BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dispepsia merupakan salah satu gangguan pada saluran pencernaan,khususnya
lambung. Dispepsia dapat berupa rasa nyeri atau tidak enak di perut bagian tengah
keatas. Rasa nyeri tidak menentu, kadang menetap atau kambuh. Dispepsia umumnya
diderita oleh kaum produktif dan kebanyakan penyebabnya adalah pola atau gaya
hidup tidak sehat. Gejalanya pun bervariasi mulai dari nyeri ulu hati, mual-muntah,
rasa penuh di ulu hati, sebah, sendawa yang berlebihan bahkan bisa menyebabkan
diare dengan segala komplikasinya.
Secara umum dispepsia terbagi menjadi dua jenis, yaitu dispepsia organik dan
dispepsianon organik atau dispesia fungsional. Dispepsia dapat disebut dispepsia
organik apabila penyebabnya telah diketahui secara jelas. Dispepsia fungsional atau
dispepsia non-organik, merupakan dispepsia yang tidak ada kelainan organik tetapi
merupakan kelainan fungsi dari saluran makanan.
Dispepsia merupakan salah satu masalah pencernaan yang paling umum
ditemukan. Dialami sekitar 20%-30% populasi di dunia setiap tahun.Data Depkes
tahun 2004 menempatkan dispepsia di urutan ke 15 dari daftar 50 penyakit dengan
pasien rawat inap terbanyak di Indonesia dengan proporsi 1,3%. Dispepsia yang oleh
orang awam sering disebut dengan sakit maag merupakan keluhan yang sangat
sering kita jumpai sehari hari. Sebagai contoh dalam masyarakat di negara negara
barat dispepsia dialami oleh sedikitnya 25% populasi. Di negara negara Asia belum
banyak data tentang dispepsia tetapi diperkirakan dialami oleh sedikitnya 20% dalam
populasi umum.
Pada ulkus peptik perbandingan laki-laki dan wanita 2 : 1. Insiden ulkus
meningkat pada usia pertengahan. Pada dispepsia fungsional, umur penderita
dijadikan pertimbangan, oleh karena 45 tahun ke atas sering ditemukan kasus
keganasan, sedangkan dispepsia fungsional diatas 20 tahun. Begitu pula wanita lebih
sering daripada laki-laki.
Dispepsia merupakan kumpulan gejalan atau sindrom yang terdiri dari nyeri
hulu hati, mual, kembung, muntah, atau cepat kenyang. Dispepsia merupakan masalah
yang sering ditemukan dalam praktek sehari-hari. Keluhan ini sangat bervariasi, baik
dalam jenis gejala yang ada maupun intensitas gejala tersebut dari waktu ke waktu.
Bahkan pada satu kasus saja keluhan ini dapat berganti-ganti dominasinya. Sebagai
suatu gejala ataupun kumpulan gejala sindrom dispepsia dapat disebabkan oleh
berbagai
penyakit,
baik
yang
bersifat
organik
(misalnya
tukak,
peptik,
gastritis,pankreatitis, kolesistitis dan lainya) maupun bersifat fungsional. Bedasarkan
konsensus terakir (kriteria roma) gejala heart bum atau pirosis, yang diduga karena
penyakit repluks gastreoesopageal, tidak dimasukan dalam sindrom dispepsia.
Melihat banyaknya penyakit dasar yang menunjukan gejala dalam bentuk
keluhan dispepsia, diperlukan suatu perhatian, pendekatan diagnostik yang baik,
terutama untuk menyingkirkan atau menegakan penyebab yang dapat menimbulkan
morbiditas yang berat bahkan kematian. Berbagai sarana penunjang dapat dipakai
untuk mencari penyebab dispepsia. Selain keadaan klinis yang ditunjang pemeriksaan
laboraturium dan radiologi, pemeriksaan endoskopi saluran cerna bagian atas
memegang
peran
yang
sangat
pentintg.
endoskopi(setelah evaluasi klinis lainya ).
