Anda di halaman 1dari 11

BAB I

Pendahuluan

Salah satu prinsip dalam otonomi daerah adalah prinsip otonomi seluas-luasnya. Oleh
karena itu salah satu kewenangan yang dimiliki oleh daerah adalah kewenangan untuk
memungut pajak daerah. Kewenangan memungut pajak daerah ini telah diatur dalam UU
Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Undang-undang ini
berlaku pada tanggal 1 Januari 2010.

BAB II

Pembahasan

MEMAHAMI FUNGSI BPK, BPKP DAN INSPEKTORAT DI PEMERINTAH


INDONESIA
PENDAHULUAN
Undang-undang dasar 1945 telah menerapkan lembaga audit eksternal pemerintah
yang tugasnya sebagai Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Badaan ini berada diluar struktur
pemerintah karena itu berada dalam posisi setara dengan pemerintah. Fungsi utama BPK
adalah memeriksa tanggung jawab keuangan negara, yang secara operasional dijalankan oleh
pemerintah. Sedangkan tanggung jawab keuangan negara yang diaudit adalah pelaksanaan
anggaran penerimaan dan belanja negara (APBN).berdasarkan pasal 3 angka (1) nomor 15
tahun 2004 bahwa pmeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang
dilakukan oleh BPK meliputi seluruh unsur keuangan negara, kewenangan BPK cukup besar
sehingga terhadap hasil pmeriksaan yang dilakukan oleh aparat pengawasan internal
diwajibkan disampaikan kepada BPK dan hasil pemerikasaan tersebut dapat dimanfaatkan
oleh BPK dalam melakukan pemeriksaan pengelolaan keuangan oleh pemerintah. Jadi
tanggung jawab pemeriksaan laporan keuangan negara hanya dipegang oleh BPK, sedangkan
aparat pengawasan lainnya seperti BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan)
dan inspektorat hanya dapat melakukan pengawasan terhadap pembangunan. Jadi dapat
dikatakan bahwa BPK merupakan pengawas eksternal, sedangkan BPKP dan inspektorat
merupakan pengawas internal.
UU nomor 15 tahun 2004 tentang pemeriksaan pngelolaan dan taggungjawab keungan negara
menyatakan bahwa terdapat tiga jenis pmeriksaan yang dapat dilakukan oleh BPK, jenisnya
sebagai berikut.
1

Pemerikasaan keuangan
Pemeriksaan keuangan adalah pmeriksaan atas laporan keuangan pemerintah pusat
dan daerah. Penyataan ini dilakukan untuk memberikan penyatan opini tentang
tingkat kewajaran informasi yang di sajikan dalam laporan keuangan pemerintah
Pemeriksaan kinerja
Pemeriksaan kinerja adalah pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara yang
terdiri atas pemerksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta pemeriksaan aspek
efektivitas. Tujuannya adalah untuk mengindentifikasi hal-hal yang perlu menjadi
perhatian lembaga perwakilan. Adapun untuk pemerintah, pemeriksaan kinerja
dimaksudkan agar kegiatan yang dibiayai dengan keuangan negara atau daerah
diselenggarakan secara ekonomis dan efisien, serta memenuhi sasarannya secara
efektif.
Pemeriksaan dengan tujuan tertentu

