Anda di halaman 1dari 16

Teori

HUKUM KEKEKALAN ENERGI


Telah disebutkan bahwa jumlah energi yang dimiliki sistemdinyatakan sebagai
energi dalam (U). Hukum I termodinamika menyatakanhubungan antara energi
sistem dengan lingkungannya jika terjadi peristiwa.Energi dalam sistem akan
berubah jika sistem menyerap atau membebaskankalor. Jika sistem menyerap
energi kalor, berarti lingkungan kehilangankalor, energi dalamnya bertambah (U >
0), dan sebaliknya, jikalingkungan menyerap kalor atau sistem membebasakan
kalor maka energidalam sistem akan berkurang (U < 0), dengan kata lain sistem
kehilangankalor dengan jumlah yang sama.Energi dalam juga akan berubah jika
sistem melakukan ataumenerima kerja. Walaupun sistem tidak menyerap atau
membebaskan kalor,energi dalam sistem akan berkurang jika sistem melakukan
kerja, sebaliknyaakan bertambah jika sistem menerima kerja.Sebuah pompa bila
dipanaskan akan menyebabkan suhu gas dalam pompa naik dan volumenya
bertambah. Berarti energi dalam gas bertambahdan sistem melakukan kerja.
Dengan kata lain, kalor (q) yang diberikankepada sistem sebagian disimpan sebagai
energi dalam (U) dan sebagianlagi diubah menjadi kerja (w).Secara matematis
hubungan antara energi dalam, kalor dan kerjadalam hukum I termodinamika dapat
dinyatakan sebagai berikut:
U = q + W (6)Persamaan (6) menyatakan bahwa perubahan energi dalam
(U)sama dengan jumlah kalor yang diserap (q) ditambah dengan jumlah kerjayang
diterima sistem (w).
Rumusan hukum I termodinamika dapat dinyatakan dengan ungkapan atau katakata sebagai berikut. Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, tetapi dapat
diubah darisatu bentuk ke bentuk yang lain, atau energi alam semesta adalah
konstan.Karena itu hukum ini disebut juga hukum kekekalan energi .
Berdasarkan hukum I termodinamika, kalor yang menyertai suatureaksi hanyalah
merupakan perubahan bentuk energi. Energi listrik dapatdiubah menjadi bentuk
energi kalor. Energi kimia dapat diubah menjadienergi listrik dan energi listrik dapat
diubah menjadi energi kimia. Agar tidak terjadi kekeliruan dalam menggunakan
rumus diatas, perlu ditetapkansuatu perjanjian.
Maka perjanjian itu adalah: 1. Yang diutamakan dalam ilmu kimia adalah sistem,
bukan lingkungan2. Kalor (q) yang masuk sistem bertanda positif (+), sedangkan
yang keluar bertanda negatif (-)3. Kerja (w) yang dilakukan sistem (ekspansi)
bertanda negatif (-) , danyang dilakukan lingkungan (kompresi) bertanda positif 4.
Yang diutamakan dalam ilmu kimia adalah sistem, bukan lingkungan.5. Kerja
dihitung dengan rumus:W=-P(V1-V2) (7)Dimana w = kerja (pada tekanan 1 atm), V1
= volume awal, dan V2= volume akhir, dan P = tekanan yang melawan gerakan
piston pompa(atm), P untuk ekspansi adalah P ex dan untuk kompresi adalah P in
.Penerapan hukum termodinamika pertama dalam bidang kimia merupakan bahan
kajian dari termokimia.

