Anda di halaman 1dari 40

PERCOBAAN I

PEMBANGKITAN TEGANGAN TINGGI AC DAN DC


1. Pembangkitan Tegangan Tinggi AC
1.1. Pengertian Tegangan Tinggi AC
Sejauh ini level tegangan tinggi sekitar 10 kV
rms sampai dengan kurang lebih 1.5 MV r.m.s.
Sebagai pengembangan dari tegangan transmisi
sampai sekitar 1200 kV telah berjalan selama
bertahun-bertahun. Dari pengujian rutin, tingkattingkat tegangan untuk frekuensi-daya diuji selalu
berhubungan dengan r.m.s. tertinggi tegangan fasake-fasa Vm dari sistem transmisi daya. Dalam hal ini Vt
adalah berbeda untuk peralatan dan berbeda yang
digunakan di dalam sistem transmisi dan juga
tergantung pada jenis koordinasi isolai yang
digunakan. Untuk Vm < 300 kV, rasio Vt/Vm sekitar 1.9
dan mungkin berkurang dengan nilai lebih tinggi dari
Vm. Bagaimanapun lebih besar tegangan nominal
untuk pengujian peralatan a.c yang perkirakan,
kebutuhan untuk penentuan faktor keamanan yang
paling bertanggung jawab atas fakta ini.
1.2. Pembangkitan dan pengukuran tegangan AC
Secara umum, semua tes tegangan AC dibuat
frekuensi daya nominal dari objek tes. Disesuaikan
dengan bahan objek yang dites. Semua tergantung
pada jenis peralatan yang digunakan, metode-metode
untuk pembangkitan tegangan bermacam-macam
frekuensi mungkin mahal. Meskipun sistem transmisi
sering menggunakan tiga fasa, tegangan pengujian
biasanya menggunakan tegangan satu fasa ke tanah.
Gelombang harus mendekati sinusoidal murni dengan
diantara separuh cycle yang mirip, dan sesuai dengan
rekomendasi dari sinusoid jika rasio dari puncak-ker.m.s. nilai sama dengan 2 + 5 %, persyaratan yang
diasumsikan dipenuhi jika nilai r.m.s. dari harmonisa

tidak melebihi 5 persen dari r.m.s. nilai fundamental.


Nilai V r.m.s. untuk cycle dari T :
1.3. Paramater-parameter tegangan tinggi AC
Nilai V r.m.s. untuk cycle dari T :
1
(...) = 2 ().
0
Pn=kV2nCt
Yang mana faktor k>1
Untuk arus nominal
In= Pn / Vn
1.4. Rangkaian trafo uji
Salah satu rangkaian trafo uji adalah
rangkaian satu tingkat, trafo memiliki fluks utama
bersama yang artinya hanya terdiri dari sebuah inti
besi. Trafo memiliki belitan transfer yang memiliki
jumlah belitan yang sama dengan belitan primer. Inti
besi diketanahkan, belitan primer diletakkan antara inti
dan belitan sekunder. Belitan transfer terletak pada
potensial sekunder yang tidak diperlukan jika trafo uji
dioperasikan pada rangkaian satu tingkat tetapi akan
dipergunakan pada rangkaian bertingkat.
1.5. Konstruksi trafo uji
Kosntruksi trafo uji ada yang menggunakan
bushing dan ada yang tidak. Yang menggunakan
bushing berarti mempunyai permukaan lebih luas dan
ini mengakibatkan disipasi panas yang lebih baik,
akantetapi dengan tambahan bushing tersebut
diperlukan ruang yang lebih tinggi yang secara
ekonomi akan lebih mahal. Yang tidak menggunakan
bushing membutuhkan ruangan tidak terlalu tinggi
akan tetapi disipasi panasnya kurang baik karena
terisolasi mantel. Untuk daya besar dimungkinkan
menggunakan pendingin seperti sirip pendingin.
1.6. Kinerja trafo uji
Trafo uji mempunyai kinerja tidak dapat
dengan sempurna digambarkan dengan rangkaian

ekivalen trafo yang biasa/trafo daya karena pengaruh


kapasitansi sendiri Ci dari belitan tegangan tinggi dan
kapasitansi obejek uji Ca ( kebanyakan berupa beban
kapasitif ). Pada pihak lain arus magnetisasi dapat
diabaikan selama inti besi masih belum jenuh. Trafo uji
(terutama bentuk kaskade) dapat mewakili suatu
jaringan yang dapat berosilasi. Harmonisa pada
tegangan priemer dan arus maknetisasi dapat
menimbulkan osilasi pada berbagai frekuensi yang
mengakibatkan distorsi pada tegangan sekunder.
Trafo uji memiliki harmonisa tegangan tinggi
sangat bergantung pada besar beban dan tegangan
yang diterapkan, makas ewaktu pengujian harus
dijaga agar penyimpangan tegangan tinggi dari kurva
sinus ( untuk frekuensi dasar yang sama ) tidak lebih
dari 5% nilai maksimum. Untuk mengukur itu maka
puncak
sinusoidal
dipilih sedimikian
hingga
penyimpangan bentuk tegangan terhadap kurva sinus
menjadi minimum.
1.7. Pembangkitan tegangan tinggi AC menggunakan
rangkaian resonansi
Trafo
uji
dapat
dibentuk
dengan
memanfaatkan rangkaian resonansi, baik paralel
maupun seri. Resonansi seri pada trafo uji dengan
beban kapasitif dapat meningkatkan tegangan pada
sisi sekunder. Proses tersebut dapat digunakan untuk
membangkitakan tegangan uji bolak balik, untuk
memperbesar rentang penalaan maka induktansi
hubung singkat dari trafo uji diperbesar dengan suatu
indikator tegangan tinggi. Resonansi seri antara
induktansi dan kapasitansi beban dapat dieksitasi
dengan tegangan sekunder trafo yang rendah,
rangkaian resonansi sangat sesuai terutama untuk
beban kapasitif yang besar, misalnya kabel tegangan
tinggi. Kelebihan rangkaian resonansi seri yang utama
adalah tegangan keluaran yang hampir sinusoidal

serta kompensasi daya reaktif untuk objek uji dapat


terpenuhi.
2. Pembangkitan Tegangan Tinggi DC
2.1. Pengertian Tegangan Tinggi DC
Dibidang teknik elektro tegangan tinggi dc
umumnya digunakan untuk pengujian peralatan atau
komponen-komponen transmisi tegangan tinggi dc.
Tegangan dc umumnya dibangkitkan dengan
menggunakan rangkaian penyearah (diode) apabila
diperlukan arus yang besar (~10mA).
2.2. Besaran-besaran tegangan tinggi dc
Besaran-besaran tegangan tinggi dc yang
perlu diperhatikan agar sesuai dengan standart
tegangan uji dc adalah sebagai berikut
1. Polaritas
2. Amplitudo
1
= ()
0
3. Ripple

=
2
4. Sesuai dengan IEC 60, saat pengujian
ripple tidak melebihi 3%.
2.3. Penyearah setengah gelombang
Penyearah setengah gelombang adalah
rangkaian yang paling banyak dipergunakan untuk
membangkitkan tegangan tinggi dc.
2.4. Penyearah gelombang penuh
Rangkaian penyearah gelombang penuh
memiliki dua rangkaian yaitu rangkaian titik tengah
penyearah gelombang penuh dan rangkian jembatan
penyearah gelombang penuh.
Memiliki ripple tegangan

2 =
2.

