 2. Laras Diah Pratiwi 3. Naufal Husnan 4. Nahdia Chairani (03111003013) (03111003054) (03111003063) (03111003092)

5. Moh. Fauzi Hendrawan (03111003100) 6. Ahmad Ambari (03111003102)

JURUSAN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2014

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perpindahan kalor dari suatu zat ke zat lain seringkali terjadi dalam industri proses. Pada kebanyakan pengerjaan, diperlukan pemasukan atau pengeluaran kalor, untuk mencapai dan mempertahankan keadaan yang dibutuhkan sewaktu proses berlangsung. Kondisi pertama yaitu mencapai keadaan yang dibutuhkan untuk pengerjaan, terjadi umpamanya bila pengerjaan harus berlangsung pada suhu tertentu dan suhu ini harus dicapai dengan jalan pemasukan atau pengeluaran kalor. Kondisi kedua yaitu mempertahankan keadaan yang dibutuhkan untuk operasi proses, terdapat pada pengerjaan eksoterm dan endoterm. Disamping perubahan secara kimia, keadaan ini dapat juga merupakan pengerjaan secara alami. Dengan demikian, Pada pengembunan dan penghabluran (kristalisasi) kalor harus dikeluarkan. Pada penguapan dan pada umumnya juga pada pelarutan, kalor harus dimasukkan. Hukum alam menyatakan bahwa kalor adalah suatu bentuk energi. Bila dalam suatu sistem terdapat gradien suhu, atau bila dua sistem yang suhunya berbeda disinggungkan,maka akan terjadi perpindahan energi. Proses ini disebut sebagai perpindahan panas (Heat Transfer). Dari titik pandang teknik (engineering), analisa perpindahan panas dapat digunakan untuk menaksir biaya, kelayakan, dan besarnya peralatan yang diperlukan untuk memindahkan sejumlah panas tertentu dalam waktu yang ditentukan. Ukuran ketel, pemanas, mesin pendingin, dan penukar panas tergantung tidak hanya pada jumlah panas yang harus dipindahkan, tetapi terlebih-lebih pada laju perpindahan panas pada kondisikondisi yang ditentukan. Beroperasinya dengan baik komponen-komponen peralatan, seperti misalnya sudu-sudu turbin atau dinding ruang bakar, tergantung pada kemungkinan pendinginan logam-logam tertentu dengan membuang panas secara terus menerus pada laju yang tinggi dari suatu permukaan. Juga pada

rancang-bangun (design) mesin-mesin listrik, transformator dan bantalan, harus diadakan analisa perpindahan panas untuk menghindari konduksi-konduksi yang akan menyebabkan pemanasan yang berlebihan dan merusakan peralatan. Berbagai contoh ini menunjukkan bahwa dalam hampir tiap cabang keteknikan dijumpai masalah perpindahan panas yang tidak dapat dipecahkan dengan penalaran termodinamika saja, tetapi memerlukan analisa yang didasarkan pada ilmu perpindahan panas. Dalam perpindahan panas, sebagaimana dalam cabang-cabang keteknikan lainnya, penyelesaian yang baik terhadap suatu soal memerlukan asumsi (pengandaian) dan idealisasi. Hampir tidak mungkin menguraikan gejala fisik secara tepat, dan untuk merumuskan suatu soal dalam bentuk persamaan yang dapat diselesaikan kita perlu mengadakan beberapa pengira-iraan

