Anda di halaman 1dari 12

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN

TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

EVALUASI POTENSI BAHAN GALIAN


PADA BEKAS TAMBANG DAN WILAYAH PETI DAERAH BALAI KARANGAN,
SANGGAU, KALIMANTAN BARAT

Mangara P. Pohan dan Ridwan Arief

Kelompok Program Penelitian Konservasi

S A R I

Daerah Malenggang, Balai Karangan, Kabupaten Sanggau, merupakan salah satu daerah
penghasil emas di Provinsi Kalimantan Barat, daerah ini umumnya ditutupi oleh lapisan tanah penutup
berwarna merah atau putih kekuningan dengan ketebalan sekitar 1,0 m sampai 5,0 m yang umumnya
menutupi endapan aluvial mengandung emas dengan ketebalan bervariasi antara 0,5 m sampai 1,5 m
terutama terdiri dari pasir kuarsa, fragmen batuan kuarsa, kwarsit, dan mineral zirkon, magnetit,
turmalin, mineral berat lainnya, serta limonit. Batuan yang mendasari endapan emas aluvial terdiri dari
batupasir kotor/grewacke dan batulempung.
Penambangan emas aluvial dan emas primer saat ini masih berlangsung, penambangan emas
primer umumnya dilakukan dilokasi bekas tambang aluvial. Emas primer ditemukan pada batuan
dasar endapan aluvial berupa batupasir dan batulempung pada kedalaman > 25 m, penambangan
dilakukan dengan membuat lobang vertikal dan lobang horizontal mengikuti arah urat.
Hasil evaluasi potensi bahan galian pada wilayah bekas tambang dan PETI emas aluvial,
diketahui sisa sumber daya bahan galian emas aluvial di daerah Takalong Miru sebesar 944,50 kg dan
Takalong Samaras 562.500 m³. Kandungan emas di daerah Taye, Lubuk Pawon dan sepanjang aliran S.
Saih (blok I) masih berpotensi untuk diusahakan. Kandungan mineral ilmenit umumnya > 75% dan
zirkon bervariasi antara 6% - 55% dan endapan lempung mempunyai kandungan kaolin rata-rata 66%
dan muscovit 34%. Endapan emas aluvial di daerah Taye, Lubuk Pawon dan sepanjang aliran S. Saih
(blok I) masih berpotensi untuk diusahakan.
Penambangan emas primer dapat dikatakan tidak optimal, urat kuarsa yang diperkirakan
mempunyai kandungan emas rendah di buang bersama-sama batuan samping berupa batupasir dan
batelempung. Hasil analisis menunjukan kandungan emas pada urat kuarsa tersebut sebesar 40,300
ppm Au dan pada batupasir 91,400 ppm Au serta hasil analisis tailing memperlihatkan kandungan
emas sebesar 27,500 ppm dan 109,200 ppm.

PENDAHULUAN pendatang sebagai mata pencaharian untuk


Secara umum dapat dikatakan bahwa usaha memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan
pertambangan terkonsentrasi bagaimana memanfaatkan daerah-daerah yang memang
memanfaatkan bahan galian yang ekonomis keadaan alamnya mendukung karena banyaknya
sesuai dengan perizinan yang diperoleh, hal ini deposit-deposit bahan galian berukuran kecil.
dilakukan untuk memperoleh keuntungan secara Penambangan dilakukan dengan membentuk
cepat. Penambangan atau penggalian yang usaha berbadan hukum atau PETI
dilakukan juga dapat terhenti oleh sebab (pertambangan tanpa izin), dimana kegiatan ini
habisnya cadangan ekonomis dan akibat masalah biasanya dilakukan dengan menggunakan
lain sehingga seringkali meninggalkan bahan peralatan yang sederhana dan penambangan
galian yang masih memiliki potensi ekonomis. dilakukan tidak sistematis, sehingga bahan
Di beberapa daerah sumber daya bahan galian galian yang diperoleh atau dihasilkan tidak
dimanfaatkan oleh rakyat setempat atau

