Anda di halaman 1dari 15

DEMOKRASI

Makalah
Di Ajukan Sebagai Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan

Disusun Oleh :
Kelompok 5 (Lima)
Ade Rahma Yuly
1080910000

Aji Prastio Wibowo 1080910000

M Rangga Permana 108091000015

Ummi Rachmawati 1080910000

Zakiyah 108091002981

Kelas : 2 A

PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2009

1
BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Demokrasi saat ini merupakan kata yang senantiasa mengisi
perbincangan berbagai lapisan masyarakat mulai dari masyarakat
bawah sampai masyarakat kelas elit seperti kalangan elit politik, birokrat
pemerintahan, tokoh masyarakat, aktivis lembaga swadaya masyarakat,
cendikiawan, mahasiswa dan kaum professional lainnya. Pada berbagai
kesempatan mulai dari obrolan warung kopi sampai dalam forum ilmiah
seperti seminar, lokakarya, symposium, diskusi publik dan sebagainya.
Semarak perbincangan tentang demokrasi semakin memberikan
dorongan kuat agar kehidupan bernegara, berbangsa dan
bermasyarakat menjungjung tinggi nilai-nilai demokrasi.
Seperti di akui oleh Moh. Mahfud MF, bahwa ada dua alasan dipilihna
demokrasi sebagai dasar dalam bernegara. Pertama, hampir semua
Negara di dunia telah menjadikan demokrasi sebagai asas yang
fundamental; Kedua, demokrasi sebagai asas kenegaraan yang secara
esensial telah memberikan arah bagi peranan masyarakat untuk
menyelenggarakan Negara sebagai organisasi tertinggi.

II. Pembatasan dan Perumusan Masalah


Agar pembahasan tidak terlalu melebar, penulis membatasi makalah
ini dengan bertemakan tentang demokrasi. Adapun untuk memudahkan
menemukan jawaban, penulis menyusun rumusan masalah sebagai
berikut :
1. Apa pengertian Demokrasi?
2. Apa Hakikat demokrasi?
3. Bagaimana demokrasi ditinjau dari pandangan dan tatanan

2
kehidupan bersama ?
4. Bagaimana sejarah demokrasi?
5. Bagaimana sejarah demokrasi di Indonesia?

III. Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah diatas, penulisan ini bertujuan untuk :
1. Memahami lebih mendalam tentang Demokrasi
2. Sebagai bahan diskusi dalam perkuliahan

IV. Sistematika Penulisan


Untuk memperoleh gambaran pembahasan yang menyeluruh, maka
penulisan makalah ini dibagi menjadi tiga bab dengan sistematika
sebagai berikut :
Daftar Isi
Kata Pengantar
BAB I, Pendahuluan terdiri dari
I.Latar Belakang
II.Pembatasan dan Perumusan Masalah
III.Tujuan penulisan
IV.Sistematika penulisan
BAB II, Pembahasan terdiri dari
I.Pengertian dan Hakikat Demokrasi
II.Demokrasi : Pandangan dan Tatanan kehidupan bersama
III.Sejarah Demokrasi
IV.Demokrasi di Indonesia
BAB II, Kesimpulan
Daftar Pustaka

3
BAB II
DEMOKRASI

I. Pengertian dan Hakikat Demokrasi


Secara garis besar demokrasi adalah sebuah system social politik
modern yang paling baik dari sekian banyak system maupun ideology
yang dewasa ini.
Menurut pakar hukum Moh. Mahfud MD, ada dua alasan pilihanya
demokrasi sebagai sistem bermasyarakat dan bernegara.
1. Hampir semua negara di dunia ini telah menjadikan demokrasi
sebagai asas yang fundamental
2. Demokrasi sebagai asas kenegaraan secara esensial telah
memberikan arah bagi peranan masyarakat untuk menyelenggarakan
negara sebagai organisasi tertingginya
Secara etimologis ”demokrasi” terdiri dari dua kata yunani yaitu
”demos” yang berarti rakyat atau penduduk suatu tempat dan ”cratein”
atau ”cratos” yang berarti kekuasaan atau kedaulatan. Gabungan dua
kata demos-cratein atau demos-cratos (demokrasi) memiliki arti suatu
keadaan negara di mana dalam sistem pemerintahanya kedaulatan
berada di tangan rakyat, kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan
bersama rakyat, rakyat berkuasa, pemerintahan rakyat dan kekuasaan
oleh rakyat.
Sedangkan pengertian demokrasi secara istilah atau terminologi
adalah seperti yang dinyatakan oleh para ahli sebagai berikut:
a. Joseph A. Schmeter mengatakan demokrasi merupakan suatu
perencanaan institusional untuk mencapai keputusan politik di mana
individu-individu memperoleh kekuasaan untuk memutuskan cara

