Anda di halaman 1dari 15

KONSEP DASAR ILMU GIZI

Kelompok 4
Anggota:

1. Ratri Arseno
2. Sally Violeta Tamara
3. Santi
4. Sela Andela
5. Sisca Ayu Vamela

Dosen: Hannah Damanik, M. KM

KEMENTRIAN KESEHATAN PALEMBANG


POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG
D-IV KEPERAWATAN
2015

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pengertian ilmu gizi adalah segala ilmu yang mempelajari segala sesuatu
tentang makanan dalam hubungannya dengan kesehatan optimal. Kata gizi
berasal dari bahasa Arab ghizda, yang berarti makanan. Di satu sisi ilmu gizi
berkaitan dengan makanan dan di sisi lain dengan tubuh manusia (Almatsier,
2001).
Ilmu gizi merupakan salah satu disiplin ilmu yang sudah diakui, meskipun
masih dianggap sebagai bagian dari rumpun ilmu kesehatan masyarakat. Ilmu gizi
mula-mula hanya mencakup ruang lingkup yang sangat sempit, tetapi dalam
perkembangannya melebar meliputi suatu kawasan studi yang luas (Achmad,
2010). Karena ruang lingkupnya yang luas, bila dikaji pengertian ilmu gizi secara
lebih mendalam, ilmu gizi erat kaitannya dengan ilmu-ilmu agronomi, peternakan,
ilmu pangan, mikrobiologi, biokimia, faal, biologi molekular dan kedokteran.
Ilmu gizi mempunyai konsep dasar yang berbeda dengan disiplin ilmu
yang lain. Pengertian dari konsep dasar itu sendiri adalah merupakan suatu dasar,
ide atau bentuk dasar dari sesuatu. Konsep dasar dari ilmu gizi meliputi tentang
gizi dan ilmu gizi, zat-zat gizi apa yang biasa terkandung dalam makanan,
berbagai cara pengolahan pangan mulai dari penyediaannya, distribusi, konsumsi
makanan dan penggunaannya, bahan-bahan makanan yang biasa kita konsumsi,
dan keterkaitan konsumsi makanan dengan status gizi yang dimiliki oleh setiap
orang yang berbeda-beda.
Di dalam ilmu gizi terdapat dua komponen penting yang menjadi pusat
perhatian, ialah makanan dan kesehatan tubuh. Makanan mengandung zat-zat gizi
yang sangat diperlukan oleh tubuh untuk melakukan fungsi optimalnya, zat gizi
itu bisa berupa zat gizi makro maupun mikro. Sedangkan kesehatan tubuh bisa
dilihat dari status gizi yang dibedakan menjadi gizi buruk, kurang, baik, dan lebih.

Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui penjelasan dari konsep dasar ilmu gizi, yang
meliputi definisi, tujuan, prinsip, nutrisi penting bagi tubuh, dan penilaian
status gizi.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui pengertian ilmu gizi secara sempit dan luas dan ruang
lingkupnya.
b. Mengetahui pengertian zat gizi, pembagian zat gizi dan penjelasan
masing-masing zat gizi.
c. Mengetahui pengertian makanan dan pangan.
d. Mengetahui bahan makanan dan pembaginnya secara lebih terperinci.
e. Mengetahui pembagian status gizi yaitu status gizi buruk, kurang, baik,
dan lebih.
Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.

Apakah pengertian ilmu gizi?


Apakah tujuan dan prinsip mempelajari ilmu gizi?
Bagaimanakah nutrisi yang penting bagi tubuh manusia?
Bagaimanakah penilaian status gizi?

