Anda di halaman 1dari 8

ANESTESI LOKAL

I. PENDAHULUAN
Anestetik lokal ialah obat yang menghasilkan blokade konduksi atau blokade lorong
natrium pada dinding saraf secara sementara terhadap rangsang transmisi sepanjang saraf, jika
digunakan pada saraf sentral atau perifer. Anestetik lokal setelah keluar dari saraf diikuti oleh
pulihnya konduksi saraf secara spontan dan lengkap tanpa diikuti oleh kerusakan struktur saraf.
(Sari, 2009)
Anestetik lokal menghilangkan penghantaran saraf ketika digunakan secara lokal pada
jaringan saraf dengan konsentrasi tepat. Bekerja pada sebagian Sistem Saraf Pusat (SSP) dan
setiap serabut saraf. Kerja anestetik lokal pada ujung saraf sensorik tidak spesifik. Hanya
kepekaan berbagai struktur yang dapat dirangsang berbeda. Serabut saraf motorik mempunyai
diameter yang lebih besar daripada serabut sensorik. Oleh karena itu, efek anestetika lokal
menurun dengan kenaikan diameter serabut saraf, maka mula-mula serabut saraf sensorik
dihambat dan baru pada dosis lebih besar serabut saraf motorik dihambat (Rochmawati dkk,
2009)

Sifat Anestetik Lokal yang Ideal

1. Poten dan bersifat sementara (reversibel)


2. Sebaiknya tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf secara permanen
(kebanyakan anestetik lokal memenuhi syarat ini).
3. Batas keamanan harus lebar, sebab anestetik lokal akan diserap dari tempat
suntikan.
4. Mula kerja harus sesingkat mungkin.
5. Masa kerja harus cukup lama, sehingga cukup waktu untuk melakukan tindakan
operasi, tetapi tidak sedemikian lama sampai memperpanjang masa pemulihan.
6. Zat anestetik lokal juga harus larut dalam air, stabil dalam larutan, dan dapat
disterilkan tanpa mengalami perubahan.
7. Harganya murah
(Rochmawati dkk, 2009)

Anestetik lokal dibagi menjadi dua golongan


1. Golongan ester (-COOC-) Kokain, benzokain (amerikain), ametocaine, prokain
(nevocaine), tetrakain (pontocaine), kloroprokain (nesacaine).
2. Golongan amida (-NHCO-) Lidokain (xylocaine, lignocaine), mepivakain (carbocaine),
prilokain (citanest), bupivakain (marcaine), etidokain (duranest), dibukain (nupercaine),
ropivakain (naropin), levobupivacaine (chirocaine).
(Sari, 2009)

