Anda di halaman 1dari 35

BUKU-2

PENGOPERASIAN dan TEKNIK


PERAWATAN LIFT

Ditulis oleh:
Ir. Sarwono Kusasi

35

PROGRAM PELATIHAN

1.
2.
3.
4.

Judul Pelatihan
Mata Pelajaran
Peserta
Waktu

5. Uraian singkat
yang

:
:
:
:

Instalasi Lift dan Eskalator


Teknik Perawatan Lift
Teknisi lapangan, Perencana dan Penyelia bangunan
3 JPL

: Teknik perawatan lift menyangkut prosedur kerja


benar, serta mengikuti jadwal pelaksanaan dan
mengacu pada parameter untuk penyetelan aparatus
tertentu yang digariskan oleh pabrikan. Hasil guna
perawatan tergantung pada manusianya yang terlatih
dan menguasai technical know how.

6. Tujuan Instruksional
A. Umum
mampu

:
:

Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta akan


memahami prosedur kerja yang benar, menyusun
jadwal perawatan untuk tiap-tiap alat dan aparatus.

B. Khusus

7. Acuan

: Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta akan mampu :


1. Menjelaskan lingkup pekerjaan perawatan untuk
jenis-jenis lift.
2. Menyusun jadwal kunjungan pekerjaan perawatan.
3. Melaksanakan pemeriksaan peralatan dan
aparatus.
4. Mencari sebab-sebab kemacetan lift dan bertindak
bijak memutuskan jalan keluarnya.
5. Menjaga
keselamatan
atau
menghindari
kecelakaan selama pelaksanaan perawatan.
: 1. Peraturan Menteri Tenaga Kerja
No. PER 03/MEN/1999
2. Semiloka K3 bidang Lift
oleh APPLE kerjasama dengan DEPNAKER
Tenaga kerja 10 Februari 2000
3. Elevator Maintenance Manual, 1999
by Zack McCain
4. Technical articles Elevator World Inc, New York
5. OTIS, Seminar, Kuala Lumpur 1996

34
i

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

ii

BAB I

PENDAHULUAN

.1

BAB II

PELAKSANAAN PERAWATAN

BAB III

PELUMASAN

BAB IV

PENYETELAN (Adjustment)

BAB V

GETARAN dan SUARA .21

BAB VI

PENUTUP

.7

15
.18

..23

Lampiran :
1. Daftar Minyak Pelumas sesuai untuk komponen tertentu

..24

2. Kode/simbol terdapat pada pengawatan kendali lift (straight wiring diagram) .26
3. Contoh - contoh lembar laporan kerja perawatan
4. Contoh program perawatan dari OTIS

29

.32

5. Rope tension

..33

6. Rope removal

34

33
ii

BAB I
PENDAHULUAN

1.

Umum
Tulisan ini merupakan suatu panduan bagi tehnisi lapangan, bukan
merupakan instruksi prosedur kerja yang biasa digariskan oleh pabrikan.
Masing-masing tehnisi mempunyai kebiasaan cara tersendiri bongkar pasang
komponen pada waktu usaha perbaikan atau mencari sebab kerewelan (trouble
shooting), tergantung kecakapan, bakat, dan ketrampilan.
Banyak informasi atau data berguna sebagai peringatan, dan patut
diikuti sebagai panduan. Hal ini akan menyangkut mutu unjuk kerja dan
keselamatan. Semua data tidak lepas dari SNI dan/atau ASME Safety code.
Oleh karena itu seorang tehnisi menyandang tanggung jawab dalam
melaksanakan tugasnya.
Jika didapati dilapangan suatu komponen melampaui batas-batas,
maksimum atau minimum yang tidak sanggup disetel, maka ia harus
melaporkan gejala tersebut kepada atasannya. Contoh jarak toleransi antara
pinggiran step dengan skirt panel pada escalator, atau tempo pintu yang terlalu
lambat.
Semua tehnisi lapangan hendaknya menyadari bahwa tiap-tiap unit lift
berbeda satu sama lain, seperti halnya manusia ada yang sehat dan ada yang
menyandang cacat atau watak kerewelan sejak dari awal. Oleh karena itu ia
harus mempunyai rencana kerja khusus, untuk tiap-tiap unit dibawah tanggung
jawabnya.

2.

Keselamatan
Tiap-tiap perusahaan menerbitkan peraturan atau instruksi keselamatan
bagi pegawainya sebagai suatu kebijakan direksi. Bahkan perusahaan ternama
mengadakan kursus bagi semua pegawainya, agar mereka menyadari sumbersumber bahaya demi menghindari terjadinya kecelakaan dan dengan demikian
menjaga citra nama baik perusahaan.
Peraturan perusahaan mengenai keselamatan harus dipegang teguh oleh
tiap diri pegawai dan instruksi lapangan harus dilaksanakan. Seorang tehnisi
perawatan paling tidak telah memperoleh instruksi dari atasannya sebagai
berikut:
a. Jangan meminjamkan kunci darurat pembuka pintu (door lock releasing
device) kepada orang yang tidak kompeten. Begitu pula penyerahan kunci
darurat kepada pengurus bangunan harus disertai pelatihan lebih dulu dan
dengan tanda terima serta syarat-syarat tertentu.
b. Jangan gunakan jumper (hubungan langsung) terutama pada terminal door
contact atau gate contact pada pintu kereta. Jumper hanya sekedar untuk
mengecek sumber kemacetan. Itupun lift dalam inspection mode.
c. Pasang tanda-tanda peringatan bagi umum, agar tidak mendekat jika pintu
dibuka dalam keadaan darurat. Gunakan barikade dimana diperlukan.
d. Lapor lebih dulu kepada pengurus bangunan atau wakilnya jika akan mulai
melakukan pertolongan pada penumpang yang terkurung lift macet. Hal ini
untuk menghindari kejadian atau tuntutan yang tidak terduga. Lebih baik
lagi jika pelaksanaan pertolongan tersebut disaksikan oleh seorang petugas
bangunan yang telah terlatih.

