Anda di halaman 1dari 97

PENGARUH PERKEMBANGAN VIKARIAT

APOSTOLIK SEMARANG BAGI


PARTAI KATOLIK
TAHUN 1940-1961

SKRIPSI

Untuk memperoleh gelar sarjana Pendidikan Sejarah/ S I


pada Universitas Negeri Semarang

Oleh
L. Dewi Cerealia R
NIM 3101401008

FAKULTAS ILMU SOSIAL


JURUSAN SEJARAH
2005

i
ii

ii
iii

iii
iv

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi atau tugas akhir ini

benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik

sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam

skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, Agustus 2005

L. Dewi Cerealia R
NIM 3101401008

iv
v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam

kesukaran”, (Amsal 17:17)

“Kesuksesan adalah sebuah hasil dari kerja keras, bukan dari hasil pemberian orang

lain”, (Penulis)

Dengan penuh rasa syukur kepada Allah Bapa atas

kasih dan bimbingan-Nya, kupersembahkan skripsi

ini kepada:

1. Tuhan Yesus, atas perlindungan-Nya pada

penulis dan keluarga.

2. Papa dan Mama untuk setiap doa dan

bimbingannya.

3. Eyang putri yang selalu berdoa dan mendampingi

penulis.

4. Mbak Ika dan Dik Ade, semoga kita selalu sehati

dan tetap saling mengasihi.

5. Teman-teman seperjuangan di Prodi. Pend.

Sejarah tanpa kecuali, terim kasih atas saat indah

kebersamaan kita, semoga kita mencapai sukses.

v
vi

PRAKATA

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kemurahan dan

penyertaanNya sehingga skripsi ini dapat selesai.

Skripsi berjudul “Partai Katolik dan Perkembangan Vikariat Apostolik

Semarang Tahun 1940 – 1961” disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan

studi Strata Satu untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan.

Ucapan terimakasih sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah

memberikan bantuan dalam segala hal kepada yang terhormat:

1. Drs.H. A.T. Soegito, S. H. M. M, Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah

memberikan fasilitas sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

2. Drs. Sunardi, M. M, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

yang telah memberikan ijin penelitian sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini.

3. Drs. Jayusman, M. Hum, Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas

Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk

menyelesaikan skripsi.

4. Drs. YYFR. Sunardjan, M. S, Dosen Pembimbing I yang telah memberikan

pengarahan, bimbingan, dan saran pada penulis.

5. Dra. Rr. Sri Wahyu S, M. Hum, selaku Dosen Pembimbing II yang telah

memberikan pengarahan, bimbingan, dan saran pada penulis.

vi
vii

6. Bapak/Ibu dosen di Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri

Semarang yang telah memberikan ilmu dan bimbingan pada penulis sehingga

dapat menyelesaikan studi.

7. Romo Arko, S. J., dan Romo Suyitno, S. J, atas bantuan moral maupun spiritual

pada penulis.

8. Papa, Mama, Eyang, serta Mbak Ika dan Dik Ade atas doa dan pendampingannya

terhadap penulis.

9. Teman-teman di kost Annur Banaran, terutama Desi W dan Yohana yang

membantu kesulitan-kesulitan penulis.

10. semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak

membantu penulis.

Menyadari bahwa penulisan ini masih banyak kekuranganya, maka saran dan

kritik senantiasa penulis harapkan dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi

pembaca dan peneliti selanjutnya.

Semarang, Agustus 2005

Penulis

vii
viii

SARI

Rilansusanti, L. Dewi Cerealia. 2005. Pengaruh Perkembangan Vikariat Apostolik


Semarang Bagi Partai Katolik Tahun 1940 - 1961. Program Studi Pendidikan
sejarah/S I. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Semarang. Dosen pembimbing
Drs. YYFR Sunardjan, M.S dan Dra. Rr. Sri Wahyu S, M. Hum. 117 halaman.

Kata kunci: Vikariat Apostolik Semarang, Partai Katolik.

Penulisan ini bertujuan merekontruksi perjalanan Partai Katolik dan Vikariat


Apostolik Semarang antara tahun 1940 – 1961. Perkembangan misi mulai
menunjukkan hasil dengan dibaptisnya 171 orang di Sedangsono tahun 1904. Pada
tahun-tahun selanjutnya terbentuk Vikariat Apostolik Semarang dengan ciri khas
yang membedakan dengan Vikariat Apostolik yang lain. Di wilayah ini berdiri Partai
Katolik. Bagaimana kedua unsur yang berbeda ini saling mempengaruhi dan
bekerjasama, melalui kegiatan penelitian akan diperoleh jawaban yang akurat.
Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana latar
belakang terbentuknya Vikariat Apostolik Semarang?, (2) Bagaimana Perkembangan
Vikariat Apostolik Semarang dalam penyebaran misi-misi Gereja dari tahun 1940
sampai tahun 1961?, (3) Bagaimanakah muncul dan perkembangan Partai Katolik di
wilayah Vikariat Apostolik Semarang?, (4) Bagaimana pengaruh dan peranan Partai
Katolik bagi perkembangan Vikariat Apostolik Semarang?. Penelitian ini bertujuan:
(1) Mengetahui latar belakang terbentuknya Vikariat Apostolik Semarang. (2) Untuk
mengetahui perkembangan Vikariat Apostolik Semarang dalam penyebaran misi-
misi Gereja dari tahun 1940 – 1961. (3) Mengetahui munculnya dan perkembangan
Partai Katolik di wilayah Vikariat Apostolik Semarang. (4) Mengetahui pengaruh
dan peranan Partai Katolik pada perkembangan Vikariat Apostolik Semarang.
Pembatasan masalah pada penelitian ini adalah wilayah Apostolik Semarang
tahun 1940-1961, dengan terbentuknya Keuskupan Agung Semarang, serta resolusi
partai-partai Katolik membentuk partai tunggal yaitu Partai Katolik tahun 1949.
Metode dalam penulisan ini adalah metode sejarah.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Gereja atau Vikariat
Apostolik Semarang dan Partai Katolik adalah dua hal yang berbeda, namun Vikariat
Apostolik Semarang tidak membatasi umatnya untuk melakukan kegiatan politik
terutama dalam mendukung pemerintahan Republik Indonesia. Hal itu juga
menunjukkan bahwa umat Katolik adalah warga negara Indonesia bukan seperti
anggapan selama ini bahwa agama Katolik adalah agama kolonial.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak, serta untuk
meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara pada umat Katolik, terutama
untuk peningkatan karya misi agama Katolik yang akhir ini makin redup.

viii
ix

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ............................................................................................................. i

PERSETUJUAN PEMBIMBING.................................................................... ii

PENGESAHAN KELULUSAN ...................................................................... iii

PERNYATAAN............................................................................................... iv

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN.............................................. v

PRAKATA....................................................................................................... vi

SARI................................................................................................................. viii

DAFTAR ISI.................................................................................................... ix

DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... xi

DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah.............................................................. 1

B. Perumusan Masalah. ................................................................... 8

C. Tujuan Penelitian. ....................................................................... 9

D. Manfaat Penelitian. ..................................................................... 9

E. Ruang Lingkup Penelitian........................................................... 10

F. Penegasan Istilah......................................................................... 11

G. Sistematika Penulisan ................................................................. 16

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori............................................................................ 19

B. Kerangka Konseptual .................................................................. 23

C. Kerangka Berfikir ....................................................................... 25

ix
x

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Metode Penelitian. ............................................................. 26

B. Setting Penelitian ........................................................................ 35

BAB IV PENGARUH PERKEMBANGAN VIKARIAT


APOSTOLIK SEMARANG BAGI PARTAI KATOLIK
TAHUN 1940 – 1961

4.1 Masa Vikariat Apostolik Semarang

4.1.1 Latar Belakang ......................................................................... 36

4.1.2 Penyebaran Misi Gereja Vikariat Apostolik Semarang

Tahun 1940 – 1961 .................................................................. 44

4.2 Peranan Vikariat Apostolik Semarang Terhadap Kehidupan Politik

4.2.1 Munculnya Partai Katolik ........................................................ 51

4.2.2 Pengaruh Partai Katolik Terhadap Vikariat Apostolik Semarang 65

4.3 Perubahan Kedudukan Vikariat Apostolik Semarang

4.3.1 Hirarki Gereja Indonesia .......................................................... 69

4.3.2 Pengaruh Penetapan Hirarki Gereja Indonesia Bagi

Vikariat Apostolik Semarang................................................... 72

BAB V PENUTUP

A. Simpulan ..................................................................................... 76

B. Saran............................................................................................ 78

Daftar Pustaka .................................................................................................. 79

Lampiran-lampiran .......................................................................................... 83

Gambar-gambar................................................................................................ 94

x
xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Biodata Informan............................................................................... 83

Lampiran 2. Intrumen Wawancara........................................................................ 84

Lampiran 3. Peta misi di Pulau Jawa tahun 1913.................................................. 88

Lampiran 4. Peta Vikariat Apostolik Semarang tahun 1940................................. 89

Lampiran 5. Peta Keuskupan Agung Semarang tahun 1961 sampai sekarang...... 90

Lampiran 6. Susunan dasar suatu Keuskupan........................................................ 91

Lampiran 7. Surat ijin penelitian........................................................................... 92

xi
xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Gereja di Muntilan............................................................................... 94

Gambar 2. Sebagian orang yang dipermandikan Romo F. Van Lith..................... 94

Gambar 3. Gereja yang didirikan di Magelang tahun 1900................................... 95

Gambar 4. Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J, Vikaris pribumi pertama.................... 96

Gambar 5. Empat bekas murid Kweekschool di Muntilan.................................... 97

Gambar 6. Rumah Betlehem.................................................................................. 97

Gambar 7. Sekolah Misi kecil di Muntilan ........................................................... 98

Gambar 8. “Muntilan, Betlehem di Jawa”............................................................ 99

Gambar 9. Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia (KUKSI)

Desember 1949................................................................................... 100

Gambar 10. Pembukaan KUKSI ......................................................................... 101

Gambar 11. Kongres Partai Katolik di Malang tahun 1956................................. 102

Gambar 12. Kongres Partai Katolik di Malang tahun 1956................................ 102

Gambar 13. Sidang pengumuman susunan personalia kabinet Hatta

oleh Presiden Soekarno.................................................................... 103

Gambar 14. Josef Felix Basuki dan istri.............................................................. 104

Gambar 15. Makam Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J............................................ 104

Gambar 16. Riwayat hidup Mgr. Alb. Soegujapranata, S. J, di Giri Tunggal..... 105

Gambar 17. Monstrans di Boro, Kalibawang....................................................... 106

Gambar 18. Romo Frans Van Lith...................................................................... 107

Gambar 19. Kompleks Katolik di Muntilan......................................................... 108

xii
xiii

Gambar 20. I. J Kasimo didampingi oleh Frans Seda dan Padmoseputro

dari DPP Partai Katolik.................................................................... 109

Gambar 21. F. C. Palaunsuka, wakil Partai Katolik di DPR tahun 1960

sampai 1973................................................................................... 109

Gambar 22. Lambang partai katolik dalam Pemilu 1955.................................... 110

Gambar 23. V. B. Costa S. H, wakil Partai katolik yang tegas

mempertahankan demokrasi dalam Konstituante............................ 110

Gambar 24. Anggota Delegasi RI untuk berunding dengan Belanda................. 111

Gambar 25. I. J. Kasimo ..................................................................................... 112

Gambar 26. Kasimo dalam panitia Perujukan Dwi Fungsi Tunggal................... 113

Gambar 27. I. J. Kasimo menjadi anggota Volksraad ........................................ 114

Gambar 28. I. J kasimo sebagai Menteri pertanian............................................. 115

Gambar 29. I. J. Kasimo sebagai Menteri Muda kemakmuran............................ 115

Gambar 30. Seminari Tinggi S. Paulus di kentungan, Yogyakarta..................... 116

Gambar 31. Kompleks Muntilan selesai pembakaran......................................... 117

xiii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada tanggal 7 Agustus 1806 Raja Lodewijk Napoleon mengumumkan

Undang-Undang kebebasan beragama. Akibatnya, Gereja Katolik di Indonesia yang

dilarang sejak tahun 1621 bisa berkembang lagi. Tahun 1807 wilayah Hindia

Belanda menjadi satu kesatuan dengan Gereja Katolik, yaitu Prefektur Apostolik1

Batavia. Pada tahun 1842 Prefektur Apostolik Batavia ditingkatkan menjadi

Vikariat2. Tahun 1866 Vikariat Batavia dibagi menjadi 8 stasi3 yaitu; Batavia,

Semarang, Ambarawa, Yogyakarta, Surabaya, Larantuka, Maumere, dan Padang,

(WWW. Kasemarang. Org).

Awal penyebaran agama Katolik ditujukan bagi warga Eropa dan

keturunannya, terutama di wilayah Jawa. Jawa Barat, masuk dalam stasi Batavia

dengan wilayahnya Sukabumi, Rangkasbitung, Serang, Sidanglaya, Cianjur, dan

Cicurug. Mayoritas orang Katolik adalah orang Belanda dan Indo, tetapi berkat

sejumlah Volksschool, dan Rumah Sakit di Sukabumi dan Rangkasbitung sudah ada

kontak dengan penduduk asli. Pastur A. J. Piets adalah perintis utama karya Gereja

diantara orang pribumi, berpangkal pada paroki Cicadas, dimana tahap demi tahap

dibangun Gereja, pasturan, sekolah poliklinik, asrama, Perkumpulan Poeseur

Katholik Soenda, 1934, yang bertujuan membantu dalam bidang keagamaan dan

1
Prefektur Apostolik adalah suatu wilayah Gerejawi di daerah misi yang baru mulai berkembang dan
diharapkan dikemudian hari dapat berdiri sendiri sebagai Keuskupan.
2
vikariat adalah wilayah Vikaris.
3
Stasi adalah wilayah Keuskupan yang akan menjadi Paroki.

1
2

sosial. Vikariat Apostolik4 Batavia juga menangani wilayah Bogor, dimana pada

tahun 1845 di Bogor didirikan Gereja Simultan oleh umat Katolik bersama-sama

umat Protestan. Pada saat itu tidak ada seorang imam Katolik yang diijinkan oleh

pemerintah Hindia Belanda untuk menetap di Bogor. Umat Katolik yang tinggal di

Karesidenan Bogor dan Karesidenan Banten masih tergabung dalam wilayah

Gerejani Vikariat Apostolik Batavia, yang dipimpin oleh Yang Mulia Mgr5. Jakobus

Groof, Pr (1842 – 1846). Tahun 1881, Mgr. A. C. Claessens, Pr, Vikaris Apostolik6

Batavia 1873 – 1893, membeli sebidang tanah berikut rumahnya di Bogor, yang

kemudian dipakai sebagai gedung Gereja untuk menggantikan gedung Simultan.

Peristiwa ini mengakhiri penggunaan Gereja bersama-sama antara umat Katolik dan

umat Protestan di Bogor. Imam pertama yang diijinkan tinggal menetap di Bogor

adalah Pastor M. Y. D. Claessens, Pr7 pada tahun 1885. Dia adalah keponakan Mgr.

A. C. Claessens, yang menjadi perintis dan penggembala Gereja Katolik di Bogor.

Pemerintah Hindia Belanda tahun 1889, secara resmi mengakui Bogor sebagai stasi

dari Vikariat Apostolik Batavia. Tujuh tahun kemudian, tahun 1896 sayap misi

dikembangkan lebih jauh oleh Pastor M. Y. D. Claessens, Pr dengan membuka

sebuah Gereja di Sukabumi, (WWW. KeuskupanBogor. Org).

Dalam bulan November 1957, Congregatio de Propaganda Fide (Departeman

Kepausan untuk Urusan Penyebaran Iman), mengeluarkan keputusan untuk

memisahkan daerah Kabupaten ketiga di Karesidenan Bogor yaitu Kabupaten Bogor

4
Vikariat Apostolik adalah suatu wadah yang utama bagi penyebaran misi Gereja dimana mewakili
Roma dan pemimpinnya adalah Vikaris Apostolik.
5
Mgr : Monsignore, Monsinyur.
6
Vikaris Apostolik adalahVikaris yang memiliki kuasa jabatan sama seperti Uskup tetapi terbatas
pada bidang batas daerah tertentu.
7
Pr: Praja (Imam diosesan)
3

dari Vikariat Apostolik Batavia, dan menggabungkannya dengan Prefektur Apostolik

Sukabumi. Ketika pembentukan Hirarki Gereja Indonesia pada tahun 1961, Prefektur

Apostolik Sukabumi ditingkatkan menjadi Keuskupan Bogor, dengan Mgr. N. Geise

OFM8 selaku Administrator Apostoliknya. Beliau diangkat menjadi Uskup Bogor

pada tanggal 16 Oktober 1961 dan ditasbihkan Uskup pada tanggal 6 Januari 1962.

Keuskupan Bogor terletak di suatu daerah yang terkenal sebagai daerah

pertanian. Oleh karena itu misi harus hadir juga dikalangan petani, di bidang

kehidupan mereka sehari-hari. Usaha Gereja dalam bidang sosial ekonomi di

Keuskupan Bogor kiranya berkembang lebih menggembirakan. Yan Van Beek OFM

mendirikan Pusat pembinaan Sosial Ekonomi Keuskupan Bogor (PP Sosek KB),

(www. perluasanwilayahBogor. Com).

13 April 1937 diluar Jawa, berdiri Vikariat Apostolik Makassar. Dengan

gedung Gereja Katolik tertua di kota Ujung Pandang dan wilayah Sulawesi Selatan

dan Tenggara, didirikan tahun 1898. Masa pertama Gereja Katolik di Sulawesi

Selatan dan Tenggara berlangsung 1525 – 1668. Pertama kali disinggahi 3 pastor

Misionaris dari Portugal yaitu Pastor Antonio dod Reijs, Cosmas de annunclacio,

Bernardiode Marvao dan seorang Burder, pada tahun 1525. Baru pada 1548 Pastor

Vincente Viegas datang dari Malaka dan tinggal menetap di Makasar untuk melayani

para saudagar Portugis yang Katolik serta beberapa raja dan bangsawan Sulawesi

Selatan yang sudah dibaptis.

Setelah Malaka jatuh ketangan VOC (1641), 40 Imam dan sekitar 20.000 orang

Katolik diperintahkan meninggalkan Malaka. Sekitar 3.000 orang dan beberapa

8
OFM: Ordo Fratrum Minorum, Fransiska.
4

Pastor pindah ke Makasar (1649). Masa II berlangsung 1892 sampai sekarang.

Dimana tahun 1892, Pastor Aselbergssj, dipindahkan dari Larantuka menjadi Pastor

stasi Makasar (7 September 1892). Pada tanggal 19 November 1919, Misionaris

Jesuit diganti oleh Misionaris MSC9, ketika dibentuk Prefektur Apostolik Sulawesi,

dengan Mgr. Vesters sebagai Prefek yang berkedudukan di Manado. Tanggal 13

April 1937 wilayah sulawesi Selatan dan Tenggara dijadikan Prefektur Apostolik

Makasar oleh Sri Paus di Roma, dan dipercayakan kepada Misionaris CICM, dengan

Mgr. Martens sebagai Prefek10. Tanggal 13 Mei 1948 menjadi Vikariat Apostolik

Makasar, dan tanggal 3 Januari 1961 menjadi Keuskupan Agung Makasar, (WWW.

Geocities. Com).

Melihat dua contoh gambaran pembentukan Vikariat Apostolik diwilayah

Indonesia, yang merupakan pembagian wilayah dari Vikariat Apostolik Batavia.

Dapat diamati bahwa keduanya berdiri dari sebuah stasi yang kecil, yang kemudian

berkembang menjadi wilayah yang besar, yaitu menjadi wilayah Vikariat yang

mampu berdiri sendiri. Uraian diatas membuat penulis tertarik untuk menuliskan

tentang bagaimana perkembangan Vikariat Apostolik Semarang dan perannya di

bidang politik, yaitu dengan berdirinya Partai Katolik di wilayah Vikariat Apostolik

Semarang. Vikariat Apostolik Semarang menpunyai ciri khusus yang

membedakannya dengan Vikariat Apostolik lain yang berdiri di wilayah Indonesia.

