Anda di halaman 1dari 60

BAB I

PENDAHULUAN

A. Dasar Pemikiran
Dengan melakukan praktek kerja lapangan Ilmu Sosial Budaya Dasar ini
yang dikhususkan untuk penelitian kesehatan yang menggunakan perspektif ilmu-
ilmu social bukan melakukan penelitian biomedis, sehingga mahasiswa dapat
meningkatkan wawasan tidak hanya di bangku kuliah dengan teori dan konsep,
tetapi dapat melihat realitas secara langsung dilapangan, juga diharapkan mampu
memilih unsure-unsure kebudayaan dan perilaku masyarakat mana yang perlu
dipertahankan dan mana yang perlu ditinggalkan karena dianggap dapat
merugikan kesehatan.
Selain itu mahasiswa juga akan mendapat wawasan tentang kebiasaan
tradisi sehubungan dengan perilaku sehat yang meliputi seluruh masa hidup.
Dengan menggali dan mengkaji aspek social budaya yang berkaitan dengan
partisipasi masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan, khususnya
kesehatan ibu dan anak yang berfokus sebelum kehamilan, masa kehamilan,
persalinan dan pasca persalinan serta etnomedisin masyarakat.

B. Permasalahan
Seperti diketahui bahwa Indonesia memiliki banyak bentuk masyarakat
yang antara satu daerah dengan daerah lainnya memiliki perbedaan masih
memegang teguh adat istiadat dan kebudayaannya dengan sangat baik, salah
satunya masyarakat kampong Naga di Tasikmalaya.
Namun demikian masyarakat kampung Naga ini tidak menutup diri dari
dunia luar walaupun mungkin berbeda dengan masyarakat Indonesia pada
umumnya.melihat phenomena ini adalah wajar apabila terdapat keinginan untuk
mengenal lebih dekat tentang masyarakat kampong Naga ini, apalagi dibidang
kesehatan yang sangat berpengaruh bagi kehidupan.
Sehingga dengan fakta tersebut mahasiswa perlu mengetahui keadaan yang
ada di masyarakat kampong Naga tersebut, sehingga mahasiswa mendapatkan
informasi tentang kebiasaan / tradisi sehubungan dengan perilaku sehat, mengkaji

1
tradisi yang menghambat ataupun mendukung perilaku sehat, sehingga bisa
menentukan alternative cara dan langkah pemecahan masalah yang mungkin
dapat dilaksanakan di masyarakat kampong Naga ini.

C. Tujuan
Menggali dan mengkaji aspek social budaya yang berkaitan dengan
partisipasi masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan, khususnya
kesehatan ibu dan anak yang berfokus pada masa sebelum kehamilan, masa
kehamilan, persalinan, pasca persalinan serta etnomedisin / system medis
masyarakat.

D. Manfaat penelitian
Dari segi akademis, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi salah satu
sumber informasi dan bahan acuan untuk melakukan penelitian-penelitian terkait
yang akan dilaksanakan.

1. Mengkaji tradisi yang mendukung dan yang menghambat perilaku sehat


2. Dapat menentukan alternative cara dan langkah pemecahan masalah yang
mungkin dapat dilaksanakan dilapangan.
3. Dari segi praktis, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan untuk menentukan suatu kebijakan yang tepat bagi
masyarakat pedesaan.
E. Metode Penelitian
1. Waktu Dan Lokasi Observasi

Observasi dilakukan di Kampung Naga Desa Neglasari Kecamatan Saluwu


Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Waktu observasi lapangan ini
dilaksanakan pada tanggal 2 juli 2010 mulai pukul jam 10.00 sampai dengan
pukul 16.00

2
2. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah:

1. Observasi : Pengamatan langsung dalam memperoleh data


2. Wawancara responden dan informan.
3. FGD ( focus group discussion ) diskusi dengan beberapa informan yang
membicarakan hal tertentu selaras dengan tujuan penelitian.

Kami mengumpulkan data primer dan data sekunder. Data primer


didapatkan melalui pengamatan langsung dan wawacara mendalam dengan para
informan dan responden. Para informan dan responden tersebut terdiri atas warga
desa penelitian, tokoh masyarakat serta pejabat pemerintahan. Sementara itu,
untuk data sekunder diperoleh melalui berbagai literatur serta catatan-catatan
instansi terkait dan pihak-pihak lainnya yang dapat mendukung kelengkapan
informasi yang dibutuhkan.

3. Sasaran informan
a) Warga masyarakat dilokasi kampong naga
b) Informan kunci : kuncen, wakil kuncen, RT, RW, lebe, punduh adat,
c) Informan pangkal : paraji dan sesepuh adat.
d) Informan : warga masyarakat sesuai dengan kebutuhan ( pasangan suami
istri, remaja / anak yang sudah bisa diajak wawancara.

3
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. MANUSIA DAN LINGKUNGAN


Membahas tentang manusia berarti membahas tentang kehidupan sosial
dan budayanya, tentang tatanan nilai-nilai, peradaban, kebudayaan, lingkungan,
sumber alam, dan segala aspek yang menyangkut manusia dan lingkungannya
secara menyeluruh.
manusia adalah mahluk hidup ciptaan tuhan dengan segala fungsi dan
potensinya yang tunduk kepada aturan hukum alam, mengalami kelahiran,
pertumbuhan ,perkembangan, dan mati, dan seterusnya, serta terkait serta
berinteraksi dengan alam dan lingkungannya dalam sebuah hubungan timbal balik
baik itu positis maupun negatif.
Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda menurut biologis,
rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. secara biologis, manusia
diklasifikasikan sebagai homo sapiens (bahasa latin untuk manusia)sebuah spesies
primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi.
Manusia juga sebagai mahkluk individu memiliki pemikiran-pemikiran tentang
apa yang menurutnya sesuai ketika tindakan-tindakan yang ia ambil. dan sebagai
makhluk sosial yang saling berhubungan dan keterkaitannya dengan lingkungan
dan tempat tinggalnya.

B. KEBUDAYAAN

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J.


Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang
terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh
masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.

Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun


dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai
superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan
pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-

4
struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual
dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang


kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian,
moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat
seseorang sebagai anggota masyarakat.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah


sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai


kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan
meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga
dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan
perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia
sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat
nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial,
religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia
dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

C. INSTITUSI SOSIAL
Menurut Horton dan Hunt (1987), yang dimaksud dengan pranata sosial
adalah suatu sistem norma untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan yang oleh
masyarakat dipandang penting. Dengan kata lain, pranata sosial adalah sistem
hubungan sosial yang terorganisir yang mengejawantahkan nilai-nilai serta
prosedur umum yang mengatur dan memenuhi kegiatan pokok warga masyarakat.
Oleh karena itu, ada tiga kata kunci di dalam setiap pembahasan mengenai pranata
sosial yaitu:
a. Nilai dan norma
b. Pola perilaku yang dibakukan atau yang disebut prosedur umum
c. Sistem hubungan, yakni jaringan peran serta status yang menjadi wahana
untuk melaksanakan perilaku sesuai dengan prosedur umum yang berlaku.

5
Menurut Koentjaraningrat (1979) yang dimaksud dengan pranata-pranata
sosial adalah sistem-sistem yang menjadi wahana yang memungkinkan warga
masyarakat itu untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam
kehidupan masyarakat. Pranata sosial pada hakikatnya bukan merupakan sesuatu
yang bersifat empirik, karena sesuatu yang empirik unsur-unsur yang terdapat di
dalamnya selalu dapat dilihat dan diamati. Sedangkan pada pranata sosial unsur-
unsur yang ada tidak semuanya mempunyai perwujudan fisik. Pranata sosial
adalah sesuatu yang bersifat konsepsional, artinya bahwa eksistensinya hanya
dapat ditangkap dan dipahami melalui sarana pikir, dan hanya dapat dibayangkan
dalam imajinasi sebagai suatu konsep atau konstruksi pikir.
Unsur-unsur dalam pranata sosial bukanlah individu-individu manusianya
itu, akan tetapi kedudukan-kedudukan yang ditempati oleh para individu itu
beserta aturan tingkah lakunya. Dengan demikian pranata sosial merupakan
bangunan atau konstruksi dari seperangkat peranan-peranan dan aturan-aturan
tingkah laku yang terorganisir. Aturan tingkah laku tersebut dalam kajian
sosiologi sering disebut dengan istilah “norma-norma sosial”.

D. KONSEP DASAR TENTANG KESEHATAN DAN HIDUP SEHAT

kesehatan merupakan masalah kompleks yang merupakan resultante dari


berbagai masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun masalah buatan
manusia, social budaya, perilaku, populasi penduduk, genetika, dan sebagainya.

Derajat kesehatan masyarakat yang disebut sebagai psycho socio somatic


health well being , merupakan resultante dari 4 faktor yaitu:

1. Environment atau lingkungan.


2. Behaviour atau perilaku, Antara yang pertama dan kedua dihubungkan
dengan ecological balance.
3. Heredity atau keturunan yang dipengaruhi oleh populasi, distribusi
penduduk, dan sebagainya.
4. Health care service berupa program kesehatan yang bersifat preventif,
promotif, kuratif, dan 6ultural6tic6e.

6
Dari empat 7ultur tersebut di atas, lingkungan dan perilaku merupakan 7ultur
yang paling besar pengaruhnya (dominan) terhadap tinggi rendahnya derajat
kesehatan masyarakat.

Tingkah laku sakit, peranan sakit dan peranan pasien sangat dipengaruhi oleh
kultur –faktor seperti kelas social,perbedaan suku bangsa dan budaya. Maka
ancaman kesehatan yang sama (yang ditentukan secara klinis), bergantung dari
variable-variabel tersebut dapat menimbulkan reaksi yang berbeda di kalangan
pasien.

Pengertian sakit menurut etiologi 7ultural7tic dapat dijelaskan dari segi


impersonal dan sistematik, yaitu bahwa sakit merupakan satu keadaan atau satu
hal yang disebabkan oleh gangguan terhadap 7ultur tubuh manusia.

Pernyataan tentang pengetahuan ini dalam tradisi klasik Yunani, India, Cina,
menunjukkan model keseimbangan (equilibrium model) seseorang dianggap sehat
apabila 7ultur-unsur utama yaitu panas dingin dalam tubuhnya berada dalam
keadaan yang seimbang. Unsur-unsur utama ini tercakup dalam konsep tentang
humors, ayurveda dosha, yin dan yang. Departemen Kesehatan RI telah
mencanangkan kebijakan baru berdasarkan 7ultural sehat (4).

Paradigma sehat adalah cara pandang atau pola piker pembangunan kesehatan
yang bersifat 7ultural, proaktif antisipatif, dengan melihat masalah kesehatan
sebagai masalah yang dipengaruhi oleh banyak 7ultur secara dinamis dan lintas
sektoral, dalam suatu wilayah yang berorientasi kepada peningkatan pemeliharaan
dan perlindungan terhadap penduduk agar tetap sehat dan bukan hanya
penyembuhan penduduk yang sakit.

Pada intinya 7ultural sehat memberikan perhatian utama terhadap kebijakan yang
bersifat pencegahan dan promosi kesehatan, memberikan dukungan dan alokasi
sumber daya untuk menjaga agar yang sehat tetap sehat namun teta p
mengupayakan yang sakit segera sehat. Pada prinsipnya kebijakan tersebut
menekankan pada masyarakat untuk mengutamakan kegiatan kesehatan daripada
mengobati penyakit.

7
Telah dikembangkan pengertian tentang penyakit yang mempunyai konotasi
biomedik dan sosio 8ultural(5). Dalam bahasa Inggris dikenal kata disease dan
illness sedangkan dalam bahasa Indonesia, kedua pengertian itu dinamakan
penyakit. Dilihat dari segi sosio 8ultural terdapat perbedaan besar antara kedua
pengertian tersebut. Dengan disease dimaksudkan gangguan fungsi atau adaptasi
dari proses-proses 8ultural dan psikofisiologik pada seorang individu, dengan
illness dimaksud reaksi personal, interpersonal, dan 8ultural terhadap penyakit
atau perasaan kurang nyaman.

E. ASPEK SOSIAL BUDAYA TENTANG KEHAMILAN DAN


PERSALINAN

Aspek sosial dan budaya sangat mempengaruhi pola kehidupan semua


manusia. Dalam era globalisasi dengan berbagai perubahan yang begitu ekstrem
pada masa ini menuntut semua manusia harus memperhatikan aspek sosial
budaya. Salah satu masalah yang kini banyak merebak di kalangan masyarakat
adalah kematian ataupun kesakitan pada ibu dan anak yang sesungguhnya tidak
terlepas dari faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat
dimana mereka berada.
Disadari atau tidak, faktor-faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya
seperti konsepsi-konsepsi mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab- akibat
antara makanan dan kondisi sehat-sakit, kebiasaan dan ketidaktahuan, seringkali
membawa dampak baik positif maupun negatif terhadap kesehatan ibu dan anak.
Pola makan, misalnya, pacta dasarnya adalah merupakan salah satu selera
manusia dimana peran kebudayaan cukup besar. Hal ini terlihat bahwa setiap
daerah mempunyai pola makan tertentu, termasuk pola makan ibu hamil dan anak
yang disertai dengan kepercayaan akan pantangan, tabu, dan anjuran terhadap
beberapa makanan tertentu.
Fakta berbagai kalangan masyarakat di Indonesia, masih banyak ibu-ibu
yang menganggap kehamilan sebagai hal yang biasa, alamiah dan kodrati. Mereka
merasa tidak perlu memeriksakan dirinya secara rutin ke bidan ataupun dokter.
Masih banyaknya ibu-ibu yang kurang menyadari pentingnya pemeriksaan
kehamilan menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang

8
mungkin dialami oleh mereka. Resiko ini baru diketahui pada saat persalinan yang
sering kali karena kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu
kematian. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan
dan kurangnya informasi. Selain dari kurangnya pengetahuan akan pentingnya
perawatan kehamilan, permasalahan-permasalahan pada kehamilan dan persalinan
dipengaruhi juga oleh faktor nikah pada usia muda yang masih banyak dijumpai
di daerah pedesaan.
Disamping itu, dengan masih adanya preferensi terhadap jenis kelamin
anak khususnya pada beberapa suku, yang menyebabkan istri mengalami
kehamilan yang berturut-turut dalam jangka waktu yang relatif pendek,
menyebabkan ibu mempunyai resiko tinggi pacta saat melahirkan.
Permasalahan lain yang cukup besar pengaruhnya pada kehamilan adalah
masalah gizi. Hal ini disebabkan karena adanya kepercayaan-kepercayaan dan
pantangan-pantangan terhadap beberapa makanan. Sementara, kegiatan mereka
sehari-hari tidak berkurang ditambah lagi dengan pantangan-pantangan terhadap
beberapa makanan yang sebenamya sangat dibutuhkan oleh wanita hamil tentunya
akan berdampak negatif terhadap kesehatan ibu dan janin. Tidak heran kalau
anemia dan kurang gizi pada wanita hamil cukup tinggi terutama di daerah
pedesaan.

F. PARTISIPASI MASYARAKAT
Partisipasi adalah keikutsertaan, peranserta tau keterlibatan yang berkitan
dengan keadaaan lahiriahnya (Sastropoetro;1995).
Pengertian prinsip partisipasi adalah masyarakat berperan secara aktif dalam
proses atau alur tahapan program dan pengawasannya, mulai dari tahap
sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian kegiatan dengan
memberikan sumbangan tenaga, pikiran, atau dalam bentuk materill (PTO PNPM
PPK, 2007).
Verhangen (1979) dalam Mardikanto (2003) menyatakan bahwa,
partisipasi merupakan suatu bentuk khusus dari interaksi dan komunikasi yang
berkaitan dengan pembagian: kewenangan, tanggung jawab, dan manfaat.
Theodorson dalam Mardikanto (1994) mengemukakan bahwa dalam pengertian

9
sehari-hari, partisipasi merupakan keikutsertaan atau keterlibatan seseorang
(individu atau warga masyarakat) dalam suatu kegiatan tertentu. Keikutsertaan
atau keterlibatan yang dimaksud di sini bukanlah bersifat pasif tetapi secara aktif
ditujukan oleh yang bersangkutan. Oleh karena itu, partisipasi akan lebih tepat
diartikan sebagi keikutsertaan seseorang didalam suatu kelompok sosial untuk
mengambil bagian dalam kegiatan masyarakatnya, di luar pekerjaan atau
profesinya sendiri.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap tumbuh dan berkembangnya
partisipasi dapat didekati dengan beragam pendekatan disiplin keilmuan. Menurut
konsep proses pendidikan, partisipasi merupakan bentuk tanggapan atau responses
atas rangsangan-rangsangan yang diberikan; yang dalam hal ini, tanggapan
merupakan fungsi dari manfaat (rewards) yang dapat diharapkan (Berlo, 1961).
Conyers (1991) menyebutkan tiga alasan mengapa partisipasi masyarakat
mempunyai sifat sangat penting.
1. Partispasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi
mengenai kondisi, kebutuhan, dan sikap masyarakata,
2. Masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau program pembangunan
jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya, karena
mereka akan mengetahui seluk beluk proyek tersebut dan akan
mempunyai rasa memiliki terhadap poyek tersebut.
3. Partisiapsi umum di banyak negara karena timbul anggapan bahwa
merupakan suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam
pembangunan masyarakat mereka sendiri. Hal ini selaras dengan konsep
man-cetered development yaitu pembangunan yang diarahkan demi
perbaiakan nasib manusia.
Tahap-Tahap Partisipasi
1). Tahap partisipasi dalam pengambilan keputusan
2). Tahap partisipasi dalam perencanaan kegiatan
3). Tahap partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan
4). Tahap partisipasi dalam pemantauan dan evaluasi kegiatan
5). Tahap partisipasi dalam pemanfaatan hasil kegiatan

10
BAB III
GAMBARAN KAMPUNG NAGA, DESA NEGLASARI, KECAMATAN
SALAWU, KABUPATEN TASIKMALAYA

1. SEJARAH TERBENTUKNYA KAMPUNG NAGA


Berdasarkan penelitian yang kami lakukan, kami tidak mendapat informasi
apapun tentang Kampung Naga karena kami datang pada hari yang Tabu dimana
hari tersebut diharamkan untuk menceritakan sejarah Kampung Naga..menurut
sumber yang kami peroleh bahwa Sangat disayangkan sejarah ataupun
peninggalan sejarah berupa tulisan/dokumentasi mengenai Kampung Naga kini
sudah tidak ada. Hal tersebut dikarenakan pada tahun 1956, terjadi pemberontakan
DI/TII di Indonesia yang juga mengakibatkan peristiwapembakaran Kampung
Naga sehingga semua tulisan ataupun peninggalan sejarah hangus terbakar.
Sejarah/asal usul Kampung Naga menurut salah satu versi nya bermula
pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang
abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke
sebelah Barat. Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari yang sekarang menjadi
Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Di tempat tersebut,
Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem
Singaparana. Suatu hari ia mendapat ilapat atau petunjuk harus bersemedi. Dalam
persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu
tempat yang sekarang disebut Kampung Naga.
Nenek moyang Kampung Naga yang paling berpengaruh dan berperan
bagi masyarakat Kampung Naga "Sa Naga" yaitu Eyang Singaparana atau
Sembah Dalem Singaparana yang disebut lagi dengan Eyang Galunggung,
dimakamkan di sebelah Barat Kampung Naga. Makam ini dianggap oleh
masyarakat Kampung Naga sebagai makam keramat yang selalu diziarahi pada
saat diadakan upacara adat bagi semua keturunannya.
Namun kapan Eyang Singaparana meninggal, tidak diperoleh data yang
pasti bahkan tidak seorang pun warga Kampung Naga yang mengetahuinya.
Menurut kepercayaan yang mereka warisi secara turun temurun, nenek moyang
masyarakat Kampung Naga tidak meninggal dunia melainkan raib tanpa

11
meninggalkan jasad. Dan di tempat itulah masyarakat Kampung Naga
menganggapnya sebagai makam, dengan memberikan tanda atau petunjuk kepada
keturunan Masyarakat Kampung Naga.
Ada sejumlah nama para leluhur masyarakat Kampung Naga yang
dihormati seperti: Pangeran Kudratullah, dimakamkan di Gadog Kabupaten Garut,
seorang yang dipandang sangat menguasai pengetahuan Agama Islam. Raden
Kagok Katalayah Nu Lencing Sang Seda Sakti, dimakamkan di Taraju,
Kabupaten Tasikmalaya yang mengusai ilmu kekebalan "kewedukan". Ratu Ineng
Kudratullah atau disebut Eyang Mudik Batara Karang, dimakamkan di
Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, menguasai ilmu kekuatan fisik
"kabedasan". Pangeran Mangkubawang, dimakamkan di Mataram Yogyakarta
menguasai ilmu kepandaian yang bersifat kedunawian atau kekayaan. Sunan
Gunungjati Kalijaga, dimakamkan di Cirebon menguasai ilmu pengetahuan
mengenai bidang pertanian.
Sumber : www.tasikmalaya.go.id, dieny-yusuf.com, www.westjava-indonesia.com

2. LOKASI DAN KEADAAN ALAM

Awal penamaan dari kampung Naga yaitu berasal dari kata Nagawir, dimana
dari kata gawir itu merupakan sebuah tebing atau hutan yang umumya berada di
daerah tebing,karena kampong naga di kelilingi oleh gawir / jurang. sedangkan
untuk awalan “na” hanya sebagai pelengkap. Kampung Naga secara administratif
berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya,
Propinsi Jawa Barat.

Kampung Naga merupakan perkampungan tradisional dengan luas areal


kurang lebih 4 ha. Lokasi obyek wisata Kampung Naga terletak pada ruas jalan
raya yang menghubungkan Tasikmalaya – Bandung melalui Garut, yaitu kurang
lebih pada kilometer ke 30 ke arah Barat kota Tasikmalaya sedangkan dari kota
Garut jaraknya 26 kilometer.. Perbatasan dari timur 1,5 ha tepat di sungai
Ciwulan, sedangkan dari utara dan selatan sekitar 2 ha tepatnya di area saluran. Di
kampung Naga terdiri dari 113 bangunan hal tersebut dikarenakan luas arealnya
yang terbatas sehingga tidak bisa membuat bangunan, oleh karena itu sekitar 90%

12
penduduk asli kampung Naga pindah ke kota, akan tetapi setiap hari-hari besar
mereka pulang ke kampungnya.

Gambar 1 Peta letak kampung Naga

Sumber Internet, www.westjava-indonesia.com

Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah, di


sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan
tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan
dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan disebelah utara dan timur dibatasi oleh
sungai Ciwulan yang sumber iarnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut.
Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus
menuruni tangga yang sudah di tembok (Sunda sengked) sampai ketepi sungai
Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter.
Kemudian melaluai jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai kedalam
Kampung Naga.

13
Gambar 2. Tangga yang menuju kampung Naga

Sumber PKL ISBD Poltekkes Jalur khusus 2010

Menurut data dari Desa Neglasari, bentuk permukaan tanah di Kampung


Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah bisa dikatakan subur. Luas
tanah Kampung Naga yang ada seluas satu hektar setengah, sebagian besar
digunakan untuk perumahan, pekarangan, kolam, dan selebihnya digunakan untuk
pertanian sawah yang dipanen satu tahun dua kali.

Gambar 3 Lokasi dan keadaan alam

Sumber PKL ISBD Poltekkes Jalur khusus 2010

14
Struktur tanah pada area kawasan Kampung Naga berbukit-bukit sehingga
perkampungan atau pemukiman masyarakatnya dibangun diatas tanah yang tidak
rapi dan untuk mencegah kelongsoran dibentuk sengkedan yang terbuat dari
bata/batu. Pemukiman pada masyarakat Kampung Naga berbentuk mengelompok
biasanya bentuk pemukimannya dibatasi oleh pagar dari bambu yang memisahkan
daerah pemukiman dengan daerah yang dianggap kotor. Baik dari segi bangunan,
bahan dan arahnya, pemukiman pada masyarakat Kampung Naga menunjukkan
adanya keseragaman.
Bentuk permukaan tanah di Kampung Naga berupa perbukitan dengan
produktivitas tanah bisa dikatakan subur. Luas tanah Kampung Naga yang ada
seluas satu hektar setengah, sebagian besar digunakan untuk perumahan,
pekarangan, kolam, dan selebihnya digunakan untuk pertanian sawah yang
dipanen satu tahun dua kali.

3. KEPENDUDUKAN
1) Jumlah penduduk
Jumlah penduduknya dari usia pada masa bayi sampai lanjut usia berjumlah
314 orang, dan penduduk laki – laki berjumlah 175 orang dan lebih banyak dari
pada perempuan yang berjumlah139 orang.. Di kampung Naga terdiri dari 113
bangunan hal tersebut dikarenakan luas arealnya yang terbatas sehingga tidak bisa
membuat bangunan, Selain dari itu juga kampung Naga terdiri dari 110 tempat
tinggal, 110 kepala keluarga, dan 3 buah bangunan fasilitas umum yaitu Balai
kampong, mesjid, lumbung padi umum.

Tabel 1 Jumlah penduduk kampong Naga

Jumlah total 314 orang


Jumlah laki – laki 175 orang
Jumlah perempuan 139 orang
Jumlah kepala keluarga 110 Kepala keluarga
Sumber data dari bapak Risman ketua RT 01 di kampong Naga tahun 2010

Rata – rata jumlah anggota keluarga tiap KK antar 4- 5 orang, karena


masyarakat Kmapung Naga sudah menyadari akan pentingnya ber KB.dengan
rata– rata warga hanya mempunyai anak 2 sampai 4 orang anak.

15
Jika warga Kampung Naga menikah dengan warga diluar kampong Naga
( karena hal ini diperbolehkan dan tidak melanggar adat ) jika mereka tidak
mempunyai rumah dikampung Naga mereka tinggal diluar atau disekitar lokasi
Kampung Naga. Warga kampung Naga yang tinggal diluar kampong Naga tetap
disebut orang adat hanya tempat tinggalnya saja yang diluar. Tetapi jika ada
kegiatan religi atau pada saat warga harus datang . mereka diharuskan datang.
Walaupun tinggal diluar kampung Naga tapi untuk pantangan dan hari tabu tetap
mereka menjalaninya.dengan kata lain tradisi – tradisi dari nenek moyang harus di
pegang teguh.karena jika melanggar ketentuan adat mereka akan mendapatkan
sanksi dari para sesepuh adat atau dari kuncen yaitu tidak dianggap lagi warga
kampung Naga, jika yang tinggal di kampung Naga maka akan dikeluarkan dari
wilayahnya.tetapi hal ini belum pernah terjadi ( menurut Pengakuan Pak Maun
yang merupakan pundah adat dan sesepuh dikampung Naga.

2) Jumlah Angka Kematian Ibu dan Bayi dan kondisi kesehatan

Untuk angka kematian Ibu dan bayi menurut pengakuan pak Risman yang
merupakan Ketua RT dikampung naga ini, bahwa kematian ibu ataupun bayi
karena proses melahirkan tidak ada.walaupun tidak ada bidan yang tinggal di
kampong Naga tetapi hampir setiap proses melahirkan di tangani / dibantu oleh
seorang bidan yang dipanggil kerumah warga.dan jika harus dirujuk ke rumah
sakit karena ada penyulit warga akan saling membantu menolong dengan cara
mengantarkan dengan tandu sampai ke rumah sakit.
Jika warga sakit sebelum mereka berobat ke dokter, puskesmas ataupun bidan
sebelumnya mereka meminta air do’a dari pak Lebe atau sesepuh yang bisa
mengobati termasuk paraji.selain air doa paraji atau sesepuh yang bisa mengobati
menggunakan pengobatan herbal yang berupa daun- daunan dan beubeutian.

3) Pendidikan
. Tingkat Pendidikan masyarakat Kampung Naga mayoritas hanya
mencapai jenjang pendidikan sekolah dasar, tapi adapula yang melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi itupun hanya minoritas. Kebanyakan pola

16
pikirnya masih pendek sehingga mereka pikir bahwa buat apa sekolah tinggi-
tinggi kalau akhirnya pulang kampung juga. Dari anggapan tersebut orang tua
menganggap lebih baik belajar dari pengalaman dan dari alam atau kumpulan-
kumpulan yang biasa dilakukan di mesjid atau aula.

Tabel 2 jenjang pendidikan di Desa Neglasari


Jenis pendidikan Jumlah
Belum sekolah 678 orang
Usia 7- 45 tahun tidak pernah sekolah 111 orang
Pernah sekolah SD tapi tidak tamat 373 orang
Tamat SD/ sederajat 2625 orang
SLTP/sederajat 918 orang
SLTA / sederajat 520 orang
D-1 26 orang
D-2 52 orang
D-3 20 orang
S-1 39 orang
Sumber Profil Desa Neglasari tahun 2007

Kami memasukan data ini dalam makalah ini karena kampong naga
termasuk dalam wilayah desa Neglasari, dari table diatas dapat kita gambarkan
bahwa disekitar kampong naga dan kampong naga mayoritas berpendidikan
SD/sederajat. Karena data dari kampong naga data tersebut tidak kami peroleh
secara rinci.

4) Mata pencaharian
Masyarakat umumnya adalah petani dan bergantung hidup penuh pada
alam. Mereka mengerjakan sawah masing-masing atau menjadi buruh tani dari
saudara sekampung yang lebih makmur. Untuk menambah penghasilan ada warga
Kampung Naga yang beternak ikan dikolam, beternak ayam dan kambing serta
menjual hasil kerajinan anyam-anyaman.
Mata pencaharian yang utama yang dilakukan masyarakat Kampung Naga
adalah bertani, walaupun mereka bertani hanya untuk memenuhi kebutuhan

17
pribadi (subsisten) dan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kampung Naga
dengan adanya lumbung padi (Leuit) yang harus diisi dari sumbangan padi tiap
warga Kampung Naga

Gambar 4 Salah satu pekerjaan warga kampung naga

Sumber PKL ISBD Poltekkes Jalur khusus 2010

masyarakat Kampung Naga memiliki sumber mata pencaharian yang


cukup beragam. Adapun diversifikasi matapencaharian lainnya yang ditekuni
masyarakat Desa Neglasari bisa dikatakan cukup bervariasi, mulai dari perajin,
petani, pedagang makanan kecil karena banyaknya wisatawan yang berkunjung,
pedagang souvenir yang dibuat sendiri ataupun diambil dari luar kampong Naga,
dukun bayi, pedagang, hingga pegawai negri.dengan komposisi sebagai berikut
Tabel 3 Mata pencaharian Desa Neglasari
Jenis pekerjaan jumlah
Buruh tani 881 orang
Petani 302 orang
Pedagan/wiraswasta/pengusaha 287 orang
Pengrajin 479 orang
PNS 99 orang
TNI/Polri 4 orang
Penjahit 3 orang
Montir 1 orang
Sopir 17 orang

18
Karyawan swasta 101 orang
Kontraktor 1 orang
Tukang kayu 40 orang
Tukang batu 25 orang
Guru swasta 20 orang

Sumber Profil Desa Neglasari tahun 2007

Gambar 5 Hasil kerajinan yang dihasilkan warga

Sumber PKL ISBD Poltekkes Jalur khusus 2010

4. KONDISI SOSIAL BUDAYA


A. POLA PEMUKIMAN WARGA KAMPUNG NAGA

Table 4 Bangunan yang ada di kampong naga

Jenis bangunan Jumlah


Pemukiman 110 rumah
Balai kampung 1 buah
Lumbung padi umum 1 buah
Mesjid 1 buah
Sumber data dari bapak Risman ketua RT 01 di kampong Naga tahun
2010

1) Bumi Ageung

19
Bumi Ageung (rumah besar), mempunyai ukuran yang lebih kecil
dibandingkan dengan perumahan warga, akan tetapi memiliki fungsi dan arti yang
sangat besar. Bangunan ini memiliki sifat sakral, karena dijadikan tempat
penyimpanan benda-benda pusaka dan dijadikan tempat tinggal tokoh yang paling
tua usianya diantara warga Kampung Naga lainnya, yang dianggap keturunan
paling dekat leluhur mereka. Rumah sakral ini terletak pada teras kedua dari
bawah. Bangunan ini sangat sunyi dan berpagar tinggi terbuat dari bambu dan
dirangkap dengan pagar hidup dari hanjuang.

Gambar 6 Bumi Ageung

Sumber PKL ISBD Poltekkes Jalur khusus 2010

2) Masjid dan Bale patemon

Masjid dan bale petemon Kampung Naga terletak di daerah terbuka (open
space). Rincinya kedua bangunan tersebut berada di depan lapangan milik warga
masyarakat Kampung Naga. Masjid dan bale patemon merupakan dua bangunan
yang terletak di kawasan bersih yaitu di sekitar rumah masyarakat.
Masjid di Kampung Naga tidak hanya memiliki fungsi sebagai tempat ibadah atau
tempat menuntut ilmu agama. Lebih dari itu, fungsi Masjid Kampung Naga juga
sebagai tempat awal dan akhir dari pelaksanaan ritual Hajat Sasih. Jadi, selain
sebagai fungsi tempat ibadah, masjid juga memiliki fungsi lain yaitu tempat
pelaksanaan ritual adat. Sementara bale patemon mempunyai fungsi sebagai
tempat musyawarah milik masyarakat Kampung Naga.

20
Gambar 7 Mesjid

Sumber PKL ISBD Poltekkes Jalur khusus 2010

3) Saung lisung/ tempat menumbuk padi

Saung lisung, merupakan tempat masyarakat Kampung Naga menumbuk


padi. Bangunan ini dibuat terpisah dari perumahan, yaitu dipinggir (atau diatas)
balong (kolam ikan). Hal ini bertujuan agar limbah yang dihasilkan dari saung
lisung yaitu berupa huut (dedak) dan beunyeur (potongan-potongan kecil dari
beras) langsung masuk ke kolam dan menjadi makanan ikan. Dengan demikian,
praktis limbah yang dihasilkan tidak mengotori sektor bersih (perumahan) milik
warga. Demikian juga dengan kandang ternak. Kandang tersebut ditempatkan di
atas balong yang langsung bersisian dengan sungai Ciwulan. Limbah yang
dihasilkan kandang tersebut ditampung ke balong, atau langsung dialirkan ke
sawah-sawah milik warga.

Gambar 8 Bangunan untuk menumbuk padi

21
Sumber PKL ISBD Poltekkes Jalur khusus 2010

4) Leuit/ lumbung padi

Leuit (lumbung), merupakan bangunan yang terletak di sekitar perumahan


milik warga Kampung Naga. Leuit berfungsi untuk menyimpan padi hasil panen
yang disumbangkan warga. Padi-padi tersebut biasa digunakan manakala ada
kegiatan-kegiatan baik itu acara ritual maupun yang lainnya misalkan pemugaran
Masjid, bale patemon dan sebagainya.
Bangunan leuit ditempatkan di sektor perumahan jadi masuk ke dalam kawasan
bersih milik masyarakat Kampung Naga. Sebelum padi dimasukkan ke dalam
leuit padi dijemur terlebih dahulu sampai kering dan siap untuk ditumbuk

5) Pancuran, pacilingan atau tampian

Pancuran, pacilingan atau tampian (jamban) merupakan suatu bangunan


yang ukurannya bervariasi antara satu sampai empat meter bujur sangkar. Dinding
bangunan tersebut terbuat dari bilahan-bilahan pohon enau atau bambu
gelondongan yang dirakitkan. Pancuran ini kadang diberi atap (ijuk dan daun
tepus), atau dibiarkan terbuka. Airnya dialirkan melalui pipa-pipa yang terbuat
dari bambu gelondongan. Ketinggian jatuhnya air ke lantai jamban sekitar 60-100
cm. Aliran air yang demikianlah yang dikenal masyarakat Sunda dengan sebutan

22
pancuran. Air pancuran langsung disadap dari selokan air atau lebih langsung lagi
dai seke atau sumur (mata air).

Pancuran ditempatkan diatas balong-balong dengan ketinggian dari


permukaan air balong sekitar 0,25 sampai 0,50 meter. Dengan demikian, semua
kotoran langsung jatuh ke dalam balong sebagai makanan ikan dan penyubur
lumpur balong. Lumpur balong yang subur ini sekali atau dua kali dalam setahun
dialirkan masyarakat ke sawah. Jelasnya balong tersebut memiliki fungsi yang
banyak diantaranya adalah: Pertama, sebagai tempat pemeliharaan ikan; kedua,
digunakan sebagai tempat MCK; ketiga, sebagai tempat penghancur kotoran;
keempat, sebagai penyimpanan pupuk untuk menambah kesuburan sawah-sawah
di sekitarnya.

Gambar 9 Pacilingan/ MCK

Sumber PKL ISBD Poltekkes Jalur khusus 2010

Bentuk bangunan di Kampung Naga sama baik rumah, mesjid, patemon


(balai pertemuan) dan lumbung padi. Atapnya terbuat dari daun rumbia, daun
kelapa, atau injuk sebagi penutup bumbungan. Dinding rumah dan bangunan
lainnya, terbuat dari anyaman bambu (bilik). Sementara itu pintu bangunan

23
terbuat dari serat rotan dan semua bangunan menghadap Utara atau Selatan.
Selain itu tumpukan batu yang tersusun rapi dengan tata letak dan bahan alami
merupakan ciri khas gara arsitektur dan ornamen Perkampungan Naga.

Rumah yang berada di Kampung Naga jumlahnya tidak boleh lebih ataupun
kurang dari 110 bangunan secara turun temurun, dan sisanya adalah Masjid, leit
Gambar 10 denah dan sketsa rumah

sumber Suhendi, 1982


(Lumbung Padi) dan patemon (Balai Pertemuan). Apabila terjadi perkawinan dan
ingin memiliki rumah tangga sendiri, maka telah tersedia areal untuk membangun
rumah di luar perkampungan Kampung Naga Dalam yang biasa disebut Kampung
Naga Luar.

Semua peralatan rumah tangga yang digunakan oleh penduduk Kampung


Naga pun masih sangat tradisional dan umumnya terbuat dari bahan anyaman.
Dan tidak ada perabotan seperti meja atau kursi di dalam rumah. Hal ini tidak
mencerminkan bahwa Kampung Naga merupakan kampung yang terbelakang atau
tertinggal, akan tetapi mereka memang membatasi budaya modern yang masuk
dan selalu menjaga keutuhan adat tradisional agar tidak terkontaminasi dengan
kebudayaan luar.

Kampung ini menolak aliran listrik dari pemerintah, karena semua


bangunan penduduk menggunakan bahan kayu dan injuk yang mudah terbakar
dan mereka khawatir akan terjadi kebakaran. Pemangku adat pun memandang

24
apabila aliran listrik masuk maka akan terjadi kesenjangan sosial diantara
warganya yang berlomba-lomba membeli alat elektronik dan dapat menimbulkan
iri hati.

Rumah adat masyarakat Kampung Naga memiliki keunikan yang khas.


Jenis rumahnya adalah rumah panggung dengan ketinggian kolong sekitar 40-50
sentimeter .Bentuk dan bahan bangunan dasar rumah masyarakat Kampung Naga
adalah empat persegi panjang, dengan atap memanjang, Pada kedua ujung atap
terdapat suatu model silang atau cagak yang menyerupai sepasang tanduk. Cagak
tersebut terbuat dari batangan bambu atau kayu yang dibungkus ijuk. Posisi atau
orientasi rumah seragam, yaitu memanjang arah barat timur, sedangkan bagian
muka rumah menghadap ke arah selatan atau utara.

Kerangka rumah adat masyrakat Kampung Naga terutama terbuat dari


kayu dan bambu, atap terbuat dari ijuk dan daun tepus, sedangkan dinding rumah
seluruhnya terbuat dari anyaman bambu. Lantai rumah terbuat dari bambu yang di
cincang-cincang arah memanjang (tidak sampai putus), sehingga dapat
dibentangkan Karena bentuk rumahnya yang sederhana dan persegi empat, maka
biasanya bangunan rumah masyarakat Kampung Naga tidaklah pelik. Bagian
depan sekali (sebelum melewati pintu depan) terdapat tangga yang disebut
golodog. Golodog terbuat dari bambu dan ada juga yang terbuat dari
papan.Golodog biasanya terdiri dari satu atau dua tahapan dengan panjang
masing-masingdua meter dan lebar 30-40 cm. Selain berfungsi sebagai tangga
masuk, pada waktu-waktu tertentu golodog dijadikan tempat duduk-duduk baik
untuk bercengkrama atau semacamnya oleh kaum lelaki.Secara umum, pembagian
rumah masyarakat Kampung Naga adalah sebagai berikut:

A. Tepas Imah

Tepas imah merupakan ruang paling depan yang biasa dijadikan ruang
tamu. Ruang ini merupakan ruang laki-laki manakala menerima tamu yang datang
ke rumah mereka. Walau berfungsi sebagai ruang tamu, tepas imah milik

25
masyarakat Kampung Naga tidak dilengkapi dengan meja dan kursi.
Tepas imah sekaligus berfungsi sebagai filter yang menyaring berbagai
kemungkinan pengaruh buruk yang akan masuk kedalam rumah. Oleh karena itu,
tepas imah juga dilengkapi dengan penolak bala yang terbuat dari ketupat yang
diisi beras dan di doa oleh bapak lebe pada saat bulan Muharam diganti setahun
sekali.ini dipercaya oleh masyarakat Kampung Naga sebagai penolak bala yang
menjaga seluruh penghuni rumah. Setahun sekali, setiap bulan Muharram,

Letak pintu depan tempat menggantung penolak bala tersebut tidak boleh
sejajar dengan pintu belakan atau pintu dapur. Rumah dengan posisi pintu yang
seperti itu dipercaya masyarakat tidak akan membawa keberuntungan. Selain itu,
mereka juga mempercayai bahwa posisi pintu tempat menggantung tangtang
angin yang sejajar dengan pintu belakang akan membawa kesulitan ekonomi bagi
pemiliknya, karena rezeki yang datang dari pintu depan akan langsung keluar
melalui pintu belakang tanpa sempat mampir di dalam rumah tersebut.

Gambar 11 Pintu depan rumah dipasangi penolak bala

Sumber PKL ISBD Poltekkes Jalur khusus 2010

B. Tengah Imah

Tengah imah merupakan bagian tengah dari rumah masyarakat Kampung


Naga. Sebagai ruang tengah, tengah imah berfungsi sebagai ruang tempat

26
keluarga berkumpul. Bagi mereka yang memiliki anak, ruang tersebut berfungsi
sekaligus sebagai ruang belajar bagi mereka.

Namun karena rumah masyarakat Kampung Naga rata-rata berukuran 6x8


meter, pada malam hari tengah imah sering dijadikan tempat tidur untuk anak-
anak, atau sanak keluarga yang menginap. Walau demikian, antara tengah imah
dengan tepas imah tidak memiliki pembatas. Sehingga jika dirasa masih
kekurangan tempat, tepas imah biasa juga dijadikan tempat untuk tidur.

C. Pangkeng

Pangkeng artinya ruangan tempat tidur.. Untuk mereka yang memiliki


rumah lebih besar, biasanya memiliki dua pangkeng. Tetapi karena rata-rata luas
bangunannya terbatas, kebanyakan rumah di Kampung Naga hanya memiliki satu
pangkeng.

D. Dapur dan Goah

Dapur dan goah merupakan kebalikan dari tepas imah karena wilayah ini
merupakan wilayah kekuasaan kaum wanita. Di ruang inilah sebagian besar kaum
wanita masyarakat Kampung Naga menghabiskan waktunya. Dapur berfungsi
sebagai tempat memasak dan menyediakan hidangan. Sedangkan goah merupakan
tempat penyimpanan beras atau gabah, dan bahan kebutuhan pokok lainnya.
Untuk meringankan pekerjaan, letak dapur dan goah sengaja dibuat secara
berdekatan.

Gambar 12 Alat masak warga Kampong Naga

27
Sumber PKL ISBD Poltekkes Jalur khusus 2010

E. Kolong Imah

Kolong imah berada di antara permukaan tanah dengan bagian bawah


lantai rumah. Tingginya kurang lebih 60 sentimeter. Kolong imah biasanya
dijadikan sebagai tempat penyimpanan alat-alat pertanian, atau bisa juga dipakai
sebagai tempat memelihara ternak seperti ayam, itik dan sebagainya

Gambar 13 Susunan rumah warga Di Kampung Naga

Sumber PKL ISBD Poltekkes Jalur khusus 2010

B. System kemasyarakatan

28
System kepemimpinan mempunyai dua pemimpin. Pemimpin pertama
sering disebut pemimpin formal, merupakan perpanjangan birokrasi. Sedangkan
pemimpin yang kedua adalah Kepala Adat. Karena tidak mempunyai hubungan
langsung dengan birokrasi, kepala adat sering disebut pemimpin nonformal.
Mengenai ketaatan mereka kepada pemerintah, mereka merujuk kepada
falsafah “Tatali kumawulang ka agama jeung darigama, saur sepuh aya tilu,
panyaur gancang temonan, parentah gancang lampahan pamundut gancang
caosan, upami teu udur ti agama jeung darigama. Pamarentah lain lawaneun
tapi taateun salila teu udur ti agama jeung darigama” (Ada tiga hal yang
dikatakan oleh orang tua dahulu mengenai aturan dalam mengabdi kepada agama
dan darigama yaitu: panggilan cepat datangi, perintah cepat laksanakan, dan
permintaan cepat penuhi. Pemerintah bukanlah sesuatu yang harus dilawan tapi
sesuatu yang harus ditaati selama tidak bertentangan dengan aturan-aturan agama
dan darigama (Darigama merupakan aturan-aturan hidup yang dipegang oleh
masyarakat Kampung Naga selain agama. Aturan-aturan tersebut diantaranya
adalah aturan-aturan adat dan aturan-aturan yang turun dari pemerintah))
Falsafah Amanat, wasiat dan akibat, serta pamali merupakan dua hal yang saling
memberikan kekuatan.

a) Gambaran struktur kepemimpinan nonformal di Kampung Naga


adalah:

1) Kuncen yaitu bapak Ade Suherlin


Kuncen merupakan pemangku adat sekaligus pemimpin masyarakat.
Kuncen memiliki wewenang untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi
masyarakatnya, baik yang berhubungan dengan adat, maupun dengan
tugas-tugas dari pemerintahan setempat. Tugas lain yang dimiliki Kuncen
adalah bertanggung jawab untuk menjaga, melaksanakan dan memimpin
acara-acara adat.

2) Punduh adat yaitu Bpk ma’un

Ngurus laku meres gawe ( mengayomi warga )

Menjaga dan memelihara fasilitas umum yang ada di kampong naga

29
3) Lebe Yaitu Bpk Ateng Jaelani

Mengurus jenazah dari awal sampai akhir dan yang membaca doa pada
setiap upacara

b) Gambaran struktur kepemimpinan formal di Kampung Naga adalah:

1) Ketua RW : Bpk Okin

2) Ketua RT : Bpk Risman

3) Kadus : Bpk Suharyo

Mereka bertugas sebagaimana tugas-tugas RT dan RW di tempat lain.


Hanya saja secara adat, ketua RT yang ada di Kampung Naga hanya pelaksana
teknis dari hasil-hasil kompromi antara pemangku adat dengan pemerintah
setempat. Setiap rencana kegiatan di kampung atau kegiatan yang diturunkan dari
desa, senantiasa dibawa terlebih dahulu ke musyawarah kampung yang diadakan
di bale kampung. Musyawarah dipimpin langsung oleh Kuncen, sementara
anggota musyawarah terdiri dari para sesepuh Kampung Naga sebagai penasehat
dan narasumber bagi Kuncen.

Dalam sistem politik kami tekankan pada pemilihan ketua adat yaitu
dengan cara bermusyawarah untuk mufakat dimana yang dijadikan kandidat yang
akan duduk di pemerintahan adalah orang-orang yang dianggap berpengalaman
dan berpengetahuan tinggi dalam bidang-bidang yang ada.

C. System Religi

Masyarakat Kampung Naga adalah penganut agama Islam. Tidak ada


perbedaan dengan penganut Islam lainnya, Bagi masyarakat Kampung Naga,
agama dan adat merupakan kendali dalam mengatur kehidupan mereka. Ketaatan

30
mereka kepada agama merupakan kewajiban yang diturunkan leluhur mereka.
Dan ini berarti juga bentuk ketaatan mereka kepada adat istiadat yang selama ini
mereka pegang teguh

Penduduk Kampung Naga sumuanya mengaku beragama Islam, akan


tetapi sebagaimana masyarakat adat lainnya mereka juga sangat taat memegang
adat istiadat dan kepercayaan nenek moyangnya.
Tentang informasi yang beredar di media,bahwa warga kampong naga
hanya menjalankan sholat lima waktu hanya pada hari jum’at saja tetapi setelah
kami konfirmasi masalah tersebut menurut bapak Risman dan bapak Ma’un yang
merupakan sesepuh di kampong naga itu tidaklah benar warga disini menjalankan
syariat islam sesuai dengan yang diperintahkan sama seperti oaring yang beraga
Islam lainnya yang ada di Indonesia ini.mengapa beredar kabar seperti itu
menurut beliau kemungkinan mereka dapat informasi yang tidak lengkap atau
pada saat mengunjungi kampong naga hanya pada hari Jum’at saja, wallahualam
Pengajaran mengaji bagi anak-anak dikampung Naga dilaksanakan pada
malam senin dan malam kamis, sedangkan pengajian bagi orang tua dilaksanakan
pada malam jumat.. Upacara Hajat Sasih ini menurut kepercayaan masyarakat
Kampung Naga sama dengan Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Fitri.
Menurut kepercayaan masyarakat Kampung Naga, dengan menjalankan
adat-istiadat warisan nenek moyang berarti menghormati para leluhur atau
karuhun. Segala sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhun Kampung
Naga, dan sesuatu yang tidak dilakukan karuhunnya dianggap sesuatu yang tabu.
Apabila hal-hal tersebut dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga berarti
melanggar adat, tidak menghormati karuhun, hal ini pasti akan menimbulkan
malapetaka.
. Demikian juga tempat-tempat seperti makam Sembah Eyang Singaparna,
Bumi agueng dan mesjid merupakan tempat yang dipandang suci bagi masyarakat
Kampung Naga. Tabu, pantangan atau pamali bagi masyarakat Kampung Naga
masih dilaksanakan dengan patuh khususnya dalam kehidupan sehari-hari,
terutama yang berkenaan dengan aktivitas kehidupannya.pantangan atau pamali
merupakan ketentuan hukum yang tidak tertulis yang mereka junjung tinggi dan

31
dipatuhi oleh setiap orang. Misalnya tata cara membangun dan bentuk rumah,
letak, arah rumah,pakaian upacara, kesenian, dan sebagainya.

Sistem kepercayaan masyarakat Kampung Naga terhadap ruang terwujud


pada kepercayaan bahwa ruang atau tempat-tempat yang memiliki batas-batas
tertentu dikuasai oleh kekuatan-kekuatan tertentu pula. Tempat atau daerah yang
mempunyai batas dengan kategori yang berbeda seperti batas sungai, batas antara
pekarangan rumah bagian depan dengan jalan, tempat antara pesawahan dengan
selokan, tempat air mulai masuk atau disebut dengan huluwotan, tempat-tempat
lereng bukit, tempat antara perkampungan dengan hutan, dan sebagainya,
merupakan tempat-tempat yang didiami oleh kekuatan-kekuatan tertentu. Daerah
yang memiliki batas-batas tertentu tersebut didiami mahluk-mahluk halus dan
dianggap angker atau sanget. Itulah sebabnya di daerah itu masyarakat Kampung
Naga suka menyimpan "sasajen" (sesaji).

Upacara Adat di Kampung Naga

Upacara-upacara yang senantiasa dilakukan oleh masyarakat Kampung


Naga ialah Upacara Menyepi, Upacara Hajat Sasih, dan Upacara Perkawinan.

a) Menyepi

Upacara menyepi dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga pada hari


selasa, rabu, dan hari sabtu. Upacara ini menurut pandangan masyarakat
Kampung Naga sangat penting dan wajib dilaksanakan, tanpa kecuali baik laki-
laki maupun perempuan. Oleh sebab itu jika ada upacara tersebut di undurkan
atau dipercepat waktu pelaksanaannya. Pelaksanaan upacara menyepi diserahkan
pada masing-masing orang, karena pada dasarnya merupakan usaha menghindari
pembicaraan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat. Melihat
kepatuhan warga Naga terhadap aturan adat, selain karena penghormatan kepada
leluhurnya juga untuk menjaga amanat dan wasiat yang bila dilanggar dikuatirkan
akan menimbulkan malapetaka.

32
b) Hajat Sasih

Upacara Hajat Sasih dilaksanakan oleh seluruh warga adat Sa-Naga, baik
yang bertempat tinggal di Kampung Naga maupun di luar Kampung Naga.
Maksud dan tujuan dari upacara ini adalah untuk memohon berkah dan
keselamatan kepada leluhur Kampung Naga, Eyang Singaparna serta menyatakan
rasa syukur kepada Tuhan yang mahaesa atas segala nikmat yang telah
diberikannya kepada warga sebagai umat-Nya.

Hajat Sasih dilaksanakan dalam setahun enam kali, yaitu

1. Bulan Muharam (Tahun Baru Hijriah)


2. Bulan maulid (Kelahiran Nab Muhammad SAW)
3. Bulan Jumadil Akhir (Pertengahan Tahun Hijriah)
4. Bulan Reuwah (Nisfu Sa’ban)
5. Bulan Syawal (Idul Fitri)
6. Bulan Rayagung (Idul Adha)

Pelaksanaan upacara tradisional (Hajat sasih) dilakukan oleh kaum lanang


(laki-laki), sedang kaum wadon (isteri), menyediakan makanan berupa tumpeng
dan makanan alakadarnya untuk hidangan yang disajikan pada riungan bersama di
mesjid,dan bale kampung yang dipimpin oleh kuncen, yang diawali terlebih
dahulu melaksanakan keramas disungai ci wulan menggunakan akar kepirit dan
honje kemudian ziarah ke makam Kampung Naga.acara ini dihadiri oleh semua
warga adat yang aga dikampung adat ataupun yang tinggal di luar kampung
naga.ditutup Doa oleh pak lebe adat yaitu bapak Ateng.pada saat Bulan Muharam
pager luar diganti,juga tolak bala yang berupa ketupat yang diisi beras dan
dikumpulkan oleh seluruh warga kemudian diberi doa tolak bala kemudian
dipasangkan didepan rumah ( digantung di pintu depan ).

D. SISTEM BAHASA

33
Dalam berkomunikasi warga Kampung Naga mayoritas menggunakan
bahasa Sunda Asli, hanya sebagian orang dalam arti yang duduk di pemerintahan.
Adapula yang bisa berbahasa Indonesia itupun masih terlihat kaku dalam
pengucapannya.

E. SUMBER AIR

Air untuk kebutuhan kampong naga berasal dari dua sumber yang
dialirkan melalui buluh bamboo, air dari mata air disebelah selatan kampong
digunakan hanya untuk minum dan memasak, sedangkan untuk keperluan mandi,
MCK wudhlu berasal dari sangai ciwulan dan air permukaan yang melewati
sawah masuk ke bak – bak penyaringan untuk dialirkan ke bak air wudlu dan
jamban.
Gambar 14 Sumber air bersih untuk minum

Sumber PKL ISBD Poltekkes Jalur khusus 2010

Gambar 15 Sumber air untuk mencuci dan wudhu

34
Sumber PKL ISBD Poltekkes Jalur khusus 2010

F. PENERANGAN

Untuk penerangan warga kampong naga ini memakai lampu temple dari
minyak tanah yang disubsidi dari pemerintah, masyarakat tidak memakai listrik
dengan alas an bahwa bahan bangunan pemukiman yang ada dikampung naga
tidak cocok menggunakan listrik dan mudah terjadi kebakaran.