3.

Tata tertib tehnisi


a. Seorang tehnisi perawatan lift mewakili perusahaan digaris depan
menghadapi pelanggan (klien) yaitu pengurus bangunan. Oleh karena itu
disamping cakap atau terampil, dia harus tampil rapi, sopan dan memiliki
kepribadian yang ramah. Tetapi tidak terlalu ramah sampai-sampai
efisiensi kerja menurun. Dia menjawab pertanyaan secukupnya dan tidak
perlu menceritakan hal-hal yang tidak semestinya kepada pengurus
bangunan, sehingga akan menimbulkan salah tangkap dan kekhawatiran.
Pakaian seragam sebaiknya berlengan pendek dan pada dada tercantum
nama diri dan logo perusahaan. Sebaiknya dia membawa kartu identitas
dari perusahaan menyatakan jabatan atau posisinya dalam organisasi.
b. Prosedur awal kunjungan service ialah melapor ke pengurus bangunan dan
mencari tahu keadaan tiap-tiap unit lift serta mencatat kerewelan jika ada.
Kerewelan tersebut akan dilaporkan dalam lembar laporan kerja perawatan
(service report sheet), sebab-sebab kerewelan dan apa saja perbaikannya.
Kunjungan berikutnya akan dilaksanakan perbaikan dengan penggantian
suku cadang (jika perlu). Hal-hal kecil yang diluar dugaan atas perbuatan
jahil orang lain perlu dilaporkan agar tidak menimbulkan tuduhan dan
tuntutan ganti rugi.
c. Seorang tehnisi harus menciptakan hubungan (relasi) yang akrab dengan
pengurus. Hal ini sangat penting, karena banyak masalah timbul bukan dari
peralatan liftnya, tetapi dari pribadi pengurus tersebut yang menuntut
liftnya harus sempurna seperti keadaan masih baru, demi menjaga nama
baik dimuka direkturnya. Emosi harus dikendalikan, dan secara bijaksana
mengatakan bahwa masalah (tertentu) akan dilaporkan kepada atasannya
(supervisor). Lihat gambar dibawah ini :

d. Teknisi perawat harus datang tepat waktu sesuai jadwal. Pihak penjual
jasa tidak boleh menganggu jadwal kerja dari pihak pemilik bangunan.
Siapa tahu pengurus telah menanti kedatangan teknisi perawat dengan
segudang keluhan. Dan hal ini harus ditanggapi dengan sungguh-sungguh.
Komunikasi dua arah harus tetap dijaga baik, demi kepuasan pelanggan.
e. Sebelum meninggalkan tempat kerja setelah selesai melaksanakan
perawatan, teknisi hendalnya meminta tanda tangan pada lembar laporan
kerja sebagai bukti pekerjaan telah selesai, ataupun apa-apa yang
tercantum untuk diperbaiki pada kunjungan berikutnya. Tanda tangan
boleh jadi dari teknisi pengawas fasilitas bangunan ataupun sekretaris yang
ditunjuk. Contoh-contoh lembar laporan kerja terdapat pada lampiran 3.
f. Pekerjaan perawatan dikerjakan bersama oleh 2 orang dalam satu team.
Seorang sebagai tehnisi kompeten dan seorang lagi sebagai pembantunya.
Tambahan seorang tehnisi lagi dalam team hanya akan merepotkan dan
mungkin menimbulkan kecelakaan. Kedua tehnisi tersebut harus
merupakan satu pasangan kompak dan penuh pengertian satu sama lain.
Jika salah seorang tidak cocok dengan yang lain harus segera dilaporkan
keatasan agar dicarikan pasangan yang cocok.
4.

Perencanaan
a. Perencanaan
Jumlah jam pelaksanaan perawatan (service hours) sesuai dengan jam
tugas kerja lift, jenis pesawat lift, dan isi surat perjanjian (kontrak), agar
lift tetap terawat sesuai dengan fungsinya.
4

Hal-hal berikut merupakan faktor penentu jumlah jam pelaksanaan


perawatan:
1. Jumlah jam kerja perhari atau perminggu.
2. Keadaan lingkungan termasuk keadaan cuaca.
3. Umur lift itu sendiri
4. Jenis kontrol, mesin dan sebagainya.
Dibawah ini tercantum patokan minimum jumlah jam pelayanan perawatan
berkala berbagai jenis lift dalam persentanse terhadap jumlah jam kerja
lift pertahun :
Jenis Lift

Jumlah jam
routine service
per tahun

Jumlah jam cadangan


repair, call back, testing
dan sebagainya.

