Anda di halaman 1dari 4

Andik Yudiarto, ST

AM. Recovery

Proses Pengolahan Emas (Au) dan Perak (Ag)


Secara umum, proses ekstraksi logam dari bijih tidak bisa dipisahkan dari proses
proses kominusi (Reduksi
Ukuran) untuk membebaskan mineral berharga sebagai proses awal,
awal, proses lanjutan
lanjutan dari kominusi
kominusi melalui
jalur Hidrometalurgi adalah Leaching (Pelarutan Selektif).
Selektif). Ada beberapa reagent (Pereaksi)
(Pereaksi) yang bisa
digunakan dalam proses leaching untuk mengekstrak logam emas (Au) dan perak (Ag) dari bijih,
Sianida (CN-) biasanya dalam bentuk senyawa KCN atau NaCN,
diantaranya : Mercury (Hg), Sianida
Thiosulfat (Na2S2O3), dan Thio
Thiourea.
Pemilihan reagent yang digunakan untuk leaching Secara umum, jalur proses pengolahan emas dan
bergantung kepada: perak yang sering digunakan oleh industri dapat
1. Jenis mineral bijih dilihat dalam diagram berikut :
2. Kadar logam berharga dalam bijih
3. Harga/biaya Ore
4. Kemudahan handling material
5. Peraturan perundangan yang berlaku.
Sampai saat ini reagent sebagai pelarut emas dan Crushing
perak yang paling banyak digunakan di industri Kominusi
adalah Sianida (CN-). Meskipun mempunyai sifat yang Crushing/Milling
beracun, namun sianida paling banyak digunakan. Hal Concentration
itu disebabkan oleh Recovery Au yang tinggi (>95%), Leaching
waktu proses yang relatif singkat, dan sampai saat ini Jalur 1 Jalur 2
paling ekonomis.
Adsorption Precipitation
Di masa yang akan datang, kemungkinan posisi
sianida akan tergantikan oleh reagent lain yang lebih Elution Decantation
ramah lingkungan tetapi tidak mengurangi recovery
dari Emas dan Perak. Beberapa reagent sudah di Electrowining Filtering
coba oleh para peneliti, terutama thiosulfat.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah kami lakukan
sendiri, thiosulfat memang bisa digunakan sebagai Cake
reagent pengganti sianida. Meskipun konsumsi
thiosulfat jauh lebih besar dari pada sianida namun
thiosulfat lebih ramah lingkungan dan cash cost lebih Smelting
rendah, cash cost yang lebih rendah dibandingkan
sianida disebabkan oleh tidak adanya biaya untuk Bullion
destruksi sianida. Penyempurnaan penelitian masih
terus dilakukan oleh para peneliti terutama terhadap
kestabilan thiosulfat yang memang lebih rendah Refining
dibandingkan Sianida, sehingga perlu kondisi yang
benar-benar terjaga dengan baik. Au & Ag Pure
Concentration Parameter proses yang harus dijaga pada proses
leaching :
Proses pengkonsentrasian ini tidak harus dilakukan, 1. Ukuran butiran dari bijih
tergantung dari jenis mineral bijih. Jika bijih banyak Tergantung jenis mineralnya, untuk UBPE
mengandung emas dalam bentuk native maka Pongkor 80%-200 mesh (-74 mikron)
sebaiknya dilakukan proses konsentrasi. Jika tidak 2. Kekuatan Sianida
dilakukan konsentrasi maka emas dalam bentuk Semakin agresif sianida (konsentrasi semakin
native tidak akan hancur dalam proses tinggi) maka reaksi akan semakin cepat,
grinding/milling, hanya menjadi pipih yang akhirnya untuk UBPE Pongkor konsentrasi NaCN
bisa melayang pada slurry dan terbuang bersama sebesar 750-850 ppm.
tailing sebelum terleaching sempurna. 3. Dissolved Oxygen (Oksigen terlarut)
Tergantung jenis mineralnya, namun
Ada berbagai macam metode pengkonsentrasian, umumnya semakin tinggi oksigen maka reaksi
metode yang paling banyak digunakan adalah Gravity juga semakin cepat. Tetapi ternyata
Concentration baik itu Hamphreys Spiral, Shaking berdasarkan teori limiting rate didapatkan
Table, ataupun Jigging. Metode-metode ini hanya bahwa perbandingan sianida dan oksigen
memanfaatkan perbedaan berat jenis Au dan Ag dalam larutan adalah tetap yaitu 6 (enam).
dengan mineral lainnya sehingga biaya yang Sehingga jika sianida berlebih maka yang
dikeluarkan relative kecil. Salah satu metode Gravity menentukan kecepatan reaksi adalah
Concentration yang sudah Advance adalah Knelson kelarutan oksigen, demikian pula sebaliknya.
Concentrator. UBPE Pongkor mempunyai kandungan Standar parameter untuk DO di UBPE
GRG sebesar 40%, artinya ada 40% dari total emas Pongkor adalah 6-8 ppm.
yang bisa diambil dengan metode gravity 4. pH 10-10,5
concentration. Sehingga metode ini cukup bisa Jika pH<10 maka gas HCN yang terbentuk
dipertimbangkan untuk digunakan agar recovery bisa semakin banyak. Gas HCN tidak mempunyai
meningkat dan menurunkan cash cost. kemampuan untuk melarutkan Au dan Ag
sehingga recovery Au dan Ag akan turun. Jika
pH>10,5 maka kemungkinan akan terbentuk
Leaching H2O2 yang juga bisa menurunkan recovery Au
dan Ag.
Ada banyak teori tentang pelarutan emas mulai dari 5. %-Solid
Teori Oksigen Elsner, Teori Hidrogen Janin, Teori Semakin tinggi %-solid dengan waktu tinggal
Hidrogen Peroksida Bodlanders, Teori korosi yang sama maka recovery Au dan Ag
Boonstra, sampai Teori Pembuktian Kinetika dari menurun. Jika %-solid terlalu rendah maka
Habashi. Teori yang paling banyak dipakai adalah pemakaian sianida akan berlebih meskipun
teori oksigen Elsner, reaksi pelarutan Au dan Ag kemungkinan recovery Au dan Ag meningkat,
dengan sianida adalah sebagai berikut: disamping itu kapasitas produksi juga akan
2Au + 8NaCN +O2 + 2H2O  4NaAu(CN)2 + 4NaOH menurun. Standar pabrik UBPE Pongkor
2Ag + 8NaCN +O2 + 2H2O  4NaAg(CN)2 + 4NaOH untuk % solid ini adalah 38-42%.
6. Temperatur
Mekanisme reaksi dapat digambarkan dalam suatu sel Semakin tinggi temperatur maka kecepatan
elektrokimia berikut : reaksi meningkat, namun juga dibatasi oleh
kandungan DO karena semakin tinggi
Daerah Katodik temperatur maka DO akan semakin menurun.
O2 + 2H2O + 2 e- → H2O2 + 2OH- O2 Pada UBPE Pongkor, temperatur proses tidak
dikendalikan dan rata-rata sekitar 40oC.
7. Waktu Tinggal (Retention Time)
2OH- Semakin lama waktu tinggal untuk reaksi
maka recovery bisa meningkat namun
Aqueous Phase kapasitas produksi yang menurun. Pada UBPE
2Au → 2Au+ + 2 e- Pongkor, waktu tinggal slurry dalam tangki
2Au+ + 4CN- → [Au(CN)2]- 4CN- adalah 48 jam. Waktu tinggal ini bisa
Daerah Anodik dikendalikan dengan cara mengendalikan
2Au(CN)2- flowrate dari slurry yang masuk ke tangki
NBL leaching.
Nerst’s Bounder Layer
Jalur 1 temperatur 80-90oC untuk melemahkan
Adsorption ikatan C-Au(CN)2-.
4. Recycle Elution
Proses adsorbsi ini merupakan proses awal dari Setelah ikatan C-Au(CN)2- lemah maka
recovery. Ada beberapa jenis adsorban (bahan dilepas dengan mengalirkan air recycle pada
penyerap logam emas dan perak yang telah larut) temperatur 100-120oC dan tekanan 300-400
yang bisa digunakan yaitu karbon aktif, zeolit, Kpa. Air yang keluar dari elution column
ataupun resin. Adsorban yang sering digunakan setelah proses ini masuk ke tangki eluate
dalam industri pertambangan emas adalah karbon sebagai larutan kaya (Pregnant Solution) dan
aktif. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam siap dilakukan proses selanjutnya yaitu
memilih karbon aktif adalah: Electrowining.
1. Hardness/attrition resistant (kekerasan) 5. Water Elution
2. Aktivitas 6. Water Cooling
3. Kapasitas total emas yang diserap Pada stage 5 dan 6 air yang keluar dari elution
4. Bentuk dan distribusi ukuran karbon column selanjutnya masuk ke tangki recycle untuk
5. Persentase Abu digunakan pada stage 4 (Recycle elution) pada
6. Berat jenis ruah karbon (Bulk Density) elution berikutnya.
7. Kandungan Air kristal (moisture)
8. Luas permukaan Electrowining
9. %-Karbon Tetraklorida (CCl4)
10. %-w/wt Penyerapan benzene Prinsip electrowining adalah mengendapkan logam
Dari sifat-sifat karbon aktif di atas, yang paling yang diinginkan dari larutan kaya dengan
penting adalah Hardness / attrition resistant dan memberikan ion listrik searah pada elektroda yang
Aktivitas. digunakan sehingga terjadi proses reduksi-oksidasi
(Redoks). Dalam proses Redoks, ada 2 elektroda
Elution yang digunakan, yaitu:
1. Anoda
Proses elution adalah proses pelepasan kembali Pada anoda selalu terjadi reaksi oksidasi,
senyawa kompleks Au(CN)2- dan Ag(CN)2- dari karbon untuk electrowining larutan sianida, reaksi
aktif. Ada beberapa metode standar yang biasa yang terjadi:
digunakan, untuk UBPE Pongkor menggunakan 2H2O  O2 + 4H+ + 4 e
standar metode dari AARL (Anglo American Research Karena terbentuk H+ maka kemungkinan pH
Laboratory). Pada proses elution ini dibagi dalam 6 larutan akan turun dan terbentuk gas HCN
stage: yang membuat korosif pada anoda jika anoda
1. Acid Wash dari baja. Maka dari itu perlu dikendalikan pH
Tujuan dari acid wash adalah untuk larutan dan dijaga min 12,5.
melarutkan senyawa karbonat (CO32-) 2. Katoda
terutama kalsium karbonat (CaCO3). Pada Pada katoda selalu terjadi reaksi reduksi dari
proses ini digunakan HCl 3%, reaksi yang ion logam dalam larutan dalam hal ini Au dan
terjadi : Ag.
CaCO3 + 2HCl  CaCl2 + CO2 + H2O Au+ + e  Au dan Ag+ + e  Ag
Asam lain juga bisa digunakan missal: HNO3 Jumlah katoda pada proses elektrowining lebih
hanya saja karena lebih oksidatif maka harus banyak daripada anoda.
di perhatikan benar penggunaannya agar Katoda = Anoda +1
karbon (C) tidak teroksidasi menjadi CO2. Besarnya arus dan voltase yang digunakan dapat
2. Water Wash dihitung dengan menggunakan persamaan Nerst.
Pada proses ini hanya bertujuan untuk Produk dari electrowining ini adalah cake (Lumpur
membersihkan karbon yang telah tercuci oleh kadar tinggi) yang selanjutnya siap untuk dilebur.
HCl.
3. Pretreatment /Presoak Jalur 2
Sebenarnya proses pretreatment/presoak Precipitation
inilah awal dari pelepasan senyawa kompleks
Au dan Ag dari karbon. Pada proses ini Proses presipitasi dilakukan pada larutan hasil
digunakan NaOH 3% dan NaCN 3% pada leaching yang telah dipisahkan dari padatan dan telah
dijernihkan. Proses pemisahan solid-liquid dan
penjernihan ini biasanya dilakukan dengan (AgNO3). Perak dari bullion larut dan mengendap
menggunakan beberapa thickener secara berjenjang di Katoda, setelah benar-benar terpisah maka
yang sering disebut dengan CCD Thickener (Counter masing-masing dilebur.
Current Decantation).
Emas dan perak hasil peleburan yang masing-
Presipitasi bisa dilakukan dengan beberapa cara: masing mempunyai kadar >90%, dicetak
1. Menggunakan gas berbentuk lempeng kemudian dijadikan Anoda
2. Menggunakan ion exchange pada proses selanjutnya yaitu dilakukannya
3. Menggunakan logam lain (Sementasi) elektrolisa untuk proses pemurnian lebih lanjut.
Sementasi yang paling sering dilakukan dalam proses Pada proses elektrolisa untuk memurnikan emas,
presipitasi. Logam yang sering dipakai pada proses larutan yang digunakan adalah Au(Cl)2- dan
sementasi adalah seng (Zn) dalam bentuk serbuk. AgNO3 digunakan pada proses elektrolisa untuk
Selain seng sebenarnya logam apa saja bisa dipakai memurnikan perak. Hasil dari elektrolisa
asalkan lebih mudah teroksidasi (potensial reduksinya kemudian di lebur dan didapatkan logam dengan
lebih kecil) daripada logam yang ingin diendapkan. kemurnian 99,99% untuk emas dan perak.
Biasanya yang dipakai adalah deret volta:
2. Bullion dengan kadar Au >> Ag
Li, K, Ba, Ca, Na, Mg, Al, Zn, Cu, Fe, Pb, Ag, Pt, Au. Bullion langsung dilebur dengan dihembuskan gas
chlor (Cl2), gas chlor bisa mengikat emas dan
Logam-logam di kiri Au dan Ag bisa digunakan untuk akhirnya bisa dipisahkan dengan logam perak.
mengendapkan Au dan Ag. Aluminium (Al) tidak Masing-masing logam dibentuk lempeng untuk
dapat digunakan dalam sementasi untuk larutan dijadikan sebagai anoda dan selanjutnya
sianida karena Oksida Aluminium yang terbentuk dilakukan proses elektrolisa. Setelah proses
sifatnya protektif. Sehingga begitu oksida aluminium elektrolisa pada masing-masing logam (Emas dan
terbentuk maka reaksi berhenti. Reaksi yang terjadi Perak) selanjutnya langsung dilakukan peleburan
pada sementasi menggunakan serbuk Seng (Zn) : dan didapatkan logam emas dan perak dengan
kemurnian 99,99%.
Au+ + Ag+ + Zn  Au + Ag + Zn2+

Lumpur (cake) yang dihasilkan kemudian dipress


(biasanya menggunakan press filter) dan cake yang
sudah kering siap untuk dilebur.

Smelting

Peleburan untuk cake membutuhkan temperatur


minimal 1200oC dengan penambahan reagent berupa
borax (Na2B4O7—10H2O). Penambahan borax
bertujuan untuk mengikat slag (Terak) agar encer
sehingga mudah untuk dilakukan tapping serta untuk
menurunkan titik leleh dari cake. Hasil dari proses
peleburan ini adalah Bullion (paduan Emas dan
Perak).

Refining

Proses refining dari bullion dilakukan dengan tujuan


untuk mendapatkan logam Emas dan Perak Murni.
Biasanya ada 2 proses yang dilakukan dalam
pemurnian dari bullion ini:
1. Bullion dengan kadar Ag >> Au
Dilakukan proses elektrorefining. Proses ini pada
prinsipnya sama dengan elektrowining, hanya
saja Anoda yang digunakan adalah Bullion
dengan larutan yang digunakan Perak Nitrat