252
PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN
TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

optimal serta sangat merusak dan mencemarkan yang menjadi terkenal saat ini sebagai
lingkungan. Pertambangan Tanpa Izin (PETI), kegiatan
penambangan ini merambah ke daerah Sanggau
Berpedoman pada salah satu azas konservasi juga ke daerah lainya.
untuk mewujudkan dan tercapainya pemanfaatan
bahan galian secara bijaksana, optimal dan Ciri-ciri pertambangan tanpa izin, diantaranya :
mencegah pemborosan dengan sasaran untuk 1. Produktifitas rendah, karena kemampuan
mensejahterakan masyarakat serta melaksanakan yang terbatas dalam cara penambangan,
pembangunan yang berkelanjutan, perlu lebih banyak disebabkan oleh keederhanaan
dilakukan evaluasi potensi bahan galian pada cara kerja alat dan hanya ingin memperoleh
bekas tambang dan wilayah PETI. Kelompok keuntungsan secara cepat.
Kerja Konservasi, Pusat Sumber Daya Geologi, 2. Mengabaikan lingkungan, disebabkan
Badan Geologi dengan biaya Anggaran Biaya kemudahan untuk memperoleh emas
Luncuran tahun 2006 memilih daerah Balai tersebut, umumnya mereka tidak
Karangan (Desa Malenggang, Kecamatan memperhatikan cara-cara penambangan dan
Sekayam), Kabupaten Sanggau, Provinsi pengolahan yang benar.
Kalimantan Barat sebagai daerah kegiatan 3. Kurang memperhatikan keselamatan kerja,
evaluasi potensi bahan galian pada bekas ketidak tahuan mengenai K3 dan teknik
tambang dan wilayah PETI dengan ruanglingkup penambangan menyebabkan sering
penanganan sisa cadangan, pendataan bahan terjadinya kecelakan yang dapat merenggut
galian marginal, penangan tailing, pemanfaatan nyawa penambang.
bahan galian lain dan mineral ikutan. 4. Tidak memperhatikan konservasi bahan
galian.
Secara regional sesuai dengan Rencana Penataan
Ruang Kawasan Perbatasan Kalimantan Sarawak MAKSUD DAN TUJUAN
dan Sabah daerah Kecamatan Sekayam termasuk Dengan kegiatan ini dapat diperoleh data,
Kawasan Pertanian dan Perkebunan yang informasi dan mengevaluasi mengenai potensi
berpotensi untuk diusahakan kegiatan pertanian bahan galian pada wilayah bekas tambang dan
dan perkebunan seperti padi, karet, kelapa sawit, PETI terutama mengenai sumberdaya/cadangan
kelapa dan lada. Daerah ini juga termasuk tertinggal, bahan galian lain, mineral ikutan,
Kawasan Pertambangan yang tidak berpotensi recovery penambangan dan pengolahan,
untuk pertambangan sekala besar. penanganan tailling, permasalahan konservasi.

Mata pencaharian utama penduduk adalah Tujuan kegiatan evaluasi potensi bahan galian
berkebun dan berladang, umumnya mereka pada bekas tambang dan wilayah PETI adalah
bertanam karet, lada, buah-buahan dan sayuran, mendorong terwujudnya pengelolaan bahan
dengan adanya kegiatan penambangan terutama galian secara optimal, bijaksana, efektif dan
emas mata pencaharian penduduk beralih kepada efisien, serta mencegah terjadinya pemborosan
kegiatan penambangan emas aluvial dan pemanfaatan bahan galian.
penambangan emas primer.
LOKASI KEGIATAN
LATAR BELAKANG Lokasi kegiatan termasuk wilayah Desa
Kalimantan Barat merupakan salah satu daerah Malenggang, Kecamatan Sekayam, Kabupaten
yang telah dikenal sebagai daerah penghasil Sanggau. Kecamatan Sekayam termasuk
emas, khususnya emas aluvial, semenjak orang- kecamatan paling utara dari Kabupaten Sanggau
orang Cina melakukan penambangan di Distrik dan secara geografis terletak antara 0 45’00 – 0
Cina. Berakhirnya Kongsi Cina sekitar tahun 50’ 00 LU dan 110 45’00 – 110 50’00 BT
1850 penambangan emas aluvial dilakukan (gambar 1). Daerah ini berbatasan langsung
secara kecil-kecilan dan tidak teroganisir dengan Negara Malaysia Timur yaitu Negara
sehingga disebut sebagai Pertambangan Rakyat Bagian Serawak, dan dapat dicapai dari Kota