Kelebihan:
Ripple, setengah dari penyearah setengah gelombang
dan penggunaan trafo lebih efektif karena terbebani
pada kedua setengah gelombang.
Kekurangan:
Tegangan blocking pada diode 2. . Trafo harus
diketanahkan tepat pada titik tengahnya
2.5. Rangkaian Delon
Secara prinsip rangkaian delon sama seperti
rangkaian penyearah setengah gelombang akan tetapi
pada rangkaian ini tegangan tidak diambil pada
kapasitor penyearah tetapi pada diode. Dengan
rangkaian ini akan diperoleh tegangan sesaat yang
tinggi
dengan
tegangan
maksimal
sebesar
Vomaks=2.2. . Tetapi rangkaiana ini memiliki ripple
yang sangat tinggi 2.V/v=200%. Rangkaian ini sering
digunakan untuk electropecipator dan electrostatic
painting.
2.6. Rangkaian Delon Ganda
Rangkaian ini menggunakan dua buah diode
dan dua buah kapasitor penyearah. Tegangan tinggi
dc diperoleh dari selisih tegangan pada sisi positif dan
sisi negatif. Tegangan dc yang diperoleh adalah
Vomaks=2.2. .
2.7. Rangkaian Villard
Rangkaian Villard terdiri dari sebuah
kondensator dan dioda. Walaupun sirkuit ini sangat
sederhana, kerut keluarannya sangat buruk. Pada
dasarnya, sirkuit ini adalah sirkuit penggenggam
dioda. Kondensator diisi hingga tegangan puncak AC
(Vpeak) pada siklus paruh negatif. Setelah beberapa
siklus, semua gelombang AC tersuperimposekan pada
keluaran tegangan DC di kondensator. Lembah negatif
AC digenggam pada 0V (sebenarnya V F, yaitu
tegangan panjar maju dioda), sehingga puncak positif
keluaran adalah 2Vpeak. Kerut puncak-ke-puncak

adalah bentuk gelombang AC 2Vpeak dan tidak dapat


diperhalus tanpa mengubahnya menjadi bentuk lain.
Tegangan output:
= 2. 2.
Ripple dari rangkaian ini:

2 =
.
Tegangan blocking diode adalah Vblock=22.
2.8. Kaskade Greinacher
Rangkaian kaskade Greinacher memberikan
banyak perbaikan dari sirkuit Villard hanya dengan
menambahkan sedikit komponen. Kerut keluaran
sangat dikurangi, bahkan nol pada rangkaian tanpa
beban, tetapi saat dibebani, kerut bergantung pada
resistansi beban dan kapasitansi kondensator yang
digunakan. Sirkuit ini bekerja dengan menambahkan
detektor puncak di belakang sirkuit Villard. Detektor
puncak mengurangi kerut selain menjaga tegangan
puncak pada keluaran. Sirkuit ini ditemukan oleh
Heinrich Greinacher pada tahun 1913 (diumumkan
tahun 1914) dalam rangka memberikan tegangan
200300 V yang dibutuhkannya untuk ionometer yang
baru ditemukannya, tegangan AC 110V yang dicatu
stasiun daya Zurich pada saat itu tidak mencukupi.
Pada tahun 1920 menyempurnakan idenya ini dengan
menyambung banyak pengganda. Aliran sel
Greinacher sering disalahartikan sebagai aliran Villard
cascade. Ini juga sering disebut sebagai generator
Cockcroft-Walton yaitu peranti yang digunakan pada
pemercepat partikel yang dibangun oleh John
Cockcroft dan Ernest Walton, yang secara terpisah
menemukan kembali sirkuit ini pada tahun 1932.
Tegangan yang dihasilkan adalah VAO=n.2.2.

2.9. Generator Elektrostatik


Prinsip dari pembangkitan tegangan tinggi dc
dengan generator elektrosatic adalah pemisahan
muatan baik positif atau negatif dan dikumpulkan pada
sebuah elektrode. Tegangan dc yang dibangkitkan oleh
elektrostatik tidak memiliki ripple.
2.10. Generator Van de Graaff
Prinsip generator ini adalah melalui peluahan
korona pada elektrode jarum-plat akan terbentuk ion
positif atau negatif tergantung dari polaritas sumber
tegangan dc untuk membangkitkan korona. Muatan
in bergerak pada pita berputar dan terkumpul pada
elektrode tegangan tinggi, sehingga elektroda
tegangan tinggi termuati secara elektrosatis.
2.11. Trommel Generator Felici
Prinsip generator ini sama dengan prinsip
generator van de graaff. Trommel termuati secara
elektrosatis melalui korona pada jarum-plat. Muatan
akan bergerak dan memuati kapasitor sikat.

Halaman ini sengaja dikosongkan

PERCOBAAN II
PENGUJIAN BAHAN ISOLASI GAS (UDARA)
1. Pengertian Isolasi
Isolasi adalah bahan yang sifatnya tidak menghantarkan.
Dalam bidang kelistrikan isolasi berarti bahan yang tidak
menghantarkan arus maupun tegangan. Isolasi memiliki
peranan yang sangat penting dalam sistem tenaga listrik. Isolasi
sangat diperlukan untuk memisahkan dua atau lebih
penghantar listrik yang bertegangan sehingga antara
penghantar-penghantar tersebut tidak terjadi lompatan listrik
atau percikan. Bahan isolasi akan mengalami pelepasan
muatan yang merupakan bentuk kegagalan listrik apabila
tegangan yang diterapkan melampaui kekuatan isolasinya.
Penelitian mengenai isolasi sangatlah penting karena
pengetahuan mengenai isolasai akan menentukan sistem kerja
dari rangkaian listrik. Sehingga dikembangkan penelitianpenelitian mengenai bahan isolasi.
2. Dasar Kegagalan Pada Isolasi Gas
a. Proses Dasar Ionisasi
Ion merupakan atom atau gabungan atom yang
memiliki muatan listrik, ion terbentuk apabila pada
peristiwa kimia suatu atom unsur menangkap atau
melepaskan elektron. Proses terbentuknya ion dinamai
dengan ionisasi. Jika diantara dua elektroda yang
dimasukkandalam media gas diterapkan tegangan V maka
akan timbul suatu medan listrik E yang mempunyai besar
dan arah tertentu yang akan mengakibatkan electron
bebas mendapatkan energi yang cukup kuat menuju
kearah anoda sehingga dapat merangsang timbulnya
proses ionisasi .
b. Ionisasi Karena Benturan
Jika gradien tegangan yang ada cukup tinggi maka
jumlah elektron yang diionisasikan akan lebih banyak
dibandingkan dengan jumlah ion yang ditangkap molekul
oksigen. Tiap-tiap elektron ini kemudian akan berjalan
menuju anoda secara kontinu sambil membuat benturan-

benturan yang akan membebaskan electron lebih banyak


lagi. Ionisasi karena benturan ini merupakan proses dasar
yang penting dalam kegagalan udara atau gas.
3. Mekanisme Kegagalan Gas
Kegagalan bisa terjadi di berbagai bentuk baik padatan
(solid, cair maupun gas. Dan semua Teori Kegagalan Isolasi
mengacu pada kegagalan gas. Karena hal ini telah diteliti
secara spesifik dan inilah sebabnya teori kegagalan gas jadi
acuan untuk teori kegagalan yang lain. Proses kegagalan
dalam gas ditandai dengan adanya percikan secara tiba-tiba,
percikan ini dapat terjadi karena adanya pelepasan yang
terjadi pada gas tersebut. Mekanisme kegagalan gas yang
disebut percikan adalah peralihan dari pelepasan tak bertahan
sendiri ke berbagai pelepasan yang bertahan sendiri. Proses
dasar yang paling penting dalam kegagalan gas adalah proses
ionisasi karena benturan, tetapi proses ini tidak cukup untuk
menghasilkan kegagalan. Proses lain yang terjadi dalam
kegagalan gas adalah proses atau mekanisme primer dan
proses atau mekanisme sekunder. Proses yang terpenting
dalam mekanisme primer adalah proses katoda, pada proses
ini diawali dengan pelepasan elektron oleh suatu elektroda
yang diuji, peristiwa ini akan mengawali terjadinya kegagalan
percikan (spark breakdown). Elektroda yang memiliki potensial
rendah (katoda) akan menjadi elektroda yang melepaskan
elektron. Elektron awal yang dibebaskan (dilepaskan) oleh
katoda akan memulai terjadinya banjiran elektron dari
permukaan katoda. Jika jumlah elektron yang dibebaskan
makin lama makin banyak atau terjadinya peningkatan
banjiran maka arus akan bertambah dengan cepat sampai
terjadi perubahan pelepasan dan peralihan pelepasan ini akan
menimbulkan percikan (kegagalan) dalam gas.
Isolasi memiliki peranan yang sangat penting dalam sistem
tenaga listrik.Isolasi sangat diperlukan untuk memisahkan dua
atau lebih penghantar listrik yang bertegangan sehingga antara
penghantarpenghantar tersebut tidak terjadi lompatan listrik
atau percikan. Bahan isolasi akan mengalami pelepasan
muatan yang merupakan bentuk kegagalan listrik apabila

tegangan yang diterapkan melampaui kekuatan isolasinya.


