Anda di halaman 1dari 21

SPEKTROMETRI SERAPAN ATOM

BAB I
PRNDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini berdampak pada makin
meningkatnya pengetahuan serta kemampuan dari manusia. Betapa tidak setiap manusia lebih
dituntut dan diarahkan kearah ilmu pengetahuan dan teknologi di segala bidang. Tidak
ketinggalan pula ilmu kimia yang identik dengan ilmu mikropun tidak luput dari sosrotan
perkebangan IPTEK ini. Belakangan ini telah lahir IPTEK-IPTEK yang berpeluang
mempermudah dalam keperluan analisis kimia. Salah satu bentuk kemajuan IPTEK ini yang
biasa dikenal sekarang diantaranya alat serapan atom yang kemudian sangat mendukung dalam
analisis kimia dengan metode Spektrometri Serapan Atom (SSA).
Para ahli kimia sudah lama menggunakan warna sebagai suatu pembantu dalam
mengidentifikasi zat kimia. Dimana, serapan atom telah dikenal bertahun-tahun yang lalu.
Dewasa ini penggunaan istilah spektrofotometri menyiratkan pengukuran jauhnya penyerapan
energi cahaya oleh suatu sistim kimia itu sebagai fungsi dari panjang gelombang radiasi,
demikian pula pengukuran penyerapan yang menyendiri pada suatu gelombang tertentu.
Perpanjangan spektrofotometri serapan atom ke unsur-unsur lain semula merupakan akibat
perkembangan spektroskopi pancaran nyala. Bila disinari dengan benar, kadang-kadang dapat
terlihat tetes-tetes sampel yang belum menguap keluar dari puncak nyala, dan gas-gas nyala itu
terencerkan oleh udara yang menyerobot masuk sebagai akibat tekanan rendah yang diciptakan
oleh kecepatan tinggi itu, lagi pula sistim optis itu tidak memerikasa seluruh nayala melainkan
hanya mengurusi suatu daerah dengan jarak tertentu diatas titik puncak pembakar.
Selain dengan metode serapan atom unsur-unsur dengan energi eksitasi rendah dapat juga
dianalisis dengan fotometri nyala, tetapi untuk unsur-unsur dengan energi eksitasi tinggi hanya
dapat dilakukan dengan fotometri nyala. Untuk analisisi dengan garis spektrum resonansi antara
400-800 nm, fotometri nyala sangat berguna, sedangkan antara 200-300 nm, metode AAS lebih
baik dari fotometri nyala. Untuk analisis kualitatif, metode fotometri nyala lebih disukai dari
AAS, karena AAS memerlukan lampu katoda spesifik (hallow cathode). Kemonokromatisan
dalam AAS merupakan syarat utama. Suatu perubahan temperatur nyala akan mengganggu
proses eksitasi sehingga analisis dalam fotometri nyala dapat berfarisasi hasilnya. Dari segi biaya
operasi, AAS lebih mahal dari fotometri nyala berfilter. Dapat dikatakan bahwa metode fotometri
nyala dan AAS merupakan komplementer satu sama lainnya.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar beklakang diatas, penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut :
Bagaimanakah teori dasar serta prinsip kerja Spektrometri Serapan Atom (SSA)?
Bagaimanakah Penggunaan / penerapan Spektrometri Serapan Atom (SSA) dalam proses
analis kimia?
Apakah sajakah gangguan-gangguan yang biasa terjadi pada metode Spektrometri Serapan
Atom (SSA)?

1.3 Manfaat Penulisan


Adapun Manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini selain memenuhi tugas dari dosen
mata kuliah, juga bertujuan agar penulis maupun pembaca dapat mengetahui lebih mendalam
tentang bagaimana metode ataupun prinsip kerja dari Spektrometri Serapan Atom (SSA) itu
sendiri, selain itu juga diharapkan agar kita dapat melihat sejauh mana efisiensi dari penggunaan
metode ini jika dilihat dari kelebihan dan kekurangannya.
BAB II
ISI