253
PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN
TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

Pontianak Ibukota Provinsi Kalimantan Barat Analisis contoh


sampai Balai Karangan selama 7 – 8 jam dengan Analisis contoh dilakukan di Laboratorium Pusat
kendaraan roda 4 melalui jalan darat yang Sumber Daya Geologi, Badan Geologi untuk 29
menghubungi Pontianak – Entikong – Kuching contoh dengan menggunakan :
Negara Bagian Serawak dan dilanjutkan dengan
kendaraan roda 2 atau 4 sejauh ± 60 km melalui Analisis mineral butir
jalan aspal dan tanah selama 1 1/2 jam. Analisis butir dilakukan terhadap 13 contoh
konsentrat untuk mengetahui kandungan emas
METODOLOGI dan mineral ikutan, dan 4 contoh untuk di
Kegiatan evaluasi potensi bahan galian pada analisis kandungan zirkon, hasil analisis dapat
bekas tambang dan wilayah PETI dilakukan dilihat pada lampiran A dan B.
beberapa tahap, dijelaskan sebagai berikut :
Analisis kimia
Pengumpulan data sekunder
Analisis kimia dilakukan terhadap 8 contoh
Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan
batuan dan 2 contoh tailing hasil pengolahan
mengumpulkan data berupa laporan
emas primer untuk unsur Cu, Pb, Zn, As, Sb, Ag,
penyelidikan terdahulu baik yang dilakukan oleh
Hg, Au, BaSO4 dan H2O.
instansi pemerintah (Kanwil Pertambangan dan
Energi, Dinas Pertambangan Daerah dan
Analisis lempung
Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral)
Analisis lempung dilakukan terhadap 2 contoh
maupun laporan perusahaan swasta. Data
menggunakan PIMA (portable infrared mineral
sekunder yang di evaluasi berupa keadaan umum
analyzer dan interpretasi menggunakan TSG v 4)
daerah kegiatan, kedaan geologi, sumber daya
untuk mengetahui jenis lempung.
dan cadangan, sisa cadangan tertinggal, data
penambangan, pengolahan, bahan galian lain,
GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN
mineral ikutan, penanganan tailing dan produksi.
Geologi regional
Data sekunder yang diperoleh sangat minim,
Secara geologi regional batuan yang terdapat di
data yang diperoleh hanya data keadaan umum
daerah ini terdiri serpih, serpih sabakan,
dan geologi regional daerah kegiatan.
batulumpur karbonan, bataulanau dan batupasir,
setempat gampingan, sedikit batugamping dan
Pengumpulan data primer
tufa dari Formasi Pendawan berumur Kapur.
Dilakukan dengan cara langsung dengan
Batuan tersebut diterobos setempat oleh Intrusi
melakukan pendataan, peninjauan, pengukuran,
Sintang berumur Tersier. Karakteristik geologi
pemercontoh di beberapa lokasi PETI dan bekas
(stratigrafi, struktur dan litologi) daerah
tambang kemudian lokasi
Kalimantan Barat, terutama penyebaran batuan
pemercontoh/pengamatan diukur koordinatnya
volkanik dan intrusif Tersier serta batuan
dengan menggunakan GPS. Contoh berjumlah
plutonik Kapur yang mengintrusi formasi
29 contoh terdiri dari: konsentrat dulang dari
sedimen Mesozoikum menjadi salah satu
lapisan endapan aluvial pada lokasi
petunjuk akan terdapatanya bahan galian di
penambangan, konsentrat dulang dari tailing
Kalimantan Barat.
hasil pengolahan dan bekas tambang, pasir
kuarsa, lempung, batuan samping dan urat
Geologi daerah kegiatan
kuarsa yang tidak di olah dan dibuang karena
Umumnya ditutupi oleh lapisan tanah penutup
diperkirakan kandungan emasnya rendah.
berwarna merah atau putih kekuningan dengan
Informasi dari para penambang dan penduduk
ketebalan sekitar 1,0 m sampai 5,0 m. Endapan
juga diperlukan untuk mengetahui kegiatan
aluvial yang mengandung emas mempunyai
penambangan, produksi yang telah dihasilkan
ketebalan bervariasi antara 0,5 m sampai 1,5 m
dan informasi lainnya yang terkait dengan
terutama terdiri dari pasir kuarsa, fragmen
kegiatan penambangan.
batuan kuarsa, kwarsit dan limonit, serta mineral
zirkon, magnetit, turmalin dan mineral berat

