Anda di halaman 1dari 10

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN

TAHUN 2006, PUSAT SUMBERDAYA GEOLOGI

INVENTARISASI POTENSI BAHAN GALIAN PADA WILAYAH PETI DAERAH


HALMAHRA UTARA, PROVINSI MALUKU UTARA

Suhandi, Wawan Suherman

Kelompok Program Penelitian Konservasi

SARI

Daerah kegiatan secara administratif termasuk kedalam Desa Roko dan Kapa Kapa,
Kecamatan Galela dan Loloda Utara, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara.
Kegiatan pertambangan tanpa izin (PETI) di daerah Gosowong pada wilayah
pertambangan PT. NHM sudah mulai banyak berkurang semenjak pemerintah melakukan
penertiban. Daerah Halmahera Utara adalah daerah prospek sebagai pilihan oleh masyarakat lokal
maupun pendatang dan mulai marak adanya kegiatan pertambangan tanpa izin (PETI), sebelumnya
daerah tersebut telah di eksplorasi oleh PT. Nusa Halmahera Minerals (PT. NHM), pada tahun
1998 telah di lepas dan statusnya sekarang telah di kembalikan oleh Negara.
Untuk memperoleh data dan informasi mengenai potensi bahan galian pada kegiatan
wilayah PETI terutama sumberdaya/cadangan, menginventarisasi bahan galian lain, mineral ikutan,
recovery penambangan dan pengolahan, penanganan tailing perlu dilakukan pendataan
pemanfaatan bahan galian di daerah tersebut.
Ada beberapa kelompok penambangan emas tanpa izin (PETI) di daerah Roko dan Kapa
Kapa melakukan kegiatan dengan cara tradisional (amalgamasi), daerah Roko setiap kelompok
dapat memperoleh 2-3 gram/hari, daerah Kapa Kapa setiap kelomok memperoleh 1-2 gram/hari,
dengan sistem penambangan lobang vertikal.
Batuan yang menyusun daerah ini terdiri dari breksi volkaniklastik basaltik andesit sedikit
sedimen volkanik, breksi hydrothermal tersilifikasi terdiri dari tufa klastik, andesit dengan matrik
“vughy” kalsedonik kuarsa dengan pyrit <1%, terdapat juga tufa debu dan ignimbrit. denga arah
umum urat kuarsa relatif utara-selatan dengan ketebalan 20-40 cm
Disamping kegiatan penambangan emas tanpa izin (PETI), daerah tersebut terdapat potensi
bahan galian lain seperti Batugaming, pasirbesi dan mangan.
Optimalisasi penambangan dan pengolahan perlu di tingkatkan dengan
mempertimbangkan aspek pemanfaatan bahan galian yang ada dengan tetap penerapan konservasi
bahan galian.

1. PENDAHULUAN tersebut maka pencarian daerah-daerah baru


1.1 Latar Belakang yang prospek, salah satu kegiatan PETI yang
Wilayah Maluku Utara tepatnya di daerah mulai marak adalah di daerah Galela dan
Gosowong yang dikenal dengan tambang emas Loloda.
primernya sampai saat ini masih berlangsung Hal ini tentunya karena keterdapatan
penambangan yang dilakukan oleh PT. Nusa bahan galian yang mereka inginkan dan
Halmahera Minerals. Keberadaan aktivitas mereka akan lebih leluasa untuk
pertambangan tersebut di satu sisi membawa menambangnya karena daerah tersebut
dampak positip terhadap pengembangan statusnya telah dilepas oleh PT. Nusa
wilayah terkait, sedangkan di sisi lain terdapat Halmahera Minerals. Secara teknis di daerah
dampak negatip yang perlu dicermati. Galela dan daerah Loloda menunjukkan
Sejak bulan Mei 2005 kegiatan PETI yang keterdapatan bahan galian yang prospek.
berada di daerah Gosowong telah berhasil
ditertibkan dan dikendalikan sehingga tidak 1.2 Maksud dan Tujuan
melakukan kegiatan lagi di wilayah PT. NHM Kegiatan ini dimaksudkan untuk
serta kegiatan PETI sudah sangat berkurang. menerapkan azas konservasi sumberdaya
Dengan ditertibkanya kegiatan PETI di daerah bahan galian, diantaranya dengan melakukan
PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN
TAHUN 2006, PUSAT SUMBERDAYA GEOLOGI