Maksudnya adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan tujuan khusus yan tidak
termasuk didalam pemeriksaan keuangan dan pemeriksaan kinerja. Hal ini termasuk
pemeriksaan atas keuangan dan pemeriksaan investigasi.
Sementara itu, Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) merupakan
sebuah lembaga nondepartemen (LPND) yang berada dibawah dan tanggung jawab langsung
kepada presiden. BPKP diperlukan sebagai badan atau lembaga pengawas yang dapat
melaksanakan fungsinya secara leluasa tanpa mengalami kemungkinan hambatan dari unit
organisasi pemerintah yang menjadi objek pemeriksanya.
Tugas pokok BPKP yaitu (1) mempersiapkan perumusan kebijakan pengawasan
keuangan dan pembangunan, (2) menyelenggarakan pengawasan umum atas penguasaan dan
pengurusan keuangan dan (3) menyelengarakan pengawasan pembangunan. Berdasarkan PP
nomor 60 tahun 2008 sistem pengendalian internal pemerintah (SPIP), BPKP merupakan
aparat pengewas intarnal pemerintah (APIP)yang bertanggung jawab langsung kepada
preseden dan berwenang melakukan pengawasan intern terhadap akuntabilitas keuangan
negara atas kegiatan tertentu yang meliputi kegiatan yang bersifat lintas sektoral, kegiatan
kebendaharaan umum negara.
Inspektorat Jenderal sendiri dalam kementerian Negara Republik Indonesia adalah
unsur pembantu yang ada disetiap departemen atau kementerian yang mempunyai tugas
melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas dilingkungan departemen atau
kementeriannya. Tugas pokok Inspektorat yaitu menyelenggarakan pengawasan dilingkungan
departemen terhadap semua pelaksanaan tugas unsur departemen agar dapat berjalan sesuai
dengan rencana dan berdasarkan kebijakan menteri dan peratuaran perundang-undangan
berlaku, yang bersifat rutin maupun tugas pembangunan.
Kedudukan BPK hingga nilai-nilai dasar yang menjadi acuan bagi BPK untuk bekerja :
1. Kedudukan Badan Pemeriksa Keuangan
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) adalah badan yang memeriksa tanggung jawab
tentang keuangan Negara yang dalam pelaksanaan tugasnya bebas dan mandiri serta
tidak berdiri di atas pemerintahan
2. Tugas dan wewenang badan pemeriksa keuangan
Memeriksa tanggung jawab tentang keuangan Negara.
3. Keanggotaan Badan Pemeriksa Keuangan
Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan
memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh
presiden. Pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan dipilih dari dan oleh anggota.
4. Visi Badan Pemeriksa Keuangan
Terwujudnya BPK RI sebagai lembaga pemeriksa yang bebas dan mandiri,
professional, efektif, efisien dan modern dalam system pengelolaan keuangan Negara
yang dalam setiap kegiatannya: (1) memiliki pengendalian intern yang kuat; (2)

memiliki aparat pemeriksa intern yang kuat; dan (3) hanya diperiksa oleh satu aparat
pemeriksa eksternal.
5. Misi Badan Pemeriksa Keuangan
Mewujudkan diri menjadi auditor eksternal keuangn Negara yang bebas dan mandiri,
professional, efektif, efisien dan modern sesuai dengan praktik internasional terbaik,
berkedudukan di ibukota Negara dan ibukota disetiap provinsi, serta mampu
memberdayakan DPR, DPD, dan DPRD dalam melaksanakan fungsi pengawasannya
terhadap pemerintah pusat dan daerah untuk mewujudkan pemerintahan yang bebas
dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
6. Nilai nilai Dasar Badan Pemeriksa Keuangan
a. Independensi
BPK RI adalah lembaga Negara yang independen di bidang organisasi, legislasi
dan anggaran serta bebas dari pengaruh lembaga Negara lainnya.
b. Integritas
BPK RI menjunjung tinggi integritas dengan mewajibkan setiap pemeriksa dalam
melaksanakan tugasnya, menjunjung tinggi kode etik pemeriksa dan standar
perilaku professional.
c. Profesionalisme
BPK RI melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesionaisme pemeriksaan
keuangan Negara, kode etik, dan nilai-nilai kelembagaan organisasi.
FUNGSI BPKP:
Dalam melaksanakan tugas tersebut, Perwakilan BPKP menyelenggarakan fungsi:
1. Penyiapan rencana dan program;
2. Pelaksanaan pembinaan penyelenggaraan SPIP;
3. Pengawasan terhadap pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja daerah dan
pengurusan barang milik/kekayaan pemerintah daerah atas permintaan daerah;
4. Pengawasan atas penyelenggaraan tugas pemerintahan yang bersifat strategis dan/atau
lintas kementerian/lembaga/wilayah;
5. Pengawasan terhadap kegiatan kebendaharaan umum negara di wilayah kerjanya;
6. Pemberian asistensi penyusunan laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah;
7. Pemberian asistensi penyusunan laporan keuangan daerah;

