Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH

MANAJEMEN PERBANKAN

AJUNG ARI WIBOWO


15062190
KELAS KARYAWAN (B)

UN IVERSITAN MERCU BUANA YOGYAKARTA


2015

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Kegiatan perekonomian suatu negara tidak terlepas dari lalu lintas pembayaran
uang, dimana industri perbankan

memegang peranan yang sangat strategis dapat

dikatakan sebagai urat nadi dari sistem perekonomian. Kegiatan pokok bank
menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali kepada masyarakat,
mempunyai fungsi sebagai intermediary service.
Perkembangan perekonomian Indonesia yang semakin pesat, membutuhkan
modal yang cukup besar yang sebaiknya dipenuhi dari sumber dana domestik, sehingga
perlu adanya iklim penggalian sumber dana masyarakat melalui mobilisasi dana
masyarakat yang dilakukan sektor perbankan. Berbagai upaya yang telah dilakukan
pemerintah melalui Otoritas Moneter, dalam hal ini adalah Bank Indonesia sebagai Bank
Sentral, telah mengeluarkan rangkaian deregulasi di bidang keuangan, moneter dan
perbankan yang berkelanjutan, yang tujuannya untuk menciptakan iklim perbankan yang
sehat, mandiri dan efisien. Kebijakan ini pertama digulirkan pada tanggal 1 Juni 1983
(Pakjun83), merupakan awal perkembangan industri perbankan yang berdasarkan
mekanisme pasar (interest rate regulation). Melalui Pakjun83 bank-bank diberi
kebebasan dalam memobilisasi dana masyarakat dengan menghapus pembatasan kredit
dan plafon suku bunga serta pemabatasan kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI).
Kebijakan selanjutnya yaitu pada tanggal 27 Oktober 1988 (Pakto88) , yang bertujuan
meningkatkan mobilisasi dana domestik dengan menurunkan hambatan masuk ke dalam
sektor perbankan, sehingga mempermudah persyaratan membuka bank baru maupun
cabang bank dan penurunan Cadangan Wajib Minimum ( Reserve Requirement/RR) dari
15% menjadi 2% . Dampak dari kedua kebijakan tersebut memberikan pengaruh yang
sangat besar terhadap perkembangan perbankan, baik jumlah bank dan jaringan kantor
bank yang diikuti oleh peningkatan volume usaha dan jenis produk yang ditawarkan.
Jumlah bank sebelum Pakto88 hanya 63 buah bank dan 1.863 kantor bank. Secara
kumulatif pasca Pkato88 sampai dengan 1997 jumlah bank menjadi 238 buah bank dan
7.775 buah kantor bank. Dengan struktur kelembagaan tersebut kegiatan operasional
bank mengalami perkembangan yang sangat pesat sekali, hal ini tercermin dari hasil

pengerahan dana masyarakat dari Rp. 37,5 trilyun pada tahun 1987 menjadi Rp. 357
trilyun pada tahun 1997. (Sumber : Bank Indonesia). Perkembangan mobilisasi dana
masyarakat yang tinggi mununjukkan betapa besar kepercayaan masyarakat terhadap
bank, dengan kata lain banking habit masyarakat sudah tinggi. Hal ini dapat dilihat pada
tabel di bawah ini tentang perkembangan jumlah bank dan kantor bank , serta
perkembangan simpanan masyarakat, khususnya di wilayah Propinsi Jawa Barat yang
ditetapkan sebagai obyek penelitian.
Mengingat kepercayaan masyarakat merupakan modal pokok dari kegiatan usaha
bank, sementara dilain pihak bahwa bank merupakan urat nadi bagi kelancaran kegiatan
perekonomian melalui fungsinya sebagai intermediary service. Menciptakan dan
memelihara kepercayaan masyarakat terhadap bank, tidak hanya menjadi tanggung jawab
industri perbankan, akan tetapi menjadi tanggung jawab pemerintah dengan lembagalembaga terkait. Dengan demikian kepercayaan masyarakat terhadap bank merupakan
suatu hal yang sangat penting dalam menjaga kontinuitas usaha bank , menciptakan dan
menjaga kestabilan moneter disatu pihak dan stabilitas ekonomi dilain pihak. Untuk itu
sudah saatnya dilakukan penelitian untuk mengkaji perihal kepercayaan masyarakat pada
bank, dan penelitian ini dilakukan dengan mengambil judul Analisi Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Kepercayaan Masyarakat Terhadap Bank. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepercayaan masyarakat
terhadap bank, dengan pembatasan masalah yang akan diteliti adalah (a) bagaimana
nasabah dapat mengetahui kriteria bank yang sehat, (b) faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap bank dan (c) sampai seberapa besar
faktor-faktor tersebut mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap bank.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baik bagi obyek
penelitian, maupun bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Kerangka pemikiran

penelitian ini didasakan pada landasan teori yang relevan, dimana bank sebagai lembaga
kepercayaan yang merupakan bagian dari sistem moneter merupakan sarana untuk
pembentukan dana alokasi tabungan masyarakat, maka peranan kebijakan moneter dalam
suatu perekonomian sangat penting dalam menciptakan dan memelihara suatu tingkat
kestabilan ekonomi. Sesuai dengan pengertian bank menurut UU-RI No. 10/1998 tentang
Perbankan , bahwa Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari

masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam


bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf
hidup rakyat banyak.
Sedangkan dalam pasal 29 dikatakan bahwa Mengingat bank terutama bekerja
dengan dana dari masyarakat yang disimpan pada bank atas dasar kepercayaan,
setiap bank perlu terus menjaga kesehatannya dan memelihara kepercayaan
masyarakat padanya .

Dari kedua penjelasan tersebut

dapat disimpulkan bahwa

melalui kegiatan pokok bank diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Untuk dapat meningkatkan taraf hidup rakyat, tentu

diperlukan modal kepercayaan

masyarakat dan kepercayaan ini akan diberikan hanya kepada bank yang sehat. Dengan
demikian tingkat kesehatan bank sangat erat hubungannya dengan kepercayaan
masyarakat terhadap bank. Badudu Zain (1994:1040) mengatakan tentang kepercayaan,
bahwa Kepercayaan adalah meletakkan kepercayaan atau memberikan kepada
seseorang untuk menjaga, memelihara, menyimpan , merahasiakan dan sebagainya.
Masyarakat sebagai salah satu bagian dari pelaku ekonomi, dengan perkembangan
yang terjadi di masyarakat sebagai akibat perkembangan dari teknologi informasi, telah
mempengaruhi perilakunya sebagai pelaku ekonomi. Seperti halnya yang diungkapkan
oleh Soemitro Djojohadikusumo (1991:149) bahwa ..dalam proses pengambilan
keputusan para pelaku ekonomi mengandalkan pengalaman dan pengetahuannya dari
masa lalu dan masa kini, perkiraan-perkiraan yang akan terjadi di masa mendatang
ditambah dengan segenap informasi data yang sekarang tersedia . Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa informasi yang tersedia tentang kondisi sektor perbankan,
dapat mempengaruhi keputusan yang akan diambil yang berkaitan dengan dengan
kepercayaannya kepada bank.
Peranan bank yang sangat strategis dalam perkembangan ekonomi, sehingga perlu
diperhatikan dan dijaga kontinuitas usahanya, dengan meningkatkan kemampuan
menggali sumber dana masyarakat. Untuk itu perlu didukung oleh instrumen yang efektif
yang dapat memotivasi masyarakat menyimpan uangnya di bank. Instrumen tersebut
diantaranya adalah (a) adanya jaminan keamanan atas simpanan masyarakat, (b) tingkat
bunga yang stabil dan kompetitif, (c) pelayanan yang baik dan (d) informasi yang
tersedia tentang perkembangan industri perbankan.

Motivasi masyarakat mempercayakan dananya di bank tentunya selain


mengharapkan mendapatkan keuntungan, juga mengharapkan adanya jaminan keamanan
atas simpanan masyarakat secara hukum. Perilaku seseorang pada saat tertentu biasanya
ditentukan oleh kebutuhan yang paling kuat, yaitu rasa aman. Kerangka kekuatan
kebutuhan manusia telah dikembangkan oleh Abraham Maslow, yang dikenal dengan
Hirarki Kebutuhan Maslow fisiologis, rasa aman, sosial, penghargaan dan perwujudan
diri. Dikatakan bahwa Kebutuhan rasa aman yang berada pada alam sadar cukup
jelas dan sangat umum diantara semua orang pada umumnya. Sedangkan Paul
Hersey mengutip pendapat dari Soul W. Gellerman (1992:36) dikatakan bahwa Semua
orang

memiliki

keinginan

untuk

terbebas

dari

bahaya

yang

mengancam

kehidupannya, yaitu kecelakaan, peperangan dan ketidakpastian ekonomi. Dengan


demikian dapat disimpulkan bahwa setiap individu maupun kelompok sangat
membutuhkan rasa aman, tanpa kecuali kebutuhan rasa aman yang diberikan oleh bank
kepada nasabahnya.
Instrumen berikutnya yang memberikan pengaruh sangat besar terhadap berbagai
kondisi ekonomi yaitu tingkat bunga .