(approximation). Pada waktu menafsirkan hasil ahir suatu analisa, kita perlu mengingat asumsi, idealisasi dan pengira-iraan yang telah kita buat selama mengadakan analisa tersebut. Kadang-kadang kita perlu mengadakan pengira-iraan keteknikan dalam penyelesaian suatu soal, karena tidak memadainya keterangan tentang sifatsifat fisik. Sebagai contoh, dalam merancang bagian-bagian mesin untuk pengoperasian pada suhu tinggi mungkin kita perlu memakai batas proporsional (proportional limit) atau kuat-lelah (fatigue strength) bahannya dari data suhu rendah. Guna menjamin pengoperasian yang memuaskan dari bagian mesin ini, perancang harus menerapkan faktor keamanan (safety factor) pada hasil yang diperoleh dari analisanya. Pengira-iraan semacam itu perlu pula dalam soal-soal perpindahan panas. Sifat-sifat fisik seperti konduktivitas termal atau viskositas berubah dengan suhu, tetapi jika dipilih suatu harga rata-rata yang tepat, maka penyelesaian soal dapat sangat disederhanakan tanpa memasukan kesalahan yang cukup besar dalam hasil ahirnya. Bila panas berpindah dari suatu fluida ke dinding, seperti misalnya didalam ketel, maka kerak terbentuk pada pengoperasian yang terus menerus dan akan mengurangi laju aliran panas. Untuk menjamin pengoprasian yang

memuaskan dalam jangka waktu yang lama, maka harus ditrapkan faktor keamanan untuk mengatasi kemungkinan ini. Dalam perpindahan panas ada tiga jenis perpindahan panas yaitu perpindahan panas dengan cara konduksi, konveksi, dan radiasi. 1.2 Tujuan 1) Untuk mengetahui prinsip dan cara kerja heat conduction apparatus. 2) Untuk mengetahui penerapan Hukum Fourier untuk konduksi linier sepanjang logam. 3) Untuk mengetahui perubahan geometris (cross sectional area) pada profil temperatur sepanjang konduktor panas dan membandingkannya dengan Q supply.

1.3 Permasalahan a) Bagaimana mengetahui pengaruh perubahan cross sectional area pada profil temperatur dan termasuk untuk menghitung koefisien perpindahan panas overall untuk masing-masing sistem konduksi. b) Bagaimanakah kesesuaian antar Q supply dengan Q hasil perhitungan dari rumus Fourier, mulai dari peristiwa konduksi untuk satu jenis logam sampai untuk komposisi logam. c) Bagaimanakah mekanisme konveksi sebagai perpindahan panas pada liquid atau gas melalui gerakan molekul-molekulnya dan pengaruh perbedaan temperatur.

1.4 Manfaat Melalui percobaan ini kita diharapkan agar dapat mengetahui penerapan konduktivitas panas pada peralatan Heat Exchanger dan penerapannya di pabrik. Dan praktikan dapat menghitung dan membandingkan berbagai macam nilai k pada setiap material.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Peristiwa Perpindahan Panas Perpindahan panas (kalor) umunya adalah bentuk kalor yang dapat

berpindah dari benda yang bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah. Hal ini terjadi dikarenakan perbedaan temperatur driving force dan aliran panas dari daerah temperatur tinggi ke panas yang rendah. Sedangkan kalor ini merupakan suatu bentuk energi atau dapat juga didefinisikan sebagai jumlah panas yang ada dalam suatu benda. Perpindahan panas dalam bentuk kalor dapat terjadi diberbagai tipe proses baik secara kimia maupun fisika. Perpindahan panas sering terjadi dalam berbagai unit operasi, seperti lumber of foods, alcohol distilation, burning of fuel, dan evaporation. Secara umum ada tiga cara perpindahan panas yang berbeda yaitu : konduksi (conduction; dikenal dengan istilah hantaran), radiasi (radiation) dan konveksi (convection; dikenal dengan istilah ilian). Jika kita berbicara secara tepat, maka hanya konduksi dan radiasi dapat digolongkan sebagai proses perpindahan panas, karena hanya kedua mekanisme ini yang tergantung pada beda suhu. Sedang konveksi, tidak secara tepat memenuhi definisi perpindahan panas, karena untuk penyelenggaraanya bergantung pada transport massa mekanik pula. Tetapi karena konveksi juga menghasilkan pemindahan energi dari daerah yang bersuhu lebih tinggi ke daerah yang bersuhu lebih rendah, maka istilah perpindahan panas dengan cara konveksi telah diterima secara umum. Konduksi adalah proses dimana panas mengalir dari daerah yang bersuhu tinggi ke daerah yang bersuhu lebih rendah di dalam satu medium (padat, cair atau gas) atau antara medium-medium yang berlainan yang bersinggungan secara langsung tanpa adanya perpindahan molekul yang cukup besar menurut teori kinetik. Suhu elemen suatu zat sebanding dengan energi kinetik ratarata molekulmolekul yang membentuk elemen itu. Energi yang dimiliki oleh suatu