Dari
pengalaman
pemeriksaan
B. Tujuan
a. Tujuan umum
Mampu mengetahui dan memahami patofisiologi dan asuhan keperawatan gangguan
penyakit dispepsia pada dewasa.
b. Tujuan khusus
1. Mengetahui dan memahami pengertian dispepsia
2. Mengetahui dan memahami anatomi dan fisiologi dispepsia
3. Mengetahui dan memahami etiologi dispepsia
4. Mengetahui dan memahami klasisifikasi dispepsia
5. Mengetahui dan memahami manifestasi klinis dispepsia
6. Mengetahui dan memahami komplikasi dispepsia
7. Mengetahui dan memahami patofisiologi dispepsia
8. Mengetahui dan memahami woc dispepsia
9. Mengetahui dan memahami pemeriksaan dignostik dispepsia
10. Mengetahui dan memahami penalataksanaan dispepsia
11. Mengetahui dan memahami pengkajian pada klien dispepsia
12. Mengetahui dan memahami diagnosa keperawatan pada klien dispepsia
13. Mengetahui dan memahami intervensi pada klien dispepsia
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. KONSEP PATOFISIOLOGI PENYAKIT DISPEPSIA
1. pengertian
Dispepsia merupakan sindrom atau kumpulan gejala atau keluhan yang terdiri
dari nyeriatau rasa tidak nyaman di ulu hati, kembung, mual, muntah, sendawa, rasa
cepat kenyang, perut rasa penuh atau begah.
Dispepsia berasal dari bahasa Yunani (Dys-), berarti sulit , dan (Pepse),berarti
pencernaan Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari
rasa tidak enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan.
Keluhan refluks gastroesofagus klasik berupa rasa panas di dada (heartburn) dan
regurgitasi asam lambung, kini tidak lagi termasuk dispepsia
Ada berbagai macam definisi dispepsia. Salah satu definisi yang dikemukakan
oleh suatukelompok kerja internasional adalah: Sindroma yang terdiri dari keluhan keluhan yang disebabkan karena kelainan traktus digestivus bagian proksimal yang
dapat berupa mual atau muntah, kembung, dysphagia, rasa penuh, nyeri epigastrium
atau nyeri retrosternal dan ruktus, yang berlangsung lebih dari 3 bulan. Dengan
demikian dispepsia merupakan suatu sindrom klinik yang bersifat kronik.
Dalam klinik tidak jarang para dokter menyamakan dispepsia dengan gastritis.
Hal ini sebaiknya dihindari karena gastritis adalah suatu diagnosa patologik, dan tidak
semua dispepsia disebabkan oleh gastritis dan tidak semua kasus gastritis yang
terbukti secara patologi anatomik disertai gejala dispepsia. Karena dispepsia dapat
disebabkan oleh banyak keadaan maka dalam menghadapi sindrom klinik ini
penatalaksanaannya seharusnya tidak seragam.
Pengertian dispepsi terbagi dua yaitu :
1.
Dispepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai
penyebabnya. Sindroma dispepsia organik terdapat kelainan yang nyata terhadap
organ tubuh misalnya tukak (luka) lambung, usus dua belas jari, radang pankreas,
radang empedu
2.
Dispepsia non organik atau dispepsia fungsional, atau dispesia non ulkus, bila
tidak jelas penyebabnya. Dispepsi fungsional tanpa disertai kelainan atau gangguan
struktur organ berdasarkan pemeriksaan klinis, laboratorium, radiologi, dan endoskopi
setelah tiga bulan dengan gejala dispepsia.
2. Anatomi & fisiologi
4
a. Anatomi
Lambung terletak oblik dari kiri ke kanan menyilang di abdomen atas tepat dibawah
diafragma. Dalam keadaan kosong lambung berbentuk tabung J, dan bila penuh
berbentuk seperti buah alpukat raksasa. Kapasitas normal lambung 1 sampai 2 liter.
Secara anantomis lambung terbagi atas funddus, korpus dan antrum pilorus. Sebelah atas
lambung terdapat cekungan kurvatura minor dan bagian kiri bawah lambung terdapat
kulvatura mayor. Sfingter kardia atau sfingter esofagus bawah mengalirkan makanan
yang masuk kedalam lambung dan mencegah refluks isi lambung memasuki esofagus
kembali. Lambung terdiri dari atas 4 lampisan yaitu :
1. Lapisan peritoneal luar yang merupakan lapisan serosa
2. Lapisan berotot yang terdiri atas 3 lapisan :
a)
Serabut longitudinal yang tidak dalam dan bersambung dengan otot esopagus
b) Serabut sirkuler yang paling tebal dan terletak di pylorus serta membentuk otot
sfingter yang berada dibawah lapisan pertama.
c)
Serabut oblik yang terutama dijumpai pada fundus lambung dan berjalan dari
orivisum kardiak, kemudian membelok kebawah melalui kurva tura minor
(lengkung kelenjar)
3. Lapisan submukosa yang terdiri atas jaringan areolar berisi pembuluh darah dan saluran
limfe
4. Lapisan mukosa yang terletak disebelah dala, tebal, dan terdiri atas banyak kerutan yang
menghilang bila organ itu mengembang karena berisi makanan. Ada beberapa tipe
kelenjar pada lapisan ini dan dikategorikan menurut bagian anatomi lambung yang
ditempatinya. Kelenjar kardia berada dekat orifisium kardia. Kelenjar ini mensekresikan
mukus.kelenjar fundus atau gastric terletak di fundus dan pada hampir seluruh korpus
lambung. Kelenjar gastric memilikitipe-tipe utama sel. Sel-sel zimognik atau chief cells
mensekresikan pepsinogen. Pepsingen diubah menjadi pepsin dalam suasana asam. Selsel parietel mensekresikan asam hidroklorida dan faktor intrinsik.