Wasis (1998:94) mengatakan bahwa Tingkat

bunga yang tinggi akan dapat menarik masyarakat untuk menyimpan uangnya di
bank, karena para pemilik dana mengharapakan keuntungan dari dana yang
disimpan di bank. Sedangkan Budiono (1980:2) mengatakan bahwa Tingkat bunga
adalah harga dari penggunaan uang yang

dapat dipandang sebagai sewa atas

penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu. Dengan demikian bahwa tingkat
bunga yang tinggi masih efektif dijadikan sebagai instrumen dalam meningkatkan
mobilisasi

dana

masyarakat.

Seperti

halnya

yang

diungkapkan

Soemitro

Djojohadikusumo (1991:149) tentang pelaku ekonomi yang memiliki perilaku rasional,


yaitu Perilaku ekonomi (economic behaviour) pada dasarnya bersifat rasional,
artinya para pelaku ekonomi bersikap rasional di dalam mengadakan pilihan ekonomi
dan mengambil keputusan ekonomi. Sikap ini tercermin dari perkembangan simpanan
masyarakat bila dibandingkan dengan perkembangan jumlah nasabah. Dimana pada
tahun 1997 dimana perekonomian Indonesia sedang dilanda krisis dan langkah berani
dari BPPN dengan melikuidasi 16 bank umum swasta nasional , yang dilanjutkan dengan
program beku operasi atau pengambil alihan operasional. Namun demikian minat

masyarakat untuk menyimpan uangnya di bank masih tetap tinggi, yaitu memanfaatkan
tingkat bunga deposito yang cukup tinggi (67% per bulan tahun 1997/1998), walaupun
jika dilihat jumlah orang (nasabah) mengalami penurunan. Kondisi ini membuktikan
masih berlakunya teori Keynes

bahwa Bunga uang ditentukan oleh preferensi

likuiditas, yaitu motif transaksi, motif berjaga-jaga dan motif spekulasi. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat bunga merupakan imbalan atau kontraprestasi
yang diberikan oleh bank kepada penyimpanan dana. Suku bunga yang tinggi akan
mendorong masyarakat untuk menghemat pengeluaran konsumsinya dan menyimpan
bagian yang lebih dari aktiva totalnya dalam bentuk aktiva yang memberikan
penghasilan.
Kepercayaan masyarakat terhadap bank tidak terlepas dari masalah kepuasan,
yang dapat dipenuhi salah satunya dari pelayanan yang prima. Sehingga pembahasan
masalah konsep kepuasaan pelanggan (nasabah) menjadi suatu hal yang vital. Persaingan
antar bank yang semakin ketat, dimana semakin banyak produsen yang terlibat dalam
pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen, menyebabkan setiap bank harus
menempatkan orientasi pada kepuasan pelanggan sebagai tujuan utama. Hal ini tercermin
dari banyaknya bank menyertakan konsumennya terhadap kepuasan nasabah dalam
penyertaan misinya. As. Mahmoeddin (1996:2) mengatakan bahwa Pelayanan yang
baik merupakan salah satu syarat untuk berhasilnya bank dalam usaha pengumpulan
dana sebanyak mungkin, penjualan jasa seoptimal mungkin yang pada akhirnya
memperoleh laba semaksimal mungkin. Sedangkan Tjiptono, yang mengutip pendapat
Engel,et.all. (1995:27) mengatakan bahwa Kepuasaan pelanggan merupakan evaluasi
purna beli, dimana alternatif yang dipilih sekurang-kurangnya sama atau melampaui
harapan pelanggan, sedangkan ketidakpuasan timbul apabila hasil tidak memenuhi
harapan. Dapat disimpulkan bahwa pelayanan yang baik, ramah, cepat dan akurat
merupakan suatu prinsip yang harus dimiliki oleh setiap petugas bank, yang harus
memberikan pelayanan prima kepada nasabah. Semakin baik pelayanan yang diberikan,
maka semakin tinggi tingkat kepuasan nasabah, semakin tinggi tingkat kepercayaan
masyarakat terhadap bank.
Perilaku masyarakat sebagai pelaku ekonomi tentu sangat berkepentingan dengan
tersedianya informasi yang dapat dipertanggung jawabkan. Tindakan atau pengambilan

keputusan secara rasional berdasarkan pengalaman dan informasi yang diperoleh.


Kondisi perilaku masyarakat yang semakin kritis, menuntut peranan Pemerintah dalam
hal ini Bank Indonesia sebagai lembaga yang berwenang mengeluarkan informasi, dapat
secara aktif mensosialisasikan setiap perubahan kebijakan tentang perbankan, sehingga
masyarakat dapat mengetahui dan mengikuti perkembangan perbankan dengan baik,
khususnya tingkat kesehatan bank. Dengan demikian informasi dapat dijadikan sebagai
instrumen yang dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap bank. Seperti
halnya yang diungkapkan oleh Sumitro Djojohadikusumo (1991:149) tersebut diatas.

PEMBAHASAN
I.

KRITERIA KESEHATAN BANK

Pada akhir tahun 2001 Bank harus memenuhi persyaratan Kesehatan Bank dari Bank
Indonesia :

II.

CAR minimal 8 %

NPL maksimal 5 %
TAHAPAN PENYUSUNAN CETAK BIRU PERBANKAN

1. Langkah1
Analisa CAMEL berdasarkan peraturan Bank Indonesia untuk mengklasifikasikan
Bank sehat dan Bank tidak sehat

2. Langkah2
Klasifikasi Bank. Proses penyaringan Bank sehat menjadi Bank kuat dan Bank
lemah
Parameternya adalah sebagai berikut :
1. Kualitas SDM

Manajemen profesional

Uji kepatutan (Fit and Proper Test) pemegang saham

2. Kemampuan finansial

Tingkat permodalan

Skala ekonomi

Efisiensi dari akumulasi dana / pendanaan

Kemampuan menyalurkan kredit kepada sektor riil

3. Tingkat keunggulan kompetitif secara regional

4. Good

Governance

Manajemen kredit yang prudent

3. Langkah3
Evaluasi terhadap Nilai Waralaba (Franchise Value untuk Bank yang tidak sehat.
Melakukan evaluasi terhadap Nilai Waralaba (Franchise Value dari Bank yang
tidak sehat untuk menentukan apakah Bank tersebut diikutsertakan dalam proses
konsolidasi atau harus ditutup.

4. Langkah4
Pemetaan Perbankan Nasional. Proses pemetaan Bank yang kuat dan Bank yang
lemah untuk menentukan posisi relatif dari setiap Bank di dalam Perbankan

1.

Langkah5
Proses Pengelompokan . Proses untuk menentukan Kelompok Bank dengan cara:
Penggabungan Bank-Bank (Merger Banks)

Tidak diperlukan injeksi modal

Diperlukan injeksi modal

Bank berdiri sendiri (Stand Alone Banks)

Tidak diperlukan injeksi modal

Diperlukan injeksi modal

Parameter yang digunakan pada langkah 5 :

2. Infrastruktur jaringan distribusi

Cabang

Anjungan Tunai Mandiri (ATM)

Jaringan pendebetan

Pelayanan perbankan on-line dan melalui telepon

Rencana pengembangan

3. Bank Konsumer (Consumer Banking)

Deposito

Produk / Portofolio Kartu Kredit

Kredit konsumsi dan produk lainnya

Pelayanan perbankan melalui internet

4. Bank Korporasi dan retail (Corporate dan Retail Banking)

Pinjaman (Loans)

Rencana usaha (Business Plan)

Manajemen resiko

5. Sumber Daya Manusia


6. Teknologi dan Operasi

Infrastruktur teknologi

Teknologi untuk manajemen resiko

7. Peraturan dan aspek legal Litigasi, kontingensi, dan aspek legal lainnya

5. Langkah6
Proses penentuan Posisi Akhir . Proses penentuan posisi akhir akan mengarahkan
Bank-Bank untuk menjadi :
o

Bank Inti (Core Banks)


11

Bank Internasional

Memiliki cabang di seluruh propinsi

Memenuhi standar perbankan internasional

11

Kemampuan permodalan untuk operasi skala nasional

Pelayanan yang meliputi seluruh produk perbankan

Nasabah korporasi besar, menengah dan retail

Bank regional

Pelayanan produk perbankan terbatas sektor tertentu

Bank berdasarkan tata nilai agama (mis. Bank Syariah)

Geografi (mis. Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi)

Nasabah (mis. Korporasi besar, menengah)

Bank Non-Inti (Non-Core Banks)


Bank Khusus Menawarkan produk tertentu seperti :

Pembiayaan sektor pertanian dan agribisnis

Pembiayaan untuk usaha kecil

Bank tabungan nasional khusus untuk Kredit Pemilikan


Rumah

Pembiayaan untuk proyek-proyek nasional berskala besar

Parameter yang digunakan untuk mencapai proses akhir adalah


sebagai berikut :

Jenis usaha

Jumlah cabang

Bank devisa

Teknologi dan operasi

Budaya perusahaan

III.