4
perjuangan kompotitif atas suara rakyat.
b. Sidney Hook berpendapat demokrasi adalah bentuk pemerintahan di
mana keputusan-keputusan pemerintah yang penting secara langsung
atau tidak langsungdidasarkan pada kesepakatan mayoritas yang
diberikan secara bebas dari rakyat dewasa.
c. Philippe C. Schmitter dan Terry Lynn Karl menyatakan demokrasi
sebagai suatu sistem pemerintahan di mana pemerintah dimintai
tanggung jawab atas tindakan-tindakan mereka di wilayah publik oleh
warga negara, yang bertindak secara tidak langsung melalui
kompetisi dan kerjasama dengan para wakil merekayang telah
terpilih.
d. Henry B. Mayo menyatakan demokrasi sebagai sistem politik
merupakan suatu sistem yang menunjukan bahwa kebijakan umum
ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara
efektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan berkala yang
didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam
suasana terjaminnya kebebasan politik.
Sedikit berbeda dengan pandangan para ahli di atas, pakar politik
Indonesia Affan Gaffar memaknai demokrasi dalam kedua bentuk yaitu
pemaknaan secara normatif (demokrasi normatif) dan empirik (demokrasi
empirik). Demokrasi normatif adalah demokrasi yang secara ideal hendak
dilakukan oleh sebuah negara. Sedangkan demokrasi empirik adalah
demokrasi dalam perwujudannya pada dunia politik praktis.
Namun demikian, di luar perbedaan pengertian demokrasi di kalangan
ahli demokrasi, terdapat titik temu pada beragam pengertian demokrasi
tersebut yakni bahwa sebagai landasan hidup bermasyarakat dan
bernegara demokrasi meletakan rakyat sebagai komponen penting dalam
proses dan praktik-praktik demokrasi. Dengan demikian negara yang
menganut sistem demokrasi adalah negara yang diselenggarakan
berdasarkan kehendak dan kemauan rakyat.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sebagai

5
suatu sistem bermasyarakat dan bernegara hakikat demokrasi adalah
peran utama rakyat dalam proses sosial dan politik. Dengan kata lain,
sebagai pemerintahan di tangan rakyat mengandung pengertian tiga hal:
pemerintahan dari rakyat (government of the people); pemerintahan oleh
rakyat (government by the people); dan pemerintahan untuk rakyat
(government for the people).
Tiga faktor ini merupakan tolak ukur umum dari suatu pemerintahan
yang demokratis. Ketiganya dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pemerintahan dari rakyat (government of the people) mengandung
pengertian bahwa suatu pemerintah yang sah adalah suatu
pemerintah yang mendapat pengakuan dan dukungan mayoritas
rakyat melalui mekanisme demokrasi, pemilihan umum.
2. Pemerintahan oleh rakyat (government by the people) memiliki
pengertian bahwa suatu pemerintah menjalankan kekuasaanya atas
nama rakyat, bukan atas dorongan pribadi elit Negara atau elit
birokrasi.
3. Pemerintahan untuk rakyat (government for the people) mengandung
pengertian kekuasaan yang diberikan oleh rakyat kepada pemerintah
harus dijalankan untuk kepentingan rakyat. Kepentingan rakyat umum
harus dijadikan landasan utama kebijakan sebuah pemerintah yang
demokratis.
Demi terciptanya proses demokrasi setelah terbentuknya sebuah
pemerintah demokratis lewat mekanisme pemilu demokratis, pemerintah
berkewajiban untuk membuka saluran-saluran demokrasi. Selain saluran
demokrasi formal lewat DPR dan partai politik, untuk mendapat masukan
dan kritik dari warga negara. Pemerintahan demokratis berkewajiban
menyediakan dan menjaga saluran-saluran non-formal dalam bentuk
penyediaan fasilitas-fasilitas umum atau panggung publik (public sphere)
untuk berintraksi sosial, seperti stasion radio dan televisi, taman,
lapangan, kafe, pengajian dal lain-lain. Sarana publik ini dapat digunakan
oleh semua warga negara untuk menyalurkan pendapatnya secara bebas