PANAS JENIS
Panas jenis adalah Jumlah panas yang diperlukan untuk menaikkansuhu dari suatu
bahan bermassa m sebesar satu derajat dinamakan panas jenis dari bahan
tersebut. Sehingga, jika panas sejumlah Q ditambahkan kesuatu bahan
bermassa m
yang mempunyai panas jenis c.
Di dalam sistem MKS, satuan untuk panas adalah Kilokalori dan didefinisikan
sedemikian hingga panas jenis air adalah satu yang bermakna bahwa apabila satu
kilokalori panas diberikan kepada satukilogram air, maka suhu air akan naik sebesar
satu derajat Celsius. Apabiladua atau lebih zat dengan suhu yang berbedabeda
dicampurkan, mereka akan setimbang termal setelah beberapa saat karena panas
akan mengalir dari zat bersuhu lebih tinggi ke zat yang bersuhu lebih rendah
sampai semuazat mempunyai suhu yangsama. Jika bahanbahan penyusun sistem
diisolasi sedemikian hingga tidak ada pertukaran panas dengan
lingkungannya, proses tersebut dinamakan adiabatik .Karena panas merupakan
satu bentuk dari energi, hokum kekekalan energi mensyaratkan bahwa untuk
suatu proses adiabatik jumlah seluruh perpindahan panas antar penyusun
sistemharus sama dengan nol.Catatan: jika panas ditambahkan kepada suatu
sistem, maka Tak > Taw dan Q bernilai positif; jika panas diambil dari system maka
Tak < Taw dan Q bernilai negatif.
Data pengamatan

Jenis logam

: Tembaga

Massa Logam

: 53,7 gr

Massa calorimeter

: 81,2 gr

Massa air

: 210,8 gr

Panas jenis logam

: 0.0093 cal/g C

Suhu logam

: 90 C

Suhu air

: - 0,1 C

Suhu campuran

: 0,8 C

mLcL(TL-Tf)= (maca + mtp.ctp)(Tf-Ta)


53,7. cL (90-0,8)= (210,8.1 + ( 81,2)(0,0093) (0,8-(-0,1)
4790,04 cL = 196,515
cL = 0,0410

% Kesalahan = (0,0410 0,093) : 0,093 x 100 % = 55,91 %

Laporan Praktikum Kalor Jenis

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Mudahlah bagi kita sekarang menerima gagasan bahwa kalor itu energi. Tidak
demikianlah halnya dua abad yang lampau. Pada waktu itu para cendekiawan
masih mengira bahwa kalor itu suatu zat yang dapat mengalir dan data disimpan
oleh benda. Pendapat ini menerangkan berbagai gejala perpindahan kalor dan
penyerapan kalor. Berdasarkan pengamatannya waktu mengawasi permbuatan
meriam, Count Rumford memperoleh kesimpulan bahwa tidak benar kalor itu zat.
(Sutrisno, 2003).
Anda telah mengetahui bahwa jika gelas berisi air ledeng dicelupkan sebagian ke
dalam bak berisi air panas, air ledeng mengalami kenaikan suhu dan air panas
mengalami penurunan suhu. Ini menunjukkan terjadinya perpindahan energi dari
benda bersuhu tinggi (air panas) ke benda bersuhu rendah (air ledeng). Untuk lebih
meyakinkan, Anda dapat mencelup gelas air ledeng yang sama ke dalam bak berisi
air es. Anda akan amati sekarang air ledeng pengalamai penurunan suhu dan air es
mengalami kenaikan suhu. Uraian tersebut dengan jelas mempertegas kesimpulan
bahwa perpindahan energi secara alami selalu terjadi dari benda bersuhu tinggi ke
benda bersuhu lebih rendah (Kanginan, 2002).
Joseph Black pada tahun 1760 merupakan orang pertama yang menyatakan
perbedaan antara suhu dan kalor. Suhu adalah derajad panasnya atau dinginnya
suatu benda yang diukur oleh termometer, sedangkan kalor adalah suatu yang
mengalir dari benda panas ke benda lebih dingin untuk menyamakan suhunya.
(Marthen, 2002).
Maksud dan Tujuan
Maksud dari paktikum Fisika Dasar tentang Kalor Jenis adalah agar praktikan
mengetahui tentang kalor jenis yang dimiliki benda-benda di lingkungan sekitar
beserta perhitungannya.
Tujuan dari praktikum Fisika Dasar tentang Kalor Jenis adalah untuk menentukan
panas jenis mata bahan kalorimeter.

