Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kelompok Remaja yaitu penduduk dalam rentang usia 10-19 tahun. Data
demografi menunjukkan bahwa remaja secara keseluruhan merupakan populasi
terbesar, sekitar seperlima penduduk di dunia adalah remaja dan sekitar 900 juta
berada di Negara berkembang, bahkan di wilayah Asia Pasifik dimana
penduduknya merupakan 60% dari penduduk dunia, seperlimanya adalah remaja
(Soetjiningsih, 2004), sedangkan di Indonesia menurut Biro Pusat Statistik (1999)
kelompok remaja sekitar 22% yang terdiri dari 50,9% remaja laki-laki dan 49,1%
remaja perempuan (Nancy, 2002).

Masa remaja merupakan masa pertumbuhan dalam berbagai hal, baik mental,
emosional, social dan fisik. Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja
menyebabkan perubahan dalam perilaku konsumsi. Remaja yang masih dalam
proses mencari identitas diri, seringkali mudah tergiur oleh modernisasi dan
teknologi. Hal ini karena remaja paling cepat dan efektif dalam penyerapan gaya
hidup konsumtif, baik dalam kebutuhan primer maupun sekunder (Suharto).

Salah satu masalah yang sering ditemukan pada remaja, terutama remaja putri
adalah anemia defisiensi Fe. Hal ini sebagai akibat bahwa remaja putri setiap
bulan mengalami haid yang tidak diimbangi dengan asupan gizi yang cukup.
Anemia akan mengakibatkan sel-sel tuubuh kekurangan oksigen yang
mengakibatkan fungsi jaringan/organ tidak optimal termasuk otak (Guyton, 1999).

Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 anemia 57,1 %
terjadi pada kelompok 10-14 tahun dan 48 % pada kelompok 15-44 tahun
(termasuk remaja). Di Jawa Barat dijelaskan bahwa prevalensi anemia gizi 71,5 %
terjadi pada wanita hamil, 69,5 % pada balita, sedangkan pada remaja sekitar 30
40 % (Dinkes Jabar, 2004). Di Kota Depok dilaporkan bahwa dari sepuluh
kelompok penyakit yang ditemukan di sekolah se Kota Depok pada SLTA/MA,
anemia merupakan penyakit tertinggi (44,5 %) namun demikian masalah ini
belum ditangani mengingat program penanganan masalah gizi masih terfokus
pada bayi, balita dan ibu hamil.
Anemia dipengaruhi dipengaruhi secara langsung oleh konsumsi makanan seharihari yang kurang mengandung zat besi, selain faktor infeksi sebagai pemicunya.
Anemia dapat terjadi pula karena peningkatan kebutuhan pada tubuh seseorang
seperti pada saat menstruasi, kehamilan, melahirkan, sementara zat gizi yang
masuk sedikit. Secara umum, konsumsi makanan berkait dengan status gizi. Bila
makanan yang dikonsumsi mempunyai nilai gizi yang baik, maka status gizi juga
baik, sebaliknya bila makanan yang dikonsumsi kurang nilai gizinya, maka dapat
menyebabkan kekurangan gizi. Selain itu, perilaku konsumsi makanan seseorang
dipengaruhi oleh faktor intrinsik, yaitu usia, jenis kelamin dan keyakinan, serta
faktor ekstrinsik, yaitu tingkat ekonomi, pendidikan, pengalaman, iklan, tempat
tinggal, lingkungan sosial dan kebudayaan (Suharto)

Kekurangan gizi pada akhirnya akan menurunkan kapasitas belajar pada anak dan
produktivitas kerja pada orang dewasa, atau menurunkan kualitas sumber daya
manusia (Depkes RI, 2005). Data dari Direktorat Kesehatan keluarga
menunjukkan bahwa 40% penyebab kematian ibu adalah perdarahan, dan telah
diketahui bahwa anwmia menjadi faktor resiko terjadinya perdarahan tersebut.
Haasil survei kesehatan nasional tahun 2001, prevalensi anemia pada ibu hamil
2

sebesar 42%. Jika dilihat dari siklusnya, ibu hamil yang menderita anemia dapat
diakibatkan karena anemia yang telah dideritanya sejak masih remaja. Sehingga
memerlukan upaya perbaikan sejak dini yang akan membawa dampak posistif
daripada intervensi yang dilakukan terlambat. Masalah kesehatan remaja secara
umum disebabkan oleh; kurang pengetahuan, sikap dan keterampilan remaja
akibat kurangnya penyampaian informasi, kurang kepedulian orang tua,
masyarakat dan pemerintah terhadap kesehatan remaja serta belum optimalnya
pelayanan kesehatan remaja.

Kualitas remaja sebagai generasi penerus ditentukan oleh berbagai upaya yang
dilakukan agar masa remaja dapat dilewati dengan baik. Pemahaman yang baik
tentang

remaja

baik

dalam

upaya

pencegahan

maupun

dalam

upaya

penanggulangan menjadi sangat penting untuk remaja sendiri, keluarga dan


masyarakat termasuk para ahli yang mencurahkan perhatiannya terhadap remaja
(Soetjiningsih, 2004). Perhatian pada kelompok umur ini sangat penting karena
kualitas generasi penerus ditentukan oleh berbagai upaya yang dilakukan agar
masa remaja dapat dilewati dengan baik (Marhaeni, 2004).

