Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN TENGAH SEMESTER

Acuan Perilaku Ekonomi dan Bisnis

DISUSUN OLEH :
Sovia Sola Gratia
1406611644

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS INDONESIA
2016

I.

Latar Belakang

Mata kuliah Acuan Perilaku Bisnis dan Ekonomi atau sering disingkat APEB adalah
mata kuliah wajib bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Kalau
di semester kemarin ada mata kuliah Manusia dan Masyarakat Indonesia (MMI) yang
bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengasah dan memunculkan
kepekaan terhadap lingkungan sosial dan budaya yang difokuskan pada interaksi sosial dan
norma dalam kehidupan bermasyarakat, Acuan Perilaku Bisnis dan Ekonomi (APEB)
membahas dalam scoop yang lebih sempit lagi dimana mata kuliah ini bertujuan
meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk menemukan dan memahami alasan dari
tindakan pengambilan keputusan ekonomi dan acuan yang dipercayai mendasari tindakan
tersebut. Pada dasarnya mata kuliah ini memiliki kesaamaan yakni membutuhkan proses
observasi langsung ke objek pengamatan agar mahasiswa lebih peka dan merasakan realita
sosial yang terjadi di lingkungan tersebut secara langsung.
Setiap minggunya kelas saya diberikan arahan untuk memudahkan kami
mewawancarai objek tersebut. Dalam pertemuan pertama dijelaskan bahwa setiap mahasiswa
harus memiliki satu objek yang tetap yang nantinya dijadikan sebagai objek pengamatan tetap
selama satu semester. Pertemuan pertama diisi dengan pembahasan biografi dan film dari
Steve Job dan dari situ setiap mahasiswa diminta untuk mencari acuan Steve Job, tokoh
terkenal di balik kesuksesan produk Apple. Dari biografi dan film tersebut setiap dari
mahasiswa diharapkan semakin mengerti apa makna dari acuan perilaku seseorang untuk
memutuskan melakukan sebuah tindakan ekonomi dan bisnis.
Minggu selanjutnya kami diminta untuk sudah menemukan sebuah objek usaha yang
menarik untuk dijadikan sebagai objek APEB. Saya mengalami sedikit kesulitan dalam
menemukan objek yang hendak saya jadikan sebagai objek tetap pengamatan APEB saya
selama satu semester. Pada observasi yang pertama dan kedua saya sudah sempat menetapkan
beberapa objek dan yakni Whats Up Cafe, Dino Steak, ZOE Library Cafe dan Catering Via.
Di obervasi pertama saya mewawancarai pegawai dari Whats Up Cafe, Dino Steak dan ZOE
Library Cafe. Kebetulan pemilik dari ketiga usaha tersebut jarang mengunjungi usaha mereka
ini dan lebih mempercayakan pengawasan kegiatan operasional kepada manajer yang
bertugas di lokasi tersebut sehingga untuk lebih lanjut saya pasti menemukan kesulitan dalam
mencari acuan perilaku bisnis dari pemilik bisnis karena sulitnya mereka untuk ditemui serta