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Kalor Jenis


Energi yang berpindah disebut kalor. Dengan demikian dapat kita mendefinisikan
kalor sebagai energi yang berpindah dari benda yang suhunya lebih tinggi ke benda
yang suhunya lebih rendah ketika kedua benda bersentuhan.
(Marthen, 2002).
Kalor jenis adalah sifat khas suatu benda atau zat yang menunjukkan
kemampuannya untuk menyerap kalor. Zat yang kalor jen isnya tinggi mampu
menyerap lebih banyak kalor untuk kenaikan suhu yang rendah. Zat-zat seperti ini
dimanfaatkan sebagai tempat untuk menyimpan energi termal.
(Kanginan, 2002).
Kalor jenis dapat didefinisikan sebagai kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu
1 kg benda setinggi 1 Kelvin atau 1 derajad celcius.
(Marthen, 2002).
Kalor jenis adalah bilangan yang menujukkan berapa kalori panas yang diperlukan
untuk menaikkan suhu tip satu satuan massa zat dalam satu derajad.
(Irawati, 2008).
Kalor jenis suatu benda adalah kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1
gram benda setinggi 1 derajad celcius. Atau dalam satuan Internasional sering juga
orang mendefinisikan kalor jenis menunjukkan kalor yang dibutuhkan untuk
menaikkan suhu 1 kg benda setinggi 1 Kelvin.
(Kamajaya, 2007).

Pengertian Kalorimeter
Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kalor. Kalorimeter
umumnya digunakan untuk menentukan kalor jenis suatu zat. Kalorimeter
menggunakan teknik pencampuran dua zat di dalam suatu wadah
(Marthen, 2002).
Pengukuran jumlah kalor reaksi yang diserap atau dilepaskan pada suatu reaksi
kimia dengan eksperimen disebut kalorimetri. Dengan menggunakan hokum Hess,
perubahan entalpi pembentukan standar, energi ikatan dan secara eksperimen.
Proses dalam kalorimeter berlangsung secara adiabatic, yaitu tidak ada energi yang
lepas atau masuk dari luar ke dalam kalorimeter
(Petrucci, 1987).

Alat untuk mengukur suhu adalah termometer. Telah kita ketahui bahwa
termometer memanfaatkan sifat termometrik zat untuk mengukur suhu. Sifat
termometrik zat adalah sifat fisis zat yang berubah jika dipanaskan, misalnya
volume zat cair, panjang logam, hambatan listrik seutas kawat platina, tekanan gas
pada volume tetap, dan warna pijar kawat (filamen) lampu
(Kanginan, 2002).

Suhu merupakan istilah yang dipakai untuk menyatakan panas dingin dari suatu
benda. Misalnya benda panas dikatakan memiliki suhu tinggi dan benda dingin
dikatakan memiliki suhu rendah. Alat yang digunakan untuk mengukur suhu disebut
termometer (Suwadi, 2008).

Prinsip Kerja Kalorimeter


Kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu kalorimeter sebesar 1 0C pada air
dengan massa 1 gram disebut tetapan kalorimetri. Dalam roses ini berlaku asas
Black, yaitu:
qlepas = qterima
qair panas = qair dingin + qkalorimeter
m1 C (Tp - Tc) = m2 c (Tc - Td) + (Tc - Td)
keterangan:
m1 = massa air panas
m2 = massa air dingin
c = kalor jenis air
C = kapasitas kalorimeter
Tp = suhu air panas
Tc = suhu air campuran
Td = suhu air dingin
(Petrucci, 1987).
Karena kalor jenis bernilai konstan pada suhu yang lebar, kalor jenis benda lain
dapat ditentukan dengan memanfaatkan fakta tersebut. Hal ini dapat dilakukan
dengan cara memanaskan benda tersebut sampai dengan suhu tertentu kemudian
benda itu dicelupkan ke dalam wadah yang suhu dan massanya diketahui. Setelah
mencapai kesetimbangan termal, suhu akhir sistem diukur. Jika seluruh sistem
terisolasi dengan lingkungannya, panas yang dilepaskan benda sama dengan panas