1. Gearless machine
VVVF, 15 lantai

2,0 %

1,10 %

2. Geared machine
VVVF, 10 lantai

1,10 %

0,70 %

3. Eskalator segala jenis


2 lantai

1,10 %

0,70 %

4. Electric Hydraulic
segala jenis, 5 lantai

0,90 %

0,45 %

5. Geared machine
AC two speed, 5 lantai

0,80 %

0,40 %

Catatan : Tambah 3 jam/tahun tiap tambahan satu lantai/pintu


(termasuk lantai-lantai non stop)

Ilustrasi :
Contoh kasus No. 1
Satu unit lift Hotel berbintang, dengan mesin Gearless, kontrol VVVF dan melayani 20
lantai, bekerja rata-rata 18 jam per hari, 360 hari per tahun terus menerus.
Jumlah jam kerja lift = 18 x 360 = 6480 jam / tahun.
Jumlah jam pelayanan perawatan berkala atas lit tersebut (lihat tabel) = 2 % atau sama
dengan 130 jam/tahun.
Pelaksanaan kunjungan perawatan per unit lift sebaiknya dilakukan 2 kali tiap-tiap bulan.
Hanya atas dasar kondisi kontrak tertentu dimana terdapat sejumlah lift, maka kunjungan
berkala boleh jadi 4 kali tiap bulan. Lihat tiga alternatif dibawah ini :
a. Pelaksanaan berkala 2 kali per bulan, disediakan waktu 130/24 = 5,4 jam/kunjungan
b. Pelaksanaan berkala 3 kali per bulan, disediakan waktu 130/36 = 3,6 jam/kunjungan
c. Pelaksanaan berlaka 4 kali per bulan, disediakan waktu 130/48 = 2,7 jam/kuinjungan
Tempo perjalanan dan tempo yang disediakan untuk diskusi masalah dengan pengurus
bangunan serta paper work tidak termasuk dalam jumlah pelayanan perawatan lift
tersebut diatas. Jika dianggap jam kerja efektif team teknisi 70% (dimana 30% untuk hal
tersebut diatas), maka per tahun tersedia 0,70 x 50 x 40 jam/minggu = 1400 jam/tahun.
Jika jumlah lift pada hotel berbintang pada kasus-1 diatas ada 10 buah, dengan jenis yang
sama, maka jumlah jam yang diperlukan ialah 10 x 130 jam = 1300 jam/tahun atau
hampir sama dengan 1400 jam yang tersedia oleh satu team teknisi perawat.
Alternatif dibawah ini dapat dipakai sebagai pertimbangan :
Alt.

ke-1
ke-2
ke-3

Frequensi
pelaksanaan
per bulan
2 kali
3 kali
4 kali

Jumlah jam
pelaksanaan per
kunjungan (jam)
5 jam
3.5 jam
2.5 jam

Penerapan pada
jenis bangunan
Kantor
Rumah sakit
Hotel bisnis

Contoh kasus No. 2


Satu unit lift pada kantor berlantai 10 dengan geared machine, kontrol VVVF, bekerja
rata-rata 10 jam per hari, 300 hari per tahun.
Jumlah jam kerja lift = 10 x 300 = 3000 jam/tahun
Jumlah jam pelayanan perawatan berkala atas lift tersebut ialah 1,1% = 33 jam per-tahun
atau 1 jam 37 menit per kunjungan, 2 kali tiap bulan. Atau sebagai alternatif 3 jam per
kunjungan jika dilaksanakan sekali kunjungan tiap-tiap bulan.

BAB II
PELAKSANAAN PERAWATAN

1.

Umum
Pelaksanaan perawatan pada dasarnya dibagi menjadi 3 kategori, yaitu :
a. Pemeriksaan secara sistematis, penyetelan ulang dan penggantian sukusuku peralatan yang secara rutin menjadi aus atau rusak.
b. Pelumasan berkala, dan
c. Pelaporan atau penemuan adanya kondisi tidak normal, ataupun tidak
aman diantaranya komponen yang sudah aus, atau rusak dan perlu
penggantian baru.
Dalam pelaksanaan lapangan, tiap-tiap kali kunjungan seorang teknisi
tidak memeriksa seluruh komponen,melainkan beberapa jenis saja yang
tercantum dalam program perawatan. Program tersebut harus sistematis dibuat
berdasar pengalaman.
Contoh program jadwal pemeriksaan telah dicantumkan pada pelajaran
perawatan terpadu (MPK-08) pabrikan mempunyai kiat tersendiri untuk
menyusun program jadwal pemeriksaan dan bentuk format berlainan.
Terlampir adalah program dari OTIS, sebagai bahan perbandingan, dalam
kondisi lingkungan dan operasi kerja lift yang normal.
Kunjungan gedung dilaksanakan 2 kali dalam satu bulan, umpama kunjungan
pertama minggu ke-1 periksa mesin motor dan MG-set diperiksa dan
kedapatan sikat karbon cummutator aus, maka kunjungan kedua pada minggu
ke-3 sikat karbon tersebut diganti dengan yang baru.

2.

Pemeriksaan
a. Hal pertama yang harus dilakukan pada waktu kunjungan ke gedung ialah
:
1. Naik ke lift, perhatikan start dan stop, rasakan apa ada keanehan
(biasanya sambil memejamkan mata). Perhatikan kerja pintu saat tiaptiap berhenti dan alat pengaman pintu (safety edge) buka kembali.
2. Cek kerja bel darurat dan cahaya lampu dikereta. Telpon (intercom)
perlu dicoba.
3. Selama naik-turun lift, perhatikan apakah ada suara-suara aneh.
4. Langsung betulkan jika ada dan sanggup (perlu seorang tehnisi yang
peka dan tanggap).
b. Pemeriksaan Kamar Mesin.
Bersihkan kamar mesin jika perlu. Singkirkan barang-barang tak berguna
yang mungkin berada disitu.
1. Controller (Kendali operasi)
Cek celah-celah relay, saklar, connector, tekanan pada finger contact,
bersihkan dan disetel jika perlu.
2. Cek permukaan minyak lumas (oil level) pada rumah gigi reduksi.
Periksa roda gigi reduksi (jenis gigi ulir) kemungkinan ada back
lash. Jika ada, pada ujung luar bantalan diganjal dengan shim (plat
tipis bentuk cincin dari tembaga)
Catatan :
Enam bulan pertama pada lift baru yang dipasang, minyak roda gigi
harus diganti, jika terbukti ada gram (kotoran metal) akibat gesekan
gigi. Sesudah itu minyak boleh diganti dua tahun sekali. Periksa
bocoran pada paking. Jika minyak menetes, perlu dipasang kaleng
tadahan dibawahnya.