lokasi tempat tinggal mereka yang berada di luar Depok. Akhirnya pada observasi kedua saya
memutuskan untuk mengganti objek pengamatan saya menjadi Catering Via di Kutek dan
mewawancarai salah seorang mahasiswi FE yang dulu pernah tinggal di rumah Ibu Deli,
pemilik Catering Via. Setelah saya hubungi melalui SMS dan juga telepon untuk melakukan
wawancara lebih lanjut, Ibu Deli selaku pemilik objek tersebut hanya bersedia untuk
diwawancarai saat pagi hari sementara saya sendiri memiliki banyak jadwal kuliah pagi
sehingga pada akhirnya saya memutuskan untuk mengganti objek kembali dan memilih objek
yang dekat dengan wilayah tempat tinggal saya agar lebih mudah untuk saya observasi.
Dalam observasi ketiga saya, saya memilih Warung Mumtaz sebagai objek saya yang
lokasinya cukup dekat dengan wilayah tempat tinggal saya. Menurut saya Warung Mumtaz
termasuk usaha yang menarik karena di perjalanan usaha yang bisa dikatakan masih singkat,
Warung Mumtaz sebagai warung makan yang baru berdiri kurang lebih satu tahun mampu
bersaing dengan warteg-warteg yang sudah lebih dulu berdiri di daerah Kutek seperti Warteg
Shinta dan Warteg Sumber Rezeki. Slogan Feeling Like Home yang terpampang di depan
warung juga membuat saya merasa warung ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Suasana
yang ditawarkan oleh Warung Mumtaz diciptakan sebegitu rupa mulai dari kebersihan
warung yang sangat terjaga serta cita rasa makanan yang sangat enak dengan variasi yang
juga tidak biasa membuat setiap penikmat merasakan suasana seperti di makan di rumah.
Warung Mumtaz merupakan usaha pertama yang dimiliki oleh pasangan Mas Riza
dan Mba Tati. Pasangan ini belum lama menikah dan saat ini Mas Riza berumur 30 tahun dan
istrinya Mba Tati berumur 29 tahun. Keduanya lahir dan besar di Jakarta. Orangtua mereka
dulunya lahir di daerah Jawa. Orangtua dari Mas Riza berasal dari Kediri dan orangtua Mba
Tati berasal dari Sragen tetapi kedua orangtua dari mereka sendiri sudah lama hijrah dan
hidup di Jakarta.
Memutuskan menjadi seorang pengusaha bukan hanya sekedar tuntutan dari diri
sendiri serta faktor ekonomi namun wirausaha sendiri sebenarnya sudah sangat akrab dengan
kehidupan mereka sehari-harinya. Orangtua dan juga saudara-saudara Mas Riza sendiri ratarata berkecimpung di bidang wirausaha meskipun bukan usaha kuliner. Berbeda dengan Mba
Tati yang memang orangtuanya merupakan juru masak catering di daerah Jakarta. Mas Riza
terakhir kali mengenyam pendidikan di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) sedangkan
Mba Tati terakhir menyelesaikan pendidikannya di Diploma-III dengan jurusan Bahasa
Inggris. Kalau di Laporan Observasi saya yang terakhir saya menuliskan bahwa Mas Riza
3

sebelum terjun ke usaha warteg ini bekerja di sebuah pabrik, saya ingin meralat di Laporan
Tengah Semester ini. Sebelum keduanya memutuskan untuk memulai usaha warung makan
ini, dulu Mas Riza bekerja di sebuah catering makanan di daerah Jakarta dan Mba Tati
bekerja di sebuah vendor alat-alat berat untuk pertambangan yang juga berlokasi di daerah
Jakarta. Itulah sedikit keterangan dari latar belakang mengenai objek APEB saya sendiri.
Untuk asal-usul usaha yang lebih terperinci, interaksi sosial objek terhadap lingkungan
sekitarnya akan saya jelaskan di bagian pembahasan.

II.

Pembahasan

Sebagai sebuah objek usaha yang melakukan tindakan bisnis dan ekonomi, tentu
pengambilan keputusan dalam setiap tindakan tersebut mendasar pasa sebuah acuan. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, acuan (n) memiliki pengertian sebagai (1) rujukan; referensi;
(2) pola dasar penafsiran yg ditetapkan terlebih dahulu. Sedangkan alasan (n) memiliki
pengertian (1) dasar; asas; hakikat: rasa kebangsaan adalah ~ yg kuat untuk menegakkan
negara; (2) dasar bukti (keterangan) yg dipakai untuk menguatkan pendapat (sangkalan,
perkiraan, dsb): tidak ada ~ yg kuat untuk menolak usul itu; (3) yg menjadi pendorong (untuk
berbuat): apa ~ nya sehingga dia berbuat demikian; (4) yg membenarkan perlakuan tindak
pidana dan menghilangkan kesalahan terdakwa. Untuk mencari acuan yang membuat Mas
Riza mendirikan usaha ini, terlebih dahulu saya akan membahas awal mula berdirinya usaha
ini dan juga interaksi-interaksi sosial yang terjadi di lingkungan mereka.
Setelah menamatkan pendidikan di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), Mas Riza
memutuskan untuk langsung bekerja tanpa melanjutkan kuliah terlebih dahulu karena
saudara-saudaranya sendiri pun tidak melanjutkan kuiah dan langsung bekerja di usaha orang
tua nya terlebih dahuu kemudian setelah beberapa tahun mengumpulkan modal yang cukup,
mereka mendirikan usaha baru. Mas Riza sendiri pada awalnya mendapatkan tawaran untuk
membantu temannya yang saat itu bekerja sebagai Event Organizer di kelurahan mereka.
Kebetulan Mas Riza diajak bekerja sama untuk menyediakan catering untuk makanan di
acara kelurahan tersebut. Lama kelamaan Mas Riza suka dengan pekerjaannya ini terutama di
bidang penyediaan catering dan sampai sebuah ketika Mas Riza mengajak catering yang
dimiliki oleh orang tua Mba Tati untuk bekerja sama dalam menyediakan makanan di sebuah
kecamatan. Dari situ Mas Riza bertemu dengan Mba Tati yang saat itu sedang berkuliah di
4