Kegagalan yang terjadi pada saat peralatan sedang beroperasi
bisa menyebabkan kerusakan alat sehingga kontinuitas sistem
terganggu. Udara merupakan bahan isolasi yang banyak
digunakan pada peralatan tegangan tinggi misalnya pada
arrester sela batang yang terpasang di saluran transmisi, selain
itu udara juga digunakan sebagai media peredam busur api
pada pemutus tenaga (CB = Circuit Breaker). Sementara bahan
isolasi cair banyak digunakan sebagai isolasi dan pendingin
pada trafo karena memiliki kekuatan isolasi lebih tinggi.Hasil
pengujian menunjukkan bahwa nilai tegangan tembus yang
terjadi pada media isolasi udara dan minyak cenderung
meningkat seiring pertambahan jarak sela.Selain itu juga
dilakukan pengujian pada minyak bekas dan minyak baru.
Hasil pengujian menunjukkan tegangan tembus pada minyak
baru lebih tinggi daripada minyak bekas dan tegangan tembus
isolasi udara lebih kecil daripada tegangan tembus
minyak.Partial discharge (peluahan parsial) adalah peristiwa
pelepasan/loncatan bunga api listrik yang terjadi pada suatu
bagian isolasi (pada rongga dalam atau pada permukaan)
sebagai akibat adanya beda potensial yang tinggi dalam isolasi
tersebut Partial discharge dapat terjadi pada bahan isolasi
padat, bahan isolasi cair maupun bahan isolasi gas.
Mekanisme kegagalan pada bahan isolasi padat meliputi
kegagalan asasi (intrinsik), elektro mekanik, streamer, thermal
dan kegagalan erosi.Kegagalan pada bahan isolasi cair
disebabkan oleh adanya kavitasi, adanya butiran pada zat cair
dan tercampurnya bahan isolasi cair. Pada bahan isolasi gas
mekanisme townsend dan mekanisme streamer merupakan
penyebab kegagalan. Dari uraian di atas menunjukkan bahwa
kegagalan isolasi ini berkaitan dengan adanya partial
discharge.
Pengukuran partial discharge pada peralatan tegangan
tinggi merupakan hal yang sangat penting karena dari data
data yang diperoleh dan interpretasinya dapat ditentukan
reability suatu peralatan yang disebabkan oleh penuaan
(agging) dan resiko kegagalan dapat dianalisa. Spesifikasi

pengujian partial discharge tergantung pada tipe peralatan tes


dan bahan isolasi yang digunakan pada proses konstruksi suatu
peralatan.
Adanya partial discharge di dalam bahan isolasi dapat
ditentukan dengan tiga metode yaitu : dengan pengukuran
tegangan pada objek, dengan pengukuran arus di dalam
rangkain luar dan mengukur intensitas radiasi gelombang
elektromagnetik yang disebabkan karena adanya partial
discharge.
Udara merupakan bahan isolasi gas yang banyak
digunakan pada peralatan tegangan tinggi misalnya pada
arrester sela batang yang terpasang di saluran transmisi, selain
itu udara juga digunakan sebagai media peredam busur api
pada pemutus tenaga (CB = Circuit Breaker).
Tegangan tembus pada isolasi udara cenderung meningkat
seiring pertambahan jarak sela elektroda, semakin besar jarak
sela elektroda maka tegangan tembusnya akan semakin besar
juga. Tegangan tembus pada isolasi udara pada jarak sela
yang sama lebih kecil dibandingkan tegangan tembus pada
isolasi minyak.
Tipe Voltage stresses
Temporary Overvoltages : gangguan frekuensi tenaga dalam
durasi yang relative lama
Disebabkan karena :
- Kesalahan (Ketidakseimbangan)
- Perubahan tiba-tiba saat loading (biasanya load
rejection)
- Underloaded saluran panjang
- Resonansi linear
- Ferroresonance
- Induksi elektromagnetik dan elektrostatis
- Resonansi elektromekanik dengan generator
Transient Overvoltages : pergantian transien dan hasil transien
dari pengubahan operasi yang ditetapkan. Osilasi frekuensi
tinggi dapat menghasilkan transien dalam mikrisekon.
Lightning Transients: sangat cepat, seratus nanosekon

4. Jenis-senis Isolator Gas.


Pada umumnya isolator gas digunakan sebagai media
isolasi dan penghantar panas.Beberapa hal yang perlu
diperhatikan pada isolator gas ini adalah ketidakstabilan
temperatur, ketidaknormalan sifat kedielektrikan pada tekanan
yang tinggi dan resiko ledakan dari gas yang digunakan.
Berdasarkan kekuatan dielektrik, rugi-rugi dielektrik,
stabilitas kimia, korosi, dll, isolator gas dapat diklasifikasikan
menjadi :
1. Gas sederhana, contohnya :
a. Udara
b. Nitrogen
c. Helium
d. Hidrogen , dan lain-lain
2. Gas Oksida, contohnya :
a. Gas karbondioksida
b. Gas Sulphur dioksida
3. Gas Hidrokarbon, contohnya :
a. Methana
b. Ethana
c. Propana dan lain-lain
4. Gas Elektronegatif, contohnya :
a. Gas Sulphur hexaflorida
b. CH2Cl2
Dalam pemilihan jenis isolator gas yang dipergunakan,
perlu diperhatikan sifat dari kedielektrikan gas yang digunakan
pada temperatur dan tekanan dimana gas tersebut
akandigunakan sebagai media isolasi. Beberapa sifat dari
isolator gas sebagai media isolasi yang perlu diperhatikan
antara lain yaitu :
1. Sifat Kelistrikan, yang mencakup antara lain :
a. Tahanan isolasi
b. Kekuatan Dielektrik
c. Faktor Daya
d. Konstanta Dielektrik
e. Rugi-rugi dielektrik
2. Temperatur,

3. Sifat Kimia, dan


4. Sifat Mekanis
a. kerapatan volume
b. viskositas
c. absorpsi kelembaman
d. tekanan permukaan,dll
Mekanisme Kegagalan Isolasi Gas
Dalam mekanisme tembus listrik bahan isolasi,ada
beberapa peristiwa/proses yang berperan di dalamnya, antara
lain :
a. Ionisasi, yaitu peristiwa terlepasnya elektron dari ikatan
atom netral sehingga menghasilkan satu elektron bebas
dan ion positif
b. Deionisasi, yaitu peristiwa dimana satu ion positif
menangkap elektron bebas sehingga ion positif tersebut
menjasi atom netral
c. Emisi, yaitu peristiwa terlepasnya elektron dari
permukaan logam menjasi elektron bebas
Proses dasar dalam kegagalan isolasi gas adalah ionisasi
benturan oleh elektron. Ada dua jenis proses dasar yaitu :
Proses primer, yang memungkinkan terjadinya banjiran
elektron
Proses sekunder, yang memungkinkan terjadinya
peningkatan banjiran elektron
Saat ini dikenal dua mekanisme kegagalan gas yaitu :
Mekanisme Townsend
Mekanisme Streamer
4.1. Mekanisme Kegagalan Townsend
Pada proses primer, elektron yang dibebaskan
bergerak cepat sehingga timbul energi yang cukup kuat
untuk menimbulkan banjiran elektron.
Jumlah elektron Ne pada lintasan sejauh dx akan
bertambah dengan dNe, sehingga elektron bebas
tambahan yang terjadi dalam lapisan dx adalah dNe =
Ne.dx . Ternyata jumlah elektron bebas dNe yang
bertambah akibat proses ionisasi sama besarnya dengan

jumlah ion positif dN+ baru yang Ne.(t).dt; dimana :


dihasilkan, sehingga
dNe=dN+= Ne.(t).d t
: koefisien ionisasi Townsend
dN+ : jumlah ion positif baru yang dihasilkan
Ne : jumlah total elektron
Vd : kecepatan luncur electron
x konstan, Ne = N0, x = 0 sehingga Ne = N0 Pada
medan
uniform,
x Jumlah elektron yang menumbuk anoda per detik
sejauh d dari katoda sama dengan jumlah ion positif yaitu
N+ = N0
Jumlah elektron yang meninggalkan katoda dan
mencapai anoda adalah:

Arus ini akan naik terus sampai terjadi peralihan menjadi


pelepasan yang bertahan sendiri. Peralihan ini adalah
percikan dan diikuti oleh dperubahan arus dengan cepat
dimana karena >> 0 1 maka d secara teoritis menjadi
tak terhingga, tetapi dalam praktek hal ini dibatasi oleh
impedansi rangkaian yang menunjukkan mulainya
percikan.
4.2. Mekanisme Kegagalan Streamer
Mekanisme streamer pengamatan dilakukan pada
sebuah medan homogen, yang pada ruang gasnya
terdapat electron awal yang menyebabkan lawina.
1. Luruhan Townsend bergerak kearah Anode, kecepatan
muka luruhan vl=vd kecepatan electron. Sehingga
muka luruhan dibentuk oleh elektron dan ekor luruhan
terdiri dari ion positif yang mempunyai gerak lebih
lambat dari pada electron.
2. Untuk N>106 terbentuk muatan ruang karena
ve100vI