Faktor intrinsikn diperlukan untuk absorpsi vitamin B12 didalam usus halus.
Kekurangan faktor intrinsik akan mengakibatkan anemia pernisiosa. Sel-sel mukus (leher)
ditemukan dileher fundus atau kelenjar-kelenjar gastrik. Sel ini mensekresikan mukus.
Hormon gastrin diproduksi oleh sel G yang terletak pada pylorus lambung. Gastrin
merangsang kelenjar gastric untuk menghasilkan asam hidroklorida dan pepsinogen.
Substansi lain yang disekresikan oleh lambung adalah enzim dan berbagai eletrolit,
5
terutama ion-ion natrium, kalium,klorida.
Persyarafan lambung sepenuhnya otonom, suplai saraf parasinpatis untuk lambung
dan duodenum melalui saraf vagus. Trunkus vagus mempercabangkan ramus gastric,
pilorik, hepatik dan seliaka. Pengetahuan tentang anatomi ini sangat penting, karena
vagotomi selektif merupakan tindakan pembedahan primer yang penting dalam
mengobati luka duodenum.
Persyarafan simpatis adalah melalui syaraf splenikus major dan ganlia seliakum.
Serabut-serabut aferen mengantarkan inpuls nyeri yang dirangsang oleh peregangan, dan
dirasakan oleh daerah epigastrium. Serabut-serabut eferen simpatis menghambat gerakan
dan sekresi lambung. Pleksus saraf mesentrikus (auerbach) dan submukosa membentuk
persyaraf intrinsik dinding lambug dan menkordinasi aktivitas motoring dan sekresi
mukosa lambunng.
Seluruh suplai darah di lambung dan pankreas (serat hati,empedu,dan limpa) terutama
berasal dari daerah arteri seliaka atau trunkus seliaka yang mempercabangkan kulvatura
mayor. Dua cabang arteri yang pankreas tikoduodenalis yang berjalan sepanjang bulbus
posterior duodenum. Tukak dinding posterior duodenum dapat mengerosi arteria ini dan
menyebabkan perdarahan. Darah vena dari lambung dan duodenum, serta berasal dari
pankreas, limpa, dan bagian lain.
b. Fisiologi
1) Mencerna makanan secara mekanikal
2) Sekresi yaitu kelenjar dalam mukosa lambung mensekresi 1500-3000 ml gastric
juice
(cairan
lambung)
perhari.
Komponen
utamanya
yaitu
mukus,
HCL( hydrochloric acid) pensinogen, dan air. Hormon gastrik yang disekresi
langsung masuk kealiran darah.
3) Mencerna makanan secara kimiawi yaitu dimana pertama kali protein dirubah
menjadi polipeptida
4) Absorpsi secra minimal terjadi dalam lambung yaitu absopsi air, alkohol,
glukosa,dan beberapa obat
5) Pencegahan banyak mikroorganisme dapat dihancurkan dalam lambung oleh HCL
6) Mengontrol aliran chyime (makanan yang sudah dicerna dalam lambung) kedalam
duodenum. Pada saat chyime siap masuk kedalam duodenum.
3. Etiologi
a) Perubahan pola makan
b) Pengaruh obat-obatan yang dimakan secara berlebihan dan dalam waktu yang
lama
6
c) Alkohol dan nikotin rokok
d) Stres
e) Tumor atau kanker saluran pencernaan
4. Klasifikasi
Bedasarkan ada tidaknya penyebab dan kelompok gejala maka dispepsia terbagi
atas dispepsia organik dan dispepsia fungsional. Dikatakan dispepsia organik bila
penyebab dispepsia sudah jelas misal adanya ulkus peptikum, karsinoma lambung dan
kholelithiasis yang bisa ditemukan dengan mudah dan dikatan dispepsia fungsional
bila penyebabnya tidak diketahui atau tidak didapati kelainan pada pemeriksaan
gastroenterologi konvesional atau tidak ditemukannya kerusakan organik dan
penyakit-penyakit sistemik.