254
PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN
TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

lainnya. Di bawah endapan aluvial ditemukan lain. Pengolahan dilakukan dengan (sluice box)
batuan sedimen berupa batupasir kotor/grewacke 2 tingkat atau 1 tingkat, dimana emas akan
berwarna abu-abu tua kehijauan hingga hitam terperangkap pada karpet yang dipasang
kehijauan, berbutir sedang hingga kasar, sepanjang sluice box tersebut. Biasanya kegiatan
porositas jelek, bersudut tanggung, sorting jelek, ini berlangsung 1 hari penuh, kemudian karpet
sebagian mengandung pirit, urat halus kuarsa diangkat dan dicuci dalam drum untuk
hingga 1,5 cm. dan batulempung berwarna abu- mengeluarkan material yang terperangkap pada
abu tua kehitaman, lengket dalam keadaan karpet termasuk butiran emas. Selanjutnya
basah, lunak, sebagian masif dan juga meterial tersebut didulang sampai diperoleh
mengalami perlipatan kuat, mengandung urat konsentrat, dengan ditambah air raksa
kuarsa, pirit, tembaga sekunder berupa malakit pendulangan dilakukan kembali untuk
dan mengandung emas. Kedua batuan ini disebut menangkap butiran emas. Air raksa yang
“kong” yang merupakan batuan yang mendasari mengandung emas kemudian diperas dengan
endapan aluvial. menggunakan kain untuk memperoleh amalgam,
kemudian digarang menjadi bullion Au dan Ag.
Penyebaran endapan aluvial di daerah Penambang dapat memperoleh hasil 100 gr/hari
Malenggang sangat luas, potensi endapan aluvial apabila mendapatkan bonanza akan tetapi
yang mengandung emas tersebar setempat- apabila mendapat endapan yang tidak kaya
setempat (gambar 2). hanya memperoleh 5 gr/hari dengan luas bukaan
rata-rata sekitar 15 m x 15m s/d 20 m x 20 m.
Pada kegiatan ini daerah kegiatan dibagi menjadi
2 blok, yaitu : blok I-Takalong Samaras (wilayah Penambangan emas primer
ini terletak di sebelah utara jalan yang Penambangan terdapat di daerah Takalong Miru
menghubungi Balai Karangan dengan Desa dan Takalong Samaras, daerah ini dahulunya
Malenggang) dan blok II-Takalong Miru terletak merupakan lokasi penambangan emas aluvial.
sebelah selatannya. Setelah endapan emas aluvial di tambang, batuan
dasarnya dicoba digali dan ditemukan urat-urat
Pertambangan kuarsa yang mengandung emas dalam
Penambangan di daerah ini dimulai sekitar tahun batulempung yang telah terlipat kuat. Penggalian
1986 - 1987 dilakukan oleh rakyat setempat dilakukan dengan cara membuat lobang vertikal
untuk emas aluvial dan masih berlangsung dengan kedalaman ada yang mencapai 30 m,
sampai saat ini di beberapa lokasi seperti di kemudian apabila ditemukan urat kuarsa
daerah Takalong Miru, daerah Taye, daerah penggalian dilakukan secara horizontal
Lubuk Pawon dan dipingggir jalan Desa mengikuti arah urat. Batuan yang mengandung
Malenggang dengan metoda tambang semprot. emas tinggi ditempatkan dalam suatu lokasi
Untuk tambang emas primer kegiatan baru dalam lobang dan dimasukan kedalam karung,
dimulai tahun 2004 terdapat di daerah Takalong setelah terkumpul cukup banyak batuan tersebut
Samaras dan Takalong Miru serta penggalian diangkat ke atas dengan menggunakan kerekan.
intan masih dilakukan di daerah Kenuling secara Pada penambangan ini batuan samping berupa
perorangan. urat kuarsa dan batulepung termineralisasi yang
Kegiatan penambangan yang dilakukan saat ini dianggap tidak mempunyai kandungan emas
tidak termasuk pada Wilayah Hutan Lindung tinggi di buang dan dibagikan kepada
Sanggau (gambar 1). masyarakat yang memang pekerjaannya
mengambil batuan tersebut terutama urat kuarsa.
Pertambangan emas aluvial Oleh para penampung batuan (urat kuarsa) ini
Penambangan dilakukan secara kelompok- diolah dengan menggunakan teromol dan dari
kelompok kecil yang terdiri dari atas 5 – 7 orang informasi mereka batuan ini masih mengandung
pada lokasi yang tersebar, peralatan yang emas, ada yang mencapai 10 gram/teromol. Di
digunakan adalah pompa lengkap dengan daerah Takalong Samaras terdapat 6 kelompok
monitornya (pompa semprot), cangkul dan lain- penambang tiap kelompok terdiri dari 6 – 10

