Anda di halaman 1dari 8

ANALISIS

PERKEMBANGAN MASALAH MONEY GAME

I. KONDISI SAAT INI

Banyak tawaran investasi yang sering disampaikan dari mulut ke mulut,


media masa, dan internet. Tawaran investasi ini memberikan keuntungan yang
sangat luar biasa, mencapai lebih 100% per tahun. Bagi pemasarnya, ditawarkan
penghasilan puluhan bahkan ratusan juta per-bulan. Tawaran investasi itu sering
sekali diberikan nuansa rahasia, hanya orang terdekat dan anggota yang boleh
tahu detilnya. Keuntungan investasi atau penghasilan tersebut menjadi sangat
tidak masuk akal bila dibandingkan dengan bunga deposito yang hanya 5~7% per-
tahun. Penghasilan yang diklaim para pemasar produk investasi tersebut jauh
diatas gaji profesional dengan pengalaman kerja puluhan tahun atau posisi
direktur. Anehnya lagi, tawaran investasi dan pekerjaan tersebut sering diklaim
tanpa resiko.
Kesempatan menggiurkan itu bisa diperoleh dari usaha Multi Level
Marketing (MLM) atau direct selling yang telah lama tumbuh dan berkembang,
apalagi selama masa krisis di Indonesia, baik dari jumlah perusahaan, jenis
produk maupun pelaku usaha tersebut. Para pelaku usaha ini biasa disebut
member, anggota, mitra bisnis atau investor. Mengembangkan network menjadi
sangat penting dalam usaha ini. Karena penghasilan usaha ini didapat bukan
hanya dari menjual produk tapi juga dari hasil penjualan jejaring yang
dikembangkan.
Namun, dibalik maraknya perkembangan bisnis MLM dan kesuksesan yang
sudah dirasakan sebagian member, sesungguhnya tidak sedikit beredar kisah
sedih dari orang yang gagal menggeluti bisnis MLM atau kegiatan usaha lain yang
pola kerjanya nyaris sama dengan MLM, namum bukan pola MLM. Oleh
karenanya, dalam pembahasan kali ini saya mencoba memberikan beberapa ciri
yang dapat diamati guna membedakan antara bisnis MLM dan bisnis berkedok
MLM, atau biasa disebut dengan MONEY GAME.
Perusahaan penggandaan uang yang berkedok MLM biasanya
menawarkan berbagai kemudahan dan janji-janji yang menggiurkan.
Penyelewengan sistem MLM ini nampak dalam Skema Piramida, Skema Binari
dan Mekanisme Ponzi. Pemasaran produk dengan skema tersebut memiliki ciri-ciri
khusus yang sebenarnya mudah untuk dikenali. Beberapa ciri-ciri dari kegiatan
Money Game yang berkedok Multi Level Marketing/MLM tersebut antara lain :
1. Pungutan biaya pendaftaran anggota yang relatif besar dan sebagian
digunakan sebagai kompensasi atau komisi kepada orang-orang yang
merekrut atau mensponsori anggota baru.
2. Keharusan setiap anggotanya untuk melakukan pembelian produk dalam
jumlah besar dan dengan potongan harga setinggi mungkin (sementara harga
produk umumnya telah “disesuaikan” secara tidak wajar) dan tidak disertai
dengan jaminan uang kembali (garansi), karena produk-produk yang mereka
distribusikan umumnya memang tidak dapat dipertanggungjawabkan kualitas
dan manfaatnya.
3. Ketidakpedulian perusahaan dan distributor independennya terhadap kualitas
produk dan kepuasan pelanggan, sehingga konsumen cenderung menjadi
korban. Ketidakpedulian ini juga nampak nyata karena banyak distributor yang
telah memesan produk sebagai syarat menjadi anggota, kemudian tidak
pernah mengambil produk tersebut dari perusahaan.
4. Tidak adanya perjanjian atau kontrak tertulis antara perusahaan dengan
distributornya.
5. Tidak adanya pendidikan dan sistem pelatihan yang sistematis dan
berkesinambungan untuk para distributor.
6. Tidak diterimanya perusahaan yang melaksanakan pemasaran sebagai
anggota APLI atau Direct Selling Association (DSA) di negara di mana mereka
beroperasi.
7. Pelanggaran terhadap prinsip umum MLM yang sah, yakni semua anggota
memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan keuntungan dari penjualan
produk atau serius. Dalam Mony Game mereka yang mendaftar belakangan
kurang dan/ atau tidak memiliki sama sekali peluang untuk mendapatkan
keuntungan.
Penipuan dengan money game, skema piramid, dan inventory
loading memang sulit dibedakan oleh orang awam. Apalagi bila bisnis ini
menggunakan kedok bisnis yang syah seperti investasi, pemasaran
berjenjang (multi level marketing), arisan, simpan-pinjam, dan
penggunaan teknologi internet. Penipuan ini semakin leluasa bergerak
karena pemerintah sebagai pengawas dan pengatur tidak mempunyai
perangkat hukum, bahkan dengan mudah memberikan ijin operasi bagi
usaha tersebut tanpa pengawasan.

II. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

Criminal is shadow of civilization, kejahatan adalah bayang-bayang


peradaban. Dalam arti lain kejahatan berkembang sesuai dengan perkembangan
zaman. Money Game yang merupakan kejahatan sudah berumur panjang.
Dimana Bisnis model Money Game ini dikenal istilah Skema Ponzi (Ponzi
Scheme), berasal dari nama seorang penipu bernama Charles Ponzi,
yang tinggal di Boston, Amerika. Ponzi menawarkan investasi berupa
transaksi spekulasi perangko (mail coupons) Amerika terhadap perangko
asing di akhir tahun 1919 sampai 1920. Yang kemudian berkembang sesuai
dengan perkembangan zaman.
Bisnis Model Money Game di Indonesia saat ini sangat banyak
terjadi bahkan mungkin salah satu dari kita pernah menjalankan bisnis tersebut.
Sudah banyak korban berjatuhan dikarenakan bisnis ini. Seperti Kasus PT
KOSPIN yang terjadi di Pinrang ( Sulawesi Selatan ) pada tahun 2002 dimana
ribuan orang tertarik dengan tawaran yang menggiurkan dengan menjanjikan
keuntungan 10 % per-bulannya yang akhirnya ratusan bahkan milyaran rupiah
uang milik mereka hilang dengan percuma setelah mereka memasukkan uangnya
ke PT KOSPIN Pinrang.
Korban dari Bisnis Money Game ini tidak saja dari kalangan kelas bawah
saja tetapi juga yang sangat mengejutkan banyak dari mereka yang berprofesi
sebagai Pejabat Birokrat, Pejabat TNI/Polri, Pegawai Swasta dan orang-orang
kaya lainnya dimana mereka tertipu dan kehilangan harta benda yang tidak sedikit
untuk mencoba bisnis tersebut .
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi mengapa mereka sangat
tertarik menjalankan Bisnis MONEY GAME ini antara lain :

1. Sifat Manusia yang Tidak Pernah Puas


Manusia pada dasarnya merupakan mahluk Tuhan yang sangat unik dan
selalu tidak puas dengan apa yang telah dimiliki. Seperti dalam Teori
Moslow/Motivasi dimana menurut Moslow:
“Kebutuhan manusia tersusun dalam suatu hierarkhi kebutuhan yaitu
Physical Needs( Kebutuhan Pokok untuk hidup ), Safety Needs ( Kebutuhan
Keamanan ), Social Needs ( Kebutuhan Sosial ), The Needs for Esteem
( Kebutuhan Pengakuan ), The Needs for self Actualization ( Kebutuhan
untuk Aktualisasi Diri )” .

Dengan terbentuknya stratifikasi kebutuhan tersebut pada setiap manusia


praktis tawaran Bisnis MONEY GAME yang menggiurkan ini tidak saja
menggiurkan orang dari kalangan bawah secara ekonominya tetapi pula
orang yang mampu secara ekonomis pun ikut serta tergiur dengan bayangan
keuntungan yang besar tersebut.
.
2. Budaya Masyarakat

Budaya masyarakat Indonesia pada umumnya yang sangat mengkhawatirkan


adalah Kebudayaan Instan. Maksudnya bahwa masyarakat kita adalah
manusia yang menginginkan kemudahan dalam mencapai sesuatu. Seperti
yang disampaikan Yayan Sofyan dalam situsnya www.yayan.com
menyatakan bahwa:
” ......, ia pun didukung oleh faktor-faktor kultural. Sebut saja budaya instant
dan seremonialisme, yang kerap menjadi Pointpsikis yang menggusur
banyak orang untuk cepat mempercayai orang asing yang potensial menjadi
penipu”.