2.1 Pengertian Spektrometri Serapan Atom (SSA)


Sejarah singkat tentang serapan atom pertama kali diamati oleh Frounhofer, yang pada
saat itu menelaah garis-garis hitam pada spetrum matahari. Sedangkan yang mememfaatkan
prinsip serapan atom pada bidang analisis adalah seorang Australia bernama Alan Walsh di
tahun 1995. Sebelum ahli kimia banyak tergantung pada cara-cara spektrofotometrik atau metode
analis spektrografik. Beberapa cara ini yang sulit dan memakan waktu, kemudian segera di
gantikan dengan Spektrometri Serapan Atom atau Atomic Absorption Spectrofotometry (ASS).
Spektrometri Serapan Atom (SSA) adalah suatu alat yang digunakan pada metode
analisis untuk penentuan unsur-unsur logam dan metaloid yang pengukurannya berdasarkan
penyerapan cahaya dengan panjang gelombang tertentu oleh atom logam dalam keadaan bebas
(Skoog et. al., 2000). Metode ini sangat tepat untuk analisis zat pada konsentrasi rendah. Teknik
ini mempunyai beberapa kelebihan di bandingkan metode spektroskopi emisi konvensional.
Memang selain dengan metode serapan atom,unsur-unsur dengan energi eksitasi dapat juga
dianalisis dengan fotometri nyala, tetapi untuk unsur-unsur dengan energi eksitasi tinggi hanya
dapat dilakukan dengan fotometri nyala. Untuk analisis dengan garis spectrum resonansi antara
400-800 nm, fotometri nyala sangat berguna sedangkan antara 200-300 nm metode ASS lebih
baik daripada fotometri nyala. Untuk analisis kualitatif,metode fotometri nyala lebih disukai dari
ASS, karena ASS memerlukan lampu katoda spesifik (hallow cathode). Kemonokromatisan
dalam ASS merupakan sarat utama. Dari segi biaya AAS lebih mahal dari fotometri nyala
berfilter. Dapat dikatakan bahwa metode fotometri nyala dan AAS merupakan komplomenter
satu sama lainnya.
Komponen-komponen lainnya dari sebuah spektrofotometer serapan atom adalah
konvensional sifatnya. Monokromatornya dapat tak semahal monokromator spektrofotometer
biasa yang sepadan kualitasnya, karena kurang dituntut. Satu-satunya tuntutan adalah bahwa
monokromator itu melewatkan garis resonan yang dipilih, tanpa dibarengi garis-garis lain dalam
spektrum sumber cahaya yang timbul dari katode logam atau gas lambannya.
Metode AAS berprinsip pada absorpsi cahaya oleh atom. Atom-atom menyerap cahaya
tersebut pada panjang gelaombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya. Misalkan Natrium
menyerap pada 589 nm, uranium pada 358,5 nm sedangkan kalium pada 766,5 nm. Cahaya pada
gelombang ini mempunyai cukup energi untuk mengubah tingkat elektronik suatu atom. Dengan
absorpsi energi, berarti memperoleh lebih banyak energi, suatu atom pada keadaan dasar
dinaikkan tingkat energinya ke tingkat eksitasi. Tingkat-tingkat eksitasinya pun bermacam-
macam. Misalnya unsur Na dengan nomor atom 11 mempunyai konfigurasi elektron 1s2 2s2 2p6
3s1, tingkat dasar untuk elektron valensi 3S, artinya tidak memiliki kelebihan energi. Elektron ini
dapat tereksitasi ketingkat 3p dengan energi 2,2 eV ataupun ketingkat 4p dengan energi 3,6 eV,
masing-masing sesuai dengan panjang gelombang sebesar 589nm dan 330 nm. Kita dapat
memilih diantara panjang gelombang ini yang menghasilkan garis spektrum yang tajam dan
dengan intensitas maksimum, yang dikenal dengan garis resonansi. Garis-garis lain yang bukan
garis resonansi dapat berupa spektrum yang berasosiasi dengan tingkat energi molekul, biasanya
berupa pita-pita lebar ataupun garis tidak berasal dari eksitasi tingkat dasar yang disebabkan
proses atomisasinya.
Apabila cahaya dengan panjang gelombang tertentu dilewatkan pada suatu sel yang
mengandung atom-atom bebas yang bersangkutan maka sebagian cahaya tersebut akan diserap
dan intensitas penyerapan akan berbanding lurus dengan banyaknya atom bebas logam yang
barada pada sel. Hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi diturunkan dari:
Hukum Lambert: bila suatu sumber sinar monokrokatik melewati medium transparan, maka
intensitas sinar yang diteruskan berkurang dengan bertambahnya ketebalan medium
yang mengabsorbsi.
Hukum Beer: intensitas sinar yang diteruskan berkurang secara eksponensial dengan
bertambahnya konsentrasi spesi yang menyerap sinar tersebut.
Dari kedua hukum tersebut diperoleh suatu persamaan:
lt= lo.e-(€bc), atau
A= -log lt/lo= €bc
Dimana: lo= intensitas sumber sinar
lt= intensitas sinar yang diteruskan
€= absortivitas molar
b= panjang medium
c= konsentrasi atom-atom yang menyerap sinar
A= absorbans
Dari persamaan di atas, dapat disimpulkan bahwa absorbansi cahaya berbanding lurus dengan
konsentrasi atom (Day & Underwood, 1989).