MEKANISME KERJA
Obat bekerja pada reseptor spesifik pada saluran natrium (sodium channel), mencegah
peningkatan permeabilitas sel saraf terhadap ion natrium dan kalium, sehingga terjadi
depolarisasi pada selaput saraf dan hasilnya tak terjadi konduksi saraf. Mekanisme utama aksi
anestetik lokal adalah memblokade “voltage-gated sodium channels”. Membrane akson saraf,
membrane otot jantung, dan badan sel saraf memiliki potensial istirahat -90 hingga -60 mV.
Selama eksitasi, lorong sodium terbuka, dan secara cepat berdepolarisasi hingga tercapai
potensial equilibrium sodium (+40 mV). Akibat dari depolarisasi,, lorong sodium menutup
(inaktif) dan lorong potassium terbuka. Aliran sebelah luar dari repolarisasi potassium mencapai
potensial equilibrium potassium (kira-kira -95 mV). Repolarisasi mngembalikan lorong sodium
ke fase istirahat. Gradient ionic transmembran dipelihara oleh pompa sodium. Fluks ionic ini
sama halnya pada otot jantung, dan dan anestetik local memiliki efek yang sama di dalam
jaringan tersebut (Rochmawati dkk, 2009)
Fungsi sodium channel bisa diganggu oleh beberapa cara. Toksin biologi seperti
batrachotoxin, aconitine, veratridine, dan beberapa venom kalajengking berikatan pada reseptor
diantara lorong dan mencegah inaktivasi. Akibatnya terjadi pemanjangan influx sodium melalui
lorong dan depolarisasi dari potensial istirahat. Tetrodotoxin (TTX) dan saxitoxin memblok
lorong sodium dengn berikatan kepada chanel reseptor di dekat permukan extracellular. Serabut
saraf secara signifikan berpengaruh terhadap blockade obat anestesi local sesuai ukuran dan
derajat mielinisasi saraf. Aplikasi langsung anestetik local pada akar saraf, serat B dan C yang
kecil diblok pertama, diikuti oleh sensasi lainnya, dan fungsi motorik yang terakhir diblok
(Rochmawati dkk, 2009)
Teknik Pemberian Anestetik Lokal
- Anestesi permukaan
Digunakan pada mukosa / permukaan luka Dari sana berdifusi ke organ akhir sensorik
dan ke percabangan saraf terminal. Pada epidermis yang utuh (tidak terluka), maka anestetik
lokal hampir tidak berkhasiat karena anestetik lokal hampir tidak menembus lapisan tanduk.
- Anestesi infiltrasi
Disuntikkan ke dalam jaringan, termasuk juga diisikan ke dalam jaringan. Dengan
demikian selain organ ujung sensorik, juga batang-bataang saraf kecil dihambat.
- Anestesi konduksi
Disuntikkan di sekitar saraf tertentuyang dituju dan hantarn rangsang pada tempat
ini diputuskan.
Contoh : anestesi spinal, anestesi peridural, anestesi paravertebral.
- Anestesi regional intravena dalam daerah anggota badan
Aliran darah ke dalam dan ke luar dihentikan dengan mengikat dengan bantuan pengukur
tekanan darah dan selanjutnya anestetik lokal yang disuntikkan berdifusi ke luar dari vena dan
menuju ke jaringan di sekitarnya dan dalam waktu 10-15 menit menimbulkan anestesi.
Pengosongan darah harus dipertahankan minimum 20-30 menit untuk menghindari aliran ke luar,
sejumlah besar anestetik lokal yang berpenetrasi, yang belum ke jaringan. Pada akhir
pengosongan darah, efek anestetik lokal menurun dalam waktu beberapa menit (Rochmawati
dkk, 2009)

I. TUJUAN
• Mengetahui efek obat anestesi lokal.
• Mengetahui onset dan durasi obat anestesi lokal.
• Mengetahui fungsi adrenalin dalam anestesi lokal.
I. ALAT DAN BAHAN
 Hewan percobaan : marmut
 Bahan :
1. Lidocain
2. Adrenalin
 Alat :
1. Penggaris
2. Spidol
3. Gunting
4. Spuite 1 cc
5. Jarum pentul
6. Alat pengukur waktu

I. CARA KERJA
1. Rambut marmut pada bagian punggung digunting, diameter 1 cm, dilingkari dengan
spidol .
2. Awal respon marmut terhadap nyeri dievaluasi dengan cara jarum pentul ditusukkan pada
daerah yang sudah ditandai, sebanyak 5 kali, dengan intensitas yang sama.
3. Obat anestesi yang akan dicoba yaitu lidocain sebanyak 0,1 cc dan Adrenalin sebanyak
0,1 cc diambil dengan spuite 1 cc.
4. Secara Intradermal disuntikan pada daerah yang sudah ditandai.
5. Respon marmut terhadap nyeri seperti pada evaluasi awal diamati, setiap lima menit,
sampai 60 menit.
6. Jumlah tusukan yang tidak dirasakan oleh marmut dicatat pada tabel.

I. HASIL PENGAMATAN
Tabel Hasil Pengamatan
No Waktu Jumlah Tusukan yang
(menit) Tidak Dirasakan Sakit
1 0 0
2 5 5
3 10 5
4 15 5
5 20 5
6 25 5
7 30 5
8 35 5
9 40 5
10 45 5
11 50 5
12 55 5
13 60 5