sebuah Politeknik. Perlahan Mas Riza mulai mencari pekerjaan dengan upah yang lebih
tinggi. Dari sinilah awal mula Mas Riza berkarir sebagai seorang karyawan di restoranrestoran dan cafe. Saat itu posisi Mas Riza sebagai waiter di sebuah cafe kecil, kemudian
dengan pengalaman demi pengalaman yang dia dapatkan Mas Riza mencoba ke cafe yang
lebih besar begitu seterusnya sampai pada akhirnya Mas Riza menjadi seorang waiter di
sebuah restoran mewah di daerah Dharmawangsa Blok M. Menjadi kutu loncat dari cafe
yang satu ke cafe dan restoran yang lebih besar lagi ternyata membuat Mas Riza berpikir
bahwa upah yang ia dapatkan semakin besar karena usahanya dalam mencoba bekerja di
tempat yang lebih besar namun posisinya dalam tempat tersebut hanya sampai di posisi
waiter dan tak akan mungkin bisa naik menjadi juru masak ataupun manajer lokasi karena
keterbatasan tingkat pendidikan yang dimiliki oleh Mas Riza. Untuk mendapatkan
pendidikan yang lebih tinggi Mas Riza harus berkuliah dan berkuliah tentu membutuhkan
waktu dan dana yang besar. Saat itu Mas Riza dan Mba Tati sudah menikah setelah Mba Tati
meluluskan kuliahnya dan bekerja di sebuah vendor alat-alat berat untuk pertambangan.
Setelah keluar dari restoran itu, Mas Riza terakhir sempat bekerja di sebuah catering yang
cukup besar di Jakarta namun karena beratnya pekerjaan tersebut dimana pihak catering suka
memanggil karyawan dalam waktu yang tak terduga-duga untuk menyediakan makanan
misalkan jika ada acara untuk orang yang meninggal, catering harus siap sedia menyediakan
makanan saat dibutuhkan dan kala itu Mas Riza sempat dipanggil jam 24.00 dan bekerja
sampai subuh. Hal ini membuat Mas Riza tidak betah bekerja di catering tersebut dan
memutuskan untuk keluar dan memilih untuk membuka usaha seperti keluarganya.
Membuka warung makan sebagai usaha awal mereka bukanlah sebuah kebetulan bagi
Mas Riza dan Mba Tati. Setelah mendapat pengalaman-pengalaman bekerja di tempat-tempat
makan, Mas Riza merasa bahwa ia ingin menerapkan apa yang sudah pernah ia kerjakan di
dalam usahanya yang baru ini. Selain itu, advantage yang dimiliki istri Mas Riza, Mba Tati
yang pintar dalam memasak membuat Mas Riza yakin untuk membuka sebuah warung
makan. Dulu saat sekolah dan kuliah, Mba Tati suka dipanggil untuk memasak makanan
catering di kelurahannya. Sebelum itu juga Mba Tati suka membantu orangtuanya saat
menjadi juru masak catering.
Setelah melakukan wawancara ulang, ternyata keluarga Mba Tati banyak yang tinggal
di daerah Srengsengsawah Depok sehingga Mba Tati berniat untuk membuka usaha di daerah
itu. Mas Riza dan Mba Tati pindah dari Jakarta ke Srengsengsawah agar lokasi usaha mereka
nanti lebih dekat dengan tempat tinggal mereka. Setelah mencari-cari dan juga melakukan
5