255
PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN
TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

pekerja dengan hasil antara 20 gr – 50 gr emas rata-rata 0,75 dapat diketahui volume
emas/hari untuk setiap kelompok dan di daerah potensi endapan emas aluvial di daerah Takalong
Takalong Miru terdapat 2 kelompok dan Miru 50.000.000 m² x 0,75 m = 37.500.000 m³.
ditemukan beberapa lobang (shaft) yang telah Volume potensi endapan emas yang sudah
ditinggalkan. Umumnya pembuatan lobang ditambang 8.000.000 m² x 0,75 m = 6.000.000
vertikal maupun horizontal untuk pengambilan m³ dan 22500 m² x 0,75 m = 16.875 m³. Setelah
batuan yang mengandung emas, dilakukan oleh ditambang meninggalkan sisa sebesar
penduduk pendatang terutama dari Jawa Barat 37.500.000 m³ - 6.016.875 m³ = 31.483.125 m³.
dan merupakan orang yang dipercaya untuk Daerah Takalong Samaras volume potensi
melakukan ini. Pengolahan dilakukan dengan endapan aluvial tertingggal 750.000 m² x 0,75 m
cara menumbuk batuan yang mengandung emas = 562.500 m³. Untuk daerah lainnya seperti di
menjadi ukuran 0,5 – 2 cm, kemudian daerah Taye dan Lubuk Pawon penyebaran
dimasukan kedalam gelundungan kapasitas 20 endapan aluvial mengikuti lembah sungai dan
kg atau 30 kg yang telah terisi batangan/bola sulit untuk diketahui luasnya. Diperkirakan
besi selanjutnya dimasukan air raksa air raksa endapan pembawa emas aluvial di daerah
untuk dilakukan proses amalgamasi selama 1 – 5 Malenggang yang belum diusahakan dan
jam. Setelah proses amalgamasi selesai, diketahui masih cukup luas. Tidak ada data
dilakukan proses pemisahaan antara amalgam mengenai kekayaan lapisan endapan pembawa
dengan tailing bijih emas dengan cara panning. emas di daerah kegiatan dan data produksi hasil
Amalgam yang masih bercampur dengan air penambangan, informasi yang diperoleh dari
raksa disaring atau diperas sehingga diperoleh penambang hanya berupa nilai kadar emas yang
amalgam (Au, Ag dan Hg), kemudian digarang diperoleh per hari dari setiap kegiatan
untuk dijadikan bullion. penambangan. Perolehan para penambang dapat
mencapai 100 gr/h apabila mendapat lapisan
Penambangan intan yang kaya dan ada juga yang memperoleh 5 gr/h.
Intan di daerah Kenuling terdapat pada lempung Hasil analisis menunjukan kandungan emas
putih kekuning-kuningan, penggalian dilakukan berbeda di setiap lokasi, dihitung dalam satuan
oleh masyarakat setempat dengan cara menggali m³ maka kandungan emas pada lokasi :
lempung tersebut, kemudian didulang. Dari hasil MLG/04/EN 30 mg/m³ (Takalong Miru-blok II),
pendulangan apabila tidak diperoleh butiran MLG/07/EN 15 mg/m³ (Takalong Miru-blok II),
intan, konsentrat dulang ini umumnya MLG/10/EN 473 mg/m³ (jalan menuju Lubuk
mengandung butiran emas. Daerah penggalian Pauh/Takalong Samaras-blok I), MLG/11/EN
intan ini ditutupi oleh tanaman resam dan 675 mg/m³ (Lubuk Pauh/Takalong Samaras-blok
jengger dengan luas ± 400 m x 400 m. I), MLG/13/EN 1508 mg/ m³ (Daerah
Taye/Takalong Samaras-blok I), MLG/16/EN
PEMBAHASAN 107 mg/ m³ (Kenuling-blok II). Hasil analisis
Emas aluvial contoh endapan emas aluvial dari blok II sangat
Luas potensi endapan emas aluvial pada daerah rendah, di daerah ini hanya beberapa penambang
blok II ± 5000 Ha, telah ditambang ± 800 Ha masih melakukan penambangan dengan
(daerah Takalong Miru) dan 2,25 Ha di daerah mengharapkan akan memperoleh keuntungan
Sipul. Pada daerah blok I luas potensi endapan yang besar. Diperkirakan daerah-daerah yang
emas aluvial ± 375 Ha, telah ditambang ± 300 mempunyai kadar emas tinggi telah ditambang.
Ha (daerah Takalong Samaras) dan sisa potensi Pendataan di salah satu bekas tambang di daerah
endapan emas aluvial ± 75 Ha, penambangan Desa Malenggang dekat aliran S. Saih-blok II,
dilakukan juga di beberapa tempat seperti di diperoleh informasi dari pada penambang bahwa
daerah Taye ± 1,5 Ha serta daerah Lubuk Pawon dengan luas bukaan tambang 300 m x 25 m,
± 2 Ha. Ketebalan tanah penutup pada setiap tebal lapisan pembawa emas tebal ± 1 m
daerah bervariasi antara 3 m – 6 m dan lapisan diperoleh emas sebesar 20 kg. Dapat
pembawa emas antara 0,5 m – 1m atau rata-rata diperkirakan kadar emas di daerah ini sebesar
0,75 m. Dengan ketebalan lapisan pembawa 2.000.000 gr : (300mx 25m x 1m ) = 266,67