8. Pemberian asistensi terhadap pengelolaan keuangan/daerah, BUMN/ BUMD, dan


kinerja instansi Pemerintah Pusat/Daerah/BUMN/BUMD;
9. Pengawasan terhadap badan usaha milik negara, badan-badan lain yang di dalamnya
terdapat kepentingan pemerintah dan badan usaha milik daerah atas permintaan
pemangku kepentingan, serta kontraktor bagi hasil dan kontrak kerja sama, dan
pinjaman/bantuan luar negeri yang diterima pemerintah pusat, sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan;
10. Evaluasi terhadap pelaksanaan good corporate governance dan laporan akuntabilitas
kinerja pada badan usaha milik negara, badan-badan lain yang di dalamnya terdapat
kepentingan pemerintah dan badan usaha milik daerah atas permintaan pemangku
kepentingan, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
11. Audit investigasi terhadap indikasi penyimpangan yang merugikan keuangan negara,
badan usaha milik negara, dan badan-badan lain yang di dalamnya terdapat
kepentingan pemerintah, pengawasan terhadap hambatan kelancaran pembangunan,
dan pemberian bantuan audit dalam rangka perhitungan kerugian keuangan negara
serta pemberian keterangan ahli kepada instansi penyidik dan instansi pemerintah
lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
12. Pelaksanaan analisis dan penyusunan laporan hasil pengawasan serta pengendalian
mutu pengawasan; dan
13. Pelaksanaan administrasi Perwakilan BPKP.

BPKP juga memiliki kegiatan-kegiatan yang meliputi:


1. Audit
2. Konsultasi, asistensi dan evaluasi
3. Pemberantasan KKN
4. Pendidikan dan pelatihan pengawasan

INSPEKTORAT JENDERAL
Adalah unsur pengawasan yang berada dibawah dan bertanggungjawab kepada
menteri. Tugas Menyelenggarakan pengawasan internal atas pelaksanaan tugas di lingkungan
Kementerian Keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Fungsi:

a. penyusunan kebijakan teknis pengawasan internal atas pelaksanaan tugas di


lingkungan Kementerian Keuangan;
b. pelaksanaan pengawasan internal atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian
Keuangan terhadap kinerja dan keuangan melalui audit, reviu, evaluasi, pemantauan,
dan kegiatan pengawasan lainnya;
c. pelaksanaan pengawasan untuk tujuan tertentu atas penugasan Menteri;
d. penyusunan laporan hasil pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan
Kementerian Keuangan; dan
e. pelaksanaan administrasi Inspektorat Jenderal.
Dasar hukum: Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2015 Tentang Kementerian Keuangan.

PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK PENDAPATAN PAJAK BAGI


PEMERINTAH KABUPATEN ATAU KOTA

SUMBER PENDAPATAN DAERAH


Menurut UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah yang telah diubah
terakhir dengan UU Nomor 12 Tahun 2008, sumber pendapatan daerah terdiri dari :
1. Pendapatan asli daerah (PAD)
2. Dana perimbangan
3. Lain-lain pendapatan daerah yang sah
Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan bagian dari pendapatan asli daerah
(PAD). Ketentuan terperinci mengenai pakan daerah dan retribusi daerah diatur melalui UU
Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Pelaksanaan secara teknik
undang-undang ini di daerah diatur lebih lanjut dengan peraturan daerah (perda).
PAJAK PUSAT DAN PAJAK DAERAH
Ditinjau dari kewenangan pemungut pajak, jenis pajak dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Pajak Pusat adalah pajak yang kewenangan pemungutannya berada pada pemerintah
pusat. Pajak yang tergolong jenis pajak ini adalah PPh, PPN, PPnBM, Bea Materai
dan Cukai.
2. Pajak Daerah pajak yang kewenangan pemungutannya berada pada pemerintah
provinsi maupun kabupaten atau kota. Kewenangan ini diatur melalui UU Nomor 28
Tahun 2009. Pajak daerah merupakan pungutan wajib yang dikenakan oleh
pemerintah daerah kepada penduduk yang mendiami wilayah yuridiksinya, tanpa
langsung memperoleh kontrasepsi yang diberikan oleh pemerintah daerah yang
memungut pungutan wajib yang dibayarkan tersebut.