Masyarakat kita masih memandang penampilan seseorang sebagai standar


penilaian yang pada akhirnya juga berbalik menjadi bumerang penipuan
dimana selanjutnya sifat ketergesa-gesaan selalu membimbing kita untuk
terperosok ke jurang kehancuran.
Hal lain yang ikut memicu orang-orang tertarik mengikuti kegiatan Money
Game tersebut yaitu Masyarakat Indonesia yang suka meniru orang lain.
Perusahaan ”Money Game ” tersebut menawarkan bisnis menggiurkan itu
yaitu dengan melibatkan tokoh ataupun pejabat negara. Seperti yang
disebutkan oleh Edy Zaqeus dalam www.pembelajar.com :
”...... dalam peresmian pendirian perusahaan Probest Internasional Indonesia
di Jl. Gunung Sahari Raya 25 pada Bulan Juni 2002 hadir tokoh-tokoh
penting seperti Sutiyoso ( Gubernur DKI Jakarta ), Makbul Padmanegara
( Kapolda Metro Jaya ) serta Gubernur dan Kapolda NTB”

dari hal tersebut membuat sebagian masyarakat menganggap bahwa hal


tersebut merupakan kegiatan legal karena banyak pejabat ataupun tokoh
masyarakat yang mengikuti bisnis tersebut.

3. Kebijakan Pemerintah

Selain dari faktor manusia dan budaya masyarakat Indonesia yang


materialistik hal lain yang memicu semakin gencarnya Bisnis Money Game di
Indonesia yaitu masih lemahnya pengawasan dari pengeluaran ijiin pendirian
perusahaan Bisnis Money Game berkedok MLM ini. Sebagaimana dikutip
dari www.apli.com yang menyebutkan bahwa :
” ……… Asosiasi Penjual Langsung Indonesia (APLI) tidak pernah reda untuk
mengikis habis perusahaan nakal pengganda uang (pola piramida) yang
berkedok perusahaan MLM atau mendompleng usaha itu. Adapun salah satu
upaya yang ditempuh adalah mendesak Deperindag untuk segera
menerbitkan Surat Keputusan (SK) tentang Ketentuan kegiatan usaha
penjualan berjenjang “

Deperindag masih belum melakukan pengawasan terhadap perusahaan yang


melakukan bisnis penjualan berjenjang ini. Padahal sudah banyak
pengalaman yang terjadi dari dampak pemberian ijin terhadap PT KOSPIN,
PT PROBEST, PT QSAR, PT ARTHAMULIA ERESKA PERDANA, PT GCI
dan lain sebagainya yang nyatanya perusahaan-perusahaan tersebut
melakukan kegiatan Money Game dengan berkedok usaha penjualan
berjenjang. Seharusnya Deperindag melakukan audit ataupun pemeriksaan
terhadap perusahaan yang menjalankan kegiatan tersebut namun hal
tersebut tidak dilakukan oleh Deperindag baru kemudian setelah timbul
korban dan kerugian yang tidak sedikit, Deperindag mau bertindak tegas
mencabut ijin perusahaan tersebut.
4. Pembodohan Media Massa
Kesalahan informasi yang diterima masyarakat berkaitan dengan Bisnis Money
Game yang berkedok MLM ini pada awalnya pula disebabkan pemberitaan yang
menghebohkan mengenai Bisnis Money Game ini seperti yang dikutip oleh
Siswa Rizali di E-mail: pidie@lycos.com :
“PT Gee Cosmos Indonesia (PT GCI) mengiklankan secara gencar
program investasi Gee System di berbagai media nasional, seperti
Kompas, Gatra, Nova, RCTI dan lainnya, pada tahun 2001. Iklan G
System itu menawarkan program investasi pembiayaian iklan berbagai
produk, seperti kosmetik, elektronik, dan jam tangan, yang
ditayangkan di stasiun televisi di Jepang. Keuntungan dari hasil
penjualan produk tersebut selama empat bulan, 30 persennya akan
diberikan kepada PT GCI. Bagi hasil ini yang nantinya menjadi
pendapatan para investor “.

Akibat dari pembodohan media massa tersebut membuat masyarakat tidak


mengetahui secara benar bisnis tersebut mengakibatkan semakin banyaknya
masyarakat yang tergiur untuk menjalankan Bisnis Money Game tersebut. Hal
tersebut sangat aneh tidak ada satu media massa yang pernah memuat
iklan PT GCI tersebut merasa ikut terlibat dalam pembodohan
masyarakat. Semua media hanya berlomba memberitakan
terbongkarnya penipuan oleh PT GCI. Penulis tidak bisa menemukan
artikel atau permintaan maaf dari media karena telah menyesatkan
pembaca/ penonton melalui iklan-iklan dan liputan yang dibuatnya
atas PT GCI.

Selain itu pula yang membuat masyarakat terkecoh untuk bersedia


menjalankan bisnis Money Game ini adalah Beberapa pemberitaan
Media Massa yang memuat Profil keberhasilan seseorang seperti yang
dikutip dari Koran Republika 15 Juni 2003 :
“…….dalam wawancara dengan Meirizal Zulkarnaen, Manajer Humas
PT Probest, dengan bangga menyatakan bahwa penghasilannya
mencapai Rp 200 juta per bulan. Menggambarkan Meirizal sebagai
alumnus IAIN Jakarta, mantan aktifis ”Aliansi Jurnalis Independen” dan
”Institut Studi Arus Informasi”, mantan caleg dari Partai Amanat
Nasional 1999, dan juga mantan reporter/redaktur penerbitan nasional,
memberikan kesan Meirizal sebagai seorang jujur yang selalu bekerja
keras. Selain keberhasilannya dalam mengumpulkan materi berupa
emas, mobil, dan rumah, Meirizal juga digambarkan sebagai seorang
yang taat beribadah dengan kebiasaannya membayar zakat setiap
bulan dan niatnya yang akan menunaikan ibadah haji bersama
keluarganya “

Media-media yang ada pada umumnya melakukan kesalahan


mendasar dalam meliput kesuksesan seseorang, yaitu hanya
mengukur besarnya materi yang dimiliki, tanpa mau melakukan
investigasi bagaimana materi itu diperoleh. Sikap materialistis yang
menguasai reporter dalam meliput berita keberhasilan seseorang
membuatnya mudah dimanipulasi oleh pengurus/anggota skema
piramid/money game untuk hanya melihat nilai harta yang dimilikinya.
Kemudian artikel si reporter yang mengusung keberhasilan
materialistis si penipu akan menghipnotis lebih banyak lagi
masyarakat yang juga dikuasai sifat materialistis. Jelaslah hal ini
sebuah mekanisme pembodohan masyarakat.

III. KONDISI YANG DIHARAPKAN

Dari kejadian yang telah terjadi diatas diharapkan Bisnis Money Game yang
berkedok MLM ( Multi Level Marketing ) ini dapat diantisipasi oleh masyarakat.
Masyarakat harus berhati-hati bila mendapatkan tawaran yang menggiurkan dari
ajakan seseorang maupun perusahaan yang menawarkan usaha untuk
menggandakan uang tersebut.
Untuk mewujudkan kondisi kewaspadaan masyarakat tersebut ada beberapa cara
yang perlu ditempuh untuk mengantisipasi hal tersebut antara lain yaitu dari
masyarakat, Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) dan pemerintah.

1. Masyarakat

Untuk itu beberapa hal yang harus dilakukan masyarakat bila mendapatkan kupon
berhadiah dalam kemasan produk:
1. Jangan terlalu percaya langsung terhadap kupon undian berhadiah yang
konsumen dapatkan.
2. Cek kebenaran undian berhadiah tersebut ke nomor telephon konsumer
service yang berada di kemasan produk. Jangan mempercayai nomor
konsumer service yang berada di kupon undian.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh produsen produk yang digunakan
oleh pelaku penipuan undian berhadiah, antara lain:
1. Memberikan informasi yang benar akan adanya undian berhadiah yang
diselenggarakan olehnya.
2. Melakukan pengamanan terhadap kupon undian yang tidak terpakai
dengan melakukan pemusnahan kupon tersebut.
3. Melakukan klarifikasi akan adanya penipuan yang menggunakan
produknya sebagai media penipuan.

Dengan dilakukan hal-hal teresebut di atas, diharapkan penipuan dengan modus


menggunakan kupon undian berhadiah dapat diantisipasi oleh masyarakat atau
konsumen. Kewaspadaan terhadap undian berhadiah adalah kunci utama agar
terhindar dari penipuan bermoduskan undian berhadiah.

a. PERAN POLRI DALAM MENGATASI MASALAH