PEMETAAN PERBANKAN NASIONAL

1.

Sesuai dengan Program Aksi Prioritas Sektor Riil yang telah disampaikan pada
Sidang Kabinet tanggal 8 Pebruari 2001 (Dokumen II), khususnya Sektor
Keuangan, Kantor Menteri Muda Urusan Restrukturisasi Ekonomi Nasional telah
melakukan kajian Cetak Biru Perbankan Nasional

2.

Cetak Biru Perbankan Nasional ini sangat diperlukan saat ini mengingat rencana
pemberlakuan peraturan Bank Indonesia pada akhir tahun 2001 di mana semua
bank diharuskan memiliki rasio kecukupan modal (CAR) minimal 8% dan tingkat
kredit bermasalah (NPL) maksimal 5%

3.

Dari catatan Bank Indonesia dan data serta analisa yang kami lakukan, akan
terdapat kurang lebih 20 bank yang tidak dapat memenuhi ketentuan tersebut di
atas

4.

Dari beberapa alternatif yang kami analisa untuk penyelesaian masalah ini, maka
penggabungan dan konsolidasi bank-bank merupakan alternatif yang terbaik

5.

Kajian tersebut terlampir dalam laporan ini.

IV.

ALTERNATIF PENYEHATAN PERBANKAN NASIONAL

1.

Merubah

peraturan

Bank

Indonesia

(CAR

8%

dan

NPL

5%)

Alternatif pertama akan menimbulkan moral hazard CAR 8% belum cukup


untuk mendukung Bank yang kuat dan efisien
2.

Redistribusi

Obligasi

Pemerintah

Alternatif kedua sulit dilakukan karena tidak sesuai dengan kondisi pasar
3.

Penukaran

dengan

Aset

(Asset

Swap)

Alternatif ketiga juga sulit dilakukan disebabkan terbatasnya aset yang telah
direstrukturisasi di BPPN, sulitnya penentuan harga, dan mekanisme swap
V.

KONSOLIDASI DAN MERGER


Alternatif keempat, konsolidasi Bank-Bank Nasional menjadi pilihan yang paling

menguntungkan, karena: - Bank-Bank hasil konsoldasi / merger dapat mencapai skala


ekonomi yang menguntungkan. - Meningkatkan nilai Bank-Bank Nasional dan akan
menarik investor. - Pengawasan yang lebih efektif dengan berkurangnya jumlah Bank.
SESUAI dengan nature krisis yang menimpa negeri kita, perbankan memainkan
peran penting dalam pemulihan ekonomi. Ada dua generasi utama dalam krisis ekonomi,
dilihat dari faktor fundamental yang menyebabkannya. Pertama, krisis nilai tukar
(currency crisis) dan kedua, krisis sistem finansial (financial crisis). Berbeda dengan
krisis di kawasan Amerika Latin (Brasil, Meksiko, Argentina) dan Eropa Timur
(Yugoslavia, Bulgaria, Hongaria), krisis yang menimpa kawasan Asia Tenggara
(Indonesia,

Thailand,

Filipina,

Malaysia)

menunjukkan

kausalitas

yang

erat

antarkeduanya (faktor moneter dan finansial).


Demikian, maka krisis di kawasan ini dinamai krisis generasi ketiga (third
generation). Jika ditelusuri lebih jauh, akar dari dua generasi krisis tersebut sebenarnya

ada pada faktor kepercayaan yang hilang. Runtuhnya perekonomian kita sangat
dipengaruhi oleh perilaku destruktif para pelaku ekonomi, sebagai refleksi atas harapan
akan realita ekonomi (fulfilling destructive prophecy). Maka tidak berlebihan jika dalam
rangka memantapkan pemulihan ekonomi, kredibilitas adalah sesuatu yang sangat
dibutuhkan dari pemerintah sekarang ini.
Kita agak tersentak dengan kejadian yang menimpa PT Bank Global Tbk serta
perusahaan reksadana Prudence International, beberapa waktu lalu. Demikian pula
dengan berita masuknya Bank Persyarikatan Indonesia (BPI) di bawah pengawasan
khusus (special surveillance) Bank Indonesia. Ternyata, industri perbankan serta sektor
keuangan masih berlumur dengan persoalan yang serius. Padahal, tanpa kebangkitan
sektor perbankan serta perkembangan sektor finansial yang kuat, pemulihan ekonomi
akan tersendat. Lalu apa yang harus dilakukan? Sektor finansial Secara sederhana, tugas
utama pemerintah hanyalah dua, yaitu meredam gejolak jangka pendek serta menggali
potensi pertumbuhan dalam jangka panjang. Boleh dikatakan, pemerintahan baru sudah
tidak terlalu dibebani oleh persoalan gejolak jangka pendek. Nilai tukar sudah stabil,
inflasi terkendali, dan tingkat suku bunga juga makin bisa ditekan. Bahkan kredibilitas
pemerintahan baru di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla juga
makin bersinar. Salah satu indikatornya adalah melonjaknya Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) hingga menyentuh nilai tertinggi dalam
sejarah pasar modal di Indonesia mencapai titik 1.003 poin. Berita mengenai penipuan
terhadap nasabah PT Bank Global adalah berita buruk yang turut menahan pergerakan
perdagangan saham. Demikian pun, keraguan akan kredibilitas dari tata perekonomian di
bawah pemerintahan baru mulai merebak. Keraguan tersebut bukanlah tanpa sebab.
Dalam kasus Bank Global, persoalannya terkait dengan industri reksadana yang sedang
tumbuh sangat pesat akhir-akhir ini. Hingga di penghujung 2004 ini, dana yang bergerak
di industri tersebut sudah mencapai Rp100 triliun. Padahal, di akhir 2002 baru mencapai
Rp41,6 triliun. Di seluruh dunia, industri reksadana memang sedang mengalami
booming. Majalah The Economist edisi 27 November-3 Desember 2004 mengusung
judul The capitalism's New Kings. Dalam kurun dua tahun terakhir ini, industri reksadana
(private equity) telah tumbuh sebesar 60%.

Dan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, terjadi peningkatan sebesar 3.000%.
Betapa industri reksadana tengah menjadi pusat bisnis baru yang merajai sistem
kapitalisme modern, begitu The Economist menerangkan. Di Indonesia, industri
reksadana merupakan salah satu alternatif pembiayaan perusahaan yang berkembang
terutama setelah krisis. Sebagaimana kita tahu, sebelum krisis ekonomi, sumber
pembiayaan perusahaan hanya mengandalkan sistem perbankan. Bahkan hingga 2000
yang lalu, perbankan masih menguasai 90,40 persen perputaran dana di sektor finansial.
Artinya, sektor finansial yang lainnya (pasar modal, asuransi, multifinance, dan
pegadaian) belum begitu berkembang. Tidak berkembangnya pasar modal secara optimal,
sehingga pertumbuhan obligasi (obligasi pemerintah dan perusahaan) serta saham masih
di bawah pertumbuhan sektor perbankan. Akibatnya, struktur permodalan perusahaan dan
instrumen investasi masih sangat tergantung pada sektor perbankan. Kehancuran sektor
perbankan telah memberi pelajaran untuk secara berangsur mengembangkan sektor
investasi yang lain. Maka sumber pembiayaan yang berbasis pada pasar modal semakin
menjadi kebutuhan.
Dalam konteks sektor pembiayaan konsumsi (multifinance), akhir-akhir ini juga
mengalami perkembangan yang pesat. Di tengah kelesuan sektor perbankan yang
menderita akibat sektor riil yang tidak bergerak, bisnis multifinance tumbuh secara
meyakinkan. Hingga 2004 ini, penyaluran dana bank ke multifinance naik sebesar 67%
(atau Rp8,3 triliun) dibanding 2003 yang hanya mampu menyalurkan kredit sebesar
Rp4,9 triliun. Secara kuantitatif, jumlah perusahaan multifinance juga mengalami
lonjakan, hingga pertumbuhan sektor tersebut selama 2004 naik sekitar 20-30%.
Fenomena lain adalah terjadinya merger antara bank dan perusahaan multifinance,
sebagaimana terjadi antara Bank Danamon dengan Adira Finance serta Bank
Internasional Indonesia (BII) dengan Wahana Otomitra Multiarta. Selain itu,
perkembangan sektor pembiayaan juga didukung oleh kemitraan, seperti terjadi antara
Bank Mandiri dengan PT Astra Sedaya, yang menerima kucuran kredit sebesar Rp2,5
triliun. Pendek kata, selain perbankan, sekarang sektor pembiayaan dan reksadana adalah
ujung tombak dalam sektor finansial kita. Sayangnya, pemerintah nampak tidak siap

