Pengaruh Dukungan Keluarga terhadap Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis

Tahan P. Hutapea RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

ABSTRACT The use of DOTS strategy for tuberculosis treatment has not been successful, while the cases of tuberculosis multidrug resistance is increasing. We therefore require to know how far effect of family support to increase compliance in taking anti tuberculosis drugs. The research was observational study with cross sectional design. From the findings of the research, it was concluded that: There was family support influence to compliance rate to take anti tuberculosis drugs. The regresion ordinal analysis showing that there is a effect of family support with compliance to taking anti tuberculosis drugs. The result show value of F = 5.502 and p = 0.001 (p<0.05) and correlation coefisient r = 0.210. This indicating higher family support, also make higher compliance to taking anti tuberculosis drugs. If take more analysis, from 4 variabels of family support in this research (encouragement going to clinic, family not stayed away from sufferer, transportation support, and attention to success of medical treatment) toward compliance to taking anti tuberculosis drugs, the biggest efford variabel is attention to success of medical treatment, transportation support, encouragement going to clinic, and the last family not avoid from sufferer. Keywords : Family support, compliance, Tuberculosis

PENDAHULUAN Penyakit Tuberkulosis paru telah dikenal lebih dari satu abad yang lalu, yakni sejak diketemukannya kuman penyebab Tuberkulosis oleh Robert Koch tahun 1882, namun sampai saat ini penyakit Tuberkulosis (TB) masih tetap menjadi problema kesehatan di seluruh dunia dan sebagai penyebab kematian utama yang diakibatkan oleh penyakit infeksi.1 Pada April 1993 WHO menyatakan TB sebagai suatu problema kesehatan masyarakat yang sangat penting dan serius di seluruh dunia serta merupakan penyakit yang menyebabkan kedaruratan global (Global Emergency), karena satu dari 3 penduduk dunia diperkirakan telah terinfeksi dengan Mycobacterium tuberkulosis (disebut juga Basil Tahan Asam = BTA) sebagai kuman penyebab TB yang dibuktikan dengan pemeriksaan Mantoux tes.2 Sekitar 95% penderita TB terdapat di negara sedang berkembang dengan sosioekonomi rendah termasuk Indonesia dan 75% dari penderita TB tersebut terjadi pada usia produktif.3 Setiap tahun terdapat sekitar 4 juta penderita baru TB paru menular di dunia.4 Menurut WHO diperkirakan pada tahun 2000 terdapat 8,74 juta penderita baru TB dan akan menjadi 10,2 juta penderita baru TB pada tahun 2005. Di kawasan Asia Tenggara diduga terjadi lebih dari 3,5 juta penderita baru TB dan lebih dari 1,3 juta kematian akibat penyakit ini, dan diperkirakan pada tahun 2005 terdapat 3 juta penderita baru TB.5