Gambar 16 Sumber penerangan rumah pada siang hari

Sumber PKL ISBD Poltekkes Jalur khusus 2010

35
G. KESENIAN

Terdapat tiga pasangan kesenian di Kampung Naga diantaranya :

1) Terbang gembrung

Terbang gembrung hampir mirip dengan tagonian yang banyak dijumpai.


Bedanya, bentuk dan ukuran terbang gembrung di Kampung Naga lebihbesar dan
irama pukulannya lebih sederhana.

Terbang Gembrung adalah alat musik tradisional yang disajikan dalam


bentuk nyanyi. Bentuknya agak berbeda dengan terbangan yang biasa dilihat di
luar Kampung Naga. Terbangan di Kampung Naga berjumlah empat, tidak ceper
atau tipis.Terbang kesatu (tingting) berukuran lebih kecil dari terbang
kedua(kemprang), terbang kedua lebih kecil dari terbang ketiga (bangpak), dan
terbang ketiga lebih kecil dari terbang keempat (brungbrung). Terbang kedua dan
ketiga biasanya disatukan dengan kayu penyambung sehingga dapat dimainkan
oleh satu orang.

Gambar 17 Alat music terbangan gembrung

36
Sumber PKL ISBD Poltekkes Jalur khusus 2010

Terbang gembrung biasanya dimainkan oleh kaum laki-laki. Para pemain


duduk berjejer sesuai ukuran terbang yang akan dimainkan. Lagu-lagu yang
dibawakan menggunakan bahasa Arab berupa pupujian yang mengagungkan
kebesaran Tuhan dan salawat kepada Nabi Muhammad SAW.. Nyanyian yang
diambil dari kitab suci Al-Qur’an itu, dibawakan bersama-sama dengan iringan
pukulan atau bunyi terbang. Pertunjukan terbangan diadakan di dalam ruang
Masjid, atau di lapangan terbuka Kampung Naga. Selain itu, terbangan juga
dipertunjukkan pada perayaan 17 Agustus untuk mengiringi jempana18 bersama-
sama dengan angklung.

2) Angklung

Bentuk angklungdi Kampung Naga tidak jauh berbeda dengan bentuk


angklung di luar Kampung Naga. Bedanya hanya dalam ukuran. Angklung
Kampung Naga berukuran lebih besar, terbuat dari beberapa ruas bambu.
Seperangkat angklung Kampung Naga terdiri dari empat angklung dengan
ukuran berbeda dari yang paling kecil sampai ke angklung yang paling besar.

37
Cara memainkannya dengan menggoyang-goyangkan instrumen bambu tersebut,
dan setiap unit angklung memiliki nada suara berbeda.
Dalam fungsinya sebagai alat hiburan, angklung digunakan untuk mengiringi
jempana pada perayaan 17 Agustus, dan khitanan masal.

3) Terbang sejak

Alat music ini didigunakan pada perayaan 17 agustu dan khitanan masal

Di bidang kesenian masyarakat Kampung Naga mempunyai pantangan atau tabu


mengadakan pertunjukan jenis kesenian dari luar Kampung Naga seperti wayang
golek, dangdut, pencak silat, dan kesenian yang lain yang mempergunakan
waditra goong.. Namun bagi masyarakat Kampung Naga yang hendak menonton
kesenian wayang, pencak silat, dan sebagainya diperbolehkan kesenian tersebut
dipertunjukan di luar wilayah Kampung Naga.

H. PERKAWINAN

Pernikahan yang dilakukan di Kampung Naga ditentukan oleh kaum laki-


laki,mau cepat atau lambat, kapan tanggal pernikahan dan lainnya. Tidak ada
larangan untuk menikah dengan orang luar kampung naga, yang dilarang adalah
mendirikan bangunan lagi. Hal ini dikarenakan pemukimam sudah sangat.padat
sehingga kalau menambah bangunan baru akan mempersempit lahan untuk
bercocok tanam. Karena itu apabila ada yang menikah dengan orang luar,
diizinkan juga untuk keluar dari kampung naga.

Orang tua tidak pernah menjodohkan anaknya, anaknya berhak memilih


pasangan hidupnya sendiri.Upacara pada saat sebelum perkawinan dan
perkawinan :Lamaran, hanya keluarga tedekat saja.Menentukan hari pernikahan
oleh kedua belah pihak dan minta bantuan dari sesepuh.Barang bawaan nya
berupa perabot rumah tangga lengkap, makanan, emas, dan uang.Makanan yang
disajikan pada saat pesta untuk menjamu orang yang seserahan biasanya
menyembelih kambing.

38
perkawinan bagi masyarakat Kampung naga adalah Upacara yang
dilakukan setelah selesainya akad nikah. Adapun tahap-tahap upacara tersebut
adalah sebagai berikut : upacara sawer, nincak endog, buka pintu, ngariung,
ngampar, dan diakhiri dengan munjungan

Akhirnya selesailah rangkaian upacara perkawinan di atas. Sebagai


ungkapan rasa terima kasih kepada para undangan, tuan rumah membagikan
makanan kepada mereka. Masing-masing mendapatkan boboko (bakul) yang
berisi nasi dengan lauk pauknya dan rigen yang berisi opak, wajit, ranginang, dan
pisang.

Beberapa hari setelah perkawinan, kedua mempelai wajib berkunjung


kepada saudara-saudaranya, baik dari pihak laki-laki maupun dari pihak
perempuan. Maksudnya untuk menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan
mereka selama acara perkawinan yang telah lalu. Biasanya sambil berkunjung
kedua mempelai membawa nasi dengan lauk pauknya. Usai beramah tamah,
ketika kedua mempelai berpamitan akan pulang, maka pihak keluarga yang
dikunjungi memberikan hadiah seperti peralatan untuk keperluan rumah tangga
mereka.

setelah menikah biasanya pasangan tinggal dipihak istri tapi ada juga yang
tinggal dipihak suami sampai mempunyai rumah sendiri.

 Upaya untuk segera mempunyai anak

Memakan buah Munu yang telah diberi jampi atau do’a oleh paraji dimakan
oleh laki – lakinya dan perempuannya.

Pertanda jika kedepannya akan terjadi kehamilan akan terdengar oleh paraji
suara burung hantu, dan jika tidak terdengar pertanda tidak akan punya anak.

I. PAKAIAN

Pakaian adat yang ada di Kampung Naga terdiri dari dua, yaitu pakaian
adat yang dipakai sehari-hari dan pakaian adat yang khusus dipakai saat ada

39
upacara ritual. Pakaian adat ini memiliki empat unsur yang dapat dibedakan
secara jelas dibandingkan dengan masyarakat umumnya.

Diantaranya adalah baju kampret (mirip jubah) berwarna putih atau hitam,
totopong atau ikat kepala dari kain batik, sarung poleng (pelekat) atau calana
komprang (mirip dengan celana kolor panjang), berwarna putih, biru atau hitam.
Bentuk pakaian yang dipakai ketika Hajat Sasih menyerupai jubah berlengan
panjang. Jubah tersebut mirip dengan jubah yang dipakai oleh mayarakat Arab,
hanya saja jubah Kampung Naga tidak memiliki kancing. Untuk merapatkannya,
dalam jubah tersebut terdapat seutas tali dari kain. Sebagian besar warna pakaian
tersebut adalah putih. Akan tetapi ada pula yang berwarna biru telur asin. Selain
itu, mereka juga menggunakan tutup kepala yang disebut totopong, atau iket khas
masyarakat Kampung Naga. Mereka juga memakai sarung poleng tanpa celana
dalam, tanpa alas kaki dan tanpa perhiasan apapun terutama dari logam.

J. PANTANGAN – PANTANGAN :

1) Hutan keramat berada di sebelah barat perkampungan. Secara lokasi,


hutan keramat berada lebih tinggi dibandingkan dengan perkampungan.
Hutan ini masih terjaga kelestariannya. Masyarakat Kampung Naga tidak
berani memasuki hutan ini kecuali pada saat pelaksanaan ritual Hajat
Sasih di dalam hutan ini terdapat makam leluhur masyarakat Kampung
Naga

2) Hutan larangan merupakan satu dari dua hutan yang disakralkan oleh
masyarakat Kampung Naga. Hutan ini berada di sebelah timur
perkampungan di seberang Sungai Ciwulan. Tidak berbeda dengan hutan
keramat, hutan larangan juga terjaga kelestariannya. Masyarakat
Kampung Naga memiliki kepercayaan bahwa hutan larangan merupakan
tempat para dedemit yang dipindahkan oleh Sembah Dalem Eyang
Singaparna ke hutan tersebut sebelum membangun perkampungan.

40
3) Bumi Ageung merupakan tempat sakral ketiga yang tidak boleh dimasuki
oleh masyarakat kecuali oleh kuncen, punduh adat, lebe dan patunggon
bumi ageung. Rumah ini berada di tengah-tengah antara hutan keramat
dan hutan larangan. Bumi ageung mereka percayai sebagai kawasan netral
yang berada antara sisi positif (hutan keramat) dan sisi negatif (hutan
larangan) yang dimiliki oleh masyarakat Kampung Naga.pengunjung pun
tidak boleh mengambil gambar bumi ageing ini dalam jarak yang terlalu
dekat, minimal 5 meter.

K. BUDAYA MAKAN

Informasi yang didapat dari informan masyarakat Kampung Naga


makanan pokoknya adalah nasi, ubi yang diolah / dimasak dengan menggunakan
peralatan dapur : hawu / tungku, dan alat – alat kerajinan anyaman bambu, cara
penyajiannya yaitu mereka makan bersama-sama di balai rumah, letak dapur
berada di bagian depan rumah karena menurut mereka bahwa dengan letak di
bagian depan menandakan tidak ada yang disembunyikan atau ditutup-tutupi
dalam keluarga baik segi makanan atau dalam hal yang lainnya, masyarakat
Kampung Naga menjunjung tinggi sikap kegotong royongan.
Makanan pantangan bagi ibu hamil adalah cau manggala atau pisang
klutuk dan tiwi / tebu karena menurut mereka akan berakibat buruk pada saat
melahirkan misalnya demam atau panas dingin.

BAB IV

41
POLA PENGASUHAN ANAK

A. MASA PRENATAL

Pada setiap kehamilan ibu merasa pusing , mual dan muntah, ngidam ini
berlangsung sampai 3-4 bln pertama bahkan pada anak ketiga ibu mengeluh
sampai usia 7bln.istilah yang ibu tahu pada kehamilan adalah pada umur 1bln
disebut gumulung, 4bln disebut mangrupa, dan pada umur 7 bulan disebut malik
.Ibu memeriksakan kehamilannya dengan rutin ke bidan Nur di rancak setiap
bulan pada trimester I dan II, dan I minggu sekali pada saat trimester III, untuk
kesehatan kehamilannya ibu meminum vitamin yang di berikan oleh bidan dan
makan makanan yang bergizi,kadang2 minum susu.

Upacara yang dilakukan selama hamil yaitu pada umur kehamilan 3 bln
ditetepkeun oleh paraji dengan ritual diurut dan diberi air doa yang harus diminum
dan benda seperti bawang putih, gunting kuku dan panglai yang sudah diberi doa
tolak bala harus disematkan dipakaian ibu tersebut selama hamil kemanapun
pergi.

Pada usia 7 bulan dilakukan ritual mandi kembang yang dipimpin oleh
paraji.Pantangan pada saat hamil bagi ibu adalah Keluar pada sore, malam hari
dan subuhMakan es, baso dan nanasPantangan pada saat hamil untuk keluarga
yaitu : membelitkan handuk ke leher .Mempersiapkan baju bayi pun tidak boleh
sebelum lahir, jika bayi lahir, baju akan dipinjamkan oleh keluarga atau tetangga
yang mempunyai baju bayi.

B. MASA II ( LAHIR – 5 THN )

Semua kelahiran yang ibu alami adalah normal ditolong oleh ibu bidan
Nur didampingi oleh paraji dirumahnya.Placenta yang dilahirkan dikuburkan
harus di bawah rumahnya , sebelumnya placenta itu dimasukan kedalam awi
ruwat kemudian ditutup kain boeh ( kafan ) lalu diberi bumbu.tempat placenta

42
dikuburkan setiap hari pada pagi dan sore harus disiram pakai air yang panas agar
tidak dikerumuni oleh semut,karena jika dikerumuni oleh semut nanti anaknya
akan rewel,cengeng.

Setelah ibu bersalin paraji akan memberikan beras dan cikur dan air
citalawangkar yaitu air dari coet atau pecahan batu,genting kemudian dibakar
sampai menjadi bara lalu diseduh dan diminum hanya satu kali saja setelah
melahirkan.

Bayi diberikan ASI 3 hari pertama oleh tetangga atau keluarga yang lain
yang lagi menyusui karena siibu ASInya blm keluar.tetapi menurut siibu memang
kebiasaannya seperti itu.

Ibu dirawat selama 40 hari oleh paraji dan suami naik setelah 3 bulan.Ibu
berKB dengan cara injeksi di bidan.karena keinginan ibu tuk punya aanak
cukup.dan keputusan ini didukung oleh suami.Jika ibu atau anaknya sakit sebelum
kedokter atau bidan dijampe dulu oleh paraji atau ke sesepuh yang bisa
mengobati.

Ritual- ritual yang dilakukan selama persalinan sampai dengan 40 hari yaitu :

1) Proses ngagebrag orok

Setelah bayi lahir bayi dibedong terus dimasukan kedalam ayakan bersama
dengan pakaian bapak dan ibunya, lalu siayakan tadi disimpan ditengah rumah,
kemudian paraji memukulkan alu sebanyak 3 kali disamping ayakan tadi, sambil
membaca do’a, setelah itu ayakan dibawa keatas hawu yang sedang mati sambil
paraji berkata silahkan ambil sifat jeleknya seperti rewel, cengeng dll dan ditampi
sifat baiknya.

2) Proses nyalametkeun orok / selamatan untuk bayi

Biasanya nyalametkeun orok ini pada hari ke 3 ritual yang dikerjakan adalah
keluarga menyembelih ayam kemudian mengambil sedikit darah ayam lalu
dioleskan dikening ibu yang baru melahirkan dan juga bayinya ini disebut dengan

43
ritual ngagantian getih ( mengganti darah ) dan ayamnya dijadikan ayam bakakak
untuk paraji.

3) Ritual pada ibu yang baru melahirkan sampai 40 hari

Ibu ditameuh yaitu berupa racikan yang dibuat oleh paraji yang disimpan
diatas perut siibu pada ke 3malam, ke 7 malam, ke 20 malam, ke 25 malam,1
bulan dan 40 hari.Setelah 40 hari paraji menyerahkan air cucian beras pada suami
dan keluarga yang pernah mencuci baju si ibu yang melahirkan.

C. POLA PENGASUHAN ANAK MASA KANAK – KANAK DAN


MASA REMAJA :

Sekarang ini Lina beserta adiknya yang paling dekat sudah tidur terpisah
dengan orang tuanya namun masih dalam satu ruangan tetapi dihalangi oleh
lemari.pemisahan tempat tidur ini tidak dipaksakan oleh kedua orang tuanya tetapi
bagaimana keinginan anaknya saja.

Semenjak usia 7 tahun Lina mengaji di mesjid yaitu membaca Iqra dan
sekolah SD.Lina sewaktu kecil bermain di halaman rumahnya kadang sampai
makan pun mereka makan didepan rumah bersama teman – temannya.

Pada saat Lina mulai beranjak remaja dan mendapatkan haid pertama tidak
ada ritual khusus yang dilakukan dan sebelumnya ibunya tidak memberitahu,
dengan alasan nanti juga sianak akan tahu sendiri begitu pula dengan pendidikan
seks.Kegiatan setelah pulang sekolah selain belajar dan membantu ibuny dirumah
lina bermain bersama- sama teman seusianya.menurut Lina banyak temannya
yang tidak melanjutkan sekolah seperti dirinya.dan kegiatan mereka yang tidak
sekolah selain membantu orang tuanya bermain bersama teman- temannya. Untuk
mempunyai pacar Lina dinasehati oleh ibunya untuk tidak berpacaran dulu tapi
untuk sekolah yang rajin karena malu oleh uwanya yang telah membiayainya.Tapi
untuk jodoh kelak orang tuanya tidak akan memaksakan keinginan anaknya untuk
mencari sendiri, karena jika tidak cinta atau saling suka rumah tangganya tidak
akan langgeng, karena orang tuanya juga mencari sendiri jodohnya.

44
BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari uraian diatas terlihat bahwa, masyarakat kampung naga sangat


memegang teguh adat istiadat. Setiap larangan harus ditaati dan jika dilanggar
maka adat yang akan mengambil tindakan. Manfaat dari setiap aturan tidak lain
adalah untuk kepentingan masyarakat.Larangan adanya tempat-tempat tertentu
yang tidak boleh dijamah oleh manusia yang dikatakan “Pamali” tersebut adalah
hutan yang letaknya dibelakang pemukiman dan diseberang sungai serta daerah
sekitar air terjun yang ada didekat perkampungan.

Nilai/norma tersebut ternyata sangat bermanfaat karena dengan adanya


larangan tersebut maka kelestarian hutan pada tempat-tempat yang dilarang tetap
terjaga. Adanya larangan untuk memasuki hutan tersebut baik pendatang maupun
penduduk kampung naga (kecuali pemangku adat), bila ditinjau dari aspek
pelestarian hutan kemungkinan dimaksudkan agar tanaman yang ada tidak
ditebang yang dapat menyebabkan hutan gundul dan mempermudah terjadi erosi
dan banjir besar yang dapat berakibat pada kerusakan lingkungan terutama
perkampungan mereka.

Pemahaman individu atau masyarakat terhadap penciptaan keselarasan


dalam lingkungan hidupnya merupakan referensi dalam mewujudkan tingkah laku
(perilaku) dalam berinteraksi, baik terhadap alam maupun hubungan sosial.
Pengetahuan terhadap aturan, nilai, dan norma merupakan suatu kesatuan dalam
membentuk suatu tatanan, tentang cara-cara berbuat baik (etika) dalam
berinteraksi terhadap alam sekitarnya. Orang yang bertindak tidak sesuai dengan
kebiasaan umum berdasarkan aturan, norma dan nilai yang diakui oleh
masyarakatnya dikatakan sebagai orang tidak baik atau dianggap melanggar etika
atau tidak berbudaya.

Tradisi merupakan pewarisan atau penerusan norma-norma, adat istiadat


dan kaidah-kaidah yang dapat dinyatakan sebagai “inti kebudayaan” (culture core)

45
termasuk sistem nilai yang menunjukkan aturan hubungan timbal balik yang ada
dalam masyarakat. Ketaatan masyarakat terhadap tradisi membentuk pola perilaku
secara mandiri, demikian juga terhadap etika sosial membentuk cara bertindak
yang relatif sama diantara sesama warga misalnya bangunan rumah (model, warna
dan bahannya), membuat kerajinan tangan (model, motif dan bahannya),
berusahatani padi (bibit dan teknik budidayanya), beternak kambing (bibit dan
teknik pemeliharaannya), memelihara ikan air tawar (bibit dan cara budidayanya),
dan membuat pupuk organik (bahan baku dan komposisinya).

Aktivitas harian tersebut membentuk satu pola tradisi untuk menjaga


keselarasan agar tidak tercipta persaingan antara anggota masyarakat, selanjutnya
dipererat dengan jiwa kegotong-royongan yang merupakan bentuk saling
menolong dan saling berbagi antar sesama.

Dalam mempertahankan norma dan nilai warisan nenek moyang


keterlibatan semua pihak sangat diperlukan yaitu adanya peran kelembagaan baik
formal (berkaitan dengan pemerintah Negara) dan non formal (berkaitan dengan
pengaturan kehidupan, norma dan nilai dalam masyarakat) serta kesadaran
individu itu sendiri untuk mengikuti norma yang berlaku.

Dan juga keterbukaan masyarakat akan pentingnya arti kesehatan untuk


dirinya keluarganya dan lingkungannya, bisa dilihat dengan jelas dengan setiap
adanya persalinan dan pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan walaupun
harus ke luar kampung naga.dan tidak adanya kematian ibu dan bayi karena
melahirkan menjadikan tanda masyarakat memahami akan pentingnya kesehatan
ibu dan bayi.

Untuk ber Kb pun warga kampong Naga sangat memahami akan


pentingnya untuk ber KB, dengan inisiatif sendiri mereka datang ke Bidan tanpa
paksaan dari luar.

Masyarakat kampung naga terbuka dan menerima inovasi teknologi baru


sepanjang tidak mengubah tatanan nilai dan norma yang ada dalam masyarakat
dan teknologi baru tersebut memberikan nilai positif serta menguntungkan.

46
B. SARAN

Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan saran yang penulis


berikan agar kampung naga tetap mempertahankan adat dan tradisi yang mereka
pegang teguh dengan tidak melanggar ketentuan agama dan pemerintah dan yang
tidak mempengaruhi kondisi kesehatan bagi masyarakat kampung Naga itu
sendiri.seperti untuk pola pemukiman yang sudah baik dengan dipisahkan
pemukiman kotor dan pemukiman bersih.dimana pemukiman bersih hanya
diperuntukan bagi pemukiman warga saja sedangkan wilayah kotor tempat
bangunan kandang binatang ternak.

Sehingga tidak adanya kandang – kandang yang berdekatan denga rumah


warga karena telah dibatasi oleh pagar batas wilayah kotor dan wilayah bersih.
Masih disayangkan kolong rumah masih dipakai untuk kandang ayam, ini
merupakan polusi bagi rumah itu sendiri yang dibikin dari anyaman bamboo,
sehingga rumah menjadi kurang hygenis.

Untuk kondisi rumah juga harus dipertahankan karena selain rumah itu
tahan gempa ( dibuktikan pada saat ada gempa diTasikmalaya rumah dikampung
Naga tidak ada yang rusak satu pun) juga cukupnya ventilasi dan penerangan yang
cukup pada siang hari.