1. Dispepsia organik
Dispepsia organik baru bisa dipastikan bila penyebabnya sudah jelas yang dapat
digolongkan dispepsia organik yaitu :
a) Dispepsia tukak
Keluhan yang sering dirasakan ialah rasa nyeri pada hulu hati. Berkurang atau
bertambahnya nyeri ada hubungan dengan makanan, hanya dengan endoskopi
dan radiologi baru bisa dipastikan tukak dilambung atau duodenum.
b) Dispepsia bukan tukak
Keluhannya mirip dengan dispepsia tukak biasanya ditemukan pada gastritis
dan duodenitis, tetapi pada pemeriksaan endoskopi tidak ditemukan tandatanda tukak
c) Refluks gastroesofageal
Gejala yang sering ditemukan rasa panas didada dan regurgitasi masam,
terutama setelah makan
d) Penyakit saluran empedu
Sindroma dispepsia biasa ditemukan pada penyakit saluran empedu. Rasa
nyeri dari perut kanan atas atau hulu hati menjalar ke punggung dan bahu
kanan
e) Karsinoma
Karsinoma saluran cerna (esofagus,lambung,pankreas dan kolon) serimh
menimbulkan keluhan sindrom dispepsia
f) Pankreatitis
Rasa nyeri timbul mendadak dan menjalar kepunggung , perut terasa makin
tegang dan kembung
g) Dispepsia pada sindroma malabsorpsi
Pada penderita ini selain menderita nyeri perut,nausea,anoreksia sering flatus
dan kembung juga didapat diare profus yang berlendir
h) Gangguan metabolisme
Diabetes melitus dengan neuropati sering timbul komplikasi pengosongan
lambung yang lambat sehingga timbul nausea, vomitus, dan rasa cepat
kenyang
5. Manifestasi klinis
1) Nyeri perut (abdominal discomfort)
2) Rasa perih di ulu hati
3) Mual, kadang-kadang sampai muntah
4) Nafsu makan berkurang
5) Rasa lekas kenyang
6) Perut kembung
7) Rasa panas di dada dan perut
8) Regurgitasi (keluaran cairan dari lambung secara tiba-tiba)
6. Komplikasi
Komplikasi dari dispepsia yaitu lika pada lambung yang dalam atau melebar
tergantung beberapa lama lambung terpapar oleh asam lambung dan dapat
mengakibatkan kanker pada lambung.
7. Patofisiologi
Perubahan pola makan yang tidak teratur, obat-obatan yang tidak jelas,zat-zat seperti
nikotin dan alkohol serta adanya kondisi kejiwaan stres, pemasukan makanan menjadi
kurang sehingga lambung akan kosong, kekosongan lambung dapat mengakibatkan
erosi pada lambung akibat gesekan antara dinding-dinding lambung, kondisi demikian
dapat mengakibatkan peningkatan produksi HCL yang akan merangsang terjadinya
kondisi asam pada lambung, sehingga rangsangan di medulla oblongata membawa
impuls muntah sehingga intake tidak adekuat baik makanan maupun cairan.
8. Woc
DISPEPSIA
Dispepsi
organik
Dispepsi
fungsion
al
Kopi &
alkohol
stres
Perangsangan
saraf simpatis
Respon mukosa
lambung
Produksi HCL di lambung
Vaso dilatasi
mukosa gaster
mual
muntah
HCL kontak dengan
mukosa gaster
Eksfeliasi
(pengelupasan)
Nyeri epigastrium
Nyeri
b.d intasi pada
mukosa lambung
Kekurangan
volume cairan
b.d kehilangan
cairan aktif
9. Pemeriksaan diagnostik
Berbagai macam penyakit dapat menimbulkan keluhan yang sama seperti halnya pada
sindrom dispepsia , oleh karena dispepsia hanya merupakan kumpilan gejala dan
penyakit disaluran pencernaan, maka perlu dipastikan penyakitnya. Maka perlu
dilakukan beberapa pemeriksaan selain pengamatan jasmani, juga perlu diperiksa
laboraturium, radiologis, emdoskopi, USG, dan lain-lain.
a. Laboraturium
Pemeriksaan laboraturium perlu dilakukan lebih banyak ditekannkan untuk
menyingkirkan penyebab organik lainnya sepeti : pankreatitis kronik, diabetes
melitus, dan lainnya. Pada dispepsia fungsional biasanya hasil laboraturium
dalam batas normal.