Vikariat Apostolik Semarang awalnya adalah bagian dari 8 stasi wilayah Vikariat

Apostolik Batavia. Pada masa pendirian Vikariat Apostolik Batavia, Semarang

merupakan stasi dari Batavia dengan tenaga Imam yang sangat terbatas dibandingkan

9
MSC: Missionari Sacratissimi Cordis; Misionaris Hati Kudus Yesus.
10
Prefek: jabatan didalam pemerintahan Gereja Katolik yang mengepalai suatu wilayah tertentu.
5

dengan dengan daerah diluar Jawa seperti: Manado, Larantuka, Maumere, dan Sikka,

Timor dan Kei. Penyiaran agama Katolik di Jawa sangat lambat. Karena itu terdapat

pandangan umum bahwa iman Katolik tidak dapat ditanamkan pada kalangan orang

Jawa, karena penduduknya terlanjur memeluk agama Islam, sehingga sia-sialah

menyiarkan agama Katolik dikalangan mereka, jauh sebelumnya menurut seorang

penulis Belanda, Buddingh SA dalam catatannya menyebutkan bahwa:

“Gereja pertama yang didirikan di Semarang oleh Pendeta J. Lipsus


sekitar tahun 1750 terletak disekitar kompleks Gereja Blenduk didekatnya
diawal abad 19 dibangun Gereja Katolik namun tidak bisa berkembang dan
akhirnya dibongkar. Gereja Katolik yang kedua kemudian didirikan di
Gedangan oleh Pastor J Iynen tahun 1876”, (Winatayuda :16).

Awal tahun 1808 Gubernur Jendral Deandles memperoleh dua orang Imam

praja dari negeri Belanda untuk melayani umat Katolik bangsa Eropa di daerah

Hindia Belanda. Oleh Deandles, seorang ditempatkan di Jakarta seorang lagi yakni

Pastor L. Prinsen Pr, ditempatkan di Semarang. Meskipun umat Katolik di Semarang

belum memiliki tempat ibadah sendiri berkat toleransi Deandles mereka

diperbolehkan melakukan ibadat di Gereja Protestan Blenduk. Gereja Katolik

memiliki tempat ibadah sendiri tahun 1815 dan berkembang menjadi Paroki Santo

Yusuf Semarang (1816), meliputi seluruh Jawa Tengah sampai Madiun di Jawa

Timur, Cianjur dan Indramayu di Jawa Barat. Perjalanan Gereja Katolik sempat

mengalami hambatan selama tahun 1845 – 1847 semua Pastor Belanda diusir

bersama Uskup Groof oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda pada waktu itu,

Rochussen. Berkat perundingan dengan tahta suci (Vatikan) pada tahun 1848 campur

tangan pemerintah Belanda diperlunak dan Gereja Katolik Indonesia terus tumbuh

berkembang dan berdaulat. Tahun 1875 melalui usaha dan perjuangan yang berat
6

serta melelahkan Pastor J Lijen Pr mendirikan gedung Gereja Santo Yusuf. Dari

situlah kemudian para Imam Yesuit mencari jalan untuk mendobrak dinding pemisah

yang mengkotakkan masyarakat bangsa Barat dan masyarakat pribumi. Bulan

Oktober 1896 Petrus Hoevenaars dan Fransiskus Van Lith datang ke Semarang. Pada

tanggal 20 Desember 1898, Fansiskus Van Lith, P. Hoevenaars, L. Hebrans dan E.

Engbers berunding di Magelang. Dianggap Semarang kurang baik untuk memulai

missi Jawa. Daerah yang paling cocok ialah Kedu, dimana didirikan suatu stasi yang

baru disamping Muntilan masih merupakan daerah pertanian yang murni, berbatasan

dengan Yogyakarta dan Surakarta. Pusat kebudayan Jawa, apalagi hubungan dengan

Yogyakarta, Magelang dan Semarang mudah.

Karya misi Jawa pada perkembanganya dipusatkan kepada pendidikan di

Muntilan, (Moedjanto, 1992; 29). Pada tahun 1903, seorang guru kerasulan dan 4

orang kepala desa dari pegunungan wilayah Kalibawang berkunjung pada Romo Van

Lith. 4 orang ini dibaptis pada tanggal 20 Mei 1904. Kemudian 171 orang menyusul

dibaptis oleh Romo Van Lith tanggal 14 desember 1904 di Sendangsono.

Wilayah sekitar Surakarta dan Yogyakarta terbukti menjadi tanah subur bagi

benih-benih firman Allah. Disitulah terdapat pengaruh kuat dari keraton Surakarta

dan Yogyakarta, bersamaan dengan nilai tradisional yang telah berakar sangat dalam

dihati dan sikap hidup masyarakat. Adapun Gereja di Indonesia sendiri pada tahun

1940-an berada dalam waktu pemecahan bukan dalam suasana perpecahan.

Pemecahan ini dijalankan hanya demi untuk melayani perkembangan karya dan misi,

dan agar ada pembagian pekerjaan, baik pembagian daerah misi maupun pembagian

wilayah kerja dalam rangka mendatangkan tenaga bantuan dari luar yaitu para
7

Misionaris11. Jawa Tengah adalah salah satu diantara daerah-daerah misi yang amat

subur. Untuk menanggapi kesuburan Gereja tersebut, tahun 1936 didirikan Seminari

Tinggi untuk calon-calon Imam praja yang mengambil tempat di Muntilan. Dalam

situasi tersebut dapat dimengerti bila ada rencana untuk memisahkan Jawa tengah

dari Jawa Barat atau dari Vikariat Apostolik Batavia. Pada tanggal 1 Agustus 1940

didirikan Vikariat Apostolik Semarang. Paus Pius XII menetapkan Romo Albertus

Soegijapranata, S. J. menjadi Vikaris Apostolik Semarang. Ia menjadi Uskup12

pribumi pertama. Peristiwa pengangkatan ini menarik perhatian, bahwa Gereja

ditengah-tengah persoalan mengenai perbedaan ras dan politik, berani terus maju

menempuh jalan yang memang sudah direncanakan sebelumnya. Putera-putera

Katolik dibawah seorang Uskup Jawa yang dibantu oleh banyak tenaga misionaris

asing bekerja sama untuk memperluas dan memperdalam kerajaan Allah di Jawa.

Bagi Gereja tidak berlaku asas perbedaan bangsa dan warna kulit, karena setiap

anggota Gereja merupakan saudara-saudara seiman kepercayaan yang satu.

Pengangkatan Monsigneur sebagai Uskup Agung Semarang dalam bulan Januari

1961 bersamaan dengan diresmikannya Hirarki Gereja Indonesia ini, merupakan

Vikaris Apostolik Semarang pribumi pertama. Pada masa Vikariat Apostolik

Semarang juga berdiri Partai Katolik, penulis akan menjabarkan bagaimana

kedudukan Partai Katolik ini ditengah pergolakan negara khususnya di wilayah

Vikariat Apostolik Semarang. Namun perlu ditegaskan pula bahwa Gereja dan Partai

Politik adalah dua unsur yang berbeda, namun pada masa antara 1940 – 1961, kedua

unsur ini dapat menjadi satu yang tujuannya sama yaitu tercapainya kemerdekaan di

Indonesia.

11
Misionaris adalah orang yang melakukan penyebaran warta injil kepada orang lain yang belum
mengenal Kristus; Imam Kristen Katolik yang melakukan kegiatan misi.
12
Uskup adalah sebutan untuk yang menduduki jabatan tertinggi, yang diberikan oleh Gereja Katolik.
8

B. Perumusan Masalah

Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka perumusan

masalah dari penelitian ini adalah:

1. Bagaimana latar belakang terbentuknya Vikariat Apostolik Semarang?

2. Bagaimana Perkembangan Vikariat Apostolik Semarang dalam penyebaran misi-

misi Gereja dari tahun 1940 sampai tahun 1961?

3. Bagaimanakah muncul dan perkembangan Partai Katolik di wilayah Vikariat

Apostolik Semarang?

4. Bagaimana pengaruh dan peranan Partai Katolik bagi perkembangan Vikariat

Apostolik Semarang?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Mengetahui latar belakang terbentuknya Vikariat Apostolik Semarang.

2. Untuk mengetahui perkembangan Vikariat Apostolik Semarang dalam

penyebaran misi-misi Gereja dari tahun 1940 – 1961.

3. Mengetahui munculnya dan perkembangan Partai Katolik di wilayah Vikariat

Apostolik Semarang.

4. Mengetahui pengaruh dan peranan Partai Katolik pada perkembangan Vikariat

Apostolik Semarang.
9

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini:

1. Dapat menjadi bahan bacaan yang dapat menumbuhkan sikap keperdulian sosial,

toleransi dan nasionalisme yang tinggi.

2. Menambah kasanah sejarah nasional, khususnya sejarah lokal.

3. Dapat dijadikan sumbangan pemikiran kearah penelitian yang lebih lanjut pada

masa yang akan datang.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup merupakan batasan dalam penulisan skripsi yang dibagi dalam

ruang lingkup temporal dan spartial. Ruang lingkup temporal adalah lingkup waktu.

Tahun 1940 diambil sebagai batasan awal karena pada tahun inilah terbentuk sebuah

Vikariat baru yang diharapkan mampu menyebarkan misi-misi Gereja dengan

Vikariat yang berasal dari bangsa pribumi. Dan pada akhirnya tahun 1961 Vikariat

ini bersamaan dengan disusunnya Hirarki Gereja yang baru menjadi Keuskupan

Agung Semarang.

Lingkup spartial adalah lingkup batasan wilayah dalam hal ini adalah wilayah

Vikariat Apostolik Semarang yaitu tahun 1940 sampai dengan 1961. Rentang waktu

1940 – 1961 wilayah Vikariat Apostolik Semarang mengalami penambahan dengan

ruang kerja Vikariat yang jelas. Yaitu wilayah Gerejawi Vikariat Apostolik Semarang

Tahun 1940 yang mencakup sejumlah Karesidenan di Jawa Tengah; Semarang,

Jepara, Rembang, beberapa bagian dari Karesidenan Kedu meliputi Magelang, dan

Temanggung serta seluruh wilayah Surakarta dan Yogyakarta. Pada tahun 1961
10

masuk dalam 6 propinsi Gerejawi dengan Keuskupan Sufragan Purwokerto,

Surabaya, dan Malang.

Pada penelitian ini ruang lingkup penelitianya ditekankan pada bidang sosial

politik karena diketahui bahwa pada rentang tahun 1940 – 1961, Indonesia banyak

terjadi pergolakan sosial dan politik terutama di wilayah Vikariat Apostolik

Semarang. Serta berdirinya Partai Katolik pada tahun 1949, sebagai penjelmaan fusi

dari 7 Perkumpulan Katolik yang telah ada.

F. Penegasan Istilah

Agar tidak terjadi salah paham dalam memahami penelitian ini maka akan

dijelaskan istilah-istilah penting dalam penelitian ini:

1. Vikariat Apostolik Semarang

Vikariat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai; 1)

wilayah Vikaris dan 2) jabatan Vikaris. Sedangkan Vikaris Apostolik adalah

Vikaris yang memiliki kuasa jabatan sama seperti Uskup tetapi terbatas pada

bidang batas daerah tertentu, (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan

Pengembangan Bahasa 1996: 1119). Vikaris diartikan (wakil = latin) paroki atau

kooperator (pekerjasama = Latin) adalah sebutan untuk pastor pembantu

diwilayah beberapa konpetensi Uskup tertentu, (Heuken 1995: 78). Vikariat

Apostolik adalah suatu wadah yang utama bagi penyebaran misi Gereja dimana

mewakili Roma dan pemimpinnya adalah Vikaris Apostolik. Vikariat Apostolik

adalah wilayah Gereja Katolik yang belum cukup berkembang menjadi sebuah

Keuskupan yang swadaya. Wilayah ini dipimpin atas nama Sri Paus oleh seorang
11

Vikaris Apostolik , yang ditasbihkan Uskup (Tituler). Paus bertindak melalui

kongregasi untuk penyebaran iman. Sebuah wilayah tertentu dianggap pantas

menjadi Vikariat biasanya sudah bertahun-tahun lamanya menjadi Prefektur

Apostolik dengan Uskup Diosesan. Prefektur Apostolik adalah suatu wilayah

Gerejawi di daerah misi yang baru mulai berkembang dan diharapkan

dikemudian hari dapat berdiri sendiri sebagai Keuskupan. Wilayah ini dipimpin

oleh seorang Imam yang disebut Prefek Apostolik biasanya tidak memperoleh

tasbihan Uskup, (Heuken 1994: 36). Prefek Apostolik merupakan jabatan didalam

pemerintahan Gereja Katolik yang mengepalai suatu wilayah tertentu.

Sebenarnya seseorang yang menduduki jabatan ini tidaklah berkedudukan Uskup,

namun biasanya secara administratif dapat bertindak sebagai Uskup, (Gonggong

1993: 31). Di Indonesia Vikariat Apostolik sudah menjadi Keuskupan pada tahun

1962, Vikariat Apostolik terakhir adalah Jayapura (1954 – 1967), (Heuken 1995:

77).

2. Partai Katolik

Partai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan perkumpulan

(segolongan orang) yang seasas, sehaluan, dan setujuan terutama dibidang

politik, (Tim Penyusun Kamus Pusat pembinaan dan Pengembangan Bahasa

1996: 731). Dijelaskan tentang Partai Poliltik yaitu dalam Polititologi, adalah

badan/organisasi sukarela dari orang-orang yang menganut paham

kemasyarakatan (ideologi politik) tertentu yang mengadakan upaya untuk

mempengaruhi bentuk pemerintahan dan kebijaksanaan pemerintah, khususnya

lewat cara pencalonan dalam Pemilihan Umum dan Parlemen. Partai Politik

lazimnya mengajukan program-program yang dimusyawarahkan dan calon yang


12

dipilih untuk menyuarakan pendapat dan perasaan serta keinginan para anggota.

Dinegara-negara yang menganut sistem politik merupakan lembaga yang

mewakili konflik dan perjuangan kekuasaan yang ada dalam masyarakat lewat

cara-cara damai. Dengan demikian menyelenggarakan pergantian kekuasaan

tanpa revolusi. Tergantung sifat dan watak pemerintahan, suatu negara menganut

multipartai atau asas tunggal partai, (Shadily 1984: 2739).

Dalam negara yang demokratis Partai Politik menyelenggarakan beberapa

fungsi:

a. Partai sebagai sarana komunikasi Politik

Tugas partai adalah menyalurkan anekara ragam pendapat dan aspirasi rakyat

dan mengaturnya sedemikian rupa sehingga kesimpangsiuran pendapat dalam

masyarakat dapat berkurang.

b. Partai sebagai sarana sosialisasi politik

Dimana diartikan seseorang memperoleh sikap dan orientasi terhadap

phenomena politik. Dimana Partai Politik menyelenggarakan sosialisasi

politik melalui ceramah penerangan, kursus kader, kursus penataran dan

sebagainya.

c. Partai Politik sebagai sarana rekruitmen politik

Mencari dan mengajak orang berbakat untuk turut aktif dalam kegiatan

politik sebagai anggota partai.

d. Partai Politik sebagai sarana pengatur konflik

Dalam suasana demokrasi persaingan dan perbedaan pendapat dalam

masyarakat merupakan hal yang wajar. Jika sampai terjadi konflik partai

politik berusaha mengatasinya, (Budiardjo 1988: 162).


13

Katolik berasal dari bahasa Yunani, kata Katholikos = umum. (keseluruhan,

menyeluruh) Gereja yang katolik, Gereja yang menyeluruh atau umum, terbuka

bagi semua bangsa. Istilah ini mulai dipakai St. Ignasius dari Antiokia sejak abad

ke-2 untuk membedakan Gereja katolik dari Gereja-Gereja heretika yang

melepaskan diri dari iman dan hidup keseluruhan Gereja. Istilah katolik dipakai

berbagai kalangan Gereja, (Shadily 1982: 1692). Selain itu kata sifat “katolik”

berasal dari kata Yunani Kath’holou yang berarti menyangkut keseluruhan. Kata

ini diterapkan pada Gereja dalam arti keseluruhan atau universal oleh Ignasius

dari Antiokia sekitar 115 konsili Konstantinopel I menambahkan kata itu pada

syahadat dalam rumusannya tentang Gereja sebagai satu, kudus, katolik, dan

apostolik sesudah kristianitas terbagi diantara kristianitas barat dan timur pada

tahun 1054 Gereja timur mulai menyebut sebagai Gereja Ortodoks sementara

Gereja barat tetap dikenal sebagai Gereja Katolik sejak zaman reformasi pada

abad ke-16 menjadi semakin umum bahwa pada sebutan Gereja katolik ditambah

dengan kata Roma, akan tetapi Gereja itu sendiri terus menyebut diri dengan

nama Gereja Katolik saja dalam dokumen resminya, (Rausch 2005: 5).

Katolik digunakan sebagai ciri-ciri Gereja-Gereja yang berpegang pada

jabatan Uskup dengan mengindahkan “suksesi Apostolik” yaitu

berkesinambungan dengan para rasul sekaligus pada corak sakramental

penyampaian rahmat keselamatan misalnya Gereja Ortodoks, Anglikan, dan

Katolik lama, (Heuken 1992: 1873).

Partai Katolik adalah organisasi politik yang bercirikan kebangsaan serta

kerakyatan dan dalam perjuangannya dibimbing oleh azas-azas Katolik. Sebagai


14

organisasi politik, maka Partai Katolik merupakan wadah penghimpun dan sarana

perjuangan dibidang kenegaraan bagi warga Negara yang mempunyai konsensus

dan tekad bersama mengenai tujuan, asas-asas dan program perjuangannya,

(Heuken 1967: 6).

Partai Katolik bukanlah partai Gereja atau partai umat Katolik, melainkan

partai orang-orang beriman Katolik, yang beritikad dan beriktiar

memperjuangkan kepentingan umum seluruh bangsa, berdasarkan prinsip-prinsip

ajaran sosial yang berkembang dalam kalangan umat Katolik dan atas dasar

analisis profesional serta penilaian keadaan sosio-politis dalam terang iman.

Tidak jarang terdapat hubungan pribadi dan pandangan yang sama antara tokoh

partai-partai Katolik dan tokoh-tokoh Gereja. Namun demikian, kedua lembaga

ini berbeda asas dan tujuannya; cara perjuangan dan sarana yang digunakan pun

tidak sama, (Heuken 1994: 274).

Partai Katolik didirikan 12 Desember 1949 pada Kongres Umat Katolik

Seluruh Indonesia di Yogyakarta, sebagai partai kesatuan bagi semua kaum

Katolik Indonesia. Ketua dan pemimpin Fraksi dalam DPR adalah I. J Kasimo,

pada Pemilu 1955, memenangkan 6 kursi DPR dan 10 kursi Konstituante,

sebagai lanjutan dari Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Partai Katolik termasuk dalam

9 Partai yang diakui dan mempunyai wakil dalam DPRGR dan MPRS. Tahun

1973 Partai Katolik mengadakan fusi dengan PNI, Parkindo, Murba, dan IPKI -

bentuk PDI, (Shadily 1984: 2567).


15

G. Sistematika Penulisan

Penyusunan Skripsi ini dibagi kedalam pokok-pokok pembahasan dan bab-bab.

Dengan penerapan metodologi kualitatif dan cara kerja: merumuskan masalah,

pembahasan teoritik atau studi pustaka, mengetengahkan metode dan prosedur kerja,

mengumpulkan data, analisis, dan pembuatan kesimpulan.

Dalam penetapan obyek dipilih yang sepesifik mungkin dan mengeliminasi

obyek lain. Kajian pustaka atau teoritik dipilih yang relevan dengan obyek

spesifiknya. Dalam hal ini keobyekivitasan penelitian sangat dituntut, sehingga

metode penelitian perlu dirancang tuntas sebelum terjun ke lapangan. Obyektivitas

dituntut dalam memilahkan antara sajian data, olahannya dan analisisnya. Melalui

olahan data dibuktikan lebih dulu reliabilitas dan validitas instrumen. Analisis

dilakukan setelah data memang valid. Kesimpulan berdasarkan hasil analisis, dan

dipilah dari teori, data, dan analisis, yang kesemuanya untuk menjaga dan

membuktikan bahwa penelitian itu telah dilaksanakan secara obyektif, (Muhadjir

:330).

Dalam buku “Bimbingan Penulisan Skripsi, Tesis” dijelaskan penulisan

sistematika dalam skripsi meliputi: Bab I berisi Pengantar, Bab II Analisis Landasan

Teori, Bab III berisi Metodologi penyelidikan yang digunakan, Bab IV berisi

Pengumpulan, Penyajian Data dan pembahasan, pada Bab V berisi Ringkasan dan

saran-saran, (Hadi :231). Serta mengacu pada buku Pedoman Penulisan Skripsi

yang di keluarkan Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang tahun 2003,

menetapkan pedoman struktur bagian isi skripsi yang menggunakan penelitian

kualitatif yaitu: Bab I berisi Pendahuluan, Bab II Penelaahan Kepustakaan dan


16

Kerangka Teoritik, Bab III berisi Metode Penelitian, Bab IV berisi Hasil dan

Pembahasan, dan bab V berisi Penutup.

Sistematika penulisan dalam skripsi ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan

Berisi Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian,

Manfaat Penelitian, Ruang lingkup, Penegasan Istilah, Sistematika

Penulisan.

BAB II Kajian Pustaka

Menguraikan penelaahan kepustakaan , kerangka konseptual dan kerangka

berfikir.

BAB III Metode Penelitian

Berisi jenis metode penelitian, setting penelitian

BAB IV Pengaruh Perkembangan Vikariat Apostolik Semarang Bagi Munculnya

Partai Katolik Tahun 1940 – 1961.