STRUKTUR PENDAPATAN KABUPATEN ATAU KOTA DARI SUMBER PAJAK


Pada prinsipnya sumber pendapatan pemerintah kabupaten atau kota yang berasal dari
pajak daerah dikategorikan menjadi tiga sumber yaitu :
1. Penerimaan pajak dari bagi hasil pajak pusat.
2. Penerimaan pajak yang merupakan bagi hasil dari pajak provinsi.
3. Penerimaan pajak kabupaten atau kota yang berasal dari kewenangan untuk
memungutnya dan penerimaan pajak dari bagi hasil pajak pusat.
PENERIMA PAJAK YANG MERUPAKAN BAGI HASIL DARI PAJAK PROVINSI
UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menyebutkan
bahwa penerimaan pajak yang merupakan bagi hasil dari 5 jenis pajak provinsi terdiri atas :
1. Pajak Kendaraan Bermotor
2. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
3. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Kendaraan Bermotor
4. Pajak Air Permukaan
5. Pajak Rokok
Hasil penerimaan pajak provinsi tersebut sebagian diperuntukkan bagi kabupaten atau kota di
wilayah provinsi yang bersangkutan dangan ketentuan sebagai berikut.
1. Hasil penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan
Bermotor diserahkan kepada kabupaten atau kota sebesar 30%.
2. Hasil penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diserahkan kepada
kabupaten atau kota sebesar 70%.
3. Hasil penerimaan Pajak Rokok diserahkan kepada kabupaten atau kota sebesar 70%.
4. Hasil penerimaan Pajak Air Permukaan diserahkan kepada kabupaten atau kota
sebesar 50%.
Penerimaan Pajak Kabupaten Atau Kota Sesuai Kewenangan Untuk Memungutnya.
UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menyebutkan bahwa
yang termasuk pajak kabupaten atau kota, meliputi sebelas jenis pajak yang terdiri atas :
1. Pajak Hotel
10. Pajak Bumi dan Bangunan
2. Pajak Restoran
Perdesaan dan Perkotaan
3. Pajak Hiburan
11. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
4. Pajak Reklame
Bangunan
5. Pajak Penerangan Jalan
6. Pajak Mineral Bukan Logam dan Bantuan
7. Pajak Parkir
8. Pajak Air Tanah
9. Pajak Sarang Burung Wallet
Dengan demikian, apabila dibuat tabulasi maka sumber-sumber penerimaan daerah yang
berasal dari pajak akan terlihat sebagai berikut.
Dari Pajak Pusat

Dari Pajak Provinsi

Dari Pajak Kabupaten/Kota

Bagi hasil dari PPh Pasal 25,


Pasal 29 dan Pasal 21.
Diatur dalam UU Nomor 33
Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara
Pemrintah Pusat dan
Pemerintah Daerah.

Bagi hasil dari pajak yang


dipungut oleh provinsi
terhadap 5 jenis pajak.
Diatur dalam UU Nomor 28
Tahun 2009 tentang PDRD.

Pemungutan langsung
terhadap 11 jenis pajak
kabupaten atau kota.
Diatur dalam UU Nomor 28
Tahun 2009 tentang DPRD.

PERLAKUAN AKUNTANSI PENDAPATAN


Definsi Pendapatan
Definisi pendapatan adalah semua penerimaan rekening kas umum Negara/daerah
yang menjadi hak pemerintah dan tidak perlu di bayar kembali oleh pemerintah.
Pengakuan pendapatan
Pendapatan diakui sebagai penerimaan daerah berdasarkan dua dasar yaitu dasar kas
dan atas dasar akrual. Pendapatan (basis akrual) adalah hak pemerintah yang diakui sebagai
penambah nilai kekayaan neto.
Pelaporan Pendapatan
Menurut kerangka konseptualal penyajian laporan keuangan pemerintah di samping
disajikan dalam laporan keuangan utama pendapatan juga di jelaskan dalam catatan atas
laporan keuangan.penyajian ini meliputi penjelasa naratif atau rincian dari angka yang tertera
dalam laporan realisasi anggaran dan laporan arus kas.
Laporan Realisasi Anggaran
Laporan realisasi anggaran merupakaan salah satu kompnen laporan komponen pemerintah
yan menyajikan informasi tentang realisasi dan angaran entitas pelaporan secara tersanding
untuk periode tertentu.
Laporan Arus Kas
Laporan arus kas menyajikan informasi mengenai
1

Penerimaan dan pengeluaran kas selama periode tertentu yang di klasifikasikan


berdasarkan aktivasi oprasi, investasi asset non keuangan ,pembiayaan ,dan non
anggaran.
Penerimaan dan pengeluaran kas melalui kas umum neara/kas daerah selama periode
tertenttu.