WHO (1998) memperkirakan terdapat 450. Rustina (2001) dan Laporan perkembangan pelayanan BP4 Surabaya (2003. RS. Persahabatan Jakarta (data dari WHO tahun 2003). menunjukkan MDR-TB berkisar antara 6.000 kematian karena TB setiap tahunnya.000 penderita baru TB paru dengan ditemukan BTA pada dahaknya (BTA (+)) di Indonesia serta terdapat 175.2 Di Indonesia dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan (DepKes) tahun 1995 didapatkan Tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah penyakit Kardiovaskuler dan penyakit infeksi saluran pernafasan serta peyebab kematian nomor 1 pada semua golongan umur dari golongan penyakit infeksi. Gresik (22%). Saiful Anwar Malang 1998 53. (dikutip dari 31) melaporkan angka MDR-TB sebesar 4. Di Indonesia. Namun pada kenyataan setelah berjalan 9-10 tahun program “DOTS”. Tabel 1. Data dari the third report of the WHO/IUATLD Global Project on Anti Tuberculosis Drug Resistance Survellance pada 75 area dari 13 negara tahun 19992002. Kabupaten Malang (25%). Gresik (20%). Data ketidakpatuhan berobat penderita TB paru dari klinik dan rumah sakit dapat dilihat dari data penderita TB paru yang berobat di RSUD Dr.44% pada kasus yang pernah diobati. Saiful Anwar Malang.5% sampai 14% pada kasus baru (resisten primer) dan 30% sampai 60% pada kasus yang pernah diobati (resisten sekunder).Drug ResistantTB) sebesar 12. Data pada Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur tahun 2004 menunjukkan 15% dari penderita TB paru yang diobati di seluruh Puskesmas di Jawa Timur yang mempergunakan program pengobatan strategi “DOTS”.Saiful Anwar Malang (1999 dan 2001) dan BP4 Surabaya (2003-2004) Tempat Penelitian Waktu penelitian Tidak patuh berobat RSUD Dr. Saiful Anwar Malang 2001 28.6% dan untuk lebih dari 2 jenis OAT (MDR-TB. Bila dilihat tiap daerah tingkat II.Multi Drug ResistantTB) sebesar 2. 2004) .2%. Sidoarjo (29%). Situbondo (23%). Jember (36%). BP4 Surabaya. dan sejak tahun 1995 lebih diintensifkan dengan cara pengobatan yang mempergunakan strategi“DOTS” (Directly Observed Treatment Shortcourse) yang direkomendasikan oleh WHO.7% RSUD Dr. tidak melanjutkan pengobatan sampai selesai (tidak patuh minum obat). Lamongan (27%). Sumenep (24%). Dari hasil surveillance secara global dilaporkan telah terjadi resistensi kuman TB terhadap OAT pada penderita TB untuk satu jenis OAT (DR-TB. (lihat tabel 1). Pada tahun 2005 total yang tidak patuh berobat sebesar 14% dengan daerah tingkat II terbanyak adalah: Ngawi (38%).6 Pemberantasan TB di Indonesia telah dilaksanakan secara nasional sejak tahun 1969 melalui Program Pemberantasan Tuberkulosis (P2TB) oleh DepKes. didapatkan beberapa daerah dimana didapatkan persentase penduduknya yang menderita TB paru dan tidak patuh berobat antara lain : Bangkalan (37%).37% BP4 Surabaya 2003 27% BP4 Surabaya Januari – Juni 2004 34% Sumber: Abiyoso (1999) . angka keberhasihan pengobatan masih belum mencapai target yang ditetapkan Dep. Bangkalan (28%).3% pada kasus baru dan 34.Kes yaitu dapat menyembuhkan 85% dari penderita TB dengan BTA (+) yang diobati. Data ketidakpatuhan berobat penderita TB paru (%) di RSUD Dr.

48 ± 13. 31-40 tahun 27 orang 20. Hal ini akan mempersulit pemberantasan penyakit TB paru di Indonesia serta memperberat beban pemerintah (DepKes).4%. Variabel yang diteliti adalah dukungan keluarga dan kepatuhan penderita minum obat anti tuberkulosis. 2007) pada pasien psikiatri pada penderita Kusta di Kabupaten Asahan. Penelitian dilakukan di Balai Pengobatan dan Pemberantasan Penyakit Paru (BP4) atau RS Karangtembok Surabaya.3 Besarnya angka ketidakpatuhan berobat akan mengakibatkan tingginya angka kegagalan pengobatan penderita TB paru dan menyebabkan makin banyak ditemukan penderita TB paru dengan BTA yang resisten dengan pengobatan standar. Besar sampel yang dipakai dalam penelitian ini adalah sebesar 134 orang penderita (semua penderita TB paru BTA (+) baru yang pertama kali berobat dalam periode 4 bulan sejak 1 Maret 2006).30 3).3%) Sebagian besar penderita TB Paru dalam penelitian ini berusia antara 21-30 tahun sebanyak 43 orang 32.7%) (lihat tabel 2). masalah yang akan dikaji adalah apakah dukungan keluarga berpengaruh terhadap kepatuhan minum obat anti tuberkulosis. Kepatuhan berobat sangat dipengaruhi oleh perilaku penderita. Penderita termuda berumur 15 tahun dan tertua 70 tahun. BAHAN DAN CARA KERJA Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Analisis data dilakukan dengan regresi ordinal.9 Berdasarkan permasalahan tersebut di atas. Umur rata-rata penderita TB Paru dalam penelitian ini 37. Dieter Naber (Jerman. Agar perilaku penderita lebih patuh dibutuhkan memperkuat driving force dengan menggalakkan persuasi dan memberi informasi (teori Force field Analysis dari Lewis). 2).. dalam hal ini penderita TB paru sebagai penyebab utama dari ketidak patuhan minum obat. . dapat disimpulkan bahwa faktor manusia.30 tahun.1% dan usia 61-70 tahun 5 orang (3. 2005) pada penderita depresi di Keutapang Dua Banda Aceh. Populasi adalah semua penderita TB paru BTA (+) baru yang pertama kali berobat di BP4 / RS Karangtembok Surabaya. Cara terbaik mengubah perilaku adalah dengan memberikan informasi serta diskusi dan partisipasi dari penderita. Berbagai teori tentang kepatuhan berobat dan usaha agar berperilaku patuh berobat dikemukakan beberapa penulis. Karakteristik Penderita Jenis kelamin penderita TB Paru dalam penelitian ini didapatkan laki-laki 76 orang (56. antara lain: 1). Pengaruh dukungan keluarga dalam keberhasilan pengobatan berbagai penyakit banyak diteliti para peneliti. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner dan melakukan pengamatan OAT yang tersisa pada penderita.1%. Dari berbagai faktor penyebab ketidakpatuhan minum obat penderita TB Paru. antara lain: Elvi Syahrina (Univeritas Syah Kuala. usia 41-50 tahun 30 orang 22.28.7%) dan wanita 60 orang (43.