b. Radiologis
Pemeriksaan radiologis banyak menunjang diagnosis suatu penyakit disaluran
makan. Setidak-tidaknya perlu dilakukan pemeriksaan radiologis terhadap
saluran makanan bahian atas, dan sebaiknya menggunakan kontras ganda
c. Endoskopi
Sesuai dengan definisi bahwa pada dispepsia fungsional, gambaran
endoskopinya atau sangat tidak spesifik
d. USG (ultrasonigrafi)
Merupakan diagnostik yang tidak invasif, akhir-akhir ini makin banyak
dimanfaatkan untuk membantu menentukan diagnostik dari suatu penyakit,
apalagi alat ini tidak menimbulkan efek samping, dapat digunakan setiap saat
dan pada kondisi klien yang berat pun dapat dimanfaatkan
e. Waktu pengosongan lambung
Dapat dilakukan dengan scitigafi atau dengan pallet radiopak, pada dispepsia
fungsional terdapat pengosongan lambung pada 30-40% kasus
10. Penalataksanaan
A. Penalataksanaan non farmakologis
1) Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung
2) Menghindari faktor resiko seperti alkohol, makanan yang pedas, obatobatan yang berlebihan, nikotin rokok dan stres
9
3) Atur pola makan
B. penatalaksanaan farmakologis
sampai saat ini belum ada regimen pengobatan yang memuaskan terutama
dalam mengantisipasi kekambuhan. Hal ini dapat dimengerti karena proses
patofisiologinya pun masih belum jelas.
Obat-obatan yang diberikan meliputi antacid (menetralkan asam lambung)
golongan antikolinergik (menghambat pengeluaran asam lambung) dan
prokinetik (mencegah terjadinya muntah).
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Identitas
Nama
:
Umur
:
Jenis Kelamin :
Alamat
:
b. Keluhan Utama
nyeri atau pedih pada epigastrium disamping atas dan bagian samping dada
depan epigastrium, mual, muntah dan tidak nafsu makan, kembung rasa
kenyang
c.
riwayat kesehatan dahulu
sering nyeri pada daerah epigastium, adanya stres sikologis , riwayat minum-
minuman beralkohol
d. riwayat kesehatan keluarga
adakah anggota keluarga yang lain juga pernah penderita saluran pencernaan
e. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum
Klien tampak lemah dan berbaring ditempat tidur , tingkat kesadaran klien
composmentis dengan GCS 4,5,6
Hasil TTV klien :
TD : 110/60 mmHg
N : 100 x/menit
R : 20 x/menit
S : 38
10
Data antropmetrik
BB : 50 kg
TB : 166 cm
LLA : 23 cm
BB : 58,5 kg
2. Kulit
Kulit tampak simetris, kebersihan kulit baik, kulit teraba agak lembab,
tidak terdapat lesi atau luka pada kulit, turgor kulit kembali kurang lebih 2
detik, kulit teraba hangat dengan suhu 38 c, warna kuning langsat.
3. Kepala dan leher
Tekstur kepala dan leher tampak simetris, kebersihan kulit kepala baik,
tidak ada terdapat ketombe, persebaran rambut merata, warna rambut
hitam, tidak ada benjolan pada kepala, pada leher tidak ada pembesaran
kelenjar tiroid dan kelenjar limfe, leher dapat digerakan kekanan dan
kekiri.
4. Penglihatan mata
Struktur mata tampak simetris, kebersihan mata baik, (tidak ada sekret
yang menempel pada mata) konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,
tidak ada kelainan pada mata seperti strabismus (juling) mata dapat
digerakan kesegala arah, tidak ada kelainan dalam penglihatan, klien tidak
menggunakan alat bantu penglihatan seperti kacamata.
5. Penciuman dan hidung
Struktur hidung tampak simetris, kebersihan hidung baik, tidak ada sekret
didalam hidung, tidak ada peradangan, perdarahan, dan nyeri, fungsi
penciuman baik (dapat membedakan bau minyak angin dan alkohol)
6. Pendengaran dan telinga
Struktur telinga simetris kiri dan kanan, kebersihan telinga baik, tidak ada
serum yang keluar, tidak ada peradangan, perdarahan, nyeri, klien
mengatakan telinganya tidak berdengun, fungsi pemdengaran baik (klien
dapat menjawab pertanyaan dengan baik tanpa harus mengulang
pernyataan ) klien tidak menggunakan alat bantu pendengaran
7. Mulut dan gigi
Struktur mulut dan gigi tampak simetris, mukosa bibir tampak kering,
kebersihan mulut dan gigi cukup baik, tidak terdapat peradangan dan
11
perdarahan pada gusi, lidah tampak bersih dan klien menggunakan gigi
palsu
8. Dada, pernapasan dan sirkulasi
Bentuk dada simetris, frekuensi nafas 20 x/menit tidak ada nyeri tekan
pada dada,klien bernafas melalui hidung tidak ada terdengar bunyi napas
tambahan seperti whezzing atau ronchi , CRT kembaili 3 detik.