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian ilmu gizi


Ilmu gizi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makanan
dalam hubungannya dengan kesehatan optimal. Kata gizi berasal dari bahasa
Arab ghizda, yang berarti makanan. Di satu sisi ilmu gizi berkaitan dengan
makanan dan di sisi lain dengan tubuh manusia (Almatsier, 2001).
Ilmu gizi adalah suatu cabang pengetahuan yang khusus mempelajari
hubungan antara makanan yang kita makan dan kesehatan tubuh.
Ilmu gizi merupakan ilmu yang relatif baru. Pengakuan pertama ilmu gizi
sebagai cabang ilmu yang berdiri sendiri terjadi pada tahun 1926, ketika mary
Swartz Rose dikukuhkan sebagai profesor Ilmu Gizi pertama di Universitas
Columbia, new York, Amerika Serikat. namun, perhatian mengenai hal-hal yang
berkaitan dengan makanan sesungguhnya sudah terjadi sejak lama (Almatsier,
2001).
Ilmu gizi merupakan ilmu terapan yang mempengaruhi berbagai disiplin
ilmu dasar, seperti Biokimia, Biologi, Ilmu Hayati (Fisiologi), Ilmu Penyakit
(Pathologi) dan beberapa lagi. Jadi untuk menguasai ilmu gizi secara ahli, harus
menguasai bagian-bagian ilmu dasar tersebut yang relevan dengan kebutuhan ilmu
gizi (Achmad, 2010).
Pada mulanya ilmu gizi merupakan bagian dari ilmu kesehatan
masyarakat, tetapi kemudian mengalami pengembangan yang sangat pesat,
sehingga memisahkan diri dan menjadi disiplin ilmu sendiri. Namun demikian,
ilmu gizi masih dianggap tetap sebagai bagian dari rumpunan ilmu kesehatan
masyarakat (Achmad, 2010).
Ilmu gizi mula-mula hanya mencakup ruang lingkup yang sangat sempit,
tetapi dalam perkembangannya melebar meliputi suatu kawasan studi yang luas.
Definisi ilmu gizi mula-mula sebagai berikut: ilmu yang mempelajari nasib
makanan sejak ditelan sampai diubah menjadi bagian tubuh dan energi atau
diekskresikan sebagai zat sisa (Achmad, 2010).
Dari definisi ini dapat diperkirakan bahwa ilmu gizi berstandar kuat sekali
pada biokimia dan ilmu hayati (fisiologi). Tujuan akhir ilmu ini ialah mencapai,
memperbaiki dan mempertahankan kesehatan tubuh melalui konsumsi makanan.
Dalam pelaksanaan untuk mencapai tujuan ini, dirasakan bahwa ruang lingkup

studi terlalu sempit, dan dengan perhatian yang sempit itu, sukar untuk mencapai
tujuan akhir tersebut (Achmad, 2010).
Maka ruang lingkup studi ilmu gizi diperlebar dan diberi definisi yang
lebih luas, tetapi definisi ini menjadi makin kabur. Definisi sekarang menjadi:
ilmu yang mempelajari hal ikhwal makanan, dikaitkan dengan kesehatan tubuh.
Definisi inilah yang sekarang dipergunakan di Indonesia. Definisi ini
memungkinkan bergerak lebih luas di dalam mencapai tujuan ilmu gizi yang
tersebut diatas.
Didalam ruang lingkup studi ilmu gizi terdapat dua komponen penting
yang menjadi pusat perhatian, ialah makanan dan kesehatan tubuh. Ahli gizi harus
mendalami persoalan pangan dan soal kesehatan yang berkaitan dengan keadaan
makanan tersebut, tanpa harus menjadi ahli pertanian maupun ahli kesehatan
(dokter). Namun demikian, banyak ahli gizi yang berasal dari profesi dokter, dan
sekarang semakin bertambah jumlah ahli gizi yang berasal dari sarjana pertanian
(Achmad, 2010).
2. Tujuan ilmu gizi
a. Memberi energi (zat pembakar)
Karbohidrat, lemak dan protein, merupakan ikatan organik yang mengandung
karbon yang

dapat

dibakar

dan dibutuhkan

tubuh

untuk

melakukan

kegiatan/aktivitas.

b. Pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh (zat pembangun)


Protein, mineral dan air, diperlukan untuk membentuk sel-sel baru, memelihara,
dan menganti sel yang rusak.
c. Mengatur proses tubuh (zat pengatur)
Protein, mineral, air dan vitamin. Protein bertujuan mengatur keseimbangan air di
dalam sel,bertindak sebagai buffer dalam upaya memelihara netralitas tubuh dan
membentuk antibodi sebagai penangkal organisme yang bersifat infektil dan
bahan-bahan asing yang dapat masuk ke dalam tubuh. Mineral dan vitamin
sebagai pengatur dalam proses-proses oksidasi, fungsi normal sarafdan otot serta
banyak proses lain yang terjadi dalam tubuh, seperti dalam darah, cairan
pencernaan, jaringan, mengatur suhu tubuh, peredaran darah, pembuangan sisasisa/ ekskresi dan lain-lain proses tubuh.