2 32.0 Terdapat 46.1% penderita menyatakan anggota keluarga mendorong untuk berobat secara teratur.4 3. .2 7.0 6.2% dari peserta penelitian tidak mempunyai pekerjaan.111 ± Rp. Hal ini terjadi karena pada kelompok tidak bekerja termasuk para ibu Rumah Tangga.161. Distribusi pekerjaan penderita TB Paru dalam penelitian seperti terlihat pada tabel berikut. Distribusi Pekerjaan Penderita Pekerjaan Tidak bekerja PNS/TNI/Polri Kary. anak yang masih bersekolah atau belum berumah tangga yang tidak mempunyai pekerjaan sendiri. Pendapatan terendah Rp.0 Terdapat 59.9 11.000. 711.4 13.5 4. Tabel 3.1 20. 350. Distribusi Pendidikan Penderita Pendidikan Rendah Menengah Tinggi Jumlah N 47 79 8 134 % 35.7 29.0 100.5 100. Dukungan Anggota Keluarga Dorongan anggota keluarga untuk berobat teratur Didapatkan 73.0 59.2 0. Pendapatan keluarga rata-rata penderita TB Paru dalam penelitian ini adalah Rp. Swasta Wiraswasta Pedagang Lain-lain Jumlah N 62 1 40 15 10 6 134 % 46.0% dari peserta penelitian berpendidikan menengah (SLTP dan SLTA).4 Tabel 2. 270. Tabel 4.000.1 22.7 100. Distribusi Umur Penderita Kelompok umur ≤ 20 thn 21-30 thn 31-40 thn 41-50 thn 51-60 thn 61-70 thn Jumlah N 11 43 27 30 18 5 134 % 8. 2. Pekerjaan penderita TB Paru dalam penelitian ini cukup bervariasi.000 dan tertinggi Rp.0 Pendidikan penderita terdistribusi seperti pada tabel berikut.

7 100.3 50.4 77.5 Tabel 5. Distribusi adakah anggota keluarga yang menghindari penderita karena menderita TB Paru Keluarga menghindari penderita Ya Tidak Jumlah n 30 104 134 % 22.6 100 . Tabel 7. Distribusi adanya bantuan transport dari anggota keluarga untuk kontrol ke sarana pelayanan kesehatan Bantuan transport dari keluarga Ada Tidak Jumlah N 50 84 134 % 37. Distribusi Drongan Aggota Kluarga Utuk Brobat Teratur Keluarga mendorong berobat Ya Tidak Jumlah n 98 36 134 % 73. Keteraturan minum OAT (dari kuesioner) Tabel 9.0 Didapatkan 50.6 100 Terdapat 62.4 30.4% penderita menyatakan anggota keluarga menghindari penderita setelah tahu menderita TB Paru. Tabel 6.7% dari penderita menyatakan anggota keluarga tidak memberikan bantuan transport kepada penderita atau mengantar penderita kontrol ke sarana pelayanan kesehatan.3 62.9 100 Didapatkan 22.7% dari penderita menyatakan tidak adanya perhatian atas kemajuan pengobatan penderita dari anggota keluarga. Distribusi adakah keluarga yang memperhatikan kemajuan pengobatan penderita Perhatian atas kemajuan pengobatan Ada Tidak Jumlah N 66 68 134 % 49.1 26.7 100 Kepatuhan minum OAT 1. Tabel 8. Distribusi keteraturan minum OAT (dari kuesioner) Keteraturan minum Obat Tiap hari Kadang lupa Jumlah 93 41 134 N % 69.