menghadapi perkembangan di sektor-sektor tersebut, selain pemulihan dunia perbankan


pun mengalami hambatan yang berarti. Kelembagaan Beralihnya pusat peredaran uang
dari perbankan ke industri pembiayaan dan industri reksadana menyisakan berbagai
persoalan kelembagaan. Sudah siapkan kelembagaan sektor finansial kita terhadap
perkembangan reksadana dan multifinance? Sektor yang lebih krusial adalah industri
reksadana, karena sangat rentan terhadap manipulasi. Sebagaimana pada awal
pertumbuhan sektor perbankan pada 1988, persoalan utamanya adalah institusi hukum
dan aturan main yang ternyata sangat lemah. Akibatnya, liberalisasi sektor perbankan
bukannya menghasilkan struktur pembiayaan yang kuat bagi sektor riil, justru sebaliknya
menyebabkan keterpurukan yang luar biasa. Inti persoalannya, sektor perbankan tidak
dikelola dengan baik, sehingga tidak memiliki daya dukung yang kuat terhadap struktur
perekonomian nasional secara umum. Sekilas, kita bisa melihat betapa liberalisasi hanya
menciptakan struktur industri perbankan yang rapuh. Sejak Paket Oktober 1988 (Pakto),
terlalu banyak bank berdiri sehingga persaingan sangat tinggi dan pada gilirannya
kualitasnya menjadi sangat buruk. Sementara itu, struktur aset dan kewajiban timpang
karena fungsi pengawasan yang lemah. Hal tersebut bisa ditunjukkan dengan besarnya
off balance sheet liabilities dari keseluruhan aset di sektor perbankan, yaitu sekitar 63%
yang tidak diungkapkan dan di-hedging secara benar. Singkatnya, liberalisasi tanpa
kerangka kelembagaan yang baik, justru berakibat sangat fatal. Zaman dengan orde
liberalisasi berulang kembali.
Sektor finansial yang dibiarkan tumbuh tanpa adanya regulasi dan kelembagaan
yang kuat, dipastikan hanya akan menjadi bumerang di kemudian hari. Sudah saatnya
otoritas di sektor keuangan, seperti Bappepam, BEJ, BI mengintegrasikan koordinasi
untuk membangun kerangka kelembagaan yang kuat bagi perkembangan sektor finansial.
Dunia perbankan yang ternyata masih menyimpan bara persoalan, harus segara
diselesaikan, baik dengan cara merger, likuidasi maupun dengan mengaktifkan seluruh
perangkat pengawasan yang sementara ini masih terlihat tidak maksimal. Tanpa
pemulihan sektor perbankan serta kesehatan sektor finansial pada umumnya, stabilitas
ekonomi makro yang sudah mulai tercipta akan terganggu kembali. Dan jika stabilitas
jangka pendek kembali terjadi (meski dalam derajat yang lebih kecil ketimbang

1997/1998 lalu) tetap saja akan mengganggu usaha menciptakan pertumbuhan dalam
jangka panjang. Sebenarnya, pemerintahan baru memiliki peluang yang sangat besar
untuk secara lebih terfokus membenahi kelembagaan di setiap sektor ekonomi, agar
tercipta struktur ekonomi yang kuat. Sayangnya, pemerintahan baru belum juga maksimal
mengarahkan kebijakan-kebijakannya dalam rangka penguatan kelembagaan. Sebaliknya
aroma yang terasa adalah usaha untuk melanggengkan kekuasaan dengan berimprovisasi
melalui penetrasi pada kekuatan-kekuatan politik. Moga-moga manuver Wakil Presiden
Jusuf Kalla mencengkeram Partai Golkar tidak berlanjut dengan manuver politik yang
lain, karena stabilitas serta pemulihan ekonomi akan menjadi taruhannya.
Sementara itu, rakyat sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi kesungguhan
pemerintah mengatasi krisis ekonomi. Tanpa kredibilitas dari pemerintah, kebijakan tidak
populis seperti menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), mencabut subsidi,
privatisasi serta liberalisasi di berbagai sektor hanya akan menggerakkan kemarahan
massa-rakyat. Kesungguhan, kredibilitas dan kerja keras harus terlebih dahulu
ditunjukkan, sebelum mengajak rakyat bersama-sama hidup lebih menderita, guna
mencapai tahap pemulihan ekonomi yang lebih tinggi.
Bank Indonesia diminta mengumumkan kesehatan bank di Indonesia demi
menjamin keselamatan uang masyarakat. Per 22 Maret 2007, rencananya pemerintah
melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) hanya akan menjamin simpanan masyarakat
di perbankan sampai Rp 100 juta per nasabah per bank. Lantaran hal itu, masyarakat
perlu mengetahui kesehatan bank secara transparan melalui intervensi BI.
Demikian diungkapkan Pengamat Ekonomi dari Centre for Strategic and
International Studies (CSIS) Pande Radja Silalahi, Kamis (15/3) di Medan dalam sebuah
diskusi perbankan yang diselenggarakan Bank Mandiri. Untuk mengantisipasi hal yang
tidak diinginkan, maka bank dan masyarakat harus sama-sama proaktif. Pihak perbankan
harus meyakinkan mereka, kata Pande.
Dia menuturkan akan terjadi perang informasi bahwa masing-masing bank
mengklaim dirinya sehat. Para nasabah perlu mengetahui mana bank yang terindikasi

tidak sehat. Dia meminta agar masyarakat tidak terkelabui dengan apa yang disampaikan
pihak bank. Salah satunya adalah dengan mengetahui indikator-indikator Loan Deposit
Ratio (LDR), Capital Adequaces Ratio (CAR), dan Net Interest Margin (NIM).
Indikator-indikator itu tidak dengan sendirinya bisa diketahui masyarakat. Namun, perlu
adanya pihak ketiga yang menginformasikan hal itu. Mereka bisa datang dari media
ataupun

Bank

Indonesia.

Saya

kira

BI

bisa

melakukan

itu,

tutur

dia.

Hati-hati
Saya memprediksi, BI akan dituntut masyarakat untuk mengumumkan kesehatan bank
ke masyarakat. Pada tahap selanjutnya, Nasabah bank yang menyimpan dana di atas Rp
100 juta harus betul-betul mencermati kesehatan dan kemampuan bank mereka, tutur
dia.
Berdasarkan data BI, dana pihak ketiga yang disimpan di perbankan meningkat
dari Rp 1.127 triliun di tahun 2005 menjadi Rp 1.287 triliun pada Desember 2006.
Indikator kesehatan perbankan seperti CAR, LDR, dan NIM rata-rata meningkat 2,2
persen, 1,9 persen, dan 0,6 persen.
Di kesempatan yang sama, senada dengan Pande, Direktur Penjamin dan
Manajemen Resiko Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Firdaus Djaelani mengatakan
bank harus dikelola secara profesional dan terbuka agar dapat dipercaya. Menurut dia,
nasabah harus selektif dan tidak mudah terbujuk oleh imbalan bunga tinggi.
Kepala Kantor Wilayah I Bank Mandiri Medan Wahyu Widodo mengatakan Bank
Mandiri siap dengan kebijakan baru tersebut. Struktur permodalan yang kuat dengan
CAR 25,3 persen jauh di atas ketentuan minimum BI sebesar 8 persen. Ini adalah alasan
untuk melaksanakan ketentuan baru itu. Prioritas kenyamanan nasabah menjadi prioritas
utama bagi Bank Mandiri, tutur dia.
VI.