Keperawatan komunitas sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan


memiliki peranan strategis dalam meningkatkan partisipasi masyarakat khususnya
remaja dalam melaksanakan upaya-upaya kesehatan untuk mengatasi masalah
yang mereka hadapi. Upaya-upaya kesehatan dalam keperawatan komunitas lebih
difokuskan pada aspek promotif dan preventif untuk meningkatkan kemandirian
remaja dalam memelihara kesehatannya. Keperawatan komunitas memperlakukan
agregat remaja sebagai mitra kerja dalam berbagai upaya yang menunjang

kesehatan, oleh karena itu pelayanan keperawatan komunitas dikelola berdasarkan


sumber-sumber yang ada di masyarakat.

Model yang akan dikembangkan dalam asuhan keperawatan komunitas pada


aggregat lanjut usia dengan penyakit gastritis adalah model Community as
Partner. Model ini berfokus pada filosofi primary health care yang menjadi
landasannya. Model community as partner model didasarkan pada pendekatan
secara total untuk melihat suatu masalah dan model ini mendemonstrasikan
persamaan hubungan perawat dengan kelompok. Dalam model community as
partner ada dua faktor sentral yang menjadi fokus yaitu pertama, fokus pada
komunitas sebagai mitra (ditandai dengan roda pengkajian komunitas di bagian
atas dan menyatunya masyarakat sebagai intinya; dan kedua, penerapan proses
keperawatan dalam penanggulangan masalah yang ada di komunitas.

Melihat fenomena diatas, maka upaya mengatasi masalah kesehatan remaja


khususnya masalah anemia diperlukan upaya pemberdayaan masyarakat dengan
baik. Depkes RI (2002) mengemukakan bahwa pemberdayaan masyarakat
merupakan upaya memfasilitasi agar masyarakat mengenal masalah yang
dihadapi,

merencanakan

dan

melakukan

upaya

pemecahannya

dengan

memanfaatkan potensi setempat. Upaya kesehatan dengan memberdayakan


masyarakat merupakan ciri pelayan keperwatan komunitas, khususnya dalam
rangka mewujudkan remaja yang sehat, bebas anemia, memiliki kapasitas belajar
yang optimal dan pada akhirnya mereka mandiri.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum :
Memberikan gambaran praktek asuhan keperawatan komunitas pada agregat
remaja putri dengan masalah risiko anemia melalui pendekatan model
community as partner di Kelurahan Pancoran Mas Depok.

2. Tujuan Khusus :
a. Menguraikan hasil pengkajian pada aggregate remaja putri dengan risiko
anemia di Kelurahan Pancoran Mas Depok.
b. Merumuskan masalah keperawatan pada aggregat remaja putri dengan
risiko anemia di Kelurahan Pancoran Mas Depok.
c. Mengidentifikasi rencana tindakan keperawatan pada agregat remaja putri
dengan risiko anemia di Kelurahan Pancoran Mas Depok.

C. SISTEMATIKA PENULISAN
Laporan ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu: Bab I Pendahuluan yang berisikan
latar belakang, tujuan, dan sistematika penulisan. Bab II Tinjuan teoritis yang
meliputi definisi aggregate, konsep Model Community as Partner dan anemia.
Bab III Pelaksanaan asuhan keperawatan yang merupakan hasil penerapan Model
Community as Partner pada agregat remaja putri dengan risikoanemia di
Kelurahan Pancoran Mas Kota Depok yang terdiri dari pengkajian, diagnosa
keperawatan, rencana intervensi serta implementasi dan evaluasi. Bab IV
Pembahasan yang akan menjelaskan kesenjangan yang ditemukan dalam
pelaksanaan asuhan keperawatan pada agregat remaja putrid dengan risiko anemia
di Kelurahan Pancoran Mas serta pemecahan masalahnya. Bab V Penutup yang

berisikan kesimpulan dan saran-saran terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan


pada agregat remaja putrid dengan risiko anemia.

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

A.

PENGKAJIAN
Penerapan model Commmunity as Partner dalam pengkajian populasi/aggregat
remaja dengan resiko anemia :
1. Inti Komunitas
a. Demografi dan Sejarah
Sejarah terbentuknya komunitas, sejarah

tentang riwayat daerah yang

berhubungan dengan kejadian anemia pada remaja. Jumlah populasi


khususnya remaja dengan karakteristik umurnya dan jenis kelamin.
Metoda yang digunakan dalam mencari data ini adalah literatur review dari
laporan Puskesmas dan Kelurahan.
b. Statistik Penting
Angka kesakitan : meliputi jumlah remaja dengan anemia.
Metoda yang digunakan dalam mencari data ini adalah literatur review dari
laporan Puskesmas.
c. Etnisitas
1) Kegiatan di kelompok masyarakat dan remaja sesuai dengan budaya
yang dianut, apakah berpengaruh terhadap kejadian anemia, seperti
kebiasaan memasak, pola makan, menu makan.
2) Gaya hidup kelompok masyarakat terutama dalam pola makan, pola
pemanfaatan layanan kesehatan, pola penggunaan obat dan zat.
Sumber data dari keluarga yang mempunyai remaja dengan menggunakan
metoda kuisioner.
d. Nilai-nilai dan Kepercayaan

Agama, nilai dan kepercayaan yang dianut oleh keluarga terkait nutrisi
meliputi pantangan makanan dan keyakinan pada makanan, warisan
budaya/pola kebiasaan, pengaruh modernisasi pada gaya hidup terutama
pola makan. Sumber dari remaja dengan metoda kuisioner.