4 61.7 71. 26.37. Dalam bentuk kategori. Tabel 10.3 32. Cara minum OAT (dari kuesioner) Cara minum OAT penderita TB Paru tergambar pada tebel distribusi berikut.6 Didapatkan 69. (Skor terendah 1 dan tertinggi 6).1 79. dan cara minum obat. apakah sesuai dengan sisa obat yang seharusnya.9 0. Tabel 12.4% penderita meminum OAT setiap hari. Tabel 11.1 79.6% penderita menyatakan minum obat tidak tiap hari. 3.6 73.7 26.7% penderita menyatakan minum obat sekaligus. Distribusi jumlah penderita yang memiliki sisa obat sesuai dengan seharusnya (per-minggu) Minggu 1 2 3 4 5 6 7 8 N 87 85 83 92 96 98 106 107 % 64. didapatkan hasil sebagai berikut. 30.7 100 % Didapatkan 72.9% menyatakan minum obat tidak sekaligus. Distribusi Cara Minum OAT Cara Minum obat Sekaligus Tdk sekaligus Lain-lain Jumlah N 97 36 1 134 72.9 63. Distribusi Tingkat Kepatuhan Minum OAT Tingkat kepatuhan minum obat Tidak patuh Kurang patuh Patuh Jumlah N 24 66 44 134 % 17. keteraturan minum obat menurut penderita sendiri. maka didapatkan gambaran hasil pengamatan kepatuhan minum obat selama 8 minggu seperti tergambar pada tabel berikut. Kepatuhan minum OAT (berdasarkan kesesuaian jumlah obat yang tersisa) Dari hasil pengamatan dengan melihat sisa obat yang ada pada penderita saat dilakukan kunjungan rumah.9 68. Dalam bentuk skor.9 49. keteraturan minum obat menurut PMO.9 .55 ± 1.8 100 Bila dijabarkan lebih rinci kepatuhan penderita dalam minum obat menurut hasil pengamatan kesesuaian jumlah obat yang tersisa dengan yang seharusnya. kepatuhan penderita dalam minum obat skor rata-rata 4. tingkat kepatuhan penderita dalam minum obat sebagai berikut. 2.

2 4. Tabel 13. didapatkan gambaran hasil observasi tersebut selama 8 minggu seperti tergambar pada tabel berikut.1 79.4 79.3 Kepatuhan minum OAT (menurut cara minum obat) Berdasarkan pengamatan pada penderita dengan menanyakan bagaimana cara mereka meminum obat.7 Kepatuhan minum OAT (menurut penderita) Berdasarkan pengamatan pada penderita dengan menanyakan apakah mereka meminum obatnya setiap hari.6 87.9 76.1 Kepatuhan minum OAT (menurut waktu minum obat) Berdasarkan pengamatan pada penderita dengan menanyakan waktu minum obat.5 11.4 67.4 67.4 58. Tabel 15.8 33.5 2.8 77.1 82. Distribusi jumlah penderita yang minum obat sebelum makan pada pengamatan tiap minggu Minggu 1 2 3 4 5 6 7 8 N 2 3 6 15 32 42 44 45 % 1. Distribusi Jumlah Penderita yang Minum OAT Tiap Hari Menurut Penderita (per-minggu) Minggu 1 2 3 4 5 6 7 8 N 84 89 91 102 111 104 117 121 % 62. Tabel 14.2 60. didapatkan gambaran hasil observasi tersebut selama 8 minggu seperti tergambar pada tabel berikut.9 72.1 82.3 32.6 .2 23.9 31.7 66.3 90. didapatkan gambaran hasil observasi tersebut selama 8 minggu seperti tergambar pada tabel berikut. Distribusi jumlah penderita yang minum OAT sekaligus pada pengamatan tiap minggu Minggu 1 2 3 4 5 6 7 8 N 81 78 81 91 97 106 106 110 % 60.