9. Abdomen
Struktur abdomen simetris, abdomen tampak datar (tidak ada benjolan)
saat diperkusi terdengar bunyi hipertimpani. Klien mengatakan perutnya
terasa kembung, saat palpasi terdapat nyeri tekan, klien mengatakan nyeri
di daerah abdomen pada bagian atas. Klien mengatakan skala nyerinya 3
dan seperti ditusuk serta nyerinya bisa berjam-jam
10. Genitalia dan reproduksi
Klien berjenis laki-laki dan klien tidak ada keluhan atau gangguan pada
sistem reproduksi
11. Ektremitas atas dan bawah
Struktur ekstremitas atas dan bawah (kiri dan kanan) simetris tidak ada
kelainan bentuk pada tangan kanan terpasang inpus
f. Pemeriksaan Diagnostik
a. Laboraturium
Biasanya meliputi hidung jenis sel darah yang lengkap dan pemeriksaan
darah dalam tinja dan urine. Lebih berlimpah ditekankan buat
menyingkirkan penyebab organik lainnya diantaranya pankreatitis kronis,
DM. Pada dispepsia biasanya hasil laboraturium dalam batas normal
b. Barium enema buat memeriksa kerongkongan, lambung/ usus halus bisa
dikerjakan pada manusia yang mengalami kesulitan menelan muntah,
menurunnya berat badab/ mengalami nyeri yang membaik/ memburuk
kalau jika penderita makan.
c. Endoskopi
Biasa diperdayakan buat memeriksa kerongkongan, lambung / usus kevil
buat mendapatkan misalnya jaringan buat biopsy dari lapisan endoskopi
mewujudkan adalah pemeriksaan batu emas, selain sebagai diagnosis
sekaligus terapeutik.
Pemeriksaan yang bisa dikerjakan dengan endoskopi ialah
CLO (rapid urea test)
Patologi anatomi (Pa)
Kultur mikroorganisme (MO) jaringan
PCR (polymerase chain reaction) hanya dalam rangka penelitian.
12
d. Pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan radiologi, yaitu OMD
dengan kontras ganda, serologi helicobacter pylori, dan urea breath
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif
b. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung.
c. Ansietes berhubungan dengan perubahan status kesehatannya
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
NO
DIAGNOSA
1.
KEPERAWATAN
Kekurangan volume cairan
NOC
b.d kehilangan cairan aktif
Keseimbangan eletrolit
dan asam basa :
NIC
Pengkajian :
keseimbangan eletrolit dan
non elotrolit dalam
kompartemen intrasel dan
dan frekuensi
kehilangan cairan
Observasi khusus
ekstrasel tubuh
Keseimbangan cairan :
terhadap kehilangan
keseimbangan cairan dalam
eletrolit
Pantau perdarahan
Identifikasi faktor
kompartemen intrasel dan
Pantau warna, jumlah
ekstrasel tubuh
Hidrasi : keadekuatan
cairan yang tinggi
pengaruh terhadap
cairan yang adekuat dalam
bertambah buruknya
kompartemen intrasel dan
dehidrasi
Pantau hasil
ekstrasel tubuh
Status nutrisi : asupan
laboraturium yang
relevan dengan
makanan dan cairan :
jumlah makanan dan cairan
yang masuk kedalam tubuh
selama periode 24 jam
Tujuan dan kriteria evaluasi :
Kekurangan volume
cairan akan teratasi
dibuktikan oleh
13
keseimbangan cairan
Kaji adanya vertigo
atau hipotensi postural
Manajemen cairan
Pantau status
hidrasi
Timbang berat
badan setiap hari
keseimbangan eletrolit
dan pantau
dan asam basa ,
keseimbangan cairan
1.
2.
3.