Dimana berisi 3 subbab yaitu Bagaimana Kehidupan Masyarakat

Semarang dengan adanya agama Katolik pada masa awal Vikariat

Apostolik Semarang tahun 1940 yang menggambarkan awal pendirian

Vikariat Apostolik Semarang serta penyebaran misinya.

Pada subbab kedua dituliskan bagaimana peranan Vikariat Apostolik

Semarang terhadap kehidupan politik dengan ditandai munculnya Partai

Katolik di wilayah Vikariat Apostolik Semarang dan dapat dilihat

pengaruh Partai Katolik bagi Vikariat Apostolik Semarang.


17

Subbab 3 berisi perubahan kedudukan Vikariat Apostolik Semarang dengan

ditetapkannya Hirarki Gereja Indonesia tahun 1961.

BAB V Penutup

Berisi simpulan dan saran

Daftar Pustaka

Lampiran-lampiran
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

Pada penelitian-penelitian tentang Vikariat Apostolik Semarang, bidang

kajianya cenderung sangat luas. Mulai dari penelitian pendidikan, sosial, ekonomi,

dan politik.

Th Van den End dan J. Weitjens (2000), dalam bukunya “Ragi Cerita 2:

Sejarah Gereja di Indonesia 1860-an – Sekarang”. Tentang pembagian Vikariat

Apostolik Batavia, terutama di Vikariat Apostolik Semarang. Pada akhir zaman

Kolonial di Jawa hidup sekitar 80% dari orang Eropa Katolik, dan kurang dari 10%

Katolik pribumi. Pertambahan ini disebabkan sejak sekitar tahun 1900 banyak orang

Katolik Belanda datang ketanah air kita, sebagai guru, pegawai, karyawan bank,

perusahaan, perkebunan dan sebagainya. Sejak tahun 1902 Vikap Batavia mulai

dibagi-bagi, namun baru tahun 1913 pemerintah Hindia Belanda mengakui para

Vikap dan para Prefak lain secara resmi sebagai wali Gereja di daerah masing-

masing.

Gambaran Semarang sebagai Vikariat Apostolik baru kurang mendapat sorotan

secara jelas. Hanya disoroti, di Vikariat Apostolik Semarang sekolah misi

merupakan salah satu sarana utama untuk mewartakan injil diantara mayoritas

penduduk Jawa Tengah yang belum mengenal Kristus. Dijelaskan pula tahun 1898

diambil keputusan bahwa karya misi diantara orang Jawa di Semarang dihentikan.

18
19

Muntilan dengan Pastor F. Van Lith, dan Mendut dengan Pastor Hoevenaars menjadi

pusat baru.

Pendirian Vikariat Apostolik Semarang merupakan pembagian Vikariat

Apostolik Batavia yang terakhir sebelum masa Jepang. Tidak dijelaskan bagaimana

perkembangan Vikariat baru tersebut. Pada tahun 1942 saat Indonesia dikuasai oleh

Jepang, terjadi penurunan jumlah misionaris terutama diwilayah Vikariat Apostolik

Semarang. Kehidupan politik kurang disoroti, maka tidak diketahui bagaiman

kehidupan politik masyarakat Vikariat Apostolik Semarang antara tahun 1940 –

1961.

M. Henricia Moeryantini CB, (1975), dalam bukunya “Mgr. Albertus

Soegijapranata, S. J. Berisi tentang perjalanan hidup Mgr. Albertus Soegijapranata,

S. J. pada waktu kecil, sampai menjadi seorang Vikaris pribumi yang pertama.

Menyoroti Mgr. Albertus soegijapranata, S. J. sebagai seorang individu yang

mencakup kehidupan politik, sosial, ekonomi dan pendidikan. Dalam penelitiannya

Moeryantini, tidak menjabarkan bagaimana kehidupan politik diwilayah Vikariat

Semarang secara lengkap namun lebih luas. Dituliskan mulai munculnya kesadaran

bahwa Gereja mempunyai sifat supranatural, yang antara lain berarti Gereja

hendaknya mencoba untuk hidup dan berakar pada bangsa-bangsa dimana Gereja

hadir, membangkitkan hasrat untuk lebih mempersiapkan adanya Hirarki Gereja

yang masih jauh. Diceritakan juga tentang kerjasama Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J.,

sebagai seorang Vikaris dengan I. J. Kasimo dalam memprakarsai terbentuknya

Partai Katolik tahun 1949.


20

G. Moedjanto, dalam buku “Garis-Garis Besar Sejarah Gereja Katolik

Keuskupan Agung Semarang”, dijelaskan tentang kehidupan misi katolik sebelum

1940-an, dimana para misionaris menemukan banyak kendala dalam penyebaran

agama Katolik dimasyarakat Jawa. Namun berkat usaha Pastor Frans. Van Lith S.

J.,yang merintis penyebaran agama Katolik lewat budaya Jawa. Hal ini membuahkan

hasil dengan dibaptisnya 171 orang untuk menjadi Katolik, dan orang-orang inilah

yang menjadi cikal bakal terbentuknya Vikariat Apostolik Semarang.

Peranan Gereja dituliskan dalam lingkup pendidikan, karya sosial dan politik.

Pada bidang politik diawali oleh didirikannya Katolika Wandawa pada tahun 1913,

namun tidak dijelaskan bagaimana kehidupan politik masyarakat Vikariat Apostolik

Semarang selanjutnya, dan bagaimana keterlibatan para misionaris Gereja dalam

kehidupan politik Vikariat Apostolik Semarang.

Pipitseputra (1970) dalam buku berjudul “Beberapa Aspek Dari Sejarah

Indonesia Aliran Nasionalis Islam, Katolik Sampai Akhir Zaman Perbedaan Paham

1973”. Dijelaskan tentang bagaimana kehidupan politik masyarakat Jawa pertama

kali, yang didorong oleh dikeluarkanya brosur yang ditulis oleh Romo Van Lith.

Dalam selembaran itu Romo Van Lith menujukan seruannya kepada bangsa Jawa

agar mereka mendukung dan berdiri dibelakang mosi-mosinya, sebab hal itu sangat

mengena dihati pribumi yaitu agar mereka mendirikan suatu perkumpulan dan

berjuang sendiri. Dijelaskan pada tahun 1941 berdiri Perkumpulan Politik Katolik

Indonesia. Pada tahun berikutnya umat Katolik semakin ikut berpartisipasi aktif

untuk negara Indonesia. Munculnya 2 nama I. J Kasimo dan Mgr. Alb.


21

Soegijapranata, S. J., ikut menunjukkan jati diri umat Katolik, bahwa mereka adalah

bagian dari bangsa Indonesia bukan bagian dari bangsa Barat.

Dituliskan oleh Anhar Gonggong (1993) dalam buku berjudul “MGR

Albertus Soegijapranata S. J., Antara Gereja dan Negara”. Dijelaskan mengenai

pengangkatan Albertus Soegijapranata sebagai Uskup Agung untuk daerah Vikariat

Apostolik Semarang tahun 1940, penekanan pada buku ini adalah peranan Mgr. Alb.

Soegijapranata, S. J. pada negara Republik Indonesia. Ketika Jepang menduduki

wilayah Hindia Belanda, hampir seluruh kegiatan karya missi mengalami kesulitan

karena tindakan keras dan kejam dari Jepang. Oleh penguasa Jepang, Mgr. Alb.

Soegijapranata, S.J., termasuk diantara pemimpin yang cukup disegani waktu itu di

Semarang. Hal ini terbukti dengan diundangnya beliau menghadiri berbagai upacara

resepsi penting yang diadakan oleh penguasa Jepang. Namun uniknya tak satupun

undangan itu dihadirinya. Pada tahun selanjutnya dijelaskan, bahwa Gereja lebih

mendukung pemerintahan Indonesia dengan pengalihan pusat misi ke Yogyakarta

saat pemindahan ibu kota negara ke Yogyakarta.

B. Kerangka Konseptual

Dalam kerangka konseptual, maka perlu dipaparkan arti istilah Vikariat

Apostolik Semarang dan Partai Politik dalam studi ini. Vikariat Apostolik Semarang

adalah suatu wadah yang utama bagi penyebaran misi Gereja dimana mewakili Roma

dan pemimpinnya adalah Vikaris Apostolik dimana Vikariat Apostolik Semarang

didirikan dengan dikeluarkannya surat pengangkatan Alb. Soegijapranata, S. J

sebagai vikaris Apostolik pertama Jawa. Kebijaksanaan ini juga dikaitkan dengan
22

bertambahnya jumlah anggota Gereja di wilayah ini dan akan berlangsungnya Perang

Dunia II.

Untuk penelitian Vikariat Apostolik Semarang digunakan pendekatan sosial

yaitu dengan mengkaji kehidupan masyarakat pada saat Vikariat Apostolik Semarang

karena permulaan penyebaran misi Gereja diwilayah ini kurang menguntungkan

karena banyak masyarakatnya yang memeluk Islam.

Namun dengan kedatangan Romo Van Lith masyarakat dapat menerima

agama Katolik dan muncul kesadaran bahwa masuknya agama Katolik tidak akan

merubah tradisi yang telah ada didalam masyarakat.

Munculnya kesadaran politik juga berkat ajaran Romo Van Lith dengan

edarannya yang menumbuhkan paham kebangsaan terutama bagi umat Katolik yang

selama ini dianggap lebih berpihak pada Barat. Kemudian mulai muncul Voorloopig

Katholiek Comite Voor Politiek Actie (1917), Indische Katholieke Partij (1918), dan

di Masyarakat Jawa muncul Perkempalan Politik Katolik Djawa (1923), Persatuan

Politik Katolik Indonesia (1930), dan Angkatan Muda Republik Indonesia (1945).

Dibentuk juga Partai Katolik Republik Indonesia (1945) dan Partai Katolik Indonesia

(1945). Pada penelitian mengenai Partai Katolik menggunakan pendekatan politik

yaitu bagaimana Partai Katolik itu berkembang?, bagaimana Anggaran Dasar dan

perananya diperpolitikan Indonesia.

Pada tahun 1949, semua Partai Katolik dilebur menjadi Partai Katolik atas

prakarsa I.J. Kasimo dan Mgr. Alb. Soegijapranata. Vikariat Apostolik Semarang

sangat erat kaitannya dengan terbentuknya Partai Katolik, yaitu dengan tujuan yang

sama kemerdekaan Indonesia, yaitu mendukung pengalihan tempat misi ke

Yogyakarta pada saat pemerintahan Indonesia dialihkan dari Jakarta ke Yogyakarta.


C. Kerangka Berfikir

Vikariat Vikariat -Gereja


Apostolik Vikariat
Apostolik independent.
Semarang Tujuan yang Apostolik
Semarang Semarang -Hirarki
- Perang Dunia 1940 sama
- Konsepsi Gereja
II - Kemerdekaa
- Masyarakat Presiden Indonesia
Partai Politik 1949 n Indonesia
- Pengangkatan B mendukung
secara
Vikaris - IJ Kasimo dan Mgr. Alb. E - Kedudukan
penuh
Pribumi Soegijapranoto, S. J. D dalam
- Kesadaran
- Missi Gereja - Kepentingan negara yaitu A Dewan
sebagai
kemerdekaan penuh. Nasional
warga Yayasan Gereja
- Berasal dari partai: P dipenuhi.
Kesadaran Berpolitik negara.
a. Partai Katolik Republik E - Partai Kanisius Seminari
Umat Katolik - Pemilu 1955
Indonesia (PKRI) 8 N Katolik Theresiana Tinggi
- Surat edaran Romo F. D - Konsepsi Tarakanita PMKRI
Desember 1945 di
Van Lith A Presiden
Surakarta.
- Voorlooping Katholiek P menolak
Comite Voor Politiek
b. Partai Katolik Indonesia
Timur (PKRI) Flores. A - Menolak
Actie (1917) T tawaran
- Indische Katholieke c. Partai Katolik Rakyat Partai
Indonesia (PKRI) duduk
Partij (1918) Katolik
Makasar dalam
- Perkempalan Politik pada
Dewan
Katolik Djawi (1923) d.Partai Katolik Indonesia tahun
Nasional
- Persatuan Politik Timur (Parkit) Timor. 1973
Katolik Indonesia e. Persatuan Politik Katolik melebur
(1930) Flores (Perpokat) Flores menjadi
- Angkatam Muda f. Permusyaratan Majelis PDI
Katolik Republik Katolik (Permakat)
Indonesia (1941) Menado.

23
- Partai Katolik Republik g. Partai Katolik Indonesia
Indonesia (1945) Kalimantan (Perkika)
- Partai Politik Katolik Kalimantan
Indonesia (1945)
18
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Metode Penelitian

Dalam penulisan yang digunakan adalah metode penelitian sejarah. Metode

penelitian sejarah adalah metode yang mendasarkan pada bukti-bukti atau

peninggalan-peninggalan sejarah atau sumber-sumber yang relevan dengan

permasalahan yang diteliti. Penelitian sejarah adalah proses mengkaji dan

menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau, (Gootschlak 1983:

38).

Setelah penulis menentukan jenis metode yang digunakan dalam penelitian

ini adalah metode penelitian sejarah. Langkah-langkah dalam penelitian sejarah yang

dilakukan oleh peneliti di bagi menjadi empat:

1. Heuristik

Dimana teknik ini membantu dalam mencari jejak-jejak sejarah. Heuristik

berasal dari bahasa Yunani “Heurishein”, (Abdurrahman 1999: 55). Selain itu

heuristik berarti mencari bahan atau menyelidiki sumber sejarah untuk mendapatkan

bahan yang dalam kata Yunani berasal dari “Heuristiek”, (Gazalba 1981: 114).

Heuristik juga dari bahasa Yunani “Heuriskein” yang memperoleh.

Heuristik adalah suatu teknik, suatu seni, dan bukan suatu ilmu. Jejak-jejak material

masa lampu dapat diperoleh di museum-museum yang katalog-katalognya dapat

digunakan sebagai alat heuristik, (Renier 1997: 113).

24
25

Jejak masa lampau dapat berupa bukti-bukti tertulis seperti arsip, dokumen,

surat kabar yang ada kaitannya dengan permasalahan yang akan dibahas. Suatu

prinsip di dalam heuristik adalah sejarawan harus memperhatikan atau mencari

sumber-sumber primer.

Pada tahap Heuristik, penulis melakukan pencarian sumber-sumber dan

mengumpulkannya dari perpustakaan dan instansi yang berhubungan dengan

penelitian yang penulis lakukan, seperti:

1. Perpustakaan Wilayah Semarang

2. Perpustakaan Universitas Katolik Soegijapranata

3. Museum Missi Katolik di Muntilan

4. Perpustakaan Provinsialat S. J Semarang

5. Perpustakaan Giri Sonta Ungaran

6. Melalui website di internet

Dalam penelitian ini penulis menggunkan dua jenis sumber sejarah., yaitu

sumber primer dan sumber sekunder.

a. Sumber Primer

Menurut Louis Gottschalk (1975:35), sumber primer merupakan

kesaksian dari seseorang dengan mata kepala sendiri atau dengan panca indera

lain, atau dengan alat mekanis seperti diktafon yakni orang atau alat yang hadir

pada saat peristiwa yang diceritakannya. Sumber primer dihasilkan oleh orang

yang hidup sejaman dengan peristiwa itu.

Sumber primer dapat berupa dokumen dan dalam bentuk lisan yang

dianggap primer adalah wawancara, (Abdurrahman 1999:56). Sumber diluar kata


26

dan tindakan merupakan sumber kedua, namun hal itu tidak dapat diabaikan.

Dilihat dari segi sumber data, bahan tambahan yang berasal dari sumber tertulis

dapat dibagi atas sumber buku, dan majalah ilmiah, sumber dari arsip, dokumen

resmi, (Moleong :113).

b. Sumber Sekunder

Sumber sekunder merupakan kesaksian dari siapapun yang tidak hadir

dalam peristiwa yang dikisahkan, (Gottschalk 1975:35). Sumber sekunder dalam

penelitian ini adalah studi pustaka, literature, dokumen, maupun hasil observasi

yang dilakukan para peneliti pada masa sekarang, yang berhubungan dengan

judul penulisan.

Dalam pengumpulan data penulis menggunakan teknik pengumpulan data,

dimana sumber-sumber itu diperoleh dari:

1) Metode Kepustakaan atau Dokumentasi

Metode kepustakaan yaitu usaha mengumpulkan data melalui telaah

buku-buku yang relevan dan berhubungan dengan topik penelitian. Penulis

berusaha mendapatkan buku-buku yang membahas tentang Perkembangan

Vikariat Apostolik Semarang dan Partai Katolik tahun 1940-1961, dan buku-

buku yang berhubungan dengan judul penelitian.

2) Observasi

Observasi adalah pengamatan terhadap obyek penulisan. Teknik

observasi terdiri dari observasi langsung yaitu pengamatan langsung apa yang

akan diteliti dan observasi tidak langsung yaitu dengan mengamati baik melalui

foto maupun gambar. Foto menghasilkan data deskriptif yang sangat berharga
27

dan digunakan untuk menelaah segi subyektif dan hasilnya sering dianalisa

secara induktif, ada dua kategori foto yang dapat dimanfaatkan dalam penelitian

yaitu foto yang dihasilkan oleh orang lain dan oleh peneliti sendiri, (Moleong

:115).

Observasi langsung dengan mengamati tempat tempat penyebaran dan

pembentukan awal mula Vikariat Apostolik Semarang berupa banguan Gereja

Gedangan, Gereja Katedral Santa Maria, dan tempat awal lahirnya pengikut

agama Katolik dan anggota terbesar Vikariat Apostolik Semarang yaitu wilayah

Muntilan. Observasi tidak langsung dilakukan dengan melihat foto serta gambar

kondisi penyebaran agama Katolik dari Vikariat Apostolik Semarang sampai

terbentuknya Hirarki Gereja yang ditandai lahirnya Keuskupan Agung Semarang.

3) Wawancara dan Oral History

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, tujuan

mengadakan wawancara antara lain merekontruksi mengenai orang, kejadian-

kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan keperdulian dan lain-lain

kebulatan merekontruksi kebulatan demikian sebagai yang dialami masa lampau;

memproyeksikan kebulatan-kebulatan sebagai yang telah diharapkan untuk

dialami pada masa yang akan datang, memverifkasi, mengubah dan memperluas

informasi yang diperoleh dari orang lain baik manusia maupun bukan manusia

(trianggulasi) dan memverifikasi, mengubah dan memperluas kontruksi yang

dikembangkan oleh peneliti sebagai pengecekan anggota, (Moleong : 135).

Sedangkan penerapan Oral History (tradisi lisan dalam sejarah) karena

tradisi lisan merupakan sumber sejarah yang merekam masa lampau. Penggalian
28

sumber sejarah adalah melalui metode wawancara, pada saat wawancara penulis

menggunakan alat perekam berupa tape recorder. Oral History digunakan untuk

mengatasi permasalahan sejarah yang tidak tertangkap melalui dokumen. Dalam

mengumpulkan sejarah lisan digunakan teknik-teknik tertentu, paling utama

dalam pengumpulan sejarah lisan adalah wawancara, menyalin, dan menyunting.

Keuntungan penggunaan sejarah lisan adalah memungkinkan mengali

sejarah dari pelaku-pelakunya, mencapai pelaku sejarah yang tidak disebutkan

dalam dokumen, memungkinkan perluasan permasalahan sejarah, karena sejarah

tidak lagi dibatasi adanya dokumen tertulis, (Kuntowijoyo 2003:30).

Dalam penelitian ini penulis menghubungi informan yang mengetahui

tentang Vikariat Apostolik Semarang dan Partai Katolik tahun 1940-1961.

Adapun para informan yang dihubungi:

1. Bpk Yosef Felix Basuki

2. Titus Probo Haryono

3. Lorenz Suryatma

2. Kritik Sumber

Kritik sumber merupakan teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data

guna memecahkan masalah dengan cara memberikan kritik terhadap bahan-bahan

yang digunakan dalam penelitian. Untuk memperoleh keabsahan sumber yang harus

diuji adalah keabsahan tentang keaslian sumber (otentisitas) yang dilakukan melalui

kritik eksteren dan keabsahan tentang kesahihan sumber (kredebilitas) yang

ditelusuri melalui kritik interen, (Abdurrahman 1999: 59). Kritik sumber ada 2 yaitu:
29

a. Kritik eksteren

Adalah kritik terhadap sumber itu sendiri, dengan melihat apakah

sumber-sumber itu dapat memberi informasi pada kita tentang tema tersebut. Kritik

eksteren dilakukan terutama untuk menentukan apakah sumber itu merupakan

sumber asli yang dibutuhkan atau tidak? Apakah sumber tersebut aslinya (bukan

turunan), ataukah sumber itu masih utuh dan telah diubah-ubah, (Widja 1988: 22).