3. Untuk N>108 terjadi gangguan medan dimana E>E 0


yang berarti > 0 pada bagian depan dan belakang
muka luruhan
4. Anak luruhan akan terjadi muka luruhan dan ekeor
luruhan
5. Bertemunya streamer pada electrode membentuk
gelombang ionisasi baru. Streamer masih memiliki
tahanan yang cukup tinggi, sehingga tegangan tidak
jatuh. Proses-proses yang terjadi pada electrode adalah
sebagai berikut:
Katode: Ion positif streamer katode yang bertemu
dengan katode menghasilkan jumlah electron mula
yang sangat banyak, sehingga gelombang ionisasi
arus kuat (luruhan paralel) dapat bergerak ke anode
Anode: Jika Elektron diserap oleh anode, muatan
ruang positif akan bertahan didepan anode sehingga
anode seolah terdapat pada ruang medan (seolaholah bertambah panjang)
6. Gelombang ionisasi berlipat bergerak ke sana ke mari
dan memanaskan kanal streamer, tahanannya
menjadi rendah dan akhirnya menyebabkan terjadinya
kegagalan.
5. Isolator Udara
Udara merupakan bahan isolasi yang mudah
didapatkan, mempunyai tegangan tembus yang cukup
besar yaitu sekitar 30 kV/cm. kalau dua buah elektroda
yang dipisahkan dengan udara mempunyai beda potensial
yang tinggi yaitu tegangan yang melebihi tegangan
tembus, maka akan timbul loncatan bunga api. Bila
tegangan itu dinaikkan lagi, maka akan terjadi busur api.
Besarnya tegangan tembus dipengaruhi oleh tekanan
udara. Secara umum,makin besar tekanannya, main besar
pula tegangan tembusnya. Tetapi pada keadaan
pakemjustru tegangan tembus akan menjadi lebih besar.
Keadaan yang demikian inilah yang justru digunakan atau
diterapkan pada peralatan listrik.

Sulphur Hexa Fluorida


Sulphur Hexa Fluorida (SF6) merupakan suatu gas
bentukan antara unsur sulphur dengan fluor dengan reaksi
eksotermis
S + 3 F2 SF6 + 262 kilo kalori
Sampai saat ini SF6 merupakan gas terberat yang
mempunyai massa jenis 6.139 kg/m3 yaitu sekitar 5 kali
berat udara pada suhu 00 celcius dan tekanan 1 atmosfir.
Sifat dari SF6 sebagai media pemadam busur api dan
relevansinya pada sakelar pemutus beban adalah :
a. Hanya memerlukan energi yang rendah untuk
mengoperasikan mekanismenya. Pada prinsipnya,
SF6 sebagai pemadam busur api adalah tanpa
memerlukan energi untuk mengkompresikannya,
namun semata-mata karena pengaruh panas busur
api yang terjadi.
b.Tekanan SF6 sebagai pemadam busur api maupun
sebagai pengisolasi dapat dengan mudah dideteksi
c. Penguraian pada waktu memadamkan busur api
maupun
pembentukannya
kembali
setelah
pemadaman adalah menyeluruh
d. Relatif mudah terionisasi sehingga plasmanya pada
CB konduktivitas tetap rendah dibandingkan pada
keadaan dingin. Hal ini mengurangi kemungkinan
busur api tidak stabil dengan demikian ada
pemotongan arus dan menimbulkan tegangan
antar kontak.
e. Karakteristik gas SF6 adalah elektro negatif sehingga
penguraiannya menjadikan dielektriknya naik
secara bertahap.
f. Transien frekuensi yang tinggi akan naik selama
operasi pemutusan dan dengan adanya hal ini
busur api akan dipadamkan pada saat nilai arusnya
rendah.

--- Halaman ini sengaja dikosongkan ---

PERCOBAAN III
PENGUJIAN BAHAN ISOLASI PADAT
1.1 Peranan Isolasi Tegangan Tinggi
Isolasi memiliki peranan yang sangat penting dalam
sistem tenaga listrik. Isolasi sangat diperlukan untuk
memisahkan dua atau lebih penghantar listrik yang
bertegangan sehingga antara penghantar-penghantar tersebut
tidak terjadi lompatan listrik atau percikan. Bahan isolasi akan
mengalami pelepasan
muatan yang merupakan bentuk
kegagalan listrik apabila tegangan yang diterapkan melampaui
kekuatan
isolasinya. Kegagalan yang terjadi pada saat
peralatan sedang beroperasi bisa menyebabkan kerusakan alat
sehingga kontinuitas sistem terganggu.
1.2 Kesalahan pada sistem elektrik
Arti dari electrical breakdown yang paling umum
berhubungan dengan mobil dan merupakan gangguan pada
jaringan listrik yang berakibat pada hilangnya fungsi
kendaraan. Permasalahan yang umum terjadi bisa berupa
pengosongan baterai, kegagagalan alternator, kabel yang
rusak, ledakan sekering, dan kerusakan pada pompa bahan
bakar.
1.3 Kegagalan isolator elektrik
Arti electrical breakdown yang kedua merujuk pada
kegagalan isolatornya sebuah kabel listrik atau komponen
listrik yang lain. Kegagalan seperti ini biasanya mengakibatkan
hubungan pendek atau sekering yang meledak. Ini terjadi pada
tegangan dadal. Kegagalan isolator yang sesungguhnya sering
terjadi dalam penerapan tegangan tinggi yang kadang-kadang
menyebabkan pembukaan sebuah pemutus sirkuit pelindung.
Electrical breakdown sering pula diasosiasikan dengan
kegagalannya bahan isolasi padat atau cair yang digunakan
dalam kondensator maupun transformator tegangan tinggi di
kabel distribusi listrik. Electrical breakdown juga bisa terjadi di
sepanjang sejumlah dawai isolator yang dipasang pada

saluran listrik, di dalam kabel listrik bawah tanah, atau kabel


yang membusur pada cabang pohon terdekat. Dalam tekanan
listrik yang cukup kuat, electrical breakdown bisa berlangsung
di dalam zat padat, cair, atau gas. Namun, mekanisme
kegagalan yang spesifik sangat berbeda di setiap fase
dielektrik. Kesemua ini menyebabkan kerusakan instrumen
yang membahayakan.
1.4 Piranti disruptif
Piranti disruptif merupakan piranti berdielektrik, lalu
mendapat tekanan melebihi kuat dielektriknya, yang memiliki
electrical breakdown. Hal ini berakibat pada perubahan tibatiba pada bagian bahan dielektrik yang semula bersifat
menghambat listrik menjadi bersifat konduktif. Adapun ciri dari
perubahan ini adalah terbentuknya bunga api listrik, dan bisa
juga busur elektrik melalui bahan tadi. Jika hal ini terjadi di
dalam perubahan kimiawi, fisik, dan dielektrik padat di
sepanjang jalur lucutan/pengosongan maka kuat dieletriknya
bahan akan berkurang secara signifikan.
1.5 Definisi Pengujian Isolasi Padat Pada Peralatan Listrik
Resistansi isolasi dari suatu isolasi didefinisikan sebagai
resistansi (dalam megohm) yang ditimbulkan oleh isolasi
karena diterapkan tegangan DC. Arus yang dihasilkan disebut
arus isolasi dan terdiri dari dua komponen yang utama.
a. arus yang mengalir di dalam isolasi, terdiri atas:
1) Arus kapasitansi
2) Arus dielektrik absorpsi
3) Arus konduksi tetap
b. arus yang mengalir diatas permukaan isolasi, dan
disebut arus bocor.
1.6 Teori Pengukuran Resistansi Isolasi dan Absorpsi Dielektrik
Ketika suatu tegangan dc dari suatu tegangan tinggi,
instrumen test dc isolasi tiba-tiba diterapkan pada isolasi, arus
isolasi akan mulai pada suatu nilai yang tinggi, secara
berangsur angsur berkurang, dan akhirnya mencapai level off