2. Sub Sistem
a. Lingkungan fisik
Hal-hal yang dikaji meliputi keadaan atau kondisi rumah, kebersihan dan
pemanfaatan lahan pekarangan sebagai sumber pemenuhan nutrisi, adanya
warung atau toko tempat menjual makanan dan sayuran, adanya peternakan
atau kolam ikan untuk pemenuhan nutrisi. Sumber data dari orangtua dan
lingkungan dengan menggunakan metode Winshild Survey.
b. Pelayanan Sosial dan Kesehatan
1) Fasilitas pelayanan kesehatan baik didalam maupun diluar komuniti:

Rumah sakit

Praktik dokter, bidan, perawat

Puskesmas termasuk program kesehatan yang ada

2) Pelayanan kesehatan khusus bagi remaja ( PKPR ) .


Fasilitas pelayanan social baik didalam maupun diluar communiti :

Counseling support services

Pelayanan khusus ( social worker )

Catatan :
Dari kedua tempat pelayanan tersebut , aspek aspek / data data yang perlu
dikumpulkan adalah sebagai berikut :

Pelayananya ( waktu , ongkos , rencana kerja )

Sumber daya ( tenaga , tempat , dana , & perencanaan )


8

Karakteristik pemakai ( penyebaran geografi , gaya hidup, sarana


Transportasi

Kecukupan dan keterjangkauan oleh pemakai dan pemberian pelayanan

Kebutuhan pelayanan seperti deteksi dini, konsultasi, pengobatan

c. Ekonomi
1) Karakteristik pendapatan keluarga / rumah tangga

Rata rata pendapatan keluarga / rumah tangga

2) Karakteristik pekerjaan
Sumber data dari responden melalui metode kuisioner.
d. Transportasi dan keamanan/keselamatan
Hal yang dikaji meliputi transportasi mencapai fasilitas kesehatan, kemudahan
mencapai akses kesehatan, kemudahan mendapat sumber makanan. Keamanan
makanan, akses terhadap bahan makanan. Sumber data dari responden, metode
yang digunakan adalah kuisioner dan Winshield Survey.
e. Politik dan Pemerintah
Apakah masyarakat terlibat dalam pembuatan keputusan dalam mengatasi
masalah, penyusunan program di masyarakat khususnya dalam penanganan
anemia pada remaja? Adakah bantuan dari pemerintah atau swasta dalam
mengatasi masalah anemia/masalah gizi contohnya program beras miskin.
Sumber data dari tokoh masyarakat dan Puskesmas melalui metode wawancara.
f. Komunikasi
Media komunikasi apa yang digunakan remaja dalam berkomunikasi dengan
keluarga dan teman sebayanya, pola komunikasi yang diterapkan. Sumber data
dari responden menggunakan metode kuisioner.

g. Pendidikan
Sarana pendidikan yang ada di wilayah, kegiatan penyuluhan bagi remaja terkait
masalah anemia. Sumber data dari remaja dan komunitas melalui metode
winshield survey dan kuisioner.
h. Rekreasi
Dimana tempat remaja berkumpul?
Apa saja bentuk rekreasi utama remaja?
Fasilitas untuk rekreasi apa yang anda lihat? Apakah bisa membantu dalam
pemenuhan nutrisi remaja?
Sumber data dari remaja dengan metode kuesioner dan melalui Winshield Survey.
3. Persepsi Penduduk
Bagaiamana persepsi masyarakat tentang anemia pada remaja ?
Bagaiamana persepsi remaja tentang anemia?
Masalah-masalah? (Tanyakan beberapa orang dari kelompok berbeda misalnya
tokoh masyarakat, kader kesehatan, tokoh formal, PKK dan ibu rumah
tangga ) tentang program penanggulangan masalah gizi yang dijalankan ,
hambatan, keuntungan dan kerugiannya.

DATA HASIL SURVEY


DATA INTI
a. Data Demografi
Tabel 1. Distribusi Frekwensi Remaja Berdasarkan Usia di RW 13 dan 14
Kelurahan Pancoran Mas Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok.
Oktober 2008 (n=43)
NO
USIA
1
10 13 Tahun
2
14 16 Tahun

JUMLAH
17
26
10

PERSENTASE
39,5%
60,5%

JUMLAH
Sumber : Survey Mahasiswa Tahun 2008

43

100%

Analisa : Tabel diatas menunjukkan bahwa remaja putri di RW 13 dan 14 Kelurahan


Pancoran Mas terbanyak pada usia antara 14-16 tahun sebesar 60,5%. Pada usia ini
remaja telah mengalami menstruasi, mempunyai kecenderungan melakukan diet agar
berat badannya ideal sehingga memerlukan pemantauan agar tidak mengalami anemia
akibat pola nutrisi yang tidak tepat.
Tabel 2. Distribusi Frekwensi Remaja Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua di RW
13 dan 14 Kelurahan Pancoran Mas Kecamatan Pancoran Mas Kota
Depok. Oktober 2008 (n=43)
NO
1
2
3
4
5
6
7

PEKERJAAN
Wiraswasta
Dagang
Buruh (Bangunan)
Buruh (Rumah Tangga)
Sopir
Karyawan Swasta
PNS
JUMLAH
Sumber : Survey Mahasiswa Tahun 2008

JUMLAH
14
4
12
5
2
5
1
43

PERSENTASE
32,5%
9,3%
27,9%
11,6%
4,7%
11,6%
2,3%
100%

Analisa : Tabel diatas menunjukkan jenis pekerjaan terbanyak orang tua remaja yaitu
wiraswasta. Dari pekerjaan ini dapat mempengaruhi pada penghasilan keluraga dalam
memenuhi kebutuhan keluarga terutama penyediaan bahan makanan yang bergizi.