BI SUSUN ATURAN BANK SYARIAH

`Bank Indonesia saat ini masih menggodok peraturan mengenai kesehatan bank
syariah, menyusul aturan-aturan dasar lain yang telah dikeluarkan. Menurut Deputi
Gubernur BI Maulana Ibrahim di Jakarta, Jumat (23/1), aturan mengenai kesehatan
perbankan syariah harus dibedakan dengan sistem konvensional.
"Mengingat titik berat sistem syariah adalah proteksi pada investor atau nasabah,
menggunakan sistem bagi hasil," ujar Maulana. Maulana juga mengatakan, Arsitektur
Perbankan Indonesia (API) tetap menjamin eksistensi perbankan syariah. Dalam
kerangka dasar sistem perbankan Indonesia itu, bank syariah diakomodasi dalam
kelompok bank yang melakukan jasa khusus.
Menurut Maulana, API disusun mengacu pada peraturan perbankan yang telah
ada. "Rancangan API kan harus sesuai dengan undang-undang, dan peraturannya sudah
mengamanatkan sistem perbankan kita terdiri atas perbankan konvensional dan syariah.
Karena itu, perbankan syariah ditampung dalam kelompok bank yang melaksanakan jasa
khusus," ujarnya.
Dalam rancangan API yang disampaikan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah dua
pekan lalu disebutkan, dalam 10-15 tahun ke depan bank-bank diharapkan dapat
meningkatkan permodalan untuk mencapai struktur perbankan yang optimal.
Berdasarkan besarnya modal, perbankan nasional ke depan digolongkan dalam
empat kelompok, yaitu dua hingga tiga bank dengan kapasitas dan kemampuan
beroperasi di wilayah internasional dengan modal minimum Rp 50 triliun. Kelompok
kedua, tiga sampai lima bank nasional dengan modal Rp 10 triliun-Rp 50 triliun.
Di bawahnya adalah 30-50 bank yang kegiatan usahanya terfokus pada segmen
usaha tertentu sesuai dengan kompetensi masing-masing bank, dengan modal Rp 100
miliar-Rp 10 triliun. Terakhir, kelompok bank perkreditan rakyat (BPR) dan bank dengan
kegiatan usaha terbatas bermodal kurang dari Rp 100 miliar.

Dirilis, Sistem Baru Penilaian Kesehatan Bank Syariah


Perkembangan perbankan Syariah saat ini dan ke depan diperkirakan akan
memiliki produk dan jasa perbankan yang semakin beragam dan kompleks, sehingga
eksposur risiko yang dihadapi juga akan meningkat.
''Perkembangan metodologi penilaian kondisi bank yang bersifat dinamis,
mendorong pengaturan kembali sistem penilaian tingkat kesehatan bank berdasarkan
prinsip syariah, agar dapat memberikan gambaran yang lebih tepat mengenai kondisi saat
ini dan mendatang,'' kata Deputi Gubernur, Siti Chalimah Fadjrijah di Jakarta, pekan lalu.
Dia menjelaskan, meningkatnya eksposur risiko tersebut akan mengubah profil
risiko bank syariah yang pada gilirannya akan mempengaruhi tingkat kesehatan bank
tersebut. Untuk itulah Bank Indonesia menerbitkan Peraturan Bank Indonesia (PBI)
No.9/1/PBI/2007 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Berdasarkan
Prinsip Syariah yang berlaku mulai 24 Januari 2007.
Dalam penilaian tingkat kesehatan tersebut, bank syariah telah memasukkan
risiko yang melekat pada aktivitas bank. Ini merupakan bagian dari proses penilaian
manajemen risiko.
Bank Umum Syariah wajib melakukan penilaian tingkat kesehatan bank secara
triwulanan, yang meliputi faktor-faktor Permodalan (capital), Kualitas aset (asset
quality),Rentabilitas (earning), Likuiditas (liquidity), Sensitivitas terhadap risiko pasar
(sensitivity to market risk), dan Manajemen (management).
Ia menambahkan, penilaian peringkat komponen atau rasio keuangan pembentuk
faktor financial (permodalan, kualitas aset, rentabilitas, likuiditas, dan sensitivitas
terhadap

risiko

pasar)

dihitung

secara

mempertimbangkan unsur judgement. (bn-59)

kuantitatif

dan

kualitatif

dengan

VII.

KESEHATAN BANK NASIONAL MEMBAIK


Kondisi kesehatan perbankan nasional mengalami perbaikan, di mana rasio

kecukupan modal (CAR) rata-rata hingga saat ini mencapai 20,7 persen dengan jumlah
kredit yang disalurkan Rp 904 triliun, atau tumbuh 19,4 persen.
Demikian dikemukakan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah pada
acara

Forum

Strategis

Bank

Indonesia

2007,

Rabu

(29/8).

"Saya berharap hingga akhir tahun ini kredit bisa tumbuh 20 hingga 22 persen dan kredit
bermasalah (NPL) terus dijaga pada tingkat yang relatif rendah 6,36 persen (gross) atau
2,89 persen (nett)," kata Burhanuddin Abdullah. Kesehatan bank, hemat dia, kian menjadi
bekal penting guna membendung gejolak eksternal.
Burhanuddin mengemukakan gejolak eksternal dalam tiga minggu terakhir telah
memberi pelajaran penting dalam manajemen makroekonomi Indonesia di tengah rezim
devisa bebas nilai tukar yang dianut. "Setidaknya ada tiga pelajaran penting yang dapat
dipetik dari kondisi ini," kata Burhanuddin.
Pertama, perlunya Bank Indonesia berhati-hati dalam merumuskan dan mengelola
kebijakan ekonomi nasional. Kedua, pentingnya membangun fundamental ekonomi yang
kokoh. Ketiga, tetap melaksanakan proses pembangunan secara bertahap dengan tetap
menjaga keseimbangan berbagai hal terkait proses pembangunan tersebut.
Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan industri
perbankan nasional secara fundamental, relatif sudah jauh lebih kuat dibanding sebelum
krisis

perbankan

1997.

Indikasi keberhasilannya, lanjut Presiden, bisa dilihat pada saat ini di mana pasar
finansial global sedang terjadi gonjang-ganjing sementara industri perbankan sudah
punya mekanisme dalam mengelola risiko dan juga katup-katup pengaman.

Terbukti, gejolak pasar finansial global tidak sampai mempengaruhi industri


perbankan kita. Makroekonomi kita juga makin kokoh, yang tak luput dari kontribusi
perbankan juga, kata Presiden.
Penjaminan Bergantung pada Kesehatan Bank
Menteri Keuangan Boediono mengatakan, premi penjaminan dalam Lembaga
Penjamin Simpanan (LPS) akan didasarkan pada tingkat kesehatan bank. "Idealnya,
penetapan premi didasarkan pada tingkat kesehatan tiap-tiap bank atau risk based-nya,"
tuturnya dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Jakarta, kemarin.
Modal awal pendirian LPS, lanjut dia, akan bersumber pada premi penjaminan
yang ada pada saat pelaksanaan program penjaminan oleh pemerintah sampai terbentuk
LPS yang diperkirakan sekitar Rp 4 triliun. "Jumlah itu masih tetap terbuka untuk
dibahas bersama Dewan mengenai modal yang cukup bagi LPS," tambahnya.
Sementara itu, Darmin Nasution, Dirjen Lembaga Keuangan mengatakan, premi
penjaminan akan berdasarkan pada risiko kegagalan bank, sehingga makin besar risiko
bank ditutup kian besar pula preminya.
"Makin kecil risiko bank ditutup atau makin sehat banknya, kian kecil
pembayaran preminya," tegas dia.
Dalam LPS, kata dia, diusulkan pembayaran premi 0,1% dari rata-rata dana pihak
ketiga untuk satu sampai dua tahun pertama. Setelah itu berdasarkan pada risiko
kesehatan bank. Pada saat ini premi penjaminan yang ditentukan oleh BPPN 0,25% dari
rata-rata dana pihak ketiga setahun.
Dia menyebutkan, kisaran antara premi terkecil dan tertinggi yang harus
dibayarkan untuk penjaminan tidak sampai 0,5%, sehingga bank yang paling sehat
preminya bisa di bawah 0,1%.

Mengenai lingkup penjaminan simpanan, dia mengatakan, nanti hanya akan


menjamin simpanan dana pihak ketiga. Namun, pengurangan lingkup penjaminan
dilakukan dalam dua tahap.
Pertama, satu tahun setelah LPS terbentuk penjaminan hanya berlaku untuk dana
pihak ketiga dan transaksi antarbank. Kedua, enam bulan berikutnya hanya simpanan
dana pihak ketiga yang akan dijamin.
Dalam RUU LPS disebutkan, LPS merupakan lembaga independen yang
memiliki kewenangan publik dan bertanggung jawab kepada presiden. Presiden tidak
dapat memberhentikan pemimpin LPS kecuali berdasarkan ketentuan yang ditetapkan
UU LPS.
LPS akan dipimpin oleh dewan komisioner dan kepala eksekutif yang terdiri atas
profesional yang memiliki pengalaman dan keahlian di bidangnya.
Tambah Modal
Sementara itu 55 bank yang saat ini modalnya masih di bawah Rp 100 miliar
bersedia menambah modal sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam Arsitektur
Perbankan Indonesia.
"Namun untuk penambahan modal tersebut saat ini Bank Indonesia (BI) belum
memperbolehkan bank-bank tersebut melakukan lewat kredit investasi kolektif efek
beragunan aset," kata Mulyaman Hadad, Deputi Direktur Penelitian dan Pengaturan
Perbankan yang juga Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan BI di Gedung BI Jalan MH
Thamrin, Jakarta.
Keinginan bank menambah modal lewat kredit investasi kolektif efek beragunan
aset tersebut, menurut di, masih belum memungkinkan karena hingga saat ini BI belum
memiliki aturannya.
"Kami masih akan mengkaji apakah bank bisa menambah modalnya lewat kredit
tersebut. Itu nanti akan ada peraturannya. Sekarang belum, mungkin pada akhirnya bisa

