Anda di halaman 1dari 24

OLEH

Hafidz Dezulfakar 37-07


Muhammad Ghazalli 37-12

UTS EKSPLORASI
GEOTHERMAL
Teknik Geofisika ITS

Soal UTS: Eksplorasi Geothermal


Dosen: Dr. Widya Utama, DEA
Jurusan: Teknik Geofisika, FTSP ITS
-----------------------------------------------1. Sebutkan, tunjukkan dalam peta wilayah potensi geotermal di Jawa Timur?

Gambar 1. Peta potensi daerah Panas Bumi di Jawa Timur


a. Bagaimana karakteristik wilayah potensi tersebut?
Salah satu daerah yang terdapat potensi geothermal adalah Blawan yang terletak di
Kompleks Gunung Ijen. Keberadaan panas bumi dilokasi ini ditandai oleh keberadaan mata air
panas. Berdasarkan data ESDM pada januari 2012 potensi panas bumi di blawan ijen
diperkirakan sebesar 110 MW. Gunung Ijen merupakan salah satu gunung api Kuarter yang
memiliki aktivitas sedang sampai tinggi. Dalam sejarah letusannya Gunung Ijen pernah
mengalami letusan sangat besar, sehingga terbentuk kaldera dengan diameter hampir 15 km.
Di bagian utara kaldera Ijen (Blawan) terdapat batuan tua seperti breksi, lava dan basaltik-tuf.
Bagian dalam kaldera didominasi oleh batuan muda akibat aktivitas gunung Ijen yaitu tuf,
breksi dan lava. Sehingga dapat disimpulkan pada daerah Blawan tersebut adanya pertemuan
dua jenis batua vulkanik yaitu vulkanik tua yaitu bagian utara dan vulkanik muda dibagian
selatan dan ada sedikit sedimen bekas sisa danau kaldera kuno, dimana reservoir bisa jadi
merupakan batuan vulkanik tua yang telah terdeformasi sehingga banyak rekahan dan
caprocknya merupakan batuan vulanik mida yang masih belum banyak terjadi deformasi.

Gambar 2. Peta geologi daerah ijen

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan Ika Karlina dkk dengan menggunakan
metode geolistrik resistivitas di dapat 21 sumber mata air panas yang tersebar pada daerah
patahan di blawan dengan ph netral dimana menandakan daerah tersebut memang memiliki
potensi panas bumi. Selain itu dari hasil penelitian Raehanayati dkk dengan menggunakan
metode gayaberat didapat bahwa pada daerah yang memiliki manifestasi air panas didominasi
oleh batuan 1 karena memiliki nilai densitas paling rendah yang berada pada daerah Blawan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa reservoir panasbumi daerah Blawan-Ijen didominasi oleh
batuan yang memiliki porositas tinggi (densitas rendah) dan tingkat permeabilitasnya tinggi
dengan jumlah volume sebesar 101.20 juta m3.
Dari gambar citra yang di download www.geomapsrl.it juga dapat disimpulkan bahwa
daerah blawan memiliki potensi panas bumi dengan adanya sumber airpanas yang dapat dilihat
pada gambar berikut yang ditandai oleh lingkaran merah dimana adanya keberadaan air yang
berwarna biru.

Gambar 3. Citra aster daerah ijen


Pada daerah blawan tersebut juga dapat dilihat geomorfologinya dimana banyak
patahan besar yang ditandai dengan garis yang berwarna merah dimana bias merupakat tempat

resapan air maupun sebagai keluarnya maifestasi hidrotermal seperti yang ditunjukkan oleh
gambar berikut:

Gambar 4. Citra satelit yang menandakan patahan


b. Apakah sudah ada wilayah potensi yang berproduksi,di Jawa Timur? Dimana?
Kenapa?
Sampai saat ini belum ada wilayah potensi panasbumi di Jawa Timur yang berproduksi,
baru ada beberapa WKP panas bumi yang telah dilakukan eksplorasi. Salah satu kendala
adalah pencarian investor yang berminat untuk menanamkan modal pada salah satu daerah
potensial panas bumi di jawa timur, hal ini telah diusahakan oleh pemerintah untuk berkerja
sama dengan pihak asing seperti contoh kerjasama dengan Selandia Baru yang sedang
diusahakan oleh Presiden Jokowi dan dengan perusahaan Hitay Renewable Energy yang
telah melakukan eksplorasi daerah panas bumi di daerah Bromo. Faktor lain adalah sulitnya
masalah perizinan di bagian regulasi yang diberlakukan. Hal ini semoga dapat teratasi
dengan adanya Undang-Undang (UU) baru mengenai panas bumi yaitu UU Nomor 21
Tahun 2014.
2. Ambil sebuah wilayah prospek potensi geothermal di Jawa Timur, selain wilayah yang
sudah anda tunjukkan di nomor 1 dan dengan memperhatikan jawaban nomor 2 di atas:
a. Berikan tahap pengembangan wilayah potensi geothermal untuk daerah tersebut?
Preliminary Survey Geothermal Potential
Arjuno Welirang
Nama Daerah:

Arjuno Welirang

Pulau:
Provinsi:

Jawa
Jawa Timur

Posisi Bujur:

112o29'12.00" - 112o37'39.00"

Posisi Lintang:

7o37'56.00" - 7o49'51.00"

Temperatur Manifestasi:

50.00 - 140.00oC

Geotermometer:

260.00oC

Cadangan Terduga:

280

Berdasarkan data yang didapatkan dari bappenas.geothermal.go.id diketahui telah


dilakukan survey rinci pada daerah Arjuno-Wellirang, yaitu survey geologi, geokimia,
geolistrik, gaya berat, geomagnet, dan magnetotellurik.

Hasil survey geologi menyebutkan tatanan tektonik daerah Arjuno Welirang berada
pada jalur magmatik Jawa Bagian Selatan dengan susunan berupa batuan vulkanik Kuarter.
Hasil statigrafi menyebutkan bahwa daerah penyelidikan terdiri dari 18 (delapan belas) satuan
batuan, yang semuanya berupa batuan vulkanik dengan umur absolut batuan berkisar 200.000
tahun lalu (Lab.PSG,2010) hasil dari baruan pada lava andesit welirang II. Diketahui juga

bahwa sumber panas kemungkinan diakibatkan oleh aktivitas vulkanik terakhir pada komplek
Arjuno Welirang dengan batuan penudung (caprock) diperkirakan berada pada daerah alterasi
Gunung Pundak dan pada batuan lava andesit muda produk Gunung Welirang dan reservoir
diperkirakan berada pada satuan Arjuno Welirang tua (lava dan piroklastik).

Pada kompleks gunung ini juga telah dilakukan survey Geomagnet yang menghasilkan
kontur anomali magnet. Hal ini mengindikasikan adanya zona struktur ring fractures dibagian
tenggara, serta daerah subsiden dibagian barat daya daerah penyelidikan
Mata air panas Pedusan 1, 2 dan mata airpanas Gembor terletak pada sesar F.3 dan
F.4 dekat dengan titik B.700 dan titik A.2750 berlokasi pada daerah transisi antara
anomali magnet rendah dan sedang, hal tersebut mengindikasikan telah terjadi
proses demagnetisasi (ubahan) akibat proses hidrotermal dibawah permukaan
ataupun disebabkan oleh adanya batuan piroklastik. Anomali Bouguer memperlihatkan pola
umum rendah di utara dan timur yang diinterpretasikan sebagai sedimen vulkanik, relatif
sedang di bagian tengah yang diduga berkaitan dengan lava andesit produk gunungapi komplek
Arjuno-Welirang dan cendrung semakin tinggi ke arah baratdaya menunjukkan keberadaan
gunungapi Anjasmoro.
Selanjutnya adalah survey gaya berat. Hasil anomali sisa (residual) memeperlihatkan
respon sedimen vulkanik dengan anomali rendah di bagian utara dengan nilai rendah akibat
ubahan di utara AP. Padusan dan sekitar Gunung Punda yang membuka ke arah puncak
Welirang.
Analisis anomali sisa menunjukkan beberapa struktur geologi daerah Arjuno-Welirang
seperti sesar berarah hampir utara-selatan (F1), indikasi aliran erupsi samping Gunung Punda

dan Bulak (F3,F4 dan F5), zona ring fracture yang membuka ke puncak Welirang (F6), sesar
berarah baratlaut-tenggara (F7) dan 2 sesar berarah barat-timur (F8 dan F9).