elemen zat yang disebabkan oleh kecepatan dan posisi relative molekul molekulnya disebut energi dalam. Perpindahan energi tersebut dapat berlangsung dengan tumbukan elastik (elastic impact), misalnya dalam fluida atau dengan pembauran (difusi/diffusion) elektronelektron yang bergerak secara cepat dari daerah yang bersuhu tinggi kedaerah yang bersuhu lebih rendah ( misalnya logam). Konduksi merupakan satu satunya mekanisme dimana panas dapat mengalir dalam zat padat yang tidak tembus cahaya. Contoh dari perpindahan panas secara konduksi yaitu perpindahan panas melalui dinding heat exchanger atau sebuah refrigerator, perlakuan panas pada steel forgings, pendinginan tanah sepanjang musim dingin dan lain-lain. Konveksi adalah proses transport energi dengan kerja gabungan dari konduksi panas, penyimpanan energi dan gerakan mencampur. Konveksi sangat penting sebagai mekanisme perpindahan energi antara permukaan benda padat, cairan atau gas. Perpindahan panas secara konveksi diklasifikasikan dalam konveksi bebas (free convection) dan konveksi paksa (forced convection) menurut cara menggerakkan alirannya. Bila gerakan mencampur berlangsung semata mata sebagai akibat dari perbedaan kerapatan yang disebabkan oleh gradien suhu, maka disebut konveksi bebas atau alamiah (natural). Bila gerakan mencampur disebabkan oleh suatu alat dari luar seperti pompa atau kipas, maka prosesnya disebut konveksi paksa. Keefektifan perpindahan panas dengan cara konveksi tergantung sebagian besarnya pada gerakan mencampur fluida. Akibatnya studi perpindahan panas konveksi didasarkan pada pengetahuan tentang ciriciri aliran fluida. Contoh konveksi adalah perpindahan entalpi oleh pusaran-pusaran aliran turbulen dan oleh arus udara panas yang mengalir melintas dan menjauhi radiator (pemanas ) biasa. Radiasi adalah proses dimana panas mengalir dari benda yang bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah, bila bendabenda itu terpisah didalam ruang, bahkan bila terdapat ruang hampa diantara bendabenda tersebut. Semua benda memancarkan panas radiasi secara terus menerus. Intensitas pancaran tergantung pada suhu dan sifat permukaan . Energi radiasi bergerak dengan

kecepatan cahaya (3x108 m/s) dan gejalagejalanya menyerupai radiasi cahaya. Menurut teori elektromagnetik, radiasi cahaya dan radiasi termal hanya berbeda dalam panjang gelombang masing masing. Sebagai contoh, kuarsa lebur akan meneruskan hampir semua radiasi yang menimpanya: permukaan buram, mengkilap atau cermin memantulkan sebagian besar radiasi yang jatuh padanya, sedang permukaan hitam atau yang tidak mengkilap akan menyerap kebanyakan radiasi yang diterimanya, dan mengubah energi yang diserapnya itu secara kuantitatif menjadi kalor. Keseimbangan momentum, keseimbangan energi, atau keseimbangan massa pada unsteady state dapat digunakan sebagai dasar keseimbangan perpindahan panas, sehingga didapatlah suatu persamaan keseimbangan heat transfer: (panas masuk) + (panas yang terbentuk) = (panas keluar) + (panas yang terakumulasi) Jika suatu benda melepaskan kalor pada benda lain maka kalor yang diterima benda lain sama dengan kalor yang dilepas benda itu. Pernyataan ini disebut juga sebagai Asas Black, yaitu jumlah kalor yang dilepas sama dengan kalor yang diterima.