inventarisasi potensi bahan galian pada tropikal basah. Geografi dan bentuk
wilayah PETI yang antara lain dengan geomorfologi sangat mempengaruhi iklim
melakukan kegiatan : Pengumpulan data pada setempat, terutama ketinggian , jarak dari
wilayah PETI, terutama mempelajari tentang pantai dan posisi ekuator, curah hujan cukup
keadaan geologi, sebaran, jenis bahan galian tinggi antara 1000 mm sampai 3000 mm
yang ada. pertahun. Hujan turun sepanjang tahun, tetapi
ada masa yang relatif kering dari Juli sampai
Tujuan kegiatan adalah untuk mengetahui Oktober.
potensi serta mengevaluasi bahan galian
tertinggal, bahan galian lain dan mineral 1.4.3 Tata Guna Lahan
ikutan, serta penanganan tailing dan dampak Sebagian besar daerah kepulauan
pencemaran yang diakibatkan adanya kegiatan Halmahera masih ditutupi oleh hutan tadah
penambangan sehingga data ini dapat hujan primer. Sebagian besar ditebang secara
dipergunakan oleh pemerintah daerah setempat selektif, dan operasi penebangan masih
untuk menentukan kebijakan dalam berjalan di Pulau Halmahera Utara sekitar
pengelolaan bahan galian di daerahnya. daerah Kapa-kapa dan sekitarnya.
Departemen Kehutanan membuat daftar
inventaris hutan yang dipakai pada daerah KK
1.3 Lokasi dan Kesampaian Daerah NHM sebenarnya :
Secara administratif daerah inventarisai 1. Hutan Lindung lk. 344,020 ha
bahan galian meliputi daerah Galela dan 2. Hutan Produksi Terbatas lk. 307,015 ha
daerah Loloda yang termasuk kedalam 3. Hutan Produksi Tetap lk. 239,472 ha
Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku 4. Hutan Produksi yang dapat dikonversi lk.
Utara. Berdasarkan posisi geografis daerah 628,076 ha
tersebut terletak antara 127°36′ - 128°05’ BT
dan 01°45′ - 02°14’ LU. Untuk mencapai 2. METODOLOGI
daerah tersebut dapat menggunakan pesawat Metodologi kegiatan inventarisasi potensi
udara dengan “route” : Bandung- Jakarta – bahan galian pada wilayah PETI di daerah
Ujung Pandang / Menado – Ternate; dari Halmahera Utara dilakukan melalui tahap
Ternate (Ibukota Provinsi) ke Sidangoli pengumpulan data sekunder, pengumpulan
dengan mempergunakan speed boat selama data primer, analisis conto dan pelaporan.
setengah jam. Selanjutnya dari Gosowong ke
Galela bisa menggunakan mobil ± selama 4 2.1 Pengumpulan data sekunder
jam perjalanan darat. Pengumpulan data sekunder dilakukan
untuk mempelajari laporan tentang bahan
1.4 Demografi, Iklim dan Tata Guna Lahan galian di wilayah Kabupaten Halmahera Utara,
1.4.1 Demografi keterdapatan wilayah PETI. Sumber data
Mayoritas penduduk di daerah Halmahera berupa laporan penyelidikan terdahulu baik
pada umumnya beragama Islam dan Kristen yang dilakukan oleh instansi pemerintah
hal ini dapat dilihat dari keberadaan sarana (Kanwil Pertambangan dan Energi, Dinas
peribadatan umat Islam dan Kristen seperti Pertambangan Daerah dan Pusat Sumber Daya
Mesjid dan Gereja, Geologi) maupun laporan perusahaan swasta.
Mata pencaharian penduduk pada
umumnya nelayan, berkebun dan berdagang, 2.2 Pengumpulan data Primer
selain itu sebagian menjadi pegawai negeri dan Dilakukan dengan cara langsung dengan
berwiraswasta. Beberapa tahun yang lalu melakukan pendataan, peninjauan, pengukuran
banyak yang beralih menjadi penambang emas dan pemercontoh dibeberapa lokasi PETI :
dan penambang sirtu secara tradisional, saat ini a) Roko, Kecamatan Galela
masih berjalan hanya sebagai kerja sampingan b) Kapa Kapa, Kecamatan Loloda Utara

1.4.2 Iklim 2.3 Pemercontoan


Diluar kebiasaan iklim daerah di Indonesia Pemercontoan dilakukan pada urat yang
di daerah Halmahera dikatagorikan sebagai diperkirakan mengandung emas, batuan
PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN
TAHUN 2006, PUSAT SUMBERDAYA GEOLOGI

samping, tailing hasil pengolahan emas, enargit-luzonit. Mineralisasi yang membentuk


pasirbesi, batugamping dan mangan dengan potongan urat, mencirikan sistem epithermal
jumlah 28 (dua puluh delapan) conto dan sulphida tinggi.
lokasi pemerconto diukur dengan koordinat
dengan menggunakan GPS. 3.2 Bahan Galian
Dalam kegiatan ini peta kerja mempergunakan Kabupaten Halmahera utara, Provinsi
peta dasar sekala 1 : 100.000 seri Jawatan Maluku Utara memiliki potensi bahan galian
Geologi Bandung, lembar Dorome untuk mineral logam seperti : Emas umumnya berada
daerah Kapa kapa dan untuk daerah Roko, pada zona anomali emas urat kuarsa
lembar Tobelo. “stockwork” dan breksia sepanjang induk
volkaniklastik basaltik andesit dan sedikit
3. POTENSI BAHAN GALIAN PADA satuan sedimen kalkareous. Selain emas, nilai
DAERAH PETI logam lain yang berhubungan hampir
3.1 Geologi Daerah Kegiatan semuanya cukup rendah, seperti perak dan
3.1.1 Geologi dan Mineralisasi Daerah tembaga. Selain bahan galian logam di daerah
Kapa-kapa ini juga dapat dijumpai bahan galian seperti :
Batuan yang terdapat di daerah ini adalah pasir besi, batugamping dan mangan.
volkanik andesit basaltik yang terdiri dari debu 3.3 Pertambangan
tufa litik yang teridurasi baik, breksi dan Kegiatan pertambang di daerah
konglomerat dengan diikuti aliran lava Halmahera Utara terdapat di daerah Roko dan
dan/atau retas. Andesit basaltik terekah kuat Kapa Kapa untuk bahan galian emas dengan
dengan pengisian ruang terbuka atau rekahan cara tradisional (amalgamasi) dengan
umumnya oleh hematite. Daerah tersebut melakukan penggalian vertikal. Saelain
ditutupi oleh volkanik muda, yang agak retas, penggalian emas beberapa bahan galian lain
kemiringan landai tufa berbutir halus-kasar telah diusahakan di Kecamatan Galela dan
dan aglomerat. sekitarnya.
Mineralisasi dan pola alterasi sangat kuat.
Zona utama terdiri dari urat-urat irregular dan 3.3.1 Daerah Kapa-kapa
lensa-lensa dari lapisan tipis silika khalsedonik PT. Nusa Halmahera Minerals melakukan
putih yang secara setempat “vughy” dengan pemetaan geologi rinci antara lain :
inti amethyst. Silika umumnya terlihat pemecontoan endapan sedimen, batuan serta
membungkus atau bahkan melingkupi klastik tanah dan dilanjutkan dengan paritan dan
andesit teralterasi lemah pada induk sumuran telah dilakukan pada prospek
konglomerat volkanik. epithermal sulphidasi rendah. Pekerjaan ini
menggambarkan zona anomali emas urat
3.1.2 Geologi dan Mineralisasi Daerah kuarsa dan breksia memotong 300m dan
Roko mencapai 1200m sepanjang induk
Litologi yang dominan di daerah ini adalah volkaniklastik basaltik andesit dan sedikit
breksi volkaniklastik sedang sampai asam dan satuan sedimen.
sedikit volkanik, dengan komposisi antara Pengujian kadar logam terbaik dari percontoan
andesitik sampai dasitik, konglomerat dan “chip” meliputi:
batupasir kerakal dengan diikuti batupasir dan 10m @ 6.4g/t Au
aliran andesit masif serta intrusi dangkal retas 16m @ 5.1g/t Au
dan korok. Satuan-satuan diatas secara lokal 42m @ 1.1g/t Au
ditutupi dengan satuan piroklastik muda. Pengujian kadar logam maksimum bongkah
urat kuarsa di daerah Kapa-kapa adalah 76.6g/t
Mineralisasi dan alterasi tersebut dicirikan Au.
oleh mineral alterasi advance argilik Daerah Kapa Kapa ada beberapa kelompok
temperatur tinggi meliputi silika penambang tanpa izin (PETI) melakukan
kriptokristalin, dickit, diaspor dan pyropilit. penggalian disekitar bekas lokasi bor
Terbatasnya singkapan dan bongkah dari eksplorasi PT NHM untuk memperoleh batuan
alterasi advance argilik kaya silika membawa yang diperkirakan mengandung emas,
penentuan emas yang penting mineralisasi walaupun sifatnya masih coba-coba penggalian
PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN
TAHUN 2006, PUSAT SUMBERDAYA GEOLOGI

dilakukan dengan membuat lobang-lobang pada awalnya adalah dengan mendulang pada
umumnya berdekatan dengan bor bekas PT sedimen sungai atau memilih material yang
NHM yang sudah ditinggalkan, di daerah ini lunak untuk disemprot dan dialirkan melalui
ada dua titik lobang PETI dengan kedalaman “sluice box”. Pada 3 sampai 5 tahun belakang
masing-masing 10 - 20m dan 10 gelundung ini dengan membuat sumuran vertikal.
yang digerakkan oleh mesin diesel, dari 10 Menurut pengamatan, daerah pendataan di
gelundung menghasilkan 1-2 gram emas, daerah Galela dan daerah Loloda merupakan
penambang berasal dari penduduk setempat. lokasi penambangan sebagian besar berada di
kawasan hutan produksi khususnya daerah
3.3.2 Daerah Roko Kapa-kapa, sedangkan daerah Roko terletak
Daerah Roko merupakan bagian dari pada kawasan daerah berpenduduk padat.
daerah Eksplorasi PT NHM. Daerah ini Daerah Kapa-kapa terpantau ada 3 titik
termasuk kedalam blok prospek Gamkahe. penambangan, sedangkan daerah Roko
Pengambilan contoh dari parit uji yang terdapat 40-50 titik lobang penambangan, yang
memotong breksi hydrothermal teralterasi masih aktif pada saat ini 3-5 titik lobang
khalsedonik silika yang ditemukan oleh PT penambangan dengan sistem lobang vertikal,
NHM selama pemetaan di daerah utara lobang terdalam di kawasan ini maksimum 50
gamkahe. Dua conto yang berasal dari meter.
singkapan daerah ini mengandung kadar logam
Au 0.6g/t dan 0.8g/t. 3.4.1 Cara Penambangan
Hasil pengujian kadar logam Au Daerah kegiatan penambangan saat ini
menegaskan mineralisasi yang penting pada dilakukan oleh penambang tanpa izin (PETI)
singkapan ini dari semua conto merupakan dengan sistem tambang Lobang vertikal dan
anomali emas dengan kadar logam Au berkisar paritan dengan menggunakan alat yang
dari 0.05-2.7g/t. Pengujian kadar arsenik dan sederhana antara lain : Linggis, balincong,
antimon juga cukup mencolok berkisar dari palu, cangkul dan lain-lain. Pembuatan lobang
460-3470ppm As dan 87-233ppm Sb, tambang di daerah Kapa-kapa ada dua type
sedangkan untuk perak agak rendah, lobang (mendatar dan vertikal) tergantung arah
maksimum 5 g/t dan untuk nilai logam urat. Lebar terowongan 0.5-1 meter dengan
dasarnya rendah. kedalam bervariasi sesuai dengan panjang urat
Dari hasil pendataan di daerah Roko yang diambil. Di daerah Roko dilakukan
ditemukan batuan teralterasi advance argilik penggalian lobang secara vertikal mengikuti
pada batuan volkaniklastik andesit yang kemiringan urat sampai kedalaman maksimum
diterobos oleh beberapa urat kalsedonik 50 meter.
kuarsa, dengan arah jurus/kemiringan urat
N330˚-360˚ /59˚ E dengan panjang urat ± 3 km 3.4.2 Cara Pengolahan
dan lebar 20-40 cm. Pengambilan conto batuan Diluar lobang, material dimasukkan
yang mengandung emas yang dilakukan oleh kedalam karung plastik dengan berat 25-30 kg
penambang PETI dari lobang sumuran vertikal dan diangkut ketempat pengolahan dengan
yang mencapai kedalaman 50 meter. Di daerah menggunakan sepeda motor, untuk selanjutnya
Roko kurang lebih 50-60 titik lobang bor batuan tersebut di tumbuk dengan
dengan luas 1X2 km, jarak antara titik bor 1-2 menggunakan palu mencapai ukuran 0,5 –
meter dengan kedalaman bervariasi 10-50 1cm. Setelah ditumbuk material dimasukkan
meter. Penambang berasal dari Kabupaten kedalam gelundung yang berisi batangan besi
Gorontalo dan penduduk setempat. dan diputar dengan menggunakan mesin diesel
selama 2 sampai 3,5 jam sampai mencapai
3.4 Sejarah Pertambangan ukuran kira-kira 10 mesh selanjutnya ditambah
Kegiatan penambangan tanpa izin (PETI) air raksa untuk dilakukan proses amalgamasi.
di Halmahera Utara sudah cukup lama, bahkan Untuk memudahkan proses pengolahan,
sebelum PT Nusa Halmahera Minerals masuk. penempatan gelundung pada umumnya terletak
Para penambang umunya pendatang dari dipinggir sungai dan pembakaran bullion
Sulawesi Utara dan sebagian penduduk dilakukan dekat pengolahan dan kampung
setempat. Metoda penambangan yang dipakai
PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN
TAHUN 2006, PUSAT SUMBERDAYA GEOLOGI

Dari kegiatan pengolahan dan kemudian dilanjutkan dengan kendaraan roda


penggarangan ini dikhawatirkan terjadi 2 melalui jalan perkerasan ke desa Tutumalelo,
pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh untuk menuju lokasi tambang Kapa-kapa harus
adanya air raksa yang bercampur dengan berjalan selama 2-3 jam melalui G. Posawani.
tailing hasil proses amalgamasi yang Tidak ada data mengenai besarnya cadangan
ditampung pada bak dekat pengolahan, apabila tambang ini, Penambangan dilakukan oleh
hujan turun menyebabkan bak tersebut penuh PETI dan di daerah ini mempunyai 10 buah
dan airnya meluap terbawa ke sungai. gelundung yang digerakan oleh mesin diesel.
Pencemaran udara dapat juga terjadi saat Kapasitas setiap gelundung dapat memuat 25
proses pembakaran amalgam yang dilakukan kg material dengan perolehan 1-2 gram untuk
pada ruangan yang terbuka. 10 gelundung, hasil yang diperoleh selama 1
bulan mereka menghasilkan emas dari 3 loang
4. PEMBAHASAN KONSERVASI kurang leih 50 gram.
BAHAN GALIAN Dari hasil yang dilakukan oleh PT Nusa
Hasil pendataan dapat diketahui bahwa Halmahera Minerals menunjukan semakin
wilayah pertambangan pada ke-dua lokasi dalam kandungan emasnya semakin berkurang
pertambangan tanpa izin (PETI). Tidak sehingga tidak ekonomis untuk ditambang.
ditemukan urat yang mengandung emas kadar- Uji pengeboran dilakukan berturut-turut di
tinggi, mineralisasi dapat ditemukan pada tiga lobang dengan total 620.1m dapat
breksi hydrothermal terbatas pada zona yang diuraikan sebagai berikut :
sempit. Bahan galian batugamping, magan dan • Lobang KKD-1 direncanakan untuk
batupasir, hanya bahan galian pasirbesi sampai menguji zona urat khalsedonik kuarsa-
saat ini masih diusahakan oleh masyarakat adularia-karbonat dikedalaman dan breksi
setempat. dengan pengujian kadar logam permukaan
10.2m @ 1.4g/t Au dan 16m @ 5.1g/t.
4.1 Emas Potongan terbaik pada 10.2m @ 1.4g/t Au
Daerah Galela dan Loloda dapat dijumpai dari kedalaman 40.8 pada alterasi kuarsa-
lokasi kegiatan penambangan yang masih aktif lempung-khlorit-pyrit.
bahan galian mineral logam terutama emas • Lobang KKD-2 direncanakan untuk
primer. Penambangan dengan sistem tambang menguji batas NE zona breksi, yang
tegak (“shaft”) yang mengikuti arah urat yang menguji kadar logam permukaan terbaik 8m
seluruhnya dilakukan oleh penambang tanpa @ 0.46g/t Au. Lobang memotong satuan
izin (PETI). volkanik andesit dan zona breksi
a) Kapa-kapa hydrothermal. Hasil pengujian kadar logam
Penambangan di daerah ini sebelumnya terbaik adalah 1.7m @ 0.3g/t Au dari
tidak ada kegiatan penambangan baik dari kedalaman 127.0m.
pemerintah maupun dari pihak swasta, pada • Lobang KKD-3 nilai yang mendekati baik
tahun 1997 PT NHM telah melakukan adalah 32m @ 0.64g/t Au. Lobang tersebut
penyelidikan di daeah ini. Tahun 2005 memotong satuan volkanik andesit dan
pertambangan tanpa izin (PETI) mulai volkaniklstik dan dua zona breksi
melakukan menambang dan sudah hydrothermal (lebar 10 dan 20m). Potongan
berproduksi. terbaik pada 12.9m @ 1.3g/t Au dari
Bahan galian logam emas di daerah Kapa- kedalaman 48.6m.
kapa, mineralisasi yang berarti hanya dapat
ditemukan pada batuan breksi hydrothermal b) Daerah Roko
dan terbatas pada daerah S. Taliwang kanan Daerah Roko mulai kegiatan penambangan
bagian hulu. Untuk bahan galian batugamping tanpa izin (PETI) pada tahun 2005 sudah
dan pasibesi yang cukup luas penyebarannya. berproduksi, terletak ±45 km sebelah tenggara
Daerah Kapa-Kapa terletak kurang lebih Tobelo. Daerah ini dapat dicapai dengan
75 km dari Ibu Kota Kecamatan Tobelo, dan kendaraan roda 4 melalui jalan beraspal
dapat dicapai dengan kendaraan air (speed sampai ke lokasi. Tidak diketahui mengenai
boat) atau dengan kendaraan roda 4 melalui recovery maupun data mengenai besarnya
jalan raya sampai ke desa Bobi Singo, cadangan.
PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN
TAHUN 2006, PUSAT SUMBERDAYA GEOLOGI

Penambangan saat ini dilakukan oleh para daerah ini penyebarannya tidak luas dan tidak
penambangan tanpa izin (PETI) dan di daerah merata, endapan mangan tersebut diselimuti
ini terdapat 20 gelundung yang digerakan oleh (tersemenkan) oleh lapisan tanah merah
mesin diesel. Kapasitas setiap gelundung dapat dengan fragmen bijih yang berwarna hitam,
memuat 25-30 kg material dengan peroleh 1 – fragmen-fragmen lepas berukuran kerakal
2 gram emas. Penggalian yang dilakukan oleh sampai kerikil, dan sebagian mengisi rongga-
para PETI dengan mengikuti arah urat dengan rongga batugmping.
kedalaman yang terdalam 50 m karena kendala Dalam mengatasi kegiatan PETI dapat
rembesan air. Dari hasil penyelidikan yang melakuan pendekatan agar para PETI
dilakukan oleh perusahaan PT Nusa membentuk semacam badan hukum seperti
Halmahera Minerals pada singkapan breksi koperasi sehingga dapat diarahkan untuk
hydrothermal yang merupakan anomali emas mendapatkan kemitraan usaha dengan
dengan pengujian kadar logam berkisar antara pengusaha atau investor. Hal ini juga
0.05-2.7g/t Au dan perak 5g/t sedangkan memudahkan pemerintah daerah untuk
logam dasar semuanya rendah. mengawasi kegiatan pertambangan, sehingga
Untuk mengetahui kadar emas pada batuan pengembangan bahan galian di daerahnya
yang ditambang oleh PETI saat ini dilakukan dapat bermanfaat bagi masyarakat banyak.
pengambilan beberapa contoh batuan serta
tailing hasil pengolahan, kedua jenis contoh 5. KESIMPULAN DAN SARAN
tersebut akan dianalisa untuk mengetahui 5.1 Kesimpulan
recuvery serta kandungan air raksa pada Hasil kegiatan inventarisasi potensi bahan
tailing. Untuk mengetahui dampak dari galian pada wilayah PETI di daerah Galela dan
pengolahan emas tersebut terhadap sekitarnya, Kaupaten Halmahera Utara,
pencemaran aliran sungai, pemercontohan Provinsi Maluku Utara dapat disimpulkan
dilakukan terhadap sedimen sungai aktif. sebagai berikut
• Keterdapatan sumber daya bahan galian:
4.2 Pasir besi emas, pasirbesi, batugamping dan mangan
Batupasir di daerah Galela timur relatif cukup melimpah dan memiliki potensi
cukup besar cadangannya mulai desa Salimuli untuk diusahakan, terutama bahan galian
kearah selatan sampai ke daerah Bobi Singo pasir dan batugamping.
sepanjang ±14 km dengan lebar 15-20 m. • Endapan emas berupa endapan primer tipe
Keterdapatan pasirbesi ini berada pada garis tersebar dan urat, dibagian atas berupa
pantai sehingga untuk menambang pemerintah jaringan urat kuarsa stockwork, sedangkan
daerah harus memperhatikan dampak dari dibawahnya berupa urat kuarsa. Karena
penambangan tersebut, karena akan terjadi keterbatasan teknologi saat ini baru dapat
abrasi air laut ke daerah yang berdekatan menambang bagian atas, dan urat kuarsa
dengan pemukiman penduduk. dengan ketebalan 20-40 cm dibawahnya.
Untuk menambang zona stockwork,
4.3 Batugamping dilakukan dengan cara tambang permukaan
Letak lokasi batugamping di daerah Kapa- (paritan) dengan kedalam <3 m dan untuk
kapa ini penyebarannya diperkirakan dari menambang zona urat dibawahnya,
ujung desa Kapa-kapa kearah baratlaut- dilakukan dengan tambang bawah tanah
tenggara, yang tersingkap kurang lebih 4-5 km (lobang tegak) dengan kedalaman sampai
selama ini batugamping tersebut belum 50 meter. Tidak optimal pengolahan, karena
dikelola oleh pemerintah maupun pihak tidak seluruhnya urat emas terambil dan
swasta. bijih yang ditambang merupakan bijih yang
terpilih yang berkadar emas tinggi.
4.4 Mangan Pengolahan menggunakan proses
Letak lokasi dari desa Kapa-kapa kearah amalgamasi dengan merkuri sebagai media
baratlaut-tenggara sejauh 1-2 km. Di daerah ini untuk menangkap emas.
diketemukan bongkah mangan (Mn) yang • Untuk mengetahui kualitas bahan galian
tersebar secara sporadis (Pocket) di jalan pada lobang tambang dan paritan serta
perusahaan kayu. Keterdapatan mangan di recovery pengolahan emas PETI, beberapa
PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN
TAHUN 2006, PUSAT SUMBERDAYA GEOLOGI

contoh batuan dan tailing hasil pengolahan maupun akibat yang ditimbulkan dari
akan dianalisa. penggunaan air raksa.
• Pencemaran lingkungan akibat pembuangan 5. DAFTAR PUSTAKA
limbah hasil pengolahan kegiatan PETI dan
untuk mengetahui tingkat pencemaran dari Aspinall C., 2001. Small-Scale Mining in
kegiatan PETI tersebut, dilakukan Indonesia, World Business Council for
pengambilan contoh air. Sustainable Development, MMSD
No.79.
Djaswadi dkk., 1985, Penjajakan Mineral
5.2 Saran Logam di Maluku Utara, DSM.
• Untuk mengetahui potensi bahan galian di Hamilton, 1979, Tectonics of the Indonesian
daerah Galela dan sekitarnya, pemerintah Region, Geol. Survey Prof. Paper, USA.
daerah setempat perlu melakukan kerjasama Katili, 1970, A Review of the Geotectonic
dengan instansi terkait untuk melakukan Theories and Tectonic Maps of
peyelidikan lebih rinci. Indonesia, Original Paper, Unpublished.
• Diperlukan penyelidikan lebih detail PT Nusa Halmahera Minerals, 1998, Laporan
terhadap bahan galian batugamping dan Kegiatan Eksplorasi Tahunan,
pasir di daerah Kapa-kapa, untuk Halmahera, Maluku Utara
menentukan apakah daerah tersebut dapat Supriatna dkk., 1980, Peta Geologi Lembar
dikelola oleh tambang sekala keil. Morotai, Maluku Utara, P3G, Bandung.
• Pemerintah daerah perlu melakukan Zamri dkk., 2005, Pemantauan dan Evaluasi
bimbingan dan pengawasan terhadap Konservasi Sumber Daya Mineral
kegiatan PETI, baik dalam pengolahan Daerah Gosowong, Kab. Halmahera
Utara, Prop. Maluku Utara.
PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN
TAHUN 2006, PUSAT SUMBERDAYA GEOLOGI

Gambar 1. Peta lokasi inventarisasi potensi bahan galian di daerah Galela


dan sekitarnya, Kab. Halmahera Utara, Prov. Maluku Utara.

Gambar 2. Peta geologi daerah HalmaheraUtara , Prov. Maluku Utara


PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN
TAHUN 2006, PUSAT SUMBERDAYA GEOLOGI

Gambar 3. Peta Lokasi Pemercontoan daerah Roko, Kab. Halmahera, Prov. Maluku Utara

Gambar 4. Peta Lokasi Pemercontoan daerah Kapa kapa, Kab. Halmahera, Prov. Maluku Utara
PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN
TAHUN 2006, PUSAT SUMBERDAYA GEOLOGI