b. Pola Nutrisi
Tabel 3. Distribusi Frekwensi Remaja Berdasarkan IMT (Indek Masa Tubuh) di
RW 13 dan 14 Kelurahan Pancoran Mas Kecamatan Pancoran Mas Kota
Depok. Oktober 2008 (n=43)
NO
IMT
1
Kurang
2
Normal
3
Lebih
JUMLAH
Sumber : Survey Mahasiswa Tahun 2008

11

JUMLAH
22
20
1
43

PERSENTASE
51,2%
46,5%
2,3%
100%

Analisa : Tabel diatas menunjukkan masih banyak remaja yang memiliki IMT yang
kurang yaitu sebesar (51,2%). Hal ini dapat disebabkan oleh pola makan dan asupan
makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhannya. Kekurangan asupan makanan (zat
gizi) ini dapat menyebabkan meningkatnya risiko anemia pada remaja.
Tabel 4. Distribusi Frekwensi Remaja Berdasarkan Pengetahuan Tentang Gizi di
RW 13 dan 14 Kelurahan Pancoran Mas Kecamatan Pancoran Mas Kota
Depok. Oktober 2008 (n=43)
NO
PENGETAHUAN
1
Baik
2
Cukup
3
Kurang
JUMLAH
Sumber : Survey Mahasiswa Tahun 2008

JUMLAH
23
16
4
43

PERSENTASE
53,4%
37,2%
9,3%
100%

Analisa : Tabel diatas menunjukkan bahwa pengetahuan remaja tentang gizi sudah
baik sebesar 53,4%. Tetapi masih ada pengetahuan remaja yang masih kurang 9,3%.
Pengetahuan remaja tentang gizi ini dapat mempengaruhi perilaku mereka dalam
memenuhi kebutuhan nutrisi.
Tabel 5. Distribusi Frekwensi Remaja Berdasarkan Frekuensi Makan di RW 13
dan 14 Kelurahan Pancoran Mas Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok.
Oktober 2008 (n=43)
NO
1
2
3
4

FREKWENSI MAKAN
Satu Kali
Dua Kali
Tiga kali
Empat kali
JUMLAH
Sumber : Survey Mahasiswa Tahun 2008

JUMLAH
1
12
27
3
43

PERSENTASE
2,3%
27,9%
62,8%
7%
100%

Analisa : Tabel diatas menunjukkan frekwensi makan remaja sudah baik yaitu 62,8%
sebanyak tiga kali. Tetapi masih ada remaja (2,3%) memiliki kebiasaan makan dalam
satu hari hanya satu kali. Hal ini akan mempengaruhi pada tidak terpenuhinya
kebutuhan nutrisi sehingga beresiko terjadinya anemia.

12

Tabel 6. Distribusi Frekwensi Remaja Berdasarkan Kelengkapan Jenis Makanan di


RW 13 dan 14 Kelurahan Pancoran Mas Kecamatan Pancoran Mas Kota
Depok. Oktober 2008 (n=43)
NO
JENIS MAKANAN
1
Lengkap
2
Tidak Lengkap
JUMLAH
Sumber : Survey Mahasiswa Tahun 2008

JUMLAH
14
29
43

PERSENTASE
32,6%
67,4%
100%

Analisa : Tabel diatas menunjukkan sebagian besar 67,4% remaja makan dengan jenis
makanan yang tidak lengkap. Walaupun dalam tabel 5 menunjukkan frekuensi makan
yang baik, remaja akan beresiko anemia apabila makanan yang dikonsumsi jenisnya
tidak lengkap, remaja lebih banyak makan sesuai dengan keinginan mereka, seperti
makan mie instan, bakso serta remaja kebanyakan tidak menyukai sayuran.
Tabel 7. Distribusi Frekwensi Remaja Berdasarkan Kebiasaan Sarapan Pagi di
RW 13 dan 14 Kelurahan Pancoran Mas Kecamatan Pancoran Mas Kota
Depok. Oktober 2008 (n=43)
NO
SARAPAN PAGI
1
Sarapan
2
Tidak Sarapan
JUMLAH
Sumber : Survey Mahasiswa Tahun 2008

JUMLAH
32
11
43

PERSENTASE
74,4%
25,6%
100%

Tabel 8. Distribusi Frekwensi Remaja Berdasarkan Alasan Tidak Sarapan Pagi di


RW 13 dan 14 Kelurahan Pancoran Mas Kecamatan Pancoran Mas Kota
Depok. Oktober 2008 (n=43)
NO
ALASAN
1
Takut Gemuk
2
Malas
3
Tidak Keburu
JUMLAH
Sumber : Survey Mahasiswa Tahun 2008

13

JUMLAH
3
5
3
11

PERSENTASE
27,3%
45,5%
27,3%
100%

Analisa : Tabel diatas menunjukkan masih ada remaja yang tidak memiliki kebiasaan
sarapan pagi yaitu sebesar (25,6%). Adapun yang menjadi alasan tidak sarapan pagi
kebanyakan karena malas dan yang lainnya karena takut gemuk serta tidak keburu.
Kebiasaan tidak sarapan pagi ini dapat menjadi factor resiko terjadinya anemia pada
remaja karena tidak terpenuhinya kebutuhan nutrisi. Hal ini akan berdampak pula
pada berkurangnya konsentrasi belajar saat di sekolah. Sarapan pagi merupakan salah
satu indikator dari keluarga sadar gizi. Selain itu, dalam Pedoman Umum Gizi
Seimbang (PUGS), sarapan pagi menjadi penting karena berkaitan dengan
produktivitas kerja. Bagi pelajar, sarapan pagi membantu konsentrasi belajar.
Tabel 9. Distribusi Frekwensi Remaja Berdasarkan Makanan Yang Paling Tidak
Disukai di RW 13 dan 14 Kelurahan Pancoran Mas Kecamatan
Pancoran Mas Kota Depok. Oktober 2008 (n=43)
NO
MAKANAN
1
Daging
2
Sayuran
3
Buah-buahan
JUMLAH
Sumber : Survey Mahasiswa Tahun 2008