kenilai yang stabil. Resistansi isolasi awal yang rendah


disebabkan oleh arus kapasitansi charging awal yang tinggi.
Arus kapasitansi ini dengan cepat berkurang ke suatu nilai yang
dapat diabaikan ( pada umumnya 15 detik.).
Resistansi isolasi awal yang rendah sebagian
disebabkan oleh arus Absorpsi dielektrik awal yang tinggi. Arus
ini juga berkurang berdasarkan waktu, tetapi lebih secara
berangsur-angsur, membutuhkan dari 10 menit sampai
beberapa jam untuk mencapai nilai yang dapat diabaikan.
Resistansi isolasi bervariasi seperti halnya ketebalan dan
kebalikannya sebagai area isolasi yang diuji. Suatu kurva yang
diplot antara arus isolasi dan waktu ( atau resistansi isolasi dan
waktu ) dikenal sebagai kurva dielektrik absorsi.
1.7 Yang Dibutuhkan dalam Pengukuran Resistansi Isolasi dan
Absorpsi Dielektrik
Masing - masing faktor error yang besar pada
pengukuran resistansi isolasi dan error ini tidak boleh ditujukan
karena ketidakakuratan instrumen pengukuran. Diskusi ini
menerapkan test pada isolasi lilitan stator generator, tetapi juga
menerapkan secara umum pada semua isolasi dari semua
mesin listrik, kabel, trafo, dan peralatan lain kecuali isolator
porselin, dan arrester.
Lilitan medan isolasi tegangan rendah seharusnya diuji
dengan suatu sumber tegangan tidak lebih tinggi dari 500 volt,
untuk menghindari kerusakan isolasi. Sebelum rotor medan
diuji, sikat harus diangkat dan isolasi slip-ring secara hati-hati
dibersihkan. Resistansi isolasi medan rotor sama pentingnya
seperti resistansi isolasi stator.
Efek Injeksi Sebelumnya
Satu faktor yang mempengaruhi pengukuran isolasi
dan dielektrik absorsi adalah injeksi sebelumnya pada isolasi.
Injeksi mungkin berasal dari operasi normal dari suatu
generator dengan netral tidak digroundkan, atau dari suatu
pengukuran resistansi isolasi sebelumnya. Ini akan aman jika
lilitan generator tetap digroundkan selama test pada lilitan
dilakukan.

Efek Suhu/Temperatur
Resistansi isolasi bervariasi berkebalikan dengan
temperatur untuk material yang terisolasi.
Efek Kelembaban
Efek dari kelembaban yang dapat masuk isolasi suatu
lilitan motor atau generator dari udara basah/uap atau dapat
masuk lilitan suatu trafo yang disebabkan minyak, akan
membuat suatu perbedaan besar pada resistansi isolasi.
Efek Penuaan
Isolasi dengan semisolid, seperti mika-aspal,
mengalami suatu proses penurunan berapa lama kemudian.
Proses penurunan ini meningkatkan arus dielektrik absorpsi
yang diterapkan pada isolasi, dan kemudian insulation
resistance meter atau tegangan tinggi, pengukuran dc test
menunjukkan suatu penurunan resistansi isolasi dengan
bertambahnya umur. Efek penuaan semakin nyata pada arus
bocor utamanya peningkatan keretakan atau kontaminasi.
Index Polarisasi
Kecuraman kurva absorpsi dielektrik menunjukkan
temperatur yang mengindikasikan kekeringan relatif dari
isolasi. Kecuraman ini dinyatakan dalam "index polarisasi" .
Index polarisasi = R10/R1 = I1/I10
( jika tegangan
adalah tetap)
di mana:
R10 = resistansi isolasi pada menit ke-10 (megohm).
R1 = resistansi isolasi pada menit ke 1 (megohm)
I1 = arus isolasi pada menit ke-1
I10 = arus isolasi pada menit ke-10
Indikasikan perbedaan index polarisasi antara isolasi
kering dan lembab lebih menunjukkan pada temperatur yang
lebih tinggi dan oleh karena itu, test kering/panas lebih sensitif.
Kondisi Isolasi Suhu (C) IP
Lembab 36 1,88
Lembab 75 2,50
Kering 75 3,11
Kering 36 2,16

IEEE Standard No. 43 mengindikasikan nilaiIP minimum


yang direkomendasikan untuk mesin ac:
Isolasi klas A = 1,5
Isolasi klas B = 2,0
Isolasi klas C = 2,0
1.8 Prosedur Pengujian
Prosedur pengujian untuk test dielektrik absorsi adalah:
a. Hot resistance test
Mematikan operasi mulai dari beban penuh sedikitnya
4 jam, atau sampai temperatur distabilkan:
1) Memutuskan peralatan yang akan diuji dari peralatan
lainnya dengan membuka breaker/pemutus tenaga.
Memutus trafo tenaga atau peralatan lain yang
menyambung antara fasa dan ground atau netral dan
ground.
2) Melepas hubungan ground, sambungkan ke resistansi
isolasi tester, dan mulai pembacaan absorpsi dielektrik.
Berikan pembacaan pada interval 1 menit untuk 10
menit. Lakukan test antara lilitan stator dan ground dan
antara lilitan medan dan ground.
3) Catat temperatur dari peralatan yang diuji. Gunakan
rata-rata dari semua indikasi detektor temperatur
resistansi, jika tersedia, atau menggunakan rata-rata
pembacaan dari beberapa thermometer yang
ditempatkan agar supaya diperoleh rata-rata terbaik
dari temperatur isolasi.
4) Groundingkan lilitan lagi sedikitnya 10 menit.
b. Cold resistance test.
Empat sampai delapan jam setelah hot resis-tance test,
ketika peralatan telah didinginkan sekitar suhu lingkungan,
lakukan pengujian seperti prosedur hot resistance test.
1.9 Faktor Koreksi Temperatur pada Resistansi Isolasi

Berdasarkan metoda yang mungkin digunakan untuk


mengoreksi resistansi isolasi pada temperatur berapapun pada
resistansi isolasi pada temperatur dasar yang dipilih, jika ini
tidak mungkin melakukan test resistansi isolasi pada dua
temperatur yang sangat berbeda. Metoda hanya pendekatan,
sebab koefisen suhu resistansi isolasi sangat bervariasi dengan
kondisi dan bahan yang berbeda dan tidak selalu konsisten
untuk material yang sama. Nilai resistansi isolasi pada menit ke
10 dari kurva dielektrik absorpsi harus digunakan.
Uraian masing masing jenis kegagalan pada bahan isolasi
padat adalah :
Kegagalan asasi (intrinsik) adalah kegagalan yang
disebabkan oleh jenis dan suhu bahan ( dengan
menghilangkan pengaruh luar seperti tekanan, bahan
elektroda, ketidakmurnian, kantong kantong udara.
Kegagalan ini terjadi jika tegangan yang dikenakan
pada bahan dinaikkan sehingga tekanan listriknya
mencapai nilai tertentu yaitu 106 volt/cm dalam waktu
yang sangat singkat yaitu 10-8 detik
Kegagalan elektromekanik adalah kegagalan yang
disebabkan oleh adanya perbedaan polaritas antara
elektroda yang mengapit zat isolasi padat sehingga
timbul tekanan listrik pada bahan tersebut. Tekanan
listrik yang terjadi menimbulkan tekanan mekanik yang
menyebabkan timbulnya tarik menarik antara kedua
elektroda tersebut. Pada tegangan 10 6 volt/cm
menimbulkan tekanan mekanik 2 s.d 6 kg/cm 2.
Tekanan atau tarikan mekanis ini berupa gaya yang
bekerja pada zat padat berhubungan dengan Modulus
Young
Dengan

rumus

Garton
Jika kekuatan

asasi

Stark

(intrinsik)

tidak

dan

tercapai

pada
, maka zat isolasi akan gagal bila
tegangan V dinaikkan lagi. Jadi kekuatan listrik

maksimumnya adalah
.
Dimana :
F :gaya yang bekerja pada zat padat, D L:
pertambahan panjang zat padat L:panjang zat padat,
A:pertambahan zat yang dikenai gaya, d0:tebal zat
padat sebelum dikenai tegangan V, d:tebal setelah
dikenai tegangan V dan e 0e r:permitivitas
Kegagalan streamer adalah kegagalan yang terjadi
sesudah suatu banjiran (avalance). Sebuah elektron
yang memasuki band conduction di katoda akan
bergerak menuju anoda dibawah pengaruh medan
memperoleh energi antara benturan dan kehilangan
energi pada waktu membentur. Jika lintasan bebas
cukup panjang maka tambahan energi yang diperoleh
melebihi pengionisasi latis (latice). Akibatnya dihasilkan
tambahan elektron pada saat terjadi benturan. Jika
suatu tegangan V dikenakan terhadap elektroda bola,
maka pada media yang berdekatan (gas atau udara)
timbul tegangan. Karena gas mempunyai permitivitas
lebih rendah dari zat padat sehingga gas akan
mengalami tekanan listrik yang besar. Akibatnya gas
tersebut akan mengalami kegagalan sebelum zat
padat mencapai kekuatan asasinya. Karean kegagalan
tersebut maka akan jatuh sebuah muatan pada
permukaan zat padat sehingga medan yang tadinya
seragam akan terganggu. Bentuk muatan pada ujung
pelepasan ini dalam keadaan tertentu dapat
menimbulkan medan lokal yang cukup tinggi (sekitar
10 MV/cm). Karena medan ini melebihi kekuatan
intrinsik maka akan terjadi kegagalan pada zat padat.