karena aturannya belum ada. Tapi memang memungkinkan diatur dalam Peraturan Bank
Indonesia (PBI)," tambahnya.
Dalam Arsitektur Perbankan Indonesia BI memutuskan agar bank meningkatkan
modal minimumnya menjadi di atas Rp 100 miliar pada tahun 2010. Saat ini ada 55 bank
yang modalnya masih di bawah Rp 100 miliar.
"Namun pada dasarnya ke-55 bank itu telah bersedia mengikuti koridor yang
diatur dalam Arsitektur Perbankan Indonesia. Mereka saat ini tengah bersiap-siap
menambah modal atau melakukan merger," tuturnya.
Bahkan, lanjut dia, bank-bank yang saat ini memiliki modal di atas Rp 100 miliar,
contohnya Bank BRI, Bank BNI, dan Bank Mandiri tengah menggelar sejumlah program
dalam upaya meningkatkan dan memperkuat permodalan.
BI, tegas dia, tidak akan mengubah ketentuan yang berlaku dalam Arsitektur
Perbankan Indonesia. Sejauh ini belum ada yang mengajukan rencana merger mengingat
tenggang waktu untuk mencapai ketentuan modal itu masih sekitar 7 tahun lagi.
"Untuk bank syariah sejauh ini tidak ada masalah karena semua modalnya sudah
di atas Rp 100 miliar."(dtc-53e)
VIII. CARA MUDAH MEMILIH BANK SEHAT
Jangan panik menghadapi turunnya batas penjaminan yang kini hanya berlaku
untuk simpanan di bawah Rp 100 juta. Agar dana simpanan Anda aman, pilihlah bank
yang sehat dan berwatak baik. Memilih bank seperti itu tidak terlalu sulit. Berikut
beberapa tipnya.
Ini berarti, para deposan yang memiliki dana simpanan dalam jumlah besar harus
bersiap menerapkan strategi baru. Maklum, mulai hari itu, Lembaga Penjamin Simpanan
menurunkan batas penjaminan simpanan di bank, dari Rp 1 miliar menjadi hanya Rp 100
juta Kebijakan ini berlaku terhadap gabungan seluruh rekening simpananseperti deposito,
tabungan, giroatas nama seorang nasabah di sebuah bank.

Salah satu langkah paling penting dan mutlak dalam menghadapi penurunan batas
penjaminan simpanan bank oleh Lembaga Penjamin Simpanan itu adalah: teliti memilih
bank. Sebab, kita sebetulnya membutuhkan talangan dari LPS hanya jika bank tempat
kita menyimpan duit itu bermasalah, bangkrut, dan akhirnya dilikuidasi oleh Bank
mdonesia Kalau banknya sehat-sehat saja, mestinya berapa pun besarnya dana simpanan
kita tak ada masalah sama sekali.
Bagaimana cara memilih bank yang sehat dan layak dipercaya? Ada dua faktor
yang bisa kita gunakan sebagai alat ukur. Yakni:
1.

Faktor kuantitatif Indikator kesehatan bank secara kuantitatif bisa kita lihat dari
rasio-rasio keuangannya Ada dua rasio utama yang bisa menjadi alat ukur
kesehatan sebuah bank.
Pertama, rasio kecukupan modal alias capital adequacy ratio (CAR). Secara

sederhana, rasio ini mencerminkan tingkat kekuatan permodalan bank menghadapi


kemungkinan terjadinya kredit macet. Saat ini, Bank Indonesia menentukan batasan
minimal CAR adalah 8%. Jika rasio kecukupan modal sebuah bank berada di bawah 8%,
kemungkinan besar Bank Indonesia akan melikuidasi atau menutup bank tersebut.
Meskipun resminya BI masih membatasi CAR minimal sebesar 8%, namun di
pasar umumnya orang menilai sebuah bank layak dikatakan sehat jika CAR-nya tidak
lebih kecil dari 12%.
Kedua, lihat pula dari rasio kredit bermasalah alias nonperforming loan atau yang
biasa disingkat NPL. Berbalikan dengan CAR, semakin kecil rasio NPL ini semakin
aman bank tersebut. BI sendiri mematok batasan NPL ini maksimal 5%.
Jika sebuah bank menawarkan bunga yang amat tinggi atau uningiming hadiah
mewah, sementara kita lihat NPL-nya sudah melewati 5%, waspadalah! Sebab, bank itu
memenuhi persyaratan utama untuk mati.

Lantas, dulu di saat krismon, kredit macet di sektor korporasi memang menjadi
biang kerok matinya bank. Belakangan, bank-bank memang sudah mengerem penyaluran
kredit korporasi. Tapi, itu bukan berarti bahwa risiko likuidasi bank akibat
membengkaknya NPL sudah hilang. Menurut Iigwina Poerwo-Hananto,
CEO Quantum Magna Financial, saat ini risiko kredit macet bank datang dari
sektor kredit konsumsi dan kredit tanpa agunan yang jor-joran ditawarkan bank.
Di luar dua rasio utama kesehatan bank tadi, ada beberapa rasio lain yang bisa
kita perhatikan untuk memantapkan langkah kita memilih sebuah bank. Sebut saja rasio
penyaluran kredit alias loan to deposit ratio (LDR). Bank yang sehat adalah bank yang
tingkat LDR-nya tinggi, namun tingkat NPL-nya rendah. Ini berarti bank tersebut cukup
aktif menyalurkan kredit dan kredit tersebut lancar. Angka ideal LDR ini adalah sekitar
85%-90%.
Rasio lain adalah rasio bunga bersih alias net interest margin (NIM) yang
mencerminkan tingkat keuntungan sebuah bank. Semakin besar NTM-nya, semakin besar
dan semakin sehat sebuah bank.
Lalu, dari mana kita bisa memperoleh data mengenai rasio-rasio kesehatan itu?
Enggak sulit, kok. Kita tinggal memelototi publikasi laporan keuangan perbankan yang
setiap tiga bulan sekali dimuat di media massa Atau, kita juga bisa mengunjungi situssitus bank yang biasanya memuat data-data laporan keuangan, termasuk rasio-rasio
penting tersebut. "Masalahnya, selama ini, tidak semua orang membacanya. Yang banyak
membaca itu justru analis dan pelaku bisnis," cetus Imam T. Saptono, Sekretaris
Perusahaan Permata Bank. Nah, mulai sekarang, meskipun bukan analis saham, Anda
pun kudu rajin memelototi data-data keuangan bank.
2.

Faktor kualitatif Faktor kualitatif ini bisa kita cermati dari sepak terjang alias
track record pemegang saham mayoritas sebuah bank. Secara umum, kita bisa
membedakan kepemilikan saham bank menjadi bank lokal dan bank asing.
Umumnya, orang menilai prosedur audit bank asing lebih ketat dibandingkan

dengan bank lokal. Meskipun kini, prosedur audit bank lokal juga mulai
membaik.
Kini semakin sulit memisahkan antara bank lokal dan bank asing secara saklek.
Sebab, banyak pula bank lokal yang kini mayoritas sahamnya sudah berada di tangan
investor asing. Sebut saja Bank Danamon, Permata Bank, Bank Niaga, Bank Buana,
Bank NISP, BH, dan lippo Bank.
Hal lain dalam faktor kualitatif ini adalah tim manajemennya apakah mereka
kompeten, berpengalaman, dan prudent alias menerapkan prinsip kehati-hatian. "Soal ini,
bisa kita lihat dari tata kelola yang baik atau good corporate governance. Lihat juga cara
mereka melaporkan hasil kerja mereka, transparan atau tidak," saran Roy. Tak lupa,
nasabah sebaiknya juga memperhatikan kualitas pelayanan bank. Semakin banyak
fasilitas, semakin luas jaringan, dan semakin banyak kemudahan bertransaksi yang
ditawarkan sebuah bank, tentu akan semakin menguntungkan nasabah.
"Soal ini, bisa kita lihat dari tata kelola yang baik atau good corporate governance.
Sekarang giliran Anda untuk menilai. Apakah bank tempat Anda menyimpan dana hasil
jerih payah Anda selama ini sudah memenuhi ukuran sehat tersebut, sehingga Anda
memang layak menyimpan duit di situ?
Konsep mengenai bank bermasalah berdampak sistemik yang diatur pada PBI
tentang FPD berbeda dengan konsep bank bermasalah berdampak sistemik yang diatur
dalam UU No. 24 tahun 2004 tentang LPS. Bank bermasalah disebut juga dengan bank
gagal yang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bank gagal berdampak sistemik dan bank
gagal yang tidak berdampak sistemik. Suatu bank disebut sebagai bank gagal apabila:

Bank mengalami kesulitan keuangan.