yang diterima air dan wadahnya. Prosedur ini dinamakan kalorimetri dan wadah
yang terisolasi tersebut dinamakan kalorimeter. Kalorimeter bekerja berdasarkan
asas-asas Black.
(Ruwanto, 2007).

Timbangan Digital
Timbangan digital berfungsi untuk membantu mengukur berat serta cara kalkulasi
fecare otomatis harganya dengan harga dasar satuan banyak kurang.
(Mansur, 2010).
Cara kerja timbangan digital hanya bisa mengeluarkan label, ada juga yang hanya
timbul ditampilkan layar LCDnya (Mansur, 2010).

Kita mengenal timbangan digital sebagai alat ukur untuk satuan berat.
Dibandingkan dengan timbangan jaman dulu yang masih menggunakan timbangan
analog atau manual, timbangan digital memiliki fungsi lebih sebagai alat ukur,
diantaranya timbangan digital lebih akurat, presisi, akuntable (bisa menyimpan
hasil dari setiap penimbangan) (Timbangandigital, 2010).

Manfaat di Bidang Perikanan


Menurut Metana (2010), manfaat kalor jenis di bidang perikanan adalah:
Teknik refrigerasi
Teknik pendinginan untuk produk hasil perikanan
Pemilihan logam untuk pembuatan kapal
Pengasapan ikan
Dalam bidang perikanan, kalor jenis bermanfaat pada proses pengeringan ikan.
Prosesnya melalui tahap penguapan air. Tahap ini dilakukan dengan cara
menurunkan kelembaban nisbi udara dengan mengalirkan udara panas di sekeliling
bahan, sehingga uap air bahan lebih besar daripada tekanan uap air bahan ke
udara. Faktor utama yang mempengaruhi kecepatan pengeringan dari suatu bahan
pangan adalah sifat fisik dan sifat kimia bahan. Sifat fisik dan kimia bahan meliputi
bentuk, ukuran, kalor jenis, komposisi dan kadar airnya (Javanesa, 2010).
METODOLOGI

Alat dan Fungsi


Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah:

Kalorimeter : untuk mengukur besar-kecilnya kalor jenis pada su-atu benda


Ketel uap : digunakan untuk memanaskan air
Termometer : digunakan untuk mengukur suhu
Stopwatch : digunakan untuk menghitung waktu pada saat pengukuran suhu
Timbangan digital : digunakan untuk menimbang massa benda dengan ketelitian
10-2 gram
Nampan : sebagai tempat alat dan bahan
Pinset : digunakan untuk memindahkan aluminium dan ka-ca dari ketel uap ke
kalorimeter
Mistar : digunakan untuk mengukur panjang atau tinggi ka-lorimeter

Bahan dan Fungsi


Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
Alumunium : sebagai benda yang diukur kalor jenisnya
Kaca : sebagai benda yang diukur kalor jenisnya
Tissue : digunakan untuk membersihkan alat praktikum
Air : sebagai media perambatan kalor

Skema Kerja
Alumunium

Disiapkan alat dan bahan

Ditimbang kalorimeter kosong tanpa wadah dengan timbangan digital

Diisi kalorimeter dengan air sebanyak 15 bagian dari kalorimeter

Ditimbang alumunium

Dimasukkan air secukupnya ke dalam ketel uap lalu dipanaskan dan dimasukkan
alumunium

Diamati suhu air dalam kalorimeter dengan termometer dan digunakan sebagai T1

Dimasukkan alumunium panas ke dalam kalorimeter sambil digojog

Dihidupkan stopwatch

Diamati suhu dalam kalorimeter dengan termometer selama 30 detik pertama (T2)
dan 30 detik kedua (T3)

Hasil

Kaca

Disiapkan alat dan bahan

Ditimbang kalorimeter kosong tanpa wadah dengan timbangan digital

Diisi kalorimeter dengan air sebanyak 15 bagian dari kalorimeter

Ditimbang kaca

Dimasukkan air secukupnya ke dalam ketel uap lalu dipanaskan dan dimasukkan
kaca

Diamati suhu air dalam kalorimeter dengan termometer dan digunakan sebagai T1

Dimasukkan kaca panas ke dalam kalorimeter sambil digojog

Dihidupkan stopwatch

Diamati suhu dalam kalorimeter dengan termometer selama 30 detik pertama (T2)
dan 30 detik kedua (T3)
Hasil

PEMBAHASAN

Analisa Prosedur
Sebelum melaksanakan praktikum Fisika Dasar tentang Kalor Jenis, hal yang
dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan. Alat yang
dibutuhkan dalam praktikum ini antara lain, kalorimeter yang digunakan untuk
mengukur besar kecilnya kalor jenis suatu benda; ketel uap untuk memanaskan air;
termometer yang berfungsi untuk mengukur suhu; stopwatch digunakan untuk
menghitung waktu pada saat pengukuran suhu; timbangan digital untuk
menimbang massa benda dengan ketelitian 10-2 gram; pinset untuk mengambil
dan memindahkan kaca dan alumunium dari ketel uap ke kalorimeter; dan nampan
sebagai tempat alat dan bahan. Selanjutnya bahan yang digunakan dalam
praktikum ini adalah kaca dan alumunium, dalam hal ini digunakan sebagai bahan
yang diukur kalor jenisnya; tissue yang digunakan untuk membersihkan peralatan
yang telah digunakan; dan air sebagai media perambatan kalor.
Setelah alat dan bahan siap, langkah pertama adalah menimbang massa
kalorimeter kosong menggunakan timbangan digital matter dan catat hasilnya.
Kemudian kalorimeter diisi dengan air sebanyak 15 bagian dan ditimbang massa
kalorimeter dengan air dengan timbangan yang sama dan dicatat hasilnya. Setelah
itu alumunium ditimbang, lalu dimasukkan ke dalam ketel uap dan dipanaskan.
Kemudian diukur suhu air dalam kalorimeter untuk digunakan sebagai T1. Diambil
alumunium dengan pinset dan dipindahkan ke dalam kalorimeter dan dinyalakan
stopwatch serta air dalam kalorimeter digojog-gojog. Setelah 30 detik pertama,
amati perubahan suhu dalam kalorimeter dan gunakan sebagai T2. Setelah 30 detik
kedua, amati perubahan suhunya untuk T3 dan catat hasilnya.
Pada kaca prosedurnya sama, langkah pertama adalah menimbang massa
kalorimeter kosong menggunakan timbangan digital matter dan catat hasilnya.
Kemudian kalorimeter diisi dengan air sebanyak 15 bagian dan ditimbang massa

kalorimeter dengan air dengan timbangan yang sama dan dicatat hasilnya. Setelah
itu kaca ditimbang, lalu dimasukkan ke dalam ketel uap dan dipanaskan. Kemudian
diukur suhu air dalam kalorimeter untuk digunakan sebagai T1. Diambil kaca
dengan pinset dan dipindahkan ke dalam kalorimeter dan dinyalakan stopwatch
serta air dalam kalorimeter digojog-gojog. Setelah 30 detik pertama, amati
perubahan suhu dalam kalorimeter dan gunakan sebagai T2. Setelah 30 detik
kedua, amati perubahan suhunya untuk T3 dan catat hasilnya.