Proses kegagalan ini terjadi sedikit demi sedikit yang


dapat menyebabkan kegagalan total.
Kegagalan termal, adalah kegagalan yang terjadi jika
kecepatan pembangkitan panas di suatu titik dalam
bahan melebihi laju kecepatan pembuangan panas
keluar. Akibatnya terjadi keadaan tidak stabil sehingga
pada suatu saat bahan mengalami kegagalan

PERCOBAAN IV
PENGUJIAN BAHAN ISOLASI CAIR
A.

Sekilas tentang pengujian bahan isolasi cair


Dalam sistem tenaga listrik isolasi berfungsi untuk
memisahkan dua atau lebih penghantar listrik yang
bertegangan, sehingga antara penghantar-penghantar yang
bertegangan tidak terjadi lompatan listrik atau percikan.
Minyak merupakan bahan isolasi yang banyak digunakan
untuk mengisolasi dan mendinginkan peralatan listrik tegangan
tinggi. Isolator minyak sebagian besar berasal dari minyak
bumi atau minyak mentah yang diolah secara khusus sehingga
mempunyai sifat-sifat sebagai isolator, tetapi perkembangan
dunia sekarang ini menuntut suatu produk yang aman dan
ramah lingkungan untuk mengurangi efek pemanasan global.
Keadaan ini membuka peluang penggunaan bahan energi
terbarukan yang berasal dari minyak nabati. Pengujian
tegangan tembus bahan isolasi cair minyak jarak pada
berbagai konfigurasi elektroda dengan menggunakan minyak
trafo gulf sebagai pembanding, bertujuan untuk mempelajari
kekuatan isolasi minyak jarak terhadap tegangan tembus,
dengan variasi temperatur dan jarak sela.
Ada beberapa alasan mengapa isolasi cair digunakan,
antara lain yang pertama adalah isolasi cair memiliki kerapatan
1000 kali atau lebih dibandingkan dengan isolasi gas,
sehingga memiliki kekuatan dielektrik yang lebih tinggi menurut
hukum Paschen. Kedua isolasi cair akan mengisi celah atau
ruang yang akan diisolasi dan secara serentak melalui proses
konversi menghilangkan panas yang timbul akibat rugi energi.
Ketiga isolasi cair cenderung dapat memperbaiki diri sendiri
(self healing) jika terjadi pelepasan muatan (discharge). Namun
kekurangan utama isolasi cair adalah mudah terkontaminasi.
Beberapa macam faktor yang diperkirakan mempengaruhi
ketembusan minyak transformator seperti luas daerah
elektroda, jarak celah (gap spacing), pendinginan, perawatan
sebelum pemakaian (elektroda dan minyak ), pengaruh
kekuatan dielektrik dari minyak transformator yang diukur serta

kondisi pengujian atau minyak transformator itu sendiri juga


mempengaruhi kekuatan dielektrik minyak transformator.
Ketembusan isolasi (insulation breakdown, insulation failure)
disebabkan karena beberapa hal antara lain isolasi tersebut
sudah lama dipakai, berkurangnya kekuatan dielektrik dan
karena isolasi tersebut dikenakan tegangan lebih. Pada
prinsipnya tegangan pada isolator merupakan suatu tarikan
atau tekanan (stress) yang harus dilawan oleh gaya dalam
isolator itu sendiri agar supaya isolator tidak tembus. Dalam
struktur molekul material isolasi, elektronelektron terikat erat
pada molekulnya, dan ikatan ini mengadakan perlawanan
terhadap tekanan yang disebabkan oleh adanya tegangan. Bila
ikatan ini putus pada suatu tempat maka sifat isolasi pada
tempat itu hilang. Bila pada bahan isolasi tersebut diberikan
tegangan akan terjadi perpindahan elektron-elektron dari suatu
molekul ke molekul lainnya sehingga timbul arus konduksi atau
arus bocor. Karakteristik isolator akan berubah bila material
tersebut kemasukan suatu ketidakmurnian (impurity) seperti
adanya arang atau kelembaban dalam isolasi yang dapat
menurunkan tegangan tembus
B.

Pembangkitan Tegangan Tinggi AC


Sebenarnya untuk membangkitkan tegangan tinggi AC
pada pengujian laboratorium diperlukan trafo uji yang
berfungsi untuk mengubah tegangan rendah menjadi tegangan
tinggi. Trafo uji biasanya berupa trafo satu fasa karena
pengujian biasanya dilakukan untuk setiap fasa dan setiap kali
yang diuji hanyalah satu fasa yang diperlukan.
C. Kekuatan Dielektrik
Setiap dielektrik mempunyai batas kekuatan untuk memikul
terpaan listrik. Jika terpaan listrik yang dipikulnya melebihi
batas tersebut dan terpaan berlangsung lama, maka dielektrik
akan menghantar arus atau gagal melaksanakan fungsinya
sebagai isolator. Dalam hal ini dielektrik mengalami tembus
listrik atau atau seringkali disebut kondisi breakdown.
Sehingga bisa disimpulkan bahwa kekuatan dielektrik adalah

terpaan listrik tertinggi yang dapat dipikul suatu dielektrik tanpa


menimbulkan dielektrik tersebut tembus listrik. Sedangkan
tegangan tembus adalah besarnya tegangan yang
menimbulkan terpaan listrik pada dielektrik sama dengan atau
lebih besar daripada kekuatan dielektriknya.
D. Jenis Minyak Isolasi Cair
Ada berbagai jenis isolasi cair diantaranya adalah sebagai
berikut:
a. Minyak Organik
Kelompok minyak organik meliputi minyak sayur, minyak
damar, dan ester. Jenis minyak ini mulai banyak dipakai
sebagai bahan isolasi pada akhir abad ke-19, terlebih dengan
semakin menipisnya cadangan mineral tak terbaharukan dan
masih kecilnya pemakaian minyak sintetik membuat minyak
organik mendapatkan perhatian lebih.
b. Minyak Mineral
Minyak mineral diketahui berisi berbagai jenis molekul dan
secara luas dapat digolongkan kedalam jenis yang
mengandung malam (paraffin) dengan rumus kimianya
CnH2n+2, naphthenic (CnH2n), aromatis (CnHn ) atau
kelompok molekul tingkat menengah lainnya.
c. Minyak Sintetis
Minyak jenis ini merupakan hasil pengembangan pada bidang
industri kimia. Kelebihan utamanya adalah bersifat tidak
mudah terbakar. Contoh minyak sintetis diantaranya adalah
askarel dan silikon.
E. Teori Kegagalan Isolasi Cair
Teori kegagalan isolasi cair dapat digolongkan dalam empat
jenis sebagai berikut:
1. Teori kegagalan zat murni atau elektronik
Menganggap proses kegagalan dalam zat cair serupa dengan
yang terjadi dalam gas, sehingga diperlukan elektron awal
yang akan memulai proses kegagalan.
2. Teori kegagalan gelembung gas
Kegagalan ini disebabkan oleh adanya gelembunggelembung
gas didalam isolasi cair yang bisa terbentuk diantaranya karena

permukaan elektroda tidak rata, sehingga terdapat kantongkantong udara pada permukaannya ataupun karena adanya
tabrakan elektron saat terjadi tegangan tembus, sehingga
muncul produk-produk baru berupa gelembung gas. Karena
pengaruh medan yang kuat diantara
elektroda maka gelembung-gelembung gas yang terbentuk
tersebut akan saling sambung-menyambung
membentuk jembatan yang akan mengawali terjadinya
kegagalan.
3. Teori kegagalan bola cair
Air dan uap air terdapat pada minyak, terutama pada minyak
yang telah lama digunakan. Jika terdapat
medan listrik, maka molekul uap air terpolarisasi membentuk
suatu dipol. Jika jumlah molekul molekul
uap air ini banyak, maka akan tersusun semacam jembatan
bertahanan lebih rendah dibanding isolasi
cair itu sendiri sehingga terbentuk suatu kanal peluahan. Kanal
ini akan merambat dan memanjang sampai menghasilkan
tembusan listrik.
4. Teori kegagalan tak murnian padat
Partikel debu atau serat selulosa yang ada seringkali ikut
tercampur dengan minyak, selain itu partikel padat ini pun
dapat terbentuk ketika terjadi tegangan tembus. Pada saat
diberi medan listrik, partikelpartikel ini akan terpolarisasi dan
membentuk jembatan yang menyebabkan terjadinya
kegagalan.
F. Langkah Pengujian Bahan Isolasi Cair
Pengujian tegangan tembus dilakukan dengan beberapa
variasi meliputi variasi jarak sela, diameter elektroda, bentuk
medan pada elektroda, dan variasi posisi elektroda. Langkahlangkah yang dilakukan dalam melakukan pengujian tegangan
tembus adalah :
1. Peralatan
a. High Voltage Transformer, 80 kV rms, 5kVA
b. Divider 80 kV rms, 400 kV impulse, 500 pF, respon time
Time 10 0 .