3. Prinsip ilmu gizi


Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Masalah pangan dan gizi merupakan masalah
pokok yang mendasari seluruh kehidupan dan pembangunan bangsa. Antara

masalah pangan dan maslaah gizi tidak dapat dipisahkan karena merupakan
satu kesatuan yang saling terkait. Masalah ini adalah masalah yang harus
selalu mendapat perhatian lebih dari pemerintah dan semua warga negara.
Sebenarnya akar permasalahan pangan dan gizi sebenarnya adalah
kemiskinan/ekonomi. Semua masalah pangan dan gizi tersebut berpangkal
dari masalah kemiskinan/ekonomi yang kemudian berdampak pada aspek
kehidupan yang lain. Misalhnya ketidaktahuan akibat rendahnya tingkat
pengetahuan, ketidak pedulian (ignorance), distribusi bahan pangan yang
buruk, dan yang paling parah adalah trend Korupsi yang semakin
memiskinkan bangsa.
Berbicara tentang masalah pangan dan gizi berarti berbicara tentang ilmu
gizi. Kata gizi berasal dari bahasa Arab ghidza yang berarti makanan.
Menurut dialek Mesir, ghidza dibaca ghizi. Selain itu sebagian orang
menterjemahkan kata gizi dari bahasa Inggris nutrition menjadi nutrisi.
Namun yang resmi, baik dalam dokumen maupun aturan pemerintah
digunakan kata gizi. Berdasarkan kamus umum bahasa Indonesia BaduduZain, nutrisi lebih mengacu pada makanan ternak.
4. Nutrisi penting bagi tubuh
Zat gizi yang berbeda memiliki fungsi yang berbeda dalam tubuh. Dengan
memahami zat gizi, fungsi mereka dalam tubuh, dan sumber makanan dari
masing-masing zat gizi tersebut akan membantu Anda dalam menyiapkan
makanan dan snack seimbang untuk anak-anak Anda. Zat gizi diklasifikasikan
sebagai 'makro' atau 'mikro', berdasarkan jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh. Zat
gizi makro adalah karbohidrat, protein dan lemak. Zat gizi mikro adalah vitamin
dan mineral.
a. Zat Gizi Makro Untuk Pertumbuhan
Karbohidrat
1. Memberikan energi untuk beraktifitas dan
bermain
2. Berperan sebagai sumber energi utama,
sehingga protein dapat digunakan untuk
fungsi lain.
Protein

1. Mendukung pertumbuhan
2. Mendukung pemeliharaan dan perbaikan jaringan
Lemak
1. Menghasilkan energy
2. Membantu penyerapan beberapa vitamin
b. Zat Gizi Mikro Untuk Perkembangan
Vitamin
1. Membantu tubuh dalam menggunakan zat gizi makro
2. Membantu berbagai fungsi tubuh
Mineral
1. Diperlukan untuk berbagai fungsi tubuh
2. Dukungan zat gizi untuk pertumbuhan dan perkembangan
Protein
Protein membantu pemeliharaan dan pertumbuhan jaringan. Protein
membantu pembentukan enzim, hormon dan antibodi. Asupan protein
yang cukup sangat penting bagi anak Anda karena ia berada dalam fase
pertumbuhan yang cepat. Lihat tabel di bawah untuk Singapore
Recommended Daily Dietary Allowance untuk protein.
Protein terdiri dari asam amino. Asam amino biasanya diklasifikasikan
sebagai:
1. Asam amino esensial - tidak dapat disintesis dalam tubuh dan harus
dikonsumsi sebagai bagian dari makanan
2. Asam amino non-esensial - dapat disintesis dalam tubuh dari asam
amino lainnya yang berbeda.
5. Penilaian status gizi
1. Pengertian status gizi
Status Gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk
tertentu atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variable tertentu. Contoh:
Gondok merupakan keadaan tidak seimbangnya pemasukan dan pengeluaran
yodium dalam tubuh (Supariasa. IDN, 2002: 18).
Status Gizi merupakan ekspresi satu aspek atau lebih dari nutriture seorang
individu dalam suatu variabel (Hadi, 2002).
Status gizi adalah keadaan tubuh yang merupakan hasil akhir dari
keseimbangan antara zat gizi yang masuk ke dalam tubuh dan utilisasinya
(Gibson, 1990).

2. Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi status gizi


Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi status gizi seseorang adalah
lingkungan fisik, biologis, budaya, sosial, ekonomi, dan politik (Achmadi, 2009).
1. Kondisi fisik yang dapat mempengaruhi terhadap status pangan dan gizi suatu
daerah adalah cuaca, iklim, kondisi tanah, sistem bercocok tanam, dan
kesehatan lingkungan.
2. Faktor lingkungan biologi misalnya adanya rekayasa genetika terhadap
tanaman dan produk pangan. Kondisi ini berpengaruh terhadap pangan dan
gizi. Selain itu adanya interaksi sinergis antara malnutrisi dengan penyakit
infeksi yaitu infeksi akan mempengaruhi status gizi dan mempercepat
malnutrisi.
3. Lingkungan ekonomi. Kondisi ekonomi seseorang sangat menentukan dalam
penyediaan pangan dan kualitas gizi. Apabila tingkat perekonomian seseorang
baik maka status gizinya akan baik. Golongan ekonomi yang rendah lebih
banyak menderita gizi kurang dibandingkan golongan menengah ke atas.
4. Faktor lingkungan budaya. Dalam hal sikap terhadap makanan, masih banyak
terdapat pantangan, takhayul, tabu dalam masyarakat yang menyebabkan
konsumsi makanan menjadi rendah. Di samping itu jarak kelahiran anak yang
terlalu dekat dan jumlah anak yang terlalu banyak akan mempengaruhi asupan
zat gizi dalam keluarga.
5. Lingkungan sosial. Kondisi lingkungan sosial berkaitan dengan kondisi
ekonomi di suatu daerah dan menentukan pola konsumsi pangan dan gizi yang
dilakukan oleh masyarakat. Misalnya kondisi sosial di pedesaan dan perkotaan
yang memiliki pola konsumsi pangan dan gizi yang berbeda. Selain status gizi
juga dipengaruhi oleh kepadatan penduduk, ketegangan dan tekanan sosial
dalam masyarakat.
6. Lingkungan politik. Ideologi politik suatu negara akan mempengaruhi
kebijakan dalam hal produksi, distribusi, dan ketersediaan pangan.
3. Faktor-faktor yang membantu tercapainya status gizi yang baik
Ada beberapa faktor yang membantu tercapainya status gizi yang baik,
antara lain (Barasi, M.E, 2007: 90) :
1. Aktivitas fisik

Aspek ini mempertahankan kebutuhan energi dan nafsu makan, menjamin


asupan makanan yang adekuat, serta mempertahankan massa otot, yang
menunjang hidup mandiri dan kemampuan menyediakan makanannya sendiri.
2. Interaksi sosial
Hal ini mendorong orang untuk makan dan mempertahankan minat
mereka terhadap makanan.
3. Pemilihan makanan
Pemilihan makanan dari berbagai macam jenis, yang mencakup semua
kelompok makanan dalam jumlah yang sesuai.
4. Metode penilaian status gizi
Penilaian status gizi ada 2 macam, yaitu penilaian status gizi secara
langsung dan penilaian status gizi secara tidak langsung ( Supariasa. IDN, 2002:
18).
Penilaian Status Gizi secara Langsung
Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian, yaitu:
A. Antropometri
1. Pengertian
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia, ditinjau dari
sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam
pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan
tingkat gizi.
2. Penggunaan
Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan
asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan
fisik dan proporsi jaringan tubuh, seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.
3. Indeks Antropometri
Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi.
Kombinasi antara beberapa parameter disebut indeks antropometri. Beberapa
indeks antropometri yang sering digunakan yaitu:

a. Berat Badan Menurut Umur (BB/U)


Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran
massa tubuh. Berat badan adalah parameter antropometri yang sangat labil. Dalam
keadaan normal, dimana keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara
konsumsi dan kebutuhan gizi terjamin, maka berat badan berkembang mengikuti
pertambahan umur. Mengingat karakteristik berat badan yang labil, maka indeks
BB/U lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini (Current Nutrirional
Status).
b. Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)
Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan
pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal tinggi badan tumbuh seiring dengan
pertambahan umur.
c. Berat badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB)
Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan. Dalam
keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan
tinggi badan dengan kecepatan tertentu.
d. Lingkar Lengan Atas Menurut Umur (LLA/U)
Lingkar lengan atas memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot
dan lapisan lemak bawah kulit. Lingkar lengan atas berkolerasi dengan indeks
BB/U maupun BB/TB.
e. Indeks Massa Tubuh (IMT)
IMT merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang
dewasa yang berumur diatas 18 tahun khususnya yang berkaitan dengan
kekurangan dan kelebihan berat badan. IMT tidak dapat diterapkan pada bayi,
anak, remaja, ibu hamil dan olahragawan. Disamping itu pula IMT tidak bisa
diterapkan pada keadaan khusus (penyakit) lainnya, seperti adanya edema, asites
dan hepatomegali.
f. Tebal Lemak Bawah Kulit Menurut Umur
Pengukuran lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak bawah kulit
dilakukan pada beberapa bagian tubuh, misalnya pada bagian lengan atas, lengan

bawah, di tengah garis ketiak, sisi dada, perut, paha, tempurung lutut, dan
pertengahan tungkai bawah.
g. Rasio Lingkar Pinggang dengan Pinggul
Rasio Lingkar Pinggang dengan Pinggul digunakan untuk melihat
perubahan metabolisme yang memberikan gambaran tentang pemeriksaan
penyakit yang berhubungan dengan perbedaan distribusi lemak tubuh.
B. Klinis
1. Pengertian
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai
status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang
terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat
pada jaringan epitel seperti kulit, mata, rambut, dan organ-organ yang dekat
dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
2. Penggunaan
Penggunaan metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat. Survei
ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari
kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. Disamping itu digunakan untuk
mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik
yaitu tanda dan gejala atau riwayat penyakit.
Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi menjadi 3, yaitu:
A. Survei Konsumsi Makanan
1. Pengertian
Merupakan metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat
jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi.
2. Penggunaan
Dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada
masyarakat, keluarga, dan individu. Survei ini dapat mengidentifikasikan
kelebihan dan kekurangan zat gizi

B.Statistik Vital
1. Pengertian
Pengukuran status gizi dengan menganalisis data beberapa statistic
kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan
kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan
gizi.
2. Penggunaan
Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak
langsung pengukuran status gizi masyarakat.
C.Faktor Ekologi
1. Pengertian
Malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa
faktor fisik, biologis, dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia
sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi, dan lain-lain.
2. Penggunaan
Untuk mengetahui penyebab malnutrisi disuatu masyarakat sebagai dasar
untuk melakukan program intervensi gizi.
Faktor pemilihan metode penilaian status gizi
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih dan menggunakan
metode adalah sebagai berikut (Supariasa. IDN, 2002: 22):
1). Tujuan
Tujuan pengukuran sangat perlu diperhatikan dalam memilih metode,
seperti tujuan ingin melihat fisik seseorang, maka metode yang digunakan adalah
antropometri. Apabila ingin melihat status vitamin dan mineral dalam tubuh
sebaiknya menggunakan metode biokimia.
2). Unit Sampel yang Akan Diukur