Analisa Hasil
Dari praktikum Fisika Dasar tentang kalor jenis didapatkan hasil bahwa:
Alumunium

No

T1 (0C)

T2 (0C)

T3 (0C)

27

29

28,5

Diketahui :
Berat Kalorimeter Kosong (k) : 96,26 gr
Berat Kalorimeter + Air : 148,87 gr
Berat Air : 52,61 gr
Berat Alumunium : 0,61 gr
Ditanya : Calumunium . . . ?
Jawab : Calumunium = A (T3- T2)B T1- T3+ k ( T3- T2 )
Jadi kalor jenis alumunium adalah 0,536 kal/gr0C
Kaca
No

T1 (0C)

T2 (0C)

T3 (0C)

27

28

27

Diketahui :
Berat Kalorimeter Kosong (k) : 67 gr

Berat Kalorimeter + Air : 154,7 gr


Berat Air : 87,7 gr
Berat Kaca : 3,2 gr
Ditanya : Ckaca . . . ?
Jawab : Ckaca = A (T3- T2)B T1- T3+ k ( T3- T2 )
= 87 27 28 3,2 27 27 + 67 27 28
= - 87,7- 67
= 1,3 kal/gram0C
Jadi kalor jenis kaca adalah 1,3 kal/gram0C.
Dari hasil praktikum dan analisa hasil, didapatkan bahwa kalor jenis alumunium
adalah 0,53 kal/gr0C dan kalor jenis kaca adalah 1,3 kal/gr0C.

Kalor Jenis (c)


Jenis Benda
J/kg C0

kkal/kg C0

Air

4180

1,00

Alkohol (ethyl)

2400

0,57

Es

2100

0,50

Kayu

1700

0,40

Alumunium

900

0,22

Marmer

860

0,20

Kaca

840

0,20

Besi / baja

450

0,11

Tembaga

390

0,093

Perak

230

0,056

Raksa

140

0,034

Timah hitam

130

0,031

Emas

126

0,030

(Gurumuda, 2009)
Dari analisa hasil yang telah didapatkan, kalor jenis kaca dan alumunium berbeda
dengan literatur, hal ini disebabkan karena kalor yang hilang pada alumunium dan
kaca yang dipanaskan. Terdapat perbedaan antara literatur dan hasil praktikum
karena perbedaan pengukuran suhu dan faktor-faktor eksternal maupun internal
yang dapat mempengaruhi besarnya suhu yang berakibat pada perhitungan
besarnya kalor jenis kaca dan alumunium.

PENUTUP

Kesimpulan
Dari praktikum yang dilaksanakan, dapat disimpulkan:
Kalor jenis adalah bilangan yang menunjukkan berapa kalori yang dibutuhkan untuk
menaikkan suhu 1 gram benda.
Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor yang terlibat
pada reaksi kimia dalam sistem larutan.
Termometer adalah suatu benda yang memiliki suhu sehingga setiap suhu dapat
dinyatakan dalam suatu bilangan tertentu.
Timbangan digital adalah suatu alat yang digunakan untuk menimbang alat dan
bahan dengan ketelitian 10-2 gram
Kalor jenis dapat dihitung dengan menggunakan rumus
Cg = A (T3- T2)B T1- T3+ k ( T3- T2 )
Kalor jenis alumunium yang dihasilkan adalah 0,536 kal/gr0C.
Kalor jenis kaca yang dihasilkan adalah 1,3 kal/gr0C.

Saran
Dari praktikum Fisika Dasar tentang Kalor Jenis disarankan agar praktikan sebelum
praktikum sebaiknya memahami konsep terlebih dahulu sehingga praktikum dapat

berjalan dengan lancar, dan untuk asisten praktikum hendaknya mendampingi


praktikan selama berlangsungnya praktikum.