c. Control Box Type 273


2. Langkah Pengujian adalah sebagai berikut:
Langkah 1 : Membuat rangkaian pengujian dengan
menggunakan
elektroda
datar
pada
elektrode set, serta memasukkan minyak
trafo
ke
dalam tabung.
Langkah 2 : Setelah kedua elektroda tercelup seluruhnya ke
dalam minyak trafo, maka ambil jarak sela bola yang lainnya,
catat besarnya tegangan tembus.
G. Persamaan Tegangan Tembus Minyak
Vb=A.dn
Dimana :
Vb
= Tegangan tembus / breakdown (kv)
A
= Konstanta
D
= Panjang ruang celah
N
= Konstanta yang nilainya kurang dari 1
H.Fenomena yang Terjadi Saat Pengujian Tegangan Tembus
Minyak
Untuk mendapatkan nilai tegangan tembus pada sampel
minyak, maka dimulai dengan menaikkan tegangan uji secara
bertahap, saat kondisi sampel uji mendekati nilai tegangan
tembusnya, akan timbul suara mendesis. Hal ini terjadi karena
adanya tekanan yang terus-menerus dan semakin besar pada
sampel minyak.
Pada saat terjadi tegangan tembus pada sampel uji akan
timbul suara ledakan. Fenomena ini lebih disebabkan karena
terjadi tumbukan elektron dan tekanan impulsif (semakin besar
secara tiba-tiba) pada minyak isolasi.
Dalam kondisi sesudah terjadi tegangan tembus akan
timbul gelembung gas dan kabut hitam (arang) pada sampel
minyak. Hal ini disebabkan oleh :
Permukaan elektroda tidak rata, sehingga terdapat kantongkantong udara di permukaannya

Adanya tabrakan elektron saat terjadi tegangan tembus,


sehingga muncul produk-produk baru berupa gelembung
gas atau arang.
Adanya penguapan cairan karena lucutan pada
bagianbagian elektroda yang tajam dan tak teratur
Zat cair dikenai perubahan suhu dan tekanan

PERCOBAAN V
PENGUJIAN BAHAN ISOLASI DENGAN TEGANGAN AC
1.1 Pengujian Tegangan AC
Dalam hal penerapan tegangan AC pada suatu isolasi,
arus yang besar akan mengalir yang tinggal konstan sebagai
arus bolak-balik mengisi dan membuang pada isolasi.
Pengaruh dari arus absorpsi dielektrik tetap tinggi karena
medan dielektrik tidak pernah menjadi penuh sehubungan
dengan polaritas dari arus yang terbalik pada setiap setengah
siklus. Bilaman suatu tegangan AC diterapkan ke suatu isolasi,
arus yang ditarik oleh isolasi adalah berhubungan dengan
pengisian kapasitansi, absorpsi dielektrik, arus bocor kontinyu,
dan korona yang akan dibahas dibawah.
a. Arus Pengisian Kapasitansi.
Didalam hal tegangan AC, arus ini adalah
konstan dan merupakan fungsi tegangan, konstanta
dielektrik dari bahan isolasi, dan geometri dari isolasi.
b. Arus Absorpsi Dielektrik.
Bilamana
medan
listrik
ditempatkan
memotong suatu isolasi, molekul-molekul dipole
berusaha untuk membuat segaris sesuai medan.
Karena molekul-molekul pada medan AC secara
kontnyu berbalik dan tidak pernah benar-benar
segaris, energy yang diperlukan merupakan funsi dari
bahan, kontaminasi, (seperti air), dan frkwensi listrik.
Dan tidak tergantung pada waktu.
c. Arus Bocor (Konduktivitas).
Semua
bahan-bahan
isolasi
akan
menghantar arus. Jika tegangan dinaikan di atas
tingkat tertentu, elektron akan memukul elektron yang
menyebabkan arus lewat melalui isolasi. Kondisi ini
merupakan fungsi dari bahan, kontaminasi (khususnya
air), dan temperatur. Kelebihan konduktivitas akan
membangkitkan panas yang menyebabkan isolasi
gagal secara bertahap.
d. Korona (Arus ionisasi).

Korona adalah proses di mana molekulmolekul netral udara terlepas membentuk muatan ionion positif dan negatif. Hal ini terjadi sehubungan
dengan adanya stress yang berlebihan dari void udara
didalam isolasi. Udara kosong pada isolasi minyak
atau isolasi padat kemungkinan karena kerusakan
akibat panas atau stress fisik, proses pembuatan yang
kurang baik, kesalahan instalasi, atau pengoperasian
yang tidak benar. Korona membentuk udara menjadi
ozon, jikas bercampur dengan air akan membentuk
nitrous acid. Udara terionisasi akan membombardir
sekeliling isolasi dan menyebabkan panas. Kombinasi
dari keadaan ini menghasilkan penurunan isolasi dan
lintasan karbon. Rugi-rugi korona meningkat secara
exponensial dengan naiknya tegangan.
Dalam melakukan pengujian terhadap isolator
tegangan tinggi, mengacu kepada standar yang telah
dikeluarkan oleh International Electrotechnical Committee IEC
melalui Komisi Teknis (Technical Committee) yang dikeluarkan
dalam publikasi-publikasinya. Standar pengujian yang telah
dikeluarkan oleh IEC antara lain IEC Publikasi 60 tahun 1962
tentang Teknik Pengujian Tegangan Tinggi, IEC Publikasi 60
tahun 1989 tentang Teknik Pengujian Tegangan Tinggi serta
IEC Publikasi 507 tahun 1991 tentang Teknik Pengujian
Tegangan Tinggi.
1.2 Ruang Lingkup
Standar pengujian ini dapat diterapkan pada:
tes dielektrik dengan tegangan searah
tes dielektrik dengan tegangan bolak-balik

tes dielektrik dengan tegangan impuls


tes dengan arus impuls
tes yang merupakan gabungan tes-tes di atas
Standar ini hanya berlaku untuk peralatan tegangan
tinggi yang mempunyai tegangan di atas 1 kV. Standar ini tidak
berlaku untuk pengujian sifat elektromagnetik baik pada
peralatan elektrik maupun elektronik.

1.3 Tujuan Penstandaran


Adapun tujuan adanya penstandaran adalah:
untuk mendapatkan karakteristik umum dan
spesifik dari bahan pengujian
untuk memberikan gambaran umum peralatan
yang dibutuhkan dalam pengujian dan prosedur
tes
untuk menggambarkan metode pembangkitan dan
pengukuran tegangan dan arus tes
untuk menjelaskan prosedur tes
untuk menjelaskan metode dalam mengevaluasi
hasil pengujian dan memberikan kriteria hasil
pengujian dapat diterima atau ditolak
Prosedur tes alternatif dapat dilakukan untuk
mendapatkan hasil yang berarti. Alternatif prosedur tes yang
dibuat harus relevan dengan yang dibuat Komisi Teknis IEC.
1.4 Klasifikasi Isolasi dalam Pengujian
Pada peralatan tegangan tinggi, menurut
sifatnya isolasi dapat dibedakan menjadi isolasi yang dapat
kembali ke semula (self-restoring insulation) dan isolasi yang
tidak dapat kembali semula (non-self-restoring insulation),
sedangkan berdasarkan penggunaannya terdiri dari isolasi luar
(external) dan/atau isolasi dalam (internal).