4.
kecendrungan
Pertaruhkan
hidrasi yang adekuat
Keseimbangan eletrolit
keakuratan catatan
dan asam basa akan
haluaran
asupan dan
dicapai yang dibuktikan
Penyuluh untuk
indikator sebagai
pasien/keluarga :
berukut :
Gangguan ekstren
Berat
Sedang
Ringan tidak ada
Anjurkan pasien untuk
gangguan
Pasien akan :
Memiliki
menginformasikan perawat
bila haus
Aktivitas kolaboratif :
Manajemen cairan
produk darah auntuk
konsentrasi urine
yang normal
Memiliki Hb dan Ht
bedasarkan haluaran
untuk pasien
Memiliki tekanan
vena sentral dan
pulmonal dalam
rentang normal
tranfusi bila perlu
Berikan ketentuan
penggantian nasogatrik
dalam batas normal
Atur ketersediaan
sesuai dengan
kebutuhan
Aktivitas lain :
Lakukan oral hygine
sesering mungkin
Tentukan jumlah
cairan yang masuk
dalam 24 jam hitung
asupan yang
diinginkan sepanjang
siang,sore,dan malam
Pastikan bahwa pasien
terhidrasi dengan baik
sebelum pembedahan
Ubah posisi pasien
trendelenburg atau
14
tinggikan tungkai
pasien bila hipotensi
kecuali
dikontradikasikan
Manajemen cairan :
tingkatkan asupan
oral jika perlu
pasangkan kateter
urine jika perlu
berikan cairan
sesuai dengan
kebutuhan
perawatan dirumah :
anjurkan pemberi
asuhan keluarga
tentang cara memantau
asupan
anjurkan pemberi
asuhan mengenai
tanda komplikasi
kekurangan volume
cairan dan kapan harus
menghubungi layanan
kesehatan
anjurkan pemberi
asuhan keluarga
tentang cara
memasang terapi
intravena jika
2.
nyeri epigastrium b.d iritasi
pada mukosa lambung
Pain level
Pain control
Comfort level
Kriteria hasil :
memungkinkan
Pain management
Lakukan pengkajian
nyeri secara
komprehensif
termasuk lokasi,
15
Mampu mengontrol nyeri
karateristik, durasi,
(tahu penyebab
frekuensi, kualitas dan
nyeri,mampu menggunakan
teknik nonfarmakologi
nonverbal dari ketidak
untuk mengurangi nyeri,
mencari bantuan)
Melaporkan bahwa nyeri
atau mengetahui
menggunakan manajemen
(skala,intensitas,frekuensi
dan tanda nyeri)
Menyatakan rasa nyaman
setelah nyeri berkurang
Tanda vital dalam rentang normal
nyamanan
Gunakan teknik
komunikasi terapeutik
berkurang dengan
nyeri
Mampu mengenai nyeri
faktor prespitasi
Observasi reaksi
pengalaman nyeri
pasien
Kaji kultur yang
mempengaruhi respon
nyeri
Evaluasi pengalaman
nyeri masa lampau
Bantu pasien dan
keluarga untuk
mencari dan
menemukan dukungan
Kontrol lingkungan
yang dapat
mempengaruhi nyeri
seperti: suhu ruangan,
pencahayaan dan
kebisingan
Kurang faktor
presipitasi nyeri
Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
Kaji tipe dan sumber
nyeri untuk
menentukan intervensi
Berikan analgetik
unttuk mengurangi
nyeri
16
Evaluasi keefektifan
kontrol nyeri
Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan
dokter jika ada
keluhan dan tindakan
nyeri tidak berhasil
Monitor penerimaan
pasien tentang
manajemen nyeri
Analgetik administration
Tentukan
lokasi,karateristik,
kualitas dan derajat
nyeri sebelum
pemberian obat
Cek instruksi dokter
tentang jenis obat,
dosis dan frekuensi
Cek riwayat alergi
Pilih analgesik yang
diperlukan atau
kombinasi dari
analgesik ketika
pemberian lebih dari
satu
Tentukan pilihan
analgesik tergantung
tipe dan beratnya nyeri
Tentukan analgesik
pilihan, rute pemberian
dan dosis optimal
Evaluasi efektivitas analgesik
3.
