Anda di halaman 1dari 67

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Dalam melakukan percobaan kimia pastinya digunakan alat alat pada


laboratorium seperti gelas kimia, timbangan, tabung reaksi, statif dan lainnya.
Penggunaan alat-alat ini dimaksudkan untuk mendukung kerja praktikan dalam
melakukan percobaan. Dalam melakukan percobaan kimia pastinya praktikan
tidak terlepas dari zat-zat atau larutan kimia yang berbahaya, beracun, dan mudah
terbakar.
Dalam

praktikum

diharapkan

tidak

terjadinya

kesalahan

dalam

penggunaan karena akan mengancam keselamatan praktikan saat bekerja. Untuk


menghindari

kecelakaan

saat

praktikum,

praktikan

harus

mempunyai

pengetahuaan dan kemapuan yang cukup untuk menggunakan alat alat


praktikum secara baik, karena setiapa alat memiliki prosedur yang berbeda-beda.
Oleh karena itu pengenalan alat-alat laboratorium seperti fungsi dan cara
penggunaannya sangat dibutukan untuk memudahkan praktikan dalam melakukan
praktikum, memperoleh data yang akurat dan juga untuk keselamatan praktikan.
Pengenalan alat-alat laboratorium penting dilakukan untuk keselamatan
kerja saat melakukan penelitian. Alat-alat laboratorium biasanya dapat rusak atau
bahkan berbahaya jika penggunaannya tidak sesuai dengan prosedur (Plummer,
1987). Sebab pentingnya dilakukan pengenalan alat-alat laboratorium adalah agar
dapat diketahui cara cara penggunaan alat tersebut dengan baik dan benar,
Sehingga kesalahan prosedur pemakaian alat dapat diminimalisir sedikit mungkin.

Hal ini penting supaya saat melakukan penelitian, data yang diperoleh akan benar
pula.
Data data yang tepat akan meningkatkan kualitas penelitian seseorang.
Dalam praktikum pengenalan alat alat laboratorium dan alat alat sterilisasi
akan dijelaskan secara detail mengenai fungsi dan spesifikasi masing masing
alat tersebut. Sterilisasi adalah usaha untuk membebaskan bahan bahan dari
mikrobia yang tidak diinginkan (Soetarto, dkk). Jadi Alat alat sterilisasi adalah
alat yang digunakan untuk membebaskan suatu bahan atau alat lain dari mikrobia
yang tidak diinginkan.

B. Tujuan
1. Mengetahui nama serta karakteristik dari alat laboratorium dan bahan
kimia yang akan digunakan
2. Mengetahui cara pengoprasian alat.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Sebelum melakukan praktikum, terlebih dahulu kita harus mengenal atau


mengetahui tentang alat-alat yang digunakan dalam melakukan praktikum
tersebut. Hal ini berguna untuk mempermudah kita dalam melaksanakan
percobaan, sehingga resiko kecelakaan di laboratorium dapat ditanggulangi.
Kebersihan dan kesempurnaan alat sangat penting untuk bekerja di laboratorium
(Day & Underwood, 1998).
Ketetapan hasil analisa kimia sangat tergantung pada mutu bahan kimia
dan peralatan yang dipergunakan, disamping pengertian pelaksanaan tentang dasar
analisa yang sedang dikerjakan serta kecermatan dan ketelitian kerjanya sendiri.
Ketelitian dan kecermatan kerja, selain merupakan sifat pribadi seseorang akan
dapat pula diperoleh karena bertambahnya pengamatan kerja seseorang sehingga
menjadi kebiasaan yang berguna bagi kelancaran kerjanya. Penanganan bahan
kimia dan peralatan pokok yang banyak dipergunakan merupakan persyaratan
penting demi keselamatan dan hasilnya pekerjaan analisa kimia (Day &
Underwood, 1998).
Adanya peralatan baik peralatan pemanas, peratan gelas, dan peralatan
ukur sangat diperlukan dalam setiap kegiatan penelitian (Estu Prabowo, 2008).
Mengenal alat alat volumetrik baik fungsi, sifat kesalahan, maupun cara
menggunakan dan cara membacanya adalah penting untuk menghindarkan
kesalahan yang tidak perlu dan agar tidak memperkirakan dengan teliti kuantitas
larutan baku yang dibuat. Ada tiga alat ukur Volometrik yang utama, yaitu labu
takar, buret, dan pipet volum (Molyono, 2005).

Pengenalan alat Laboratorium sebelum melakukan sesuatu percobaan


sangatlah penting, agar dapat mengurangi terjadinya kesalahan kesalahan dalam
pelaksaan praktikum, dan apabila terjadi kecelakaan dalam pelaksanaan praktikum
dapat langsung diatasi dengan cepat dan sebaik mungkin. Alat alat laboratorium
tersebut ada yang berfungsi dalam proses pemanasan, misalnya pembakaran gas
yang memiliki tiga bagian, yaitu pipa pemasuk gas, lubang masuk udara, dan pipa
pencampuran gas dan udara. Banyak lagi alat dan lainnya seperti kaki tiga, kasa
penjepit, segi tiga porselin, cawan porselin, dan lain sebagainya. Ada juga alat
gelas yang mempunyai jenis dan macam yang lebih kompleks lagi, sehingga
dalam penggunaannya memerlukannya ketelitian dan kehati hatian (Estu
Prabowo, 2008).
Dalam penelitian selain memerlukan orang yang ahli kita juga
memerlukan peralatan yang benar benar akurat. Adanya peralatan, baik peralatan
pemanas, peralatan gelas dan peralatan ukur sangat diperlukan dalam setiap
kegiatan penelitian (Subroto, 2000). Kadang kadang dalam kimia digunakan
juga simpangan baku nisbi untuk membandingkan hasil hasil penggukuan atau
dinamakan koefisien variasi. Dinyatakan dalam prosen atau perseribuan. Semakin
kecil simpangan baku atau semakin koefisien variasi semakin cermat pengukuran
yang telah dilakukan (Mulyono, 2005).
Beberapa pralatan gelas seperti tabung reaksi, gelas kimia, gelas
erlenmayer, gelas ukur, pipet ukur, vol pipet, labu takar, buret, bahkan botol
botol reagen serta beberapa peralatan gelas lainnya harus bebas dari kotoran.
Kotoran berupa sisa sisa zat kimia atau noda lainnya dapat megaburkan data

pengamatan bahakan dapat mengagalkan percobaan atau eksperimen itu sendiri.


Kesimpulan yang diambil pun menjadi kurang tepat atau salah.
Bukan itu saja, kerugian akan dialami dalam hal waktu, tenaga, dan juga
finansial (pemborosan bahan) karena akan mempertinggi biaya pelaksanaan
eksperimen dari yang seharusnya, atau karena kegagalan harus mengulangi
eksperimen serupa dari awal. Sementara itu, reaksi yang akan dikemas dalam
botol pereaksi dapat tercemar oleh kotoran yang menempel pada dinding dalam
botolnya (Mulyono, 2006).

III.

METODA PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan merupakan alat dan bahan yang nantinya
akan digunakan pada acara praktikum selanjutnya.

B. Prosedur Kerja
1. Alat dan bahan yang akan dikenali dipersiapkan.
2. Praktikan melihat alat dan bahan secara langsung.
3. Praktikan menggambar alat secara keseluruhan, dan menulis data
karakteristik bahan kimia yang akan digunakan.