II. PEMBAHASAN
Lidokain (Xilokain) adalah anestetik local yang kuat yang digunakan secara luas dengan
pemberian topical dan suntikan. Anestesi terjadi lebih cepat, lebih kuat, lebih lama dan lebih
ekstensif daripada yang ditimbulkan oleh prokain. Lidokain merupakan aminoetilamid. Lidokain
dapat menghambat sinyal nyeri sel saraf dengan mengeblok kanal Natrium dalam sel sehingga
dapat menginaktivasi sel saraf. Pada penggunaannya penambahan Epinefrin dapat mengganggu
proses absorbsi lidokain dengan demikian menjaga efek lidokain tetap lokal dan tidak meluas.
Fungsi epinefrin sendiri sebenarnya mengkontraksi otot polos vaskuler.
Pada praktikum ini dilakukan percobaan pemberian anestesi lokal (lidokain) yang
dikombinasi dengan adrenalin untuk mengentahui onset dan durasi dari obat tersebut. Pemberian
obat tersebut diberikan secara injeksi intradermal yaitu membentuk sudut sebesar 45° hali ini
dimaksudkan agar obat tersebut tidak langsung menuju aliran darah. Dari data pengamatan yang
diperoleh diketahui bahwa pada menit ke 5 semua tusukan yang tidak dirasakan sakit oleh
marmut. Hal ini menandakan obat anestetika ini sudah bekerja pada 5 menit pemberian. Sesuai
dengan teori vasokonstriktor seperti adrenalin menunda tranpor anestetika lokal ke luar dengan
demikian memperbesar jangka waktu kerja dan mengurangi toksisitas sistemik. (Mutschler,
1991).
Kerja anestesi lokal kombinasi lidokain dan adrenalin ini dapat dilihat melalui grafik yang
memplotkan jumlah tusukan yang tidak dirasakan oleh marmut dalam jangka waktu 60 menit.
Menurut literatur, lidokain memiliki potensi cepat dan lama kerja cepat (Marwoto, 2000).
Berdasarkan grafik dapat disimpulkan bahwa kombinasi lidokain dan adrenalin memberikan efek
anestesi yang lama, hal ini membuktikan pengaruh adrenalin terhadap ketersediaan hayati obat di
dalam jaringan. Adrenalin menjaga agar obat tidak terabsorpsi secara secara cepat, sehingga
masa kerja obat menjadi lebih lama.
Seperti diketahui bahwa untuk konduksi impuls saraf diperlukan ion natrium untuk
menghasilkan potensial aksi saraf. Efek samping lidokain biasanya berkaitan dengan efeknya
terhadap SSP, misalnya mengantuk, pusing, parestesia, kedutan otot, gang¬guan mental, koma,
dan bangkitan. Mungkin sekali metabolit lidokain yaitu monoetilglisin xilidid dan glisin xilidid
ikut berperan dalam timbulnya efek samping ini. Lidokain dosis berlebihan dapat menyebabkan
kematian akibat fibrilasi ventrikel, atau oleh henti jantung .

III. KESIMPULAN
1. Efek obat anestesi lokal menyebabkan analgesi sementara namun analgesi yang
komplit/penuh pada bagian-bagian tertentu dari tubuh.
2. Lidokain yang merupakan salah satu obat anestesi lokal golongan amida mempunyai
onset dan durasi yang pendek.
3. Adapun fungsi adrenalin dalam anestesi lokal yaitu sebagai vasokonstriktor yang
berfungsi untuk memperpanjang daya kerja anestetika lokal.

DAFTAR PUSTAKA
Marwoto. 2000. Perbandingan Mula dan Lama Kerja Antara Lidokain- Buvivakain dan
Buvivakain pada Block Epidural. http://www.mediamedika.net/archives/105. Diakses 6
Mei 2010
Mutschler,E.1991.Dinamika Obat edisi V.Bandung:ITB

Rochmawati, Anis. 2009. Makalah Tugas Farmakologi.


http://www.scribd.com/doc/30705426/29772928-Makalah-Tugas-Farmakologi-
i#source:facebook. Diakses 5 Mei 2010

Sari, Irma P. S. 2009. Anestetika Lokal. http://www.scribd.com/doc/19566098/. Diakses 5 Mei


2010

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI TOKSIKOLOGI II


ANESTESI LOKAL
KELOMPOK IV

I Nyoman Yudi Kurniawan (0808505029)


Wayan Ria Medisina (0808505030)
I Gede Dwija Bawa Temaja (0808505031)
Rico Pramana Sugiarto (0808505032)
Made Adi Wira Darma (0808505033)
Arry Andi Yastawa (0808505034)
Sang Made Teguh Sanjaya (0808505035)
Ida Bagus Putu Dharma Santosa (0808505036)
Ketut Gegel Yoga Widyadana (0808505037)
I Gusti Ketut Kusuma (0808505038)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2010