Isolasi Luar (External Insulation)


Isolasi luar merupakan isolasi di uadara terbuka yang
berbentuk isolasi padat, dimana tekanan dielektriknya
dipengaruhi oleh kondisi atmosfer dan keadaan
lingkungan seperti polusi, kelembaban dan hewan
perusak.

Isolasi Dalam (Internal Insulation)


Isolasi dalam dapat berupa padat, cair maupun gas
yang terlindung dari pengaruh keadaan atmosfer
dan kondisi luar lainnya seperti polusi, kelembaban
dan hewan perusak.

Isolasi yang dapat kembali semula (Self-restoring


Insulation)
Isolasi yang dapat kembali semula adalah isolasi yang
dapat kembali ke sifat asalnya setelah terjadi tembus
listrik (disruptive discharge) yang disebabkan oleh stress
tegangan yang bekerja padanya.
Isolasi yang tidak dapat kembali semula (Non-selfrestoring insulation)
Isolasi yang tidak dapat kembali semula merupakan
isolasi yang telah kehilangan sifat isolasinya atau tidak
dapat kembali ke sifat semula setelah terjadi tembus
listrik (disruptive discharge) akibat stress tegangan.

1.5 Persyaratan Umum dalam Pengujian


Syarat pengujian
Dalam melakukan prosedur pengujian, faktor-faktor
penting yang harus diperhatikan adalah:
akurasi/ketepatan dalam hasil pengujian
karakteristik fenomena kondisi alam dan
pengaruh polaritas harus diperhi-tungkan
kemungkinan terjadinya perbedaan dalam
menerapkan tegangan uji
Syarat isolator uji
Pada saat melakukan pengujian, harus
diketahui secara detail dari isolator uji, dan untuk
setiap pengujian pada spesimen yang sama harus
dilakukan dengan prosedur yang sama.
Karakteristik lewat-denyar dapat dipengaruhi
oleh susunan isolator (misalnya jarak terhadap
ground, struktur grounding), oleh karenanya
penyusunan isolator uji harus relevan dengan Komisi
Teknis. Jarak aman pengujian tidak lebih kecil dari
panjang lintasan lewat-denyar isolator. Pada saat tes
basah atau polusi, distribusi tegangan sepanjang
isolator uji dan medan listrik di sekitarnya tidak
dipengaruhi oleh faktor luar.Pada kasus tegangan

bolak-balik atau tegangan impuls positif di atas 750


kV (puncak) pengaruh struktur luar pengujian biasanya
diabaikan apabila jarak elektroda tegangan tinggi
tidak lebih kecil dari tinggi elektroda tersebut dari
tanah/ground.

1.6 Tegangan Uji


Tes dengan Tegangan Searah
Harga tegangan searah dinyatakan dalam
nilai rata-rata aritmatikanya. Tegangan uji hendaknya
tidak melebihi faktor ripplr sebesar 3%. Ripple
merupakan nilai simpangan/deviasi periodik dari
tegangan rata-ratanya. Sedangkan amplitudo ripple
didefinisikan sebagai setengah dari perbedaan antara
harga maksimum dan minimum tegangan. Faktor
ripple sendiri merupakan perbandingan antara
amplitudo ripple dengan nilai rata-rata tegangan.
Untuk tes yang tidak melebihi 60 detik, harga
tegangan uji hendaknya dijaga agar jangan melebihi
batas toleransi 61% pada saat pengujian berada
pada level tegangan tersebut. Untuk tes yang melebihi
60 detik, harga tegangan searah tidak di luar batas
toleransi 63% pada level tegangan tersebut.
Pembangkitan tegangan searah biasanya
dihasilkan dari rangkaian penyearah (rectifier) atau
kadang-kadang dari generator searah. Kebutuhan
jenis tegangan ini bergantung pada tipe peralatan
yang akan diuji dan kondisi pengujian.
Tes dengan Tegangan Bolak-balik
Pada saat pengujian, harga tegangan yang
diberikan merupakan harga tegangan phasa (line-toearth) sistem di mana isolator digunakan. Frekuensi
sumber tegangan sebaiknya antara 45 Hz dan 65
Hz. Sesuai dengan IEC Publikasi 60 (1962) harga
tegangan dinyatakan oleh harga puncak dibagi

dengan . Harga tegangan uji hendaknya berada pada


toleransi sebesar 61%. Untuk lama pengujian melebihi
60 detik tegangan tersebut dijaga agar tidak melebihi
batas toleransi 63%.
Tegangan uji umumnya dihasilkan dari
transformator step-up, sedangkan sebagai alternatif
dapat digunakan rangkaian resonansi seri. Tegangan
pada rangkaian uji sebaiknya stabil dan tidak
dipengaruhi oleh adanya arus bocor. Pada saat
sebelum terjadinya lewat-denyar besar tegangan uji
tidak berubah, sedangkan pada saat terjadinya lewatdenyar besar tegangan uji ini akan dipengaruhi.
Pada saat tes ketahanan tegangan, harga
tegangan puncak jangan sampai melebihi 5% dari
harga periodiknya, dan tegangan jatuh sesaat tidak
melebihi 20% dari tegangan puncaknya. Karakteristik
rangkaian uji bergantung tipe tes (kering, basah, dsb),
level tegangan dan perilaku obyek tes.
Arus hubung singkat minimum pada saat
pengujian pada tegangan uji bergantung pada
perbandingan resistansi dah reaktansi (R/X) dengan
harga yang ditunjukkan dalam tabel 4.1.
Tabel 1 Perbandingan R/X pada metods tes
polusi
R/X
Isc min (rms)
Metode
kabut
Metode lapisan garam A
garam
<0.05
<0.05
5
0.05-0.15
0.05-0.15
7
0.15-0.5
0.15-0.3
10
0.5-1.5
0.3-0.5
15
Catatan : harga dalam tabel 1 berdasarkan penelitian
pada sejumlah isolator. Harga ini digunakan sampai
sekarang
yang
dapat
berubah
saat
mendatang.

Pada rangkaian resonansi seri terdiri dari


induktor yang diserikan dengan kapasitor, obyek tes
atau beban dihubungkan dengan sumber tegangan
menengah. Sebagai alternatif rangkaian dapat berupa
kapasitor yang diseri dengan obyek tes induktif.
Dengan cara mengubah parameter rangkaian atau
frekuensi sumber, rangkaian dapat distel sampai
terjadinya resonansi, ketika diinginkan meningkatkan
tegangan uji yang lebih besar dari tegangan sumber
dengan tetap mempertahankan bentuk sinuoidalnya.
Kestabilan rangkaian resonansi dan tegangan
uji bergantung pada frekuensi sumber dan karakteristik
rangkaian uji. Ketika terjadi lewat-denyar, arus sumber
relatif kecil yang tidak menyebabkan kerusakan pada
dielektrik obyek tes. Rangkai resonansi seri cocok untuk
menguji peralatan seperti kabel, kapasitor, atau Sistem
Berisolasi Gas (gas insulated systems - GIS) di mana
arus bocor pada isolasi luarnya sangat kecil jika
dibandingkan dengan arus kapasitif yang melalui
obyek tes atau energi yang dihasilkan lewat-denyar
kecil. Rangkaian resonansi seri juga berguna untuk
menguji suatu reaktor. Rangkaian resonansi ini tidak
cocok untuk menguji isolasi luar pada kondisi basah
atau berpolusi, di mana pada pengujian ini tegangan
berasal dari transformator.
1.7 Tes Kering
Isolator yang akan diuji harus dalam keadaan kering
dan bersih. Pengujian yang dilakukan harus berada pada
temperatur ambient dan prosedur pemberian tegangan harus
sesuai dengan Komisi Teknis IEC.
1.8 Tes Basah
Tes basah bertujuan untuk mensimulasikan pengaruh
hujan pada isolasi luar. Tes ini berlaku nntuk semua pengujian
tipe tegangan maupun tipe peralatan nya. Namun alternatif tes

lain dijinkan dalam keadaan khusus selama masih relevan


dengan standar IEC.
Prosedur tes basah sederhana, diterangkan dalam sub
, tidak ditujukan untuk mensimulasikan hujan alam. namun tes
ini sudah dilakukan selama beberapa tahun dengan tegangan
bolak-balik yang mempunyai tegangan puncak Um sampai
420 kV dan beberapa hasil pengujian masih digunakan metode
ini.
Untuk peralatan tegangan tinggi bolak-balik yang
mempunyai Um lebih besar dari 800 kV,