000 0. Persentase pendidikan ini menyerupai gambaran penduduk kota Surabaya. Sisa OAT pada penderita sesuai dengan jumlah yang seharusnya 2. hal ini sesuai dengan berbagai penelitian yang menyimpulkan penyakit TB Paru terutama ditemukan pada usia produktif (Crofton. Pada penelitian ini didapatkan jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki. adanya keluarga yang menghindari penderita. Enarson. 2004). 2004). tingkat pendidikan sampel terbanyak adalah berpendidikan menengah (SLTP dan SLTA). Pasien menyatakan bahwa ia meminum OAT setiap hari.347 0. disusul bantuan transport.429 P 0. Besar pengaruh variabel dukungan keluarga terhadap kepatuhan penderita minum OAT Variabel dukungan keluarga Dorongan berobat Menghindari penderita Bantuan transport Perhatian atas kemajuan pengobatan Beta 0. Jika dianalisis lebih lanjut.502 dan p=0. . Tabel 16.000 Tabel di atas menunjukkan bahwa variabel yang paling besar pengaruhnya terhadap kepatuhan minum obat penderita adalah perhatian atas kemajuan pengobatan. semakin tinggi pula tingkat kepatuhan penderita minum OAT. memperhatian kemajuan pengobatan penderita.311 0. PMO menyatakan bahwa pasien meminum OAT setiap hari 3. dorongan berobat dan keluarga tidak menghindari penderita yang sakit TB. bantuan transport dan perhatian atas kemajuan pengobatan) terhadap kepatuhan minum OAT. Reichman 2000.05) dan koefisien korelasi sebesar r=0.000 0. Perilaku patuh minum OAT dinilai dari: 1. memberi bantuan transport dan tidak menghindari penderita yang sakit TB.8 Analisis Pengaruh Dukungan Keluarga terhadap Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis Analisis regresi ordinal menunjukkan adanya pengaruh dukungan keluarga terhadap kepatuhan minum obat antituberkulosis. Hasil analisis tersebut menunjukkan semakin tinggi dukungan keluarga.210. Ketiga data tersebut didapat dari instrumen pengumpul data berupa lembar observasi dan catatan mingguan oleh petugas pada saat melakukan kunjungan ke rumah penderita TB yang menjadi peserta penelitian. di mana sebagian besar penduduk Surabaya berpendidikan menengah (SLTP dan SLTA) (Data kependudukan kota Surabaya. Hasil analisis menunjukkan nilai F=5. 1999.001 (p<0.000 0.423 0. DISKUSI Sebagian besar penderita berusia antara 21-50 tahun. Dalam penelitian ini ditemukan dukungan keluarga yang dilakukan anggota keluarga dengan mendorong penderita untuk berobat secara teratur. dari 4 variabel dukungan keluarga yang diteliti (dorongan berobat. maka pengaruh masing-masing variabel dapat digambarkan dalam tabel berikut.

menyatakan pasien diuntungkan lebih dari sekedar obat saja. Juga dapat terjadi karena lamanya waktu yang dibutuhkan harus memenuhi nasihat untuk patuh minum obat seperti yang dinyatakan Sackett dan Snow (1979) dikutip oleh Abraham (1997) yang menyatakan: derajat ketidak-patuhan rata-rata 50% dan derajat tersebut bertambah buruk sesuai waktu. Basaria Hutabarat (2007)9 menemukan pengaruh peran keluarga terhadap kepatuhan minum obat penderita Kusta di Kabupaten Asahan. 2005) menemukan hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat penderita depresi di Keutapang Dua Banda Aceh. dukungan keluarga juga membantu pasien tetap baik dan patuh meminum obatnya. Dieter Naber (Jerman. yang menyatakan bahwa hanya rata-rata 31% saja dari informasi yang diterima pasien pada awal pengobatan yang diingat sampai selesai pengobatan penyakitnya. disusul dengan bantuan transportasi.1% memiliki sisa obat tidak sesuai dengan yang seharusnya (tabel 12). Berbagai teori tentang kepatuhan berobat dan usaha agar berperilaku patuh berobat dikemukakan beberapa penulis. dapat terjadi kegagalan pengobatan penderita.5% penderita TB yang ditelitinya gagal meminum OAT. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan diskusi penelitian ini menyimpulkan bahwa dukungan keluarga dapat meningkatkan kepatuhan minum OAT penderita TB Paru. Kepatuhan berobat sangat dipengaruhi oleh perilaku penderita 2). bagi penderita penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan yang lama. Analisis regresi ordinal dari 4 variabel dukungan keluarga menunjukkan bahwa yang paling besar pengaruhnya terhadap peningkatan kepatuhan minum OAT penderita TB Paru adalah perhatian atas kemajuan pengobatan. Agar perilaku penderita lebih patuh dibutuhkan memperkuat driving force dengan menggalakkan persuasi dan memberi informasi (teori Force field Analysis dari Lewis). . 1993. pada penelitian ini didapatkan 20. dorongan berobat dan tidak menghindarnya keluarga dari penderita TB tersebut. 2007) pada penelitiannya terhadap pasien psikiatri menemukan adanya dukungan keluarga yang menjalian hubungan yang harmonis dengan pasien psikiatri. memberi dorongan keberhasilan pengobatan dan tidak menghindari penderita karena penyakitnya. antara lain : 1). 1997).9 Pengaruh dukungan keluarga dalam keberhasilan pengobatan banyak diteliti para peneliti. Dukungan keluarga dalam penelitian ini adalah dengan mendorong penderita agar patuh meminum obatnya. Notoadmodjo. Cara terbaik mengubah perilaku adalah dengan memberikan informasi serta diskusi dan partisipasi dari penderita (Sarwono. Leg dan Spelman (1967) seperti dikutip Abraham (1997) menyatakan bahwa 37. Hal ini bisa terjadi seperti pada penelitian Anderson (1986) di Hongkong seperti dikutip Niven (2002). antara lain: Elvi Syahrina (Univeritas Syah Kuala. 3). Bila dukungan keluarga mengingatkan agar meneruskan pengobatan secara teratur bagi keluarga yang sakit tidak diberikan.