256
PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN
TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

gr/m³. Karena itu daerah blok II sudah lama Intan


ditinggalkan dan saat ini penambangan Kandungan intan di daerah Kenuling tidak
terkonsentrasi pada blok I. Dengan perkiraan diketahui dengan pasti, informasi dari rakyat
kandungan emas di daerah blok II rata-rata setempat bahwa di daerah tersebut pernah
sebesar 30 mg/m³, maka sisa sumber daya emas ditemukan butiran intan, dan saat peninjauan
di daerah Takalong Miru-blok II diperkirakan masih ada beberapa orang yang mencoba
31.483.125 m³ x 30 mg/m³ = 944.493.750 mg peruntungannya dengan mendulang intan dari
atau 944,50 kg. Jumlah emas yang telah lapisan lempung. Pendulangan yang dilakukan
ditambang di daerah ini dengan asumsi para dari 10 liter material lempung terdapat
penambang hanya akan menambang pada daerah kandungan emas dengan nilai 0,165 mg (contoh
yang mempunyai kekayaan > 150 mg/ m³, MLG/17/TL).
berjumlah 6.016.875 m³ x 150 mg/ m³ = >
902.531.250 mg atau > 902,532 Kg. Penanganan tailing
Pada penambangan emas aluvial
Emas primer Hasil analisis contoh tailing dari tambang emas
Para penambang umumnya hanya mengejar urat- aluvial memperlihatkan umumnya butiran emas
urat kuarsa dengan kandungan emas tinggi, pada yang terbuang bersama tailing berukuran FC
kegiatan ini contoh-contoh urat kuarsa tersebut dan berbentuk pipih, hal ini dapat terjadi karena
tidak diperoleh. Informasi yang diperoleh dari bentuk ini lebih mudah hanyut dari pada emas
para penambang, ada kelompok penambang di yang berbentuk bulat tanggung sampai bulat.
daerah Takalong Samaras yang telah Pada tabel 1 diperlihatkan beberapa hasil analisis
memperoleh 40 kg emas pada tahun 2005. Urat tailing dibandingkan dengan hasil analisis
kuarsa yang dianggap mempunyai kandungan endapan aluvial pada tambang aktif dan bekas
emas rendah di buang bersama-sama dengan tambang. Melihat hasil perbandingan antara hasil
batuan samping berupa batulempung dan analisis tailing dengan endapan emas aluvial dan
batupasir yang termineralisasi. Informasi dari hasil analisis tailing dari daerah bekas tambang
para penampung batuan/urat yang dibuang dan PETI (tabel 1), dapat dikatakan bahwa
(disebut di daerah ini sampah) dapat diperoleh pengolahan yang dilakukan oleh para
emas sampai 10 gr dari gelundugan berkapasiras penambang cukup baik, terutama pada daerah
20 kg. Hasil analisis dari beberapa batuan blok I. Di daerah Takalong Miru (blok II),
tersebut memperlihatkan kadar emas yang cukup rendahnyanya kandungan emas di tailing,
signifikan seperti contoh MLG/03/R berupa urat mungkin saja disebabkan memang keadaan
kuarsa dengan kandungan emas 40,300 ppm dan endapan emas di daerah pemercontoh
MLG/08/R berupa batupasir dengan kandungan mempunyai kandungan emas yang rendah.
emas 91,400 ppm. Hal ini dapat dikatakan para Karena jumlah contoh yang terbatas data hasil
penambang hanya mengambil batuan atau urat analisis ini tidak dapat digunakan sebagai bahan
yang mengandung emas tinggi, untuk evaluasi untuk keseluruhan daerah kegiatan.
memperoleh keuntungan secara cepat. Apabila Seperti umumnya pada pertambangan emas
hal ini tidak ditanggulangi atau para penambang tanpa izin, para penambang tidak memperhatikan
tidak selektif dalam mengambil batuan yang penanganan tailing dengan benar hal ini
mengandung emas diperkirakan akan banyak disebabkan karena ketidak tahuan mereka akan
bahan galian emas yang terbuang sia-sia. akibat yang akan ditimbulkan atau belum adanya
penyuluhan cara penanganan tailing maupun
Penyebaran urat kuarsa di daerah Takalong Miru cara penambangan yang benar.
dan Takalong Samaras ini belum diketahui
dengan pasti, diperkirakan mengikuti arah jurus Pada penambangan emas primer
dan kemiringan batulempung yaitu 320°/70°. Dengan cara pengolahan yang memakan waktu
hanya 1 – 5 jam, tailing hasil pengolahan batuan
mengandung emas masih berbentuk pasir dan
diperkirakan masih mengandung emas yang