Masalah keuangan yang dialami bank dapat membahayakan usahanya.

Bank tidak lagi dapat disehatkan kembali oleh Lembaga Pengawas Perbankan
(LPP).

Salah satu syarat penyaluran FPD adalah bahwa bank yang kesulitan likuiditas
dan berdampak sistemik haruslah masih dalam keadaan solven sehingga masih dapat
diselamatkan. Sementara pada UU tentang LPS, penanganan bank gagal yang berdampak
sistemik oleh LPS adalah terhadap bank yang tidak dapat diselamatkan karena dianggap
tidak solven. Masalah solven atau tidaknya suatu bank dapat dilihat dari faktor modal
yang bersifat jangka menengah dan panjang. Sedangkan masalah likuiditas dilihat dari
kebutuhan jangka pendek bank untuk memenuhi kewajibannya.
Penyelesaian yang diserahkan oleh Komite Koodinasi diperuntukkan bagi
penyelesaian bank gagal berdampak sistemik 1. LPS menerima pemberitahuan dari LPP
mengenai bank bermasalah yang sedang dalam upaya penyehatan. Jika bank yang
bermasalah tersebut dinyatakan tidak dapat disehatkan lagi oleh LPP sesuai dengan
kewenangan yang dimilikinya maka bank bermasalah tersebut menjadi bank gagal. Jika
bank gagal tersebut dinyatakan berdampak sistemik oleh komite koordinasi, maka LPS
melakukan penanganan bank gagal berdampak sistemik setelah menerima penyerahan
dari komite koordinasi. Dilakukan dengan dua cara, yaitu:
Dengan penyetoran modal dari pemegang saham lama (open bank assistance).
Pemegang saham yang melakukan penyetoran modal adalah seluruh atau sebagian dari
pemegang saham lama. Salah satu cara penyetoran modal yang dapat ditempuh oleh
pemegang saham lama adalah dengan menerbitkan saham biasa (common stock).
Penanganan bank gagal berdampak sistemik dengan mengikutsertakan pemegang
saham lama dapat dilakukan apabila:
1.

Pemegang saham telah menyetorkan modal sekurang-kurangnya dua puluh persen


dari perkiraan biaya penanganan2. Penyetoran modal sebagaimana dimaksud,
wajib dipenuhi oleh pemegang saham selambat-lambatnya:

Lima belas hari kalender setelah LPS menerima bank gagal sistemik dari
Komite Koordinasi, untuk bank yang yang sahamnya tidak diperdagangkan di
pasar modal.

1
2

Tiga puluh lima hari kalender setelah LPS menerima bank gagal sistemik dari
Komite Koordinasi, untuk bank yang sahamnya diperdagangkan di pasar
modal.

2.

Ada pernyataan dari RUPS bank yang sekurang-kurangnya memuat kesediaan


untuk:

Menyerahkan kepada LPS hak dan wewenang RUPS.

Menyerahkan kepada LPS kepengurusan bank.

Tidak menuntut LPS atau pihak yang ditunjuk LPS jika proses penanganan

tidak berhasil sepanjang LPS atau pihak yang ditunjuk LPS melakukan tugasnya
sesuai dengan peraturan perundang-undangan, terhitung sejak penyerahan
pananganan bank gagal oleh Komite Koordinasi kepada LPS.
Pernyataan RUPS bank tersebut dituangkan dalam akta notariil. Dengan
adanya pernyataan dari RUPS tersebut maka LPS dapat:

Menguasai, mengelola, dan melakukan tindakan kepemilikan atas aset milik


atau yang menjadi hak-hak bank dan atau kewajiban bank.

Menjual atau mengalihkan aset bank tanpa persetujuan nasabah debitur dan
atau kewajiban bank tanpa persetujuan nasabah kreditur (purchase and
assumption).

Melakukan penyertaan modal sementara.

Mengalihkan menejemen bank kepada pihak lain.

Melakukan merger dan atau konsolidasi dengan bank lain.

Melakukan pengalihan kepemilikan bank.

Meninjau ulang, membatalkan, mengakhiri dan atau mengubah


kontrak bank yang mengikat bank dengan pihak ketiga, yang menurut LPS
merugikan bank.

Jika peninjauan ulang, pembatalan, pengakhiran dan atau pengubahan kontrak


yang dilakukan oleh LPS menimbulkan kerugian bagi suatu pihak, pihak
tersebut hanya dapat menuntut penggantian yang tidak melebihi nilai manfaat 3

yang diperoleh dari kontrak dimaksud setelah terlebih dahulu membuktikan


dengan nyata dan jelas kerugian yang dialaminya.
3.

Bank menyerahkan kepada LPS dokumen mengenai:

Penggunaan fasilitas pendanaan dari BI.

Data keuangan nasabah debitur.

Struktur permodalan dan susunan pemegang saham tiga tahun


terakhir.

Informasi lainnya yang terkait dengan aset, kewajiban, dan


permodalan bank yang dibutuhkan LPS.

Penyerahan pernyataan RUPS dan dokumen bank yang dimintakan LPS tersebut
di atas wajib dipenuhi oleh bank selambat-lambatnya satu hari kerja setelah LPS
menerima penanganan bank gagal sistemik dari Komite Koordinasi.
Keputusan dari LPS untuk melakukan penanganan dengan mengikutsertakan
pemegang saham lama adalah tiga hari kerja setelah tanggal penyetoran modal sebesar
dua puluh persen dari perkiraan biaya penanganan oleh pemegang saham. Keputusan LPS
tersebut ditetapkan dalam suatu keputusan dewan komisioner yang diberitahukan kepada
LPP dan Komite Koordinasi. LPS juga dapat mengumumkan bank gagal berdampak
sistemik yang sedang dalam penanganan pada home page LPS.
Lembaga Penjamin Simpanan menghitung dan menetapkan perkiraan biaya
penanganan bank gagal sistemik. Perkiraaan biaya dimaksud adalah jumlah perkiraan
biaya untuk menambah modal disetor bank yang bersangkutan sampai bank tersebut
memenuhi ketentuan mengenai tingkat kesehatan bank. Penghitungan perkiraan biaya
penanganan adalah sebesar jumlah kekurangan KPMM yang ditetapkan oleh LPP dan
dapat ditambah dengan jumlah tertentu yang dipandang perlu oleh LPS.
Sejak tanggal adanya penetapan LPS untuk melakukan penanganan bank gagal
dengan mengikutsertakan pemegang saham lama, maka:

1.

Pemegang saham dan pengurus bank melepaskan dan menyerahkan kepada LPS
segala hak, kepemilikan, kepengurusan, dan atau kepentingan lain pada bank
dimaksud.

2.

Pemegang saham dan pengurus bank tidak dapat menuntut LPS atau pihak yang
ditunjuk LPS dalam hal proses penanganan tidak berhasil, sepanjang LPS atau
pihak yang ditunjuk LPS melakukan tugasnya sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
Setelah pemegang saham bank melakukan penyetoran modal perlu diperhatikan

keadaan ekuitas bank, jika:


1. Ekuitas bank bernilai positif, LPS dan pemegang saham lama membuat perjanjian
yang mengatur penggunaan hasil penjualan saham bank. Dalam perjanjian tersebut
diatur mengenai penggunaan hasil penjualan saham bank dengan urutan sebagai
berikut:

Pengembalian seluruh biaya penanganan yang telah dikeluarkan LPS.

Pengembalian kepada pemegang saham lama sebesar ekuitas pada posisi


sesaat setelah pemegang saham lama melakukan penyetoran modal.

Jika setelah penggunaan hasil penjualan saham bank masih ada sisa maka
akan dibagi secara proporsional kepada LPS dan pemegang saham lama.

2. Ekuitas bank bernilai nol atau negatif, maka pemegang saham lama tidak memiliki
hak atas hasil penjualan saham bank.
Lembaga Penjamin Simpanan bertanggung jawab atas kekurangan biaya penanganan
bank setelah pemegang saham lama melakukan penyetoran modal dan seluruh biaya
penanganan bank menjadi penyertaan modal sementara LPS pada bank. Kekurangan
biaya penanganan tersebut dapat dapat disetorkan oleh LPS secara sekaligus atau
bertahap. Jika syarat yang dari LPS belum dipenuhi oleh bank sebelum berakhirnya
jangka waktu, maka LPS dapat melakukan penyetoran pendahuluan atas kekurangan
biaya penanganan bank gagal sistemik setinggi-tingginya sebesar 80% dari perkiraan
biaya penanganan.