Hubungan Laporan Realisasi Anggaran dan Laporan Arus Kas


Pada dasarnya penerimaan dan pengeluaran yang tercantum dalam laporan arus kas sama
dengan yang tercantum dalam laporan realisasi anggaran. Pendapatan, belanja dan
pembiayaan yang tercantum dalam laporan realisasi anggaran diakui berdasarkan penerimaan
dan pengeluaraan kas di Negara/daerah. Hal ini disebabkan basis yang dianut dalam
penyajian laporan realisasi anggaran yaitu basis kas.

Namun demikian, terdapat transaksi keuangan pemerintah yang menimbulkan penerimaan


dan pengeluaraan kas tetapi tidak dianggarkan yang disebut dengan transaksi non anggaran.
Artinya transaksi tersebut tidak tercantum dalam laporan realisasi anggaran.

Akuntansi Anggaran Pendapatan


Menurut komite standar akuntansi pemerintahan salah satu teknik yang digunakan adalah
akuntansi anggaran. Akuntansi anggaran diselenggarakan sesuai dengan struktur anggaran
yang terdiri atas anggaran pendapatan, belanja dan pembiayaan. Anggaran pendapatan
meliputi estimasi pendapatan yang dijabarkan menjadi alokasi estimasi pendapatan.
Akuntansi anggaran diselenggarakan pada saat anggaran disahkan, anggaran dialokasikan dan
anggaran direalisasikan. Pengesahaan anggaran ditandai dengan terbitnya Perda APBD.
Oleh karena itu, penyelenggaran akuntansi anggaran dilaksanakan pada satuan kerja
perangkat daerah dan bendahara umum daerah. Masing-masing memiliki tujuan sebagai
berikut :
1. Akuntansi di satuan kerja perangkat daerah (SKPD) bertujuan menghasilkan laporan
realisasi anggaran dan neraca.
2. Akuntansi di tingkat BUD bertujuan menghasilkan laporan arus kas.
Dengan demikian pendapatan kabupaten/kota yang berasal dari pajak dan bagi hasil
pajak merupakan informasi yang dihasilkan oleh SKPD untuk menyajikan laporan
realisasi anggaran dan informasi yang dihasilkan oleh BUD untuk menyajikan laporan
arus kas.
Pencatatan Alokasi Anggaran
Pada saat alokasi anggaran dituangkan dalam dokumen pelaksaanan anggaran (DPA-SKPD),
berarti satuan kerja perangkat daerah mempunyai kewajiban untuk menyetorkan pendapatan
ke BUD sebesar alokasi estimasi pendapatan yang dituangkan di DPA-SKPD.
Untuk itu jurnal pengalokasian dana berupa DPA-SKPD dicatat oleh SKPD dengan cara
mendebit estimasi pendapatan yang dialokasikan dan mengkredit utang kepada BUD dan
BUD dicatat dengan cara mendebit alokasi estimasi pendapatan dan mengkredit alokasi
aproriasi belanja.
Pencatatan Akuntansi Realisasi Pendapatan
Pendapatan diakui pada saat kas diterima pada rekening kas umum daerah. Penerimaan
pendapatan dapat dilakukan melalui bendahara penerimaan atau langsung disetor ke kas
daerah. Beberapa ketentuan umum mengenai akuntansi realisasi pendapatan adalah sebagai
berikut (KSAP,2007).
1. Apabila pendapatan langsung disetor ke kas daerah maka SKPD akan mengakui
adanya realisasi pendapatan dan penurunan utang kepada BUD. Transaksi ini dicatat
dengan mendebet utang kepada BUD dan mengkredit pendapatan.
2. Apabila pendapatan disetor melalui bendahara penerimaan, maka SKPD mendebit kas
di bendahara penerimaan dan mengkredit pendapatan yang ditangguhkan. Pendapatan

yang ditangguhkan mencerminkan adanya kewajiban bagi SKPD untuk menyetorkan


pendapatan tersebut ke rekening kas umum daerah. Pendapatan yang ditangguhkan
merupakan utang SKPD kepada BUD.
3. Apabila pendapatan tersebut disetorkan, maka SKPD mendebit utang kepada BUD
dan mengkredit pendapatan. Selanjutnya dilakukan jurnal balik atas penerimaan kas
yang semula ditampung dalam akun pendapatan yang ditangguhkan. Jurnal balik
dilakukan dengan mendebit pendapatan yang ditangguhkan dan mengkredit kas di
bendahara penerimaan.
4. BUD tidak melakukan pencataan pada saat kas diterima oleh bendahara penerimaan.
BUD melakukan pencatatan pada saat kas disetorkan dan diterima pada rekening kas
umum daerah, dengan mendebit kas di kas daerah dan mengkredit pendapatan sesuai
dengan jenisnya. Pada tanggal pelaporan perlu dilakukan rekonsiliasi pendapatan
antara SKPD dan BUD.
Akuntansi pendapatan dilaksanakan berdasarkan asas bruto yaitu dengan membukukan
penerimaan bruto dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah dikomopensasikan dengan
pengeluaran).
Koreksi Pengendalian Pendapatan
Dalam praktik, ada kalanya terdapat transaksi penerimaan pendapatan yang harus
dikembalikan. Atas transaksi pengendaliaan pendapatan ini maka harus dianalisis terlebih
dahulu sifat pengembalian tersebut apakah sifatnya norma berulang ataukah tidak berulang.
(KSAP,2007). Ketentutan umumnya adalah sebagai berikut :
1. Pengembalian yang sifatnya normal dan berulang (recurring) atas penerimaan
pendapatan pada periode penerimaan maupun pada periode sebelumnya dibukukan
sebagai pengurang pendapatan.
2. Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-recurring) atas
penerimaan pendapatan yang terjadi pada periode penerimaan pendapatan dibukukan
sebagai pengurang pendapatan pada periode yang sama.
3. Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-recurring) atas
penerimaan pendapatan yang terjadi pada periode penerimaan pendapatan dibukukan
sebagai pengurang pendapatan pada periode yang sama.
4. Koreksi dan pengendalian yang sifatnya tidak berulang (non-recurring) atas
penerimaan pendapatan yang terjadi pada periode sebelumnya dibukukan sebagai
pengurang ekuitas dana lancar pada periode ditemukannya koreksi dan pengembalian
tersebut.
Potensi Terjadinya Kekeliruan Perlakuan Akuntansi Pendapatan
Standar akuntansi pemerintahan (pada PP nomor 24 tahun 2005) maupun PP no 71 tahun
2010) mengatur mengenai perlakuan akuntansi untuk transaksi keuangan yang dilakukan
pemerintah. Untuk perlakuan akuntansi terkait dengan pendapatan terdapat beberapa hal yang
berpotensi mengakibatkan kekeliruan perlakuan akuntansi.
Tanjung (2008) menjelaskan bahwa menurut SAP, pendapatan diakui pada saat diterima pada
rekening kas umum daerah. Oleh karena itu, pendapatan yang diterma oleh kas bendahara
penerimaan pada SKPD belum dapat diakui ebagai pendapatan. Hal ini akan menimbukan
potensi persoalan pada pindah batas (cut off) akhir tahun, dimungkinkannya ada

ketidakkonsistenan anatara pendapatan yang disajikan di LRA SKPD dengan pendapatan


yang disajikan di LRA pemerintah daerhan setelah dikonsolidasi.

BAB III

Kesimpulan

Dengan adanya undang-undang pajak dan retribusi daerah potensi penerimaan daerah
kabupaten atau kota dari sumber pajak semakin besar, dapat berupa bagi hasil pajak pusat,
bagi hasil pajak provinsi dan pajak sesuai kewenangan kabupaten atau kota. SAP mengatur
tentang perlakuan akuntansi pendapatan yang meliputi pedoman tentang definisi elemen,
pengakuan, pengukuran dan penyajian. Namun demikian perlakuan akuntansi menurut SAP
masih berpotensi menimbulkan kekeliruan perlakuan terhadap penerimaan dari pajak
terutama karena perlakuan pendapatan yang diakui pada saat kas diterima dalam rekening kas
umum daerah.