survey untuk lokasi tempat mereka membuka warung makan nanti, akhirnya mereka
memutuskan untuk membuka warung makan di daerah Kukusan Teknik. Mas Riza merasa
peluang untuk membuka warung makan di lingkungan pemukiman mahasiswa sangat besar
karena pada umumnya mahasiswa di UI banyak yang tinggal di kos-kosan dan pasti akan
makan di warung makan. Kebetulan tetangga mereka ada yang memiliki usaha laundry di
daerah Kutek dan mengetahui bahwa di dekat laundry mereka ada sebuah kontrakan yang
juga tadinya warung makan namun sudah tidak ditempati oleh pengusaha yang sebelumnya.
Setelah melalui survey dan datang ke rumah pemilik kontrakan tersebut yang juga tinggal di
daerah Kutek, akhirnya mereka memutuskan untuk menjadikan tempat tersebut sebagai
tempat usaha mereka.
Setelah kurang lebih satu tahun menjalani usaha tersebut, Mas Riza dan Mba Tati
dengan Warung Mumtaz yang mereka kelola sudah mampu meraih pelanggan yang cukup
banyak. Terlihat semakin lama makanan yang dijual setiap harinya semakin cepat habis dan
ada juga yang memesan makanan partai besar untuk acara-acara. Tersebarnya informasi dari
warung ini tentu tidak lepas dari interaksi yang dilakukan oleh Mas Riza dan Mba Tati
sebagai pemilik dengan para pembeli. Mulai dari awal usaha hingga sekarang, Mas Riza dan
Mba Tati sangat sopan dan ramah terhadap para pembeli sehingga banyak dari pembeli
mereka juga merupakan langganan warung tersebut. Menurut saya Mas Riza dan Mbak Tati
sangat bersahabat sehingga selain cita rasa masakan yang mereka sajikan, keramahan ini
menjadi salah satu penarik dari usaha mereka sehingga orang yang pernah makan di warung
ini merasa nyaman seperti slogan yang mereka pampang di spanduk depan warung mereka
Felling Like Home dan menyampaikan keenakan warung ini dari mulut ke mulut yang
membuat warung ini semakin dikenal.
Selain melakukan interaksi sosial dengan para pembeli, tentu mereka juga melakukan
interaksi sosial terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak sedikit warga selain mahasiswa yang
suka membeli makanan di warung ini. Banyak ibu-ibu yang saya lihat suka mengantarkan
rantangan untuk membeli sayur dan lauk untuk keluarga mereka. Meskipun mereka masih
baru di wilayah ini, Mas Riza dan Mba Tati cukup banyak mengenal warga di sekitar sini
meskipun hanya sekedar bertegur sapa. Mereka juga mengatakan kurang aktif mengikuti
kegiatan pengajian dan gotong royong di RT 04 ini karena mereka tidak tinggal di daerah ini
sehingga mereka lebih aktif dalam kegiatan di wilayah Srengsengsawah. Namun meskipun
demikian, mereka cukup mengenal baik Ketua RT 04 dan selalu taat dalam membayar iuran
RT dan iuran kebersihan lingkungan.
6

III.

Kesimpulan

Setelah melihat pembahasan yang sudah saya jabarkan di halaman sebelumnya, saya
menarik kesimpulan yakni sebuah acuan yang mendasari tindakan Mas Riza membuka usaha
warung makan Mumtaz. Seperti yang kita ketahui acuan diartikan kepada sebuah rujukan dan
referensi yang mendasari kegiatan tersebut berbeda dengan alasan yang memiliki pengertian
yakni yang menjadi pendorong untuk berbuat sesuatu. Alasan Mas Riza membuka warung
makan sebagai usaha barunya adalah keinginan Mas Riza untuk mendapatkan upah yang
lebih besar dari pekerjaan ia sebelumnya ia dapatkan, ke-flexible-an waktu yang bisa ia
dapatkan tidak seperti saat ia bekerja di catering dahulu dan juga peluang besar yang ia
dapatkan dari penjualan makanan di pemukiman mahasiswa. Sedangkan acuan yang dapat
saya tarik dari Mas Riza dalam membuka warung makan sebagai usahanya adalah
pengalaman-pengalaman yang ia dapat saat ia bekerja di tempat-tempat makan dahulu
sehingga ia memiliki keinginan untuk membuat usaha dimana dia bisa menerapkan apa yang
sudah pernah ia kerjakan dahulu dan didukung oleh Mba Tati yang memiliki kelebihan di
bidang memasak.
Pada wawancara terakhir saya dengan Mas Riza, ia juga mengatakan bahwa warung
makan yang ia buat seperti ini mengacu pada apa yang ia dapatkan selama di cafe dan
restoran, mulai dari kebersihan lingkungan yang ia jaga, peralatan-peralatan makan yang
bersih dan higienis, dan variasi-variasi makanan yang sudah pernah ia coba saat bekerja di
bidang makanan dahulu juga ia buat di warung ini dan beberapa inovasi menu yang ia
lakukan. Dalam pengertiannnya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengacuan (n)
proses, cara, perbuatan mengacu sehingga perbuatan yang ia lakukan tersebut dapat dikatakan
sebagai pengacuan alias sebuah proses dan cara. Pengacuan inilah yang mendorong Mas Riza
semakin yakin untuk mengambil keputusan yakni mendirikan sebuah usaha warung makan
yang menarik dan melahirkan slogan Felling Like Home, dimana seperti perkataan Mas
Riza, standar yang dulu pernah ia dilakukan saat bekerja diterapkan dalam usahanya sehingga
usahanya sebegitu rupa bisa terlihat berbeda dengan warung makanan lain dari sini bisa
dikatakan pekerjaan Mas Riza sebelumnya berdampak besar terhadap keputusannya saat ini
membuat warung makan yang sedemikian.

IV.

Lampiran