3. Jika ada selektor, maka selektor perlu dilumasi bagian mekanis yang
bergerak seperti roda pita (tape), roda gigi dan rantai. Periksa (dan setel
jika perlu) semua celah-celah (air gap) kontak, relay, dan saklar.
4. Periksa kondisi alur pada roda puli (traction sheave). Jika umur lift
telah mencapai 3 tahun kemungkinan tali baja telah masuk tenggelam
kedalam alur. Ukur alur, gunakan sigmat. Perhatikan adanya gram yang
jatuh terkumpul pada bedplate mesin akibat gesekan roda puli dengan
tali baja. Jika memang ada gram boleh saja dilakukan uji slip (geser).
Caranya : gores dengan kapur tulis pada permukaan lingkar luar puli.
Jika ada slip pada saat berhenti, maka goresan kapur pada tali pindah
tempat. Terutama hal ini terjadi jika kereta beban penuh arah turun.
Catatan :
a. Sebagai ganti sigmat, lebih baik gunakan gauge-plate (plat ukur
khusus bentuk-bentuk alur) yang disediakan oleh produsen.
b. Gejala-gejala aus pada puli yang tidak normal (terlalu cepat)
kemungkinan disebabkan material terlalu lunak. Test Brimell
hardness seharusnya 220 dan minimal 180, serta seragam seluruh
permukaan.
5. Rem mesin perlu diperiksa setahun sekali. Pelumasan pada tumpu
(pivot points) dan kern magnet (magnetic core) paling lambat dua
bulan sekali.
6. Periksa pengindra kecepatan (governor) atas kemungkinan mekanisme
yang longgar dan pen-pen tumpu yang mungkin macet.
c. Pemeriksaan Pintu-pintu
1. Pintu-pintu lantai paling rawan atas kemungkinan kerusakan, karena
pintu adalah alat terdepan menghadapi pemakai lift dan bekerja terus
menerus.
a. Periksa gibs (sepatu) pada dasar daun pintu. Gibs yang lepas atau
goyang dapat berbahaya (gibs juga terdapat pada pintu kereta).

b. Daun pintu yang miring akan kelihatan jelas pada jenis center
opening saat menutup. Setel moer pada roda penggantung dan setel
eccentric rollers.
c. Periksa tali penarik (air-cord) kemungkinan rantas dan ikatannya
(hitch) tidak kuat.
d. Periksa kontak pintu dan bersihkan platinanya (jika perlu)
e. Periksa kunci kait, penyetelan posisi kait tepat, sehingga pintu tidak
goyang jika dipaksa buka dengan tangan (saat kunci kait masuk
kerumahnya pintu-pintu rapat).
Catatan :
Pintu kereta tidak berkunci kait oleh karena itu dapat saja pintu
kereta tidak rapat menutup. Tetapi kereta sebaiknya tidak dapat
bergerak jika kelonggaran pintu lebih dari 2 cm, dimana gate
contact tidak sambung.
2. Pintu kereta digerakkan oleh door operator. Periksa motor, roda gigi,
rantai dan periksa kebocoran oli. Lumasi dimana ada pen-pen penumpu
(oli tidak berlebihan). Hindari track roda - penggantung dari tetesan
minyak, karena roda dilapisi ban karet. Cek baut-baut semua kencang.
Cek kemungkinana sekrup pada safety edge longgar, karena alat ini
sering berbenturan dengan penumpang saat hendak masuk kereta dan
pintu telah mulai menutup.

d. Pemeriksaan dalam Ruang luncur


1. Rel pemandu dan braket perlu dibersihkan. Gunakan sikat, jika roda
luncur terbuat dari ban karet, maka rel harus kering. Juga jika
digunakan sepatu luncur dengan gibs atau nylon/ polyurithane insert
rel harus kering. Jika digunakan insert besi tuang dengan swivel spring,
maka rel perlu dilumasi secara teratur dengan tabung minyak dipasang
diatasnya dan minyak sedikit demi sedikit mengalir secara teratur.