Ansietes berhubungan
Tingkat ansietas :
dengan perubahan status
17
tanda dan gejala
Pengkajian
kesehatannya
keparahan manifestasi
budaya yang menjadi
atau perasaan tidak tenang
penyebab ansietas
gali bersama pasien
tentang teknik yang
disentifikasi
Pengendalian diri terhadap
berhasil dan tidak
ansietas : tindakan personal
ansietas dimasa lalu
reduksi ansietas :
berhasil menurunkan
mengurangi perasaan
menentukan
khwatir, tegang atau
kemampuan
perasaan tidak tenang
pengambilan
akibat sumber yang tidak
keputusan pasien
dapat didentifikasi
Konsentrasi, kemampuan
untuk fokus pada stimulasi
yang tidak dapat
untuk menghilangkan atau
penyuluhan untuk pasien dan
keluarga :
tertentu
Koping : tindakan personal
tujuan yang realistis,
termasuk kebutuhan
yang memberi sumber-
untuk pengulangan
sumber individu
dukungan dan pujian
Tujuan / kriteria hasil :
terhadap tugas-tugas
Ansietas berkurang,
dibuktikan oleh tingkat
yang telah dipelajari
informasikan tentang
gejala ansietas
anjarkan anggota
ansietas hanya ringan
sampai sedang dan dan
buat rencana
penyuluhan dengan
untuk mengatasi stressor
kaji untuk faktor
kekwatiran , ketegangan,
yang muncul dari sumber
selalu menunjukan
keluarga bagaimana
pengendalian diri terhadap
membedakan anatara
ansietas, diri, koping
Menunjukan pengendalian
serangan panik dan
diri terhadap ansietas yang
dibuktikan oleh indikator
gejala penyakit fisik
penurunan ansietas :
sediakan informasi
factual menyangkut
diagnosis terapi dan
18
pragnosis
instrusikan pasien
tentang pengunnan
teknik relaksasi
jelaskan semua
prosedur termasuk
sensasi yang biasanya
dialami selama
prosedur
Aktivitas kolaboratif :
Penurunan ansietas :
berikan obat untuk
menurunkan asietas
jika perlu
Aktivitas lain :
Pada saat ansietas
berat, dampingi
pasien, bicara dengan
tenang dan berikan
ketenangan serta rasa
nyaman
Beri dorongan kepada
pasien untuk
mengungkapkan
secara verbal pikiran
dan perasaan untuk
mengenstralisasikan
ansietas
Bantu pasien untuk
menfokuskan pada
situasi saat ini sebagai
cara untuk
mengidentifikasi
mekanisme koping
19
yang dibutuhkan untuk
mengurangi ansietas
Dorong pasien untuk
mengekpresikan
kemarahan dan iritasi
serta izinkian pasien
untuk menangis
Penurunan ansietas :
Gunakan pendekatan
yang tenang dan
menyakinkan
Nyatakan dengan
jelas tentang harapan
terhadap perilaku
pasien
Damping pasien
untuk meningkatkan
keamanan dan
mengurangi rasa takut
Berikan pujutan
punggung, pijatan
leher jika perlu
Jaga peralatan
perawatan jauh dari
pandangan
Bantu pasien untuk
mengidentifikasi
situasi yang
mencetuskan ansietas
20
BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Dispepsia merupakan salah satu gangguan pada saluran pencernaan,khususnya
lambung. Dispepsia dapat berupa rasa nyeri atau tidak enak di perut bagian tengah
keatas. Rasa nyeri tidak menentu, kadang menetap atau kambuh. Dispepsia umumnya
diderita oleh kaum produktif dan kebanyakan penyebabnya adalah pola atau gaya
hidup tidak sehat. Gejalanya pun bervariasi mulai dari nyeri ulu hati, mual-muntah,
rasa penuh di ulu hati, sebah sendawa yang berlebihan bahkan bisa menyebabkan
diare dengan segala komplikasinya.
2. SARAN
Ramuan herbal untuk mengobati penyakit maag bisa dikembangkan lebih lanjut agar
bisa dikomsumsi masyarakat dengan mudah dan terjamin kualitasnya. Hal ini bisa
dilakukan oleh pabrik famasi atau pabrik jamu tradisional dengan mendaftarkan
ramuan herbal ke balai besar pengawasan obat dan makanan serta meningkatkan
proses pembuatan ramuan herbal secara higienis, bebas obat-obat kimia serta jelas
komposisinya. Kedepannya industri ramuan herbal bisa dilakukan uji klinis dengan
metode ilmiah untuk membuktikan adanya manfaat dari ramuan herbal serta mencari
seberapa aman ramuan tersebut dikomsumsi dalam jangka waktu lama.
21
DAFTAR PUSTAKA
Bare & Suzanne, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Volume 2, (Edisi8),EGC,
Jakarta
Carpenito, 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, (Edisi 2), EGC, Jakarta
Corwin,. J. Elizabeth, 2001, Patofisiologi, EGC, Jakarta
Doenges, E. Marilynn dan MF. Moorhouse, 2001, Rencana Asuhan Keperawatan, (Edisi III),
EGC, Jakarta.
Gibson, John, 2003, Anatomi dan Fisiologi Modern untuk Perawat, EGC, Jakarta
Guyton dan Hall, 1997, Fisiologi Kedokteran, (Edisi 9), EGC, Jakarta
Hinchliff, 1999, Kamus Keperawatan, EGC, Jakarta
Price, S. A dan Wilson, L. M, 1995, Patofisiologi, EGC, Jakarta
Sherwood, 2001, Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem, (edisi 21), EGC, Jakarta
22