JUMLAH
14
27
2
43

PERSENTASE
32,6%
62,8%
4,7%
100%

Analisa : Tabel diatas menunjukkan sebagian besar remaja tidak menyukai sayuran
(62,8%). Hal ini dapat meningkatkan resiko terjadinya anemia pada remaja, karena
kurangnya asupan nutrisi khususnya zat besi yang banyak terkandung dalam sayuran.
c. Pola Penyakit
Tabel 10. Distribusi Frekwensi Remaja Berdasarkan Riwayat Pernah Sakit (6
Bulan Terakhir) di RW 13 dan 14 Kelurahan Pancoran Mas Kecamatan
Pancoran Mas Kota Depok. Oktober 2008 (n=43)
NO
PERNAH SAKIT
1
Ya
2
Tidak
JUMLAH
Sumber : Survey Mahasiswa Tahun 2008

14

JUMLAH
13
30
43

PERSENTASE
30,2%
69,8%
100%

Tabel 11. Distribusi Frekwensi Remaja Berdasarkan Penyakit (6 Bulan Terakhir)


di RW 13 dan 14 Kelurahan Pancoran Mas Kecamatan Pancoran Mas
Kota Depok. Oktober 2008 (n=43)
NO
PENYAKIT
JUMLAH
PERSENTASE
1
Demam Berdarah
2
15,4%
2
Typoid
2
15,4%
3
Pusing
4
30,8%
4
Demam
2
15,4%
5
Batuk Pilek
3
23,1%
JUMLAH
13
100%
Sumber : Survey Mahasiswa Tahun 2008
Analisa : Tabel 10 dan 11 diatas menunjukkan dari 13 remaja yang pernah sakit dalam
6 bulan terakhir, Kebanyakan penyakit yang dideritanya yaitu pusing sebesar 30,8%.
Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya suplai oksigen akibat pola makan dan
asupan makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhannya. Dalam kondisi tersebut,
dapat mengarah pada terjadinya anemia.
Tabel 12. Distribusi Frekwensi Remaja Berdasarkan Gejala Yang Sering
Dirasakan di RW 13 dan 14 Kelurahan Pancoran Mas Kecamatan
Pancoran Mas Kota Depok. Oktober 2008 (n=43)
NO
GEJALA
1
Tidak Nafsu Makan
2
Lemah, letih, lesu
3
Tidak merasakan gejala
JUMLAH
Sumber : Survey Mahasiswa Tahun 2008

JUMLAH
13
18
2
43

PERSENTASE
30,2%
41,9%
4,7%
100%

Analisa : Tabel diatas memberikan gambaran bahwa banyak remaja yang telah
menunjukkan salah satu tanda anemia sebesar (41,9%). Hal ini meningkatkan resiko
terjadinya anemia pada remaja sehingga memerlukan perhatian untuk segera
ditangani.
Tabel 13. Distribusi frekwensi remaja Berdasarkan Suplemen Fe saat Menstruasi
di RW 13 dan 14 Kelurahan Pancoran Mas Kecamatan Pancoran Mas
Kota Depok. Oktober 2008 (n=43)
NO
1
Ya

SUPLEMEN Fe

JUMLAH
0
15

PERSENTASE

Tidak

JUMLAH
Sumber : Survey Mahasiswa Tahun 2008

43
43

100%
100%

Analisa : Tabel diatas menunjukkan bahwa semua remaja tidak mengkonsumsi Fe


saat menstruasi. Suplemen Fe ini penting untuk dikonsumsi untuk meningkatkan
kadar Hb dalam darah sebagai pengganti yang keluar pada saat menstruasi, apabila
tidak dapat menjadi faktor penyebab terjadinya anemia pada remaja.

DATA SUBSISTEM
LINGKUNGAN FISIK
Lingkungan perkampungan dekat dengan stasiun dengan dataran tinggi dan rendah
dengan jalan setapak yang terbuat dari semen. Lingkungan masih ada tanah lapang
dan pekarangan, sawah dan pemancingan. Tampak wilayah ada sumber yang bisa
dimanfaatkan untuk pemenuhan gizi masyarakat jika fungsinya dioptimalkan.
Wilayah kelurahan Pancoran Mas perkampungan yang tidak padat penduduk dengan
bentuk rumah petak dengan kondisi ventilasi yang kurang. Daerah terbuka terdapat
tempat olah raga sepak bola mini/bola voli dan terdapat empang yang tidak
dimanfaatkan serta didapatkan area hijau.

TRANSPORTASI
Transportasi yang digunakan dalam wilayah kelurahan Pancoran Mas dengan
menggunakan ojek/motor, becak dan kendaran umum, sedangkan untuk tujuan keluar
daerah dapat dengan mudah dijangkau karena dekat dengan stasiun kereta dan
terminal.