257
PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN
TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

cukup tinggi. Hasil analisis 2 buah contoh tailing mencapai lapisan “pay streak” dan hasilnya
hasil pengolahan dari 2 lokasi tambang yaitu tidak cukup besar panambangan akan dialihkan
Takalong Miru dan Takalong Samaras ketempat lain. Daerah-daerah ini ditinggalkan
memperlihatkan kandungan emasnya sebesar tanpa dilakukan rehabilitasi membentuk
27,500 ppm dan 109,200 ppm. Dibandingkan hamparan pasir yang luas dan menjadi kolam-
dengan tailing hasil pengolahan di daerah kolam air dengan kedalaman 3 – 6 m, cara
Pasaman Sumatera Barat dimana kandungan penambangan ini sangat merusak lingkungan.
emasnya rata-rata < 15 ppm (Tim Pasaman, Padahal pelaksanaan kegiatan tambang
2005), daerah Cikidang < 15 ppm (Tim Cikidang permukaan telah diatur dalam Kepmen
PKSDM 2002), G. Pani, Gorontalo 3 – 73 ppm Pertambangan dan Energi No :
(Tim Konservasi G. Pani 2002) dan Tanah Laut 1211.K/008/M.PE/1995 tentang : Pencegahan
rata-rata 12 ppm (Tim Kabupaten Tanah Laut, dan Penanggulangan Perusakan dan Pencemaran
2004), kandungan emas pada tailing di daerah Lingkungan Pada Kegiatan Usaha Pertambangan
Takalong cukup tinggi. Hal ini disebabkan cara Umum, pada pasal 12 ayat 1 dan 2, pasal 16 ayat
pengolahan yang dilakukan tidak maksimal, 1 dan 2 yang menjelaskan reklamasi dan metode
dengan waktu penggilingan hanya dilakukan 1 – pengisian kembali (back filling).
5 jam batuan pembawa emas seluruhnya tidak
hancur menjadi material lempung yang Penambangan emas primer dilakukan dengan
menyebabkan emas di dalam batuan tidak cara menggali lobang vertikal dan dilanjutkan
seluruhnya dapat larut. Tailing umumnya di dengan membuat lobang horizontal apabila telah
tampung pada suatu tempat atau dimasukan menemukan urat yang mengandung emas.
kedalam karung. Contoh tailing dari kedua Penentuan lokasi lobang ini dilakukan dengan
tempat ini memperlihatkan tailing masih perkiraan, cara ini menyebabkan para
berbentuk pasir. Tingginya kandungan kadar Hg penambang banyak yang gagal untuk
pada 2 contoh tailing sebesar 150 ppm dan 215 memperoleh keuntungan, keadaan ini dapat
ppm dapat berasal dari kandungan Hg di batuan dilihat adanya beberapa bekas penggalian yang
ditambah Hg yang digunakan dalam pengolahan. ditinggalkan di daerah Takalong Miru. Biaya
untuk membuat satu lobang sekitar Rp. 300 juta
Mineral ikutan dan bahan galian lain rupiah, pemodal biasanya berasal dari
Analisis butir beberapa contoh konsentrat dan perorangan
tailing memperlihatkan mineral ilmenit dan
zirkon merupakan mineral dengan kandungan KESIMPULAN DAN SARAN
terbanyak, kandungan ilimenit umumnya > 75% Kesimpulan
dan zirkon bervariasi antara 6% - 55% a) Penambangan emas di daerah Malenggang,
Balai Karangan umumnya dilakukan oleh
Bahan galian lempung di daerah ini belum penduduk setempat dan pendatang dengan
dimanfaatkan, penyebarannya cukup luas di memperoleh izin dari Bupati berupa Wilayah
daerah Kenuling ± 400 m x 400 m dan di daerah Pertambang Rakyat;
bekas tambang Takalong Miru penyebarannya
setempat-setempat. Hasil analisis lempung di
b) Daerah Malenggang masih mempunyai
daerah ini memperlihatkan kandungan kaolin ±
potensi endapan bahan galian emas aluvial
67% dan muscovit 33%.
untuk diusahakan terutama pada daerah blok
I, pada blok II diperkirakan sumber daya
Cara penambangan
tertinggal sebesar 944,50 kg. akan tetapi
Penambangan emas aluvial dilakukan oleh
dengan kekayaan endapan yang relatip kecil
rakyat tidak sistem matis, hal ini dapat dilihat
akan timbul kendala dalam pengolahannya;
cara penambangan yang tersebar tidak merata.
Mereka menambang berdasarkan perkiraan
bahwa daerah tersebut mengandung emas yang c) Mineral ikutan ilimenit dan zircon
cukup menguntungkan, setelah penggalian merupakan mineral ikutan yang dominant,