Untuk pembuangan sampah walaupun kami tidak menelitinya lebih lanjut


tapi tidak jelasnya jalur pembuangan sampah atau antara yang sampah organic
dan anorganik, karena sudah banyaknya sampah yang dibuat dari plastic ( karena
banyaknya pengunjung ataupun warga sendiri ) jika dibuang kesungai akan
merusak lingkungan kampung Naga itu sendiri.

Untuk dibidang pelayanan kesehatan warga kampung Naga sudah sangat


berpartisipasi dalam menunjang pembangunan kesehatan di Indonesia khususnya
di Jawa barat dengan tidak adanya kematian ibu dan bayi dalam tahun tahun
terakhir ini.hal ini disebabkan karena warga setempat selalu dibantu oleh Bidan
jika melahirkan dan keikutsertaan paraji pada saat persalinan hanyalah merawat
ibu dan bayinya selama 40 hari, hal ini agar terus di pertahankan.

47
Untuk masalah pendidikan masyarakat kampung Naga masih perlu
motivasi yang lebih baik agar para orang tuanya mau menyekolahkan anaknya ke
sekolah yang lebih tinggi agar bisa memajukan kampung Naga itu sendiri.karena
untuk bersekolah tidaklah melanggar adat,tapi salah satu alasannya adalah
masalah ekonomi.

Untuk perekonomian,karena terbatasnya tingkat pendidikan maka perlu


diberdayakan ketrampilan yang dipunyai oleh warga agar lebih produktif, dan
penyaluran hasil kerajinan ini bisa lebih baik, mungkin perlu bantuan pemerintah
agar diberi modal agar bisa lebih banyak yang dihasilkan dan dijual keluar
kampong naga bahkan ke luar negeri.

Yang perlu dipertahankan adalah kerjasama, gotong royong,


kesederhanaan, keramah tamahan yang dimiliki oleh semua warga kampung Naga
yang mungkin patut dicontoh oleh kita dan masyarakat yang lain.

Aktivitas harian tersebut membentuk satu pola tradisi untuk menjaga


keselarasan agar tidak tercipta persaingan antara anggota masyarakat, selanjutnya
dipererat dengan jiwa kegotong-royongan yang merupakan bentuk saling
menolong dan saling berbagi antar sesama.

Dalam mempertahankan norma dan nilai warisan nenek moyang


keterlibatan semua pihak sangat diperlukan yaitu adanya peran kelembagaan baik
formal (berkaitan dengan pemerintah Negara) dan non formal (berkaitan dengan
pengaturan kehidupan, norma dan nilai dalam masyarakat) serta kesadaran
individu itu sendiri untuk mengikuti norma yang berlaku.

48
DAFTAR PUSTAKA

1. Rifati Heni Fajria dan Toto Sucipto 2002, kampong Naga dan rumah adat

diJawaBarat, Bandung ,dinas kebudayaan dan pariwisata propinsiJawaBarat

2. Suganda, Her . 2006. Kampung Naga mempertahankan tradisi . Bandung

PT Kiblat Buku Utama.

3. Suhandi Shm, A 1987, Penelitian masyarakat kampong Naga di

Tasikmalaya, Bandung, Universitas Pajajaran

4. Toto Sucipto dan Firdaus Gunadi S 2010 Hand Out Materi ISBD Akademi

Kebidanan Poltekkes Depkes Bandung.

5. www.tasikmalaya.go.id, dieny-yusuf.com, www.westjava-indonesia.com

6. Profil Desa Neglasari 2007

7. http://id.wikipedia.org/wiki/Upacara_Adat_di_Kampung_Naga

8. http:/ isavitri.files.wordpress.com/2009/05/kampungnaga.jpg[/img]

49
LAMPIRAN

Data Informan

1. Nama : Bpk Risman

2. Umur : 47 tahun

3. Pendidikan : SD

4. Pekerjaan : penjual kerajinan dan petani

5. Pangkat : ketua RT

6. Jumlah anak : 4 orang

7. Jumlah anggota keluarga : 3 orang

Data Informan

1. Nama : Bp Ma’un

2. Umur : 74 tahun

3. Pendidikan : SR

4. Pekerjaan : Petani dan pengerajin

5. Pangkat : Punduh Adat

6. Jumlah anak : 5 orang sudah menikah semua

7. Jumlah anggota keluarga : 4 orang , yaitu istri dan anak yang paling kecil
yang baru menikah bersama menantunya.

DATA INFORMAN

1. Nama : Ny. Enah/Ujip

2. Usia : 60 tahun

3. Pendidikan : SD (sampai kelas 2)

50
4. Pekerjaan : Jualan 3 minggu 1 kali

5. Alamat : Kampung Naga Rt. 01 / 01

6. Jumlah Anak : 6 orang

7. Jumlah Anggota Keluarga : 8 orang

DATA INFORMAN
1. Nama : Tn. Umar / Ny. Isah
2. Usia : 37 tahun
3. Pendidikan : SD
4. Pekerjaan : Tani
5. Alamat : Kampung Naga Rt. 01 / 01
6. Jumlah Anak : 2 orang
7. Jumlah Anggota Keluarga : 4 orang

DATA INFORMAN

1. Nama : Ny. Juju / Tn. Omas


2. Usia : 35 tahun
3. Pendidikan : SD
4. Pekerjaan : Tani
5. Jumlah Anak : 2 orang
6. Jumlah Anggota Keluarga : 4 orang

DATA INFORMAN
1. Nama : Tn. Judad / Ny. Een
2. Usia : 43 tahun

51
3. Pendidikan : SD
4. Pekerjaan : IRT
5. Alamat : Kampung Naga Rt. 01 / 01
6. Jumlah Anak : 3 orang
7. Jumlah Anggota Keluarga : 5 orang

DATA INFORMAN
1. Nama : Ny. Nanah (janda)
2. Usia : 55 tahun
3. Pendidikan : SD
4. Pekerjaan : Tani
5. Alamat : Kampung Naga Rt. 01 / 01
6. Jumlah Anak : 4 orang
7. Jumlah Anggota Keluarga : 5 orang

DATA INFORMAN
1. Nama : Tn. Nana / Ny. Aan
2. Usia : 35 tahun
3. Pendidikan : SD
4. Pekerjaan : Tani
5. Alamat : Kampung Naga Rt. 01 / 01
6. Jumlah Anak : 2 orang
7. Jumlah Anggota Keluarga : 4 orang

DATA INFORMAN
1. Nama : Tn. Danu / Ny. Ilot

52
2. Usia : 45 tahun
3. Pendidikan : SD
4. Pekerjaan : Tani
5. Alamat : Kampung Naga Rt. 01 / 01
6. Jumlah Anak : 3 orang
7. Jumlah Anggota Keluarga : 5 orang

DATA INFORMAN
1. Nama : Ny. Omah (janda)
2. Usia : 59 tahun
3. Pendidikan : SD
4. Pekerjaan : Tani
5. Alamat : Kampung Naga Rt. 01 / 01
6. Jumlah Anak : 3 orang
7. Jumlah Anggota Keluarga : 4 orang

DATA INFORMAN
1. Nama : Tn. Jaka
2. Usia : 37 tahun
3. Pendidikan : SD
4. Pekerjaan : Tani
5. Alamat : Kampung Naga Rt. 01 / 01
6. Jumlah Anak : 3 orang
7. Jumlah Anggota Keluarga : 5 orang

DATA INFORMAN

53
Nama : Ibu. Uyat
Usia : 45 th
Pendidikan : Tidak Sekolah
Pekerjaan : Pengrajin anyaman bambu dan lidi
Alamat : Kampung Naga Rt 01 rw 01
Jumlah Anak : 3 (1 laki-laki dan 2 perempuan )
Jumlah anggoTa Keluarga : 5 orang

DATA INFORMAN
Nama : Bpk. Danu
Usia : 40 th
Pendidikan : SD sampai kelas 5
Pekerjaan : Petani dan pengrajin
Alamat : Kampung Naga Rt 01
Jumlah anak : 3 orang
Jumlah Anggota Keluarga : 5 orang

DATA INFORMAN
Nama : Bpk. Iin
Usia : 41 th
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Petani
Alamat : Kampung Naga Rt 01 Rw 01
Jumlah Anak : 2 ( 1 laki-laki dan 1 perempuan )
Jumlah Anggota Keluarga : 4 orang

DATA INFORMAN
Nama : Ibu. Aan
Usia : 30 th
Pendidikan : SD

54
Pekerjaan : IRT
Alamat : Kampung Naga Rt 01
Jumlah Anak : 2 orang
Jumlah Anggota Keluarga : 4 orang

DATA INFORMAN
Nama : Ibu. Dede
Usia : 25 th
Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT dan pengrajin anyaman bambu
Alamat : Kampung Naga Rt 01 Rw 01
Jumlah Anak : 1 orang
Jumlah Anggota Keluarga : 3 orang

DATA INFORMAN
Nama : Ibu. Yati
Usia : 60 th
Pendidikan : Sampai kelas 4 SD
Pekerjaan : IRT
Alamat : Kampung Naga
Jumlah Anak : 4 orang
Jumlah Anggota Keluarga : 2 orang

DATA INFORMAN

Nama : Bpk. Ahmar


Usia : 40 th
Pendidikan : SD

55
Pekerjaan : Petani
Alamat : Kampung Naga Rt 01 rw 01
Jumlah Anak : 1 ( perempuan )
Jumlah Anggota Keluarga : 3 Orang

Data Informan

1. Nama : Bp Judin

2. Umur : 54 tahun

3. Pendidikan : SR

4. Pekerjaan : Petani dan pengerajin

5. Pangkat : warga

6. Jumlah anak : 1

7. Jumlah anggota keluarga : 3 orang

Data Informan

1. Nama : Ibu Ariyani

2. Umur : 36 tahun

3. Pendidikan : SD

4. Pekerjaan : IRT dan pengerajin

5. Pangkat : warga

6. Jumlah anak : 3 orang semuanya perempuan berumur 14thn, 9thn, dan


5 thn.

56
7. Jumlah anggota keluarga : 5 orang

Data Informan

1. Nama : Lina

2. Umur : 14 tahun

3. Pendidikan : SMP

4. Pekerjaan : siswa SMP kelas 2

5. Pangkat : warga

6. Jumlahsaudara : 2 orang semuanya perempuan berumur , 9thn, dan 5


thn.

7. Jumlah anggota keluarga : 5 orang

FOTO - FOTO

Gambar 18 Mahasiswa bersama dengan informan

57
Sumber PKL ISBD Poltekkes Jalur khusus 2010

Gambar 19 Kegiatan Mahasiswa dan Pembimbing di balai pertemuan

Sumber PKL ISBD Poltekkes Jalur khusus 201

Gambar 20 Souvenir yang tersedia di kampong Naga

58
Sumber PKL ISBD Poltekkes Jalur khusus 2010

Gambar 21 kegiatan ibu – ibu yang sedang memasak

Sumber PKL ISBD Poltekkes Jalur khusus 2010


Gambar 22 Penyerahan cinderamata

Sumber PKL ISBD Poltekkes Jalur khusus 2010

59
Gambar 23 pekarangan rumah tempat bermain

Sumber PKL ISBD Poltekkes Jalur khusus 2010

60