PELAYANAN KESEHATAN DAN SOSIAL

16

Terdapat praktek dokter yang biasa dimanfaatkan masyarakat apabila mereka sakit
selain ke Puskesmas Pancoran Mas yang jaraknya agak jauh. Belum ada kegiatan
masyarakat dalam rangka memperhatikan dan meningkatkan kesehatan remaja.

POLITIK DAN PEMERINTAHAN


Perhatian dari pemerintah pada kesehatan remaja belum tampak, prioritas program
yang ada masih terfokus pada kesehatan balita dan ibu hamil.
REKREASI
Pemanfatan waktu luang remaja lebih banyak mengobrol dengan temannya. Walaupun
di wilayahnya sudah ada fasilitas untuk olahraga tetapi tidak dimanfaatkan oleh
mereka.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN KOMUNITAS


Berdasarkan hasil pengkajian, muncul diagnosa keperawatan yang terkait dengan
masalah risiko anemia pada agregat remaja putri. Berikut adalah diagnosa
keperawatan beserta data yang menunjang diagnosa keperawatan yang muncul:

Data Fokus
Survei :
1.
IMT : 51,2% kurang
2.
Pengetahuan remaja
tentang gizi : 37,2%
cukup dan 9,3% masih
kurang
3.

Masalah
Risiko
gangguan
oksigenasi:
perfusi
jaringan pada kelompok
remaja putri di kelurahan
Pancoran Mas khususnya
di RW 13 dan 14

Pola makan
Frekuensi makan:
2,3 % satu kali
Kelengkapan jenis
makanan: 67,4% tidak
lengkap
Kebiasaan sarapan:
25,6% tidak sarapan
pagi
17

Kemungkinan Penyebab
1. Pola makan yang
tidak tepat
2. Asupan nutrisi
yang kurang
terutama zat besi

Suplemen Fe saat
menstruasi: 100% tidak
mengkonsumsi Fe saat
Menstruasi
Makanan yg tidak
disukai: 62,8% sayuran
4.

Pola penyakit
Gejala yg sering
dirasakan: 41,9% lemah,
letih, lesu dan 30,8%
pusing

C. PERENCANAAN
Tahap awal yang ditempuh dalam perencanaan program adalah melakukan
lokakarya mini dengan masyarakat, dimana hasil pengkajian dan analisis data
dipaparkan di masyarakat guna mendapat tanggapan dan usulan intervensi untuk
mengatasi masalah yang berasal dari masyarakat sendiri. Hal ini dilakukan supaya
masyarakat sadar akan permasalahan yang ada di wilayahnya dan tergugah untuk
mengatasinya secara mandiri oleh masyarakat.

Pada pelaksanaan intervensi keperawatan untuk mengatasi masalah risiko anemia


di Kelurahan pancoran Mas ini, perawat komunitas melakukan berbagai strategi
intervensi keperawatan komunitas yaitu partnership, proses kelompok, pendidikan
kesehatan, dan empowering serta intervensi asuhan keperawatan yang profesional.

a) Proses kelompok
Proses kelompok adalah suatu bentuk intervensi keperawatan komunitas yang
dilakukan bersamaan dengan masyarakat melalui pembentukan peer atau
sosial support berdasar kondisi dan kebutuhan masyarakat (Stanhope &

18

Lancaster, 2004; Hitchock, Schuber & Thomas, 1999). Perawat komunitas


dapat membentuk kelompok baru atau bekerja sama dengan kelompok yang
telah ada (Stanhope & Lancaster, 2002). Proses kelompok ini ditempuh
dengan membentuk kelompok remaja yang memiliki permasalahan yang sama
yaitu risiko anemia dengan harapan adanya kelompok dari-oleh-untuk
masyarakat yang memperhatikan kesehatan remaja di wilayahnya sehingga
dapat secara mandiri mengatasi masalah yang muncul pada populasi tersebut.
Sebagai suatu intervensi, kelompok bisa menjadi cost efficient treatment
dengan hasil terapeutik yang positif (Snyder & Lindquist, 2002).
Strategi intervensi dengan proses kelompok dapat memberikan pengaruh yang
positif meliputi ; 1) membangun harapan ketika anggota kelompok menyadari
bahwa ada orang lain yang telah menghadapi atau berhasil menyelesaikan
masalah yang sama; 2) universalitas, dengan menyadari bahwa dirinya tidak
sendiri menghadapi masalah yang sama; 3) berbagi informasi; 4) altruieme
dan saling membantu; 5) koreksi berantai atau berurutan, hubungan yang
paralel terjadi dalam kelompok dan dalam keluarga; 6) pengembangan tekhnik
sosialisasi; 7) perilaku imitatif dari pemimpin kelompok; 8) chatarsis, ketika
anggota belajar untuk mengekspresikan perasaan secara tepat; 9) faktor faktor
eksistensial ketika anggota kelompok menyadari bahwa hidup kadang tidak
adil dan setiap orang harus bertanggung jawab terhadap cara hidup yang telah
ditempuh (Yalom, 1983 dalam Hitchcock, Schubert & Thomas, 1999).

b) Pendidikan kesehatan
Pendidikan kesehatan adalah suatu kegiatan dalam rangka upaya promotif dan
preventif dengan melakukan penyebaran informasi dan meningkatkan motivasi
masyarakat untuk berperilaku sehat (Stanhope & Lancaster, 2004). Secara
19

umum pendidikan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan


mengurangi ketidakmampuan dan merupakan upaya untuk mengaktualisasikan
potensi kesehatan dari individu, keluarga, komunitas dan masyarakat (Nies &
McEwen, 2001).
Pendidikan kesehatan yang ditempuh dalam penanggulangan masalah risiko
anemia pada remaja putri adalah melakukan pendidikan kesehatan tentang
pencegahan dan perawatan anemia dan pendidikan kesehatan tentang deteksi
dini anemia serta melakukan kunjungan rumah untuk membina keluarga
dengan anak remaja putri.