Penelitian melakukan pengujian atas asli atau tidaknya sumber berarti ia menyeleksi

segi-segi fisik dari sumber yang ditemukan. Bila sumber itu merupakan dokumen

tertulis, maka harus diteliti kertasnya, tintanya, gaya tulisannya, bahasanya,

kalimatnya, ungkapannya, kata-katanya, huruf-hurufnya, dan segi penampilan

luarnya yang lain. Otentisitas semua ini minimal dapat diuji berdasarkan lima

pertanyaan pokok sebagai berikut;

1) Kapan sumber itu dibuat?

2) Dimana sumber itu dibuat?

3) Siapa yang membuat?

4) Dari bahan apa sumber itu dibuat?

5) Apakah sumber itu dalam bentuk asli?

Perubahan atau pengurangan terhadap teks memang bisa terjadi pada teks

yang telah mengalami penurunan atau penyaduran berkali-kali, maka peneliti harus

berusaha membandingkan perbagai kopi satu sama lain. Dalam banyak hal teks asli

dapat direstorasi secara mendekati atau secara lengkap. Dalam hal itu pula penelitian

sejarah harus berusaha untuk menetapkan kopi yang paling mendekati kepada yang

asli dalam aspek waktunya, (Abdurrahman 1999: 60).


30

Kritik ini dilakukan pengamatan terhadap buku yang berjudul “Kesaksian

Revolusioner Seorang Uskup Dimasa Perang Catatan Harian Mgr. A. Soegijapranata,

S. J., 13 Februari 1947 –17 Agustus 1949”, yang menuliskan keseharian Mgr. Alb.

Soegijapranata, S. J., selama perang kemerdekaan dan kepindahan karya misi dari

Semarang ke Yogyakarta bersumberkan buku harian Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J.

b. Kritik Interen

Adalah kritik terhadap isi dari sumber tersebut yang berusaha menjawab

pertanyaan tentang bagaimana nilai pembuktian yang sebenarnya dari isinya. Kritik

interen terutama untuk menentukan apakah isi sumber itu dapat memberikan

informasi yang dapat dipercaya. Dalam penelitian ini ditekankan pada kritik dalam

dengan saling membandingkan data yang diperoleh.

Dalam penelitian ini ditekankan pada kritik dalam, dengan saling

membandingkan data yang diperoleh. Dalam mengkaji sumber yang didapat ternyata

ada beberapa hal yang perlu dicari kebenarannya. Dalam buku Garis-Garis Besar

Sejarah Keuskupan Agung Semarang dituliskan pada tanggal 1 Agustus 1940 Romo

Albertus Soegijapranata, S. J., diangkat menjadi Vikaris Apostolik Semarang, namun

dalam buku Ragi Cerita 2: Sejarah Gereja di Indonesia 1860-an – sekarang, tulisan

Van den End dan Weitjen tahun 2000 ditulis bahwa Paus Pius XII mengangkat

Albertus Soegijapranata, S. J., pada tanggal 4 Agustus 1940 menjadi Vikaris

Apostolik Semarang. Maka ditempuh kritik, dan diperoleh dari buku Mgr. Albertus

Soegijapranata, S. J., tulisan M. Henricia Moeryantini CB tahun 1975, dituliskan

dekrit pengangkatan yang dikeluarkan oleh Roma bertanggal 1 Agustus 1940, yang
31

merupakan tanggal dimulainya Romo Soegijapranata, S. J., menjadi Vikaris

Apostolik Semarang.

Kritik kedua dalam buku Penyebaran dan Perkembangan Islam, Katolik, dan

Protestan di Indonesia. Telaah Sejarah dan Perbandingan tertulis halaman 65 tertulis

tanggal 3 Januari 1961 Sri Paus Yohanes XXIII dan 5 November 1966 Paus Pius VI

mendekritkan berdirinya Hirarki Gereja Katolik Indonesia terdiri dari 7 propinsi

Gerejawi yaitu Jakarta, Semarang, Medan, Kalimantan, Pontianak, Ujung Pandang,

Irian Jaya, dan Merauke. Sedangkan dalam Garis-Garis Besar Sejarah Gereja Katolik

Keuskupan Agung Semarang Halaman 89 dituliskan tanggal 3 Januari 1961 Hirarki

Gereja Indonesia didirikan terdiri dari 6 propinsi Gerejawi yaitu Medan Jakarta,

Semarang, Pontianak, Ujung Pandang, Ende. Maka diperoleh keterangan dari buku

Ragi Cerita 2 Sejarah Gereja Di Indonesia 1860-an – sekarang halaman 477 dimana

tanggal 3 Januari 1961 Paus Yohanes XXIII mendirikan Hirarki di Indonesia kecuali

Irian Jaya dimana didirikan Hirarki oleh Sri Paus Paulus VI tanggal 15 November

1966 sesudah integrasi Irian Jaya dalam Republik Indonesia, jadi pada awal

pendirian Hirarki Gereja Indonesia terdiri dari 6 propinsi Gerejawi yaitu Medan,

Pontianak, Jakarta, Semarang, Ujung Pandang, Ende.

Pendekatan yang dilakukan dalam kritik intern ini ada dua macam yaitu:

1) Penelitian intrinsik, dimana peneliti harus memastikan sifat sumber yang dipakai,

apakah sumber itu resmi atau tidak. Setelah ditentukan sifat dari sumber itu

langkah selanjutnya adalah menyoroti pengarang sumber tersebut. Hal ini dapat

dilakukan dengan memastikan bahwa pengarang mampu dan mau memberikan


32

kesaksian yang benar serta memastikan bahwa kesaksian penagrang tidak

menutupi atau berlebih-lebihan karena ia berkepentingan didalamnya.

2) Membandingkan kesaksian dari berbagai sumber dengan kesaksian dari sumber-

sumber lain.

3. Interpretasi

Interpretasi data seringkali juga disebut dengan analisis data. Interpretasi

adalah menentukan makna saling berhubungan dari data yang diperoleh. Berbagai

data yang lepas satu dengan yang lainnya harus dirangkai dan dihubungkan hingga

menjadi satu kesatuan yang harmonis dan masuk akal. Interprestasi merupakan suatu

usaha untuk merangkaikan fakta-fakta yang bersesuaian satu sama lainnya dan

bermakna, (Wiyono 1990: 50). Peristiwa-peristiwa yang satu harus dimasukkan

kedalam keseluruhan konteks peristiwa-peristiwa yang lain yang melingkupinya,

(Notosusanto 1970: 230). Dan dalam proses interpretasi sejarah seorang peneliti

harus berusaha mencapai pengertian faktor-faktor yang dapat menyebabkan

terjadinya peristiwa, (Abdurrahman 1999: 65).

4. Historiografi

Tahapan ini merupakan langkah penulisan cerita sejarah yang disusun secara

logis, menurut kronologis dan tema yang jelas serta mudah dimengerti yang

dilengkapi dengan pengaturan bab-bab atau bagian-bagian yang dapat mengatur atau

membangun urutan kronologis dan tematis, (Wiyono 1990: 5).


33

Tahapan-tahapan ini memerlukan kemampuan untuk menyusun fakta yang

fragmentaris menjadi suatu uraian yang sistematis, utuh, dan komunikatif, (Abdulah

1985: 14).

B. Setting Penelitian

Skripsi yang berjudul “Pengaruh Perkembangan Vikariat Apostolik

Semarang Bagi Partai Katolik Tahun 1940-1961”, dengan batasan spatial (wilayah)

adalah wilayah Vikariat Apostolik Semarang dari tahun 1940 sampai tahun

1961,(Subanar 2003: 6). Batasan waktu (temporal), penelitian ini dari tahun 1940,

sebagai tahun berdirinya Vikariat Apostolik Semarang. Dan tahun 1961 sebagai

batasan akhir penelitian, karena pada tahun ini Gereja Katolik Indonesia sudah

dianggap dewasa dan berubah menjadi Keuskupan Agung dengan 6 wilayah

Gerejawi. Pada kurun waktu antara 1940-1961 terjadi hubungan antara Gereja di

bawah pimpinan Vikaris Apostoliknya yaitu Mgr Alb. Soegijapranata, S. J., dengan

Partai Katolik di bawah pimpinan I. J Kasimo. Kerjasama yang dilakukan oleh

Vikariat Apostolik Semarang dan Partai Katolik lebih bersifat konsultatif

(konsultasi).
BAB IV

PENGARUH PERKEMBANGAN VIKARIAT APOSTOLIK SEMARANG

BAGI PARTAI KATOLIK TAHUN 1940 – 1961

4.1 Masa Vikariat Apostolik Semarang

4.1.1 Latar Belakang.

Vikariat Apostolik Semarang dalam perkembangannya memerlukan waktu

yang lama, serta mendapat banyak tantangan. Sejak 7 Agustus 1806, Raja Lodewijk

Napoleon mengumumkan Undang-Undang kebebasan beragama, Gereja Katolik

sejak tahun 1621 mendapat tekanan dapat berkembang kembali. Wilayah Hindia

Belanda menjadi bagian dalam Gereja Katolik yaitu Perfektur Apostolik Batavia

dengan misionaris pertama Pastor Jacobus Nelissen, tiba di Batavia pada tanggal 4

April 1808. Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1842 Prefektur Apostolik Batavia

ditingkatkan menjadi Vikariat, tahun 1866 Vikariat ini dibagi menjadi 8 stasi yaitu;

Batavia, Semarang, Ambarawa, Yogyakarta, Surabaya, Larantuka, Maumere, dan

Padang. Pastor-pastor pertama yang bekerja di enam stasi yang sekarang masuk

dalam wilayah Keuskupan Agung Semarang:

1. L. Prinsen pr. di Semarang, diangkat mulai tahun 1808.

2. C. J. H. Frenssen pr. di Ambarawa, diangkat mulai tahun 1859.

3. J. B. Palinckx, SJ. di Yogyakarta, diangkat mulai tahun 1865.

4. Fr . Voolgel, SJ. di Magelang diangkat mulai tahun1889.

5. Fr. Van Lith, SJ. di Muntilan diangkat mulai tahun 1897.

6. P. Hoevenaars, SJ. di Mendut diangkat mulai tahun 1899.

28
29

Pada awalnya kegiatan misionaris di Jawa Tengah ditujukan bagi orang Eropa

yang ada di daerah itu, karena adanya anggapan bahwa orang Jawa tidak akan

menganut agama selain agama yang sudah ada lebih dahulu. Sejak tahun 1808

sampai 1824 pada saat Romo L. Prinsen pr., umat Katolik di Semarang belum

mempunyai Gereja sendiri. Dalam ibadat sering menggunakan rumah untuk di sewa,

ataupun menggunakan Gereja bersama (Gereja Gerefomeerd) dengan Protestan yaitu

Gereja Blenduk. Baru pada tahun 1824 Prefek Apostolik Batavia membeli rumah

besar terletak di Paradeplein (sekitar Taman Srigunting). Lantai bawah diubah

menjadi Gereja, dan lantai atas menjadi pastoran. Gedung ini digunakan samapi

1875, pada tahun itu Gereja St. Yosef di Gedangan selesai di bangun dan sampai

sekarang masih dipakai. Pada tahun 1872 umat Katolik berjumlah 1.600 orang yang

sebagian besar terdiri dari orang Eropa. Pastor Yulius Keyzer, S. J., Pastor di

Semarang sejak tahun 1887 tidak sependapat dengan pendapat misionaris

sebelumnya bahwa agama Katolik akan sulit diterima oleh penduduk pribumi, ia

merintis kerasulan di kalangan pribumi. Pastor Yulius Keyzer, S. J., merupakan

Pastor pertama yang mendirikan sekolah missi di sekitar Muntilan dan Magelang.

Pada tanggal 9 Desember 1894 di Bedono, ia menerima dengan resmi 28 orang Jawa

di dalam Gereja. Pada tahun 1915 dibangun gedung Gereja kedua yaitu Gereja

Karangpanas. Untuk melayani pertambahan umat yang pesat maka dipanggil pastor

W. Helings ke Semarang dari tempat tugasnya di Kasiuwi (Maluku), dan tiba di

Semarang bulan Januari 1895. Ia menerbitkan sebuah buku berbahasa Jawa yaitu

Kitab Sembahyang Tjilik kanggo Para Wong Room Katolika. Kegiatan itu membawa

hasil dengan dipermandikannya puluhan orang di Magelang dan Muntilan.


30

Perkembangan misi di Jawa Tengah semakin nampak, maka untuk mengatasi

pertambahan umat yang kian berkembang didatangkan sejumlah tenaga untuk

melayani karya misi. Ini diawali dengan kedatangan misionaris di Semarang pada

bulan Oktober 1896, yaitu Petrus Hoevennaars dan Franciscus Van Lith, mereka

sangat berpengaruh pada perkembangan missi agama Katolik di Jawa. (Gonggong

1984; 12). Awal penyebaran misi agama Katolik tidak membuahkan hasil yang

memuaskan, namun Romo F. Van Lith, S. J., yakin bahwa karya kerasulan dalam

masyarakat Jawa harus dimulai dari pimpinan masyarakat. Masyarakat Jawa sangat

terikat dalam suatu adat dan kehidupan bersama, berdasarkan pertimbangan itu

Romo F. Van Lith, S. J., menyesuaikan diri dengan orang Jawa, ia belajar bahasa

Jawa, sejarah, dan adat istiadat Jawa, ia juga menjalin kerjasama dengan semua

lapisan masyarakat dari Priyayi sampai Petani, Wedana dan Kontrolir. Kedua

prinsipnya yaitu adaptasi dan pembentukan golongan elite, membawa hasil yang

sangat gemilang. Pada tahun 1904 datang seorang guru kerasulan dan 4 orang kepala

desa pegawai wilayah Kalibawang berkunjung pada Romo Van Lith. Mereka minta

diberi ajaran agama Katolik, mereka dibaptis pada tanggal 20 Mei 1904. Pada

tanggal 14 Desember 1904 menyusul 171 orang dibaptis di Sendangsono. (www.

Ekaristi. Org). Peristiwa pembabtisan itu menjadi bukti bahwa nilai-nilai budaya

tidak akan terancam atau diganti dengan agama Katolik, karena proses inkulturasi

yang telah dirintis oleh Romo Van Lith, mengutamakan perlunya bahasa Jawa.

Bahasa bukan hanya alat komunikasi, namun khususnya bahasa Jawa merupakan

endapan jiwa masyarakat yang memandang dunia dan manusia atas cara yang khas

Jawa. Sama seperti Hinduisme, Budhisme, dan Islam, hanya unsur-unsur yang
31

dirasakan cocok atau penting yang diintegrasikan ke dalam pola hidup dan berfikir

rakyat. Selain itu Romo Van Lith berhasrat memberi kaum muda Jawa baik pria dan

wanita suatu pendidikan yang bermutu, membuat mereka mampu memiliki posisi

yang penting dalam masyarakat. Kepada mereka diberikan pendidikan Kristiani, agar

mereka menjadi benih-benih rasul dan tumbuh dan berkembang serta membuahkan

hasil. Dua puluh tahun setelah kedatangannya di Muntilan ia menulis laporan resmi:

“aku hidup di tengah orang Jawa dan menjadi seperasaan dan sepemikiran dengan

mereka”. Romo F. Van Lith, S. J., juga menterjemahkan doa Bapa Kami dalam

bahasa Jawa.

Sementara Pastor Petrus Hoevennaars, S. J., diangkat menjadi Pastor di Mendut

tanggal 27 Mei 1899, dan menyatakan bahwa misi harus mengarahkan kegiatannya

pada rakyat kecil. Pada akhir 1903 di stasi Mendut telah terdapat sekitar 300 orang

Katolik. Tanggal 27 Juni 1905 Pastor P. Hovennaars, S. J., dipindahkan ke Cirebon.

Setelah kepindahannya ke Surakarta, ia mengakui keunggulan dari metode yang

digunakan Romo F. Van Lith, S. J. Pastor P. Hoevennaars mengembangkan Gereja

Katolik di Surakarta dengan memakai metode Van Lith, dalam waktu 4 tahun ia

mendirikan 10 (sepuluh) “standaarschool”. Pada tahun 1929 ia dipindahkan ke

Semarang, kemudian ke Ambarawa. Tapi pada tahun 1930 ia meninggal dunia, dan

dimakamkan di Muntilan dekat dengan F. Van Lith, S. J.

Di Yogyakarta, tahun 1905 Pastor H. E. P. Van Driessche, S. J., mulai berkarya

di kalangan orang Jawa di Yogyakarta. Sebelumnya Pastor H. E. P. Van Driessche,

S. J., tinggal di Muntilan, sejak 1917 setiap minggu ia mengunjungi Yogyakarta dan

tinggal selama 3 hari. Ia mendirikan sekolah rakyat di kampung Kumandanan,


32

sebelah selatan Keraton. Pada tanggal 1 Agustus 1918 HIS pertama di buka, dan

pada bulan Maret tahun berikutnya HIS kedua di buka. Pada akhir tahun 1918

Yogyakarta mempunyai 273 orang Katolik Jawa, dua belas tahun kemudian wilayah

yang dilayani pastoran Kidulloji sudah mempunyai 3.684 umat Jawa Katolik, dan

diluar wilayah itu masih ada 1.100 orang yang semuanya penduduk Yogyakarta.

Peristiwa penting lain adalah pembangunan Kolose Ignatius mulai tanggal 17 Januari

1923, dan pemakaian gedung novisiat S J pada tanggal 16 Juni 1923, dalam tahun

1931 novisiat itu dipindahkan ke Ungaran.

Peristiwa penting yang mendorong terbentuknya Vikariat baru di Semarang

adalah didirikannya Seminari Menengah tahun 1911 di Muntilan, 3 dari enam

generasi pertama 1911 – 1914 ditasbihkan menjadi Imam, 1926 dan 1928 yaitu

Romo FX. Satiman, S. J; A. Djajasepoetra, S. J; dan Alb. Soegijapranata, S. J. tahun

1925 Seminari Menengah kedua didirikan di Yogyakarta. Pada tanggal 1 Juli 1927

Seminari Menengah di Muntilan dipindahkan dan digabung dengan Seminari

Menengah di Yogyakarta.

Pada perkembangan selanjutnya dapat diketahui adanya pertambahan jumlah

umat Katolik di wilayah Jawa, terutama peranan Muntilan dan Mendut yang

merupakan tempat tumbuhnya misi-misi yang subur. Perbedaan situasi yang besar

antara Jawa Barat atau kota Batavia dan Jawa Tengah merupakan alasan utama bagi

Mgr. P. Willkelens seorang Vikaris Apostolik Batavia untuk mengajukan usul

pemecahan Semarang menjadi wilayah Vikariat Apostolik sendiri. Hal itu

berdasarkan anggapan bahwa kesadaran Gereja mempunyai sifat supranasional

dimana Gereja hendaknya mencoba hidup berakar pada bangsa-bangsa dimana ia


33

hadir. Pertumbuhan karya misi di Jawa Tengah mendapat perhatian khusus dari

pihak Roma dan Batavia, menghasilkan suatu rencana pembukaan daerah Vikariat

Apostolik yang baru, (Gonggong 1983: 34). Dipisahkannya Jawa Tengah dari

Vikariat Apostolik Jakarta sudah lama dinanti-nantikan. Namun tidak banyak orang

Belanda, maupun orang Jawa, yang dapat menduga-duga, bahwa yang diangkat

menjadi Uskupnya adalah orang Jawa. Bulan Mei 1940 Mgr. P. Willekens dari

Jakarta mengadakan pembicaraan terakhir di Roma mengenai pemisahan Jawa

Tengah dari Jakarta.

Daerah Vikariat Apostolik harus dipimpin oleh seorang Uskup Agung, untuk

Vikariat baru ini Paus menghendaki mengangkat Vikaris dari penduduk asli, tentu

hal ini berbeda dengan dua Vikariat Apostolik yang ada yaitu di Vikariat Apostolik

Batavia dan Malang. Pengangkatan Uskup Agung yang berasal dari penduduk asli

dan pendirian Vikariat yang baru dilatar belakangi dua faktor utama:

a. faktor dari dalam negeri ialah:

a) Makin nampaknya pertumbuhan karya misi yang diungkap oleh Mgr.

Willekens dalam surat ditujukan kepada ketua Kongregasi Propaganda Fide

di Vatikan tanggal 1 Maret 1940, mengemukakan:

Bahwa Jawa Tengah adalah salah satu dari daerah-daerah misi yang
sangat subur , dan situasi Luar Negeri yaitu pecahnya perang dunia II
yang jelas akan memberikan pengaruh bagi pertumbuhan karya misi di
Hindia Belanda. Untuk menghadapi hal itu diperlukan seorang Uskup
yang mampu berdedikasi penuh, (Moeryantini 1975:19).

b) Wilayah Vikariat Apostolik Batavia terlalu luas dengan cakupan wilayah

Batavia, Bogor, dan Jawa Tengah.