Daftar Pustaka
Helman. 1991. Fisika Umum. Jakarta: Erlangga

Irawati, Ani. 2008. Fisika. Surabaya: Cipta Sikan Kentjana

Kamajaya. 2007. Cerdas Belajar Fisika. Bandung: Grafindo

Javanesa, Putra. 2010. Kalor Jenis. http://triosetyawan.blogspot.com/2010/kalorjenis.htm diakses pada hari Minggu, tanggal 17 Oktober 2010, pukul 11.00 WIB

Kanginan, Marthen. 2002. Fisika. Jakarta: Erlangga

Petrucci, Ralph H. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Jilid 2 Edisi 4.
Jakarta: Erlangga

Susilo. 2010. Termodinamika. Malang: Universitas Brawijaya

Sutrisno. Fisika Dasar Listrik: Magnet dan Termodinamika. Bandung: ITB

Suwadi. 2008. Fisika. Surabaya: Cipta Sikan Kentjana

Wikipedia. 2010. http://id.wikipedia.com/termometer diakses pada hari Kamis,


tanggal 14 Oktober 2010, pukul 10.00 WIB

Zemansky, Mark W. 1962. Fisika Untuk Universitas 2. Jakarta: Yayasan Dana Buku
Indonesia

1.1 Latar Belakang


Kalor jenis adalah banyaknya kalor atau panas yang dibutuhkan untuk menaikkan 1 gram atau 1
kg zat sebesar 1o C (satuan kalori/gramoC atau kkal/oC). Sedangkan kalor mempunyai definisi yaitu
energi panas yang dimiliki suatu zat (Alljabar, 2008).
Kalor jenis suatu zat adalah banyaknya kalor yang diperlukan oleh suatu zat bermassa 1 kg untuk
menaikkan suhu 10C. Kalor jenis beenda biasanya bergantung pada suhu. Jika suatu benda menerima
atau melepaskan kalor maka suhu benda itu akan naik atau turun atau wujud benda berubah.
(Anonymous, 2010).

.1 Pengertian Kalor Jenis


Kalor jenis suatu benda memiliki massa yang berbeda beda tergnatung pada energi panas
yang dimiliki oleh benda tersebut. Kalor jenis adalah banyaknya kalor yang harus diberikan agar suatu zat
yang massanya 1 kg naik sebesar 1oC (Pikal, 2010).
Panas Jenis c adalah kapasitas panas per satuan massa :
c=C
m
(Tipler, 2010)
2.2 Pengertian Kalorimeter dan Gambar
Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor
yang terlihat dalam suatu reaksi. Kalorimeter juga digunakan untuk mengukur
kuantitas panas atau kalor, menentukan kapasitas panas dan panas suatu
zat. Kalorimeter berbanding ganda terdiri atas bejan logam berdinding tipis,
permukaan luarnya diberi lapisan nikel untuk mengurangi kehilangan panas
karena radiasi (Pikal, 2010).
Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk megukur kuantitas
panas atau kalor, menentukan panas jenis suatu zat. Bejana kalorimeter
mempunyai harga air atau sudah diketahui dan mempunyai tutup yang berlubang untuk tempat
termometer dan alat pengaduk.
(Rustam, 2010).
(GoogleImages, 2010)
2.3 Pengertian Termometer dan Gambar
Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu (temperatur), ataupun perubahan
suhu. Istilah termometer berasaldari bahasa Latin thermo yang berarti bahang dan meter yang berarti
untuk mengukur. Prinsip kerja termometer ada bermacam macam yang paling umum digunakan
termometer air raksa (Pikal, 2010).(GoogleImages, 2010)