Struktur geologi yang berperan sebagai pengontrol munculnya manifestasi panas bumi
di daerah ini adalah sesar berarah barat timur untuk AP. Coban (F8) dan AP Cangar (F9) dan
sesar berarah baratlaut-tenggara (F7) untuk AP Padusan dengan sumber panasnya dari komplek
Gunungapi Arjuno-Welirang.
Kemudian adalah survey Magnetotellurik, menghasilkan tahanan jenis rendah yang
tersebar di sekitar fumarol Gunung Welirang melebar ke utara melewati mata air panas Padusan
dan membuka ke sebelah barat dan baratdaya melalui mata air panas Cangar dan mata air panas
Coban. Tahanan jenis rendah yang diinterpretasikan sebagai batuan penudung ini tersebar dari
mulai permukaan hingga kedalaman sekitar 3000 meter dengan ketebalan antara 1000 meter
hingga 2500 meter. Reservoir panas bumi diperkirakan berada di bawah batuan penudung
yangtersebar di bagian tengah antara fumarol Gunung Welirang, mata air panasCangar, mata
air panas Coban, dan mata air panas Padusan. Puncak dari reservoir ini berada pada kedalaman
sekitar 1500 meter dansemakin mendalam ke arah utara dan baratdaya yang dapat
mencapaikedalaman sekitar 2500 meter.
Daerah prospek panas bumi berada di sebelah barat dan baratdaya puncak Gunung
Welirang (bagian tengah antara fumarol Gunung Welirang, mata air panas Cangar, mata air
panas Coban, dan mata air panas Padusan) dengan luas sekitar 20 km2.

Preliminary study yang telah dilakukan akan menghasilkan data potensi panas bumi
seperti berikut.

Dimana daerah prospek dilambangkan dengan warna biru dimana berhimpitan dengan
daerah dengan anomali MT yang bernilai resis rendah yaitu lebih kecildari 10 m ohm. Dapat
juga dilihat pada daerah prospek terdapatnya patahan yang melewati dataran tinggi ke daerah
prospek dimana dapat didentifikasikan sebagai area resapan.

b. Berikan uraian pekerjaan teknis pada tahap Survei Pendahuluan?


Kegiatan Eksplorasi Pendahuluan (Reconnaisance Survey)
Eksplorasi pendahuluan (reconnaisance survey) dilakukan untuk mencari daerah
prospek panas bumi, yaitu daerah yang menunjukkan tanda-tanda adanya sumberdaya panas
bumi dilihat dari kenampakannya dipermukaan, serta untuk mendapatkan gambaran mengenai
geologi regional didaerah tersebut.
a. Studi Literatur
Langkah pertama yang dilakukan dalam usaha mencari daerah prospek panas bumi
adalah mengumpulkan peta dan data dari laporan-laporan hasil survei yang pernah dilakukan
sebelumnya di daerah yang akan diselidiki, guna mendapat gambaran mengenai regional
geology, lokasi daerah dimana terdapat manifestasi permukaan, volcanic phenomena, geologi
dan hidrologi di daerah yang sedang diselidiki dan kemudian menetapkan tempat-tempat yang
akan disurvei.
b. Survei Lapangan
Survei lapangan dilakukan untuk mengetahui secara global formasi dan jenis batuan,
penyebaran batuan, struktur geologi, jenis-jenis manifestasi yang terdapat di daerah tersebut
beserta karakteristiknya, mengambil sampel fluida melakukan pengukuran temperatur, pH dan
kecepatan air.
c. Analisa dan Interpretasi Data
Data dari survei sebelumnya serta dari hasil survei lapangan dianalisis untuk mendapatkan
gambaran (model) mengenai regional geologi dan hidrologi di daerah tersebut. Dari kajian data
geologi, hidrologi dan geokimia ditentukan daerah prospek, yaitu daerah yang menunjukkan
tanda-tanda adanya sumberdaya panas bumi. Dari hasil analisis dan interpretasi data juga dapat
diperkirakan jenis reservoir, temperatur reservoir, asal sumber air, dan jenis batuan reservoir
d. Spekulasi Besar Sumberdaya Panasbumi
Luas prospek pada tahapan ini dapat diperkirakan dari penyebaran manifestasi permukaan
dan pelamparan struktur geologinya secara global, tetapi selama ini hanya ditentukan dengan
cara statistik (rata-rata luas prospek).
e. Usulan Untuk Eksplorasi Lanjut
Pada tahap ini sudah dapat ditentukan apakah prospek yang diteliti cukup baik untuk
dikembangkan selanjutnya apakah survei rinci perlu dilakukan atau tidak. Apabila tidak maka
daerah yang diteliti ditinggalkan.
c. Berikan uraian pekerjaan teknis pada tahap Eksplorasi?

Eksplorasi
Tujuan dari survei lanjut adalah:
-

Mendapatkan informasi yang lebih baik mengenai kondisi geologi permukaan dan
bawah permukaan.
Mengidentifikasi daerah yang diduga mengandung potensi panas bumi

Dari hasil eksplorasi rinci dapat diketahui dengan lebih baik mengenai penyebaran
batuan, struktur geologi, daerah alterasi hidrothermal, geometri cadangan panas bumi,
hidrologi, sistim panas bumi, temperatur reservoir, potensi sumberdaya serta potensi listriknya.
a. Survei Geologi Lanjut
Survei geologi ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran batuan secara mendatar
maupun secara vertikal, struktur geologi, tektonik dan sejarah geologi dalam kaitannya dengan
terbentuknya suatu sistim panas bumi termasuk memperkirakan luas daerah prospek dan
sumber panasnya.
b. Survei Geokimia Lanjut
Hasil analisis kimia fluida dan isotop air dan gas dari seluruh manifestasi panas
permukaan dan daerah lainnya berguna untuk memperkirakan sistim dan temperatur reservoir,
asal sumber air, karakterisasi fluida dan sistim hidrologi dibawah permukaan.
c. Survei Geofisika
Ada beberapa jenis survei geofisika, yaitu:

Survei resistivity
Survei gravity
Survei magnetic
Survei Macro Earth Quake (MEQ)
Survei aliran panas
Survei Self Potential

Survei geofisika yang pertama kali dilakukan umumnya adalah survei resistivity
konfigurasi Schlumberger, gravity dan magnetik karena peralatannya mudah didapat dan
biayanya murah.
Dari ketiga survei geofisika ini diusulkan daerah prospek panas bumi untuk di survei
lebih detail dengan metoda yang lebih mahal yaitu Magnetotelluric (MT) atau Control Source
Audio magnetotelluric (CSAMT) untuk melihat struktur fisik batuan dengan kedalaman yang
jauh lebih dalam.
d. Analisa dan Interpretasi Data

Model sistim panas bumi harus mengikutsertakan karakteristik lithologi, stratigrafi,


hidrologi atau pola sirkulasi fluida, perkiraan sumber panas dan temperatur dalam reservoir
serta sistim panasbuminya.
Model harus dibuat mulai dari permukaan hingga kedalaman 1-4 km. Selain itu dari
pengkajian data dapat diperkirakan besarnya potensi sumberdaya (resources), cadangan
(recoverable reserve) dan potensi listrik panas bumi di daerah yang "diduga" mengandung
panas bumi.
e. Pemboran Eksplorasi
Jumlah sumur eksplorasi tergantung dari besarnya luas daerah yang diduga
mengandung energi panas bumi. Biasanya di dalam satu prospek dibor 3-5 sumur eksplorasi.
Kedalaman sumur eksplorasi umumnya dibor hingga kedalaman 1000-3000 meter.
Setelah pemboran selesai, dilakukan pengujian sumur. Seperti berikut:
-

Uji hilang air (water loss test)


Uji permeabilitas total (gross permeability test)
Uji panas (heating measurements)
Uji produksi (discharge/output test)
Uji transien (transient test)

Pengujian sumur geothermal dilakukan untuk mendapatkan informasi/data yang lebih


persis mengenai:
-

Jenis dan sifat fluida produksi


Kedalaman reservoir
Jenis reservoir
Temperatur reservoir
Sifat batuan reservoir
Laju alir massa fluida, enthalpy dan fraksi uap pada berbagai tekanan kepala sumur
Kapasitas produksi sumur (dalam MW)

3. Lihat UU Panas Bumi, terkait dengan hal-hal yang diatur dalam UU Panas Bumi
tersebut dan tahapan pengembangan potensi geotermal:
a. Bagaimana relasi resiko dan nilai investasinya pada setiap tahap?

Menurut undang undang nomer 27 tahun 2003 tahapan penembangan geothermal


dibagi menjadi empat tahap yaitu tahap survey pendahuluan, eksplorasi, study kelayakan dan
exploitasi. Resiko terbesar ialah dalam tahap survey pendahuluan dikarenakan sedikitnya data
yang tersedia sehingga tingkapt kepastianya sangat rendah. Pada tahapan exlporasi dan studi
kelayakan tingkat resikonya semakin rendah dikarenakan oleh data yang didapat semakin
banyak sehingga tingkat kepastianya semakin tinggi. Untuk tahapan akhir yaitu ekploitasi
memiliki resiko yang paling rendah karena semua data eksplorasi dan studi kelayakan sudah
didapat sehingga tingkat kepastianya menjadi lebih tinggi. Akan tetapi nilai investasinya akan
berbanding terbalik dengan besarnya resiko untuk setiap tahapanya. Untuk tahapan survey
pendahuluan memiliki nilai investasi yang paling kecil karena hanya membutuhkan studi
survey secara umum dan luas dan belum rinci dimana memerlukan investasi sekitar 7.7
USdolar per kW.
Untuk tahapan eksplorasi nilai investasi semakin meningkat karena semakin banyaknya
dan lebih rincinya studi yang dilakukan.dimana memerlukan investasi sekitar 2.25 US$ per
kW. Nilai studi kelayakan memiliki investasi lebih besar yaitu sekitar 77 US$ per kW. Dan
nilai investasi pada tahap exploitasi memiliki nilai yang paling besar dikarenakan banyaknya
fasilitas yang dibangun seperti pemboran sumur produksi, system pengelolaan uap, pembangkit
listrik dan tranmisi, dimana total nilai investasinya sebesar 2620 US$ per kW. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa untuk setiap tahapan dari awal hingga akhir memiliki resiko yang semakin
rendah tetapi berkebalikan dengan nilai investasinya yang semakin tenggi untuk setiap
tahapannya seperti yang ditunjukkan oleh gambar berikut:

b. Apa hambatan utama pengembangan investasi potensi geotermal?


Hambatan utama dalam suatu proyek panas bumi (pada waktu eksplorasi dan awal
pemboran sumur eksplorasi) adalah resiko yang berkaitan dengan kemungkinan tidak
ditemukannya sumber energi panas bumi di daerah yang sedang dieksplorasi atau sumber
energi yang ditemukan tidak bernilai komersial. Dimana nantinya lembaga Keuangan tidak
akan memberikan pinjaman dana untuk pengembangan lapangan sebelum hasil pemboran dan
pengujian sumur membuktikan bahwa di daerah tersebut terdapat sumber energi panas bumi
yang mempunyai potensi yang cukup menarik dari segi ekonomi.
c. Hambatan teknis? Berikan contoh. Bagamana penyelesaiannya?
Hambatan yang berkaitan dengan permasalahan teknis seperti terjadinya korosi
didalam sumur dan didalam pipa akan mengakibatkan berkurangnya keuntungan dan
menyebabkan ditolaknya usulan perluasan lapangan untuk meningkatkan kapasitas PLTP.
hambatan lainnya adalah kemungkinan penurunan laju dan temperature fluida produksi
(enthalpy), kenaikan tekanan injeksi, perubahan kandungan kimia fluida terhadap waktu, yang
mengakibatkan berkurangnya keuntungan atau bahkan hilangnya keuntungan bila penurunan
produksi terlalu cepat.
Penyelesaianya:
Melaksanakan simulasi atau pemodelan untuk meramalkan kinerja reservoir dan sumur
terhadap waktu sehingga dapat mengontrol nilai entalphi, kandungan kimia dan tekanan injeksi
yang akan berpengaruh dalam tingkat produksi dan pengembangan lanjutan dari suatu
lapangan.
d. Hambatan non teknis? Berkan contoh. Bagaimana penyelesaiannya?
Hambatan dalam Regulasi
Sebagian besar wilayah panas bumi berada di kawasan hutan lindung dan konservasi
yang berada di bawah kewenangan Kementerian Kehutanan, dan bukan di bawah Kementerian
ESDM, sehingga menyebabkan dualisme perizinan. Kondisi tumpang tindihnya prosedur
perizinan di antara kedua kementerian tersebut membuat pengembang dihadapkan pada
ketidakpastian perizinan. Masalah tersebut juga ditambah dengan belum adanya target waktu

penyelesaian proses perizinan. Hal tersebut menyebabkan lambatnya penyelesaian proses


perijinan.
Penyelesaianya:
Penyelesaianya berupa dukungan pemerintah berupa Nota kesepahaman Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terkait
penyelesaian tumpang tindih perizinan pengusahaan panas bumi di kawasan hutan produksi,
kawasan hutan lindung, dan kawasan konversi. Dengan adanya nota kesepahaman tersebut kan
mempermudah dan mempercepat proses perizinan terkait kegiatan eksplorasi dan eksploitasi
panas bumi tanpa mengorbankan prinsip kesinambungan ekosistem dan perlindungan sumber
alam hayati.
e. Hambatan keekonomian? Bagaimana perhitungan sederhana keekonomiannya?
Hambatan Pasar
Pasar tenaga listrik merupakan pasar monopoli yang memiliki hanya satu pihak pembeli,
yaitu PLN. Bila diserahkan ke mekanisme pasar dan PLN dalam hal ini merupakan satu-satunya
pembeli, maka pihak pengembang tidak akan dapat memperoleh harga pembelian yang wajar
secara komersial. Tender pembelian listrik sendiri dilakukan oleh pemerintah daerah dan
pemerintah pusat tanpa melibatkan PLN. Dalam hal ini PLN baru membeli listrik panas bumi bila
ditugaskan oleh pemerintah.
Penyelesaianya:
Untuk memberikan kepastian adanya pembeli listrik kepada pengembang swasta yang telah
memenangkan lelang panas bumi dan siap memproduksi listrik, pemerintah melalui Kementerian
ESDM memberikan penugasan kepada PLN untuk membeli listrik tersebut sebagaimana diatur
dalam Permen ESDM Nomor 02 Tahun 201137. PLN wajib membeli tenaga listrik dari pembangkit
listrik tenaga panas bumi yang dibangun pengembang sesuai dengan harga hasil lelang WKP.
Untuk itu pemerintah menetapkan harga patokan pembelian listrik oleh PLN yang harganya
sudah ditentukan saat lelang - paling tinggi US$ 9.70 sen/kWh. Untuk harga lelang di atas batas
atas tersebut dimungkinkan melalui proses negosiasi antara pengembang dengan PLN.

4. Lengkapi tabel eksplorasi geothermal dibawah ini, lengkapi dengan gambar yang
sesuai:
Caprock
a. Fenomena yang diamati permukaan
b. Fenomena bawah permukaan (model)
Model penampang yang menunjukkan suatu caprock yang ditandai dengan nilai resistivitas
yang rendah.

c. Metode eksplorasi: variable yang diukur, parameter yang dicari


Dalam penentuan caprock geothermal digunakan metode magnetotelurik. Dimana diukur
nilai resistivitasnya, caprock memiliki nilai resistivitas yang rendah dan impermeable jika
dibandingkan dengan reservoir.
d. Orde besaran dan satuan variable pengukuran
Nilai resistivitas kurang dari 10 ohm m.
e. Orde besaran dan satuan parameter geothermal
Nilai permeabilitas yang rendah mendekati 0 mD. Permeabilitas biasanya dinyatakan dalam
satuan mD (mili Darcy).
Sourcerock
a. Fenomena yang diamati permukaan
Adanya Kaldera yang menandakan adanya aktivitas magma. Adanya sumber air panas pada
daerah yang tidak berasosiasi dengan vuklanik yang menandakan adanya sourcerock berupa
cekungan sedimen dalam sekitar 3km.
b. Fenomena bawah permukaan (model)
Model source rock yang merupakan instrusi magama pada strato vulkanik muda dimana
suhu intuksi sekitar 850 - 1050 C. seperti yang ditunjukan pada model dibawah ini.

Model sourcerock yang tidak berasosiasi dengan vuklakin dimana sourcerock berupa
cekungan sedimen dalam yang memiliki suhu tinggi.

c. Metode eksplorasi: variable yang diukur, parameter yang dicari


Digunkan metode geomagnet dimana diukur nilai suscepsibilitasnya, suscepsibilitas yang
rendah menandakan batuan tersebut memiliki suhu yang tinggi dikarenakan sifat magnetnya
yang hilang karena suhu tinggi.
d. Orde besaran dan satuan variable pengukuran
Nilai susceptibilitasnya kurang dari k = 0,0022c.g.s
e. Orde besaran dan satuan parameter geothermal
Parameter yang didapat ialah volume dari sourcrock dalam km^3 serta suhunya dalam
derjat celcius. Untuk sourcrock instruksi magma pada vulkanik muda memiliki suhu sekitar
850 - 1050 C.
Reservoir dan fluida
Fenomena yang diamati permukaan, sertakan gambar (foto, denah, diagram etc).
tunjukkan batas-batas delinasinya.
a. Mata air panas atau hangat

Bila air tersebut berasal dari reservoar panasbumi maka air tersebut hampir selalu
bersifat netral. Disamping itu air tersebut umumnya jemih dan berwarna kebiruan.

Bila air tersebut berasal dari air tanah yang menjadi panas karena pemanasan oleh uap
panas maka air yang terdapat di dalam kolam air panas umumnya bersifat asam. Sifat asam ini
disebabkan karena tejadinya oksidasi H2 didalam uap panas. Kolam air panas yang bersifat
asam (acid pools) umumnya berlumpur dan kehijau-hijauan. Kolam air panas yang bersifat
asam mungkin saja terdapat diatas suatu reservoar air panas.
b. Telaga air panas
Telaga air panas pada dasamya juga kolam air panas, tetapi lebih tepat dikatakan telaga
karena luasnya daerah permukaan air. Umumnya istilah telaga dipakai bila luas permukaannya
lebih dari 100 m2. Telaga air panas sangat jarang terdapat di alam karena telaga air panas terjadi
karena hydrothermal eruption yang sangat besar. Contohnya adalah danau Waimangu di New
Zealand. Bila didalam telaga terjadi konveksi, temperatur pada umumnya tidak berubah
terhadap kedalaman. Telaga air panas dapat terjadi di daerah dimana terdapat reservoar
dominasi air ataupun didaerah dimana terdapat reservoar dominasi uap
c. Fumarole

Hampir semua fumarole yang merupakan manifestasi permukaan dari sistim dominasi
air memancarkan uap panas basah. Temperatur uap umumnya tidak lebih dari 100oC. Fumarole
jenis ini sering disebut fumarole basah (wet fumarole). Di daerah dimana terdapat sistim
dominasi uap dapat dijumpai wet fumarole juga dry fumarole, yaitu fumarole yang
memancarkan uap bertemperatur tinggi, yaitu sekitar 100-150oC. Fumarole jenis ini sangat
jarang dijumpai di alam, salah satu contohnya adalah fumarole di Ketetahi (NZ). Kecepatan
fumarole jenis ini umumnya sangat tinggi (>100 mis).

d. Geyser

Geyser didefinisikan sebagai mata air panas yang menyembur ke udara secara
intermitent (pada selang waktu tak tentu) dengan ketinggian air sangat beraneka ragam, yaitu
dari kurang dari satu meter hingga ratusan meter. Selang waktu penyemburan air (erupsi)
jugaberaneka ragam, yaitu dari beberapa detik hingga beberapa hari. Lamanya air menyembur
ke pemukaan juga sangat beraneka ragam, yaitu dari beberapa detik hingga beberapa jam.
Geyser merupakan manifestasi permukaan dari sistim dominasi air.
e. Silika sinter

Silika sinter adalah endapan silika di permukaan yang berwarna keperakan. Umumnya
dijumpai disekitar mata air panas dan lubang geyser yang menyemburkan air yang besifat
netral. Apabila laju aliran air panas tidak terlalu besar umumnya disekitar mata air panas
tersebut terbentuk teras-teras silika yang berwarna keperakan (silica sinter teraces atau sinter
platforms). Silika sinter merupakan manifestasi pernukaan dari sistim panasbumi yang
didominasi air.
Fenomena bawah permukaan yang terkait (berikan bentuk model reservoir yang
terkait dengan fenomena di pemukaan).
a.

Mata air panas yang bersifat asam biasanya merupakan manifestasi permukaan
dari suatu sistim panasbumi yang didominasi uap. Sedangkan mata air panas yang
bersifat netral biasanya merupakan manifestasi permukaan dari suatu sistim panasbumi
yang didominasi air, umumnya jenuh dengan silica.
Metode eksplorasi: variabel yang diukur, parameter yang dicari.

Magnetotellurik: Resistivitas (Tahanan Jenis), permeabilitas dan kedalaman reservoir.


Orde besaran dan satuan variable pengukuran.
a) kelompok resistiviti rendah < 75 -100 m,
b) kelompok resistiviti sedang 75 -200 m
c) kelompok resistiviti tinggi > 100 - >200 m.
Orde besaran dan satuan parameter geothermal.
Target pekerjaan pada tahap Survei Pendahuluan.
Survei lapangan: Jenis-jenis manifestasi
Citra Satelit: Persebaran topografi, persebaran manifestasi, dan penampang regional
Target pekerjaan pada tahap Eksplorasi.
Survei Geologi: Lokasi reservoir, karakteristik reservoir berdasarkan struktur geologi,
tektonik dan sejarah geologi.
Survei Geokimia: Suhu reservoir, fluida yang dominan.
Survei Geofisika: Gravity untuk mengetahui persebaran reservoir dan MT untuk mengetahui
kedalaman reservoir.
Sumur Eksplorasi: Cutting dan coring untuk mengetahui karakteristik reservoir. Jenis dan
sifat fluida produksi, kedalaman reservoir, jenis reservoir, temperature reservoir, sifat batuan
reservoir, lajur air massa fluida, dan kapasitas produksi sumur (MW).
Target pekerjaan pada tahap Feasibility Study.

Potensi sumur dan kinerjanya, sifat fluida panas bumi dan kandungan non condensible gas,
memperkirakan sifat korosifias air dan analisa keekonomian.

Data karateristik reservoir untuk perancangan pembangkit listrik tenaga panas


bumi (PLTP).
a. Fasa fluida yang dominan pada reservoir.
Fluida Uap Kering -> SIKLUS UAP KERING (DIRECT DRY STEAM CYCLE)

Fluida dua fasa (fasa uap dan cair) -> SIKLUS UAP HASIL PEMISAHAN (SEPARATED
STEAM CYCLE)

b. Suhu fluida pada reservoir.


f. Buat rancangan sederhana tentang sebuah modul praktikum eksplorasi geothermal.
Praktikum Eksplorasi Geothermal
Latar belakang
Reservoir pada system geothermal memiliki porositas berupa rekahan dimana
merupakan porositas sekunder akibat aktivita tektonik. Prositas tersebut diisi oleh fluida yang
terakumulasi di reservoir tersebut. Reservoir yang terisi oleh fluida air akan memiliki nilai
resistivitas yang berbeda dengan reservoir yang tidak terisi oleh air. Oleh karena itu dilakukan
praktikum dengan mengukur resistivitas batuan hasil coring yang telah dilakukan perekahan
agar memiliki porositas sekunder dan membandingkan nilai resistivitasnya antara reseroar
yang terisi air dengan yang tidak terisi air.
Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah mengetahui karakteristik nila resistivitas batuan yang
memiliki porositas sekunder yang terisi oleh air dan yang tidak terisi oleh air. Dimana
merepersentasikan reservoir geothermal.
Metodologi
Alat dan Bahan
1. Sample coring batuan Gneiss
2. Alat penekan batuan

3. Alat pengukur resistivitas coring

4. Fluida (air)
Skema alat

Cara kerja
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Persiapan alat dan bahan


Simulasi current regulator dengan Proteus
Merangkai current regulator
Rangkai alat seperti skema kerja
Ukur arus keluaran hingga mendekati kontan
Lilitkan 2 kabel tembaga pada batuan dan atur jaraknya
Ukur beda potensial pada kabel tembaga dengan Voltmeter
Ulangi pengukuran pada sample core yang telah ditekan sehingga memiliki rekahan
(simulasi reservoir geothermal) kering dan sample core yang basah (terisi fluida air).
9. Pengolahan data
--------------------------

Daftar Pustaka
Setiawan Sigit, 2011, Analisa terhadap Prospek, Kendala, dan Dukungan Kebijakan.
Saptadji, Nenny Miryani Saptadji. 2009. Teknik Panas Bumi. Penerbit ITB.
UU RI nomor 27 tahun 2003 Tentang Panas Bumi.
Saptadji, Nenny Miryani. 2009. Karakterisasi Reservoir Panas Bumi. ITB.
Kasbani. Tipe Sistem Panas Bumi di Indonesia dan Estimasi Potensi Energinya.
Geothermal.itb.ac.id/sekilas_tentang_panas_bumi. Diakses 5 April 2015.