Garay SM. In:Tuberculosis.Horne. Arikunto S. Laporan perkembangan Pelayanan tahun 2002-2003. DirJend P2M PLP Departemen Kesehatan RI. 18. Inc. terjemahan: Landung RS. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. William Heinemann Medical Books. Pengaruh Gender terhadap kepatuhan minum obat penderita Tuberkulosis dengan menggunakan program DOTS di Kabupaten Purworejo. 1995. Sikap dan Perilaku dalam Sikap Manusia. http.Talenti. Yogyakarta. Lee KW. Jakarta. Penyebab putus berobat penderita tuberculosis rawat jalan di RSUD Dr. Perlaku Manusia. 2000. 24. Niven Neil. Perlaku Kesehatan. 19. 2000. 183-199. Boston. 2000. FMA. Laode M. 87: 15-20 21. Teori dan Pengukurannya. 13-17. 2004. 2nd Edit. 48:34-38. Khuhawar MY. 2003. Yayasan “PK-3” Makassar. Abraham C. Metode Penelitian Sosial. 4. 2001. Pustaka Pelajar. Jakarta. Human Relation. Departemen Kesehatan RI. 54: 24-28. 5. Leonard NH. Characterization of pncA mutation of Pyrazinamide resistant Mycibacterium tuberculosis in Korea. Saiful Anwar. 1997. 2001. 1999. Gerakan terpadu nasional. Suatu Teknik Penelitian bidang Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial lainnya. JA. pp 13-30. 1996.Yip. 11. J. Bandung. Basaria H. Penerbit Rineka Cipta. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Tokyo. 1997. Irawan S. Pilheu JA. Balai Pengobatan dan Pemberantasan Penyakit Paru (BP4) Surabaya. Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal terhadap kepatuhan minum obat penderita Kusta di Kabupaten Asahan. Batu. Crofton J. 15. Shanly E. Isoniazid in: The use of antibiotics. 3.927-34. Proposal of tuberculosis control programme in Indonesia. 4th Edition. Enarson DA. Drug resistant in Mycobacterium tuberculosis. A. 26.Murray. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. NurAlam F. 12. 1999.usu. 2004.Rusli. Edisi ke-2. Notoatmodjo S. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Dari perilaku sampai keyakinan sehat. 1998. CW. Program Pascasarjana Unair. 2005. 7. 1999. Editors: Rom WN. Journal of Chromatography B. CY. 14. Jakarta. 23. 1351-82. London. JM. Japan Anti Tuberculosis Association.disitasi 22/7/2008 10. Surveillance of Mycobacterium tuberculosis drug resistance in Hongkong. 28. Kucerts A. Komunikasi Untuk Kesehatan dan Perubahan Perilaku.The Research Institute of Tuberculosis. Liquid chromatographic determination of isoniazid. London. 13. 22. 17. N. Edisi 2 . Departemen Kesehatan RI. Jakarta 26-34. 8. Ilmu Perilaku Kesehatan. Clinical tuberculosis.Chiang. 3-15. Reichman LB. The Mac Milan Press.Gajah Mada University Press. Benett N. Penerbit PT Remaja Rosdakarya. Dalam : Psikologi Sosial.Korean Med Sci. Int J Tuberc Lung Dis. Int J Tuberc Lung Dis. Tuberculosis: Problems and Solutions. Philadelphia: Lippincott William and Wilkins. 2002.Edisi ke 3. Penerbit Rineka Cipta.Gajah Mada University Press. 2. Bimo W.Elizabeth. F.10 DAFTAR PUSTAKA 1. 2002.Earl. 1996. pyrazinamide and rifampicin from pharmaceutical preparations and blood. Siswanto.Marcel Dekker. JF. Alih Bahasa: Leoni SM. Jakarta. Stop TB. Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. Little Brown & Co. Dalam: Psikologi Sosial untuk Perawat.id.New York. Jakarta. Work Motivation: The incorporation of self based Processes. Terjemahan: Hasanbasri M. In: Tuberculosis. 9. 52: 969-998. Cole ST. 2002. Asas-asas Penelitian Behavioral. 2002. Prosedur Penelitian. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Dalam : Psilokogi Kesehatan.Cetakan ke 8. pp.Jung. Jakarta. . 2003. 27.2002. RW.Lee. Azwar Saifuddin. Kam KM. Suatu pendekatan praktek.//library.Sbarbaro. Tuberculosis. A Comprehensive International Approach. Tuberculosis: Adherence to Regimen and Directly Observed Therapy. Surabaya. Cetakan ke 5. MB. Global epidemiology of Tuberculosis. Editors: Rom WN.Yogyakarta. SH. Sari dan Aplikasi. Eur Respir J.John. Kerlinger FN. Abiyoso. Analisis faktor budaya dalam keluarga yang mempengaruhi pengobatan dini dan keteraturan berobat penderita kusta (studi pada keluarga penderita kusta di Kabupaten Gresik). Tesis.ac. Program Pascasarjana UGM. 25. Ngatimin H. Graeff JA.Miller. 20. 16. Earnest M. PE.2:696-703. 1999. 2002. KS. Garay SM. 6. Makalah Konas VIII PDPI.Rind. 1996.Scholl. 2002. Hutapea TP.M. Penerbit Andi Yogyakarta. 766:367-363. 2007.