34

c) Wilayah Batavia dan sekitarnya, dan wilayah Jawa Tengah memiliki kultur

yang berbeda.

d) Wilayah Jawa Tengah telah memiliki fasilitas bangunan dan personil

misionaris serta sejumlah umat yang memadai untuk mendukung

terbentuknya sebuah Vikariat yang baru.

e) Situasi yang mendesak sehubungan dengan perkembangan dalam negara di

Hindia Belanda, antara lain berkaitan dengan gerakan komunis yang pernah

mengadakan pergolakan, maka Vikariat Apostolik yang baru tersebut

sebaiknya diserahkan kepada anggota Serikat Yesus karena Serikat Yesus lah

yang selama ini telah berkarya di wilayah tersebut.

f) Didirikannya Seminari Tinggi untuk calon-calon imam praja yang mengambil

tempat di Muntilan tahun 1936, (Subanar 2003: 127).

b. Situasi di Luar Negeri, pada saat itu terjadi Perang Dunia II sehingga memberi

pengaruh pada pertumbuhan karya misi di daerah Hindia Belanda, serta

terganggunya jalan komunikasi antara Vatikan dan daerah-daerah yang terlibat

perang.

Untuk menghadapi semua kesulitan itu perlu adanya seorang Vikaris yang mampu

bertanggung jawab secara penuh, agaknya Vatikan melihat itu semua dalam diri

Romo Alb. Soegijapranata, S. J.

Secara resmi rencana pendirian Vikariat Apostolik Semarang selesai tanggal 25

Juni 1940, pada tanggal 1 Agustus 1940 berdiri Vikariat Apostolik Semarang, serta

pengangkatan Romo Albertus Soegijapranata, S. J menjadi Vikaris Apostolik yang

pertama di Semarang dan merupakan Vikaris pribumi pertama yang menduduki


35

jabatan tinggi dalam hirarki Gerejawi. Romo Alb. Soegijapranata, S. J., lahir di

Solo 25 November 1896, (Moeryantini 1975:13). Anak kelima dari keluarga

Karijosoedarma, seorang abdi dalem Kraton. Ketika masih muda keluarganya pindah

ke Yogya, atas ajakan Romo Van Lith, Soegija masuk Muntilan dimana dia dibaptis

pada hari natal tahun 1909. Ia berangkat ke Nederland untuk menjadi Imam, bersama

Romo M. Reksoatmadja., dan ditahbiskan pada tanggal 15 Agustus 1931 di

Maastricht. Awal karirnya Romo Alb. Soegijapranata, S. J., bekerja di paroki

Bintaran Yogyakarta. Pada tahun 1939 Ia diangkat menjadi Consultor (penasehat)

pribumi pertama bagi Superior Serikat Yesus. Tanggal 6 November 1940 di

Semarang, Romo Albertus Soegijapranata ditahbiskan sebagai Uskup Danaba oleh

Vikaris Apostolik Batavia Mgr. P. Willekens S. J., di Gereja Randusari, yang

kemudian berfungsi sebagai Gereja Katedral. Mgr. P. Willeknes S. J., didampingi

oleh Mgr. Albers O. Carm (Malang) dan Mgr. Mekkelholt S. C. J. (Palembang),

(Moeryantini 1975: 22).

Sebagai seorang Vikaris Apostolik yang baru, Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J

mempunyai tanggung jawab yang berat, yaitu bagaimana memperluas penyebaran

misi Katolik di wilayah Jawa. Mengingat pada tahun berikutnya adalah tahun yang

berat bagi perkembangan misi agama Katolik. Wilayah Gerejawi Vikariat Apostolik

Semarang meliputi sejumlah Karesidenan di Jawa Tengah: Semarang, Jepara,

Rembang, beberapa bagian dari Karisidenan Kedu meliputi Magelang, dan

Temanggung serta seluruh wilayah Surakarta dan Yogyakarta, (Subanar 2003: 6). Di

bawah ini dapat dilihat perkembangan umat Katolik di daerah sebelum dibentuknya

Vikariat Apostolik Semarang sampai terbentuknya Vikariat Apostolik Semarang:


36

Tabel 1 Perkembangan Umat Katolik dari Masa Sebelum Terbentuknnya Vikariat


Apostolik Semarang sampai tahun 1940

Tahun Bangsa Eropa Bangsa Indonesia


(Pribumi dan Cina)

1928 12.977 8.810


1933 12.863 17.442
1938 15.202 21.922
1940 15.824 25.278

Sumber Tim KAS 1991:66

Jumlah tenaga karya misi di Vikariat Apostolik Semarang terdapat 73 orang

Imam berkebangsaan Eropa, 11 orang Imam pribumi, selain itu terdapat 103 orang

Bruder berkebangsaan Eropa, 34 orang Bruder pribumi, 251 orang Suster

berkebangsaan Eropa dan 79 orang Suster pribumi.

4.1.2 Penyebaran Misi Gereja Vikariat Apostolik Semarang Tahun 1940 – 1960

Pada tahun berdirinya Vikariat Apostolik Semarang cukup banyak mengalami

tekanan khususnya tahun 1942 sampai 1945, dengan meletusnya perang Pasifik, dan

Maret 1942 Indonesia jatuh ketangan Jepang. Karya misi di Indonesia mengalami

banyak kesulitan karena tindakan keras dan kejam dari pemerintah Jepang, semua

misionaris Belanda dimasukkan ke dalam penjara, selain itu Imam-Imam yang bukan

Belanda ada juga yang diseret menjadi tahanan. Di Pulau Jawa pada saat itu hanya

ada dua orang Uskup yang berkarya yaitu Mgr. P. Willkens, S. J dari Batavia dan

Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J., dari Semarang, sedang Uskup dari Bandung,

Purwokerto, dan Surabaya ditawan, (Gonggong 1984: 43). Jepang dalam

kebijaksanaannya membuat peraturan Gereja dalam pelaksanaan kebaktian dilarang


37

menggunakan bahasa musuh, dalam hal ini bahasa Belanda. Gedung Gereja dan

pastoran, banyak banggunan milik misi disita, dihancurkan dan diduduki oleh tentara

Jepang atau dijadikan tempat tahanan, sumber pendapatan untuk karya misipun

dimatikan. Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J., banyak sekali kehilangan sebagian besar

dari pembantu-pembantunya, dan dengan sedikit pembantu-pembantu pribumi karya

misi Gereja diteruskan. Dengan mengambil tempat di Gedangan yang saat itu

menjadi induk Gereja di Semarang dan basis perkembangan Gereja di Jawa Tengah,

Mgr. Alb. Soegijapranata S. J tetap menyelenggarakan pelayanan karya misi di

wilayah Vikariatnya, yaitu di wilayah Semarang dan Purwokerto karena para pekerja

karya misi di daerah ini ditangkap oleh Jepang. Pada saat pemerintah Jepang

menegaskan agar Gereja Katolik harus tunduk pada pemerintah Jepang, Mgr. Alb.

Soegijapranata, S. J., menjelaskan tentang hirarki dari Paus, Vikariat sampai paroki,

serta memperlihatkan hubungan diplomatik antara Vatikan dan Kaisar Jepang di

Tokyo. Karena Vikariat Apostolik Semarang ada di bawah wewenang Vatikan yang

memiliki perjanjian khusus, maka Gereja Katolik tidak perlu tunduk kepada

penguasa Jepang.

Sekolah-sekolah misi telah diambil alih Jepang, Kolose di Muntilan,

Ambarawa, Mendut, dan Jakarta terpaksa ditutup. Seminari tingkat menengah

terpaksa dibubarkan, sehingga pelajaran bagi seminaris diteruskan secara

tersembunyi dan menyebar di beberapa tempat. Sementara Seminari tinggi tetap

diperbolehkan hidup walaupun tidak di tempatnya sendiri, hal ini tidak mematahkan

semangat gembala-gembala misi, namun semakin kokoh untuk menyebarkan karya

“terang Yesus” di Indonesia.


38

Antara tahun 1942 – 1945 telah meninggal 74 orang Pastor, 47 Bruder, dan 160

orang Suster, (Gonggong 1993:40). Mereka adalah korban dari kekejaman tentara

Jepang, ditambah peristiwa pembunuhan di Pastoran Magelang 1 November 1945.

Dimana gerombolan ekstrim menyerbu halaman Gereja dan pastoran, menangkap

semua Jesuit yang ada di sana, dengan tuduhan ada tembakan-tembakan dilepaskan

dari Pastoran. Mereka semua dihukum mati dan ditembak di makam Giri laya.

Dalam peristiwa itu Vikariat Apostolik Semarang kehilangan 8 misionaris sekaligus.

Tanggal 20 Desember 1948 Romo Sandjaja dan Frater Bouwes dibunuh secara kejam

oleh fihak yang tidak senang dengan agama Katolik. Akhir 1944 di seluruh pulau

Jawa ada 2 Uskup dan 20 Imam yang bekerja terdiri dari 16 pribumi, 3 Indo, dan 1

Triol-Austria. Dari bulan Oktober 1945 sampai 16 Januari 1946, para misionaris

Belanda di Yogyakarta, yang baru keluar dari kamp tahanan diinternir lagi.

Pada tanggal 17 Agustus 1945, Sukarno-Hatta memproklamasikan

kemerdekaan Indonesia dan mereka melakukan hal ini atas nama bangsa Indonesia.

Berita proklamasi itu di sambut gembira oleh semua rakyat Indonesia, terutama di

Semarang dan Yogyakarta, yaitu kota-kota terpenting di Jawa Tengah. September

1945, pasukan sekutu mulai tiba di Indonesia, untuk mengambil alih kekuasaan

Jepang. Pasukan sekutu rupanya memberikan kesempatan bagi pasukan Netherlands

Indies Civil administration (NICA) untuk masuk kembali ke Indonesia. Karena

situasi politik saat itu, Vikariat Apastolik Semarang dibagi dua: Semarang dan

sekitarnya dibawah kekuasaan Belanda, sedangkan daerah sebelah selatan dikuasai

oleh Republik Indonesia, dilarang untuk orang-orang Belanda.


39

Belum genap satu tahun usia kemerdekaan Indonesia, terjadi perpindahan pusat

pemerintahan dari Jakarta ke Yogyakarta. Hal ini dilakukan karena tindakan teror

yang dilakukan oleh pihak Belanda, dan merupakan strategi menyelamatkan

kemerdekaan dan pemerintahan Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan.

Terpilihnya Yogyakarta sebagai ibukota Republik Indonesia tentu bukan karena

suatu kebetulan, melainkan melihat beberapa syarat yang terpenuhi yaitu: kondisi

masyarakat, yaitu seberapa jauh mereka menerima proklamasi kemerdekaan itu yang

baru beberapa bulan dicetuskan. Serta sikap para pemimpin utama di daerah itu

terhadap proklamasi. Maka tidak salah pemindahan ibukota Republik Indonesia dari

Jakarta ke Yogyakarta.

Keadaan di Semarang pun semakin genting banyak penduduk yang menyingkir

keluar kota untuk menghindari situasi yang tidak menentu di kotanya. Sampai akhir

tahun 1945 dan awal tahun 1946 Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J masih melanjutkan

karya misinya di Semarang, namun tahun 1946 dengan kepindahan pusat

pemerintahan negara Republik Indonesia ke Yogyakarta, beliau memindahkan pusat

karya misi ke Yogyakarta. Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J memindahkan pusat

pelayanan umat Katolik ke Yogyakarta tanggal 13 Februari 1947 dikarenakan adanya

kebijaksanaan yang dikelurkan Presiden Soekarno yang menyerukan gencatan

senjata 12 Februari 1947, dengan keputusan gencatan senjata tersebut kiranya

diharapkan keamanan diberbagai wilayah dapat dijamin. Mgr. Alb. Soegijapranata,

S. J memasuki kota Yogyakarta terhitung mulai tanggal 17 Februari 1947. Mgr. Alb.

Soegijapranata, S. J., memindahkan karya misi ke Yoyakarta dari Februari 1947

sampai Agustus 1949, ia tinggal di Pastoran Bintaran Yogyakarta. Hal ini dilakukan
40

karena perhitungannya yang lebih menguntungkan bagi perjuangan bangsanya dan

juga bagi kepentingan karya misi sendiri, beliau dapat berkomunikasi dengan para

pemimpin yang hampir seluruhnya berada di Yogyakarta. Pemindahan pusat Gereja

ke Yogyakarta oleh Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J merupakan pertanda yang

ditujukan kepada Belanda, bahwa beliau sama sekali tidak berada dalam posisi

netral, didalam sengketa antara bangsa Indonesia dengan Belanda. Pemindahan pusat

Gereja ke Yogyakarta juga menunjukkan, bahwa Gereja dalam hal ini umat Katolik

yang selama ini dipandang sebagai agama Belanda, dapat diterima sebagai Gereja

Indonesia bukan Gereja Belanda, serta membuktikan berakarnya Gereja di tanah

Indonesia. Mgr. Alb. Soegijaparnata, S. J., mengeluarkan seruan semboyan bagi

umat Katolik yaitu: “100% Katolik, 100% patriot Indonesia, 100% warga negara

Indonesia”. Hal ini menunjukkan, bahwa umat Katolik mempunyai cita-cita dan

tujuan yang sama seperti masyarakat Indonesia yang lain yaitu Indonesia segera

bebas dari penjajah. Hubungan Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J., dengan Presiden

Republik Indonesia Ir. Soekarno, dan Moh Hatta serta pemimpin Republik lainnya

memberikan keuntungan yang besar bagi kebebasan dan karya Gereja di Indonesia.

Selama pemindahan pusat Gereja ke Yogyakarta, Mgr. Alb. Soegijapranata, S.

J., tetap melakukan tugasnya sebagai penggembala yang bertanggung jawag atas

kehidupan rohani umatnya. Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J, juga melancarkan

berbagai kritikan terhadap pemerintah Belanda berkaitan dengan aksi militer yang

dilakukan Belanda yaitu agresi Militer I dan II. Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J.,

melakukan kritikan cukup keras, seperti yang dikutip harian Merdeka 17 Mei 1949

dari berita yang ditulis oleh koran ANP 16 Mei yang terbit di Amsterdam yaitu:
41

“... aksi itu telah diadakan untuk merebut kembali apa jang sudah hilang,
melakukan pembalasan buat segala kekalahan, menghidupkan kembali apa jg.
sudah tidak ada, memperbaiki dengan kekerasan sendjata dan pertundjukan
kekuatan semua noda dan penghinaan jang telah diderita”, (Subanar 2003:xvii).

Belanda memberikan pengakuan kedaulatan pada Indonesia melalui Konferensi

Meja Bundar 27 Desember 1949, dengan pengakuan ini maka karya misi dapat

dilanjutkan kembali dan pusat hirarki Gerejawi dipindahkan kembali ke Semarang.

Tahun 1950 muncul kekuatan komunis melalui PKI, dengan cepat PKI dapat

menarik simpati rakyat kecil dan menjadi pendukung aktif PKI. Mereka tertarik

dengan janji-janji PKI yang akan memberikan perbaikan hidup materiil. Mgr. Alb.

Soegijapranata,S. J mengerti apa yang dihadapi oleh masyarakat ini, maka beliau

berusaha agar dari kalangan Katolik muncul usaha mendirikan organisasi bagi buruh,

nelayan dan lainnya. Organisasi itu terbentuk tanggal 19 Juni 1954 yang diberi nama

“Organisasi Buruh Pancasila”. Sejak itu mulai berkembang organisasi sosial yang

dibentuk oleh umat Katolik di seluruh wilayah Vikariat Apostolik Semarang, satu hal

yang unik dari organisasi sosial yang dibentuk umat Katolik adalah digunakannya

kata “Pancasila” sebagai nama organisasi bukan nama Katolik, (Gonggong 1993:79).

Tahun 1955 MAWI (Majelis Agung Wali Gereja Indonesia) melaksanakan sidang,

yang membicarakan perbagai hal tentang kegiatan sosial. Sidang ini menghasilkan

keputusan membentuk panitia untuk bidang sosial, sebagai ketua ditunjuk Mgr. Alb.

Soegijapranata, S. J. Hal ini sesuai dengan visi beliau yang menekankan perlunya

pegawai, pekerja, buruh, petani, dan pedagang Katolik berusaha menciptakan suatu

front sosial yang kuat sehingga mampu berkarya untuk semua golongan dan lapisan,

serta dilandasi oleh keadilan dan cinta kasih Katolik.


42

Saat menjabat menjadi Vikaris Apostolik Semarang, Mgr. Alb. Soegijapranata,

S. J., banyak melakukan perubahan dalam lingkungan Gereja. Hal ini dilakukan agar

Gereja peradaptasi dengan lingkungan, serta melestarikan nilai-nilai budaya

setempat. Pada tahun 1956,beliau mengijinkan semua Pastor yang berada di

wilayahnya menggunakan bahasa daerah dan bahasa Indonesia ketika mereka

memberikan sakramen permandian. Selain itu gamelan oleh Mgr. Alb.

Soegijapranata, S. J., dianjurkan dapat digunakan dalam perayaan ekaristi. Pada

sosial masyarakat untuk melestarikan dua budaya Jawa maka dapat dilihat usaha

Bruder Thimoteus FIC, dengan menciptakan permainan wayang yang isinya bersifat

kristiani, yang disebut wayang wahyu. Satu budaya Jawa lagi yang dijadikan alat

pengajaran agama adalah ketoprak, seperti Daud dan Goliath, Kisah Ester. Suatu

tindakan yang lebih unik adalah pelaksanaan slawatan, upacara ini biasanya hanya

terjadi dikalangan golongan Islam. Tetapi di Ponorogo hal itu dirubah dalam suatu

bentuk slawatan yang disesuaikan dengan ajaran Kristen, (Gonggong 1993: 82).

Sikap menyesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia sangat diharapkan, agar

agama Katolik menjadi bagian yang harmonis dan berpengaruh dalam kehidupan

bangsa Indonesia.

Pada masa setelah perang kemerdekaan selesai, umat Katolik di Vikariat

Apostolik Semarang kembali menata diri, pada tahap perkembangan pertama (1940-

1960) jumlah umat di Vikariat Apostolik Semarang 37.391 orang menjadi 78543

orang Katolik. Pertambahan jumlah umat Katolik tidak begitu besar mengingat

banyak peristiwa yang terjadi, seperti masa pendudukan Jepang, revolusi fisik, dan

aksi polisional. Banyak rohaniwan/wati diinternir, para misionaris yang tua pulang
43

karena sakit atau sukar menyesuaikan dengan keadaan yang baru. Hampir semua

orang Katolik Belanda pulang kira-kira 15.000 orang.

Melihat karya penyebaran misi iman Katolik tidak lepas dari usaha kerja keras

Mgr. Alb. Soegijaparanata, S. J., hal ini diungkapkan oleh Dr. J. Weitjens, S. J.,

sebagai berikut:

“Sulit menentukan jasa-jasa Mgr. Alb. Soegijaparanata, S. J., bagi Gereja di


Indonesia. Memang ada segi-segi lemah dalam cara beliau membimbing
Keuskupannya, akan tetapi dapat dikatakan bahwa berakarnya Gereja Katolik
di tanah Indonesia hal itu sebagian besar adalah berkat karya Uskup Agung
ini”, (Gonggong 1993:98).

4.2 Peranan Vikariat Apostolik Semarang terhadap Kehidupan Politik

4.2.1 Munculnya Partai Katolik

Dalam bidang politik, dari satu pihak Gereja tidak boleh mencampuri persoalan

politik parktis yang tidak berhubungan dengan agama, di lain pihak setiap orang

Katolik adalah seorang warganegara, yang boleh atau harus aktif dalam politik.

Akhirnya disatu fihak Gereja harus mempertahankan kesatuan Gereja dan umat

manusia di seluruh dunia, namun di lain pihak Gereja harus mengakui hak setiap

bangsa dan negara untuk mempertahankan persatuan dan kedaulatan bangsanya.

Hal inipun tertuang ketika Yesus diberikan pertanyaan. Katakanlah kepada


kami pendapatMu: “Apakah diperbolehkan membayar pajak pada Kaisar atau
tidak?”. Tetapi Yesus mengetahui kejahatan mereka lalu berkata: “Mengapa kamu
mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukanlah padaKu mata uang untuk
pajak itu”. Mereka membawa suatu dinar kepadaNya. Maka Ia bertanya kepada
mereka: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka: “Gambar dan tulisan
Kaisar”. Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib
kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada
Allah”. Mendengar hal itu heranlah mereka dan meninggalkan Yesus lalu pergi,
(Matius 22: 17-22).
44

Dari pernyataan diatas maka jelas mengapa Gereja memeberikan kebebasan

kepada semua umatnya untuk menggunakan haknya dalam berbangsa dan bernegara,

tapi jelas fungsi Gereja adalah menjaga agar tidak timbul pertikaian diantara

umatnya. Pernyataan Yesus pada hakekatnya merupakan proklamasi politis bagi

semua orang yang percaya kepadaNya, sebab adanya pemisahan kewajiban setiap

warga negara terhadap Allah dan pada negara, menunjukkan bahwa setiap

warganegara berkewajiban berpartisipasi mengurus negaranya. Namun ada kalanya

kewajiban kepada negara dapat dimanipulasi oleh negara ataupun oarng-orang yang

berkepentingan, sehingga setiap warganegara mempunyai hak-hak untuk meneliti

apakah kewajiban terhadap negara itu benar-benar sah atau tidak.