Tiap sifat termometrik dapat digunakan untuk menetapkan suatu skala


temperatur dan membentuk sebuah termometer. Termometer air raksa yang
biasa, yang terdiri dari bola gelas dan pipa yang berisi sejumlah air raksa
tertentu. Bila air raksa dipanaskan dengan menyentuhkan termometer dengan
benda yang lebih panas, air raksa lebih memuai daripada gelas, dan panjang kolom air raksa bertambah.
Temperatur diukur dengan membandingkan ujung kolom air raksa dengan tanda tanda pada pipa gelas
(Tipler, 1998).
2.4 Prinsip Kerja Kalorimeter
Kalorimeter adalah alat untuk menentukan besarnya kalor jenis suatu zat. Prinsip kerja
kalorimeter didasarkan pada Azas Black :
Jika suatu benda yang suhunya berbeda didekatkan satu sama lain, maka suhu akhir
benda akan sama.
Jumlah kalor yang diterima sama denga kalor yang diberikan.
Secara ideal, tidak mungkin terjadi perpindahan kalor yang diberikan dari lingkungan sekitar ke
dalam sistem atau sistem ke lingkungan sekitar. Kondisi yang ideal itu, direalisasikan melalui rancangan
dan konstruksi kalorimeter yang baik. Kalorimeter tersusun dari sebuah wadah yang terbuat dari logam
yang tahan lam, kaca atau bahan lainnya yang kuat yang biasanya dilingkupi oleh suatu bahan isolator
yang baik dari stereofoam, yang menghalangi perpindahan kalor. Wadah diisi dengan suatu materi yang
diketahui komposisi, suhu, dan tingkah laku termalnya. Benda yang akan diuji coba, dengan kandungan
termal yang belum diketahui, dimasukkan ke dalam wadah tersebut (Arga, 2010).
Metode metode dikembangkan untuk melakukan pengukuran jumlah panas yang meninggalkan
suatu benda secara kuantitatif, dan ditemukan bahwa bila dua benda dalam kontak termis, maka jumlah
panas yang meninggalkan satu benda sama dengan jumlah panas yang memasuki benda lain.
Penemuan ini digunakan sebagai prinsip kerja kalorimeter (Tipler, 1998).
2.5 Timbangan Digital
Timbangan digital adalah produk baru, canggih, sangat akurat dan meiliki banyak fungsi.
Menggunakan fungsi Load Cell yang akurat, mikroprocessor, dobel 16 digit lampu indikator, penghitung
berat, penghitung harga, auto zero tracking, set zero, clear, dan fungsi fungsi lainnya (Rustam,
2010).
Timbangan digital merupakan suatu alat yang digunakan untuk
mengetahui berat suatu benda dengan ketelitian 10 -2. Timbangan ini memiliki
banyak fungsi. Timbangan ini cocok untuk digunakan di toko, department
store, pasar makanan, laundry kiloan, Laboratorium Universitas, Pabrik dan
Industri (Rudy, 2009).

DAFTAR PUSTAKA
Alljabar. 2008. Kalor. http://aljabbar.wordpress.com. Diakses pada hari Senin, tanggal 11 Oktober 2010,
pukul 12.00 WIB.

Anonymous. 2010. Fluida dan Kalor. http://kambing.ui.ac.id. Diakses pada hari Senin, tanggal 11 Oktober
2010, pukul 12.00 WIB.
Arga.2010. Fisika. http://argametana.blogspot.com. Diakses pada hari Rabu, tanggal 6 Oktober 2010,
pukul 22.00 WIB.
Pikal, Alyas. 2010. Fisika Dasar (Kalaor Laten).http://alyaspikal.blogspot.com. Diakses pada hari Rabu,
tanggal 6 Oktober 2010, pukul 22.00 WIB.
Rudy. 2010. Fisika. http://timbangandigital.net. Diakses pada hari Rabu, tanggal 6 Oktober 2010, pukul
22.00 WIB.
Rustam. 2010. Fisika Dasar. http://rustamburu.blogspot.com. Diakses pada hari Rabu, tanggal 6 Oktober
2010, pukul 22.00 WIB.
Tipler, Paul A. 2010. FISIKA untuk Sains dan Teknik. Jakarta : Erlangga