2.2 Perpindahan Panas Konduksi Ketika salah satu bagian benda yang mempunyai suhu tinggi bersentuhan dengan benda bersuhu rendah, kalor berpindah dari benda bersuhu tinggi menuju bagian benda bersuhu rendah. Adanya tambahan energi menyebabkan atom dan molekul-molekul penyusun benda bergerak semakin cepat. Ketika bergerak, molekul-molekul tersebut memiliki energi kinetik (EK = mv2). Molekulmolekul yang bergerak lebih cepat (energi kinetiknya lebih besar) maka akan menumbuk molekul yang berada di sebelahnya. Molekul-molekul yang saling bertumbuk tadi menumbuk lagi molekul lain yang berada di sebelah. Demikian seterusnya. Jadi molekul-molekul saling bertumbukan, sambil memindahkan energi. Perpindahan kalor yang terjadi melalui tumbukan antara molekul pernyusun benda dinamakan perpindahan kalor secara konduksi.

Laju perpindahan panas konduksi melalui suatu lapisan material dengan ketebalan tetap adalah berbanding lurus dengan beda suhu di pangkal dan ujung lapisan tersebut, berbandung lurus dengan luas permukaan tegak lurus arah perpindahan panas dan berbanding terbalik dengan ketebalan lapisan. Hukum Fourier menyatakan bahwa laju perpindahan kalor dengan sistem konduksi dinyatakan dengan : Gradien temperatur dalam arah-x dinyatakan dengan, dT/ dx. Luas perpindahan kalor arah normal pada arah aliran kalor, A.

Rumus Hukum Fourier:

Dimana: Qx K A = laju perpindahan kalor ( Watt ) = konduktivitas thermal, merupakan sifat material (W/m.C) = luas penampang yang tegak lurus denga arah laju perpindahan kalor (m2) dT/dx = Gradien temperatur dalam arah x (C/m) Panas dikonduksikan dari tempat yang suhunya tinggi ke tempat yang suhunya rendah. Sebagai akibatnya gradien suhu (dT/dx) kearah x positif menjadi negatif. Dengan adanya tanda negatif pada persamaan diatas akan menyebabkan nilai laju perpindahan panas dari suhu tinggi ke suhu rendah ini akan menjadi positif. Bila bahan atau material adalah isontropis maka konduktivitasnya tidak bervariasi terhadap arah x. Catatan, bahwa tanda negatif pada persamaan Fourier diatas diperoleh dari Hukum II Termodinamika untuk meyakinkan bahwa laju panas positif dalam arah penurunan temperatur (dari daerah yang memiliki panas tinngi ke daerah yang memiliki panas lebih rendah). Contoh dari perpindahan panas secara konduksi adalah ketika kita melihat seorang tukang menempah besi menjadi sesuatu barang semisal parang. Walau

hanya ujung besi yang dipanaskan, namun rasa panas akan menjalar ke semua bagian besi, sehingga para tukang biasanya mengalasi ujung besi yang tidak dipanaskan dengan kain. Contoh sederhana lainnya adalah ketika tangan kamu memegang gelas panas, maka telapak tangan kamu akan menerima panas dari gelas tersebut. Panas merambat melalui partikel zat. Partikel zat yang dilalui hanya bergetar atau bergerak lebih cepat di tempatnya kerena dilalui panas. Panas dapat mempercepat getaran atau gerakan partikel zat. 2.3 Perpindahan Panas Konduksi untuk Keadaan Satu Dimensi
Membahas konduksi panas keadaan tunak (stedy state) melalui sistem yang sederhana dimana suhu dan aliran panas merupakan fungsi dari satu koordinat saja. 1. Dinding datar Perhatikan suatu dinding datar, dimana menerapkan Hukum Fourier. Jika persamaan dintegrasikan, maka akan didapatkan :

Jika konduktifitas termal berubah menurut hubungan linier dengan suhu, seperti k = ko(1 +T), maka persamaan aliran kalor menjadi :

2. Silinder berlubang

Gambar 2.3-1 Sketsa yang melukiskan nomenklatur untuk konduksi melalui silinder berlubang.

Aliran panas radial dengan cara konduksi melalui silinder berpenampang lingkaran yang berlubang merupakan satu lagi soal konduksi satu-dimensi yang besar arti pentingnya dalam praktek. Contoh yang khas adalah konduksi melalui pipa dan melalui isolasi pipa. Jika silinder itu homogen dan cukup panjang sehingga pengaruh ujung-ujungnya dapat diabaikan dan suhu permukaan-dalamnya konstan pada Ti sedangkan suhu luarnya dipertahankan seragam pada To maka laju konduksi panasnya adalah:

3. Cangkang yang berbentuk bola

Gambar 2.3-2 Sketsa yang melukiskan nomenklatur untuk konduksi melalui cangkang yang berbentuk bola. Di antara semua bentuk geometri, bola mempunyai volume per luas permukaan luar terbesar. Karena bola berongga kadang-kadang dipergunakan dalam industry kimia untuk pekerjaan suhu rendah, bila kerugian panas harus diusahakan sekecil mungkin. Konduksi melalui cangkang bola adalah juga soal keadaan-stedi satu-dimensi jika suhu permukaan dalam dan luarnya seragam dan konstan. Laju konduksi panas dalam hal ini (Gb. 2.3-2) adalah

4. Dinding komposit Gambar 2.3-3 menunjukkan dinding komposit dari jenis yang khas dipergunakan pada tanur yang besar. Lapisan dalam yang bersinggungan dengan gas-gas yang bersuhu tinggi terbuat dari bahan tahan api. Lapisanantaranya terbuat dari bata isolasi; menyusul lapisan luar dari bata merah

biasa. Tiialah suhu gas-gas panas dan adalah konduktansi permukaan satuan pada permukaan dalam. To ialah udara disekitar tanur dari adalah konduktansi permukaan satuan pada permukaan luar.

Gambar 2.3-3 Distribusi suhu dan rangkaian termal untuk aliran panas melalui dinding datar komposit seri.

2.4 Perpindahan Panas Konduksi untuk Keadaan Dua Dimensi


Untuk menganalisis aliran panas keadaan tunak dua dimensi, berlaku persamaan Laplace,

Dengan menganggap konduktivitas termal tetap, persamaan ini dapat diselesaikan dengan cara analitik, numerik atau grafik.

2.5 Konduktivitas Termal Membahas mengenai perpindahan panas secara konduksi maka kita tidak akan melewatkan hal mengenai konduktivitas termal (panas). Konduktivitas termal atau kehantaran termal adalah suatu nilai yang menyatakan kemampuan suatu bahan untuk menghantarkan panas. Sifat ini merupakan salah satu dari sifat transpot bahan. Satuan k adalah Btu/ft2 jam (F/ft) yang dapat ditulis sebagai Btu/ft2 jam F atau W/mC. Nilai angka konduktivitas termal itu menunjukkan berapa cepat kalor mengalir dalam bahan tertentu. Jadi, konduktivitas termal tergantung pada temperatur.

Bahan yang dapat menghantarkan kalor disebut konduktor kalor, misalnya besi, baja, tembaga, seng, dan aluminium (jenis logam). Adapun penghantar kalor yang kurang baik atau penghantar kalor yang buruk disebut isolator kalor, misalnya kayu, kaca, wol, kertas, dan plastik (jenis bukan logam). Dari Hukum Fourier, konduktivitas dinyatakan dengan:

Hukum Fourier menyatakan bahwa k tidak bergantung pada gradient suhu tetapi tidak selalu demikian halnya dengan suhu itu sendiri. Ketidaktergantungan k ini telah dibuktikan dengan eksperimen dalam jangkau landaian suhu yang cukup luas, kecuali untuk zat padat berpori, dimana radiasi antar partikel yang tidak mematuhi hukum suhu yang linier, merupakan bagian penting dari aliran kalor total. Di lain pihak k merupakan fungsi suhu, walaupun bukan fungsi kuat. Untuk jangkau suhu yang tidak besar, k dianggap konstan. Tetapi untuk jangkau yang lebih luas konduktivitas dapat didekati dengan persamaan dalam bentuk: k = a + bT dimana a dan b adalah konstanta empiris. Konduktivitas termal zat cukup berbeda-beda. Umumnya konduktivitas termal benda paadat lebih besar daripada gas. Setiap benda mempunyai konduktivitas termal (kemampuan mengalirkan panas) tertentu yang akan mempengaruhi panas yang dihantarkan dari sisi yang lebih panas ke sisi yang lebih dingin. Semakin tinggi nilai konduktivitas termal suatu benda, semakin cepat ia mampu mengalirkan panas yang diterima dari satu sisi ke sisi yang lain. Benda yang memiliki konduktivitas termal (k) besar merupakan penghantar kalor yang baik (konduktor termal yang baik). Sebaliknya, benda yang memiliki konduktivitas termal kecil merupakan penghantar kalor yang buruk (konduktor termal yang buruk).

Termal konduktivitas adalah proses untuk memindahkan energi dari bagian yang panas ke bagian yang dingin dari substansi oleh interaksi molecular. Dalam fluida, pertukaran energi utamanya dengan tabrakan langsung. Pada solid, mekanisme utama adalah vibrasi molecular. Konduktor listrik yang baik juga merupakan konduktor panas yang baik pula.

Contoh kasus sederhana yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari mengapa ubin lebih sejuk daripada karpet. Hal ini dikarenakan ubin memiliki konduktivitas termal yang lebih besar daripada karpet. Karenanya ubin merupakan penghantar kalor yang bagus, sedangkan karpet merupakan penghantar kalor yang buruk. Ketika kita menginjak karpet, kalor mengalir dari kaki menuju karpet. Hal ini terjadi karena suhu tubuh kita lebih tinggi dari suhu karpet. Karpet merupakan penghantar kalor yang buruk karenanya kalor yang mengalir dari kaki kita menumpuk di permukaan karpet sehingga karpet menjadi lebih hangat. Ketika kita menginjak ubin atau keramik, kalor mengalir dari kaki menuju ubin atau keramik. Karena ubin merupakan penghantar kalor yang baik maka kalor tidak tertahan di permukaan ubin. Kalor mengalir dengan lancar sehingga kaki kita terasa dingin. Jika rumahmu berada di daerah dingin, sebaiknya alasi lantai kamarmu dengan karpet agar tubuhmu tidak kehilangan kalor.

2.6 Fluks Panas Fluks panas adalah perubahan panas secara terus menerus pada suatu medium yang dipanasi.

Gambar 2.1-2 profil distribusi temperatur pada suatu batang logam Menurut hukum fourier, untuk konduktivitas yang sama:

q(r , t ) kT (r , t )W`m 2
dimana : k T = operator vektor = konduktivitas = temperatur

Untuk sistem koordinat rectangular, distribusi panas dinyatakan dengan :


q ( x, y, z , t ) ik T T T jk kk x y z

dari ketiga komponen vektor fluks panas diatas pada arah sumbu x,y,z ditentukan:
qx k T x
q y k T y

qz k

T z

dari persamaan di atas dapat disimpulkan bahwa laju perpindahan panas dinyatakan dalam suatu gradien temperatur dikalikan dengan suatu konstanta yang disebut dengan konduktifitas termal (k). Untuk logam harga k berubah terhadap temperatur dan jarak.

BAB III METODOLOGI 3.1 Alat dan Bahan Alat: Bahan: Air pendingin Material sample (Kuningan besar [A], kuningan kecil [B] dan stainless stell [c]) 3.2 Prosedur Percobaan 1. 2. 3. 4. Rangkailah alat Hidupkan power supply Atur watt meter sesuai yang dikehendaki (untuk sistem linier dan radial) Catat temperatur masuk air pendingin seketika setelah power supply dihidupkan. 5. Catatlah harga-harga temperatur yang terbaca untuk T1, T2, sampai dengan T9 untuk sistem linier dan T1, T2, T3, T7, T8 dan T9 untuk sistem radial, apabila harga watt meter stabil seperti yang dikehendaki. Catatan: Pembacaan temperatut T1 samapi T9 dilakukan dengan memutar temperatur selector switch. 6. Lakukan langkah 1 sampai 5 terhadap masing-masing jenis logam A, B dan C untuk setiap variasi sistem. Power Supply Stavolt Heat conduction apparatus Inier module & radial module Pompa Ember