IV.
i.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Alat

N
Nama Alat

Merk

Kegunaan

o
Alat dari Gelas

Gambar

Tempat
penampung zat
1

Biuret

Assistant
untuk proses
titrasi

Mengambil
2

Pipet Seukuran

Assistant

larutan dengan
volume tertentu

Meneteskan
3

Pipet Tetes

larutan dalam
jumlah sedikit

Mengukur
volume, dan
4

Volumetric Flash

Pyrex
mengencerkan
larutan

Mengukur
volume zat
5

Gelas Ukur

Pyrex
kimia dalam
bentuk cair

Tempat zat zat


yang dititrasi,
6

Labu Erlenmeyer

Pyrex
dan sebagai
pemanas larutan

Untuk
mendidihkan
7

Labu Didih

Pyrex
larutan atau zat
cair

Untuk
menampung
8

Labu Destilasi

Pyrex
larutan atau zat
saat penyulingan

Untuk
menampung
larutan yang
9

Kuvet

Pyrex

akan diukur
lewat
spektrofotomete
r
Alat untuk
menyimpan

10

Desikator

Pyrex

bahan atau
benda agar tetap
kering

Untuk tempat
11

Tabung Reaksi

melakukan
reaksi suatu zat

Tempat/alas
12

Gelas Arloji

Pyrex

penimpang
bahan

Alat Dari Porselin


Penghancur zat
dalam bentuk
13

Mortir

padatan

Mengambil
bahan dalam

Sendok
15

Porselen/Spatula

bentuk padatan

Tempat
menyimpan
16

Cawan Porselin

sampel yang
harus bebas air

17
18

Alat Dari Karet


Filler

D&N

Penyedot pipet,
dapat menyedot
dan

10

mengeluarkan
larutan
Penutup labu,
lubang di tengah
untuk
19

Prop

dimasukkan
selang saat
destilasi

20

Alat Dari Logam

Mendirikan atau
memegang
21

Statif

biuret, corong
dan peralatan
gelas lainnya

Pengering alat
dan bahan
22

Oven Listrik

Binder
sebelum
digunakan

11

Pemanas larutan
atau zat tanpa
23

Waterbath

paparan
langsung

Mengukur
pH-meter

Hanna

derajat
keasaman

Menimbang
Timbangan

Mettler-

Analitik

Teledo

berat zat atau


larutan

Pengukur daya
DAL-meter

hantar listrik

12

Menentukan
Thermolyn

kadar oraganik

untuk

Muffle Furnance
penyabuan

Spectrophotometr

Miltonroy

Pengatur

co.

absorbansi

Menentukan
kadar
kandungan
Flamephotometre

Jenway
logam pada
suatu zat dan
larutan
Penggoyang
larutan secara
berkala dalam

Shaker

Raterman
waktu dan
kecepatan yang
ditentukan

13

Untuk
memisahkan
Centrifuge

bahan
tersuspensi dari
medianya

mendinginkan
Deep Freezer

Nuarre

zat dan
mengawetkan
zat
Pengukur

Automatic
serapan suatu
Absorption
Hitachi

sinar oleh atom

Spectrophotometr
lewat panjang
e
gelombang
Memanaskan
Kompor Listrik

Gerhart

bahan yang akan


diuji

14

Pengaturan dan
penyaringan
Biosafety Cabinet

udara untuk
sterilisasi

ii.

No
1
2
3
4

Bahan
Rumus

Bobot

Derajat

Kimia
Na2CO3
CH3COOH
MgO
KCl

Molekul
105,99 g/mol
60,05 g/mol
40,30 g/mol
74,55 g/mol

Kemurnian
PA
PA
USP
PA

Nama Bahan Kimia


Natrium Carbonate
Acetic Acid
Magnesium Oxide
Kalium Chloride

Keterangan Lain

15

Serbuk putih
Cair, bersifat korosif
Serbuk putih
Serbuk, padatan putih

Amonium Nitrate

NH4NO3

80,04 g/mol

Saccharose Reinst

C12H22O4

342,30 g/mol

7
8
9

Natrium Hydroxide
Ammonium Flouride
Ammonia Solution
Oxide Acid

10

PA
pH Eur, pH

Lunak, berwarna putih


Butiran padat putih

NaOH
NH4F
NH3

40,00 g/ml
37,04 g/ml
0,31 kg/ml

Nord, NF
PA
PA
25%

C2H2O4

38,37 g/ml

PA

Kristal

Butiran putih
Serbuk putih
Cair

Dihidrate
Hidrochloric Acid
11

Fuming Lasm

HCL

1,19 kg/ml

37%

Cair

12

Chloride
Oksalat Acid

C2H2 H2O

23,09 g/ml

PA

Serbuk putih

B. Pembahasan
i.

Alat
1.

Gelas Ukur dipakai untuk menakar air suling dan bahan kimia

yang akan digunakan. Ukuran gelas ukur bermacam macam mulai


dari volume 25mL sampai 250mL. Jenis gelas ukur ada yang tahan
panas (dari pirex) dan ada yang tidak tahan panas (dari gelas biasa)
(Hendaryono, 1994).
2.

Cawan Petri Digunakan untuk mereaksikan zat dalam suhu

tinggi, menggabukan kertas saring, menguraikan endapan dalam


gravimetric sehingga menjadi bentuk yang stabil (Saskia, 2009)
3.

Statif Untuk menegakkan buret, corong, corong pisah dan

peralatan gelaslainnya pada saatdigunakan (Saskia, 2009).

16

4.

Gelas Arloji digunakan saat menutup wadah pada proses

penguapan,

atau

untuk

tempat

benda

yang

sedang

diamati

(Pudjaatmaka, 1990)
5.

Erlemanyer Untuk tempat zat yang dititrasi dan dapat juga

untuk memanaskan larutan. Pada proses titrasi berfungsi sebagai


penampung titran (larutan yang di titrasi) (Holand, 1969).
6.

Desikator digunakan untuk menyimpan bahan yang harus

bebas air dan mengeringkan zat zat dalam lab (Holand, 1969)
7.

Corong digunakan untuk memasukkan atau memindah larutan

air satu tempat ke tempat lain dan digunakan pula untuk

proses

penyaringan setelah diberi kertas saring pada bagian atas (Awaluddin,


2012).
8.

Buret Digunakan untuk titrasi, tapi pada keadaan tertentu

dapat pula digunakan untuk mengukur volume suatu larutan


(Hendaryono, 1994).
9.

Gelas Kimia untuk mengukur volume larutan yang tidak

memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi, menampung zat kimia dan


memanaskan

cairan

atau

sebagai

media

pemanasan

cairan

(Hendaryono, 1994).
10.

Labu Ukur atau Volumetrik Flash adalah sebuah alat

laboratorium yang berbentuk bulat di bagian bawah dengan leher yang


panjang. Bentuknya mirip buah labu yang bertangkai panjang. Labu
ukur umumnya memiliki kapasitas antara 5 mL sampai 5 L. Fungsi

17

utama

labu

ukur

adalah

untuk

mengencerkan

suatu

bahan

(Hendaryono, 1994).

ii.

Bahan
1. Asam Klorida (HCl) memiliki bobot molekul 1,19 kg/ml dengan
derajat kemurnian 37%, berwujud cair dan bersifat berbahaya.
2. Natrium Hidroksida (NaOH) miliki bobot molehkul 40,00 g/ml dengan
derajat kemurnian Pro Analis, berwujud butiran, bersifat korosif dan
berbahaya.
3. Ammonia (NH3) memiliki bobot molekul 0,31 kg/ml dengan derajat
kemurnian 25% berwujud cair dan ttidak berbahaya.
4. Magnesium Hidroksida (MgO) memiliki bobot molekul 40,03 g/ml
dengan derajat kemurnian USP tidak berbahaya.
5. Kalium Klorida (KCl) memiliki bobot molekul 74,55 g/ml dengan
derajat kemurnian Pro Analis berwujud serbuk atau padatan dan
tidak berbahaya.
6. Ammonium Florida (NH4F) memiliki bobot molekul 37,04 g/ml
dengan derajat kemurnian Pro Analis, berwujud serbuk dan tidak
berbahaya.
7. Ammonium Nitrat (NH4NO3) memiliki bobot molekul 80,04 g/mol
dengan derajat kemurnian Pro Analis, berwujud lunak dan tidak
berbahaya.

18

8. Asam Oksalat (C2H2O4 H2O) memiliki bobot molekul 23,09 g/mol


dengan derajat kemurnian Pro Analis, berwujud serbuk dan tidak
berbahaya.
9. Asam Oksida Dihidrat (C2H2O4) memiliki bobot molekul 38,37 g/ml
dengan derajat kemurnian Pro Analis, berwujud kristal dan tidak
berbahaya.
10. Asam Asetat (CH3COOH) memiliki bobot molekul 60,05 g/ml dengan
derajat kemurnian Pro Analis, berwujud cair, bersifat korosif dan
berbahaya.

iii.

Prinsip kerja dan fungsi bagian spektrofotometer


Prinsip kerja spektrofotometer adalah bila cahaya (monokromatik maupun

campuran) jatuh pada suatu medium homogen, sebagian dari sinar masuk akan
dipantulkan, sebagian diserap dalam medium itu, dan sisanya diteruskan. Nilai
yang keluar dari cahaya yang diteruskan dinyatakan dalam nilai absorbansi karena
memiliki hubungan dengan konsentrasi sampel (Khopkar, 1990).

19

a.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
b.

Berikut adalah gambar bagian dan fungsi alat spektofotometer


Bagian luar

Penahan sampel
Tombol on/of
Pengatur intensitas cahaya
Skala panjang gelombang cahaya
Pengatur panjang gelombang cahaya
Display pengukur
Lampu pilot
Bagian dalam

1. Sumber Cahaya
Sebagai sumber cahaya pada spektrofotometer, haruslah memiliki
pancaran radiasi yang stabil dan intensitasnya tinggi. Sumber energi
cahaya yang biasa untuk daerah tampak, ultraviolet dekat, dan inframerah
dekat adalah sebuah lampu pijar dengan kawat rambut terbuat dari

20

wolfram (tungsten). Lampu ini mirip dengan bola lampu pijar biasa,
daerah panjang gelombang (l) adalah 350 2200 nanometer (nm).
2. Monokromator
Monokromator adalah alat yang berfungsi untuk menguraikan cahaya
polikromatis menjadi beberapa komponen panjang gelombang tertentu
(monokromatis) yang bebeda (terdispersi).
3. Cuvet
Cuvet spektrofotometer adalah suatu alat yang digunakan sebagai tempat
contoh atau cuplikan yang akan dianalisis. Cuvet biasanya terbuat dari
kwars, plexigalass, kaca, plastic dengan bentuk tabung empat persegi
panjang 1 x 1 cm dan tinggi 5 cm. Pada pengukuran di daerah UV dipakai
cuvet kwarsa atau plexiglass, sedangkan cuvet dari kaca tidak dapat
dipakai sebab kaca mengabsorbsi sinar UV. Semua macam cuvet dapat
dipakai untuk pengukuran di daerah sinar tampak (visible).

iv.

Prinsip kerja dan fungsi bagian AAS

21

AAS berprinsip pada absorpsi cahaya oleh atom. Atom-atom menyerap


cahaya tersebut pada panjang gelaombang tertentu, tergantung padasifat unsurnya
Spektrometri Serapan Atom (SSA) meliputi adsorpsi sinar oleh atom-atom
netralunsur logam yang masih berada dalam keadaan dasarnya (Gorund state).
Sinar yang diserap biasanya ialah sinar ultra violet dan sinar tampak. Prinsip
Spektromeri Serapan Atom (SSA) pada dasarnya sama seperti prinsip absorpsi
sinar oleh molekul atau ion senyawa dalam larutan.
Berikut adalah gambar bagian dan fungsi alat AAS

1. Lampu Katoda
Lampu katoda merupakan sumber cahaya pada AAS. Lampu katoda pada
setiap unsur yang akan diuji berbeda beda tergantung unsur yang akan
diuji, lampu katoda terbagi menjadi dua macam, yaitu :
Lampu Katoda Monologam : Digunakan untuk mengukur satu unsur

22

Lampu Katoda Multilogam : Digunakan untuk pengukuran beberapa


logam sekaligus.
2. Ducting
Ducting merupakan bagian cerobong asap untuk menyedot asap atau sisa
pembakaran pada AAS, yang langsung dihubungkan pada cerobong asap
bagian luar pada atap bangunan, agar asap yang dihasilkan oleh AAS,
tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar. Asap yang dihasilkan dari
pembakaran pada AAS, diolah sedemikian rupa di dalam ducting, agar
polusi yang dihasilkan tidak berbahaya.
3. Kompresor
Kompresor merupakan alat yang terpisah dengan main unit, karena alat
ini berfungsi untuk mensuplai kebutuhan udara yang akan digunakan oleh
AAS, pada waktu pembakaran atom.

4. Burner
Burner merupakan bagian paling terpenting di dalam main unit, karena
burner berfungsi sebagai tempat pancampuran gas asetilen, dan
aquabides, agar tercampur merata, dan dapat terbakar pada pemantik api
secara baik dan merata.
5. Monokromator
Berfungsi mengisolasi salah satu garis resonansi atau radiasi dari sekian
banyak spectrum yang dahasilkan oleh lampu piar hollow cathode atau
untuk merubah sinar polikromatis menjadi sinar monokromatis sesuai
yang dibutuhkan oleh pengukuran.

23

6. Detektor
Detektor berfungsi untuk mengukur intensitas radiasi yang diteruskan dan
telah diubah menjadi energi listrik oleh fotomultiplier.
Dalam implementasinya di lapangan khususnya pada bidang pertanian,
alat alat ini sangat diperlukan dalam berbagai proses, misalnya penelitian
varietas baru, uji kandungan pada tumbuhan tertentu, dsb. Untuk bahan bahan
kimia dalam bidang pertanian tentu fungsinya tidak diragukan lagi, misalnya
pada pembuatan pupuk dan pestisida yang diperlukan untuk meningkatkan hasil
produksi pertanian.

V.

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

Dari percobaan di atas, dapat disimpulkan bahwa masing-masing alat


laboratorium

memiliki

prosedur

tersendiri

sesuai

dengan

guna

dan

fungsinya.Peralatan yang digunakan di laboratorium terbagi menjadi dua bagian


yaitu peralatan gelas dan peralatan non gelas . Jadi, alat-alat yang ada di
laboratorium harus digunakan sebagaimana mestinya.

B. Saran
Asisten lab diharapkan lebih bisa mengkondisikan para praktikan untuk bisa lebih
serius dalam menjalani praktikum, agar tujuan dan pemahaman dari praktikum
dapat dimengerti para praktikan. Selain itu asisten lab dimohon untuk bisa lebih
sabar menghadapi perilaku praktikan yang kurang sopan dengan cara menegur,
agar tidak mengganggu jalannya praktikum.

24

DAFTAR PUSTAKA
Hendaryono, Daisy P. Sriyanti. 1994. Teknik Kultur Jaringan.
Yogyakarta : Kaninsius.
Poedjiadi, Anna. 1984. Buku Pedoman Praktikum & Manual Alat
Laboratorium Pendidikan Kimia. Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan, Jakarta.
Maulana, C. 2012. Alat Alat Laboratorium. Yogyakarta : Graha
Ilmu
Petrucci, H. 1987. Kimia Dasar. Jakarta : Erlangga
Ispa, S. 1976. Kimia Dasar Jilid 1. Bandung : ITB
Daintith, John. 1994. Kamus Lengakap Kimia. Jakarta: Erlangga

25

26

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Banyak ion ion terlarut yang kita temui di sekitar kita, misalnya pada air
laut, sungai, limbah, ataupun dalam bentuk padatan seperti pada tanah dan pupuk.
Untuk mengetahui kandungan ion ion yang ada di alam diperlukan adanya
analisa kimia. Analisa kimia adalah penyelidikan yang bertujuan untuk mencari
susunan persenyawaan atau campuran persenyawaan di dalam suatu sampel.
Analisan kimia terdiri atas analisa kualitatif yaitu penyelidikan mengenai kadar
unsur atau ion yang terdapat dalam suatu zat tunggal atau campuran. Suatu
senyawa dapat diuraikan menjadi anion dan kation.
Analisa kualitatif merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk
mempelajaru unsur unsur beserta ion ionnya dalam larutan. Dalam analisa
kualitatif terdapat dua aspek penting yaitu pemisahan dan identifikasi dimana
kedua aspek ini didasari olej kelaritan, sifat penguapan dan ekstraksi. Sedangkan
analisia kuantitatif berurusan dengan penetapan banyak suatu zat tertentu yang
ada dalam sampel, contoh analisa kuantitatif adalah pembuatan larutan baku asam
oksalat dan titrasi asam basa. Biasanya analisis kualitatif dilakukan sebelum
analisis kuantitatif, karena suatu analisis kuantitatif tidak dapat dilakukan sebelum
diketahui komponen yang terkandung dalam suatu sampel.

27

Melihat banyaknya penggunaan zat kimia dalam dunia pertanian, maka


analisa kualitatif dan kuantitatif sangat memberi manfaat ke depan, dalam hal ini
adalah bidang pertanian yang dapat berperan penting dalam mengidentifikasi zat
atau unsur, selain itu berguna dalam perkembangan industri pertanian seperti
penggunaan pestisida.

B. Tujuan
1. Mahasiswa

mampu

memahami

dan

melakukan

langkah-langkah

identifikasi anion CO2, Cl- , I- , dan SO4.


2. Mahasiswa mampu memahami dan melakukan langkah-langkah analisis
volumetri larutan mulai dari pembuatan larutan baku asam oksalat, dan
titrasi asam basa.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Analisa kualitatif mempunyai arti mendeteksi keberadaan suatu unsur


kimia dalam cuplikan yang tidak diketahui. Analisa kulaitatif merupakan salah
satu cara yang paling efektif untuk mempelajari kimi dan unsur-unsur serta ionionnya dalam larutan. Dalam metode analisis kualitatif kita menggunakan

28

beberapa pereaksi golongan dan pereaksi spesifik, kedua pereaksi ini dilakukan
untuk mengetahui jenis anion suatu larutan (Vogel, A. I., 1957).
Metode yang tersedia untuk mendeteksi anion tidaklah sesistematik seperti
metode untuk kation. Sampai kini, belum pernah dikemukakan suatu skema yang
benar-benar memuaskan, yang memungkinkan pemisahan anion-anion yang
umum kedalam glongan-golongan utama, dan pemisahan berikutnya yang tanda
dapat diragu-ragukan lagi dari masing-masing golongan menjadi anggota-anggota
golongan tersebut yang berdiri sendiri. Namun, harus kita sebutkan di sini, bahwa
kita memang bisa memisahkan anion-anion kedalam golongan-golongan utama,
bergantung pada kelarutan garam peraknya, garam kalsium atau bariumnya, dan
garam zinknya; Namun, ini hanya boleh dianggap berguna untuk memberi
indikasi dari keterbatasanketerbatasan metode ini, dan untuk memastikan hasilhasil yang diperoleh dengan prosedur-prosedur yang lebih sederhana (Vogel, A. I.,
1957).
Dalam analisa kualitatif cara memisahkan ion logam tertentu harus
mengikuti prosedur kerja yang khas. Zat yang diselidiki harus disiapkan atau
diubah dalam bentuk suatu larutan. Untuk zat padat kita harus memilih pelarut
yang cocok. Ionion pada golongan-golongan diendapkan satu per satu, endapan
dipisahkan dari larutan dengan cara disaring atau diputar dengan centrifuga.
Endapan dicucI untuk membebaskan dari larutan pokok atau filtrat dan tiap-tiap
logam yang mungkin akan dipisahkan (Cokrosarjiwanto, 1977).
Skema klarifikasi yang berikut ternyata telah berjalan dengan baik dalam
praktek. Skema ini bukanlah skema yang kaku, karena beberapa anion termasuk
dalam lebih dari satu sub golongan, lagi pula, tak mempunyai dasar teoritis. Pada
hakekatnya, proses-proses yang dipakai dapat dibagi ke dalam (A) proses yang

29

melibatkan identifikasi produk-produk yang mudah menguap, yang diperoleh


pada pengolahan dengan asam-asam, dan (B) proses yang tergantung pada reaksireaksi dalam larutan. Kelas (A) dibagi lagi kedalam sub-kelas (i) gas-gas yang
dilepaskan dengan asam klorida encer atau asam sulfat encer, dan (ii) gas atau uap
dilepaskan dengan asam sulfat pekat. Kelas (B) dibagi lagi kedalam sub-kelas (i)
reaksi pengendapan, dan (ii) oksidasi dan reduksi dalam larutan (Vogel, A. I.,
1957).
Sedangkan untuk analisis volumetri merupakan suatu metode analisa
kuantitatif yang dilakukan dengan cara mengukur volume larutan yang
konsentrasinya telah diketahui dengan teliti, lalu mereaksikannya telah diketahui
dengan larutan yang akan ditentukan konsentrsainya (Irfan, 2000). Analisa
volumetri merupakan salah satu metode dari analisa kuantitatif yang bertujuan
untuk menentukan banyaknya suatu zat dalam volum terentu. Analisa kuantitatif
merupakan suatu upaya untuk menguraikan atau memisahkan suatu kesatuan
bahan menjadi komponen komponen pembentukan sehingga data yang
diperoleh ditinjau lebih lanjut (Haryadi, 1990).
Salah satu cara analisis volumetri adalah titrasi asam basa. Titrasi asam
basa adalah suatu prosedur untuk menentukan kadar (pH) suatu larutan asam/basa
berdasarkan reaksi asam basa. Kadar larutan asam dapat ditentukan dengan
menggunakan larutan basa yang sudah diketahui kadarnya, dan sebaliknya kadar
larutan basa dapat ditentukan dengan menggunakan larutan asam yang sudah
diketahui kadarnya. Titrasi yang menyandarkan pada jumlah volum larutan
disebut titrasi volumetri. Pengukuran volum diusahakan setepat mungkin dengan

30

menggunakan alat-alat, seperti buret dan pipet volumetri. (Raymond dan Chang,
2004).

III.

METODA PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah, NaHCO3, CaCO3,
I, BaSO4, NaCl, NaOH, larutan asam oksalat 0,1 M, akuades, dan fenolftalein.
Sedangkan untuk alat yang digunakan ialah tabung reaksi, kertas indikator pH,
timbangan, gelas piala, labu takar, pipet tetes, statif, dan erlenmeyer

B. Prosedur Kerja
- ANALISA KUALITATIF ANION
Test gas CO2
1. 1 ml larutan 10% baking soda dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
2. Tabung reaksi tersebut ditutup sambil dikocok, kemudian kertas pH basah
dimasukkan dekat permukaan cairan dalam tabung.
3. Diteteskan beberapa kali Ba(OH)2 ke dalam tabung reaksi.
4. Kemudian diamati apa yang terjadi.
5. Prosedur no 1 4 dilakukan kembali, tetapi dengan larutan kapur tulis.

31

Tes ion Cl
1. 1 ml larutan 10% garam dapur dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
2. Tabung reaksi tersebut ditutup sambil dikocok, kemudian kertas pH basah
dimasukkan dekat permukaan cairan dalam tabung.
3. 1 ml AgNO3 ditambahkan ke dalam tabung reaksi, kemudian HNO3
diteteskan beberapa kali ke dalam tabung reaksi.
4. Kemudian diamati apa yang terjadi

Tes SO4
1. 1 ml larutan 0,1 M MgSO4 dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
2. BaCl2 ditambahkan sebanyak 1 ml dan beberapa tetes HNO3.
3. Kemudian diamati apa yang terjadi.

Tes ion I
1. 1 ml larutan 0,1 M KI dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
2. Kemudian ditambahkan 1 ml larutan pemutih lalu dikocok dan diamati apa
yang terjadi.
3. Ditambahkan beberapa tetes larutan kanji dan diamati apa yang terjadi.

- VOLUMETRI LARUTAN
Pembuatan larutan baku asam oksalat
1. Dihitung berapa gram asam oksalat yang harus ditimbang untuk membuat
larutan 0,1M asam oksalat sebanyak 50 ml.
2. Sejumlah asam oksalat ditimbang dengan gelas piala 100 ml, diencerkan
dengan akuades secukupnya, diaduk dengan batang pengaduk sampai
homogen.
3. Disediakan labu takar 50 ml, corong pada mulut labu dipasan dan diganjal
dengan gulungan kertas saring.

32

4. Larutan asam oksalat dipindahkan dengan bantuan batang pengaduk ke


dalam labu takar 50 ml dengan hati hati.
5. Gelas piala dan batang pengaduk dibilas dengan botol semprot minimal
lima kali sampai yakin tidak ada sisa asam oksalat yang tertinggal di
dalam gelas piala.
6. Akuades ditambahkan ke dalam labu takar dengan gelas ukur sampai
volume mendekati 50 ml.
7. Gulungan kertas saring yang dipakai sebagai alat ganjal diambil, corong
diangkat, sambil dibilas akuades dengan botol semprot ke dalam labu.
8. Mulut dan leher labu takar dibilas dengan botol air mendekati tanda
miniskus.
9. Kemudian dinding labu takar dikeringkan dengan kertas saring dan jangan
sampai menyentuh larutan.
10. Ditambahkan tetesan akuades ke dalam labu takar dengan bantuan pipet
tetes sampai permukaan air tepat pada miniskus.
11. Labu takar ditutup, kemudian pegang mulut tabung dengan tangan kanan
dan labu diletakkan di atas lengan sambil dibolak balikkan 25 kali
supaya diperoleh larutan yang homogen.
12. Diberikan label molaritas larutan asam oksalat 0,1M.
Titrasi asam basa
1. Biuret dibilas dengan larutan NaOH yang akan dipakai sebanyak dua kali,
setiap kali pembilasan dengan 5 ml.
2. NaOH yang akan dicari konsentrasinya dimasukkan ke dalam biuret
dengan hati hati.
3. 10 ml larutan standar asam oksalat 0.1M dimasukkan ke dalam labu
erlenmeyer 250 ml dengan pipet seukuran. Pipet tidak boleh ditiup, cukup
digesekkan ujungnya pada bibir labu erlenmeyer.

33

4. Ditambahkan 2 tetes larutan indikator fenolftalein ke dalam labu. Kran


biuret dibuka secara perlahan dan hati hati. Titrasi dimulai sambil
mengkocok labu.
5. Jika larutan berubah menjadi merah muda, titrasi dihentikan karena sudah
mencapai titik ekuivalen.
6. Volume larutan NaOH yang diperlukan untuk menetralkan 10 ml 0,1M
asam oksalat dicatat. Titrasi dilakukan dua kali, dan hasilnya dirata rata.
7. Perhitungan konsentrasi NaOH
Reaksi : 2 NaOH + (COOH)2 (COONa)2 + 2H2O
Misalnya :
a. Percobaan satu : 10,9 ml atau 0,0109 L
Percobaan dua : 27,6 ml atau 0,0276 L
mol NaOH
2
=
maka 1 mol NaOH = 2 mol (COOH)2
mol(COOH )2
1
b. M NaOH . V NaOH = M (COOH)2 . V (COOH)2
M NaOH . 0,0109 = 0,1 . 0,01 . 2
M NaOH . 0,0109 = 0,002
0,002
M NaOH = 0,0109
M NaOH = 0,18
c. M NaOH . V NaOH = M (COOH)2 . V (COOH)2
M NaOH . 0,0276 = 0,1 . 0,01 . 2
M NaOH . 0,0276 = 0,002
0,002
M NaOH = 0,0276
M NaOH = 0,07
d. M rata rata =

0,18+0,07
2

M rata rata = 0,125


8. Konsentrasi HCl ditentukan dengan cara yang sama menggunakan prosedur
untuk NaOH, yaitu 10 ml larutan HCl dipipet lalu dimasukkan ke dalam
labu erlenmeyer 250 ml, ditambahkan 2 tetes larutan indikator fenolftalein,
kemudian

dititrasi

dengan

larutan

konsentrasinya.
9. Perhitungan konsentrasi larutan NaOH

34

NaOH

yang

telah

diketahui

Reaksi : HCl + NaOH NaCl + H2O


Misalnya :
a. Volume NaOH pada percobaan 1 (V1) = 10,5 ml atau 0,0105 L
Volume NaOH pada percobaan 2 (V2) = 11,5 ml atau 0,0115 L
0,18+0,07
b. M NaOH =
2
M NaOH = 0,125
mol HCl
c.
mol NaOH =

1
1

maka 1 mol HCl = 1 mol NaOH

d. M NaOH . V NaOH = M HCl . V HCl


0,125 . 0,0109 = M HCl . 0,01
0,125. 0,0115
M HCl =
0,001
M HCl = 0,14375
e. M NaOH . V NaOH = M HCl . V HCl
0,125 . 0,0109 = M HCl . 0,01
0,125. 0,0105
M HCl =
M HCl = 0,13125
0,001

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

i.
No

2
3
4

Analisa Kualitatif

Tes Kualitatif

Tes CO2
NaHCO3
CaCO3
Tes Cl
Tes SO4
Tes I

Hasil Analisis

pH

Warna

Endapan

9
7
5
-

Bening
Bening
Keruh
Keruh
Gelap

(ada)
(ada)
(ada)
(ada)
(ada)

35

ii.

Analisa Kuantitatif

Perhitungan konsentrasi NaOH :


a. Reaksi : 2 NaOH + (COOH)2 (COONa)2 + 2H2O
Percobaan satu : 10,9 ml atau 0,0109 L
Percobaan dua : 27,6 ml atau 0,0276 L
mol NaOH
2
maka 1 mol NaOH = 2 mol (COOH)2
mol(COOH )2 = 1

b. M NaOH . V NaOH = M (COOH)2 . V (COOH)2


M NaOH . 0,0109 = 0,1 . 0,01 . 2
M NaOH . 0,0109 = 0,002
0,002
M NaOH = 0,0109
M NaOH = 0,18
c. M NaOH . V NaOH = M (COOH)2 . V (COOH)2
M NaOH . 0,0276 = 0,1 . 0,01 . 2
M NaOH . 0,0276 = 0,002
0,002
M NaOH = 0,0276
M NaOH = 0,07
d. M rata rata =

0,18+0,07
2

M rata rata = 0,125


Perhitungan konsentrasi larutan NaOH :
a. Reaksi : HCl + NaOH NaCl + H2O
Volume NaOH pada percobaan 1 (V1) = 10,5 ml atau 0,0105 L
Volume NaOH pada percobaan 2 (V2) = 11,5 ml atau 0,0115 L
0,18+0,07
M NaOH =
2
M NaOH = 0,125
mol HCl
b.
mol NaOH =

1
1

maka 1 mol HCl = 1 mol NaOH

M NaOH . V NaOH = M HCl . V HCl


0,125 . 0,0109 = M HCl . 0,01

36

M HCl =

0,125. 0,0115
0,001

M HCl = 0,14375
c. M NaOH . V NaOH = M HCl . V HCl
0,125 . 0,0109 = M HCl . 0,01
0,125. 0,0105
M HCl =
0,001
M HCl = 0,13125
e. M rata rata =

0,143+ 0,131
2

M rata rata = 0,2085

B. Pembahasan
Analisa Kuantitatif adalah analisa yang berkaitan dengan berapa
banyaksuatu zat tertentu yang terkandung dalam suatu sample. Zat yang
ditetapkan tersebutyang sering kali dinyatakan sebagai konstituen atau analit,
menyusun entah sebagian kecil atau besar sampe yang dianalisis (Underwood,
1999). Analisis kuantitatif adalah analisis kimia yang khusus mempelajari atau
menyelidiki jumlah atom, ion, atau molekul penyusun suatu persenyawaan.
Biasanya analisis kuantitatif sering disebut juga analisis jumlah (Zulkarnaen,
1991).
Analisa kualitatif mempunyai arti mendeteksi keberadaan suatu unsur
kimia dalam cuplikan yang tidak diketahui. Analisa kulaitatif merupakan salah
satu cara yang paling efektif untuk mempelajari kimi dan unsur-unsur serta ion-

37

ionnya dalam larutan. Dalam metode analisis kualitatif kita menggunakan


beberapa pereaksi golongan dan pereaksi spesifik, kedua pereaksi ini dilakukan
untuk mengetahui jenis anion suatu larutan (Vogel, A. I., 1957).
Volumetri merupakan suatu metode analisa kuantitatif yang dilakukan
dengan cara mengukur volume larutan yang konsentrasinya telah diketahui
dengan teliti, lalu mereaksikannya telah diketahui dengan larutan yang akan
ditentukan konsentrsainya (Irfan, 2000). Analisa volumetri merupakan salah satu
metode dari analisa kuantitatif yang bertujuan untuk menentukan banyaknya suatu
zat dalam volum terentu. Analisa kuantitatif merupakan suatu upaya untuk
menguraikan atau memisahkan suatu kesatuan bahan menjadi komponenkomponen pembentukan sehingga data yang diperoleh ditinjau lebih lanjut
(Haryadi, 1990).
Titrasi asam basa adalah suatu prosedur untuk menentukan kadar (pH)
suatu larutan asam/basa berdasarkan reaksi asam basa. Kadar larutan asam dapat
ditentukan dengan menggunakan larutan basa yang sudah diketahui kadarnya, dan
sebaliknya kadar larutan basa dapat ditentukan dengan menggunakan larutan asam
yang sudah diketahui kadarnya. Titrasi yang menyandarkan pada jumlah volum
larutan disebut titrasi volumetri. Pengukuran volum diusahakan setepat mungkin
dengan menggunakan alat-alat, seperti buret dan pipet volumetri. (Raymond
Chang.2004)
Beberapa senyawa dapat bermanfaat dalam bidang pertanian, misalnya
Natrium

Bikarbonat

(NaHCO3)

untuk

menjaga

warna

sayuran

dan

mengempukkan sayuran, dengan cara menambahkan sedikit NaHCO3 pada saat


merebusnya, namun jangan terlalu banyak, karena bisa berefek timbul rasa pahit.
Selain itu ada tepung kanji atau tepung tapioka yang berasal dari singkong

38

menjadi bahan baku untuk pembuatan berbagai jenis macam makanan seperti agar
agar, makanan bayi, es krim, dan pengolahan sosis daging.
Masih ada klorin yang digunakan sebagai bahan baku pestisida seperti
DDT, Aldrin dan dieldrin. Pestisida berbahan baku dari klorin merupakan jenis
pestisida yang pertama kali di buat manusia. Selanjutnya ada HNO3, berwujud
cair untuk membuat pupuk buatan {NaNO3, Ca(NO3)2}.

- Pembahasan Analisa Kualitatif


Dari hasil yang diamati, diketahui bahwa :
No

2
3
4

Tes Kualitatif

Tes CO2
NaHCO3
CaCO3
Tes Cl
Tes SO4
Tes I

Hasil Analisis

pH

Warna

Endapan

9
7
5
-

Bening
Bening
Keruh
Keruh
Gelap

(ada)
(ada)
(ada)
(ada)
(ada)

Pembahasan :
a. Analisa Cl
Anion Cl termasuk golongan halida karena ada ion Cl yang mengendap
akibat direaksikan dengan Ag+. Reaksi penguraiannya yaitu : AgCl Ag + Cl.
Endapan tersebut dapat terbentuk karena hasil kali kelarutan dari larutan dari
larutan tersebut telah terlampui oleh hasil kali konsentrasi ion-ion yang terlibat,
atau dapat ditulis Qc > Ksp. Ksp dari AgCl yaitu sebesar 1x10-12. Larutan
tersebut dikatakan telah jenuh karena apabila larutan telah jenuh dengan zat yang
bersangkutan maka endapan dapat terbentuk.

39

Kebanyakan klorida larut dalam air, merkurium klorida, perak klorida,


yang ini sangat sedikit larut dalam air dingin, tetapi mudah larut dalam air panas
atau mendidih, CuCl, BiOCl, SbOCL, HgOCl tak larut dalam air. Kepekaan 1,5
mg Cl (batas konsentrasi 1 dalam 30.000) dan 0,3 mg Cl (batas konsentrasi 1
dalam 150.000) (Vogel, 1985).
b. Analisa I
Anion Cl termasuk golongan halida karena ada ion Cl yang mengendap akibat
direaksikan dengan I. Reaksi penguraiannya yaitu : Cl2 + 2I I2 + 2Cl. Endapan
tersebut dapat terbentuk karena hasil kali kelarutan dari larutan dari larutan
tersebut telah terlampui oleh hasil kali konsentrasi ion-ion yang terlibat, atau
dapat ditulis Qc > Ksp.
Kelarutan iodide adalah serupa dengan klorida dan bromida.Perak,merkurium (II),
tembaga (I) dan timbel iodide adalah garam-garam yang sedikit larut. Kepekaan 2
mg I2 (batas konsentrasi 1 dalam 20.000) (Vogel, 1985).
c. Analisa SO4
Sulfat dari barium, stronsium dan timbale praktis tidak larut dalam air.
Sulfat dari merkurium (II) dan kalsium larut sedikit dan kebanyakan sulfat dari
logam-logam sisanya larut (Vogel, 1985)
d. Analisa CO2
Hidrogen karbonat atau bikarbonat dari kalsium, strontium, barium,
magnesium, dan mungkin dari besi ada dalam larutan air, mereka terbentuk karena
aksi asam karbonat yang berlebihan terhadap karbonat karbonat norman, entah
dalam larutan air atau suspensi dan akan terurai pada pendidihan larutan. Maka
pada percobaan pembuktian anion CO2 pada reaksi :
2H + CO3 H2O + CO2

40

Terbentuk endapan karena menurut teori Vogel (1957) bahwa hidrogen


karbonat dari logam logam alkali larut dalam air, akan tetapi kurang larut
dibanding karbonat pada umumnya, untuk mempelajari ini dapat dipakai larutan
natrium karbonat (Vogel, 1957).

- Pembahasan Volumetri
a. Larutan Baku Asam Oksalat dan Titrasi Asam Basa
Dalam praktikum ini dipilih asam oksalat sebagai larutan standar karena
asam oksalat memilikiberat ekuivalen (BE) yang besar (126) sehingga tidak

41

mudah terpengaruh kemurniannya. Larutan NaOH perlu distandardisasi terlebih


dahulu untuk mengetahui normalitas NaOH yang sesungguhnya yang akan
digunakan sebagai titran sehingga perhitungan yang didapat akan lebih
akurat.Titrasi dilakukan berulang-ulang (2 kali) untuk mendapatkan perbandingan
hasil yang lebih akurat digunakan perhitungan rata-rata. Digunakan indicator
Fenolphtalein karena Fenolphtalein tergolong asam yang sangat lemah, dalam
keadaan yang tidak terionisasi indikator tersebut tidak berwarna. Jika dalam
lingkungan basa fenolphtalein akan terionisasilebih banyak dan memberikan
warna terang karena anionnya (Day, 1981). Campuran karbonatdan hidroksida,
atau

karbonat

dan

bikarbonat,

dapat

ditetapkan

dengan

titrasi

denganmenggunakan indikator fenolphtalein dan jingga metil (Day, 1981).


Pada praktikum kali ini, praktikan membuat larutan standar dan
menentukan kadar asam asetat dalam cuka perdagangan. Titik akhir titrasi ialah
titik dimana setelah penambahan setetes demi setetes larutan ke larutan lain, tepat
berubah warna ketika diaduk/digoyang-goyangkan. Asam asetat merupakan asam
lemah dan NaOH basa kuat jadi pada saat titik ekuvalen larutan menjadinetral
(reaksi ini tergolong reaksi netralisasi).Saat titik ekuivalen titrasi harus segare
dihentikan karena penambahan sedikt saja NaOH akan menyebabkan perubahan
pH yang besar.
Ternyata terjadi perbedaan antara selisih volume NaOH pada percobaan
titrasi satu dan titrasi dua, yang mengakibatkan perbedaan hasil M rata - rata
NaOH percobaan pertama dan percobaan kedua. seharusnya hasil rata ratanya
tidak jauh berbeda. Hal ini dimungkinkan adanya kesalah pada :

42

1. Terlalu banyak penetesan fenolftalein.


2. Pembukaan lubang biuret terlalu besar.
3. Kurang sterilnya peralatan yang dipakai.

V.

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

1. Pada percobaan analisa kualitatif anion mulai dari tes ion CO2, SO4, Cl,
dan I semuanya mengendap saat direaksikan.
2. Warna endapan dari CO2 bening, SO4 keruh, Cl keruh, dan I gelap.

43

3. Pada percobaan volumetri pembuatan larutan baku asam oksalat dan titrasi
asam basa, diketahui selisih volume NaOH yang digunakan antara
percobaan satu dengan percobaan dua terhitung lumayan banyak. Hal ini
mungkin dikarenakan :
a. Terlalu banyak penetesan fenolftalein.
b. Pembukaan lubang biuret terlalu besar.
c. Kurang sterilnya peralatan yang dipakai.

B. Saran
Asisten lab diharapkan lebih bisa mengkondisikan para praktikan untuk
bisa lebih serius dalam menjalani praktikum, agar tujuan dan pemahaman dari
praktikum dapat dimengerti para praktikan. Selain itu asisten lab dimohon untuk
bisa lebih sabar menghadapi perilaku praktikan yang kurang sopan dengan cara
menegur, agar tidak mengganggu jalannya praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Baset J, dkk. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif
Anorganik Edisi Keempat. Jakarta : Buku Kedokteran ECG.
Underwood, Day R.A. 1989. Analisa Kimia Kuantitatif Edisi
Keenam. Jakarta : Erlangga.
L. Underwood, A. 1993. Analisis Kimia Kualitatif, Edisi IV.
Jakarta : Penerbit Erlangga.

44

Svehla, G. 1985. VOGEL: Buku Teks Anlisis Anorganik Kualitatif


Makro dan Semi Mikro, Bagian I, Edisi V. Jakarta : PT.
Kalma Media Pustaka.
Hardjadi. 1990. Ilmu Kima Analitik Dasar. Jakarta : PT Gramedia.
Khopkar. 2002. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta :
Universitas Indonesia.

45

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Beer dan lambert menemukan hukum yang menerangkan interaksi bahan


kimia dengan gelombang cahaya (elektromagnetik), yang disimpulkan dalam
hukum Beer-Lambert menyebabkan berkembangnya analisis kimia dengan
menggunakan alat instrumentasi yakni spektrofotometer (P Tipler 1991).
Suatu spektrofotometer standar terdiri atas spektrofotometer untuk
menghasilkan cahaya dengan panjang gelombang terseleksi yaitu bersifat
monokromatik serta suatu fotometer yaitu suatu piranti untuk mengukur intensitas

46

berkas monokromati, penggabungan bersama dinamakan sespektrofotometer.


Penggabungan alat optik ini merupakan elektronika sifat kimia dan fisiknya dan
detektor yang digunakan secara langsung mengukur intensitas dari cahaya yang
dipancarkan (It) dan secara tidak lansung cahaya yang diabsorbsi (Ia).
Kemampuan ini bergantung pada spektrum elektromagnetik yang diabsorb (serap)
oleh benda. (Khopkar 2007)
Fungsi alat spektrofotometer dalam laboratorium adalah mengukur
transmitans atau absorbans suatu contoh yang dinyatakan dalam fungsi panjang
gelombang. Prinsip kerja spektrofotometer adalah bila cahaya (monokromatik
maupun campuran) jatuh pada suatu medium homogen, sebagian dari sinar masuk
akan dipantulkan, sebagian di serap dalam medium itu, dan sisanya diteruskan.
Nilai yang keluar dari cahaya yang diteruskan dinyatakan dalam nilai absorbansi
karena memiliki hubungan dengan konsentrasi sampel. Studi spektrofotometri
dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan visual yang lebih mendalam dari
absorbsi energi. Hukum Beer menyatakan absorbansi cahaya berbanding lurus
dengan dengankonsentrasi dan ketebalan bahan/medium (Miller J.N 2000)

B. Tujuan
Praktikum ini bertujuan :
1. memperkenalkan alat laboratorium, berupa spectrophotometer.
2. Membuat kurva standar untuk pengukuran sampel dengan
spektrofotometer.
3. Menetapkan konsentrasi CuSO4 secara spektrofotometri

47

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan pada


pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada
panjang gelombang yang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma
atau kisi difraksi dan detector vacuum phototube atau tabung foton hampa. Alat
yang digunakan adalah spektrofotometer, yaitu sutu alat yang digunakan untuk
menentukan suatu senyawa baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan
mengukur transmitan ataupun absorban dari suatu cuplikan sebagai fungsi dari
konsentrasi. Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang
gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang
ditransmisikan atau diabsorbsi (Harjadi, 1990).
Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban
suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan pengukuran
menggunakan spektrofotometer ini, metoda yang digunakan sering disebut dengan
spektrofotometri (Basset, 1994).
Spektrofotometri menyiratkan pengukuran jauhnya penyerapan energi
cahaya oleh suatu sistem kimia itu sebagai suatu fungsi dari panjang gelombang

48

radiasi, demikian pula pengukuran penyerapan yang menyendiri pada suatu


panjang gelombang tertentu (Underwood, 1986).
Spektrofotometri ini hanya terjadi bila terjadi perpindahan elektron dari
tingkat energi yang rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi. Perpindahan
elektron tidak diikuti oleh perubahan arah spin, hal ini dikenal dengan sebutan
tereksitasi singlet (Khopkar, 1990).
Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban
suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan pengukuran
menggunakan spektrofotometer ini, metoda yang digunakan sering disebut dengan
spektrofotometri. Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan suatu
pemeriksaan visual dengan studi yang lebih mendalam dari absorbsi energi.
Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang gelombangdan
dialirkan oleh suatu perkam untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas
untuk komponen yang berbeda (Saputra, 2009).
Spektrofotometer menghasilkan sinar dan spectrum dengan panjang
gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang
ditransmisikan atau diabsorbsi. Kebetulan spektrofotometer dibandingkan dengan
fotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih dapat lebih terseleksi dan ini
diperoleh dengan alat pengurai seperti prisma, grating, atau celah optis. Pada
fotometer filter dari berbagai warna yang mempunyai spesifikasi melewatkan
trayek panjang gelombang tertentu. Pada fotometer filter tidak mungkin diperoleh
panjang gelombang 30-40 nm. Sedangkan pada spektrofotometer, panjang
gelombang yang benar-benar terseleksi dapat diperoleh dengan bantuan alat
pengurai cahaya seperti prisma. Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber
spektrum tampak yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorbsi untuk larutan

49

sampel blanko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan absorbsi antara sampel
dan blanko ataupun pembanding (Khopkar, 2002).
Larutan yang akan digunakan dalam penggunaan spektrofotometer adalah
larutan blanko. Larutan blanko merupakan larutan yang tidak mengandung analat
untuk dianalisis (Basset 1994). Larutan blanko digunakan sebagai kontrol dalam
suatu percobaan sebagai nilai 100% transmittans. Kurva standar merupakan
standar dari sampel tertentu yang dapat digunakan sebagai pedoman ataupun
acuan untuk sampel tersebut pada percobaan. Pembuatan kurva standar bertujuan
untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi larutan dengan nilai absorbansinya
sehingga konsentrasi sampel dapat diketahui. Terdapat dua metode untuk
membuat kurva standar yakni dengan metode grafik dan metode least square
(Underwood 1990)

III.

METODA PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan

50

Alat yang digunakan pada acara praktikum ini diantaranya adalah


spektrofotometer, kuvet, erlenmayer, botol sampel, botol semprot aquades, gelas
kimia, Pipet tetes, gelas ukur 50 ml, corong kaca. Sedangkan untuk alatnya adalah
larutan CuSO4 1 M dan aquades.

B. Prosedur Kerja
1. 4 tabung reaksi disiapkan yang nantinya akan diisi larutan CuSO4 dengan
konsentrasi 0,02 M; 0,04 M; 0,06 M; 0,08 M dan satu larutan sampel.
2. Larutan dibuat lewat pengenceran CuSO4 1 M, dengan cara :
a. V1 . M1 = V2 . M2
V1 = Volume CuSO4 1 M yang akan dicari
M1 = Konsentrasi CuSO4 1M
V2 = Volume CuSO4 0,02 M (10 ml)
M2 = Konsentrasi CuSO4 0,02 M
b. V1 . M1 = V2 . M2
V1 . 1 = 10 . 0,02
V1 = 0,2 ml
Jadi untuk membuat larutan 0,02 M CuSO4 dipipet 0,2 ml larutan
CuSO4 1 M, kemudian diencerkan dengan menambahkan akuades 9,8
ml, begitu seterusnya.
3. Kemudian larutan larutan
spektrofotometer

untuk

tersebut

diukur

dimasukkan

absorbansnya,

ke dalam

dengan

panjang

gelombang 600 nm.


4. Yang pertama dimasukkan adalah air, dilanjutkan dengan larutan
CuSO4 0,02 M; 0,04 M; 0,06 M; 0,08 M secara bertahap.
5. Pada detektor terlihat angka dengan skala 1 10, setelah larutan
dimasukkan nantinya akan terlihat hasil absorbans larutan tersebut.
6. Setelah diketahui, buatlah :
a. Tabel
Tabel 1
Konsentrasi
(x)
0
0,02

Transmitan

51

Absorbansi
(A)

0,04
0,06
0,08
Sampel
Tabel 2
X
0
0,02
0,04
0,06
0,08
Sampel

X2
0

Y (A)
0

XY
0

Kemudian hitung dengan rumus


b=

X2
XY

dan y = a + bx

b. Grafik
Contoh seperti ini, dengan sumbu X adalah konsentrasi dan sumbu
Y adalah hasil perhitungan dari rumus sebelumnya.

52

0.12
0.1
0.08
0.06
0.04
0.02
0
0.02

0.04

IV.

5.1900000000000002E-2

0.06

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Tabel 1
Konsentrasi
(x)
0
0,02
0,04
0,06
0,08
Sampel

Transmitan
100%
98%
93%
88%
80%
89%

Tabel 2

53

Absorbansi
(A)
0
0,008
0,031
0,055
0,097
0,05

0.08

X
0
0,02
0,04
0,06
0,08
Sampel

X2
0
0,0004
0,0016
0,0036
0,0064
0
0,012

Y (A)
0
0,008
0,031
0,055
0,097
0,05

Dan hasil perhitungannya :


X2
b = XY
=

XY
0
0,00016
0,00124
0,0033
0,00776
0
1,01246

y = 0,05

0,012
0,01246

y = a + bx

= 0,9631

0,05 = 0 + 0,9631x
x = 0,0519

Hasil grafik yang diperoleh :


0.12
0.1
0.08
0.06
0.04
0.02
0
0.02

0.04

5.1900000000000002E-2

54

0.06

0.08

B. Pembahasan
Menurut

hasil

pengamatan

dan

kesimpulan,

diketahui

bahwa

spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan pada pengukuran


serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang
gelombang yang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi
difraksi dan detector vacuum phototube atau tabung foton hampa. Alat yang
digunakan adalah spektrofotometer, yaitu sutu alat yang digunakan untuk
menentukan suatu senyawa baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan
mengukur transmitan ataupun absorban dari suatu cuplikan sebagai fungsi dari
konsentrasi. Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang
gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang
ditransmisikan atau diabsorbsi (Harjadi, 1990).