10

2. Periksa saklar-saklar batas lintas dan slow down switch roda ungkit
karet atas kemungkinan cacat atau tidak bebas bergerak. Buka kotak
saklar, cek tekanan kontak (gambar : hal. 20).
3. Periksa pita (tape) dari selektor atas kemungkinan retak dan karatan
jika perlu dilapisi minyak (encer) dengan cara disikat.
4. Kabel lari (travelling cables)
Periksa secara acak kemungkinan kulit terkupas dimana lengkungan
balik dari kabel sering menyabet ke dinding. Jika terkupas segera
ditutup dengan insulation tape dan divarnish. Mungkin perlu dipasang
pelindung berupa chicken wire pada sepanjang dinding dari
pertengahan ruang luncur kebawah.
Dalam kabel lari ada cadangan kawat untuk pengganti kawat-kawat
yang putus. Jika kawat cadangan telah habis, maka segera kabel lari
diganti dengan yang baru, atau dipasang satu berkas kabel yang baru
sebagai cadangan.
e. Pemeriksaan di pit.
1. Cek permukaan oli peredam hidrolis harus sampai garis tanda batas.
Cek saklar-saklar keamanan peredam, saklar-saklar batas lintas dan
saklar pemutus jika tali baja menjadi mulur diluar batas.
2. Pelumasan dengan gemuk pada poros roda penegang tali governor dan
roda penegang tali kompensasi.
3. Kereta ada dilantai dasar, maka dari pit dapat diperiksa pesawat
pengaman dan lumasi pen-pen titik tumpu.
4. Periksa (ukur) jarak runby bandul dari pit, minimal 7 cm. Jika kurang
dari 7 cm, tali harus diperpendek.

f. Pemeriksaan tali baja


11

1. Karena tali baja direncanakan berumur (useful life) 5 tahun, maka


biasanya tidak pernah diperiksa pada tahun-tahun pertama sampai
ketiga, kecuali ditemukan patahan kawat (2 - 3 mm patahan terdapat
pada bedplate dibawah roda puli).
Pemeriksaan lift dalam keadaan inspection mode. Gunakan kain katun
lunak digenggam dan selubungkan satu per satu pada tali. Jika ada
tersangkut benang oleh patahan kawat, hentikan lift dan periksa jumlah
patahan.
Jika patahan tersebar pada semua lilitan maka hitung jumlah patahan
pada daerah satu lay (satu putaran lilitan = + 13 cm). Buat laporan.
Tabel dibawah ini ialah batas apkir tali karena jumlah patahan melebihi
angka dalam tabel :
a. Jenis A patahan kawat

= 32 patahan, dalam satu lay (+ 13 cm)

b. Jenis B patahan kawat

10 patahan, didominasi oleh satu

16 patahan, minimal

lilitan
Jenis C patahan kawat

ada

patahan
berjejer pada bagian luar permukaan
tali
Jenis A dan B gunakan alat elektro magnet untuk mendetect patahan
didalam tali yang tidak nampak.
2. Tali baja yang berkarat dan kering, terlihat debu merah, segera
dilumasi dengan minyak encer khusus (SAE 5 s/d 10) gunakan sikat.
Jika karat pada tali terlalu parah, sebaiknya tali diganti baru.
3. Tali baja yang susut diameternya sampai 10 % juga harus diganti baru.
Periksa dengan sigmat. Pengukuran pada daerah gunungan (crown),
bukan pada daerah lembah. Lihat gambar.

12

13

g. Pemeriksaan dari Atap kereta


Pemeriksaan dari atap kereta meliputi :
1. Pemeriksaan pintu-pintu lantai, telah diuraikan pada point c.
2. Pemeriksaan sepatu luncur dan roda luncur telah diuraikan pada point
d.1. Perlu dicek tekanan pegas pada tiga roda pemandu harus minimal
dan seragam saat kereta kosong.
3. Periksa rangkaian mekanis pesawat pengaman dan lumasi semua
bagian-bagian yang bergesek dari titik tumpu.
4. Periksa steadying roller, dimana badan kereta bersandar pada stiles (up
right channel).
5. Dari atap kereta dapat dilaksanakan pemeriksaan sepatu luncur dari
bobot imbang. Dari atap kereta pula, kita dapat mengukur tegangan tali
(point f.4) pada sisi kereta dan sisi bobot imbang.

14

BAB III
PELUMASAN

Pelumasan yang tepat sangat penting untuk memperoleh umur panjang


peralatan, yaitu :
1. Jenis bahan pelumas yang dianjurkan oleh pabrikan.
2. Cara melaksanakan pelumasan
3. Frequensi pelumasan serta pemeriksaan peralatan pada waktunya.
Pelumasan adalah persoalan yang kompleks. Cara yang paling aman ialah ikuti
petunjuk pabrikan. Tetapi jika tidak diperoleh jenis minyak pelumas yang dianjurkan,
maka harus ditanyakan ke pabrikan jenis yang sama sifat-sifatnya (equivalent), dan
apa syarat serta implikasinya. Jika informasi dari pabrikan tidak diperoleh, maka
minta rekomendasi dari ahli produsen minyak pelumas.
Lihat lampiran -1, daftar anjuran dari OTIS minyak pelumas dan frequensi.
1.

Pelumasan bantalan peluru / rol


Secara umum, masa kini, bantalan peluru telah dilengkapi dengan bahan
pelumas permanen untuk selamanya. Pelumasan tidak perlu. Bantalan pada
gigi ulir dilumasi dengan sendirinya dari bak gear box. Bantalan - bantalan lain
seperti pada roda puli, roda penyimpang dan roda-roda lain dilumasi dengan
gemuk No. 2 (NLGI). Gunakan grease gun dan tembak melalui nipel. Pada sisi
lain dari bantalan, sumbat dibuka lebih dulu.

15

2.

Pelumasan bantalan luncur.


Bantalan jenis ini terdapat pada lift-lift kecepatan rendah dan kapasitas tinggi
atau lift-lift tua. As (poros) duduk pada metal dari babbitt. Pelumasan dengan
slip ring atau gelang penciduk oli dari bak minyak di bawahnya.

3.

Pelumasan tali baja


Pada dasarrnya tali baja telah berminyak, karena inti saat henep didalamnya
mengandung minyak lumas. Jika tali dalam keadaan tegang, serat tertekan oleh
lilitan-lilitan tali, dan mengeluarkan minyak. Gunanya minyak ialah untuk
mengindari aus gesekan diantara kawat-kawat dan menghindari timbulnya
karat. Pelumasan dilakukan hanya jika tali ternyata kering sama sekali.
Gunakan minyak encer dengan derajat SAE 5 s/d 10. Gunakan kuas,
pelumasan tidak boleh berlebihan.
Catatan :
Tali baja governor tidak boleh dilumasi, agar rahang governor tidak gagal
menjepit tali saat terjadi tripped

4.

Pelumasan rel pemandu


Lihat bab II, jika digunakan roda luncur, gibs dan sebagainya rel harus kering
(tidak dilumasi). Sepatu luncur dengan insert jenis swivel pelumasan minyak
SAE 20 secara teratur tetes demi tetes, dari tabung (kaleng) minyak yang
tersedia. Minyak pada permukaan rel akan turun sampai pit. Perlu kaleng
penadah langsung diujung bawah rel.

5.

Pelumasan roda gigi


a. Roda gigi ulir (cacing) atau worm gear, dengan cara bak, permukaan
minyak sampai setinggi gigi cacing bagian bawah (garis sumbu
16

tenggelam). Kekentalan minyak pelumas kira-kira SAE 30 dengan aditive


anti foam, anti corrosion, dan tahan tekanan.
b. Roda gigi helical dengan kecepatan putaran yang tinggi gunakan minyak
lebih kental.
6.

Pelumasan Rantai
Pada eskalator gunakan minyak yang encer, dibawah SAE 20, secara teratur
terus menerus dengan sistem terpusat.

7.

Peredam hidrolis
Minyak yang digunakan untuk peredam hidrolis harus mengikuti instruksi
yang terdapat pada plat (name plate). Begitu pula lift hidrolis harus
menggunakan cairan hidrolis yang tersebut pada plat petunjuk. Biasanya
digunakan SAE 90, agar perubahan temperatur agak lamban merubah
kekentalan.

17

BAB IV
PENYETELAN (Adjustment)
Penyetelan berarti suatu tindakan usaha mengatur kerja alat / paratus ditera
menyesuaikan dengan nilai yang ditetapkan pabrik, untuk meperoleh kerja optimum
yang direncanakan.
Penyetelan alat / aparatus terbagi atas dua kategori, yaitu :
1.

Penyetelan alat - alat mekanis


Penyetelan mekanis pada dasarnya ialah menetapkan jarak celah, luang lari,
toleransi, juga menetapkan besaran tegangan atau gaya dengan ukuran dan
sifat-sifat pegas tertentu. Pelaksana penyetelan disebut adjuster. Semua
ketentuan ditetapkan oleh pabrik sebagai kriteria yang harus betul-betul
dilaksanakan dan dengan prosedur yang dianjurkan pula.
a. Tegangan tali-tali baja harus seragam. Penyetelan dilakukan dua kali.
Penyetelan awal terdapat beda tegangan diantara tali-tali, maksimal 10 %.
Kemudian penyetelan yang kedua dilakukan setelah semiggu lift
beroperasi. Penyetelan dengan cara memutar moer pada ujung thimble rod
(soket pegas) dan tegangan diukur dengan alat pengukur, lihat gambar
pada halaman berikut.
b. Penyetelan kecepatan lebih pada governor, yaitu pada pegas yang mengikat
bandul terbang (flying ball), agar bandul tersebut oleh gaya centrifugal
keluar jalur dan memukul cam, selanjutnya melepas kontak OS. Jika
kecepatan terjadi lebih gawat lagi, maka cam tersebut melepas kait dan
menjatuhkan rahang (tripped), selanjutnya pesawat pengaman bekerja.
Catatan :
Penyetelan pegas bandul terbang dilakukan dipabrik tetapi dilapangan
perlu dicek ulang oleh adjuster.
c. Penyetelan rem mesin. Hal ini telah diuraikan pada pelajaran lain, yaitu
sesuai ketentuan dalam SNI. Rem harus kuat menahan beban kereta 125%
saat turun tiba-tiba sumber tenaga listrik putus. Penyetelan dengan
18

memutar moer pada baut berpegas. Sepatu rem juga perlu disetel dengan
memutar skrup pada punggung sepatu sehingga permukaan rem (ferodo
brake lining) bercelah

0.1 mm dengan permukaan tabung rem.

d. Penyetelan lain diantaranya :


1. Runby, jarak kereta dan bobot imbang dengan ujung atas peredam
(buffer).
2. Tekanan roda luncur pada permukaan rel.
3. Static balance badan kereta dudukannya pada landas

2.

Penyetelan alat / aparatus elektris


Penyetalan elektris pada dasarnya menetapkan besaran tahanan, tegangan dan
arus ukuran kondensor yang dipakai dengan tujuan menetapkan tempo
(timing), percepatan atau perlambatan dan sebagainya. Beberapa aparatus
disebutkan dibawah ini.
a. Penyetelan tempo pintu (door timing) dengan kombinasi potentiometer dan
condenser untuk mengaktifkan relay (condensor time switch). Sekarang
digunakan DIS (Door Interphone Sub system) cukup memilih micro switch
mana yang on dan off sesuai instruksi pabrik.
b. Dash pot timing (overload relay), pada pengendalian tempo, saat motor
AC two Speed mau berhenti, yaitu fungsinya pemutus arus, agar motor
tidak panas.Penyetelan dengan mengatur panjang plunger didalam dash pot
yang disedot oleh kekuatan elektromagnet. Plunger direndam dalam
minyak silicon.
c. Penyetelan besaran tahanan secara tahap demi tahap, diatur oleh timing
relay, untuk mengatur field winding motor DC, sehingga percepatan dan
perlambatan terasa halus.

19

d. Penyetelan tempo thermal overload pada motor-motor AC. Jika motor


panas, akan berhenti secara otomatis pada lantai terdekat. Jika suhu telah
turun lift mulai jalan lagi dengan sendirinya.
e. Penyetelan berbagai saklar-saklar atau switch setting didaerah ruang luncur
(field wiring), dan didalam pusat kendali (control wiring). Pabrikan
menetapkan jarak-jarak celah (air-gap) masing-masing saklar, relay, micro
switches dan sebagainya.

20

BAB V
GETARAN dan SUARA

Getaran, goyangan, kejutan dan suara-suara aneh menyebabkan pengguna lift


merasa tidak nyaman bahkan kadang-kadang ketakutan. Oleh karena itu harus
dihilangkan. Getaran, goyangan dan suara-suara adalah sisa-sisa hasil pekerjaan
pemasangan yang belum selesai. Tetapi bagian pemeliharaan adalah tempat menerima
kesalahan (complain).
1. Getaran vertikal adalah oleh sebab :
a. Mesin bergetar duduk pada bed plate yang kurang kekar, dan juga mungkin
karet peredam kurang tebal atau salah pilih.
b. Tegangan baja tarik yang tidak sama seragam. Yaitu satu atau dua tali yang
lebih tegang dari lainnya penyebab getaran vertikal saat kereta berhenti.
Periksa tegangan dengan alat, lihat gambar. Cara pengukuran dilakukan
dari atas atap kereta, pada lantai dua pertiga ruang luncur (pada lantai 10
jika jumlah lantai 15)
Penyelesaian :
Disamping mengeliminier kesalahan-kesalahan tersebut diatas, juga dapat
dipasang atau tambah karet peredam tebal 5 s/d 10 cm pada pengikatan
antara soket tali dan sling kereta (diatasnya pegas).
2.

a. Getaran horisontal ialah oleh sebab sambungan rel tidak sempurna


sehingga terasa pada saat kereta melintas ditempat tertentu.
b. Goyangan yang terasa saat kereta melaju ialah sebab rel yang tidak lurus.
Sangat dianjurkan rel-rel yang berubah (deform) yaitu bengkok, terpuntir
dan sebagainya, walaupun sedikit, jangan dipasang (rejected)
Penyelesaian :
Sambungan rel harus dikikir sepanjang kira-kira 80 cm, yaitu 40 cm diatas
sambungan dengan 40 cm dibawah sambungan, dengan kikir khusus
panjang 40 cm dan bergagang.
21

c. Getaran horisontal muka-belakang oleh sebab static balance dari badan


kereta (car cage) tidak betul saat pemasangan dan juga oleh sebab rel karet
bantalan tempat kereta bersandar pada stiles tidak kencang, atau bahkan
tidak pernah dipasang.
3.

Kejutan saat lift berangkat dan berhenti ialah oleh sebab adjustment di
Controller tidak sempurna, yaitu program pola kecepatan di MCU tidak betul.

4.

Suara-suara yang aneh harus dicari sumbernya. Pada umumnya oleh getaran
plat tipis, atau skrup/ baut yang longgar. Rantai yang digunakan untuk
pengimbang berat tali baja tarik senantiasa menimbulkan suara gemerincing.
Maka sebaiknya rantai tersebut dibungkus dengan slang karet, atau dililiti
dengan tali tambang dari serat plastik.
Suara yang paling tidak nyaman bagi pengguna lift ialah suara gebrakan pintu

saat menutup dan saat terjadi interupsi buka lagi (re-opening). Oleh karena itu pintupintu

model lama yang dilengkapi dengan peredam hidrolis masih terpakai.

Penggerak pintu lift modern dengan motor AC VVVF gerakan pintu halus. Tetapi
pemeriksaan berkala sangat dituntut oleh ahlinya yang kompeten.

22

BAB VI
PENUTUP

1.

Tehnik perawatan lift adalah suatu bidang pekerjaan yang menyangkut banyak
disiplin ilmu, dan memerlukan dedikasi yang tinggi. Umumnya teknisi
perawatan yang dipercaya melaksanakan pekerjaan mulai bekerja sebagai
kenek (pembantu). Setelah melalui training (field education) secara teratur
pada perusahaan, baru dapat dilepas diberi kepercayaan. Pengalaman
menunjukkan dasar pendidikan formal dari teknisi yang sukses ialah minimal
STM bagian elektro
Lulusan D3 elektro tentu lebih baik, untuk jenjang karier sebagai supervisor,
walaupun harus dimulai sebagai kenek, awal mulai bekerja.

2.

Untuk mencapai efisiensi cukup satu team perawat menangani kira-kira


sejumlah 10 unit gearless machine dalam satu bangunan atau boleh jadi 2
bangunan yang berdekatan, terus menerus dalam satu tahun. Dengan demikian
relasi dengan pengurus bangunan dapat terjaga dengan baik.

3.

Pekerjaan reparasi, call back dan penyetelan (adjustment) termasuk test,


dilaksanakan oleh team teknisi khusus dibawah pengawasan penyelia yang
sama.

4.