258
PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN
TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

diperlukan penelitian dan kajian lebih detail DAFTAR PUSTAKA


keterdapatan kedua mineral di daerah ini; Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Propinsi
Kalimantan Barat, 2004, Potensi
Energi dan Sumber Daya Mineral
d) Lempung merupakan bahan galian yang
Kalimantan Barat, Dinas Energi dan
belum dimanfaatkan di daerah ini, mungkin
Sumber Daya Mineral Propinsi
saja hasil analisis akan memberikan
Kalimantan Barat, Pontianak,
kemungkinan pemanfaatan lempung sebagai
Kalimantan Barat.
suatu bahan galian yang dapat dimanfaatkan;
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
e) Emas primer di daerah ini terdapat pada Propinsi Daerah Tingkat I Kalimantan
batuan dasar endapan emas aluvial berupa Barat, 1993, Kalimantan Barat Data
batulempung dan batupasir, dan Dan Informasi.
penambangan dilakukan pada bekas
tambang aluvial; Final Relinquishment Report West Kalimanatn
Contract Of Work, 1988, PT.
f) Penyebaran endapan emas primer di daerah Ketungau Mitra Mining, Report No.
Takalong Samaras dan Takalong Miru 15
belum diketahui secara pasti;
Keputusan Menteri Pertambangan Dan Energi
g) Pencemaran lingkungan akibat pembuangan No : 1211.K/008/M.PE/1995 tentang :
libah hasil pengolahan kegiatan Pencegahan Dan Penanggulangan
penambangan sampai saat ini belum Perusakan Dan Pencemaran
dirasakan oleh penduduk setempat; Lingkungan Pada Kegiatan Usaha
Pertambangan Umum,
Tim Koordinasi Penanggulangan PETI
h) Dari Rencana Penataan Ruang Kawasan Departemen Energi dan Sumber Daya
Perbatasan Kalimantan Sarawak dan Sabah Mineral dan PEMDA Kalimantan
daerah Kecamatan Sekayam termasuk Barat, 2002, Laporan Pendataan
Kawasan Pertambangan yang tidak Pertambangan Rakyat Propinsi
berpotensi untuk pertambangan sekala besar. Kalimantan Barat, Dinas Energi dan
Sumber Daya Mineral Propinsi
Saran Kalimantan Barat, Pontianak.
a) Untuk mengetahui penyebaran potensi bahan
galian emas primer perlu dilakukan Tim Cikidang, 2002, Pemantauan, Pendataan,
penyelidikan metoda geofisika Polarisasi Pengawasan serta Evaluasi bahan
Terimbas (IP) dan dilanjutkan oleh beberapa galian pada tambang di daerah
pemboran; Cikidang sekitarnya Kecamatan
Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi
b) Perlu dilakukan penyuluhan untuk para Banten, Direktorat Inventarisasi
penambang bagaimana cara menambang Sumber Daya Mineral, Bandung.
yang benar, pemilihan batuan yang
mengandung emas, pengolahan, dan Tim G. Pani, 2002, Laporan Kegiatan
penambangan berwawasan lingkungan; Pemantauan dan Evaluasi Konservasi
Bahan Galian di G. Pani, Kabupaten
Boalemo, Provinsi Gorontalo,
c) Pemerintah daerah perlu melakukan Direktorat Inventarisasi Sumber Daya
pengawasan terhadap kegiatan PETI, Mineral, Bandung.
terutama akibat yang akan ditimbulkan dari
penggunakan air raksa.

259
PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN
TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

Tim Kabupaten Tanah Laut, 2004, Laporan Rencana Penataan Ruang Kawasan Perbatasan
Pemantauan dan Pendataan Bahan Kalimantan Sarawak dan Sabah
Galian Pada Bekas Tambang dan (Usulan Keputusan Presiden Republik
Wilayah PETI Daerah Kabupaten Indonesia), 2003, Direktorat Jenderal
Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Penataan Ruang, Departemen
Selatan, Direktorat Inventarisasi Permukiman Dan Prasarana Wilayah
Sumber Daya Mineral, Bandung.

Tim Pasaman, 2005, Laporan Pendataan dan


Evaluasi Pemanfaatan Bahan Galian
Pada Bekas Tambang dan Wilayah
PETI Daerah Pasaman, Sumatera
Barat, Direktorat Inventarisasi Sumber
Daya Mineral, Bandung.

260
PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN
TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

TABEL 1. Perbandingan hasil analisis tailing dengan endapan yang mengandung emas

Takalong Takalong Taye S.Saih Sipul


Miru Miru (Takalong pinggir jalan
Lokas Samaras)
i Bekas
PETI PETI PETI PETI
Tambang
Kode MLG/ MLG/ MLG/ MLG/ MLG/ MLG/ MLG/
Cont 02/TL 04/E 05/TL 08/TL 13/E 14/TL 17/TL
N N
Jenis Tailin Endp Tailin Tailin Endp
g g g
Vol 10 lt 10 lt 10 lt 10 10 lt 4,5 lt 10 lt 10 10 lt 10 lt
lt lt
Ukur 2 1 MC 1 FC 4 1 FC-
n FC= 0,30 = MC= 2
emas 0,30 mg 0,15 1.2 VFC
mg mg mg, =
35 0.165
FC=5 mg
,25
mg, 5
VFC=
0,34
mg
Hasil 30 30 15 1508 165
mg/m mg/m - mg/m mg/m - mg/m
³ ³ ³ ³ ³

261
PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN
TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

GAMBAR 1. Lokasi kegiatan dan daerah hutan lindung

GAMBAR 2. Peta potensi endapan emas aluvial daerah Kabupaten Sanggau

262
PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN
TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

FOTO 1 dan 2. Tambang emas aluvial

FOTO 3 dan 4. Tambang emas primer

263