Berbagai jenis unit sampel yang akan diukur sangat mempengaruhi


penggunaan metode penilaian status gizi. Jenis unit sampel yang akan diukur
meliputi individual, rumah tangga/keluarga dan kelompok rawan gizi.
3). Jenis Informasi yang Dibutuhkan
Pemilihan metode penilaian status gizi sangat tergantung pula dari jenis
informasi yang diberikan. Jenis informasi itu antara lain: asupan makanan, berat
dan tinggi badan, tingkatan hemoglobin dan situasi sosial ekonomi. Apabila
menginginkan informasi tentang asupan makanan , maka metode yang digunakan
adalah survei konsumsi. Dilain pihak apabila ingin mengetahui tingkat
hemoglobin maka metode yang digunakan adalah biokimia. Jika ingin
membutuhkan informasi tentang keadaan fisik seperti berat badan dan tinggi
badan, sebaiknya menggunakan metode antropometri. Begitu pula apabila
membutuhkan informasi tentang situasi sosial ekonomi sebaiknya menggunakan
pengukuran faktor ekologi.
4). Tingkat Realiabilitas dan Akurasi yang Dibutuhkan
Masing-masing metode penilaian status gizi mempunyai tingkat
reliabilitas dan akurasi yang berbeda-beda. Contoh penggunaan metode klinis
dalam menilai tingkatan pembesaran kelenjar gondok adalah sangat subjektif
sekali. Penilaian ini membutuhkan tenaga medis dan paramedis yang sangat
terlatih dan mempunyai pengalaman yang cukup dalam bidang ini. Berbeda
dengan penilaian secara biokimia yang mempunyai reliabilitas dan akurasi yang
sangat tinggi. Oleh karena itu apabila ada biaya, tenaga dan sarana-sarana lain
yang mendukung, maka penilaian status gizi dengan biokimia sangat dianjurkan.
5). Tersedianya Fasilitas dan Peralatan
Berbagai jenis fasilitas dan peralatan yang dibutuhkan dalam penilaian
status gizi. Fasilitas tersebut ada yang mudah didapat dan ada pula yang sangat
sulit diperoleh. Pada umumnya fasilitas dan peralatan yang dibutuhkan dalam
penilaian status gizi secara antropometri relatif lebih mudah didapat dibanding
dengan peralatan penentuan status gizi dengan biokimia.
6). Tenaga

Ketersediaan tenaga, baik jumlah maupun mutunya sangat mempengaruhi


penggunaan metode penilaian status gizi. Jenis tenaga yang digunakan dalam
pengumpulan dara status gizi antara lain: ahli gizi, dokter, ahli kimia, dan tenaga
lain. Penilaian status gizi secara biokimia memerlukan tenaga ahli kimia atau
analisis kimia, karena menyangkut berbagai jenis bahan dan reaksi kimia yang
harus dikuasai. Berbeda dengan penilaian status gizi secara antropometri, tidak
memerlukan tenags ahli, tetapi tenaga tersebut cukup dilatih beberapa hari saja
sudah dapat menjalankan tugasnya.
7). Waktu
Ketersediaan waktu dalam pengukuran status gizi sangat mempengaruhi
metode yang akan digunakan. Waktu yang ada bisa dalam mingguan, bulanan, dan
tahunan. Apabila kita ingin menilai status gizi disuatu masyarakat dan waktu yang
tersedia relatif singkat, sebaiknya dengan menggunakan metode antropometri.
8). Dana
Masalah dana sangat mempengaruhi jenis metode yang akan digunakan
untuk menilai status gizi. Umumnya penggunaan metode biokimia relatif mahal
dibanding dengan metode lainnya. Penggunaan metode disesuaikan dengan tujuan
yang ingin dicapai dalam penilaian status gizi.

DAFTAR PUSTAKA
http://ai-sopwatunnajah.blogspot.co.id/2011/11/makalah-konsep-dasar-ilmugizi.html
Moehji, Sjahmien. 1971. Ilmu Gizi. Palembang. ISBN.
2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta. Buku Kedokteran EGC.
http://dr-suparyanto.blogspot.co.id/2011/05/konsep-status-gizi.html