Pada saat Budi Utomo berdiri, golongan Katolik mulai terjun ke dunia

perpolitikan. Ketertarikan umat Katolik masuk dalam Budi Utomo adalah sifatnya

kepada agama yang netral. Maka dapat dilihat adanya orang Katolik Jawa yang

duduk dalam dewan pengurus berbagai cabang Budi Utomo, namun hali ini tidak

berlangsung lama. Antara tahun 1917-1918 anggota Katolik keluar dari Budi Utomo.

Hal ini dijelaskan oleh I. J. Kasimo yang menulis: “Sebab, meskipun kita
dengan partai-partai nasional itu mempunyai banyak kepentingan-kepentingan
nasional bersama, namun di sana kita merasa kekurangan satu hal sangat penting,
yaitu: perhatian soal agama Katolik di bidang politik. Memang sewajarnya, bahwa
suatu partai netral tidak dapat memperhatikan kepentingan-kepentingan agama, dan
berdasarkan azas netralnya malahan tidak boleh berbuat demikian. Lain dari pada itu,
meskipun tujuan-tujuan nasional golongan Katolik bangsa kita sama dengan tujuan
partai-partai netral: namun penentuan pemilihan syarat-syarat, untuk mecapai tujuan
tersebut dapat berlainan sama sekali, karena azas dan keyakinan berlainan”.
Lagipula: orang-orang Katolik merasakan adanya rasa curiga dari anggota-anggota
yang lain terhadap agama mereka. Bukankah agama Kristen (Katolik) itu agamanya
orang Belanda? Bagaimana mungkin orang-orang Katolik itu merasa sejiwa dan
sehati dengan kami? Bagaimana mungkin mereka itu nasionalis, patriot sejati?
Pastilah mereka itu termasuk “barisan kaum sana” bukan “barisan kaum sini”!
bahkan mereka yang sudah terpilih menjadi pengurus pun sering kali masih
dicurigai, sekalipun tidak terang-terangan, (Pipitseputra 1970:230).
45

Pada tahun 1917 berdiri Voorloopig Katholieke Comité Voor Politieke Actie.

Pada tahun yang sama berdiri juga Katholieke Vereeniging Voor Politieke Actie,

yang pada bulan November 1918 namanya diubah menjadi Indische Katholieke

Partij. Anggota dari Indische Katholieke Partij terdiri dari orang-orang Belanda

Katolik dan Jawa Katolik, namun anggota dari orang Belanda hampir 100% dari

jumlah seluruh anggota. Pada tahun sebelumnya berdiri Katholika Wandawa yang

anggotanya hampir semuanya guru tamatan Muntilan. Pada tahun yang sama Pater J.

J. Van Rijckevorsel mendirikan Katholieke Sociale Bond di Jakarta, partai ini dapat

berkembang di Yogyakarta pada tahun 1919 dengan anggota 30 orang Jawa dan 50

anggota Belanda. Katholieke Social Bond merupakan organisasi pergerakan sosial.

Pada tahun 1920 dibentuk Poesra Katolika Wandawa di Yogyakarta untuk

menggantikan Katholieke Social Bond, sedangkan 1923 terbentuk Wanita Katolik

pertama di Yogyakarta, dimana cabang-cabangnya akan dipersatukan dalam Poesra

Wanita Katolik. Tahun 1914 terbit Djawi Sraya sebagai majalah bulanan Poesra

Katolika Wandawa dan sebagai alat penghubung antar bekas siswa Muntilan.

Pertengahan 1920 Djawi Sraya diganti menjadi Swaa Tama dimana majalah ini

bersifat netral, dan pada Februari 1924 diputuskan bahwa Swara Tama akan menjadi

mingguan yang jelas bersifat Katolik.

Brosur yang ditulis Romo F. Van Lith, S. J., di dalam majalah Belanda berjudul

“De politiek van Nederland ten opzichte van Nederlandsch Indië” (Politik Negeri

Belanda terhadap Hindia Belanda) tahun 1922, merangkum gagasan, bahwa Gereja

mendukung sepenuhnya perjuangan orang-orang pribumi untuk mencapai

pemerintahan sendiri. Brosur yang ditulis oleh Romo F. Van Lith, S. J., membuat
46

banyak orang tercengang terutama di kalangan orang Katolik di Hindia. Hal ini dapat

dimaklumi karena apabila timbul pemberontakan tempat mana yang harus diambil

oleh para misionaris.

F. Van Lith mengemukakan: “Setiap orang tahu, kami, para misionaris, ingin
bertindak sebagai penengah; tetapi setiap orang tau juga, seandainya terjadi suatu
perpecahan, meskipun hal itu tidak kami harapkan, sedangkan kami terpaksa
memilih, kami akan berdiri di pihak golongan pribumi”.

Pandangan F. Van Lith, S. J., memberikan dukungan dan legitimasi pada

tokoh-tokoh muda untuk bergerak dalam bidang politik bagi perbaikan nasib seluruh

bangsa. Karena pengaruh F. Van Lith, S. J., pada bulan Agustus 1923 di Yogyakarta

berkumpullah kurang lebih 30 orang bekas murid Kweekschool (sekolah guru). Usia

mereka antara 20-30 tahun, mereka menyadari bahwa kedudukan mereka di kalangan

masyarakat tidak dapat dipandang tinggi, mereka juga menyadari bahwa jumlah

orang Katolik Jawa pada saat itu belum banyak. Meskipun demikian, dalam

pertemuan itu mereka berani mengambil keputusan untuk mendirikan partai Katolik

untuk golongan Katolik Jawa sendiri. Partai ini tidak langsung berdiri, namun

membutuhkan waktu setahun untuk mempersiapkannya.partai ini diprakarsai oleh F.

S. Harjadi, seorang guru berijazah “hoofdakte”, R. M. Jacob Soejadi, seorang dokter

hewan , dan I. J. Kasimo, guru sekolah pertanian. Partai Katolik baru ini bernama

Katholieke Vereeniging voor Politieke Actie Afdeling Katholieke Javanen

(Perkumpulan Katolik untuk aksi politik Bagi Orang-orang Jawa). Diantara orang-

orang Jawa partai ini dikenal dengan nama Pakempalan Politik Katolik Djawi

(PPKD), (Tim wartawan Kompas 1980:22)


47

Tujuan partai ini adalah suatu perjuangan dalam rangka emansipasi bangsa,

yang bertujuan mencapai kemerdekaan dan kedaulatan. Namun hal ini tentu saja

akan ditentang oleh pemerintah Belanda maka mereka menggunakan siasat bahwa

tujuan partai dicantumkan secara terselubung, dan yang dirumuskan adalah ikut serta

berusaha membangun dan memajukan negara.

Pedoman pokok partai adalah:

a. Aksi PPKD terletak pada lapangan politik, yaitu politik yang berdasarkan

asas-asas Katolik.

b. Aksi itu bersifat pada permulaan nasional Jawa, kemudian nasional

Indonesia.

c. Haluan PPKD harus evolusioner, artinya menurut jalan yang teratur,

tetapi dengan tempo yang cepat.

Pakempalan Politik Katolik Djawa (PPKD) semula berintegrasi dengan IKP

(Indishe Katholieke Partj), tetapi karena memperjuangkan cita-cita kaum pribumi,

maka akhirnya terpaksa memutuskan federasi itu pada 22 Februari 1925. Nama

Pakempalan Politik Katolik Djawa (PPKD) diganti menjadi Perkumpulan Politik

Katolik di Djawa, dengan satu wakil di Volksraad (1923-1927), yaitu R. M Soejadi.

Pada tahun berikutnya muncul kecenderungan organisasi pergerakan nasional di

Indonesia berkembang dari organisasi lokal menjadi partai nasional. Seperti halnya

Perkumpulan Katolik di Djawa mulai menaruh perhatian pada golongan Katolik di

luar Pulau Jawa. Maka tahun 1930, Perkumpulan Politik Katolik di Djawa menjadi

Persatuan Politik Katolik Indonesia (PPKI), yang mempunyai cabang di Jakarta,

Medan, dan Ujung Padang, dan sebelum Jepang menyerbu ke Indonesia, Persatuan
48

Politik Katolik Indonesia (PPKI) sudah mempunyai 41 cabang. Untuk masa sidang

1931-1935 Persatuan Politik Katolik Indonesia (PPKI) memduduki satu kursi

perwakilan. Persatuan Politik Katolik Indonesia (PPKI) tetap menduduki kursi

perwakilan di dalam Volksraad sampai dewan ini bubar lenyap pada tahun 1942.

kursi perwakilan di Volksraad sejak 1931-1942 selalau diduduki oleh I. J. Kasimo.

Tahun berikutnya Volksraad dibubarkan dengan masuknya Jepang ke Indonesia,

pendudukan Jepang membawa suasana yang suaram bagi golongan Nasrani,

termasuk bagi umat Katolik. Semua itu karena kecurigaan Jepang pada mereka yang

memeluk agama yang sama dengan Belanda, yaitu musuh mereka.

Perjuangan kemerdekaan dibawah pimpinan I. J. Kasimo, selama itu sangatlah

penting artinya bagi masa depan Gereja Katolik di Indonesia, yaitu pengertian dan

pandangan Sukarno pribadi, yang diperolehnya mengenai Gereja Katolik.

Dalam pidato Pancasilanya tanggal 1 Juni 1945 Sukarno menekankan, agar

para penganut berbagai agama di Indonesia bekerjasama, sebab tiap agama

mengajarkan toleransi. Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Kasimo

maupun pemimpin Katolik tidak ragu lagi untuk mencurahkan tenaga dan pikiran

bagi Republik Indonesia.

Pada tanggal 3 November 1945 pemerintah Republik Indonesia yang baru

mengeluarkan maklumat politik, yang menganjurkan kepada rakyat untuk

mendirikan partai politik yang tujuannya adalah sebagai sarana perjuangan untuk

mempertahankan kemerdekaan dan menjamin keamanaan masyarakat. Diharapkan

agar partai-partai sudah terbentuk sebelum dilangsungkan pemilihan anggota Badan


49

Perwakilan Rakyat bulan Januari 1946, dan mendapat sambutan baik dari

masyarakat.

Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) sebuah badan federasi dari

partai Islam yang dibentuk oleh Jepang berdiri sebagai sebuah partai tanggal 7

November 1945, di bawah pimpinan Dr. Soekiman Wirjosandjojo. Pada tanggal yang

sama berdiri juga Partai Komunis Indonesia (PKI) dibawah pimpinan Mr. Moh.

Jusuf. Partai Kristen Indonesia (Parkindo) tanggal 10 November, ketuanya Mr. A. M.

Tambunan. Dan awal bulan Desember berdiri Partai Sosialis (PS) dibawah pimpinan

Sutan Sjahrir. PNI (Partai Nasional Indonesia) didirikan kembali tanggal 29 Januari

1946 dengan ketuanya S. Mangoensarkoro. Partai Katolik sendiri pada masa Jepang

tidak aktif berjalan, ketika Maklumat Pemerintah itu dikeluarkan, I. J. Kasimo segera

mengundang para pemimpin PPKI yang ada di Surakarta untuk mengadakan rapat.

Rapat ini berlangsung tanggal 15 November dan diputuskan berdirinya kembali

Persatuan Politik Katolik Indonesia, dan memutuskan untuk mengadakan kongres

partai tanggal 8 Desember 1945. Kongres yang diadakan di Surakarta memutuskan

mengganti nama Persatuan Politik Katolik Indonesia dengan nama Partai Katolik

Republik Indonesia (PKRI).

Partai Katolik Republik Indonesia (PKRI) bertujuan memajukan Republik

Indonesia pada umumnya, serta mempertahankan kedudukan serta kelangsungan

hidupnya pada khususnya. Partai Katolik Republik Indonesia (PKRI) berkedudukan

di Surakarta dan pada tahun 1948 dipindahkan ke ibu kota Republik Indonesia yaitu

Yogyakarta. Kongres di Surakarta, juga memutuskan untuk membentuk Angkatan

Muda Katolik Republik Indonesia (AMKRI). Pada saat itu pemerintah RI belum
50

mempunyai senjata kecuali semangat dan tekad bangsa. Maka untuk menggairahkan

dan memobilisir tekad rakyat untuk merdeka, pemerintah Republik Indonesia yang

masih muda itu sangat membutuhkan wadah-wadah sebagai sarana perjuangan, maka

jawaban yang diberikan golongan Katolik di bawah Kasimo adalah positif. Partai

Katolik Republik Indonesia (PKRI) hanya mempunyai anggota di Jawa dan

Sumatera, karena luar Jawa dan Sumatera dengan cepat jatuh dalam kekuasaan

penguasa Belanda.

Pada waktu Belanda pada bulan Desember 1948 menduduki Yogyakarta, I. J.

Kasimo dan anggota Partai Katolik Republik Indonesia (PKRI) antara lain R. M.

Santjojo, dan menteri-menteri Sukiman, Susanta Tirtapradja, K.H. Maskur dan

Murdjani menggabungkan diri dengan pasukan gerilya Republik Indonesia. Pada saat

itu I. J. Kasimo yang berkedudukan sebagai ketua Partai Katolik Republik Indonesia

(PKRI) tetap memimpin partai. I. J. Kasimo bukan hanya memberikan intruksi

namun juga mendatangi anggota-anggotanya, bukan hanya di daerah Yogyakarta dan

Solo, melainkan juga sampai daerah pendudukan Semarang dan Jawa Barat.

Namun pergerakan umat Katolik tidak hanya berlangsung di Jawa dengan pusat

di Yogyakarta tapi juga di Sumatera, perjuangan umat Katolik ini aktif antara tahun

1945-1949. Tanggal 10 November 1945 Partai Politik Katolik berdiri di Medan,

sebelumnya berdiri Persatuan Politik Katolik Indonesia, dimana kata Persatuan

diganti menjadi Politik yang didirikan oleh Puspasutjipta, Dr. Darman, A.

Pandiangan, Hasan Marpaung, Ph. Hutauruk, dan lain-lain. Nama partai ini diubah

lagi tanggal 1 November 1945 menjadi Partai Katolik Nasional Indonesia, cabangnya

dibuka di Pematangsiantar, Kabandjahe, Pangkalanbrandan, Pematang Tanah Jawa,


51

sawahduapane, Perdagangan, dan lain-lain. Pada Januari 1946, Partai Katolik

Nasional Indonesia (PKNI) mengadakan hubungan dengan Partai Katolik Republik

Indonesia (PKRI), yang menghasilkan peleburan Partai Katolik Nasional Indonesia

(PKNI) menjadi cabang Partai Katolik Republik Indonesia (PKRI).

Perkembangan kehidupan politik tidak hanya terjadi di Jawa dan Sumatera, tapi

Kalimantan Barat yang menjadi negara buatan Belanda mempunyai 11 orang Katolik

di Parlemen, 8 Dayak, dan 3 orang Tionghoa, yaitu 27% dari jumlah anggota negara

bagian Kalimantan Barat. Pulau-pulau di luar Jawa dan Sumatera juga membentuk

partai politik yang pada Kongres Umat katolik Seluruh Indonesia (KUKSI) di

Yogyakarta, partai Katolik itu melebur menjadi satu partai tunggal.

Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia (KUKSI) berlangsung di Yogyakarta

tanggal 7 sampai 12 Desember 1949, Kongres ini di prakarsai oleh I. J Kasimo.

Tujuan dari kongres ini adalah menciptakan persatuan diantara golongan Katolik,

dan diadakannya penyelarasan dari semua organisasi Katolik di seluruh Indonesia,

dibawah satu bendera dan satu nama. Pada sidang hari pertama Presiden Sukarno,

Perdana Menteri Hatta dan beberapa Menteri datang. Pada konggres ini Presiden

Soekarno mengucapkan pidatonya:

“Menunjuk kepercayaan kepada Tuhan sebagai dasar Republik dan demokrasi.


Baik kepercayaan terhadap Tuhan, maupun demokrasi dicantumkan kedalam
Pancasila. Partai Katolik hendaknya jangan mengejar kepentingan sendiri
diatas kepentingan umum negara”, (Pipitseputra 1970:342).

Keputusan terpenting dari Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia (KUKSI)

ialah peleburan dari semua Partai Katolik yang ada di Indonesia menjadi satu partai

dengan nama: Partai Katolik, ini terjadi pada tanggal 12 Desember 1949. Partai
52

Katolik mula-mula berkedudukan di Yogyakarta, tapi kemudian dipindahkan ke

Jakarta. Ketua umum pertama dipilih I. J Kasimo. Resolusi tentang peleburan itu

berbunyi:

Kami umat Katolik seluruh Indonesia, sejak dua puluh lima tahun yang lalu
senantiasa untuk mengadakan satu Partai Katolik saja, yang meliputi seluruh
tanah air kita, hal mana ternyata dari riwayat perkembangan beberapa
perkumpulan Katolik, yang bergerak di lapangan politik, pada tanggal 12
Desember 1949 berkumpul dalam Kongres Umat katolik Seluruh Indonesia di
Yogyakarta, dengan berkat dan nikmat Tuhan Yang Mahaesa menyatakan
dengan suara bulat, bahwa saat untuk mendirikan satu Partai Katolik saja buat
seluruh Indonesia telah tiba; memutuskan, menjelmakan:
1. Partai Katolik Republik Indonesia (PKRI), berdiri tanggal 8 Desember
1945 di Surakarta,
2. Partai Katolik rakyat Indonesia (PKRI), didirikan di Flores,
3. Partai katolik rakyat Indonesia (PKRI) didirikan di Makasar,
4. Partai Katolik Indonesia Timor (Parkit) didirikan di Timor,
5. Persatuan Politik Katolik Flores (Perpokaf), yang didirikan di Flores,
6. Permusyawaratan Majelis Katolik (Pemakat), yang didirikan di Manado,
7. Partai Katolik Indonesia Kalimantan (Parkika), yang didirikan di
Kalimantan,
Menjadi satu partai kesatuan untuk semua umat Katolik seluruh Indonesia,
dengan nama Partai Katolik, (Tim Wartawan Kompas 1980:70).

Pembentukan Partai Katolik diberitahukan kepada Sri Paus, dalam telagram

yang disusun oleh I. J. Kasimo dan ditandatangani oleh Mgr. Alb. Soegijapranata, S.

J., sebagai Vikaris Apostolik, yang menyampaikan pernyataan taat kepada Sri Paus

dan pemberitahuan terbentuknya Partai Katolik. Telegram ini diterjemahkan dalam

bahasa Perancis oleh Romo B. Schouten, S. J, dan dikirimkan ke Vatikan.

Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia (KUKSI), juga mengambil keputusan

untuk mendukung pemerintah agar Irian Barat dimasukkan ke dalam wilayah

Republik Indonesia. Kongres pertama Partai Katolik diadakan di Semarang 4

Agustus 1950, yaitu meresmikan berdirinya Partai Katolik dan mensahkan anggaran

dasar partai. Tujuan dan azas Partai Katolik adalah: “Partai Katolik berdasarkan
53

Ketuhanan Yang Mahaesa pada umumnya serta Pancasila pada khususnya, dan

bertindak menurut azas-azas Katolik”. Tujuan dari Partai Katolik adalah bekerja

sekuat-kuatnya untuk mengembangkan kemajuan Republik Indonesia, (Pipitseputra

1970: 343). Dalam kongres ini Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J., berpesan:

“Agar Partai Katolik mau bekerja keras guna kepentingan-kepentingan sosial.


Ditegaskan pula jika Gereja di Indonesia mau hidup, seluruh umat Katolik
hendaknya bersedia untuk bekerja dan berkorban”, (Gonggong 1993: 84).

Kongres pertama Partai Katolik ini memutuskan mengadakan konsolidasi

diantara semua golongan Katolik Indonesia, termasuk keturunan Belanda dan Cina

yang menjadi warganegara Indonesia. Ini dapat dilihat dengan sistem pembagian

dalam Dewan Pimpinan Partai diamana diantara 7 orang anggota Dewan Pimpinan

Partai (DPP) terdapat seorang warganegara Indonesia keturunan Belanda dan seorang

warganegara keturunan Cina. Kongres ini juga menghasilkan resolusi tentang

kebebasan hak beragama, pendidikan, pelayanan, dan jaminan sosial. Dalam Partai

Katolik terdapat juga slogan-slogan partai seperti: “Vox Populi Vox Die” (suara

rakyat itu suara Tuhan), “Bonum Populi” (demi kebaikan rakyat banyak), serta

“Tujuan yang baik dan benar harus lewat jalan yang baik dan benar”. Pada tahun-

tahun berikutnya Partai Katolik menunjukkan perkembangan yang cukup

menggembirakan, karena dalam percaturan politik di Indonesia, banyak tokoh Partai

Katolik yang muncul dan berperan, serta mampu mneduduki jabatan-jabatan tinggi.

Hal ini patut disyukuri karena sebagai partai yang kecil ditengah-tengah partai besar,

serta dari proporsi pengikutnya yang sangat kecil di tengah-tengah golongan

mayoritas yang beragama Islam.


54

Tahun 1950, Negara-Negara Bagian Republik Indonesia Serikat menyatakan

keinginan untuk bersatu dengan Republik Indonesia. Pada tanggal 16 Agustus 1950

lahir Negara Kesatuan Republik Indonesia yang negaranya meliputi seluruh wilayah

Hindia Belanda kecuali Irian Barat. Dalam kabinet Negara Kesatuan Republik

Indonesia yang kemudian terbentuk, Partai Katolik selalu diikutsertakan.

Ketika berlangsung Pemilu pertama tahun 1955, Partai Katolik memenangkan

770.740 suara untuk DPR dan 748.591 suara untuk Konstituante. Partai Katolik

memperoleh 6 kursi dari 260 kursi di DPR (2,3%), dan 10 kursi untuk Konstituante

dari 520 kursi (1,9%), Partai Katolik keluar sebagai partai nomor 7 di antara 20

partai yang ikut dalam Pemilu. Berdasar hasil Pemilu, maka tahun 1955 terbentuk

Kabinet Koalisi dipimpin Mr. Ali Sastroamidjojo, dan Partai Katolik memperoleh

dua kursi yaitu Menteri Agraria dipegang oleh Prf. Mr. A. A. Soehardi, dan Menteri

Muda perhubungan ditunjuk A. B. de Rozari.

Tanggal 21 Februari 1957, Presiden mengundang para pemimpin partai politik

dan masyarakat ke Istana Negara, dan melontarkan Konsepsi Presiden. Konsepsi

Presiden menganjurkan perubahan sistem pemerintahan yang berlaku saat itu, guna

mengahadapi kesulitan-kesulitan negara. Demokrasi Parlementer diganti menjadi

Demokrasi Indonesia dengan azas Gotong Royong, dengan dibentuknya Dewan

Nasional yang diangkat oleh Presiden, berfungsi sebagai penasihat untuk kabinet.

Disarankan juga pembentukan “Kabinet Kaki Empat atau Kabinet Kaki Kuda”, (Tim

Wartawan Kompas 1980:83), dimana setiap kabinet yang terbentuk harus berintikan

partai-partai politik yang keluar dari Pemilu sebagai empat besar yaitu: Nahdatul

Ulama (NU), Partai Nasional Indonesia (PNI), Masyumi, dan Partai Komunis
55

Indonesia (PKI). Masing-masing partai mendapat 20%-25% dari jumlah kursi dalam

DPR, dengan terbentuknya Kabinet Kaki Empat kestabilan pemerintahan dapat

dicapai. Tanggal 28 Februari 1957, PKI, Murba, PNI, PRN, Baperki, dan Persatuan

Pegawai-pegawai Kepolisian Negara dengan tegas menerima Konsepsi Presiden.

NU, PSII, Parkindo, IPKI, dan PSI menyatakan mereka masih mempertimbangkan,

dan 2 partai yang menolak secara tegas adalah Masyumi, dan Partai Katolik. Sebagi

akibatnya dalam Kabinet Karya di bawah pimpinan Perdana Menteri Ir. Djuanda,

Partai Katolik tidak diikutsertakan, demikian pula pembentukan kabinet-kabinet

selanjutnya. Baru tahun 1964, setelah I. J. Kasimo tidak menjadi ketua DPP, maka

Partai Katolik diikutsertakan dalam kabinet.

Sikap tegas Kasimo yang menolak Konsepsi Presiden, mengundang rasa kagum

dikalangan politik. I. J. Kasimo sebagai pimpinan partai golongan minoritas, berani

mengambil resiko yang besar demi prinsip, dengan itu pula wibawa Partai Katolik

naik.

Sikap I. J. Kasimo banyak mendapat kritik dalam tubuh Partai Katolik seperti;

Djoko Tirto dan H. J. Soemarto dari Komisariat Yogyakarta. Demikian juga saat

berlangsungnya Kongres Partai Katolik di Surakarta tahun 1958. Dua tahun

kemudian dalam kongres partai tahun 1960, Kasimo menyerahkan kedudukan Ketua

DPP Partai Katolik kepada Drs. Frans Seda.

Pada saat terjadinya Gerakan 30 September 1965, anggota Partai Katolik ikut

serta membentuk KAP- Gestapu dan mendukung organisasi Katolik lain yang ikut

dalam KAMI. Partai Katolik juga mendukung adanya Tritura oleh masyarakat serta

memperjuangkan kebebasan bagi semua golongan agama dalam MPRS tahun 1968.
56

Menjelang Pemilu 1971, kedudukan Partai Katolik melemah. Hal ini

disebabkan, karena beberapa tokoh politik dalam Partai Katolik memilih bergabung

dalam Golkar, akibatnya Partai Katolik hanya memperoleh 3 kursi dalam DPR.

Tahun 1973, saat masa Orde Baru berlangsung, terjadi penyederhanaan partai.

Hal ini diungkapkan oleh Menteri dalam Negeri Amir Machmud dalam
anjurannya: partai-partai politik agar mengadakan fusi. Pokoknya; dalam Pemilihan
Umum tahun 1976 harus ada 3 partai saja, yaitu 2 bendera partai dan 1 bendera
Golongan Karya. Partai-partai Islam (NU, Parmusi, Perti, dan PSII) disarankan agar
bergabung menjadi sati. Partai-partai yang lainnya (PNI, Partai Katolik, Parkindo,
IPKI, Murba) termasuk dalam “Demokrasi Pembangunan”. Sedangkan Golongan
Karya akan berdiri sendiri sebagai partai politik, (Tim wartawan Kompas 1980: 102).

Partai Katolik dipersatukan dengan Parkindo, PNI, Murba, dan IPKI

membentuk Partai Demokrasi Indonesia (PDI) sampai sekarang. Meskipun Partai

Katolik sudah tidak ada dan melebur menjadi Partai Demokrasi Indonesia, namun

mereka masih mempunyai visi dan misi untuk agama Katolik. Dalam wadah Partai

Demokrasi Indonesia, Partai Katolik tetap memperjuangkan “Salus Populi Suprema

Lex” yaitu kesejahteraan rakyat adalah hukum tertingi. Partai Katolik juga tetap

memperjuangkan trilogi perjuangan: demokrasi, pembaruan, dan pembangunan.

Umat Katolik diberi kebebasan untuk berpolitik dengan masuk partai manapun,

tetapi tetap menjunjung adanya visi dan misi dari agamanya. Hal ini terbukti dengan

banyaknya umat Katolik yang berpolitik mendapatkan kepercayaan untuk

menduduki tempat-tempat yang strategis, dikarenakan keteladanan, kedisiplinan, dan

keinginan bekerjakeras, serta kejujuran yang dalam melaksanakan semua

kewajibannya.

4.2.2 Pengaruh Partai Katolik terhadap Vikariat Apostolik Semarang


57

Partai Katolik yang tumbuh dalam Vikariat Apostolik Semarang tentu banyak

berpengaruh bagi kehidupan masyarakat di wilayah Vikariat ini. Partai Katolik

adalah bagian dari tubuh Gereja, jadi antara Partai Katolik dan Gereja saling

bekerjasama, dalam hal ini kerjasama bukan bersifat politik namun pada konsultatif.

Unsur partai (pengurus) menghadap Vikaris Apostolik Semarang hanya sekedar

konsultasi, dimana Vikaris (Uskup) menyampaikan ajaran atau pandangan Gereja

sedangkan Partai Katolik atau pengurus partai diharap mampu menerapkan apa yang

diberikan Vikaris, namun bila tidak sesuai mereka dapat tidak menjalankannya.

Gereja mendukung adanya Partai Katolik namun bukan berarti Gereja terlibat

langsung, Gereja hanya memberikan motivasi maupun saran. Sebagai Vikaris di

daerah Vikariat yang baru terbentuk Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J., menyadari

bahwa Gereja tidak boleh mencampuri urusan politik, namun situasi yang tidak

memungkinkan maka tidak ada jalan lain kecuali menerimanya. Mgr. Alb.

Soegijapranata, S. J., juga menyadari beliau tidak hanya seorang warga negara, tetapi

juga seorang Uskup.

Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J, tertarik dalam bidang politik dan tidak jarang

terlibat dalam politik paktis. Keterlibatan Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J.,

menyebabkannya harus bersedia menerima kritikan dari berbagai pihak terutama dari

umat Katolik sendiri. Umat Katolik beranggapan kurang pada tempatnya seorang

Uskup melibatkan diri dalam bidang politik paktis, namun hal itu ditanggapi bahwa

keterlibatan Mgr. Alb. Soegijapranata adalah wajar, apalagi keterlibatannya adalah

dalam kedudukannya sebagai warganegara dan bukan untuk mendapatkan

kedudukan secara pribadi, (Gonggong 1983 :97). Pada masa sekarang jika ada
58

rohaniwan, biarawan maupun biarawati yang masuk dalam politik praktis, mereka

diberi pilihan tetap menjadi rohaniwan atau menjadi umat biasa.

Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J., selalu mendukung kegiatan politik yang

dilakukan oleh umatnya. Salah satu wujud keperduliannya adalah Ia sebagai salah

seorang organisator Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia (KUKSI) bersama I. J.

Kasimo. Selain itu I. J. Kasimo menyampaikan resolusi KUKSI pada Mgr. Alb.

Soegijapranata untuk mendapat persetujuan serta ijin agar dapat dilaksanakan. Jadi

Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J., dalam jabatan resminya sebagai Vikaris Apostolik

Semarang, namun mempunyai peranan yang cukup luas dari pada wilayahnya.

Meskipun Gereja dan Partai Katolik adalah dua hal yang berlainan, tapi pihak partai

masih memerlukan ijin dari Mgr. Alb. Soegijaparanata, S. J., selaku pimpinan Gereja

untuk tindakannya melebur diri menjadi satu organisasi politik yang meliputi seluruh

Indonesia dan yang bergelar “Katolik”, (Moeryantini 1975:121).

Perbedaan paham mulai terjadi antara Mgr. Alb. Soegijaparanata, S. J., dengan

Partai Katolik bersumber pada Konsepsi Presiden. Secara jelas Partai Katolik

menolak Konsepsi itu, tapi Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J., mendukung Konsepsi

Presiden itu. Ketidaksepakatan pendapat itu terjadi karena perbedaan sikap terhadap

Konsepsi Presiden. Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J., menghendaki Partai Katolik

mendukung ide Demokrasi Terpimpin, dan ini mendapat dukungan dari Partai

Katolik Cabang Yogyakarta. Gereja sebenarnya tidak dapat bekerjasama dengan

Komunis (PKI), tapi beliau dalam wawancara dengan seorang wartawan bernama I.

Oudejans termuat dalam majalah “Indisch Missietijdschrift” no 41 tahun 1958

mengatakan:
59

Bahwa kebijaksanaan yang ditempuh oleh Partai Katolik tidak tepat,


oleh karena di Indonesia tidak dikenal oposisi loyal seperti di negara-negara
Barat. Di Indonesia oposisi di pandang berbahaya bagi negara.
Oleh karena itu lebih baik bekerjasama dan memerangi komunisme dan
musuh-musuh Gereja lainnya dari dalam pemerintahan. Jalan ini akan lebih
berhasil. Orang-orang Katolik akan dapat mempunyai pengaruh apa jika
mereka abstain?

Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J., mengambil tindakan yang makin menjelaskan

sikapnya tidak sejalan dengan Partai Katolik., yaitu mengisi dua kursi Dewan

Nasional yang disediakan untuk golongan Katolik. Partai Katolik menolak duduk

dalam Dewan Nasional, tapi Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J., justru berusaha

mengisinya, dan di Yogyakarta menemukan dua orang Katolik yang bersedia duduk

dalam Dewan Nasional yaitu Ir. Supriadi dan R. E. Soewandi. Usaha itu membuat

hubungan antara Partai Katolik dan Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J., makin jauh, tapi

Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J., beranggapan Partai Katolik tidak sama dengan

Gereja Katolik atau golongan Katolik, (Moeryantini 1975:123), maka beliau

memasukan dua orang Katolik sebagai wakil golongan Katolik, bukan wakil Partai

Katolik. Selanjutnya sejak tahun enam puluhan sampai wafatnya Mgr. Alb.

Soegijaparanata, S. J., hubungannya renggang dengan Partai Katolik. Namun hal ini

dapat di mengerti, bahwa masing-masing pihak berjuang dan mengambil sikap sesuai

dengan hati nuraninya masing-masing.

Namun peranan Partai Katolik secara tidak langsung berpengaruh pada Vikariat

Apostolik Semarang. Partai Katolik bukan hanya berperan dikancah Nasional tetapi

juga Internasional.
60

Dalam Kongres Umat Katolik seluruh Indonesia yang berlangsung di

Yogyakarta, merupakan kongres nasional yang pertama kali berlangsung setelah

kemerdekaan. Kongres ini dihadiri banyak pejabat antara lain; Presiden Soekarno,

Wakil Presiden Moh. Hatta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sri Paku Alam VIII,

serta menteri-menteri, dan pejabat yang lain. Partai Katolik juga menepis anggapan

bahwa, bahwa orang yang beragama Katolik lebih mendukung Kolonial tanpa

mempunyai rasa kebangsaan, sehingga saat mereka terjun ke suatu partai orang-

orang Katolik merasakan adanya rasa curiga dari anggota lain. Dengan berdirinya

Partai Katolik dan kiprahnya antara lain dalam penyelesaian kasus Irian Barat oleh

Drs. Frans Seda wakil dari Partai Katolik, yang merundingkan tentang masalah Irian

Barat dan “Bunker Plan” (dalam 2 tahun pemerintah Belanda harus menyerahkan

Irian Barat kepada Indonesia) dengan Partai Katolik Belanda KPV (Katholieke

Volkspartij), dan usaha ini berhasil. Tanggal 15 Agustus 1962 ditandatangani

Perjanjian New York berdasar prinsip “Bunker Plan”, Irian Barat diserahkan kepada

PBB yang membentuk United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA),

yang mengurus kepemerintahan sementara, dan tanggal 1 Mei 1963 Irian Barat

secara resmi menjadi bagian dari Republik Indonesia.

4.3 Perubahan Kedudukan Vikariat Apostolik Semarang

4.3.1 Hirarki Gereja Indonesia

Menyaksikan perkembangan penyebaran misi di Indonesia, yang mengalami

banyak tantangan. Tanggal 3 Januari 1961 Paus Yohanes XXIII mendirikan Hirarki

Gereja Indonesia. Hal ini dilatarbelakangi oleh:


61

1. Internasional, Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia, sedangkan Irian


Jaya belum mereka lepaskan, hal ini menimbulkan semua perusahaan dan
perkebunan Belada dinasionalisasi dan para warganegara Belada diusir. Namun
ada satu perkecualian: para misionaris, prater, bruder, suster boleh tetap ada
dengan beberapa pembatasan.
2. Dalam Negeri, pada tahun 1950-an bertambah kuatnya Partai komunis. Kuatnya
hasutan Partai Komunis dapat dilihat di Ambarawa, Kongregasi Suster
Fransiskanes sebagaian besar para karyawan karyawatinya menjadi anggota
SOBSI, Direktur Rumah Sakit dokter Djajus adalah tokoh HSI (Himpunan
sardjana Indonesia) yang bernaung di bawah PKI.
3. Pertambahan jumlah paroki dari 21 pada tahun 1941 menjadi 39 pada tahun
1961. Di Yogyakarta, misalnya; Ganjuran, Bantul, Kalasan, Wates, Pakem,
Medari, Klepu, dan Wonosari, dulunya dilayani oleh Kotabaru, tetapi sekarang
sudah mandiri, (Tim KAS 1992:83).

Melihat penjelasan diatas, Gereja makin bertambah besar dan merupakan

sarana kesatuan antara manusia dengan Allah dan persatuan seluruh umat manusia.

Dalam perjalanannya Gereja Katolik di Indonesia merasa sudah dewasa, dan perlu

diberlakukan seperti Gereja Katolik di negara lain yang imannya sudah mengakar,

bukan sebagai daerah misi lagi. Wali Gereja Indonesia dalam sidang di Girisonta

Jawa Tengah, 9-16 Mei 1960, membahas tentang Hirarki Gereja di Indonesia.

Keputusan hasil sidang itu ditandatangani oleh seluruh Wali Gereja Indonesia

tanggal 12 Mei 1960 dan di kirim kepada Paus Yohanes XXIII di Roma.

Permohonan ini ditanggapi dalam dekrit “Quod Christus” tanggal 3 Januari 1961,

Sri Paus memandang Gereja Katolik Indonesia sudah dapat mandiri, sehingga Beliau

dengan senang hati mendirikan Hirarki Gereja Indonesia. Sri Paus berharap agar

pemerintah Indonesia selalu melindungi agama Katolik dan segala kegiatan

ibadahnya.

Gereja Katolik Indonesia berakar dan membumi dalam alam kehidupan bangsa

sendiri. Dengan adanya hirarki, istilah Vikariat dan Perfektur Apostolik diganti
62

menjadi Keuskupan Agung dan Keuskupan. Saat Hirarki Gereja Indonesia didirikan

terdiri 6 propinsi Gerejawi:

1. Keuskupan Agung Medan dengan Keuskupan-keuskupan sufragan Sibolga,

Padang, Palembang, Tanjungkarang, dan Pangkalpinang.

2. Keuskupan Agung Jakarta dengan Keuskupan-keuskupan sufragan Bogor dan

Bandung.

3. Keuskupan Agung Semarang dengan Keuskupan-keuskupan sufragan

Purwokerto, Surabaya, dan Malang.

4. Keuskupan Agung Pontianak dengan Keuskupan-keuskupan sufragan Ketapang,

Sintang, Banjarmasin, dan Samarinda.

5. Keuskupan Agung Ujungpandang dengan keuskupan-keuskupan sufragan

Manado, dan Amboina.

6. Keuskupan Agung Ende dengan Keuskupan-keuskupan sufragan Larantuka,

Ruteng, Atambua, Weetebula, dan Denpasar.

Peresmian Hirarki Gereja Indonesia disambut dengan sangat antusias, dengan

kemandirian itu bantuan sebagai daerah missi menjadi sangat berkurang tetapi

merupakan tantangan yang sangat menggairahkan. Hirarki Gereja Katolik di

Indonesia secara garis besar dibagi menjadi Hirarki umum dan Hirarki khusus.

Dalam Hirarki Khusus adalah Keuskupan Angkatan Bersenjata republik Indonesia

(ABRI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia POLRI). Hirarki Umum,

Keuskupan di Indonesia dikelompokkan berdasarkan pembagian menurut Propinsi

Gerejawi atau pembagian menurut Regio. Bersamaan itu Sri Paus lalu mengirim

Surat Gembala “Sacrum Expeditionum” tanggal 20 Maret 1961, Sri Paus


63

menganggap peristiwa itu patut ditulis dalam tinta emas, namun Beliau juga

mengingatkan kehadiran para misionaris dari negara lain masih tetap merupakan hal

yang perlu di Indonesia.

4.3.2 Pengaruh Penerapan Hirarki Gereja Indonesia Bagi Vikariat Apostolik


Semarang

Tanggal 3 Januari 1961 bersamaan dengan berdirinya Hirarki Gereja Indonesia,

Vikariat Apostolik Semarang menjadi Keuskupan Agung Semarang (KAS), dengan

Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J., sebagai Uskup Agung pertama. Surat keputusan

sebagai Keuskupan Agung diserahkan dari wakil Bapa Suci di Vatikan yaitu

Internunsius tanggal 15 November 1961. Perubahan ini dikuatkan dengan adanya

Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia yaitu SK Meneg no 89 tahun

1965. Dengan menjadi Keuskupan, para Uskup tidak lagi menjadi wakil (Vikaris)

dari Paus, tapi menjadi satu kesatuan dengan Paus dan para Uskup sedunia,

bertindak, dan berwibawa sebagai pengganti para rasul, (Van den End 2000:477).

Wilayah Keuskupan Semarang mencakup:

a. Sebagian besar Propinsi Jawa Tengah dengan Kotamadya-kotamadya Semarang,

Magelang, Surakarta, Salatiga, dan Kabupaten-kabupaten Boyolali, Demak,

Jepara, Grobogan, Kendal, Klaten, Kudus, Pati, Magelang, Semarang, Sragen,

Sukoharjo, Temanggung, Wonogiri, dan

b. Seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Kotamadya Yogyakarta,

dan Kabupaten-kabupaten Bantul, Gunung Kidul, Kulon Progo, Sleman.

Untuk memudahkan pengelolaan Keuskupan Agung Semarang dibagi menjadi 4

Vikaris Episkopal (Vikep) atau wakil Uskup untuk suatu wilayah Keuskupan, yaitu:
64

1. Wilayah Kevikepan Semarang mencakup Kabupaten Demak, Jepara, Grobogan,

Kendal, Kudus, Pati, Semarang, dan Kotamadya Salatiga dan Semarang.

2. Kevikepan Yogyakarta mencakup seluruh Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

3. Kevikepan Surakarta, mencakup Kabupaten Klaten, Sragen, Wonogiri, Boyolali,

Sukorejo, Karanganyar, dan Kotamadya Surakarta.

4. Kevikepan Kedu, mencakup Magelang, Temanggung, Tumpang (Wonokerso),

Muntilan, Mertoyudan, Salam, Sumber, Parakan, Borobudur.

Selain disusun Hirarki Gereja Indonesia, juga disusun Hirarki Gereja Katolik

yang dimulai dari para Uskup sebagai Dewan dan ketuanya adalah Paus.

1. Paus, “Konsili Suci mengajarkan, bahwa atas penetapan ilahi, para uskup

menggantikan para rasul sebagai gembala Gereja” (Lumen Gentium 20). Lumen

Gentium adalah Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Gereja.

2. Imam merupakan “penolong dan organ para uskup” (Lumen Gentium 28)

Didalam Gereja Katolik ada imam diosesan (sebutan yang sering dipakai imam

praja) dan imam religius (ordo atau kongregasi).

Imam diosesan adalah imam keuskupan yang terikat dengan salah satu

keuskupan tertentu dan tidak termasuk ordo atau kongregasi tertentu. Imam

religius (misalnya SJ, MSF, OFM, dsb) adalah imam yang tidak terikat dengan

keuskupan tertentu, melainkan lebih terikat pada aturan ordo atau kongregasinya.

3. Diakon adalah pembantu Uskup dan Imam dalam pelayanan terhadap umat

beriman. Mereka ditahbiskan untuk mengambil bagian dalam imamat jabatan.

Karena tahbisannya ini, maka seorang diakon masuk dalam kalangan hirarki. Di

Gereja Katolik ada 2 macam Diakon, yaitu:


65

1. Mereka yang dipersiapkan untuk menerima tahbisan Imam.

2. Mereka yang menjadi Diakon untuk seumur hidupnya tanpa menjadi Iman.

4. Kardinal adalah merupakan gelar kehormatan. Kata “kardinal” berasal dari kata

Latin”cardo” yang berarti “engsel”, dimana seorang Kardinal dipilih menjadi

asisten-asisten kunci dan penasehat dalam berbagai urusan gereja. Kardinal dapat

dipilih dari kalangan Imam ataupun Uskup.

Bagi kaum awam, perutusan bukan saja dalam bidang liturgi dan pewartaan, tapi

juga di bidang penggembalaan yaitu:

1. Pengurus Dewan Paroki, tugasnya memikirkan, merencanakan, memutuskan dan

mempertanggungjawabkan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan dan karya

paroki.

2. Pengurus Wilayah atau stasi, tugasnya adalah mengkoordinasikan kegiatan antara

lingkungan yang berada di dalam wilayah Dewan Parokinya.

3. Pengurus Lingkungan, tugasnya menampung dan menyalurkan masalah-masalah

yang ada di lingkungan kepada Dewan Paroki atau Pastor Parokinya. Juga

mengadakan pendataan dalam lingkungan atau kelompok dan mengadakan

pertemuan bersama dengan pengurus kelompok.

4. Pengurus Kelompok, tugasnya menjadi tumpuan utama dan pertama untuk

mengembangkan kehidupan umat Katolik. Merekalah yang melakukan berbagai

program lingkungan dalam rangka pembinaan umat.


BAB V
PENUTUP

A. Simpulan

Dari penjelasan pada Bab I sampai Bab IV, maka penulis dapat meyimpulkan

dari hasil penelitian yaitu:

1. Latar Belakang terbentuknya Vikariat Apostolik Semarang adalah peristiwa

pembaptisan di Sendangsono pada tahun 1904, sebanyak 171 orang dibaptis oleh

Romo Van Lith, S. J. Munculnya dua daerah sebagai tempat yang subur dalam

penyebaran misi agama Katolik yaitu Magelang dan Muntilan. Pembangunan

Seminari Tinggi di Muntilan tahun 1936, menunjukkan perlunya pendirian

Vikariat yang baru, Vikariat Apostolik Batavia berbeda kultur dengan Jawa

Tengah. Perbedaan ini membuat Mgr. Willekens mengajukan surat pada

Kongregasi Propaganda Fide di Vatikan, tentang pembukaan daerah Vikariat

yang baru. Hal itu ditanggapi oleh Paus dengan memberikan restunya dan

menginginkan agar Vikariat baru yang akan dibentuk berasal dari pribumi. Selain

faktor diatas yang berasal dari dalam negeri ada juga faktor yang berasal dari luar

negeri yaitu akan pecahnya Perang Dunia II yang akan berpengaruh pada

hubungan komunikasi antara Vatikan dan daerah misi termasuk di Indonesia.

2. Perkembangan Vikariat Apostolik Semarang dalam penyebaran misi Gereja

tahun 1940-1961, ditandai dengan pertambahan umat di Vikariat ini. Vikariat

Apostolik Semarang banyak mengalami tekanan dengan masuknya Jepang ke

Indonesia, menyebabkan banyak misionaris yang ditahan maupun diiternir.

Bangunan Gereja maupun sarana pendukung misi disita. Kegiatan keagamaan

66
67

dilarang dengan menggunakan bahasa musuh (Belanda). Setelah Jepang pergi

berganti pasukan sekutu, Vikariat Apostolik Semarang memindahkan hirarki

Gerejawi ke Yogyakarta mengikuti perpindahan pemerintahan ibu kota negara ke

Yogyakarta. Setelah Konferensi Meja Bundar hirarki Gerejawi dipindahkan ke

Semarang walupun dengan jumlah misionaris yang kurang tapi karya misi tetap

dilanjutkan. Menjelang tahun 1961, Gereja Katolik dianggap makin dewasa maka

Paus Yohanes XXIII mengumumkan terbentuknya Hirarki Gereja Katolik

Indonesia sejak 3 Januari 1961. Dengan berdirinya Hirarki Gereja Indonesia

Vikariat Apostolik berganti menjadi Keuskupan Agung. Dalam tugasnya

Keuskupan Agung membentuk Dewan Gereja, yang membantu Uskup dalam

penyebaran karya misi disamping terbentuknya Hirarki Gereja Katolik.

3. Muncul dan perkembangan Partai Katolik di Vikariat Apostolik Semarang,

mengalami perjalanan yang panjang. Umat Katolik pertama terjun di Budi

Utomo, namun pada akhirnya mereka mendirikan partai sendiri pada tahun 1917

yaitu Voorloopig Katholieke Comité Voor Politieke Actie. Pada tahun yang sama

berdiri juga Katholieke Vereeniging Voor Politieke Actie, yang pada bulan

November 1918 namanya diubah menjadi Indische Katholieke Partij. Didirikan

Pakempalan Politik Katolik Djawi (PPKD), pada 22 Februari 1925 namanya

diganti menjadi Perkumpulan Politik Katolik di Djawa, tahun 1930, menjadi

Persatuan Politik Katolik Indonesia (PPKI). 8 Desember 1945 diadakan kongres

di Surakarta memutuskan mengganti nama Persatuan Politik Katolik Indonesia

dengan nama Partai Katolik Republik Indonesia (PKRI). Pada Kongres Umat
68

Katolik Seluruh Indonesia (KUKSI) berlangsung di Yogyakarta tanggal 7 sampai

12 Agustus 1949 diputuskan pembentukan Partai Katolik.

4. Pengaruh Partai Katolik bagi Vikariat Apostolik Semarang sangat besar. Partai

Katolik mampu menepis anggapan masyarakat, bahwa umat Katolik lebih

condong pada kolonial. Melalui Partai Katolik Presiden Sukarno mengerti

tentang apa itu Gereja bahkan bekerjasama dengan Mgr. Alb. Soegijapranata, S.

J., selaku Vikaris Apostolik Semarang. Partai Katolik dengan pimpinannya I. J

Kasimo dapat bekerjasama dengan Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J, yang

menghasilkan Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia tahun 1949, namun

bentuk hubungan Partai Katolik dan Vikariat Apostolik Semarang hanya bersifat

konsultatif.

B. Saran

Dengan melihat perjalanan panjang Vikariat Apostolik Semarang yang akhirnya

menjadi Keuskupan Agung Semarang, serta Partai Katolik maka penulis dapat

menyarankan:

1. Bagi Keuskupan Agung Semarang perlu adanya penggiatan penyebaran karya

missi yang saat ini makin redup, mengingat terjadinya penurunan jumlah umat

dari tahun-ketahun.

2. Pada masyarakat khususnya umat Katolik, walaupun sekarang Partai Katolik

telah meleburkan diri dalam PDI maupun partai yang lain, hendaknya tetap

berada dalam jalur dan menjunjung azas dan norma Katolik.


69

DAFTAR PUSTAKA

Abdulah, Taufik. Dkk. 1985. Ilmu Sejarah dan Historiografi. Arah dan Perspektif.
Jakarta; PT Gramedia.

Abdurrahman, Dudung. 1999. Metode Penelitian Sejarah. Jakarta; Logos Wacana


Ilmu.

Biro Organisasi D. P. P. Partai Katolik. 1967. Landasan Idiil, Anggaran Dasar dan
Rumah Tangga Partai Katolik. Jakarta: BKTN.

Budiarjo, Miriam. 1988. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta.: Balai Pustaka.

End, Th. Van den & weitjens, J. 2000. Ragi Cerita 2: Sejarah Gereja di Indonesia
1860-an – Sekarang. Jakarta: Gunung Mulia.

Fakultas Ilmu Sosial. 2003. Pedoman Penulisan Skripsi. Semarang: _ .

Hadi, Sutrisno. tt. Bimbingan Penulisan Skripsi, Thesis Jilid II. Yogyakarta: Yayasan
Penerbit Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.

Heuken, S. J. A. 1967. Ensikopedi Gereja Jilid III. Jakarta; Yayasan Cipta Loka
Caraka

____________. 1989. Ensiklopedi Populer Tentang Gereja Katolik di Indonesia Jilid


Khusus. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka

_____________. 1992. Ensikopedi Gereja Jilid II. Jakarta; Yayasan Cipta Loka
Caraka

_____________. 1994. Ensikopedi Gereja Jilid IV. Jakarta; Yayasan Cipta Loka
Caraka

_____________. 1995. Ensikopedi Gereja Jilid V. Jakarta; Yayasan Cipta Loka


Caraka
J. Basuki, Felix. 1994. Peran serta Umat Beragama dalam Kancah Politik Indonesia
(Dipandang dari Faktor Historis dan Praktek dengan Kacamata Iman
Kristiani). Makalah disajikan dalam Sidang Istimewa Akedemi, ST. Thomas
Aquinas, Kentungan Yogyakarta, 1 Mei.

Gazalba, Sidi. 1981. Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu. Djakarta: Bathara.

Gonggong, Anhar. 1984. Mgr Albertus Soegijapranata. Jakarta; Depdikbud.


70

______________ . 1993. Mgr Albertus Soegijapranata S. J Antara Gereja dan


Negara. Jakarta; PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Gosttschlak, Louis. 1983. Mengerti Sejarah. Jakarta; UI press.

Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah Edisi Kedua. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Martasudjita,Pr. E. Dkk. 2004. Liturgi dan Semangat Perutusan Renungan Bulan


Maria dan Bulan Katekese Liturgi. Yogyakarta; Kanisius.

Moedjanto, G. Dkk. 1991. Garis-Garis Besar Sejarah Gereja Katolik di Keuskupan


Agung Semarang. Semarang; Keuskupan Agung Semarang.

Moeryantini. CB. M. Hendricia. 1975. MGR Albertus Soegijapranata, S.J. Ende


Flores; Nusa Indah-Arnoldus.

Moleong, Lexy. tt. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung; PT Remaja.

Muhadjir, H. Noeng. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi IV. Yogyakarta:


Rake Sarasin.
Notosusanto. Nugroho. 1970. Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta; --

Pipitseputra. 1973. Beberapa Aspek dari Sejarah Indonesia Aliran nasionalis, Islam,
Katolik, Sampai Akhir Zaman Perbedaan Paham. Flores: Nusa Indah Ende.
Rausch, Thomas. P. 2005. Katolisisme Teologi Bagi Kaum Awam. Yogyakarta:
Kanisius.

Renier. G. J. 1997. Metode dan Manfaat Ilmu Sejarah. Yogyakarta; Pustaka Pelajar.

Rosariyanto. F. Hasto. S.J. 2001. Gereja Katolik Indonesia Bercermin pada Wajah-
Wajah Keuskupan. Yogyakarta. Kanisius.

Shadily, Hasan. 1980. Ensiklopedi Indonesia 3. Jakarta; PT Djaya Pirusa.

_____________. 1984. Ensiklopedi Indonesia Jilid 5. Jakarta; Ichitiar Baru – Van


Hoeven

Siagian, Seno. Harbangan. 1987. Agama-agama di Indonesia. Semarang; Satya


Wacana.

Sjasudduha. 1987. Penyebaran dan Perkembangan Islam, Katolik, dan Protestan di


Indonesia. Telaah sejarah dan perbandingan. Surabaya; Usaha Nasional.
Subanar. G. Budi. S. J. 2003. Soegija si Anak Betlehem Van Java. Yogyakarta;
Kanisius.
71

__________________ . 2003. Kesaksian Revolusioner Seorang Uskup Dimasa


Perang Catatan Harian Mgr. A. Soegijapranata. S.J., 13 Februari 1947- 17
Agustus 1949. Yogyakarta; Galang Perss.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinan dan Pengembangan Bahasa. 1966. Kamus
Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka.

Tim Wartawan Kompas dan Redaksi. 1974. Sejarah Katolik Indonesia 3. Keuskupan
dan Majelis Agung Wali Gereja Indonesia Abad 20. Ende Flores.

___________.1980. I J Kasimo Hidup dan Perjuangannya. Jakarta; Gramedia.

Widja, I Gde. 1988. Pengantar Ilmu Sejarah, Sejarah Dalam Perspektif Pendidikan.
Semarang: Satya Wacana.

Winatayuda, Victor, S. tt. Kota Semarang Dalam Kenangan.

Wiyono. 1990. Metode Penelitian Sejarah. (Makalah dalam Temu sejarah Guru
Bidang Study Sejarah Jurusan PSPB se- Jawa Tengah) tidak terbit.
Semarang; FPIPS IKIP Semarang.

_______. 1998. Alkitab. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

Sumber-sumber Lain:

Gereja Katedral Ujung Pandang. http//www. geocities.com/katedralupg/index.htm


(18 Januari 2005)

Keuskupan Bogor. http//www.KeuskupanBogor.Org (18 Januari 2005)

Kristenisasi. http//tumasouw.tripod.com/ihave sejarah_kristenisasi_diindosi.htm (18


Januari 2005)

Perluasan wilayah Bogor. http//www.PerluasanwilayahBogor.Com (18 Januari 2005)

Hirarki Indonesia. http// www. kawali. Org/keuskupan. Html#top (20 Januari 2005)

Sejarah Keuskupan Agung Semarang. http// www. Kawali Org / Keuskupan. Html
(20 Januari 2005)

Sejarah Singkat Keuskupan Agung Semarang. http//www.kasemarang Org/history.


Html (22 Juli 2004)

Susunan Hirarki Gereja Katolik. http//www.katolik.net (18 April 2005)


72

Lampiran 1

DATA INFORMAN

1. Nama : Yosef Felix Basuki

Umur : 77 Tahun ( Desember 1928)

Jabatan : Sekertaris II Partai Katolik cabang Yogyakarta tahun 1952

Alamat : Jln Gajah 50 Tahuanan Yogyakarta

2. Nama : Titus Probo Haryono

Umur : 70 Tahun

Jabatan : Pensiunan Kepala Sekolah SD Kanisius Weleri

Alamat : Ds sambongsari

3. Nama : Lorenz Suryatma

Umur : 65 Tahun (10 Agustus 1940)

Jabatan : Bagian Arsip dan Dokumen Keuskupan Agung Semarang

Alamat : Dr Wahidin 108C Semarang 50254


73

Lampiran 2

INTRUMEN WAWANCARA

Nama :

Umur :

Jabatan :

Alamat :

1. Sejak tahun berapakah Partai Katolik cabang Yogyakarta berdiri?

2. Dengan berdirinya Partai Katolik, bagaimana tanggapan masyarakat

khususnya umat Katolik?

3. Apakah pemerintah mendukung berdirinya Partai Katolik, wujud

dukungannya seperti apa?

4. Partai Katolik pertama kali berdiri di Yogyakarta, bagaimana tanggapan

Vikariat Apostolik Semarang sebagai pemegang hirarki Gerejawi di daerah

ini?

5. Apa azas dan tujuan dari Partai Katolik?

6. Dalam kurun waktu berdirinya Partai Katolik yaitu tahun 1949, apakah Partai

Katolik bekerjasama dengan Vikariat Apostolik Semarang?(bila ada,

dijelaskan)

7. Kegiatan apa saja yang dilakukan oleh Partai Katolik?

8. Bagaimana persiapan Partai katolik untuk menghadapi Pemilu pertama yang

berlangsung tahun 1955?


74

9. Bagimana tindakan Partai Katolik saat Presiden Sukarno condong pada blok

timur/komunis?

10. Mengapa tahun 1957 Partai Katolik cabang Yogyakarta menyetujui Konsepsi

Presiden Sukarno tentang Demokrasi Terpimpin sama dengan Mgr. Alb.

Soegijapranata, S. J., padahal dalam kongres Partai Katolik di Surakarta

konsepsi itu di tolak?

11. Apa yang menjadi hambatan atau tantangan Partai Katolik selama berdiri,

antara tahun 1949 sampai berintegrasi dengan PDI?

12. Pada saat pemerintah mengeluarkan peraturan adanya fusi partai, bagaimana

sikap Partai Katolik menanggapi hal itu?

13. Apa kontribusi Partai Katolik bagi Vikariat Apostolik Semarang dan agama

Katolik?

14. Bagaimana mengembangkan partisipasi politik Katolik dengan tidak adanya

Partai Katolik?
75

INTRUMEN WAWANCARA

Nama :

Umur :

Jabatan :

Alamat :

1. Bagimana keadaan penyebaran misi pada masyarakat saat Vikariat

Apostolik Semarang belum berdiri?

2. Peristiwa apa yang membuat Sri Paus mau mendirikan Vikariat Apostolik

Semarang, dengan Vikaris yang berasal dari pribumi?

3. Dengan berdirinya Vikariat Apostolik Semarang bagaimana reaksi

masyarakat khususnya umat Katolik?

4. Bagaimana kondisi dan situasi pada saat Vikariat Apostolik Semarang

berdiri?

5. Pada saat Republik Indonesia memindahkan ibu kota negara ke

Yogyakarta, mengapa pada saat itu Mgr. Alb. Soegijapranata, S. J., selaku

Vikaris Apostolik Semarang juga memindahkan hirarki Gerejawi ke

Yogyakarta?

6. Tahun 1949 berdiri Partai Katolik (sebelumnya sudah ada tapi bukan

Partai Katolik), bagaimana Gereja dalam hal ini Vikariat Apostolik

Semarang menanggapinya?
76

7. Mengapa Vikaris Apostolik Semarang terjun ke politik praktis, padahal

Gereja bersifat netral yaitu tidak ikut campur dalam dunia politik?

8. Adakah kerjasaman yang dilakukan antara Partai Katolik dengan Vikariat

Apostolik Semarang?(dijelaskan)

9. Pada tahun 1957 Presiden mengeluarkan Konsepsi Presiden, bagaimana

Vikariat Apostolik menanggapi hal itu? Serta bagaimana dampaknya pada

masyarakat khususnya umat Katolik?

10. Tahun 1961 Sri Paus meresmikan berdirinya Hirarki Gereja Indonesia,

bagaimana Vikariat Apostolik Semarang menanggapi hal itu?

11. Kontribusi apa yang di berikan Vikariat Apostolik Semarang bagi Gereja,

bangsa dan negara?


77

peta Keuskupan Agung Semarang


Sumber www.kasemarang.com
72

Susunan Dasar suatu Keuskupan

Uskup

Dewan Pastoral
Keuskupan
Kuria Keuskupan
Vikaris Jendral + Vikaris Keuskupan
Sekertaris + Ekonom

Komisi-komisi
antara lain:
Dewan Imam - Kerasulan awam
Dekanat Dekanat Dekanat - Pengembangan
Dewan Keuangan Sosial Ekonomi
- Kepemudaan
Tokoh-tokoh umat - Panggilan
- Hubungan antara
Paroki Paroki Paroki agama-
kepercayaan
- Komunikasi
sosial
- Liturgi
Wilayah Wilayah Wilayah - Kateketik

Lingkungan- Kring-kring Stasi-stasi


lingkungan