c) Empowering
Empowering atau pemberdayaan adalah suatu kegiatan keperawatan
komunitas dengan melibatkan masyarakat secara aktif untuk menyelesaikan
masalah yang ada di komunitas, masyarakat sebagai subjek dalam
menyelesaikan masalah (Stanhope & Lancaster, 2004; Hitchock, Schuber &
Thomas, 1999). Pemberdayaan adalah keseluruhan upaya untuk meningkatkan
kontrol dalam pengambilan keputusan pada level individual, keluarga,
komunitas dan masyarakat (Nies & McEwen, 2001). Perawat dapat
menggunakan

strategi

pemberdayaan

untuk

membantu

masyarakat

mengembangkan keterampilan dalam menyelesaikan masalah, menciptakan


jejaring, negosiasi, lobbying, dan mendapatkan informasi untuk meningkatkan
kesehatan (Nies & McEwen, 2001).

Menurut Labonte (1994), terdapat lima area pemberdayaan yaitu :


interpersonal (personal empowerment), intragroup (small group development),
intergroup (komunitas), interorganizational (coalition building), dan political
20

action. Pemberdayaan dengan model multilevel seperti ini memungkinkan


perawat komunitas melakukan intervensi dalam cakupan mikro dan makro
(cakupan yang luas).

Strategi pemberdayaan masyarakat ini dilakukan dengan melakukan upaya


kesehatan masyarakat ditujukan kepada kelompok kader kesehatan agar peduli
pada kesehatan remaja dan pemberdayaan keluarga dalam merawat anak
remajanya. Masyarakat mencari sendiri permasalahan yang ada dimasyarakat
dan mencari solusi secara mandiri.

4. Partnership
Secara umum kemitraan didefinisikan oleh Departemen Kesehatan (2003)
sebagai hubungan kerja sama antara dua pihak atau lebih, berdasarkan
kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan (memberikan manfaat)
untuk mencapai tujuan bersama berdasarkan atas kesepakatan, prinsip dan
peran masing masing. Partnership atau kemitraan adalah suatu bentuk
kerjasama aktif antara perawat komunitas, masyarakat, maupun lintas sektor
dan program. Bentuk kegiatannya adalah kolaborasi, negosiasi dan sharing
dilakukan untuk saling menguntungkan (Stanhope & Lancaster, 2004;
Hitchock, Schuber & Thomas, 1999).
Selanjutnya strategi yang ditempuh disesuaikan dengan masalah dan intervensi
yang ditetapkan bersama masyarakat pada diagnosa keperawatan, berikut
uraiannya:

Diagnosa Keperawatan : Resiko terjadinya gangguan oksigenasi: perfusi


jaringan pada remaja putri di RW 13 dan RW 14 Kelurahan Pancoran Mas
21

Kecamatan pancoran Mas Kota Depok berhubungan dengan kurang pengetahuan


tentang pencegahan dan perawatan penyakit anemia.

Tujuan Umum : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 tahun, di


harapkan tidak terjadi kasus gangguan oksigenasi : perfusi jaringan pada remaja
putri di RW 13 dan RW 14 Kelurahan Pancoran Mas.

Tujuan Khusus : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 bulan


diharapkan :
1. Terlaksananya kegiatan kelompok remaja dalam rangka peningkatan
pengetahuan dan keterampilan remaja dalam mendeteksi dini anemia, upaya
pencegahan dan perawatan anemia.
2. Tersebarnya informasi tentang pencegahan dan perawatan penyakit anemia
melalui penyuluhan dan media pendidikan kesehatan (leaflet) kepada remaja
dan masyarakat.
3. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan dan keluarga
dalam pencegahan dan perawatan remaja dengan penyakit anemia.
4. Terbentuknya kerja sama lintas program dan lintas sektor dalam penyediaan
sarana dan prasarana terkait peningkatan pengetahuan kader kesehatan dan
mayarakat serta melakukan pembinaan terhadap kader kesehatan dan keluarga
dalam penanganan masalah anemia.

Perencanaan program dan strategi intervensi :


1) Proses kelompok
Strategi Intervensi :
a. Sosialisasi program kegiatan proses kelompok remaja dalam penanggulangan
masalah anemia pada remaja putri.
22

b. Pembentukan peer group yaitu kelompok remaja yang terdiri dari remaja
yang memiliki penyakit anemia maupun yang tidak memiliki penyakit anemia
namun berrisiko untuk mengalami anemia
c. Pelaksanaan

kegiatan

kelompok

remaja

dalam

upaya

peningkatan

pengetahuan, motivasi dan keterampilan remaja dalam menangani masalah


anemia.
2) Pendidikan Kesehatan
Strategi Intervensi :
a. Pembuatan dan pengembangan kurikulum Proses belajar Mengajar (PBM) di
komunitas terkait penanganan masalah anemia.
b. Pembuatan media untuk pendidikan kesehatan tentang pencegahan dan
perawatan penyakit anemia dalam bentuk leaflet, lembar balik, booklet dan
flipchart
c. Menyebarkan/mendistribusikan informasi dalam bentuk media (leaflet, brosur,
booklet) kepada remaj dan masyarakat pada kegiatan yang ada di masyarakat
seperti Pengajian remaja, Arisan dan lain lain.
d. Penyuluhan kesehatan kepada masyarakat dan aggregat remaja tentang
pencegahan dan perawatan penyakit anemia

3) Pemberdayaan Masyarakat
Strategi Intervensi :
Pemberdayaan Keluarga
a. Kunjungan rumah dalam rangka pengenalan fungsi peran keluarga dalam
pencegahan dan perawatan remaja dengan risiko anemia, peningkatan
pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam merawat kesehatan remaja.
b. Menginformasikan mekanisme rujukan perawatan kesehatan remaja, fasilitas
pelayanan kesehatan yang tersedia yang dapat digunakan oleh keluarga.
23

4) Kemitraan
Strategi Intervensi :
Melakukan kerjasama lintas program dengan Puskesmas, Pokjakes dan Dinas
Kesehatan terkait pengadaan media penyuluhan tentang kesehatan remaja.

24

BAB III
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
PADA KELOMPOK REMAJA PUTRI DENGAN RISIKO ANEMIA DI RW 13 DAN RW 14
KELURAHAN PANCORAN MAS KOTA DEPOK
No
1

Program
Proses
Kelompok

Pendidikan
Kesehatan

Kegiatan
Bentuk peer group
yg terdiri dari remaja
putri yang menderita
anemia maupun yang
berisiko anemia
Kegiatan kelompok
remaja

Tujuan kegiatan
Adanya kelompok dari-oleh- untukmasyarakat yang terdiri dari remaja
putri yang mengalami anemia
maupun yang beresiko mengalami
anemia sehingga dapat secara
mandiri mengatasi masalah yang
muncul pada populasi tersebut

Cara
Pelaksana
Hasil
Melibatkan
remaja Mahasisw dan 1. Terbentuknya satu
yang dengan sukarela kader
kelompok peer
menyediakan
diri
group di RW 13
menjadi
anggota
dan 14
kelompok
untuk
sharing
pengalaman
2. Terlaksananya
dan memotivasi peer
kegiatan kelompok
dalam mengatasi dan
sebanyak minimal
mencegah
masalah
2 x sebulan
anemia
Pembuatan
media Memberikan pemahaman kepada Metode dan teknik Mahasiswa
1. Tersedianya media
remaja dan masyarakat agar dapat penyuluhan yang dapat
pendidikan
pendidikan
pencegahan
dan digunakan
adalah
kesehatan dalam
kesehatan
tentang melakukan
perawatan
untuk
mencegah
anemia
ceramah,
tanya
jawab,
bentuk
leaflet,
anemia
pada
remaja
putri
dan
demontrasi
lembar
balik,
Penyebaran
media
tentang anemia
informasi: leaflet
2. Terlaksananya
Penyuluhan
kegiatan
kesehatan
ttg
penyuluhan
Pencegahan
dan
kesehatan
pada
penanganan anemia
remaja
dan
pada remaja
masyarakat
minimal
2
x
sebulan

PLAN OF ACTION

57

NO.

RENCANA KEGIATAN

TUJUAN

PJ

WAKTU

1.

Pembentukan Kelompok Peer Group


remaja untuk penanggulangan masalah
risiko anemia pada remaja putri

Terbentuknya kelompok
sebagai bentuk
pemberdayaan
masyarakat sehingga
memiliki pengetahuan
dan keterampilan serta
dapat membantu
menangani masalah
risiko anemia pada
remaja putri yang ada di
wilayahnya

Nadira

Novenber 2008

2.

Penyuluhan Kesehatan tentang


pencegahan dan perawatan penyakit
anemia

Terjadi peningkatan
pengetahuan peserta
tentang anemia

Nadira

3.

Penyebaran informasi tentang


Pencegahan dan Perawatan anemia
melalui leaflet

Tersebarnya leaflet
tentang pencegahan dan
perawatan anemia di
masyarakat

Nadira

4.

Kunjungan rumah untuk asuhan


keperawatan keluarga pada keluarga
dengan usia lanjut yang mengalami
gastritis

Terselesaikannya
masalah kesehatan di
keluarga binaan

Nadira

58

SUMBER
MEDIA

TEMPAT

DANA

Format POA

Wilayah RW 13
di Kel. Pncoran
Mas

Swadaya
masyarakat

Lembar balik,
leaflet

Tempat
Pelaksanaan di
RW 14

Mahasiswa

November
Desember 2008

Leaflet

Wilayah 13 dan
`14 di Kel.
Pancoran Mas

Mahasiswa

November
Desember 2008

Lembar balik,
leaflet,
Nursing kit,
ATK

Wilayah 13 dan
`14 di Kel.
Pancoran Mas

Mahasiswa

November 2008

Rancangan Budget Program Untuk 1 RW


1. Proses Kelompok (Peer Group)
a.Snack pertemuan

= Rp 70.000,-

: 10 x Rp. 5000,-

= Rp. 50.000,-

b.ATK pertemuan

= Rp. 20.000,-

2. Pendidikan kesehatan

= Rp. 560.000,-

a. Pengadaan media

= Rp. 400.000,-

b. Snack penkes
b. ATK penkes

: 20 x Rp. 5000,: 20 x Rp. 3000,-

= Rp. 100.000,-

= Rp. 60.000,-

3. Pemberdayaan Masyarakat

= Rp. 500.000,-

a. ATK

= Rp. 200.000,-

b. Transport kunjungan keluarga

= Rp. 300.000,-

4. Kemitraan

= Rp 250.000,-

Sosialisasi program

= Rp. 250.000,-

Total Biaya

38

= Rp.1.380.000,