Jadwal pekerjaan perawatan harus disesuaikan dengan jenis/macam lift dan


atas dasar tuntutan isi kontrak : suatu bangunan hotel besar yang sibuk,
menuntut jumlah frequensi kunjungan 4 kali tiap bulan atau tiap-tiap minggu,
sedangkan lift sederhana pada gedung kantor cukup 1 kali tiap unit, tiap bulan.
Komponen atau peralatan mana yang mendapat giliran pelumasan, penyetelan
ulang, masing-masing merk/pabrik mempunyai instruksi (factory instruction
manual) yang berbeda-beda.

Lampiran - 1
23

DAFTAR MINYAK PELUMAS (OLI)


SUMBER OTIS
A.

Kamar Mesin
Alat / aparatus

Jenis pelumas

1. G/D motor / mesin


Bantalan duduk (luncur)
Bantalan peluru / roll
2. G/L motor / mesin
Bantalan duduk (luncur)
Bantalan peluru / roll
3. gigi reduksi, roda cacing
4. Kerm (core) solenoid rem
5. Rem tuas rem
6. Driving sheave (bantalan duduk)
7. Driving sheave (bantalan peluru)
8. Overload relay pada controller (dash pot timer)
9. Selector stop contact pressure fittings and other
10. Selector gear
11. Rantai
12. Roda governor (bantalan peluru)

oli OTIS,
gemuk,

Frequency

no. 2
no. 12

PL 6
PL 6

oli,
no. 38
gemuk,
no. 12
oli,
no. 33
vaseline / bubuk grafit
gemuk,
no. 12
oli,
no. 2
gemuk
no. 12
silicon oil MS 200
oil,
no. 2
gemuk,
no. 12
pin oil,
no. 39
oli,
no. 2

PL 6
PL 6
6*
6
*6
*6
*6
PL 6
* 12
*6
PL 6
PL 2

Jenis pelumas

Frequency

B. Ruang Luncur & Atap kereta


Alat / aparatus
1. Roda penyimpangan (Deflector sheave)
2. Rangkaian safety pesawat pengaman
(pena, tumpuan)
3. Sepatu luncur pemandu model insert
4. Sepatu luncur pemandu model besi
Catatan : model besi insert silicon dan gibs
tidak usah dilumasi, rel harus kering

24

gemuk,
oli,

no. 12
no. 2

PL 2
PL 12

gemuk,
oli,

no. 12
no. 31 A

PL 2
PL 6

C. Pintu - pintu
Alat / aparatus

Jenis pelumas

1.
2.
3.
4.

Tuas pengungkit, (retiring cam), pena, rantai


Bantalan-bantalan peluru
Hidrolis peredam gerak pintu
Motor penggerak pintu
gigi reduksi
Dash unit
5. Door track / hanger
6. Rantai jika ada
Catatan :
Roda dengan ban karet jangan diminyaki dan
rel (track) harus kering.

Frequency

oli, no. 12 atau 39


gemuk,
no. 2
oli,
no. 10

6
12
6

mobil oil
no. 30
mobil oil no. 10/30
oli no. 2 atau 31 A
pin oli
no. 39

6
6
3
3

Jenis pelumas

Frequency

D. Pit (Lekuk dasar)


Alat / aparatus
1. Hydraulic buffer
2. Roda penegang tali governor
3. Roda penegang tali kompensasi

oli, no.
gemuk,
gemuk,

no. 12
no. 12

* 12
6
6

Keterangan :
1. PL : Paling Lambat
2. Angka-angka 1, 2, 6, 12 adalah frequency dalam bulan
3. * tergantung pemeriksaan dan tugas pelayanan lift (low, moderate, hig duty)
ditambah atau ganti baru.
4. Equivalent minyak pelumas : OTIS No. 2 = SAE 20 General purpose lubricant
OTIS No. 12 = Grease No. 2 (NGLI)
OTIS No. 33 = Omala Shell 220

25

Lampiran - 2 :

KODE SIMBOL TERDAPAT


PADA STRAIGHT WIRING DIAGRAM
(Sumber : OTIS)
Kontak relay, making (atau normally open)

Kontak relay, breaking (atau normally closed)

Saklar mekanis, normally open

Saklar mekanis, normally closed

Governor switch (SO) A making


B beraking

Kondensor (condensor)

Kumparan relay (relay magnetic coil)

Sekering (fuse)

Kumparan shunt untuk generator

Tahanan listrik Konstan (weerstant)

Rheostat (variable) potentiometer)

Pentanahan (earthing, arde)


26

Kontak pada pintu lantai (door contact)

Kontak pada pintu kereta (gate contact)

Kontak tombol (single), normally open atau making

Kontak tombol (single), normally closed (atau breaking)

sama double

sama double

Kumparan field motor generator

Rectifier 3 Phase, menghasilkan arus DC

Breaking rectifier 1 Phase, aliran DC tidak dapat


berbalik

Tuas (pengungkit/cam), pembuka kontak mekanis

Kontak mekanis terbuka setelah tersingung cam

Kontak pisau double pole sekaligus

Kontak pisau 2 pole single normally open (terlihat satu


pole)

Sama, normally closed satu pole

27

hubungan field wiring (bukan controller)

Kunci kontak, normally open

Kunci kontak normally closed

Kunci kontak dua arah

Thermal overload breaker (normally closed)

Thermister, kontak atas panas temperatur tertentu.

Lampu indikator dan sebagainya.

Lampu neon pilot

Motor (M) atau Generator (G) armature

Bell / Buzzer / Gong

Transformator (penurun tegangan)

28

Lampiran - 3

29

Lampiran - 3

30

Lampiran - 3

31

Lampiran - 4

32