2.2 Prinsip Kerja Spektrometri Serapan Atom (SSA)


Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Metode AAS berprinsip pada absorpsi cahaya oleh
atom. Atom-atom menyerap cahaya tersebut pada panjang gelaombang tertentu, tergantung pada
sifat unsurnya Spektrometri Serapan Atom (SSA) meliputi adsorpsi sinar oleh atom-atom netral
unsur logam yang masih berada dalam keadaan dasarnya (Gorund state). Sinar yang diserap
biasanya ialah sinar ultra violet dan sinar tampak. Prinsip Spektromeri Serapan Atom (SSA) pada
dasarnya sama seperti prinsip absorpsi sinar oleh molekul atau ion senyawa dalam larutan.
Hukum absorpsi sinar (Lambert-Beer) yang berlaku pada spektrofotometer absorpsi sinar
ultra violet, sinar tampak maupun infra merah, juga berlaku pada Spektrometri Serapan Atom
(SSA). Perbedaan analisis Spektrometri Serapan Atom (SSA) dengan spektrofotometri molekul
adalah peralatan dan bentuk spektrum absorpsinya.
Setiap alat SSA terdiri atas tiga komponen yaitu:
Unit atomisasi (atomisasi dengan nyala dan tanpa nyala)
Sumber radiasi
Sistem pengukur fotometri
Sistem Atomisasi dengan Nyala
Setiap alat spektrometri atom akan mencakup dua komponen utama sistem introduksi
sampel dan sumber (source) atomisasi. Untuk kebanyakan instrument sumber atomisasi ini
adalah nyala dan sampel diintroduksikan dalam bentuk larutan. Sampel masuk ke nyala dalam
bentuk aerosol. Aerosol biasanya dihasilkan oleh Nebulizer (pengabut) yang dihubungkan ke
nyala oleh ruang penyemprot (chamber spray).
Ada banyak variasi nyala yang telah dipakai bertahun-tahun untuk spektrometri atom.
Namun demikian yang saat ini menonjol dan dipakai secara luas untuk pengukuran analitik
adalah udara asetilen dan nitrous oksida-asetilen. Dengan kedua jeni nyala ini, kondisi analisis
yang sesuai untuk kebanyakan analit (unsure yang dianalisis) dapat sitentikan dengan
menggunakan metode-metode emisi, absorbsi, dan juga fluoresensi.
Nyala udara asetilen
Biasanya menjadi pilihan untuk analisis menggunakan AAS. Temperature nyalanya
yang lebih rendah mendorong terbentuknya atom netral dan dengan nyala yang kaya
bahan bakar pembentukan oksida dari banyak unsure dapat diminimalkan.
Nitrous oksida-asetilen
Dianjurkan dipakai untuk penentuan unsur-unsur yang mudah membentuk oksida dan
sulit terurai. Hal ini disebabkan temperatur nyala yang dihasilkan relative tinggi. Unsur-
unsur tersebut adalah: Al, B, Mo, Si, Ti, V, dan W.
Sistem Atomisasi tanpa Nyala (dengan Elektrotermal/tungku)
Sistem nyala api ini lebih dikenal dengan nama GFAAS. GFAAS dapat mengatasi
kelemahan dari system nyala seperti sensitivitas, jumlah sampel dan penyiapan sampel.
Ada tiga tahap atomisasi dngan tngku yaitu:
Tahap pengeringan atau penguapan larutan
Tahap pengabutan atau penghilangan senyawa-senyawa organic
Tahap atomisasi
Unsur-unsur yang dapat dianalisis dengan menggunakan GFAAS adalah sama dengan
unsur-unsur yang dapat dianalisis dengan GFAAS adalah tungsten: Hf, Nd, Ho, La, Lu, Os, Br,
Re, Sc, Ta, U, W, Y, dan Zr. Hal ini disebabkan karena unsure tersebut dapat bereaksi dengan
graphit.
Petunjuk praktis penggunaan GFAAS:
Jangan menggunakan media klorida, lebih baik gunakan nitrat.
Sufat dan fosfat bagus untuk pelarut smpel, biasanya setelah sampel ditempatkan dalam
tungku.
Gunakan cara adisi sehingga bila sampel ada interferensi dapat terjadi pada sampel dan
standard.
Untuk mengubah unsur metalik menjadi uap atau hasil disosiasi diperlukan energi panas.
Temparatur harus benar-benar terkendali dengan sangat hati-hati agar proses atomisasinya
sempurna. Ionisasi harus dihindarkan dan ini dapat terjadi bila temperatur terlalu tinggi. Bahan
bakar dan oksidator dimasukkan dalam kamar pencampur kemudian dilewatkan melalui bafle
menuju ke pembakar. Hanya tetesan kecil dapat melalui bafle. Tetapi hal ini tidak selalu
sempurna, karena kadang kala nyala tersedot balik kedalam kamar pencampur sehingga
menghasilkan ledakan. Untuk itu biasanya lebih disukai pembakar dengan lubang yang sempit
dan aliran gas pembakar serta oksidator dikendalikan dengan seksama.
Dengan gas asetilen dan oksidator udara tekan, temperatur maksimum yang tercapai adalah
12000C. Untuk temperatur tinggi biasanya digunakan N:O:: 2:1 karena banyaknya interferensi
dan efek nyala yang tersedot balik, nyala mulai kurang digunakan, sebagai gantinya digunakan
proses atomisasi tanpa nyala, misalnya suatu perangkat pemanas listrik. Sampel sebanyak 1-2ml
diletakkan pada batang grafit yang porosnya horizontal atau pada logam tantalum yang berbentuk
pipa. Pada tungku grafit temperatur dapat dikendalikan secara elektris. Biasanya temperatur
dinaikkan secara bertahap, untuk menguapkan dan sekaligur mendisosiasi senyawa yang
dianalisis.
Metode tanpa nyala lebih disukai dari metode nyala. Bila ditinjau dari sumber radiasi,
haruslah bersifat sumber yang kontinu. Disamping itu sistim dengan penguraian optis yang
sempurna diperlukan untuk memperoleh sumber sinar dengan garis absorpsi yang
semonokromatis mungkin. Seperangkat sumber yang dapat memberikan garis emisi yang tajam
dari suatu unsur spesifik tertentu dikenal sebagai lampu pijar Hollow Cathode. Lampu ini
memiliki dua elektroda, satu diantanya berbentuk silinder dan terbuat dari unsur yang sama
dengan unsur yang dianalis. Lampu ini diisi denga gas mulia bertekanan rendah. Dengan
pemberian tegangan pada arus tertentu, logam mulai memijar dan atom-atom logam katodanya
akan teruapkan dengan pemercikkan. Atom akan tereksitasi kemudian mengemisikan radiasi pada
panjang gelombang-panjang gelomabang tertentu. Suatu garis yang diinginkan dapat diisolasi
dengan suatu monokromator.

2.3 Instrumen dan Alat

Untuk menganalisis sampel untuk konstituen atomnya, itu harus atomize. Sampel kemudian
harus diterangi oleh cahaya.. Cahaya ditransmisikan akhirnya diukur oleh suatu detektor. Dalam
rangka mengurangi efek dari emisi dari pengabut (misalnya radiasi benda hitam ) atau
lingkungan, spektrometer adalah biasanya digunakan antara pengabut dan detektor.
Teknik ini biasanya memanfaatkan api untuk menyemprotkan suatu cairan sampel, tetapi
atomizers lain seperti tungku grafit atau plasma, terutama induktif ditambah plasma, juga
digunakan. Ketika nyala api yang digunakan adalah panjang lateral (biasanya 10 cm) dan tidak
mendalam. Tinggi api di atas kompor kepala dapat dikendalikan dengan menyesuaikan aliran
campuran bahan bakar. Sebuah berkas cahaya melewati nyala api ini pada porosnya terpanjang
(sumbu lateral) dan sebuah detektor hits.
Sebuah sampel cairan biasanya berubah menjadi gas atom dalam tiga langkah:
Desolvation (Pengeringan) - cairan pelarut yang menguap , dan sampel kering tetap
Penguapan (bilik) - yang vaporises sampel padat ke gas
Atomisasi - senyawa yang membentuk sampel yang rusak menjadi bebas atom .
Sumber radiasi yang dipilih memiliki lebar spektrum sempit dibandingkan dengan transisi atom.
Lampu katoda Hollow adalah sumber radiasi yang paling umum dalam spektroskopi
serapan atom. Di dalam lampu, diisi dengan argon atau gas neon, adalah katoda silinder logam
yang mengandung logam untuk eksitasi, dan anoda. Ketika tegangan tinggi diterapkan di anoda
dan katoda, partikel gas yang terionisasi. Sebagai tegangan meningkat, ion gas mendapatkan
energi yang cukup untuk mengeluarkan atom logam dari katoda. Beberapa dari atom berada
dalam keadaan tereksitasi dan memancarkan cahaya dengan frekuensi karakteristik logam.
Banyak modern lampu katoda berongga yang selektif untuk beberapa logam.
Spektroskopi serapan atom juga dapat dilakukan dengan laser, terutama diode laser karena
sifat baik mereka untuk penyerapan sperktrofoto laser . Teknik ini kemudian juga disebut sebagai
Dioda laser spektrometri penyerapan atom (DLAAS atau DLAS), atau, karena panjang
gelombang modulasi paling sering digunakan, modulasi spektrometri penyerapan panjang
gelombang.

GAMBAR

Sumber radiasi ( Hollow Cathode Lamp)


Lampu katoda merupakan sumbe rcahaya paada AAS. Lampu katoda memiliki
masa pakai atau umur pemakaian selama 1000 jam. Lampu katoda pada setiap unsure
yang akan diuji berbeda-beda tergantung unsur yang akan diuji. Lampu katoda berfungsi
sebagai sumber cahaya untuk memberikan energi sehingga unsur logam yang akan diuji
akan mudah tereksitasi.
Tabung gas
Tabung gas pada AAS yang digunakan merupakan tabung gas yang berisi gas
asetilen. Gas asetilen pada AAS memiliki kisaran suhu ± 20.000 K dan ada juga tabung
gas yang berisi gas N2O yang lebih panas gas asetilen ± 30.000 K.
Kompresor
Merupakan alat yang terpisah dengan main unit karena alat ini berfungsi untuk
mensuplai kebutuhan udara yang akan digunakan oleh AAS pada waktu pembakaran
atom.
Burner
Merupakan bagian paling terpenting di dalam main unit, karena burner berfungsi
sebagai tempat pencampuran gas asetilen dan aquabides agar tercampur merata dan dapat
terbakar pada pemantik api secara baik dan merata.
Ducting
Ducting merupakan bagian cerobong asap untuk menyedot asap atau sisa
pembakaran pada AAS, yang langsung dihubungkan pada cerobong asap bagian luar pada
atap bangunan, agar asap yang dihasilkan oleh AAS tidak berbahaya bagi lingkungan
sekitar. Asap yang dihasilkan dari pembakaran pada AAS diolah sedemikian rupa didalam
ducting agar polusi yang dihasilkan tidak berbahaya.
Buangan pada AAS
Buangan pada AAS disimpan di dalam drigen yang diletakan secara terpisah pada
AAS. Buangan dihubungkan dengan selang buangan yang dibuat melingkar sedemikian
rupa agar sisa buangan sebelumnnya tidak naik lagi ke atas, karena bila hal ini terjadi
dapat mematikan proses pengatomian nyala api pada saat pengukuran sampel.
Monokromator
Berfungsi mengisolasi salah satu garis resonansi atau radiasi resonansi dari sekian
banyak spectrum yang dihasilkan oleh lampu pijar hollow cathode atau untuk merubah
sinar polikromatis menjadi sinar monokromatis sesuai yang dibutuhkan oleh pengukuran.
Macam macam monokromator yaitu prisma, kaca untuk daerah sinar tampak,
kuarsa untuk daerah UV, rock salt (kristal garam) untuk daerah IR dan kisi difraksi.

Detector
Dikenal dua macam detector, yaitu detector foton dan detector panas. Detector
panas biasa dipakai untuk mengukur radiasi infra merah termasuk thermocouple dan
bolometer. Detektor berfungsi untuk mengukur intensitas radiasi yang diteruskan dan
telah diubah menjadi energi listrik oleh fotomultiplier.Hasil pengukuran detektor
dilakukan penguatan dan dicatat oleh alat pencatat yang berupa printer dan pengamat
angka. Ada dua macam detektor sebagai berikut:
Detektor cahaya atau detektor foton
Detektor foton bekerja berdasarkan efek fotolistrik, dalam hal ini setiap foton
akan membebaskan elektron (satu foton satu elektron) dari bahan yang sensitif
terhadap cahaya. Bahan foton dapat berupa Si/Ga, Ga/As, Cs/Na.
Detektor infra merah dan detektor panas.
Detektor infra merah yang lazim adalah termokopel. Efek termolistrik akan
timbul jika dua logam yang memiliki temperatur berbeda disambung jadi satu.
Cara kerja Spektrofotometer Serapan Atom
Pertama-tama gas dibuka terlebih dahulu, kemudian kompresor lalu ducting, main unit
dan komputer secara berurutan.
Dibuka program SAA (Spectrum Analyse Specialist), kemudian muncul perintah ‘ apakah
ingin mengganti lampu katoda’ jika ingin mengganti klik YES dan jika tidak NO.
Dipilih yes untuk masuk ke menu individual command, dimasukkan lampu katoda yang
dipasang kedalam kotak dialog kemudian di klik setup, kemudian soket lampu katoda
akan berputar menuju posisi paling atas supaya lampu katoda yang baru dapat diganti
atau ditambahkan dengan mudah.
Dipilih no jika tidak ingin mengganti lampu katoda yang baru.
Pada program SAS 3.0 dipilh menu select element and working mode. Dipilih unsur yang
akan dianalisis dengan mengklik langsung pada simbol unsur yang diinginkan.
Jika telah selesai klik OK, kemudian muncul tanpilan condition settings. Diatur parameter
yang dianalisis dengan mensetting fluel flow: 1,2; meassurement; conentration;
number of sampel: 2; unit consentration: ppm; number of standard:3; standard list:
1ppm, 3ppm,9ppm.
Diklik OK and setup, ditunggu hingga selesai warming up.
Diklik icon bergambar burner/pembakar, setelah membakar dan lampu menyala alat siap
digunakan untuk mengukur logam.
Pada menu meassurement pilih meassure sample.
Diamsukkan blanko, didiamkan hingga garis lurus terbentuk kemudian dipindahkan ke
standard 1ppm hingga data keluar.
Dimasukkan blanko untuk meluruskan kurva, diukur dengan tahapan yang samsa untuk
standar 3ppm dan 9ppm.
Jiak data kurang abik akan ada perintah untuk pengukuran ulang, dilakukan pengukuran
blanko hingga kurva yang dihasilkan turun dan lurus.
Dimasukkan ke sampel 1 hingga kurva naik dan belok baru dilakukan pengukuran.
Dimasukkan blanko kembali dan dilakukan pengukuran sampel kedua.
Setelah pengukuran selesai data dapat diperoleh dengan mengklik icon print atau pada
baris menu dengan mengklik file lalu print.
Apabila pengukuran telah selesai, aspirasikan air deionosasi untuk membilas burner
selama 10menit, api dan lampu burner dimatikan, program pada komputer dimatika,
lalu main unit AAS, kemudian kompresor setelah itu ducting dan terakhir gas.
M+X-

2.4 Metode Analisis


Ada tiga teknik yang biasa dipakai dalam analisis secara spektrometri. Ketiga teknik tersebut
adalah:
Metode Standar Tunggal
Metode sangat praktis karena hanya menggunakan satu larutan standar yang telah diketahui
konsentrasinya (Cstd). Selanjutnya absorbsi larutan standar (Asta) dan absorbsi larutan sampel
(Asmp) diukur dengan Spektrometri. Dari hk. Beer diperoleh:
Astd = €.b.Cstd Asmp = €.b.Csmp
€.b = Astd/Cstd €.b = Asmp/Csmp
Sehingga,
Astd/Cstd = Csmp/Asmp à Csmp = (Asmp/Astd) X Cstd
Dengan mengukur Absorbansi larutan sampel dan standar, konsentrasi larutan sampel dapat
dihitung.
Metode Kurva Kalibrasi
Dalam metode ini dibuat suatu seri larutan standar dengan berbagai konsentrasi dan absorbansi
dari larutan tersebut diukur dengan AAS. Langkah selanjutnya adlah membuat grafik antara
konsentrasi (C) dengan Absorbansi (A) yang akan merupakan garis lurus melewati titik nol
dengan slope = €.b atau slope = a.b. Konsentrasi larutan sampel dapat dicari setelah absorbansi
larutan sampel diukur dan diintrapolasi ke dalam kurva kalibrasi atau dimasukan ke dalam
persamaan garis lurus yang diperoleh dengan menggunakan progam regresi linear pada kurva
kalibrasi.
Metode Adisi Standar
Metode ini dipakai secara luas karena mampu meminimalkan kesalahan yang disebabkan oleh
perbedaan kondisi lingkungan (matriks) sampel dan standar. Dalam metode ini dua atau lebih
sejumlah volume tertentu dari sampel dipindahkan ke dalam labu takar. Satu larutan diencerkan
sampai volume tertentu kemudian diukur absorbansinya tanpa ditambah dengan zat standar,
sedangkan larutan yang lain sebelum diukur absorbansinya ditambah terlebih dahulu dengan
sejumlah tertentu larutan standard an diencerkan seperti pada larutan ang pertama.
Menuru Hukum Beer akan berlaku hal-hal berikut:
Ax = k.Ck AT = k(Cs+Cx)
Dimana,
Cx = konsentrasi zat sampel
Cs = konsentrasi zat standar yang ditambahkan ke larutan sampel
Ax = Absorbansi zat sampel (tanpa penambahan zat standar)
AT = Absorbansi zat sampel + zat standar
Jika kedua rumus persamaan di atas digabung akan diperoleh Cx = Cs + {Ax/(AT-Ax)}
Konsentrasi zat dalam sampel (Cx) dapat dihitung dengan mengukur Ax dan AT dengan
spektrometri. Jika dibuat suatu seri penambahan zat standar dapat pula dibuat grafik antara AT
lawan Cs, garis lurus yang diperoleh diekstrapolasi ke AT = 0, sehingga diperoleh:
Cx = Cs x {Ax/(0-Ax)} ; Cx = Cs x (Ax/-Ax)
Cx = Cs x (-1) atau Cx = -Cs
Salah satu pengggunaan dari alat spektrofotometri serapan atom adalah untuk metode
pengambilan sampel dan analisis kandungan logam Pb di udara. Secara umum partikulat yang
terdapat diudara adalah sebuah sistem fase multi kompleks padatan dan partikel-partikel cair
dengan tekanan uap rendah dengan ukuran partikel antara 0,01-100 µm.
Unsur logam berat juga dapat tersuspensi didalam sistem partikulat yang terdapat diudara,
misalnya logam Pb. Salah satu pencemaran logam Pb di udara diakibatkan adanya emisi gas
buang bahan bakar yang mengguanakan Pb sebagai bahan aktif. Timbal dalam keseharian biasa
dikenal dengan nama timah hitam.
Senyawa tetra-enil Pb dan tetra-etil Pb dapat diserap oleh kulit. Hal ini disebabkan kedua
senyawa tersebut dapat larut dalam minyak dan lemak. Sedangkan dalam udara tetra-etil Pb
terurai dengan cepat karena adanya sinar matahari.tetra-etil Pb akan terurai membentuk tri-etil
Pb, dietil Pb, dan mono etil Pb. Semua senyawa uraian dari tetraetil Pb tersebut memiliki bau
yang sangat spesifik seperti bau bawang putih. Sulit larut dalam minyak, semua senyawa turunan
dapat larut dengan baik didalam air. Senaywa Pb dalam keadaan kering dapat terdispersi didalam
udara sehingga kemudian terhirup pada saat bernafas dan sebagian besar akan menumpuk dikulit
dan atau terserap oleh daun tumbuhan.
Pengambilan sampel
Untuk melakukan analisis kandungan Pb yang terdapat di udara, maka metode
pengambilan sampel yang digunakan adalah high volume sampler. Didalam
pengambila sampel laju alir udara harus dibuat konstan atau tetap yaitu sebesar 1,7
m3/menit selama 24 jam. Udara yang masuk dilewatkan melalui sebuah filter dengan
ukuran 10 µm. Konsentrasi partikulat didalam udara ambient ditentukan dengan
mengukur berat partikulan yang tertampung pada penyaring dan volume sampel udara
yang masuk. Setelah partikulat yang tertampung pada fibber glass dihitung dan
selanjutnya diekstrak dengan menggunakan asam nitrat pekat.
Ekstraksi sampel
Sampel yang telah dikumpulkan pada filter selanjutnya diekstrak dengan
menggunakan ekstraksi gelombang mikro. Asam kuat yang lazim digunakan adalah
asam nitrat pekat, dimana Pb akan dioksidasi menjadi Pb 2+.
Analisis sampel
Konsentrasi Pb ditentukan dengan menggunakan AAS. Listrik oprasi alat tersebut
adalah mengukur perubahan energi analit. Sampel diuapkan dan diubah menjadi
bentuk gas. Atom mengalami radiasi karena adanya radiasi dari lampu cekung hallow
katoda dari keadaan dasar menjadi keadaan tereksitasi dengan menyerap energi yang
lebih tinggi. Untuk dapat membuat kurva kalibrasi dilakuakn dengan mengukur
serapan dari larutan standar yang dibuat dari bahan-bahan yang termasuk kategori
CRM pada berbagai jenis variasi konsentrasi akan diperoleh persamaan regresi linier
y=ax+b, dimana:
Y= absorbansi
X= konsentrasi
A= slope
B= intersep
Sampel yang telah diekstrak kemudian diukur absorbansinya, dan nilai dari
absorbansi tersebut dikonversi ke dalam persamaan regresi linear untuk memmperoleh
konsentrasi logam Pb yang ada diudara.
Jaminan kualitas
Untuk menjamin data hasil suatu analisis dengan emnggunakan alat F-AAS dapat
diterima, maka perlu dilakukan hal-hal penting menyangkut analisis seperti kalibrasi
alat, penentuan sensivitas pengukuran, dan presisi pengukuran absorbansi.penentuan
rentang konsentrasi terpakai dilakuakn untuk mengetahui daerahkonsentrasi mana
pengukuran dapat dilakukan dengan memiliki presisi yang mencukupi. Penentuan
sensitivitas, presisi pengukuran dan kalibrasi alat dilakukan pada setiap analisis,
sedangkan penentuan UCR dapat dilakukan sekali saja untuk setiap unsur dan alat
yang sama, selanjutnya tidak perlu diulangi kecuali apabila terjadi perubahan untuk
kerja alat F-AAS yang bersangkutan
Penentuan sensitivitas
Prosedur penentuan nilai blanko:
Siapkan alat F-AAS menurut petunjuk pemakaikan.
Aspirsikan larutan pembanding dan nol kan skala absorbans. Terus aspirasi sampai
diperoleh sinyal yang stabil.
Pilih salah satu larutan kalibrasi yang mempunyai nilai absorbansi antara 0,2-0,4 dan
diharapkan berada dalam daerah yang linear dari kurvanya.
Dengan 3 kali pengulangan, diukur absorbansi larutan kalibrasi yang terpilih tersebut,
memakai larutan pembanding untuk mengnolkan skala absorbansi setiap selesai
satu pengukuran dan dihitung nilai absorbansi rata-rata.
Dengan cepat seperti 4, ukur larutan blanko dan dihitung absorbansi rata-rata.
Dihitung nilai blanko dan sensitivitas dengan menggunakan persamaan dibawah ini.
Nilai blanko.
CB = AB((C1/A1)
Dimana,
CB = konsntrasi analit dalam larutan blanko
C1 = konsntrasi analit dalam larutan blanko
AB = absorbansi rata-rata larutan blanko
A1 = absorbansi rata-rata larutan kalibrasi C1.

Sensitivitas
Sensitivitas ( S ) adalah nilai konsentrasi analit yang memberikan nilai absorbansi = 0,0044
( ekivalen dengan 1% T )
S = 0,0044 ( C1/A1)
Kepekaan dianggap cukup apabila nilainya sesuai dengan yang ditetapkan dalam manual alat
minimal 75% dari nilai tersebut. Untuk pengukuran Pb sensitivitasnya adalah 0,5µg/mL.

Penentuan Presisi Pengukuran


Prosedur penentuan presisi pengukuran adalah:
Aspirasikan larutan pembanding dan nol kan skala absorbansinya.
Ukur absorbansi dari larutan kalibrasi yang terpilih diatas.
Ulangi (a) dan (b) secara berurutan sebanyak 5 kali sehingga didapatkan 6 nilai
absorbans dari larutan kalibrasi tersebut.
Hitung simpangan baku (standart deviasi) dari 6 nilai tersebut.
Nb. Apabila simpangan baku relatif (relatif standart deviasi, RSD) melebihi
1% dari absorbansi larutan kalibrasi, mungkin terdapat penyebab dari alat
tersebut yang perlu diperbaiki ( kapiler tersumbat, burner terhambat oleh
deposit, konsentrasi zat terlarut yang tinggi dalam larutan dan sebagainya. )
Penentuan perhitungan simpangan baku yang cepat
= (A-B) x 0,40
Dimana, A= niali tertinggi, B= nilai terendah ( dari 6 nilai absorbansi yang diperoleh ).
Penentuan UCR ( Useful Concentration Range ) cara ini dilakukan guna menentukan nilai
batas rendah dan batas atas dari rentang konsentrasi yang dapat terpakai atau daerah
konsentrasi yang memenuhi persyaratan pengukuran tertentu.
Untuk melihat hasil data yang dapat terpakai sebagai UCR, maka dibuat grafik
hubungan antara RCE ( Relaive Concentration Equation ) dengan konsentrasi larutan
yang terpakai untuk kalibrasi.
Prosedur
Lakukan 6 kali pengukuran absorbansi untuk 12 larutan kalibrasi. Hitung nilai rata-rata
absorbansi masing-masing larutan serta simpangan baku ( SA ) masing-masing.
Buat kurva kalibrasi dan priksa bila ada anomaly dan koreksi bila perlu.
Hitung nilai RCE
Dibuat grafik RCE vs Konsentrasi nilai RCE adalah ukuran presisi relatif pengukuran
AAS.
Simpulan dari percobaan adlaah:
Logam Pb diudara pada umumnya berbentuk partikular. Partikular dengan ukuran
diameter 2,5µm dapat masuk ke tubuh manusia dan mengalir ke dalam pembuluh
darah, sedangkan sedangkan partikulat dengan ukuran 10µm apabila masuk ke tubuh
manusia maka akan terserap oleh laring.
Untuk melakukan analisis logam Pb diudara tahapan yang perlu dilakukan adalah :
Pengambilan sampel dengan menggunakan metoda haigh volume sampler.
Ekstraksi sampel dengan menggunakan metode micriwave digest yaitu suatu metode
peleburan sampel dengan menggunakan energi gelombang mikro.
Penentuan kandungan logam Pb dpat dilakukan dengan menggunakan alat AAS.
Untuk menjamin kualitas data yang dihasilkan pada saat analisis maka perlu dilakukan
kalibrasi alat, penentuan sensitivitas, presisi, akurai, UCR (Useful Concentration
Range ).

Gangguan-Gangguan Dalam Metode AAS


Gangguan kimia
Gangguan kimia terjadi apabila unsur yang dianalisis mengalami reaksi kimia dengan anion
atau ketion tertentu dengan senyawa yang refraktori, sehingga tidak semua analit dapat
teratomisasi. Untuk mengatasi gangguan ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: 1)
penggunaan suhu nyala yang lebih tinggi, 2) penambahan zat kimia lain yang dapat melepaskan
kation atau anion pengganggu dari ikatannya dengan analit. Zat kimia lain yang ditambahkan
disebut zat pembebas (Releasing Agent) atau zat pelindung (Protective Agent).
Gangguan Matrik
Gangguan ini terjadi bila sampel mengandung banyak garam ayau asam, atau bila pelarut
yang digunakan tidak menggunakan pelarut zat standar, atau bila suhu nyala untuk larutan sampel
dan standar berbeda. Gangguan ini dalam analisis kualitatif tidak terlalu bermasalah, tetapi sangat
mengganggu dalam analisis kuantitatif. Untuk mengatasi gangguan ini dalam analisis kuantitatif
dapat digunakan cara analisis penambahan satandar (Standar Adisi).
Gangguan Ionisasi
Gangguan ionisasi terjadi bila suhu nyala api cukup tinggi sehingga mampu melepaskan
elektron dari atom netral dan membentuk ion positif. Pembentukan ion ini mengurangi jumlah
atom netral, sehingga isyarat absorpsi akan berkurang juga. Untuk mengatasi masalah ini dapat
dilakukan dengan penambahan larutan unsur yang mudah diionkan atau atom yang lebih
elektropositif dari atom yang dianalisis, misalnya Cs, Rb, K dan Na. Penambahan ini dapat
mencapai 100-2000 ppm.
Absorpsi Latar Belakang (Back Ground)
Absorpsi Latar Belakang (Back Ground) merupakan istilah yang digunakan untuk
menunjukkan adanya berbagai pengaruh, yaitu dari absorpsi oleh nyala api, absorpsi molekular,
dan penghamburan cahaya.

2.6 Analisis Kuantitatif


Penyiapan sampel
Penyiapan sampel sebelum pengukuran tergantung dari jenis unsure yang ditetapkan, jenis
substrat dari sampel dan cara atomisasi.
Pasa kebanyakan sampel hal ini biasanya tidak dilakukan, bila atomisaasi dilakukan
menggunakan batang grafik secara elektrotermal karena pembawa (matriks) dari sampel
dihilangkan melalui proses pengarangan (ashing) sebelum atomisasi.
Pada atomisasi dengan nyala, kebnayakan sampel cair dapat disemprotkan langsung kedalam
nyala setelah diencerkan dengan pelarut yang cocok.
Sampel padat biasanya dilarutkan dalam asam tetapi ada kalanya didahului dengan peleburan
alkali.
Pada analisis kuantitatif ini kita harus mengethui beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum
menganalisa. Selain itu kita harus mengetahui kelebihan dan kekurangan pada AAS.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menganalisa:
Larutan sampel diusahakan seencer mungkin (konsentrasi ppm atau ppb). Kadar unsure yang
dianalisis tidak lebih dari 5% dalam pelarut yang sesuai.
Hindari pemakaian pelarut aromatic atau halogenida. Pelarut organic yang umum digunakan
adalah keton, ester,dan etil asetat.
Pelarut yang digunakan adalah pelarut untuk analisis (p.a)
Langkah analisis kuantitatif:
Pembuatan Larutan Stok dan larutan standar
Pembuatan kurva baku
Persamaan garis Larus : Y= a + bx dimana:
a = intersept
b = slope
x = konsentrasi
Y = absorbansi
Penentuan kadar sampel dapat dilakukan dengan memplotkan data absorbansi terhadap
konsentrasi atau dengan cara mensubstitusikan absorbansi ke adalam persamaan garis lurus.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pejelasan-penjelasan terdahulu maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
Spektrometri serapan atom didasarkan pada besarnya energi yang diserap oleh atom-atom netral
dalam keadaan gas.
Agar intensitas awal sinar (Po) dan sinar yang diteruskan (P) dapat diukur, maka energi sinar
pengeksitasi harus sesuai dengan energi eksitasi atom penyerap dan energi penyerap ini
diperoleh melalui sinar lampu katoda berongga.
Lampu katoda berongga ada yang bersifat single element, dan ada yang bersifat multi element.
Salah satu alat yang sangat berperan penting dalam SSA adalah Copper yang berfungsi untuk
membuat sinar yang datang dari sumber sinar berselang-seling sehingga sinar yang
dipancarkan juga akan berselang-seling.
SSA memiliki keakuratan yang tinggi pada analisis kualitatif.
Beberapa jenis gangguan dengan cara SSA pada analisis kuantitatif
gangguan kimia
gangguan matrik
gangguan ionisasi dan
gangguan beck ground
Untuk mengatasi gangguan kimia maupun gangguan matrik dapat dilakukan dengan penambahan
zat pembebas atau zat pelindung.

3.2 Saran
Pada kesempatan kali ini penulis menyarankan kepada semua pihak yang merasa memiliki
andil dalam pengembangan pendidikan agar supaya hal-hal pendukung yang berbau teknologi
untuk kemudahan pengembangan pendidikan dapat lebih ditingkatkan lagi. Hal ini bertujuan
untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional kita. Selain itu hendaknya semua pihak
hendaknya lebih ditingkatkan lagi rasa kepedulian terhadap teknologi sains agar kedepan kita
dapat mewujudkan masyarakat yang berjiwa teknologi.
DAFTAR PUSTAKA

Sumar Hendayana, dkk. 1994. Kimia Analitik Instrumen (edisi kesatu). Semarang: IKIP
Semarang Press

adityabeyubay359.blogspot.com/.../spektrofotometer-serapan-atom-aas.html - Tembolok
http://www.merck-chemicals.co.id/prinsip-analitik
http://tinangkung.blogspot.com/2010/04/spektroskopi-serapan-atom-ssa.html

Wikipedia.org/spektroskopiserapanatom.html

staff.ui.ac.id/internal/.../ANFISKIMSSAatauAASDr.Harmita.pdf

http://www.scribd.com/doc/30113138/SPEKTROSKOPI-Serapan-Atom

http://www.metalurgi.lipi.go.id/.../aas-atomic-adsorbtion-spectrophotometry

MAKALAH KIMIA ANALITIK INSTRUMEN


ATOMIC ABSORPTION SPECTROFOTOMETER (AAS)

atau SPEKTROFOTOMETER SERAPAN ATOM (SSA)


disusun untuk memenuhi nilai Kimia Analitik Instrumen

Disusun oleh:

Silvia Anggraeni 4301408045


Dimas Gigih Damarsasi 4301408052
Zulfia Rakhmawati 4301408058
Eka Lindia Wati 4301408070

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2010