6
dan aman.
Hal lainnya yang menunjang kebebasan berekspresi dan berorganisasi
adalah dukungan pemerintah terhadap kebebasaan pers yang
bertanggung jawab. Pers bebas bertanggung jawab adalah sistem pers
dengan iklim pemberitaan yang obyektif dan seimbang dan tersedianya
jalur dan mekanisme hukum bagi siapa saja yang merasa dirugikan oleh
suatu pemberitaan surat kabar atau media elektronik.
II. Demokrasi : Pandangan dan tatanan kehidupan bersama
Demokrasi tidak akan datang, tumbuh dan berkembang dengan
sendirinya dalam kedidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Karena itu, demokrasi memerlukan usaha nyata setiap warga dan
perangkat pendukungnya yaitu budaya yang kondusif sebagai
manifestasi dari suatau mind set (kerangka berfikir), dan setting social
(rancangan masyarakat). Bentuk kongkrit dari manifestasi tersebut
adalah dijadikannya demokrasi sebagai way of life (pandangan hidup)
dalam seluk beluk sendi kehidupan bernegara baik oleh rakyat
(masyarakat) maupun oleh pemerintah.
Menurut Nurcholis Madjid, norma-norma yang menadi pandangan
hidup demokratis :
1. Pentingnya kesadaran dan pluralisme.
Ini tidak saja sekedar pengakuan (pasif) akan kenyataan masyarakat
yang majemuk. Lebih dari itu, kesadaran akan kemajemukan
menghendaki tanggapan yang positif terhadap kemajemukan itu
sendiri secara aktif.
2. Musyawarah.
Internalisasi makna dan semangat musyawarah menghendaki atau
mengharuskan adanya keinsyafan dan kedewasaan untuk dengan
tulus menerima kemungkinan kompromi atau bahkan “kalah suara ”.
3. Pertimbangan moral.
Pandangan hidup demokratis mewajibkan adanya keyakinan bahwa
cara haruslah sejalan dengan tujuan.

7
4. Pemufakatan yang jujur dan sehat.
Suasana masyarakat demokrasi dituntut untuk menguasai dan
menjalankan seni pemusyawaratan yang jujur dan sehat guna
mencapai pemufakatan yang juur dan sehat.
5. Pemenuhan segi-segi ekonomi.
Dari sekian banyak unsur kehidupan bersama ialah terpenuhinya
keperluan pokok (pangan, sandang dan papan). Warga masyarakat
demokratis ditantang untuk mampu menganut hidup dengan
pemenuhan kebutuhan secara berencana, dan harus memiliki
kepastian bahwa rencana-rencana itu benar-benar sejalan dengan
tujuan dan praktek demokrasi.
6. Kerjasama antar warga masyarakat dan sikap mempercayai I’tikad
baik masing-masing.
Kemudian jalinan dukunganmendukung secara fungsional antar
berbagai unsur kelembagaan kemasyarakat yang ada, merupakan
segi penunjang efisiensi untuk demokrasi.
7. Pandangan hidup demokrasi harus dijadikan unsure yang menyatu
dengan system pendidikan.
Pendidikan demokrasi menyatu dalam interaksi dan pergaulan social
baik dikelas maupun diluar kelas.
Dalam konteks ini Pancasila sebagai ideology Negara harus ditatap
dan ditangkap sebagai ideology terbuka, yaitu lepas dari kata literalnya
dalam Pembukaan UUD 45.Penjabaran dan perumusan presepts-nya
harus dibiarkan terus berkembang seiring dengan dinamika masyarakat
dan pertumbuhan kualitatifnya, tanpa membatasi kewenangan penafsiran
hanya pada suatu lembaga resmi seperti di negara komunis.
Titik kuat suatu ideologi yang ada pada suatu Negara ketika
berhadapan dengan demokrasi adalah ruang keterbukaan. Karena
demokrasi, dengan segala kekurangannya ialah kemampuannya untuk
mengoreksi dirinya sendiri melalui keterbukaanya itu. Jadi bila ingin
demokrasii tumbuh dan berkembang dalam Negara Indonesia yang

8
mempunyai ideology pancasila mensyaratkan ideology tersebut sebagai
ideology terbuka.