http://diglib. Pendidikan kesehatan dan beberapa model perubahan perilaku. Clin Med J. 34. Program Pascasarjana UGM.id.com . Jaksa Agung Soeprapto No.go. 1995.Chau. Sarwono SW. 2008. Otok S. 35. Yew WW. 32. Eur Respir J. 124: 26-29 RR Correspondence : Tahan P. 1997. The WHO/IUATLD Global Project on Anti Tuberculosis Drug Resistance Surveillance. 30.Hutapea. 1999-2002. Drug Resistant TB in 1990. Wu X: J. 2005.Zhuang.11 29. Anti Tuberculosis drug resistant in the World. Rifampisin dan Etambutol di Balai Pengobatan dan Pemberantasan Penyakit Paru (BP4) Surabaya. WHO/IUATLD. Saiful Anwar General Hospital. Jl. 31. Soedarsono. 1999. Y. Tety R. tropical Disease Center (TDC) Unair. Molecular mechanism of drug resistance in Mycobacterium tuberculosis clinical isolated.dalam: Simposium TB. Email:drtphutapea@yahoo. disitasi 02/09/2008 33. Puslitbang system dan kebijakan kesehatan. depkes. Gajah Mada University Press.Zhang.2 Malang East Java. 2004 Hubungan persepsi dan pengetahuan orang tua tentang penyakit Tuberkulosis dengan kepatuhan pengobatan Tuberkulosis pada anak di Kabupaten Purworejo. Surabaya.Dalam: Sosiologi Kesehatan.litbang. Yessica HT.Karya Akhir PPDS Ilmu Penyakit Paru FK UNAIR. INH. 1993.tuberkulosis terhadap obat Streptomisin. CH. 114: 18-22.Pengaruh dukungan sosial dan pengetahuan tentang penyakit TB terhadap motivasi untuk sembuh penderita Tuberkulosis Paru yang berobat di Puskesmas. Resitensi primer kuman M. Resistensi Obat Tuberkulosis: Problema dan Penatalaksanaannya. 36.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful