Anda di halaman 1dari 14

PERANCANGAN HEAT EXCHANGER DENGAN TYPE MULTIPLE

EFFECT EPAVORATORS

Disusun Oleh

HERIZA ADHA (140120081)

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTASTEKNIK

UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

LHOKSEUMAWE

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Meningkatnya tuntutan konsumen akan sebuah produk, menyebabkan


kegiatan produksi dan operasi dunia industri turut meningkat. Kebutuhan akan alat
yang efisien dan fleksibel semakin tinggi demi kelancaran kegiatan produksi, salah
satu alat yang dibutuhkan yakni alat penukar panas atau biasa disebut Heat Exchanger
sehingga alat penukar kalor ini mempunyai peran yang penting dalam suatu proses
produksi atau operasi

Alat penukar panas atau Heat Exchanger (HE) adalah alat yang digunakan
untuk memindahkan panas dari sistem ke sistem lain tanpa perpindahan massa dan
bisa berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Salah satu tipe dari alat
penukar kalor yang banyak dipakai adalah Shell and Tube Heat Exchanger. Alat ini
terdiri dari sebuah shell silindris di bagian luar dan sejumlah tube (tube bundle) di
bagian dalam, dimana temperatur fluida di dalam tube bundle berbeda dengan di luar
tube (di dalam shell) sehingga terjadi perpindahan panas antara aliran fluida didalam
tube dan di luar tube. Adapun daerah yang berhubungan dengan bagian dalam tube
disebut dengan tube side dan yang di luar dari tube disebut shell side.

Penukar panas dapat diklasifikasikan menurut pengaturan arus mereka. Dalam


paralel-aliran penukar panas, dua cairan masuk ke penukar pada akhir yang sama, dan
perjalanan secara paralel satu sama lain ke sisi lain. Dalam counter-flow penukar
panas cairan masuk ke penukar dari ujung berlawanan. Desain saat ini counter paling
efisien, karena dapat mentransfer panas yang paling. Dalam suatu heat exchanger
lintas-aliran, cairan perjalanan sekitar tegak lurus satu sama lain melalui exchanger

Tipe Aliran pada Alat Penukar Panas

Tipe aliran di dalam alat penukar panas ini ada 4 macam aliran yaitu :

Parallel flow/co current /flow (aliran searah)

Cross flow (aliran silang)

Cross counter flow (aliran silang berlawanan)

Counter current flow (aliran berlawanan arah)


Jenis-jenis penukar panas :

a. Double Pipe Heat Exchanger

b. Plate and Frame Heat Exchanger

c. Shell anf Tube Heat Exchanger

d. Adiabatic wheel Heat Exchanger

e. Pillow plate Heat Exchanger

f. Dynamic scraped surface Heat Exchanger

g. Phase-change Heat Exchanger

1.2 Rumusan Masalah

Perumusan masalah dalam makalah ini adalah bagaimana mengetahui tentang heat
exchanger

1. Apa yang dimaksud dengan Heat Exchanger ?

2. Bagaimana prinsip kerja Heat Exchanger Pada Evaporator ?

3. Bagaimana analisa dari kinerja Heat Exchanger Pada Evaporator ?

1.3. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Memperoleh pengetahuan dalam hal pertukaran panas atau heat exchanger, terutama
pada Heat Exchanger pada Evaporator

2. Tujuan Khusus

Agar lebih memahami dan mengetahui seberapa penting tentang dunia


teknik,khususnya untuk masalah pertukaran panas yang mana banyak di jumpai di
industri-industri tertentu.
BAB II.

STUDI LITELATUR

2.1 Prinsip dan Teori Dasar Perpindahan Panas

Perpindahan panas dapat didefenisikan sebagai berpindahnya energi dari satu daerah
ke daerah lainnya sebagai akibat dari beda suhu antara daerah daerah tersebut. Hal
ikhwal aliran panas bersifat universal yang berkaitan dengan tarikan gravitasi. Secara
umum ada tiga cara perpindahan panas yang berbeda yaitu : konduksi (conduction),
radiasi (radiation) dan konveksi (convection). Jika kita berbicara secara tepat, maka
hanya konduksi dan radiasi dapat digolongkan sebagai proses perpindahan panas,
karena hanya kedua mekanisme ini yang tergantung pada beda suhu. Sedang
konveksi, tidak secara tepat memenuhi definisi perpindahan panas, karena untuk
penyelenggaraanya bergantung pada transport massa mekanik pula. Tetapi karena
konveksi juga menghasilkan pemindahan energi dari daerah yang bersuhu lebih tinggi
ke daerah yang bersuhu lebih rendah, maka istilah perpindahan panas dengan cara
konveksi telah diterima secara umum.

Konduksi (Conduction)

Konduksi adalah proses dengan mana panas mengalir dari daerah yang
bersuhu tinggi ke daerah yang bersuhu lebih rendah di dalam satu medium
(padat, cair atau gas) atau antara medium - medium yang berlainan yang
bersinggungan secara langsung tanpa adanya perpindahan molekul yang
cukup besar menurut teori kinetik. Suhu elemen suatu zat sebanding dengan
energi kinetik rata rata molekul molekul yang membentuk elemen itu.

Energi yang dimiliki oleh suatu elemen zat yang disebabkan oleh
kecepatan dan posisi relative molekul molekulnya disebut energi dalam.
Perpindahan energi tersebut dapat berlangsung dengan tumbukan elastic
(elastic impact), misalnya dalam fluida atau dengan pembauran
(difusi/diffusion) elektron elektron yang bergerak secara cepat dari daerah
yang bersuhu tinggi kedaerah yang bersuhu lebih rendah ( misalnya
logam).Konduksi merupakan satu satunya mekanisme dimana panas dapat
mengalir dalam zat padat yang tidak tembus cahaya. perpindahan panas antara
molekul-molekul yang saling berdekatan antar yang satu dengan yang lainnya
dan tidak diikuti oleh perpindahan molekul-molekul tersebut secara fisik.
Molekul-molekul benda yang panas bergetar lebih cepat dibandingkan
molekul-molekul benda yang berada dalam keadaan dingin. Getaran-getaran
yang cepat ini, tenaganya dilimpahkan kepada molekul di sekelilingnya
sehingga menyebabkan getaran yang lebih cepat maka akan memberikan
panas.

Radiasi (Radiation)

Radiasi adalah proses dimana panas mengalir dari benda yang bersuhu
tinggi ke benda yang bersuhu rendah, bila benda benda itu terpisah didalam
ruang, bahkan bila terdapat ruang hampa diantara benda benda tersebut.
Semua benda memancarkan panas radiasi secara terus menerus. Intensitas
pancaran tergantung pada suhu dan sifat permukaan . Energi radiasi bergerak
dengan kecepatan cahaya (3x108 m/s) dan gejala gejalanya menyerupai
radiasi cahaya. Menurut teori elektromagnetik, radiasi cahaya dan radiasi
termal hanya berbeda dalam panjang gelombang masing masing.
Perpindahan panas tanpa melalui media (tanpa melalui molekul). Suatu
energi dapat dihantarkan dari suatu tempat ke tempat lainnya (dari benda
panas ke benda yang dingin) dengan pancaran gelombang elektromagnetik
dimana tenaga elektromagnetik ini akan berubah menjadi panas jika terserap
oleh benda yang lain.
Konveksi (Convection)

Konveksi adalah proses transport energi dengan kerja gabungan dari


konduksi panas, penyimpanan energi dan gerakan mencampur.
Konveksisangat penting sebagai mekanisme perpindahan energi antara
permukaan benda padat, cairan atau gas.

Perpindahan panas secara konveksi diklasifikasikan dalam konveksi


bebas (free convection) dan konveksi paksa (forced convection) menurut cara
menggerakkan alirannya. Bila gerakan mencampur berlangsung semata
mata sebagai akibat dari perbedaan kerapatan yang disebabkan oleh gradien
suhu, maka disebut konveksi bebas atau alamiah (natural). Bila gerakan
mencampur disebabkan oleh suatu alat dari luar seperti pompa atau kipas,
maka prosesnya disebutkonveksi paksa.Keefektifan perpindahan panas
dengan cara konveksi tergantung sebagian besarnya pada gerakan mencampur
fluida . akibatnya studi perpindahan panas konveksi didasarkan pada
pengetahuan tentang ciri ciri aliran fluida.

2.2 Hukum-hukum Dasar Perpindahan Panas

Konduksi. Hubungan dasar untuk perpindahan panas dengan cara konduksi


diusulkan oleh ilmuan perancis , J.B.J. Fourier, tahun 1882. Hubungan ini
menyatakan bahwa qk, laju aliran panas dengan cara konduksi dalam suatu bahan,
sama dengan hasil kali dari tiga buah besaran berikut :

1. k, konduktivitas termal bahan.

2. A, luas penampang dimana panas mengalir dengan cara konduksi yang harus
diukur tegak lurus terhadap arah aliran panas.

3. dT/Dx, gradien suhu terhadap penampang tersebut, yaitu perubahan


suhu T terhadap jarak dalam arah aliran panas x. Untuk menuliskan
persamaan konduksi panas dalam bentuk matematik, kita harus mengadakan
perjanjian tentang tanda. Kita tetapkan bahwa arah naiknya jarak x adalah
arah aliran panas positif. Persamaan dasar untuk konduksi satu dimensi dalam
keadaan tunak (stedi) ditulis :

dXqk = kA dT (1-1)

Untuk konsistensi dimensi dalam pers. 1-1, laju aliran panas qk dinyatakan dalam
Btu/h*), luas A dalam ft2 dan gradien suhu dT/dx dalam F/ft. Konduktivitas termal k
adalah sifat bahan dan menunjukkan jumlah panas yang mengalir melintasi satuan
luas jika gradien suhunya satu. Jadi panas konduksi Bahan yang mempunyai
konduktivitas termal yang tinggi dinamakan konduktor(conductor), sedangkan bahan
yang konduktivitas termalnya rendah disebut isolator (insulator).

2.3 Mekanisme Perpindahan Panas Gabungan

Dalam praktek biasanya panas berpindah dalam tahap tahap melalui


sejumlah bagian yang berbeda yang dihubungkan secara seri, dan untuk bagian
tertentu dalam sistem tersebut perpindahannya seringkali berlangsung dengan dua
mekanisme secara paralel.

Pada Dasarnya prinsip kerja dari alat penukar kalor yaitu memindahkan panas
dari dua fluida padatemperatur berbeda di mana transfer panas dapat dilakukan secara
langsung ataupun tidak langsung. a. Secaara kontak langsung Panas yang
dipindahkan antara fluida panas dan dinginmelalui permukaan kontak langsung
berarti tidak ada dinding antara kedua fluida.Transfer panas yang terjadi yaitu melalui
interfase / penghubung antara kedua fluida.Contoh : aliran steam pada kontak
langsung yaitu 2 zat cair yang immiscible (tidak dapat bercampur), gas-liquid, dan
partikel padat-kombinasi fluida. b. Secara kontak tak langsung Perpindahan panas
terjadi antara fluida panas dandingin melalui dinding pemisah. Dalam sistem ini,
kedua fluida akan mengalir. Seperti yang telah dikemukakan dalam pendahuluan
terdapat banyak sekali jenis-jenis alat penukar kalor. Maka untuk mencegah
timbulnya kesalah pahaman maka alat penukar kalor dikelompokan berdasarkan
fungsinya :

a. Chiller, alat penukar kalor ini digunakan untuk mendinginkan fluida


sampai pada temperature yang rendah. Temperature fluida hasil
pendinginan didalam chiller yang lebih rendah bila dibandingkan dengan
fluida pendinginan. yang dilakukan dengan pendingin air. Untuk chiller ini
media pendingin biasanya digunakan amoniak atau Freon.

b. Kondensor, alat penukar kalor ini digunakan untuk mendinginkan uap atau
campuran uap, sehingga berubah fasa menjadi cairan. Media pendingin
yang dipakai biasanya air atau udara. Uap atau campuran uap akan
melepaskan panas atent kepada pendingin, misalnya pada pembangkit
listrik tenaga uap yang mempergunakan condensing turbin, maka uap
bekas dari turbin akan dimasukkan kedalam kondensor, lalu diembunkan
menjadi kondensat.

c. Cooler, alat penukar kalor ini digunakan untuk mendinginkan cairan atau
gas dengan mempergunakan air sebagai media pendingin. Disini tidak
terjadi perubahan fasa, dengan perkembangan teknologi dewasa ini maka
pendingin coler mempergunakan media pendingin berupa udara dengan
bantuan fan (kipas).

d. Evaporator, alat penukar kalor ini digunakan untuk penguapan cairan


menjadi uap. Dimana pada alat ini menjadi proses evaporasi (penguapan)
suatu zat dari fasa cair menjadi uap. Yang dimanfaatkan alat ini adalah
panas latent dan zat yang digunakan adalah air atau refrigerant cair.
Reboiler, alat penukar kalor ini berfungsi mendidihkan kembali (reboil)
serta menguapkan sebagian cairan yang diproses. Adapun media pemanas
yang sering digunakan adalah uap atau zat panas yang sedang diproses itu
sendiri sebagai media penguap, minyak tersebut akan keluar dari boiler dan
mengalir didalam tube.

2.4. Prinsip Perpindahan Panas Pada Evaporator

Prinsip kerja dari evaporator adalah perpindahan panas, oleh karena itu,
evaporator akan bekerja maksimal apabila proses perpindahan panas berjalan lancar.
Factor yang mempengaruhi perpindahan panas dapat di lihat dari rumus berikut;
Dari rumus di atas apabila Q besar maka perpindahan panas maksimal. Harga
Q akan menjadi besar apabila factor factor pengali masing masing besar atau paling
tidak salah satu factor mempunyai harga yang besar . kondisi tersebut mempengaruhi
desain peralatan. Harga U di pengaruhi oleh jenis bahan yang di gunakan pada pipa
pemanas. Pada umumnya pipa pemanas di pilih dari bahan kuningan (brass)atau
stainless steel yang mempunyai daya hantar yang bagus. Berikurt adalah table
keterangan koefesien perpindahan pasnas pada beberapa bahan. :

Tabel 2.1 Koefesien perpindahan panas beberapa bahan


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Evaporator

Evaporator adalah alat yang banyak di gunakan dalam industry kimia untuk
memekatkan suatu larutan. Terdapat banyak tipe evaporator yang dapat di gunakan
dalam industry kimia . umumnya evaporator di operasikan pada kondisi vakum untuk
menurunkan temperature didih larutan. Cara lain untuk menurunkan temperature
didih larutan adalah dengan mengalirkan gas inert (udara ) panas yang berfungsi
untuk menurunkan tekanan parsial uap, sehingga menurunkan temperature didih
larutan. Hal ini menggantikan prinsip evaporasi secara vacum yang memungkinkan
penguapan dengan temperature rendah. Namun system vakum memerlukan biaya
tinggi, ada cara lain untuk menurunkan temperature penguapan yaitu dengan cara
menurunkan tekanan parsial uap air dalam fase gas dengan cara pengaliran udara.

Saat merancang evaporator, jumlah uap yang di perlukan tiap unit massa pada
konsentrasi yang telah di tentukan, keseimbangan energy harus di gunakan dengan
asumsi panas yang hilang keluar system sangat kecil. Panas yang harus di pasok oleh
uap pendingin sama dengan panas yang di butuhkan untuk memanaskan larutan dan
menguapkan air.

Evaporator yang akan di bahas pada kesempatan kali ini adalah evaporator yang aa
pada indusri gula dimana evaporator ini merupakan evaporator dengan jenis Vertikal
efek ganda (vertical type natural circulation evaporator with multi effect) yakni cairan
berada di dalam tube atau pipa dan steam mengkondensasikan dari luar tube. Karena
pendidihan dan penurunan dalam massa jenis. Cairan yang ada di dalam tube naik
dengan sirkulasi yang alami dan mengalir lagi kebawah melalui celah terbuka yang
cukup besar di tengah/downconner. Sirkulasi yang alami ini menaikan koefesien
perpindahan panas. Tipe ini tidak di gunakan untuk cairan yang kental. Tipe ini sering
di sebut dengan short-tube evaporator. Variasi dari tipe ini adalahtipe
keranjang/basket type.namun yang paling sering di gunakan adalah the bascet type
pada industry gula.

3.2 Evaporasi (proses penguapan)

Pengapan di lakukan dalam bejana evaporator tujuan dari penguapan pada pabrik
gula adalah untuk menaikan konsentrasi nira encer untuk mendekati konsentrasi
jenuhnya. Input proses adalah nira encer dengan kandungan Brix sekitar 12 13 %.
Di sinilah di gunakan multi effect evaporator dengan kondisi vakum. Penggunaan
multi effect evaporator dengan pertimbangan untuk menghemat penggunaan uap.
System ini terdiri dari tiga buah evaporator atau lebih yang di pasang secara seri. Di
pabrik gula ini menggunakan 4 (quadrupple) atau 5 (quintuple) buah evaporator.

Pada proses penguapan air yang terkandung dalam nira akan di uapkan. Uap baru di
gunakan pada evaporator badan 1 sedangkan untuk npenguapan evaporator badan
selanjutnya menggunakan uap yang di hasilkan evaporator pada badan. Penguapan di
lakukan dengan kondisi vakum dengan pertimbangan untuk menurunkan titik didih
dari nira. Karena nira pada suhu tertentu (>1250c) akan mengalami karamelisasi atau
kerusakan. Dengan kondisi vakum maka titik didih nira akan terjadi pada suhu 700 c.
nira yang keluar dari evaporator badan akhir di harapkan mencapai brix 60-70%. Dan
produk yang di hasilkan dalam proses penguapan adalah nira pekat.

3.3 Multiple Effect Evaporator

a. Deskripsi umum

multiple effect evaporator merupakan peralatan yang di rancang dengan


tujuan meningkatkan efisiensi energy dari proses evaporasi yang berlangsung dengan
menggunakan energy panas dari steam (uap) untuk menguapkan air. Prinsip dasar
dari jenis evaporator ini yaitu menggunakan panas/kalor yang di lepaskan atau di
sediakan dari proses kondensasi pada satu efek untuk memberikan panas bagi efek
lainya. Uap yang terbentuk dari separator pertama akan memanasi komponen yang
berada di second effect. Pada suatu multiple-effect evaporator air di didihkan pada
suatu rangkaian wadah (vessel), masing masingnya di langsungkan pada tekanan
yang lebih rendah di bandingkan dengan unit sebelumnya. Karena titik didih dari air
menurun seiring dengan penurunan tekanan maka uap yang terbentuk dari satu wadah
dapat di gunakan untuk memanaskan unit berikutnya dan hanya pada vessel pertama
(pada tekanan tertinggi) membutuhkan sumber panas eksternal. Laju uap dan air bagi
unit double effect di perkirakan 50% di banding dengan unit single effect. Laju alir
berbagai jenis bagi multiple effect berkisar antara 3000 LPH sampai dengan 50.000
LPH.

B. Sejarah Multiple effect evaporators

Multiple effect evaporators ditemukan oleh seorang insinyur African-American


bernama Nobert Rillieux. Meskipun beliau mungkin saja telah merancang peralatan
tersebut semenjak 1820-an dan membangun kontruksi prototypenya pada 1834, dia
tidak membangun industry yang mengaplikasikan evaporator ini untuk pertama
kalinya sampai tahun1845. Semulanya di rancang untuk memekatkan gula pada jus
sugar cene, teknologi ini sekarang menjadi berkembang pesat di gunakan di semua
aplikasi industry yang memerlukan teknologi untuk menguapkan air dalam jumlah
yang banyak seperti produksi garam dan desalinasi air.
Gambar 3.1 Multiple Effect Evaporator

Gambar 3.2 Siklus Multiple Effect Evaporator