III. Sejarah demokrasi


Konsep demokrasi sendiri lahir dari tradisi pemikiran Yunani tentang
hubungan Negara dan hukum yang dipraktekkan antara abad ke-6 SM
sampai abad ke-4 SM. Pada masa itu demokrasi berbentuk demokrasi
langsung yaitu hak rakyat untuk membuat keputusan politik dijalankan
secara langsung oleh seluruh warga negara berdasarkan prosedur
mayoritas.
Demokrasi langsung tersebut berjalan secar efektif. Namun agak unik,
karena ternyata yang hanya boleh menjalankan demokrasi tersebut
hanyalah kalangan tertentu (warga negara resmi). Sementara
masyarakat seperti budak, pedagang asing, perempuan dan anak-anak
tidak bisa menikmati demokrasi.
Demokrasi Yunani kuno berakhir pada abad pertengahan. Pada masa
ini masyarakat Yunani berubah menjadi masyarakat feodal, dimana
kehidupan keagamaan terpusat pada Paus dan pejabat agama dengan
kehidupan politik yang ditandai oleh perebutan kekuasaan dikalangan
para bangsawan.
Demokrasi tumbuh kembali di Eropa menjelang akhir abad
pertengahan, yang ditandai oleh lahirnya Magna Charta (piagam besar).
Magna Charta adalah suatu piagam yang memuat perjanjian antara kaum
bangsawan dan Raja John Inggris. Piagam tersebut menyatakan bahwa
Raja mengakui dan menjamin beberapa hak dan hak khusus
bawahannya.
Gerakan pencerahan (renaissance) dan reformasi merupakan salah
satu momentum lainnya yang menandai kemunculan kembali demokrasi
di Eropa. Ranaissance merupakan gerakan yang menghidupkan kembali
minat pada sastra dan budaya Yunani kuno.
Gerakan reformasi merupakan penyebab lain kembalinya tradisi

9
demokrasi di Barat, setelah sempat tenggelam pada abad pertengahan.
Gerakan reformasi adalah gerakan revolusi agama di Eropa pada abad
ke-16. tujuan dari gerakan ini adalah gerakan kritis terhadap kebekuan
doktrin gereja yang nantinya gerakan ini dikenal dengan gerakan
Protestanisme. Gerakan ini diprakarsai oleh Martin Luther yang
menyerukan kebebasan bepikir dan bertindak.
Lahirnya istilah kontrak sosial antara yang berkuasa dan yang
dikuasai tidak lepas dari dua filosof Eropa, John Locke (Inggris) dan
Montesquieu (Perancis). Pemikiran keduanya telah mempengaruhi ide
dan gagasan pemerintah demokrasi. Menurut Locke, hak-hak politik
rakyat meliputi hak atas hidup, kebebasan, dan hak memiliki (live,
liberal,and property). Sedangkan menurut Montesquieu, sistem pokok
yang dapat menjamin hak-hak politik tersebut adalah trias politica. Trias
politica adalah suatu sistem pemisahan kekuasaan dalam negara menjadi
tiga bentuk kekuasaan, yaitu legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

IV. Demokrasi di Indonesia


Demokrasi punya banyak musuh: korupsi, kolusi, nepotisme,
ekstremisme, sifat tidak peduli kepada kaum miskin, dan salah
mengartikan inti demokrasi. Tetapi, juga luka jiwa berat seluruh bangsa
sebagai akibat malapetaka sejarah bisa membahayakan konsolidasi
demokrasi.
Penelitian Lembaga Survei Indonesia sudah membuktikan bahwa
demokrasi di Indonesia belum terkonsolidasi. Walaupun secara rata-rata
72 persen warga Indonesia mendukung demokrasi, dibandingkan dengan
negara Eropa persentase itu masih rendah.
Mengapa demokrasi di Indonesia belum terkonsolidasi? Masih ada
banyak kasus korupsi, kolusi, nepotisme, dan ketidakadilan hukum. Juga
masih terlalu besar jumlah orang miskin. Adalah korelasi sangat kuat
antara kemiskinan, korupsi, dan kelemahan demokrasi. Kebanyakan
negara berpenghasilan rendah masuk kelompok negara yang memiliki

10
jumlah korupsi yang tinggi dan kurang demokratis.
Terlepas dari itu semua, setidaknya penting bagi kita untuk
mengetahui bagaimana perkembangan demokrasi di Indonesia.
Sejarah demokrasi di Indonesia terbagi menjadi 4 periode, yaitu:
1. Periode 1945 – 1959 (Demokrasi Parlementer)
Keadaan Indonesia yang baru mendapatkan angin kemerdekaan,
dengan kegamangan akan peristiwa-peristiwa lain yang akan
menunggu, serta masih mudanya pengetahuan para pelaksana partai-
partai politik akan pelaksanaan demokrasi, membuat penerapan
sistem demokrasi parlementer tidak sesuai dengan apa yang
diharapkan oleh rakyat akan pembawa perubahan.
Budaya demokrasi yang belum diketahui oleh rakyat awam,
membuat hawa demokrasi serasa hanya dimiliki oleh para
cendekiawan yang memang berkecimpung di dunia perpolitikan,
sehingga rakyat Indonesia seperti hanya dapat menerima apa yang
disampaikan oleh para pemikir dan kaum politik tanpa mengerti apa
hakikat dari demokrasi itu. Sehingga lahirlah fragmentasi politik
berdasarkan afiliasi kesukuan dan agama. Persaingan tidak sehat
yang terjadi antara fraksi-fraksi politik dan kondisi pemberontakan
yang masih terjadi di beberapa daerah semakin mengancam
berjalannya demokrasi. Ditambah dengan kegagalan partai-partai
dalam majelis konstitusi untuk mencapai konsensus mengenai dasar
negara untuk undang-undang dasar baru, mendorong Presiden
Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden untuk memberlakukan
kembali UUD 1945.

2. Periode 1959 – 1965 (Demokrasi Terpimpin)


Dominasi politik yang dilakukan oleh Presiden saat itu dengan
pengangkatan Soekarno sebagai presiden seumur hidup dan
berkembangnya pengaruh Komunis dan peranan tentara (ABRI) dalam
panggung politik nasional melahirkan tindakan dan kebijakan-

11
kebijakan lain yang menyimpang dari isi UUD 1945. Sebagai contoh,
saat Soekarno membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat hasil
pemilihan umum yang telah dengan jelas tertulis dalam UUD bahwa
Presiden tidak memiliki wewenang sama sekali untuk membubarkan
DPR. Serta pemusatan kekuasaan hanya pada diri pemimpin,
sehingga tidak ada ruang kontrol sosial dan check and balance dari
legislatif pada eksekutif.
Peran politik Partai Komunis Indonesia yang berkembang dengan
pesat, tidak bisa diterima begitu saja oleh kalangan militer (TNI), yang
juga merupakan komponen pemerintahan yang sangat penting. Hal ini
menyebabkan terjadi perseteruan politik-ideologis antara PKI dan TNI
yang dikenal dengan peristiwa G30S PKI. Pembunuhan massal orang
Indonesia berhubungan dengan G30S PKI ini. Pembantaian itu terjadi
setelah pembunuhan enam pejabat tinggi Angkatan Darat.
Sampai sekarang tidak jelas siapa dalang pembunuhan enam
perwira itu. Ada yang menuduh Partai Komunis Indonesia (PKI), ada
juga yang menuduh badan intelijen AS (CIA). Sangat jelas bahwa
hanya Washington yang menarik keuntungan dari G30S. AS pada
waktu itu sedang terlibat dalam perang dingin Uni Soviet dan perang
panas Vietnam dan takut sekali Indonesia akan jatuh ke tangan
komunisme.
Dalam enam bulan setelah peristiwa G30S, banyak anggota dan
pendukung PKI, ormas buruh dan petani lain dibunuh atau
dimasukkan ke kamp-kamp tahanan di mana sebagian mereka disiksa
sampai mati. Juga banyak orang yang hanya dianggap sebagai
anggota atau simpatisan PKI dan juga warga Tionghoa dibantai. Di
samping itu, ada orang yang menuduh tetangganya sebgai PKI hanya
untuk meraih istri atau hartanya, atau membalas dendam.
Semua orang itu dibunuh tanpa perkara pengadilan. Semuanya
dibantai tanpa bukti-bukti bahwa mereka sudah melakukan kejahatan.
Banyak di antara mereka, kaum buruh atau petani, yang tidak tahu

12
siapa Karl Marx atau apa komunisme itu, apalagi tentang G30S.
Kebanyakan korban pembantaian tidak pernah melakukan kejahatan
apa-apa terhadap pemerintah atau masyarakat.
Sampai hari ini jumlah korban pembunuhan massal tidak jelas.
Diduga setidak-tidaknya satu juta orang atau lebih menjadi korban
dalam malapetaka itu. Jika begitu, jumlah korban pembantaian selama
enam bulan pasca-G30S lebih banyak dari jumlah korban
pembantaian oleh kolonialis Belanda selama tiga setengah abad.
Itulah trauma sejarah Indonesia paling berat yang juga mempersulit
konsolidasi demokrasi di negara ini.

3. Periode 1965 – 1998 (Demokrasi Pancasila)


Demokrasi Pancasila menawarkan 3 komponen demokrasi.
1. Dalam bidang Politik, pada hakekatnya adalah menegakkan
kembali azas-azas negara hukum dan kepastian hukum.
2. Dalam bidang Ekonomi, pada hakekatnya adalah memberikan
penghidupan yang layak bagi semua warga negara.
3. Dalam bidang Hukum, pada hakekatnya bahwa pengakuan dan
perlindungan HAM, peradilan yang bebas yang tidak memihak.
Namun pada pelaksanaannya, sungguh jauh dari apa yang telah
diharapkan sebelumnya. Pada prakteknya, penguasa orde baru
bertindak jauh dari prinsip-prinsip demokrasi.
Seperti dikatakan oleh M. Rusli Karim, penyimpangan ini bisa
dilihat dari:
a. Dominannya peranan militer (ABRI)
b. Birokratisasi dan sentralisasi pengambilan keputusan
politik
c. Pengebirian peran dan fungsi partai politik
d. Campur tangan pemerintah dalm berbagai urusan partai
politik dan publik
e. Politik masih mengambang

13
f. Monolitisasi ideologi negara
g. Inkorporasi lembaga non pemerintah

4. Periode 1998 – Sekarang


Periode ini sering disebut dengan istilah periode paska-orde baru.
Periode ini erat hubungannya dengan gerakan reformasi yang
menuntut pelaksanaan demokrasi dan HAM secara konsekwen.
Gerakan reformasi berbasis apapun terjadi dimana-mana.
Penyelewengan yang dilakukan oleh para penguasa periode yang
berlaku, membuat rasa antipati terhadap pancasila muncul pada
sebagian masyarakat.
Demokrasi yang coba diusung kali ini adalah gerakan demokrasi
yang sesungguhnya dimana hak rakyat merupakan komponen inti
dalam mekanisme dan pelaksanaan pemerintahan yang demokratis.

BAB III
KESIMPULAN

Demokratisasi yang sedang bergulir di Indonesia saat ini merupakan

suatu tantangan sekaligus peluang yang perlu disikapi secara sadar oleh

seluruh komponen penegak demokrasi seperti birokrasi pemerintahan, partai

politik, kelompok kepentingan, masyarakat madani, kaum intelektual,

kelompok gerakan, kalangan pers, masyarakat pada umumnya. Sebagai

tantangan karena agenda demokrasi sangat banyak seperti dalam bidang

politik, ekonomi, hukum, pendidikan, social, dan budaya. Sedangkan sebagai

peluang menjadikan Indonesia sebagai salah satu Negara berkembang yang

dapat menerapkan prinsip dan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan

kemasyarakatan dan kenegaraan. Sedangkan bila demokratisasi gagal

14
diwujudkan di indoneisa, maka Indonesia akan kembali berada dalam rezim

otoriterianisme atau rezim diktator.

DAFTAR PUSTAKA

Tim ICCE, 2007. Pendidikan Kewargaan. Cet. Ke-3, Jakarta: ICCE UIN Syarif
Hidayatullah

Tim PUSLIT, 2000. Pendidikan Kewargaan. Cet. Ke-1, Jakarta: IAIN Jakarta
Press

15