Lembaga Penjamin Simpanan juga berkewajiban menjual seluruh saham bank dalam
penanganan paling lama tiga tahun sejak pemegang saham dan pengurus bank
menyerahkan segala hak, kepemilikan, kepengurusan, dan kepentingan bank kepada LPS.
Penjualan

saham

tersebut

harus

dilakukan

secara

transparan

dengan

tetap

mempertimbangkan tingkat pengembalian yang optimal4 bagi LPS. Jika tingkat


pengembalian optimal tidak dapat dicapai dalam jangka waktu tiga tahun, maka dapat
diperpanjang sebanyak-banyaknya dua kali dengan masing-masing perpanjangan selama
satu tahun.
Jika penanganan bank gagal berdampak sistemik dengan mengikutsertakan pemegang
saham tidak dapat dilakukan, maka LPS melakukan penanganan bank gagal tanpa
mengikutsertakan pemegang saham. Adapun yang menjadi penyebab LPS tidak
mengikutsertakan pemegang saham dalam penanganan bank gagal berdampak sistemik
adalah:
1.

Pemegang saham lama tidak bersedia memenuhi syarat penyetoran modal sebesar
dua puluh persen dari perkiraan biaya penanganan tanpa menunggu berakhirnya
batas waktu.

2.

Bank tidak dapat memenuhi persyaratan yang diajukan oleh LPS dalam jangka
waktu yang ditentukan.
Keputusan penanganan bank gagal berdampak sistemik tanpa mengikutsertakan

pemegang saham lama ditetapkan dalam suatu keputusan dewan komisioner LPS yang
diberitahukan kepada LPP dan Komite Koordinasi. LPS dapat mengumumkan bank gagal
sistemik tersebut pada home page LPS.
Sejak LPS menetapkan untuk menangani bank gagal tanpa melibatkan pemegang
saham lama maka:
1.

LPS mengambil alih segala hak dan wewenang RUPS, kepemilikan, kepengurusan,
dan atau kepentingan lain pada bank dimaksud. Setelah itu LPS dapat melakukan
tindakan:

Menguasai, mengelola, dan melakukan tindakan kepemilikan atas aset milik


atau yang menjadi hak-hak bank dan atau kewajiban bank.

Melakukan penyertaan modal sementara.

Menjual dan mengalihkan aset bank tanpa persetujuan nasabah debitur dan atau
kewajiban bank tanpa persetujuan nasabah kreditur.

Mengalihkan manajemen bank kepada pihak lain.

Melakukan merger atau konsolidasi dengan bank lain.

Melakukan pengalihan kepemilikan bank.

Meninjau ulang, membatalkan, mengakhiri, dan atau mengubah kontrak bank


yang mengikat bank dengan pihak ketiga yang menurut LPS merugikan bank.
Jika peninjauan ulang, pembatalan, pengakhiran dan atau pengubahan kontrak

yang dilakukan oleh LPS menimbulkan kerugian bagi suatu pihak, pihak tersebut hanya
dapat menuntut penggantian yang tidak melebihi nilai manfaat yang diperoleh dari
kontrak dimaksud setelah terlebih dahulu membuktikan dengan nyata dan jelas kerugian
yang dialaminya.
2.

Pemegang saham dan pengurus bank tidak dapat menuntut LPS atau pihak yang
ditunjuk oleh LPS jika penanganan bank gagal tidak berhasil, sepanjang LPS atau
pihak yang ditunjuk LPS melakukan tugasnya sesuai dengan peraturan
perundang-undangan. Pernyataan RUPS tersebut dituangkan dalam suatu akta
notariil.
Seluruh biaya penanganan bank gagal yang dikeluarkan oleh LPS menjadi

penyertaan modal sementara LPS pada bank. LPS berkewajiban menjual seluruh saham
bank dalam penanganan paling lama tiga tahun sejak dimulainya penanganan. Penjualan
saham tersebut dilakukan secara terbuka dan transparan dengan tetap mempertimbangkan
tingkat pengembalian yang optimal bagi LPS, yaitu paling sedikit sebesar seluruh
penempatan modal sementara yang dikeluarkan oleh LPS. Jika dalam jangka waktu tiga
tahun tingkat pengembalian optimal belum dapat dicapai, maka dapat diperpanjang
sebanyak-banyaknya dua kali dengan masing-masing perpanjangan selama satu tahun.

Jika dengan perpanjangan waktu tersebut tingkat pengembalian optimal tidak dapat
dicapai, maka LPS dapat menjual saham bank dengan mengabaikan ketentuan tingkat
pengembalian optimal dalam jangka waktu satu tahun berikutnya.
Jika ekuitas bernilai positif pada saat penyerahan bank kepada LPS, maka dibuat
perjanjian mengenai penggunaan hasil penjualan saham bank dengan ketentuan:
o

Pengembalian seluruh biaya penyelamatan yang telah dikeluarkan oleh LPS.

Pengembalian kepada pemegang saham lama sebesar ekuitas pada saat


penyerahan.

Jika masih ada sisa dari hasil penjualan saham, maka sisa tersebut akan dibagi
secara proporsional kepada LPS dan pemegang saham lama.

Namun jika ekuitas bank bernilai nol atau negatif pada saat penyerahan bank
kepada LPS, maka pemegang saham lama tidak memiliki hak atas hasil penjualan saham
bank setelah penanganan.
Saham preferen yang dapat dikonversikan menjadi saham biasa (convertible
preferred stock) akan diterbitkan bank dalam rangka penyertaan sementara LPS. Saham
preferen yang dapat dikonversikan menjadi saham biasa akan dijual LPS kepada pihak
lain. Saham preferen yang dapat dikonversikan menjadi saham biasa adalah saham yang
memberikan hak istimewa dalam:

Perolehan pembayaran deviden tidak secara kumulatif.

Perolehan pembayaran terlebih dahulu dalam hal bank dilikuidasi.

Selama masa penananganan bank tidak diperkenankan untuk membagi deviden


dan seluruh biaya yang timbul sehubungan dengan penjualan saham bank menjadi beban
pemegang saham. Selain itu bank gagal sistemik yang berada di dalam penanganan LPS
juga diwajibkan menyampaikan:

Laporan mengenai kinerja keuangan.

Laporan rasio-rasio keuangan termasuk rasio kewajiban KPMM.

Laporan lainnya yang diperlukan LPS.

Selama bank gagal sistemik dalam penanganan LPS, jika menurut penilaian LPP
kondisi keuangan bank menurun sehingga memerlukan tambahan modal disetor untuk

memenuhi ketentuan tingkat kesehatan bank, maka LPS meminta Komite Koordinasi
untuk membahas permasalahan bank serta langkah-langkah yang akan diambil untuk
penanganan bank tersebut.
Penanganan bank gagal sistemik dinyatakan berakhir apabila LPS telah menjual
seluruh saham bank. Berakhirnya penanganan bank sistemik ditetapkan dalam suatu
keputusan dewan komisioner LPS dan diberitahukan kepada LPP dan Komite Koordinasi.

KESIMPULAN

Alternatif Penyehatan Perbankan Nasional


Ada 3 alternatif yang dapat digunakan untuk penyehatan perbankan Nasional, yaitu :
Merubah peraturan Bank Indonesia (CAR 8% dan NPL 5%)
Alternatif pertama akan menimbulkan moral hazard CAR 8% belum cukup
untuk mendukung Bank yang kuat dan efisien

Redistribusi

Obligasi

Pemerintah

Alternatif kedua sulit dilakukan karena tidak sesuai dengan kondisi pasar

Penukaran

dengan

Aset

(Asset

Swap)

Alternatif ketiga juga sulit dilakukan disebabkan terbatasnya aset yang telah
direstrukturisasi di BPPN, sulitnya penentuan harga, dan mekanisme swap.
Cara Memilih Bank Yang Sehat
Ada dua faktor yang dapat kita gunakan sebagai alat ukur yaitu :

Faktor kuantitatif Indikator kesehatan bank secara kuantitatif bisa kita lihat dari
rasio-rasio keuangannya Ada dua rasio utama yang bisa menjadi alat ukur
kesehatan sebuah bank.

Faktor kualitatif Faktor kualitatif ini bisa kita cermati dari sepak terjang alias
track record pemegang saham mayoritas sebuah bank. Secara umum, kita bisa
membedakan kepemilikan saham bank menjadi bank lokal dan bank asing.
Umumnya, orang menilai prosedur audit bank asing lebih ketat dibandingkan
dengan bank lokal. Meskipun kini, prosedur audit bank lokal juga mulai
membaik.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.bi.co.id
http://www.kompas.com
http://www.liputan6.com