55

Fungsi alat spektrofotometer dalam laboratorium adalah mengukur


transmitans atau absorbans suatu contoh yang dinyatakan dalam fungsi panjang
gelombang. Prinsip kerja spektrofotometer adalah bila cahaya (monokromatik
maupun campuran) jatuh pada suatu medium homogen, sebagian dari sinar masuk
akan dipantulkan, sebagian di serap dalam medium itu (absorbsi), dan sisanya
diteruskan (transmisi). Nilai yang keluar dari cahaya yang diteruskan dinyatakan
dalam nilai absorbansi karena memiliki hubungan dengan konsentrasi sampel.
Hukum Beer menyatakan absorbansi cahaya berbanding lurus dengan dengan
konsentrasi dan ketebalan bahan/medium (Miller J.N 2000).
Hubungan antara absorbansi terhadap konsentrasi akan linear (AC)
apabila nilai absorbansi larutan antara 0,2 - 0,8 (0,2 A 0,8) atau sering disebut
sebagai daerah berlaku hukum Lambert-Beer. Jika absorbansi yang diperoleh
lebih besar maka hubungan absorbansi tidak linear lagi.

56

Jenis jenis spektrofotometer diantaranya :


a. Spektrofotometri UV Vis
b. Spektrofotometri IR (Infra Red)
c. Spektrofotometri Vis (Visible)
d. Spektrofotometri UV (Ultra Violet)

a. Spektrofotometri UV-Vis

57

Spektrofotometri UV-Vis adalah anggota teknik analisis spektroskopik


yang memakai sumber REM (radiasi elektromagnetik) ultraviolet dekat (190-380
nm) dan sinar tampak (380-780 nm) dengan memakai instrumen spektrofotometer.
Spektrofotometri UV-Vis melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada
molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometri UV-Vis lebih banyak dipakai
untuk analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif.
Absorbsi cahaya UV-Vis mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi
electron-electron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital
keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi. Energi yang terserap kemudian
terbuang sebagai cahaya atau tersalurkan dalam reaksi kimia.
Absorbsi cahaya tampak dan radiasi ultraviolet meningkatkan energi
elektronik sebuah molekul, artinya energi yang disumbangkan oleh foton foton
memungkinkan elektron electron itu mengatasi kekangan inti dan pindah ke luar
ke orbital baru yag lebih tinggi energinya.

b. Spektrofotometri IR (Infra Red)

58

Spektrofotometri Infra Red atau Infra Merah merupakan suatu metode


yang mengamati interaksi molekul dengan radiasi elektromagnetik yang berada
pada daerah panjang gelombang 0,751.000 m atau pada bilangan gelombang
13.00010 cm-1 dengan menggunakan suatu alat yaitu Spektrofotometer
Inframerah. Metode ini banyak digunakan pada laboratorium analisis industri dan
laboratorium riset karena dapat memberikan informasi yang berguna untuk
analisis kualitatif dan kuantitatif, serta membantu penerapan rumus bangun suatu
senyawa. Pada era modern ini, radiasi inframerah digolongkan atas 4 (empat)
daerah, yaitu :

c. Spektrofotometri Vis (Visible)

59

Pada spektrofotometri ini yang digunakan sebagai sumber sinar/energi


adalah

cahaya

tampak

(visible).

Cahaya

visible

termasuk

spektrum

elektromagnetik yang dapat ditangkap oleh mata manusia. Panjang gelombang


sinar tampak adalah 380 sampai 750 nm. Sehingga semua sinar yang dapat dilihat
oleh kita, entah itu putih, merah, biru, hijau, apapun.. selama ia dapat dilihat oleh
mata, maka sinar tersebut termasuk ke dalam sinar tampak (visible).
Sumber sinar tampak yang umumnya dipakai pada spektro visible adalah
lampu Tungsten. Tungsten yang dikenal juga dengan nama Wolfram merupakan
unsur kimia dengan simbol W dan no atom 74. Tungsten mempunyai titik didih
yang tertinggi (3422 C) dibanding logam lainnya. karena sifat inilah maka ia
digunakan sebagai sumber lampu.

d. Spektrofotometri UV (Ultra Violet)

60

Berbeda dengan spektrofotometri visible, pada spektrofotometri UV


berdasarkan interaksi sample dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang
gelombang 190-380 nm. Sebagai sumber sinar dapat digunakan lampu deuterium.
Deuterium disebut juga heavy hidrogen. Dia merupakan isotop hidrogen
yang stabil yang terdapat berlimpah di laut dan daratan. Inti atom deuterium
mempunyai satu proton dan satu neutron, sementara hidrogen hanya memiliki satu
proton dan tidak memiliki neutron. Nama deuterium diambil dari bahasa Yunani,
deuteros, yang berarti dua, mengacu pada intinya yang memiliki dua pertikel.
Karena sinar UV tidak dapat dideteksi oleh mata kita, maka senyawa yang dapat
menyerap sinar ini terkadang merupakan senyawa yang tidak memiliki warna.
Bening dan transparan.

Dari hasil praktikum diketahui data berikut :


Tabel 1
Konsentrasi
(x)
0
0,02
0,04

Transmitan
100%
98%
93%

61

Absorbansi
(A)
0
0,008
0,031

0,06
0,08
Sampel

88%
80%
89%

0,055
0,097
0,05

Tabel 2
X
0
0,02
0,04
0,06
0,08
Sampel

X2
0
0,0004
0,0016
0,0036
0,0064
0
0,012

Y (A)
0
0,008
0,031
0,055
0,097
0,05

XY
0
0,00016
0,00124
0,0033
0,00776
0
1,01246

Dan hasil perhitungannya :

b=

X2
XY

y = 0,05

0,012
0,01246

y = a + bx

= 0,9631

0,05 = 0 + 0,9631x
x = 0,0519

Hasil grafik yang diperoleh :

62

0.12
0.1
0.08
0.06
0.04
0.02
0
0.02

0.04

5.1900000000000002E-2

0.06

0.08

Dari hasil percobaan yang diamati bahwa bentuk kurva linear, hal ini
sesuai dengan teori Miller J.N (2000). Bahwa nilai yang keluar dari cahaya yang
diteruskan dinyatakan dalam nilai absorbansi karena memiliki hubungan dengan
konsentrasi sampel. Hukum Beer menyatakan

absorbansi cahaya berbanding

lurus dengan dengan konsentrasi dan ketebalan bahan/medium


Antara absorbansi terhadap konsentrasi akan linear (AC) apabila nilai
absorbansi larutan antara 0,2 - 0,8 (0,2 A 0,8) atau sering disebut sebagai
daerah berlaku hukum Lambert-Beer. Jika absorbansi yang diperoleh lebih besar
maka hubungan absorbansi tidak linear lagi. Namun pada hasil praktikum kali ini
nilai absorbansi yang diperoleh sesuai dan tidak terlalu besar.

V.

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

63

1. Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan pada


pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna
pada panjang gelombang yang spesifik.
2. Cahaya yang masuk akan diserab, disebut absorpsi dan sisanya akan
diteruskan, disebut transmisi.
3. Jenis jenis spektrofotometer diantaranya : Spektrofotometri UV Vis,
Spektrofotometri IR (Infra Red), Spektrofotometri Vis (Visible),
Spektrofotometri UV (Ultra Violet). Yang masing masingnya menangkap
panjang gelombang yang berbeda.
4. Dari hasil percobaan diketahui bahwa nilai absorbansi pada praktikum kali
ini sesuai dan tidak terlalu besar. Sehingga membentuk kurva yang linear.

B. Saran
Asisten lab diharapkan lebih bisa mengkondisikan para praktikan untuk
bisa lebih serius dalam menjalani praktikum, agar tujuan dan pemahaman dari
praktikum dapat dimengerti para praktikan. Selain itu asisten lab dimohon untuk
bisa lebih sabar menghadapi perilaku praktikan yang kurang sopan dengan cara
menegur, agar tidak mengganggu jalannya praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

P, Tipler. 1991. Fisika untuk Sains dan Teknik Jilid. Bandung:


Erlangga.

64

Clifford, A Hoppel and Gorsumen G. Hansberg. Glossary of


Chemical Terms, 4th ed, Van Horstod dictionary, Vonhard,
New York
Vogel, A.I. 1979 . A Text Book of Mikro and Semimikro
Quantitative In Organic Analsis, 5th ed, Longman Group,
Ltd London.
Basset, J. 1994. Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. EGC.
Jakarta.
Beran, J.A. 1996. Chemistry in The Laboratory. John Willey &
Sons.
Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.

65

BIODATA

66

Nama

: Naufal Fathur Rahman

NIM : A1E015023
Prodi: Agroteknologi
TTL : Jakarta, 13 Mei 1997
Asal : BSD, Serpong
Kos : Jln. Cendrawasih no 47
No HP : 082137891332

67